Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25984 | 30 May 2026
Klinis : Pasien dengan penurunan kesadaran, demam, sesak nafas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran, Demam, Sesak Nafas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Nafas Meningkat
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Jalan Nafas
Kondisi: Penurunan Kesadaran, Demam, Sesak Nafas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pola Nafas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.01004
Deskripsi : Pola Nafas Membaik
Kode SIKI: I.01012
Deskripsi : Pemantauan Respirasi
Kondisi: Penurunan Kesadaran, Demam, Sesak Nafas
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi Membaik
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia
Kondisi: Penurunan Kesadaran, Demam, Sesak Nafas
Kode SDKI: D.0057
Deskripsi Singkat: Risiko Aspirasi
Kode SLKI: L.03023
Deskripsi : Tingkat Aspirasi Menurun
Kode SIKI: I.01014
Deskripsi : Pencegahan Aspirasi
Kondisi: Penurunan Kesadaran, Demam, Sesak Nafas
Kode SDKI: D.0065
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik
Kode SIKI: I.01022
Deskripsi : Terapi Oksigen
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI untuk Kondisi Pasien dengan Penurunan Kesadaran, Demam, dan Sesak Nafas
Pasien dengan penurunan kesadaran, demam, dan sesak nafas merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera. Ketiga gejala ini seringkali saling berkaitan dan menunjukkan adanya gangguan pada sistem saraf pusat, sistem pernapasan, dan sistem termoregulasi. Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), terdapat beberapa diagnosa keperawatan yang relevan. Berikut adalah penjelasan mendalam untuk setiap diagnosa yang telah diidentifikasi:
1. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif (D.0005)
Definisi SDKI: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran nafas untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten. Pada pasien dengan penurunan kesadaran, refleks batuk dan kemampuan untuk menelan menurun drastis. Hal ini menyebabkan akumulasi sekret (lendir, dahak) di saluran nafas. Demam yang tinggi dapat meningkatkan kekentalan sekret, sehingga semakin sulit untuk dikeluarkan. Akumulasi sekret ini menyebabkan sumbatan jalan nafas, yang bermanifestasi sebagai sesak nafas, bunyi nafas tambahan seperti ronkhi atau wheezing, dan penurunan saturasi oksigen. Penyebab lain termasuk spasme otot polos bronkus akibat infeksi atau iritasi, dan posisi pasien yang tidak optimal (misalnya terlentang datar) yang memudahkan lidah jatuh ke belakang dan menyumbat faring.
SLKI (L.01001): Bersihan Jalan Nafas Meningkat. Luaran yang diharapkan meliputi: frekuensi nafas dalam rentang normal (16-20x/menit), tidak ada bunyi nafas tambahan, kemampuan batuk efektif kembali, produksi sekret berkurang, dan saturasi oksigen >95%. Kriteria ini diukur dalam skala 1-5, dengan target minimal skala 4 (cukup meningkat) atau 5 (meningkat) dalam waktu yang ditentukan.
SIKI (I.01011): Manajemen Jalan Nafas. Intervensi utama meliputi: posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru dan drainase sekret; lakukan fisioterapi dada (clapping dan vibrasi) untuk mengencerkan dan mengeluarkan sekret; lakukan suction (pengisapan lendir) secara steril dan sesuai indikasi (jika pasien tidak mampu batuk); berikan oksigenasi sesuai kebutuhan; kolaborasi pemberian bronkodilator atau mukolitik; dan monitor status respirasi setiap 1-2 jam.
2. Pola Nafas Tidak Efektif (D.0001)
Definisi SDKI: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. Kondisi sesak nafas pada pasien ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Selain obstruksi jalan nafas, demam tinggi menyebabkan peningkatan metabolisme tubuh, sehingga kebutuhan oksigen meningkat. Tubuh berusaha memenuhinya dengan meningkatkan frekuensi nafas (takipnea). Namun, pada penurunan kesadaran, pusat pernafasan di otak (medula oblongata) dapat tertekan, sehingga pola nafas menjadi tidak teratur, dangkal (hipoventilasi), atau bahkan mengalami pola nafas abnormal seperti Cheyne-Stokes. Ketidakseimbangan antara upaya tubuh dan kemampuan pusat nafas menyebabkan pola nafas tidak efektif.
SLKI (L.01004): Pola Nafas Membaik. Kriteria luaran meliputi: frekuensi nafas dalam rentang normal, kedalaman nafas adekuat (tidak dangkal), irama nafas teratur, tidak ada penggunaan otot bantu nafas (seperti retraksi dada, pernapasan cuping hidung), dan tidak ada sianosis. Target luaran adalah tercapainya pola nafas yang efektif dalam jangka waktu intervensi.
SIKI (I.01012): Pemantauan Respirasi. Intervensi ini bersifat observasi dan monitoring yang kritis. Perawat harus memonitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya nafas setiap 1-2 jam atau lebih sering jika kondisi memburuk. Monitor saturasi oksigen dengan pulse oximetry. Auskultasi bunyi nafas untuk mendeteksi adanya obstruksi atau konsolidasi. Monitor nilai analisis gas darah (AGD) jika tersedia, untuk menilai status oksigenasi dan ventilasi. Dokumentasikan temuan secara akurat untuk membantu evaluasi medis dan keperawatan. Intervensi ini menjadi dasar untuk pengambilan keputusan intervensi selanjutnya, seperti pemberian oksigen atau ventilasi mekanik.
3. Hipertermia (D.0014)
Definisi SDKI: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal ( >37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi. Demam pada pasien ini merupakan respons sistemik terhadap infeksi (misalnya pneumonia, meningitis, sepsis). Pirogen (zat penyebab demam) dari bakteri atau virus memicu hipotalamus untuk menaikkan set point suhu tubuh. Demam yang sangat tinggi (hiperpireksia) dapat memperburuk penurunan kesadaran dan meningkatkan kebutuhan oksigen, yang pada akhirnya memperberat sesak nafas. Hipertermia juga menyebabkan dehidrasi, yang mengentalkan sekret dan memperburuk bersihan jalan nafas.
SLKI (L.14134): Termoregulasi Membaik. Luaran yang diharapkan adalah suhu tubuh kembali ke rentang normal (36-37,5°C), tidak ada menggigil, kulit teraba hangat dan kering (tidak demam), dan tanda-tanda vital lainnya stabil (nadi dan nafas tidak terlalu cepat akibat demam).
SIKI (I.15506): Manajemen Hipertermia. Intervensi meliputi: monitor suhu tubuh setiap 1-2 jam; berikan kompres hangat pada lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan) untuk membantu vasodilatasi dan pengeluaran panas; berikan cairan intravena sesuai order untuk mencegah dehidrasi; kolaborasi pemberian antipiretik (misalnya parasetamol) sesuai indikasi; dan atur suhu lingkungan yang sejuk. Penting untuk tidak memberikan kompres dingin atau alkohol karena dapat menyebabkan menggigil, yang justru meningkatkan produksi panas internal.
4. Risiko Aspirasi (D.0057)
Definisi SDKI: Berisiko mengalami masuknya sekret, cairan, atau partikel asing ke dalam saluran nafas bagian bawah. Penurunan kesadaranArticle No. 25985 | 30 May 2026
Klinis : intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas adalah keadaan di mana individu mengalami ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan. Kondisi ini ditandai dengan respons abnormal terhadap aktivitas, seperti peningkatan denyut jantung, perubahan tekanan darah, sesak napas, atau kelelahan yang berlebihan. Intoleransi aktivitas sering terjadi pada pasien dengan masalah kardiovaskular, pernapasan, metabolik, atau muskuloskeletal, serta pada mereka yang menjalani tirah baring lama.
Kode SLKI: L.05047
Deskripsi : Toleransi Aktivitas adalah luaran yang menggambarkan kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa mengalami gejala intoleransi yang signifikan. Luaran ini mencakup indikator seperti frekuensi nadi dalam batas normal saat dan setelah aktivitas, tekanan darah stabil, tidak ada sesak napas, tidak ada kelelahan berlebihan, serta kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara bertahap. Skala luaran berkisar dari 1 (memburuk) hingga 5 (meningkat). Tujuan intervensi adalah untuk mencapai peningkatan toleransi aktivitas, di mana pasien mampu meningkatkan durasi dan intensitas aktivitas tanpa mengalami gejala yang mengganggu.
Kode SIKI: I.05193
Deskripsi : Manajemen Energi adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengelola dan mengoptimalkan penggunaan energi pasien guna mencegah kelelahan dan meningkatkan toleransi terhadap aktivitas. Intervensi ini meliputi pengkajian faktor-faktor yang menyebabkan kelelahan (seperti kondisi medis, obat-obatan, atau gangguan tidur), pengaturan aktivitas dan istirahat secara terjadwal, teknik penghematan energi (seperti duduk saat melakukan aktivitas, menggunakan alat bantu, atau membagi aktivitas menjadi langkah-langkah kecil), serta edukasi kepada pasien dan keluarga tentang cara memonitor respons tubuh terhadap aktivitas (misalnya mengukur denyut nadi, mengamati tanda-tanda sesak napas). Intervensi ini juga mencakup kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan bertahap dan pemberian oksigen tambahan jika diperlukan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas (Lanjutan - Detail SDKI)
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Definisi SDKI untuk Intoleransi Aktivitas adalah ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan objektif. Data subjektif meliputi keluhan pasien tentang kelelahan, lemah, atau tidak kuat melakukan aktivitas. Data objektif meliputi tanda-tanda vital yang abnormal setelah aktivitas (misalnya peningkatan denyut jantung >20% dari baseline, peningkatan tekanan darah sistolik >15 mmHg, atau penurunan saturasi oksigen <90%), dispnea, pucat, diaforesis, atau perubahan irama jantung. Faktor-faktor yang berhubungan meliputi tirah baring lama, kelemahan otot, penyakit kardiovaskular (gagal jantung, penyakit jantung koroner), penyakit pernapasan (PPOK, asma), anemia, malnutrisi, gangguan metabolik (diabetes, obesitas), atau efek samping obat (misalnya beta-blocker). Diagnosis ini dapat dibedakan menjadi tiga tingkat keparahan: ringan (gejala muncul setelah aktivitas berat), sedang (gejala muncul setelah aktivitas ringan-sedang), dan berat (gejala muncul saat istirahat atau aktivitas minimal).
Kode SLKI: L.05047
Deskripsi : Luaran Toleransi Aktivitas (SLKI) memiliki beberapa indikator utama yang diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Indikator pertama adalah respons kardiopulmoner terhadap aktivitas, yang mencakup frekuensi nadi, frekuensi napas, tekanan darah, dan saturasi oksigen. Indikator kedua adalah keluhan subjektif seperti rasa lelah, sesak, atau nyeri dada. Indikator ketiga adalah kemampuan melakukan aktivitas perawatan diri (misalnya mandi, berpakaian, makan) dan mobilitas (berjalan, naik tangga). Skala pengukuran menggunakan Likert 1-5, di mana skor 1 berarti toleransi aktivitas sangat menurun (pasien tidak mampu melakukan aktivitas apa pun tanpa gejala), skor 2 menurun (aktivitas minimal menimbulkan gejala), skor 3 cukup (aktivitas sedang menimbulkan gejala), skor 4 meningkat (aktivitas berat menimbulkan gejala ringan), dan skor 5 meningkat secara signifikan (mampu melakukan aktivitas berat tanpa gejala). Target luaran biasanya ditetapkan bersama pasien dan disesuaikan dengan kondisi klinis, misalnya mencapai skor 4 dalam waktu 3 hari perawatan.
Kode SIKI: I.05193
Deskripsi : Manajemen Energi (SIKI) sebagai intervensi utama untuk intoleransi aktivitas memiliki aktivitas keperawatan yang terstruktur. Aktivitas pertama adalah pengkajian komprehensif yang mencakup identifikasi faktor penyebab (penyakit, obat, psikologis), pola aktivitas dan istirahat 24 jam, serta tingkat energi baseline. Aktivitas kedua adalah perencanaan jadwal aktivitas dan istirahat yang seimbang, misalnya 30 menit aktivitas diikuti 15 menit istirahat. Aktivitas ketiga adalah teknik konservasi energi, seperti mengajarkan pasien untuk duduk saat menyisir rambut, menggunakan kursi roda untuk perjalanan jauh, atau menyimpan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan. Aktivitas keempat adalah monitoring respons fisiologis selama dan setelah aktivitas, termasuk mengukur denyut nadi (tidak boleh melebihi 20 denyut per menit dari baseline), tekanan darah, dan skala Borg untuk mengukur tingkat sesak napas (RPE 0-10). Aktivitas kelima adalah edukasi tentang pentingnya nutrisi adekuat dan hidrasi untuk mendukung energi. Aktivitas keenam adalah kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti ahli gizi untuk diet tinggi protein dan kalori, serta fisioterapis untuk latihan penguatan otot progresif. Evaluasi dilakukan setiap hari untuk menyesuaikan rencana intervensi berdasarkan perkembangan pasien.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas (Lanjutan - Aplikasi Klinis)
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Dalam praktik klinis, diagnosis Intoleransi Aktivitas sering dikaitkan dengan diagnosis keperawatan lain seperti Defisit Perawatan Diri, Gangguan Mobilitas Fisik, atau Kelelahan. Contoh kasus: Seorang pasien gagal jantung kongestif (CHF) kelas fungsional III mengeluh sesak napas setelah berjalan 10 meter. Data objektif menunjukkan denyut jantung meningkat dari 80 menjadi 110 bpm, tekanan darah dari 120/80 menjadi 140/90 mmHg, dan saturasi oksigen turun dari 97% menjadi 91%. Pasien tampak pucat dan berkeringat. Diagnosis Intoleransi Aktivitas ditegakkan dengan faktor berhubungan: penurunan curah jantung sekunder akibat gagal jantung. Perencanaan keperawatan difokuskan pada manajemen energi dengan target pasien mampu berjalan 20 meter tanpa sesak dalam 3 hari. Intervensi meliputi pengaturan posisi semi-Fowler saat istirahat, pemberian oksigen 2 liter per menit selama aktivitas, pembatasan aktivitas menjadi 5 menit setiap sesi dengan istirahat 10 menit, serta edukasi untuk melaporkan gejala seperti pusing atau nyeri dada.
Kode SLKI: L.05047
Deskripsi : Untuk kasus di atas, luaran Toleransi Aktivitas diukur setiap shift. Indikator yang dipantau adalah frekuensi nadi (target <100 bpm saat aktivitas), saturasi oksigen (target >94%), dan skala kelelahan (target <3 pada skala 0-10). Setelah 24 jam, pasien menunjukkan perbaikan: denyut nadi saat berjalan 10 meter hanya meningkat menjadi 95 bpm, saturasi oksigen stabil 95%, dan skala kelelahan menurun dari 7 menjadi 4. Setelah 72 jam, pasien mampu berjalan 20 meter dengan denyut nadi 100 bpm, saturasi 94%, dan skala kelelahan 3. Luaran ini menunjukkan bahwa intervensi manajemen energi efektif. Dokumentasi luaran dilakukan secara naratif dan menggunakan skala SLKI, misalnya: "Toleransi Aktivitas meningkat dari skor 2 (menurun) menjadi skor 4 (meningkat) dalam 3 hari perawatan."
Kode SIKI: I.05193
Deskripsi : Implementasi Manajemen Energi pada pasien CHF tersebut meliputi langkah-langkah spesifik. Pertama, perawat mengukur tanda-tanda vital sebelum aktivitas sebagai baseline. Kedua, perawat mengatur lingkungan agar suhu ruangan sejuk (22-24°C) dan bebas dari hambatan. Ketiga, perawat mengajarkan teknik pernapasan diafragma untuk mengurangi sesak napas saat aktivitas. Keempat, perawat menyediakan alat bantu seperti kursi roda untuk perjalanan ke kamar mandi. Kelima, perawat memonitor respons setiap 5 menit selama aktivitas dan menghentikan aktivitas jika denyut nadi >120 bpm, tekanan darah sistolik >160 mmHg, atau pasien mengeluh pusing. Keenam, perawat memberikan edukasi kepada keluarga tentang cara membantu pasien saat aktivitas tanpa membuat pasien kelelahan. Ketujuh, perawat berkolaborasi dengan dokter untuk menyesuaikan dosis diuretik atau vasodilator guna mengoptimalkan curah jantung. Evaluasi dilakukan setiap hari dengan mencatat kemajuan dalam lembar observasi. Hasil akhir menunjukkan pasien dapat pulang dengan kemampuan mandiri melakukan aktivitas ringan (mand
Article No. 25986 | 30 May 2026
Klinis : nyonya seorang wanita berusia 50 tahun dirawat di ruang onkologi untuk menjalani siklus kemoterapi kombinasi pak litakel dan distapeline yang ketiga pasien masuk dengan keluhan utama badan terasa sangat lemah sejak kemoterapi terakhir bahkan saat melakukan aktivitas ringan seperti ke kamar mandi pasien juga mengeluhkan mual dan muntah yang sering terjadi terutama di pagi hari disertai lidah terasa pahit sehingga nafsu makan menurun drastis dan pasien sulit makan. selain itu nyonya es mengeluhkan adanya sensasi kesemutan atau prestasi ya pada ujung jari tangan dan kaki yang dirasakan sejak 2 minggu terakhir akibat kemoterapi rambut pasien mulai mengalami kerontokan berat kondisi kerontokan ini membuat nyonya es merasa minder malu untuk bertemu dengan orang lain dan menjadi jarang keluar rumah saat ditanya oleh perawat pasien tampak gelisah sering bertanya berulang kali mengenai kondisinya serta mengaku bahwa dirinya takut jika penyakitnya tidak akan kunjung sembuh pas nyonya es juga merasa khawatir dan cemas tiap kali jadwal kemoterapi berikutnya sudah dekat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan, luaran keperawatan, dan intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) berdasarkan kondisi Ny. ES, beserta penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI.