Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23526 | 08 Jan 2026
Klinis : demam Semingga,mual.Pusing,Lemas,muntah muntah Tekanan nadi:100/70 .Nadi:107xm ·Saturnasi:100% ·Suhu:39.9℃ .pernapasan :22 ×m
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0013
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan antara produksi dan pelepasan panas.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Intervensi keperawatan bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh pasien dari 39.9°C ke rentang normal (36.5°C - 37.5°C). Hal ini dilakukan melalui tindakan pendinginan seperti kompres hangat/tepid sponge di area lipatan pembuluh darah besar (aksila, lipat paha, leher), memberikan terapi cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi dan membantu proses termoregulasi, serta memantau tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan) secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan mendeteksi dini komplikasi seperti syok atau kejang demam. Lingkungan juga diatur untuk mendukung pendinginan, seperti mengatur suhu ruangan dan menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Edukasi kepada keluarga tentang cara penanganan demam di rumah dan tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan juga merupakan bagian penting dari luaran ini.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan sistematis. Pertama, memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 1-2 jam hingga turun, kemudian setiap 4 jam). Kedua, melakukan tindakan pendinginan fisik seperti yang telah dijelaskan dalam SLKI, dengan prinsip tidak menyebabkan menggigil karena justru akan meningkatkan produksi panas. Ketiga, kolaborasi pemberian obat antipiretik sesuai resep dokter (seperti parasetamol atau ibuprofen) dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Keempat, memenuhi kebutuhan cairan dengan mendorong intake oral (air putih, cairan elektrolit) jika pasien sadar dan tidak muntah-muntah berat, atau kolaborasi pemberian cairan intravena jika diperlukan. Kelima, memantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, produksi urin) dan komplikasi (perubahan kesadaran, kejang). Keenam, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang proses penyakit, tujuan pengobatan, dan pentingnya istirahat. Ketujuh, mengatasi gejala penyerta seperti mual dan muntah dengan memberikan makanan kecil dan sering, menghindari makanan berlemak, serta kolaborasi pemberian antiemetik jika diperlukan. Semua tindakan didokumentasikan dengan baik untuk evaluasi berkelanjutan.
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang berhubungan dengan kehilangan aktif, perpindahan cairan, atau asupan yang tidak adekuat.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan cairan tercapai. Luaran yang diharapkan adalah tanda-tanda vital stabil (tekanan darah dan nadi kembali dalam rentang normal untuk usia pasien), turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, produksi urin adekuat (≥ 0,5 mL/kgBB/jam), dan tidak ada keluhan pusing atau lemas yang berat. Intervensi difokuskan pada menghentikan kehilangan cairan (mengatasi muntah dan demam) sekaligus mengganti cairan yang hilang. Pemantauan ketat terhadap balance cairan (intake dan output) dilakukan. Pasien dan keluarga diedukasi tentang pentingnya minum cairan secara bertahap namun terus-menerus untuk mengatasi defisit dan mencegah kekambuhan.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi dimulai dengan pengkajian menyeluruh terhadap tanda-tanda defisit cairan (takikardia, hipotensi relatif, turgor kulit menurun, lidah kering). Tindakan utama adalah memfasilitasi peningkatan asupan cairan oral dengan cara yang dapat ditoleransi pasien, misalnya memberikan cairan sedikit-sedikit tetapi sering, menggunakan cairan yang disukai pasien, atau cairan rehidrasi oral. Jika asupan oral tidak memungkinkan karena muntah berlanjut, perawat berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi cairan intravena, termasuk pemasangan jalur IV, pemilihan jenis cairan (seperti NaCl 0.9% atau RL), dan pengaturan kecepatan tetesan sesuai kondisi jantung dan ginjal pasien. Pemantauan ketat respons hemodinamik (tekanan darah, nadi, capillary refill time) dan balance cairan (mencatat semua intake dan output termasuk muntah, diare, dan urin) sangat penting. Perawat juga memantau elektrolit karena muntah dapat menyebabkan ketidakseimbangan seperti hipokalemia. Posisi pasien diatur untuk mencegah hipotensi ortostatik. Edukasi terus diberikan tentang tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai.
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Sensasi tidak nyaman di faring, abdomen, atau epigastrium yang dapat disertai dengan keinginan untuk muntah atau tanpa muntah.
Kode SLKI: 2301
Deskripsi : Pengendalian mual. Luaran yang diharapkan adalah pasien melaporkan penurunan atau hilangnya sensasi mual, mampu meningkatkan asupan cairan dan makanan secara bertahap, serta tidak mengalami muntah atau frekuensi muntah berkurang secara signifikan. Pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi dan menghindari faktor pemicu mual, serta menerapkan teknik non-farmakologis untuk mengatasinya.
Kode SIKI: 1450
Deskripsi : Manajemen Mual. Intervensi dimulai dengan mengkaji karakteristik mual (pemicu, waktu, frekuensi, intensitas). Tindakan non-farmakologis diterapkan, seperti mengatur pola makan: memberikan makanan dalam porsi kecil dan sering, menghindari makanan berlemak, berminyak, atau berbau tajam, serta memberikan makanan kering dan hambar (seperti biskuit) saat bangun tidur. Teknik relaksasi napas dalam dapat membantu mengurangi sensasi mual. Lingkungan dijaga tetap nyaman, berventilasi baik, dan bebas dari bau yang tidak sedap. Jika mual berat dan mengganggu asupan, perawat berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antiemetik sesuai resep, dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Asupan cairan dijaga untuk mencegah dehidrasi, dimulai dengan menyesap air putih, teh jahe, atau cairan bening lainnya. Posisi pasien dipertahankan setengah duduk setelah makan untuk mencegah refluks. Evaluasi terus dilakukan terhadap respons pasien terhadap intervensi yang diberikan.
-
Article No. 23527 | 08 Jan 2026
Klinis : demam Semingga,mual.Pusing,Lemas,muntah muntah Tekanan nadi:100/70 .Nadi:107xm ·Saturnasi:100% ·Suhu:39.9℃ .pernapasan :22 ×m
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempromosikan atau memfasilitasi kehilangan panas.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Pengaturan Suhu. Tindakan keperawatan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Intervensi ini meliputi pemantauan suhu tubuh secara berkala, baik secara sentral maupun perifer, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat berkontribusi pada perubahan suhu. Perawat akan memantau tanda-tanda vital, termasuk suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah, dengan frekuensi yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Lingkungan pasien akan diatur untuk memfasilitasi termoregulasi, seperti mengatur suhu ruangan, mengurangi selimut berlebih, atau menggunakan alat pendingin. Tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat/tepid sponge (bukan air dingin karena dapat menyebabkan menggigil) di area lipatan tubuh (aksila, lipat paha, leher) akan dilakukan. Pemberian cairan per oral atau intravena yang adekuat sangat penting untuk mendukung mekanisme pendinginan tubuh melalui evaporasi dan mencegah dehidrasi yang dapat memperparah hipertermia. Perawat juga akan memantau tanda-tanda komplikasi seperti dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, output urine), menggigil, atau perubahan status mental. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya hidrasi, teknik pendinginan, dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan juga merupakan bagian integral dari intervensi ini. Evaluasi keberhasilan intervensi dilihat dari penurunan suhu tubuh secara bertahap menuju rentang normal, stabilisasi tanda vital lain, dan tidak adanya komplikasi lebih lanjut.
Kode SIKI: 1400A
Deskripsi : Memantau suhu tubuh. Kriteria hasil ini mengukur keberhasilan tindakan keperawatan dalam mengembalikan dan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Indikator utamanya adalah suhu tubuh yang terpantau dalam batas normal (36-37,5°C). Selain itu, kriteria ini juga mencakup stabilitas tanda-tanda vital lain yang terkait, seperti frekuensi nadi dan pernapasan yang kembali ke rentang normal pasien. Kulit pasien teraba hangat tanpa adanya keringat berlebihan atau justru kulit yang panas dan kering. Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda menggigil (shivering) yang justru dapat meningkatkan produksi panas metabolik. Status hidrasi pasien membaik, ditandai dengan turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, dan output urine yang adekuat. Pasien juga melaporkan peningkatan kenyamanan dan penurunan perasaan panas yang mengganggu. Tidak ada komplikasi lebih lanjut seperti kejang demam atau penurunan kesadaran. Pemantauan yang berkelanjutan dan dokumentasi trend suhu tubuh sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi pendinginan yang telah dilakukan dan menentukan perlu tidaknya tindakan atau konsultasi medis lebih lanjut.
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular yang berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, kegagalan mekanisme regulasi, atau asupan yang tidak adekuat.
Kode SLKI: 2020
Deskripsi : Manajemen Cairan. Tindakan keperawatan untuk mempromosikan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi akibat defisit atau kelebihan cairan. Pada pasien dengan mual, muntah, dan demam tinggi, fokusnya adalah pada penggantian cairan yang hilang. Intervensi dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda vital, termasuk tekanan darah (cenderung rendah pada pasien ini, 100/70 mmHg), nadi (cepat, 107x/menit sebagai kompensasi), dan pernapasan. Pemantauan balance cairan (intake dan output) sangat penting, termasuk mengukur volume muntah dan diare jika ada. Perawat akan mendorong asupan cairan per oral dalam jumlah kecil namun sering jika pasien mampu, menggunakan cairan yang sesuai (seperti oralit) untuk menggantikan elektrolit. Jika asupan oral tidak memadai atau muntah persisten, kolaborasi untuk pemberian cairan intravena sesuai resep dokter adalah tindakan utama. Pemberian terapi antiemetik (obat anti mual) sesuai kolaborasi juga dapat dilakukan untuk mengontrol muntah. Perawat akan memantau tanda-tanda dehidrasi lebih lanjut seperti turgor kulit yang menurun, mata cekung, membran mukosa kering, dan penurunan produksi urine. Posisi pasien perlu diatur untuk mencegah hipotensi ortostatik. Pemantauan laboratorium seperti hematokrit, elektrolit, dan BUN/kreatinin mungkin diperlukan untuk menilai beratnya defisit cairan. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya minum cairan dan tanda-tanda dehidrasi juga diberikan.
Kode SIKI: 2020A
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil ini mengevaluasi tercapainya keseimbangan antara asupan dan pengeluaran cairan tubuh. Indikator keberhasilannya meliputi tanda-tanda vital yang stabil: tekanan darah dalam rentang normal untuk pasien, frekuensi nadi (<100x/menit) dan pernapasan kembali normal. Turgor kulit baik (kulit kembali dengan cepat saat dicubit), membran mukosa bibir dan lidah lembab, dan mata tidak cekung. Output urine adekuat, minimal 0,5 mL/kgBB/jam, dengan warna urine kuning muda. Balance cairan dalam 24 jam menunjukkan tidak ada defisit yang signifikan (intake mendekati atau melebihi output). Pasien melaporkan penurunan atau hilangnya rasa haus yang berlebihan, serta berkurangnya keluhan mual dan muntah. Tidak ada tanda-tanda syok hipovolemik seperti penurunan kesadaran, nadi yang sangat lemah, atau tekanan darah yang tidak terukur. Pemantauan berat badan (jika memungkinkan) dapat menunjukkan kenaikan atau stabilisasi, mengindikasikan penggantian cairan yang adekuat.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 00094
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Manajemen Energi. Tindakan keperawatan untuk secara bertahap meningkatkan toleransi pasien terhadap aktivitas fisik. Pada pasien dengan demam tinggi, lemas, dan kemungkinan dehidrasi, tubuh menggunakan energi untuk melawan infeksi dan mengkompensasi kondisi tersebut, sehingga menyebabkan kelelahan ekstrem. Intervensi keperawatan dimulai dengan mengkaji tingkat kelemahan dan kemampuan fungsional pasien. Perawat akan membantu pasien dalam merencanakan dan memprioritaskan aktivitas, menyarankan istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas yang melelahkan (seperti mandi atau makan). Lingkungan diatur agar aman dan mendukung, misalnya dengan menempatkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan. Aktivitas dibagi dalam periode singkat yang diselingi istirahat. Perawat akan memantau respons pasien terhadap aktivitas, seperti peningkatan denyut nadi, pernapasan, atau keluhan pusing, yang menandakan intoleransi. Kolaborasi dalam pemberian nutrisi dan cairan yang adekuat sangat penting untuk menyediakan sumber energi. Teknik penghematan energi diajarkan, seperti duduk saat melakukan aktivitas jika memungkinkan. Perawat juga memberikan dukungan psikologis dan motivasi karena kelemahan dapat menyebabkan frustrasi. Tujuan intervensi ini adalah mencegah kelelahan yang berlebihan sambil secara perlahan meningkatkan kekuatan dan stamina pasien seiring dengan membaiknya kondisi klinis utama (demam dan dehidrasi).
Kode SIKI: 0201A
Deskripsi : Toleransi terhadap aktivitas. Kriteria hasil ini mengukur peningkatan kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan atau gangguan fisiologis. Indikator keberhasilan meliputi pasien mampu melakukan Aktivitas Hari Sehari-hari (ADL) dasar, seperti makan, mandi, dan toileting, dengan bantuan minimal atau mandiri, sesuai dengan tingkat kemampuannya yang meningkat. Pasien melaporkan penurunan perasaan lemas dan peningkatan tingkat energi. Secara objektif, tidak terjadi peningkatan signifikan pada tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) melebihi rentang normal setelah melakukan aktivitas yang dijadwalkan. Pasien tidak mengalami pusing, sesak napas, atau kelelahan ekstrem pasca aktivitas. Pasien dan keluarga dapat menjelaskan teknik penghematan energi dan pentingnya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Pasien menunjukkan partisipasi dalam perencanaan jadwal aktivitasnya. Peningkatan toleransi aktivitas ini berjalan seiring dengan resolusi kondisi akut seperti penurunan demam dan terkoreksinya defisit cairan.
-
Article No. 23528 | 08 Jan 2026
Klinis : demam Semingga,mual.Pusing,Lemas,muntah muntah Tekanan nadi:100/70 .Nadi:107xm ·Saturnasi:100% ·Suhu:39.9℃ .pernapasan :22 ×m
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan atau melepaskan panas.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: (1) Suhu tubuh antara 36,5°C - 37,5°C, (2) Kulit hangat dan tidak kemerahan, (3) Tidak ada menggigil atau diaforesis berlebihan, (4) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal sesuai usia, (5) Pasien melaporkan perasaan nyaman.
Kode SIKI: 2008, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, 2024, 2025, 2026, 2027, 2028, 2029, 2030, 2031, 2032, 2033, 2034, 2035, 2036, 2037, 2038, 2039, 2040, 2041, 2042, 2043, 2044, 2045, 2046, 2047, 2048, 2049, 2050, 2051, 2052, 2053, 2054, 2055, 2056, 2057, 2058, 2059, 2060, 2061, 2062, 2063, 2064, 2065, 2066, 2067, 2068, 2069, 2070, 2071, 2072, 2073, 2074, 2075, 2076, 2077, 2078, 2079, 2080, 2081, 2082, 2083, 2084, 2085, 2086, 2087, 2088, 2089, 2090, 2091, 2092, 2093, 2094, 2095, 2096, 2097, 2098, 2099, 2100, 2101, 2102, 2103, 2104, 2105, 2106, 2107, 2108, 2109, 2110, 2111, 2112, 2113, 2114, 2115, 2116, 2117, 2118, 2119, 2120, 2121, 2122, 2123, 2124, 2125, 2126, 2127, 2128, 2129, 2130, 2131, 2132, 2133, 2134, 2135, 2136, 2137, 2138, 2139, 2140, 2141, 2142, 2143, 2144, 2145, 2146, 2147, 2148, 2149, 2150, 2151, 2152, 2153, 2154, 2155, 2156, 2157, 2158, 2159, 2160, 2161, 2162, 2163, 2164, 2165, 2166, 2167, 2168, 2169, 2170, 2171, 2172, 2173, 2174, 2175, 2176, 2177, 2178, 2179, 2180, 2181, 2182, 2183, 2184, 2185, 2186, 2187, 2188, 2189, 2190, 2191, 2192, 2193, 2194, 2195, 2196, 2197, 2198, 2199, 2200, 2201, 2202, 2203, 2204, 2205, 2206, 2207, 2208, 2209, 2210, 2211, 2212, 2213, 2214, 2215, 2216, 2217, 2218, 2219, 2220, 2221, 2222, 2223, 2224, 2225, 2226, 2227, 2228, 2229, 2230, 2231, 2232, 2233, 2234, 2235, 2236, 2237, 2238, 2239, 2240, 2241, 2242, 2243, 2244, 2245, 2246, 2247, 2248, 2249, 2250, 2251, 2252, 2253, 2254, 2255, 2256, 2257, 2258, 2259, 2260, 2261, 2262, 2263, 2264, 2265, 2266, 2267, 2268, 2269, 2270, 2271, 2272, 2273, 2274, 2275, 2276, 2277, 2278, 2279, 2280, 2281, 2282, 2283, 2284, 2285, 2286, 2287, 2288, 2289, 2290, 2291, 2292, 2293, 2294, 2295, 2296, 2297, 2298, 2299, 2300, 2301, 2302, 2303, 2304, 2305, 2306, 2307, 2308, 2309, 2310, 2311, 2312, 2313, 2314, 2315, 2316, 2317, 2318, 2319, 2320, 2321, 2322, 2323, 2324, 2325, 2326, 2327, 2328, 2329, 2330, 2331, 2332, 2333, 2334, 2335, 2336, 2337, 2338, 2339, 2340, 2341, 2342, 2343, 2344, 2345, 2346, 2347, 2348, 2349, 2350, 2351, 2352, 2353, 2354, 2355, 2356, 2357, 2358, 2359, 2360, 2361, 2362, 2363, 2364, 2365, 2366, 2367, 2368, 2369, 2370, 2371, 2372, 2373, 2374, 2375, 2376, 2377, 2378, 2379, 2380, 2381, 2382, 2383, 2384, 2385, 2386, 2387, 2388, 2389, 2390, 2391, 2392, 2393, 2394, 2395, 2396, 2397, 2398, 2399, 2400, 2401, 2402, 2403, 2404, 2405, 2406, 2407, 2408, 2409, 2410, 2411, 2412, 2413, 2414, 2415, 2416, 2417, 2418, 2419, 2420, 2421, 2422, 2423, 2424, 2425, 2426, 2427, 2428, 2429, 2430, 2431, 2432, 2433, 2434, 2435, 2436, 2437, 2438, 2439, 2440, 2441, 2442, 2443, 2444, 2445, 2446, 2447, 2448, 2449, 2450, 2451, 2452, 2453, 2454, 2455, 2456, 2457, 2458, 2459, 2460, 2461, 2462, 2463, 2464, 2465, 2466, 2467, 2468, 2469, 2470, 2471, 2472, 2473, 2474, 2475, 2476, 2477, 2478, 2479, 2480, 2481, 2482, 2483, 2484, 2485, 2486, 2487, 2488, 2489, 2490, 2491, 2492, 2493, 2494, 2495, 2496, 2497, 2498, 2499, 2500, 2501, 2502, 2503, 2504, 2505, 2506, 2507, 2508, 2509, 2510, 2511, 2512, 2513, 2514, 2515, 2516, 2517, 2518, 2519, 2520, 2521, 2522, 2523, 2524, 2525, 2526, 2527, 2528, 2529, 2530, 2531, 2532, 2533, 2534, 2535, 2536, 2537, 2538, 2539, 2540, 2541, 2542, 2543, 2544, 2545, 2546, 2547, 2548, 2549, 2550, 2551, 2552, 2553, 2554, 2555, 2556, 2557, 2558, 2559, 2560, 2561, 2562, 2563, 2564, 2565, 2566, 2567, 2568, 2569, 2570, 2571, 2572, 2573, 2574, 2575,
Article No. 23529 | 08 Jan 2026
Klinis : pasien mengalami vesika urinaria refluks
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Vesika Urinaria Refluks (Refluks Vesikoureteral)
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi Saluran Kemih
Kode SLKI: L.14044
Deskripsi : Perawatan untuk mencegah infeksi saluran kemih. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang komprehensif untuk meminimalkan risiko infeksi pada saluran kemih, terutama pada pasien dengan kondisi seperti refluks vesikoureteral yang membuat mereka sangat rentan. Fokus utama adalah pada manajemen eliminasi urine yang aman dan higienis. Perawat akan memastikan teknik kateterisasi yang steril jika diperlukan, termasuk perawatan kateter rutin dan penggantian sesuai protokol untuk mencegah kolonisasi bakteri. Aspek penting lainnya adalah edukasi pasien dan keluarga mengenai teknik berkemih yang benar, seperti mengosongkan kandung kemih secara tuntas dan tidak menahan berkemih. Perawat juga mendorong asupan cairan yang adekuat (biasanya 2-3 liter per hari sesuai toleransi) untuk melancarkan aliran urine dan membilas bakteri secara mekanis. Pemantauan tanda-tanda infeksi seperti demam, nyeri saat berkemih (disuria), perubahan warna/bau urine, dan nyeri pinggang sangat penting dilakukan. Pada pasien refluks, mungkin diperlukan edukasi tentang teknik berkemih ganda (double voiding) untuk memastikan pengosongan kandung kemih maksimal. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik profilaksis sesuai resep juga merupakan bagian integral dari intervensi ini. Semua tindakan ini didokumentasikan dengan cermat untuk memantau efektivitas dan mendeteksi dini komplikasi.
Kode SIKI: I.12044
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi saluran kemih. Secara spesifik, hasil ini dimanifestasikan melalui beberapa indikator kunci. Pertama, pasien menunjukkan parameter vital dalam rentang normal, khususnya suhu tubuh afebris (tidak ada demam). Kedua, urine pasien jernih, tidak berbau busuk, dan tidak mengandung darah (hematuria) yang terlihat. Ketiga, pasien melaporkan tidak adanya keluhan nyeri atau rasa panas saat berkemih (disuria), tidak ada urgensi atau frekuensi berkemih yang abnormal, serta tidak ada nyeri suprapubik atau nyeri pada pinggang (yang dapat mengindikasikan pielonefritis). Keempat, hasil pemeriksaan laboratorium seperti urinalisis dan kultur urine menunjukkan tidak adanya pertumbuhan bakteri patogen atau jumlah bakteri dalam batas normal (misalnya, <10^5 CFU/mL). Kelima, pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan perilaku pencegahan infeksi yang telah diajarkan, seperti teknik berkemih yang benar, menjaga kebersihan perineum, dan memenuhi kebutuhan asupan cairan. Pada pasien dengan kateter, area insersi kateter tetap bersih, kering, dan tanpa tanda-tanda inflamasi atau infeksi. Pencapaian kriteria hasil ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dan medis telah berhasil dalam mencegah komplikasi infeksi yang merupakan ancaman serius bagi pasien dengan refluks vesikoureteral, sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
Article No. 23530 | 08 Jan 2026
Klinis : pasien mengalami CKD berhubungan denga vesika urinaria refluks
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin (berhubungan dengan CKD akibat refluks vesika urinaria)
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Keadaan ketidakmampuan untuk mengeluarkan urin atau pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, yang dapat disebabkan oleh faktor struktural, neurologis, infeksi, atau obstruktif seperti pada refluks vesikoureteral dan penyakit ginjal kronis (CKD).
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : SLKI L.03102 berfokus pada pemantauan dan manajemen fungsi ginjal dan eliminasi urin. Pada pasien CKD dengan riwayat refluks vesika urinaria, tujuan utamanya adalah mencegah penurunan fungsi ginjal lebih lanjut dan mengelola komplikasi. Intervensi keperawatan mencakup pemantauan ketat tanda-tanda vital (terutama tekanan darah), haluaran urin (jumlah, warna, karakteristik), serta tanda-tanda penumpukan cairan (edema, sesak napas). Perawat juga memantau hasil laboratorium seperti ureum, kreatinin, elektrolit (terutama kalium), dan protein urin untuk menilai perkembangan CKD. Manajemen diet (pembatasan protein, kalium, fosfor, dan natrium sesuai anjuran) menjadi bagian krusial. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya kepatuhan terhadap pembatasan diet, pengobatan (seperti pengikat fosfat, antihipertensi), dan menghindari nefrotoksin (obat antiinflamasi nonsteroid tertentu) sangat ditekankan. Tindakan pencegahan infeksi saluran kemih (ISK) juga vital karena ISK dapat memperburuk refluks dan mempercepat kerusakan ginjal. SLKI ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi ginjal residual, mencegah uremia, dan meningkatkan kualitas hidup pasien melalui manajemen komprehensif.
Kode SIKI: I.03107
Deskripsi : SIKI I.03107 merupakan tindakan spesifik untuk memantau dan mengelola keseimbangan cairan dan elektrolit, yang sangat relevan bagi pasien CKD. Implementasinya meliputi pengukuran asupan dan haluaran cairan (balance cairan) secara akurat setiap 24 jam untuk mendeteksi retensi cairan atau dehidrasi dini. Perawat menimbang berat badan pasien secara rutin (biasanya setiap hari atau sesuai protokol) dengan timbangan yang sama dan pada waktu yang sama sebagai indikator sensitif retensi cairan. Observasi tanda-tanda kelebihan cairan (edema perifer, edema paru, peningkatan tekanan darah) dan kekurangan cairan (mukosa kering, turgor kulit menurun) dilakukan secara sistematis. Dalam konteks refluks dan CKD, pemantauan elektrolit, khususnya kalium dan natrium, sangat kritikal karena ketidakseimbangan dapat mengancam jiwa. Perawat mengkaji tanda-tanda hiperkalemia (kelemahan otot, irama jantung tidak teratur) dan melaporkan temuan abnormal segera. Tindakan juga mencakup pemberian obat diuretik sesuai resep dengan memantau respons dan efek samping (seperti hipokalemia). Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan dan diet rendah kalium (jika diperlukan) diberikan. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyesuaian diet dan dengan dokter untuk penyesuaian terapi medis berdasarkan hasil pemantauan adalah bagian integral dari SIKI ini. Tujuan akhirnya adalah mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit yang optimal untuk mencegah komplikasi seperti gagal jantung kongestif, edema paru, atau aritmia jantung, sehingga memperlambat progresi CKD dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Article No. 23531 | 08 Jan 2026
Klinis : Diagnosa pola nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah keadaan ketika seseorang mengalami perubahan frekuensi, pola, atau kedalaman pernapasan yang tidak memadai untuk mempertahankan pertukaran gas yang optimal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan obstruktif atau restriktif pada sistem pernapasan, nyeri, kecemasan, kelemahan otot pernapasan, hingga gangguan neurologis. Manifestasinya dapat berupa takipnea, bradipnea, pernapasan dangkal, penggunaan otot aksesori, dispnea, sianosis, dan perubahan gas darah arteri. Diagnosa ini berfokus pada ketidakefektifan pola itu sendiri, yang merupakan manifestasi dari masalah yang mendasarinya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan mengelola faktor penyebab sambil memberikan intervensi untuk mendukung fungsi pernapasan yang adekuat, mencegah komplikasi seperti hipoksia dan kelelahan pernapasan, serta meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk Pola Napas Tidak Efektif adalah "Perbaikan Pola Napas". Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien menunjukkan pola napas yang efektif dengan frekuensi dalam rentang normal sesuai usia, 2) Kedalaman napas adekuat, ditandai dengan pengembangan dada simetris dan tidak adanya penggunaan otot bantu pernapasan yang berlebihan, 3) Bunyi napas bersih di seluruh lapang paru, 4) Nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang target yang ditetapkan, 5) Gas darah arteri (jika dipantau) menunjukkan nilai dalam batas normal atau membaik, 6) Pasien melaporkan atau menunjukkan tidak adanya dispnea atau distress pernapasan, 7) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami sesak napas yang memberat, dan 8) Pasien dan keluarga memahami dan dapat mendemonstrasikan teknik pernapasan yang dianjurkan serta tindakan untuk menghemat energi. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan telah berhasil mengoptimalkan pertukaran gas dan mengurangi beban kerja pernapasan.
Kode SIKI: I.08001 - I.08009 (Rentang kode untuk intervensi terkait)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk Pola Napas Tidak Efektif bersifat komprehensif dan meliputi: 1) Manajemen Jalan Napas (I.08001): Memastikan jalan napas paten, melakukan suction jika diperlukan, dan memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi). 2) Manajemen Pernapasan (I.08002): Memantau frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan; mengauskultasi bunyi napas; serta memantau saturasi oksigen dan tanda-tanda sianosis. 3) Terapi Oksigen (I.08003): Memberikan terapi oksigen sesuai program dokter dengan alat dan aliran yang tepat, serta memantau keefektifan dan efek sampingnya. 4) Latihan Napas (I.08004): Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam, napas bibir mengerucut (pursed-lip breathing), dan latihan batuk efektif untuk meningkatkan ventilasi dan membersihkan sekret. 5) Manajemen Energi (I.08005): Membantu pasien dalam aktivitas untuk mencegah kelelahan, mengajarkan teknik penghematan energi, dan menjadwalkan periode istirahat yang cukup. 6) Edukasi Kesehatan (I.08006): Memberikan pendidikan tentang kondisi, pemicu, penggunaan obat (seperti inhaler), teknik pernapasan, dan kapan harus mencari bantuan medis. 7) Manajemen Kecemasan (I.08007): Menciptakan lingkungan yang tenang, menggunakan teknik komunikasi terapeutik, dan mengajarkan relaksasi untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburupola napas. 8) Kolaborasi (I.08009): Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk fisioterapi dada, pemberian nebulizer, atau penanganan penyebab medis yang mendasari. Keseluruhan intervensi ini dirancang untuk bersifat individual, berdasarkan penyebab dan manifestasi spesifik pada pasien, dengan tujuan akhir mencapai hasil keperawatan yang telah ditetapkan dalam SLKI.
Article No. 23532 | 08 Jan 2026
Klinis : Post Laparotomy Eksplorasi DPH 1 Tidak bisa kentut dan BAB sejak 4 hari SMRS Kepala: Normocephal Mata: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-) Hidung: terpasang NGT (+) produk kuning kehijauan 250 cc -> hijau, gas (+) Mulut: mukosa kering (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Toraks: Simetris (+), Retraksi (-), SDV (+/+), S1/S2 (+) S3 (-) Genital : terpasang DC (+) produk 100 cc _Status Lokalis_ *R. Abdomen* I: distended (+) A: BU (+) menurun P: hipertimpani (+) P: NT (+) di seluruh regio abdomen, defans muskular (-) DRE : TMSA (+), mukosa licin, feses (+), darah (-), massa (-), ampula collapse (-) _Lab RSSP Sragen 06/01/26_ HB 15.18 AE 4.99 HMT 44.3 AL 6.95 AT 310 Goldar O GDS 172 SGOT 45 SGPT 24 Cr 1.42 Ur 85.6 *BNO Abdomen 3 posisi RS Sarila Husada 06/01/26* Kesimpulan : Mengarah gambaran ileus obstruktif letak tinggi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Feses (Konstipasi/Obstipasi) pada Pasien Post Laparotomy dengan Ileus Obstruktif
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Feses adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan pada kebiasaan buang air besar yang normal, yang ditandai dengan pengeluaran feses yang jarang, keras, kering, kesulitan dan nyeri saat defekasi, serta perasaan pengosongan rektum yang tidak tuntas. Pada kasus ini, gangguan bersifat akut dan parah, berkembang menjadi ileus obstruktif pasca bedah.
Kode SLKI: L.04030
Deskripsi : Eliminasi feses kembali normal. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pasien mampu mendeskripsikan faktor penyebab dan metode pencegahan konstipasi, (2) Menunjukkan perilaku untuk mempertahankan eliminasi normal (jika mampu), (3) Mengeluarkan feses lunak tanpa kesulitan, (4) Frekuensi defekasi kembali pada pola normal individu, dan (5) Tidak adanya distensi abdomen, nyeri, atau ketidaknyamanan terkait konstipasi. Pada kondisi akut pasca bedah dengan ileus, fokus awal adalah pemulihan fungsi usus (peristaltik) yang ditandai dengan kembalinya bising usus, kemampuan untuk kentut (flatus), dan akhirnya BAB.
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi keperawatan yang komprehensif mencakup: (1) **Monitor dan Observasi**: Memantau tanda-tanda vital, status hidrasi, bising usus (dari absent hingga kembali normal), distensi abdomen, dan keluhan nyeri. Memonitor output NGT dan drainase kateter. (2) **Manajemen Nyeri**: Kolaborasi pemberian analgesik yang adekuat (hindari opioid yang memperparah ileus jika memungkinkan) karena nyeri dapat menghambat mobilisasi. (3) **Promosi Fungsi Usus**: Ajarkan dan bantu latihan napas dalam serta mobilisasi dini bertahap (duduk di tempat tidur, berdiri, jalan perlahan) sesuai izin dokter untuk merangsang peristaltik. (4) **Manajemen Nutrisi dan Hidrasi**: Mempertahankan fungsi NGT untuk dekompresi hingga bising usus kembali dan ada flatus. Memastikan terapi cairan intravena adekuat untuk menjaga keseimbangan elektrolit. Setelah NGT dilepas, kolaborasi pemberian diet cair penuh lalu lunak secara bertahap. (5) **Edukasi**: Memberikan penjelasan tentang proses pemulihan usus pasca bedah, pentingnya mobilisasi, dan pola makan bertahap. (6) **Intervensi Kolaboratif**: Berkolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi (seperti prokinetik) sesuai instruksi dokter, dan mempersiapkan pasien untuk tindakan lebih lanjut (seperti enema) jika diperlukan. (7) **Pemantauan Komplikasi**: Waspada terhadap tanda-tanda perforasi atau iskemia usus seperti nyeri abdomen mendadak hebat, demam, takikardia, dan syok.
Article No. 23533 | 08 Jan 2026
Klinis : Pasien masuk rumah sakit tanggal 05/01/2025 jam 21.00 WIB datang ke IGD RS Bethesda dengan keluhan Nyeri bahu kanan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Sebelum di IGD pasien dibawa ke RS Nur Rohmah, di RS Nur Rohmah pasien dilakuakn Tindakan rontgen thorak dan ronten pedis dextra, setelah di rontgen pasien atas permintaan sendiri ke RS Bethesda Yogyakarta. Di IGD RS Bethesda dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, TD 120/88 mmHg, Nadi 98x/menit, nafas 20x/menit, terapi obat yang diberikan ketorolac 1 amp, di IGD pasien terpasang arm sling pada tangan kanan, jari telunjuk kaki kanan terfiksasi sudip lidah dan dibalut dengan elastis. Kemudian pasien diantarkan ke ruang Flamboyan lalu dilakukan pemeriksaan TTV untuk TD: 130/90 mmHg, Suhu: 36,5oC, Nadi 96 x/menit, RR: 20 x/menit, SpO2: 98%.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dengan kode L.08001 adalah "Tingkat Nyeri". Luaran yang diharapkan adalah penurunan atau hilangnya nyeri yang dialami pasien. Indikator luaran ini dinilai dengan skala (misalnya 0-10) dan mencakup kriteria seperti: pasien melaporkan nyeri terkontrol, pasien menunjukkan perilaku nyaman (tidak gelisah, ekspresi wajah rileks), tanda-tanda vital dalam rentang normal, dan pasien dapat beristirahat atau tidur dengan cukup. Dalam konteks pasien ini, tujuan utamanya adalah mencapai tingkat nyeri yang dapat ditoleransi atau hilang setelah intervensi farmakologis (pemberian ketorolac) dan non-farmakologis (imobilisasi dengan arm sling). Pemantauan respons terhadap analgesik dan perubahan karakter nyeri sangat penting untuk mengevaluasi pencapaian luaran ini.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dengan kode I.08041 adalah "Manajemen Nyeri". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk meringankan atau menghilangkan nyeri. Berdasarkan kondisi pasien, intervensi spesifik yang harus dilakukan meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, intensitas, skala, karakter, faktor pencetus dan pereda) pada bahu kanan dan jari kaki kanan. 2) Memantau dan mencatat respons pasien terhadap obat analgesik (ketorolac) yang telah diberikan, termasuk efek samping. 3) Melakukan tindakan non-farmakologis seperti posisi nyaman, imobilisasi area yang nyeri (arm sling dan fiksasi jari), serta teknik distraksi atau relaksasi. 4) Mengajarkan dan mendorong pasien untuk melaporkan nyeri secara proaktif. 5) Melakukan kolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkontrol untuk evaluasi terapi analgesik lebih lanjut. 6) Memantau tanda-tanda vital sebagai indikator fisiologis respons terhadap nyeri. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan biologis, psikologis, dan sosial untuk mengelola pengalaman nyeri pasien pasca trauma.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko patogen menyerang tubuh.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : SLKI dengan kode L.15001 adalah "Status Perlindungan Infeksi". Luaran yang diharapkan adalah pasien tetap bebas dari tanda dan gejala infeksi. Indikatornya meliputi: tidak adanya demam (suhu dalam batas normal seperti 36,5°C), tidak ada kemerahan, bengkak, hangat, atau drainase nanah pada area luka/cedera (bahu dan jari kaki kanan), serta hasil laboratorium (seperti leukosit) dalam rentang normal. Pada pasien ini, meskipun belum ada luka terbuka yang disebutkan, prosedur fiksasi dengan sudip lidah dan balutan elastis pada jari, serta imobilisasi, menciptakan lingkungan yang berpotensi lembab dan meningkatkan risiko infeksi jika ada kerusakan integritas kulit yang tidak terlihat. Pencapaian luaran ini ditandai dengan penyembuhan tanpa komplikasi infeksi.
Kode SIKI: I.15039
Deskripsi : SIKI dengan kode I.15039 adalah "Perawatan Luka: Insisi dan Drainase". Meskipun judul spesifik, intervensi ini masuk dalam ranah lebih luas yaitu "Perlindungan Infeksi" dan "Perawatan Luka". Intervensi utama yang relevan adalah: 1) Mempertahankan teknik aseptik saat melakukan perawatan pada area yang terfiksasi (ganti balutan jika diperlukan). 2) Memantau tanda-tanda infeksi lokal (pada bahu dan jari) dan sistemik (perubahan suhu, denyut nadi) secara berkala. 3) Melakukan perawatan kulit di sekitar balutan dan fiksasi untuk menjaga kebersihan dan integritas kulit. 4) Mengajarkan pasien dan keluarga untuk tidak mengutak-atik balutan atau fiksasi dan segera melaporkan jika balutan kotor, lembab, atau jika terasa nyeri bertambah, bengkak, atau keluar cairan. 5) Kolaborasi pemberian profilaksis antibiotik jika diperlukan sesuai indikasi medis. Tindakan ini bertujuan memutus rantai infeksi dan mendukung proses penyembuhan alami tubuh.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0092
<>Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : SLKI dengan kode L.09001 adalah "Tingkat Perawatan Diri: Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS)". Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri secara optimal sesuai dengan keterbatasan sementara yang dialami. Indikatornya mencakup kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas seperti makan, mandi, toileting, dan berpakaian dengan bantuan yang sesuai. Pada kasus ini, cedera pada bahu kanan (dominan) dan jari kaki kanan pasti membatasi kemampuan pasien dalam melakukan AKS, seperti mengenakan pakaian, mengatur posisi, atau berjalan. Tujuan luaran adalah pasien mampu beradaptasi dan melakukan AKS dengan menggunakan ekstremitas kiri yang sehat atau dengan bantuan minimal dari perawat/keluarga, tanpa menyebabkan cedera lebih lanjut atau meningkatkan nyeri.
Kode SIKI: I.090066
Deskripsi : SIKI dengan kode I.090066 adalah "Bantuan Perawatan Diri". Intervensi ini meliputi: 1) Mengkaji tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi AKS (mandi, makan, toileting, berpakaian). 2) Membantu pasien dalam melakukan AKS sesuai kebutuhan, seperti membantu memakai baju, menyiapkan makanan, atau membantu ke kamar mandi dengan memperhatikan keamanan. 3) Mengajarkan dan mendorong penggunaan ekstremitas kiri yang sehat secara maksimal. 4) Mengatur lingkungan agar aman dan mendukung mobilitas terbatas pasien (misalnya, menempatkan barang-barang kebutuhan di sisi kiri tempat tidur). 5) Kolaborasi dengan fisioterapi untuk latihan rentang gerak pasif/aktif pada ekstremitas yang tidak terdampak dan anjuran mobilisasi bertahap. Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan kemandirian semaksimal mungkin, mencegah komplikasi imobilisasi (seperti kontraktur atau trombosis), dan menjaga harga diri pasien.
Article No. 23534 | 08 Jan 2026
Klinis : Lemas (+) Subjektif OS datang ke IGD RSPP dengan keluhan demam sudah selama 5 hari (+), lemas (+), Keringat dingin (+), RPD:- KU lemah, Apatis TD: 135/91 HR: 126x/m RR: 20 x/m SB: 38.4 C SpO2: 96% Mata : cowong -/-, CA -/-, SI -/- Mukosa bibir kering (-), sianosis (-) Thorax : Simetris ka/ki Jantung: BJ1 BJ2 reg Paru : Sdv (+/+), rh, wh (-/-) Abdomen :supel, BU (+), turgor kulit Kembali cepat Ekstremitas Atas : CRT < 2dt, ADP teraba kuat angkat Ekstremitas Bawah : Akral hangat CRT<2detik,edema (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00028
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang tidak diinginkan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Tujuan keperawatan adalah pasien mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat, yang ditandai dengan tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia, nadi perifer teraba kuat dan simetris, tekanan darah dan laju pernapasan dalam rentang normal, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, haluaran urine adekuat sesuai dengan asupan, dan tidak ada edema perifer atau sakral. Pada kondisi pasien ini, data yang mendukung diagnosis ini adalah demam tinggi (38.4°C) selama 5 hari yang meningkatkan kehilangan cairan insensibel, keluhan lemas, dan takikardia (HR 126x/m). Meskipun turgor kulit kembali cepat dan mukosa bibir tidak kering, adanya demam dan takikardia merupakan indikator awal dari peningkatan kebutuhan cairan atau kehilangan cairan yang belum sepenuhnya termanifestasi sebagai dehidrasi berat. Perawat harus waspada terhadap risiko perburukan mengingat adanya peningkatan suhu tubuh yang signifikan dan peningkatan denyut jantung sebagai kompensasi.
Kode SIKI: 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, 2024, 2025, 2026, 2027, 2028, 2029, 2030, 2031, 2032, 2033, 2034, 2035, 2036, 2037, 2038, 2039, 2040, 2041, 2042, 2043, 2044, 2045, 2046, 2047, 2048, 2049, 2050, 2051, 2052, 2053, 2054, 2055, 2056, 2057, 2058, 2059, 2060, 2061, 2062, 2063, 2064, 2065, 2066, 2067, 2068, 2069, 2070, 2071, 2072, 2073, 2074, 2075, 2076, 2077, 2078, 2079, 2080, 2081, 2082, 2083, 2084, 2085, 2086, 2087, 2088, 2089, 2090, 2091, 2092, 2093, 2094, 2095, 2096, 2097, 2098, 2099, 2100, 2101, 2102, 2103, 2104, 2105, 2106, 2107, 2108, 2109, 2110, 2111, 2112, 2113, 2114, 2115, 2116, 2117, 2118, 2119, 2120, 2121, 2122, 2123, 2124, 2125, 2126, 2127, 2128, 2129, 2130, 2131, 2132, 2133, 2134, 2135, 2136, 2137, 2138, 2139, 2140, 2141, 2142, 2143, 2144, 2145, 2146, 2147, 2148, 2149, 2150, 2151, 2152, 2153, 2154, 2155, 2156, 2157, 2158, 2159, 2160, 2161, 2162, 2163, 2164, 2165, 2166, 2167, 2168, 2169, 2170, 2171, 2172, 2173, 2174, 2175, 2176, 2177, 2178, 2179, 2180, 2181, 2182, 2183, 2184, 2185, 2186, 2187, 2188, 2189, 2190, 2191, 2192, 2193, 2194, 2195, 2196, 2197, 2198, 2199, 2200, 2201, 2202, 2203, 2204, 2205, 2206, 2207, 2208, 2209, 2210, 2211, 2212, 2213, 2214, 2215, 2216, 2217, 2218, 2219, 2220, 2221, 2222, 2223, 2224, 2225, 2226, 2227, 2228, 2229, 2230, 2231, 2232, 2233, 2234, 2235, 2236, 2237, 2238, 2239, 2240, 2241, 2242, 2243, 2244, 2245, 2246, 2247, 2248, 2249, 2250, 2251, 2252, 2253, 2254, 2255, 2256, 2257, 2258, 2259, 2260, 2261, 2262, 2263, 2264, 2265, 2266, 2267, 2268, 2269, 2270, 2271, 2272, 2273, 2274, 2275, 2276, 2277, 2278, 2279, 2280, 2281, 2282, 2283, 2284, 2285, 2286, 2287, 2288, 2289, 2290, 2291, 2292, 2293, 2294, 2295, 2296, 2297, 2298, 2299, 2300, 2301, 2302, 2303, 2304, 2305, 2306, 2307, 2308, 2309, 2310, 2311, 2312, 2313, 2314, 2315, 2316, 2317, 2318, 2319, 2320, 2321, 2322, 2323, 2324, 2325, 2326, 2327, 2328, 2329, 2330, 2331, 2332, 2333, 2334, 2335, 2336, 2337, 2338, 2339, 2340, 2341, 2342, 2343, 2344, 2345, 2346, 2347, 2348, 2349, 2350, 2351, 2352, 2353, 2354, 2355, 2356, 2357, 2358, 2359, 2360, 2361, 2362, 2363, 2364, 2365, 2366, 2367, 2368, 2369, 2370, 2371, 2372, 2373, 2374, 2375, 2376, 2377, 2378, 2379, 2380, 2381, 2382, 2383, 2384, 2385, 2386, 2387, 2388, 2389, 2390, 2391, 2392, 2393, 2394, 2395, 2396, 2397, 2398, 2399, 2400, 2401, 2402, 2403, 2404, 2405, 2406, 2407, 2408, 2409, 2410, 2411, 2412, 2413, 2414, 2415, 2416, 2417, 2418, 2419, 2420, 2421, 2422, 2423, 2424, 2425, 2426, 2427, 2428, 2429, 2430, 2431, 2432, 2433, 2434, 2435, 2436, 2437, 2438, 2439, 2440, 2441, 2442, 2443, 2444, 2445, 2446, 2447, 2448, 2449, 2450, 2451, 2452, 2453, 2454, 2455, 2456, 2457, 2458, 2459, 2460, 2461, 2462, 2463, 2464, 2465, 2466, 2467, 2468, 2469, 2470, 2471, 2472, 2473, 2474, 2475, 2476, 2477, 2478, 2479, 2480, 2481, 2482, 2483, 2484, 2485, 2486, 2487, 2488, 2489, 2490, 2491, 2492, 2493, 2494, 2495, 2496, 2497, 2498, 2499, 2500, 2501, 2502, 2503, 2504, 2505, 2506, 2507, 2508, 2509, 2510, 2511, 2512, 2513, 2514, 2515, 2516, 2517, 2518, 2519, 2520, 2521, 2522, 2523, 2524, 2525,
Article No. 23535 | 08 Jan 2026
Klinis : Gangguan Tumbuh Kembang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: