Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25819 | 24 May 2026
Klinis : keluhan - sakit kepala berputar masih sering kambuh -mual-muntah 1x pagi ini ku lemah, cm terpasang o2 3-5 lpm td:137/94 n:95 rr:20 s:36,5 spo2:99% CT scan 19-5-2026 Kesan : - Lacunar Infark cerebri di periventrikuler sinistra cornu anterior
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Serebral
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Gangguan perfusi serebral adalah penurunan suplai darah ke jaringan otak yang dapat menyebabkan gangguan metabolisme seluler, hipoksia, dan kerusakan neurologis. Pada pasien ini, kondisi tersebut terkait dengan lacunar infark cerebri di periventrikuler sinistra cornu anterior yang terdeteksi pada CT scan, yang merupakan jenis stroke iskemik kecil akibat oklusi arteri perforator. Manifestasi klinis seperti sakit kepala berputar (vertigo), mual-muntah, dan kelemahan umum (ku lemah) merupakan indikasi langsung dari hipoperfusi pada area otak yang terkena. Tekanan darah 137/94 mmHg menunjukkan hipertensi ringan yang dapat menjadi faktor risiko atau respons kompensasi tubuh terhadap penurunan aliran darah serebral. Nadi 95x/menit dan respirasi 20x/menit masih dalam batas normal, namun penggunaan oksigen 3-5 LPM mengindikasikan adanya kebutuhan tambahan oksigen untuk mengoptimalkan oksigenasi jaringan otak yang terganggu. Saturasi oksigen 99% menunjukkan bahwa pasien saat ini memiliki kadar oksigen dalam darah yang baik, tetapi ini tidak menjamin perfusi serebral yang adekuat karena masalah utama terletak pada obstruksi vaskular. Gangguan perfusi serebral dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius termasuk perluasan area infark, edema serebral, peningkatan tekanan intrakranial, dan defisit neurologis permanen. Penanganan yang tepat dan cepat sangat penting untuk meminimalkan kerusakan otak dan meningkatkan prognosis pasien. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada pemantauan ketat status neurologis, optimalisasi oksigenasi dan perfusi, manajemen tekanan darah yang hati-hati, serta pencegahan komplikasi sekunder seperti aspirasi akibat mual-muntah dan imobilitas akibat kelemahan.
Kode SLKI: L.02014
Deskripsi : Perfusi Serebral adalah kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, yang menggambarkan status sirkulasi darah yang adekuat ke jaringan otak untuk memenuhi kebutuhan metabolisme seluler. Pada pasien dengan lacunar infark, tujuan utama dari SLKI ini adalah tercapainya peningkatan perfusi serebral yang ditandai dengan beberapa indikator. Indikator pertama adalah tingkat kesadaran yang membaik, pasien diharapkan tidak mengalami penurunan kesadaran lebih lanjut dan dapat berespon secara tepat terhadap rangsangan verbal atau fisik. Kedua, fungsi sensorik dan motorik yang stabil atau membaik, seperti berkurangnya kelemahan pada ekstremitas dan tidak adanya perkembangan defisit neurologis baru. Ketiga, tidak adanya atau berkurangnya keluhan sakit kepala berputar (vertigo) dan mual-muntah, yang menunjukkan penurunan tekanan intrakranial dan perbaikan perfusi ke area vestibuler otak. Keempat, stabilitas tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah yang terkontrol dalam rentang yang ditentukan (biasanya tidak terlalu tinggi untuk mencegah perdarahan ulang atau terlalu rendah untuk mempertahankan perfusi), serta nadi dan respirasi yang normal. Kelima, status oksigenasi yang adekuat yang dipertahankan dengan atau tanpa bantuan oksigen, dengan saturasi oksigen >95% dan analisis gas darah dalam batas normal. Keenam, tidak adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti perubahan pola napas, bradikardia, hipertensi, atau perubahan pupil. Skala yang digunakan untuk mengukur pencapaian hasil ini biasanya menggunakan skala Likert 1-5, dengan target peningkatan dari skala 1 (sangat memburuk) atau 2 (cukup memburuk) menuju skala 4 (cukup membaik) atau 5 (membaik) setelah intervensi keperawatan dalam periode waktu tertentu, misalnya 3x24 jam. Evaluasi dilakukan secara berkala dengan menggunakan instrumen seperti Glasgow Coma Scale (GCS) untuk kesadaran, National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) untuk defisit neurologis, dan pemantauan tanda-tanda vital secara kontinu.
Kode SIKI: I.02014
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke otak pada pasien dengan gangguan perfusi serebral. Intervensi ini bersifat komprehensif dan multidisiplin, mencakup aspek pemantauan, tindakan mandiri, kolaboratif, dan edukasi. Tindakan pemantauan yang utama adalah observasi status neurologis secara ketat setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi, meliputi tingkat kesadaran menggunakan GCS, ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, kekuatan motorik ekstremitas, serta adanya tanda-tanda lateralisasi. Pemantauan tanda-tanda vital termasuk tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu tubuh harus dilakukan secara kontinu atau setiap 1-4 jam, dengan perhatian khusus pada tekanan darah yang tidak boleh diturunkan secara drastis karena dapat memperburuk perfusi serebral pada area penumbra (jaringan otak yang masih bisa diselamatkan di sekitar infark). Tindakan mandiri keperawatan meliputi posisikan pasien dengan kepala elevasi 15-30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena dan menurunkan tekanan intrakranial, hindari fleksi atau rotasi leher yang berlebihan, atur lingkungan yang tenang dan redup untuk mengurangi stimulus yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial, serta berikan oksigen sesuai terapi untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. Manajemen mual-muntah sangat penting untuk mencegah aspirasi dan peningkatan tekanan intrakranial akibat mengejan; perawat dapat memberikan antiemetik sesuai order dokter dan melakukan oral hygiene. Kolaborasi dengan dokter meliputi pemberian obat antihipertensi yang tepat (seperti nicardipin atau labetalol) untuk mencapai target tekanan darah yang aman, pemberian agen antitrombotik atau antiplatelet (seperti aspirin) untuk mencegah pembentukan trombus lebih lanjut, serta konsultasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi yang sesuai (mungkin melalui sonde jika pasien tidak mampu menelan). Edukasi kepada pasien dan keluarga meliputi penjelasan tentang kondisi penyakit, pentingnya kepatuhan minum obat, pengenalan tanda-tanda perburukan (seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, penurunan kesadaran), dan kebutuhan untuk mobilisasi bertahap setelah fase stabil untuk mencegah komplikasi imobilitas. Dokumentasi yang akurat mengenai temuan neurologis, respons terhadap intervensi, dan perkembangan kondisi pasien sangat penting untuk kontinuitas asuhan dan evaluasi efektivitas tindakan.
-
Article No. 25820 | 24 May 2026
Klinis : sakit kepala berputar masih sering kambuh ku lemah, cm terpasang o2 3-5 lpm td: 128/86 n: 88 rr:22 s: 36.3 spo2: 97% Kepala : wajah bengkak (-), edem (-) konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-) Leher : bengkak -/-, krepitasi (-), nyeri (-) kemerahan (-) JVP tidak meningkat Dada: simetris, venektasi (+) Pulmo: I: pengembangan dada kanan sama dengan kiri P: fremitus raba dada kanan sama dengan kiri P: sonor / sonor A: SDV / sdv , rbk -/-, rbh -/-, wh -/-, egofoni -/- Cor : S1-2 reguler, murmur -, gallop - Abdomen : supel (+) nyeri tekan (-), BU (+) Genital : dbn Ext : oedem (-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Sakit kepala berputar masih sering kambuh, kelemahan umum, terpasang oksigen 3-5 LPM, tanda-tanda vital stabil (TD 128/86, N 88, RR 22, S 36.3, SpO2 97%), dengan temuan fisik venektasi dada (+), dan status respirasi dalam batas normal.
Kode SDKI: D.0076
Deskripsi Singkat: Perfusi Serebral Tidak Efektif berhubungan dengan Gangguan Aliran Darah ke Otak (Vertigo/vestibular)
Penjelasan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan objektif yang menunjukkan adanya penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak. Pada pasien ini, sakit kepala berputar (vertigo) yang sering kambuh merupakan manifestasi utama dari gangguan perfusi serebral, terutama pada area vestibular dan serebelum yang mengatur keseimbangan. Kelemahan umum (ku lemah) dapat disebabkan oleh hipoksia serebral ringan yang mempengaruhi fungsi motorik dan metabolisme sel saraf. Meskipun tekanan darah dalam batas normal (128/86 mmHg), adanya venektasi pada dada (pelebaran pembuluh darah vena di dinding dada) dapat mengindikasikan adanya peningkatan tekanan intratoraks atau gangguan aliran balik vena yang secara tidak langsung mempengaruhi hemodinamik serebral. Pemakaian oksigen 3-5 LPM menunjukkan upaya untuk mempertahankan saturasi oksigen (SpO2 97%) yang adekuat, namun gejala vertigo yang persisten menandakan bahwa perfusi ke area vestibular belum optimal. Faktor risiko yang mendasari dapat meliputi gangguan vestibulovaskular, migrain vestibular, atau kondisi lain seperti anemia (meskipun konjungtiva tidak anemis) atau gangguan metabolik. Diagnosis ini penting karena vertigo yang tidak tertangani dapat meningkatkan risiko jatuh, cedera, dan penurunan kualitas hidup. Kode SDKI D.0076 secara spesifik merujuk pada "Perfusi Serebral Tidak Efektif" dengan definisi penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak yang dapat mengancam fungsi neurologis. Karakteristik utama meliputi: perubahan status mental, nyeri kepala, pusing/vertigo, kelemahan, dan gangguan keseimbangan. Pada kasus ini, vertigo dan kelemahan menjadi tanda klinis dominan. Faktor yang berhubungan meliputi: gangguan aliran darah ke otak (misalnya akibat vasospasme, hipoperfusi, atau emboli), gangguan transport oksigen (misalnya anemia atau gangguan ventilasi-perfusi), dan peningkatan tekanan intrakranial. Meskipun tidak ada tanda peningkatan TIK yang jelas, riwayat vertigo berulang menunjuk pada disfungsi sementara pada sirkulasi vestibular. Kondisi komorbid seperti hipertensi (meskipun TD terkontrol saat ini) atau gangguan irama jantung (meskipun denyut nadi 88 reguler) perlu dipertimbangkan sebagai faktor predisposisi. Saturasi oksigen 97% dengan terapi oksigen 3-5 LPM menunjukkan bahwa pasien membutuhkan dukungan oksigen tambahan untuk mencapai perfusi serebral yang adekuat, mengindikasikan adanya ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen di tingkat serebral. Intervensi keperawatan akan difokuskan pada peningkatan perfusi serebral, manajemen vertigo, dan pencegahan cedera.
Kode SLKI: L.02014
Deskripsi: Tingkat Vertigo Menurun
Penjelasan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Luaran keperawatan yang diharapkan adalah penurunan frekuensi, durasi, dan intensitas serangan vertigo, serta peningkatan kemampuan fungsional pasien. Kode SLKI L.02014 secara spesifik mengukur "Tingkat Vertigo" dengan kriteria hasil yang terobservasi. Kriteria utama meliputi: (1) Keluhan pusing/berputar menurun, diukur dengan skala frekuensi (dari sering menjadi jarang atau tidak ada) dan intensitas (dari berat menjadi ringan); (2) Keseimbangan tubuh membaik, ditandai dengan kemampuan duduk, berdiri, dan berjalan tanpa bantuan atau dengan bantuan minimal; (3) Kelemahan umum menurun, pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri; (4) Tanda-tanda vital stabil, terutama tekanan darah dan nadi yang tidak fluktuatif saat perubahan posisi; (5) Kebutuhan oksigen menurun atau dapat dilepas, dengan SpO2 tetap ≥95% pada udara ruangan; (6) Skala nyeri kepala menurun (misalnya skala VAS 0-3). Indikator lain yang relevan adalah: tidak ada mual/muntah, tidak ada nistagmus, dan pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus vertigo. Luaran ini diukur dalam rentang waktu tertentu, misalnya dalam 3x24 jam setelah intervensi, dengan target: frekuensi vertigo menurun dari "sering (≥3 kali/hari)" menjadi "jarang (≤1 kali/hari)" atau "tidak ada". Pada pasien dengan terapi oksigen 3-5 LPM, target luaran juga mencakup kemampuan weaning oksigen secara bertahap. SLKI ini selaras dengan diagnosis perfusi serebral tidak efektif, karena perbaikan perfusi akan mengurangi gejala vertigo. Selain itu, luaran juga mencakup aspek keselamatan: risiko jatuh menurun, yang diukur dengan skala Morse atau Hendrich II. Pasien dengan kelemahan dan vertigo memiliki risiko jatuh tinggi, sehingga luaran ini sangat kritis. Indikator psikososial seperti kecemasan terkait vertigo juga perlu dievaluasi, karena serangan berulang dapat menimbulkan gangguan ansietas. Dengan demikian, SLKI L.02014 tidak hanya berfokus pada aspek fisiologis tetapi juga fungsional dan psikologis pasien. Dokumentasi luaran dilakukan dengan mencatat frekuensi vertigo, hasil tes Romberg atau Fukuda, kemampuan ambulasi, dan skala kecemasan. Target akhir adalah pasien dapat kembali beraktivitas normal tanpa bantuan oksigen dan tanpa keluhan vertigo yang mengganggu.
Kode SIKI: I.06191
Deskripsi: Manajemen Vertigo
Penjelasan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Vertigo" dengan kode I.06191, yang merupakan serangkaian tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi berputar dan mencegah komplikasi. Intervensi ini terdiri dari tiga kategori: observasi, terapeutik, dan edukasi.
Observasi: (1) Identifikasi faktor pencetus vertigo (misalnya perubahan posisi mendadak, cahaya terang, kelelahan, stres); (2) Monitor frekuensi, durasi, dan intensitas vertigo (skala 0-10); (3) Monitor tanda-tanda vital (TD, N, RR, SpO2) terutama saat perubahan posisi (duduk ke berdiri); (4) Monitor keseimbangan dan gaya berjalan (tes Romberg, tandem walk); (5) Monitor tanda-tanda neurologis lain (nistagmus, diplopia, disartria, kelemahan fokal) untuk menyingkirkan stroke batang otak; (6) Monitor efek samping obat antivertigo (misalnya sedasi, mulut kering).
Terapeutik: (1) Berikan posisi nyaman dengan kepala sedikit ditinggikan (30-45 derajat) dan hindari gerakan kepala mendadak; (2) Anjurkan pasien untuk memejamkan mata saat serangan vertigo untuk mengurangi stimulus visual; (3) Bantu pasien dalam mobilisasi bertahap (duduk di tepi tempat tidur 5 menit sebelum berdiri); (4) Kolaborasi pemberian obat antivertigo sesuai indikasi (misalnya betahistine, dimenhydrinate, atau meclizine) sesuai advis dokter; (5) Pertahankan terapi oksigen sesuai kebutuhan (3-5 LPM) untuk mempertahankan SpO2 ≥95% dan memastikan perfusi serebral adekuat; (6) Ciptakan lingkungan tenang dengan pencahayaan redup dan minim suara bising; (7) Lakukan manuver reposisi kanalit (misalnya Epley atau Semont) jika dicurigai BPPV (Benign Paroxysmal Positional Vertigo) setelah konsultasi dokter; (8) Pasang side rail tempat tidur dan berikan bel panggilan dalam jangkauan untuk mencegah jatuh; (9) Bantu kebutuhan eliminasi dan personal hygiene di tempat tidur atau dengan kursi roda selama fase akut.
Edukasi: (1) Jelaskan penyebab vertigo dan faktor risikonya; (2) Ajarkan teknik mengatasi serangan (duduk segera, fokus pada titik tetap, hindari membaca); (3) Anjurkan modifikasi aktivitas: hindari membungkuk, menengadah, atau memutar kepala cepat; (4) Ajarkan latihan keseimbangan dan rehabilitasi vestibular sederhana (misalnya Brandt-Daroff exercises) setelah fase akut terlewati; (5) Anjurkan hidrasi yang cukup dan hindari kafein, alkohol, serta rokok yang dapat memicu vertigo; (6) Informasikan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera (vertigo mendadak berat, bicara pelo, kelemahan separuh tubuh, nyeri dada, atau sesak napas); (7) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi vestibular jika vertigo berulang.
Intervensi tambahan terkait kelemahan umum (kode I.06192: Manajemen Kelemahan) juga dapat diintegrasikan, meliputi: bantuan aktivitas bertahap, latihan rentang gerak pasif, dan monitoring toleransi aktivitas. Karena pasien menggunakan oksigen, intervensi manajemen oksigenasi (kode I.01026) juga perlu dilakukan: monitor aliran oksigen, pastikan kelembaban, dan cek posisi nasal kanul. Semua intervensi didokumentasikan secara real-time dalamArticle No. 25821 | 24 May 2026
Klinis : Seorang laki-laki berusia 42 tahun tahun datang dengan keluhan kejang berulang 2 Seorang laki-laki berusia 42 tahun datang dengan keluhan kejang berulang 2 kali sejak 15 menit SMRS. Kejang yang dialami berlangsung selama ± 5 menit, dengan karakteristik kaku dan kelonjotan pada seluruh anggota gerak, mata mendelik ke atas, tampak pucat, dan berkeringat. Lidah tidak tergigit dan tidak keluar busa dari mulut. Pada saat kejang, pasien dalam keadaan berbaring dan tidak sadarkan diri. Setelah kejang berhenti, pasien langsung tertidur. Saat terbangun, pasien tampak bingung selama beberapa saat, kemudian kembali sadar penuh dan dapat berkomunikasi kembali seperti biasa. Kemudian, saat berada di Rumah Sakit (RS), pasien kembali mengalami kejang selama 10 menit dengan bentukan kejang yang sama. Pasien diketahui pernah mengalami keluhan serupa pada 2 hari SMRS. Sebelum mengalami serangan kejang, pasien sering merasa nyeri pada seluruh bagian kepala, terutama dalam 1 minggu terakhir. Keluhan serupa dalam keluarga disangkal, dan riwayat trauma juga disangkal. Pasien memiliki riwayat darah tinggi (hipertensi) serta penyakit Leukemia Limfoblastik Akut (LAL) yang saat ini sedang dalam masa pengobatan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: keadaan umum tampak sakit sedang; tingkat kesadaran GCS E4V5M6 = 15; frekuensi nadi 68x/menit; frekuensi napas 18x/menit; suhu tubuh 36,5°C; dan tekanan darah 160/80 mmHg. Bentuk kepala bulat, persebaran rambut merata, dan tidak rontok. Pemeriksaan mata dalam batas normal (konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik). Pemeriksaan telinga normal (normotia +/+, sekret -/-, hiperemis -/-, nyeri tekan -/-). Pemeriksaan hidung normal (deviasi -/-, sekret -/-, normosmia kiri = kanan, hiperemis -/-). Pemeriksaan leher menunjukkan JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran KGB maupun kelenjar tiroid. Pemeriksaan paru menunjukkan gerakan dada dan fremitus taktil simetris, nyeri tekan (-), massa (-), ekspansi simetris, sonor pada kedua lapang paru saat perkusi, serta tidak didapatkan rhonki maupun wheezing (kesan dalam batas normal). Pemeriksaan jantung menunjukkan iktus cordis tidak teraba, batas jantung dalam batas normal, bunyi jantung I dan II reguler, serta tidak ada bunyi jantung tambahan. Ekstremitas superior dekstra-sinistra dan inferior dekstra-sinistra teraba hangat, edema (-), dan CRT < 2 detik. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan: inspeksi perut tampak datar, tidak terdapat asites, bising usus 8x/menit, nyeri tekan (-), hepatomegali (-), dan timpani pada seluruh lapang abdomen. Pada punggung belakang pasien tidak didapatkan deformitas, benjolan, edema, maupun kemerahan. Pada kedua lengan atas pasien tidak didapatkan deformitas, benjolan, edema, dan kemerahan. Hasil pemeriksaan nervus kranialis dalam batas normal, rangsang meningeal (-), refleks fisiologis (bisep +2/+2, trisep +2/+2, patella +2/+2, achilles +2/+2). Refleks patologis tidak ditemukan. Kekuatan motorik dan sensorik berada dalam batas normal. Pada pemeriksaan hematologi didapatkan: kadar Hb 8,6 g/dL, eritrosit 3 juta/µL, hematokrit 25%, trombosit 58.000/µL, gula darah sewaktu (GDS) 140 mg/dL, Kalium 3,3 mmol/L, kalsium 7,7 mg/dL, dan klorida 106 mmol/L. Berdasarkan hasil tersebut, pasien mengalami anemia, trombositopenia, hipokalemia, dan hipokalsemia. Pada pemeriksaan CT scan kepala tanpa kontras, didapatkan adanya iskemi lobus parietalis sinistra aspek posterosuperior.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kejang Berulang (Status Epileptikus Parsial) pada Pasien dengan Leukemia Limfoblastik Akut, Hipertensi, dan Gangguan Elektrolit
Kode SDKI: D.0127
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan otak untuk mengendalikan aktivitas listrik yang berlebihan dan tidak terkendali, yang menyebabkan perubahan kesadaran, gerakan, sensasi, atau perilaku yang bersifat sementara (paroksismal), seperti yang dialami pasien dengan kejang tonik-klonik umum berulang.
Kode SLKI: L.08088
Deskripsi : Kontrol Kejang. Kemampuan pasien untuk mencegah, mengenali, dan mengelola episode kejang. Luaran yang diharapkan meliputi frekuensi kejang menurun, durasi kejang memendek, kesadaran membaik, dan tidak terjadi cedera selama kejang. Indikator: (1) Frekuensi kejang menurun, (2) Durasi kejang < 5 menit, (3) Kesadaran kembali normal dalam 30 menit pasca iktal, (4) Tidak ada cedera fisik akibat kejang (lidah tergigit, fraktur, aspirasi), (5) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus (seperti demam, hipoglikemia, hipokalsemia, stres, kurang tidur), (6) Pasien patuh terhadap program pengobatan antikonvulsan, (7) Pasien menunjukkan strategi koping yang adaptif terhadap kondisi kejang.
Kode SIKI: I.06298
Deskripsi : Manajemen Kejang. Serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengendalikan atau menghentikan aktivitas kejang, mencegah cedera, mempertahankan jalan napas, dan mengidentifikasi serta mengatasi penyebab yang mendasari. Intervensi utama meliputi: (1) Observasi: Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, napas, suhu) setiap 15 menit saat kejang dan setiap 1 jam pasca kejang; catat durasi, frekuensi, karakteristik kejang (onset, jenis gerakan, arah mata, inkontinensia); kaji tingkat kesadaran menggunakan skala GCS sebelum, selama, dan setelah kejang; identifikasi faktor presipitasi (misalnya, nyeri kepala, gangguan elektrolit, infeksi, efek samping obat kemoterapi). (2) Terapeutik: Pertahankan jalan napas dengan posisi miring (recovery position) untuk mencegah aspirasi; longgarkan pakaian ketat di leher; berikan oksigen 2-4 liter/menit via nasal kanul jika saturasi oksigen < 94%; pasang side rail dan bantalan lunak di sekitar kepala untuk mencegah cedera; jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut; kolaborasi pemberian obat antikonvulsan sesuai program (misalnya, Diazepam 5-10 mg IV perlahan, Fenitoin 15-20 mg/kg IV, atau Levetiracetam 1000 mg IV); siapkan resusitasi dan suction jika terjadi status epileptikus. (3) Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga untuk mengenali tanda-tanda awal kejang (aura) seperti nyeri kepala, pusing, atau sensasi aneh; ajarkan teknik relaksasi napas dalam saat merasa cemas atau stres; informasikan tentang pentingnya kepatuhan minum obat antikonvulsan dan obat hipertensi; edukasi tentang faktor pencetus kejang (kurang tidur, alkohol, hipoglikemia, demam, perubahan elektrolit akibat kemoterapi). (4) Kolaborasi: Rujuk ke dokter spesialis saraf untuk evaluasi elektroensefalografi (EEG) dan penyesuaian dosis antikonvulsan; kolaborasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk koreksi gangguan elektrolit (hipokalemia, hipokalsemia) dan anemia; konsultasi dengan dokter spesialis onkologi untuk manajemen leukemia dan efek samping kemoterapi yang dapat memicu kejang; kolaborasi pemberian cairan infus (misalnya, NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) untuk mempertahankan perfusi serebral dan koreksi elektrolit.
Article No. 25823 | 24 May 2026
Klinis : ## Kasus Pengkajian Gerontik Ny. M usia 72 tahun tinggal sendiri di rumah sejak suaminya meninggal dunia. Anak-anak Ny. M tinggal terpisah, namun masih sesekali berkunjung dan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ny. M memiliki riwayat rutin kontrol kesehatan di Posyandu Lansia di lingkungan tempat tinggalnya. Saat pengkajian, Ny. M tampak sadar composmentis dan mampu berkomunikasi dengan baik. Ny. M mengatakan memiliki riwayat hipertensi sejak beberapa tahun terakhir, namun jarang mengonsumsi obat amlodipin secara rutin. Obat biasanya dibelikan oleh anak bungsunya di apotek. Ny. M mengatakan tekanan darahnya sering meningkat hingga “140 lebih”. Ny. M juga mengeluhkan sakit pinggang terutama pada bagian pinggul belakang ketika terlalu lama berdiri atau banyak bergerak. Ny. M mengatakan keluhan tersebut sudah dirasakan sejak lama karena dahulu sering bersepeda jauh hingga ke Kota Yogyakarta saat masih aktif bekerja sebagai pedagang. Selain itu, Ny. M mengeluhkan rasa gatal pada punggung sejak kurang lebih tiga bulan terakhir. Keluhan muncul setelah mengikuti terapi badan menggunakan alat terapi pegal-pegal. Setelah terapi tersebut muncul bercak kemerahan pada punggung disertai rasa gatal yang terkadang meluas hingga tangan. Ny. M tampak sering menggaruk area tersebut hingga menimbulkan luka kecil. Ny. M juga mengatakan mengalami gangguan tidur. Biasanya tidur sekitar pukul 00.00 malam dan membutuhkan waktu sekitar satu jam atau lebih untuk bisa tertidur. Ny. M sering terbangun pada pukul 02.00–03.00 pagi dan sulit tidur kembali. Ny. M mengatakan rasa gatal pada punggung membuat tidur menjadi kurang nyaman. Karena tinggal sendiri, Ny. M lebih sering beraktivitas dan beristirahat sendiri di rumah. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 159/73 mmHg, nadi 78x/menit, frekuensi napas 20x/menit, BB 55,4 kg, TB 150 cm dengan IMT 24,4. Kondisi umum cukup baik, kesadaran composmentis, orientasi baik, serta tidak ditemukan gangguan kognitif. Penglihatan baik dengan riwayat operasi katarak sebelumnya. Nafsu makan baik dengan pola makan 3 kali sehari, namun Ny. M menghindari beberapa makanan seperti emping, telur, dan ikan laut karena merasa dapat menimbulkan pegal pada lutut dan rasa gatal. Pada pemeriksaan integumen ditemukan kulit punggung tampak kering dengan bercak kemerahan dan luka kecil bekas garukan. Sistem muskuloskeletal menunjukkan adanya nyeri pada area pinggul belakang saat bergerak atau berdiri terlalu lama, namun Ny. M masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri seperti mandi, berpakaian, makan, toileting, dan berjalan tanpa bantuan. Secara psikososial, Ny. M masih aktif mengikuti kegiatan pengajian dan salat berjamaah di lingkungan sekitar. Ny. M berharap kondisi kesehatannya membaik, tekanan darah lebih terkontrol, rasa gatal berkurang, dan kualitas tidurnya menjadi lebih baik agar tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri meskipun tinggal sendiri di rumah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (D.0116)
Kode SDKI: D.0116
Deskripsi Singkat: Manajemen kesehatan tidak efektif adalah pola pengaturan dan pengintegrasian ke dalam kehidupan sehari-hari program pengobatan dan pencegahan penyakit yang tidak memuaskan untuk memenuhi tujuan kesehatan spesifik. Pada kasus Ny. M, diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan objektif yang menunjukkan ketidakpatuhan dalam program pengobatan hipertensi. Ny. M mengaku jarang mengonsumsi obat amlodipin secara rutin meskipun memiliki riwayat hipertensi dan tekanan darah sering meningkat hingga "140 lebih". Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah saat ini 159/73 mmHg, yang mengonfirmasi hipertensi tidak terkontrol. Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi: tinggal sendiri tanpa pengawasan langsung dari anggota keluarga, anak bungsu yang membelikan obat namun tidak memastikan kepatuhan minum obat, serta kemungkinan kurangnya pemahaman tentang pentingnya kepatuhan terapi antihipertensi jangka panjang. Ketidakefektifan ini berpotensi menyebabkan komplikasi kardiovaskular, serebrovaskular, dan renal pada lansia. Selain itu, Ny. M juga memiliki perilaku menghindari makanan tertentu seperti emping, telur, dan ikan laut karena keyakinan pribadi yang belum tentu akurat secara medis, menunjukkan adanya kesenjangan dalam pengetahuan dan pengambilan keputusan kesehatan yang tepat. Kondisi psikososial Ny. M yang masih aktif bersosialisasi dan beribadah menjadi faktor pendukung yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas manajemen kesehatan melalui edukasi dan dukungan sosial.Kode SLKI: L.01011
Deskripsi : Manajemen Kesehatan Efektif. Luaran yang diharapkan setelah diberikan intervensi keperawatan adalah Ny. M mampu menunjukkan perilaku kepatuhan dalam program pengobatan hipertensi. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: (1) Tekanan darah terkontrol dalam rentang normal (sistolik <140 mmHg dan diastolik <90 mmHg) pada kunjungan kontrol berikutnya; (2) Ny. M mampu menyebutkan nama obat, dosis, waktu, dan cara minum amlodipin dengan benar; (3) Ny. M menunjukkan motivasi dan komitmen untuk minum obat secara teratur setiap hari; (4) Ny. M mampu mengidentifikasi tanda-tanda bahaya hipertensi (sakit kepala berat, pandangan kabur, nyeri dada) dan kapan harus segera mencari pertolongan medis; (5) Ny. M mampu memonitor tekanan darah secara mandiri atau rutin memeriksakan ke Posyandu Lansia; (6) Ny. M menunjukkan pemahaman tentang modifikasi gaya hidup sehat termasuk diet rendah garam, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres; (7) Keluarga atau anak-anak Ny. M terlibat aktif dalam mendukung kepatuhan pengobatan, misalnya dengan mengingatkan jadwal minum obat atau mendampingi saat kontrol kesehatan. Indikator keberhasilan ini diukur melalui wawancara, observasi langsung, dan pemantauan tekanan darah serial. Target waktu pencapaian luaran dalam 1-2 minggu intervensi awal dan pemantauan berkelanjutan selama 1 bulan.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Edukasi Manajemen Kesehatan. Intervensi utama yang direncanakan adalah memberikan pendidikan kesehatan yang komprehensif dan terstruktur tentang manajemen hipertensi pada lansia. Tindakan keperawatan meliputi: (1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan Ny. M untuk menerima informasi, dengan mempertimbangkan kondisi kognitif yang masih baik; (2) Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan, seperti keyakinan yang salah, kurangnya dukungan keluarga, atau efek samping obat yang dirasakan; (3) Jelaskan secara sederhana dan jelas tentang penyakit hipertensi, penyebab, risiko komplikasi (stroke, gagal jantung, gagal ginjal), dan pentingnya pengobatan jangka panjang; (4) Ajarkan cara minum obat yang benar: amlodipin diminum 1 kali sehari pada waktu yang sama setiap hari (misalnya pagi setelah sarapan), jangan pernah menghentikan obat tanpa konsultasi dokter meskipun tekanan darah sudah normal; (5) Berikan informasi tentang efek samping amlodipin yang mungkin terjadi (pusing, sembelit, pembengkakan pergelangan kaki) dan kapan harus melaporkan ke tenaga kesehatan; (6) Ajarkan teknik pemantauan tekanan darah mandiri jika memungkinkan, atau dorong Ny. M untuk rutin ke Posyandu Lansia setiap bulan untuk pemeriksaan tekanan darah; (7) Berikan edukasi tentang diet rendah garam (kurangi konsumsi makanan asin, makanan olahan, dan bumbu instan) dan hindari makanan yang diyakini memicu keluhan namun tetap pastikan asupan nutrisi seimbang; (8) Libatkan anak atau keluarga terdekat dalam sesi edukasi untuk memastikan dukungan di rumah; (9) Buat jadwal minum obat yang sederhana dan mudah diingat, misalnya menggunakan kotak pil mingguan atau alarm pengingat; (10) Lakukan evaluasi pemahaman dengan meminta Ny. M mengulangi kembali informasi yang telah diberikan; (11) Dokumentasikan respons dan perkembangan Ny. M dalam catatan keperawatan. Intervensi ini dilakukan secara bertahap dengan pendekatan yang sabar dan suportif, mengingat usia lanjut dan kebiasaan yang sudah lama terbentuk.
Kondisi: Nyeri Kronis (D.0078)
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Nyeri kronis adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berlangsung lebih dari 3 bulan, terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional. Pada Ny. M, diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif: Ny. M mengeluhkan sakit pinggang terutama pada bagian pinggul belakang ketika terlalu lama berdiri atau banyak bergerak. Keluhan ini sudah dirasakan sejak lama, berhubungan dengan riwayat aktivitas fisik berat saat bersepeda jauh ke Kota Yogyakarta di masa lalu. Nyeri bersifat kronis karena telah berlangsung bertahun-tahun, bukan akut. Data objektif menunjukkan adanya nyeri pada area pinggul belakang saat bergerak atau berdiri terlalu lama, namun Ny. M masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Nyeri kronis pada lansia seringkali terkait dengan kondisi degeneratif seperti osteoartritis sendi panggul atau sakroiliaka, yang diperberat oleh riwayat penggunaan sendi berlebihan di masa muda. Nyeri ini bersifat mekanis, artinya memburuk dengan aktivitas dan membaik dengan istirahat. Dampak dari nyeri kronis ini meliputi: keterbatasan mobilitas, penurunan kualitas hidup, gangguan tidur (meskipun tidak disebutkan secara langsung terkait nyeri pinggang, namun gangguan tidur multisistem), dan risiko jatuh karena perubahan pola jalan. Meskipun Ny. M masih mandiri, nyeri kronis yang tidak tertangani dapat menyebabkan penurunan fungsi fisik lebih lanjut, kelemahan otot, dan isolasi sosial karena membatasi aktivitas di luar rumah. Penting untuk membedakan nyeri ini dengan nyeri akut atau nyeri yang berasal dari sumber lain seperti fraktur kompresi vertebra akibat osteoporosis yang juga umum pada lansia perempuan.Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri Menurun. Luaran yang diharapkan setelah intervensi adalah Ny. M melaporkan penurunan intensitas nyeri pada skala nyeri numerik (0-10) dari yang dirasakan saat ini menjadi lebih ringan, misalnya dari skala 6-7 menjadi 3-4 pada saat aktivitas. Kriteria hasil spesifik meliputi: (1) Ny. M mampu mengidentifikasi faktor pencetus dan faktor yang meredakan nyeri (misalnya posisi istirahat tertentu, kompres hangat, atau penggunaan alas duduk yang empuk); (2) Ny. M menunjukkan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman tanpa peningkatan nyeri yang signifikan; (3) Ny. M mampu mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk meredakan nyeri, seperti latihan peregangan ringan yang aman, kompres hangat pada area yang nyeri, atau teknik relaksasi napas dalam; (4) Ny. M melaporkan kualitas tidur membaik karena nyeri tidak lagi mengganggu secara signifikan; (5) Ekspresi wajah dan postur tubuh Ny. M tampak lebih rileks dan tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri yang jelas; (6) Ny. M mampu menyebutkan obat pereda nyeri yang aman dan sesuai jika diperlukan, serta memahami kapan harus berkonsultasi ke dokter. Target pencapaian luaran dalam 1-2 minggu untuk penguasaan teknik nonfarmakologis, dan dalam 1 bulan untuk perbaikan fungsional yang signifikan.
Kode SIKI: I.08223
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang direncanakan bersifat komprehensif, menggabungkan pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Tindakan keperawatan meliputi: (1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif secara berkala menggunakan skala nyeri numerik (0-10) atau skala nyeri wajah (Wong-Baker) yang sesuai untuk lansia, dokumentasikan karakteristik nyeri (lokasi tepat di area pinggul belakang, kualitas nyeri tumpul atau pegal, durasi, faktor yang memperberat seperti berdiri lama atau berjalan jauh, faktor yang meredakan seperti duduk atau berbaring); (2) Identifikasi dampak nyeri terhadap fungsi sehari-hari, mobilitas, tidur, dan suasana hati Ny. M; (3) Ajarkan teknik nonfarmakologis pereda nyeri: (a) Kompres hangat menggunakan handuk hangat atau botol berisi air hangat pada area pinggul belakang
Article No. 25824 | 24 May 2026
Klinis : metastasis vertebra
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Metastasis Vertebra
Kode ICD-10: C79.5
Deskripsi Singkat : Metastasis vertebra adalah kondisi penyebaran sel kanker dari organ primer (misalnya paru, payudara, prostat, tiroid, atau ginjal) ke tulang belakang (vertebra). Kode ICD-10 C79.5 digunakan untuk mengklasifikasikan "Malignant neoplasm of bone and bone marrow, secondary" atau neoplasma ganas sekunder pada tulang dan sumsum tulang, yang mencakup metastasis ke vertebra. Kondisi ini merupakan salah satu komplikasi umum pada kanker stadium lanjut dan sering menyebabkan nyeri punggung hebat, fraktur patologis, kompresi medula spinalis, serta gangguan neurologis seperti kelemahan anggota gerak atau kelumpuhan. Secara patofisiologis, sel kanker mencapai vertebra melalui aliran darah (hematogen) atau sistem limfatik. Diagnosis biasanya ditegakkan melalui pencitraan seperti MRI, CT scan, atau PET scan, serta biopsi untuk konfirmasi histologis. Penanganan bersifat paliatif dan multimodal, meliputi radioterapi, kemoterapi, terapi target, bifosfonat, serta intervensi bedah seperti dekompresi atau stabilisasi vertebra. Penting untuk membedakan metastasis vertebra dari neoplasma ganas primer tulang (misalnya osteosarkoma yang memiliki kode C40-C41) karena kode dan pendekatan pengobatan berbeda. Kode C79.5 spesifik untuk metastasis tulang, termasuk vertebra, dan tidak digunakan untuk metastasis sumsum tulang yang mungkin menggunakan kode terpisah (C79.8). Dokumentasi medis harus mencantumkan lokasi spesifik vertebra (misalnya vertebra torakal, lumbal, atau sakral) untuk ketepatan kodifikasi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 25825 | 24 May 2026
Klinis : metastasis vertebra
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Metastasis Vertebra
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Nyeri kronis berhubungan dengan infiltrasi tumor ke tulang vertebra dan kompresi saraf, ditandai dengan keluhan nyeri punggung yang menetap, skala nyeri 4-7, ekspresi wajah meringis, dan gangguan tidur.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat nyeri menurun dengan kriteria: (1) Kemampuan mengontrol nyeri meningkat (skala 5), (2) Keluhan nyeri menurun (skala 5), (3) Ekspresi wajah rileks (skala 5), (4) Pola tidur membaik (skala 5), (5) Frekuensi nadi dalam rentang normal (60-100 x/menit), (6) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit), (7) Tekanan darah sistolik dalam rentang normal (100-120 mmHg).
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen nyeri: Observasi: (1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri, (2) Identifikasi skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), (3) Identifikasi respons nyeri nonverbal (ekspresi wajah, posisi tubuh, aktivitas), (4) Identifikasi efek samping penggunaan analgetik (mual, konstipasi, sedasi). Terapeutik: (1) Berikan teknik nonfarmakologis: relaksasi napas dalam (3-5 siklus per sesi, 3 kali sehari), distraksi dengan musik atau visualisasi, kompres hangat pada area paravertebral (suhu 40-45°C selama 15-20 menit), (2) Kontrol lingkungan yang memperberat nyeri (pencahayaan redup, suhu ruang 22-24°C, posisi tidur semi-Fowler dengan bantal penyangga lutut), (3) Fasilitasi istirahat dan tidur dengan jadwal tidur 7-8 jam per malam dan tidur siang 30-60 menit, (4) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program medis: opioid (morfin 2-4 mg IV/IM setiap 4 jam) atau non-opioid (parasetamol 500-1000 mg oral setiap 6 jam), (5) Evaluasi efektivitas intervensi setiap 4 jam pada fase akut dan setiap 8 jam pada fase kronis.
Article No. 25795 | 23 May 2026
Klinis : klien mengatakan nyeri perut bagian kanan bawah dan menjalar ke ulu hati klien mengira itu sakit asam lambung dan di diamkan begitu saja tidak di obati ternyata setelah dibawa ke rumah sakit di diangnosa apendisitis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut Berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Apendisitis)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain). Nyeri akut bersifat tiba-tiba, intensitas bervariasi dari ringan hingga berat, dan berlangsung dalam waktu singkat (kurang dari 3 bulan). Pada kondisi apendisitis, nyeri akut disebabkan oleh inflamasi pada appendix vermiformis yang memicu pelepasan mediator kimiawi seperti prostaglandin, bradikinin, dan histamin. Mediator ini merangsang ujung saraf nosiseptor di peritoneum visceral dan parietal, menghasilkan sensasi nyeri yang khas. Awalnya nyeri terasa di daerah epigastrium atau periumbilikus (nyeri visceral) karena appendix yang meradang meregangkan serabut saraf aferen visceral. Seiring perkembangan inflamasi yang meluas ke lapisan serosa dan peritoneum parietal, nyeri kemudian berpindah dan terlokalisasi di titik McBurney (kuadran kanan bawah). Penjalaran nyeri ke ulu hati terjadi karena iritasi pada pleksus celiacus dan saraf frenikus akibat proses inflamasi yang menyebar ke area hepatik atau diafragma. Pasien yang mendiamkan nyeri tanpa pengobatan memperburuk kondisi karena inflamasi terus berlanjut, meningkatkan tekanan intraluminal appendix, dan berisiko menyebabkan perforasi. Nyeri akut pada apendisitis ditandai dengan skala nyeri 4-8/10, wajah meringis, posisi antalgik (membungkuk), perubahan tanda vital (takikardia, hipertensi, peningkatan frekuensi napas), dan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah menjalar ke ulu hati) dan data objektif (palpasi positif nyeri tekan, tanda Rovsing, tanda Psoas, dan tanda Obturator). Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mengurangi nyeri, mencegah komplikasi, dan mempersiapkan pasien menjalani tindakan operatif (apendektomi).
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri adalah standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang menggambarkan status pasien dalam mengelola dan mengurangi pengalaman nyeri. Pada pasien apendisitis dengan nyeri akut, luaran yang diharapkan adalah penurunan tingkat nyeri yang signifikan. Indikator yang digunakan meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun dari skala 7-8 menjadi 2-3 dalam 1x24 jam setelah intervensi; (2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis; (3) Kemampuan mengontrol nyeri meningkat, pasien mampu menggunakan teknik nonfarmakologis (napas dalam, distraksi); (4) Tanda vital membaik: frekuensi nadi 60-100x/menit, tekanan darah dalam rentang normal (120/80 mmHg), frekuensi napas 16-20x/menit; (5) Aktivitas fisik meningkat, pasien mampu melakukan mobilisasi bertahap tanpa menunjukkan ketidaknyamanan; (6) Pola tidur membaik, pasien dapat tidur 6-8 jam per hari tanpa terbangun karena nyeri. Target waktu pencapaian luaran ini adalah dalam 1x24 jam pasca intervensi keperawatan awal dan terus dievaluasi setiap 4 jam. Jika nyeri tidak terkontrol dalam 24 jam, perlu dikaji ulang kemungkinan komplikasi seperti perforasi appendix atau abses. SLKI ini juga mencakup aspek psikologis, yaitu penurunan ansietas terkait nyeri, dan peningkatan pengetahuan pasien tentang penyebab nyeri serta pentingnya tindakan medis segera. Kriteria hasil yang spesifik pada pasien apendisitis praoperatif adalah: pasien dapat mengidentifikasi faktor pencetus nyeri (posisi, gerakan, makanan), melaporkan nyeri berkurang setelah mendapat analgesik, dan menunjukkan kesiapan untuk menjalani apendektomi tanpa penundaan. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan skala nyeri numerik (0-10), observasi perilaku, dan pengukuran tanda vital setiap shift perawat. Keberhasilan luaran ini menjadi indikator awal kesiapan pasien untuk intervensi bedah dan mencegah perburukan kondisi seperti peritonitis.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri adalah Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang merupakan serangkaian tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri pada pasien apendisitis. Intervensi ini terdiri dari tiga komponen utama: observasi, terapeutik, dan edukasi. Pada komponen observasi, perawat melakukan: (1) Identifikasi lokasi nyeri (titik McBurney, epigastrium, ulu hati), karakteristik (tajam, menusuk, kolik), durasi (menetap atau hilang timbul), frekuensi, dan kualitas nyeri; (2) Identifikasi skala nyeri menggunakan PQRST (Provoking/palliating, Quality, Region, Severity, Timing); (3) Identifikasi respon nyeri non-verbal (wajah meringis, posisi tubuh, gelisah, menangis); (4) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri (posisi duduk, berjalan, batuk, makan); (5) Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi) setiap 4 jam; (6) Monitor efek samping penggunaan analgesik (mual, konstipasi, depresi pernapasan). Komponen terapeutik meliputi: (1) Berikan posisi nyaman (semi-Fowler dengan lutut ditekuk) untuk mengurangi tegangan otot abdomen; (2) Ajarkan teknik nonfarmakologis: teknik relaksasi napas dalam (slow deep breathing) selama 5-10 menit setiap kali nyeri muncul, distraksi dengan musik lembut atau visualisasi, dan kompres dingin pada area nyeri (hati-hati jika dicurigai perforasi); (3) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter (misal: parasetamol IV 1 gram/6 jam atau ketorolak 30 mg IM/8 jam) dengan prinsip "by the ladder, by the clock, by the route"; (4) Hindari pemberian analgesik oral jika pasien direncanakan operasi dalam waktu dekat karena risiko aspirasi; (5) Berikan terapi cairan intravena untuk mengoreksi dehidrasi akibat mual dan muntah; (6) Pasang NGT (Nasogastric Tube) jika ada distensi abdomen berat untuk dekompresi. Komponen edukasi meliputi: (1) Jelaskan penyebab nyeri (radang appendix) dan perlunya tindakan bedah segera; (2) Ajarkan pasien melaporkan nyeri segera tanpa menunda; (3) Informasikan prosedur operasi dan perawatan pasca operasi; (4) Anjurkan puasa (NPO) untuk persiapan operasi dan mencegah perburukan; (5) Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional dan membantu teknik relaksasi. Intervensi ini dilakukan setiap 2-4 jam pada fase akut dan dievaluasi respons nyeri setiap 15-30 menit setelah pemberian analgesik. Dokumentasi intervensi mencakup skala nyeri sebelum dan sesudah tindakan, jenis dan dosis analgesik yang diberikan, serta respons pasien. Tujuan akhir intervensi adalah nyeri terkontrol, pasien tenang, dan siap menjalani apendektomi dalam waktu 6-12 jam sejak diagnosis ditegakkan, untuk mencegah komplikasi perforasi dan peritonitis yang mengancam jiwa.
Article No. 25796 | 23 May 2026
Klinis : klien mengatakan nyeri perut bagian kanan bawah dan menjalar ke ulu hati klien mengira itu sakit asam lambung dan di diamkan begitu saja tidak di obati ternyata setelah dibawa ke rumah sakit di diangnosa apendisitis. biatkan 3 diangnosa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (proses inflamasi pada apendiks)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik atau emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain), dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi. Pada pasien apendisitis, nyeri disebabkan oleh obstruksi lumen apendiks yang menyebabkan distensi, iskemia, dan inflamasi progresif. Nyeri awalnya dirasakan di daerah epigastrium atau periumbilikus (viseral) yang kemudian menjalar ke titik McBurney di kuadran kanan bawah (somatik) saat peritoneum terlibat. Pasien sering menginterpretasikan nyeri awal sebagai dispepsia atau gangguan asam lambung, sehingga menunda penanganan. Nyeri akut pada apendisitis dapat disertai dengan mual, muntah, anoreksia, dan demam. Nyeri yang tidak tertangani dapat menyebabkan respons stres fisiologis seperti takikardia, hipertensi, peningkatan konsumsi oksigen, dan gangguan mobilitas yang memperburuk kondisi. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien melaporkan nyeri dengan skala 4-7/10, lokasi perut kanan bawah menjalar ke ulu hati, durasi berjam-jam hingga berhari-hari, kualitas nyeri seperti ditusuk atau kram) dan data objektif (wajah meringis, posisi antalgik, tanda vital: nadi meningkat, tekanan darah meningkat, respirasi dangkal, diaforesis, palpasi nyeri tekan pada titik McBurney, tanda Rovsing positif, tanda Psoas positif). Nyeri akut ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi perforasi yang dapat menyebabkan peritonitis dan sepsis.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah luaran keperawatan yang menggambarkan kemampuan pasien dalam mengendalikan dan mengurangi pengalaman nyeri yang dialami. Kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun dengan indikator skala nyeri 0-2/10, frekuensi nyeri berkurang dari terus-menerus menjadi intermiten, durasi nyeri memendek; (2) Ekspresi meringis berkurang, pasien tampak lebih rileks, tidak gelisah; (3) Kemampuan mengenali nyeri (skala, penyebab, faktor yang memperberat/meringankan) meningkat; (4) Kemampuan menggunakan teknik nonfarmakologis (napas dalam, distraksi, relaksasi) meningkat; (5) Tanda vital membaik: nadi 60-100x/menit, tekanan darah sistolik 100-130 mmHg, respirasi 16-20x/menit, suhu normal; (6) Pola tidur membaik, pasien dapat beristirahat dengan tenang; (7) Aktivitas fisik meningkat, pasien mampu melakukan mobilisasi bertahap tanpa peningkatan nyeri signifikan. Luaran ini diukur menggunakan skala Likert 1-5 (1=memburuk, 2=cukup memburuk, 3=sedang, 4=cukup membaik, 5=membaik) untuk setiap indikator. Target luaran disesuaikan dengan kondisi klinis, misalnya pada pasien pre-operasi apendisitis, target utama adalah penurunan skala nyeri hingga level yang dapat ditoleransi (skala 3-4) sambil menunggu tindakan operasi. Setelah apendektomi, target ditingkatkan menjadi nyeri minimal (skala 0-2) dengan mobilitas bertahap. Luaran ini juga mencakup kemampuan pasien dan keluarga untuk melaporkan nyeri secara akurat serta kepatuhan terhadap regimen analgesik yang diresepkan.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mengendalikan pengalaman nyeri pasien. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif meliputi: (1) Pengkajian nyeri komprehensif: identifikasi lokasi (kuadran kanan bawah, epigastrium), karakteristik (tajam, menusuk, kram), durasi (kontinu atau intermiten), frekuensi, kualitas, faktor pencetus (gerakan, batuk, tekanan), dan faktor yang meredakan (posisi fetal, istirahat). Gunakan skala nyeri numerik (0-10) atau Wong-Baker Faces untuk anak. Kaji pula respons nonverbal seperti ekspresi wajah, posisi tubuh, dan tanda vital. Dokumentasikan setiap perubahan nyeri setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi akut; (2) Kolaborasi pemberian analgesik: berikan sesuai indikasi dokter, biasanya parasetamol atau NSAID (ketorolak) untuk nyeri ringan-sedang, atau opioid (morfin, petidin) untuk nyeri berat pre-operasi. Monitor efektivitas (onset, durasi, puncak efek) dan efek samping (mual, konstipasi, depresi pernapasan, sedasi); (3) Teknik nonfarmakologis: ajarkan teknik napas dalam (slow deep breathing) dengan frekuensi 6-10 kali per menit untuk merangsang relaksasi diafragma dan menurunkan ketegangan otot abdomen. Berikan kompres dingin pada area nyeri (jika tidak kontraindikasi) untuk mengurangi edema dan inflamasi. Distraksi dengan musik lembut, guided imagery (visualisasi tempat yang menenangkan), atau percakapan ringan. Posisikan pasien senyaman mungkin, biasanya posisi semi-Fowler atau miring dengan lutut ditekuk (posisi fetal) untuk mengurangi regangan otot dinding abdomen; (4) Edukasi pasien dan keluarga: jelaskan penyebab nyeri (proses inflamasi apendiks), pentingnya melaporkan nyeri secara akurat tanpa ditahan, teknik nonfarmakologis yang dapat dilakukan mandiri, dan jadwal pemberian analgesik. Pada pasien post-apendektomi, edukasi tentang nyeri luka operasi, tanda infeksi (kemerahan, bengkak, drainase purulen), dan batasan aktivitas (hindari angkat berat, batuk dengan bantal); (5) Manajemen lingkungan: ciptakan lingkungan tenang, redup, dan nyaman. Kurangi kebisingan dan pencahayaan berlebih. Atur jadwal intervensi keperawatan agar tidak mengganggu istirahat pasien. Berikan waktu tidur yang cukup; (6) Kolaborasi multidisiplin: rujuk ke dokter bedah untuk evaluasi kebutuhan apendektomi, ke ahli gizi untuk diet cair atau lunak yang tidak merangsang sekresi asam lambung, dan ke farmasi untuk regimen analgesik yang optimal. Evaluasi efektivitas intervensi setiap 4-6 jam dengan mengkaji ulang skala nyeri, tanda vital, dan kemampuan pasien beristirahat. Dokumentasikan respons pasien terhadap setiap intervensi sebagai dasar penyesuaian rencana asuhan selanjutnya.
Kondisi: Risiko Infeksi (D.0142) berhubungan dengan Prosedur Invasif dan Pertahanan Tubuh Sekunder (apendisitis dengan kemungkinan perforasi)
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogenik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Pada pasien apendisitis, risiko infeksi sangat tinggi karena apendiks yang mengalami inflamasi merupakan fokus infeksi bakteri (Escherichia coli, Bacteroides fragilis, Streptococcus spp) yang dapat menyebar ke rongga peritoneum jika terjadi perforasi. Kondisi ini diperparah oleh keterlambatan penanganan (pasien mendiamkan nyeri selama beberapa hari karena mengira sakit asam lambung), sehingga meningkatkan kemungkinan apendiks perforasi dan abses periapendikular. Faktor risiko meliputi: (1) Pertahanan tubuh primer terganggu: mukosa apendiks yang rusak akibat inflamasi dan iskemia memudahkan translokasi bakteri; (2) Prosedur invasif: rencana apendektomi (laparoskopi atau laparotomi) akan menciptakan luka operasi yang menjadi port de entrée bagi mikroorganisme; (3) Penurunan imunitas: respons inflamasi sistemik akibat infeksi lokal dapat menekan sistem imun; (4) Malnutrisi: pasien mungkin mengalami anoreksia dan muntah sehingga asupan nutrisi tidak adekuat; (5) Lingkungan rumah sakit: paparan terhadap nosokomial patogen. Data yang mendukung diagnosa ini meliputi: demam (>38°C), leukositosis (>10.000/mm³ dengan shift to left), nyeri tekan abdomen yang meluas, tanda peritonitis (kekakuan dinding abdomen, nyeri lepas), dan penundaan penanganan selama >24-48 jam sejak onset nyeri. Risiko infeksi ini memerlukan intervensi preventif yang ketat untuk mencegah komplikasi sepsis, peritonitis, abses intra-abdominal, dan infeksi luka operasi (surgical site infection/SSI) yang dapat memperpanjang lama rawat inap dan meningkatkan morbiditas.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Tingkat Infeksi (L.14137) adalah luaran keperawatan yang menggambarkan kemampuan pasien untuk bebas dari tanda dan gejala infeksi serta mempertahankan integritas pertahanan tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Tidak ada tanda infeksi sistemik: suhu tubuh normal (36,5-37,5°C), tidak ada menggigil, leukosit dalam batas normal
Article No. 25797 | 23 May 2026
Klinis : klien mengatakan nyeri perut bagian kanan bawah dan menjalar ke ulu hati klien mengira itu sakit asam lambung dan di diamkan begitu saja tidak di obati ternyata setelah dibawa ke rumah sakit di diangnosa apendisitis. biatkan 3 diangnosa yang satu lagi apa defisit pengetahuan kah?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (peradangan apendiks)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau yang digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain), dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat yang dapat diantisipasi atau diprediksi akhirnya. Pada pasien dengan apendisitis, nyeri terjadi akibat proses inflamasi pada apendiks vermiformis yang menyebabkan distensi, iskemia, dan rangsangan pada ujung saraf nyeri di peritoneum parietal. Nyeri biasanya dimulai di daerah epigastrium atau periumbilikalis (nyeri visceral) yang kemudian menjalar dan menetap di kuadran kanan bawah (nyeri somatik) seiring bertambahnya inflamasi yang melibatkan peritoneum parietal. Pasien sering menggambarkan nyeri sebagai rasa tajam, menusuk, atau kram yang diperburuk oleh gerakan, batuk, atau bersin. Nyeri ini merupakan manifestasi klinis utama yang mendorong pasien mencari pertolongan medis, dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi seperti perforasi apendiks yang mengancam jiwa. Penatalaksanaan nyeri menjadi prioritas utama dalam asuhan keperawatan untuk mengurangi penderitaan, memfasilitasi mobilisasi dini pasca operasi, dan mencegah komplikasi pernapasan akibat imobilisasi. Nyeri akut pada apendisitis juga dapat disertai respons fisiologis seperti peningkatan denyut jantung, tekanan darah, frekuensi napas, serta perubahan ekspresi wajah dan perilaku.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah standar luaran keperawatan yang mengukur penurunan intensitas nyeri, frekuensi nyeri, dan tanda-tanda nyeri setelah diberikan intervensi keperawatan. Luaran yang diharapkan pada pasien apendisitis dengan nyeri akut meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun dengan skala 0-2 dari skala 0-10 dalam 1x24 jam pasca intervensi; (2) Ekspresi wajah rileks tidak menunjukkan tanda kesakitan; (3) Tanda vital dalam batas normal (TD: 120/80 mmHg, N: 60-100 x/menit, RR: 16-20 x/menit, Suhu: 36,5-37,5°C); (4) Kemampuan beristirahat dan tidur tanpa gangguan; (5) Pasien mampu mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri seperti napas dalam atau kompres hangat; (6) Pasien melaporkan pemahaman tentang penyebab nyeri dan kapan harus melaporkan nyeri yang memburuk. Indikator keberhasilan ini dievaluasi secara berkala setiap 4 jam pada fase akut dan setiap 8 jam pada fase pemulihan. Skala nyeri yang digunakan adalah Numeric Rating Scale (NRS) atau Wong-Baker Faces Rating Scale sesuai usia dan kondisi kognitif pasien. Pencapaian luaran ini menjadi dasar untuk melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan intervensi keperawatan.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengelola nyeri melalui pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri menggunakan pengkajian PQRST (Provoking/Palliating, Quality, Region/Radiation, Severity, Timing); (2) Identifikasi skala nyeri menggunakan NRS atau skala lain yang sesuai; (3) Identifikasi respons nyeri non verbal (ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah); (4) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri; (5) Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi (misal mendengarkan musik, menonton TV), kompres hangat pada area sekitar (jika tidak kontraindikasi), dan guided imagery; (6) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi medis (misal parasetamol, ketorolak, atau morfin sesuai protokol); (7) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (misal redupkan cahaya, kurangi kebisingan, atur suhu ruangan nyaman); (8) Ajarkan teknik manajemen nyeri secara mandiri; (9) Evaluasi efektivitas intervensi nyeri setiap 4 jam atau sesuai kondisi; (10) Dokumentasikan respons pasien terhadap intervensi. Intervensi ini dilakukan secara kontinu dan disesuaikan dengan respons pasien, terutama pada fase pra operasi dan pasca operasi apendektomi. Tujuan akhir adalah mencapai kenyamanan optimal pasien tanpa efek samping yang signifikan dari terapi.
Kondisi: Risiko Infeksi (D.0142) berhubungan dengan prosedur invasif (apendektomi) dan penyakit kronis (apendisitis)
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen (bakteri, virus, jamur, parasit) ke dalam jaringan tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan lokal atau sistemik. Pada pasien dengan apendisitis yang menjalani apendektomi, risiko infeksi sangat tinggi karena beberapa faktor: (1) Proses inflamasi apendiks yang sudah ada sebelumnya dapat menyebabkan kontaminasi bakteri pada rongga peritoneum; (2) Prosedur pembedahan invasif menciptakan port d'entrée bagi mikroorganisme; (3) Adanya jaringan nekrotik dan eksudat purulen yang menjadi media pertumbuhan bakteri; (4) Kemungkinan kontaminasi feses jika apendiks perforasi; (5) Penurunan daya tahan tubuh akibat stres operasi dan penyakit; (6) Adanya drainase luka yang meningkatkan risiko infeksi nosokomial. Bakteri yang paling sering terlibat adalah Escherichia coli, Bacteroides fragilis, dan spesies anaerob lainnya yang merupakan flora normal usus. Infeksi pasca operasi dapat bermanifestasi sebagai infeksi luka operasi (superfisial atau dalam), abses intra-abdominal, peritonitis, atau sepsis. Tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai meliputi peningkatan suhu tubuh >38°C, kemerahan, bengkak, nyeri pada luka operasi, drainase purulen, leukositosis, dan peningkatan laju endap darah (LED) atau C-reactive protein (CRP). Pencegahan infeksi menjadi prioritas utama karena komplikasi infeksi dapat memperpanjang masa rawat, meningkatkan morbiditas, dan bahkan mengancam jiwa. Faktor risiko lain yang memperberat termasuk malnutrisi, diabetes melitus, obesitas, merokok, dan penggunaan steroid jangka panjang. Oleh karena itu, intervensi keperawatan harus komprehensif mencakup aspek preoperatif, intraoperatif, dan postoperatif.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Tingkat Infeksi (L.14137) adalah standar luaran keperawatan yang mengukur tidak adanya tanda dan gejala infeksi serta penurunan faktor risiko infeksi. Luaran yang diharapkan pada pasien apendisitis pasca apendektomi meliputi: (1) Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal seperti kemerahan (rubor), panas (kalor), bengkak (tumor), nyeri (dolor), dan gangguan fungsi (functio laesa) pada area luka operasi; (2) Suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5°C) tanpa demam; (3) Jumlah leukosit dalam batas normal (4.000-10.000/mm³); (4) Luka operasi tampak bersih, kering, tanpa drainase purulen atau serosanguinus yang berlebihan; (5) Kultur luka (jika dilakukan) menunjukkan hasil negatif untuk pertumbuhan bakteri patogen; (6) Pasien tidak menunjukkan tanda sepsis (takikardia, takipnea, hipotensi, perubahan status mental); (7) Pasien mampu mendemonstrasikan perawatan luka yang benar; (8) Pasien mengetahui tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan. Indikator ini dievaluasi setiap hari selama perawatan dan pada saat kontrol pasca operasi. Pencapaian luaran ini menunjukkan efektivitas intervensi pencegahan infeksi dan menjadi dasar untuk penghentian antibiotik profilaksis atau terapeutik.
Kode SIKI: I.14551
Deskripsi : Pencegahan Infeksi (I.14551) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mencegah masuknya dan penyebaran mikroorganisme patogen serta mengendalikan faktor risiko infeksi. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik setiap 4-8 jam (suhu tubuh, warna luka, drainase, nyeri, bengkak); (2) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien sesuai teknik aseptik; (3) Gunakan sarung tangan steril saat merawat luka operasi; (4) Lakukan perawatan luka operasi dengan teknik aseptik setiap 24 jam atau sesuai kebijakan rumah sakit (bersihkan luka dengan NaCl 0,9% steril, aplikasi antiseptik, tutup dengan kasa steril); (5) Ganti balutan luka jika basah, kotor, atau terkontaminasi; (6) Pastikan drain (jika ada) berfungsi dengan baik dan tidak tersumbat; (7) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang perawatan luka
Article No. 25798 | 23 May 2026
Klinis : Hipervolemia berhubungan dengan ditandai dengan Ds: pasien mengatakan wajah dan perutya bengkak pasien mengatakan mual dan muntah Do: TD 136/99 mmHg Intake: 558 Oral: 50 ml+100 ml+100 ml Makanan: 100 ml+100 ml+100 ml Obat: 5ml+3 ml Autput:1000 Urine: 550 ml+150 ml+300 ml Balance cairan:558 ml -1000ml = -442 ml Hasil radiologi: Foto Thorax AP (asimetris, inspirasi sangat kurang):Dilatasi suprahilar dan parahilar kedua paru Cardiomegali = Cor: ukuran kesan membesar, aorta normal Penebalan fissura mino Hasil lab Ureum 289 mg/dl HGB 10.0 gr/dl HCT 29.2% Albumin 2.7 gr/dl Natrium 108 mmol/l Klorida 87 mmol/l
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan data kondisi pasien yang Anda berikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, Luaran Keperawatan (SLKI), dan Intervensi Keperawatan (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), beserta penjelasan singkatnya.
```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Keperawatan
Berdasarkan data pasien yang diberikan, berikut adalah analisis dan penetapan diagnosa keperawatan sesuai standar PPNI (SDKI, SLKI, SIKI).
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Kode: D.0022
Definisi SDKI: Hipervolemia adalah kondisi kelebihan volume cairan intravaskular dan/atau interstisial.
Diagnosa Keperawatan:
Hipervolemia (D.0022) berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi (misalnya, gagal ginjal, gagal jantung) dan penurunan protein plasma (hipoalbuminemia) ditandai dengan:
- Data Subjektif (Ds):
- Pasien mengatakan wajah dan perut bengkak.
- Pasien mengatakan mual dan muntah.
- Data Objektif (Do):
- TD 136/99 mmHg.
- Hasil radiologi:
- Foto Thorax AP: Dilatasi suprahilar dan parahilar kedua paru (menunjukkan kongesti paru).
- Cardiomegali (Cor: ukuran kesan membesar, menunjukkan pembesaran jantung).
- Penebalan fissura mino (menunjukkan efusi pleura atau kongesti).
- Hasil lab:
- Ureum 289 mg/dl (sangat tinggi, menunjukkan gangguan fungsi ginjal berat).
- Albumin 2.7 gr/dl (rendah, menunjukkan hipoalbuminemia yang berkontribusi pada edema).
- Natrium 108 mmol/l (sangat rendah, menunjukkan hiponatremia dilusional akibat kelebihan cairan).
- Klorida 87 mmol/l (rendah, menunjukkan hipokloremia).
Catatan Penting: Data balance cairan yang menunjukkan -1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596