Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25078 | 13 Apr 2026
Klinis : Seorang pasien laki-laki berusia 67 tahun dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) dengan kondisi gagal napas berat sehingga memerlukan bantuan ventilator mekanik. Pasien tidak mampu mempertahankan pernapasan secara mandiri, sehingga dilakukan tindakan intubasi endotrakeal dan pemasangan ventilator mekanik untuk membantu proses ventilasi dan oksigenasi. Selama penggunaan ventilator mekanik, pasien mendapatkan pemantauan ketat terhadap frekuensi napas, saturasi oksigen, tekanan ventilator, serta tanda-tanda distress pernapasan. Selama perawatan dengan ventilator mekanik, pasien mengalami beberapa komplikasi yang berkaitan dengan penggunaan ventilator, seperti pneumotoraks dan emfisema subkutan akibat tekanan udara yang tinggi pada paru-paru. Kondisi ini menyebabkan perlunya penyesuaian setting ventilator secara berkala untuk mencegah kerusakan paru yang lebih lanjut. Selain itu, pasien juga berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan seperti ventilator-associated pneumonia (VAP), sehingga perawatan jalan napas, kebersihan mulut, serta teknik suction dilakukan secara teratur oleh tenaga kesehatan. Kasus ini menunjukkan bahwa pasien yang menggunakan ventilator mekanik memerlukan pemantauan yang intensif dan perawatan khusus untuk mencegah komplikasi. Peran perawat sangat penting dalam memantau fungsi ventilator, menjaga kebersihan jalan napas, melakukan suction sesuai indikasi, serta mengobservasi tanda-tanda komplikasi yang dapat terjadi selama penggunaan ventilator mekanik.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Risiko Komplikasi pada Pasien dengan Ventilator Mekanik
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan tubuh serta eliminasi karbon dioksida. Pada kasus ini, gangguan disebabkan oleh kegagalan napas berat yang memerlukan dukungan ventilator mekanik. Defisit utama adalah ketidakmampuan paru-paru untuk melakukan ventilasi dan oksigenasi secara adekuat secara mandiri, yang dimanifestasikan dengan ketergantungan pada alat bantu napas, potensi hipoksemia, dan hiperkapnia tanpa dukungan. Kondisi ini diperberat oleh komplikasi seperti pneumotoraks dan emfisema subkutan yang secara langsung merusak struktur paru dan memperburuk mekanika pernapasan, sehingga meningkatkan risiko kerusakan paru terkait ventilator (VILI). Faktor risiko utama termasuk penyakit paru yang mendasari, setting ventilator yang tidak optimal, dan imobilisasi. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan pertukaran gas yang optimal, mencegah komplikasi lebih lanjut, dan memastikan keamanan sistem pernapasan buatan.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Luaran yang diharapkan adalah pasien menunjukkan status pernapasan yang memadai dengan parameter dalam rentang yang dapat diterima melalui dukungan ventilator mekanik. Kriteria luaran spesifik meliputi: (1) Saturasi oksigen (SpO2) dan tekanan parsial oksigen arteri (PaO2) sesuai target yang ditetapkan untuk kondisi pasien; (2) Tekanan parsial karbon dioksida arteri (PaCO2) dalam batas normal atau sesuai target terapi (misalnya, permissive hypercapnia); (3) Pola napas yang sinkron dengan ventilator, tanpa asinkroni yang signifikan seperti fighting ventilator atau auto-PEEP; (4) Bunyi napas bersih dan simetris di kedua lapang paru, meskipun mungkin terdengar berkurang di area pneumotoraks; (5) Tidak ada atau minimal tanda distress pernapasan (seperti takipnea, penggunaan otot bantu napas, sianosis) selama mode ventilasi yang digunakan; (6) Parameter ventilator (seperti tekanan puncak, tekanan plateau, volume tidal) berada dalam batas aman yang ditetapkan untuk mencegah barotrauma/volutrauma; dan (7) Gas darah arteri menunjukkan keseimbangan asam-basa yang terkoreksi. Pencapaian luaran ini memerlukan pemantauan ketat dan penyesuaian setting ventilator secara dinamis, terutama setelah kejadian pneumotoraks, untuk memastikan ventilasi protektif.
Kode SIKI: I.05229
Deskripsi : Manajemen Ventilator Mekanik. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan khusus untuk memastikan fungsi ventilator yang optimal dan aman, serta mencegah komplikasi. Penjelasan detailnya meliputi: Pertama, pemantauan dan dokumentasi ketat parameter ventilator (mode, FiO2, PEEP, volume tidal, frekuensi, tekanan puncak/plateau) dan respons fisiologis pasien (frekuensi napas, saturasi oksigen, tanda distress, bunyi napas) setiap jam atau sesuai kebutuhan. Kedua, melakukan penyesuaian setting ventilator berdasarkan protokol atau instruksi tim medis, khususnya setelah komplikasi pneumotoraks untuk menerapkan strategi ventilasi protektif (volume tidal rendah, tekanan plateau terbatas). Ketiga, memastikan keamanan dan kenyamanan pasien dengan memeriksa posisi selang endotrakeal, mengamankan pipa, dan memastikan sedasi/analgesia yang adekuat untuk memfasilitasi sinkronisasi. Keempat, mencegah infeksi melalui kebersihan tangan ketat, perawatan mulut dengan larutan klorheksidin setiap 6-8 jam, melakukan suction endotrakeal dengan teknik aseptik dan hanya saat indikasi (mendengar suara sekret, desaturasi, kurva tekanan menunjukkan gambaran saw tooth), serta mempertahankan tekanan cuff yang adekuat. Kelima, mencegah komplikasi seperti VAP dengan memposisikan kepala tempat tidur 30-45 derajat (kecuali kontraindikasi), dan mencegah barotrauma dengan memantau tanda-tanda emfisema subkutan baru atau memburuk, serta pneumotoraks. Keenam, kolaborasi dengan terapis pernapasan dan dokter untuk weaning assessment, uji coba spontaneous breathing, serta persiapan ekstubasi jika kondisi memungkinkan. Intervensi ini bersifat komprehensif dan memerlukan pengetahuan teknis yang mendalam tentang prinsip ventilasi mekanik dan patofisiologi gagal napas.
-
Article No. 25079 | 13 Apr 2026
Klinis : G2P1A0, nyeri perut (+), perut terasa kram (+), lemas (+) TelaahPasien G2P1A0, datang dengan keluhan nyeri perut (+), perut terasa kram (+), lemas (+), dirasakan sejak tadi malam, riw. berhubungan (+). Pasien tadi terjatuh di kamar mandi. 1 minggu yang lalu riw. flek (+). Batuk (+), pilek (+), BAB dbn, BAK dbn. HPHT : 18-1-2026 RPT : - Rpo : - Riwayat Penyakit Dahulutidak ada OGCS : 15 (E4V5M6) TD : 122/84 mmHg HR : 86 x/menit, kuat, teratur RR : 22 x/menit, teratur Temp : 36,4 C Spo2 : 99 room air VAS : 8 Pemeriksaan Fisik : Kepala: Mata : Pupil Isokor, RC +/+, CA -/-, SI -/- Lidah : Coated Tongue (-), Leher: KGB dbn dan tiroid dbn, TVJ : R-2 cm H2O. Thoraks: Paru-paru: Simetris, Vesikuler +/+, rhonki-/-, wheezing-/- Jantung: S1/S2 regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen: Simetris, Soepel, Peristaltik (+), NTE (+),H/L ttb. Nyeri ketok CVA (-/-) Ekstremitas : Akral hangat, kekuatan motorik - /- , oedema pretibial -/- , CRT < 2 detik, sianosis (-). Genital : tdp
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif pada Janin
Kode SDKI: 0204
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan nutrisi dan oksigenasi pada janin akibat gangguan aliran darah melalui plasenta.
Kode SLKI: 2201
Deskripsi : Perfusi perifer janin membaik. Kriteria hasil: 1) Tanda vital ibu dalam batas normal, 2) DJJ dalam batas normal (110-160x/menit) dengan variabilitas yang adekuat, 3) Hasil pemeriksaan USG/pemeriksaan penunjang lain menunjukkan aliran darah uteroplasenta yang adekuat, 4) Tidak ada tanda gawat janin, 5) Ibu melaporkan pergerakan janin sesuai pola biasanya.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Pemantauan Perfusi Perifer Janin. Intervensi: 1) Pantau dan catat tanda vital ibu (TD, nadi, respirasi, suhu) secara berkala, 2) Auskultasi Denyut Jantung Janin (DJJ) dan catat frekuensi, irama, dan variabilitasnya, 3) Ajarkan dan pantau pelaporan pergerakan janin oleh ibu (menghitung tendangan janin), 4) Observasi tanda dan gejala perdarahan pervaginam (warna, jumlah, konsistensi), 5) Kaji tingkat nyeri abdomen (lokasi, intensitas, karakter, faktor pencetus dan pereda) menggunakan skala nyeri, 6) Kaji adanya kontraksi uterus (frekuensi, durasi, intensitas), 7) Kolaborasi dalam pemeriksaan penunjang sesuai indikasi (seperti USG, profil biofisik, Doppler arteri uterina), 8) Posisikan ibu dengan posisi miring ke kiri untuk meningkatkan aliran darah uteroplasenta, 9) Berikan oksigen tambahan sesuai program terapi, 10) Berikan dukungan psikologis dan informasi tentang kondisi kehamilannya.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0719
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang timbul secara mendadak atau berlangsung singkat.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri berkurang/hilang (skala nyeri menurun), 2) Menunjukkan tanda-tanda nyeri berkurang (wajah rileks, dapat istirahat), 3) Mendemonstrasikan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, 4) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 2820
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi: 1) Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas dengan skala 0-10, dan faktor pencetus), 2) Observasi tanda-tanda nonverbal dari nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah), 3) Monitor tanda vital sebelum dan sesudah intervensi nyeri, 4) Ajarkan dan bantu teknik non-farmakologis (teknik napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi yang nyaman), 5) Lakukan reposisi atau perubahan posisi dengan hati-hati, 6) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi, 7) Evaluasi efektivitas dan efek samping intervensi pengurangan nyeri, 8) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat.
Kondisi: Risiko Syok Hipovolemik
Kode SDKI: 0208
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan volume sirkulasi darah yang mengancam jiwa, yang dapat mengakibatkan kegagalan perfusi jaringan.
Kode SLKI: 2202
Deskripsi : Perfusi jaringan membaik. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam batas normal (TD stabil, nadi kuat dan teratur), 2) Haluaran urine adekuat (>30 ml/jam), 3) Warna, kehangatan, dan kelembaban kulit normal, 4) CRT < 2 detik, 5) Status mental baik (compos mentis).
Kode SIKI: 4250
Deskripsi : Pemantauan Syok. Intervensi: 1) Pantau dan catat tanda vital (TD, nadi, respirasi, suhu) secara ketat dan berkala, 2) Kaji status perfusi perifer (kehangatan akral, CRT, warna kulit), 3) Pantau keseimbangan cairan (intake dan output cairan) setiap jam atau sesuai kebutuhan, 4) Observasi karakteristik perdarahan pervaginam jika ada, 5) Kaji tingkat kesadaran (GCS) dan tanda-tanda gelisah/cemas, 6) Kolaborasi pemasangan akses intravena dan pemberian cairan resusitasi sesuai program, 7) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (seperti hemoglobin, hematokrit, elektrolit), 8) Siapkan dan kolaborasi pemberian transfusi darah jika diperlukan, 9) Posisikan pasien dengan posisi trendelenburg atau sesuai kondisi, 10) Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0733
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang samar-samar atau tidak jelas sumbernya sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: 1501
Deskripsi : Kontrol Ansietas. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan perasaan berkurangnya kecemasan, 2) Menunjukkan perilaku yang menunjukkan penurunan ansietas (wajah rileks, dapat beristirahat), 3) Mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk mengatasi ansietas, 4) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 5340
Deskripsi : Pengurangan Ansietas. Intervensi: 1) Kaji tingkat ansietas (ringan, sedang, berat, panik) dan faktor penyebabnya, 2) Dengarkan keluhan dan ekspresi perasaan pasien dengan penuh perhatian dan empati, 3) Berikan informasi yang jujur, jelas, dan sederhana tentang kondisi kehamilan, rencana pemeriksaan, dan pengobatan, 4) Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan sebelum memulainya, 5) Ajarkan teknik relaksasi sederhana (napas dalam, relaksasi otot progresif), 6) Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional, 7) Bantu pasien mengidentifikasi mekanisme koping yang positif, 8) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, 9) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain jika diperlukan pendekatan lebih lanjut.
-
Article No. 25080 | 13 Apr 2026
Klinis : Seorang pria berusia 22 tahun dibawa ke rumah sakit kami sekitar 2,5 jam setelah menelan 200 tablet berkafein tinggi (200 mg/tablet) (total 40 g kafein) dalam upaya bunuh diri. Saat tiba, pasien muntah sesering mungkin dengan tanda-tanda vital sebagai berikut: skor Glasgow Coma Scale (GCS) E3V2M5, denyut jantung (HR) 185 detak/menit, tekanan darah (BP) 97/62 mmHg, laju pernapasan 24 napas/menit, dan SpO2 94% (udara ruangan). Analisis gas darah arteri dan biokimia darah menunjukkan asidosis campuran yang parah dengan hiperlaktatemia dan hiperglikemia sebagai berikut: pH 6,80, PaCO2 68,3 mmHg, HCO3− 10,6 mmol/L, BE −25,4 mmol/L, laktat serum (Laktat) 211 mg/dL, dan glukosa serum (Glu) 318 mg/dL. Data lainnya tidak luar biasa. Elektrokardiogram (EKG) menunjukkan takikardia sinus. Tak lama setelah tiba, pasien mengalami fibrilasi ventrikel (VF) yang refrakter terhadap tiga kali defibrilasi listrik (bifasik 150 J), pemberian amiodaron secara intravena (300 mg), dan magnesium sulfat (2 g). Pasien kemudian diintubasi secara endotrakeal dan dimulai VA-ECMO (2200 rpm, aliran 3,3 L/menit). Arang aktif (50 g) dan pencahar dengan sorbitol diberikan melalui selang nasogastrik. Dua puluh menit setelah dimulainya VA-ECMO, VF berubah menjadi takikardia sinus dengan HR 170 detak/menit. Pada 2 jam setelah kedatangan di rumah sakit (1,5 jam setelah dimulainya ECMO), hemodialisis intermiten (IHD) (aliran darah 200 mL/menit, aliran dialisat 500 mL/menit) dimulai dan dilanjutkan selama 11 jam. Pada 4,5 jam setelah dimulainya IHD, takikardia parah tetap tidak berubah, namun asidosis laktat membaik (Tabel 1). Pada akhir IHD (13 jam setelah tiba), takikardia dan pH kembali normal (Tabel 1). Ekokardiogram menunjukkan fraksi ejeksi (EF) sebesar 18% dan velocity time integral (VTI) sebesar 5 cm. Kreatin kinase (CK) serum meningkat menjadi 66.903 U/L yang menghasilkan urin berwarna coklat tua. Mulai dari 15 jam setelah tiba, hemodiafiltrasi intermiten (IHDF) (aliran darah, 200 mL/menit; aliran dialisat, 500 mL/menit; aliran cairan pengganti, 1500 mL/menit; aliran filtrasi, 1500 mL/menit) dilakukan untuk membantu pembersihan mioglobin selama 7 jam. Pada akhir IHDF (22 jam setelah tiba), tidak ada perubahan signifikan pada tanda-tanda vital atau data laboratorium yang diamati selain tekanan darah yang meningkat (Tabel 1) Pada hari perawatan ke-3, fungsi jantung tetap tertekan dengan EF 30% dan VTI 10 cm. Edema umum, efusi pleura pada ultrasonografi, dan kongesti paru pada rontgen dada. Pasien mengalami cedera ginjal akut (AKI) oligurik dengan nitrogen urea darah (BUN) 23,4 mg/dL dan kreatinin serum (Cr) 2,51 mg/dL. Mulai dari 38 jam setelah tiba, hemodiafiltrasi kontinu (CHDF) dimulai. Pada hari perawatan ke-7, VA-ECMO dihentikan karena hemodinamik pasien cukup membaik dengan EF 50% dan VTI 12 cm. Pada hari perawatan ke-11, CHDF dialihkan ke IHD karena AKI menetap dengan BUN/Cr 56,6 mg/dL / 4,05 mg/dL. Pasien diekstubasi pada hari perawatan ke-18 karena kemacetan paru membaik, dan dilepas dari hemodialisis pada hari perawatan ke-46 karena AKI membaik menjadi BUN/Cr 30 mg/dL / 3,1 mg/dL. Pada hari ke-113, pasien dipindahkan ke rumah sakit lain untuk rehabilitasi fisik. Kadar kafein serum ditentukan menggunakan kromatografi cair-spektrometri massa tandem di Pusat Toksikologi Klinis Rumah Sakit Universitas Kedokteran Saitamadan adalah sebagai berikut: 454,9 mg/dL saat tiba di rumah sakit, 55,5 mg/dL pada akhir IHD pertama, 13,8 mg/dL pada 4 jam setelah dimulainya IHDF, 44,3 mg/dL pada hari perawatan ke-3, dan 26,7 mg/dL pada hari perawatan ke-4 (Gbr. 1).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Keracunan Kafein Akut dengan Gagal Jantung, Gagal Napas, dan Cedera Ginjal Akut
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Curah jantung memadai
Kode SIKI: I.01279
Deskripsi : Memantau curah jantung
Kondisi: Keracunan Kafein Akut dengan Gagal Jantung, Gagal Napas, dan Cedera Ginjal Akut
Kode SDKI: D.0099
Deskripsi Singkat: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03040
Deskripsi : Pertukaran gas memadai
Kode SIKI: I.04003
Deskripsi : Manajemen jalan napas
Kondisi: Keracunan Kafein Akut dengan Gagal Jantung, Gagal Napas, dan Cedera Ginjal Akut
Kode SDKI: D.0126
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SLKI: L.03106
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan
Kode SIKI: I.01252
Deskripsi : Memantau tekanan darah
Kondisi: Keracunan Kafein Akut dengan Gagal Jantung, Gagal Napas, dan Cedera Ginjal Akut
Kode SDKI: D.0180
Deskripsi Singkat: Risiko Keracunan
Kode SLKI: L.07028
Deskripsi : Keracunan teratasi
Kode SIKI: I.05125
Deskripsi : Manajemen keracunan
Kondisi: Keracunan Kafein Akut dengan Gagal Jantung, Gagal Napas, dan Cedera Ginjal Akut
Kode SDKI: D.0067
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Bersihan jalan napas memadai
Kode SIKI: I.04002
Deskripsi : Suction jalan napas
Kondisi: Keracunan Kafein Akut dengan Gagal Jantung, Gagal Napas, dan Cedera Ginjal Akut
Kode SDKI: D.0161
Deskripsi Singkat: Volume Cairan Berlebih
Kode SLKI: L.06017
Deskripsi : Keseimbangan cairan
Kode SIKI: I.02007
Deskripsi : Manajemen cairan
Kondisi: Keracunan Kafein Akut dengan Gagal Jantung, Gagal Napas, dan Cedera Ginjal Akut
Kode SDKI: D.0047
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol nyeri
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen nyeri
Kondisi: Keracunan Kafein Akut dengan Gagal Jantung, Gagal Napas, dan Cedera Ginjal Akut
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Risiko Bunuh Diri
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Perilaku adaptif
Kode SIKI: I.13001
Deskripsi : Meningkatkan koping
-
Article No. 25081 | 13 Apr 2026
Klinis : Di wilayah Puskesmas Tanjung Sari, seorang perawat komunitas melakukan kunjungan rumah kepada keluarga Tn. H yang tinggal di lingkungan padat penduduk. Kunjungan ini dilakukan setelah petugas puskesmas menemukan salah satu anggota keluarga mengalami keluhan yang mengarah pada anemia. Keluarga Tn. H terdiri dari empat orang yaitu Tn. H sebagai kepala keluarga berusia 45 tahun yang bekerja sebagai buruh bangunan, Ny. H sebagai ibu rumah tangga berusia 40 tahun, An. R anak pertama berusia 17 tahun yang masih duduk di bangku SMA, dan An. D anak kedua berusia 10 tahun yang masih duduk di sekolah dasar. Saat dilakukan kunjungan rumah, keluarga mengatakan bahwa An. R sering mengeluh cepat lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi saat belajar di sekolah. Keluhan tersebut sudah dirasakan sekitar dua bulan terakhir. Ibu pasien juga mengatakan bahwa anaknya terlihat lebih pucat dibandingkan biasanya dan sering mengeluh lemas terutama setelah pulang sekolah. Menurut Ny. H, An. R sering melewatkan sarapan pagi karena terburu-buru berangkat ke sekolah. Pola makan An. R juga kurang teratur dan lebih sering mengonsumsi makanan ringan seperti mie instan dan jajanan daripada makanan bergizi. Sayur dan makanan yang mengandung zat besi seperti daging atau hati jarang dikonsumsi karena keluarga menganggap makanan tersebut mahal. Beberapa hari sebelum kunjungan rumah, An. R sempat dibawa ke Puskesmas karena merasa sangat lemas dan pusing saat mengikuti kegiatan di sekolah. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas kesehatan, didapatkan hasil kadar hemoglobin (Hb) 9 g/dL sehingga An. R didiagnosis mengalami anemia ringan hingga sedang. Petugas kesehatan memberikan tablet tambah darah dan menyarankan keluarga untuk memperbaiki pola makan serta melakukan kontrol ulang. Saat pengkajian oleh perawat, keluarga mengatakan belum memahami secara jelas tentang penyakit anemia, penyebabnya, maupun cara perawatan yang tepat di rumah. Keluarga juga mengatakan biasanya memberikan makanan yang sama kepada seluruh anggota keluarga tanpa memperhatikan kebutuhan khusus bagi anggota keluarga yang sedang sakit. Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik oleh perawat, didapatkan kondisi An. R tampak lemah dan pucat, terutama pada konjungtiva mata dan bibir. Tanda vital menunjukkan tekanan darah 96/70 mmHg, nadi 96x per menit, frekuensi napas 22x per menit, dan suhu tubuh 36,8°C. Berat badan pasien 45 kg dan tinggi badan 160 cm. Lingkungan rumah keluarga cukup bersih dengan ventilasi yang baik. Hubungan antar anggota keluarga terlihat harmonis dan saling mendukung. Keluarga juga mengatakan jika ada anggota keluarga yang sakit biasanya mereka memeriksakan diri ke puskesmas terdekat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Defisit Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh dan Kurang Pengetahuan terkait Kondisi Kesehatan dan Penatalaksanaannya pada Remaja dengan Anemia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Defisit Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada kasus An. R, risiko ini dimanifestasikan dengan pola makan tidak teratur, sering melewatkan sarapan, konsumsi tinggi mie instan dan jajanan, serta asupan rendah sayur dan sumber zat besi seperti daging dan hati karena faktor ekonomi. Kebiasaan ini, ditambah dengan kondisi anemia yang sudah terdiagnosis (Hb 9 g/dL), menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi khususnya zat besi, asam folat, dan vitamin B12 tidak terpenuhi, sehingga berisiko memperburuk kondisi anemianya. Defisit nutrisi ini menjadi penyebab utama dan faktor eksaserbasi dari keluhan cepat lelah, pusing, sulit konsentrasi, lemas, dan pucat yang dialami.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI L.03115: Kebutuhan Nutrisi Terpenuhi. Tujuan dari intervensi keperawatan ini adalah agar kebutuhan nutrisi An. R terpenuhi untuk mendukung proses penyembuhan anemia. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) An. R dan keluarga mampu mengidentifikasi makanan sumber zat besi (heme dan non-heme), vitamin C (untuk meningkatkan penyerapan), asam folat, dan vitamin B12 yang terjangkau, seperti hati ayam, telur, ikan teri, bayam, kacang-kacangan, jeruk, dan tomat. (2) An. R menunjukkan peningkatan nafsu makan dan konsistensi dalam pola makan teratur, termasuk tidak melewatkan sarapan. (3) Terjadi peningkatan parameter biokimia (kadar hemoglobin) yang ditargetkan mendekati normal (>12 g/dL untuk remaja putri atau sesuai standar) dalam waktu tertentu setelah intervensi. (4) Keluarga mampu menyusun menu harian/mingguan yang bergizi seimbang dengan mempertimbangkan sumber zat besi, meski dengan anggaran terbatas. (5) An. R melaporkan penurunan keluhan seperti lemas, lelah, dan pusing seiring dengan perbaikan asupan nutrisi. Pemenuhan nutrisi ini adalah kunci utama dalam manajemen anemia defisiensi besi.
Kode SIKI: I.05241
Deskripsi : I.05241: Manajemen Nutrisi. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan perawat komunitas untuk memastikan terpenuhinya SLKI. Tindakan spesifik meliputi: (1) Melakukan pendidikan kesehatan (health education) kepada An. R dan seluruh keluarga (terutama Ny. H sebagai pengelola makanan) tentang pentingnya nutrisi dalam penyembuhan anemia, menjelaskan hubungan antara gejala (lemas, pucat) dengan kurangnya zat besi. (2) Melakukan asesmen lebih mendalam tentang pola makan, kebiasaan makan, preferensi makanan, dan kendala ekonomi keluarga untuk menyusun rencana yang realistis. (3) Berkolaborasi dengan keluarga untuk menyusun daftar belanja dan menu mingguan yang ekonomis namun kaya zat besi dan vitamin pendukung, termasuk modifikasi resep masakan. (4) Mendemonstrasikan atau memberikan contoh cara pengolahan makanan yang tepat untuk mempertahankan kandungan zat besi (misalnya, tidak merebus sayuran terlalu lama). (5) Memotivasi An. R untuk disiplin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran petugas puskesmas dan menjelaskan peran TTD sebagai suplemen, bukan pengganti makanan bergizi. (6) Memberikan konseling tentang pentingnya sarapan dan membawa bekal dari rumah untuk mengurangi ketergantungan pada jajanan. (7) Melakukan kunjungan tindak lanjut atau komunikasi berkala untuk memantau kepatuhan diet, kemajuan gejala, dan kemungkinan hambatan. (8) Jika diperlukan, merujuk ke ahli gizi puskesmas atau memanfaatkan program suplementasi gizi yang tersedia di komunitas. Intervensi ini bersifat holistik, melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung, dan menekankan pada pemberdayaan (empowerment) keluarga untuk mengelola masalah kesehatan secara mandiri.
Kondisi: Kurang Pengetahuan tentang Kondisi Kesehatan, Prognosis, dan Penatalaksanaannya
Kode SDKI: D.0180
Deskripsi Singkat: Kurang Pengetahuan tentang Kondisi Kesehatan, Prognosis, dan Penatalaksanaannya adalah keadaan dimana individu atau keluarga mengalami keterbatasan atau tidak memiliki informasi kognitif yang terkait dengan kondisi penyakit, perjalanan penyakit, dan cara perawatannya. Pada kasus ini, keluarga Tn. H secara eksplisit menyatakan belum memahami secara jelas tentang penyakit anemia, penyebabnya, maupun cara perawatan yang tepat di rumah. Ketidaktahuan ini berdampak pada pola asuhan keluarga, dimana mereka memberikan makanan yang sama untuk semua anggota tanpa memperhatikan kebutuhan khusus An. R yang anemia. Kurangnya pengetahuan menyebabkan keluarga tidak dapat mengambil keputusan kesehatan yang tepat, seperti mengoptimalkan diet kaya zat besi, memastikan kepatuhan minum TTD, dan memantau tanda-tanda perburukan. Ini merupakan hambatan signifikan dalam manajemen anemia jangka panjang.
Kode SLKI: L.09064
Deskripsi : L.09064: Pengetahuan tentang Penyakit Meningkat. Tujuan intervensi adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga Tn. H (khususnya orang tua dan An. R) mengenai anemia. Kriteria hasil yang diharapkan: (1) Keluarga mampu menjelaskan kembali dengan bahasa sendiri pengertian anemia, penyebab utama (khususnya defisiensi besi akibat asupan kurang dan pola makan tidak seimbang), serta gejala-gejalanya (pucat, lemas, pusing, sulit konsentrasi). (2) Keluarga memahami pentingnya pemeriksaan hemoglobin dan tujuan kontrol ulang ke puskesmas. (3) Keluarga mampu menyebutkan komplikasi yang mungkin terjadi jika anemia tidak ditangani (seperti penurunan daya tahan tubuh dan gangguan perkembangan kognitif pada remaja). (4) Keluarga mengetahui dengan baik cara perawatan di rumah, termasuk manajemen diet, pemberian TTD, dan istirahat yang cukup. (5) Keluarga menyadari pentingnya peran masing-masing anggota (ayah, ibu, anak) dalam mendukung proses penyembuhan An. R. Peningkatan pengetahuan ini diharapkan mengubah persepsi keluarga tentang "makanan mahal" menjadi investasi kesehatan yang dapat diakali dengan pilihan sumber nutrisi yang lebih terjangkau.
Kode SIKI: I.05310
Deskripsi : I.05310: Pendidikan Kesehatan. Intervensi ini berfokus pada pemberian informasi yang terstruktur dan mudah dipahami untuk mencapai SLKI peningkatan pengetahuan. Tindakan perawat meliputi: (1) Melakukan penilaian awal terhadap tingkat pengetahuan, keyakinan, dan persepsi keluarga tentang anemia dan pengobatannya. (2) Menyusun materi pendidikan kesehatan yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan budaya keluarga, menggunakan bahasa yang sederhana dan alat bantu visual (seperti gambar atau leaflet). (3) Menjelaskan proses terjadinya anemia defisiensi besi secara ringkas, menghubungkan langsung dengan kebiasaan makan An. R. (4) Mendiskusikan pentingnya peran zat besi dalam pembentukan hemoglobin dan pengangkutan oksigen, serta akibat jika kekurangan. (5) Memberikan penjelasan tentang tujuan, aturan minum, efek samping (seperti feses menghitam), dan pentingnya kepatuhan mengonsumsi TTD yang telah diberikan puskesmas. (6) Melibatkan keluarga dalam diskusi interaktif untuk mengidentifikasi solusi mengatasi kendala ekonomi dalam penyediaan makanan bergizi, mungkin dengan berbagi pengalaman atau tips dari keluarga lain. (7) Memberikan reinforcement (penguatan) positif atas setiap pemahaman yang disampaikan kembali oleh keluarga. (8) Menyediakan sumber informasi tertulis atau kontak yang bisa dihubungi keluarga jika ada pertanyaan setelah kunjungan. Pendidikan kesehatan ini dilakukan dalam suasana kekeluargaan, empatik, dan memberdayakan, sehingga keluarga merasa dilibatkan sebagai mitra dalam perawatan, bukan sekadar penerima pasif instruksi.
-
Article No. 25082 | 13 Apr 2026
Klinis : infeksi berhubungan dengan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko invasi dan multiplikasi patogen.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau mencegah infeksi, penularan, dan komplikasinya. Fokus utamanya adalah menciptakan lingkungan yang aman, memutus rantai infeksi, dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien. Intervensi ini mencakup penerapan prinsip aseptik ketat dalam semua prosedur, seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau lingkungannya. Perawat mengelola dan memantau penggunaan alat invasif (seperti kateter urin, infus, drainase) dengan teknik steril untuk mencegah infeksi nosokomial. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan diri, teknik batuk/bersin yang benar, dan tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai merupakan bagian integral. Perawat juga bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah infeksius yang aman, pembersihan dan disinfeksi lingkungan, serta isolasi bila diperlukan sesuai dengan jenis infeksi. Pemantauan tanda-tanda vital dan gejala sistemik (seperti demam, peningkatan denyut jantung, leukositosis) dilakukan secara berkala untuk deteksi dini. Pemberian nutrisi yang adekuat dan dukungan cairan juga dilaksanakan untuk meningkatkan status imunologis pasien. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk pemberian terapi antibiotik atau antimikroba sesuai indikasi, serta vaksinasi jika tersedia, termasuk dalam lingkup intervensi ini.
Kode SIKI: 190001
Deskripsi : Pantau tanda dan gejala infeksi. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup tidak adanya tanda-tanda klinis dan laboratoris infeksi pada pasien. Secara spesifik, tanda-tanda vital pasien (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah) berada dalam rentang normal yang diharapkan untuk usianya. Tidak ditemukan kemerahan, bengkak, hangat, nyeri, atau adanya drainase purulen pada area luka atau lokasi pemasangan alat invasif. Pasien tidak menunjukkan gejala sistemik seperti demam, menggigil, malaise, atau kebingungan. Hasil pemeriksaan laboratorium penunjang, seperti hitung leukosit dan diferensial, laju endap darah (LED), atau kultur darah/urin, menunjukkan nilai dalam batas normal atau mengalami perbaikan. Pasien dan keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan segera kepada tenaga kesehatan. Lingkungan sekitar pasien tetap bersih dan higienis, mendukung proses penyembuhan. Dengan terpenuhinya kriteria ini, menunjukkan bahwa intervensi kontrol infeksi yang dilakukan telah efektif dalam mencegah terjadinya infeksi atau mengendalikan infeksi yang sudah ada, sehingga mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut dan mempercepat pemulihan pasien.
-
Article No. 25083 | 13 Apr 2026
Klinis : Gds 205
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hiperglikemia (Gula Darah Sewaktu 205 mg/dL)
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah adalah keadaan dimana seorang individu rentan mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengakibatkan komplikasi. Pada kasus ini, pasien menunjukkan bukti hiperglikemia dengan GDS 205 mg/dL, yang jauh di atas batas normal (<140 mg/dL). Diagnosa ini fokus pada kerentanan terhadap fluktuasi glukosa yang lebih lanjut, baik ke arah yang lebih tinggi (hiperglikemia berat, ketoasidosis) maupun ke arah hipoglikemia jika intervensi tidak tepat. Faktor risiko yang mendasari perlu dikaji, seperti ketidakpatuhan terhadap regimen terapi (diet, obat, insulin), infeksi/stres, kurangnya pengetahuan, atau ketidakseimbangan antara asupan makanan dan pengobatan.
Kode SLKI: L.14016
Deskripsi : SLKI L.14016 adalah "Pengendalian Kadar Glukosa Darah". Tujuan utama dari intervensi keperawatan adalah agar kadar glukosa darah pasien dapat dikendalikan dalam rentang target yang ditetapkan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: (1) Pasien menunjukkan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah (makanan, aktivitas, obat, stres). (2) Pasien dapat memantau kadar glukosa darah secara mandiri dan mencatat hasilnya. (3) Pasien mampu mengenali tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsi, lemas, pandangan kabur) dan hipoglikemia. (4) Pasien dapat melakukan tindakan penyesuaian sederhana berdasarkan hasil pemantauan (misalnya, mengatur asupan karbohidrat, menghubungi tenaga kesehatan). (5) Nilai glukosa darah menunjukkan tren menuju target (misalnya, GDS <180 mg/dL atau sesuai target individu). Pencapaian SLKI ini dinilai melalui edukasi, demonstrasi, dan pemeriksaan glukosa darah serial.
Kode SIKI: I.14063
Deskripsi : SIKI I.14063 adalah "Manajemen Hiperglikemia". Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan keperawatan yang spesifik dan terencana untuk menurunkan kadar glukosa darah yang tinggi dan mencegah komplikasi. Tindakan-tindakan tersebut meliputi: (1) **Pemantauan**: Memeriksa kadar glukosa darah secara berkala (seperti GDS 205 mg/dL ini), memantau tanda-tanda vital, dan mengobservasi tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa) serta tanda ketoasidosis (napas berbau aseton, mual, penurunan kesadaran). (2) **Edukasi Terapeutik**: Menjelaskan penyebab hiperglikemia pada kondisi pasien, pentingnya kepatuhan terhadap terapi obat/insulin, prinsip diet diabetes (penghitungan karbohidrat, pembatasan gula sederhana), dan pentingnya aktivitas fisik teratur. (3) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan dokter untuk evaluasi regimen terapi farmakologis (apakah perlu penyesuaian dosis obat hipoglikemik oral atau insulin), dan dengan ahli gizi untuk penyusunan menu individual. (4) **Dukungan Psikososial**: Membantu pasien mengatasi kecemasan atau frustrasi terkait kondisi hiperglikeminya, serta memotivasi untuk melakukan perubahan perilaku. (5) **Manajemen Cairan**: Mendorong asupan cairan non-kalori yang adekuat (air putih) untuk mencegah dehidrasi akibat diuresis osmotik. (6) **Pencegahan Komplikasi**: Mengajarkan perawatan kaki dan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin (mata, ginjal, jantung). Implementasi SIKI ini harus didokumentasikan dengan baik untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dalam menurunkan nilai glukosa darah dan meningkatkan kemandirian pasien dalam mengelola penyakitnya.
-
Article No. 25084 | 13 Apr 2026
Klinis : Bronkopneumonia dengan keluhan sesak, bapil sudah lebih dari 2 minggu dan juga anak rewel
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bronkopneumonia pada Anak dengan Sesak Napas dan Rewel
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Ditandai dengan: 1) Tidak ada sianosis, 2) Pernapasan reguler dan irama teratur, 3) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, 4) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 5) Analisis gas darah dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3201A, 3201B, 3201C, 3201D, 3201E, 3201F, 3201G, 3201H, 3201I, 3201J, 3201K, 3201L, 3201M, 3201N, 3201O, 3201P, 3201Q, 3201R, 3201S, 3201T, 3201U, 3201V, 3201W, 3201X, 3201Y, 3201Z
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mendukung tercapainya SLKI 3201 meliputi: Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu); Memonitor status oksigenasi (saturasi, warna kulit/mukosa); Mengatur posisi semi-Fowler atau sesuai toleransi untuk memaksimalkan ekspansi paru; Melakukan fisioterapi dada (jika diindikasikan) seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage; Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif; Memberikan terapi oksigen sesuai program dan memonitor efektivitasnya; Memastikan kepatuhan terhadap terapi obat (antibiotik, bronkodilator) sesuai resep; Memonitor tanda-tanda vital dan analisis gas darah secara berkala; Menjaga lingkungan yang bersih dan bebas dari iritan pernapasan; Memberikan edukasi kepada keluarga tentang tanda-tanda distress pernapasan yang perlu dilaporkan; Memastikan hidrasi adekuat untuk mengencerkan sekret; Memonitor tingkat kelelahan dan memberikan istirahat yang cukup; Melakukan suction jalan napas jika diperlukan; Meningkatkan sirkulasi udara di ruangan; Memfasilitasi aktivitas sesuai toleransi untuk mencegah komplikasi imobilisasi; serta Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam penatalaksanaan terapi.
Kondisi: Bronkopneumonia pada Anak dengan Sesak Napas dan Rewel
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 1461
Deskripsi : Kontrol nyeri. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan nyeri berkurang, 2) Ekspresi wajah rileks, 3) Dapat beristirahat, 4) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 1461A, 1461B, 1461C, 1461D, 1461E, 1461F, 1461G, 1461H, 1461I, 1461J, 1461K, 1461L, 1461M, 1461N, 1461O, 1461P, 1461Q, 1461R, 1461S, 1461T, 1461U, 1461V, 1461W, 1461X, 1461Y, 1461Z
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi nyeri akut pada anak dengan bronkopneumonia meliputi: Melakukan pengkajian nyeri komprehensif menggunakan skala yang sesuai usia (FLACC, Wong-Baker Faces); Mengobservasi perilaku nonverbal seperti menangis, gelisah, postur tubuh, dan ekspresi wajah; Memberikan analgesik sesuai program dokter dan mengevaluasi efektivitas serta efek sampingnya; Mengatur posisi yang nyaman untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi ketegangan otot; Memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat; Melakukan distraksi sesuai usia seperti membacakan cerita, mendengarkan musik, atau bermain; Memberikan terapi non-farmakologi seperti sentuhan terapeutik atau kompres hangat (jika tidak kontraindikasi); Meminimalkan prosedur yang menimbulkan ketidaknyamanan; Memberikan edukasi pada orang tua tentang cara menilai nyeri anak dan teknik non-farmakologi untuk meredakan nyeri; Memonitor tanda vital sebagai indikator fisiologis nyeri; Meningkatkan periode istirahat untuk menghemat energi dan mengurangi ketidaknyamanan; Memastikan kebutuhan dasar terpenuhi untuk meningkatkan kenyamanan umum; Serta berkolaborasi dengan tim untuk penatalaksanaan nyeri yang optimal.
Kondisi: Bronkopneumonia pada Anak dengan Sesak Napas dan Rewel
Kode SDKI: 00147
Deskripsi Singkat: Kecemasan (pada anak/orang tua)
Kode SLKI: 1471
Deskripsi : Kontrol kecemasan. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan perasaan cemas berkurang, 2) Ekspresi wajah rileks, 3) Dapat beristirahat, 4) Dapat berkonsentrasi.
Kode SIKI: 1471A, 1471B, 1471C, 1471D, 1471E, 1471F, 1471G, 1471H, 1471I, 1471J, 1471K, 1471L, 1471M, 1471N, 1471O, 1471P, 1471Q, 1471R, 1471S, 1471T, 1471U, 1471V, 1471W, 1471X, 1471Y, 1471Z
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengurangi kecemasan anak dan orang tua meliputi: Membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan yang ramah dan tidak terburu-buru; Memberikan penjelasan tentang prosedur dan kondisi penyakit dengan bahasa yang sesuai usia dan mudah dimengerti; Mendorong orang tua untuk terlibat dalam perawatan anak (presence) untuk memberikan rasa aman; Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam atau imajinasi terbimbing; Memfasilitasi kegiatan bermain atau aktivitas yang disukai anak sebagai distraksi; Memberikan informasi yang jujur dan konsisten untuk mengurangi ketidakpastian; Mengidentifikasi sumber kecemasan dan membantu mengatasi persepsi yang tidak tepat; Menciptakan lingkungan yang aman dan suportif; Mendorong ekspresi perasaan melalui verbal atau nonverbal (menggambar, bermain); Memberikan dukungan emosional dan validasi perasaan yang dialami; Memastikan komunikasi yang efektif antar tim kesehatan untuk memberikan informasi yang koheren; Serta merujuk ke konselor atau support group jika diperlukan. Pada orang tua, edukasi tentang perawatan dan perkembangan penyakit dapat sangat mengurangi kecemasan.
-
Article No. 25085 | 13 Apr 2026
Klinis : Bronkopneumonia dengan keluhan sesak, bapil sudah lebih dari 2 minggu dan juga anak rewel
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bronkopneumonia pada Anak dengan Sesak Napas dan Rewel
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Pertukaran gas membaik ditandai dengan: frekuensi pernapasan dalam rentang normal sesuai usia, tidak ada sianosis, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, saturasi oksigen dalam rentang normal sesuai usia, dan hasil analisis gas darah dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3201A
Deskripsi : Kaji status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas). Intervensi ini merupakan tindakan pengkajian mendalam terhadap pola pernapasan pasien. Perawat mengobservasi dan menghitung frekuensi napas per menit, membandingkannya dengan rentang normal sesuai kelompok usia anak. Selanjutnya, perawat mengamati irama napas apakah teratur atau tidak, serta kedalaman napas (dangkal atau dalam). Aspek kritis adalah mengidentifikasi usaha napas yang meningkat, seperti adanya tarikan dinding dada (retraksi interkostal, subkostal, atau suprasternal), penggunaan otot bantu pernapasan (leher dan bahu), dan adanya bunyi napas tambahan seperti mengi (wheezing) atau ronki (crackles) yang khas pada bronkopneumonia. Pengkajian juga mencakup observasi tanda hipoksia seperti sianosis (kebiruan) pada sekitar mulut, ujung jari, atau lidah, serta tingkat kesadaran dan kegelisahan anak. Pemeriksaan saturasi oksigen dengan pulse oximeter menjadi bagian integral dari intervensi ini untuk mendapatkan data objektif. Data dari pengkajian ini menjadi dasar untuk mengevaluasi keparahan gangguan pertukaran gas dan menentukan kebutuhan intervensi selanjutnya, seperti pemberian oksigen atau fisioterapi dada. Dilakukan secara berkala untuk memantau perkembangan atau penurunan kondisi.
Kondisi: Bronkopneumonia pada Anak dengan Sesak Napas dan Rewel
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 1461
Deskripsi : Kontrol nyeri tercapai ditandai dengan: pasien melaporkan nyeri berkurang/hilang, skala nyeri menurun, tanda-tanda vital dalam rentang normal, dan tidak ada perilaku yang menunjukkan nyeri (seperti menangis, gelisah, atau melindungi area tertentu).
Kode SIKI: 1461A
Deskripsi : Kaji nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi). Intervensi ini melibatkan pengkajian komprehensif terhadap pengalaman nyeri yang dialami anak. Pada pasien bronkopneumonia, nyeri dapat berasal dari pleuritis (radang selaput paru), batuk yang terus-menerus, atau kelelahan otot pernapasan. Karena pasien adalah anak yang mungkin rewel dan belum dapat mengkomunikasikan nyeri dengan baik, perawat harus menggunakan metode pengkajian yang sesuai usia, seperti skala wajah (Faces Pain Scale) atau observasi perilaku. Perawat mengidentifikasi lokasi nyeri (misalnya dada saat batuk atau bernapas dalam), karakteristiknya (tajam, tumpul, tertekan), durasi dan frekuensinya (terus-menerus atau hilang-timbul), serta kualitasnya. Faktor presipitasi seperti batuk, pernapasan dalam, atau pergerakan tubuh juga dicatat. Pengkajian perilaku non-verbal sangat penting, termasuk tangisan, ekspresi wajah menyeringai, postur tubuh (menghindari gerakan, memeluk dada), perubahan pola tidur dan makan, serta tingkat iritabilitas atau kerewelan yang meningkat. Pengkajian ini juga mempertimbangkan faktor kontekstual seperti lingkungan asing di rumah sakit yang dapat meningkatkan stres dan persepsi nyeri. Data yang dikumpulkan digunakan untuk menentukan penyebab nyeri, intensitasnya, dan efektivitas intervensi penghilang nyeri yang diberikan, sehingga kenyamanan anak dapat ditingkatkan untuk mendukung proses penyembuhan.
Kondisi: Bronkopneumonia pada Anak dengan Sesak Napas dan Rewel
Kode SDKI: 00015
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: 1501
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga ditandai dengan: tanda-tanda vital dalam rentang normal, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, intake dan output seimbang, dan berat badan stabil.
Kode SIKI: 1501A
Deskripsi : Pantau tanda-tanda dehidrasi. Intervensi ini berfokus pada deteksi dini kekurangan volume cairan yang berisiko terjadi pada anak dengan bronkopneumonia. Demam, peningkatan frekuensi pernapasan (yang menyebabkan kehilangan cairan melalui udara pernapasan), serta penurunan asupan minum akibat sesak, lemas, dan rewel, merupakan faktor risiko dehidrasi. Perawat secara sistematis memantau tanda-tanda klinis dehidrasi, dimulai dari observasi keadaan umum seperti tingkat kesadaran dan kelemahan. Pemeriksaan tanda vital mencakup pengukuran suhu (demam meningkatkan kebutuhan cairan), nadi (dapat meningkat dan lemah saat dehidrasi), dan tekanan darah (dapat menurun). Pemeriksaan turgor kulit dengan mencubit kulit perut atau dorsum tangan dinilai; kembalinya kulit yang lambat (turgor menurun) mengindikasikan dehidrasi. Perawat memeriksa kelembaban membran mukosa mulut dan lidah, serta keberadaan air mata saat menangis. Pada bayi, fontanel anterior dapat cekung. Pemantauan ketat terhadap intake (cairan minum, infus) dan output (volume urin, frekuensi BAK) sangat penting; output urin yang menurun (<1-2 ml/kg/jam) adalah tanda peringatan. Perubahan berat badan harian adalah indikator yang sangat sensitif; penurunan berat badan yang cepat mencerminkan kehilangan cairan. Pemantauan laboratorium seperti hematokrit dan elektrolit juga dipertimbangkan. Intervensi ini bersifat preventif dan detektif, bertujuan untuk mengidentifikasi ketidakseimbangan cairan sedini mungkin sehingga intervensi rehidrasi yang tepat (oral atau parenteral) dapat segera diberikan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
-
Article No. 25086 | 13 Apr 2026
Klinis : Benjolan leher kanan sejak 2 bulan yang lalu awalnya sebesar biji jagung namun 1 Bulan ini makin membesar. Benjolan tidak teraba nyeri, Sesak nafas tidak ada. Batuk ada hilang timbul. Demam tidak ada. Riwayat sesak nafas tidak ada. Pasien saat ini sudah makan nasi namun jumlah sedikit. Diagnosa: lympangioma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan berat badan dan/atau asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Pasien menunjukkan pemenuhan nutrisi yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Berat badan stabil atau meningkat mencapai rentang yang diharapkan; 2) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan; 3) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi (seperti kelemahan, kelelahan, penurunan massa otot, atau perubahan integumen); 4) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam rentang normal; 5) Menyatakan pemahaman tentang pentingnya nutrisi dan mampu mengidentifikasi pilihan makanan yang sesuai. Dalam konteks pasien dengan limfangioma yang mengalami penurunan nafsu makan, SLKI ini menjadi tujuan utama dimana perawat berupaya agar pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan asupan nutrisinya untuk mendukung kondisi kesehatan secara keseluruhan dan kesiapan jika diperlukan tindakan medis lebih lanjut.
Kode SIKI: I.10241
Deskripsi : Intervensi Manajemen Nutrisi. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat. Penjelasan rinci mencakup: Pertama, pengkajian komprehensif meliputi pola makan, riwayat berat badan, faktor yang mempengaruhi nafsu makan (seperti kecemasan akan benjolan, efek massa tumor di leher yang mungkin membuat tidak nyaman saat menelan), serta pemeriksaan antropometri dan tanda klinis malnutrisi. Kedua, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan zat gizi spesifik lainnya berdasarkan kondisi pasien. Ketiga, memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya nutrisi dalam mendukung sistem imun dan proses penyembuhan, serta strategi untuk meningkatkan asupan seperti makan porsi kecil tetapi sering, memilih makanan dengan kepadatan kalori dan protein tinggi (seperti telur, ikan, daging lembut, avokad, susu), dan memastikan lingkungan makan yang nyaman. Keempat, memodifikasi tekstur makanan jika terdapat keluhan ketidaknyamanan menelan (dysphagia) akibat massa di leher, misalnya dengan menyajikan makanan lunak atau cair. Kelima, memantau dan mendokumentasikan asupan makanan dan cairan secara ketat (catatan intake-output), serta perkembangan berat badan secara berkala. Keenam, memberikan dukungan psikologis dan motivasi untuk makan, karena kecemasan dan kekhawatiran terhadap diagnosis dapat sangat menekan nafsu makan. Ketujuh, kolaborasi dengan tim medis jika diperlukan suplementasi nutrisi oral atau dukungan nutrisi lainnya. Intervensi ini bersifat holistik, tidak hanya berfokus pada makanan tetapi juga pada faktor psikologis dan lingkungan, dengan tujuan akhir mencegah komplikasi malnutrisi seperti penurunan imunitas, penyembuhan lambat, dan kelemahan otot.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: M.3.2
<>Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau khawatir yang tidak pasti terkait dengan ancaman yang dirasakan.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Pasien menunjukkan penurunan tingkat ansietas. Kriteria hasil meliputi: 1) Pasien dapat mengidentifikasi dan menyatakan perasaan ansietasnya; 2) Menunjukkan tanda-tanda fisiologis ansietas yang menurun (seperti frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tidak gelisah); 3) Menggunakan strategi koping yang efektif untuk mengelola kekhawatiran; 4) Melaporkan perasaan lebih tenang dan mampu beristirahat; 5) Mengajukan pertanyaan yang relevan tentang kondisi dan perawatannya, menunjukkan keterlibatan dalam proses penyembuhan. Bagi pasien dengan benjolan yang membesar dan menunggu penanganan lebih lanjut, pencapaian SLKI ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan kerjasama dalam perawatan.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Intervensi Pengurangan Ansietas. Intervensi ini mencakup tindakan untuk mengurangi perasaan cemas, ketakutan, dan kekhawatiran pasien. Penjelasan rinci meliputi: Membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan empati dan aktif mendengarkan, memberikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaannya tentang benjolan, proses diagnosis, dan ketakutannya akan kemungkinan penyakit serius. Memberikan informasi yang akurat, jujur, dan sesuai kebutuhan tentang limfangioma (sifat jinak, pilihan penanganan) dalam bahasa yang mudah dipahami untuk mengurangi ketidakpastian yang merupakan sumber utama ansietas. Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam (deep breathing) atau relaksasi progresif untuk membantu mengelola gejala ansietas saat muncul. Mendorong partisipasi keluarga untuk memberikan dukungan emosional. Membantu pasien mengidentifikasi kekuatan dan strategi koping positif yang pernah berhasil digunakan di masa lalu. Memfasilitasi lingkungan yang tenang dan mendukung. Serta memantau respons emosional dan fisiologis terhadap ansietas secara berkala. Intervensi ini bertujuan memberdayakan pasien sehingga merasa lebih memegang kendali atas situasinya, yang pada gilirannya dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Kondisi: Ketidakefektifan Pola Nafas
Kode SDKI: B.3.2
Deskripsi Singkat: Gangguan inspirasi dan/atau ekspirasi yang menyebabkan tidak adekuatnya ventilasi.
Kode SLKI: L.04003
Deskripsi : Pasien mempertahankan pola nafas yang efektif. Kriteria hasil mencakup: 1) Frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan dalam rentang normal; 2) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan; 3) Tidak menunjukkan tanda distress pernapasan (seperti sianosis, gelisah); 4) Suara napas bersih di seluruh lapang paru; 5) Nilai gas darah arteri (jika diperiksa) dalam batas normal. Meskipun pasien melaporkan tidak sesak napas saat ini, adanya benjolan di leher yang membesar dan keluhan batuk hilang timbul menandakan potensi risiko kompresi jalan napas. SLKI ini menjadi tujuan pencegahan dimana perawat berupaya mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal.
Kode SIKI: I.0890
Deskripsi : Intervensi Pemantauan Respirasi. Intervensi ini melibatkan pengumpulan dan interpretasi data tentang status pernapasan pasien untuk mendeteksi dini adanya gangguan. Penjelasan rinci meliputi: Memantau dan mendokumentasikan frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan secara teratur (setiap shift atau lebih sering jika diperlukan). Auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya suara tambahan seperti stridor (suara napas bernada tinggi yang mengindikasikan obstruksi jalan napas atas) atau wheezing. Mengobservasi adanya tanda sianosis, penggunaan otot bantu napas, dan perubahan posisi tubuh untuk mempermudah bernapas (tripod position). Memantau karakteristik batuk dan upaya untuk membersihkan jalan napas. Mengkaji tingkat kecemasan yang dapat memperburupola pernapasan. Mengajarkan pasien dan keluarga untuk segera melaporkan gejala seperti sesak napas, rasa tercekik, atau perubahan suara. Memastikan alat bantu resusitasi tersedia di dekat pasien. Serta berkolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang seperti foto thoraks jika diperlukan. Intervensi pemantauan yang ketat dan berkelanjutan ini sangat krusial untuk keselamatan pasien, mengingat limfangioma di leher memiliki risiko menyebabkan obstruksi jalan napas jika ukurannya terus membesar, sehingga deteksi dini komplikasi menjadi prioritas.
-
Article No. 25087 | 13 Apr 2026
Klinis : Benjolan leher kanan sejak 2 bulan yang lalu awalnya sebesar biji jagung namun 1 Bulan ini makin membesar. Benjolan tidak teraba nyeri, Sesak nafas tidak ada. Batuk ada hilang timbul. Demam tidak ada. Riwayat sesak nafas tidak ada. Pasien saat ini sudah makan nasi namun jumlah sedikit. Diagnosa: lympangioma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan berat badan atau penurunan asupan nutrisi yang dapat menyebabkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : SLKI L.03001 berfokus pada pemantauan dan intervensi untuk memastikan kecukupan nutrisi pasien. Tujuan utamanya adalah mencegah atau mengatasi defisit nutrisi dengan memastikan asupan makanan dan cairan sesuai kebutuhan tubuh. Pada kasus pasien dengan limfangioma leher yang membesar, meskipun tidak ada sesak napas aktif, benjolan di leher dapat menimbulkan ketidaknyamanan mekanis saat menelan, perasaan penuh, atau tekanan pada saluran cerna bagian atas, yang secara tidak langsung mengurangi nafsu makan dan kemampuan mengunyah atau menelan (disfagia mekanis). Pasien melaporkan makan nasi dalam jumlah sedikit, yang merupakan indikator kuat asupan karbohidrat dan total kalori yang tidak adekuat. Perawat akan secara teratur menilai kesulitan menelan, mengobservasi perilaku saat makan, mengukur berat badan secara serial, dan mencatat asupan makanan secara detail (jenis, porsi, frekuensi). Intervensi dapat mencakup kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet dengan tekstur yang sesuai (misalnya lunak atau semi-padat), menyajikan makanan dalam porsi kecil namun sering, memastikan lingkungan makan yang nyaman, serta memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang cukup untuk mendukung daya tahan tubuh dan proses penyembuhan, terutama dalam menghadapi kemungkinan terapi atau pembedahan di kemudian hari. Pemantauan tanda-tanda klinis malnutrisi seperti kelelahan, penurunan massa otot, dan penurunan albumin serum juga menjadi bagian dari luaran ini.
Kode SIKI: I.09179
Deskripsi : SIKI I.09179 adalah intervensi spesifik untuk mengelola risiko ketidakseimbangan nutrisi. Intervensi ini bersifat komprehensif dan proaktif. Pertama, perawat akan melakukan pengkajian nutrisi yang mendalam, termasuk anamnesis pola makan, riwayat penurunan berat badan yang tidak diinginkan, pemeriksaan antropometri (berat badan, indeks massa tubuh), dan pemeriksaan fisik tanda malnutrisi. Kedua, perawat akan mengidentifikasi faktor penyebab penurunan asupan, yang dalam kasus ini sangat mungkin terkait dengan massa di leher (limfangioma) yang menyebabkan ketidaknyamanan atau disfagia mekanis ringan, meskipun pasien tidak menyadarinya secara langsung. Ketiga, perawat akan berkolaborasi dengan tim kesehatan lain, terutama ahli gizi, untuk merencanakan diet yang memenuhi kebutuhan kalori dan protein dengan mempertimbangkan tekstur dan konsistensi makanan yang mudah ditelan. Keempat, perawat akan memfasilitasi pemberian makan, mungkin dengan posisi duduk tegak, memberikan waktu yang cukup, dan mengurangi gangguan. Kelima, perawat akan memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya nutrisi, pilihan makanan padat nutrisi, dan strategi untuk meningkatkan asupan (seperti makan sedikit-sedikit tapi sering). Keenam, perawat akan mendokumentasikan asupan dan output secara akurat serta mengevaluasi efektivitas intervensi melalui parameter seperti tren berat badan dan hasil laboratorium terkait nutrisi. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek teknis, edukatif, dan kolaboratif untuk memastikan kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi sehingga status kesehatannya optimal dalam menghadapi kondisi penyakitnya.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: M.3.1
<>Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau khawatir yang tidak pasti terkait dengan ancaman yang dirasakan.
Kode SLKI: L.14002
Deskripsi : SLKI L.14002 bertujuan untuk mengurangi tingkat ansietas pasien dan meningkatkan kemampuan kopingnya. Pada pasien dengan benjolan leher (limfangioma) yang semakin membesar, ansietas adalah respons yang sangat wajar. Pasien menghadapi ketidakpastian mengenai diagnosis, penyebab benjolan, rencana pengobatan, prosedur medis yang mungkin dijalani (seperti biopsi atau operasi), serta dampak estetika dan fungsional dari benjolan tersebut. Meskipun dalam data tidak disebutkan keluhan cemas secara eksplisit, kehadiran di fasilitas kesehatan dan proses diagnostik itu sendiri seringkali menimbulkan kecemasan. Luaran ini diukur dengan menurunnya tanda-tanda ansietas baik verbal maupun non-verbal. Perawat akan menciptakan lingkungan terapeutik yang mendukung, mendengarkan keluhan dan kekhawatiran pasien dengan empati, memberikan informasi yang jelas dan jujur tentang kondisi dan setiap langkah prosedur yang akan dilakukan, serta mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam. Perawat juga akan mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaannya dan membantu mengidentifikasi sumber dukungan sosial. Tujuan akhirnya adalah pasien melaporkan penurunan perasaan khawatir, tampak lebih tenang, mampu berpartisipasi dalam perawatan, dan memahami rencana perawatan dirinya.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : SIKI I.06001 adalah intervensi mengurangi ansietas melalui pendekatan yang terstruktur. Intervensi dimulai dengan pengkajian tingkat dan sumber ansietas pasien, baik melalui observasi (gelisah, ekspresi wajah tegang) maupun melalui komunikasi terapeutik. Perawat kemudian akan membangun hubungan saling percaya. Intervensi kunci termasuk memberikan informasi yang akurat dan sesuai kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian dan rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui. Perawat akan menjelaskan tentang limfangioma, pemeriksaan penunjang yang mungkin diperlukan (seperti USG atau MRI), dan opsi tatalaksana secara umum dengan bahasa yang mudah dimengerti. Perawat akan tetap hadir dan mendampingi pasien, terutama saat-saat yang mungkin menegangkan. Teknik distraksi atau pengalihan perhatian dapat digunakan. Perawat juga akan melibatkan keluarga jika memungkinkan, karena dukungan keluarga merupakan faktor penurun ansietas yang signifikan. Evaluasi dilakukan dengan menanyakan langsung tingkat kecemasan pasien (menggunakan skala numeric rating scale) dan mengamati perubahan tanda-tanda fisiologis (seperti frekuensi nadi) serta perilaku. Intervensi ini bersifat berkelanjutan dan disesuaikan dengan respons pasien.
Kondisi: Ketidakefektifan Pola Nafas
Kode SDKI: B.3.2
<>Deskripsi Singkat: Gangguan dalam pola inspirasi dan/atau ekspirasi yang menyebabkan ketidakadekuatan ventilasi.
Kode SLKI: L.04003
Deskripsi : SLKI L.04003 bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan pola pernapasan yang efektif. Pada pasien dengan limfangioma leher yang membesar, meskipun saat ini tidak ada keluhan sesak napas, terdapat potensi risiko kompresi atau penekanan pada saluran napas (trakea) seiring dengan membesarnya benjolan. Adanya batuk hilang timbul juga dapat menjadi tanda iritasi atau tekanan ringan pada saluran napas. Luaran ini difokuskan pada pencegahan dan deteksi dini gangguan pernapasan. Perawat akan memantau secara ketat tanda-tanda vital pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas), mengobservasi adanya stridor, suara napas tambahan (mengi), sianosis, atau penggunaan otot bantu napas. Perawat juga akan menilai kenyamanan pernapasan pasien dalam berbagai posisi dan memastikan pasien dapat bernapas dengan mudah. Pemantauan oksimetri nadi (jika tersedia) dilakukan secara berkala. Tujuannya adalah mendeteksi sedini mungkin setiap perubahan status pernapasan yang mengarah pada ketidakefektifan, sehingga intervensi dapat segera dilakukan sebelum kondisi menjadi gawat. Pasien dan keluarga juga akan diedukasi untuk segera melaporkan jika muncul rasa sesak, sulit menelan, atau perubahan suara.
Kode SIKI: I.08011
Deskripsi : SIKI I.08011 adalah intervensi manajemen jalan napas untuk mempertahankan patensi dan mencegah komplikasi. Dalam konteks pasien ini yang masih stabil, intervensi bersifat preventif dan monitoring. Perawat akan memposisikan pasien dengan nyaman, biasanya dengan kepala agak tinggi, untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi tekanan pada trakea jika ada. Perawat akan mengajarkan dan mendorong pasien untuk melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dan mempertahankan fungsi paru optimal, mengingat adanya batuk hilang timbul. Lingkungan dijaga agar bebas dari iritan seperti asap atau debu. Asupan cairan yang adekuat (sesuai toleransi) didorong untuk menjaga kelembaban sekret. Perawat akan melakukan auskultasi suara napas secara rutin untuk mendeteksi adanya penurunan atau abnormalitas suara napas yang dapat mengindikasikan kompresi. Seluruh data pernapasan didokumentasikan dengan cermat untuk memantau tren. Intervensi ini dilakukan dengan kewaspadaan tinggi, siap merujuk atau melakukan tindakan eskalasi jika ditemukan tanda-tanda distress pernapasan.