Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24256 | 26 Feb 2026
Klinis : diare
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Diare
Kode ICD-10: R19.7
Deskripsi Singkat : Diare, dikodekan sebagai R19.7 dalam ICD-10, mengacu pada peningkatan frekuensi buang air besar (lebih dari 3 kali sehari) dengan konsistensi feses yang cair atau encer. Kondisi ini merupakan gejala, bukan penyakit itu sendiri, dan dapat bersifat akut (berlangsung singkat, biasanya kurang dari 14 hari) atau kronis (berlangsung lebih dari 4 minggu). Diare akut paling sering disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, parasit), keracunan makanan, atau efek samping obat. Diare kronis dapat terkait dengan kondisi seperti sindrom iritasi usus besar (IBS), penyakit radang usus (IBD), malabsorpsi, atau intoleransi makanan. Kode R19.7 termasuk dalam bab 'Gejala, tanda dan temuan klinis dan laboratorium yang abnormal, tidak diklasifikasikan di tempat lain', tepatnya di bawah 'Gejala dan tanda yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan rongga perut'. Penggunaan kode ini tepat ketika penyebab spesifik diare belum ditetapkan atau sebagai kode sementara saat menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Penting untuk mencatat bahwa jika penyebab pastinya diketahui (misalnya, diare akibat rotavirus A08.0 atau diare kronis pasca-gastrektomi K91.1), kode yang lebih spesifik harus digunakan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24257 | 26 Feb 2026
Klinis : diare
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: 00013
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Diare. Tujuan: Volume cairan dan elektrolit pasien seimbang. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan tanda-tanda hidrasi adekuat (turgor kulit baik, membran mukosa lembab, produksi urin adekuat). 2) Frekuensi dan konsistensi feses kembali normal atau mendekati pola biasanya. 3) Pasien dan keluarga menyebutkan penyebab dan tindakan pencegahan diare. 4) Tidak terjadi komplikasi terkait diare (misalnya, lecet pada area perianal).
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Manajemen Diare. Tindakan: 1) Kaji faktor penyebab dan pencetus diare (infeksi, makanan, obat-obatan, stres). 2) Observasi dan catat karakteristik feses (frekuensi, volume, konsistensi, warna, bau). 3) Pantau tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit (turgor kulit, mata cekung, membran mukosa, produksi urin, kelemahan, perubahan denyut nadi dan tekanan darah). 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan dan elektrolit sesuai resep (oralit atau intravena). 5) Anjurkan dan bantu meningkatkan asupan cairan oral yang aman (air matang, oralit, kuah sayur) secara bertahap dan sering. 6) Anjurkan diet sesuai toleransi, mulai dari makanan lunak, rendah serat, dan mudah dicerna, hindari makanan pedas, berlemak, dan susu sementara waktu. 7) Lakukan perawatan kulit area perianal dengan membersihkan menggunakan air hangat dan sabun lembut, lalu keringkan dengan menepuk-nepuk (bukan menggosok) dan aplikasikan pelindung kulit (salep zinc oxide) untuk mencegah iritasi dan lecet. 8) Ajarkan pasien dan keluarga tentang teknik mencuci tangan yang benar dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah buang air besar. 9) Ajarkan pasien dan keluarga tentang cara mengolah makanan dan minuman yang aman serta higienis. 10) Kolaborasi pemberian farmakoterapi sesuai resep (antidiare, antibiotik jika disebabkan infeksi bakteri). 11) Edukasi tanda-tanda dehidrasi yang mengharuskan untuk segera mencari pertolongan medis.
-
Article No. 24258 | 26 Feb 2026
Klinis : Seorang ibu mengeluh tentang prilaku anak perempuannya yang berusia 4 tahun, ibu mengatakan bahwa ia bingung karena sejak umur 3 tahun anaknya sering marah-marah, berteriak dan menangis jika permintaannya tidak segera dituruti. Sampai saat ini anak tidak mau bersosialisasi dengan keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Selama ini ibu selalu menuruti keinganan sang anak, ibu tidak mengerti apa yang harus ja lakukan. Saat dikajı lebih lanjut, ternyata sang anak sering mendapatkan prilaku kekerasan dari ayahnya.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Reaksi Perlekatan Masa Kanak-Kanak (Reactive Attachment Disorder)
Kode ICD-10: F94.1
Deskripsi Singkat : Gangguan Reaksi Perlekatan Masa Kanak-Kanak (RAD) adalah kondisi serius di mana seorang anak kecil tidak membentuk ikatan emosional yang sehat dan aman dengan pengasuh utamanya, seringkali karena pengalaman pengasuhan yang tidak konsisten, penelantaran, atau pelecehan. Deskripsi kasus menunjukkan pola perilaku yang mengkhawatirkan: amarah dan tangisan yang intens saat keinginan tidak terpenuhi, penarikan diri dari sosialisasi, dan riwayat kekerasan dari ayahnya. Pola pengasuhan yang selalu menuruti keinginan anak (indulgent) sebagai respons terhadap perilaku sulit, dikombinasikan dengan lingkungan yang penuh kekerasan, menciptakan kondisi yang menghambat perkembangan perlekatan yang aman. Anak belajar bahwa dunia tidak dapat diprediksi dan tidak aman, sehingga mengembangkan strategi bertahan hidup yang maladaptif, seperti pengendalian melalui amukan dan menghindari hubungan. Kode ICD-10 F94.1 mengklasifikasikan gangguan ini di bawah "Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya Masa Kanak dan Remaja". Diagnosis ini menekankan bahwa akar masalah terletak pada gangguan dalam hubungan perlekatan, bukan semata-mata pada sifat anak. Penanganan memerlukan intervensi terapeutik yang berfokus pada membangun kepercayaan, memberikan pengasuhan yang konsisten dan responsif, serta melibatkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman dan stabil.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24259 | 26 Feb 2026
Klinis : Seorang ibu mengeluh tentang prilaku anak perempuannya yang berusia 4 tahun, ibu mengatakan bahwa ia bingung karena sejak umur 3 tahun anaknya sering marah-marah, berteriak dan menangis jika permintaannya tidak segera dituruti. Sampai saat ini anak tidak mau bersosialisasi dengan keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Selama ini ibu selalu menuruti keinganan sang anak, ibu tidak mengerti apa yang harus ja lakukan. Saat dikajı lebih lanjut, ternyata sang anak sering mendapatkan prilaku kekerasan dari ayahnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: D.0066
Deskripsi Singkat: Risiko Perilaku Kekerasan adalah keadaan di mana seorang individu berisiko untuk melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan fisik, emosional, atau psikologis pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Pada kasus ini, anak perempuan berusia 4 tahun menunjukkan perilaku agresif (sering marah-marah, berteriak, menangis) dan isolasi sosial (tidak mau bersosialisasi) sebagai respons terhadap pola asuh yang tidak konsisten (selalu dituruti) dan paparan kekerasan dari ayahnya. Lingkungan keluarga yang penuh kekerasan menjadi faktor predisposisi utama, sementara ketidakmampuan ibu dalam menetapkan batasan memperkuat risiko bahwa perilaku maladaptif ini dapat berkembang menjadi pola perilaku kekerasan yang lebih stabil jika tidak diintervensi.
Kode SLKI: L.08130
Deskripsi : SLKI L.08130 adalah "Perilaku kekerasan terkontrol". Tujuan dari luaran ini adalah agar klien (dalam hal ini anak) dapat mengendalikan impuls untuk berperilaku kekerasan. Indikator pencapaiannya meliputi: (1) Mengungkapkan perasaan marah atau frustasi secara verbal tanpa agresi fisik atau teriakan, (2) Mengidentifikasi pemicu perilaku marah, (3) Menggunakan strategi koping yang positif (seperti menarik napas dalam, meminta bantuan) ketika merasa kesal, (4) Menunjukkan penurunan frekuensi dan intensitas ledakan amarah, dan (5) Berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang lebih tenang. Pada konteks anak usia 4 tahun, penerapannya akan disesuaikan dengan tahap perkembangannya, misalnya dengan belajar menyebutkan emosi "aku marah" daripada mengamuk, atau memeluk boneka saat kesal. Pencapaian luaran ini akan sangat bergantung pada terciptanya lingkungan rumah yang aman dan konsisten dari ibu serta terhentinya kekerasan dari ayah.
Kode SIKI: I.08090
Deskripsi : SIKI I.08090 adalah "Manajemen perilaku kekerasan". Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau menghentikan perilaku kekerasan. Implementasinya pada kasus ini melibatkan pendekatan multi-level:
1. Terhadap Anak: Menciptakan lingkungan terapeutik yang aman dan prediktibel. Perawat dapat membantu anak mengenali emosi melalui alat bantu seperti gambar ekspresi wajah, mengajarkan teknik menenangkan diri sederhana (seperti "pelukan kupu-kupu" atau menghitung mainan), serta memberikan pujian positif ketika anak berhasil mengekspresikan diri dengan baik. Bermain peran dengan boneka dapat menjadi media untuk melatih respons yang tepat.
2. Terhadap Ibu (Klien Utama dalam Edukasi): Memberikan pendidikan kesehatan mental dan pengasuhan. Ibu perlu diedukasi tentang dampak buruk kekerasan pada perkembangan psikologis anak dan pentingnya konsistensi dalam pengasuhan. Perawat melatih ibu untuk menetapkan batasan yang jelas dan tegas (bukan kasar) dengan kasih sayang, menerapkan teknik time-out yang tepat, serta mengelola perilaku sulit anak tanpa menyerah pada tantrum. Ibu juga perlu dilatih untuk menjadi model regulasi emosi yang baik.
3. Terhadap Lingkungan/Keluarga: Melakukan kolaborasi dan rujukan. Ini adalah aspek kritis. Perawat harus mendorong dan memfasilitasi ibu untuk melaporkan kekerasan dari ayah kepada pihak berwenang (seperti PPT, P2TP2A) atau memisahkan anak dari pelaku untuk menghentikan trauma berkelanjutan. Kolaborasi dengan psikolog anak atau psikiater untuk terapi bermain atau assessment lebih lanjut sangat diperlukan. Perawat juga dapat menghubungkan keluarga dengan kelompok dukung atau layanan sosial.
Inti dari intervensi ini adalah melindungi anak dari bahaya lebih lanjut, menguatkan kapasitas pengasuhan ibu, dan memutus siklus kekerasan dalam keluarga. Semua tindakan dilakukan dengan pendekatan empatik, tidak menghakimi, dan berfokus pada keselamatan serta perkembangan optimal anak.
-
Article No. 24260 | 26 Feb 2026
Klinis : Seorang ibu mengeluh tentang prilaku anak perempuannya yang berusia 4 tahun, ibu mengatakan bahwa ia bingung karena sejak umur 3 tahun anaknya sering marah-marah, berteriak dan menangis jika permintaannya tidak segera dituruti. Sampai saat ini anak tidak mau bersosialisasi dengan keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Selama ini ibu selalu menuruti keinganan sang anak, ibu tidak mengerti apa yang harus ja lakukan. Saat dikajı lebih lanjut, ternyata sang anak sering mendapatkan prilaku kekerasan dari ayahnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: D.0036
Deskripsi Singkat: Risiko Perilaku Kekerasan adalah keadaan di mana seorang individu berisiko untuk bertindak agresif terhadap diri sendiri, orang lain, atau lingkungan, yang dapat mengakibatkan cedera atau kerusakan. Pada kasus ini, anak perempuan berusia 4 tahun menunjukkan perilaku marah-marah, berteriak, dan menangis yang intens ketika keinginannya tidak dituruti, serta menarik diri dari sosialisasi. Perilaku ini merupakan respons yang dipelajari dan kemungkinan besar dipicu oleh paparan kekerasan dari ayahnya (korban kekerasan dalam rumah tangga/child abuse) dan pola pengasuhan yang permisif dari ibu yang selalu menuruti keinginan anak untuk menghindari konflik. Kombinasi trauma akibat kekerasan dan tidak adanya batasan yang konsisten menciptakan risiko tinggi bagi anak untuk menginternalisasi kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah atau mengekspresikan emosi, yang dapat berkembang menjadi perilaku kekerasan yang lebih serius seiring pertumbuhannya jika tidak diintervensi.
Kode SLKI: L.01449
Deskripsi : SLKI L.01449 berfokus pada pengendalian perilaku kekerasan. Tujuan utama intervensi keperawatan dalam kasus ini adalah agar anak dapat mengontrol perilaku agresifnya dan mulai mengungkapkan perasaan serta kebutuhannya dengan cara yang lebih adaptif. Luaran yang diharapkan mencakup penurunan frekuensi dan intensitas ledakan amarah (tantrum), penurunan perilaku berteriak dan menangis yang tidak terkendali, serta peningkatan kemampuan anak untuk mengekspresikan emosi dengan kata-kata atau melalui permainan yang aman. Selain itu, luaran jangka panjang termasuk anak mulai menunjukkan kesediaan untuk berinteraksi secara positif dengan anggota keluarga terdekat terlebih dahulu, sebagai langkah awal sosialisasi. Pencapaian luaran ini memerlukan waktu dan keterlibatan konsisten dari pengasuh utama (ibu) dan lingkungan yang aman.
Kode SIKI: I.01264
Deskripsi : SIKI I.01264 adalah intervensi "Manajemen Perilaku Kekerasan". Intervensi ini dirancang untuk membantu individu (dalam hal ini anak) mengurangi atau mengeliminasi perilaku agresif atau kasar. Implementasinya pada kasus anak usia 4 tahun ini bersifat multi-aspek dan melibatkan pendekatan tidak langsung melalui ibu sebagai pengasuh utama. Pertama, perawat perlu menciptakan lingkungan terapeutik yang aman dan bebas dari ancaman kekerasan, termasuk memastikan anak terlindungi dari paparan lebih lanjut terhadap kekerasan dari ayahnya (mungkin perlu kolaborasi dengan pekerja sosial atau pihak berwenang). Kedua, edukasi dan pelatihan kepada ibu tentang pengasuhan positif sangat krusial. Ibu perlu dibimbing untuk memahami penyebab perilaku anak (trauma dan ketidakmampuan mengatur emosi), pentingnya menetapkan batasan yang konsisten dan tegas namun penuh kasih sayang (bukan permisif atau keras), serta teknik mengalihkan perhatian (redirecting) dan time-out yang tepat untuk usia prasekolah. Ketiga, perawat dapat mengajarkan ibu teknik-teknik sederhana untuk membantu anak mengenali emosinya, seperti memberi nama emosi ("Kamu marah ya karena mainannya diambil?"), dan memberikan alternatif ekspresi, seperti memukul bantal atau menggambar amarahnya. Keempat, intervensi melibatkan terapi bermain, di mana anak diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan takut, marah, dan trauma melalui media bermain yang dipandu, sehingga emosi yang terpendam dapat dikeluarkan dengan cara yang aman. Kelima, membangun kelekatan (attachment) yang sehat antara ibu dan anak melalui aktivitas bermain bersama yang positif dan pemberian pujian untuk perilaku yang baik. Seluruh intervensi harus dilakukan dengan penuh kesabaran, empati, dan konsistensi, mengingat anak adalah korban yang membutuhkan rasa aman dan pemahaman bahwa dunia bisa diprediksi dan tidak menakutkan. Kolaborasi dengan psikolog anak atau psikiater mungkin diperlukan untuk penanganan trauma yang lebih mendalam.
-
Article No. 24261 | 26 Feb 2026
Klinis : Seorang ibu mengeluh tentang prilaku anak perempuannya yang berusia 4 tahun, ibu mengatakan bahwa ia bingung karena sejak umur 3 tahun anaknya sering marah-marah, berteriak dan menangis jika permintaannya tidak segera dituruti. Sampai saat ini anak tidak mau bersosialisasi dengan keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Selama ini ibu selalu menuruti keinganan sang anak, ibu tidak mengerti apa yang harus ja lakukan. Saat dikajı lebih lanjut, ternyata sang anak sering mendapatkan prilaku kekerasan dari ayahnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Status dimana individu berisiko untuk melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan fisik, emosional, dan/atau seksual pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SLKI: L.03119
Deskripsi : Perilaku kekerasan dapat dicegah. Penjelasan: Diagnosa keperawatan "Risiko Perilaku Kekerasan" dipilih karena data pada kasus menunjukkan faktor risiko yang sangat kuat pada anak. Meskipun anak (sebagai korban) saat ini menunjukkan perilaku marah, berteriak, dan menarik diri, fokus diagnosa adalah pada risiko anak untuk meniru dan memunculkan perilaku kekerasan sebagai cara beradaptasi yang dipelajarinya dari lingkungan. Faktor risiko utama adalah paparan kekerasan langsung dari ayahnya. Anak menyaksikan dan mengalami bahwa konflik atau keinginan yang tidak terpenuhi diselesaikan dengan kekerasan. Selain itu, pola pengasuhan ibu yang selalu menuruti permintaan anak untuk menghindari ledakan emosi (reinforcement negatif) justru memperkuat pola perilaku maladaptif anak. Ketidakmampuan anak untuk bersosialisasi mengindikasikan hambatan perkembangan sosial-emosional yang parah, yang sering dikaitkan dengan akumulasi frustrasi dan kemarahan yang dapat termanifestasi sebagai perilaku kekerasan. Dengan demikian, intervensi keperawatan diarahkan untuk mencegah eskalasi dari kemarahan dan isolasi sosial menjadi tindakan kekerasan yang aktif, baik terhadap diri sendiri, orang lain, atau benda di sekitarnya.
Kode SIKI: I.05041
Deskripsi : Lakukan manajemen perilaku kekerasan. Penjelasan: Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang komprehensif dan harus melibatkan anak, ibu, dan lingkungan yang lebih luas. Pertama, prioritas adalah menciptakan lingkungan yang aman secara fisik dan psikologis bagi anak, yang mungkin berarti perlu melibatkan pihak ketiga (seperti pekerja sosial atau lembaga perlindungan anak) untuk mengatasi sumber kekerasan utama dari ayah. Keamanan adalah fondasi sebelum intervensi perilaku bisa berhasil. Kedua, pada anak, perawat perlu membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan yang tenang, konsisten, dan penuh penerimaan untuk membangun kepercayaan. Teknik modifikasi perilaku seperti pemberian pujian untuk perilaku positif, pengalihan (redirecting) saat anak mulai marah, dan menetapkan batasan yang jelas dan konsisten sangat penting. Ibu perlu dilatih untuk menerapkan teknik-teknik ini, menggantikan pola menuruti semua permintaan. Ketiga, terapi bermain dapat menjadi media bagi anak untuk mengekspresikan emosi, ketakutan, dan pengalamannya secara aman. Bermain peran (role-play) dapat mengajarkan cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Keempat, intervensi pada ibu sangat krusial. Ibu membutuhkan edukasi tentang perkembangan anak normal, dampak kekerasan domestik pada anak, dan keterampilan pengasuhan positif (positive parenting). Ibu juga perlu didukung secara emosional dan diberdayakan untuk mengambil langkah melindungi anak dari kekerasan lebih lanjut. Kelima, kolaborasi dengan psikolog anak atau psikiater diperlukan untuk evaluasi lebih mendalam dan terapi jika dibutuhkan, serta dengan pekerja sosial untuk penanganan situasi kekerasan dalam rumah tangga. Tujuan akhir SIKI ini adalah mengurangi faktor risiko, meningkatkan kemampuan koping adaptif anak dan ibu, serta mencegah terjadinya siklus kekerasan yang berlanjut.
-
Article No. 24262 | 26 Feb 2026
Klinis : Seorang ibu mengeluh tentang prilaku anak perempuannya yang berusia 4 tahun, ibu mengatakan bahwa ia bingung karena sejak umur 3 tahun anaknya sering marah-marah, berteriak dan menangis jika permintaannya tidak segera dituruti. Sampai saat ini anak tidak mau bersosialisasi dengan keluarganya maupun lingkungan sekitarnya. Selama ini ibu selalu menuruti keinganan sang anak, ibu tidak mengerti apa yang harus ja lakukan. Saat dikajı lebih lanjut, ternyata sang anak sering mendapatkan prilaku kekerasan dari ayahnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan pada Anak
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko respons perilaku destruktif-diri atau terhadap orang lain, benda, atau lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan fisik atau psikologis.
Kode SLKI: L.01139
Deskripsi : Anak mengontrol perilaku kekerasan. Indikator: 1) Mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan, 2) Menggunakan strategi koping untuk mengontrol perilaku kekerasan, 3) Melaporkan tidak ada perilaku kekerasan, 4) Berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai usia, 5) Berinteraksi dengan orang lain secara positif.
Kode SIKI: I.01249
Deskripsi : Manajemen perilaku kekerasan. Tindakan: 1) Monitor tanda-tanda peningkatan agitasi dan perilaku kekerasan, 2) Kurangi stimulus lingkungan yang memicu kekerasan, 3) Berikan lingkungan yang aman dan tenang, 4) Berikan pengalihan pada aktivitas yang sesuai usia, 5) Ajarkan keterampilan koping dan kontrol impuls (misal: menarik napas dalam, mengungkapkan perasaan dengan kata-kata), 6) Berikan pujian saat anak mampu mengontrol perilaku, 7) Kolaborasi dengan tenaga profesional (psikolog/psikiater) untuk terapi perilaku, 8) Edukasi keluarga tentang pola asuh positif dan dampak kekerasan pada anak.
Kondisi: Perilaku Koping Individu Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0097
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan mengelola stres internal atau lingkungan secara sehat karena ketidakadekuatan sumber daya (fisik, psikologis, perilaku, kognitif).
Kode SLKI: L.01109
Deskripsi : Koping efektif. Indikator: 1) Mengidentifikasi kemampuan koping personal, 2) Mengidentifikasi sumber koping yang tersedia, 3) Menggunakan strategi koping untuk mengelola stres, 4) Melaporkan penurunan keluhan fisik dan emosional, 5) Melakukan aktivitas sesuai peran dan perkembangan.
Kode SIKI: I.01224
Deskripsi : Peningkatan koping. Tindakan: 1) Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan dan ketakutan, 2) Bantu anak mengidentifikasi situasi yang memicu stres dan marah, 3 Ajarkan teknik koping sederhana (napas dalam, menghitung, menggambar perasaan), 4) Latih anak untuk mengomunikasikan keinginan dengan kata-kata, bukan amukan, 5) Berikan penguatan positif saat anak menggunakan koping yang adaptif, 6) Libatkan anak dalam permainan atau aktivitas yang menyenangkan untuk menyalurkan energi, 7) Kolaborasi dengan keluarga untuk menciptakan lingkungan rumah yang konsisten dan suportif.
Kondisi: Interaksi Sosial Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0101
Deskripsi Singkat: Ketidakadekuatan dalam menciptakan atau mempertahankan hubungan yang mendukung secara timbal balik dengan orang lain atau lingkungan.
Kode SLKI: L.03064
Deskripsi : Interaksi sosial efektif. Indikator: 1) Melakukan kontak sosial dengan orang lain, 2) Berkomunikasi sesuai konteks sosial, 3) Menunjukkan minat pada orang lain, 4) Berpartisipasi dalam aktivitas kelompok sesuai usia, 5) Membina hubungan dengan teman sebaya.
Kode SIKI: I.05037
Deskripsi : Terapi bermain. Tindakan: 1) Sediakan lingkungan bermain yang aman dan nyaman, 2) Lakukan pendekatan secara bertahap, mulai dari observasi hingga keterlibatan penuh, 3) Gunakan permainan yang mendorong interaksi dan kerja sama (misal: bermain bola, puzzle bersama), 4) Fasilitasi interaksi dengan teman sebaya dalam kelompok kecil dan terawasi, 5) Beri contoh interaksi sosial yang positif melalui role-play, 6) Berikan pujian untuk setiap usaha anak berinteraksi, 7) Libatkan keluarga dalam sesi bermain untuk meningkatkan ikatan dan kepercayaan anak.
-
Article No. 24263 | 26 Feb 2026
Klinis : 1. Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif. • Riwayat hipertensi lama • Tidak rutin minum obat antihipertensi • Nyeri dada saat aktivitas DO: • TD 170/100 mmHg • Kolesterol 290 mg/dl • EKG menunjukkan iskemia miokard • Usia 68 tahun • Riwayat keluarga penyakit jantung Hipertensi kronis tidak terkontrol + hiperlipidemia + usia lanjut → aterosklerosis arteri koroner → penyempitan lumen pembuluh koroner → aliran darah miokard berkurang → risiko ketidakseimbangan suplai oksigen miokard → Risiko perfusi miokard tidak efektif 2. Nyeri Akut DS: • Klien mengatakan nyeri dada seperti tertindih/tertekan • Skala nyeri 6/10 • Nyeri muncul saat aktivitas (berjalan jauh, naik tangga) • Nyeri berkurang saat istirahat DO: • Wajah tampak tegang saat nyeri • TD 170/100 mmHg • Nadi 92x/menit • Hasil EKG: iskemia miokard Hipertensi tidak terkontrol + aterosklerosis → aliran darah koroner menurun → iskemia miokard → stimulasi reseptor nyeri → nyeri dada 3. Intoleransi Aktivitas DS: • Klien mengatakan mudah lelah • Sesak ringan saat aktivitas • Aktivitas dibatasi karena takut nyeri muncul DO: • Nadi 92x/menit • Kekuatan otot 4/5 • ADL terbatas saat aktivitas berat • Tampak cepat lelah Iskemia miokard → suplai oksigen tidak adekuat saat aktivitas → kelelahan dan sesak → intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi darah ke otot jantung yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Perawat mengelola risiko perfusi miokard tidak efektif dengan melakukan pemantauan ketat terhadap tanda dan gejala iskemia atau infark miokard, termasuk nyeri dada, perubahan tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi), serta perubahan pada EKG. Perawat juga mengidentifikasi dan memodifikasi faktor risiko yang dapat dikendalikan, seperti mendorong kepatuhan terhadap regimen obat antihipertensi dan penurun lipid, serta memberikan edukasi tentang pola hidup sehat untuk mengontrol hipertensi dan hiperkolesterolemia. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penurunan aliran darah koroner yang dapat berakibat fatal, seperti serangan jantung. Pemantauan yang berkelanjutan dan edukasi yang komprehensif menjadi kunci dalam menstabilkan kondisi pasien dengan risiko tinggi ini.
Kode SIKI: I.01284
Deskripsi : Perawat melakukan pemantauan tanda-tanda perfusi miokard tidak efektif, seperti nyeri dada, dispnea, diaforesis, pucat, perubahan tekanan darah, nadi, dan bunyi jantung. Perawat juga memantau hasil pemeriksaan diagnostik (seperti EKG dan enzim jantung) dan mencatat perkembangannya. Selain itu, perawat mengajarkan kepada klien dan keluarga tentang faktor risiko penyakit jantung koroner (hipertensi, hiperkolesterolemia, merokok, diabetes, riwayat keluarga, gaya hidup sedentari) dan cara memodifikasinya. Perawat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatiran mengenai kondisinya serta memberikan dukungan emosional. Intervensi ini bersifat preventif dan edukatif, berfokus pada deteksi dini dan pengurangan faktor risiko untuk mencegah realisasi dari risiko yang ada menjadi masalah aktual.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Perawat mengelola nyeri akut dengan melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, intensitas (menggunakan skala 0-10), faktor pencetus (seperti aktivitas), dan faktor pereda (seperti istirahat). Perawat kemudian mengajarkan dan mendorong penggunaan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi napas dalam dan teknik distraksi. Perawat juga berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik yang sesuai (misalnya nitrogliserin untuk angina) dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Tujuan akhirnya adalah mengurangi intensitas nyeri yang dialami klien hingga tingkat yang dapat ditoleransi atau menghilangkannya sama sekali, sehingga meningkatkan kenyamanan dan mengurangi beban stres kardiovaskular akibat nyeri.
Kode SIKI: I.01229
Deskripsi : Perawat mengkaji nyeri secara komprehensif dengan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time). Perawat mengobservasi respons nonverbal terhadap nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah). Perawat menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung upaya penghilangan nyeri. Perawat mengajarkan teknik non-farmakologis seperti relaksasi napas dalam dan imajinasi terbimbing. Perawat memberikan analgesik sesuai instruksi dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Perawat juga mendokumentasikan respons klien terhadap intervensi yang diberikan. Intervensi ini bersifat langsung untuk mengatasi sumber distress, menggabungkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis, serta berfokus pada pengendalian nyeri untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti syok atau aritmia akibat nyeri hebat.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0095
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Perawat mengelola intoleransi aktivitas dengan memantau respons fisiologis klien terhadap aktivitas, seperti perubahan denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, dan skala nyeri sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Perawat kemudian membantu klien dalam mengidentifikasi dan merencanakan aktivitas yang dapat ditoleransi, dengan menyusun jadwal aktivitas yang diselingi periode istirahat yang cukup. Perawat juga mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas tertentu dan menghindari aktivitas yang menahan napas (manuver Valsalva). Tujuannya adalah meningkatkan toleransi aktivitas klien secara bertahap, mengurangi keluhan kelelahan dan sesak, serta memungkinkan klien melakukan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) secara mandiri tanpa memicu iskemia miokard.
Kode SIKI: I.04043
Deskripsi : Perawat mengkaji faktor penyebab kelelahan (seperti penurunan curah jantung, nyeri, atau efek samping obat). Perawat memantau tanda vital dan respons klien terhadap aktivitas. Perawat mendorong klien untuk menyampaikan perasaan lelahnya dan membantu mengidentifikasi pola kelelahan. Perawat bersama klien menyusun rencana aktivitas harian yang realistis dengan menyeimbangkan aktivitas dan istirahat. Perawat mengajarkan teknik penghematan energi dan mendorong partisipasi dalam aktivitas sesuai toleransi. Perawat juga memberikan bantuan dalam AKS jika diperlukan, sambil mendorong kemandirian secara bertahap. Intervensi ini bersifat suportif dan rehabilitatif, bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi fisik klien dalam batas-batas aman yang ditentukan oleh kondisi kardiovaskularnya, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan mencegah deconditioning (penurunan kondisi fisik) lebih lanjut.
-
Article No. 24264 | 26 Feb 2026
Klinis : 1. Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif. • Riwayat hipertensi lama • Tidak rutin minum obat antihipertensi • Nyeri dada saat aktivitas DO: • TD 170/100 mmHg • Kolesterol 290 mg/dl • EKG menunjukkan iskemia miokard • Usia 68 tahun • Riwayat keluarga penyakit jantung Hipertensi kronis tidak terkontrol + hiperlipidemia + usia lanjut → aterosklerosis arteri koroner → penyempitan lumen pembuluh koroner → aliran darah miokard berkurang → risiko ketidakseimbangan suplai oksigen miokard → Risiko perfusi miokard tidak efektif 2. Nyeri Akut DS: • Klien mengatakan nyeri dada seperti tertindih/tertekan • Skala nyeri 6/10 • Nyeri muncul saat aktivitas (berjalan jauh, naik tangga) • Nyeri berkurang saat istirahat DO: • Wajah tampak tegang saat nyeri • TD 170/100 mmHg • Nadi 92x/menit • Hasil EKG: iskemia miokard Hipertensi tidak terkontrol + aterosklerosis → aliran darah koroner menurun → iskemia miokard → stimulasi reseptor nyeri → nyeri dada 3. Intoleransi Aktivitas DS: • Klien mengatakan mudah lelah • Sesak ringan saat aktivitas • Aktivitas dibatasi karena takut nyeri muncul DO: • Nadi 92x/menit • Kekuatan otot 4/5 • ADL terbatas saat aktivitas berat • Tampak cepat lelah Iskemia miokard → suplai oksigen tidak adekuat saat aktivitas → kelelahan dan sesak → intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi darah ke otot jantung yang dapat mengakibatkan iskemia atau kerusakan miokard.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Perfusi miokard membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 2) Denyut jantung dalam rentang yang diharapkan, 3) Tidak ada keluhan nyeri dada, 4) Hasil EKG menunjukkan tidak ada tanda iskemia/infark baru, 5) Nilai enzim jantung dalam batas normal.
Kode SIKI: I.01210
Deskripsi : Pemantauan perfusi miokard, meliputi: 1) Memantau tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) setiap 4 jam atau sesuai kondisi, 2) Memantau keluhan nyeri dada (skala, lokasi, penyebaran, pemicu, durasi), 3) Memantau hasil pemeriksaan penunjang (EKG, enzim jantung), 4) Memantau tanda hipoksia (kulit pucat, sianosis, gelisah), 5) Memantau irama jantung. Edukasi untuk mencegah iskemia, meliputi: 1) Memberikan informasi tentang faktor risiko penyakit jantung koroner, 2) Memberikan informasi tentang tanda dan gejala iskemia miokard, 3) Memberikan informasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat, 4) Memberikan informasi tentang modifikasi gaya hidup (diet, aktivitas, berhenti merokok). Manajemen terapi, meliputi: 1) Memberikan terapi oksigen sesuai program, 2) Memberikan terapi farmakologi sesuai program (nitrat, antiplatelet, antihipertensi, penurun lipid), 3) Mengatur keseimbangan cairan. Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai indikasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; timbul tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhirnya dapat diantisipasi.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Nyeri terkontrol, ditandai dengan: 1) Melaporkan nyeri berkurang/hilang, 2) Skala nyeri menurun (skala 0-3), 3) Tanda vital dalam rentang normal, 4) Ekspresi wajah rileks, 5) Dapat beristirahat/tidur dengan nyaman, 6) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen nyeri, meliputi: 1) Mengkaji karakteristik nyeri (PQRST: Provokasi, Quality, Region, Severity, Time), 2) Mengobservasi respons nonverbal terhadap nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah), 3) Memantau tanda vital sebelum dan sesudah intervensi nyeri. Terapi nonfarmakologi, meliputi: 1) Mengajarkan teknik distraksi (napas dalam, mendengarkan musik, visualisasi), 2) Memberikan lingkungan yang tenang, 3) Membantu posisi yang nyaman. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi. Evaluasi efektivitas intervensi nyeri (skala nyeri, tanda vital, ekspresi wajah). Edukasi tentang manajemen nyeri mandiri.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.03005
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat, ditandai dengan: 1) Melaporkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas, 2) Tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dalam batas normal saat aktivitas, 3) Tidak mengalami sesak napas saat aktivitas, 4) Tidak mengalami kelelahan berlebihan, 5) Tidak mengalami nyeri dada saat aktivitas, 6) Kekuatan otot membaik.
Kode SIKI: I.03003
Deskripsi : Manajemen energi, meliputi: 1) Mengkaji faktor penyebab kelelahan (iskemia, nyeri, hipoksia), 2) Memantau respons fisiologis terhadap aktivitas (tanda vital, saturasi oksigen, keluhan nyeri/ sesak), 3) Mengatur jadual aktivitas dan istirahat seimbang. Latihan aktivitas bertahap, meliputi: 1) Membantu aktivitas sesuai toleransi, 2) Meningkatkan aktivitas secara bertahap (rentang gerak, duduk, berdiri, berjalan), 3) Mengajarkan teknik menghemat energi (duduk saat melakukan aktivitas, istirahat teratur). Dukungan pemenuhan nutrisi dan oksigenasi, meliputi: 1) Memastikan asupan nutrisi dan cairan adekuat, 2) Memberikan oksigen sesuai indikasi selama aktivitas. Edukasi tentang pengenalan tanda intoleransi aktivitas dan kapan harus berhenti beraktivitas.
-
Article No. 24265 | 26 Feb 2026
Klinis : DS : Pasien menyatakan mengalami sesak napas dan batuk sejak tiga hari yang lalu. Batuk menghasilkan dahak berwarna kuning kehijauan dalam jumlah sedikit, atau pasien tidak dapat mengeluarkan dahak secara maksimal. DO :Pasien terlihat batuk bedahak dan sesak nafas, bunyi pernapasan wheezing, terdengar bunyi suara napas tambahan (ronchi) yang menandakan adanya sekret atau lendir, pernapasan cepat / takipnea dan sesak napas/dispnea, adanya penggunaan otot bantu, terpasang oksigen 2 lpm,terpasang infus RL 20 tpm di tangan kiri. Tanda – tanda vital : Tekanan darah : 140/90 mmHg, kekuatan + Nadi : 78 x/menit, irama reguler, kuat sama kuat Respiration Rate : 28 x/menit, irama regular, eupnea Suhu : 36,5°C SPO2 :97%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001: Bersihan jalan napas. Tujuan akhir dari intervensi keperawatan adalah agar jalan napas pasien tetap paten dengan suara napas bersih, tidak ada sianosis, dan pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Jalan napas paten ditandai dengan suara napas bersih (vesikuler) di semua lapang paru, tidak ada stridor atau wheezing persisten. 2) Pola napas normal (eupnea) dengan frekuensi sesuai usia, irama teratur, dan tidak ada penggunaan otot bantu napas. 3) Ekspansi dada simetris dan adekuat. 4) Pasien mampu batuk efektif dan mengeluarkan sekret (jika ada). 5) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis). 6) Nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95%). Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi untuk mengatasi ketidakefektifan bersihan jalan napas berhasil.
Kode SIKI: I.08001, I.08002, I.08003, I.08004, I.08005, I.08006, I.08007, I.08008, I.08009, I.08010, I.08011, I.08012, I.08013
Deskripsi : SIKI untuk manajemen bersihan jalan napas tidak efektif mencakup serangkaian intervensi yang komprehensif dan sistematis. Pertama, **memantau status pernapasan (I.08001)** secara ketat meliputi frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu, dan suara napas (seperti wheezing dan ronchi yang ditemukan pada pasien). **Memantau kepatenan jalan napas (I.08002)** adalah prioritas mutlak. **Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (I.08003)**, seperti posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, untuk membantu ekspansi paru dan memudahkan upaya napas. **Ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam (I.08004)** sangat krusial pada pasien ini yang mengalami batuk tidak produktif atau ketidakmampuan mengeluarkan dahak maksimal. Perawat mendemonstrasikan dan membimbing pasien untuk menarik napas dalam, menahannya sebentar, lalu batik dengan kuat. **Lakukan fisioterapi dada (I.08005)** seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural dapat membantu melonggarkan sekret yang kental (dahak kuning kehijauan). **Lakukan penghisapan lendir (I.08006)** jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri meski telah dibantu. **Berikan terapi oksigen (I.08007)** sesuai program dokter (seperti yang terpasang 2 lpm) dan pantau efektivitasnya melalui SpO2 dan tanda klinis. **Berikan nebulizer/terapi inhalasi (I.08008)** sesuai instruksi untuk membantu mengencerkan sekret dan melebarkan bronkus (mengurangi wheezing). **Pertahankan hidrasi adekuat (I.08009)** dengan pemberian cairan intravena (seperti RL yang terpasang) dan anjurkan minum oral jika mampu, untuk mengencerkan sekret. **Kaji karakteristik sputum (I.08010)** termasuk jumlah, warna, konsistensi, dan bau sebagai evaluasi kondisi dan efektivitas terapi. **Lakukan manajemen sekret (I.08011)** dengan menyediakan wadah sputum dan memastikan kebersihan mulut setelah batuk. **Monitor analisa gas darah (I.08012)** jika diperlukan untuk menilai status pertukaran gas secara lebih akurat. Terakhir, **kolaborasi pemberian obat (I.08013)** seperti bronkodilator, mukolitik, atau antibiotik sesuai resep dokter. Semua intervensi ini dilakukan secara terintegrasi, dinilai terus menerus, dan didokumentasikan untuk mencapai SLKI yang ditargetkan.