Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26188 | 06 Jun 2026
Klinis : gcs :15 td: 112/75 mmhg N: 78 x/m rr: 20 x/m t: 36.5 oc hamil 12 minggu keluhan : mual muntah yang memberat dipagi hari, pusing dan susah makan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual (Nausea) pada Kehamilan Trimester Pertama (Hiperemesis Gravidarum)
Kode SDKI: D.0022
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan Mual (Nausea) didefinisikan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) sebagai pengalaman subjektif sensasi tidak menyenangkan pada bagian belakang tenggorokan dan/atau perut yang dapat mengakibatkan keinginan untuk muntah. Pada pasien dengan kondisi hamil 12 minggu, keluhan mual muntah yang memberat di pagi hari (morning sickness) yang disertai pusing dan susah makan menunjukkan adanya gangguan pada sistem gastrointestinal yang dipicu oleh perubahan hormonal, terutama peningkatan kadar Human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan estrogen. Kondisi ini dapat mengganggu status nutrisi dan keseimbangan cairan tubuh. Data objektif menunjukkan tanda-tanda vital yang masih dalam batas normal (TD 112/75 mmHg, N 78x/menit, RR 20x/menit, suhu 36,5°C), namun keluhan subjektif seperti mual yang memberat, pusing, dan anoreksia (susah makan) merupakan indikator utama untuk menegakkan diagnosis ini. Mual pada kehamilan dapat menyebabkan penurunan asupan nutrisi dan cairan, yang berpotensi berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Secara patofisiologis, mual terjadi akibat stimulasi pusat muntah di medula oblongata oleh berbagai impuls, termasuk dari saluran cerna, vestibular, dan sistem limbik. Pada ibu hamil, faktor hormonal dan penurunan motilitas lambung memperburuk kondisi. Diagnosis ini sangat relevan karena mual yang tidak tertangani dapat berlanjut menjadi hiperemesis gravidarum yang lebih berat, ditandai dengan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan penurunan berat badan. Perawat perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang memperberat, seperti bau tertentu, makanan berlemak, atau kondisi lingkungan, serta mengevaluasi dampak psikologis seperti kecemasan yang sering menyertai mual berkepanjangan. Intervensi keperawatan akan difokuskan pada manajemen gejala, edukasi modifikasi diet, dan dukungan psikologis untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.02010
Deskripsi : Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) untuk diagnosis mual adalah “Tingkat Mual (Nausea Level)” dengan kode L.02010. Luaran ini bertujuan untuk menggambarkan penurunan atau pengendalian sensasi mual yang dialami pasien setelah diberikan intervensi keperawatan. Definisi dari Tingkat Mual adalah kemampuan pasien untuk mengontrol dan mengurangi frekuensi, durasi, serta intensitas sensasi mual. Indikator keberhasilan luaran ini meliputi: (1) Keluhan mual menurun, (2) Frekuensi muntah menurun, (3) Nafsu makan meningkat, (4) Kemampuan untuk mengidentifikasi faktor pencetus mual meningkat, (5) Status hidrasi membaik, dan (6) Berat badan stabil atau meningkat. Pada pasien hamil 12 minggu dengan tekanan darah normal dan denyut nadi stabil, target luaran yang realistis adalah pasien mampu melaporkan penurunan skor mual pada skala numerik (misal dari skala 8/10 menjadi 3/10) dalam waktu 3x24 jam setelah intervensi. Selain itu, pasien diharapkan dapat menunjukkan peningkatan asupan oral sedikit demi sedikit, tidak mengalami dehidrasi yang ditandai dengan turgor kulit baik, mukosa lembab, dan produksi urine adekuat. Luaran ini juga mencakup aspek kognitif, yaitu pasien mampu menyebutkan setidaknya dua strategi non-farmakologis untuk mengurangi mual, seperti menghindari bau menyengat atau mengonsumsi makanan kecil dan sering. Keberhasilan luaran ini diukur dengan menggunakan skala ordinal dari 1 (sangat memburuk) hingga 5 (sangat membaik). Untuk pasien dengan kondisi ini, diharapkan skor luaran mencapai minimal 4 (membaik) pada akhir intervensi, dengan indikator utama adalah hilangnya pusing dan kemampuan untuk makan tanpa disertai muntah.
Kode SIKI: I.02010
Deskripsi : Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) untuk mengatasi mual adalah “Manajemen Mual (Nausea Management)” dengan kode I.02010. Intervensi ini didefinisikan sebagai serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mengendalikan sensasi mual serta mencegah komplikasi yang terkait. Tindakan utama dalam intervensi ini meliputi: (1) Identifikasi faktor penyebab mual, seperti bau, makanan, atau kondisi psikologis; (2) Monitor frekuensi, durasi, dan intensitas mual; (3) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mukosa mulut, output urine); (4) Berikan posisi semi-Fowler atau sesuai kenyamanan pasien untuk mengurangi tekanan pada abdomen; (5) Anjurkan makan dalam porsi kecil dan sering (misal 6-8 kali sehari) serta hindari makanan berlemak, pedas, atau berbau tajam; (6) Anjurkan mengonsumsi makanan kering seperti biskuit atau roti panggang sebelum bangun tidur di pagi hari; (7) Berikan minuman yang mengandung jahe atau peppermint hangat secara oral; (8) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam dan distraksi saat mual muncul; (9) Kolaborasi pemberian antiemetik sesuai indikasi medis (misal vitamin B6 atau ondansetron) setelah berkonsultasi dengan dokter; (10) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya mempertahankan asupan cairan dan nutrisi untuk kesehatan ibu dan janin. Intervensi ini bersifat holistik, mencakup aspek fisiologis (posisi, diet, hidrasi), psikologis (relaksasi, dukungan emosional), dan edukatif. Khusus untuk pasien hamil, perawat harus mempertimbangkan keamanan janin, sehingga penggunaan obat-obatan harus berdasarkan rekomendasi dokter kandungan. Tindakan mandiri perawat seperti aromaterapi lemon atau jahe, akupresur pada titik Pericardium 6 (P6), dan modifikasi lingkungan (ventilasi baik, hindari bau masakan) sangat dianjurkan. Evaluasi dilakukan secara kontinu dengan memonitor respons pasien terhadap setiap tindakan, seperti penurunan skala mual, peningkatan asupan makanan, dan perbaikan status hidrasi. Dokumentasi intervensi mencakup jenis tindakan, waktu pemberian, dan respons pasien untuk memastikan kesinambungan asuhan keperawatan.
-
Article No. 26189 | 06 Jun 2026
Klinis : gcs :15 td: 112/75 mmhg N: 78 x/m rr: 20 x/m t: 36.5 oc hamil 12 minggu keluhan : mual muntah yang memberat dipagi hari, pusing dan susah makan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual dan Muntah pada Kehamilan (Hiperemesis Gravidarum)
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Mual dan muntah pada kehamilan adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan pengalaman subjektif dan objektif dari sensasi ingin muntah (nausea) dan tindakan mengeluarkan isi lambung (vomiting) yang terjadi selama masa kehamilan, khususnya pada trimester pertama. Kondisi ini dapat berkisar dari ringan hingga berat, dan pada kasus yang parah dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, defisit nutrisi, serta penurunan berat badan yang signifikan. Pada pasien dengan GCS 15, tekanan darah 112/75 mmHg, nadi 78x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 36,5°C, dan usia kehamilan 12 minggu, diagnosis ini ditegakkan berdasarkan keluhan utama yaitu mual muntah yang memberat di pagi hari (morning sickness yang memburuk), pusing, dan susah makan. Meskipun tanda-tanda vital masih dalam batas normal, adanya pusing dan kesulitan makan menandakan bahwa kondisi ini telah memengaruhi asupan nutrisi dan keseimbangan cairan tubuh secara fungsional. Mual dan muntah pada kehamilan sering dikaitkan dengan peningkatan kadar human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen, serta faktor psikologis seperti kecemasan. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikososial, karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, dan hubungan interpersonal. Perawat perlu mengkaji frekuensi muntah, volume cairan yang keluar, kemampuan toleransi oral, serta tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit menurun, membran mukosa kering, dan peningkatan berat jenis urin. Diagnosis ini menjadi dasar untuk intervensi keperawatan yang bertujuan mengurangi frekuensi muntah, meningkatkan asupan nutrisi dan cairan, serta mencegah komplikasi seperti dehidrasi berat atau gangguan elektrolit yang dapat membahayakan ibu dan janin.
Kode SLKI: L.00008
Deskripsi : Status mual dan muntah adalah luaran keperawatan yang mengukur tingkat keparahan, frekuensi, dan dampak mual serta muntah terhadap fungsi fisiologis dan psikologis pasien. Luaran ini mencakup indikator seperti frekuensi episode muntah dalam 24 jam, intensitas mual menggunakan skala numerik atau verbal, kemampuan mempertahankan asupan oral tanpa muntah, tingkat kenyamanan abdomen, serta tidak adanya tanda-tanda dehidrasi seperti rasa haus berlebihan, urin pekat, atau penurunan turgor kulit. Pada pasien hamil 12 minggu dengan keluhan mual muntah pagi yang memberat, pusing, dan susah makan, luaran yang diharapkan adalah penurunan frekuensi muntah dari beberapa kali sehari menjadi maksimal 1-2 kali per hari, penurunan skor mual dari skala 7-10 (berat) menjadi skala 1-3 (ringan) dalam waktu 3x24 jam setelah intervensi. Selain itu, pasien diharapkan mampu mengonsumsi makanan dalam porsi kecil namun sering tanpa memicu muntah, serta menunjukkan perbaikan tanda-tanda vital seperti tekanan darah yang stabil, tidak ada pusing saat beraktivitas ringan, dan berat badan tidak turun lebih dari 5% dari berat badan sebelum hamil. Indikator tambahan meliputi kemampuan pasien untuk mengidentifikasi faktor pencetus mual (misalnya bau makanan, kelelahan, atau stres) dan menerapkan teknik non-farmakologis seperti akupresur pada titik P6 (Neiguan), aromaterapi lemon atau jahe, serta mengatur pola makan dengan menghindari makanan berminyak dan pedas. Luaran ini juga menilai pengetahuan pasien tentang tanda bahaya dehidrasi dan kapan harus segera mencari bantuan medis. Dengan tercapainya status mual dan muntah yang membaik, pasien dapat menjalani kehamilan dengan lebih nyaman, risiko keguguran akibat dehidrasi berat dapat diminimalkan, dan kualitas hidup pasien meningkat secara signifikan.
Kode SIKI: I.00008
Deskripsi : Manajemen mual dan muntah pada kehamilan adalah intervensi keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk mengurangi frekuensi dan intensitas mual serta muntah, mencegah dehidrasi, mempertahankan status nutrisi, dan meningkatkan kenyamanan pasien hamil. Intervensi ini terbagi menjadi tiga kategori utama: observasi, terapeutik, dan edukasi. Pada kategori observasi, perawat melakukan pengkajian terhadap frekuensi dan volume muntah, identifikasi faktor pencetus (seperti waktu, bau, makanan tertentu, atau stres), serta pemantauan tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Perawat juga memantau berat badan setiap hari, turgor kulit, membran mukosa, dan output urin. Pada kategori terapeutik, perawat memberikan intervensi non-farmakologis terlebih dahulu sebagai lini pertama. Intervensi ini mencakup teknik relaksasi napas dalam, distraksi dengan musik atau percakapan ringan, akupresur pada titik P6 (Neiguan) dengan memberikan tekanan lembut selama 5-10 menit setiap kali mual muncul, serta pemberian aromaterapi menggunakan minyak esensial jahe, lemon, atau peppermint yang dihirup perlahan. Perawat juga mengatur lingkungan pasien agar bebas dari bau yang memicu muntah, seperti bau masakan atau parfum menyengat. Pada aspek nutrisi, perawat menganjurkan pola makan porsi kecil tapi sering (setiap 2-3 jam), mengonsumsi makanan kering seperti biskuit atau roti panggang sebelum bangun tidur, serta menghindari makanan yang berminyak, pedas, atau asam. Perawat juga menyarankan minum cairan bening dalam jumlah kecil secara perlahan di antara waktu makan, bukan saat makan. Jika pasien tidak toleran terhadap oral, perawat berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena (misalnya Ringer Laktat atau NaCl 0,9%) dan antiemetik yang aman untuk kehamilan seperti vitamin B6 (piridoksin) atau doksilamin. Pada kategori edukasi, perawat memberikan penjelasan tentang fisiologi mual muntah pada kehamilan, faktor risiko, dan tanda-tanda perburukan yang memerlukan perhatian medis segera, seperti muntah terus-menerus selama lebih dari 24 jam, penurunan berat badan >1 kg per minggu, urine berwarna gelap, atau pusing hebat saat berdiri. Perawat juga mengajarkan pasien untuk mencatat diari mual dan muntah harian sebagai alat monitoring mandiri. Intervensi ini dilakukan secara individual sesuai dengan kondisi dan preferensi pasien, dengan evaluasi setiap 8 jam atau sesuai kebutuhan untuk menyesuaikan strategi penanganan. Tujuan akhir dari intervensi ini adalah pasien dapat mencapai toleransi oral yang adekuat, terbebas dari dehidrasi, dan mampu menjalani kehamilan dengan nyaman tanpa gangguan nutrisi yang berarti.
-
Article No. 26190 | 06 Jun 2026
Klinis : gcs :15 td: 112/75 mmhg N: 78 x/m rr: 20 x/m t: 36.5 oc hamil 12 minggu keluhan : mual muntah yang memberat dipagi hari, pusing dan susah makan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual dan Muntah pada Kehamilan Trimester Pertama (Hiperemesis Gravidarum)
Kode SDKI: D.0076
Deskripsi Singkat: Nausea and Vomiting in Pregnancy (NVP) yang memberat, ditandai dengan mual muntah di pagi hari yang intensif, pusing, dan kesulitan makan pada pasien hamil 12 minggu. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan mual, muntah, pusing, susah makan) dan data objektif (tanda vital normal, usia kehamilan 12 minggu).
Kode SLKI: L.08055
Deskripsi : Status Nutrisi (L.08055) adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Definisi status nutrisi adalah kemampuan individu untuk mempertahankan asupan nutrisi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan metabolik. Pada kondisi ini, status nutrisi menjadi terganggu akibat mual muntah dan anoreksia. Indikator yang digunakan meliputi: (1) Asupan makanan dan cairan, (2) Frekuensi muntah, (3) Berat badan, (4) Keseimbangan elektrolit, (5) Tingkat energi. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: frekuensi muntah menurun (maksimal 2 kali per hari), asupan oral meningkat (mampu menghabiskan 50-75% porsi), berat badan stabil atau meningkat, tidak ada tanda dehidrasi, dan pasien melaporkan penurunan rasa mual. Skala target yang digunakan adalah skala 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik), dengan target minimal skala 3 (cukup) dalam 3x24 jam.
Kode SIKI: I.03118
Deskripsi : Manajemen Mual dan Muntah (I.03118) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengurangi atau menghilangkan gejala mual dan muntah pada pasien hamil. Intervensi ini terdiri dari tiga komponen utama: observasi, terapeutik, dan edukasi.
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI (500-1000 kata):
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) - D.0076: Mual dan Muntah pada Kehamilan Trimester Pertama
Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan yang spesifik untuk kondisi mual muntah pada ibu hamil, yang berbeda dengan diagnosis mual muntah umum (D.0075). Definisi dari diagnosis ini adalah pengalaman sensasi tidak nyaman di daerah epigastrium dan keinginan untuk muntah yang terjadi pada masa kehamilan, khususnya trimester pertama. Karakteristik utama yang muncul pada pasien ini meliputi: (a) Mual di pagi hari yang memberat (morning sickness yang berlebihan), (b) Muntah yang terjadi lebih dari 2 kali sehari, (c) Pusing dan sakit kepala, (d) Anoreksia atau susah makan, (e) Penurunan berat badan (walaupun pada data tidak disebutkan, namun merupakan karakteristik mayor yang mungkin terjadi), (f) Kelemahan umum. Faktor risiko yang mendasari kondisi ini adalah perubahan hormonal (peningkatan hCG, estrogen, progesteron), faktor psikologis (stres, kecemasan), dan faktor genetik. Pada kasus ini, tanda vital pasien masih dalam batas normal (TD 112/75 mmHg, N 78x/m, RR 20x/m, suhu 36.5°C) menunjukkan bahwa belum terjadi dehidrasi berat atau gangguan hemodinamik yang signifikan. Namun, keluhan pusing dan susah makan mengindikasikan adanya risiko defisit nutrisi dan dehidrasi jika tidak segera ditangani. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh mual muntah memberat di pagi hari, pusing, susah makan) dan data objektif (usia kehamilan 12 minggu, tanda vital stabil). Kondisi ini termasuk dalam domain 3 (Eliminasi dan Pertukaran) dan kelas 2 (Fungsi Gastrointestinal) dalam klasifikasi SDKI.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) - L.08055: Status Nutrisi
Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah tercapainya status nutrisi yang adekuat. Definisi status nutrisi adalah kondisi keseimbangan antara asupan dan kebutuhan nutrisi yang diperlukan untuk fungsi metabolisme, pertumbuhan, dan perbaikan jaringan. Pada kasus hiperemesis gravidarum, fokus utama adalah mempertahankan asupan nutrisi dan cairan yang cukup. Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi status nutrisi meliputi: (1) Asupan makanan dan cairan - diukur dari jumlah porsi yang dihabiskan dan volume minuman yang dikonsumsi; (2) Frekuensi muntah - dihitung jumlah episode muntah per hari; (3) Berat badan - dipantau secara serial setiap hari; (4) Keseimbangan elektrolit - diperiksa melalui nilai laboratorium (natrium, kalium, klorida) jika diperlukan; (5) Tingkat energi - dinilai dari skala fatigue atau keluhan pasien. Kriteria hasil yang ingin dicapai dalam waktu 3x24 jam adalah: frekuensi muntah menurun dari >3 kali menjadi ≤2 kali per hari, asupan oral meningkat dari <25% menjadi >50% porsi, berat badan stabil (tidak turun lebih dari 1 kg), pasien tidak mengeluh pusing saat bangun tidur, dan turgor kulit kembali normal. Skala pengukuran menggunakan skala Likert 5 poin, dengan target minimal skala 3 (cukup). Jika pasien mencapai skala 4 (baik) atau 5 (sangat baik), maka luaran dianggap tercapai.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) - I.03118: Manajemen Mual dan Muntah
Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan yang sistematis untuk mengelola gejala mual dan muntah. Aktivitas keperawatan yang dilakukan meliputi:
Observasi: (a) Identifikasi faktor penyebab mual dan muntah (misalnya: bau tertentu, makanan pedas, stress); (b) Monitor frekuensi, durasi, dan karakteristik muntah (cairan, makanan, empedu); (c) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, output urine); (d) Monitor intake dan output makanan dan cairan; (e) Monitor berat badan setiap hari; (f) Monitor kadar elektrolit (jika ada indikasi).
Terapeutik: (a) Berikan posisi yang nyaman (semi-Fowler atau duduk tegak saat makan); (b) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering (6-8 kali sehari) untuk menghindari perut kosong; (c) Hindari makanan yang merangsang mual (berlemak, berminyak, pedas, berbau tajam); (d) Berikan makanan kering (biskuit, roti panggang) sebelum bangun tidur; (e) Berikan minuman hangat (jahe, teh herbal) untuk meredakan mual; (f) Berikan terapi non-farmakologis: akupresur pada titik Pericardium 6 (P6), aromaterapi peppermint atau lemon; (g) Kolaborasi pemberian antiemetik sesuai advis dokter (ondansetron, metoclopramide, atau vitamin B6); (h) Berikan cairan intravena jika diperlukan untuk koreksi dehidrasi.
Edukasi: (a) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam saat mual datang; (b) Edukasi tentang pentingnya asupan nutrisi untuk janin; (c) Anjurkan menghindari paparan bau yang memicu mual (dapur, parfum, asap rokok); (d) Berikan informasi tentang makanan yang dianjurkan (karbohidrat kompleks, protein rendah lemak, buah segar); (e) Ajarkan cara memonitor frekuensi muntah dan asupan makanan di rumah.
Intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dengan dokter dan ahli gizi. Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menilai perkembangan kondisi pasien. Jika dalam 3 hari tidak ada perbaikan, perlu dipertimbangkan diagnosis tambahan seperti defisit nutrisi atau risiko kekurangan volume cairan.
Kesimpulan: Diagnosis keperawatan Mual dan Muntah pada Kehamilan Trimester Pertama (D.0076) pada pasien ini tepat karena sesuai dengan karakteristik utama yang muncul. Luaran yang diharapkan adalah Status Nutrisi yang adekuat (L.08055), dan intervensi yang dilakukan adalah Manajemen Mual dan Muntah (I.03118). Dengan penerapan intervensi yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mengatasi gejala mual muntah dan mempertahankan status nutrisi yang baik untuk mendukung pertumbuhan janin yang optimal.
-
Article No. 26191 | 06 Jun 2026
Klinis : Seorang remaja putri dibawa ke RSJ karena tidak mau makan, mengurung diri dan tidak mau berkomunikasi.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Psikotik Akut (Mungkin Skizofrenia Onset Akut atau Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik)
Kode ICD-10: F23.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan gangguan psikotik akut yang belum ditentukan secara spesifik. Kode F23.9 digunakan ketika seorang pasien, dalam hal ini remaja putri, menunjukkan gejala psikotik yang muncul secara tiba-tiba (akut) seperti penarikan diri dari interaksi sosial (tidak mau berkomunikasi), isolasi (mengurung diri), dan perilaku aneh atau negativisme (tidak mau makan). Gejala-gejala ini menandakan adanya gangguan realitas, di mana pasien mungkin mengalami halusinasi, delusi, atau gangguan proses pikir yang belum dapat diklasifikasikan ke dalam diagnosis spesifik seperti skizofrenia (F20.-) atau gangguan delusional (F22). Kode ini bersifat sementara dan akan diperbarui setelah observasi lebih lanjut untuk menentukan apakah gejala berkembang menjadi gangguan psikotik yang lebih kronis, seperti skizofrenia, atau justru merupakan episode akut yang dapat pulih total. Penting untuk dicatat bahwa pada remaja, kondisi ini harus dibedakan dari gangguan mood berat dengan ciri psikotik (misalnya depresi berat dengan gejala psikotik, F32.3) atau gangguan stres akut. Kode F23.9 mencakup psikosis reaktif singkat dan psikosis situasional lainnya yang belum jelas diagnosis pastinya. Penggunaan kode ini menekankan perlunya evaluasi psikiatri komprehensif untuk menyingkirkan penyebab organik (seperti infeksi, tumor, atau penggunaan zat psikoaktif) dan untuk merencanakan tata laksana yang tepat, termasuk farmakoterapi antipsikotik dan psikoterapi suportif. Karena sifatnya yang akut, prognosis bisa baik jika ditangani segera, namun risiko kekambuhan atau transisi ke gangguan kronis tetap ada.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26192 | 06 Jun 2026
Klinis : Seorang remaja putri dibawa ke RSJ karena tidak mau makan, mengurung diri dan tidak mau berkomunikasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Isolasi Sosial
Kode SDKI: D.0118
Deskripsi Singkat: Isolasi Sosial adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan atau ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain secara memadai, yang ditandai dengan perilaku menarik diri, menghindari kontak fisik dan verbal, serta merasa terasing dari lingkungan sosial. Pada remaja putri ini, manifestasi klinis berupa tidak mau makan, mengurung diri, dan tidak mau berkomunikasi merupakan indikator utama dari diagnosis ini.
Kode SLKI: L.01118
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan kemampuan interaksi sosial meningkat dengan kriteria hasil: (1) Kemampuan membina hubungan interpersonal meningkat, (2) Kemampuan berkomunikasi verbal dan nonverbal meningkat, (3) Keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain meningkat, (4) Ekspresi wajah dan postur tubuh menunjukkan keterbukaan, (5) Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran meningkat, (6) Frekuensi kontak mata dengan lawan bicara meningkat, (7) Partisipasi dalam aktivitas kelompok meningkat, (8) Kemampuan untuk menerima kehadiran orang lain di sekitarnya meningkat. Indikator ini diukur menggunakan skala 1 (menurun berat) hingga 5 (meningkat signifikan), dengan target pencapaian pada skala 4 atau 5.
Kode SIKI: I.01118
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk mengatasi isolasi sosial pada remaja ini meliputi: (1) Bina hubungan saling percaya melalui komunikasi terapeutik dengan sikap menerima, empati, dan tanpa menghakimi. Perawat memulai interaksi secara bertahap, dari kontak mata singkat hingga percakapan verbal sederhana, dengan tetap menghormati jarak personal pasien. (2) Fasilitasi ekspresi perasaan dengan mendorong pasien untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan penyebab isolasi sosial, seperti perasaan ditolak, rendah diri, atau pengalaman traumatis. Gunakan teknik mendengar aktif dan validasi emosi. (3) Latih keterampilan sosial secara bertahap, dimulai dari interaksi satu lawan satu dengan perawat, kemudian diperluas ke interaksi dengan kelompok kecil. Ajarkan teknik memulai percakapan, mempertahankan kontak mata, dan merespons orang lain secara tepat. (4) Libatkan pasien dalam aktivitas terapi okupasi yang menarik minatnya, seperti seni, musik, atau kegiatan rekreasional, untuk menstimulasi interaksi nonverbal. (5) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (psikiater, psikolog, pekerja sosial) untuk penanganan komprehensif, termasuk pemberian terapi farmakologis jika diperlukan. (6) Edukasi keluarga tentang cara berinteraksi dengan pasien yang mengalami isolasi sosial, termasuk teknik komunikasi yang efektif dan dukungan emosional yang tepat. (7) Evaluasi respons pasien terhadap setiap intervensi dan modifikasi pendekatan sesuai perkembangan pasien. Intervensi ini dilakukan secara konsisten dan sabar, mengingat pasien dengan isolasi sosial membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membangun kepercayaan dan keterbukaan.
-
Article No. 26193 | 06 Jun 2026
Klinis : perfusi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0009
Deskripsi Singkat: Penurunan sirkulasi darah ke kapiler perifer yang dapat mengganggu metabolisme sel dan fungsi jaringan. Diagnosis ini ditegakkan ketika terdapat data subjektif dan objektif yang menunjukkan penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke ekstremitas, seperti perubahan warna kulit (pucat, sianosis), penurunan denyut nadi perifer, akral dingin, nyeri saat istirahat atau saat bergerak, perubahan sensasi (kesemutan, mati rasa), serta perlambatan pengisian kapiler (capillary refill time lebih dari 3 detik). Kondisi ini sering terkait dengan penyakit vaskular perifer, diabetes melitus dengan komplikasi neuropati dan vaskulopati, aterosklerosis, emboli, trombosis, hipotensi berat, sindrom kompartemen, atau efek samping dari penggunaan vasopresor jangka panjang. Pada tingkat yang lebih parah, perfusi perifer tidak efektif dapat menyebabkan ulkus iskemik, gangren, hingga risiko amputasi. Penegakan diagnosis ini memerlukan pengkajian komprehensif termasuk anamnesis faktor risiko, pemeriksaan fisik sistematis pada ekstremitas (inspeksi, palpasi denyut nadi, pengukuran ankle-brachial index/ABI), dan evaluasi tanda-tanda hipoksia jaringan. Perawat perlu membedakan kondisi ini dengan gangguan perfusi lain seperti perfusi serebral atau kardiovaskular karena intervensi yang diberikan akan berbeda. Diagnosis ini menjadi dasar perencanaan asuhan keperawatan yang berfokus pada peningkatan aliran darah perifer, pencegahan cedera jaringan, dan edukasi modifikasi gaya hidup untuk mengontrol faktor risiko vaskular.
Kode SLKI: L.02011
Deskripsi : Status Perfusi Perifer. Merupakan luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan untuk mengatasi perfusi perifer tidak efektif. Luaran ini diukur melalui serangkaian kriteria hasil yang terukur dan spesifik, yang meliputi: 1) Denyut nadi perifer (nadi radialis, dorsalis pedis, tibialis posterior) teraba kuat dan teratur, dengan frekuensi sesuai rentang normal. 2) Warna kulit ekstremitas kembali normal (tidak pucat, tidak sianosis, tidak kemerahan patologis). 3) Suhu kulit ekstremitas hangat dan tidak dingin. 4) Pengisian kapiler (capillary refill time) kurang dari 3 detik. 5) Sensasi ekstremitas normal, tidak ada keluhan kesemutan, mati rasa, atau nyeri neuropatik. 6) Tidak terdapat edema atau edema berkurang jika sebelumnya ada. 7) Tidak ada luka, ulkus, atau tanda-tanda kerusakan jaringan seperti fisura atau gangren. 8) Nilai Ankle-Brachial Index (ABI) dalam rentang 0,9 – 1,3. 9) Pasien mampu mengidentifikasi faktor risiko dan melakukan perawatan kaki mandiri. Setiap kriteria hasil diberikan skala dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik) sesuai dengan perkembangan kondisi pasien. Target luaran ditetapkan secara individual berdasarkan tingkat keparahan awal dan komorbiditas pasien. Misalnya, pada pasien diabetes dengan neuropati, target mungkin difokuskan pada pencegahan ulkus dan peningkatan sensasi protektif. Evaluasi luaran ini dilakukan secara berkala, minimal setiap shift atau sesuai kondisi akut, untuk menilai efektivitas intervensi dan melakukan modifikasi rencana asuhan. Pencapaian luaran yang optimal menunjukkan bahwa sirkulasi perifer telah membaik dan risiko komplikasi iskemik berhasil diminimalkan. Perawat mendokumentasikan perkembangan status perfusi perifer secara objektif untuk memfasilitasi komunikasi interprofesional dan kesinambungan asuhan.
Kode SIKI: I.02011
Deskripsi : Peningkatan Perfusi Perifer. Merupakan serangkaian intervensi keperawatan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan aliran darah ke jaringan perifer, mencegah kerusakan jaringan, dan mengoptimalkan fungsi ekstremitas. Intervensi ini bersifat multidimensi dan mencakup tindakan mandiri perawat serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Tindakan utama meliputi: 1) Manajemen posisi: Meningkatkan ekstremitas yang mengalami edema untuk memfasilitasi aliran balik vena, namun menghindari posisi yang dapat menekan pembuluh darah. Pada kondisi iskemik akut, posisi ekstremitas diturunkan sedikit untuk memanfaatkan gravitasi meningkatkan aliran arteri. 2) Latihan rentang gerak (range of motion/ROM) aktif dan pasif pada ekstremitas yang terkena untuk merangsang sirkulasi kolateral dan mencegah kontraktur. 3) Pemberian terapi kompresi (misalnya stocking elastis atau perban kompresi) sesuai indikasi dan di bawah pengawasan ketat untuk mencegah edema dan trombosis vena dalam, namun dikontraindikasikan pada iskemia arteri berat. 4) Manajemen termoregulasi: Menjaga kehangatan ekstremitas dengan selimut atau kaus kaki, namun menghindari penggunaan bantal pemanas atau air panas karena risiko luka bakar pada pasien dengan neuropati. 5) Pemantauan ketat tanda-tanda vital dan status perfusi: Inspeksi dan palpasi denyut nadi perifer setiap 2-4 jam, evaluasi capillary refill time, warna, suhu, dan sensasi kulit. 6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi farmakologis seperti vasodilator, antiplatelet (aspirin, clopidogrel), antikoagulan (heparin, warfarin), atau obat penurun lipid untuk mengontrol faktor risiko aterosklerosis. 7) Edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga meliputi: pentingnya berhenti merokok, pengendalian tekanan darah dan kadar gula darah, pola makan rendah lemak dan garam, perawatan kaki harian (inspeksi, pembersihan, pelembaban, pemotongan kuku yang benar), pemilihan alas kaki yang sesuai, serta pengenalan tanda-tanda awal perburukan (nyeri baru, perubahan warna, luka yang tidak sembuh). 8) Manajemen luka jika terdapat ulkus iskemik, termasuk pembersihan luka dengan teknik steril, debridemen jaringan nekrotik, dan pemilihan balutan yang tepat (misalnya hidrogel, alginat, atau foam) untuk menjaga lingkungan luka yang lembab dan mempercepat granulasi. 9) Rujukan ke layanan vaskular atau podiatri untuk evaluasi lebih lanjut jika diperlukan revaskularisasi (angioplasti, bypass) atau amputasi. Semua intervensi didokumentasikan secara akurat dan dievaluasi efektivitasnya secara berkesinambungan. Perawat juga berperan dalam mengoordinasikan perawatan interdisiplin, termasuk konsultasi dengan ahli gizi untuk optimalisasi status nutrisi yang mendukung perbaikan jaringan. Intervensi ini harus disesuaikan dengan toleransi dan kondisi klinis pasien, serta mempertimbangkan kontraindikasi spesifik seperti adanya infeksi akut, trombosis vena dalam yang tidak terstabilisasi, atau kondisi hemodinamik yang labil. Tujuan akhir dari intervensi ini adalah tercapainya status perfusi perifer yang optimal, pencegahan amputasi, dan peningkatan kualitas hidup pasien.
-
Article No. 26194 | 06 Jun 2026
Klinis : gcs 15 td: 124/76 t: 38,9 rr: 20 nadi: 80 dengan keluhan demam menggigil dan batuk pilek
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah suatu kondisi di mana suhu tubuh seseorang meningkat di atas rentang normal (lebih dari 37,5°C) karena kegagalan mekanisme pengaturan suhu tubuh atau peningkatan produksi panas yang melebihi kemampuan tubuh untuk mengeluarkannya. Pada pasien ini, suhu tubuh mencapai 38,9°C, yang jelas menunjukkan adanya hipertermia. Kondisi ini seringkali disertai dengan gejala seperti menggigil, berkeringat, kulit terasa hangat, takikardia, dan takipnea. Hipertermia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain infeksi (seperti pada kasus batuk pilek yang dialami pasien), dehidrasi, paparan lingkungan yang panas, atau respons inflamasi sistemik. Pada kasus ini, demam menggigil dan batuk pilek mengindikasikan adanya proses infeksi yang mendasari, kemungkinan infeksi saluran pernapasan atas. Tubuh meningkatkan suhu sebagai mekanisme pertahanan untuk melawan patogen. Namun, jika suhu terlalu tinggi dan berlangsung lama, hipertermia dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan organ, kejang demam, dan gangguan keseimbangan cairan serta elektrolit. Oleh karena itu, penanganan yang tepat dan cepat sangat diperlukan untuk menurunkan suhu tubuh dan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Diagnosis keperawatan hipertermia ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh demam, menggigil) dan data objektif (suhu tubuh 38,9°C, takipnea, nadi meningkat). Perawat perlu melakukan pengkajian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor penyebab dan dampak yang mungkin timbul.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu inti dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C) melalui keseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas. Pada pasien dengan hipertermia, tujuan utama asuhan keperawatan adalah tercapainya termoregulasi yang adekuat. Indikator keberhasilan dalam SLKI ini meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal, (2) Tidak ada menggigil, (3) Tidak ada kulit kemerahan atau teraba hangat, (4) Frekuensi nadi dan pernapasan dalam batas normal, (5) Pasien tidak mengeluh demam atau panas dingin. Pada kasus ini, target yang ingin dicapai adalah suhu tubuh turun menjadi ≤ 37,5°C, pasien tidak lagi menggigil, dan tanda-tanda vital lainnya (nadi, pernapasan) kembali ke rentang normal. Pencapaian termoregulasi yang baik juga ditandai dengan penurunan rasa tidak nyaman akibat demam, serta tidak adanya komplikasi seperti dehidrasi atau kejang. Intervensi keperawatan akan difokuskan untuk membantu tubuh pasien mengembalikan suhu ke normal melalui mekanisme konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Keberhasilan termoregulasi juga bergantung pada penanganan penyebab dasar hipertermia, yaitu infeksi saluran pernapasan. Jika penyebab infeksi teratasi, maka suhu tubuh akan lebih mudah kembali normal. Oleh karena itu, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik dan antibiotik (jika diperlukan) menjadi bagian penting dari rencana asuhan.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dilakukan untuk menurunkan suhu tubuh pasien yang mengalami peningkatan suhu di atas normal. Tujuan dari intervensi ini adalah untuk mengembalikan suhu tubuh ke rentang normal, mengurangi rasa tidak nyaman, mencegah komplikasi, dan mengidentifikasi serta mengatasi penyebab hipertermia. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi: (1) Observasi dan monitoring: pantau suhu tubuh setiap 2-4 jam atau lebih sering jika perlu, pantau tanda-tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah), observasi warna dan kelembaban kulit, serta kaji tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit menurun, membran mukosa kering, rasa haus). (2) Tindakan non-farmakologis: berikan kompres hangat pada area lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan) untuk membantu vasodilatasi dan pengeluaran panas melalui konduksi, gunakan selimut tipis atau pakaian yang menyerap keringat, atur suhu ruangan agar sejuk (20-22°C) dan sirkulasi udara baik, berikan cairan oral yang cukup (air putih, jus) untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan yang meningkat, serta anjurkan pasien untuk beristirahat total untuk mengurangi produksi panas metabolik. (3) Kolaborasi: berikan antipiretik (misalnya parasetamol) sesuai advis dokter untuk menurunkan set point suhu di hipotalamus, dan berikan antibiotik jika penyebab hipertermia adalah infeksi bakteri. (4) Edukasi: jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, pentingnya asupan cairan, cara melakukan kompres yang benar, serta kapan harus segera melaporkan jika demam tidak turun atau muncul gejala baru seperti kejang, sesak napas, atau penurunan kesadaran. (5) Evaluasi: lakukan evaluasi efektivitas intervensi setelah 30-60 menit pemberian antipiretik atau kompres, dengan memantau kembali suhu tubuh dan tanda-tanda vital. Jika suhu tidak menunjukkan penurunan yang signifikan dalam 2-4 jam, atau jika pasien menunjukkan tanda-tanda syok atau gangguan neurologis, segera laporkan ke dokter. Dokumentasikan semua intervensi dan respons pasien secara akurat untuk kelanjutan asuhan keperawatan.
-
Article No. 26195 | 06 Jun 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada Pasien Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien tuberkulosis paru, kondisi ini terjadi akibat akumulasi sekret yang kental dan berlebihan (dahak) karena proses inflamasi dan infeksi pada parenkim paru. Lesi di paru kanan atas yang terlihat pada rontgen menunjukkan adanya granuloma dan nekrosis kaseosa yang memicu produksi mukus berlebih. Suara napas bronkial mengindikasikan adanya konsolidasi atau pemadatan jaringan paru, yang menyempitkan saluran napas dan menghambat pengeluaran dahak secara efektif. Batuk berdahak yang dialami pasien selama 2 minggu merupakan mekanisme kompensasi tubuh, namun seringkali tidak cukup kuat untuk mengeluarkan sekret yang dalam. Sesak napas terjadi karena penumpukan sekret menghalangi pertukaran gas di alveoli. Kehilangan nafsu makan (anoreksia) memperburuk kondisi karena asupan nutrisi yang rendah menurunkan kekuatan otot pernapasan dan daya tahan tubuh, sehingga pasien sulit batuk efektif. Faktor risiko utama adalah infeksi Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan peradangan kronis, peningkatan produksi lendir, dan perubahan viskositas sekret. Tanda-tanda klinis yang mendukung diagnosis ini meliputi: batuk produktif dengan dahak purulen atau mukoid, dispnea, penggunaan otot bantu napas, suara napas tambahan (ronki atau wheezing), sianosis pada kasus berat, dan perubahan pola napas. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada pengeluaran sekret, peningkatan ventilasi, dan edukasi pasien untuk mencegah komplikasi seperti atelektasis atau pneumonia sekunder.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas meningkat dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat, ditandai dengan pasien mampu mengeluarkan dahak tanpa bantuan atau dengan bantuan minimal; (2) Produksi sputum menurun, volume dahak berkurang dari >30 ml/hari menjadi <15 ml/hari; (3) Dispnea menurun, frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 kali/menit) tanpa sesak saat istirahat; (4) Suara napas tambahan (ronki) menghilang atau berkurang; (5) Kemampuan membersihkan jalan napas meningkat, pasien menunjukkan teknik batuk efektif dan postural drainase secara mandiri; (6) Saturasi oksigen meningkat >95% pada udara ruangan; (7) Ekspansi paru membaik, tidak ada retraksi dinding dada. Kriteria hasil ini diukur menggunakan skala numerik (1-5) dari 1 (sangat menurun) hingga 5 (sangat meningkat). Target pencapaian adalah skala 4-5 pada setiap indikator. Pada pasien TB paru, peningkatan bersihan jalan napas sangat penting untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi ke area paru lain dan mempercepat proses penyembuhan. Keberhasilan kriteria ini juga bergantung pada kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis (OAT) dan asupan nutrisi yang adekuat. Perawat harus memonitor setiap perubahan status pernapasan secara berkala, terutama setelah pemberian terapi mukolitik atau fisioterapi dada.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah Latihan Batuk Efektif (I.01001) dan Manajemen Jalan Napas (I.01002). Penjelasan detail intervensi: 1. Latihan Batuk Efektif (I.01001): Tujuan: mengoptimalkan kemampuan pasien mengeluarkan sekret dari saluran napas bawah. Tindakan: (a) Kaji kemampuan batuk dan karakteristik dahak (warna, konsistensi, volume, bau) setiap 4 jam. (b) Posisikan pasien semi-Fowler atau duduk tegak dengan kepala sedikit fleksi untuk memaksimalkan ekspansi paru. (c) Ajarkan teknik napas dalam: tarik napas perlahan melalui hidung selama 3-5 detik, tahan napas 2-3 detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut. (d) Instruksikan pasien untuk melakukan batuk beruntun (2-3 kali batuk) setelah inspirasi maksimal, dengan menekan perut menggunakan tangan atau bantal untuk meningkatkan tekanan intra-abdomen. (e) Bantu pasien mengeluarkan dahak ke dalam sputum pot steril, lalu observasi perubahan. (f) Berikan waktu istirahat di antara sesi latihan untuk mencegah kelelahan. (g) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk teknik clapping (tepuk dada) dan vibrasi pada area paru kanan atas (area lesi) selama 10-15 menit sebelum batuk. (h) Edukasi pasien untuk tidak menelan dahak karena dapat memperburuk infeksi atau menyebabkan penyebaran kuman ke saluran cerna. 2. Manajemen Jalan Napas (I.01002): Tujuan: mempertahankan patensi jalan napas. Tindakan: (a) Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman napas setiap 2 jam. (b) Auskultasi suara napas untuk mengidentifikasi area dengan penumpukan sekret (biasanya di lobus atas kanan). (c) Lakukan penghisapan (suction) jika pasien tidak mampu batuk efektif dan terdapat sekret yang menyumbat jalan napas, dengan menggunakan kateter suction steril dan tekanan negatif rendah (80-120 mmHg). (d) Berikan oksigenasi nasal kanul 2-4 liter/menit jika saturasi oksigen <92% untuk mencegah hipoksia. (e) Kolaborasi pemberian mukolitik (misalnya N-asetilsistein) atau bronkodilator (misalnya salbutamol nebulizer) sesuai program dokter untuk mengencerkan dahak dan melebarkan bronkus. (f) Atur posisi tidur pasien dengan kepala ditinggikan 30-45 derajat untuk mengurangi tekanan diafragma. (g) Anjurkan minum air hangat minimal 1500-2000 ml/hari (kecuali kontraindikasi gagal jantung) untuk mengencerkan sekret. (h) Lakukan fisioterapi dada: postural drainase dengan memposisikan pasien miring ke kanan atau kiri sesuai area konsolidasi, selama 15-20 menit setiap 4 jam. (i) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kelembapan udara (humidifikasi) di ruangan untuk mencegah mukus mengering. (j) Dokumentasikan respons pasien terhadap intervensi, termasuk perubahan karakter dahak dan penurunan sesak napas. Intervensi ini harus dilakukan dengan menerapkan prinsip pencegahan infeksi (kewaspadaan udara/Airborne Precautions) karena TB paru menular melalui droplet nuklei. Perawat wajib menggunakan masker N95, ruangan dengan ventilasi baik atau tekanan negatif, dan membatasi kontak dengan orang lain. Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menyesuaikan frekuensi intervensi berdasarkan tingkat keparahan obstruksi.
-
Article No. 26196 | 06 Jun 2026
Klinis : k.37
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipertensi esensial (primer)
Kode ICD-10: I10
Deskripsi Singkat : Hipertensi esensial, yang dikodekan sebagai I10 dalam ICD-10, adalah kondisi medis kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah arteri yang persisten tanpa penyebab medis yang dapat diidentifikasi. Kode I10 mencakup hipertensi primer, hipertensi esensial, tekanan darah tinggi, dan hipertensi arterial (esensial). Kondisi ini merupakan faktor risiko utama untuk berbagai penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, dan ginjal. Diagnosis biasanya ditegakkan setelah beberapa kali pengukuran tekanan darah yang menunjukkan nilai sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg, yang tidak disebabkan oleh kondisi lain seperti penyakit ginjal, gangguan endokrin, atau penggunaan obat-obatan tertentu. Hipertensi esensial sering kali tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) pada tahap awal, sehingga sering disebut sebagai "silent killer". Gejala dapat muncul ketika tekanan darah sangat tinggi atau ketika telah terjadi komplikasi, seperti sakit kepala, sesak napas, mimisan, atau gangguan penglihatan. Penanganan meliputi modifikasi gaya hidup (diet rendah garam, olahraga teratur, pengelolaan berat badan, dan berhenti merokok) serta penggunaan obat antihipertensi. Penting untuk dicatat bahwa kode I10 tidak mencakup hipertensi sekunder, hipertensi gestasional, atau hipertensi yang melibatkan pembuluh darah ginjal. Kode ini digunakan secara luas dalam rekam medis untuk tujuan dokumentasi, penelitian epidemiologi, dan klaim asuransi kesehatan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26197 | 06 Jun 2026
Klinis : colic abdomen
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Colic Abdomen
Kode ICD-10: R10.83
Deskripsi Singkat : Colic abdomen, atau kolik abdomen, adalah kondisi yang ditandai dengan nyeri hebat yang datang dan pergi (intermiten) di area perut. Nyeri ini sering digambarkan sebagai kram atau sensasi melilit yang sangat menyakitkan, biasanya disebabkan oleh kontraksi otot polos yang berlebihan pada organ berongga di dalam rongga perut, seperti usus, saluran empedu, atau saluran kemih. Dalam sistem kodifikasi ICD-10, kode R10.83 digunakan untuk mengklasifikasikan "Colic" yang tidak spesifik atau tidak disebutkan penyebabnya. Kode ini berada di bawah kategori R10 (Nyeri perut dan panggul) dan merupakan kode spesifik untuk kolik. Penting untuk dipahami bahwa R10.83 adalah kode gejala (symptom code), bukan kode diagnosis definitif. Artinya, kondisi ini menggambarkan manifestasi klinis dari suatu penyakit yang mendasari, seperti batu empedu (K80), batu ginjal (N20), obstruksi usus (K56), atau gangguan fungsional usus. Penggunaan kode ini dalam simulasi diklat membantu tenaga kesehatan melatih keterampilan membedakan antara nyeri perut akut yang memerlukan penanganan segera dengan kondisi yang lebih ringan, serta memahami pentingnya mencari etiologi spesifik dari kolik tersebut untuk penanganan dan kodifikasi yang lebih akurat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***