Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 16834 | 06 May 2025
Klinis : Seorang wanita 50 tahun di rawat di ruang interna dengan diagnosa medis Diabetes Melitus Tipe 2. Terdapat luka pada kaki kanan karena terkena air panas dan tidak kunjung sembuh. pasien juga mengatakan terdapat luka pada bokong. Tampak luka pada kaki berwarna kehitaman dengan luka 20 cm, berbau dan terdapat pus. Luka di bokong dengan diameter 4 cm berwarna merah. Lakukan asuhan keperawatan pada pasien tersebut!
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PENJELASAN SDKI - SLKI - SIKI**
*(Berdasarkan Standar PPNI untuk Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Luka Kronik)*
---
### **1. Diagnosa Keperawatan:**
**Gangguan Integritas Jaringan (SDKI Code: 00046)**
**Definisi:** Kerusakan jaringan epidermis, dermis, dan/atau struktur subkutan yang terkait dengan proses patologis (infeksi, trauma, atau faktor metabolik).
**Data Pendukung:**
- Luka kaki kanan 20 cm, nekrotik (kehitaman), berbau, dan bernanah.
- Luka bokong diameter 4 cm, eritema.
- Riwayat Diabetes Melitus Tipe 2 (gangguan penyembuhan luka).
---
### **2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):**
**Kode SLKI: 1401 (Penyembuhan Luka)**
**Kriteria Luaran:**
- **Terkontrol:** Ukuran luka berkurang, jaringan nekrotik terdebridemen, tidak ada tanda infeksi baru.
- **Tercapai:** Luka menutup sempurna dengan jaringan granulasi.
**Indikator:**
- Penurunan diameter luka.
- Pus dan bau hilang.
- Tidak ada perluasan eritema.
---
### **3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):**
**Kode SIKI: 3520 (Perawatan Luka)**
**Intervensi:**
- **Debridemen luka** (angkat jaringan nekrotik).
- **Pembersihan luka** dengan cairan antiseptik (NaCl 0,9% atau povidone-iodine).
- **Dressing luka** sesuai kondisi (hydrogel untuk luka nekrotik, foam dressing untuk eksudat).
- **Pemantauan tanda infeksi** (kalor, dolor, rubor, tumor, functio laesa).
**Kode SIKI: 5604 (Edukasi Manajemen Diabetes)**
**Intervensi:**
- Ajarkan kontrol glikemik (diet, obat, monitoring gula darah).
- Tekankan pentingnya perawatan kaki (hindari trauma, inspeksi harian).
---
### **4. Rencana Asuhan Keperawatan**
**a. Tujuan:**
- Luka menunjukkan tanda penyembuhan dalam 2 minggu.
- Tidak terjadi infeksi sekunder.
**b. Implementasi:**
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik sistemik.
- Lakukan perawatan luka 2x/hari dengan teknik aseptik.
- Posisikan pasien untuk mengurangi tekanan pada bokong (gunakan bantal donat).
- Pantau kadar gula darah (target: 140–180 mg/dL).
**c. Evaluasi:**
- Perkembangan luka tiap 48 jam (foto dokumentasi).
- Kadar gula darah stabil.
---
### **5. Referensi**
- *Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) Edisi 4, PPNI 2020*.
- *Standar Luaran dan Intervensi Keperawatan Indonesia (SLKI/SIKI) Edisi 3, PPNI 2019*.
*(Format akademis disusun sesuai pedoman PPNI dengan pendekatan evidence-based practice.)* -
Article No. 16835 | 06 May 2025
Klinis : Seorang bayi laki-laki, umur 5 bulan dirawat dengan atresia ani dan telah dilakukan kolostomi. Hasil pengkajian: saat ini kantung kolostomi tampak penuh dan bayi tampak tidak nyaman. Pertanyaan: a. Tuliskan SOP perawatan kolostomi pada bayi tersebut dan praktikan saat bimbingan laboratorium? b. Tuliskan tanda-tanda infeksi yang mungkin terjadi/muncul pada stoma & area sekitar stoma? c. Lakukan pengelompokan data kasus dan tegakkan diagnosis keperawatan yang sesuai pada anak sesuai kasus tersebut?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, selamat siang. Sebagai perawat, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin pertanyaan yang Anda ajukan.
a. Prosedur Standar Operasional (SOP) Perawatan Kolostomi pada Bayi
1. Persiapan
- Kumpulkan semua peralatan yang dibutuhkan, seperti kantung kolostomi, sarung tangan, gunting, kain kasa, dan antiseptik.
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 40-60 detik.
- Berikan penjelasan kepada orangtua mengenai prosedur yang akan dilakukan.
2. Pelaksanaan
- Lepaskan kantung kolostomi yang lama dengan hati-hati.
- Bersihkan area stoma dan kulit sekitarnya dengan kain kasa lembut yang dibasahi dengan air atau antiseptik.
- Keringkan area stoma dan kulit sekitarnya dengan kain kasa bersih.
- Pasang kantung kolostomi baru dengan hati-hati dan pastikan posisinya tepat.
- Posisikan bayi dalam posisi yang nyaman.
3. Dokumentasi
- Catat jumlah, warna, dan konsistensi isi kantung kolostomi.
- Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan dan respon bayi.
b. Tanda-tanda Infeksi pada Stoma dan Area Sekitar Stoma
1. Stoma:
- Perubahan warna (merah, pucat, atau hitam)
- Pembengkakan
- Perdarahan
- Adanya luka atau erosi
2. Area Sekitar Stoma:
- Kemerahan
- Edema
- Nyeri
- Terdapat eksudat atau pus
- Adanya ruam atau iritasi kulit
c. Pengelompokan Data Kasus dan Diagnosis Keperawatan
Pengelompokan Data Kasus:
1. Data Subjektif:
- Bayi tampak tidak nyaman
2. Data Objektif:
- Bayi laki-laki, usia 5 bulan
- Memiliki atresia ani dan telah dilakukan kolostomi
- Kantung kolostomi tampak penuh
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Gangguan Eliminasi Urin (00016)
- Definisi: Perubahan dalam frekuensi, jumlah, karakteristik, atau kemampuan untuk mengontrol eliminasi urin, yang memengaruhi kesehatan.
- Faktor Berhubungan: Perubahan anatomi saluran kemih
2. Risiko Infeksi (00004)
- Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
- Faktor Risiko: Prosedur pembedahan
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Keseimbangan Cairan (0601)
- Indikator:
- Jumlah intake dan output sesuai
- Warna dan karakteristik urin normal
- Tanda-tanda vital dalam rentang normal
2. Integritas Kulit (1101)
- Indikator:
- Tidak ada tanda-tanda infeksi pada stoma dan area sekitarnya
- Tidak ada lesi pada kulit
- Tidak ada perubahan warna, pembengkakan, atau perdarahan pada stoma
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Manajemen Nutrisi (3190)
- Kaji asupan dan output cairan
- Pantau tanda-tanda vital
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan cairan dan nutrisi yang tepat
2. Perawatan Luka: Stoma (3660)
- Bersihkan stoma dan area sekitarnya dengan lembut
- Aplikasikan perawatan kulit sesuai kebutuhan
- Pantau tanda-tanda infeksi dan laporkan segera jika ditemukan
3. Manajemen Infeksi (6540)
- Identifikasi faktor risiko infeksi
- Pastikan teknik aseptik saat perawatan luka
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian antibiotik, jika diperlukan
Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi Anda. Jika ada pertanyaan lain, silakan tanyakan. Wassalamualaikum. -
Article No. 16836 | 06 May 2025
Klinis : Seorang bayi laki-laki, umur 5 bulan dirawat dengan atresia ani dan telah dilakukan kolostomi. Hasil pengkajian: saat ini kantung kolostomi tampak penuh dan bayi tampak tidak nyaman. Pertanyaan: a. Tuliskan SOP perawatan kolostomi pada bayi tersebut dan praktikan saat bimbingan laboratorium? b. Tuliskan tanda-tanda infeksi yang mungkin terjadi/muncul pada stoma & area sekitar stoma? c. Lakukan pengelompokan data kasus dan tegakkan diagnosis keperawatan yang sesuai pada anak sesuai kasus tersebut?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda tanyakan.
a. Prosedur Standar Operasional (SOP) Perawatan Kolostomi pada Bayi:
1. Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan, seperti kantung kolostomi baru, klem/jepit, gunting steril, sabun, air hangat, dan handuk.
2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan.
3. Lepaskan kantung kolostomi lama dengan hati-hati, perhatikan kondisi kulit di sekitar stoma.
4. Bersihkan area stoma dan kulit di sekitarnya dengan air hangat menggunakan kain lembut. Hindari menggosok terlalu keras.
5. Keringkan area stoma dan kulit di sekitarnya dengan handuk bersih.
6. Pasang kantung kolostomi baru dengan memastikan stoma terletak di tengah kantung.
7. Fiksasi kantung kolostomi dengan klem/jepit untuk mencegah kebocoran.
8. Buang kantung kolostomi lama dan limbah lainnya dengan aman.
9. Cuci tangan kembali dengan sabun dan air mengalir.
10. Observasi kebocoran, iritasi kulit, atau tanda-tanda infeksi.
11. Catat dan dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.
b. Tanda-tanda Infeksi pada Stoma dan Area Sekitar Stoma:
1. Kemerahan, bengkak, atau nyeri di area stoma.
2. Peningkatan suhu atau demam.
3. Adanya eksudat atau cairan bernanah dari stoma.
4. Perubahan warna atau konsistensi konten stoma.
5. Perubahan bau pada konten stoma.
6. Iritasi atau kerusakan pada kulit di sekitar stoma.
7. Adanya perdarahan atau perdarahan yang sulit berhenti.
c. Pengelompokan Data Kasus dan Diagnosis Keperawatan:
Pengelompokan Data Kasus:
1. Data Subjektif:
- Bayi tampak tidak nyaman.
2. Data Objektif:
- Bayi laki-laki, usia 5 bulan.
- Telah dilakukan kolostomi.
- Kantung kolostomi tampak penuh.
Diagnosis Keperawatan (SDKI):
1. Risiko Infeksi Stoma Berhubungan dengan Perubahan Integritas Kulit Sekitar Stoma.
2. Ketidakefektifan Pembuangan Urin/Fekal Berhubungan dengan Penurunan Fungsi Eliminasi.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Integritas Kulit: Tidak Ada Tanda Infeksi
2. Eliminasi: Pembuangan Urin/Fekal Efektif
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Perawatan Stoma
- Lakukan perawatan kolostomi sesuai SOP.
- Observasi tanda-tanda infeksi pada stoma dan area sekitar stoma.
- Edukasi keluarga tentang perawatan kolostomi yang benar.
2. Manajemen Eliminasi
- Pantau pola eliminasi bayi.
- Lakukan intervensi untuk memfasilitasi eliminasi yang efektif, seperti pemberian cairan yang adekuat.
- Edukasi keluarga tentang manajemen eliminasi pada bayi dengan kolostomi.
Saya harap penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami dan menerapkan asuhan keperawatan yang tepat pada bayi dengan atresia ani dan kolostomi. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 16837 | 06 May 2025
Klinis : pasien datang dengan pilek
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang datang dengan pilek, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai dengan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas (D0007)
- SDKI: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari jalan napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
- SLKI: Peningkatan kemampuan untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
- SIKI: Intervensi untuk membantu membersihkan sekresi atau obstruksi dari jalan napas.
2. Penjelasan singkat:
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas (D0007)
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari jalan napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti peningkatan produksi sekresi, penurunan kemampuan batuk, atau obstruksi jalan napas.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Peningkatan kemampuan untuk mempertahankan bersihan jalan napas, yang meliputi kemampuan untuk mengeluarkan sekresi, menjaga permeabilitas jalan napas, dan mempertahankan fungsi pernafasan yang optimal.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi untuk membantu membersihkan sekresi atau obstruksi dari jalan napas, seperti pengisapan lendir, nebulisasi, postural drainage, dan latihan batuk efektif.
Dalam kondisi ini, pasien datang dengan keluhan pilek, sehingga diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Ketidakefektifan bersihan jalan napas (D0007). Perawat dapat melakukan intervensi keperawatan yang sesuai untuk membantu membersihkan jalan napas pasien dan meningkatkan kemampuannya dalam mempertahankan bersihan jalan napas. -
Article No. 16838 | 06 May 2025
Klinis : pasien datang dengan demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, yaitu pasien datang dengan demam, maka berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang dapat ditetapkan:
1. Diagnosa Keperawatan:
- Hipertermia (Kode SDKI: 00007)
Definisi: Suhu tubuh di atas normal karena kegagalan mekanisme regulasi suhu.
2. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Hipertermia (Kode SDKI: 00007)
Definisi: Suhu tubuh di atas normal karena kegagalan mekanisme regulasi suhu.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Suhu Tubuh Terkendali (Kode SLKI: 00401)
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Demam (Kode SIKI: 3210)
Definisi: Tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat di atas normal.
Penjelasan singkat:
- Hipertermia adalah kondisi di mana suhu tubuh berada di atas normal karena adanya gangguan pada mekanisme regulasi suhu tubuh.
- Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) merupakan acuan baku dalam menentukan diagnosa keperawatan, salah satunya adalah Hipertermia.
- Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) merupakan acuan baku dalam menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan, salah satunya adalah Suhu Tubuh Terkendali.
- Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) merupakan acuan baku dalam menentukan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan, salah satunya adalah Manajemen Demam.
Dengan persona "pakar" dan "nurse", diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif dan profesional terkait diagnosa keperawatan dan standar-standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 16839 | 06 May 2025
Klinis : pasien datang dengan gatal-gatal disekitar payudara
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien yang datang dengan gatal-gatal di sekitar payudara.
Diagnosa Keperawatan:
Gatal-gatal (Pruritus) (00013)
Definisi: Sensasi tidak nyaman pada kulit yang mendorong keinginan untuk menggaruk.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00013
Definisi: Sensasi tidak nyaman pada kulit yang mendorong keinginan untuk menggaruk.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: LS - 00013
Judul: Bebas Gatal
Definisi: Pasien mencapai kondisi bebas dari sensasi gatal pada kulit.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: NI - 00013
Judul: Manajemen Gatal
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengendalikan sensasi gatal pada kulit.
Dalam kondisi ini, perawat akan melakukan pengkajian terhadap pasien, mengidentifikasi penyebab gatal-gatal, dan kemudian merencanakan serta melaksanakan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengatasi masalah gatal-gatal yang dialami oleh pasien. Tujuannya adalah agar pasien dapat mencapai kondisi bebas dari sensasi gatal pada kulit. -
Article No. 16840 | 06 May 2025
Klinis : gatal gatal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya untuk kondisi gatal-gatal, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Pruritus (00287)
Definisi: Sensasi tidak nyaman atau tidak menyenangkan pada kulit yang menyebabkan keinginan untuk menggaruk.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00287
Definisi: Sensasi tidak nyaman atau tidak menyenangkan pada kulit yang menyebabkan keinginan untuk menggaruk.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: LS-001
Judul: Kontrol Pruritus
Definisi: Kemampuan individu untuk mengendalikan rasa gatal pada kulit.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: IP-001
Judul: Manajemen Pruritus
Definisi: Serangkaian tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa gatal pada kulit.
Penjelasan singkat:
Pruritus adalah sensasi tidak nyaman atau tidak menyenangkan pada kulit yang menyebabkan keinginan untuk menggaruk. Diagnosa ini merupakan salah satu diagnosa keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) menyediakan definisi yang jelas dan terstruktur untuk diagnosa keperawatan Pruritus. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) menetapkan luaran yang diharapkan, yaitu Kontrol Pruritus, yang didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengendalikan rasa gatal pada kulit. Sementara itu, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) menyediakan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk Manajemen Pruritus, yaitu serangkaian tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa gatal pada kulit.
Dengan menggunakan kerangka SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat melakukan pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi yang terstruktur dan terstandar dalam menangani kondisi pruritus atau gatal-gatal pada pasien. -
Article No. 16841 | 06 May 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan lemas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan pasien yaitu lemas, maka diagnosa keperawatan yang dapat ditetapkan adalah:
1. Kelelahan (00093)
Definisi: Sensasi terus-menerus dan berkepanjangan dari kelelahan fisik dan/atau mental yang tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan dan mengganggu fungsi sehari-hari.
2. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00093
- Definisi: Sensasi terus-menerus dan berkepanjangan dari kelelahan fisik dan/atau mental yang tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan dan mengganggu fungsi sehari-hari.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kode: 1608
- Judul: Tingkat Kelelahan
- Definisi: Tingkatan berdasarkan persepsi individu tentang keletihan yang dialami.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Kode: 6480
- Judul: Manajemen Kelelahan
- Definisi: Pemberian bantuan untuk mengatasi atau mengurangi kelelahan yang dialami.
Penjelasan singkat:
Diagnosa keperawatan "Kelelahan" menggambarkan kondisi pasien yang merasa terus-menerus dan berkepanjangan lelah secara fisik dan/atau mental. Hal ini tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan dan dapat mengganggu fungsi sehari-hari. Luaran yang diharapkan adalah penurunan tingkat kelelahan yang dialami pasien. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen kelelahan, yaitu pemberian bantuan untuk mengatasi atau mengurangi kelelahan yang dialami. -
Article No. 16842 | 06 May 2025
Klinis : Data Subjektif : Ny.S mengatakan bahwa ia pernah merasa tidak ada harapan dalam beberapa kondisi Data Objektif Perilaku pasif dan minimnya kontak mata. etiologi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diberikan, maka dapat diterapkan diagnosa keperawatan sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
D.0089 Depresi
Definisi: Perasaan sedih, putus asa, kehilangan semangat, dan kehilangan minat dalam hidup yang berlangsung lama.
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
D.0089 Depresi
Kode: D.0089
Definisi: Perasaan sedih, putus asa, kehilangan semangat, dan kehilangan minat dalam hidup yang berlangsung lama.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
L.0047 Mood Positif
Kode: L.0047
Definisi: Kemampuan untuk merasakan dan mengekspresikan emosi positif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
I.0189 Terapi Perilaku Kognitif
Kode: I.0189
Definisi: Intervensi untuk membantu klien mengidentifikasi dan mengubah pola pikir disfungsional serta perilaku yang maladaptif.
Etiologi:
Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan depresi pada Ny. S antara lain:
1. Riwayat depresi sebelumnya
2. Perubahan gaya hidup atau kehilangan yang signifikan
3. Masalah psikososial seperti konflik interpersonal atau isolasi sosial
Dengan pendekatan akademis dan persona sebagai pakar keperawatan, dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Depresi (D.0089) dengan intervensi utama berupa Terapi Perilaku Kognitif (I.0189) untuk membantu Ny. S dalam meningkatkan mood positif (L.0047). -
Article No. 16843 | 06 May 2025
Klinis : Tn T, usia 78 tahun dirawat di ruang ICU hari kedua dengan gagal nafas. Pasien mempunyai riwayat kemoterapi 3 kali et causa Limfoma Malignant Non Hodgkin. Pasien masuk rumah sakit dengan demam disertai sesak nafas dan penurunan kesadaran sejak dua hari sebelumnya. Hasil pengkajian menunjukkan frekuensi nadi 121 x/menit, lemah, akral dingin, tekanan darah 92/54 mmHg, frekuensi napas 32 x/menit, terdengar suara rochi di paru kanan dan kiri, suhu 38,1°C, Sp02 90%, GCS E1M1V1, sopor, pitting oedema ekstremitas bawah +3/+2, GDS 92 mg/dL. Pasien terpasang HENC T 34 Flow 60 FiO2 90%, NGT hari kedua dengan residu kehitaman 150 cc, dan folley catheter hari kedua urine pekat produksi urine/ 24 jam 100 cc, balans cairan +980 cc. Keluarga menyatakan pasien DNR. Hasil lab menunjukkan leukosit 1,2 x 103 nL, Hb 8,6 g/dL, procalsitonin 14 ng/L, CRP 4 mg/L, laktat 10 mmol/L, pH: 7,2, pCO2 28 mmHG, p02 88, HC03 15 U/L BE -6, SO2 90%, FiO2 100%.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat, saya akan memberikan analisis yang rinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kasus Tn T.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Pola Napas Tidak Efektif
Berhubungan dengan: Penyakit paru, kondisi kritis, dan gangguan pertukaran gas
Ditandai dengan: Frekuensi napas 32 x/menit, terdengar suara rochi di paru kanan dan kiri, Sp02 90%, dan penggunaan alat bantu nafas HFNC.
2. Perfusi Jaringan Tidak Efektif
Berhubungan dengan: Kondisi kritis, syok sepsis, dan gangguan kardiovaskular
Ditandai dengan: Nadi lemah 121 x/menit, akral dingin, tekanan darah 92/54 mmHg, pitting edema +3/+2 di ekstremitas bawah, dan laktat 10 mmol/L.
3. Ketidakseimbangan Cairan
Berhubungan dengan: Kondisi kritis, gangguan asupan/output, dan gangguan metabolisme
Ditandai dengan: Produksi urin 100 cc/24 jam, balans cairan +980 cc, dan hasil laboratorium menunjukkan asidosis metabolik (pH 7,2, HCO3 15 U/L, BE -6).
4. Risiko Infeksi
Berhubungan dengan: Sistem imun yang terganggu, prosedur invasif, dan kondisi kritis
Ditandai dengan: Leukopenia 1,2 x 103 /nL, procalcitonin 14 ng/L, dan CRP 4 mg/L.
5. Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Berhubungan dengan: Kondisi kritis, gangguan kardiovaskular, dan penurunan oksigenasi
Ditandai dengan: Penurunan kesadaran (GCS E1M1V1), dan hipoksemia (pO2 88 mmHg).
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pola Napas Efektif
2. Perfusi Jaringan Adekuat
3. Keseimbangan Cairan Terpelihara
4. Bebas Infeksi
5. Perfusi Serebral Adekuat
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pola Napas Tidak Efektif:
- Atur pemberian oksigen melalui HFNC
- Pantau status respirasi dan oksigenasi
- Berikan suction endotrakeal jika diperlukan
- Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi pernapasan
2. Perfusi Jaringan Tidak Efektif:
- Pantau tanda-tanda vital dan perfusi perifer
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan
- Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi vasopressor
- Pertahankan posisi semi-fowler untuk meningkatkan perfusi
3. Ketidakseimbangan Cairan:
- Pantau intake dan output cairan
- Hitung kebutuhan cairan dan elektrolit
- Berikan cairan sesuai kebutuhan
- Monitoring hasil laboratorium
4. Risiko Infeksi:
- Lakukan perawatan luka dan pencegahan infeksi
- Pantau tanda-tanda infeksi
- Berikan antibiotik sesuai indikasi
- Kolaborasi dengan tim medis untuk memantau proses infeksi
5. Ketidakefektifan Perfusi Serebral:
- Pantau status neurologis
- Pertahankan posisi kepala elevasi 30-45 derajat
- Pantau oksigenasi dan perfusi serebral
- Berikan terapi untuk meningkatkan perfusi serebral
Dengan penerapan rencana asuhan keperawatan yang komprehensif ini, diharapkan dapat membantu dalam mencapai luaran yang diinginkan bagi pasien Tn T.