Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22856 | 18 Nov 2025
Klinis : Seorang anggota keluarga berusia 55 tahun, didiagnosa Diatetes Melitus sejak 5 bulan yang lalu. Sejak pertama berobat kontrol 2 kali dengan kadar GDS 250 mg/dl dan 270 mg/dl, pasien tidak menjalani diet. Menurut SDKI apakah masalah keperawatnnya yang tepat? Pilih salah satu: a. Hiperglikemi b. Keluarga tidak taat menjalani diet c. Ketidakstabilan gula darah d. Pola koping keluarga tidak efektif e. Gula darah sewaktu tinggi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Diabetes Melitus, tipe tidak ditentukan
Kode ICD-10: E14.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada Diabetes Melitus (DM) yang tidak spesifik tipenya (bukan tipe 1 atau tipe 2 yang dinyatakan secara jelas), dengan komplikasi yang tidak disebutkan. Diagnosis ditegakkan pada seorang pasien dengan kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) yang sangat tinggi, yaitu 250 mg/dl dan 270 mg/dl, yang jauh di atas batas normal. Pasien juga dilaporkan tidak menjalani diet yang dianjurkan. Kode E14.9 digunakan untuk menandai diabetes mellitus yang tidak ditentukan tanpa komplikasi yang disebutkan secara spesifik. Kode ini mengindikasikan adanya gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi (hiperglikemia) akibat defisiensi insulin atau resistensi insulin. Kondisi ini memerlukan penanganan serius, termasuk modifikasi gaya hidup (seperti diet dan olahraga) dan mungkin terapi farmakologis, untuk mencegah komplikasi jangka panjang seperti penyakit kardiovaskular, kerusakan saraf, gagal ginjal, dan masalah mata. Ketidakpatuhan terhadap diet, seperti yang terjadi pada kasus ini, merupakan faktor signifikan yang dapat menyebabkan ketidakstabilan dan peningkatan kadar gula darah yang berbahaya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22857 | 18 Nov 2025
Klinis : Seorang anggota keluarga berusia 55 tahun, didiagnosa Diatetes Melitus sejak 5 bulan yang lalu. Sejak pertama berobat kontrol 2 kali dengan kadar GDS 250 mg/dl dan 270 mg/dl, pasien tidak menjalani diet. Menurut SDKI apakah masalah keperawatnnya yang tepat? Pilih salah satu: a. Hiperglikemi b. Keluarga tidak taat menjalani diet c. Ketidakstabilan gula darah d. Pola koping keluarga tidak efektif e. Gula darah sewaktu tinggi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakstabilan Gula Darah
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Ketidakstabilan Gula Darah didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana kadar glukosa darah seseorang berada di luar rentang nilai yang diharapkan, yang dapat mengarah pada kondisi hiperglikemia (gula darah tinggi) atau hipoglikemia (gula darah rendah). Pada kasus ini, fokusnya adalah pada hiperglikemia yang tidak terkontrol, sebagaimana dibuktikan dengan kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) yang konsisten tinggi (250 mg/dl dan 270 mg/dl) meskipun telah didiagnosa. Masalah ini berakar pada ketidakmampuan untuk mengelola kondisi penyakit secara efektif, yang dalam konteks ini dipicu oleh ketidakpatuhan terhadap rencana diet yang dianjurkan. Diagnosa ini lebih komprehensif daripada sekadar "Gula Darah Sewaktu Tinggi" karena mencakup aspek fluktuasi, risiko, dan penyebab yang mendasarinya, yaitu ketidakpatuhan manajemen diri.
Kode SLKI: L.03118
Deskripsi : SLKI untuk Ketidakstabilan Gula Darah adalah "Pengendalian Gula Darah". Tujuan utama dari intervensi keperawatan adalah untuk membantu pasien dan keluarga mencapai dan mempertahankan kadar gula darah dalam rentang target yang ditetapkan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien dan keluarga dapat menyebutkan nilai target gula darah yang diinginkan (misalnya, GDS < 200 mg/dl atau sesuai target individu). 2) Kadar gula darah pasien (GDS atau HbA1c) menunjukkan tren penurunan dan mendekati rentang normal. 3) Keluarga dan pasien mampu mendemonstrasikan pemantauan gula darah mandiri secara sederhana (jika memungkinkan). 4) Terjadi peningkatan pemahaman tentang hubungan langsung antara asupan makanan (diet) dengan fluktuasi kadar gula darah. 5) Keluarga melaporkan penurunan frekuensi atau hilangnya gejala-gejala hiperglikemia seperti sering haus, sering buang air kecil, dan lemas. Keberhasilan SLKI ini diukur melalui kombinasi antara data laboratorium (pemeriksaan GDS) dan laporan dari keluarga mengenai kepatuhan serta pemahaman mereka.
Kode SIKI: I.08020
Deskripsi : SIKI untuk menangani Ketidakstabilan Gula Darah adalah "Manajemen Hiperglikemia". Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan terencana yang bertujuan untuk menurunkan dan menstabilkan kadar gula darah. Rincian tindakannya meliputi: 1) **Edukasi Kesehatan**: Memberikan penjelasan yang komprehensif kepada pasien dan seluruh anggota keluarga tentang Diabetes Melitus, komplikasi jangka pendek dan panjang dari hiperglikemia yang tidak terkontrol, serta pentingnya diet dan pengobatan. Edukasi harus dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami dan melibatkan anggota keluarga sebagai sistem pendukung. 2) **Konseling Gizi**: Bekerjasama dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet individu yang realistis, mempertimbangkan pola makan keluarga, budaya, dan kondisi ekonomi. Menekankan pada pembatasan asupan karbohidrat sederhana (gula, sirup, minuman manis) dan meningkatkan asupan serat. 3) **Pemantauan**: Menganjurkan dan mengajarkan keluarga cara memantau tanda-tanda hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsi, polifagi, dan lemas) serta pentingnya kontrol rutin untuk pemeriksaan GDS. 4) **Manajemen Obat**: Memastikan keluarga memahami regimen pengobatan yang diresepkan dokter (jika ada), termasuk nama obat, dosis, waktu, dan efek samping yang perlu diwaspadai. 5) **Pemberdayaan Keluarga**: Melibatkan keluarga dalam menyusun menu mingguan, berbelanja bahan makanan, dan mengawasi pola makan pasien. Membantu keluarga mengidentifikasi hambatan dalam menjalani diet (misalnya, godaan dari makanan keluarga lainnya) dan mencari solusi bersama. 6) **Kontrol Lingkungan**: Menganjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, seperti tidak menyediakan makanan/minuman manis berlebihan di rumah dan mendukung aktivitas fisik ringan yang teratur. Tindakan ini bersifat holistik, tidak hanya berfokus pada pasien tetapi memperkuat peran keluarga sebagai unit perawatan utama.
-
Article No. 22858 | 18 Nov 2025
Klinis : Saat kunjungan rumah didapatkan data: perempuan berusia 13 tahun, diare sudah 3 hari. Klien mengatakan diare setelah jajan di kantin sekolah, BAB lebih dari 5 kali sehari, cair dan ada darah. Hasil pengkajian: TD 110/90 mmHg, Suhu 37.8 C, Nadi: 100 x/menit.Apakah data yang perlu dikaji lebih lanjut pada kasus tersebut? Pilih salah satu: a. Kebiasaan jajan b. Kebersihan dan pembuangan limbah rumah tangga c. Keluarga yang mengalami gejala yang sama d. Kebersihan dan penyajian makanan yang dikonsumsi e. Kebiasaan cuci tangan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare Akut
Kode SDKI: D.0063
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan frekuensi dan/atau perubahan konsistensi buang air besar dari biasanya yang berlangsung kurang dari 14 hari.
Kode SLKI: L.03129
Deskripsi : Eliminasi feses kembali normal.
Kode SIKI: I.01240
Deskripsi : Pantau frekuensi, volume, konsistensi, warna, dan bau feses. Pantau tanda dan gejala dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, produksi urin, rasa haus). Pantau tanda-tanda syok (perubahan tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, dan kesadaran). Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai resep. Kolaborasi pemberian farmakoterapi sesuai resep. Ajarkan dan anjurkan meningkatkan asupan cairan per oral. Ajarkan dan anjurkan mencuci tangan sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, dan setelah buang air besar. Ajarkan dan anjurkan keluarga untuk membuang feses dengan benar. Ajarkan dan anjurkan untuk menghindari makanan yang merangsang peristaltik usus. Ajarkan dan anjurkan untuk menghindari makanan yang terkontaminasi. Ajarkan dan anjurkan untuk menjaga kebersihan perianal.
-
Article No. 22859 | 18 Nov 2025
Klinis : Saat kunjungan rumah didapatkan data: perempuan berusia 13 tahun, diare sudah 3 hari. Klien mengatakan diare setelah jajan di kantin sekolah, BAB lebih dari 5 kali sehari. Hasil pengkajian: TD 110/90 mmHg, Suhu 37.8 C, Nadi: 100 x/menit. Keluarga mengatakan anak-anak banyak jajan di sekolah, ibu lebih suka beli makanan matang dengan alasan repot. Klien belum dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Apakah masalah keperawatan sesuai kasus tersebut? Pilih salah satu: a. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif b. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif c. Ketidakpatuhan d. Risiko ketidakseimbangan nutrisi e. Perilaku cenderung berisiko kesehatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif
Kode SDKI: B.3.2
Deskripsi Singkat: Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif adalah suatu kondisi di mana sebuah keluarga mengalami, atau berisiko mengalami, ketidakmampuan dalam mengelola program terapeutik atau proses adaptasi untuk mencapai tujuan kesehatan bagi salah satu atau seluruh anggota keluarga. Pada kasus ini, keluarga tidak mampu mengelola program pencegahan penyakit (seperti diare) dan penanganan awal ketika penyakit terjadi. Hal ini ditunjukkan dengan kebiasaan jajan anak yang tidak terkontrol, preferensi ibu untuk membeli makanan matang dengan alasan kepraktisan yang mungkin mengabaikan aspek kebersihan dan gizi, serta ketidaktindakan keluarga untuk segera membawa anak yang menderita diare selama 3 hari ke fasilitas kesehatan. Keluarga gagal berfungsi sebagai sebuah sistem pendukung yang efektif untuk mempertahankan dan memulihkan kesehatan anggota nya, dalam hal ini anak perempuan berusia 13 tahun.
Kode SLKI: B.3.2.4
Deskripsi : Keluarga mengidentifikasi sumber yang dapat membantu dalam manajemen kesehatan. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk membimbing keluarga dalam mengenali dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka untuk mengelola masalah kesehatan. Perawat akan membantu keluarga untuk menyadari bahwa fasilitas kesehatan (puskesmas, klinik, dokter, perawat) adalah sumber utama yang harus segera diakses ketika anggota keluarga sakit, seperti dalam kasus diare yang sudah berlangsung 3 hari. Selain itu, perawat dapat membantu keluarga mengidentifikasi sumber informasi kesehatan (misalnya, dari tenaga kesehatan di sekolah atau posyandu), sumber dana (seperti BPJS Kesehatan jika memiliki), serta sumber dukungan sosial lainnya. Tujuan akhirnya adalah keluarga menjadi mandiri dan proaktif dalam mencari bantuan, bukan hanya pasif dan menunggu hingga kondisi memburuk. Dengan mengidentifikasi sumber bantuan, diharapkan keluarga dapat mengambil keputusan yang tepat dan cepat untuk menangani masalah kesehatan di masa depan.
Kode SIKI: B.3.2.4.1
Deskripsi : Diskusikan dengan keluarga tentang sumber-sumber yang tersedia untuk membantu manajemen kesehatan. Intervensi ini merupakan tindakan spesifik dan terukur yang dilakukan perawat. Dalam konteks kunjungan rumah ini, perawat akan melakukan komunikasi terapeutik dengan seluruh anggota keluarga yang terlibat (terutama ibu dan anak) untuk membahas berbagai sumber daya yang dapat mereka gunakan. Diskusi akan mencakup: (1) Sumber pelayanan kesehatan: Menjelaskan pentingnya membawa anak ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat untuk diare, serta pentingnya konsultasi lebih lanjut. (2) Sumber informasi: Memberikan edukasi tentang bahaya jajan sembarangan, cara memilih jajanan yang sehat dan higienis, serta pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti mencuci tangan. Perawat juga dapat menunjukkan bagaimana keluarga bisa mendapatkan informasi dari penyuluhan kesehatan di posyandu atau materi online yang kredibel. (3) Sumber dukungan: Membahas peran masing-masing anggota keluarga dalam menjaga kesehatan, misalnya ayah dalam menyediakan dana untuk berobat, ibu dalam menyiapkan bekal makanan yang sehat dari rumah, dan anak untuk disiplin tidak jajan sembarangan. Diskusi ini dilakukan dengan pendekatan yang empatik dan tidak menghakimi, dengan tujuan membangun kesadaran dan komitmen keluarga untuk secara aktif mengelola kesehatan mereka.
-
Article No. 22860 | 18 Nov 2025
Klinis : Saat kunjungan rumah didapatkan seorang laki-laki berusia 25 tahun. Hasil pengkajian klien mengatakan sudah dua bulan minum OAT, sesak mulai berkurang, sering lupa minum obat dan tidak nyaman jika memakai masker. Apakah masalah keperawatan sesuai kasus tersebut? Pilih salah satu: a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Pola nafas tidak efektif c. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif d. Ketidakpatuhan e. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakpatuhan
Kode SDKI: 0111
Deskripsi Singkat: Ketidakpatuhan adalah keadaan di mana seseorang atau kelompok mengalami atau berisiko mengalami kesulitan dalam mengikuti program terapeutik atau rekomendasi kesehatan yang terkait dengan kesehatannya, yang dapat berdampak pada tujuan kesehatan. Diagnosa ini ditandai dengan perilaku seperti tidak mengikuti jadwal pengobatan, melewatkan janji temu, atau tidak mengadopsi gaya hidup yang direkomendasikan.
Kode SLKI: 4329
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk ketidakpatuhan, dengan kode 4329, berfokus pada pencapaian "Kepatuhan". Luaran yang diharapkan adalah klien dapat mendemonstrasikan peningkatan kepatuhan terhadap regimen terapeutik. Indikator pencapaiannya meliputi: klien menyatakan kesediaan untuk mematuhi regimen terapeutik, mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat kepatuhan, memodifikasi gaya hidup untuk mendukung regimen terapeutik, melaporkan pelaksanaan regimen terapeutik secara konsisten, memantau tanda dan gejala terkait kondisi kesehatannya, serta memenuhi janji temu follow-up. Tujuan akhirnya adalah agar klien dapat secara aktif dan konsisten terlibat dalam proses perawatan kesehatannya sendiri, sehingga terapi yang dijalankan dapat memberikan hasil yang optimal. Dalam konteks kasus ini, luaran yang diharapkan adalah klien minum OAT secara teratur tanpa lupa, memahami pentingnya kepatuhan untuk menyembuhkan TBC, dan mematuhi protokol kesehatan seperti penggunaan masker.
Kode SIKI: 4209
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk mengatasi ketidakpatuhan, dengan kode 4209, adalah "Manajemen Kepatuhan". Intervensi ini didefinisikan sebagai upaya memfasilitasi klien untuk patuh terhadap regimen terapeutik. Aktivitas keperawatan yang harus dilakukan sangat komprehensif dan berpusat pada klien. Pertama, perawat perlu memantau faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan klien untuk patuh, termasuk faktor ekonomi, sosial, budaya, dan spiritual. Kedua, sangat penting untuk memfasilitasi komunikasi dan koordinasi dengan tim kesehatan lain. Ketiga, perawat harus memberikan pendidikan kesehatan yang adekuat dan sesuai dengan tingkat pemahaman klien, termasuk menjelaskan tentang penyakitnya (TBC), tujuan terapi OAT, konsekuensi dari ketidakpatuhan (seperti kekebalan kuman/MDR-TB), dan manfaat kepatuhan. Keempat, libatkan keluarga atau orang terdekat sebagai sistem pendukung untuk mengingatkan klien minum obat. Kelima, bantu klien mengidentifikasi dan memecahkan hambatan yang dihadapi, misalnya dengan menciptakan pengingat obat (alarm ponsel, kotak pil), mengelola efek samping obat, dan menyesuaikan jadwal minum obat dengan rutinitas harian. Keenam, untuk masalah ketidaknyamanan memakai masker, perawat dapat membantu klien memilih jenis masker yang paling nyaman, menjelaskan pentingnya masker untuk mencegah penularan, dan melatih klien dalam penggunaannya yang benar. Intervensi ini juga mencakup pemberian reinforcement positif atas setiap usaha kepatuhan yang ditunjukkan oleh klien. Dengan pendekatan yang empatik, kolaboratif, dan edukatif, intervensi ini bertujuan untuk memberdayakan klien sehingga kepatuhan bukanlah sebuah paksaan, tetapi berasal dari pemahaman dan kesadaran akan pentingnya kesehatan.
-
Article No. 22861 | 18 Nov 2025
Klinis : klien dengan liver abses, keluhan sebelumnya diare tetapi sudah tidak terlalu sering, bab masi cair warna coklat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Liver Abses dengan Riwayat Diare
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08032
Deskripsi : Perilaku menunjukkan nyeri terkontrol. Perilaku menunjukkan nyeri terkontrol adalah kondisi dimana pasien mampu mengelola dan mengurangi intensitas nyeri yang dialaminya hingga mencapai tingkat yang dapat ditoleransi, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, istirahat, dan kualitas hidup secara signifikan. Pada konteks liver abses, nyeri akut merupakan gejala utama yang timbul akibat peradangan, pembengkakan, dan tekanan pada kapsul hati yang kaya akan saraf nyeri. Nyeri ini biasanya dirasakan di kuadran kanan atas abdomen dan dapat menjalar ke bahu kanan. Tujuan dari SLKI ini adalah memastikan bahwa intervensi keperawatan yang diberikan berhasil membuat perilaku pasien menunjukkan bahwa nyeri telah terkelola dengan baik. Indikator perilaku ini meliputi ekspresi wajah yang rileks, tidak adanya gelisah atau postur tubuh yang melindungi area perut, kemampuan untuk beristirahat dan tidur dengan cukup, serta laporan verbal dari pasien yang menyatakan bahwa nyeri telah berkurang atau dapat dikendalikan. Pengelolaan nyeri ini dicapai melalui pendekatan farmakologis seperti pemberian analgesik sesuai resep, dan non-farmakologis seperti teknik relaksasi, distraksi, serta reposisi yang nyaman. Pemantauan skala nyeri secara berkala sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul akibat nyeri yang tidak tertangani, seperti syok atau gangguan pernapasan.
Kode SIKI: I.08095
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Manajemen Nyeri adalah serangkaian tindakan keperawatan yang terencana dan sistematis yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi nyeri yang dialami oleh pasien. Pada pasien dengan liver abses, manajemen nyeri merupakan intervensi kritis karena nyeri yang hebat dapat memperburuk kondisi sistemik pasien. Intervensi ini dimulai dengan melakukan penilaian nyeri yang komprehensif menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Timing) atau skala nyeri numerik untuk menentukan karakteristik, lokasi, intensitas, dan faktor yang memperingan atau memperberat nyeri. Tindakan farmakologis menjadi tulang punggung penanganan nyeri, dimana perawat bertanggung jawab untuk memberikan analgesik sesuai resep dokter (seperti parasetamol, NSAID, atau opioid untuk nyeri berat) dengan mempertimbangkan route, dosis, dan waktu pemberian yang tepat, serta memantau efek sampingnya, terutama mengingat fungsi hati yang mungkin terganggu. Secara bersamaan, intervensi non-farmakologis harus diterapkan, seperti membantu pasien menemukan posisi yang nyaman (misalnya semi-Fowler) untuk mengurangi ketegangan pada daerah abdomen, mengajarkan teknik napas dalam dan relaksasi untuk mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri, serta melakukan distraksi melalui percakapan atau aktivitas ringan. Kompres hangat atau dingin pada area nyeri (sesuai indikasi dan kebijakan) juga dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, tujuan pengobatan, dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini sangat crucial untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam manajemen nyeri. Seluruh tindakan ini didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi efektivitasnya secara berkala untuk memastikan nyeri pasien tetap terkendali dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.03049
Deskripsi : Tidak terjadi infeksi. Tidak terjadi infeksi berarti keadaan dimana pasien bebas dari tanda-tanda dan gejala infeksi baru, baik di lokasi abses maupun sistemik, selama masa perawatan. Liver abses sendiri merupakan fokus infeksi yang telah terlokalisir, namun risiko penyebaran infeksi ke dalam darah (bakteremia atau sepsis) atau organ sekitarnya masih sangat tinggi. SLKI ini bertujuan untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan berhasil mencegah perluasan infeksi. Indikator tercapainya luaran ini adalah tidak ditemukannya demam baru atau memburuk, tidak adanya peningkatan jumlah leukosit yang signifikan dalam pemeriksaan laboratorium, tidak munculnya kemerahan, bengkak, atau nanah di area luar lokasi abses, serta tidak adanya tanda-tanda syok sepsis seperti hipotensi, takikardia, atau penurunan kesadaran. Pemantauan tanda-tanda vital secara ketat, khususnya suhu tubuh, merupakan komponen kunci dalam mengevaluasi luaran ini. Kondisi "tidak terjadi infeksi" mencerminkan keberhasilan terapi antibiotik yang diberikan dan teknik aseptik yang diterapkan selama perawatan, sehingga infeksi yang sudah ada dapat dikendalikan dan tidak menyebar.
Kode SIKI: I.05121
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Manajemen Infeksi adalah tindakan keperawatan yang komprehensif untuk mencegah, mengendalikan, dan memantau penyebaran infeksi pada pasien yang berisiko atau sudah mengalami infeksi. Pada pasien liver abses, infeksi sudah terjadi secara lokal di hati, sehingga fokus manajemen adalah pada pemberantasan infeksi yang ada dan pencegahan penyebarannya. Intervensi utamanya adalah memastikan pemberian terapi antibiotik intravena sesuai resep dokter secara tepat waktu, dengan dosis dan interval yang akurat, untuk mencapai konsentrasi bakterisidal yang adekuat dalam darah dan jaringan hati. Perawat harus memantau respons terapi dengan mengobservasi tren suhu tubuh dan hasil pemeriksaan laboratorium seperti hitung leukosit dan CRP (C-Reactive Protein). Teknik aseptik yang ketat harus diterapkan dalam semua prosedur invasif, seperti perawatan luka (jika ada), pemasangan infus, dan kateter, untuk mencegah masuknya mikroorganisme baru yang dapat memperparah kondisi. Meningkatkan pertahanan tubuh pasien dengan memastikan kebutuhan nutrisi dan hidrasi terpenuhi juga merupakan bagian penting, mengingat status gizi yang baik mendukung fungsi sistem imun. Pemisahan atau tindakan pencegahan kontak mungkin diperlukan jika patogennya menular. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan tangan, tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai, dan kepatuhan terhadap terapi antibiotik sangat penting untuk keberhasilan manajemen infeksi. Tindakan kolaboratif seperti mempersiapkan dan membantu prosedur aspirasi atau drainase abses juga termasuk dalam intervensi ini untuk mengeliminasi sumber infeksi secara langsung.
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: L.03013
Deskripsi : Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Kebutuhan nutrisi terpenuhi mengacu pada keadaan dimana asupan makanan dan cairan pasien telah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, mendukung proses penyembuhan, dan mencegah katabolisme jaringan. Pasien dengan liver abses sering mengalami anoreksia, mual, dan malaise yang menyebabkan penurunan asupan nutrisi. Selain itu, proses infeksi dan peradangan meningkatkan kebutuhan energi dan protein tubuh. Jika tidak terpenuhi, dapat terjadi malnutrisi yang memperlambat penyembuhan, meningkatkan risiko komplikasi, dan memperburuk fungsi hati. Luaran ini ditandai dengan peningkatan atau stabilisasi berat badan yang adekuat, peningkatan nafsu makan, nilai albumin dan protein total dalam batas normal, serta tidak adanya tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan otot yang signifikan atau penurunan massa lemak subkutan. Pemenuhan nutrisi sangat penting untuk mendukung sistem imun dalam melawan infeksi dan meregenerasi jaringan hati yang rusak.
Kode SIKI: I.05126
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Manajemen Nutrisi adalah intervensi keperawatan yang terencana untuk memastikan pasien menerima asupan nutrisi yang optimal sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Pada pasien liver abses, intervensi dimulai dengan penilaian status nutrisi yang menyeluruh, termasuk pengukuran berat badan, indeks massa tubuh (IMT), riwayat diet, dan adanya gejala gastrointestinal seperti mual atau anoreksia. Kolaborasi dengan ahli gizi sangat diperlukan untuk menentukan kebutuhan kalori dan protein harian, serta jenis diet yang sesuai, biasanya diet lunak atau tinggi kalori tinggi protein (TKTP) yang mudah dicerna. Perawat berperan dalam memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering untuk mengurangi beban pencernaan dan mencegah mual, memastikan lingkungan makan yang nyaman, serta memberikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan nafsu makan. Jika asupan oral tidak mencukupi, pemberian nutrisi enteral (melalui selang nasogastrik) atau parenteral harus dipertimbangkan sesuai kolaborasi dengan tim medis. Pemantauan toleransi diet, seperti tidak adanya mual, muntah, atau diare setelah makan, serta evaluasi terhadap parameter laboratorium (albumin, prealbumin) dan antropometri dilakukan secara berkala. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan juga merupakan bagian integral dari manajemen ini.
-
Article No. 22862 | 18 Nov 2025
Klinis : klien mengalami keputihan yang sering. keputian berwarna putih encer, terkadang mengalami libido tinggi, klien tampak kurus, td cenderung rendah. klien merasa tidak nyaman pada area genital dan perut. pada pemeriksaan genetalia didapatkan benjola pada labia
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Infeksi Candida Vulvovaginalis
Kode ICD-10: B37.3
Deskripsi Singkat : Berdasarkan gejala yang dijelaskan, termasuk keputihan putih encer, ketidaknyamanan pada genital dan perut, serta ditemukannya benjolan pada labia, kondisi yang paling mungkin adalah infeksi jamur pada vulva dan vagina (vulvovaginitis kandidasis). Kode ICD-10 B37.3 secara spesifik mengklasifikasikan "Kandidiasis vulva dan vagina". Kandidiasis vulvovaginal adalah infeksi jamur yang umum, sering disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari Candida albicans. Gejala khasnya meliputi keputihan putih kental seperti cottage cheese (meskipun dalam deskripsi ini disebut encer, variasi konsistensi mungkin terjadi), gatal-gatal dan iritasi hebat di area vulva, sensasi terbakar, kemerahan, dan pembengkakan. Benjolan pada labia yang dideskripsikan kemungkinan adalah folikulitis atau pembengkakan kelenjar kecil akibat peradangan dan iritasi kronis dari infeksi. Gejala lain seperti libido tinggi dan tekanan darah rendah mungkin tidak terkait langsung dengan infeksi jamur dan memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penyebabnya yang mendasar. Kode B37.3 berada di bawah kategori B37 (Kandidiasis) dalam Bab I ICD-10, yang mencakup penyakit infeksi dan parasit. Penggunaan kode ini memungkinkan pencatatan yang akurat untuk tujuan klinis, penagihan, dan penelitian terkait infeksi jamur pada saluran reproduksi wanita.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22863 | 18 Nov 2025
Klinis : pasien mengeluhkan demam sejak 4 hari yang lalu di hari senin pagi pasien mengalami mual, muntah, nyeri perut, BAK dan BAB tidak ada keluhan, badan terasa pegal-pegal, dany nyeri dibagian ulu hati. nyeri dengan sekala 4 dan didagnosa dngan DHF
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam Berdarah Dengue (DHF)
Kode ICD-10: A91
Deskripsi Singkat : Demam Berdarah Dengue (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kondisi ini merupakan komplikasi yang lebih serius dari infeksi dengue dan ditandai dengan empat manifestasi klinis utama: demam tinggi yang mendadak, manifestasi perdarahan (seperti uji tourniquet positif, petekie, atau perdarahan spontan), pembesaran hati (hepatomegali), dan kegagalan sirkulasi yang dapat berlanjut menjadi syok (sindrom syok dengue). Gejala yang dialami pasien, seperti demam, mual, muntah, nyeri perut (khususnya di ulu hati), dan badan pegal-pegal, sangat konsisten dengan fase kritis DHF. Nyeri ulu hati seringkali berkaitan dengan pembesaran hati dan kongesti hati. Kode ICD-10 A91 secara khusus digunakan untuk Demam Berdarah Dengue, membedakannya dari demam dengue tanpa komplikasi (A90). Kode ini berada dalam bab 'Infeksi tertentu dan penyakit parasit' (A00-B99). Penting untuk memantau tanda-tanda peringatan seperti nyeri perut yang hebat, muntah persisten, perdarahan, dan kebocoran plasma, yang memerlukan penanganan medis intensif untuk mencegah syok dan kematian.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22864 | 18 Nov 2025
Klinis : pasien mengeluhkan demam sejak 4 hari yang lalu di hari senin pagi pasien mengalami mual, muntah, nyeri perut, BAK dan BAB tidak ada keluhan, badan terasa pegal-pegal, dany nyeri dibagian ulu hati. nyeri dengan sekala 4 dan didagnosa dngan DHF
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Untuk mencapai luaran ini, terdapat beberapa kriteria hasil yang harus dipantau dan dicapai. Pertama, suhu tubuh harus berada dalam rentang 36,0°C - 37,5°C, yang menunjukkan bahwa proses regulasi suhu telah kembali normal. Kedua, kulit harus teraba hangat dan tidak menunjukkan tanda-tanda kemerahan atau berkeringat berlebihan, yang mengindikasikan stabilnya suhu permukaan tubuh. Ketiga, nadi dan pernapasan pasien harus berada dalam rentang normal, mencerminkan bahwa beban metabolik tubuh telah menurun seiring dengan normalnya suhu. Keempat, pasien harus melaporkan bahwa perasaan tidak nyaman akibat demam, seperti sensasi panas, menggigil, atau badan pegal, telah berkurang atau hilang sama sekali. Pencapaian luaran ini menunjukkan keberhasilan intervensi keperawatan dalam mengendalikan respons inflamasi dan infeksi yang mendasari, serta mencegah komplikasi lebih lanjut seperti dehidrasi atau kejang demam.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk membantu menurunkan suhu tubuh pasien dan mengatasi ketidaknyamanan yang menyertainya. Tindakan pertama dan paling mendasar adalah memantau tanda-tanda vital, khususnya suhu tubuh, secara berkala (misalnya setiap 2-4 jam) untuk menilai perkembangan kondisi dan efektivitas intervensi. Selanjutnya, perawat akan melakukan tindakan pendinginan, seperti memberikan kompres hangat (bukan dingin) pada area dengan pembuluh darah besar seperti dahi, ketiak, dan lipat paha. Kompres hangat lebih disarankan karena dapat menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) yang memfasilitasi pelepasan panas dari tubuh, sementara kompres dingin justru dapat menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah) yang memerangkap panas di dalam tubuh. Tindakan lain yang penting adalah memberikan terapi cairan yang adekuat, baik secara oral maupun intravena, untuk menggantikan cairan yang hilang melalui penguapan (berkeringat) dan proses peningkatan metabolisme selama demam. Mempertahankan asupan cairan sangat krusial untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperburuk kondisi. Selain tindakan fisik, perawat juga berperan dalam memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya istirahat untuk mengurangi produksi panas metabolik, serta mengenali tanda-tanda darurat yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antipiretik (penurun demam) seperti parasetamol juga merupakan bagian integral dari intervensi ini, dengan memastikan dosis dan waktu pemberian yang tepat. Semua tindakan ini dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kenyamanan pasien dan melibatkan keluarga dalam proses perawatan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang timbul secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Luaran yang diharapkan adalah pasien mampu mengelola dan mengendalikan rasa nyeri yang dialaminya. Kriteria luaran ini dapat diukur melalui beberapa indikator. Pertama, pasien dapat melaporkan penurunan skala nyeri (dalam kasus ini dari skala 4) ke tingkat yang lebih rendah atau bahkan nyeri hilang, yang menunjukkan efektivitas manajemen nyeri. Kedua, tanda-tanda vital pasien, seperti tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi pernapasan, harus menunjukkan tren menuju rentang normal, karena nyeri yang tidak terkontrol seringkali memicu peningkatan tanda-tanda vital tersebut. Ketiga, pasien mampu menunjukkan perilaku dan ekspresi wajah yang rileks, tidak lagi meringis, gelisah, atau melindungi area yang nyeri (ulu hati dan perut), yang mengindikasikan berkurangnya distress. Keempat, pasien dapat mendemonstrasikan teknik non-farmakologis yang diajarkan untuk mengurangi nyeri, seperti teknik relaksasi napas dalam atau distraksi. Kelima, pasien mampu beristirahat dan tidur dengan cukup tanpa terganggu oleh serangan nyeri. Pencapaian luaran ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien selama sakit dan mendukung proses penyembuhan secara keseluruhan.
Kode SIKI: I.07331
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup pendekatan komprehensif untuk mengurangi pengalaman nyeri pasien. Langkah awalnya adalah melakukan penilaian nyeri yang komprehensif, termasuk lokasi (ulu hati dan perut), karakteristik, intensitas (dengan menggunakan skala nyeri numerik atau wajah), faktor yang memperberat dan meringankan, serta dampaknya terhadap aktivitas. Berdasarkan hasil assessment, perawat kemudian merencanakan dan melaksanakan intervensi. Tindakan non-farmakologis merupakan fondasi utama, yang meliputi: menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi ketegangan otot dan ansietas, serta melakukan distraksi seperti mengajak bicara atau mendengarkan musik untuk mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. Posisi tubuh juga diatur untuk memastikan kenyamanan dan mengurangi tekanan pada area yang nyeri. Intervensi farmakologis dilakukan melalui kolaborasi dengan dokter, dimana perawat bertanggung jawab untuk memberikan analgetik yang diresepkan (misalnya, antasida atau analgesic lain untuk nyeri ulu hati) dengan tepat waktu, memantau efektivitasnya, dan mengawasi efek samping yang mungkin timbul. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, tujuan pengobatan, dan cara melaporkan nyeri juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Perawat juga akan memantau respons pasien terhadap terapi yang diberikan dan mendokumentasikannya secara berkala untuk mengevaluasi keefektifan manajemen nyeri secara keseluruhan.
Kondisi: Kekurangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler.
Kode SLKI: L.06008
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Luaran yang diinginkan adalah tercapainya dan terpeliharanya keseimbangan antara asupan dan haluaran cairan tubuh. Hal ini ditandai dengan beberapa parameter klinis. Pertama, tanda-tanda vital stabil, khususnya tekanan darah dan denyut nadi dalam rentang normal, yang menunjukkan bahwa volume cairan intravaskuler sudah adekuat untuk mempertahankan tekanan darah. Kedua, turgor kulit elastis, dimana kulit ketika dicubit akan segera kembali ke posisi semula, menandakan hidrasi jaringan yang baik. Ketiga, membran mukosa (seperti bibir dan rongga mulut) lembab, bukan kering atau pecah-pecah. Keempat, produksi urin yang adekuat, dengan haluaran urin minimal 0,5 - 1 mL/kg berat badan/jam, yang mengindikasikan perfusi ginjal yang baik. Kelima, pasien tidak mengalami mual dan muntah yang dapat memperburuk keadaan dehidrasi. Dalam konteks Demam Berdarah Dengue (DHF), luaran ini menjadi sangat kritis karena kebocoran plasma dapat dengan cepat menyebabkan syok hipovolemik. Pemantauan ketat terhadap keseimbangan cairan adalah kunci dalam mencegah perburukan kondisi.
Kode SIKI: I.04062
Deskripsi : Manajemen Cairan/Resusitasi Cairan. Intervensi ini adalah tindakan inti dan menyelamatkan jiwa pada pasien dengan risiko atau sudah mengalami kekurangan volume cairan, seperti dalam kasus DHF. Tindakan dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda vital dan status hidrasi, termasuk tekanan darah, nadi, frekuensi pernapasan, suhu, turgor kulit, dan keadaan membran mukosa. Perawat bertanggung jawab untuk memantau asupan dan haluaran cairan (balance cairan) secara akurat setiap jam atau sesuai protokol. Intervensi utama adalah pemberian cairan, yang dapat dilakukan dengan mendorong asupan oral jika pasien mampu dan tidak muntah-muntah. Namun, pada pasien DHF dengan mual dan muntah, pemberian cairan intravena (infus)几乎是 wajib. Perawat akan memasang akses intravena dan memberikan cairan kristaloid (seperti NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) sesuai resep dokter, dengan kecepatan yang diatur berdasarkan kondisi klinis pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium (seperti hematokrit). Selama pemberian cairan, perawat harus waspada terhadap tanda-tanda kelebihan cairan (overload) karena fase kebocoran plasma pada DHF dapat berganti dengan fase reabsorpsi. Tindakan kolaboratif lainnya termasuk pemberian obat antiemetik untuk mengontrol mual dan muntah, sehingga asupan oral dapat dimulai. Edukasi kepada keluarga tentang pentingnya memenuhi kebutuhan cairan pasien dan mengenali tanda-tanda dehidrasi juga merupakan bagian yang vital dari intervensi ini.
-
Article No. 22865 | 18 Nov 2025
Klinis : Lansia Laki Laki usia 84 tahun ditinggal istrinya meninggal. Data Subjektif: - Pasien mengatakan merasa kesepian walaupun tinggal bersama anak dan cucu. - “Saya sering merasa sendirian waktu malam hari.” - “Istri saya sudah meninggal 10 tahun lalu, rasanya sepi sekali.” - “Saya ingin berhenti dari kelompok lansia, sudah tidak semangat.” Data Objektif: - Wajah tampak murung dan datar. - Jarang tersenyum, sering melamun. - Menarik diri dari kegiatan sosial. - Skor UCLA Loneliness = 53 (kesepian ringan–sedang). - Skor GDS = 5 (depresi ringan) - Sering terbangun malam tanpa aktivitas sosial bermakna
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Kesepian
Kode SDKI: D.0036
Deskripsi Singkat: Risiko Kesepian adalah keadaan dimana seorang individu berisiko mengalami ketidaknyamanan yang bersifat subjektif karena kurangnya hubungan sosial yang diinginkan atau berbeda dengan yang diharapkan. Pada lansia ini, risiko tersebut telah termanifestasi menjadi pengalaman kesepian yang nyata, yang diperburuk oleh kehilangan pasangan hidup yang berkepanjangan dan kurangnya keterlibatan sosial. Data subjektif seperti pernyataan "rasanya sepi sekali" dan keinginan untuk berhenti dari kelompok lansia, ditambah data objektif seperti wajah murung, menarik diri, dan skor UCLA Loneliness yang menunjukkan kesepian ringan-sedang, menjadi dasar diagnosa ini. Kondisi ini tidak hanya tentang kesendirian secara fisik, tetapi lebih pada perasaan terisolasi secara emosional dan sosial meskipun secara fisik tinggal bersama keluarga. Perasaan kehilangan makna dan semangat hidup merupakan inti dari masalah ini, dimana dukungan sosial yang ada tidak dirasakan memadai atau memuaskan kebutuhan emosionalnya.
Kode SLKI: L.03142
Deskripsi : SLKI L.03142 berfokus pada upaya untuk meningkatkan keterlibatan sosial pasien. Tujuan utamanya adalah mengurangi perasaan terisolasi dan meningkatkan koneksi dengan orang lain. Intervensi keperawatan yang direncanakan mencakup mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaan kesepiannya secara terbuka, memberikan dukungan emosional dan empati, serta membantu mengidentifikasi sumber dukungan sosial yang potensial baik dari dalam keluarga (anak dan cucu) maupun komunitas (kelompok lansia). Perawat akan berperan sebagai fasilitator untuk membangun komunikasi yang lebih dalam antara pasien dengan keluarganya, mungkin dengan mengatur waktu berkualitas khusus. Selain itu, perawat dapat mendiskusikan pentingnya mempertahankan keanggotaan dalam kelompok lansia sebagai sarana untuk berbagi pengalaman dengan sesama rekan yang mungkin mengalami perasaan serupa, sehingga dapat menciptakan rasa kebersamaan dan saling pengertian. Membantu pasien menetapkan tujuan sosial kecil dan realistis, seperti menyapa satu orang di kelompok lansia setiap pertemuan, juga merupakan bagian dari luaran ini.
Kode SIKI: I.02810
Deskripsi : SIKI I.02810 merupakan tindakan keperawatan langsung untuk memfasilitasi keterlibatan sosial. Langkah-langkah konkretnya dimulai dengan menciptakan lingkungan terapeutik yang aman dan nyaman bagi pasien untuk berbicara tentang perasaannya tanpa takut dihakimi. Perawat akan secara aktif mendengarkan keluhannya dan memvalidasi perasaan kesepian yang dialami, mengkomunikasikan bahwa perasaan tersebut wajar dialami setelah kehilangan yang signifikan. Perawat kemudian akan berkolaborasi dengan pasien dan keluarga untuk mengembangkan strategi meningkatkan interaksi sosial. Ini dapat mencakup menjadwalkan kunjungan atau panggilan telepon rutin dari anggota keluarga yang lain, atau menghubungkan pasien dengan teman lama. Perawat juga dapat mendampingi pasien dalam kegiatan sosial awal untuk mengurangi kecemasannya. Intervensi kunci lainnya adalah Terapi Aktivitas Struktur, dimana perawat membantu merencanakan jadwal harian atau mingguan yang memasukkan aktivitas bermakna, seperti merawat tanaman, membaca, atau kegiatan ringan bersama cucu, untuk mengurangi waktu melamun dan merasa sendirian. Membantu pasien merefleksikan kenangan positif tentang istrinya dalam cara yang konstruktif,而不是 menghindarinya, juga dapat membantu dalam proses penerimaan dan menemukan makna baru dalam hidup. Evaluasi keberhasilan intervensi ini dilihat dari peningkatan partisipasi pasien dalam interaksi sosial, baik verbal maupun non-verbal, serta penurunan skala kesepian yang diukur secara berkala.