Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26234 | 10 Jun 2026
Klinis : Pasien diare
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Diare adalah kondisi di mana individu mengalami peningkatan frekuensi defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya (lebih dari 3 kali sehari) dengan konsistensi feses yang cair, encer, atau lembek, yang dapat disertai atau tanpa disertai urgensi, kram perut, dan mual. Kondisi ini merupakan respons fisiologis tubuh terhadap iritasi atau infeksi pada saluran pencernaan, yang mengakibatkan peningkatan motilitas usus dan penurunan absorpsi cairan serta elektrolit di usus. Dalam konteks keperawatan, diare tidak hanya dipandang sebagai gejala, tetapi sebagai diagnosis keperawatan yang memerlukan intervensi holistik untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, gangguan nutrisi, dan kerusakan integritas kulit perianal. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mengklasifikasikan diare ke dalam domain Eliminasi dan Pertukaran, dengan fokus pada perubahan pola eliminasi yang tidak normal. Penyebab diare dapat bersifat patofisiologis (misalnya infeksi bakteri, virus, atau parasit), situasional (misalnya efek samping obat, terapi antibiotik, atau intoleransi makanan), atau psikologis (misalnya stres dan kecemasan). Tanda dan gejala mayor meliputi frekuensi defekasi lebih dari 3 kali dalam 24 jam, konsistensi feses cair atau encer, dan nyeri atau kram abdomen. Gejala minor dapat berupa urgensi defekasi, bising usus hiperaktif, mual dan muntah, serta tanda-tanda dehidrasi ringan seperti rasa haus, turgor kulit menurun, dan membran mukosa kering. Diagnosis ini harus ditegakkan berdasarkan pengkajian komprehensif, termasuk riwayat kesehatan, pola makan, penggunaan obat, dan faktor lingkungan. Penanganan diare secara keperawatan tidak hanya berfokus pada penghentian diare, tetapi juga pada pemulihan keseimbangan cairan dan elektrolit, pemenuhan kebutuhan nutrisi, serta pencegahan komplikasi lebih lanjut. SDKI D.0021 menjadi landasan bagi perawat untuk merencanakan asuhan keperawatan yang sistematis dan terukur, memastikan bahwa setiap intervensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan spesifik pasien.
Kode SLKI: L.02007
Deskripsi: SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk diagnosis diare dengan kode L.02007 adalah "Eliminasi Feses Membaik". Luaran ini merupakan kriteria hasil yang diharapkan tercapai setelah diberikan intervensi keperawatan yang tepat. Deskripsi dari luaran ini adalah kondisi di mana individu menunjukkan perbaikan dalam pola eliminasi feses yang ditandai dengan penurunan frekuensi defekasi, konsistensi feses kembali normal (padat atau lunak), tidak ada urgensi yang berlebihan, serta tidak ada keluhan nyeri atau kram abdomen. Luaran ini dirancang untuk mengukur efektivitas asuhan keperawatan secara objektif dan terukur. Indikator yang digunakan untuk menilai "Eliminasi Feses Membaik" meliputi: (1) Frekuensi defekasi dalam 24 jam, dengan target normal 1-3 kali sehari; (2) Konsistensi feses, dengan target feses berbentuk padat atau lunak (skala Bristol Stool Scale tipe 3-4); (3) Kontrol terhadap urgensi defekasi, di mana pasien mampu menahan keinginan buang air besar tanpa rasa terburu-buru; (4) Tidak adanya nyeri atau kram abdomen saat atau sebelum defekasi; (5) Warna feses normal (coklat) tanpa adanya darah, lendir, atau lemak berlebih; (6) Tidak adanya tanda-tanda dehidrasi seperti haus berlebihan, turgor kulit buruk, mata cekung, atau penurunan produksi urine; (7) Status nutrisi yang stabil, dengan pasien mampu mempertahankan atau meningkatkan berat badan tanpa penurunan nafsu makan; (8) Integritas kulit perianal utuh, tidak ada kemerahan, iritasi, atau lesi akibat kontak dengan feses cair. Setiap indikator dinilai menggunakan skala Likert 1-5, di mana skor 1 menunjukkan kondisi sangat buruk dan skor 5 menunjukkan kondisi sangat baik. Target luaran ditetapkan berdasarkan kondisi awal pasien, biasanya minimal mencapai skor 4 (cukup baik) atau 5 (baik) pada sebagian besar indikator dalam waktu 3-5 hari. Jika pasien diare akut, target dapat dicapai lebih cepat, sedangkan pada diare kronis atau terkait penyakit inflamasi usus, target mungkin memerlukan waktu lebih lama. SLKI L.02007 membantu perawat dalam memonitor perkembangan pasien secara kontinu, mengevaluasi efektivitas tindakan yang telah dilakukan, serta menyesuaikan rencana asuhan jika target belum tercapai. Dengan adanya luaran yang jelas, perawat dapat memberikan dokumentasi yang akurat dan berfokus pada hasil, meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, dan memastikan keselamatan pasien selama proses pemulihan.
Kode SIKI: I.01030
Deskripsi: SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk diagnosis diare dengan kode I.01030 adalah "Manajemen Diare". Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis untuk mengatasi atau mengurangi episode diare, mencegah komplikasi, serta mengembalikan fungsi eliminasi feses yang normal. Manajemen Diare mencakup aktivitas keperawatan yang bersifat mandiri dan kolaboratif, disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan diare. Tujuan utama intervensi ini adalah untuk mengontrol frekuensi diare, mengembalikan konsistensi feses, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta menjaga integritas kulit perianal. Aktivitas keperawatan dalam Manajemen Diare meliputi: (1) Kaji karakteristik diare secara komprehensif, termasuk frekuensi, konsistensi, volume, warna, bau, serta adanya darah atau lendir; (2) Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi, seperti turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, produksi urine, dan berat badan harian; (3) Identifikasi faktor penyebab diare, seperti infeksi, intoleransi makanan, efek samping obat, atau faktor psikologis; (4) Berikan terapi rehidrasi oral (oralit) sesuai kebutuhan, atau kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena jika terjadi dehidrasi berat; (5) Anjurkan pasien untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan rendah serat, seperti pisang, nasi, apel, dan roti panggang (diet BRAT), serta hindari makanan pedas, berlemak, tinggi serat kasar, dan produk susu jika ada intoleransi laktosa; (6) Berikan probiotik atau suplemen zinc sesuai indikasi dan rekomendasi dokter untuk mempercepat pemulihan mukosa usus; (7) Ajarkan pasien dan keluarga tentang teknik mencuci tangan yang benar dan higiene perorangan untuk mencegah penularan infeksi; (8) Lakukan perawatan kulit perianal, seperti membersihkan area perianal dengan air hangat dan sabun ringan setiap kali defekasi, mengeringkan dengan lembut, serta mengoleskan krim pelindung (zinc oxide) untuk mencegah iritasi dan ruam; (9) Berikan edukasi tentang tanda-tanda bahaya diare yang memerlukan perhatian medis segera, seperti feses berdarah, demam tinggi, penurunan kesadaran, atau tanda dehidrasi berat; (10) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai jika diare berkepanjangan atau terkait dengan malabsorpsi; (11) Berikan obat anti-diare (misalnya loperamide) hanya atas rekomendasi dokter, terutama jika diare disebabkan oleh infeksi bakteri, karena dapat memperpanjang masa infeksi; (12) Dokumentasikan semua intervensi yang dilakukan, respons pasien, dan perkembangan kondisi secara akurat dan tepat waktu. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan, dengan evaluasi setiap 4-6 jam pada fase akut, dan disesuaikan berdasarkan respons pasien. Manajemen Diare (I.01030) merupakan intervensi yang holistik, tidak hanya berfokus pada penghentian gejala, tetapi juga pada pemulihan fungsi fisiologis, pencegahan komplikasi jangka panjang, serta pemberdayaan pasien dan keluarga dalam manajemen mandiri. Dengan penerapan intervensi yang tepat dan berbasis bukti, diharapkan pasien dapat mencapai luaran "Eliminasi Feses Membaik" (L.02007) dalam waktu yang optimal, sehingga kualitas hidup pasien dapat segera pulih dan risiko rawat inap ulang dapat diminimalkan.
-
Article No. 26235 | 10 Jun 2026
Klinis : Pasien dengan muntah mual sering tensi 100/80 mmhg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien dengan muntah mual sering, tekanan darah 100/80 mmHg
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Defisit Volume Cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (muntah) dan asupan yang tidak adekuat akibat mual. Kondisi ini ditandai dengan muntah berulang, mual, penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, dan tekanan darah yang cenderung rendah (100/80 mmHg) menunjukkan awal dari hipovolemia. Pasien berisiko mengalami ketidakseimbangan elektrolit dan syok hipovolemik jika tidak segera ditangani. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh mual dan muntah) dan data objektif (frekuensi muntah, tanda-tanda vital, dan pemeriksaan fisik).
Kode SLKI: L.03020
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan kebutuhan cairan pasien terpenuhi dengan kriteria hasil: (1) Intake oral dan parenteral adekuat, (2) Output urin adekuat (0,5-1 cc/kgBB/jam), (3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (TD sistol 90-120 mmHg, nadi 60-100 x/menit), (4) Turgor kulit elastis, (5) Membran mukosa lembab, (6) Tidak ada tanda dehidrasi, (7) Berat badan stabil, (8) Elektrolit serum dalam batas normal (Natrium 135-145 mEq/L, Kalium 3,5-5,0 mEq/L). Pasien akan menunjukkan penurunan frekuensi muntah dari >5 kali/hari menjadi ≤2 kali/hari dalam 24 jam. Pasien mampu mempertahankan tekanan darah sistolik di atas 90 mmHg tanpa bantuan vasopresor. Pasien menunjukkan peningkatan asupan oral sedikitnya 500 ml dalam 8 jam pertama setelah intervensi antiemetik.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Cairan dan Elektrolit. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa, capillary refill), (2) Monitor tanda-tanda vital setiap 1-2 jam (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi), (3) Hitung balance cairan setiap 4 jam (intake oral, parenteral, output urin, muntah), (4) Berikan cairan intravena sesuai advis dokter (misal: Ringer Laktat atau NaCl 0,9% dengan kecepatan 125-150 ml/jam untuk dewasa), (5) Kolaborasi pemberian antiemetik (Ondansetron 4-8 mg IV/IM atau Metoklopramid 10 mg IV) 30 menit sebelum makan, (6) Berikan terapi oral rehidrasi (ORS) sedikit-sedikit tapi sering (15-30 ml setiap 5-10 menit) jika muntah mulai berkurang, (7) Anjurkan pasien untuk menghindari makanan berminyak, pedas, dan berbau tajam, (8) Berikan posisi semi-Fowler saat makan untuk mengurangi mual, (9) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam saat mual muncul (tarik napas melalui hidung selama 4 detik, tahan 4 detik, hembuskan melalui mulut selama 6 detik), (10) Monitor kadar elektrolit serum (Na, K, Cl) setiap 6-8 jam jika ada akses laboratorium, (11) Catat jumlah dan karakteristik muntah (volume, warna, konsistensi), (12) Berikan perawatan mulut (mouth care) setiap 2 jam atau setelah muntah untuk mengurangi rasa tidak nyaman, (13) Evaluasi respons terhadap terapi cairan dan obat setiap 4 jam, (14) Libatkan keluarga dalam pemberian cairan oral bertahap, (15) Dokumentasikan balance cairan kumulatif setiap shift. Tindakan observasi: Identifikasi penyebab mual dan muntah (efek obat, infeksi, gangguan metabolik). Tindakan edukasi: Jelaskan pentingnya asupan cairan dan tanda-tanda dehidrasi yang harus dilaporkan (pusing, bibir kering, jarang BAK, warna urin gelap). Tindakan kolaborasi: Rujuk ke dokter jika muntah tidak terkontrol dalam 6 jam atau muncul tanda syok (TD <90/60 mmHg, nadi >120 x/menit, urine <30 ml/jam).
-
Article No. 26236 | 10 Jun 2026
Klinis : gcs: 15 td: 136/100 n: 93 rr: 20 t: 36.8 hamil 15-16 minggu dengan keluhan mual muntah, merasa lemas dan nyeri saat BAK
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual dan Muntah pada Kehamilan (Hiperemesis Gravidarum) disertai Nyeri saat BAK (Disuria) dan Kelemahan
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Mual dan muntah pada kehamilan adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan pengalaman sensasi tidak nyaman di daerah epigastrium dan keinginan untuk muntah yang terjadi pada masa kehamilan, khususnya trimester pertama. Kondisi ini dapat berkisar dari mual ringan hingga hiperemesis gravidarum yang berat, yang ditandai dengan muntah persisten sehingga menyebabkan dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, dan penurunan berat badan. Pada pasien ini, mual dan muntah disertai dengan kelemahan umum (lemas) yang mengindikasikan dampak metabolik dan nutrisi yang sudah mulai mengganggu status kesehatan. Nyeri saat BAK (disuria) yang dialami pasien menambah kompleksitas kondisi, karena dapat mengindikasikan adanya infeksi saluran kemih (ISK) yang sering menyertai kehamilan dan memperberat rasa tidak nyaman. Berdasarkan data objektif, tekanan darah 136/100 mmHg menunjukkan hipertensi dalam kehamilan (gestasional atau preeklamsia ringan) yang memerlukan kewaspadaan karena dapat memperburuk perfusi ke organ vital dan plasenta. Nadi 93x/menit dan suhu 36,8°C masih dalam batas normal, namun frekuensi nadi yang sedikit meningkat dapat menjadi respons kompensasi terhadap dehidrasi ringan akibat muntah. Respirasi 20x/menit normal. GCS 15 menunjukkan kesadaran penuh, namun kelemahan fisik tetap perlu diantisipasi karena risiko jatuh dan penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan kriteria mayor seperti pasien melaporkan mual (skala 1-4), muntah (frekuensi >2 kali dalam 8 jam), dan kehilangan nafsu makan, serta kriteria minor berupa hipersalivasi, nyeri ulu hati, dan penurunan berat badan. Intervensi keperawatan difokuskan pada manajemen mual-muntah, pemantauan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta edukasi tentang pola makan dan posisi yang tepat. Penanganan nyeri saat BAK memerlukan pemeriksaan urinalisis untuk memastikan adanya infeksi sehingga dapat diberikan terapi antibiotik yang aman untuk kehamilan. Kondisi hipertensi memerlukan pemantauan tekanan darah secara berkala dan evaluasi tanda-tanda preeklamsia seperti proteinuria, edema, dan sakit kepala. Secara keseluruhan, diagnosis ini memerlukan pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, nutrisi, dan psikologis karena kehamilan merupakan masa yang rentan terhadap perubahan fisiologis dan psikologis.
Kode SLKI: L.06057
Deskripsi : Tingkat Mual dan Muntah (Hiperemesis Gravidarum) adalah luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan untuk mengurangi frekuensi dan intensitas mual serta muntah pada ibu hamil. Luaran ini diukur melalui skala yang mencakup beberapa indikator, yaitu: (1) Kontrol mual, yang meliputi kemampuan pasien untuk mengidentifikasi pemicu mual dan menggunakan teknik nonfarmakologis (seperti akupresur, aromaterapi, atau napas dalam) untuk mengurangi mual; (2) Frekuensi muntah, yaitu penurunan jumlah episode muntah per hari dari >2 kali menjadi <1 kali dalam 24 jam; (3) Intensitas mual, yang diukur menggunakan skala numerik (0-10) di mana targetnya adalah penurunan dari skala 7-8 menjadi <3; (4) Asupan nutrisi, yaitu peningkatan kemampuan pasien untuk mempertahankan asupan makanan dan cairan tanpa muntah dalam 30 menit setelah makan; (5) Berat badan, yaitu tidak terjadi penurunan berat badan lebih dari 5% dari berat badan sebelum hamil; (6) Status hidrasi, yang ditandai dengan turgor kulit baik, membran mukosa lembab, dan produksi urine >30 ml/jam; (7) Kelemahan fisik, yaitu penurunan skor kelelahan dari skala 4-5 menjadi <2. Pada pasien ini, luaran yang ingin dicapai juga mencakup penurunan nyeri saat BAK (disuria) hingga skala 0-1 dan stabilisasi tekanan darah pada rentang <140/90 mmHg tanpa proteinuria. Indikator tambahan meliputi kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa bantuan (skor ADL >80) dan tidak mengalami cedera akibat jatuh. Evaluasi luaran dilakukan setiap 8 jam selama perawatan akut, kemudian setiap 24 jam setelah kondisi stabil. Target waktu pencapaian luaran adalah 3-5 hari untuk penurunan mual-muntah dan 1-2 minggu untuk pemulihan kelemahan fisik serta kontrol tekanan darah. Luaran ini penting untuk memastikan bahwa ibu hamil dapat mempertahankan kehamilan yang sehat, mencegah komplikasi seperti dehidrasi berat, gangguan elektrolit, dan preeklamsia berat, serta mempersiapkan ibu untuk proses persalinan yang aman.
Kode SIKI: I.03113
Deskripsi : Manajemen Mual dan Muntah pada Kehamilan adalah intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengurangi frekuensi dan intensitas mual serta muntah, mencegah dehidrasi dan malnutrisi, serta meningkatkan kenyamanan ibu hamil. Intervensi ini terdiri dari beberapa aktivitas keperawatan yang terintegrasi: (1) Identifikasi pemicu mual, yaitu dengan melakukan wawancara mendalam tentang pola makan, bau yang memicu mual, waktu muntah, dan faktor psikologis seperti kecemasan; (2) Manajemen diet, meliputi anjuran makan dalam porsi kecil tapi sering (6-8 kali sehari), menghindari makanan berlemak dan pedas, mengonsumsi makanan kering seperti biskuit atau roti panggang sebelum bangun tidur, serta minum cairan bening (air putih, jahe hangat, atau oralit) di antara waktu makan; (3) Teknik nonfarmakologis, seperti akupresur pada titik Pericardium 6 (P6) yang terletak 3 jari di atas pergelangan tangan, aromaterapi dengan minyak esensial peppermint atau lemon, relaksasi napas dalam, dan penggunaan gelang anti-mual; (4) Farmakoterapi sesuai advis dokter, seperti pemberian vitamin B6 (piridoksin) 10-25 mg setiap 8 jam, antihistamin (dimenhydrinate atau meclizine), atau antiemetik seperti ondansetron jika diperlukan dengan pemantauan efek samping; (5) Pemantauan status hidrasi, yaitu mengukur intake dan output cairan, memeriksa turgor kulit, membran mukosa, dan berat badan setiap hari, serta memantau tanda-tanda dehidrasi (haus berlebihan, urine pekat, pusing); (6) Pemantauan elektrolit dan fungsi ginjal melalui pemeriksaan laboratorium (kalium, natrium, klorida, ureum, kreatinin) setiap 24-48 jam jika muntah persisten; (7) Manajemen nyeri saat BAK, meliputi edukasi tentang kebersihan genital, anjuran minum air putih 2-3 liter per hari untuk mengencerkan urine, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan urinalisis serta pemberian antibiotik yang aman (misalnya amoksisilin atau nitrofurantoin) jika terbukti infeksi saluran kemih; (8) Manajemen hipertensi, yaitu pemantauan tekanan darah setiap 4 jam, edukasi tentang diet rendah garam, istirahat cukup, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antihipertensi seperti metildopa atau nifedipin jika tekanan darah >140/90 mmHg; (9) Dukungan psikologis, dengan memberikan informasi tentang kondisi kehamilan, mendengarkan keluhan pasien, dan melibatkan keluarga dalam perawatan untuk mengurangi kecemasan; (10) Edukasi tanda bahaya, yaitu mengajarkan pasien dan keluarga untuk mengenali tanda-tanda dehidrasi berat, preeklamsia (sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati), dan infeksi saluran kemih (demam, menggigil, nyeri pinggang). Intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dengan dokter, ahli gizi, dan farmasi, serta dievaluasi setiap shift untuk menyesuaikan rencana asuhan. Dokumentasi dilakukan secara sistematis meliputi respons pasien terhadap setiap aktivitas, hasil pemantauan, dan perubahan rencana intervensi. Tujuan akhir intervensi adalah pasien dapat mempertahankan kehamilan yang sehat, bebas dari komplikasi, dan memiliki kualitas hidup yang baik selama masa kehamilan.
-
Article No. 26237 | 10 Jun 2026
Klinis : Kasus: ny.n usia 27 tahun postpartum SC G2P2A0 dengan diagnosis preeklamsia berat, ku baik compos mentis, TD 150/97, Nadu 88x , wajah tampak sedikit pucat. Berikan masalah, ds do, diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi selama 2 hari di rumah sakit dalam 1 shift kerja
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nn. N, 27 tahun, Postpartum SC G2P2A0 dengan Preeklamsia Berat. Kesadaran compos mentis, TD 150/97 mmHg, Nadi 88x/menit, wajah tampak sedikit pucat.
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif. Definisi: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke jaringan otak yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi otak. Faktor risiko pada kasus ini meliputi hipertensi (preeklamsia berat) yang menyebabkan vasospasme serebral, peningkatan tekanan darah sistemik yang ekstrem, serta perubahan hemodinamik postpartum. Data subjektif (DS) yang mungkin muncul: pasien mengeluh sakit kepala hebat yang tidak hilang dengan istirahat, pandangan kabur atau berkunang-kunang, mual, atau merasa "tidak enak badan". Data objektif (DO) yang terobservasi: tekanan darah 150/97 mmHg (hipertensi berat), wajah pucat (dapat mengindikasikan vasokonstriksi perifer atau anemia), nadi 88x/menit (dalam batas normal tetapi perlu diwaspadai jika terjadi bradikardi atau takikardi sebagai tanda peningkatan TIK). Perlu dipantau ketat adanya tanda-tanda neurologis seperti penurunan kesadaran, kejang, atau refleks patologis. Risiko ini sangat kritis karena preeklamsia berat postpartum dapat berkembang menjadi eklampsia (kejang) atau sindrom HELLP yang mengancam jiwa. Penjelasan lebih lanjut: pada preeklamsia berat, terjadi disfungsi endotel pembuluh darah yang menyebabkan vasospasme, peningkatan permeabilitas kapiler, dan aktivasi sistem koagulasi. Di otak, vasospasme ini dapat menyebabkan iskemia fokal atau edema serebral. Tekanan darah 150/97 mmHg menunjukkan hipertensi tahap 2 yang memerlukan intervensi segera. Wajah pucat bisa menjadi tanda anemia, dehidrasi, atau respons simpatis terhadap nyeri dan stres. Meskipun pasien compos mentis, perubahan status neurologis dapat terjadi secara mendadak. Diagnosis ini menekankan pada pencegahan dan deteksi dini komplikasi serebral.
Kode SLKI: L.06027
Deskripsi : Perfusi Serebral Meningkat. Definisi: Meningkatnya aliran darah dan oksigen ke jaringan otak yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan 2x24 jam: 1) Tekanan darah dalam rentang normal (sistolik 100-130 mmHg, diastolik 60-80 mmHg) tanpa obat antihipertensi atau dengan dosis minimal. 2) Tidak ada keluhan sakit kepala, pandangan kabur, atau mual. 3) Wajah tidak pucat, membran mukosa lembab, dan capillary refill <2 detik. 4) Status neurologis dalam batas normal: Glasgow Coma Scale (GCS) 15, pupil isokor dan reaktif, tidak ada kejang, refleks fisiologis normal. 5) Nadi 60-100x/menit, irama teratur, kekuatan kuat. 6) Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (muntah proyektil, bradikardi, hipertensi paradoks). 7) Pasien mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi dan manajemen stres. 8) Nilai laboratorium (jika diperiksa) seperti hemoglobin, hematokrit, trombosit, dan fungsi hati dalam batas normal (untuk menyingkirkan HELLP). Penjelasan: SLKI ini berfokus pada outcome yang terukur dan realistis. Penurunan tekanan darah secara bertahap sangat penting untuk mencegah hipoperfusi serebral atau infark. Target tekanan darah pada preeklamsia berat adalah <160/110 mmHg untuk mencegah stroke, namun idealnya diturunkan ke <140/90 mmHg secara perlahan. Status neurologis yang baik adalah indikator utama perfusi serebral yang adekuat. Wajah pucat yang membaik menunjukkan peningkatan sirkulasi perifer. Pantauan ketat selama 2 hari di RS memungkinkan deteksi dini perubahan yang memburuk.
Kode SIKI: I.06147
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral (Observasi, Terapeutik, Edukasi, Kolaborasi). Definisi: Serangkaian tindakan keperawatan untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke otak pada pasien yang berisiko atau mengalami gangguan perfusi serebral. Intervensi dan implementasi selama 2 hari di rumah sakit dalam 1 shift kerja (asumsi shift pagi/siang/malam, 8 jam per shift):
Hari ke-1 (Shift Pagi/Siang):
Observasi: 1) Monitor tekanan darah setiap 1 jam (atau lebih sering jika tidak stabil) menggunakan alat yang terkalibrasi, posisi duduk atau berbaring setelah istirahat 5 menit. Catat nilai sistolik, diastolik, dan Mean Arterial Pressure (MAP). 2) Monitor nadi, respirasi, dan suhu setiap 1 jam. 3) Kaji tingkat kesadaran menggunakan GCS setiap 2 jam. 4) Kaji keluhan subjektif: sakit kepala (skala nyeri 0-10), karakteristik, lokasi, durasi, faktor pencetus. Tanyakan adanya pandangan kabur, diplopia, atau fotofobia. 5) Kaji tanda-tanda neurologis: pupil (ukuran, bentuk, reaksi terhadap cahaya), refleks fisiologis (biceps, triceps, patella, Achilles), refleks patologis (Babinski, clonus). 6) Kaji warna kulit, kelembaban, capillary refill, dan edema. 7) Monitor intake dan output cairan (balance cairan). 8) Kaji nyeri luka operasi SC (skala nyeri).
Terapeutik: 1) Atur posisi kepala tempat tidur 30-45 derajat (head-up) untuk menurunkan tekanan intrakranial dan memperbaiki drainase vena serebral. 2) Ciptakan lingkungan yang tenang, redup, dan bebas stres. Batasi pengunjung. 3) Anjurkan pasien untuk beristirahat total (bed rest) dengan aktivitas minimal. 4) Berikan oksigen nasal kanul 2-4 liter/menit jika saturasi oksigen <95% atau ada tanda distress pernapasan. 5) Lakukan manajemen nyeri luka SC (kompres dingin, teknik relaksasi nafas dalam, atau kolaborasi pemberian analgesik sesuai order). 6) Pantau efek samping obat antihipertensi (misal: nifedipin, methyldopa, atau labetalol) seperti hipotensi ortostatik, bradikardi, pusing.
Edukasi: 1) Jelaskan kondisi preeklamsia berat dan pentingnya pengontrolan tekanan darah untuk mencegah kejang dan stroke. 2) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan distraksi untuk mengurangi kecemasan dan sakit kepala. 3) Anjurkan untuk segera melaporkan gejala seperti sakit kepala berat, pandangan berubah, mual muntah, atau kelemahan anggota gerak. 4) Informasikan tentang pembatasan aktivitas dan posisi tidur yang aman.
Kolaborasi: 1) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antihipertensi (misal: Nifedipin 10 mg oral setiap 6-8 jam atau Methyldopa 250 mg oral setiap 8 jam) sesuai order. 2) Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium: darah lengkap (Hb, Ht, trombosit), fungsi hati (SGOT, SGPT), fungsi ginjal (ureum, kreatinin), dan urinalisis (proteinuria). 3) Kolaborasi untuk pemberian MgSO4 (terapi profilaksis kejang) jika ada indikasi (misal: refleks patella hiperaktif, klonus, atau sakit kepala berat) sesuai protokol. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet rendah garam (2-3 gram/hari) dan tinggi protein.
Hari ke-2 (Shift Malam/Pagi):
Observasi: 1) Lanjutkan monitoring tekanan darah setiap 2-4 jam jika stabil. 2) Kaji ulang status neurologis setiap 4 jam. 3) Evaluasi respons terhadap terapi antihipertensi: apakah tekanan darah turun secara bertahap (target <140/90 mmHg). 4) Pantau tanda-tanda efek samping MgSO4 (jika diberikan): depresi pernapasan, bradikardi, penurunan refleks, kelemahan otot. 5) Kaji tanda-tanda perdarahan postpartum (perdarahan pervaginam, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus). 6) Kaji adanya tanda-tanda sindrom HELLP: nyeri epigastrium kanan atas, mual muntah, ikterus, petekie.
Terapeutik: 1) Lanjutkan posisi head-up 30-45 derajat. 2) Bantu pasien melakukan mobilisasi bertahap (duduk di tempat tidur, kemudian berdiri) jika tekanan darah stabil dan tidak ada keluhan pusing. 3) Lanjutkan manajemen nyeri luka SC. 4) Jika menggunakan MgSO4, pastikan antidotum (kalsium glukonat 10% 1 gram IV) tersedia di dekat pasien. 5) Lakukan perawatan luka SC (inspeksi, ganti balutan jika basah/kotor) sesuai protokol.
Edukasi: 1) Ajarkan tanda-tanda bahaya postpartum yang harus dilaporkan: sakit kepala berat, gangguan penglihatan, nyeri ulu hati, perdarahan banyak, demam. 2) Edukasi tentang pentingnya kontrol tekanan darah secara teratur setelah pulang (preeklamsia dapat bertahan hingga 6 minggu postpartum). 3) Ajarkan perawatan luka SC di
Article No. 26238 | 10 Jun 2026
Klinis : Kasus: ny.n usia 27 tahun postpartum SC G2P2A0 dengan diagnosis preeklamsia berat, ku baik compos mentis, TD 150/97, Nadu 88x , wajah tampak sedikit pucat. Berikan masalah, ds do, diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi selama 2 hari di rumah sakit dalam 1 shift kerja buatkan 3 diagnosa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nn. N, 27 tahun, postpartum SC G2P2A0 dengan preeklamsia berat. Kesadaran compos mentis, TD 150/97 mmHg, Nadi 88x/menit, wajah tampak sedikit pucat.
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami kehilangan darah dalam jumlah besar baik internal maupun eksternal, yang dapat mengancam hemodinamik. Pada kasus ini, Ny. N postpartum SC dengan preeklamsia berat memiliki faktor risiko utama yaitu atonia uteri (karena distensi uterus berlebih akibat preeklamsia dapat mempengaruhi kontraksi), trauma jalan lahir akibat tindakan SC, serta gangguan koagulasi yang sering menyertai preeklamsia berat (trombositopenia, disfungsi trombosit). Wajah pucat dan tekanan darah yang tidak terkontrol (150/97) dapat menjadi indikasi awal hipovolemia atau syok impending. Meskipun nadi masih dalam batas normal, kondisi ini memerlukan pemantauan ketat karena perdarahan postpartum dapat terjadi secara tiba-tiba dan masif. Tujuan intervensi adalah untuk mencegah perdarahan aktif, mendeteksi tanda-tanda perdarahan dini, dan mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat. Data subjektif yang mungkin adalah pasien merasa lemas, pusing, atau melihat darah yang keluar berlebihan. Data objektif meliputi kontraksi uterus yang lembek (boggy), tinggi fundus uteri tidak sesuai masa nifas, perdarahan pervaginam yang melebihi normal (>500 ml untuk SC), penurunan tekanan darah mendadak, peningkatan nadi, pucat, akral dingin, dan penurunan produksi urine.
Kode SLKI: L.02020
Deskripsi: Tingkat Perdarahan adalah status yang menggambarkan kemampuan tubuh untuk mengontrol dan meminimalkan kehilangan darah, serta mempertahankan stabilitas hemodinamik. Luaran yang diharapkan pada Ny. N adalah: perdarahan tidak terjadi atau minimal, tanda-tanda vital stabil dalam rentang normal (TD sistolik 100-120 mmHg, diastolik 60-80 mmHg, nadi 60-100x/menit, suhu 36-37°C), kontraksi uterus baik dan keras (firm), tinggi fundus uteri menurun sesuai hari postpartum (setinggi pusat pada hari ke-0, turun 1 jari per hari), produksi urine adekuat (>30 ml/jam), hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal, serta tidak ada tanda syok (akral hangat, capillary refill <2 detik, kesadaran kompos mentis). Data subjektif yang diharapkan adalah pasien tidak mengeluh pusing, lemas, atau perdarahan. Data objektif yang diharapkan adalah tidak ada perdarahan aktif, kontraksi uterus baik, dan tanda-tanda vital stabil.
Kode SIKI: I.02019
Deskripsi: Manajemen Perdarahan adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan mencegah perdarahan, serta memulihkan volume sirkulasi. Intervensi utama meliputi: (1) Pantau tanda-tanda vital setiap 15-30 menit pada 2 jam pertama postpartum, kemudian setiap jam selama 24 jam; (2) Lakukan pemeriksaan tinggi fundus uteri dan kontraksi uterus setiap 15 menit pada 2 jam pertama, kemudian setiap jam; (3) Kaji jumlah dan karakteristik perdarahan pervaginam (warna, bau, bekuan); (4) Lakukan masase fundus uteri jika kontraksi uterus lembek; (5) Kolaborasi pemberian oksitosin sesuai program (biasanya drip oksitosin 20-40 IU dalam 500 ml RL); (6) Pastikan kandung kemih kosong (kateterisasi jika perlu) karena kandung kemih penuh dapat menghambat kontraksi uterus; (7) Pantau hasil laboratorium (Hb, Ht, trombosit, PT, APTT); (8) Siapkan akses intravena dengan ukuran besar (18G atau 16G) untuk resusitasi cairan; (9) Kolaborasi pemberian cairan kristaloid (RL atau NaCl 0,9%) sesuai kebutuhan; (10) Dokumentasikan intake dan output secara ketat; (11) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya perdarahan (perdarahan hebat, lemas berat, pusing, pandangan kabur). Implementasi shift 1: Fokus pada pemantauan ketat 2 jam pertama postpartum, masase uterus, dan kolaborasi pemberian oksitosin serta cairan. Implementasi shift 2: Lanjutkan pemantauan setiap jam, kaji involusi uterus, dan edukasi pasien untuk melaporkan segera jika ada perdarahan atau keluhan.
Kondisi: Nn. N, 27 tahun, postpartum SC G2P2A0 dengan preeklamsia berat. Kesadaran compos mentis, TD 150/97 mmHg, Nadi 88x/menit, wajah tampak sedikit pucat.
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera pada Ibu dan Bayi adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami gangguan fisik atau psikologis akibat komplikasi kehamilan, persalinan, atau nifas yang dapat membahayakan keselamatan ibu dan/atau bayi. Pada Ny. N dengan preeklamsia berat, risiko ini sangat tinggi karena preeklamsia berat dapat berkembang menjadi eklampsia (kejang), solusio plasenta, sindrom HELLP (hemolisis, elevated liver enzymes, low platelets), gagal ginjal, edema paru, dan stroke. Tekanan darah 150/97 mmHg menunjukkan hipertensi yang tidak terkontrol, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya eklampsia. Wajah pucat bisa menandakan anemia atau gangguan sirkulasi. Selain itu, pada postpartum SC, risiko infeksi luka operasi, trombosis vena dalam, dan emboli paru juga meningkat. Bayi juga berisiko mengalami hipoksia, prematuritas, atau gangguan pertumbuhan intrauterin akibat insufisiensi plasenta yang sering terjadi pada preeklamsia. Data subjektif yang mungkin adalah pasien mengeluh sakit kepala berat, gangguan penglihatan (skotoma, penglihatan kabur), nyeri epigastrium, mual, atau muntah. Data objektif meliputi tekanan darah tinggi persisten, proteinuria, edema generalisata, refleks patella hiperaktif, klonus, penurunan kesadaran, kejang, atau gangguan fungsi organ (peningkatan enzim hati, penurunan trombosit, penurunan fungsi ginjal).
Kode SLKI: L.02022
Deskripsi: Status Neurologis dan Hemodinamik adalah luaran yang menggambarkan fungsi sistem saraf pusat dan stabilitas sirkulasi yang bebas dari komplikasi berat seperti kejang, stroke, atau syok. Luaran yang diharapkan pada Ny. N adalah: tidak terjadi kejang, kesadaran kompos mentis (GCS 15), tidak ada keluhan sakit kepala berat atau gangguan penglihatan, tekanan darah terkontrol dalam rentang aman (sistolik 120-140 mmHg, diastolik 80-90 mmHg), refleks fisiologis normal, tidak ada klonus, fungsi ginjal normal (produksi urine >30 ml/jam, kreatinin normal), fungsi hati normal, dan trombosit >150.000/µl. Data subjektif yang diharapkan adalah pasien tidak mengeluh sakit kepala, nyeri ulu hati, atau gangguan penglihatan. Data objektif yang diharapkan adalah tekanan darah stabil, refleks normal, dan tidak ada tanda-tanda preeklamsia berat yang memburuk.
Kode SIKI: I.02021
Deskripsi: Manajemen Preeklamsia Berat adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk memonitor, menstabilkan, dan mencegah komplikasi pada ibu dengan preeklamsia berat. Intervensi utama meliputi: (1) Pantau tekanan darah setiap 15-30 menit sampai stabil, kemudian setiap 1-2 jam; (2) Pantau tanda-tanda impending eklampsia (sakit kepala frontal, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium, mual, muntah, hiperrefleksia); (3) Kaji refleks patella setiap 1-2 jam; (4) Pantau proteinuria dengan dipstick urin setiap shift; (5) Pantau edema (timbang berat badan harian, ukur lingkar pergelangan kaki); (6) Kolaborasi pemberian obat antihipertensi (misalnya nifedipine 10 mg oral tiap 6-8 jam atau labetalol IV) sesuai program; (7) Kolaborasi pemberian magnesium sulfat (MgSO4) sebagai profilaksis kejang sesuai protokol (dosis awal 4 gram IV bolus dilanjutkan 1 gram/jam drip); (8) Pantau efek samping MgSO4 (depresi pernapasan, penurunan refleks, oliguria); (9) Siapkan antidot MgSO4 (kalsium glukonas 1 gram IV) jika terjadi overdosis; (10) Anjurkan pasien untuk tirah baring dengan posisi miring kiri untuk meningkatkan aliran darah uteroplasenta; (11) Pantau produksi urine setiap jam; (12) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, trombosit, SGOT, SGPT, kreatinin, urin); (13) Edukasi pasien untuk melaporkan segera jika ada gejala seperti sakit kepala, penglihatan kabur, atau nyeri perut. Implementasi shift 1: Fokus pada pemantauan tanda-tanda impending eklampsia, pemberian MgSO4 dan antihipertensi sesuai program, serta pemantauan efek samping. Implementasi shift 2: Lanjutkan pemantauan tekanan darah dan refleks, kaji toleransi pasien terhadap tirah baring, dan edukasi keluarga tentang tanda-tanda bahaya.
Article No. 26239 | 10 Jun 2026
Klinis : Kasus: ny.n usia 27 tahun postpartum SC G2P2A0 dengan diagnosis preeklamsia berat, ku baik compos mentis, TD 150/97, Nadu 88x , wajah tampak sedikit pucat. Berikan masalah, ds do, diagnosis keperawatan 3 secara holistik, intervensi, implementasi selama 2 hari di rumah sakit dalam 1 shift kerja
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut (Post Operasi Seksio Sesarea)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain), dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien postpartum SC, nyeri berasal dari luka insisi abdomen (laparotomi) dan kontraksi uterus (involusi) yang diperberat oleh mobilisasi awal. Data subjektif: pasien mengeluh nyeri pada luka jahitan (skala nyeri 4-6/10), terasa perih dan tertarik. Data objektif: wajah tampak meringis, tekanan darah meningkat (TD 150/97 mmHg), nadi meningkat (88x/menit), pasien terlihat menahan sakit saat bergerak, skala nyeri numerik 5/10, posisi tubuh kaku.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah status seseorang yang mengalami dan melaporkan adanya sensasi yang tidak nyaman dan menyakitkan. Luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24 jam (1 shift) adalah: Tingkat Nyeri menurun dengan kriteria hasil: (1) Keluhan nyeri menurun (skala 2-3/10), (2) Ekspresi wajah rileks (tidak meringis), (3) Kemampuan menekan nyeri meningkat (pasien mampu menggunakan teknik nonfarmakologi), (4) Tanda vital dalam rentang normal (TD 120-130/80-85 mmHg, Nadi 70-80x/menit), (5) Pola tidur membaik (tidur 6-7 jam/hari tanpa terbangun karena nyeri), (6) Mobilitas fisik meningkat (mampu miring kanan-kiri dan duduk di tempat tidur dengan bantuan minimal).
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan mengurangi pengalaman nyeri. Intervensi yang dilakukan dalam 1 shift (8 jam) meliputi: Observasi: (1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri (skala nyeri tiap 4 jam). (2) Monitor tanda vital (TD, Nadi, RR) sebelum dan sesudah pemberian analgesik. (3) Monitor efek samping obat (mual, muntah, sedasi). Terapeutik: (1) Berikan posisi nyaman (semi-fowler dengan bantal di bawah lutut untuk mengurangi tegangan luka). (2) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam (nafas perlahan hitungan 4-7-8) saat nyeri muncul. (3) Lakukan kompres dingin pada area sekitar luka (jika tidak kontraindikasi) selama 10-15 menit. (4) Bantu mobilisasi bertahap (miring kiri-kanan, duduk di tepi tempat tidur). Edukasi: (1) Jelaskan penyebab nyeri (proses penyembuhan luka dan kontraksi uterus). (2) Anjurkan menggunakan posisi miring saat menyusui untuk mengurangi tarikan luka. (3) Ajarkan tanda-tanda bahaya nyeri yang perlu dilaporkan (nyeri hebat tak tertahankan, demam, perdarahan). Kolaborasi: (1) Kolaborasi pemberian analgesik (Ketorolac 30 mg IV/IM tiap 8 jam atau Parasetamol 1 gram IV sesuai advis dokter). Implementasi spesifik shift: jam 07.00-15.00: kaji skala nyeri, berikan analgesik sesuai jadwal, ajarkan teknik napas dalam, bantu posisi miring saat menyusui bayi. Dokumentasikan respons nyeri dan tanda vital.
Kondisi: Risiko Perdarahan (Post Partum dengan Preeklamsia Berat)
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Risiko perdarahan adalah keadaan rentan mengalami kehilangan darah dari pembuluh darah baik internal maupun eksternal yang dapat mengancam jiwa. Pada pasien postpartum SC dengan preeklamsia berat, risiko perdarahan meningkat karena: (1) disfungsi endotel akibat hipertensi menyebabkan gangguan agregasi trombosit, (2) penggunaan MgSO4 (terapi preeklamsia) memiliki efek tokolitik yang dapat menghambat kontraksi uterus, (3) luka insersi plasenta dan luka operasi SC. Data subjektif: pasien mengeluh lemas, pusing. Data objektif: wajah tampak pucat, TD 150/97 mmHg (masih tinggi), nadi 88x/menit (bisa kompensasi), tinggi fundus uteri (TFU) 2 jari di bawah pusat (masih tinggi risiko perdarahan), kontraksi uterus belum optimal (ballotement), lochea rubra (merah segar) dalam jumlah sedang, Hb post op 9,5 g/dL (anemia ringan).
Kode SLKI: L.02019
Deskripsi : Tingkat Perdarahan (L.02019) adalah status yang menunjukkan jumlah dan laju kehilangan darah dari dalam tubuh. Luaran yang diharapkan setelah 2x24 jam (1 shift): Perdarahan menurun dengan kriteria hasil: (1) Kehilangan darah <500 ml total (lochea rubra berkurang menjadi serosanguineous), (2) Hemoglobin stabil (tidak turun drastis, target >10 g/dL), (3) Tanda vital stabil (TD sistol >100 mmHg, nadi 60-80x/menit, tidak takikardi), (4) Tingkat kesadaran compos mentis (tidak pusing atau syncope), (5) Kontraksi uterus baik (TFU setinggi pusat atau 1 jari di bawah, konsisten keras), (6) Perdarahan per vaginam tidak melebihi jumlah normal (tidak gumpalan besar, tidak aktif), (7) Wajah tidak pucat (mukosa bibir lembab dan merah muda).
Kode SIKI: I.02056
Deskripsi : Manajemen Perdarahan (I.02056) adalah serangkaian tindakan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mencegah perdarahan aktif. Intervensi dalam 1 shift (8 jam) meliputi: Observasi: (1) Monitor tanda vital setiap 1 jam (TD, Nadi, RR, suhu) selama 4 jam pertama, kemudian setiap 4 jam. (2) Monitor karakteristik lochea (warna, jumlah, bau, gumpalan) setiap 15-30 menit pada 2 jam pertama, kemudian setiap 1 jam. (3) Palpasi tinggi fundus uteri (TFU) setiap 1 jam untuk memastikan kontraksi optimal (fundus keras, di bawah pusat). (4) Monitor kadar Hb post op (jika hasil tersedia). (5) Monitor tanda syok (akral dingin, capillary refill >3 detik, pucat, gelisah). Terapeutik: (1) Lakukan masase fundus uteri (Massease) setiap 1 jam jika kontraksi lembek (uterus boggy) selama 5-10 detik hingga kontraksi keras. (2) Bantu pasien untuk kencing (miksi) setiap 2 jam atau pasang dower kateter jika perlu (kandung kemih penuh menghambat kontraksi uterus). (3) Batasi aktivitas fisik (bed rest dengan posisi kepala datar atau rendah). (4) Berikan oksigen 2-3 L/menit via nasal kanul jika ada tanda syok. (5) Siapkan infus oksitosin (10 IU dalam 500 ml RL) atau sesuai advis untuk memperkuat kontraksi. Edukasi: (1) Jelaskan pentingnya kontraksi uterus untuk mencegah perdarahan. (2) Anjurkan ibu untuk segera melaporkan jika merasakan perdarahan deras (seperti haid berat), gumpalan besar, atau pusing hebat. (3) Ajarkan teknik menekan perut bagian bawah saat menyusui untuk merangsang kontraksi. Kolaborasi: (1) Kolaborasi pemberian oksitosin drip atau metilergometrin (jika TD terkontrol). (2) Kolaborasi pemeriksaan darah lengkap (Hb, Ht, trombosit) untuk evaluasi. (3) Kolaborasi transfusi darah jika Hb <8 g/dL atau perdarahan aktif. Implementasi shift: setiap 30 menit pantau lochea dan TFU, lakukan masase jika perlu, pastikan kandung kemih kosong, laporkan segera jika ada tanda bahaya.
Kondisi: Ansietas (Kecemasan terkait Preeklamsia dan Perawatan Bayi)
Kode SDKI: D.0080
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman. Pada pasien postpartum SC dengan preeklamsia berat, ansietas muncul karena: (1) kekhawatiran terhadap kondisi hipertensi yang masih tinggi (TD 150/97), (2) kecemasan tentang proses penyembuhan luka dan kemungkinan komplikasi (eklamsia, perdarahan), (3) kecemasan menjalani peran sebagai ibu baru (merawat bayi, menyusui) dengan kondisi fisik yang terbatas, (4) pengalaman operasi SC yang traumatik. Data subjektif: pasien mengatakan "khawatir tekanan darah saya tidak turun", "takut jahitannya robek", "saya bingung cara menyusui dengan posisi sakit". Data objektif: wajah tampak tegang, gelisah, sering bertanya tentang kondisi, fokusArticle No. 26240 | 10 Jun 2026
Klinis : KECEMASAN
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: KECEMASAN
Kode ICD-10: F41.1
Deskripsi Singkat: Kecemasan (Anxiety) adalah respons emosional normal terhadap ancaman atau stres. Namun, ketika perasaan cemas menjadi berlebihan, terus-menerus, dan mengganggu fungsi sehari-hari, kondisi ini dapat diklasifikasikan sebagai gangguan kecemasan. Kode ICD-10 F41.1 merujuk pada Gangguan Kecemasan Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder/GAD). GAD ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan, tidak terkendali, dan seringkali tidak realistis terhadap berbagai peristiwa atau aktivitas, yang berlangsung hampir setiap hari selama setidaknya enam bulan. Gejala yang menyertainya meliputi kegelisahan, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, iritabilitas, ketegangan otot, dan gangguan tidur. Diagnosis ini mengeksklusikan kecemasan yang disebabkan oleh kondisi medis, penggunaan zat, atau gangguan kecemasan spesifik lainnya seperti fobia atau serangan panik. Penting untuk diingat bahwa kodifikasi ini bersifat saran untuk simulasi dan bukan pengganti penilaian klinis dan kodifikasi resmi oleh tenaga medis profesional.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 26241 | 10 Jun 2026
Klinis : KECEMASAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: KECEMASAN
Kode SDKI: D.0080
Deskripsi Singkat: Kecemasan adalah suatu kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman. Kecemasan merupakan respons emosional yang tidak menyenangkan, ditandai dengan perasaan khawatir, gelisah, dan ketegangan yang disertai dengan perubahan fisiologis seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan cepat, dan peningkatan tekanan darah. Kondisi ini dapat bersifat situasional (berkaitan dengan situasi tertentu), atau kronis (berlangsung lama). Dalam konteks keperawatan, kecemasan sering muncul pada pasien yang menghadapi prosedur medis, diagnosis penyakit serius, rawat inap, atau perubahan status kesehatan yang signifikan. Tingkat kecemasan dapat bervariasi dari ringan hingga berat, dan jika tidak ditangani dapat mengganggu kemampuan pasien dalam mengambil keputusan, berpartisipasi dalam perawatan, serta memperburuk kondisi fisik. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan pasien) dan objektif (observasi perilaku dan tanda vital) yang menunjukkan adanya perasaan tidak nyaman, ketidakberdayaan, dan ketidakpastian. Intervensi keperawatan difokuskan pada pengurangan stimulus cemas, peningkatan koping, dan pengelolaan respons fisiologis. Kecemasan perlu dibedakan dari ketakutan, di mana ketakutan memiliki objek yang spesifik dan jelas, sementara kecemasan lebih bersifat difus dan tidak jelas sumbernya. Perawat memiliki peran penting dalam mengidentifikasi tingkat kecemasan, memberikan dukungan emosional, dan mengajarkan teknik relaksasi untuk membantu pasien mengelola kondisi ini. Pemberian informasi yang adekuat tentang prosedur dan kondisi kesehatan juga merupakan strategi kunci dalam mengurangi kecemasan. Selain itu, keterlibatan keluarga dan penciptaan lingkungan yang tenang dan mendukung dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien. Kecemasan yang tidak tertangani dapat berujung pada gangguan tidur, penurunan nafsu makan, dan bahkan memperlambat proses penyembuhan. Oleh karena itu, penanganan kecemasan harus menjadi prioritas dalam asuhan keperawatan holistik. Pendekatan yang digunakan harus disesuaikan dengan tingkat keparahan, budaya, dan preferensi pasien. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti psikolog atau psikiater mungkin diperlukan pada kasus kecemasan berat atau gangguan panik. Dokumentasi yang akurat mengenai respons pasien terhadap intervensi sangat penting untuk evaluasi dan penyesuaian rencana perawatan. Pada akhirnya, tujuan utama dari penanganan kecemasan adalah mengembalikan rasa aman, nyaman, dan kontrol pada pasien sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif dalam proses perawatan dan pengambilan keputusan.
Kode SLKI: L.09077
Deskripsi : Tingkat Kecemasan adalah suatu kondisi atau status yang menunjukkan penurunan atau hilangnya respons kecemasan, baik secara fisiologis, psikologis, maupun perilaku. Luaran ini digunakan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan dalam mengelola kecemasan pasien. Indikator yang dinilai meliputi: (1) Kemampuan verbalisasi kecemasan menurun, di mana pasien mampu mengungkapkan perasaan cemasnya secara verbal tanpa disertai tanda-tanda distress yang berlebihan; (2) Perilaku gelisah menurun, yang ditandai dengan berkurangnya gerakan-gerakan yang tidak bertujuan, mondar-mandir, atau tremor; (3) Ekspresi wajah tegang menurun, di mana otot-otot wajah terlihat lebih rileks dan tidak ada kerutan yang menandakan ketegangan; (4) Keluhan fisik menurun, seperti penurunan frekuensi nyeri dada, palpitasi, sesak napas, atau gangguan pencernaan yang berkaitan dengan kecemasan; (5) Pola tidur membaik, dengan durasi tidur yang cukup dan kualitas tidur yang lebih baik tanpa sering terbangun; (6) Konsentrasi membaik, di mana pasien mampu memusatkan perhatian pada percakapan atau aktivitas yang sedang dilakukan; (7) Frekuensi napas membaik, dengan laju napas kembali dalam rentang normal (12-20 kali per menit) tanpa hiperventilasi; (8) Tekanan darah membaik, di mana tekanan darah sistolik dan diastolik kembali ke nilai normal pasien; (9) Nadi membaik, dengan denyut nadi kembali normal (60-100 kali per menit) dan tidak teraba lemah atau cepat; (10) Perasaan khawatir menurun, di mana pasien melaporkan penurunan intensitas kekhawatiran terhadap hal-hal yang belum terjadi atau yang tidak pasti. Setiap indikator dinilai menggunakan skala Likert 1 sampai 5, di mana skor 1 menunjukkan kondisi paling buruk dan skor 5 menunjukkan kondisi paling baik. Target luaran ditentukan berdasarkan kondisi awal pasien dan dapat berupa peningkatan skor pada beberapa indikator kunci. Luaran ini bersifat individual dan harus disesuaikan dengan tingkat kecemasan yang dialami pasien, apakah ringan, sedang, atau berat. Keberhasilan pencapaian luaran ini tidak hanya diukur dari hilangnya gejala secara total, tetapi juga dari kemampuan pasien untuk mengelola kecemasan secara adaptif. Pasien diharapkan mampu mengidentifikasi pemicu kecemasan, menggunakan teknik relaksasi secara mandiri, dan mencari dukungan sosial yang tepat. Keluarga juga berperan penting dalam mendukung pasien mencapai luaran ini dengan menyediakan lingkungan yang tenang dan memberikan dukungan emosional. Evaluasi luaran dilakukan secara berkala, minimal setiap shift atau sesuai kondisi klinis, untuk memantau perkembangan dan menyesuaikan intervensi. Dokumentasi hasil evaluasi harus mencakup skor indikator, respons pasien terhadap intervensi, serta rencana tindak lanjut. Luaran ini juga dapat digunakan sebagai indikator mutu asuhan keperawatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Pada pasien dengan kecemasan kronis, capaian luaran mungkin memerlukan waktu lebih lama dan mungkin tidak mencapai skor tertinggi, tetapi peningkatan bertahap tetap dianggap sebagai hasil yang positif. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti pemberian obat ansiolitik jika diperlukan, dapat mendukung pencapaian luaran ini.
Kode SIKI: I.09326
Deskripsi : Reduksi Kecemasan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk menurunkan atau menghilangkan perasaan cemas, khawatir, dan ketegangan psikologis yang dialami pasien. Intervensi ini bersifat holistik, mencakup aspek psikologis, fisiologis, dan lingkungan. Tindakan utama yang dilakukan meliputi: pertama, identifikasi penyebab kecemasan, yaitu menggali faktor pemicu seperti ancaman terhadap kesehatan, perubahan peran, atau kurangnya informasi; kedua, berikan informasi faktual tentang prosedur atau kondisi kesehatan yang akan dihadapi, termasuk manfaat, risiko, dan alternatif tindakan, untuk mengurangi ketidakpastian; ketiga, ajarkan teknik relaksasi seperti napas dalam, meditasi, atau guided imagery yang dapat dilakukan pasien secara mandiri; keempat, ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang, misalnya dengan mengurangi kebisingan, mengatur pencahayaan yang lembut, dan menyediakan tempat yang aman; kelima, gunakan pendekatan komunikasi terapeutik dengan mendengarkan secara aktif, menunjukkan empati, dan memberikan kesempatan pasien untuk mengekspresikan perasaannya; keenam, berikan dukungan emosional melalui sentuhan (jika sesuai dan diizinkan) dan kehadiran yang menenangkan; ketujuh, libatkan keluarga atau orang terdekat dalam proses perawatan untuk memberikan rasa aman dan dukungan sosial; kedelapan, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti psikolog untuk terapi kognitif-perilaku atau pemberian obat ansiolitik sesuai indikasi; kesembilan, monitor tanda-tanda vital dan respons fisiologis terhadap kecemasan, serta catat perubahan yang terjadi; kesepuluh, evaluasi tingkat kecemasan secara berkala menggunakan skala kecemasan yang valid, misalnya Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) atau Visual Analog Scale (VAS) untuk kecemasan. Intervensi ini dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari intervensi yang paling sederhana seperti mendengarkan keluhan pasien, hingga intervensi yang lebih kompleks seperti terapi relaksasi progresif. Untuk pasien dengan kecemasan berat, intervensi awal mungkin perlu difokuskan pada stabilisasi fisiologis terlebih dahulu, misalnya dengan mengatur pola napas. Perawat harus peka terhadap respons nonverbal pasien, seperti postur tubuh, ekspresi wajah, dan nada suara, yang dapat memberikan petunjuk tentang tingkat kecemasan yang tidak terucapkan. Dokumentasi intervensi harus mencakup jenis tindakan yang dilakukan, respons pasien, dan perubahan yang diamati. Reduksi kecemasan tidak hanya bermanfaat untuk kenyamanan psikologis, tetapi juga dapat memperbaiki hasil klinis, seperti penurunan tekanan darah, peningkatan kepatuhan terhadap terapi, dan percepatan penyembuhan luka. Intervensi ini harus disesuaikan dengan usia, latar belakang budaya, dan preferensi pasien. Misalnya, pada anak-anak, teknik distraksi seperti bermain atau mendongeng bisa lebih efektif, sementara pada lansia, pendekatan yang lebih tenang dan pengulangan informasi mungkin diperlukan. Perawat juga perlu mengajarkan pasien teknik koping adaptif jangka panjang agar kecemasan tidak berulang. Evaluasi keberhasilan intervensi dilakukan dengan membandingkan skor kecemasan sebelum dan sesudah intervensi, serta mengamati perubahan perilaku dan fisiologis. Jika intervensi tidak menunjukkan hasil yang signifikan dalam waktu yang wajar, perawat perlu merevisi rencana asuhan atau mempertimbangkan konsultasi ke spesialis. Keseluruhan intervensi ini dilakukan dengan prinsip patient-centered care, di mana pasien menjadi mitra aktif dalam proses perawatan. Tujuan akhir dari reduksi kecemasan adalah mengembalikan rasa kontrol, kepercayaan diri, dan kesejahteraan pasien sehingga mereka dapat menjalani perawatan dengan lebih tenang dan kooperatif.
Article No. 26225 | 09 Jun 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada Pasien Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien tuberkulosis paru, kondisi ini terjadi akibat akumulasi sputum yang kental, berlebihan, dan sulit dikeluarkan karena proses inflamasi kronis pada parenkim paru. Infeksi Mycobacterium tuberculosis menyebabkan kerusakan jaringan paru, pembentukan granuloma, dan nekrosis kaseosa yang memicu produksi lendir berlebih. Pasien dengan tuberkulosis paru sering mengalami batuk produktif yang persisten, namun karena kelemahan otot pernapasan akibat sesak napas dan penurunan nafsu makan yang berkepanjangan, mekanisme batuk menjadi tidak efektif. Hal ini menyebabkan penumpukan sekret di bronkus dan bronkiolus, yang selanjutnya meningkatkan risiko atelektasis, hipoksemia, dan penyebaran infeksi ke area paru yang sehat. Faktor-faktor yang memperburuk kondisi ini meliputi: (1) kelemahan fisik akibat malnutrisi, (2) nyeri pleuritik saat batuk, (3) dehidrasi yang mengentalkan sekret, (4) perubahan suhu lingkungan yang ekstrem, dan (5) kurangnya pengetahuan tentang teknik batuk efektif. Manifestasi klinis yang teramati pada pasien meliputi: batuk dengan sputum purulen atau mukoid yang sulit dikeluarkan, suara napas tambahan seperti ronkhi basah di area lesi, penggunaan otot bantu napas, sianosis perifer pada kasus berat, perubahan frekuensi dan kedalaman napas, serta gelisah. Data subjektif yang dapat dikaji adalah pasien mengeluh "dada seperti penuh dengan dahak" dan "lelah saat batuk". Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan temuan suara napas bronkial di paru kanan atas yang mengindikasikan konsolidasi parenkim, hasil rontgen yang menunjukkan lesi aktif, serta adanya demam yang meningkatkan metabolisme dan produksi karbon dioksida. Intervensi keperawatan yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi seperti pneumonia aspirasi, gagal napas, dan penyebaran tuberkulosis ke organ lain.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat dari skala 1 (tidak mampu) menjadi skala 4 (mampu dengan bantuan minimal) pada skala Likert 1-5, (2) Produksi sputum menurun dari skala 4 (sangat banyak >30 ml/jam) menjadi skala 2 (sedikit <10 ml/jam), (3) Suara napas tambahan (ronkhi) menurun dari skala 4 (terdengar di seluruh lapang paru) menjadi skala 1 (tidak ada), (4) Dispnea menurun dari skala 5 (sesak saat istirahat) menjadi skala 2 (sesak saat aktivitas berat), (5) Frekuensi napas dalam rentang normal 16-20 kali per menit, (6) Saturasi oksigen ≥95% pada udara ruangan, (7) Mampu mengeluarkan sputum secara spontan tanpa bantuan suction, (8) Tidak ada retraksi otot bantu napas, (9) Ekspansi paru simetris, (10) Pasien dapat mendemonstrasikan teknik batuk efektif dan napas dalam secara mandiri. Indikator-indikator ini dievaluasi setiap shift untuk memastikan progresivitas perbaikan. Apabila dalam 24 jam pertama tidak ada perubahan signifikan, maka perlu dikaji ulang faktor-faktor yang menghambat seperti dehidrasi, nyeri, atau kelemahan otot pernapasan. Kriteria hasil ini bersifat individual dan dapat disesuaikan dengan kondisi klinis pasien, terutama mengingat tuberkulosis memerlukan waktu pengobatan yang panjang. Namun, untuk luaran jangka pendek selama perawatan di rumah sakit, fokus utama adalah stabilisasi fungsi pernapasan dan pencegahan komplikasi akut. Pada pasien dengan TB paru yang disertai sesak napas berat, target awal difokuskan pada penurunan frekuensi napas dan peningkatan saturasi oksigen dalam 6-8 jam pertama intervensi. Keberhasilan pencapaian luaran ini sangat bergantung pada kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat anti tuberkulosis (OAT) yang tepat, karena pengurangan beban bakteri akan secara langsung mengurangi produksi sekret dan peradangan jalan napas.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Latihan Batuk Efektif dan Manajemen Jalan Napas. Tindakan ini bertujuan untuk mengeluarkan sekret yang menyumbat jalan napas, meningkatkan ventilasi paru, dan mencegah komplikasi. Berikut adalah rincian intervensi keperawatan yang disusun berdasarkan SIKI dengan kode I.01001 (Manajemen Jalan Napas) dan I.01006 (Latihan Batuk Efektif): (1) Kaji karakteristik batuk dan sputum setiap 4 jam meliputi warna, konsistensi, volume, dan bau. Pada TB paru, sputum biasanya purulen berwarna kuning kehijauan atau bercak darah. (2) Berikan posisi semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pengeluaran sekret. Posisi ini juga mengurangi tekanan pada diafragma. (3) Ajarkan dan bantu pasien melakukan teknik napas dalam (deep breathing exercise) sebanyak 5-10 kali setiap jam dengan cara: tarik napas melalui hidung selama 3 detik, tahan napas selama 2 detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut seperti meniup lilin. (4) Ajarkan teknik batuk efektif: posisi duduk tegak atau condong ke depan, tarik napas dalam 3 kali, pada tarikan napas ketiga tahan napas selama 2-3 detik, lalu batukkan dengan kuat dari perut sebanyak 2-3 kali berturut-turut. (5) Lakukan fisioterapi dada (chest physiotherapy) meliputi perkusi (clapping) dan vibrasi pada area paru kanan atas (area lesi) selama 5-10 menit setiap 6 jam, dengan posisi pasien miring ke kiri (postural drainage untuk segmen apikal posterior). Perkusi dilakukan dengan tangan membentuk mangkuk, ritmis, dan tidak menimbulkan nyeri. (6) Berikan humidifikasi oksigen atau uap hangat (nebulizer dengan NaCl 0,9% atau mukolitik sesuai order dokter) untuk mengencerkan sekret. (7) Anjurkan pasien minum air hangat minimal 8-10 gelas per hari (2000-2500 ml) kecuali ada kontraindikasi gagal jantung atau ginjal. (8) Kolaborasi pemberian obat mukolitik (seperti asetilsistein atau ambroksol) dan ekspektoran sesuai program medis. (9) Monitoring tanda-tanda vital setiap 4 jam: frekuensi napas, suhu, denyut nadi, tekanan darah, dan saturasi oksigen. (10) Jika pasien tidak mampu mengeluarkan sputum secara mandiri dan terdapat tanda obstruksi berat (seperti retraksi supraklavikula, sianosis, atau penurunan saturasi <90%), lakukan suction (pengisapan lendir) dengan teknik steril, ukuran kateter 12-14 Fr, tekanan suction 80-120 mmHg, dan durasi tidak lebih dari 10-15 detik per kali. (11) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya membuang sputum pada wadah tertutup yang berisi desinfektan (misalnya lisol 5% atau karbol) untuk mencegah penularan tuberkulosis. (12) Ajarkan pasien untuk selalu menutup mulut saat batuk dengan tisu atau masker bedah. (13) Berikan dukungan psikologis karena pasien TB sering merasa terisolasi dan cemas akibat penyakit menular dan stigma sosial. (14) Libatkan keluarga dalam perawatan, terutama dalam memotivasi pasien untuk melakukan latihan napas dan batuk secara teratur. (15) Dokumentasikan semua intervensi, respons pasien, karakteristik sputum, dan hasil pengukuran saturasi oksigen dalam catatan keperawatan setiap shift. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi setiap 24 jam untuk menentukan efektivitasnya. Apabila setelah 48 jam tidak ada perbaikan, konsultasikan dengan dokter spesialis paru untuk kemungkinan bronkoskopi atau penyesuaian terapi. Perlu diingat bahwa pada pasien TB paru, intervensi keperawatan harus dilakukan dengan kewaspadaan universal (universal precaution) karena risiko penularan melalui droplet. Perawat wajib menggunakan masker N95, sarung tangan, dan gaun pelindung saat melakukan prosedur yang memicu batuk atau aerosol, seperti suction atau fisioterapi dada. Ventilasi ruangan harus baik dengan sirkulasi udara yang cukup. Intervensi ini tidak hanya bertujuan untuk membersihkan jalan napas tetapi juga untuk memutus rantai penularan dan mendukung keberhasilan terapi OAT jangka panjang.
Article No. 26226 | 09 Jun 2026
Klinis : pasien dengan dekubitus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien dengan Dekubitus (Luka Tekan / Pressure Ulcer)
Kode SDKI: D.0143
Deskripsi Singkat: Kerusakan integritas jaringan kulit dan/atau jaringan di bawahnya yang disebabkan oleh tekanan yang tidak terdistribusi secara merata, biasanya pada area tonjolan tulang. Kondisi ini mencakup seluruh stadium luka tekan, dari stadium 1 (eritema yang tidak memutih) hingga stadium 4 (kerusakan jaringan hingga ke tulang, otot, atau tendon). Faktor risiko utama meliputi imobilitas, penurunan sensasi, malnutrisi, inkontinensia, gesekan (friction), dan gaya geser (shear). Diagnosa ini ditegakkan ketika terdapat tanda-tanda seperti perubahan warna kulit (kemerahan atau keunguan), hangat lokal, edema, indurasi, atau adanya luka terbuka dengan jaringan nekrotik atau eksudat. Kerusakan integritas kulit tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga psikologis dan sosial, mengingat risiko infeksi, nyeri, dan perpanjangan masa rawat. Penegakan diagnosa ini memerlukan pengkajian menyeluruh terhadap karakteristik luka, lokasi, ukuran, kedalaman, serta adanya jaringan granulasi, slough, atau eschar. Skala Braden atau Norton sering digunakan sebagai alat bantu untuk mengidentifikasi risiko. Penting untuk membedakan dekubitus dengan luka akibat kondisi lain seperti vaskular atau diabetes, karena penanganannya berbeda. Dekubitus stadium 1 bersifat reversibel jika tekanan segera dihilangkan, namun stadium lanjut memerlukan perawatan kompleks dan intervensi multidisiplin. Diagnosis ini menjadi dasar untuk intervensi pencegahan dan perawatan luka yang tepat.
Kode SLKI: L.14140
Deskripsi: Integritas Kulit dan Jaringan (Tingkat 5: dari 1=Memburuk hingga 5=Membaik). Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah tercapainya integritas kulit dan jaringan yang optimal. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: (1) Perfusi jaringan meningkat, ditandai dengan warna kulit normal (tidak pucat atau sianosis), suhu kulit hangat, dan turgor kulit elastis; (2) Kerusakan jaringan menurun, ditandai dengan berkurangnya luas luka, kedalaman luka berkurang, tidak ada jaringan nekrotik, dan munculnya jaringan granulasi yang sehat; (3) Nyeri menurun, ditandai dengan skala nyeri yang rendah atau pasien melaporkan tidak nyeri saat perawatan luka; (4) Tanda infeksi menurun, ditandai dengan tidak adanya pus, bau tidak sedap, eritema, atau peningkatan suhu lokal; (5) Eksudat terkontrol, ditandai dengan drainase luka minimal dan balutan tidak cepat basah; (6) Status nutrisi membaik, ditandai dengan kadar albumin serum normal dan asupan protein serta kalori adekuat; (7) Kemampuan mobilisasi meningkat, ditandai dengan pasien mampu mengubah posisi secara mandiri atau dengan bantuan minimal. Luaran ini bersifat individual dan dapat diukur secara objektif menggunakan alat seperti skala PUSH (Pressure Ulcer Scale for Healing) atau dokumentasi fotografi serial. Keberhasilan luaran juga bergantung pada kepatuhan pasien dan keluarga terhadap program pencegahan, seperti repositioning setiap 2 jam dan penggunaan matras anti-dekubitus. Tujuan akhir adalah luka menutup sempurna atau setidaknya tidak mengalami perburukan, serta mencegah terbentuknya dekubitus baru.
Kode SIKI: I.14563
Deskripsi: Perawatan Luka Dekubitus (Pressure Ulcer Care). Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif dan terstandar untuk mencegah dan mengelola luka tekan. Intervensi utama meliputi: (1) Manajemen Tekanan: Mengubah posisi pasien setiap 2 jam (repositioning) dengan teknik yang benar untuk mengurangi tekanan pada area yang rentan, menggunakan bantal atau alat bantu untuk menyangga area tonjolan tulang, dan memanfaatkan matras anti-dekubitus (misalnya matras udara bergelombang atau matras busa khusus). (2) Perawatan Luka Lokal: Membersihkan luka dengan larutan NaCl 0,9% atau pembersih luka non-toksik, melakukan debridemen (jaringan nekrotik) secara mekanis, autolitik, atau enzimatik sesuai indikasi, memilih balutan yang tepat berdasarkan karakteristik luka (misalnya hidrokoloid untuk luka kering, alginat untuk luka eksudatif berat, foam untuk luka dengan eksudat sedang, dan film transparan untuk luka stadium 1), serta mengganti balutan sesuai frekuensi yang ditentukan (biasanya setiap 1-3 hari atau sesuai kebasahan). (3) Manajemen Nyeri: Memberikan analgesik sesuai resep 30-60 menit sebelum prosedur perawatan luka, menggunakan teknik distraksi atau relaksasi, serta meminimalkan nyeri saat penggantian balutan dengan teknik atraumatik. (4) Edukasi dan Kolaborasi: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda awal dekubitus, pentingnya nutrisi tinggi protein dan kalori, serta teknik mobilisasi dan posisi yang aman. Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk koreksi malnutrisi, dengan dokter untuk terapi antibiotik jika ada infeksi sistemik, dan dengan fisioterapis untuk program mobilisasi. (5) Pencegahan Infeksi: Menerapkan prinsip steril atau bersih sesuai kondisi luka, melakukan kultur luka jika dicurigai infeksi, dan memantau tanda-tanda infeksi lokal maupun sistemik (demam, peningkatan leukosit). Intervensi ini didokumentasikan secara serial untuk memantau perkembangan luka, termasuk ukuran, kedalaman, jaringan dasar luka, dan kondisi tepi luka. Evaluasi dilakukan setiap kali penggantian balutan atau minimal seminggu sekali oleh perawat yang kompeten dalam perawatan luka.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596