Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23417 | 24 Dec 2025
Klinis : Hipotonia Keseimbangan tubuh kurang Keterlambatan motorik Lingkungan rumah belum sepenuhnya aman pada pasien down syndrome
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan rentan terhadap cedera fisik akibat interaksi dengan sumber daya lingkungan (internal dan/atau eksternal), yang dapat mengancam kesehatan. Pada pasien dengan hipotonia, keterlambatan motorik, dan lingkungan rumah yang belum aman, risiko untuk terjatuh, terbentur, atau mengalami trauma lainnya sangat meningkat.
Kode SLKI: 4302
Deskripsi : SLKI 4302 berfokus pada Pencegahan Cedera. Tujuan utamanya adalah agar pasien terlindungi dari cedera. Indikator hasil keperawatan yang diharapkan meliputi: pasien bebas dari cedera, keluarga mampu mengidentifikasi faktor risiko cedera di lingkungan, keluarga memodifikasi lingkungan untuk mengurangi risiko, dan keluarga mampu memantau kondisi pasien untuk mencegah cedera. Dalam konteks pasien Down syndrome dengan hipotonia dan keterlambatan motorik, pencapaian SLKI ini sangat krusial. Perawat akan mengevaluasi keberhasilan intervensi berdasarkan kemampuan keluarga dalam menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang aman, serta tidak adanya insiden cedera pada pasien selama periode perawatan.
Kode SIKI: 4208
Deskripsi : SIKI 4208 adalah Manajemen Lingkungan. Intervensi ini didefinisikan sebagai manipulasi terhadap lingkungan pasien untuk tujuan terapeutik. Langkah-langkah spesifik yang harus dilakukan perawat meliputi: pertama, melakukan pengkajian menyeluruh terhadap keamanan lingkungan rumah pasien, mengidentifikasi bahaya seperti lantai licin, furnitur dengan sudut tajam, tangga tanpa pengaman, atau benda kecil yang dapat tertelan. Kedua, berkolaborasi dengan keluarga untuk memodifikasi lingkungan, seperti memasang pengaman tangga (baby gate), bantalan pelindung sudut furnitur, mengamankan kabel listrik, menggunakan alas lantai anti-slip, dan menyediakan area bermain yang aman dan lunak. Ketiga, edukasi kepada keluarga tentang pentingnya pengawasan ketat karena tonus otot yang rendah dan koordinasi yang belum baik membuat pasien mudah terjatuh. Keempat, merekomendasikan alat bantu atau terapi okupasi untuk meningkatkan stabilitas dan kemampuan motorik. Intervensi ini bersifat holistik, tidak hanya fisik tetapi juga psikososial, dengan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan sekaligus melindungi. Implementasi SIKI ini secara konsisten diharapkan dapat secara signifikan menurunkan potensi cedera dan meningkatkan kemandirian serta kualitas hidup pasien.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 00085
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan pergerakan fisik yang mandiri dan bertujuan. Hipotonia (tonus otot rendah) dan keterlambatan motorik yang dialami pasien Down syndrome secara langsung menyebabkan hambatan dalam melakukan pergerakan, perubahan koordinasi, dan keterbatasan rentang gerak, yang memengaruhi kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Kode SLKI: 0406
Deskripsi : SLKI 0406 berfokus pada Kemampuan Mobilitas. Tujuannya adalah meningkatkan atau mempertahankan kemampuan perpindahan dan mobilitas pasien. Indikator hasil yang diharapkan mencakup: pasien menunjukkan peningkatan kekuatan otot dan kontrol, pasien dapat melakukan perpindahan posisi dengan bantuan sesuai kebutuhan, pasien berpartisipasi dalam aktivitas motorik sesuai kemampuan, dan keluarga mampu membantu serta memfasilitasi latihan mobilitas. Pada pasien dengan hipotonia, kemajuan mungkin bertahap, sehingga keberhasilan diukur dari peningkatan partisipasi, penurunan ketergantungan, dan pencegahan komplikasi imobilisasi seperti kontraktur.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : SIKI 0840 adalah Terapi Latihan: Mobilisasi. Intervensi ini melibatkan pemberian bantuan aktif atau pasif untuk meningkatkan pergerakan tubuh. Implementasinya meliputi: pertama, melakukan asesmen kemampuan motorik kasar dan halus pasien. Kedua, merancang program latihan yang aman dan sesuai, seperti latihan mengangkat kepala, duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan dengan pendekatan bertahap. Ketiga, melatih keluarga untuk melakukan teknik mobilisasi dan posisi yang benar, termasuk bagaimana memindahkan pasien dengan aman untuk mencegah cedera pada pengasuh dan pasien. Keempat, mengajarkan dan mendorong latihan rentang gerak (range of motion/ROM) pasif dan aktif untuk semua sendi guna mempertahankan fleksibilitas dan mencegah kekakuan. Kelima, berkolaborasi dengan fisioterapis untuk program terapi yang lebih spesifik. Intervensi ini harus dilakukan secara rutin dan konsisten, disesuaikan dengan toleransi pasien, dan diintegrasikan ke dalam aktivitas bermain atau sehari-hari untuk meningkatkan motivasi.
Kondisi: Ketidakefektifan Penatalaksanaan Regimen Terapeutik Keluarga
Kode SDKI: 00079
Deskripsi Singkat: Diagnosa ini mengacu pada pola di mana keluarga mengalami atau berisiko mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan program pengobatan dan promosi kesehatan ke dalam proses kehidupan sehari-hari secara memadai. Lingkungan rumah yang belum sepenuhnya aman menunjukkan adanya tantangan dalam menerapkan rekomendasi keamanan dan terapi, yang dapat menghambat perkembangan dan keselamatan pasien Down syndrome.
Kode SLKI: 1904
Deskripsi : SLKI 1904 adalah Kemampuan Keluarga dalam Penatalaksanaan Regimen Terapeutik. Tujuannya adalah keluarga mampu merencanakan dan melaksanakan tindakan terapeutik secara efektif. Indikatornya meliputi: keluarga dapat mengidentifikasi kebutuhan terapeutik pasien (keamanan, stimulasi motorik), keluarga menyiapkan lingkungan yang mendukung, keluarga melaksanakan intervensi yang direncanakan (seperti latihan dan pengawasan), serta keluarga mengevaluasi efektivitas dan melakukan penyesuaian. Keberhasilan ditandai dengan terciptanya lingkungan yang aman dan stimulatif serta konsistensi keluarga dalam menerapkan perawatan.
Kode SIKI: 5240
Deskripsi : SIKI 5240 adalah Peningkatan Kemampuan Keluarga. Intervensi ini bertujuan memfasilitasi keluarga dalam mengelola kebutuhan perawatan anggota keluarga yang sakit. Langkah-langkahnya meliputi: pertama, melakukan asesmen mendalam terhadap tingkat pengetahuan, keyakinan, sumber daya, dan hambatan yang dihadapi keluarga. Kedua, memberikan edukasi komprehensif tentang kondisi Down syndrome, implikasi hipotonia, pentingnya stimulasi motorik, dan prinsip keamanan rumah. Ketiga, melibatkan keluarga dalam perencanaan perawatan, misalnya bersama-sama merancang modifikasi rumah yang praktis dan terjangkau. Keempat, mendemonstrasikan dan melakukan supervisi keluarga dalam melakukan latihan mobilitas dan teknik pengawasan. Kelima, memberikan dukungan emosional dan penghargaan atas usaha keluarga untuk meningkatkan motivasi. Keenam, menghubungkan keluarga dengan kelompok dukungan atau layanan komunitas. Intervensi ini bersifat memberdayakan sehingga keluarga menjadi mitra aktif yang kompeten dalam perawatan jangka panjang.
-
Article No. 23418 | 24 Dec 2025
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau menyerupai kerusakan jaringan tersebut, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri dengan kriteria hasil: 1) Menyatakan nyeri berkurang atau hilang. 2) Mengenali faktor penyebab nyeri. 3) Mengenali tanda dan gejala nyeri. 4) Melaporkan tidak adanya perilaku yang menunjukkan nyeri (seperti menangis, mengaduh, meringis). 5) Tanda vital dalam rentang normal. 6) Melaporkan mampu beristirahat dengan cukup. 7) Mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 8) Mematuhi regimen farmakologis yang diresepkan. 9) Menggunakan analgesik dengan tepat. 10) Fungsi fisik meningkat (seperti mobilitas, aktivitas sehari-hari).
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien, meliputi aktivitas: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor pencetus, dan faktor yang meringankan). 2) Observasi isyarat verbal dan nonverbal dari ketidaknyamanan. 3) Gunakan alat pengukuran nyeri yang sesuai (skala numerik, wajah, deskriptif) sesuai usia dan kondisi pasien. 4) Kaji dampak nyeri terhadap fungsi kehidupan (tidur, nafsu makan, aktivitas fisik, konsentrasi, hubungan sosial). 5) Berikan analgesik sesuai resep dan protokol, perhatikan prinsip benar (right) dalam pemberian obat. 6) Evaluasi efektivitas dan efek samping analgesik setelah pemberian. 7) Ajarkan dan bantu pasien menggunakan teknik nonfarmakologis (distraksi, relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, masase, posisi yang nyaman). 8) Lakukan modifikasi lingkungan untuk mendukung kenyamanan (pencahayaan, suhu, kebisingan). 9) Berikan pendidikan kesehatan tentang nyeri, regimen pengobatan, dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini. 10) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, fisioterapis, ahli gizi) untuk penanganan nyeri yang komprehensif. 11) Dukung pasien dan keluarga dalam menghadapi pengalaman nyeri. 12) Dokumentasi karakteristik nyeri, intervensi, dan respons pasien secara akurat dan berkelanjutan. Intervensi ini bertujuan tidak hanya untuk mengurangi sensasi nyeri tetapi juga meminimalkan dampak emosional dan fungsionalnya, meningkatkan kemandirian pasien dalam manajemen nyeri, dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat nyeri yang tidak tertangani seperti imobilisasi, insomnia, atau gangguan pemulihan.
-
Article No. 23401 | 23 Dec 2025
Klinis : Seorang laki-laki, usia 55 tahun, di diagnosa menderita kanker paru dengan metastase pada tulang, dan sedang kemoterapi ke 7 dari 20 program yang disampaikan oleh DPJP. Akhir-akhir ini dia mengeluh sesak nafas walaupun dalam kondisi berbaring dan terlentang di tempat tidur dan nyeri pada waktu-waktu tertentu. Pasien juga tidak mau makan dan minum, karena setiap selesai kemoterapi, pasien merasakan mual dan muntah setiap kali makanan dan minuman masuk mulutnya. Pasien sudah mendapatkan terapi campuran morfin yang diberikan setiap 4 jam, namun nyeri dan sesak masih berlanjut, sehingga keluarga memutuskan untuk membawa pasien kembali ke rumah sakit. Keluarga mengatakan, akhir – akhir ini pasien mengatakan tidak kuat dengan penyakitnya, dan ingin mati saja. Pasien merasa , sakit yang diderita nya saat ini, karena pasien sudah durhaka kepada ibunya, karena tidak mampu mengurus ibunya yang sudah tua. Pasien mengatakan hidupnya tidak lagi berarti dan merasa putus asa terhadap masa depannya. Pasien tampak jarang melaksanakan salat dan tidak menunjukkan upaya untuk berdoa. Pasien tampak kesulitan melakukan aktivitas ibadah dan menunjukkan sikap pasrah yang disertai ekspresi sedih. Pasien tampak menarik diri dari aktivitas spiritual dan menunjukkan tanda-tanda merasa jauh dari Allah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Bunuh Diri
Kode SDKI: D.0074
Deskripsi Singkat: Risiko individu untuk melakukan tindakan yang dapat mengakhiri hidupnya sendiri.
Kode SLKI: L.07131
Deskripsi : Klien terlindungi dari perilaku bunuh diri.
Kode SIKI: I.01230
Deskripsi : Lakukan pengkajian risiko bunuh diri. I.01231: Monitor tanda-tanda perilaku bunuh diri. I.01232: Kolaborasi pemberian terapi farmakologi untuk menurunkan risiko bunuh diri. I.01233: Bantu klien mengidentifikasi sumber harapan. I.01234: Libatkan keluarga dalam memantau dan memberikan dukungan untuk mencegah bunuh diri. I.01235: Rujuk pada tenaga profesional kesehatan jiwa.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03021
Deskripsi : Tingkat nyeri klien terkontrol.
Kode SIKI: I.0809
Deskripsi : Kaji nyeri secara komprehensif. I.0810: Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri. I.0811: Kolaborasi pemberian analgetik. I.0812: Evaluasi efektivitas manajemen nyeri. I.0813: Monitor efek samping terapi analgetik.
Kondisi: Gangguan Pola Nafas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan pola inspirasi dan/atau ekspirasi yang memberikan ventilasi tidak adekuat.
Kode SLKI: L.04011
Deskripsi : Pola nafas klien efektif.
Kode SIKI: I.0580
Deskripsi : Kaji status pernafasan. I.0581: Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi. I.0582: Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan nafas dalam. I.0583: Kolaborasi pemberian terapi oksigen. I.0584: Monitor status gas darah dan saturasi oksigen.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Risiko asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.06031
Deskripsi : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kode SIKI: I.0730
Deskripsi : Kaji status nutrisi. I.0731: Kolaborasi pemberian antiemetik. I.0732: Atur lingkungan yang nyaman untuk makan. I.0733: Berikan makanan dalam porsi kecil dan sering. I.0734: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan diet. I.0735: Monitor tanda-tanda dehidrasi dan malnutrisi.
Kondisi: Keputusasaan
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Kondisi subjektif ketika individu melihat alternatif yang terbatas atau tidak ada sama sekali dan tidak mampu memobilisasi energi untuk kepentingan dirinya sendiri.
Kode SLKI: L.14051
Deskripsi : Klien menunjukkan harapan.
Kode SIKI: I.13346
Deskripsi : Kaji tingkat keputusasaan. I.13347: Bantu klien mengidentifikasi kekuatan dan sumber dukungan. I.13348: Fasilitasi klien untuk mengekspresikan perasaan. I.13349: Bantu klien menetapkan tujuan kecil yang realistis. I.13350: Tingkatkan partisipasi klien dalam perawatan diri.
Kondisi: Distres Spiritual
Kode SDKI: D.0088
Deskripsi Singkat: Keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami gangguan dalam sistem keyakinan atau nilai-nilai yang memberikan kekuatan, harapan, dan makna hidup.
Kode SLKI: L.15011
Deskripsi : Klien mencapai kedamaian spiritual.
Kode SIKI: I.14030
Deskripsi : Kaji distres spiritual. I.14031: Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan spiritual klien. I.14032: Fasilitasi klien untuk terhubung dengan sumber spiritual yang diyakininya. I.14033: Kolaborasi dengan pemuka agama sesuai kepercayaan klien. I.14034: Bantu klien menemukan makna dalam pengalaman sakitnya.
-
Article No. 23402 | 23 Dec 2025
Klinis : Pasien mengatakan diare mulai pagi ini lebih dari 10x,mual muntah nyeri ulu hati badan lemas,radang tenggorokan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang tidak diinginkan.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Tujuan keperawatan adalah pasien mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat, yang ditandai dengan tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk pasien, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, pengisian kapiler kurang dari 3 detik, haluaran urine adekuat, dan berat badan stabil. Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan ketat asupan dan keluaran cairan, memantau tanda-tanda vital dan status hemodinamik, memberikan cairan per oral atau intravena sesuai indikasi dan protokol, memantau hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit, hematokrit, BUN), serta mendidik pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dehidrasi atau kelebihan cairan. Perawat juga akan menimbang berat badan pasien secara teratur, memposisikan pasien dengan nyaman, dan memantau respons terhadap terapi cairan yang diberikan.
Kode SIKI: I.05058
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi ini melibatkan pemberian cairan untuk mempertahankan atau memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pada kasus pasien dengan diare dan muntah hebat, intervensi dimulai dengan pengkajian menyeluruh terhadap riwayat penyebab (kemungkinan gastroenteritis akut), frekuensi dan karakter diare/muntah, serta tanda-tanda klinis dehidrasi (seperti lemas, turgor kulit, mata cekung). Perawat akan menghitung kebutuhan cairan berdasarkan defisit yang terjadi, kehilangan yang sedang berlangsung, dan kebutuhan cairan pemeliharaan. Pemberian cairan dapat dilakukan secara oral (cairan rehidrasi oral/ORS) jika pasien mampu, atau secara intravena (infus) jika kehilangan cairan berat atau muntah persisten. Pemantauan ketat meliputi pencatatan akurat intake dan output (termasuk volume diare dan muntah), pemantauan tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu) setiap 1-4 jam tergantung kondisi, pengamatan turgor kulit dan membran mukosa mulut, serta pengukuran berat badan harian. Perawat juga bertanggung jawab memantau efek pemberian cairan dan melaporkan tanda-tanda ketidakseimbangan lebih lanjut atau komplikasi seperti overload cairan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuannya adalah pasien mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima, yang dimanifestasikan dengan melaporkan penurunan skala nyeri, tampak rileks, mampu istirahat atau tidur, dan tanda-tanda vital yang stabil. Perawat akan mengkaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakter, intensitas, durasi, faktor pencetus dan pereda) menggunakan skala yang sesuai. Intervensi meliputi pemberian analgesik sesuai resep (misalnya untuk nyeri ulu hati dan radang tenggorokan), penerapan teknik non-farmakologis seperti distraksi, relaksasi napas dalam, atau kompres hangat/dingin pada abdomen jika sesuai. Penting juga untuk menciptakan lingkungan yang tenang, memposisikan pasien dengan nyaman, serta mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan dalam waktu tertentu setelah pelaksanaan.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Pada kasus ini, perawat akan fokus pada dua sumber nyeri: nyeri ulu hati dan radang tenggorokan. Untuk nyeri ulu hati, tindakan dapat mencakup pemberian obat antasida atau analgetik sesuai resep, anjuran untuk makan dalam porsi kecil dan lunak jika sudah dapat makan, serta menghindari makanan yang merangsang. Untuk nyeri tenggorokan, tindakan dapat berupa pemberian obat kumur atau lozenges sesuai resep, anjuran konsumsi cairan hangat dan makanan lunak, serta istirahat suara. Perawat akan mendokumentasikan respons nyeri sebelum dan setelah intervensi, memantau efek samping obat, dan berkolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkontrol.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Kontrol Suhu Tubuh. Tujuannya adalah suhu tubuh pasien kembali dalam rentang normal, ditandai dengan suhu aksila 36-37,5°C, tidak ada menggigil atau diaforesis berlebihan, serta tanda vital stabil. Intervensi keperawatan meliputi pemantauan suhu tubuh secara berkala, memberikan antipiretik sesuai resep dokter, melakukan tindakan pendinginan non-farmakologis seperti kompres hangat di dahi dan ketiak (hindari air dingin karena dapat menyebabkan menggigil), meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi sekunder akibat demam, serta mempertahankan lingkungan yang nyaman dengan sirkulasi udara baik. Perawat juga akan memantau tanda-tanda kejang demam terutama jika ada riwayat atau suhu sangat tinggi.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi spesifik ini melibatkan pengurangan suhu tubuh tinggi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi panas dan pelepasan panas. Mengingat pasien juga mengalami radang tenggorokan dan diare-muntah (mengindikasikan kemungkinan infeksi), manajemen hipertermia menjadi bagian penting. Perawat akan mengukur suhu dengan termometer yang tepat dan mendokumentasikan pola demam. Tindakan pendinginan fisik dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari vasokonstriksi perifer yang justru menghambat pelepasan panas. Peningkatan asupan cairan sangat ditekankan untuk mengganti kehilangan cairan insensible yang meningkat selama demam. Perawat akan memantau respons terhadap antipiretik dan melaporkan jika demam persisten, yang mungkin memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan penyebab infeksi.
-
Article No. 23403 | 23 Dec 2025
Klinis : Pasien mengatakan diare mulai pagi ini lebih dari 10x,mual muntah nyeri ulu hati badan lemas,radang tenggorokan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang tidak diinginkan.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Tujuan keperawatan adalah pasien mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat, dibuktikan oleh tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, haluaran urine adekuat, dan keseimbangan cairan yang seimbang. Pada kasus pasien dengan diare akut dan muntah, fokus SLKI adalah mencegah dehidrasi lebih lanjut dan mengembalikan keseimbangan cairan. Intervensi keperawatan diarahkan untuk memantau tanda-tanda dehidrasi (seperti takikardia, hipotensi, penurunan turgor kulit, mata cekung), memonitor asupan dan keluaran cairan secara ketat, serta memberikan rehidrasi oral atau intravena sesuai anjuran. Perawat juga akan mendidik pasien dan keluarga tentang pentingnya minum cairan dalam jumlah kecil namun sering, serta memantau respons tubuh terhadap terapi rehidrasi. Pencapaian SLKI ini dinilai melalui stabilitas tanda vital, perbaikan turgor kulit, peningkatan produksi urine, dan keseimbangan cairan yang positif menuju normal.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi ini melibatkan pemberian dan pemantauan cairan serta elektrolit secara sistematis. Langkah-langkah konkretnya dimulai dengan pengkajian menyeluruh: memantau frekuensi, volume, dan konsistensi diare serta muntah; mengukur tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi) secara berkala; menilai turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan adanya mata cekung; serta mencatat asupan oral dan haluaran urine secara akurat. Intervensi pemberian cairan dilakukan dengan kolaborasi, seperti pemberian cairan rehidrasi oral (oralit) dengan teknik sedikit-sering untuk mengurangi mual, atau mempersiapkan pemberian cairan intravena (infus) seperti Ringer Laktat atau NaCl 0.9 sesuai instruksi dokter untuk koreksi defisit yang lebih berat. Pemantauan respons mencakup penimbangan berat badan harian, pemeriksaan elektrolit serum (natrium, kalium, klorida), dan pengamatan ketat terhadap tanda beban cairan berlebih atau ketidakseimbangan elektrolit. Intervensi pendukung termasuk memposisikan pasien untuk mencegah aspirasi jika muntah, memberikan hygiene mulut untuk kenyamanan membran mukosa yang kering, dan mengajarkan pasien/keluarga untuk mengenali tanda dehidrasi yang perlu dilaporkan. Intervensi ini bersifat dinamis dan terus dievaluasi berdasarkan data klinis terkini untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi rehidrasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan keperawatan adalah pasien mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima atau pengendalian nyeri yang memadai, dibuktikan dengan pelaporan nyeri berkurang, ekspresi wajah rileks, mampu beristirahat, dan tanda vital stabil. Pada pasien dengan nyeri ulu hati (epigastrium) dan radang tenggorokan, SLKI ini berfokus pada mengurangi sensasi nyeri yang mengganggu. Perawat akan mengkaji karakteristik nyeri (lokasi, intensitas dengan skala, faktor pencetus dan pereda), serta dampaknya terhadap kenyamanan dan aktivitas. Intervensi dilakukan untuk mengelola nyeri melalui pendekatan farmakologis (seperti pemberian analgesik atau antasida sesuai resep) dan non-farmakologis (seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi, atau pemberian cairan hangat untuk tenggorokan). Evaluasi keberhasilan didasarkan pada penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien, penampilan yang lebih tenang, dan kemampuan untuk beristirahat dengan lebih baik.
Kode SIKI: I.01446
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi. Langkah-langkahnya dimulai dengan pengkajian komprehensif menggunakan skala nyeri (numerik atau wajah) untuk mengukur intensitas nyeri di ulu hati dan tenggorokan, serta mengobservasi perilaku nonverbal (wajah mengerut, gelisah, postur melindungi). Intervensi non-farmakologis diterapkan seperti mengajarkan teknik relaksasi pernapasan untuk mengurangi ketegangan, memberikan lingkungan yang tenang, menyarankan konsumsi makanan lunak dan tidak asam untuk mengurangi iritasi tenggorokan dan lambung, serta menganjurkan posisi tubuh yang nyaman (misalnya, setengah duduk). Kolaborasi farmakologis meliputi pemberian obat sesuai resep dokter (misalnya, analgetik, antasida, atau obat untuk infeksi jika dicurigai penyebab infeksius) dengan memantau efektivitas dan efek sampingnya. Edukasi diberikan kepada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri, cara menggunakan skala nyeri, dan metode non-obat yang dapat dilakukan secara mandiri. Evaluasi dilakukan secara berkala setelah intervensi untuk menilai respons nyeri dan menentukan kebutuhan modifikasi rencana manajemen nyeri.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.03005
Deskripsi : Toleransi Aktivitas. Tujuan keperawatan adalah pasien dapat meningkatkan toleransi terhadap aktivitas, ditunjukkan oleh kemampuan melakukan aktivitas dengan tingkat kelelahan yang minimal, tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas, serta pelaporan peningkatan energi. Pada pasien yang mengalami badan lemas akibat diare, muntah, dan kemungkinan dehidrasi, SLKI ini berfokus pada pemulihan energi secara bertahap. Perawat akan mengkaji respons fisiologis pasien terhadap aktivitas ringan (seperti duduk di tempat tidur atau berjalan ke kamar mandi). Intervensi meliputi perencanaan periode istirahat yang cukup, membantu dalam aktivitas perawatan diri jika diperlukan, dan secara bertahap meningkatkan aktivitas sesuai toleransi. Keberhasilan ditandai dengan pasien mampu melakukan aktivitas dasar tanpa mengalami distress pernapasan, takikardia berat, atau kelelahan yang berlebihan.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi ini melibatkan pengaturan energi untuk memperlancar penyelesaian aktivitas yang diinginkan dan mengurangi kelelahan. Implementasinya mencakup pengkajian pola energi dengan mengobservasi tanda-tanda kelelahan (lemas, lesu, menguap) dan memantau tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Perencanaan aktivitas dilakukan dengan menyusun jadwal yang menyeimbangkan antara aktivitas dan istirahat, misalnya dengan menyarankan istirahat total selama fase akut muntah-diare, kemudian secara bertahap mengizinkan aktivitas ringan di dalam kamar. Intervensi penghematan energi diterapkan seperti membantu pasien dalam perawatan diri (mandi, ganti baju), menempatkan barang-barang yang diperlukan dalam jangkauan, serta mendorong penggunaan teknik pernapasan yang efektif selama aktivitas. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya mendengarkan tubuh dan beristirahat ketika lemas, serta strategi untuk memprioritaskan aktivitas. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain mungkin diperlukan jika kelemahan sangat berat terkait dengan ketidakseimbangan elektrolit. Evaluasi keberhasilan manajemen energi dilihat dari peningkatan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas tanpa memperburuk gejala atau menimbulkan kelelahan ekstrem.
-
Article No. 23404 | 23 Dec 2025
Klinis : Pasien mengatakan diare mulai pagi ini lebih dari 10x,mual muntah nyeri ulu hati badan lemas,radang tenggorokan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis Akut dan Faringitis Akut
Kode ICD-10: A09.0 dan J02.9
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami dua kondisi akut yang kemungkinan terkait. Kode A09.0 (Gastroenteritis dan kolitis yang tidak diketahui asalnya) mencakup gejala diare akut lebih dari 10 kali, mual, muntah, nyeri ulu hati, dan badan lemas, yang merupakan gambaran khas infeksi atau peradangan pada saluran pencernaan. Kode J02.9 (Faringitis akut, tidak ditentukan) menggambarkan radang tenggorokan yang dialami pasien. Kombinasi gejala gastrointestinal dan faringitis sering kali disebabkan oleh infeksi virus (seperti Norovirus atau Adenovirus) yang dapat menyerang kedua sistem tersebut. Kode ICD-10 ini digunakan untuk mendokumentasikan penyebab utama kunjungan pasien, yaitu sindrom diare akut yang disertai gejala saluran napas atas, yang penting untuk pelacakan epidemiologi dan tata laksana awal yang berfokus pada rehidrasi dan penanganan gejala.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23405 | 23 Dec 2025
Klinis : - Wajah tampak meringis - Uterus berkontraksi - Tanda pelepasan plasenta + - Pendarahan ± Normal TTV dalam batas normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0800
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan akhir dari intervensi keperawatan ini adalah agar nyeri klien dapat dikontrol. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Klien melaporkan nyeri dapat dikontrol. 2) Mengenali onset nyeri. 3) Menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 4) Mematuhi regimen pengobatan nyeri. 5) Melaporkan efek samping atau respons yang tidak diinginkan terhadap terapi nyeri. 6) Melakukan aktivitas sehari-hari. Dalam konteks persalinan kala III, kontrol nyeri difokuskan pada pengelolaan nyeri akibat kontraksi uterus dan proses pelepasan plasenta, memastikan ibu dapat melalui tahap ini dengan kenyamanan maksimal dan mengenali pola nyeri yang normal.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan untuk mencegah atau meringankan nyeri. Aktivitas yang dilakukan perawat meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus). 2) Observasi isyarat nonverbal dari ketidaknyamanan, terutama pada klien yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik (misalnya, wajah meringis). 3) Tentukan dampak pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup. 4) Gunakan pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis untuk menangani nyeri. 5) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi yang nyaman). 6) Berikan analgetik sesuai program terapi dan evaluasi keefektifannya. 7) Kurangi faktor pencetus nyeri. 8) Evaluasi keefektifan kontrol nyeri dalam interval yang tepat. Pada pasien dengan tanda-tanda persalinan kala III (kontraksi uterus, pelepasan plasenta), manajemen nyeri sangat krusial. Wajah yang meringis merupakan indikator nonverbal utama nyeri akut. Perawat harus mengkaji intensitas nyeri kontraksi yang membantu proses pelepasan plasenta dan kelahiran plasenta. Meskipun perdarahan masih normal dan TTV stabil, nyeri tetap harus dikelola. Intervensi nonfarmakologis seperti teknik pernapasan, sentuhan terapeutik, dan penjelasan tentang proses yang terjadi (bahwa kontraksi dan nyeri adalah hal normal untuk mengeluarkan plasenta dan menghentikan perdarahan) sangat penting. Pemberian analgesik dapat dipertimbangkan sesuai protokol dan kondisi ibu. Perawat juga harus memastikan bahwa lingkungan tenang dan suportif, serta memberikan pujian atas ketahanan ibu. Manajemen nyeri yang efektif pada kala III tidak hanya memberikan kenyamanan tetapi juga mendukung proses fisiologis, karena ketegangan dan kecemasan akibat nyeri yang tidak tertahankan dapat mempengaruhi refleks tubuh dan kontraksi uterus.
-
Article No. 23406 | 23 Dec 2025
Klinis : SIKI Perawatan jantung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Perawatan jantung
Kode ICD-10: Z09.8
Deskripsi Singkat : Kode Z09.8 mengindikasikan "Pemeriksaan lanjutan setelah pengobatan untuk kondisi lain". Dalam konteks "Perawatan jantung", ini digunakan untuk kunjungan kontrol atau pemeriksaan tindak lanjut setelah selesainya pengobatan aktif untuk suatu penyakit jantung. Kode ini tidak menggambarkan penyakit jantung itu sendiri, melainkan status pasien yang sedang dalam fase pemantauan pasca-terapi. Penggunaannya tepat setelah pasien telah menjalani perawatan seperti intervensi koroner (stent), operasi bypass (CABG), pengobatan untuk gagal jantung, atau manajemen aritmia yang sukses. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi hasil pengobatan, memantau stabilitas kondisi, dan mencegah kekambuhan. Kode ini termasuk dalam Bab Faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Kontak dengan Layanan Kesehatan (Z00-Z99). Penting untuk mencatat kode diagnosis penyakit jantung asli yang telah dirawat sebagai kode utama atau tambahan untuk memberikan konteks lengkap. Penggunaan Z09.8 membantu dalam perencanaan perawatan berkelanjutan dan alokasi sumber daya kesehatan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23407 | 23 Dec 2025
Klinis : Ibu hamil G1P0 usia kehamilan 28 minggu mengeluh cepat lelah dan sesak saat berjalan jauh. TD 110/70 mmHg, RR 24x/menit, Hb 9,6 g/dL, konjungtiva pucat, DJJ normal.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif dan Intoleransi Aktivitas pada Kehamilan dengan Anemia
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi oksigen, nutrisi, dan produk metabolik pada tingkat kapiler yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang normal untuk individu, 2) Denyut nadi dalam rentang normal untuk individu, 3) Warna kulit dan membran mukosa normal, 4) Suhu kulit hangat, 5) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 6) Tidak ada edema, 7) Tidak ada nyeri pada ekstremitas, 8) Kekuatan otot ekstremitas normal, 9) Sensasi pada ekstremitas normal.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Manajemen Anemia. Tindakan: 1) Monitor tanda dan gejala anemia (kelelahan, pucat, takikardia, sesak napas, pusing), 2) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, jumlah eritrosit, indeks eritrosit), 3) Kolaborasi pemberian terapi suplementasi zat besi, asam folat, atau vitamin B12 sesuai indikasi, 4) Anjurkan meningkatkan asupan makanan sumber zat besi, asam folat, dan vitamin B12, 5) Anjurkan meningkatkan asupan makanan sumber vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi, 6) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyebab, pencegahan, dan penanganan anemia, 7) Atur aktivitas sesuai toleransi, 8) Monitor tanda-tanda perdarahan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Ditandai dengan: 1) Melaporkan peningkatan energi, 2) Melaporkan penurunan keluhan lelah dan lemah, 3) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas, 4) Tidak mengalami sesak napas selama dan setelah aktivitas, 5) Tidak mengalami nyeri dada selama dan setelah aktivitas, 6) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai rencana.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Energi. Tindakan: 1) Kaji faktor penyebab kelelahan, 2) Monitor tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas, 3) Kaji respons individu terhadap aktivitas, 4) Bantu identifikasi aktivitas yang dapat memicu kelelahan, 5) Bantu rencanakan dan atur jadwal aktivitas sesuai prioritas, 6) Anjurkan teknik penghematan energi, 7) Anjurkan meningkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi, 8) Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi dan cairan, 9) Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk beristirahat.
-
Article No. 23408 | 23 Dec 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sesak dirasakan memberat hingga pasien tidak bisa istirahat. Mual muntah (+) muntah hari ini 2x berisi cairan. Pasien sebelumnya opname di RSDS dengan keluhan serupa dan riwayat diambil cairan paru. Pasien riwayat CKD on HD tiap Rabu dan Sabtu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada tingkat membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Tujuan: Pasien menunjukkan pertukaran gas yang adekuat. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan status pernapasan yang adekuat, ditandai dengan: frekuensi pernapasan dalam rentang normal, irama pernapasan reguler, tidak ada dispnea atau ortopnea, tidak ada bunyi napas adventisius (ronkhi, wheezing), tidak ada sianosis, dan penggunaan otot bantu napas. 2) Pasien menunjukkan status kardiovaskular yang adekuat, ditandai dengan: denyut nadi dalam rentang normal, irama nadi reguler, tekanan darah dalam rentang normal, dan tidak ada edema perifer. 3) Pasien menunjukkan status neurologis yang adekuat, ditandai dengan: tingkat kesadaran compos mentis (GCS 15), orientasi orang, tempat, dan waktu, dan tidak ada gelisah atau penurunan kesadaran. 4) Pasien menunjukkan nilai analisis gas darah arteri dalam rentang normal, ditandai dengan: pH 7,35-7,45, PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L, dan saturasi O2 >95%.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi: 1) Kaji status pernapasan: frekuensi, irama, kedalaman, upaya napas, penggunaan otot bantu, simetri pengembangan dada, dan bunyi napas. 2) Kaji status oksigenasi: warna kulit/membran mukosa (sianosis), saturasi oksigen (pulse oximetry), dan analisis gas darah jika diperlukan. 3) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (mis., posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi) sesuai toleransi dan kondisi. 4) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan: latihan napas dalam, batuk efektif, postural drainage, perkusi, dan vibrasi. 5) Berikan terapi oksigen sesuai program dan pantau efektivitasnya. 6) Lakukan suction jalan napas jika diperlukan untuk membersihkan sekret. 7) Pantau respons hemodinamik terhadap gangguan pertukaran gas (denyut nadi, tekanan darah). 8) Kolaborasi pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau lainnya sesuai program. 9) Ajarkan pasien/keluarga tentang teknik pernapasan dan batuk efektif. 10) Monitor tingkat kesadaran dan tanda-tanda hipoksia/ hiperkapnia.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: 00026
Deskripsi Singkat: Peningkatan retensi cairan isotonik.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Status Cairan. Tujuan: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan tanda vital dalam rentang normal, ditandai dengan: tekanan darah normal, denyut nadi normal, frekuensi pernapasan normal, dan suhu tubuh normal. 2) Pasien menunjukkan keseimbangan cairan, ditandai dengan: intake dan output seimbang, tidak ada edema (perifer, sakral, anasarka), tidak ada ascites, tidak ada ronkhi basah halus di paru, berat badan stabil (tidak ada peningkatan akut), dan turgor kulit baik. 3) Pasien menunjukkan nilai elektrolit dalam rentang normal, ditandai dengan: natrium, kalium, klorida, dan ureum/kreatinin sesuai batas normal atau sesuai kondisi penyakit dasar. 4) Pasien menunjukkan membran mukosa lembab dan rasa haus tidak berlebihan.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Manajemen Kelebihan Volume Cairan. Intervensi: 1) Kaji status cairan: monitor balance cairan (intake-output ketat), timbang berat badan harian dengan skala yang sama, waktu yang sama, dan pakaian yang sama. 2) Kaji tanda-tanda kelebihan cairan: edema (lokasi, derajat pitting), distensi vena jugularis, ascites, bunyi napas ronkhi (crackles), sesak napas, ortopnea. 3) Batasi asupan cairan sesuai program terapi (restriksi cairan) dan edukasi pasien/keluarga. 4) Batasi asupan natrium sesuai program dan edukasi pasien/keluarga. 5) Posisikan pasien dengan kepala ditinggikan (semi-Fowler/Fowler) untuk memfasilitasi pernapasan. 6) Lakukan perawatan kulit pada area edema untuk mencegah kerusakan integritas kulit. 7) Pantau tanda vital dan saturasi oksigen secara berkala. 8) Kolaborasi pemberian terapi diuretik sesuai program. 9) Kolaborasi persiapan dan pelaksanaan hemodialisis sesuai jadwal. 10) Pantau hasil laboratorium: elektrolit, ureum, kreatinin, BUN, dan albumin.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 00179
Deskripsi Singkat: Risiko variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 1902
Deskripsi : Kontrol Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah. Tujuan: Pasien terhindar dari ketidakstabilan kadar glukosa darah. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan. 2) Pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala hipoglikemia (berkeringat, lemas, gemetar, pusing, lapar, penurunan kesadaran). 3) Pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsi, polifagi, lemas, mual, penurunan kesadaran). 4) Pasien dan keluarga menyebutkan faktor risiko dan tanda gejala ketidakstabilan glukosa darah. 5) Pasien dan keluarga menyebutkan tindakan pencegahan dan penanganan awal ketidakstabilan glukosa darah.
Kode SIKI: 2620
Deskripsi : Pemantauan Kadar Glukosa Darah. Intervensi: 1) Kaji faktor risiko ketidakstabilan glukosa darah: riwayat DM, penyakit kritis, infeksi, terapi steroid, nutrisi tidak adekuat, dan efek hemodialisis. 2) Pantau tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia. 3) Lakukan pemantauan kadar glukosa darah berkala sesuai program (sebelum makan, saat ada gejala). 4) Kolaborasi pemberian terapi insulin atau obat anti-diabetik oral sesuai program dengan memperhatikan waktu dan dosis. 5) Kolaborasi pemberian nutrisi yang sesuai (jadwal, komposisi, jumlah) terutama terkait dengan jadwal hemodialisis. 6) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala hipo/hiperglikemia. 7) Edukasi pasien dan keluarga tentang tindakan yang harus dilakukan jika terjadi hipo/hiperglikemia. 8) Pantau asupan makanan dan cairan pasien. 9) Kolaborasi dengan tim gizi untuk penatalaksanaan diet. 10) Evaluasi efektivitas terapi yang diberikan.