Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24274 | 27 Feb 2026
Klinis : risiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Perawat mengelola risiko infeksi dengan melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Tindakan ini mencakup serangkaian intervensi yang sistematis dan berbasis bukti untuk meminimalkan paparan pasien terhadap agen infeksius, memperkuat pertahanan alamiah tubuh, dan mencegah penularan. Langkah pertama adalah melakukan penilaian risiko infeksi yang komprehensif, mengidentifikasi faktor intrinsik (seperti usia, status nutrisi, penyakit penyerta, dan integritas kulit) serta faktor ekstrinsik (seperti prosedur invasif, terapi imunosupresan, dan lingkungan perawatan). Berdasarkan penilaian ini, perawat merencanakan dan menerapkan tindakan pencegahan standar yang ketat, yang menjadi fondasi semua asuhan. Tindakan ini termasuk higiene tangan secara rutin dengan teknik yang tepat menggunakan sabun dan air atau handrub berbasis alkohol sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungannya. Perawat juga menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan, masker, pelindung mata, dan gaun sesuai dengan tingkat risiko paparan dan prinsip kewaspadaan berbasis gejala atau transmisi. Pengelolaan lingkungan juga krusial, meliputi pembersihan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh, pengelolaan linen kotor yang aman, serta pembuangan limbah medis dan tajam sesuai protokol. Perawat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pencegahan infeksi, tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai, serta teknik higiene pernapasan dan luka. Selain itu, perawat memantau status klinis pasien secara ketat untuk deteksi dini tanda-tanda infeksi seperti demam, kemerahan, bengkak, nyeri, atau drainase dari luka, dan segera melaporkan temuan yang mencurigakan. Pada pasien dengan luka, perawat melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik, memilih balutan yang sesuai, dan memantau proses penyembuhan. Pemberian terapi antibiotik yang diresepkan tepat waktu dan pemantauan efek sampingnya juga merupakan bagian dari pengelolaan. Perawat berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk memastikan bahwa semua prosedur invasif dilakukan dengan teknik steril. Evaluasi keberhasilan SLKI ini ditandai dengan tidak terjadinya infeksi nosokomial, tidak adanya tanda-tanda infeksi baru, pemahaman pasien/keluarga tentang pencegahan infeksi, dan kepatuhan terhadap protokol pencegahan dan pengendalian infeksi di lingkungan perawatan.
Kode SIKI: 6530
Deskripsi : Perawat melakukan tindakan pencegahan infeksi dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar yang membentuk garis pertahanan pertama. Intervensi ini dimulai dengan memastikan higiene tangan yang optimal, yang merupakan tindakan paling efektif dalam mencegah penularan mikroorganisme. Perawat mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir ketika tangan terlihat kotor, terkontaminasi darah atau cairan tubuh, atau setelah merawat pasien dengan patogen yang diketahui. Dalam situasi lain, handrub berbasis alkohol dengan teknik menggosok selama 20-30 detik dapat digunakan. Tindakan ini dilakukan sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur bersih/aseptik, setelah terpapar cairan tubuh, setelah menyentuh pasien, dan setelah menyentuh lingkungan di sekitar pasien. Intervensi kunci berikutnya adalah penggunaan alat pelindung diri (APD) yang rasional dan tepat. Perawat memilih dan mengenakan APD berdasarkan penilaian risiko terhadap percikan, percikan, atau kontak dengan bahan infeksius. Sarung tangan dipakai ketika menyentuh darah, cairan tubuh, selaput lendir, atau kulit tidak utuh, dan diganti di antara kontak dengan pasien yang berbeda. Masker dan pelindung mata digunakan jika ada kemungkinan percikan atau aerosol. Gaun pelindung dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian dari kontaminasi. Perawat juga menerapkan prinsip kewaspadaan standar dalam penanganan semua cairan tubuh dan bahan yang terkontaminasi. Dalam perawatan luka atau prosedur invasif, perawat dengan ketat menerapkan teknik aseptik, termasuk menyiapkan bidang steril, menggunakan alat steril, dan menghindari kontaminasi selama prosedur. Perawat memberikan edukasi praktis kepada pasien dan keluarga tentang cara mencuci tangan yang benar, etika batuk (menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan), serta perawatan luka di rumah jika diperlukan. Intervensi juga mencakup memastikan lingkungan yang aman dengan mendisinfeksi peralatan yang digunakan bersama (seperti stetoskop) dan permukaan tempat tidur, serta memastikan sirkulasi udara yang baik. Perawat mendokumentasikan semua tindakan pencegahan yang dilakukan dan respons pasien. Tindakan ini bersifat preventif dan bertujuan untuk memutus rantai penularan infeksi dengan menciptakan penghalang antara host (pasien), agen infeksi, dan lingkungan.
-
Article No. 24277 | 27 Feb 2026
Klinis : Pasien usia 22 tahun datang dengan keluhan kedua kaki terasa lemas, ada keluar bintik-bintik dibadan campur air sudah 3 hari. hasil laboratorium kalium : 2.36 clorida 107.1
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipokalemia dengan Manifestasi Neuromuskular dan Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: 0207
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit: Kalium
Kode SLKI: 3402
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Pemantauan Kadar Elektrolit
Kondisi: Hipokalemia dengan Manifestasi Neuromuskular dan Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: 0207
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit: Kalium
Kode SLKI: 0911
Deskripsi : Status Neuromuskular
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Pemantauan Tanda-Tanda Vital
Kondisi: Hipokalemia dengan Manifestasi Neuromuskular dan Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: 1001
Deskripsi Singkat: Gangguan Integritas Kulit
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Penyembuhan Luka: Tahap 1
Kode SIKI: 3220
Deskripsi : Perawatan Kulit
-
Article No. 24248 | 26 Feb 2026
Klinis : pasien anak berusia 13 tahun, menderita sle sejak 1 tahun yang lalu. anak tampak malu, kontak mata kurang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Harga Diri Rendah Situasional
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Perasaan negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri yang berkembang sebagai respons terhadap suatu situasi atau peristiwa, khususnya dalam konteks hidup dengan penyakit kronis seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
Kode SLKI: L.14039
Deskripsi : Harga diri meningkat. Intervensi keperawatan diarahkan untuk membantu pasien mengembangkan dan mempertahankan pandangan positif tentang diri sendiri. Pada kasus ini, tujuan utamanya adalah agar anak remaja dengan SLE dapat menerima kondisinya, mengidentifikasi kekuatan dirinya, dan berinteraksi dengan lebih percaya diri, yang ditandai dengan kontak mata yang membaik dan berkurangnya perilaku menarik diri. Perawat akan berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, memberikan edukasi tentang SLE yang sesuai usia, serta melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan perawatan kesehatannya untuk mengembalikan rasa kendali.
Kode SIKI: I.13064
Deskripsi : Fasilitasi peningkatan harga diri. Ini adalah serangkaian tindakan keperawatan yang spesifik dan terencana untuk mengatasi harga diri rendah. Implementasinya meliputi: (1) Membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan yang empatik dan tidak menghakimi, menerima pasien apa adanya. (2) Mengidentifikasi bersama pasien tentang kekuatan, bakat, atau pencapaian positifnya di luar penyakit, untuk mengalihkan fokus dari keterbatasan menuju kemampuan. (3) Memberikan edukasi tentang SLE secara bertahap dan dengan bahasa yang mudah dipahami remaja, menjelaskan bahwa SLE adalah bagian dari dirinya tetapi bukan definisi seluruh dirinya, serta mengajarkan strategi manajemen gejala. (4) Mendorong ekspresi perasaan melalui metode yang nyaman bagi remaja, seperti curhat, menulis diary, atau menggambar, untuk mengeksplorasi perasaan malu dan sedih. (5) Melatih keterampilan komunikasi asertif, termasuk mempertahankan kontak mata, melalui role-play dalam situasi sosial yang tidak mengancam. (6) Melibatkan pasien dalam menetapkan tujuan perawatan diri yang kecil dan realistis, lalu memberikan pujian spesifik atas setiap keberhasilannya untuk membangun rasa percaya diri. (7) Jika memungkinkan, mengatur pertemuan dengan remaja lain yang juga memiliki kondisi kronis (support group) untuk mengurangi perasaan terisolasi dan belajar dari pengalaman sebaya. (8) Melibatkan keluarga dalam proses dukungan, mengedukasi mereka untuk memberikan dukungan positif tanpa overprotektif, sehingga menciptakan sistem pendukung yang kuat di rumah. Tindakan-tindakan ini dilakukan secara berkelanjutan dan dievaluasi perkembangannya, dengan penekanan pada pemberdayaan pasien remaja untuk melihat diri mereka sebagai individu yang utuh dan berharga meski menghadapi tantangan kesehatan.
-
Article No. 24249 | 26 Feb 2026
Klinis : iritasi dan peradangan pada lambung dyspepsia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Iritasi dan Peradangan pada Lambung (Dyspepsia)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Nyeri dapat dikontrol. Penjelasan: Diagnosa Keperawatan "Nyeri Akut" (D.0016) sangat relevan untuk pasien dengan dyspepsia yang mengalami iritasi dan peradangan pada lambung. Nyeri atau ketidaknyamanan di ulu hati (epigastrium) merupakan gejala utama dyspepsia. Nyeri ini dapat bersifat tajam, perih, atau sensasi terbakar yang muncul setelah makan atau pada malam hari. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan pengkajian terhadap karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas, durasi), faktor pencetus, dan faktor yang memperberat atau meringankan. Tujuan utama dari diagnosa ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengelola sumber nyeri, serta membantu pasien mencapai tingkat kenyamanan yang optimal melalui intervensi farmakologis dan non-farmakologis. Perawat berperan kritis dalam mengkaji respons nyeri pasien, efektivitas intervensi, dan edukasi mengenai manajemen nyeri mandiri. Pada konteks dyspepsia, nyeri akut seringkali berhubungan dengan peningkatan sekresi asam lambung atau hipersensitivitas mukosa lambung terhadap rangsangan tertentu, sehingga manajemennya juga harus mencakup modifikasi diet dan gaya hidup.
Kode SIKI: I.08079
Deskripsi : Ajarkan teknik distraksi. Penjelasan: Intervensi keperawatan "Ajarkan teknik distraksi" (I.08079) merupakan salah satu tindakan non-farmakologis yang efektif dalam manajemen "Nyeri Akut" pada pasien dyspepsia. Teknik distraksi bekerja dengan mengalihkan perhatian pasien dari sensasi nyeri ke stimulus lain, sehingga dapat meningkatkan ambang nyeri dan mengurangi persepsi terhadap ketidaknyamanan. Intervensi ini meliputi: 1) Mengkaji kesiapan dan minat pasien terhadap metode distraksi; 2) Mengajarkan berbagai teknik seperti distraksi internal (misalnya, membayangkan tempat yang menyenangkan, berdoa, mendengarkan musik favorit, atau membaca) dan distraksi eksternal (misalnya, melakukan percakapan, menonton televisi, atau melakukan hobi ringan); 3) Mendorong pasien untuk mempraktikkan teknik tersebut saat nyeri mulai terasa atau sebelum nyeri diperkirakan akan muncul (misalnya, setelah makan); 4) Mengevaluasi efektivitas teknik distraksi dalam mengurangi skala nyeri yang dilaporkan pasien. Pada dyspepsia, distraksi dapat membantu memutus siklus kecemasan-nyeri, di mana kekhawatiran akan timbulnya nyeri justru dapat memperburuk gejala. Teknik ini bersifat komplementer dan tidak menggantikan terapi medis seperti pemberian antasida atau antagonis reseptor H2, namun sangat berharga untuk memberdayakan pasien dalam mengontrol gejala mereka. Implementasi intervensi ini juga mencakup edukasi bahwa distraksi paling efektif untuk nyeri dengan intensitas ringan hingga sedang dan untuk periode yang relatif singkat.
-
Article No. 24250 | 26 Feb 2026
Klinis : nyeri akut dyspepsia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut pada Dyspepsia
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada dyspepsia, nyeri ini terlokalisasi di daerah epigastrium (ulu hati) dan berkaitan dengan gangguan fungsi atau motilitas lambung.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 bertujuan untuk mencapai Kontrol Nyeri pada pasien. Ini berarti pasien mampu mendemonstrasikan kemampuan dalam mengelola dan mengurangi tingkat nyeri yang dialaminya. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri (misalnya menggunakan skala nyeri numerik dari skala 7-10 menjadi skala 1-3), menunjukkan tanda-tanda perilaku nyeri yang berkurang (tidak lagi meringis, merintih, atau memegangi perut), mampu berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari dengan lebih baik, serta menunjukkan pola tidur dan istirahat yang memadai. Pada dyspepsia, kontrol nyeri khususnya berarti berkurangnya atau hilangnya rasa tidak nyaman, perih, atau panas di ulu hati, serta berkurangnya keluhan seperti kembung dan cepat kenyang yang memperberat persepsi nyeri. Keberhasilan SLKI ini diukur melalui laporan verbal pasien, observasi klinis perawat, dan penggunaan alat ukur nyeri yang valid.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : SIKI I.08060 adalah intervensi keperawatan Manajemen Nyeri, yang merupakan serangkaian tindakan sistematis untuk meringankan atau menghilangkan nyeri berdasarkan penilaian yang komprehensif. Pada pasien dyspepsia dengan nyeri akut, intervensi ini mencakup beberapa domain utama. Pertama, Penilaian Komprehensif: perawat melakukan pengkajian menyeluruh terhadap karakteristik nyeri (PQRST: Provokasi, Quality, Region, Severity, Time), faktor pencetus (makanan pedas, asam, stres), dan respons fisiologis serta emosional pasien. Kedua, Intervensi Non-Farmakologis: menerapkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi ketegangan, memberikan edukasi tentang modifikasi diet (makan porsi kecil tapi sering, hindari makanan berlemak dan asam, kunyah makanan perlahan), serta melakukan distraksi seperti mendengarkan musik atau mengobrol. Ketiga, Kolaborasi dan Pemberian Terapi Farmakologis: berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat sesuai resep (seperti antasida, antagonis reseptor H2, atau proton pump inhibitor) dan memastikan obat diminum tepat waktu serta memantau efektivitas dan efek sampingnya. Keempat, Edukasi Pasien dan Keluarga: memberikan penjelasan tentang penyebab nyeri dyspepsia, pentingnya kepatuhan diet dan pengobatan, serta teknik manajemen nyeri mandiri. Kelima, Evaluasi dan Dokumentasi: mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan setiap 1-2 jam setelah intervensi, mendokumentasikan perkembangan skala nyeri, dan menyesuaikan rencana tindakan berdasarkan evaluasi tersebut. Tindakan ini dilakukan secara holistik, berpusat pada pasien, dan berdasarkan evidence-based practice untuk mencapai kontrol nyeri yang optimal.
-
Article No. 24251 | 26 Feb 2026
Klinis : pasien marah2 di rumah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: 00126
Deskripsi Singkat: Risiko perilaku yang dapat menyebabkan cedera fisik, psikologis, atau seksual pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Kontrol Perilaku Kekerasan. Deskripsi: Perilaku kekerasan dapat dikendalikan. Indikator: 1) Mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan, 2) Mengungkapkan perasaan marah secara verbal tanpa kekerasan, 3) Menggunakan strategi koping untuk mengontrol perilaku kekerasan, 4) Tidak menyakiti diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SIKI: 4370
Deskripsi : Manajemen Perilaku Kekerasan. Deskripsi: Membantu pasien untuk mengendalikan perilaku kekerasan. Intervensi: 1) Jaga keselamatan pasien, perawat, orang lain, dan lingkungan. 2) Tunjukkan sikap tenang, percaya diri, dan empati. 3) Berikan ruang personal yang cukup, jaga jarak yang aman, hindari sentuhan tanpa persetujuan. 4) Gunakan komunikasi terapeutik: bicara dengan suara tenang, jelas, dan rendah; dengarkan aktif; validasi perasaan marah; hindari konfrontasi, menyalahkan, atau menghakimi. 5) Identifikasi bersama pemicu dan tanda-tanda awal kemarahan. 6) Bantu pasien mengungkapkan kemarahan secara verbal yang dapat diterima (contoh: "Saya merasa sangat marah karena..."). 7) Ajarkan dan latih teknik pengendalian marah segera: napas dalam, hitung mundur, time-out, relaksasi otot progresif. 8) Kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologis sesuai resep (jika ada) dan evaluasi efeknya. 9) Kurangi stimulus lingkungan yang berpotensi memicu (kebisingan, kerumunan). 10) Bantu pasien mengidentifikasi dan menggunakan sistem pendukung sosial. 11) Dokumentasi kejadian, pemicu, respons, dan intervensi yang dilakukan. Penjelasan: Diagnosa "Risiko Perilaku Kekerasan" dipilih karena pasien menunjukkan manifestasi marah yang berpotensi berkembang menjadi tindakan agresif atau merusak. Tujuan utamanya (SLKI) adalah mencapai kontrol perilaku, di mana pasien dapat mengenali pemicu, mengekspresikan emosi dengan aman, dan menggunakan koping yang adaptif. SIKI Manajemen Perilaku Kekerasan merupakan intervensi keperawatan spesifik yang komprehensif, dimulai dari memastikan keamanan (prioritas utama) hingga intervensi psikososial dan kolaboratif. Pendekatan komunikasi terapeutik dan de-eskalasi sangat krusial untuk mengurangi ketegangan. Mengajarkan teknik koping segera memberdayakan pasien untuk mengambil kendali atas respons emosionalnya. Intervensi ini tidak hanya bersifat restriktif tetapi juga edukatif dan suportif, bertujuan untuk memutus siklus kekerasan dengan membangun kesadaran diri dan keterampilan regulasi emosi pasien. Dokumentasi yang akurat penting untuk evaluasi dan perencanaan perawatan berkelanjutan.
-
Article No. 24252 | 26 Feb 2026
Klinis : ketidak stabilan kadar glukosa darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengarah pada hipoglikemia atau hiperglikemia.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia dan Hipoglikemia: Tindakan untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani kadar glukosa darah tinggi (hiperglikemia) dan rendah (hipoglikemia) agar tetap dalam rentang target. Intervensi ini mencakup pemantauan glukosa darah secara teratur, baik melalui pemeriksaan mandiri di rumah (SMBG) maupun pemantauan glukosa terus menerus (CGM). Perawat berperan dalam edukasi pasien dan keluarga mengenai teknik pemeriksaan yang benar, interpretasi hasil, dan tindakan yang harus diambil berdasarkan hasil tersebut. Selain itu, perawat memastikan pasien memahami tanda dan gejala dini hipoglikemia (seperti lemas, berkeringat, gemetar, lapar, pusing) dan hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsi, pandangan kabur, lelah). Manajemen juga meliputi kolaborasi dalam pemberian terapi insulin atau obat hipoglikemik oral, termasuk teknik penyuntikan yang tepat, rotasi area injeksi, dan penyesuaian dosis berdasarkan pola makan dan aktivitas. Perawat mengedukasi tentang pentingnya diet seimbang, penghitungan karbohidrat, dan penyesuaian asupan makanan dengan terapi obat. Aktivitas fisik yang teratur dan sesuai kondisi juga menjadi bagian penting dari intervensi untuk meningkatkan sensitivitas insulin. Dalam situasi akut, perawat bertindak cepat memberikan terapi sesuai protokol, seperti pemberian glukosa untuk hipoglikemia atau insulin dan cairan untuk hiperglikemia berat (seperti ketoasidosis diabetik). Dokumentasi yang cermat terhadap pola glukosa darah, asupan makanan, obat, dan aktivitas sangat penting untuk evaluasi dan penyesuaian rencana perawatan.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Pemantauan Kadar Glukosa Darah: Pengumpulan dan analisis data pasien untuk memantau kadar glukosa darah dan respons terhadap terapi. Kriteria hasil dari intervensi ini adalah tercapainya kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan, berkurangnya episode hipoglikemia atau hiperglikemia, dan meningkatnya pengetahuan serta kemandirian pasien dalam manajemen diri. Perawat melakukan pengkajian menyeluruh yang meliputi riwayat kesehatan terkait diabetes, pola pengobatan, pola makan, tingkat aktivitas fisik, dan faktor stres. Pengukuran glukosa darah dilakukan dengan metode yang tepat dan alat yang terkalibrasi. Perawat menganalisis pola hasil pengukuran glukosa (seperti pola pagi hari, setelah makan, atau malam hari) untuk mengidentifikasi tren dan faktor pemicu ketidakstabilan. Edukasi diberikan pada pasien dan keluarga mengenai teknik aseptik pengambilan sampel darah, penyimpanan alat ukur, dan pencatatan hasil yang akurat dalam buku harian diabetes. Perawat juga memantau tanda-tanda klinis dan laboratoris komplikasi, seperti pemeriksaan HbA1c untuk menilai kontrol glikemik jangka panjang, serta pemeriksaan keton urine atau darah saat hiperglikemia berat. Pemantauan tidak hanya fisik tetapi juga psikososial, termasuk tingkat kepatuhan, kecemasan, beban perawatan, dan kualitas hidup terkait diabetes. Perawat berkolaborasi dengan dokter, ahli gizi, dan edukator diabetes untuk menyesuaikan rencana terapi berdasarkan data pemantauan. Evaluasi keberhasilan intervensi dilihat dari stabilitas parameter glikemik, pencegahan komplikasi akut dan kronis, serta kemampuan pasien dalam melakukan modifikasi gaya hidup dan penanganan mandiri saat menghadapi fluktuasi gula darah. Dokumentasi yang lengkap dan sistematis menjadi dasar untuk perencanaan perawatan yang berkelanjutan dan individual.
-
Article No. 24253 | 26 Feb 2026
Klinis : ketidak stabilan kadar glukosa darah dengan dm Hiperglikemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 00079
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan, penurunan, dan/atau variabilitas kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 1914
Deskripsi : Kontrol Glikemik. Tujuan dari SLKI ini adalah agar pasien dapat mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan. Indikator keberhasilannya meliputi: 1) Pasien menyatakan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah, 2) Kadar glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial dalam rentang target, 3) Nilai HbA1c dalam rentang target, 4) Tidak mengalami episode hipoglikemia atau hiperglikemia berat, 5) Menunjukkan keterampilan dalam memantau kadar glukosa darah secara mandiri, dan 6) Melaporkan gejala hipoglikemia atau hiperglikemia dengan tepat. Pencapaian SLKI ini sangat penting untuk mencegah komplikasi akut (seperti ketoasidosis diabetik atau hipoglikemia berat) dan komplikasi jangka panjang (seperti neuropati, nefropati, retinopati) dari diabetes melitus. Perawat berperan dalam edukasi, pemantauan, dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mencapai target glikemik yang individual.
Kode SIKI: 3920
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk mengatasi dan mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang berlebihan. Tindakan-tindakan tersebut meliputi: 1) Memantau tanda dan gejala hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsi, polifagi, penurunan berat badan, lemas, penglihatan kabur, mual). 2) Memantau kadar glukosa darah secara berkala sesuai protokol (sebelum makan, sebelum tidur, atau sesuai kebutuhan kondisi). 3) Mengkolaborasikan pemberian terapi insulin atau obat anti-diabetik oral sesuai resep dokter, dengan memperhatikan waktu, dosis, dan teknik pemberian yang tepat. 4) Melakukan edukasi pada pasien dan keluarga mengenai penyebab hiperglikemia (misalnya: kurangnya dosis obat, asupan karbohidrat berlebih, stres fisik/emosional, infeksi). 5) Mengajarkan dan mendorong pasien untuk melakukan perencanaan makan sesuai dengan prinsip diet diabetes, termasuk pemahaman tentang penghitungan karbohidrat. 6) Mendorong aktivitas fisik yang teratur dan sesuai kondisi pasien, serta menjelaskan efeknya terhadap kadar glukosa darah. 7) Memantau tanda-tanda dehidrasi dan ketosis (seperti napas berbau aseton, penurunan kesadaran). 8) Berkolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk menyesuaikan rencana terapi berdasarkan hasil pemantauan. 9) Memberikan dukungan psikososial untuk meningkatkan kepatuhan terhadap regimen terapi. 10) Dokumentasi yang akurat mengenai pola glukosa darah, asupan makanan, aktivitas, dan respons terhadap terapi. Intervensi ini bersifat dinamis dan harus terus dievaluasi berdasarkan respons glikemik pasien untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
-
Article No. 24254 | 26 Feb 2026
Klinis : keluhan tidak ada, pengobatan hiv, rutin berobat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kesiapan Meningkatkan Manajemen Kesehatan
Kode SDKI: 00082
Deskripsi Singkat: Pola mengintegrasikan program pengobatan ke dalam kehidupan sehari-hari yang cukup untuk memenuhi tujuan kesehatan terkait dan dapat ditingkatkan.
Kode SLKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Program Terapeutik: Tindakan untuk memfasilitasi dan mendukung pelaksanaan program pengobatan yang telah ditetapkan. Intervensi ini mencakup edukasi kesehatan yang komprehensif, pemberdayaan pasien untuk memahami kondisinya, dan kolaborasi dalam perencanaan perawatan. Perawat akan memastikan pasien memahami tujuan pengobatan, mekanisme kerja obat, pentingnya kepatuhan, dan strategi untuk mengintegrasikan regimen pengobatan ke dalam rutinitas harian. Selain itu, perawat memfasilitasi komunikasi yang efektif antara pasien dengan tim kesehatan, membantu mengidentifikasi dan mengatasi hambatan potensial terhadap kepatuhan, serta memberikan dukungan psikososial untuk meningkatkan motivasi dan resiliensi pasien dalam menjalani terapi jangka panjang.
Kode SIKI: 45001
Deskripsi : Kemampuan mengelola program terapeutik: Kemampuan klien dalam mengelola program pengobatan secara mandiri dan efektif. Kriteria ini dievaluasi melalui kemampuan klien dalam menjelaskan tujuan dan rencana pengobatannya, mendemonstrasikan cara minum obat yang benar (termasuk dosis, waktu, dan cara penyimpanan), mengenali tanda-tanda efek samping yang perlu dilaporkan, serta mematuhi jadwal kontrol dan pemeriksaan laboratorium rutin. Klien juga menunjukkan inisiatif dalam mengatur waktu dan aktivitasnya agar sejalan dengan jadwal pengobatan, menggunakan strategi pengingat (seperti alarm atau kotak pil), dan secara proaktif berkomunikasi dengan fasilitas kesehatan jika mengalami kendala. Kemampuan manajemen ini juga tercermin dari pemahaman klien tentang pentingnya terapi antiretroviral (ARV) dalam menekan viral load, menjaga jumlah CD4, dan mencegah penularan, serta upayanya untuk menjaga gaya hidup sehat pendukung seperti nutrisi dan istirahat yang cukup.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 00083
Deskripsi Singkat: Risiko terhadap variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 1924
Deskripsi : Pemantauan Kadar Glukosa Darah: Tindakan pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengidentifikasi fluktuasi kadar glukosa darah. Meskipun pasien HIV tidak menyebutkan keluhan, pengobatan antiretroviral (ARV) tertentu, terutama regimen yang mengandung obat seperti protease inhibitors (misalnya, Lopinavir/ritonavir) dan beberapa NRTI, memiliki potensi efek samping terhadap metabolisme glukosa dan dapat menyebabkan resistensi insulin, hiperglikemia, atau diabetes melitus. Intervensi keperawatan ini meliputi pemantauan rutin tanda-tanda klinis seperti poliuria, polidipsi, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, dan kelelahan. Perawat juga berkolaborasi untuk memastikan pemeriksaan laboratorium glukosa darah puasa atau HbA1c dilakukan secara berkala sebagai bagian dari pemantauan jangka panjang. Edukasi diberikan mengenai gejala hipo- dan hiperglikemia, pentingnya diet seimbang dengan membatasi gula sederhana dan lemak jenuh, serta anjuran aktivitas fisik teratur untuk meningkatkan sensitivitas insulin.
Kode SIKI: 140019
Deskripsi : Kemampuan memantau kadar glukosa darah: Kemampuan klien dalam mengenali dan memantau tanda-tanda ketidakstabilan glukosa darah. Kriteria ini meliputi pengetahuan klien tentang risiko gangguan metabolik akibat terapi ARV dan kesediaannya untuk menjalani skrining rutin. Klien mampu menyebutkan gejala awal hiperglikemia (sering haus, sering kencing, lapar berlebihan) dan memahami pentingnya melaporkannya. Klien juga menunjukkan perilaku pencegahan dengan menerapkan pola makan sehat, menjaga berat badan ideal, dan berolahraga teratur. Kemampuan ini ditunjukkan dengan kepatuhan klien dalam menjalani pemeriksaan darah lengkap yang mencakup parameter glukosa sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta kesadaran untuk tidak mengabaikan gejala yang mungkin muncul meskipun merasa sehat secara umum.
Kondisi: Kepatuhan
Kode SDKI: 00039
Deskripsi Singkat: Tindakan seseorang sesuai dengan rekomendasi kesehatan untuk tujuan promosi kesehatan, pemulihan, dan pencegahan penyakit.
Kode SLKI: 1108
Deskripsi : Peningkatan Kepatuhan: Tindakan untuk meningkatkan kepatuhan klien terhadap rekomendasi terapeutik. Pada pasien HIV yang rutin berobat dan tanpa keluhan, fokus intervensi adalah mempertahankan dan mengoptimalkan tingkat kepatuhan yang sudah baik, serta mencegah kejenuhan (burnout) dalam pengobatan jangka panjang. Perawat melakukan penguatan perilaku positif dengan memberikan apresiasi atas konsistensi berobat. Edukasi berkelanjutan diberikan untuk memperdalam pemahaman tentang konsep U=U (Undetectable = Untransmittable), yaitu bahwa kepatuhan minum ARV hingga viral load tidak terdeteksi secara efektif mencegah penularan, sebagai motivasi intrinsik yang kuat. Perawat juga membantu klien mengembangkan sistem dukungan sosial, mengidentifikasi tanda-tanda penurunan motivasi, dan membahas strategi mengatasi jika muncul rasa bosan atau lupa minum obat. Kolaborasi dilakukan untuk memastikan ketersediaan obat yang lancar dan meminimalkan hambatan akses.
Kode SIKI: 130015
Deskripsi : Kemampuan mematuhi program terapeutik: Kemampuan klien dalam mengikuti rekomendasi pengobatan yang telah ditetapkan. Kriteria keberhasilan ditunjukkan dengan riwayat kepatuhan minum ARV >95% (hampir tidak pernah terlewat), kedisiplinan dalam datang kontrol sesuai jadwal, dan partisipasi aktif dalam diskusi perawatan. Klien menunjukkan pemahaman mendalam tentang konsekuensi dari ketidakpatuhan (risiko resistensi obat, kegagalan terapi, dan penularan). Klien juga mampu menggunakan teknik manajemen diri, seperti menghubungkan waktu minum obat dengan aktivitas rutin (misalnya, saat menyikat gigi), dan memiliki rencana cadangan jika berada di luar rumah. Perilaku kepatuhan ini didukung oleh sikap positif terhadap pengobatan dan keyakinan akan manfaatnya bagi kualitas hidup jangka panjang.
-
Article No. 24255 | 26 Feb 2026
Klinis : Pasien nyg s jenis kelamin perempuan keluhan utama pasien mengatakan asi belum keluar dan nyeri payudara, dada mammae membesar, tampak kencang, papila mamas menonjol, pengeluaran asi sedikit, abdomen terdapat luka msisi sectio Caesarea horizontal di perut bagian bawah, genetalia pasien terpasang kateter,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup penilaian nyeri yang komprehensif menggunakan skala yang sesuai, baik secara verbal, non-verbal, dan perilaku, terutama pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Perawat mengobservasi faktor-faktor yang memperberat dan meringankan nyeri. Manajemen farmakologis dilakukan dengan pemberian analgesik sesuai resep dokter, memantau efektivitas, dan efek sampingnya. Selain itu, dilakukan intervensi non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi, reposisi yang nyaman, dan memberikan kompres hangat atau dingin sesuai indikasi. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, termasuk penggunaan skala nyeri dan pelaporan efektivitas intervensi, juga merupakan bagian penting. Pada kasus post sectio caesarea, manajemen nyeri sangat krusial untuk memfasilitasi mobilisasi dini, menyusui, dan pemulihan secara umum.
Kode SIKI: 4310
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien (misalnya dari skala 7 menjadi 3 atau kurang), penurunan tanda-tanda nonverbal nyeri (wajah mengernyit, gelisah, menangis), peningkatan kemampuan untuk beristirahat dan tidur, serta peningkatan partisipasi dalam aktivitas perawatan diri dan menyusui. Pasien dan keluarga dapat mendemonstrasikan teknik non-farmakologis yang diajarkan untuk mengatasi nyeri. Pasien juga melaporkan bahwa nyeri dapat terkontrol dengan baik dengan regimen pengobatan yang diberikan, dan tidak mengalami efek samping analgesik yang membahayakan. Mobilitas pasien membaik seiring dengan pengendalian nyeri.
Kondisi: Gangguan Pemberian ASI
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan ibu untuk memberikan ASI secara adekuat kepada bayinya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, yang dapat disebabkan oleh faktor fisiologis, psikologis, atau sosial.
Kode SLKI: 1501
Deskripsi : Dukungan Menyusui: Tindakan untuk memfasilitasi pemberian ASI yang sukses. Intervensi dimulai dengan penilaian kondisi payudara (engorgement, putting susu, adanya benjolan), teknik pelekatan dan posisi menyusui, serta pengetahuan dan motivasi ibu. Perawat memberikan edukasi tentang fisiologi laktasi dan pentingnya menyusui dini serta sering. Untuk mengatasi payudara bengkak dan keras (engorgement), diajarkan teknik memijat payudara dengan lembut (breast massage) sebelum menyusui, kompres hangat untuk merangsang let-down reflex, dan kompres dingin setelah menyusui untuk mengurangi edema. Diajarkan pula teknik pelekatan yang benar untuk mencegah lecet puting dan memastikan pengosongan payudara optimal. Perawat mendemonstrasikan berbagai posisi menyusui yang nyaman, terutama setelah sectio caesarea seperti posisi football hold atau side-lying. Dukungan emosional sangat penting untuk mengurangi kecemasan ibu yang dapat menghambat refleks let-down. Kolaborasi dengan konselor laktasi jika diperlukan, dan memastikan asupan nutrisi serta cairan ibu yang cukup.
Kode SIKI: 4401
Deskripsi : Status Menyusui: Kemampuan ibu untuk memberikan ASI secara efektif. Kriteria hasil yang diharapkan adalah payudara teraba lebih lunak setelah menyusui, pengeluaran ASI meningkat baik secara spontan maupun saat bayi menyusu. Bayi menunjukkan tanda-tanda mendapatkan ASI yang cukup seperti menyusu efektif (mendengar suara menelan), bayi tenang setelah menyusu, buang air kecil dan besar sesuai frekuensi normal, serta berat badan bayi tidak turun berlebihan. Ibu melaporkan penurunan nyeri pada payudara selama menyusui. Ibu mampu mendemonstrasikan teknik pelekatan dan posisi menyusui yang benar secara mandiri. Ibu menunjukkan pemahaman tentang manajemen laktasi dan ekspresi ASI. Kepercayaan diri ibu dalam memberikan ASI meningkat.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan, terkait dengan adanya port de entrée seperti luka operasi dan pemasangan kateter urin.
Kode SLKI: 1920
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Intervensi keperawatan meliputi mempertahankan teknik aseptik ketat saat melakukan perawatan luka operasi sectio caesarea, termasuk memantau tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri, panas, dan adanya drainage purulen. Perawatan kateter urin dilakukan dengan menjaga sistem kateter tetap tertutup dan tergantung di bawah kandung kemih, memantau warna, jumlah, dan kejernihan urine, serta menjaga kebersihan area genitalia dengan pembersihan rutin. Mendorong mobilisasi dini untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah komplikasi. Edukasi kepada pasien tentang pentingnya kebersihan tangan (hand hygiene), cara merawat luka operasi di rumah, tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai (demam, nyeri hebat di luka, cairan berbau), dan pentingnya menghindari kontaminasi pada luka dan kateter. Memastikan nutrisi yang adekuat untuk mendukung proses penyembuhan dan sistem imun.
Kode SIKI: 2802
Deskripsi : Status Infeksi: Ketidakhadiran atau pengendalian infeksi. Kriteria hasil yang diharapkan adalah luka operasi menunjukkan proses penyembuhan yang baik tanpa tanda-tanda inflamasi atau infeksi. Tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan) dalam batas normal. Tidak ada tanda-tanda infeksi saluran kemih seperti urine yang keruh, berbau, atau disuria. Hasil laboratorium (jika dilakukan) seperti leukosit dalam batas normal. Pasien dan keluarga memahami dan dapat mendemonstrasikan teknik pencegahan infeksi. Pasien tidak mengalami demam selama perawatan. Sistem kateter urin tetap steril dan tidak tersumbat.