Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26061 | 01 Jun 2026
Klinis : Resiko infeksi thalasemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi pada Pasien Thalassemia
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kerentanan seseorang terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan. Pada pasien thalassemia, risiko ini sangat tinggi karena beberapa faktor patofisiologis yang kompleks. Thalassemia adalah kelainan darah genetik yang menyebabkan produksi hemoglobin tidak normal, mengakibatkan anemia kronis. Pasien thalassemia mayor, yang bergantung pada transfusi darah seumur hidup, menghadapi risiko infeksi yang multifaktorial. Pertama, anemia kronis dan eritropoiesis inefektif di sumsum tulang menyebabkan penurunan jumlah dan fungsi sel darah merah, yang secara tidak langsung melemahkan sistem imun. Kedua, splenomegali (pembesaran limpa) sering terjadi akibat peningkatan kerja limpa dalam membersihkan sel darah merah abnormal, dan pada banyak kasus, splenektomi (pengangkatan limpa) dilakukan untuk mengurangi kebutuhan transfusi. Limpa merupakan organ vital dalam sistem kekebalan, terutama untuk melawan bakteri berkapsul seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae tipe b, dan Neisseria meningitidis. Tanpa limpa, kemampuan tubuh untuk membersihkan bakteri dari aliran darah sangat berkurang, meningkatkan risiko sepsis fulminan. Ketiga, kelebihan zat besi (iron overload) akibat transfusi berulang dan peningkatan absorpsi besi di usus merupakan faktor utama. Zat besi bebas bersifat toksik dan menyediakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jamur. Kelebihan besi juga mengganggu fungsi fagositosis neutrofil dan makrofag, serta menekan aktivitas sel T dan B, sehingga respons imun humoral dan seluler menjadi tidak optimal. Keempat, akses vaskular untuk transfusi, seperti port-a-cath atau fistula, merupakan pintu masuk potensial bagi bakteri. Infeksi terkait kateter, termasuk bakteremia dan infeksi lokal, sering terjadi. Kelima, pasien thalassemia sering menjalani terapi kelasi besi (misalnya, deferoksamin, deferipron, deferasirox). Meskipun penting untuk mengurangi kelebihan besi, beberapa agen kelasi, terutama deferoksamin, dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi tertentu, seperti Yersinia enterocolitica dan mucormycosis. Faktor lain termasuk malnutrisi akibat gangguan penyerapan nutrisi, dan seringnya rawat inap yang meningkatkan paparan terhadap patogen nosokomial. Risiko infeksi pada thalassemia bukan hanya ancaman langsung, tetapi juga dapat memperburuk anemia, memicu krisis hemolitik, dan mempercepat kerusakan organ akibat besi. Oleh karena itu, diagnosis ini sangat krusial untuk perencanaan asuhan keperawatan yang komprehensif dan preventif.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Tingkat Infeksi adalah luaran keperawatan yang mengukur status kesehatan pasien terkait ada tidaknya tanda dan gejala infeksi, serta kemampuan tubuh untuk melawan patogen. Pada pasien thalassemia dengan risiko infeksi, luaran yang diharapkan adalah tidak terjadi infeksi atau jika terjadi, dapat terdeteksi dan ditangani secara dini. Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi luaran ini meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C), tanpa demam yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Demam pada pasien thalassemia harus selalu dianggap sebagai infeksi sampai terbukti bukan, karena demam bisa menjadi satu-satunya tanda awal sepsis. (2) Jumlah leukosit dalam batas normal (4.000-10.000/mm³) dengan hitung jenis yang normal, meskipun perlu diingat bahwa splenektomi dapat menyebabkan leukositosis persisten yang bukan merupakan tanda infeksi. (3) Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal seperti kemerahan, bengkak, hangat, nyeri, atau pus pada area akses vaskular, luka operasi (misalnya bekas splenektomi), atau lokasi lain. (4) Tidak ada gejala sistemik seperti menggigil, takikardia, takipnea, atau penurunan tekanan darah yang mengindikasikan sepsis. (5) Kultur darah, urin, atau spesimen lain negatif untuk pertumbuhan patogen. (6) Tidak ada peningkatan kadar C-reactive protein (CRP) atau prokalsitonin yang signifikan, yang merupakan penanda inflamasi dan infeksi. (7) Pasien atau keluarga mampu mendemonstrasikan teknik pencegahan infeksi, seperti mencuci tangan dengan benar, merawat akses vaskular, dan mengenali tanda awal infeksi untuk segera melapor. Skala pengukuran luaran ini biasanya menggunakan skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal pada skala 4 (cukup membaik) atau 5 (membaik) setelah intervensi keperawatan. Pada pasien thalassemia, pencapaian luaran ini memerlukan kerjasama multidisiplin, termasuk dokter, perawat, ahli gizi, dan apoteker, serta edukasi berkelanjutan kepada pasien dan keluarga. Keberhasilan luaran ini sangat bergantung pada kepatuhan terhadap profilaksis antibiotik, vaksinasi, dan manajemen kelasi besi yang optimal. Jika infeksi terjadi, luaran ini juga mengukur seberapa cepat dan efektif penanganan dilakukan untuk mencegah komplikasi serius.
Kode SIKI: I.14534
Deskripsi : Manajemen Risiko Infeksi adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi pada pasien yang rentan. Pada pasien thalassemia, intervensi ini harus bersifat komprehensif dan berkelanjutan, mencakup aspek preventif, edukatif, dan kolaboratif. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi faktor risiko spesifik pada pasien, seperti status splenektomi, kadar feritin serum (untuk menilai kelebihan besi), jenis akses vaskular, dan riwayat infeksi sebelumnya. (2) Pemantauan tanda-tanda vital secara ketat, terutama suhu tubuh, setiap 4-8 jam atau lebih sering jika ada kecurigaan infeksi. Perawat harus waspada terhadap demam ringan yang berkepanjangan. (3) Perawatan akses vaskular sesuai dengan standar prosedur operasional, termasuk teknik aseptik saat mengganti balutan, spuit, dan set infus. Inspeksi area insersi setiap hari untuk tanda-tanda infeksi. (4) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan tangan yang ketat menggunakan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer berbasis alkohol, terutama sebelum dan sesudah menyentuh akses vaskular, setelah menggunakan toilet, dan sebelum makan. (5) Edukasi tentang perawatan luka, terutama jika pasien menjalani splenektomi atau prosedur invasif lainnya. Ajarkan cara membersihkan luka dengan larutan antiseptik dan mengganti balutan secara steril. (6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian profilaksis antibiotik sesuai indikasi. Pasien pasca splenektomi biasanya memerlukan antibiotik profilaksis oral jangka panjang, seperti penisilin atau eritromisin, untuk mencegah infeksi bakteri berkapsul. Perawat bertanggung jawab memastikan kepatuhan minum obat dan memantau efek samping. (7) Kolaborasi untuk pemberian vaksinasi yang direkomendasikan, termasuk vaksin pneumokokus (PCV13 dan PPSV23), vaksin Haemophilus influenzae tipe b (Hib), vaksin meningokokus, dan vaksin influenza tahunan. Vaksinasi sebaiknya diberikan sebelum splenektomi jika memungkinkan. (8) Manajemen kelebihan zat besi melalui kepatuhan terhadap terapi kelasi besi. Perawat perlu mengedukasi tentang pentingnya minum obat kelasi sesuai jadwal, memantau efek samping (misalnya gangguan pendengaran pada deferoksamin, neutropenia pada deferipron), dan melaporkan gejala infeksi yang mencurigakan seperti demam dan nyeri perut (untuk Yersinia). (9) Anjuran nutrisi yang adekuat dengan asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup untuk mendukung fungsi imun. Konsultasi dengan ahli gizi mungkin diperlukan. (10) Lingkungan yang bersih dan bebas dari sumber infeksi. Pasien dengan risiko tinggi mungkin perlu dirawat di ruang isolasi jika ada infeksi yang mudah menular. (11) Pemantauan hasil laboratorium seperti hitung darah lengkap, CRP, dan kultur jika ada indikasi. (12) Dokumentasi semua intervensi dan respons pasien secara akurat. Intervensi ini tidak hanya dilakukan di rumah sakit, tetapi juga harus dilanjutkan di rumah dengan dukungan telemedicine atau kunjungan rumah. Tujuan akhir dari manajemen risiko infeksi adalah mencegah morbiditas dan mortalitas akibat infeksi, yang merupakan penyebab utama kematian pada pasien thalassemia setelah komplikasi kardiak akibat kelebihan besi. Perawat memegang peran sentral sebagai koordinator perawatan, edukator, dan advokat pasien.
-
Article No. 26062 | 01 Jun 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan kaki terkena gout dan ada luka
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit/Jaringan pada Pasien Gout dengan Luka
Kode SDKI: D.0129
Deskripsi Singkat: Gangguan integritas kulit/jaringan adalah kerusakan pada kulit dan atau jaringan di bawahnya (dermis, epidermis, mukosa, subkutan, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, ligamen, dan/atau kapsul sendi) yang dapat disebabkan oleh faktor mekanis (seperti trauma, gesekan, penekanan), faktor termal, faktor kimia, faktor infeksi, atau faktor metabolik. Pada kondisi gout, penumpukan kristal urat monosodium di sendi dan jaringan periartikular dapat menyebabkan inflamasi akut yang ditandai dengan kemerahan, bengkak, nyeri hebat, dan peningkatan suhu lokal. Inflamasi kronis pada gout tophaceous dapat menyebabkan penipisan kulit, nekrosis, dan pembentukan ulkus (luka) yang sering disebut sebagai tophus yang pecah atau ulkus gout. Luka ini seringkali sulit sembuh karena adanya kristal urat yang terus mengiritasi jaringan, gangguan vaskularisasi akibat inflamasi, serta kemungkinan infeksi sekunder. Secara klinis, pasien dengan gout dan luka akan mengalami kerusakan lapisan epidermis dan dermis yang tampak sebagai luka terbuka, eksudat, kemerahan, dan nyeri. Dampaknya meliputi risiko infeksi lokal hingga sistemik, gangguan mobilitas karena nyeri, gangguan citra tubuh, dan peningkatan lama perawatan. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh ada luka, nyeri, rasa tidak nyaman) dan data objektif (adanya luka dengan karakteristik tertentu seperti tepi luka yang ireguler, dasar luka berwarna kemerahan atau kehitaman, eksudat purulen atau serosanguinus, serta adanya tophi yang teraba). Pada gout, luka sering terletak di area sendi yang terkena seperti metatarsophalangeal (jempol kaki), pergelangan kaki, atau lutut. Penanganan yang tepat meliputi manajemen kelembaban luka, kontrol inflamasi gout, dan pencegahan infeksi.
Kode SLKI: L.14101
Deskripsi : Integritas Kulit dan Jaringan adalah kondisi kulit dan jaringan di bawahnya yang utuh, bebas dari kerusakan, serta memiliki fungsi perlindungan, sensasi, dan termoregulasi yang optimal. Luaran yang diharapkan pada pasien dengan gangguan integritas kulit/jaringan akibat gout dan luka adalah: (1) Perfusi jaringan meningkat, ditandai dengan warna kulit kembali normal, suhu kulit hangat, dan tidak ada edema; (2) Kerusakan jaringan menurun, ditandai dengan ukuran luka mengecil, kedalaman luka berkurang, tepi luka mulai mendekat, dan tidak ada jaringan nekrotik; (3) Nyeri berkurang, ditandai dengan skala nyeri menurun dari 4-6 menjadi 0-2 (skala 0-10), pasien tampak rileks, dan tidak mengeluh nyeri saat perawatan luka; (4) Infeksi tidak terjadi, ditandai dengan tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus, bau busuk, eritema meluas, atau peningkatan suhu tubuh; (5) Mobilisasi fisik meningkat, ditandai dengan pasien mampu melakukan pergerakan sendi yang terkena gout secara bertahap tanpa bantuan alat; (6) Kepuasan pasien terhadap penampilan luka meningkat, ditandai dengan pasien menerima kondisi lukanya dan bersedia melakukan perawatan secara mandiri. Kriteria hasil ini diukur menggunakan skala likert 1-5, dengan target skor 4 (cukup meningkat) atau 5 (meningkat). Intervensi keperawatan difokuskan pada pencapaian luaran ini, termasuk edukasi tentang perawatan luka, manajemen nyeri, dan pengaturan diet rendah purin untuk mengontrol kadar asam urat.
Kode SIKI: I.14573
Deskripsi : Perawatan Luka adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk membersihkan, merawat, dan memonitor luka guna mencegah infeksi, mempercepat penyembuhan, serta meminimalkan kerusakan jaringan lebih lanjut. Pada pasien gout dengan luka, intervensi ini meliputi: (1) Observasi: monitor karakteristik luka (lokasi, ukuran, kedalaman, warna, eksudat, bau, tepi luka, dan tanda infeksi), monitor sirkulasi perifer (warna, suhu, capillary refill, denyut nadi distal), monitor nyeri (skala, durasi, frekuensi, faktor pencetus), dan monitor kadar asam urat serum sebagai faktor penyebab. (2) Terapeutik: lakukan pembersihan luka dengan larutan NaCl 0,9% atau cairan pembersih luka non-toksik (seperti aquadest steril atau larutan antiseptik ringan sesuai protokol rumah sakit) untuk menghilangkan debris, eksudat, dan kristal urat; lakukan debridemen jaringan nekrotik atau tophus yang longgar secara hati-hati (jika ada indikasi dan kewenangan perawat, atau rujuk ke dokter) untuk mempercepat pertumbuhan jaringan granulasi; aplikasikan dressing primer sesuai prinsip kelembaban luka (moist wound healing) seperti hidrogel untuk luka kering, alginat atau foam untuk luka dengan eksudat sedang-berat, atau film transparan untuk luka superfisial; ganti balutan setiap hari atau sesuai kondisi eksudat; berikan kompres dingin pada area inflamasi gout akut (bukan pada luka terbuka) untuk mengurangi edema dan nyeri; kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik (misal NSAID atau kolkisin) dan obat penurun asam urat (misal allopurinol atau febuxostat) sesuai program medis. (3) Edukasi: ajarkan pasien dan keluarga cara merawat luka mandiri di rumah (teknik membersihkan luka, mengganti balutan, mengenali tanda infeksi), edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan kaki (keringkan sela-sela jari, gunakan alas kaki yang longgar dan bersih), edukasi diet rendah purin (hindari jeroan, seafood, daging merah, alkohol, dan minuman manis), serta edukasi tentang pentingnya kontrol asam urat rutin. (4) Kolaborasi: rujuk ke dokter spesialis bedah ortopedi atau vaskuler jika luka meluas, dalam, atau tidak menunjukkan perbaikan dalam 2-4 minggu; rujuk ke ahli gizi untuk perencanaan diet rendah purin. Frekuensi intervensi disesuaikan dengan kondisi luka, minimal sekali sehari untuk luka dengan eksudat sedang, atau lebih sering jika luka basah dan terinfeksi. Dokumentasi dilakukan setiap kali perawatan luka dengan format yang jelas (tanggal, jam, karakteristik luka, tindakan yang dilakukan, respons pasien).
-
Article No. 26063 | 01 Jun 2026
Klinis : B. Data Fokus (Pengkajian Vital Sign & Keluhan) Tanda Vital : ● GCS: 3 ● TD: 102/75 mmHg ● Nadi: 110 x/menit ● RR: 26 x/menit ● SpO2: 97% ● Suhu: 36.8°C Keluhan Utama : Penurunan kesadaran, kejang, dan kelemahan anggota gerak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (GCS 3) dengan Kejang dan Kelemahan Anggota Gerak
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah kondisi klinis di mana terjadi penurunan responsivitas dan kewaspadaan terhadap stimulus internal maupun eksternal. Pada pasien ini, GCS 3 menunjukkan koma dalam, yang berarti tidak ada respons verbal, motorik, maupun buka mata terhadap rangsangan nyeri. Kondisi ini disertai kejang yang mengindikasikan aktivitas listrik abnormal di otak, serta kelemahan anggota gerak yang menandakan adanya gangguan pada sistem saraf pusat atau motorik. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti cedera otak traumatik, stroke, infeksi sistem saraf pusat (misalnya meningitis), gangguan metabolik (hipoglikemia, uremia), intoksikasi obat, atau hipoksia serebral. Kejang pada pasien dengan penurunan kesadaran dapat memperburuk kondisi karena meningkatkan konsumsi oksigen otak dan risiko cedera sekunder. Kelemahan anggota gerak sering kali merupakan manifestasi dari lesi pada area motorik otak atau jalur kortikospinal. Penurunan kesadaran tingkat berat memerlukan penanganan segera untuk mencegah kerusakan otak permanen, herniasi otak, atau kematian. Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan status neurologis secara ketat, manajemen jalan napas, dukungan ventilasi, pencegahan cedera, serta kolaborasi dengan tim medis untuk identifikasi dan penanganan penyebab dasar.
Kode SLKI: L.08014
Deskripsi : Tingkat Kesadaran adalah status responsivitas dan kewaspadaan seseorang terhadap lingkungan dan stimulus. Pada pasien ini, luaran yang diharapkan adalah meningkatnya tingkat kesadaran yang ditandai dengan perbaikan skor GCS secara bertahap, misalnya dari GCS 3 menjadi GCS 4-5 dalam 24-48 jam pertama, dengan indikator: (1) Respons buka mata spontan atau terhadap rangsang suara; (2) Respons motorik terhadap perintah sederhana atau terhadap rangsang nyeri dengan tujuan tertentu; (3) Respons verbal yang dapat berupa suara tidak jelas atau kata-kata yang tidak sesuai. Kriteria hasil lainnya meliputi: tidak ada kejang berulang, kekuatan otot anggota gerak meningkat dari 0 (paralisis total) menjadi 1-2 (kontraksi otot tanpa gerakan sendi atau gerakan dengan bantuan gravitasi), serta tanda-tanda vital stabil terutama tekanan darah dan frekuensi nadi dalam rentang normal untuk mencegah hipoperfusi serebral. Selain itu, pasien diharapkan tidak mengalami peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan tidak adanya muntah proyektil, pupil isokor dan reaktif, serta pola napas teratur. Pemantauan dilakukan setiap 1-2 jam pada fase akut menggunakan skala GCS dan pemeriksaan neurologis lainnya. Pencapaian luaran ini memerlukan penanganan multidisiplin yang cepat dan tepat.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Manajemen Penurunan Kesadaran adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan fungsi vital, mencegah komplikasi, dan memfasilitasi pemulihan kesadaran pada pasien dengan GCS rendah. Intervensi utama meliputi: (1) Pemantauan neurologis ketat: lakukan penilaian GCS setiap 1-2 jam, pantau ukuran dan reaktivitas pupil, serta tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti hipertensi, bradikardia, dan pola napas tidak teratur (triad Cushing). (2) Manajemen jalan napas: posisikan pasien lateral atau semi-fowler untuk mencegah aspirasi, lakukan suction endotrakeal sesuai kebutuhan jika terpasang ETT, dan pastikan oksigenasi adekuat dengan target SpO2 >95%. (3) Dukungan ventilasi: kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan ventilator mekanik jika RR tidak adekuat atau terjadi hipoventilasi, atur parameter ventilator sesuai anjuran, dan pantau analisis gas darah. (4) Pencegahan cedera: pasang side rail tempat tidur, gunakan pelindung kepala, dan pertahankan lingkungan yang tenang untuk mengurangi stimulus yang dapat memicu kejang. (5) Manajemen kejang: observasi onset, durasi, dan jenis kejang; berikan oksigen selama kejang; kolaborasi pemberian antikonvulsan seperti diazepam atau fenitoin sesuai protokol; dan dokumentasikan aktivitas kejang. (6) Perawatan integritas kulit: lakukan reposisi setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus, gunakan matras anti-dekubitus, dan lakukan perawatan mulut untuk mencegah stomatitis. (7) Manajemen nutrisi dan cairan: kolaborasi pemasangan NGT untuk pemberian nutrisi enteral jika pasien belum sadar, pantau keseimbangan cairan dan elektrolit, serta hindari overhidrasi yang dapat memperburuk edema serebral. (8) Edukasi keluarga: berikan informasi tentang kondisi pasien secara jujur dan empatik, ajarkan cara memantau tanda bahaya seperti kejang atau perubahan pupil, serta libatkan keluarga dalam perawatan dasar seperti memijat atau mengompres untuk mengurangi kecemasan. Evaluasi intervensi dilakukan setiap shift dengan mengukur perubahan GCS, frekuensi kejang, dan stabilitas hemodinamik.
-
Article No. 26064 | 01 Jun 2026
Klinis : B. Data Fokus (Pengkajian Vital Sign & Keluhan) Tanda Vital : ● GCS: 3 ● TD: 102/75 mmHg ● Nadi: 110 x/menit ● RR: 26 x/menit ● SpO2: 97% ● Suhu: 36.8°C Keluhan Utama : Penurunan kesadaran, kejang, dan kelemahan anggota gerak.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Koma (Penurunan Kesadaran Dalam), Kejang, dan Kelemahan Anggota Gerak
Kode ICD-10: R40.20 (Koma, tidak dijelaskan) dan R56.8 (Kejang lainnya dan yang tidak dijelaskan) serta R53.1 (Kelemahan, asthenia)
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan seorang pasien dengan penurunan kesadaran yang sangat dalam, ditandai dengan nilai GCS (Glasgow Coma Scale) 3, yaitu respons mata, verbal, dan motorik yang tidak ada sama sekali. Keadaan ini disebut koma. Tekanan darah pasien cenderung rendah (102/75 mmHg), denyut nadi cepat (110x/menit), dan laju napas meningkat (26x/menit) sebagai respons fisiologis terhadap stres atau kondisi patologis yang mendasarinya. Saturasi oksigen masih dalam batas normal (97%) dan suhu tubuh normal (36.8°C). Keluhan utama juga mencakup kejang, yang merupakan aktivitas listrik abnormal di otak, dan kelemahan anggota gerak yang bisa menandakan adanya lesi atau gangguan pada sistem saraf pusat, misalnya akibat stroke, cedera otak traumatis, infeksi otak (ensefalitis/meningitis), gangguan metabolik, atau keracunan. Kode ICD-10 R40.20 digunakan untuk menandai koma tanpa spesifikasi penyebab. Kode R56.8 digunakan untuk kejang yang tidak terkait dengan epilepsi yang sudah diketahui atau kondisi spesifik lainnya. Kode R53.1 menandai kelemahan umum. Kombinasi kode ini memberikan gambaran awal tentang kondisi akut yang memerlukan evaluasi neurologis dan penunjang segera. Diagnosis pasti memerlukan identifikasi penyebab dasar melalui pemeriksaan lanjutan seperti CT scan kepala, MRI, EEG, dan analisis laboratorium.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26019 | 31 May 2026
Klinis : sesak berkurang, nyeri dada hilang timbul KU sedang, GCS : E4V5M6 TD 95/58 mmHg HR 54 x/ mnit RR 20 x/ mnit SpO2 98% NK 4 lpm CKMB: 35
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut (berhubungan dengan iskemia miokard akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokard)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, serta berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kondisi ini, pasien melaporkan nyeri dada yang hilang timbul (angina pektoris tidak stabil atau infark miokard non-STEMI) dengan tanda-tanda vital yang menunjukkan kompensasi kardiovaskular yang tidak stabil: hipotensi (TD 95/58 mmHg), bradikardia (HR 54x/menit), dan peningkatan CKMB (35) yang mengindikasikan cedera miokard. Meskipun sesak berkurang dan SpO2 normal (98% dengan NK 4 LPM), nyeri dada yang hilang timbul menunjukkan bahwa miokard masih mengalami iskemia intermiten. GCS E4V5M6 menandakan kesadaran baik, sehingga pasien mampu melaporkan nyeri secara verbal. Nyeri ini perlu segera diatasi karena dapat memicu peningkatan kebutuhan oksigen miokard, memperburuk iskemia, dan berpotensi menyebabkan perluasan infark atau aritmia maligna. Karakteristik nyeri dada iskemik biasanya bersifat seperti ditekan, diremas, atau berat, menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung, dan tidak hilang dengan istirahat. Pada pasien ini, nyeri hilang timbul menunjukkan kemungkinan adanya obstruksi parsial arteri koroner yang menyebabkan aliran darah tidak adekuat saat aktivitas minimal atau stres. Bradikardia dan hipotensi dapat menjadi tanda disfungsi ventrikel kanan atau inferior wall infarction yang mempengaruhi nodus sinoatrial. CKMB yang tinggi (35, normal <5 ng/mL) mengonfirmasi adanya nekrosis miokard, meskipun nyeri belum konstan.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (Nyeri Akut) adalah kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, yang menunjukkan penurunan intensitas, frekuensi, dan durasi nyeri, serta peningkatan kenyamanan dan kemampuan pasien dalam mengontrol nyeri. Untuk kondisi ini, luaran yang diharapkan meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun dengan skala nyeri 0-2 (dari skala 0-10) dalam 1x24 jam, (2) Ekspresi wajah rileks dan tidak meringis, (3) Tanda-tanda vital stabil: TD ≥100/60 mmHg, HR 60-100x/menit, RR 16-20x/menit, (4) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus nyeri (aktivitas, emosi, suhu dingin) dan melaporkan nyeri segera, (5) Pasien menunjukkan teknik relaksasi nafas dalam atau distraksi saat nyeri muncul, (6) Tidak ada perubahan EKG baru yang menandakan iskemia lebih lanjut, (7) Kebutuhan oksigen tambahan dapat diturunkan jika kondisi stabil. Target SLKI ini adalah mencapai skor komposit 4-5 (cukup meningkat hingga meningkat) dari skala 1-5. Karena pasien masih memiliki nyeri hilang timbul dan hemodinamik borderline, target awal adalah stabilisasi nyeri dalam 6-8 jam pertama, kemudian eliminasi nyeri total dalam 24-48 jam. Indikator penting lainnya adalah pasien dapat beristirahat dengan tenang dan tidur tanpa terbangun karena nyeri dada, serta tidak memerlukan analgesik narkotik secara berulang.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (Nyeri Akut) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mengontrol nyeri akut melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Intervensi utama meliputi: Observasi: (1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri setiap 2-4 jam atau setiap kali pasien mengeluh nyeri; (2) Pantau tanda-tanda vital (TD, HR, RR, SpO2) setiap 15-30 menit selama episode nyeri akut; (3) Pantau EKG 12 lead untuk mendeteksi perubahan segmen ST atau gelombang T yang mengindikasikan iskemia baru; (4) Pantau kadar CKMB dan troponin serial; (5) Identifikasi skala nyeri menggunakan Numerical Rating Scale (NRS). Terapeutik: (1) Berikan oksigen nasal kanul 2-4 LPM untuk mempertahankan SpO2 ≥95% (saat ini pasien sudah mendapat NK 4 LPM); (2) Pertahankan tirah baring total (bed rest) dengan posisi semi-Fowler atau Fowler untuk mengurangi kebutuhan oksigen miokard; (3) Berikan lingkungan yang tenang, redup, dan batasi pengunjung; (4) Kolaborasi pemberian nitrat sublingual (misal: Nitrogliserin 0,4 mg SL) setiap 5 menit hingga 3 dosis jika nyeri tidak hilang dan TD ≥90 mmHg; (5) Kolaborasi pemberian antiplatelet (Aspirin 160-325 mg kunyah) dan antikoagulan sesuai protokol STEMI/NSTEMI; (6) Kolaborasi pemberian beta-blocker (metoprolol) jika HR >60x/menit dan TD stabil; (7) Kolaborasi pemberian morfin sulfat 2-4 mg IV jika nyeri hebat dan tidak responsif terhadap nitrat, dengan pemantauan ketat RR dan TD. Edukasi: (1) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam: tarik nafas perlahan melalui hidung (4 detik), tahan (4 detik), hembuskan perlahan melalui mulut (6 detik); (2) Ajarkan distraksi: mendengarkan musik lembut atau berzikir; (3) Informasikan untuk segera melaporkan nyeri dada yang muncul kembali, sesak napas, atau pusing. Kolaborasi: (1) Persiapan kateterisasi jantung darurat jika nyeri tidak terkontrol atau ada perubahan EKG iskemik; (2) Konsultasi dengan dokter spesialis jantung untuk penyesuaian terapi anti-iskemia. Intervensi ini dilakukan dengan prioritas utama menurunkan kebutuhan oksigen miokard dan meningkatkan suplai oksigen, mengingat pasien memiliki bradikardia dan hipotensi yang membatasi penggunaan obat vasodilator kuat. Setiap intervensi farmakologis harus dievaluasi responsnya dalam 5-10 menit, terutama efek terhadap tekanan darah dan denyut jantung, untuk mencegah hipotensi berat atau bradikardia simtomatik.
-
Article No. 26020 | 31 May 2026
Klinis : keluhan susah bicara, kelemahan ekstremitas kiri KU: lemah, KES: E3V4M5 TD : 153/86 mmhg Nadi :92 x/menit RR :20 x/menit S: 36.5 C SpO2: 98% Mata : cowong -/-, CA -/- SI -/-,pupil isokor 3mm/3mm Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+ rbh -/- rbk -/-whz -/- Abdomen :supel, BU (+) Normal, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral dingin -/-, CRT < 2 detik edema (-) Ekstremitas Inferior : akral dingin -/-, CRT < 2 detik edema (-) Sensorik : + II + + II + Motorik : +3/+3/ +3 || +2/+2/+2 +3/+3/ +3 || +2/+2/+2 Refleks fisiologis: +2 ||+2 +2 || +2 Refleks patologis: - || - - || - Clonus - || - Nistagmus: (-) Hasil Lab 30/05/26 Darah Rutin Hemoglobin 14.44 Eritrosit 5.98 Hematokrit 44.6 Lekosit 15.47 (H) Trombosit 331 Golongan Darah B Elektrolit Natrium (Na) 138 Kalium (K) 3.4 Chlorida (Cl) 105 Calsium (Ca2+) 1.1 pH 7.47 (H) Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 236 (H) Fungsi Ginjal Ureum 70.6 (H) Kreatinin 0.85 Hasil Rontgen Thorax menunggu Hasil CT scan kepala non-kontras menunggu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal dan Gangguan Mobilitas Fisik pada Pasien Stroke
Kode SDKI: D.0119
Deskripsi Singkat: Gangguan komunikasi verbal adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan, keterlambatan, atau ketidakmampuan dalam menerima, memproses, dan/atau menyampaikan pesan verbal. Pada pasien ini, keluhan susah bicara (afasia motorik atau disartria) yang disebabkan oleh lesi serebrovaskular (kemungkinan stroke iskemik atau hemoragik) mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal. Data subjektif menunjukkan pasien tidak mampu mengucapkan kata-kata dengan jelas, dan data objektif menunjukkan penurunan fungsi motorik ekstremitas kiri (hemiparesis) yang sering menyertai lesi di hemisfer otak kanan. Defisit neurologis ini mengakibatkan hambatan dalam berkomunikasi, baik dalam mengartikulasikan suara, membentuk kalimat, maupun memahami pembicaraan. Pasien mungkin mengalami frustrasi, isolasi sosial, dan ketidakmampuan untuk menyampaikan kebutuhan dasar seperti rasa sakit, haus, atau ketidaknyamanan. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi kemampuan bicara tetapi juga aspek kognitif dan emosional, sehingga memerlukan pendekatan holistik dari perawat dan tim interdisipliner.
Kode SLKI: L.0119
Deskripsi : Komunikasi Verbal meningkat. Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah pasien mampu mengekspresikan kebutuhan, keinginan, dan perasaan secara verbal dengan lebih jelas. Indikator keberhasilan meliputi: (1) Kemampuan mengartikulasikan kata-kata meningkat dari skala 1 (berat) menjadi skala 5 (mandiri) dalam waktu 3x24 jam hingga 7 hari; (2) Kemampuan menggunakan bahasa lisan untuk menyampaikan pesan sederhana, seperti mengucapkan "ya" atau "tidak" dengan tepat; (3) Frekuensi kesalahan bicara berkurang, misalnya pengucapan kata yang tidak jelas atau parafasia; (4) Pasien mampu menggunakan alat bantu komunikasi alternatif (misalnya papan gambar, gerakan tangan, atau tulisan) jika diperlukan; (5) Ekspresi wajah dan bahasa tubuh menunjukkan penurunan frustrasi saat berkomunikasi; (6) Keluarga atau pengasuh melaporkan peningkatan kemampuan pasien dalam merespons pertanyaan sederhana. Target luaran ini disesuaikan dengan tingkat keparahan afasia, kondisi kognitif, dan kerjasama pasien. Perawat perlu memantau secara berkala kemampuan bicara pasien setiap shift dan mendokumentasikan kemajuan.
Kode SIKI: I.0119
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Promosi Komunikasi Verbal. Tindakan yang dilakukan meliputi: Observasi: (1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan berkomunikasi pasien; (2) Monitor respons nonverbal seperti ekspresi wajah, kontak mata, dan gerakan tubuh; (3) Catat jenis afasia (motorik, sensorik, atau campuran) berdasarkan hasil asesmen. Terapeutik: (1) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk meminimalkan distraksi; (2) Berbicaralah dengan lambat, jelas, dan dengan volume suara yang normal (jangan berteriak); (3) Gunakan kalimat pendek dan sederhana; (4) Berikan waktu yang cukup bagi pasien untuk merespons (tunggu hingga 30-60 detik); (5) Validasi pesan yang disampaikan pasien dengan mengulangi apa yang dipahami; (6) Gunakan isyarat visual seperti gambar, simbol, atau tulisan untuk mendukung komunikasi; (7) Libatkan keluarga dalam sesi komunikasi dan ajarkan teknik komunikasi efektif; (8) Kolaborasi dengan terapis wicara untuk latihan bicara intensif; (9) Berikan reinforcement positif atas setiap usaha komunikasi pasien. Edukasi: (1) Ajarkan pasien dan keluarga tentang teknik komunikasi alternatif (misalnya papan alfabet, aplikasi komunikasi di tablet); (2) Jelaskan pentingnya kesabaran dan dukungan emosional selama proses pemulihan. Tujuan intervensi ini adalah untuk memfasilitasi ekspresi diri, mengurangi isolasi sosial, dan meningkatkan partisipasi pasien dalam perawatan sehari-hari.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik pada Pasien Hemiparesis Sinistra
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Pada pasien ini, kelemahan ekstremitas kiri (hemiparesis) dengan kekuatan motorik 2/5 pada ekstremitas superior dan inferior kiri (berdasarkan skala manual muscle testing) menunjukkan adanya lesi di hemisfer otak kanan yang mengakibatkan defisit motorik kontralateral. Data objektif menunjukkan kekuatan otot ekstremitas kiri hanya mampu melawan gravitasi tetapi tidak mampu melawan tahanan minimal (grade 2). Pasien juga mengalami penurunan keseimbangan dan risiko jatuh tinggi karena hanya satu sisi tubuh yang berfungsi optimal. Kondisi ini menyebabkan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas dasar seperti duduk tanpa bantuan, berdiri, berjalan, atau bahkan menggerakkan lengan dan tungkai kiri secara fungsional. Mobilitas fisik yang terganggu berdampak pada risiko dekubitus, kontraktur sendi, atrofi otot, dan emboli paru akibat imobilisasi. Pasien memerlukan bantuan total dalam berpindah posisi dan ambulasi. Faktor risiko yang memperberat adalah hipertensi (TD 153/86 mmHg), hiperglikemia (GDS 236 mg/dL), dan peningkatan leukosit (15.47) yang mengindikasikan respons inflamasi atau infeksi.
Kode SLKI: L.0054
Deskripsi : Mobilitas Fisik meningkat. Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah pasien mampu melakukan pergerakan ekstremitas kiri secara bertahap dan mandiri. Indikator keberhasilan meliputi: (1) Kekuatan otot ekstremitas kiri meningkat dari skala 2 menjadi skala 3-4 dalam waktu 7-14 hari (mampu melawan gravitasi dan sebagian tahanan); (2) Rentang gerak (range of motion) sendi ekstremitas kiri meningkat tanpa nyeri; (3) Pasien mampu melakukan transfer dari tempat tidur ke kursi roda dengan bantuan minimal; (4) Keseimbangan duduk meningkat, pasien mampu duduk tegak selama 10-15 menit tanpa penyangga; (5) Tidak terjadi kontraktur atau atrofi otot selama perawatan; (6) Skor risiko jatuh (misalnya Morse Fall Scale) menurun dari risiko tinggi menjadi risiko rendah; (7) Keluarga melaporkan peningkatan kemampuan pasien dalam menggerakkan lengan dan tungkai kiri saat latihan. Target ini dicapai melalui latihan aktif dan pasif yang dilakukan secara konsisten setiap shift.
Kode SIKI: I.0054
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Dukungan Mobilisasi Fisik. Tindakan yang dilakukan meliputi: Observasi: (1) Identifikasi kekuatan otot ekstremitas kiri setiap hari menggunakan skala MMT; (2) Monitor rentang gerak sendi, edema, dan tanda-tanda trombosis vena dalam (misalnya nyeri betis, kemerahan); (3) Kaji toleransi aktivitas (denyut nadi, tekanan darah, dan saturasi oksigen sebelum dan sesudah latihan). Terapeutik: (1) Lakukan latihan rentang gerak pasif (ROM pasif) pada ekstremitas kiri 2-3 kali sehari, masing-masing 15-20 repetisi per sendi (bahu, siku, pergelangan tangan, jari, pinggul, lutut, pergelangan kaki); (2) Bantu pasien melakukan latihan rentang gerak aktif-aktif (pasien dibantu menggerakkan ekstremitas kanan yang sehat untuk membantu sisi kiri); (3) Atur posisi tidur yang tepat dengan bantal penyangga untuk mencegah kontraktur fleksi pada lengan dan tungkai kiri; (4) Lakukan mobilisasi bertahap: latihan duduk di tepi tempat tidur (dangling) dengan bantuan dua orang, kemudian transfer ke kursi roda; (5) Gunakan alat bantu seperti walking belt atau slide sheet untuk keamanan; (6) Berikan terapi posisi (positioning) setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus pada sisi yang lumpuh; (7) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi motorik; (8) Edukasi keluarga tentang teknik memindahkan pasien yang aman dan cara melakukan latihan ROM di rumah. Tujuan utama adalah mempertahankan fungsi sendi, mencegah komplikasi imobilisasi, dan memulihkan kemandirian mobilitas secara bertahap.
Kondisi: Resiko Perfusi Serebral Tidak Efektif pada Pasien Stroke Akut
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Resiko perfusi serebral tidak efektif adalah kondisi rentan mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi neuron. Pada pasien ini, faktor risiko utama adalah hipertensi (TD 153/86 mmHg), hiperglikemia (GDS 236 mg/dL), dan peningkatan ureum (70.6 mg/dL) yang dapat memperburuk kerusakan endotel vaskular dan edema serebral. Pasien menunjukkan tanda-tanda neurologis fokal berupa hemiparesis sinistra dan gangguan bicara, yang mengindikasikan adanya lesi di area motorik dan area Broca/Wernicke di otak. CT scan kepala masih menunggu hasil, namun secara klinis sangat kuat mengarah pada stroke iskemik atau hemoragik. Risiko meliputi
Article No. 26021 | 31 May 2026
Klinis : pasien datang dengan nyeri dada kiri sampai ulu hati menjalar hingga ke belakang, badan lemas+, pusing cm, ku lemah T 166/89 n 83 rr 26 s 36 ekg terlampir ckmb 35
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut (Nyeri Dada Kiri) pada Sindrom Koroner Akut (SKA) / Infark Miokard
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial yang terjadi secara mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan dapat diantisipasi serta berlangsung kurang dari 6 bulan. Pada pasien ini, nyeri dada kiri menjalar hingga ulu hati dan punggung, disertai lemas, pusing, dan tekanan darah tinggi (166/89 mmHg), peningkatan laju napas (26x/menit), serta demam ringan (suhu 36°C mungkin merupakan kesalahan input atau suhu subfebris), yang merupakan manifestasi klasik dari iskemia atau infark miokard. Kondisi ini memerlukan penanganan segera karena dapat mengancam jiwa. Diagnosis keperawatan nyeri akut ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh nyeri) dan data objektif (tanda vital tidak stabil, perubahan EKG, peningkatan CKMB 35 yang mengindikasikan kerusakan otot jantung). Nyeri pada infark miokard disebabkan oleh suplai oksigen yang tidak adekuat ke miokard akibat oklusi arteri koroner, sehingga terjadi akumulasi asam laktat dan mediator nyeri yang merangsang ujung saraf simpatis. Penjalaran nyeri ke ulu hati dan punggung menunjukkan keterlibatan dinding posterior atau inferior jantung. Lemas dan pusing terjadi akibat penurunan curah jantung dan perfusi serebral. Hipertensi pada fase akut bisa merupakan respons kompensasi atau akibat nyeri hebat. Takipnea (RR 26) adalah upaya tubuh untuk meningkatkan oksigenasi. Peningkatan CKMB hingga 35 (nilai normal biasanya < 5 ng/mL) mengonfirmasi adanya nekrosis miokard. Oleh karena itu, intervensi keperawatan harus difokuskan pada pengurangan nyeri, peningkatan oksigenasi, stabilisasi hemodinamik, dan persiapan untuk intervensi revaskularisasi.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri adalah luaran keperawatan yang menggambarkan kemampuan pasien dalam mengontrol, melaporkan, dan menunjukkan penurunan intensitas nyeri setelah diberikan intervensi. Pada kondisi sindrom koroner akut, kriteria luaran yang diharapkan meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun, ditandai dengan skala nyeri (misalnya skala 0-10) yang turun dari skala berat (7-10) menjadi skala ringan (1-3) atau hilang dalam waktu 24-48 jam pasca intervensi. (2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis, tidak gelisah. (3) Tanda vital stabil: tekanan darah dalam rentang normal (sistol 100-140 mmHg, diastol 60-90 mmHg), denyut nadi 60-100 x/menit, laju napas 12-20 x/menit, dan saturasi oksigen >95%. (4) Kemampuan mengidentifikasi faktor pencetus nyeri (misalnya aktivitas berlebihan, stres emosional) dan melaporkan nyeri secara verbal dengan jelas. (5) Mampu menggunakan teknik nonfarmakologis (napas dalam, relaksasi) untuk mengurangi nyeri. (6) Tidak terjadi peningkatan enzim jantung (CKMB, Troponin) yang progresif. (7) EKG menunjukkan perbaikan segmen ST atau tidak ada perubahan iskemik baru. SLKI ini menjadi acuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan dan medis. Target utamanya adalah nyeri terkontrol dalam 1x24 jam pertama, dengan luaran jangka panjang pasien dapat kembali beraktivitas tanpa nyeri dada.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri adalah serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri melalui pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Intervensi ini disesuaikan dengan etiologi nyeri (iskemia miokard) dan kondisi akut pasien. Berdasarkan SIKI, tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Observasi: Identifikasi skala nyeri (PQRST: Provokatif-Palliatif, Quality, Region, Severity, Timing), lokasi, durasi, frekuensi, dan karakteristik nyeri. Pantau tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu, SpO2) setiap 15-30 menit pada fase akut. Pantau EKG kontinu untuk mendeteksi aritmia atau perubahan iskemik. Periksa enzim jantung (CKMB, Troponin) serial. (2) Terapeutik: Berikan oksigen 2-4 L/menit via nasal kanul untuk meningkatkan oksigenasi miokard. Atur posisi semi-Fowler (30-45 derajat) untuk mengurangi beban jantung dan memudahkan pernapasan. Ciptakan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan atur pencahayaan redup untuk mengurangi stimulasi simpatis. (3) Kolaborasi: Berikan obat anti-iskemia sesuai indikasi dokter, seperti: (a) Nitrat (misal Nitrogliserin sublingual 0,3-0,6 mg setiap 5 menit, maksimal 3 dosis) untuk vasodilatasi koroner dan vena, (b) Morfin sulfat 2-4 mg IV jika nyeri tidak responsif terhadap nitrat (hati-hati depresi napas), (c) Antiplatelet (Aspirin 160-325 mg dikunyah) dan antikoagulan (Heparin atau Enoxaparin) untuk mencegah trombus lebih lanjut, (d) Beta-blocker (misal Metoprolol) untuk menurunkan denyut jantung dan kontraktilitas miokard. (4) Edukasi: Ajarkan teknik napas dalam (slow deep breathing) untuk relaksasi. Jelaskan penyebab nyeri (penyempitan pembuluh darah jantung) dan pentingnya istirahat total (bed rest) selama fase akut. Informasikan tentang prosedur diagnostik lanjutan (misal koronariografi) dan rencana revaskularisasi (PCI atau operasi bypass). (5) Evaluasi: Lakukan evaluasi setiap 5-15 menit setelah pemberian obat nyeri. Jika nyeri tidak berkurang dalam 15 menit atau muncul gejala syok (TD turun drastis, nadi lemah, kulit dingin), segera laporkan ke dokter. Intervensi ini bertujuan untuk memutus siklus iskemia-nyeri-iskemia, mencegah perluasan infark, dan mempersiapkan pasien untuk tindakan definitif. Keberhasilan intervensi diukur dari penurunan skala nyeri hingga <3 dalam 30-60 menit, stabilisasi hemodinamik, dan tidak adanya komplikasi seperti gagal jantung atau aritmia maligna.
Article No. 26022 | 31 May 2026
Klinis : Pasien dengan penurunan kesadaran post kejang 30 menit, kelemahan ekstremitas kanan KU: lemah, KES : E2V3M3 TD : 98/72 SpO2:98 GDS :81 N: 59 RR:20 Mata : cowong -/-, CA -/- SI -/-,pupil isokor 3mm/3mm Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+ rbh -/- rbk -/-whz -/- Abdomen :supel, BU (+) Normal, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral dingin -/-, CRT < 2 detik edema (-) Ekstremitas Inferior : akral dingin -/-, CRT < 2 detik edema (-) Sensorik : sde Motorik : lateralisasi dextra Refleks fisiologis: +2 ||+2 +2 || +2 Refleks patologis: - || - - || - Clonus - || - Nistagmus: (-) Hasil Lab 30/05 Darah Rutin Hemoglobin 14.91 Eritrosit 5.26 Hematokrit 46.3 Lekosit 29.71 (H) Trombosit 428 Golongan Darah A Elektrolit Natrium (Na) 142 Kalium (K) 5.6 Chlorida (Cl) 106 Calsium (Ca2+) 1.3 pH 6.92 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 331 (H) Fungsi Ginjal Ureum 30.0 Kreatinin 1.00 (H) Rontgen Thorax menunggu expertise CT scan kepala non kontras menunggu expertise
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran Post Iktal (Pasca Kejang) dengan Hemiparesis Dekstra
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan tingkat kesadaran dari normal, yang ditandai dengan respons terhadap rangsang yang menurun. Pada kondisi ini, pasien memiliki nilai GCS E2V3M3 (skor total 8) yang menunjukkan respons verbal dan motorik yang sangat terbatas, serta tidak membuka mata secara spontan. Kondisi ini terjadi pasca kejang (post iktal) yang berlangsung lebih dari 30 menit, disertai kelemahan pada ekstremitas kanan (hemiparesis dextra). Penurunan kesadaran ini mengindikasikan adanya gangguan fungsi serebral yang serius, kemungkinan terkait dengan edema serebri, lesi struktural, atau gangguan metabolik pasca kejang. Data penunjang menunjukkan adanya leukositosis (29.71 x10^3/uL) yang mengindikasikan proses infeksi atau inflamasi akut, hiperglikemia (GDS 331 mg/dL), hiperkalemia (K+ 5.6 mEq/L), dan asidosis metabolik (pH 6.92) yang semakin memperberat kondisi neurologis. Penurunan kesadaran pada pasien ini berpotensi mengancam jalan napas, perlindungan diri, dan kemampuan mempertahankan fungsi vital otak.
Kode SLKI: L.13014
Deskripsi : Tingkat kesadaran adalah status atau kondisi responsivitas individu terhadap rangsangan internal dan eksternal. SLKI L.13014 memiliki lima level luaran yang diharapkan, mulai dari level 1 (memburuk) hingga level 5 (membaik). Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan kesadaran pada pasien ini meliputi: (1) Respons membuka mata: dari E2 (terhadap rangsang nyeri) menjadi E4 (spontan); (2) Respons verbal: dari V3 (kata-kata tidak tepat) menjadi V5 (orientasi baik); (3) Respons motorik: dari M3 (fleksi abnormal/dekortikasi) menjadi M6 (mengikuti perintah); (4) Status Glasgow Coma Scale (GCS) total meningkat dari skor 8 menjadi 15; (5) Kesadaran kualitatif: dari somnolen atau stupor menjadi compos mentis. Target utama yang realistis dalam 3x24 jam adalah pasien mampu menunjukkan respons motorik yang lebih baik (M4 atau M5) dan dapat mempertahankan jalan napas secara mandiri. Dalam jangka panjang, pasien diharapkan dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal dengan lingkungan, serta mampu melakukan aktivitas dasar secara bertahap. Keberhasilan luaran ini sangat bergantung pada penanganan penyebab dasar seperti koreksi asidosis, kontrol gula darah, dan tatalaksana kejang berulang.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Manajemen penurunan kesadaran adalah serangkaian tindakan keperawatan yang ditujukan untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi neurologis pada pasien dengan penurunan kesadaran. Intervensi ini bersifat multidisiplin dan mencakup beberapa tindakan esensial: (1) Monitoring ketat tanda-tanda vital dan status neurologis setiap 1-2 jam, termasuk penilaian GCS serial, ukuran dan reaktivitas pupil (saat ini isokor 3mm/3mm), serta tanda-tanda lateralisasi (hemiparesis dextra). (2) Manajemen jalan napas: posisikan pasien semi-fowler (30-45 derajat) untuk mengurangi tekanan intrakranial, lakukan head tilt-chin lift jika diperlukan, dan pastikan jalan napas bebas dari obstruksi lidah atau sekret karena pasien tidak mampu mempertahankan refleks batuk dan menelan secara adekuat. (3) Manajemen oksigenasi: berikan oksigen nasal kanul 2-4 L/menit untuk mempertahankan SpO2 >95% (saat ini SpO2 98% masih baik, namun harus dipertahankan). (4) Manajemen nutrisi dan cairan: pasang akses intravena untuk pemberian cairan isotonik (RL atau NaCl 0,9%) dengan kecepatan hati-hati mengingat riwayat hipertensi intrakranial; koreksi hiperglikemia dengan insulin sesuai advis medis; dan koreksi asidosis metabolik. (5) Manajemen keamanan: pasang side rail tempat tidur, berikan restrain ringan jika diperlukan untuk mencegah cedera akibat gerakan tak sadar, dan pertahankan lingkungan yang tenang dengan pencahayaan redup untuk mengurangi stimulasi yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. (6) Kolaborasi dengan tim medis: pemberian antikonvulsan (fenitoin atau levetiracetam) untuk mencegah kejang berulang, pemberian manitol atau diuretik osmotik jika terdapat edema serebri, serta analisa hasil CT scan kepala untuk menentukan adanya perdarahan, infark, atau lesi struktural lainnya. (7) Edukasi keluarga: jelaskan kondisi pasien secara sederhana, ajarkan cara memonitor pernapasan dan kesadaran, serta libatkan keluarga dalam perawatan dasar seperti personal hygiene dan mobilisasi pasif untuk mencegah kontraktur dan trombosis vena dalam. Intervensi ini harus dievaluasi setiap shift dan disesuaikan dengan respons klinis pasien serta hasil pemeriksaan penunjang yang sedang berlangsung (rontgen thorax dan CT scan kepala).
Article No. 26023 | 31 May 2026
Klinis : Penurunan kesadaran, tidak merespons saat dipanggil KU lemah, GCS E1V1M2 TD: 187/106 mmHg HR: 107x/menit SpO2: 98% RR: 16x Mata : cowong -/-, CA -/- SI -/-,pupil isokor 3mm/3mm Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+ rbh -/- rbk -/-whz -/- Abdomen :supel, BU (+) Normal, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral dingin -/-, CRT < 2 detik edema (-) Ekstremitas Inferior : akral dingin -/-, CRT < 2 detik edema (-) Sensorik : + II + + II + Motorik : +2/+2/+2 || +2/+2/+2 +2/+2/+2 || +2/+2/+2 Refleks fisiologis: +2 ||+2 +2 || +2 Refleks patologis: - || - - || - Clonus - || - Nistagmus: (-) NIHSS : 9 Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: - - Cemas: - Hasil Lab 29/05/2026 Hemoglobin: 7.95 g/dL ↓ Eritrosit: 3.05 juta/µL ↓ Hematokrit: 23.1% ↓ Leukosit: 13.98 ribu/µL ↑ Trombosit: 285 ribu/µL Natrium (Na): 124 mmol/L ↓ Kalium (K): 5.0 mmol/L Klorida (Cl): 91 mmol/L ↓ Kalsium (Ca²⁺): 1.0 mmol/L ↓ pH: 7.57 ↑ Glukosa Darah Sewaktu: 135 mg/dL Ureum: 186.2 mg/dL ↑ Kreatinin: 6.76 mg/dL ↑ Hasil CT scan kepala Kesan : - Infark cerebri di lobus frontotemporalis sinistra - Deviasi septum nasi ke arah dextra Hasil Rontgen Thorax Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aortae dan aortosklerosis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Tidak Merespons saat Dipanggil) pada Stroke Infark
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan respons terhadap rangsangan verbal, taktil, atau nyeri, yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi serebral atau struktural otak. Pada pasien ini, GCS E1V1M2 menunjukkan respons minimal terhadap rangsangan nyeri (ekstensi deserebrasi atau fleksi dekortikasi), yang mengindikasikan kerusakan signifikan pada batang otak atau hemisfer serebri akibat infark di lobus frontotemporalis sinistra. Penurunan kesadaran ini terkait dengan iskemia serebral yang mengganggu integritas jalur retikularis aktivasi (RAS) dan area kortikal yang bertanggung jawab atas kewaspadaan. Pasien tidak mampu merespons perintah verbal, menunjukkan disfungsi kognitif berat, dan membutuhkan intervensi segera untuk mencegah kerusakan neurologis lebih lanjut. Kondisi ini diperparah oleh hipertensi (TD 187/106 mmHg), anemia (Hb 7,95 g/dL), hiponatremia (Na 124 mmol/L), dan uremia (ureum 186,2 mg/dL) yang semuanya dapat memperburuk edema serebral dan gangguan metabolisme otak. Penurunan kesadaran juga meningkatkan risiko aspirasi, cedera, dan komplikasi tirah baring seperti kontraktur, ulkus dekubitus, dan infeksi. Intervensi keperawatan harus fokus pada pemantauan ketat status neurologis, manajemen jalan napas, dan pencegahan komplikasi sekunder.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Tingkat kesadaran adalah status respons individu terhadap rangsangan eksternal dan internal yang diukur menggunakan skala kuantitatif seperti GCS. Pada pasien ini, target yang diharapkan adalah peningkatan GCS secara bertahap, minimal ke E2V2M3 (respons terhadap nyeri dengan lokalisasi atau fleksi). Indikator yang dipantau meliputi: respons terhadap rangsangan verbal (mata terbuka, perintah diikuti), respons motorik (gerakan spontan atau terhadap nyeri), respons pupil (ukuran, reaktivitas), dan stabilitas tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, pernapasan). Penurunan kesadaran yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan sekunder akibat hipoksia, edema serebral, atau peningkatan tekanan intrakranial. Oleh karena itu, SLKI ini menekankan pada pemantauan serial GCS setiap 1-2 jam, terutama dalam 24-48 jam pertama setelah onset stroke. Peningkatan kesadaran menunjukkan perbaikan perfusi serebral dan penurunan edema. Namun, jika tidak ada perbaikan dalam 72 jam, prognosis neurologis mungkin buruk. Intervensi keperawatan harus disesuaikan dengan respons pasien, seperti posisi kepala 30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena serebral, manajemen nyeri, dan stimulasi sensorik minimal untuk mengurangi beban metabolisme otak. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan GCS saat ini dengan baseline, serta melaporkan perubahan mendadak seperti penurunan GCS atau anisokor yang mengindikasikan herniasi.
Kode SIKI: I.06131
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk penurunan kesadaran pada pasien stroke infark mencakup pemantauan neurologis ketat, manajemen jalan napas, pencegahan komplikasi, dan dukungan nutrisi. Tindakan spesifik meliputi: 1) Pemantauan GCS setiap 1-2 jam, termasuk respons motorik, verbal, dan buka mata; 2) Pemantauan pupil (ukuran, bentuk, reaktivitas terhadap cahaya) setiap jam untuk mendeteksi tanda-tanda peningkatan TIK; 3) Manajemen jalan napas dengan posisi lateral atau semi-Fowler untuk mencegah aspirasi, serta suction jika ada sekret; 4) Pemantauan tanda-tanda vital (TD, HR, RR, SpO2) setiap 15-30 menit hingga stabil; 5) Pemberian oksigen sesuai kebutuhan untuk menjaga SpO2 >94%; 6) Manajemen hipertensi dengan antihipertensi intravena (misal, nicardipine) sesuai order medis, karena TD 187/106 mmHg dapat memperburuk edema serebral; 7) Koreksi anemia dengan transfusi PRC jika Hb <8 g/dL untuk meningkatkan oksigenasi serebral; 8) Koreksi hiponatremia dengan cairan NaCl 3% atau restriksi cairan sesuai protokol untuk mencegah herniasi; 9) Manajemen uremia dengan dialisis jika diperlukan karena kreatinin 6,76 mg/dL; 10) Pencegahan komplikasi tirah baring: reposisi setiap 2 jam, latihan rentang gerak pasif (ROM) pada ekstremitas, penggunaan matras anti-dekubitus, dan pencegahan DVT dengan kompresi pneumatik intermiten; 11) Pemantauan asupan dan haluaran cairan ketat untuk mencegah overload atau dehidrasi; 12) Dukungan nutrisi enteral melalui NGT karena risiko disfagia dan penurunan kesadaran; 13) Edukasi keluarga tentang prognosis dan perawatan. Evaluasi intervensi didasarkan pada perbaikan GCS, stabilisasi tanda-tanda vital, dan tidak adanya komplikasi seperti aspirasi, pneumonia, atau ulkus dekubitus.
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (Akibat Infark Serebri dan Hipertensi)
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko perfusi serebral tidak efektif adalah kerentanan terhadap penurunan sirkulasi darah ke jaringan otak yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi neurologis. Pada pasien ini, infark di lobus frontotemporalis sinistra menunjukkan adanya oklusi vaskular (trombosis atau emboli) yang menyebabkan iskemia. Ditambah dengan hipertensi berat (TD 187/106 mmHg), terjadi peningkatan afterload yang dapat memicu kerusakan endotel dan edema serebral. Anemia (Hb 7,95 g/dL) mengurangi kapasitas oksigenasi darah, sehingga otak kekurangan oksigen meskipun aliran darah mungkin cukup. Hiponatremia (Na 124 mmol/L) menyebabkan edema seluler karena pergeseran cairan ke intrasel, memperburuk edema serebral dan peningkatan TIK. Uremia (ureum 186,2 mg/dL) dan kreatinin tinggi (6,76 mg/dL) menunjukkan gagal ginjal yang dapat menyebabkan akumulasi toksin uremik yang mengganggu fungsi neuron. Faktor-faktor ini secara sinergis meningkatkan risiko kerusakan neurologis ireversibel. Perfusi serebral dipertahankan oleh tekanan perfusi serebral (CPP = MAP - TIK). Dengan MAP sekitar 133 mmHg (TD 187/106, MAP = 1/3 sistol + 2/3 diastol = 62,3 + 70,7 = 133 mmHg), CPP mungkin masih adekuat jika TIK normal, tetapi hipertensi berat dapat memicu vasospasme atau kegagalan autoregulasi. Pasien dengan NIHSS 9 menunjukkan defisit neurologis sedang, yang memerlukan intervensi agresif untuk memulihkan perfusi dan mencegah perluasan infark.
Kode SLKI: L.02001
Deskripsi : Perfusi serebral adalah status sirkulasi darah yang memadai ke jaringan otak untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Indikator yang dipantau meliputi: tingkat kesadaran (GCS), tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, status neurologis (kekuatan motorik, refleks, koordinasi), dan tanda-tanda peningkatan TIK (sakit kepala, muntah proyektil, papiledema). Target yang diharapkan adalah peningkatan GCS, stabilisasi tekanan darah dalam rentang 140-160/90-100 mmHg (untuk mencegah hipoperfusi atau perdarahan), dan tidak adanya tanda-tanda herniasi. Pemantauan serial NIHSS juga penting untuk mengevaluasi perbaikan atau perburukan defisit neurologis. Pasien dengan infark frontotemporalis mungkin mengalami defisit motorik (hemiparesis), afasia, atau perubahan perilaku. Oleh karena itu, SLKI ini menekankan pada deteksi dini perubahan status mental, seperti penurunan GCS, anisokor, atau postur deserebrasi, yang memerlukan tindakan darurat. Evaluasi juga mencakup pemantauan hasil CT scan untuk melihat perluasan infark atau edema. Jika perfusi memburuk, pasien mungkin memerlukan intervensi seperti trombolisis (dalam jendela waktu) atau dekompresi kraniektomi. Peran perawat adalah mengidentifikasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti hipertensi, anemia, dan elektrolit, serta berkolaborasi dengan tim medis untuk optimalisasi terapi.
Kode SIKI: I.02001
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan perfusi serebral pada pasien stroke infark meliputi: 1) Pemantauan tanda-tanda vital setiap 15-30 menit, terutama tekanan darah, untuk memastikan tidak terjadi hipotensi atau hipertensi ekstrem; 2) Pemberian antihipertensi intravena (misal, labetalol atau nicardipine) dengan target penurunan TD 15-25% dalam 24 jam pertama, bukan penurunan drastis, untuk menjaga CPP; 3) Pemantauan GCS dan pupil setiap jam untuk deteksi dini peningkatan TIK; 4) Posisi kepala 30 derajat dengan leher netral untuk memfasilitasi drainase vena serebral; 5) Manajemen oksigenasi: berikan oksigen untuk menjaga SpO2 >94%, karena hipoksia dapat memperburuk iskemia; 6) Koreksi
Article No. 26024 | 31 May 2026
Klinis : Penurunan kesadaran, tidak merespons saat dipanggil KU lemah, koma TD: 187/106 mmHg HR: 107x/menit SpO2: 98% RR: 16x Mata CA -/- SI -/- Thorax SDV +/+ RBH -/- RBK -/- Whz -/- BJ + S1S2 reguler Abdomen supel, BU +, NT - Eks atas akral hangat +/+, CRT <2 detik, edem -/- Eks bawah akral hangat +/+, CRT <2 detik, edem -/- LAB 29/05/2026 Hemoglobin: 7.95 g/dL ↓ Eritrosit: 3.05 juta/µL ↓ Hematokrit: 23.1% ↓ Leukosit: 13.98 ribu/µL ↑ Trombosit: 285 ribu/µL Natrium (Na): 124 mmol/L ↓ Kalium (K): 5.0 mmol/L Klorida (Cl): 91 mmol/L ↓ Kalsium (Ca²⁺): 1.0 mmol/L ↓ pH: 7.57 ↑ Glukosa Darah Sewaktu: 135 mg/dL Ureum: 186.2 mg/dL ↑ Kreatinin: 6.76 mg/dL ↑
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Koma) pada Pasien Gagal Ginjal Akut/Kronik dengan Anemia dan Asidosis Metabolik Terkoreksi
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah kondisi di mana terjadi penurunan responsivitas dan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan, yang dapat berkisar dari somnolen hingga koma. Pada pasien ini, penurunan kesadaran (koma) disebabkan oleh akumulasi toksin uremik (ureum 186.2 mg/dL, kreatinin 6.76 mg/dL) yang menyebabkan ensefalopati uremik, ditambah dengan anemia berat (Hb 7.95 g/dL) yang mengurangi suplai oksigen ke otak, serta gangguan elektrolit (hiponatremia 124 mmol/L, hipokalsemia 1.0 mmol/L) yang mengganggu transmisi saraf. Hipertensi berat (187/106 mmHg) juga berpotensi menyebabkan edema serebri. Pasien tidak merespons terhadap rangsangan verbal dan nyeri, menunjukkan kerusakan fungsi batang otak atau korteks serebri yang luas.
Kode SLKI: L.08014
Deskripsi : Tingkat Kesadaran meningkat. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tingkat kesadaran pasien membaik dengan kriteria hasil: (1) Respons verbal meningkat dari tidak ada respons menjadi dapat mengeluarkan suara atau kata-kata, (2) Respons motorik meningkat dari tidak ada respons menjadi mampu menggerakkan ekstremitas atas perintah, (3) Respons pupil meningkat dari lambat atau tidak reaktif menjadi reaktif terhadap cahaya, (4) Skor Glasgow Coma Scale (GCS) meningkat dari minimal (E1V1M1) menjadi minimal E3V2M4 (total 9), (5) Tanda-tanda vital stabil dengan tekanan darah 130-150/80-90 mmHg, denyut nadi 80-100 x/menit, respirasi 16-20 x/menit, SpO2 >95%, (6) Nilai laboratorium ureum, kreatinin, natrium, kalsium, dan hemoglobin mendekati normal. Indikator utama adalah pasien mampu membuka mata spontan atau saat dirangsang, serta menunjukkan respons motorik yang bertujuan.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Manajemen Penurunan Kesadaran. Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi neurologis dan mencegah kerusakan otak sekunder. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Monitor tingkat kesadaran menggunakan GCS setiap 1-2 jam, catat perubahan respons verbal, motorik, dan bukaan mata. (2) Monitor tanda-tanda vital (TD, HR, RR, SpO2, suhu) setiap 1 jam, laporkan segera jika terjadi hipertensi berat (TD >180/110 mmHg) atau hipotensi (TD <90/60 mmHg) yang dapat memperburuk perfusi serebral. (3) Monitor status neurologis: ukuran dan reaksi pupil, refleks batuk, refleks menelan, dan refleks kornea. (4) Kolaborasi pemberian terapi oksigen untuk mempertahankan SpO2 >95% guna mencegah hipoksia serebral. (5) Kolaborasi pemberian cairan intravena (misalnya NaCl 0.9% atau Ringer Laktat) sesuai advis dokter untuk koreksi hiponatremia dan hipovolemia, namun hindari overhidrasi yang dapat menyebabkan edema serebri. (6) Kolaborasi pemberian obat antihipertensi (misalnya nicardipin drip atau labetalol) untuk menurunkan tekanan darah secara bertahap (target MAP <130 mmHg) tanpa menyebabkan hipoperfusi. (7) Kolaborasi pemberian diuretik (furosemide) jika ada overload cairan atau edema paru. (8) Kolaborasi pemberian koreksi elektrolit: koreksi natrium dengan NaCl 3% secara hati-hati (kecepatan koreksi <8-10 mmol/L per 24 jam untuk mencegah osmotic demyelination syndrome), koreksi kalsium dengan kalsium glukonas intravena. (9) Kolaborasi persiapan hemodialisis emergensi untuk menurunkan ureum dan kreatinin serta memperbaiki asidosis metabolik (pH 7.57 menunjukkan alkalosis metabolik terkompensasi, namun perlu dikonfirmasi dengan analisis gas darah lebih lanjut). (10) Lakukan posisi kepala elevasi 30 derajat untuk menurunkan tekanan intrakranial. (11) Pasang selang nasogastrik untuk nutrisi enteral jika pasien tidak sadar >48 jam. (12) Lakukan perawatan mulut dan mata untuk mencegah kekeringan dan infeksi. (13) Monitor intake dan output cairan ketat setiap jam. (14) Edukasi keluarga tentang kondisi pasien, prognosis, dan rencana tindakan. Observasi utama: respons neurologis, tanda-tanda peningkatan TIK (hipertensi, bradikardia, pola napas tidak teratur), dan efek samping terapi.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596