Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24305 | 04 Mar 2026
Klinis : emam Telaahyang dialami sejak 2 hari ini, demam terus menerus tinggi, sakit kepala +, pusing +, mual +, muntah + sebanyak 3 kali, sakit perut +, batuk dan flu disangkal, os mengatakan kaki kiri tertusuk pisau 1 minggu yang lalu, keluhan sakit disangkal os sudah berobat ke puskesmas dan diberikan obat paracetamol, amoxicillin, dexamethasone, ctm Riwayat Penyakit Dahulukejang demam OSens : CM KU: Lemah VAS: 7 BB: 28,9 kg HR: 157 RR: 22 Temp: 40,7 C SPO2: 97% Kepala : dbn Bibir : mukosa kering THT : T2: T2, faring : hiperemis + Thorax: Sp: Vesikuler +/+, ST : Rhonki-/-, Wheezing -/- Jantung: S1-S2 reguler, gallop-, murmur- Abdomen : Soepel, peristaltik + normal, nyeri tekan epigastrium dan umbilical + , timpani Ekstremitas: Akral hangat +/+, CRT < 2”, VP a/r pedis sin mengering +, nyeri tekan -
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : 1. Monitor suhu tubuh. 2. Monitor tanda-tanda vital. 3. Monitor warna kulit. 4. Monitor kelembaban kulit. 5. Monitor asupan dan haluaran cairan. 6. Monitor status neurologis. 7. Monitor status elektrolit. 8. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium terkait. 9. Berikan lingkungan yang nyaman. 10. Anjurkan peningkatan asupan cairan. 11. Anjurkan peningkatan istirahat. 12. Anjurkan penggunaan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. 13. Lakukan kompres hangat/tepid sponge. 14. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai indikasi. 15. Kolaborasi pemberian obat antipiretik sesuai indikasi. 16. Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai indikasi. 17. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. 18. Edukasi pasien/keluarga tentang penyebab hipertermia. 19. Edukasi pasien/keluarga tentang tanda dan gejala hipertermia. 20. Edukasi pasien/keluarga tentang upaya pencegahan hipertermia.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00132
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi, dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 2101
Deskripsi : Kontrol nyeri.
Kode SIKI: 2101
Deskripsi : 1. Monitor karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas, durasi, frekuensi, faktor pencetus, faktor pereda). 2. Monitor tanda-tanda vital. 3. Monitor respons nonverbal ketidaknyamanan. 4. Monitor efek samping intervensi farmakologi. 5. Monitor efek samping intervensi nonfarmakologi. 6. Monitor kepatuhan terhadap regimen pengobatan nyeri. 7. Lakukan pengkajian nyeri dengan menggunakan skala yang sesuai. 8. Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing). 9. Berikan analgetik sesuai indikasi. 10. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi. 11. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk manajemen nyeri. 12. Edukasi pasien/keluarga tentang penyebab nyeri. 13. Edukasi pasien/keluarga tentang regimen pengobatan nyeri. 14. Edukasi pasien/keluarga tentang teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. 15. Edukasi pasien/keluarga tentang kapan harus mencari bantuan untuk nyeri yang tidak terkontrol.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 00004
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko terpapar patogen.
Kode SLKI: 0702
Deskripsi : Tidak terjadi infeksi.
Kode SIKI: 0702
Deskripsi : 1. Monitor tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, panas, bengkak, nyeri, drainage purulen). 2. Monitor tanda-tanda vital. 3. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium terkait infeksi (leukosit, kultur). 4. Monitor status nutrisi. 5. Monitor status imunologi. 6. Monitor luka (jika ada). 7. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. 8. Gunakan alat pelindung diri (APD) sesuai indikasi. 9. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik/steril. 10. Lakukan perawatan alat invasif dengan teknik aseptik. 11. Anjurkan peningkatan asupan nutrisi dan cairan. 12. Anjurkan istirahat yang cukup. 13. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. 14. Kolaborasi pemberian terapi imunomodulator sesuai indikasi. 15. Kolaborasi pemberian vaksinasi sesuai indikasi. 16. Edukasi pasien/keluarga tentang tanda dan gejala infeksi. 17. Edukasi pasien/keluarga tentang teknik pencegahan infeksi (cuci tangan, etika batuk). 18. Edukasi pasien/keluarga tentang pentingnya nutrisi dan istirahat untuk mencegah infeksi. 19. Edukasi pasien/keluarga tentang regimen pengobatan antibiotik jika diresepkan. 20. Lakukan isolasi jika diperlukan.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan cairan.
Kode SIKI: 0601
Deskripsi : 1. Monitor tanda-tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah). 2. Monitor status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, berat badan). 3. Monitor asupan dan haluaran cairan. 4. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium terkait (elektrolit, hematokrit, BUN, kreatinin). 5. Monitor adanya edema. 6. Timbang berat badan setiap hari. 7. Anjurkan peningkatan asupan cairan sesuai toleransi. 8. Atur posisi untuk meningkatkan sirkulasi. 9. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai indikasi. 10. Kolaborasi pemberian diuretik sesuai indikasi. 11. Kolaborasi pemasangan dan perawatan jalur intravena. 12. Kolaborasi pemasangan kateter urin sesuai indikasi. 13. Edukasi pasien/keluarga tentang pentingnya keseimbangan cairan. 14. Edukasi pasien/keluarga tentang tanda dan gejala dehidrasi atau kelebihan cairan. 15. Edukasi pasien/keluarga tentang cara memantau asupan dan haluaran cairan di rumah.
-
Article No. 24307 | 04 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran R/HT, riw mondok di klinik banten infeksi paru menyebar ke otak KU lemah, GCS E4VxM2 TD : 165/90 N : 135 SpO2 : 98 RR : 30 S: 36.5 Status generalis Mata CA -/-, SI -/- mulut : trismus - leher : kaku kuduk - Thorax SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext akral pucat +/+, edem -/- Status Neurologis Sensorik tidak dapat dievaluasi Kekuatan motorik: sulit untuk dievaluasi Refleks fisiologis: +3/+3//+3/+3 Refleks patologis: (-/-/-/-) Parese NC. VII (-) blink to threat (+) visual pursuit (-) voluntary eye movement (-) Meningeal sign (-) lab 03/03 hb 14.69 eritrosit 5.14 hmt 43.6 lekosit 10.22 trombosit 171 Na 144 K 4.4 Cl 108 Ca2+ 1.1 pH 7.64 GDS 158 SGOT 57 SGPT 40 ureum 40.7 kreatinin 0.74 CT scan Kesan : - Akut infark cerebri di parietalis bilateral disertai transformasi haemmoragik di parietalis dextra Thorax Kesan : Pulmo normal Cardiomegali dx klinis: penurunan kesadaran dx topis: parietalis dextra dx etiologi: stroke infark
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Gangguan Kesadaran) pada Pasien Stroke Infark Hemoragik
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan respons terhadap rangsangan eksternal dan internal yang dimanifestasikan dengan respons kognitif, motorik, dan verbal yang terbatas.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Tingkat kesadaran membaik.
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Mempertahankan jalan napas paten.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif.
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Mempertahankan jalan napas paten.
Kondisi: Risiko Disrefleksia Otonom
Kode SDKI: D.0095
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan sistem saraf otonom yang mengancam jiwa pada pasien dengan cedera tulang belakang torakal 7 (T7) atau di atasnya, yang ditandai dengan respons berlebihan terhadap rangsangan di bawah tingkat cedera.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Disrefleksia otonom terkontrol.
Kode SIKI: I.09066
Deskripsi : Memonitor tanda-tanda disrefleksia otonom.
-
Article No. 24308 | 04 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran R/HT, riw mondok di klinik banten infeksi paru menyebar ke otak KU lemah, GCS E4VxM2 Status generalis Mata CA -/-, SI -/- mulut : trismus - leher : kaku kuduk - Thorax SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext akral pucat +/+, edem -/- Status Neurologis Sensorik tidak dapat dievaluasi Kekuatan motorik: sulit untuk dievaluasi Refleks fisiologis: +3/+3//+3/+3 Refleks patologis: (-/-/-/-) Parese NC. VII (-) blink to threat (+) visual pursuit (-) voluntary eye movement (-) Meningeal sign (-) lab 03/03 hb 14.69 eritrosit 5.14 hmt 43.6 lekosit 10.22 trombosit 171 Na 144 K 4.4 Cl 108 Ca2+ 1.1 pH 7.64 GDS 158 SGOT 57 SGPT 40 ureum 40.7 kreatinin 0.74 CT scan Kesan : - Akut infark cerebri di parietalis bilateral disertai transformasi haemmoragik di parietalis dextra Thorax Kesan : Pulmo normal Cardiomegali dx klinis: penurunan kesadaran dx topis: parietalis dextra dx etiologi: stroke infark
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (GCS E4VxM2) pada Pasien Stroke Infark Hemoragik Bilateral Parietal
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan gangguan suplai darah (infark serebri akut dengan transformasi hemoragik) dan peningkatan tekanan intrakranial.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tingkat kesadaran (GCS) mendekati atau kembali ke kondisi sebelum sakit. 2) Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima. 3) Tidak ada peningkatan defisit neurologis fokal. 4) Tekanan intrakranial dalam batas normal.
Kode SIKI: I.05148
Deskripsi : Pemantauan perfusi serebral, meliputi: 1) Kaji dan dokumentasi status neurologis secara teratur (GCS, pupil, refleks, fungsi motorik/sensorik). 2) Pantau dan catat tanda-tanda vital (TD, nadi, pernapasan, suhu) setiap 1-2 jam atau sesuai protokol. 3) Kaji tanda peningkatan tekanan intrakranial (sakit kepala, muntah proyektil, penurunan kesadaran, perubahan pupil). 4) Pertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi). 5) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan. 6) Hindari manuver yang meningkatkan tekanan intrakranial (batuk berlebihan, mengejan, fleksi/rotasi leher). 7) Kolaborasi pemberian obat sesuai program (neuroprotektif, anti edema). 8) Monitor hasil pemeriksaan penunjang (CT scan ulang, laboratorium).
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Risiko bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan refleks batuk dan menelan akibat penurunan kesadaran (GCS 6, komponen verbal tidak terukur).
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif, ditandai dengan: 1) Suara napas bersih, tidak ada suara tambahan. 2) Frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal. 3) Tidak ada sianosis. 4) Nilai gas darah arteri dalam batas normal. 5) Mampu mengeluarkan sekret, atau sekret dapat dikeluarkan dengan bantuan.
Kode SIKI: I.05006
Deskripsi : Manajemen jalan napas, meliputi: 1) Kaji dan catat status pernapasan (irama, kedalaman, usaha, suara napas) secara berkala. 2) Lakukan fisioterapi dada dan suction sesuai kebutuhan dengan teknik steril. 3) Atur posisi untuk memudahkan drainase sekret (misal: miring, kepala agak tinggi). 4) Lakukan penghisapan lendir jalan napas atas dan bawah. 5) Kolaborasi pemberian oksigenasi dan nebulizer sesuai program. 6) Kolaborasi pemantauan analisa gas darah. 7) Siapkan alat bantu jalan napas di tempat tidur pasien.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi berhubungan dengan adanya port de entri (kemungkinan dari riwayat infeksi paru) dan penurunan mekanisme pertahanan tubuh sekunder akibat penyakit akut dan imobilisasi.
Kode SLKI: L.03163
Deskripsi : Risiko infeksi terkontrol, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal. 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi (demam, drainase purulen, kemerahan). 3) Hasil laboratorium (leukosit) dalam batas normal. 4) Luka (jika ada) menunjukkan proses penyembuhan.
Kode SIKI: I.05270
Deskripsi : Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, meliputi: 1) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan pada pasien. 2) Pertahankan teknik aseptik/steril pada setiap prosedur invasif. 3) Lakukan perawatan kebersihan diri pasien secara teratur. 4) Pantau tanda-tanda vital, terutama suhu, setiap 4-8 jam. 5) Pantau tanda-tanda infeksi pada sistem pernapasan, saluran kemih, dan kulit. 6) Lakukan perawatan area tekanan secara rutin untuk mencegah dekubitus. 7) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik jika diresepkan. 8) Anjurkan dan bantu mobilisasi sesuai kemampuan.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan melakukan aktivitas perawatan diri (mandi, berpakaian, toileting, makan) berhubungan dengan penurunan kesadaran dan gangguan fungsi neurologis motorik/sensorik.
Kode SLKI: L.03055
Deskripsi : Kebutuhan perawatan diri terpenuhi, ditandai dengan: 1) Kebersihan tubuh dan mulut terjaga. 2) Kebutuhan eliminasi terpenuhi. 3) Nutrisi dan hidrasi terpenuhi. 4) Pasien tampak nyaman dan rapi.
Kode SIKI: I.05058
Deskripsi : Bantuan Perawatan Diri Total, meliputi: 1) Bantu memenuhi kebutuhan kebersihan diri (mandi di tempat tidur, gosok gigi, perawatan kulit). 2) Bantu memenuhi kebutuhan eliminasi (pasang dan rawat kateter jika diperlukan, bantu BAB). 3) Bantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi melalui selang nasogastrik (NGT) sesuai program kolaborasi. 4) Bantu perubahan posisi secara teratur (setiap 2 jam) untuk kenyamanan dan mencegah dekubitus. 5) Lindungi pasien dari cedera akibat ketidakmampuan bergerak. 6) Libatkan keluarga dalam pendidikan perawatan pasien.
-
Article No. 24309 | 04 Mar 2026
Klinis : Pasien dengan keluhan benjolan di leher sebelah kiri sejak +/- 1 tahun, nyeri (-), berdebar2 (-), tremor (-), benjolan di tempat lain disangkal Riw. Operasi (-) Riw. Penyakit Sistemik (-) Riw. Kemoterapi (-) R. Colli (D) I: Tampak benjolan (+) uk 4x3x2cm, ikut bergerak saat menelan P: Teraba benjolan uk 4x3x2cm, mobile (+), konsistensi padat (+), NT (-) _USG Colli/Thyroid (21/02/26)_ Hasil : Thyroid dextra : Ukuran membesar, tampak lesi kistik dengan bentuk membulat, dengan ukuran 3,44 cm x 4,29 cm. Thyroid sinistra : Ukuran normal, tampak lesi kistik dengan ukuran 1,31 cm x 1,58 cm Kesan : Lesi kistik di thyroid dextra cenderung benigna, DD Struma colloides dextra Cyst di thyroid sinistra Tak tampak limfadenopathy colli bilateral
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas dan Ketidaktahuan terkait Diagnosis dan Prosedur Pengobatan Lesi Tiroid
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan khawatir, gelisah, atau tidak nyaman yang bersumber dari antisipasi ancaman yang samar atau tidak diketahui asalnya. Pada pasien ini, ansietas muncul terkait dengan ditemukannya benjolan (lesi kistik) di kelenjar tiroid, ketidakpastian diagnosis definitif meskipun ada kecenderungan benigna, serta prosedur pemeriksaan dan pengobatan lanjutan yang mungkin dihadapi. Pasien datang dengan keluhan benjolan yang sudah berlangsung lama (+/- 1 tahun), yang menunjukkan periode ketidakpastian yang cukup panjang. Meskipun secara fisik nyeri atau gejala sistemik lain disangkal, keberadaan benjolan itu sendiri merupakan sumber stres psikologis. Hasil USG yang menyebutkan "kecenderungan benigna" dan "DD Struma colloides" belum merupakan diagnosis pasti, sehingga dapat menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan keganasan (kanker) di masa depan atau kebutuhan untuk operasi. Ketidaktahuan tentang penyebab benjolan, perkembangan kondisi, pilihan terapi, dan dampaknya terhadap kualitas hidup merupakan faktor pemberat ansietas. Diagnosa ini menekankan pada respon emosional dan kognitif pasien terhadap kondisi kesehatannya yang memerlukan pendekatan keperawatan untuk mengurangi ketakutan dan meningkatkan pemahaman.
Kode SLKI: L.07132
Deskripsi : SLKI L.07132 adalah "Tingkat ansietas terkontrol". Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat menunjukkan penurunan tingkat ansietas hingga taraf yang dapat dikelola, yang ditandai dengan: (1) Pasien mampu mengungkapkan perasaan cemas dan penyebabnya secara verbal. (2) Pasien menunjukkan tanda-tanda fisiologis ansietas yang menurun (seperti frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tidak gelisah). (3) Pasien mampu mengidentifikasi strategi koping yang efektif untuk mengurangi kecemasannya. (4) Pasien menyatakan pemahaman tentang kondisi penyakitnya dan rencana tindakan medis yang akan dijalani. Dalam konteks pasien ini, perawat berperan membantu pasien mencapai luaran tersebut melalui intervensi edukasi, terapeutik, dan pendampingan, sehingga ansietas tidak menghambat proses pengambilan keputusan atau menurunkan kualitas hidup pasien selama menjalani evaluasi dan terapi lebih lanjut.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : SIKI I.05280 adalah "Manajemen Ansietas". Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau mengurangi perasaan cemas, ketakutan, atau kekhawatiran pasien. Implementasinya pada pasien ini meliputi: (1) Membangun hubungan terapeutik dan lingkungan yang menenangkan. (2) Mengkaji tingkat ansietas, pemicu, dan respons fisiologis pasien. (3) Mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaan, kekhawatiran, dan pertanyaannya tentang benjolan, hasil USG, dan kemungkinan tindak lanjut. (4) Memberikan edukasi kesehatan yang jelas dan sesuai kebutuhan tentang anatomi tiroid, interpretasi hasil USG (misalnya, arti "benigna", "struma colloides", "kistik"), dan pentingnya pemeriksaan lanjutan seperti biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) untuk konfirmasi diagnosis. (5) Menjelaskan alur perawatan yang mungkin, dari observasi, medikasi, hingga kemungkinan tindakan bedah, dengan bahasa yang mudah dipahami. (6) Melatih teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam untuk mengatasi saat cemas meningkat. (7) Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional. (8) Kolaborasi dengan tim medis untuk memberikan informasi yang konsisten dan menjadwalkan konsultasi atau pemeriksaan lanjutan tepat waktu untuk mengurangi ketidakpastian. Intervensi ini bertujuan memberikan rasa aman, meningkatkan kontrol diri pasien, dan mempersiapkannya secara mental untuk menghadapi proses pengobatan.
-
Article No. 24310 | 04 Mar 2026
Klinis : sesak nafas sudah berkurang pasien dengan sp ntg tensi tidak turun riw hd 3 th, selasa jumat edema pulmo ckd v susp efusi pericard sesak napas berkurang, nyeri dada (-) RPD HT (+), CKD (+), PJK (-), DM (-) JVP 5+3 RBH -/- WHZ -/- edem -/- EKG: Sinus rhythm 96bpm, LAD, LAFB, iskemik anterolateral CHF PJK anemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kebutuhan Pernapasan
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana kebutuhan untuk bernapas telah terpenuhi atau membaik, ditandai dengan berkurangnya keluhan sesak napas, frekuensi dan pola napas yang membaik, serta parameter oksigenasi yang stabil atau meningkat. Kondisi ini merupakan hasil dari intervensi keperawatan dan pengobatan yang efektif.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Status Pernapasan. SLKI ini mengukur hasil dari intervensi keperawatan terhadap status pernapasan klien. Indikator yang dapat dinilai meliputi: (1) Pola napas reguler dan tidak ada penggunaan otot bantu napas; (2) Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia; (3) Bunyi napas bersih (clear) pada seluruh lapang paru; (4) Tidak ada sianosis; (5) Nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal; (6) Tidak ada keluhan sesak napas atau nyeri dada; (7) Ekspansi dada simetris; (8) Gas darah arteri dalam batas normal. Pada kondisi pasien yang dinyatakan "sesak napas sudah berkurang", ini menunjukkan peningkatan pada indikator-indikator tersebut, khususnya indikator ke-6. Namun, perlu evaluasi lebih lanjut terhadap indikator lain seperti bunyi napas (mengingat riwayat edema pulmo) dan saturasi oksigen untuk memastikan perbaikan yang komprehensif.
Kode SIKI: I.08010
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk mempertahankan atau meningkatkan status pernapasan yang telah membaik dan mencegah kemunduran. Tindakan-tindakan tersebut meliputi: (1) Mempertahankan posisi semifowler atau fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi paru; (2) Memonitor terus menerus frekuensi, irama, kedalaman napas, dan penggunaan otot bantu; (3) Auskultasi bunyi napas secara berkala untuk mendeteksi dini adanya crackles (ronkhi) yang mengindikasikan edema paru residu; (4) Memonitor nilai saturasi oksigen (SpO2) secara kontinu atau berkala; (5) Memberikan terapi oksigen sesuai program dokter dan memonitor efektivitasnya; (6) Melakukan fisioterapi dada jika diperlukan; (7) Mengajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif; (8) Memonitor tanda-tanda kelebihan cairan (overload) seperti peningkatan JVP, edema, dan bunyi napas abnormal, mengingat pasien memiliki riwayat CKD dan gagal jantung; (9) Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti diuretik, nitrat, atau morfin sesuai program untuk mengurangi preload dan afterload jantung; (10) Edukasi pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda sesak napas yang memburuk dan kapan harus mencari bantuan. Pada pasien ini, intervensi harus sangat berhati-hati karena meskipun sesak berkurang, kondisi dasarnya (CHF, edema pulmo, CKD V, susp. efusi pericard) masih sangat rentan menyebabkan sesak kambuh. Fokus SIKI adalah mempertahankan kemajuan yang ada dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan: Kelebihan
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu berisiko mengalami peningkatan retensi cairan dan natrium, yang dapat menyebabkan overload sirkulasi, edema, dan peningkatan tekanan hidrostatik. Risiko ini sangat tinggi pada pasien dengan gagal jantung, penyakit ginjal kronis, dan gangguan pericard.
Kode SLKI: L.06003
Deskripsi : Status Keseimbangan Cairan. SLKI ini mengukur hasil dari intervensi keperawatan dalam mempertahankan keseimbangan cairan. Indikator yang dinilai meliputi: (1) Tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan; (2) Denyut nadi dalam rentang normal; (3) Tidak ada edema perifer atau anasarka; (4) Berat badan stabil (tidak ada peningkatan signifikan dalam waktu singkat); (5) Bunyi napas bersih (clear); (6) Tidak ada distensi vena leher (JVP meningkat); (7) Haluaran urine adekuat sesuai intake dan kondisi ginjal; (8) Turgor kulit baik. Pada kondisi pasien, ditemukan JVP 5+3 (meningkat) dan riwayat edema pulmo yang merupakan indikator kegagalan pada poin 5 dan 6. Meskipun edema perifer dilaporkan (-/-), peningkatan JVP dan riwayat edema paru menunjukkan adanya kelebihan cairan sentral. Tensi yang "tidak turun" juga perlu diwaspadai sebagai upaya kompensasi atau indikasi volume berlebih. Target SLKI adalah menurunkan JVP, menghilangkan edema paru, dan mencapai berat badan kering.
Kode SIKI: I.06015
Deskripsi : Manajemen Cairan/Volume. Intervensi ini bertujuan untuk mencegah atau menangani kelebihan volume cairan. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Pemantauan ketat intake dan output cairan setiap 24 jam; (2) Pengukuran berat badan harian dengan skala yang sama, pada waktu yang sama, dan dengan pakaian yang sama; (3) Pemantauan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) secara berkala; (4) Auskultasi bunyi napas untuk mendeteksi crackles (ronkhi); (5) Palpasi dan inspeksi edema, serta pengukuran lingkar ekstremitas jika diperlukan; (6) Observasi dan pengukuran tekanan vena sentral/JVP; (7) Membatasi asupan cairan sesuai program dokter (biasanya restriksi ketat pada CKD V dan CHF); (8) Membatasi asupan natrium (garam); (9) Kolaborasi pemberian terapi diuretik dan memantau efektivitas serta efek sampingnya (seperti hipokalemia); (10) Kolaborasi terapi pengganti ginjal (hemodialisis) sesuai jadwal (pasien dengan riwayat HD 3 tahun, Selasa-Jumat) untuk membuang kelebihan cairan dan toksin uremik; (11) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan dan garam, serta tanda-tanda overload cairan (sesak napas mendadak, bengkak, berat badan naik cepat).
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang mendadak atau lambat, dan intensitasnya bervariasi dari ringan hingga berat. Meskipun pasien melaporkan "nyeri dada (-)", temuan EKG menunjukkan iskemik anterolateral yang secara patofisiologi dapat menimbulkan nyeri. Diagnosa ini dapat dipertimbangkan sebagai risiko atau sebagai kondisi yang telah teratasi berkat pengobatan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. SLKI ini mengukur tingkat keberhasilan dalam mengontrol pengalaman nyeri klien. Indikatornya meliputi: (1) Klien melaporkan nyeri terkontrol (skala nyeri menurun); (2) Ekspresi wajah rileks; (3) Tanda-tanda vital dalam batas normal; (4) Klien dapat beristirahat dan tidur dengan adekuat; (5) Klien mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi; (6) Klien memahami dan menggunakan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri. Pada pasien ini, indikator utama (poin 1) telah tercapai karena pasien menyatakan tidak ada nyeri dada. Ini merupakan hasil yang diharapkan. Namun, pemantauan harus terus dilakukan karena iskemik miokard dapat muncul tanpa nyeri (silent ischemia), terutama pada pasien diabetes atau gagal ginjal.
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini dilakukan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif menggunakan skala yang valid (PQRST); (2) Memantau tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan atau distress, meskipun pasien menyangkal nyeri; (3) Memonitor tanda-tanda vital sebagai indikator fisiologis nyeri (misalnya, takikardia, hipertensi); (4) Kolaborasi pemberian analgesik atau anti-iskemik (seperti nitrat, morfin, antiplatelet) sesuai program dokter; (5) Memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mengurangi stres; (6) Mengajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi ansietas yang dapat memperberat persepsi nyeri dan beban jantung; (7) Memposisikan pasien dengan nyaman; (8) Melakukan distraksi melalui percakapan atau aktivitas ringan; (9) Memantau efek terapi dan efek samping obat pereda nyeri; (10) Edukasi pasien untuk segera melaporkan jika nyeri dada atau ketidaknyamanan baru muncul. Intervensi ini bersifat preventif dan suportif, mengingat pasien memiliki kondisi jantung iskemik yang berisiko tinggi menimbulkan nyeri.
-
Article No. 24311 | 04 Mar 2026
Klinis : nyeri dada kiri berkurang, sesak berkurang, kaki kiri kram JVP 5+2 RBH -/- WHZ -/- Edem +/+ minimal NSTEMI high risk
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tingkat nyeri terkontrol. Ditandai dengan: 1) Melaporkan nyeri terkontrol. 2) Menunjukkan tanda-tanda nyeri terkontrol (misalnya, tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak ada perilaku melindungi area nyeri). 3) Menggunakan metode nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 4) Menggunakan analgesik sesuai resep. 5) Mengenali faktor pemicu nyeri. 6) Mengenali tanda dan gejala nyeri.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan: 1) Kaji karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas/skala nyeri, onset, durasi, frekuensi, faktor pencetus, dan faktor yang memperberat atau meringankan). 2) Observasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan/nyeri (perubahan tanda vital, ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah). 3) Ajarkan penggunaan skala nyeri yang sesuai. 4) Berikan analgesik sesuai program terapi dan evaluasi efektivitas serta efek samping. 5) Lakukan tindakan nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (misalnya, teknik relaksasi napas dalam, distraksi, terapi musik, kompres hangat/dingin, posisi nyaman). 6) Atur posisi untuk kenyamanan. 7) Kurangi faktor pencetus nyeri. 8) Monitor dan dokumentasi respons terhadap intervensi nyeri. 9) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain sesuai kebutuhan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: 0301
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Ditandai dengan: 1) Melaporkan peningkatan toleransi dalam melakukan aktivitas. 2) Tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas. 3) Tidak mengalami sesak napas saat aktivitas. 4) Tidak mengalami kelelahan berlebihan saat aktivitas. 5) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Energi. Tindakan: 1) Kaji faktor penyebab kelelahan (misalnya, kondisi penyakit, pengobatan, nyeri, gangguan pola tidur). 2) Kaji pola aktivitas dan istirahat. 3) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (tekanan darah, nadi, pernapasan, saturasi oksigen, skala nyeri). 4) Bantu identifikasi prioritas aktivitas. 5) Bantu klien membuat jadwal aktivitas yang seimbang dengan istirahat. 6) Ajarkan teknik penghematan energi (misalnya, duduk saat melakukan aktivitas, istirahat teratur, hindari aktivitas mendadak/berat). 7) Anjurkan aktivitas bertahap sesuai toleransi. 8) Berikan lingkungan yang tenang untuk istirahat. 9) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan. 10) Monitor dan dokumentasi respons klien terhadap aktivitas.
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Cukupan darah yang dipompa oleh jantung tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Status sirkulasi membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. 2) Denyut nadi dalam rentang normal. 3) Irama jantung reguler. 4) Nadi perifer teraba. 5) Warna kulit normal. 6) Tidak ada edema. 7) Tidak ada dispneu/ortopneu. 8) Tidak ada kelelahan berlebihan.
Kode SIKI: 4102
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Tindakan: 1) Kaji status hemodinamik (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu, isi nadi perifer, pengisian kapiler). 2) Kaji status pernapasan (sesak, ortopneu, bunyi napas). 3) Kaji status cairan (balance cairan, edema, JVP, bunyi jantung). 4) Pantau hasil pemeriksaan diagnostik (EKG, enzim jantung, elektrolit). 5) Berikan terapi oksigen sesuai program. 6) Atur posisi untuk memfasilitasi pernapasan dan sirkulasi (misalnya, semi-Fowler). 7) Anjurkan tirah baring dengan aktivitas bertahap sesuai toleransi. 8) Batasi asupan cairan dan natrium sesuai program. 9) Berikan obat-obatan kardiovaskular (seperti nitrat, diuretik, aspirin, antikoagulan) sesuai program dan evaluasi efek serta efek sampingnya. 10) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain sesuai kebutuhan. 11) Ajarkan tanda dan gejala memburuknya kondisi untuk dilaporkan. 12) Monitor dan dokumentasi perubahan status.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga. Ditandai dengan: 1) Asupan dan haluaran seimbang. 2) Turgor kulit baik. 3) Membran mukosa lembab. 4) Tidak ada edema. 5) Berat badan stabil. 6) Elektrolit dalam batas normal.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen Cairan/ Elektrolit. Tindakan: 1) Kaji status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, edema, JVP). 2) Monitor tanda vital dan saturasi oksigen. 3) Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan dan waktu yang sama. 4) Hitung balance cairan (asesmen asupan dan haluaran). 5) Pantau hasil laboratorium (elektrolit, ureum, kreatinin, BNP). 6) Berikan cairan intravena sesuai program dengan kecepatan tetesan tepat. 7) Batasi asupan cairan dan natrium sesuai program. 8) Anjurkan perubahan posisi secara perlahan untuk mencegah hipotensi ortostatik. 9) Observasi tanda kelebihan beban cairan (edema meningkat, sesak napas, ronki, JVP meningkat). 10) Observasi tanda kekurangan cairan (turgor kulit menurun, mukosa kering, output urin menurun). 11) Kolaborasi pemberian diuretik sesuai program dan evaluasi efektivitasnya. 12) Ajarkan tanda dan gejala ketidakseimbangan cairan untuk dilaporkan. 13) Dokumentasi dengan akurat.
-
Article No. 24312 | 04 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran, kelemahan anggota gerak kiri, kejang 3x SMRS Status generalis Mata CA -/-, SI -/- mulut : trismus - leher : kaku kuduk - Thorax SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext akral pucat +/+, edem -/- Status Neurologis Sensorik tidak dapat dievaluasi Kekuatan motorik: sulit untuk dievaluasi Refleks fisiologis: +3/+3//+3/+3 Refleks patologis: (-/-/-/-) Parese NC. VII (-) blink to threat (-) visual pursuit (-) voluntary eye movement (-) Meningeal sign (-) lab 3/3/26 hb 15.23 eritrosit 4.98 hmt 45.3 lekosit 23.95 trombosit 391 Na 134 K 2.9 Cl 90 Ca2+ 0.9 pH 7.44 GDS 147 ureum 44.9 kreatinin 1.91 CT scan menunggu expertise Thorax PA menunggu expertise dx klinis: penurunan kesadaran, hemiparesis sinistra, konvulsi dx topis: lobus frontal gyrus precentral dx etiologi: susp SH
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi serebral dapat dipertahankan dengan kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam batas yang dapat diterima, 2) Tingkat kesadaran sesuai dengan potensi, 3) Tidak ada atau berkurangnya peningkatan tekanan intrakranial, 4) Fungsi motorik dan sensorik sesuai dengan potensi, 5) Keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Pemantauan Neurologis. Intervensi ini meliputi pengkajian dan dokumentasi komprehensif status neurologis pasien secara berkala menggunakan skala yang baku seperti Glasgow Coma Scale (GCS). Pada pasien ini, perlu dipantau secara ketat penurunan kesadaran, kelemahan anggota gerak kiri, dan riwayat kejang. Pemantauan mencakup tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik (walau sulit dievaluasi, perlu dicatat respons terhadap rangsang nyeri), refleks, dan tanda-tanda meningeal. Observasi ketat terhadap kemungkinan kejang berulang juga merupakan bagian penting. Data dari pemantauan ini menjadi dasar untuk menilai perkembangan kondisi dan efektivitas terapi, serta mendeteksi dini komplikasi seperti herniasi otak. Pemantauan harus dilakukan secara sistematis, teratur, dan dibandingkan dengan data sebelumnya untuk mengidentifikasi tren perubahan yang halus sekalipun.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau gangguan fungsi tubuh.
Kode SLKI: 1901
<>Deskripsi : Perilaku pencegahan cedera dengan kriteria hasil: 1) Lingkungan yang aman dapat dipertahankan, 2) Tidak terjadi cedera, 3) Keluarga atau pengasuh mendemonstrasikan perilaku pencegahan cedera.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pencegahan Cedera. Intervensi ini bertujuan untuk meminimalkan risiko cedera pada pasien dengan penurunan kesadaran dan riwayat kejang. Tindakan spesifik termasuk memasang pagar tempat tidur yang selalu terangkat, menggunakan restraint yang lembut jika diperlukan untuk mencegah jatuh, dan memposisikan pasien dengan aman. Karena pasien memiliki riwayat kejang 3 kali, lingkungan harus dilindungi dari benda tajam atau keras. Selama kejang, intervensi berfokus pada melindungi kepala dan anggota gerak dari trauma, memiringkan posisi tubuh untuk menjaga jalan napas, dan tidak memasukkan apapun ke dalam mulut (terutama karena trismus negatif menunjukkan rahang dapat membuka, meningkatkan risiko gigitan lidah atau benda). Pencegahan juga mencakup memastikan jalan napas tetap patent dan memonitor tanda-tanda distress pernapasan pasca kejang. Edukasi kepada keluarga tentang cara merespons kejang dan menjaga keamanan lingkungan juga merupakan komponen kunci.
Kondisi: Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang patent.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Status pernapasan: pertukaran gas dengan kriteria hasil: 1) Jalan napas patent, 2) Suara napas bersih, 3) Frekuensi dan irama napas dalam batas normal, 4) Nilai analisa gas darah dalam batas normal.
Kode SIKI: 3140
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Pada pasien dengan penurunan kesadaran, refleks protektif jalan napas (seperti batuk dan menelan) sangat mungkin terganggu, sehingga risiko aspirasi dan obstruksi jalan napas oleh lidah atau sekresi meningkat tinggi. Intervensi ini meliputi pemantauan suara napas (ronkhi atau wheezing seperti dalam data thorax negatif, tetapi perlu dipantau terus), frekuensi, dan pola pernapasan. Posisi semi-Fowler atau lateral dapat membantu mencegah obstruksi dan aspirasi. Persiapan alat suction di samping tempat tidur dan penghisapan lendir secara rutin serta bila diperlukan sangat penting. Karena pasien sulit dievaluasi secara motorik dan sensorik, ketergantungan pada observasi klinis (seperti sianosis, penggunaan otot bantu napas) dan monitoring saturasi oksigen menjadi krusial. Kolaborasi untuk pemberian oksigen tambahan dan persiapan tindakan lebih invasif seperti intubasi juga bagian dari manajemen jalan napas yang komprehensif.
Kondisi: Ketidakseimbangan Elektrolit
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Konsentrasi serum elektrolit di luar rentang normal.
Kode SLKI: 0503
Deskripsi : Keseimbangan elektrolit dapat dipertahankan dengan kriteria hasil: 1) Nilai elektrolit serum dalam batas normal, 2) Tidak ada tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Pemantauan Cairan/Elektrolit. Intervensi ini berfokus pada mengidentifikasi dan mengatasi ketidakseimbangan elektrolit yang dapat memperburuk status neurologis dan memicu kejang berulang. Data lab menunjukkan hipokalemia (K 2.9 mEq/L) dan hipokalsemia (Ca2+ 0.9 mmol/L) yang signifikan. Kedua kondisi ini dapat menyebabkan kelemahan otot, aritmia, dan meningkatkan rangsangan saraf. Hipokalsemia khususnya dapat memicu tetani dan kejang. Intervensi keperawatan meliputi pemantauan ketat tanda-tanda klinis seperti kelemahan otot (yang mungkin tumpang tindih dengan hemiparesis), kram, perubahan EKG, dan tanda Trousseau atau Chvostek. Pemantauan intake dan output cairan, serta kolaborasi ketat dengan tim medis untuk pemberian suplemen elektrolit (Kalium dan Kalsium) melalui infus dengan kecepatan yang aman merupakan tindakan utama. Pemantauan laboratorium serial untuk menilai respon terapi juga esensial. Selain itu, kadar Natrium yang rendah (134 mEq/L) juga perlu diwaspadai karena dapat memperburuk edema serebral atau menyebabkan kejang.
-
Article No. 24313 | 04 Mar 2026
Klinis : penurunan kesadaran KU Sedang, E3V2M4 qSofa 2 News Score : 10 (RR +3, supplement oxygen +2, HR +2 AVPU +3) Mata : CA (-/-), SI (-/-), mata cowong (-/-) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-), Thoraks : simetris kanan dan kiri, retraksi (-) Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Paru : SDV (+/+), RBH (-/-), RBK (-/-), wheezing (-/-) Abdomen : distended (+) supel (+), BU (+) meningkat, timpani (+), nyeri tekan (-) Eks. Superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) Eks. Inferior : akral hangat (+/+), ulkus (-/-) Lab 03/03 HB 14.76 AE 5.20 HMT 43.1 AL 25.32 AT 263 GDS 691 C UR 147.7 C CR 2.13 H Natrium 136 Kalium 6.1 Chlorida 98 Calsium 1.2 pH 7.24 Krisis Hiperglikemi -DM Sepsis Hiperkalemia AKI DD CKD
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (dalam konteks Sepsis, Krisis Hiperglikemi, dan Gangguan Metabolik)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi serebral berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen serta gangguan metabolik.
Kode SLKI: L.14016
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tingkat kesadaran sesuai kapasitas, 2) Fungsi kognitif membaik, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima, 4) Tidak ada atau berkurangnya tanda peningkatan tekanan intrakranial, 5) Keseimbangan elektrolit dan asam-basa dalam batas normal.
Kode SIKI: I.14065
Deskripsi : 1) Monitor status neurologis secara berkala menggunakan skala GCS atau AVPU. 2) Pertahankan jalan napas paten dan upayakan oksigenasi adekuat (berikan terapi oksigen sesuai indikasi, pantau saturasi oksigen). 3) Pantau dan catat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara teratur. 4) Kolaborasi pemberian cairan intravena dan obat-obatan sesuai resep (antibiotik untuk sepsis, insulin untuk hiperglikemi, terapi untuk hiperkalemia dan asidosis). 5) Lakukan pemantauan ketat terhadap hasil pemeriksaan laboratorium (gula darah, elektrolit, gas darah, kreatinin). 6) Atur posisi pasien untuk optimasi sirkulasi serebral (head up 30 derajat jika tidak ada kontraindikasi). 7) Lindungi pasien dari cedera akibat penurunan kesadaran (pemasangan pagar tempat tidur, hindari restraint). 8) Lakukan perawatan kulit, mulut, dan mata untuk mencegah komplikasi imobilitas. 9) Berikan dukungan psikologis dan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi pasien. 10) Kolaborasi dalam pemantauan balance cairan (input-output) terutama terkait dengan kondisi AKI.
Kondisi: Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit (Hiperkalemia, Asidosis Metabolik, AKI)
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi (ginjal pada AKI, efek metabolik hiperglikemi dan sepsis).
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 2) Turgor kulit baik, membran mukosa lembab, 3) Balance cairan seimbang, 4) Elektrolit serum (terutama Kalium) dalam batas normal, 5) pH darah dalam batas normal, 6) Produksi urine adekuat sesuai kondisi ginjal.
Kode SIKI: I.15029
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda vital dan status hemodinamik. 2) Lakukan pemantauan ketat intake dan output cairan setiap jam/periodik. 3) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program resusitasi dan status ginjal. 4) Pantau hasil laboratorium: elektrolit (Kalium 6.1 mmol/L), gas darah (pH 7.24), ureum, kreatinin. 5) Kolaborasi pemberian terapi untuk menurunkan kalium serum (misal: kalsium glukonat, insulin-glukosa, resin pengikat kalium) sesuai resep. 6) Kolaborasi penanganan asidosis metabolik (misal: pemberian natrium bikarbonat) sesuai indikasi dan resep. 7) Auskultasi bunyi usus, pantau distensi abdomen. 8) Timbang berat badan harian jika memungkinkan. 9) Kolaborasi dalam persiapan dan pelaksanaan terapi pengganti ginjal (hemodialisis) jika diperlukan. 10) Batasi asupan makanan/minuman tinggi kalium sesuai instruksi.
Kondisi: Hiperglikemi
Kode SDKI: D.0092
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan insulin, asupan, dan tingkat aktivitas.
Kode SLKI: L.09025
Deskripsi : Kadar glukosa darah stabil, ditandai dengan: 1) Kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan, 2) Tidak ada tanda-tanda hipoglikemia atau hiperglikemia berat, 3) Pemahaman keluarga tentang penanganan hiperglikemi.
Kode SIKI: I.09040
Deskripsi : 1) Pantau kadar glukosa darah secara berkala (GDS 691 mg/dL menunjukkan keadaan darurat hiperglikemik). 2) Kolaborasi pemberian insulin intravena sesuai protokol dengan pemantauan ketat. 3) Pantau tanda-tanda hipoglikemia selama terapi insulin. 4) Observasi tanda-tanda ketoasidosis diabetik atau status hiperglikemik hiperosmolar (seperti dehidrasi, penurunan kesadaran, poliuri). 5) Kolaborasi pemberian cairan intravena untuk koreksi dehidrasi dan hiperosmolaritas. 6) Lakukan perawatan kulit, mencegah infeksi, dan mencegah luka dekubitus. 7) Berikan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi krisis hiperglikemi dan pentingnya pemantauan. 8) Kolaborasi dengan tim medis dan ahli gizi untuk manajemen nutrisi sesuai kondisi metabolik dan ginjal pasien.
Kondisi: Infeksi (Sepsis)
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Risiko penyebaran infeksi berhubungan dengan adanya mikroorganisme patogen dan respons sistemik (sepsis).
Kode SLKI: L.10015
Deskripsi :
Kode SIKI: I.10024
Deskripsi : 1) Pantau tanda-tanda sistemik infeksi dan sepsis (suhu, jantung, pernapasan, tekanan darah, kesadaran) menggunakan skala NEWS/qSOFA. 2) Kolaborasi pemberian antibiotik spektrum luas secara tepat waktu sesuai protokol sepsis dan resep. 3) Lakukan pengambilan sampel kultur (darah, urin, sputum) sebelum pemberian antibiotik jika memungkinkan. 4) Pertahankan teknik aseptik pada semua prosedur invasif (pemasangan infus, kateter). 5) Lakukan perawatan luka jika ada dan cegah infeksi nosokomial (cuci tangan, kebersihan lingkungan). 6) Tingkatkan daya tahan tubuh pasien dengan memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan. 7) Pantau hasil laboratorium penanda infeksi (leukosit, prokalsitonin). 8) Berikan edukasi kepada keluarga tentang pencegahan penyebaran infeksi. 9) Kolaborasi pemberian terapi suportif sepsis (resusitasi cairan, vasopressor jika diperlukan) sesuai guideline.
-
Article No. 24291 | 03 Mar 2026
Klinis : - Kulit tampak bintik-bintik ANALISIS DATA MASALAH Nyeri Akut (D.0077) Gangguan integritas kulit (D.0129) ETIOLOGI Agen pencedera fisiologis yaitu inflamasi atau peradangan pada kulit (kemerahan, pruritus) Perubahan Sirkulasi 3. kemerahan di seluruh tubuh - Hasil ureum meningkat - Penurunan fungsi ginjal (GGK)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: D.0129
Deskripsi Singkat: Gangguan Integritas Kulit adalah kondisi di mana kulit mengalami kerusakan atau berisiko mengalami kerusakan pada epidermis, dermis, atau keduanya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor internal seperti penurunan sirkulasi, status nutrisi buruk, atau penyakit sistemik (seperti gagal ginjal kronis yang disebutkan dalam data), serta faktor eksternal seperti tekanan, gesekan, kelembaban, atau agen pencedera (termasuk inflamasi dan pruritus). Pada kasus pasien dengan bintik-bintik dan kemerahan di seluruh tubuh yang disertai penurunan fungsi ginjal, gangguan integritas kulit sangat mungkin terjadi. Gagal ginjal kronis menyebabkan akumulasi toksin uremik dalam darah (ureum meningkat) yang dapat memicu pruritus uremik (gatal hebat) dan berbagai manifestasi dermatologis seperti xerosis (kulit kering), perubahan warna, dan mudahnya kulit mengalami iritasi dan kerusakan. Pruritus dan inflamasi (kemerahan) merupakan agen pencedera fisiologis yang mendorong pasien untuk menggaruk, sehingga merusak sawar kulit, meningkatkan risiko infeksi, dan memperburuk kondisi integritas kulit. Diagnosa ini menekankan pada keadaan kulit yang rusak atau sangat rentan rusak, memerlukan intervensi untuk melindungi, memulihkan, dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Kode SLKI: L.15031
Deskripsi : SLKI L.15031 berfokus pada Pemulihan Integritas Kulit. Tujuan dari luaran ini adalah untuk mencapai penyembuhan luka atau lesi kulit sesuai waktu yang diharapkan. Dalam konteks pasien dengan gangguan integritas kulit akibat manifestasi dermatologis gagal ginjal dan pruritus, luaran yang diharapkan meliputi: penurunan atau hilangnya kemerahan (inflamasi), pencegahan lesi kulit baru akibat garukan, dan penyembuhan lesi atau ekskoriasi yang sudah ada. Indikator pencapaiannya dapat meliputi kulit utuh tanpa area eritema atau lecet, penurunan skor gatal (pruritus), tidak adanya tanda-tanda infeksi sekunder seperti pus atau eritema yang meluas, serta pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan perilaku perawatan kulit yang tepat. Pencapaian luaran ini sangat bergantung pada pengendalian faktor penyebab dasar (uremia) dan intervensi perawatan kulit secara langsung. Perawat akan memantau karakteristik luka/lesi (ukuran, kedalaman, drainage), tanda infeksi, dan tingkat ketidaknyamanan pasien secara berkala untuk mengevaluasi kemajuan menuju pemulihan integritas kulit.
Kode SIKI: I.15258
Deskripsi : SIKI I.15258 adalah Intervensi Perawatan Kulit. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang dilakukan perawat untuk mempertahankan atau memulihkan integritas kulit, mencegah kerusakan lebih lanjut, dan meningkatkan kenyamanan pasien. Pada kasus ini, tindakan spesifik meliputi: 1) **Pengkajian**: Melakukan pengkajian kulit secara sistematis dan berkala, mencatat adanya bintik, kemerahan, kekeringan, ekskoriasi, area edema, dan tanda infeksi. Mengkaji tingkat keparahan pruritus dan faktor pemicu. 2) **Perawatan Kebersihan dan Hidrasi**: Memandikan pasien dengan air hangat (bukan panas) menggunakan sabun pembersih yang ringan, bebas pewangi, dan memiliki pH seimbang. Mengeringkan kulit dengan menepuk-nepuk (bukan menggosok). Segera mengaplikasikan pelembab (emolien) atau krim penghalang setelah mandi saat kulit masih sedikit lembab untuk mempertahankan hidrasi dan mengurangi kekeringan serta gatal. 3) **Perlindungan Kulit**: Memotong dan mengikir kuku pasien untuk meminimalkan kerusakan kulit jika menggaruk. Mempertimbangkan penggunaan sarung tangan katun lembut atau penutup area yang gatal. Menggunakan pakaian dalam dari katun yang longgar dan lembut. Menjaga linen tempat tidur bersih, kering, dan bebas dari kerutan. 4) **Manajemen Pruritus**: Berkolaborasi dengan tim medis untuk terapi farmakologis pengurang gatal (antihistamin atau obat khusus pruritus uremik sesuai resep). Menerapkan kompres dingin atau lembab pada area yang sangat gatal. Mendiskusikan teknik distraksi dan relaksasi untuk mengalihkan perhatian dari sensasi gatal. 5) **Edukasi**: Mendidik pasien dan keluarga tentang pentingnya tidak menggaruk, teknik perawatan kulit yang tepat, pemilihan produk perawatan kulit, dan tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan. 6) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan dokter untuk manajemen optimal gagal ginjal kronis (seperti terapi dialisis dan pengobatan) yang merupakan akar masalah, serta dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang mendukung penyembuhan kulit. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan langsung pada kulit dengan manajemen penyebab sistemik dan pemberdayaan pasien.
-
Article No. 24292 | 03 Mar 2026
Klinis : - Kulit tampak bintik-bintik kemerahan di seluruh tubuh - Hasil ureum meningkat - Penurunan fungsi ginjal (GGK)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko meningkat terhadap invasi dan multiplikasi patogen.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Pasien bebas dari infeksi. Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal (seperti kemerahan, panas, bengkak, nyeri, pus). 3) Hasil laboratorium penunjang (seperti leukosit) dalam rentang normal. 4) Mampu mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah infeksi.
Kode SIKI: 4201, 4202, 4204, 4210, 4211
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 4201: Manajemen Infeksi – Meminimalkan penyebaran dan komplikasi infeksi dengan memantau tanda-tanda infeksi sistemik dan lokal, serta memantau hasil laboratorium seperti leukosit dan kultur. Pada pasien GGK dengan ureum tinggi dan penurunan fungsi ginjal, pemantauan ketat terhadap tanda infeksi sangat krusial karena respons imun yang sering terganggu. 4202: Pengendalian Infeksi – Melaksanakan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan sumber dan penularan infeksi, termasuk cuci tangan yang ketat, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan perawatan luka atau akses vaskuler dengan teknik steril. Pada pasien dengan bintik kemerahan di kulit, penting untuk menjaga integritas kulit, menghindari garukan, dan memastikan kebersihan kulit untuk mencegah portal masuk kuman. 4204: Pengawasan – Mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kondisi pasien secara terus-menerus. Perawat akan memantau perkembangan bintik kemerahan (apakah merupakan petechiae, purpura, atau manifestasi uremik), memantau tren hasil ureum dan kreatinin, serta mengobservasi tanda-tanda sepsis seperti perubahan status mental, hipotensi, atau demam. 4210: Manajemen Lingkungan Terapeutik: Kontrol Vektor – Mengurangi populasi vektor penyakit di lingkungan pasien. Meski tidak selalu langsung relevan, dalam konteks lebih luas memastikan lingkungan ruangan bersih dan bebas dari sumber infeksi potensial. 4211: Isolasi – Membatasi pergerakan atau kontak pasien untuk mencegah penularan infeksi ke atau dari pasien. Jika dicurigai infeksi yang dapat menular atau pada kondisi imunosupresi berat, isolasi protektif (reverse isolation) dapat dipertimbangkan untuk melindungi pasien GGK dari patogen eksternal.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir.
Kode SLKI: 3001
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri terkontrol. 2) Menunjukkan kemampuan untuk mengatasi nyeri. 3) Mempertahankan tingkat fungsi yang diinginkan. 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3901, 3902, 3904
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 3901: Manajemen Nyeri – Meringankan nyeri atau mengurangi nyeri ke tingkat yang dapat diterima pasien. Perawat akan melakukan penilaian nyeri komprehensif menggunakan skala yang valid, termasuk karakteristik bintik kemerahan (apakah gatal, perih, atau nyeri). Pada GGK, nyeri dapat berasal dari multipleks seperti neuropati uremik, kram otot, atau komplikasi lainnya. Manajemen farmakologis harus sangat hati-hati mempertimbangkan penurunan fungsi ginjal untuk menghindari akumulasi obat dan toksisitas. 3902: Pemberian Analgesik – Memberikan obat untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri. Kolaborasi dengan dokter untuk pemilihan analgesik yang aman untuk ginjal (menghindari NSAID) dan penyesuaian dosis berdasarkan laju filtrasi glomerulus (LFG). Edukasi pasien tentang regimen obat yang diresepkan. 3904: Terapi Distraksi – Mengalihkan perhatian pasien dari sensasi nyeri atau situasi tidak menyenangkan. Teknik seperti relaksasi, musik, atau visualisasi dapat membantu mengatasi ketidaknyamanan dari gatal atau nyeri kronis yang menyertai GGK, sehingga meningkatkan kenyamanan dan koping pasien.
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pada epidermis dan/atau dermis.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Penyembuhan luka: derajat 1 & 2. Kriteria hasil: 1) Kulit utuh. 2) Tidak ada kemerahan. 3) Tidak ada cairan dari luka. 4) Nyeri berkurang.
Kode SIKI: 3401, 3402, 3404
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 3401: Perawatan Luka – Mencegah komplikasi dan meningkatkan penyembuhan luka. Meski pada pasien ini mungkin belum ada luka terbuka, bintik kemerahan di seluruh tubuh (yang dapat berupa prurigo nodularis, kalsifilaksis dini, atau manifestasi dermatitis uremik) merupakan ancaman serius terhadap integritas kulit. Perawatan difokuskan pada proteksi kulit, mencegah trauma, dan memantau tanda-tanda infeksi sekunder. 3402: Perawatan Kulit – Mempertahankan atau memulihkan integritas kulit. Ini adalah intervensi inti. Meliputi pembersihan kulit dengan sabun pH netral dan air hangat (bukan panas), pengeringan dengan hati-hati (tidak digosok), serta aplikasi pelembab (emolien) yang bebas alkohol dan pewangi secara rutin untuk mempertahankan kelembaban kulit dan mengurangi gatal. Penting untuk memotong kuku pasien dan menggunakan sarung tangan katun jika diperlukan untuk mencegah kerusakan kulit akibat garukan. 3404: Manajemen Tekanan – Meminimalkan tekanan pada area tubuh. Pada pasien GGK yang mungkin mengalami immobilisasi, perubahan posisi teratur dan penggunaan alas tidur yang sesuai diperlukan untuk mencegah tekanan pada area kulit yang sudah rentan, mencegah dekubitus yang dapat dengan mudah terinfeksi.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Peningkatan retensi cairan isotonik.
Kode SLKI: 1501
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil: 1) Keseimbangan cairan masuk dan keluar. 2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 3) Berat badan stabil. 4) Tidak ada edema. 5) Bunyi napas bersih.
Kode SIKI: 4101, 4102, 4104
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 4101: Manajemen Cairan – Mempertahankan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi akibat kelebihan atau kekurangan cairan. Pada pasien GGK dengan penurunan fungsi ginjal, kemampuan untuk mengeluarkan kelebihan cairan dan produk sisa (seperti ureum) sangat terbatas. Peningkatan ureum merupakan indikator akumulasi toksin uremik yang sering disertai retensi cairan. Perawat akan memantau ketat intake dan output cairan, berat badan harian, tanda-tanda edema (perifer atau paru), dan status pernapasan. 4102: Pemantauan Cairan – Mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang status cairan pasien. Ini termasuk mencatat semua asupan (oral, IV) dan haluaran (urin, drainase, insensible loss), mengukur berat badan pada skala yang sama setiap hari (indikator terbaik kelebihan cairan), serta memantau tekanan darah, nadi, dan tekanan vena sentral jika ada. 4104: Manajemen Hipervolemia – Mengurangi kelebihan cairan tubuh. Intervensi kolaboratif utama adalah terapi renal replacement (hemodialisis atau dialisis peritoneal) untuk membuang kelebihan cairan dan toksin uremik. Perawat juga akan membatasi asupan cairan sesuai resep, membatasi asupan natrium, dan memberikan edukasi kepada pasien serta keluarga tentang pentingnya pembatasan diet dan cairan. Pengaturan posisi semi-Fowler dapat membantu memfasilitasi pertukaran gas jika ada edema paru.