Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23736 | 19 Jan 2026
Klinis : Pasien dengan penurunan kesadaran nafas tampak cepat dan dalam KU lemah, GCS E2V1M4 TD:167/93 N:111 S:39,3 RR:36 SPO2:93 Status Generalis Mata CA -/-, SI -/-, RC +/+, pupil isokor 3mm/3mm Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-), deviasi lidah (-) Thorax : SDV +/+ rhonki +/+ , wheezing -/-, retraksi -/- Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan epigastrium (+) Eks. superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <3 detik Eks. inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <3 detik Status Neurologis Sensorik +/+/+/+ Kekuatan motorik: +4/+4/+2/+2 Refleks fisiologis: +2/+2/+2/+2 Refleks patologis: (-/-/-/-) Blink to threat +/+ Refleks kornea +/+ Doll's eye movement +/+ Lab 18/1/26 Hemoglobin 11.49 (L) Eritrosit 3.85 (L) Hematokrit 37.1 (L) Lekosit 18.43 (H) Trombosit 257 Ureum 46.0 Kreatinin 1.14 Natrium (Na) 144 Kalium (K) 5.5 (H) Chlorida (Cl) 110 (H) Calsium (Ca2+) 1.2 pH 7.51 AST (SGOT) 43 (H) ALT (SGPT) 15 Glukosa Darah Sewaktu 124 Ro. thorax 18/1/26 Kesan : - Oedema pulmonum, mixed infection, DD : pneumonia - Cardiomegali - Elongatio aortae dan aortosklerosis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Gangguan Kesadaran) dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Pneumonia dan Edema Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah keadaan di mana kemampuan seseorang untuk merespons rangsangan dari lingkungannya mengalami penurunan, mulai dari kebingungan ringan hingga koma. Pada kasus ini, pasien dengan GCS E2V1M4 (total 7) menunjukkan penurunan kesadaran sedang-berat. Kondisi ini disebabkan oleh faktor fisiologis kompleks yang melibatkan gangguan metabolisme serebral, hipoksia, atau efek toksik dari infeksi sistemik. Data pasien menunjukkan adanya infeksi sistemik (leukositosis 18.43, suhu 39.3°C) dan gangguan pernapasan berat (RR 36, SpO2 93%, ronkhi +/+, edema pulmonum pada Rontgen) yang sangat mungkin menjadi penyebab utama penurunan kesadaran melalui mekanisme hipoksia dan sepsis. Gangguan asam-basa (pH 7.51 alkalosis) dan elektrolit (Hiperkalemia) turut berkontribusi pada gangguan fungsi saraf. Penurunan kesadaran bukan hanya gejala neurologis, tetapi merupakan masalah keperawatan utama karena mempengaruhi semua aspek fungsi kehidupan, meningkatkan risiko aspirasi, imobilitas, dan kegagalan multi-organ. Perawat harus memantau dan mengelola faktor penyebab serta melindungi pasien dari bahaya akibat ketidaksadaran.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Tercapainya tingkat kesadaran yang optimal sesuai kemampuan pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Peningkatan skor Glasgow Coma Scale (GCS) mendekati atau mencapai 15. 2) Pasien mampu merespons secara tepat terhadap rangsangan verbal dan nyeri. 3) Fungsi kognitif dan persepsi sensorik membaik. 4) Tidak terjadi cedera atau komplikasi akibat penurunan kesadaran (seperti aspirasi, dekubitus, atau kontraktur). 5) Tanda-tanda vital dan parameter oksigenasi stabil dalam rentang normal. Untuk mencapai ini, intervensi diarahkan pada pemantauan neurologis ketat (GCS, pupil, refleks), manajemen jalan napas, pemberian oksigenasi yang adekuat, pemberian terapi antibiotik dan diuretik sesuai resep untuk mengatasi penyebab infeksi dan edema paru, serta koreksi ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa. Peran perawat juga mencakup melakukan perawatan dasar seperti perubahan posisi, perawatan kulit, mulut, dan mata untuk mencegah komplikasi imobilisasi.
Kode SIKI: I.08070
Deskripsi : Manajemen jalan napas adalah serangkaian tindakan untuk memastikan patensi jalan napas, ventilasi, dan oksigenasi yang adekuat. Pada pasien dengan penurunan kesadaran dan gangguan pernapasan, tindakan ini menjadi prioritas mutlak. Deskripsi tindakan meliputi: 1) **Pemantauan**: Memantau terus-menerus pola pernapasan (takipnea, kedalaman), saturasi oksigen (SpO2), suara napas (ronkhi, wheezing), dan upaya pernapasan. Memantau status neurologis (GCS) setiap jam atau sesuai protokol. 2) **Posisi**: Menempatkan pasien pada posisi semi-Fowler atau lateral jika memungkinkan untuk memaksimalkan ekspansi paru dan mencegah aspirasi. 3) **Suction**: Membersihkan sekret dari jalan napas secara steril dan hati-hati sesuai indikasi untuk mempertahankan patensi. 4) **Terapi Oksigen**: Memberikan oksigen dengan alat dan konsentrasi yang sesuai (misalnya, nasal kanul atau masker non-rebreacher) untuk mempertahankan SpO2 >95%. Mempersiapkan alat bantu napas jika terjadi kegagalan pernapasan. 5) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi nebulizer, antibiotik, diuretik, dan koreksi cairan-elektrolit. Mempersiapkan dan membantu prosedur intubasi jika diperlukan. 6) **Edukasi Keluarga**: Menjelaskan kondisi pasien dan tujuan tindakan yang dilakukan kepada keluarga. Tindakan ini bertujuan langsung untuk mengatasi hipoksia yang memperberat penurunan kesadaran dan mengatasi penyebab primer (infeksi dan edema paru).
-
Article No. 23702 | 18 Jan 2026
Klinis : PS usia 65 tahun, datang ke ruang perawatan dengan keluhan utama penglihatan kabur dan rasa tidak nyaman pada kedua mata sejak beberapa bulan terakhir. Pasien mengatakan sering merasa khawatir akan jatuh saat berjalan karena pandangan yang semakin buram. Riwayat kesehatan menunjukkan pasien menderita diabetes melitus selama 10 tahun terakhir yang tidak terkontrol. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg, tekanan intraokular 24 mmHg, dan ketajaman visual menurun signifikan (visus OD 5/60, OS 6/60). Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar glukosa darah sewaktu 180 mg/dL. Pemeriksaan funduskopi memperlihatkan adanya tanda-tanda retinopati diabetik pada kedua mata.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Retinopati Diabetik, Diabetes Melitus Tipe 2 yang Tidak Terkontrol, dan Hipertensi Esensial (Terkontrol Buruk)
Kode ICD-10: E11.319, I10
Deskripsi Singkat : Pasien ini didiagnosis dengan Retinopati Diabetik non-proliferatif berat atau proliferatif pada kedua mata (E11.319), yang merupakan komplikasi mikrovaskuler diabetes melitus tipe 2 yang tidak terkontrol. Kode E11.319 secara spesifik mengindikasikan diabetes tipe 2 dengan retinopati diabetik, tidak ditentukan sebagai proliferatif, yang melibatkan kedua mata. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan progresif pada pembuluh darah kecil retina akibat hiperglikemia kronis, yang menyebabkan kebocoran cairan (edema), perdarahan, dan iskemia. Hal ini menjelaskan gejala penglihatan kabur dan penurunan tajam penglihatan (visus 5/60 dan 6/60). Diabetes yang mendasarinya diklasifikasikan sebagai tidak terkontrol, didukung oleh kadar glukosa darah sewaktu 180 mg/dL dan riwayat penyakit selama 10 tahun. Selain itu, pasien memiliki diagnosis Hipertensi Esensial (I10), dengan tekanan darah 140/90 mmHg, yang merupakan faktor risiko tambahan yang mempercepat perkembangan retinopati dan komplikasi vaskuler lainnya. Tekanan intraokular yang sedikit meningkat (24 mmHg) memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan glaukoma, tetapi dalam konteks ini, gejala utama dan temuan funduskopi paling konsisten dengan retinopati diabetik sebagai penyebab utama gangguan penglihatan dan risiko jatuh.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23703 | 18 Jan 2026
Klinis : PS usia 65 tahun, datang ke ruang perawatan dengan keluhan utama penglihatan kabur dan rasa tidak nyaman pada kedua mata sejak beberapa bulan terakhir. Pasien mengatakan sering merasa khawatir akan jatuh saat berjalan karena pandangan yang semakin buram. Riwayat kesehatan menunjukkan pasien menderita diabetes melitus selama 10 tahun terakhir yang tidak terkontrol. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg, tekanan intraokular 24 mmHg, dan ketajaman visual menurun signifikan (visus OD 5/60, OS 6/60). Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar glukosa darah sewaktu 180 mg/dL. Pemeriksaan funduskopi memperlihatkan adanya tanda-tanda retinopati diabetik pada kedua mata.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 00035
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan rentan terhadap cedera fisik akibat kondisi interaksi dengan lingkungan, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : SLKI 1901: Pencegahan Cedera. Tujuan luaran keperawatan adalah pasien terlindungi dari cedera. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pasien mengidentifikasi faktor risiko cedera di lingkungannya; (2) Pasien memodifikasi lingkungan untuk mengurangi risiko cedera; (3) Pasien menggunakan alat bantu dengan tepat (jika diperlukan); (4) Pasien mendemonstrasikan perilaku yang aman untuk mencegah cedera; (5) Tidak terjadi cedera pada pasien. Dalam konteks pasien PS, luaran yang paling kritis adalah pencegahan jatuh dengan memodifikasi lingkungan rumah, menggunakan bantuan saat mobilisasi jika diperlukan, dan akhirnya tidak mengalami cedera seperti jatuh atau trauma.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : SIKI 3540: Manajemen Lingkungan. Intervensi keperawatan ini berfokus pada memanipulasi lingkungan sekitar pasien untuk mencapai tujuan terapeutik dan memastikan keamanan. Tindakan spesifik untuk pasien PS meliputi: (1) Mengkaji faktor risiko lingkungan yang dapat menyebabkan cedera, seperti pencahayaan yang redup, lantai licin, adanya barang-barang menghalangi jalan, dan tangga. (2) Memastikan lingkungan aman dengan meningkatkan pencahayaan, terutama di jalur mobilisasi seperti kamar tidur ke kamar mandi. (3) Menempatkan bel di dekat pasien untuk memanggil bantuan. (4) Menempatkan barang-barang kebutuhan sehari-hari dalam jangkauan yang mudah. (5) Menggunakan pagar tempat tidur jika diperlukan. (6) Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga lingkungan yang aman, seperti merapikan kabel, menggunakan alas kaki yang tidak licin, dan memasang pegangan tangan di kamar mandi. (7) Berkolaborasi dengan keluarga untuk melakukan modifikasi lingkungan rumah. Intervensi ini langsung menjawab kekhawatiran pasien akan jatuh akibat penglihatan kabur dengan menciptakan lingkungan yang lebih dapat diprediksi dan aman, sehingga mengurangi ancaman bahaya fisik.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan tidak nyaman yang samar atau ancaman dari suatu bahaya yang sumbernya sebagian besar tidak diketahui atau tidak dikenali.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401: Kontrol Ansietas. Tujuan luaran keperawatan adalah pasien dapat mengontrol perasaan cemasnya. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: (1) Pasien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala ansietas yang dialami; (2) Pasien melaporkan penurunan perasaan cemas; (3) Pasien mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas; (4) Perilaku gelisah atau tanda-tanda fisiologis ansietas (seperti takikardi) menurun. Pada pasien PS, ekspresi kekhawatiran akan jatuh dan kondisi penglihatan yang memburuk menunjukkan ansietas yang nyata. Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat menyatakan perasaannya, mengenali pemicu kecemasannya (penglihatan buram), dan menggunakan strategi koping yang efektif sehingga tingkat kecemasannya menurun secara subjektif maupun objektif.
Kode SIKI: 5820
Deskripsi : SIKI 5820: Pengurangan Ansietas. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk meminimalkan kekhawatiran, ketakutan, dan antisipasi ancaman yang dialami oleh pasien. Tindakan untuk pasien PS meliputi: (1) Mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan dan kekhawatiran pasien. (2) Mengakui perasaan pasien dan meyakinkan bahwa perasaan tersebut wajar. (3) Memberikan informasi yang akurat dan jujur tentang kondisinya (retinopati diabetik) dan hubungannya dengan diabetes yang tidak terkontrol, serta rencana perawatan. Ketidaktahuan sering memperparah ansietas. (4) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam dan progresif. (5) Mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaannya. (6) Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional. (7) Membantu pasien mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan koping yang dimilikinya di masa lalu. Dengan intervensi ini, perawat membantu pasien mengelola respons emosionalnya terhadap diagnosis dan keterbatasan yang dialami, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan kemungkinan kepatuhan terhadap rencana terapi.
Kondisi: Ketidakpatuhan
Kode SDKI: 00079
Deskripsi Singkat: Ketidakpatuhan adalah keadaan dimana seseorang atau pengasuh tidak patuh atau menolak untuk mengikuti rekomendasi terapi kesehatan yang telah disepakati untuk mencapai tujuan kesehatan.
Kode SLKI: 1605
Deskripsi : SLKI 1605: Perilaku Patuh. Tujuan luaran keperawatan adalah pasien patuh terhadap regimen terapeutik. Kriteria hasil meliputi: (1) Pasien menyatakan pemahaman tentang regimen terapi (pengobatan, diet, kontrol glukosa). (2) Pasien menyatakan kesediaan untuk mematuhi regimen terapi. (3) Pasien mendemonstrasikan perilaku yang sesuai dengan regimen terapi. (4) Hasil pemeriksaan penunjang (seperti kadar glukosa darah) menunjukkan perbaikan ke arah rentang target. Untuk pasien PS, data riwayat diabetes melitus yang tidak terkontrol selama 10 tahun dan glukosa darah sewaktu 180 mg/dL merupakan indikator kuat ketidakpatuhan. Luaran yang diharapkan adalah pasien memahami hubungan antara kontrol gula darah dengan komplikasi retinopatinya, bersedia mengikuti regimen pengobatan diabetes, dan pada akhirnya menunjukkan peningkatan kontrol metabolik.
Kode SIKI: 5246
Deskripsi : SIKI 5246: Peningkatan Keputuhan. Intervensi keperawatan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi pasien dalam regimen terapeutik. Tindakan untuk pasien PS adalah: (1) Mengkaji penyebab ketidakpatuhan, seperti ketidaktahuan, keyakinan kesehatan yang salah, faktor ekonomi (biaya obat), efek samping obat, atau dukungan sosial yang kurang. (2) Memberikan pendidikan kesehatan yang komprehensif tentang diabetes melitus, komplikasi jangka panjang (termasuk retinopati), dan pentingnya kontrol glikemik yang ketat. (3) Menjelaskan hubungan langsung antara kadar gula darah tinggi dengan kerusakan pembuluh darah di retina yang menyebabkan penglihatan kabur. (4) Melibatkan pasien dalam menyusun rencana perawatan yang realistis, termasuk jadwal minum obat, pemantauan gula darah mandiri, dan pola makan. (5) Menjelaskan regimen pengobatan secara sederhana dan memberikan instruksi tertulis. (6) Merujuk ke ahli gizi untuk penyusunan diet diabetik yang sesuai. (7) Memfasilitasi konsultasi dengan dokter untuk evaluasi regimen pengobatan diabetes dan hipertensinya. (8) Melibatkan keluarga untuk mendukung dan mengingatkan pasien. (9) Menjadwalkan kunjungan ulang atau follow-up untuk memantau kemajuan dan memberikan reinforcement. Intervensi ini bersifat edukatif dan kolaboratif, bertujuan untuk mengubah perilaku pasien dari tidak patuh menjadi patuh, dengan harapan dapat mencegah progresivitas retinopati dan komplikasi lainnya.
-
Article No. 23704 | 18 Jan 2026
Klinis : PS usia 65 tahun, datang ke ruang perawatan dengan keluhan utama penglihatan kabur dan rasa tidak nyaman pada kedua mata sejak beberapa bulan terakhir. Pasien mengatakan sering merasa khawatir akan jatuh saat berjalan karena pandangan yang semakin buram. Riwayat kesehatan menunjukkan pasien menderita diabetes melitus selama 10 tahun terakhir . Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg, tekanan intraokular 24 mmHg, dan ketajaman visual menurun signifikan (visus OD 5/60, OS 6/60). Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar glukosa darah sewaktu 180 mg/dL. Pemeriksaan funduskopi memperlihatkan adanya tanda-tanda retinopati diabetik pada kedua mata.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera (Jatuh) terkait Gangguan Persepsi Sensorik (Penglihatan) dan Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera didefinisikan sebagai kerentanan terhadap cedera fisik akibat kondisi interaksi dengan faktor lingkungan, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada kasus ini, risiko cedera (khususnya jatuh) sangat tinggi karena kombinasi dari penurunan tajam ketajaman penglihatan (visus sangat rendah) akibat retinopati diabetik dan potensi ketidakstabilan fisiologis dari kadar glukosa darah yang tidak terkontrol. Pasien secara eksplisit menyatakan kekhawatiran akan jatuh, yang merupakan data subjektif utama. Faktor risiko utama meliputi: gangguan persepsi sensorik (penglihatan kabur), penyakit kronis (Diabetes Melitus dengan komplikasi), usia lanjut (65 tahun), dan data objektif seperti tekanan darah yang sedikit tinggi dan tekanan intraokular yang meningkat (24 mmHg) yang dapat memperburuk ketidaknyamanan dan persepsi visual. Diagnosa ini menekankan pada keadaan yang berpotensi menyebabkan bahaya, sehingga intervensi keperawatan difokuskan pada pencegahan.
Kode SLKI: 0840
Deskripsi : SLKI 0840 adalah Pencegahan Jatuh. Tujuan dari intervensi ini adalah untuk meminimalkan faktor risiko dan mencegah terjadinya cedera akibat jatuh pada pasien. Pada konteks pasien PS, implementasi SLKI ini akan sangat spesifik. Pertama, perawat akan melakukan penilaian risiko jatuh yang komprehensif menggunakan alat seperti Morse Fall Scale, dengan mempertimbangkan faktor penglihatan, kelemahan, dan riwayat penyakit. Kedua, perawat akan memodifikasi lingkungan untuk memastikan keamanan, seperti menempatkan pasien di ruangan dekat pos perawat, memastikan pencahayaan yang memadai (tidak silau), menyingkirkan barang penghalang di jalur berjalan, dan memasang side rail tempat tidur. Ketiga, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang risiko jatuh dan cara pencegahannya, seperti cara bangun dari tempat tidur secara perlahan (duduk terlebih dahulu), menggunakan alas kaki yang tidak licin, dan meminta bantuan saat akan berjalan jika penglihatan sangat buram. Keempat, kolaborasi untuk mengatasi penyebab mendasar, seperti merujuk ke dokter spesialis mata untuk penanganan retinopati dan tekanan intraokular, serta mengoptimalkan manajemen diabetes untuk menstabilkan kadar glukosa darah yang juga dapat mempengaruhi keseimbangan dan penglihatan. Intervensi ini bersifat multidimensi, menggabungkan aspek lingkungan, edukasi, dan kolaborasi medis.
Kode SIKI: 0840A
Deskripsi : SIKI 0840A adalah Kemampuan Pasien dalam Mencegah Jatuh. Kriteria hasil ini mengukur sejauh mana pasien dan/atau keluarganya telah mencapai tujuan dari intervensi pencegahan jatuh. Pada akhir periode perawatan atau evaluasi, diharapkan: (1) Pasien dapat mengidentifikasi faktor risiko pribadi yang menyebabkan jatuh (seperti penglihatan kabur dan kelemahan). (2) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan perilaku adaptif untuk meminimalkan risiko, seperti selalu menggunakan bantuan (tongkat atau pegangan pada orang) saat berjalan, mengikuti teknik bangun dari tempat tidur yang aman yang telah diajarkan, dan menjaga lingkungan kamar tetap teratur dan terang. (3) Pasien melaporkan penurunan rasa takut atau kecemasan terhadap kemungkinan jatuh karena telah memiliki strategi koping dan dukungan. (4) Tidak terjadi insiden jatuh selama perawatan. (5) Pasien dan keluarga aktif berpartisipasi dalam perencanaan pemulangan, termasuk mengidentifikasi potensi bahaya di rumah dan merencanakan modifikasi sederhana. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan tidak hanya bersifat protektif dari pihak perawat, tetapi juga telah memberdayakan pasien untuk meningkatkan kesadaran dan kontrol terhadap keselamatan dirinya sendiri, yang merupakan aspek kunci dalam perawatan jangka panjang terutama untuk kondisi kronis seperti Diabetes Melitus dengan komplikasi.
-
Article No. 23705 | 18 Jan 2026
Klinis : Seorang ibu hamil usia 39 tahun dengan status obstetri G2P1A0 dirawat di ruang perawatan dengan diagnosis medis Intrauterine Fetal Death (IUFD) disertai preeklamsia berat. Pasien direncanakan menjalani induksi persalinan. Pada pengkajian awal, pasien tampak cemas, gelisah, dan tegang menjelang tindakan induksi persalinan. Tingkat kecemasan pasien diukur menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan diperoleh skor 39 yang menunjukkan kecemasan berat. Untuk mengatasi masalah keperawatan tersebut, dilakukan intervensi keperawatan berupa kombinasi hand massage dan aromaterapi lavender selama dua hari. Untuk mengatasi masalah keperawatan tersebut, diberikan intervensi keperawatan berupa manajemen kecemasan. Setelah diberikan intervensi, tingkat kecemasan pasien menurun dari tingkat berat menjadi sedang.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Intrauterine Fetal Death (IUFD) dengan Preeklamsia Berat pada Kehamilan 39 Minggu
Kode ICD-10: O36.4
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada kematian janin di dalam rahim (IUFD) yang terjadi pada usia kehamilan 39 minggu, disertai dengan komplikasi preeklamsia berat pada ibu. Preeklamsia berat ditandai dengan hipertensi, proteinuria, dan dapat disertai gangguan organ seperti sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri ulu hati, atau edema. IUFD dalam konteks ini merupakan indikasi medis untuk perawatan ibu, yang dalam kasus ini direncanakan dengan induksi persalinan. Kode O36.4 secara spesifik mengklasifikasikan "Perawatan ibu untuk (sangkaan) kerusakan janin intrauterin lainnya" dan digunakan ketika janin telah meninggal (fetal death). Kode ini berada dalam bab "Kehamilan, persalinan dan nifas" (O00-O9A) dan blok kode O36 yang mencakup perawatan ibu untuk masalah yang diketahui atau diduga pada janin. Penggunaan kode ini tepat karena fokus rekam medis adalah pada perawatan dan penatalaksanaan ibu yang mengalami kondisi obstetri yang kompleks dan traumatis ini, yang juga berdampak signifikan pada kondisi psikologis ibu seperti kecemasan berat yang tercatat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23706 | 18 Jan 2026
Klinis : Seorang ibu hamil usia 39 tahun dengan status obstetri G2P1A0 dirawat di ruang perawatan dengan diagnosis medis Intrauterine Fetal Death (IUFD) disertai preeklamsia berat. Pasien direncanakan menjalani induksi persalinan. Pada pengkajian awal, pasien tampak cemas, gelisah, dan tegang menjelang tindakan induksi persalinan. Tingkat kecemasan pasien diukur menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan diperoleh skor 39 yang menunjukkan kecemasan berat. Untuk mengatasi masalah keperawatan tersebut, dilakukan intervensi keperawatan berupa kombinasi hand massage dan aromaterapi lavender selama dua hari. Untuk mengatasi masalah keperawatan tersebut, diberikan intervensi keperawatan berupa manajemen kecemasan. Setelah diberikan intervensi, tingkat kecemasan pasien menurun dari tingkat berat menjadi sedang.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas Berat pada Ibu dengan IUFD dan Preeklamsia Berat Menjelang Induksi Persalinan
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah keadaan individu yang mengalami perasaan gelisah (seperti perasaan khawatir yang tidak pasti atau takut) dan aktivasi sistem saraf otonom sebagai respons terhadap ancaman yang tidak jelas atau tidak diketahui sumbernya, yang ditandai dengan perasaan tegang dan gelisah. Pada kasus ini, ansietas berat dialami oleh seorang ibu hamil dengan kondisi IUFD (kematian janin dalam kandungan) dan preeklampsia berat yang akan menjalani induksi persalinan. Situasi ini merupakan krisis multidimensional yang meliputi kehilangan anak yang sangat mendalam, ketakutan terhadap prosedur medis, kekhawatiran terhadap kesehatan diri sendiri akibat preeklampsia, serta ketegangan menunggu proses persalinan yang penuh duka. Skor HARS 39 secara objektif mengkonfirmasi tingkat ansietas yang berat, yang dapat berdampak signifikan pada ketaatan terhadap terapi, peningkatan tekanan darah yang memperburuk preeklampsia, dan proses berduka yang terhambat.
Kode SLKI: L.03129
Deskripsi : Manajemen Ansietas adalah serangkaian tindakan keperawatan yang dilakukan untuk meminimalkan atau mengurangi kecemasan, ketakutan, atau kekhawatiran. Intervensi ini mencakup pengkajian tingkat dan pemicu ansietas, penciptaan lingkungan yang terapeutik, serta pemberian dukungan psikologis dan terapi non-farmakologis. Pada kasus ini, SLKI L.03129 dioperasionalkan melalui pemberian intervensi kombinasi hand massage dan aromaterapi lavender selama dua hari. Hand massage berfungsi memberikan stimulasi sentuhan yang menenangkan, mengurangi ketegangan otot, dan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis. Aromaterapi lavender, melalui penciuman, bekerja pada sistem limbik di otak yang mengatur emosi, sehingga dapat menurunkan respons stres dan ansietas. Kombinasi kedua terapi ini memberikan pendekatan multimodal (sentuhan dan penciuman) untuk menciptakan relaksasi, mengalihkan perhatian dari pikiran yang mengganggu, dan memberikan rasa nyaman serta perhatian dari perawat, yang sangat dibutuhkan pasien dalam situasi krisis. Penerapan intervensi ini selama dua hari menunjukkan komitmen untuk monitoring dan dukungan berkelanjutan.
Kode SIKI: I.01229
Deskripsi : Ansietas Terkontrol adalah kondisi dimana tingkat kecemasan, ketakutan, atau kekhawatiran individu dapat dikendalikan atau diturunkan ke tingkat yang lebih ringan. Kriteria hasil ini diukur melalui penurunan skor alat ukur ansietas yang valid, penurunan keluhan subjektif, serta peningkatan kemampuan koping. Pada kasus ini, SIKI I.01229 tercapai dengan ditandai oleh penurunan tingkat ansietas pasien dari berat menjadi sedang setelah intervensi kombinasi hand massage dan aromaterapi lavender. Penurunan skor HARS (meskipun angka spesifik setelah intervensi tidak disebutkan, tetapi dinyatakan turun dari kategori berat ke sedang) menjadi bukti objektif keberhasilan intervensi. Perubahan dari "cemas, gelisah, dan tegang" menjadi kondisi yang lebih tenang menunjukkan bahwa pasien telah memperoleh kemampuan yang lebih baik dalam mengelola respons emosionalnya. Meskipun ansietas belum sepenuhnya hilang—yang merupakan hal yang wajar mengingat besarnya kehilangan dan trauma medis—pasien telah mencapai tingkat kendali yang memungkinkannya untuk lebih kooperatif dalam menjalani induksi persalinan, berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan terkait perawatan, dan memulai proses berduka dengan lebih adaptif. Pencapaian hasil ini merupakan langkah kritis dalam mempersiapkan pasien secara fisik dan emosional untuk menghadapi proses persalinan yang penuh tantangan.
-
Article No. 23707 | 18 Jan 2026
Klinis : Data Subjektif: - Pasien mengeluhkan mudah lelah disertai jantung berdebar - Pasien merasakan nyeri dada ketika berjalan ke kamar mandi Data Objektif: - TD: 133/97 mmHg, HR: 112x/menit, T: 38,5C, RR: 2x/menit - Hasil laboratorium LED: 35mm/jam (lebih dari normal) CRP: 18 mg/L (lebih dari normal) troponin i: 0,21 ng/mL (lebih dari normal)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung adalah keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh ventrikel per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh atau memerlukan peningkatan pengisian diastolik ventrikel untuk mencapainya. Kondisi ini ditandai dengan penurunan curah jantung (cardiac output/CO) dan indeks jantung (cardiac index/CI) di bawah rentang normal, serta peningkatan tekanan pengisian jantung (seperti CVP dan PCWP). Manifestasi klinisnya meliputi hipotensi, takikardia, penurunan keluaran urin, kulit pucat/dingin, perubahan status mental, dan dyspnea. Pada kasus pasien ini, data menunjukkan takikardia (HR 112x/menit) sebagai kompensasi awal, keluhan mudah lelah dan jantung berdebar, serta nyeri dada yang mengindikasikan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard. Hasil peningkatan Troponin I (0.21 ng/mL) mengkonfirmasi adanya kerusakan sel miokard, yang secara langsung mengganggu fungsi pompa jantung. Demam (38.5°C) dan peningkatan penanda inflamasi (LED, CRP) menunjukkan proses sistemik (mungkin infeksi atau inflamasi miokard/perikard) yang meningkatkan beban metabolik dan dapat memperberat fungsi jantung. Tekanan darah yang masih dalam rentang normal-namun dengan nadi sempit (133/97 mmHg) dapat mengindikasikan kompensasi vasokonstriksi perifer untuk mempertahankan tekanan, namun hal ini justru meningkatkan afterload dan beban kerja jantung. Pernapasan yang sangat rendah (RR 2x/menit) merupakan temuan yang tidak konsisten dan kemungkinan besar kesalahan pengukuran atau pencatatan, karena pada kondisi penurunan curah jantung biasanya terjadi takipnea sebagai kompensasi asidosis metabolik atau hipoksia.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 adalah Luaran Keperawatan dengan judul "Fungsi Jantung: Pompa". Tujuan luaran ini adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan fungsi pompa jantung agar adekuat. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: frekuensi jantung dan irama dalam rentang normal, tekanan darah dalam rentang normal, tidak ada dispnea atau ortopnea, bunyi jantung jelas tanpa gallop, edema perifer tidak ada, dan keluaran urin adekuat (>0.5 mL/kgBB/jam). Pada pasien ini, tujuan intervensi keperawatan adalah mencapai luaran dimana keluhan mudah lelah, jantung berdebar, dan nyeri dada hilang; tanda vital stabil (HR mendekati 60-100x/menit, TD optimal); penanda jantung (Troponin) kembali normal; dan tanda-tanda inflamasi sistemik (demam, LED, CRP) teratasi. Pencapaian luaran ini bersifat bertahap, dimulai dari pencegahan memburuknya kondisi (misalnya mencegah syok kardiogenik), kemudian menstabilkan tanda vital, baru kemudian mengembalikan fungsi hingga optimal. Pemantauan ketat terhadap respons terhadap terapi medis (seperti pemberian obat inotropik, vasodilator, diuretik, atau antibiotik jika ada infeksi) sangat penting untuk mengevaluasi pencapaian luaran ini.
Kode SIKI: I.08002
Deskripsi : SIKI I.08002 adalah Intervensi Keperawatan dengan judul "Manajemen Curah Jantung". Intervensi ini terdiri dari serangkaian tindakan yang ditujukan untuk mengoptimalkan volume cairan, kontraktilitas miokard, frekuensi dan irama jantung, serta afterload. Tindakan spesifik yang harus dilakukan berdasarkan kondisi pasien meliputi: 1) **Pemantauan Hemodinamik**: Memonitor TD, HR, RR, suhu, dan saturasi oksigen secara ketat (setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi). Memantau pola dan karakteristik nyeri dada. Mengobservasi tanda hipoperfusi (kulit dingin, pucat, penurunan kesadaran, oliguria). 2) **Manajemen Beban Kerja Jantung**: Mengistirahatkan pasien secara fisik dan emosional (tirah baring), membantu dalam aktivitas perawatan diri untuk mencegah kelelahan dan memperberat nyeri dada. Menempatkan pasien pada posisi semi-Fowler untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi beban jantung. 3) **Kolaborasi Pemberian Terapi**: Berkolaborasi dalam pemberian obat-obatan sesuai resep seperti analgesik untuk nyeri dada (mengurangi stres dan konsumsi oksigen miokard), obat inotropik positif (jika diperlukan), diuretik (jika ada tanda kelebihan cairan), antipiretik untuk mengatasi demam, dan antibiotik jika penyebabnya infeksi. Memastikan pemberian oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi >95%. 4) **Edukasi dan Dukungan**: Menjelaskan pentingnya tirah baring dan pembatasan aktivitas. Mengajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas yang dapat memperburuk takikardia. Memantau respons dan efek samping terapi. 5) **Pemantauan Komplikasi**: Waspada terhadap tanda-tanda memburuknya gagal jantung, aritmia, atau syok kardiogenik. Intervensi ini bersifat komprehensif dan memerlukan koordinasi dengan tim kesehatan lain untuk mengatasi penyebab yang mendasari (inflamasi/infeksi) sekaligus mengelola gejala penurunan curah jantung itu sendiri.
-
Article No. 23708 | 18 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen, seperti Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menginvasi jaringan paru, berkembang biak, dan menyebabkan respons inflamasi serta kerusakan jaringan, ditandai dengan faktor risiko seperti paparan langsung, status imunokompromais, malnutrisi, atau kondisi lingkungan yang padat.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tujuan akhirnya adalah pasien akan menunjukkan perilaku dan kondisi yang mencegah penularan infeksi tuberkulosis kepada orang lain dan meminimalkan risiko infeksi sekunder pada dirinya sendiri. Indikator pencapaiannya meliputi: 1) Pasien dan keluarga memahami dan konsisten menerapkan etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan baju). 2) Pasien menggunakan masker dengan benar terutama saat berinteraksi dengan orang lain di luar kamar isolasi. 3) Pasien dan keluarga memahami pentingnya pengobatan teratur hingga tuntas untuk mencegah resistensi dan penularan berkelanjutan. 4) Lingkungan rumah/ruangan pasien memiliki ventilasi udara yang baik dan terkena sinar matahari. 5) Tidak ada anggota keluarga atau pengunjung yang menunjukkan gejala TB dalam masa pemantauan. 6) Pasien menunjukkan peningkatan status gizi dan imunitas melalui asupan makanan yang adekuat. 7) Sputum BTA negatif setelah fase pengobatan intensif. Pencapaian SLKI ini diukur melalui observasi perilaku, pemeriksaan laboratorium, dan wawancara pengetahuan.
Kode SIKI: I.05042
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengendalikan sumber infeksi, memutus rantai penularan, dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien. Intervensi spesifik meliputi: 1) Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakit TB, cara penularan melalui droplet, pentingnya pengobatan teratur (DOTS), dan efek samping obat. Penjelasan dilakukan dengan bahasa sederhana dan media yang mudah dipahami. 2) Melatih dan memantau pelaksanaan etika batuk serta pembuangan dahak yang aman (dahak dibuang ke wadah tertutup berisi desinfektan atau dibakar). 3) Memastikan kepatuhan penggunaan masker dan menyediakan masker yang sesuai. 4) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi obat anti-tuberkulosis (OAT) tepat waktu dan memantau efek samping seperti hepatotoksisitas, gangguan penglihatan, atau neuritis perifer. 5) Menganjurkan dan memantau asupan nutrisi tinggi kalori dan protein untuk memperbaiki status gizi dan mendukung penyembuhan. 6) Mendorong istirahat yang cukup dan aktivitas bertahap sesuai toleransi untuk menghemat energi dan mencegah sesak napas. 7) Memantau tanda-tanda klinis seperti suhu tubuh, karakteristik dahak, frekuensi pernapasan, dan adanya sesak napas. 8) Melakukan skrining gejala pada anggota keluarga yang kontak erat. 9) Mengajarkan teknik relaksasi pernapasan untuk mengurangi sesak napas. 10) Memastikan lingkungan perawatan (ruang isolasi atau rumah) memiliki sirkulasi udara yang baik. 11) Memberikan dukungan psikososial untuk mengatasi stigma, kecemasan, dan meningkatkan motivasi menjalani pengobatan jangka panjang. 12) Dokumentasi yang akurat mengenai respons pengobatan, kepatuhan, dan perkembangan gejala. Intervensi ini bersifat komprehensif, melibatkan pasien dan keluarga sebagai partner, dan memerlukan pendekatan multidisiplin untuk mencapai keberhasilan terapi dan pencegahan penularan.
-
Article No. 23710 | 18 Jan 2026
Klinis : Pasien mual dan muntah lemas lesuh pucat terkena sakit colic renal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan pada Kolik Renal
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kolik renal, nyeri hebat dan tiba-tiba terjadi akibat obstruksi ureter oleh batu, menyebabkan peningkatan tekanan, peregangan, dan iskemia pada saluran kemih bagian atas. Nyeri ini bersifat kolik, yaitu datang dan pergi dengan intensitas yang sangat tinggi, biasanya terlokalisasi di daerah pinggang (flank) dan dapat menjalar ke perut bawah, selangkangan, atau genitalia. Pasien sering menggambarkannya sebagai nyeri terhebat yang pernah dialami, disertai dengan gejala otonom seperti mual, muntah, diaforesis (berkeringat dingin), dan pucat. Mual dan muntah terjadi sebagai respons terhadap nyeri hebat yang merangsang sistem saraf otonom dan pusat muntah di otak. Kelemahan dan lesu (lemas lesuh) merupakan konsekuensi langsung dari respons tubuh terhadap nyeri berat dan kehilangan energi. Pucat terjadi akibat vasokonstriksi perifer sebagai bagian dari respons stres terhadap nyeri. Diagnosis keperawatan ini menekankan pada pengalaman subjektif pasien dan memerlukan intervensi segera untuk mengurangi nyeri dan mengelola gejala yang menyertainya.
Kode SLKI: 0710
Deskripsi : SLKI 0710 berfokus pada Pengendalian Nyeri. Tujuan dari kriteria hasil ini adalah agar nyeri pasien dapat dikendalikan, dibuktikan dengan skala nyeri yang menurun hingga tingkat yang dapat ditoleransi atau hilang sama sekali, serta berkurangnya tanda-tanda distress fisik dan perilaku. Indikator yang relevan meliputi: (1) Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri (misalnya, dari skala 8-9 menjadi 3-4 pada skala 0-10). (2) Ekspresi wajah pasien tampak rileks, tidak lagi meringis atau mengerutkan dahi. (3) Perilaku gelisah atau meronta berkurang, pasien dapat beristirahat dengan lebih tenang. (4) Tanda-tanda vital (seperti denyut nadi dan tekanan darah) yang sebelumnya meningkat akibat nyeri mulai kembali ke rentang normal pasien. (5) Gejala terkait nyeri seperti mual dan muntah berkurang seiring dengan terkendalinya nyeri. (6) Pasien mampu menunjukkan dan/atau melaporkan teknik non-farmakologis yang digunakan untuk membantu mengatasi nyeri. Pencapaian SLKI ini sangat penting karena dengan terkendalinya nyeri, respons stres otonom akan mereda, yang pada gilirannya dapat membantu mengurangi mual, muntah, dan kelemahan, serta memungkinkan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan lainnya.
Kode SIKI: 2250
Deskripsi : SIKI 2250 adalah Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Langkah-langkahnya meliputi: (1) Melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif secara rutin menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala nyeri yang valid, dengan memperhatikan karakteristik nyeri kolik renal. (2) Memberikan terapi farmakologis analgesik sesuai instruksi dokter (seperti analgesik non-opioid, opioid, atau antispasmodik) dengan tepat waktu, memantau efektivitas, dan mengawasi efek samping seperti sedasi atau depresi pernapasan. (3) Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti terapi distraksi (mengajak bicara, mendengarkan musik), teknik relaksasi napas dalam, memberikan lingkungan yang tenang, dan kompres hangat atau dingin pada area nyeri sesuai kebijakan dan kondisi pasien. (4) Memposisikan pasien dengan nyaman, seringkali dalam posisi yang sedikit membungkuk atau sesuai keinginan pasien untuk mengurangi ketegangan pada area yang sakit. (5) Memonitor dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan, termasuk perubahan skala nyeri, tanda vital, dan efek samping pengobatan. (6) Mengedukasi pasien tentang sifat nyeri kolik renal, tujuan pengobatan, dan cara melaporkan nyeri dengan akurat. (7) Mengelola gejala penyerta seperti mual dan muntah dengan pemberian antiemetik sesuai order, untuk meningkatkan kenyamanan dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan biologis dan psikologis, serta memerlukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mencapai pengendalian nyeri yang optimal.
-
Article No. 23711 | 18 Jan 2026
Klinis : Pasien mual dan muntah lemas lesuh pucat terkena sakit colic renal intervensi apa untuk diagnosa ketidakseimbangan volume cairan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan volume cairan adalah keadaan individu yang berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. Pada kasus kolik renal dengan mual, muntah, lemas, lesu, dan pucat, fokusnya adalah pada risiko atau aktual defisit volume cairan. Defisit ini terjadi karena asupan cairan yang tidak adekuat akibat mual dan muntah, serta mungkin juga karena kehilangan cairan berlebihan (meskipun pada kolik renal murni, muntah adalah penyebab utama). Kondisi ini dapat mengarah pada dehidrasi, penurunan curah jantung, hipotensi, dan gangguan fungsi ginjal, yang justru dapat memperburuk nyeri kolik renal karena konsentrasi urine meningkat. Diagnosis ini menekankan pada ketidakmampuan mempertahankan keseimbangan antara asupan dan keluaran cairan tubuh akibat kondisi patologis (nyeri hebat, mual, muntah) dan potensi gangguan pada mekanisme regulasi (misalnya, keinginan minum yang menurun).
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI L.03115 adalah "Pemantauan Keseimbangan Cairan". Tujuan luaran ini adalah agar keseimbangan cairan klien kembali membaik, yang ditandai dengan tanda-tanda vital dalam rentang normal, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, haluaran urine adekuat (>0,5 ml/kgBB/jam), dan balance cairan yang seimbang. Dalam konteks pasien kolik renal dengan mual dan muntah, luaran yang diharapkan mencakup: (1) Penghentian muntah atau penurunan frekuensinya, (2) Asupan cairan oral atau parenteral yang dapat memenuhi kebutuhan, (3) Tanda-tanda dehidrasi (seperti lemas, lesu, pucat, turgor kulit menurun) berkurang atau hilang, (4) Haluaran urine yang cukup dan tidak terlalu pekat, yang juga membantu meluruhkan batu ureter, (5) Keseimbangan cairan (intake dan output) yang mendekati balance positif atau seimbang. Pemantauan yang ketat diperlukan untuk mendeteksi dini tanda syok hipovolemik jika defisit cairan berat terjadi. Pencapaian luaran ini secara bertahap menunjukkan resolusi dari masalah ketidakseimbangan volume cairan dan mendukung proses penyembuhan dari kolik renal itu sendiri.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : SIKI I.08021 adalah "Manajemen Cairan". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi defisit volume cairan pada pasien kolik renal. Pertama, Pengkajian: Memantau tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara berkala, menilai turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan capillary refill time. Memantau intake dan output cairan secara ketat setiap 24 jam, termasuk mengukur volume dan karakteristik urine (warna, kejernihan). Menimbang berat badan harian untuk mendeteksi perubahan cairan tubuh. Kedua, Tindakan: (a) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dokter (biasanya cairan kristaloid seperti NaCl 0.9% atau RL) untuk rehidrasi cepat dan mempertahankan diuresis. (b) Meningkatkan asupan cairan oral secara bertahap jika muntah telah terkontrol, dengan cairan yang disukai pasien, dalam porsi kecil namun sering. (c) Mengatur posisi pasien untuk mengurangi mual dan mencegah aspirasi jika muntah. (d) Kolaborasi pemberian obat antiemetik (sesuai resep) untuk mengontrol mual dan muntah, sehingga asupan oral dapat dimulai. (e) Mempertahankan akses intravena yang paten. (f) Mengajarkan pasien dan keluarga pentingnya pencatatan intake dan output. Ketiga, Edukasi: Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya hidrasi yang adekuat, terutama dalam konteks penyakit batu ginjal, untuk membantu meluruhkan batu kecil dan mencegah pembentukan baru. Menjelaskan tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai. Keempat, Kolaborasi: Bekerja sama dengan dokter dalam penyesuaian terapi cairan dan pemberian obat, serta dengan ahli gizi untuk menentukan jenis cairan dan diet yang sesuai. Intervensi ini bersifat dinamis dan terus dievaluasi berdasarkan respons klinis pasien terhadap terapi.