Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26108 | 02 Jun 2026
Klinis : Pola nafas tidak efektif
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Pola nafas tidak efektif
Kode ICD-10: R06.89
Deskripsi Singkat : Pola nafas tidak efektif adalah kondisi di mana mekanisme pernapasan seseorang tidak berfungsi secara optimal, sehingga ventilasi paru tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini dapat ditandai dengan berbagai manifestasi klinis seperti dispnea (sesak nafas), takipnea (nafas cepat), bradipnea (nafas lambat), penggunaan otot bantu pernapasan, pergerakan dada yang tidak simetris, dan penurunan suara nafas. Dalam sistem kodifikasi ICD-10, kode R06.89 digunakan untuk menangkap diagnosis "Other abnormalities of breathing", yang merupakan kategori residu untuk gangguan pernapasan yang tidak tercakup dalam kode spesifik lainnya seperti R06.0 (Dispnea), R06.1 (Stridor), R06.2 (Wheezing), atau R06.3 (Pernapasan periodik). Penggunaan kode ini tepat ketika dokumentasi klinis menyebutkan secara spesifik "pola nafas tidak efektif" sebagai diagnosis perawat atau kondisi yang diamati, tanpa adanya etiologi spesifik yang dapat dikodekan secara lebih definitif. Penting untuk diingat bahwa R06.8 (Other specified abnormalities of breathing) adalah kode payung, dan R06.89 merupakan subkode yang paling sering digunakan untuk manifestasi pernapasan yang tidak lazim atau tidak spesifik. Dalam konteks simulasi diklat, kode ini mengajarkan peserta untuk membedakan antara gejala pernapasan umum (seperti sesak nafas) dengan pola pernapasan yang abnormal secara kualitatif. Namun, dalam praktik klinis riil, kodifikasi harus selalu merujuk pada penyebab yang mendasari jika teridentifikasi, misalnya gagal jantung kongestif (I50.9) atau penyakit paru obstruktif kronik (J44.9), dan kode R06.89 hanya digunakan sebagai kode tambahan atau ketika diagnosis definitif belum ditegakkan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26109 | 02 Jun 2026
Klinis : Ansietas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Gangguan kecemasan atau ansietas adalah kondisi emosional subjektif yang ditandai dengan perasaan tidak nyaman, khawatir, takut, atau was-was yang tidak jelas sumbernya, disertai respons fisiologis (seperti jantung berdebar, keringat dingin, gemetar) dan respons perilaku (seperti gelisah, sulit berkonsentrasi, atau menghindar). Dalam SDKI, ansietas didefinisikan sebagai perasaan cemas, gelisah, dan ketakutan yang tidak spesifik yang dialami individu sebagai respons terhadap ancaman yang tidak diketahui atau tidak jelas. Kondisi ini dapat bersifat situasional atau kronis, dan seringkali mengganggu fungsi sehari-hari, termasuk kemampuan untuk berpikir jernih, mengambil keputusan, dan berinteraksi sosial. Ansietas berbeda dengan rasa takut, di mana takut memiliki objek yang jelas, sementara ansietas lebih kabur dan menyebar. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan pasien) dan data objektif (observasi perawat terhadap tanda-tanda fisik dan perilaku). Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi ancaman terhadap konsep diri, perubahan status kesehatan, krisis situasional, dan kurangnya pengetahuan. Ansietas dapat diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan: ringan (meningkatkan kewaspadaan), sedang (fokus menyempit), berat (fokus sangat sempit), dan panik (kehilangan kendali). Penanganan keperawatan difokuskan pada pengelolaan gejala, peningkatan koping, dan penurunan stimulus ancaman.
Kode SLKI: L.09093
Deskripsi : Tingkat ansietas (L.09093) adalah luaran keperawatan yang menggambarkan penurunan atau pengelolaan gejala kecemasan pada pasien. Indikator keberhasilan dalam SLKI ini mencakup beberapa aspek yang terukur, yaitu: (1) Kemampuan pasien untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan cemas; (2) Penurunan respons fisiologis seperti frekuensi nadi, tekanan darah, dan pernapasan yang kembali normal; (3) Penurunan respons perilaku seperti gelisah, tegang, dan sulit tidur; (4) Peningkatan kemampuan konsentrasi dan pemecahan masalah; (5) Penggunaan teknik relaksasi yang efektif; (6) Ekspresi wajah yang lebih tenang; (7) Kemampuan untuk mengendalikan situasi yang memicu ansietas. Skala luaran ini biasanya diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target yang diharapkan adalah pasien menunjukkan tingkat ansietas yang lebih ringan atau terkontrol, dengan indikator-indikator tersebut berada pada skala 4 atau 5. SLKI ini menjadi acuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan yang diberikan. Keberhasilan luaran ini tidak hanya bergantung pada intervensi perawat, tetapi juga partisipasi aktif pasien dan dukungan lingkungan. Dalam konteks ansietas, luaran ini bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan kondisi pasien, sehingga evaluasi harus dilakukan secara berkala. Perawat perlu mendokumentasikan perubahan pada setiap indikator untuk melihat progres pasien. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa pasien telah mampu beradaptasi dengan sumber stres dan memiliki mekanisme koping yang lebih adaptif. SLKI ini juga menekankan pentingnya pendekatan holistik, di mana aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien dipertimbangkan dalam proses pemulihan.
Kode SIKI: I.09326
Deskripsi : Reduksi ansietas (I.09326) adalah intervensi keperawatan yang dirancang untuk menurunkan atau menghilangkan gejala kecemasan pada pasien. Intervensi ini bersifat komprehensif dan mencakup tindakan mandiri perawat serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Tujuan utama dari reduksi ansietas adalah membantu pasien mencapai kenyamanan psikologis dan meningkatkan kemampuan koping. Berikut adalah rincian tindakan keperawatan dalam intervensi ini: (1) Identifikasi tingkat ansietas pasien menggunakan skala yang valid (misalnya Hamilton Anxiety Rating Scale atau skala analog visual); (2) Ciptakan lingkungan yang aman, tenang, dan nyaman dengan meminimalkan kebisingan, pencahayaan yang lembut, dan suhu ruangan yang sesuai; (3) Berikan informasi yang jelas, akurat, dan jujur mengenai kondisi kesehatan, prosedur, atau situasi yang dihadapi pasien untuk mengurangi ketidakpastian; (4) Gunakan teknik komunikasi terapeutik, seperti mendengarkan aktif, menunjukkan empati, dan memberikan validasi terhadap perasaan pasien; (5) Ajarkan teknik relaksasi, seperti napas dalam, relaksasi otot progresif, imajinasi terbimbing, atau meditasi; (6) Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas yang dapat mengalihkan perhatian, seperti membaca, mendengarkan musik, atau berbicara dengan orang terdekat; (7) Libatkan keluarga atau orang terdekat pasien dalam proses perawatan untuk memberikan dukungan emosional; (8) Kolaborasi dengan psikolog atau psikiater jika ansietas berat atau memerlukan terapi farmakologis (misalnya pemberian ansiolitik sesuai resep); (9) Monitor respons pasien terhadap intervensi, termasuk tanda-tanda vital, ekspresi wajah, dan perilaku; (10) Evaluasi efektivitas teknik relaksasi yang diajarkan dan modifikasi sesuai kebutuhan. Intervensi ini dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan tingkat ansietas pasien. Pada ansietas ringan, fokus pada edukasi dan relaksasi; pada ansietas sedang, tambahkan dukungan emosional dan pengalihan; pada ansietas berat atau panik, prioritas adalah keselamatan pasien, lingkungan yang sangat tenang, dan segera kolaborasi untuk intervensi medis. Perawat harus peka terhadap respons nonverbal pasien, seperti postur tubuh, kontak mata, dan tonus otot. Dokumentasi yang cermat diperlukan untuk mencatat intervensi yang dilakukan, respons pasien, dan perubahan rencana asuhan. Reduksi ansietas bukan hanya tentang menghilangkan gejala, tetapi juga memberdayakan pasien untuk mengelola kecemasannya secara mandiri di masa depan. Intervensi ini juga mencakup edukasi tentang gaya hidup sehat, manajemen stres, dan teknik koping yang adaptif. Jika pasien mengalami ansietas yang berkaitan dengan prosedur medis, perawat dapat melakukan persiapan psikologis sebelum prosedur. Dalam jangka panjang, intervensi ini membantu pasien membangun ketahanan psikologis (resilience) terhadap stresor. Seluruh tindakan harus didasarkan pada bukti ilmiah (evidence-based practice) dan disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap pasien. Perawat juga perlu menyadari bahwa ansietas dapat menjadi mekanisme pertahanan, sehingga intervensi harus dilakukan dengan hati-hati tanpa menghilangkan fungsi adaptif dari kecemasan ringan. Keberhasilan intervensi diukur melalui luaran SLKI yang telah ditetapkan, yaitu penurunan skor ansietas dan peningkatan indikator kesejahteraan psikologis.
-
Article No. 26110 | 02 Jun 2026
Klinis : Pola nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Nafas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Pola nafas tidak efektif adalah kondisi di mana seseorang mengalami inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak adekuat, yang ditandai dengan perubahan frekuensi, kedalaman, irama, atau upaya pernapasan. Kondisi ini mengindikasikan adanya gangguan pada mekanisme ventilasi paru yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor fisiologis, psikologis, atau lingkungan. Dalam konteks keperawatan, diagnosis ini menjadi dasar untuk merencanakan intervensi yang bertujuan mengembalikan fungsi pernapasan ke kondisi optimal. Secara spesifik, pola nafas tidak efektif berbeda dengan bersihan jalan nafas tidak efektif karena fokusnya pada mekanisme pergerakan udara masuk dan keluar paru, bukan pada obstruksi jalan nafas. Pasien dengan kondisi ini mungkin mengalami dispnea, penggunaan otot bantu pernapasan, ortopnea, atau pernapasan cuping hidung. Penyebab umum meliputi gangguan neuromuskular (seperti cedera medula spinalis), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, ansietas akut, nyeri hebat pada area dada atau abdomen, serta efek samping obat-obatan seperti sedasi berlebih. Data subjektif yang sering muncul adalah keluhan sesak, rasa tercekik, atau dada terasa berat. Data objektif meliputi frekuensi nafas di luar rentang normal (takipnea >24x/menit atau bradipnea <12x/menit pada dewasa), pola nafas abnormal (seperti Cheyne-Stokes, Kussmaul, atau Biot), penurunan volume tidal, dan saturasi oksigen yang menurun. Diagnosis ini memerlukan pengkajian komprehensif termasuk auskultasi suara nafas, pengukuran gas darah arteri, dan pemantauan fungsi ventilasi mekanik jika pasien menggunakan ventilator. Penanganan dini sangat penting karena pola nafas tidak efektif yang berkepanjangan dapat menyebabkan hipoksemia, hiperkapnia, asidosis respiratorik, dan pada akhirnya gagal nafas. Perawat harus mampu membedakan kondisi ini dengan diagnosis keperawatan lain yang serupa seperti gangguan pertukaran gas, karena intervensi yang diberikan akan berbeda. Pola nafas tidak efektif sering kali menjadi prioritas utama dalam asuhan keperawatan karena ancaman langsung terhadap kehidupan pasien. Dalam penerapan SDKI, diagnosis ini memiliki batasan karakteristik utama dan minor yang harus dipenuhi untuk menegakkan diagnosis secara akurat. Karakteristik utama meliputi dispnea, penggunaan otot bantu pernapasan, dan fase ekspirasi memanjang. Sementara karakteristik minor mencakup ortopnea, pernapasan pursed-lip, takipnea, pola nafas abnormal, penurunan kapasitas vital, dan peningkatan diameter anteroposterior dada pada kondisi kronis. Faktor yang berhubungan meliputi kelelahan otot pernapasan, gangguan neuromuskular, deformitas dinding dada, nyeri, ansietas, dan penurunan energi. Dengan memahami deskripsi ini secara mendalam, perawat dapat melakukan pengkajian yang tepat dan memberikan intervensi yang sesuai untuk memperbaiki pola nafas pasien secara efektif.
Kode SLKI: L.01004
Deskripsi : Pola Nafas Efektif adalah luaran yang diharapkan tercapai setelah intervensi keperawatan diberikan pada pasien dengan diagnosis pola nafas tidak efektif. Luaran ini didefinisikan sebagai kemampuan pasien untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat guna memenuhi kebutuhan oksigenasi seluler. Indikator keberhasilan dari luaran ini sangat spesifik dan dapat diukur secara objektif, mencakup aspek fisiologis, perilaku, dan psikologis. Indikator utama meliputi frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20 kali permenit pada dewasa saat istirahat), kedalaman pernapasan yang adekuat dengan volume tidal sekitar 500 ml pada orang dewasa normal, irama pernapasan teratur, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, tidak ada dispnea saat istirahat maupun aktivitas ringan, saturasi oksigen ≥95% pada udara ruangan, dan tidak ada sianosis. Indikator lainnya mencakup kemampuan pasien untuk mengeluarkan sekret secara efektif tanpa batuk berlebihan, kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami sesak, serta penurunan tingkat ansietas terkait pernapasan. Pada pasien yang menggunakan ventilator mekanik, indikator tambahan meliputi sinkronisasi antara pasien dan ventilator, tekanan inspirasi puncak yang normal, dan kemampuan untuk memulai pernapasan spontan. Luaran ini diukur menggunakan skala Likert dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik), dengan target yang ditetapkan sesuai kondisi pasien. Target umumnya adalah mencapai skala 4 atau 5 yang menunjukkan pola nafas efektif. Dalam proses evaluasi, perawat harus memantau perkembangan setiap indikator secara berkala, misalnya setiap 2-4 jam pada kondisi akut atau setiap shift pada kondisi stabil. Pencapaian luaran ini tidak hanya bergantung pada intervensi keperawatan tetapi juga pada faktor-faktor seperti kepatuhan pasien terhadap terapi, dukungan keluarga, dan penanganan penyebab dasar. Misalnya, pada pasien PPOK, target pola nafas efektif mungkin lebih realistis dengan mempertimbangkan keterbatasan fisiologis yang ada, seperti saturasi oksigen 88-92% atau penggunaan oksigen tambahan. Perawat perlu mengomunikasikan luaran ini kepada pasien dan keluarga agar mereka memahami tujuan perawatan dan berpartisipasi aktif dalam pencapaiannya. Dokumentasi luaran harus dilakukan secara sistematis dengan mencatat tanggal pengukuran, skor yang dicapai, dan intervensi yang telah dilakukan. Jika luaran tidak tercapai sesuai target, perawat harus melakukan reassessment untuk mengidentifikasi hambatan dan memodifikasi rencana intervensi. Penting juga untuk membedakan luaran ini dengan luaran lain seperti status oksigenasi atau status ventilasi, karena pola nafas efektif lebih berfokus pada mekanisme pernapasan daripada hasil akhir pertukaran gas. Dengan demikian, SLKI Pola Nafas Efektif memberikan panduan yang jelas bagi perawat untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi dan memastikan perbaikan kondisi pasien secara holistik.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Pola Nafas adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi ketidakefektifan pola pernapasan pada pasien. Intervensi ini termasuk dalam kategori fisiologis dan memerlukan kompetensi klinis yang tinggi dari perawat. Tujuan utama dari intervensi ini adalah untuk mengembalikan pola nafas pasien menjadi efektif, ditandai dengan frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan yang normal serta tidak adanya tanda-tanda distress pernapasan. Intervensi ini bersifat multidimensi dan meliputi aktivitas observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi. Aktivitas observasi mencakup pemantauan frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan secara berkala, auskultasi suara nafas untuk mendeteksi adanya bunyi tambahan seperti wheezing atau ronkhi, pemantauan saturasi oksigen dengan pulse oximetry, pengukuran gas darah arteri sesuai indikasi, serta identifikasi faktor penyebab pola nafas tidak efektif seperti nyeri, ansietas, atau sekret berlebih. Aktivitas terapeutik meliputi positioning pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru, mengajarkan teknik pernapasan dalam dan batuk efektif, melakukan fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi untuk membantu mobilisasi sekret, memberikan oksigen tambahan sesuai kebutuhan dengan alat yang tepat (nasal kanul, masker sederhana, atau non-rebreather mask), serta manajemen nyeri untuk mengurangi ketidaknyamanan yang menghambat pernapasan. Pada pasien dengan ventilator mekanik, perawat harus melakukan manajemen ventilator termasuk pengaturan mode ventilasi, pemantauan alarm, dan suctioning endotrakeal sesuai protokol. Aktivitas edukasi sangat penting diberikan kepada pasien dan keluarga, meliputi penjelasan tentang kondisi dan penyebab pola nafas tidak efektif, pentingnya latihan pernapasan rutin, teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas, tanda-tanda yang perlu dilaporkan seperti peningkatan sesak atau perubahan warna kulit, serta penggunaan obat-obatan inhaler atau nebulizer secara benar. Aktivitas kolaborasi mencakup koordinasi dengan dokter untuk penyesuaian terapi medikamentosa seperti bronkodilator, kortikosteroid, atau antibiotik, serta konsultasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi paru jika diperlukan. Intervensi ini harus disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien, misalnya pada pasien dengan trauma dada, pendekatan harus lebih hati-hati untuk menghindari cedera lebih lanjut. Pada pasien anak, teknik komunikasi dan pendekatan bermain dapat digunakan untuk meningkatkan kerja sama. Perawat juga harus mempertimbangkan faktor budaya dan keyakinan pasien dalam memberikan edukasi. Evaluasi intervensi dilakukan secara berkesinambungan dengan membandingkan data terkini dengan indikator luaran yang telah ditetapkan. Jika tidak ada perbaikan dalam waktu yang ditentukan, perawat harus merevisi rencana intervensi. Dokumentasi setiap tindakan harus lengkap mencakup tanggal, jam, respons pasien, dan hasil pemantauan. Manajemen Pola Nafas juga mencakup pencegahan komplikasi seperti atelektasis, pneumonia, dan gagal nafas. Dengan penerapan intervensi ini secara tepat dan konsisten, perawat dapat membantu pasien mencapai pola nafas yang efektif, meningkatkan kualitas hidup, dan mencegah perburukan kondisi. Intervensi ini merupakan salah satu kompetensi inti perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman dan berkualitas.
-
Article No. 26111 | 02 Jun 2026
Klinis : PB datang dengan keluhan sesak nafas sejak 3 hari, lemes, batuk, nyeri perut, mual, muntah KU lemah, CM TD 153/112 HR 90x/m RR 24x/m SB 36c Spo2 68 --> 87 on NRM
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran kapiler alveolus. Kondisi ini ditandai dengan dispnea (sesak nafas), penurunan saturasi oksigen (SpO2 68% yang meningkat menjadi 87% dengan NRM), sianosis, gelisah, dan pola nafas tidak normal. Pada pasien PB, hipertensi (TD 153/112) dan takipnea (RR 24x/m) merupakan respons tubuh terhadap hipoksemia, sementara gejala lain seperti lemes, mual, muntah, dan nyeri perut dapat disebabkan oleh asidosis respiratorik atau gangguan metabolik sekunder akibat kegagalan pertukaran gas. Penurunan kesadaran (CM) menunjukkan kompensasi tubuh yang mulai gagal. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan sesak 3 hari) dan objektif (hipoksemia berat, takipnea, hipertensi).
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik. Definisi: Suatu kondisi dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan oksigenasi dan eliminasi karbondioksida yang adekuat meningkat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Tingkat kesadaran membaik (GCS meningkat, tidak gelisah); (2) Saturasi oksigen dalam batas normal (≥95% pada ruangan atau ≥92% pada pasien dengan penyakit paru kronis); (3) Frekuensi nafas dalam rentang normal (16-20x/menit); (4) Tekanan darah dalam rentang normal (120/80 mmHg); (5) Tidak ada dispnea saat istirahat maupun aktivitas ringan; (6) Analisis gas darah (AGD) menunjukkan PaO2 ≥80 mmHg dan PaCO2 35-45 mmHg; (7) Tidak ada sianosis atau akral dingin; (8) Pasien mampu mengeluarkan dahak secara efektif; (9) Nadi dalam batas normal (60-100x/menit). Pada pasien PB, target jangka pendek adalah SpO2 stabil ≥90% dengan terapi oksigen, RR <20x/menit, dan TD <140/90 mmHg. Target jangka panjang adalah lepas dari oksigen tambahan dan tidak ada gejala sesak saat beraktivitas ringan.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Manajemen Pertukaran Gas. Definisi: Tindakan keperawatan untuk mengoptimalkan oksigenasi dan ventilasi paru. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor saturasi oksigen setiap jam dan frekuensi nafas; (2) Berikan oksigen sesuai kebutuhan (NRM 10-15 L/menit dengan target SpO2 ≥90%); (3) Posisikan pasien semi-Fowler atau high-Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru; (4) Auskultasi bunyi nafas untuk mendeteksi adanya ronki, wheezing, atau penurunan suara nafas; (5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan AGD, foto toraks, dan pemberian bronkodilator (misal salbutamol nebulizer) jika ada obstruksi; (6) Ajarkan teknik batuk efektif dan nafas dalam (pursed-lip breathing); (7) Berikan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika ada penumpukan sekret; (8) Monitor tanda-tanda asidosis respiratorik (sakit kepala, bingung, tremor) dan alkalosis respiratorik (parestesia, tetani); (9) Atur lingkungan yang tenang dan kurangi stimulus nyeri untuk menurunkan kebutuhan oksigen; (10) Evaluasi respons terhadap terapi oksigen setiap 15-30 menit pada fase akut; (11) Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan suction jika perlu; (12) Kolaborasi pemberian diuretik jika ada edema paru (mengingat hipertensi berat). Intervensi ini dilakukan secara kontinu hingga parameter hemodinamik dan oksigenasi stabil.
-
Article No. 26043 | 01 Jun 2026
Klinis : BBLR, Bayi baru lahir 0 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: