Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24602 | 27 Mar 2026
Klinis : Obesitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Obesitas
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan asupan energi dibandingkan dengan pengeluaran energi
Kode SLKI: L.14026
Deskripsi : Manajemen Berat Badan
Kode SIKI: I.01240
Deskripsi : Monitor Indeks Massa Tubuh (IMT)
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0013): Diagnosis keperawatan "Risiko peningkatan asupan energi dibandingkan dengan pengeluaran energi" (D.0013) merujuk pada kondisi di mana individu rentan mengalami ketidakseimbangan energi, di mana asupan kalori dari makanan dan minuman secara konsisten melebihi jumlah energi yang dikeluarkan melalui aktivitas fisik dan metabolisme basal. Pada konteks obesitas, risiko ini telah menjadi realitas, mengakibatkan akumulasi lemak tubuh berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Definisi ini menekankan pada inti masalah obesitas, yaitu disproporsi energi. Faktor penyebabnya multifaktorial, meliputi pola makan tinggi kalori, rendah serat, gaya hidup sedentari (kurang gerak), faktor genetik, psikologis (makan emosional), sosial-ekonomi, dan lingkungan. Perawat mengidentifikasi diagnosis ini melalui pengkajian menyeluruh, termasuk pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang), wawancara pola makan dan aktivitas, serta riwayat kesehatan. Diagnosis ini menjadi landasan untuk merencanakan intervensi yang bertujuan memulihkan keseimbangan energi.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.14026): Luaran "Manajemen Berat Badan" (L.14026) didefinisikan sebagai tindakan personal untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat. Pada pasien obesitas, luaran ini adalah tujuan jangka panjang dan menengah dari seluruh asuhan keperawatan. Indikator pencapaian luaran ini tidak hanya sekadar penurunan angka di timbangan, tetapi mencakup perilaku dan pengetahuan yang berkelanjutan. Indikatornya meliputi: kemampuan mengidentifikasi berat badan ideal, memilih makanan sesuai kebutuhan kalori, meningkatkan aktivitas fisik secara teratur, memantau berat badan secara mandiri, serta menunjukkan peningkatan dalam parameter biokimia (seperti kadar gula darah dan kolesterol) dan antropometri (seperti penurunan lingkar pinggang). SLKI ini memiliki skala hasil, mulai dari tidak memadai (dimana individu tidak melakukan upaya manajemen berat badan), sebagian (melakukan beberapa upaya tetapi tidak konsisten), memadai (melakukan upaya sesuai anjuran), hingga cukup memadai (secara konsisten mencapai dan mempertahankan berat badan sehat). Peran perawat adalah memfasilitasi pasien untuk bergerak di sepanjang skala ini menuju kondisi "cukup memadai".
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01240): Intervensi "Monitor Indeks Massa Tubuh (IMT)" (I.01240) adalah salah satu tindakan spesifik dan terukur untuk mengevaluasi status berat badan dan efektivitas intervensi. IMT adalah alat skrining sederhana yang dihitung dari berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m²). Aktivitas intervensi ini meliputi: mengukur berat badan dan tinggi badan dengan teknik dan alat yang akurat, menghitung nilai IMT, menginterpretasikan hasil berdasarkan klasifikasi WHO/Asia (Kurus, Normal, Overweight, Obesitas I, II, III), mendokumentasikan hasil, serta mendiskusikan hasil dan implikasinya dengan pasien dan keluarga. Monitoring IMT dilakukan secara berkala (misalnya, setiap bulan atau sesuai rencana) untuk menilai tren perubahan. Intervensi ini bukan tindakan tunggal, tetapi bagian integral dari edukasi kesehatan. Dengan memonitor IMT, perawat dan pasien memiliki data objektif untuk mengevaluasi kemajuan, memotivasi perubahan perilaku, dan jika perlu, menyesuaikan rencana intervensi. Tindakan ini juga berfungsi sebagai deteksi dini jika terjadi plateau (stagnasi) dalam penurunan berat badan atau kenaikan kembali, sehingga memungkinkan intervensi lebih dini.
Keterkaitan: Ketiga komponen ini membentuk siklus asuhan keperawatan yang koheren. SDKI D.0013 (diagnosis) mengidentifikasi masalah inti yaitu ketidakseimbangan energi. SLKI L.14026 (luaran) menetapkan tujuan akhir, yaitu kemampuan pasien mengelola berat badannya sendiri. Untuk mencapai luaran tersebut, perawat melaksanakan berbagai intervensi, salah satu yang kritis adalah SIKI I.01240 (monitor IMT). Data dari monitoring IMT digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana diagnosis telah teratasi dan seberapa dekat pasien mencapai luaran yang diharapkan. Dengan demikian, penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI yang terstandarisasi ini memastikan asuhan keperawatan untuk pasien obesitas bersifat holistik, terarah, terukur, dan berbasis bukti, yang berfokus pada pemberdayaan pasien untuk perubahan perilaku berkelanjutan.
-
Article No. 24603 | 27 Mar 2026
Klinis : sesak napas, kaki bengkak KU lemah, CM TD : 201/111 HR : 89 RR : 23 S : 36.4 SpO2 99% on O2 NK JVP 5+3 RBH -/- WHZ -/- edem +/+
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana volume darah yang dipompa oleh ventrikel kiri per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh atau memerlukan tekanan pengisian ventrikel yang meningkat.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Curah jantung membaik. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk klien, 2) Nadi perifer teraba, 3) Frekuensi jantung dan irama dalam rentang normal untuk klien, 4) Keseimbangan cairan, 5) Tidak ada edema paru, 6) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 7) Tidak ada distensi vena leher, 8) Tidak ada edema perifer, 9) Waktu pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 10) Haluaran urine adekuat, 11) Kulit hangat dan kering, 12) Status mental baik.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan curah jantung meliputi: 1) Monitor status hemodinamik termasuk tekanan darah, frekuensi jantung, tekanan vena sentral, dan tekanan arteri paru jika ada. 2) Kaji kualitas dan kekuatan nadi perifer. 3) Auskultasi bunyi jantung, catat adanya gallop S3 atau S4. 4) Kaji status pernapasan: adanya dispnea, ortopnea, batuk, dan bunyi napas (ronkhi, wheezing). 5) Kaji adanya edema perifer, sakral, dan ascites. 6) Pantau tanda peningkatan JVP (Jugular Venous Pressure). 7) Pantau haluaran urine dan berat jenis urine. 8) Berikan terapi oksigen sesuai indikasi. 9) Atur posisi semi-fowler atau fowler untuk memudahkan pernapasan. 10) Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai resep (seperti diuretik, inotropik, vasodilator). 11) Batasi asupan cairan dan natrium sesuai instruksi. 12) Pantau keseimbangan cairan intake dan output. 13) Berikan dukungan psikologis dan edukasi pada klien serta keluarga tentang kondisi dan penatalaksanaannya. 14) Anjurkan istirahat dan batasi aktivitas untuk mengurangi beban kerja jantung. 15) Monitor respons klien terhadap terapi dan laporkan adanya tanda-tanda memburuk.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana seseorang mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau diperlukan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik. Kriteria hasil: 1) Klien melaporkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas, 2) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas (tekanan darah, nadi, pernapasan), 3) Tidak mengalami dyspnea, nyeri dada, kelemahan berlebihan, atau kelelahan setelah aktivitas, 4) Mampu melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri atau dengan bantuan minimal, 5) Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat tercapai.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan toleransi aktivitas meliputi: 1) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (perubahan TD, HR, RR, dan dyspnea). 2) Kaji faktor penyebab kelelahan seperti kondisi medis, nyeri, gangguan tidur, atau efek pengobatan. 3) Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan. 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. 5) Ajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas, mengatur peralatan dalam jangkauan, dan mengambil napas dalam-dalam secara teratur. 6) Bantu klien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, dan kurangi bantuan secara bertahap seiring peningkatan kekuatan. 7) Anjurkan aktivitas ringan dan bertahap sesuai toleransi. 8) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain seperti fisioterapi untuk program latihan. 9) Atur lingkungan untuk meminimalkan hambatan dan upaya yang dibutuhkan. 10) Monitor pola tidur dan upayakan kualitas tidur yang baik. 11) Berikan dukungan nutrisi yang adekuat untuk menyediakan energi. 12) Edukasi klien dan keluarga tentang pentingnya keseimbangan aktivitas dan istirahat, serta tanda-tanda kelelahan yang harus diwaspadai.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana seseorang mengalami peningkatan retensi cairan dan natrium yang berlebihan.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan cairan tercapai. Kriteria hasil: 1) Keseimbangan cairan (intake dan output) seimbang, 2) Tidak ada edema perifer, sakral, atau paru, 3) Berat badan stabil atau sesuai target, 4) Tekanan darah dalam rentang normal, 5) Denyut nadi dan pernapasan dalam rentang normal, 6) Tidak ada distensi vena leher (JVP normal), 7) Bunyi napas bersih, 8) Turgor kulit baik, 9) Kadar elektrolit dalam batas normal.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Intervensi untuk mengatasi kelebihan volume cairan meliputi: 1) Pantau keseimbangan cairan intake dan output secara akurat. 2) Timbang berat badan setiap hari dengan skala yang sama, waktu yang sama, dan pakaian yang sama. 3) Kaji adanya edema (pergelangan kaki, kaki, sakrum, tungkai), ukur lingkar ekstremitas jika perlu. 4) Auskultasi bunyi napas, perhatikan adanya krekels (rales) yang mengindikasikan edema paru. 5) Pantau tanda vital (TD, HR, RR) dan JVP. 6) Kaji turgor kulit dan adanya edema dependen. 7) Batasi asupan cairan dan natrium sesuai instruksi dokter. 8) Kolaborasi pemberian terapi diuretik sesuai resep dan pantau efek serta efek sampingnya (misal: hipokalemia). 9) Anjurkan posisi elevasi ekstremitas yang edema untuk meningkatkan venous return. 10) Ubah posisi klien secara teratur untuk mencegah penumpukan cairan di area dependen. 11) Pantau hasil laboratorium seperti elektrolit, BUN, kreatinin, dan albumin. 12) Berikan edukasi pada klien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan/garam, cara membaca label makanan, dan tanda-tanda kelebihan cairan yang harus dilaporkan. 13) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan diet rendah garam dan sesuai kebutuhan kalori.
-
Article No. 24604 | 27 Mar 2026
Klinis : pasien rujukan dari Rizky Amalia dengan penkes KU lemah, somnolent TD : 174/104 N : 89 S : 36,7 RR : 28 SPO2: 100 Mata : CA -/- SI -/- refleks cahaya (+/+) Mulut : dbn leher: dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+ rbh -/- rbk -/- whz -/- Abdomen :supel, BU (+) , NT (-) Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, CRT <2 detik Ekstremitas Inferior : akral hangat +/+, CRT <2 detik NC HCTS Kesan : - Infark cerebri di frontotemporoparietalis dextra - Atrofi cerebri - Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebelli CXR Kesan : - Pulmo dan besar cor normal Lab Hemoglobin 15.45 Lekosit 16.53 Trombosit 248 Neutrofil 85.7 Limfosit 7.7 Natrium (Na) 135 Kalium (K) 3.9 Chlorida (Cl) 100 Calsium (Ca2+) 1.0 pH 7.70 Glukosa Darah Sewaktu 143 AST (SGOT) 26 ALT (SGPT) 8 Ureum 31.9 Kreatinin 1.68
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah sistolik dan diastolik dalam rentang yang diharapkan, 2) Denyut nadi dalam rentang yang diharapkan, 3) Tidak ada pusing, 4) Tidak ada perubahan status mental, 5) Haluaran urine adekuat, 6) Warna kulit dan kehangatan ekstremitas normal. Penjelasan: Pasien menunjukkan tekanan darah yang sangat tinggi (174/104 mmHg) yang jauh di atas rentang normal, menunjukkan ketidakadekuatan regulasi tekanan dan beban kerja jantung. Denyut nadi 89x/menit masih dalam batas normal, namun status mental somnolen (mengantuk, penurunan kesadaran) merupakan tanda perubahan status mental yang mengindikasikan gangguan perfusi serebral. Meskipun ekstremitas hangat dan CRT baik, tekanan darah yang sangat tinggi ini justru merupakan kompensasi atau disfungsi yang berisiko menyebabkan penurunan curah jantung lebih lanjut akibat peningkatan afterload, gagal jantung, atau kerusakan organ target seperti yang sudah terjadi pada otak (Infark cerebri). Tujuan SLKI ini adalah untuk mencapai dan mempertahankan tekanan darah yang terkontrol.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : Memonitor tekanan darah. Penjelasan: Intervensi keperawatan yang kritis pada pasien ini adalah pemantauan tekanan darah secara ketat dan berkelanjutan. Hal ini mencakup pengukuran tekanan darah dengan teknik yang benar, mencatat tren tekanan darah sistolik dan diastolik, mengidentifikasi pola, serta segera melaporkan perubahan yang signifikan atau berbahaya. Pemantauan ini penting untuk menilai respons tubuh terhadap kondisi patologis (stroke), mengevaluasi efek dari terapi antihipertensi yang akan diberikan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti perdarahan intrakranial atau perluasan infark. Frekuensi pemantauan harus intensif, dapat setiap jam atau lebih sering sesuai kondisi, mengingat nilai tekanan darah yang masuk dalam kategori krisis hipertensi.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat menyebabkan gangguan fungsi.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : Perfusi jaringan serebral adekuat. Kriteria hasil: 1) Status neurologis dalam batas normal, 2) Tingkat kesadaran dalam batas normal, 3) Fungsi kognitif dalam batas normal, 4) Tanda-tanda vital dalam batas normal. Penjelasan: Pasien telah didiagnosa infark serebri (stroke iskemik) di area frontotemporoparietalis kanan, yang secara langsung menunjukkan ketidakefektifan perfusi jaringan otak yang telah terjadi. Kondisi klinis pasien, yaitu somnolen (penurunan kesadaran) dan kelemahan (KU lemah), merupakan bukti dari gangguan status neurologis dan tingkat kesadaran. Tanda vital, khususnya tekanan darah yang sangat tinggi (174/104 mmHg), merupakan faktor risiko sekaligus kompensasi untuk mempertahankan perfusi di area yang iskemik, namun juga berisiko menyebabkan edema otak atau transformasi hemoragik. Tujuan SLKI adalah mempertahankan dan mengoptimalkan perfusi serebral yang tersisa, mencegah perluasan area infark, dan meminimalkan defisit neurologis lebih lanjut.
Kode SIKI: I.08029
Deskripsi : Memonitor status neurologis. Penjelasan: Intervensi ini merupakan tindakan prioritas. Pemantauan status neurologis mencakup penilaian GCS (Glasgow Coma Scale) secara berkala untuk menilai tingkat kesadaran (saat ini somnolen), evaluasi kekuatan otot (KU lemah), ukuran dan reaksi pupil (pupil isokor, refleks cahaya positif), serta fungsi sensorik dan bicara. Pemantauan yang ketat dan terdokumentasi dengan baik (setiap 1-2 jam atau sesuai protokol stroke) sangat penting untuk mendeteksi secara dini adanya perburukan neurologis, seperti penurunan kesadaran yang lebih dalam atau peningkatan defisit motorik, yang dapat mengindikasikan perluasan infark, edema serebral, atau komplikasi lainnya. Data ini menjadi panduan utama dalam menentukan langkah terapi selanjutnya.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Kriteria hasil: 1) Suara napas bersih, 2) Tidak ada sianosis, 3) Frekuensi napas dalam rentang normal, 4) Tidak menggunakan otot bantu napas, 5) Ekspansi dada simetris, 6) Gas darah arteri dalam rentang normal. Penjelasan: Meskipun dari pemeriksaan fisik paru dilaporkan SDV (+/+) dan tidak ada ronchi atau wheezing, pasien memiliki faktor risiko tinggi untuk ketidakefektifan bersihan jalan napas. Kondisi somnolen (penurunan kesadaran) sangat berisiko menyebabkan hilangnya refleks batuk dan proteksi jalan napas, sehingga sekresi dapat menumpuk dan menyebabkan obstruksi atau aspirasi. Frekuensi napas 28x/menit (takipnea) dapat menjadi tanda awal distress pernapasan atau kompensasi terhadap asidosis/basa (pH 7.70 menunjukkan alkalosis). Nilai SpO2 100% saat ini baik, tetapi dapat dengan cepat menurun jika terjadi obstruksi. Tujuan SLKI adalah mencegah komplikasi aspirasi dan mempertahankan pertukaran gas yang adekuat.
Kode SIKI: I.04120
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Penjelasan: Intervensi ini meliputi tindakan untuk memastikan dan mempertahankan patensi jalan napas pada pasien dengan penurunan kesadaran. Tindakan yang harus dilakukan antara lain: memposisikan pasien dengan kepala tidur agak tinggi (jika tidak kontraindikasi) atau posisi lateral/recovery position untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan memfasilitasi drainase sekresi, melakukan penghisapan lendir (suction) secara rutin dan bila diperlukan, serta memantau suara napas dan upaya napas secara terus-menerus. Persiapan alat bantu jalan napas seperti airway atau alat suction harus selalu siap di dekat pasien. Intervensi ini bersifat preventif untuk menghindari hipoksia yang dapat memperburuk kerusakan jaringan otak yang sudah mengalami infark.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi :
Kode SIKI: I.07221
Deskripsi : Manajemen hipertermia. Penjelasan: Meskipun pasien saat ini tidak demam, intervensi ini relevan sebagai tindakan antisipatif mengingat adanya leukositosis. Intervensi mencakup pemantauan suhu tubuh secara berkala (setiap 4-6 jam atau lebih sering), memantau tanda-tanda infeksi lainnya, serta melakukan tindakan pencegahan infeksi seperti cuci tangan, perawatan luka jika ada, dan perawatan kateter (bila dipasang) secara steril. Jika suhu meningkat, tindakan yang dilakukan antara lain kompres hangat, pemberian terapi cairan, dan pemberian antipiretik sesuai instruksi dokter. Mengontrol suhu tubuh penting karena hipertermia pada pasien stroke dapat memperluas area kerusakan otak iskemik.
-
Article No. 24605 | 27 Mar 2026
Klinis : nyeri dada berkurang Ku lemah, CM TD : 165/80 N : 56 S : 36,7 RR : 13 SPO2 : 99% on O2 JVP 5+2 RBH -/- WHZ -/- edem -/
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Indikator yang termasuk dalam luaran ini adalah: 1) Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol; 2) Mengenali faktor-faktor penyebab; 3) Menggunakan metode farmakologis untuk mengurangi nyeri; 4) Menggunakan metode nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri; 5) Mempertahankan tingkat fungsi yang diinginkan; 6) Mengikuti regimen terapeutik; 7) Menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan; 8) Menunjukkan tidak adanya atau penurunan perilaku yang berhubungan dengan nyeri (misalnya, gelisah, menangis, merintih, mengerang, mengernyit, postur tubuh melindungi diri).
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan keperawatan yang termasuk dalam intervensi ini adalah: 1) Kaji karakteristik nyeri: lokasi, kualitas, intensitas (skala 0-10), onset, durasi, faktor pencetus; 2) Kaji faktor-faktor yang memperberat dan meringankan nyeri; 3) Kaji dampak nyeri terhadap fungsi (misalnya, tidur, nafsu makan, aktivitas fisik, konsentrasi, hubungan personal); 4) Observasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak mampu berkomunikasi; 5) Pantau tanda-tanda vital sebelum, selama, dan setelah intervensi nyeri; 6) Ajarkan penggunaan skala nyeri yang sesuai; 7) Berikan analgetik sesuai program terapi; 8) Evaluasi efektivitas analgetik (skala nyeri, tanda vital, efek samping); 9) Lakukan tindakan nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (misalnya, teknik relaksasi napas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, posisi nyaman); 10) Atur posisi untuk kenyamanan dan fungsi optimal; 11) Kurangi rangsangan yang tidak perlu di lingkungan; 12) Dukung dan bantu pasien dalam menggunakan strategi koping yang efektif; 13) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain sesuai kebutuhan.
-
Article No. 24606 | 27 Mar 2026
Klinis : pasien datang dengan keluhan kelemahan ekstremitas kanan 5 jam smrs, mual (-) muntah (-) pingsan (-) ku lemah GCS E2VxM5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 00085
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan kemampuan untuk bergerak secara mandiri dan bertujuan, yang dapat disebabkan oleh kerusakan neurologis, muskuloskeletal, atau penurunan kekuatan otot. Pada kasus pasien dengan kelemahan ekstremitas kanan mendadak dan GCS E2VxM5 (yang menunjukkan penurunan kesadaran dengan tidak adanya respons verbal yang dapat dinilai), gangguan mobilitas fisik sangat mungkin terjadi sebagai dampak langsung dari insufisiensi serebrovaskular (stroke). Kondisi ini bukan hanya sekadar kelemahan, tetapi merupakan sindrom yang membatasi kemandirian, meningkatkan risiko komplikasi imobilitas, dan mempengaruhi partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari. Diagnosa ini menegaskan bahwa perawat memiliki peran kritis dalam mengelola dampak dari ketidakmampuan bergerak tersebut, memfokuskan intervensi pada pencegahan komplikasi, memfasilitasi mobilisasi sesuai kemampuan, dan memulihkan fungsi seoptimal mungkin.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : SLKI 0400 berfokus pada Peningkatan Mobilitas. Tujuan utamanya adalah agar pasien dapat mencapai atau mempertahankan mobilitas yang optimal sesuai dengan kemampuannya, meminimalkan risiko komplikasi akibat imobilitas, dan melakukan aktivitas fungsional secara mandiri atau dengan bantuan. Luaran yang diharapkan mencakup peningkatan kekuatan otot pada ekstremitas yang terkena, peningkatan rentang gerak sendi, kemampuan untuk melakukan perubahan posisi di tempat tidur, duduk, berdiri, atau berjalan dengan tingkat bantuan yang sesuai. Selain itu, pasien diharapkan bebas dari kontraktur, trombosis vena dalam, dan ulkus dekubitus. SLKI ini diukur melalui parameter seperti skala kekuatan otot, kemampuan melakukan aktivitas (misalnya, menggunakan skala Functional Independence Measure/FIM), dan observasi fisik terhadap integritas kulit. Pencapaian luaran ini memerlukan intervensi keperawatan yang terencana dan kolaboratif, dimulai dari fase akut hingga rehabilitasi.
Kode SIKI: 4208
Deskripsi : SIKI 4208 adalah Intervensi Latihan Rentang Gerak. Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan sistematis untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas sendi dan mencegah komplikasi imobilitas seperti kontraktur dan atrofi otot. Pelaksanaannya dimulai dengan penilaian awal terhadap tingkat nyeri, kekuatan otot, dan rentang gerak pasien. Perawat kemudian akan melakukan atau membantu pasien melakukan gerakan-gerakan pasif, aktif asistif, atau aktif pada semua sendi ekstremitas, dengan penekanan khusus pada sisi yang mengalami kelemahan (ekstremitas kanan). Gerakan dilakukan perlahan, lembut, dan sampai titik nyeri tetapi tidak melampauinya. Intervensi ini juga mencakup edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya latihan ini serta cara melakukannya dengan aman. Pada pasien dengan kondisi neurologis akut seperti dalam kasus ini, koordinasi dengan tim medis dan fisioterapi sangat penting untuk menentukan waktu dan intensitas latihan yang tepat, memastikan stabilitas neurologis sebelum intervensi dimulai. Latihan rentang gerak dilakukan secara teratur dan terdokumentasi untuk memantau perkembangan dan mencegah komplikasi jangka panjang.
-
Article No. 24607 | 27 Mar 2026
Klinis : lemes,nyeri kaki, Demam (+), Sesak dan batuk sulit mengeluarkan dahak sejak kemarin RPD DM (+) Riwayat alergi (-) Riwayat trauma (-) Riwayat operasi (+) amputasi jari telunjuk dan tengah kaki kiri tanggal 17/03/26 di RS Amal Sehat KU lemah, CM TD 118/72 N 119x/m S 38,3 RR 40x/m GDS (27/3) : 265 Kepala: Hematome (-), Vulnus Laceratum R. Parietal terjahit Mata: hematom periorbita (-/-), perdarahan subconjungtiva (-/-) Hidung: epistaksis (-/-), darah kering (-) Telinga: ottorhagia (+/-) Mulut: perdarahan (-), gigi tanggal (-) Leher: jejas (-), NT (-) Thorax: jejas (-), nyeri tekan (-), krepitasi (-) Abdomen: jejas (-), nyeri tekan (-) Ekstremitas atas : akral hangat (+), CRT <2 detik Ekstremitas bawah : akral hangat (+/+) CRT <2 detik. ulkus (-/+) Lab 19/3 --> 26/3 Hb 9.63 --> 9.87 Hmt 29.7 --> 30 AL 31.05 --> 18.08 AT 385 ---> 271 GDS 39 Ur 66.5 Cr 1.11 Albumin 23/3 --> 26/3 2.0 --> 2.01 anti-HIV ---> Non-Reaktif GDS (20/3, 05.28): 66 GDS (20/3, 07.46): 138 GDS (20/3, 19.57):44 GDS (21/3, 04.56): 45 GDS (22/3, 19.21): 198 GDS (23/3, 06.23): 102 Albumin (23/3): 2.0 (L) GDS (26/3): 155 GDS (27/3): 265
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hiperglikemia
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Peningkatan kadar glukosa darah di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Pasien menunjukkan kadar glukosa darah dalam rentang yang diharapkan. Kriteria hasil ini dicapai ketika pasien mampu mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas target yang ditetapkan (misalnya, puasa 80-130 mg/dL, 2 jam postprandial <180 mg/dL), mengenali tanda dan gejala hipo/hiperglikemia, serta melakukan manajemen terapi diabetes (diet, aktivitas, obat) dengan tepat. Pada kondisi pasien ini, GDS terakhir 265 mg/dL (27/3) dan riwayat fluktuasi yang ekstrem (dari 44 hingga 265 mg/dL) menunjukkan bahwa SLKI ini belum tercapai. Fokus intervensi adalah menstabilkan kadar gula darah melalui terapi medis dan edukasi.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Memantau kadar glukosa darah. Intervensi ini meliputi pengukuran glukosa darah secara berkala sesuai indikasi (seperti sebelum makan, sebelum tidur, atau ketika ada gejala), mencatat hasilnya, dan melaporkan temuan yang abnormal. Dalam konteks pasien ini, pemantauan GDS sudah dilakukan dan menunjukkan nilai yang sangat tinggi (265 mg/dL) dan tidak stabil, sehingga intervensi ini menjadi krusial untuk mengevaluasi efektivitas terapi insulin atau antidiabetik oral dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti ketoasidosis diabetik.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0022
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 2201
Deskripsi : Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Kriteria ini mencakup tanda vital dalam rentang normal (suhu <37.8°C), tidak adanya kemerahan, panas, bengkak, nyeri, atau drainage purulen pada area luka, serta hasil laboratorium penanda infeksi (seperti leukosit) dalam batas normal. Pada pasien ini, terdapat demam (38.3°C), riwayat amputasi jari (luka operasi), dan nilai albumin yang sangat rendah (2.01 g/dL) yang mengindikasikan gangguan penyembuhan luka dan pertahanan tubuh, sehingga SLKI ini belum tercapai. Tujuan perawatan adalah mencegah infeksi pada luka amputasi dan mengatasi sumber infeksi sistemik yang mungkin menyebabkan demam dan sesak.
Kode SIKI: 1940
Deskripsi : Manajemen Luka. Intervensi ini meliputi pemantauan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka, perawatan luka dengan teknik aseptik, mengganti balutan sesuai protokol, dan melindungi luka dari trauma lebih lanjut. Pada pasien pasca amputasi jari kaki dengan Diabetes Mellitus, perawatan luka menjadi prioritas utama karena risiko infeksi dan gangren yang tinggi. Albumin rendah juga memperlambat penyembuhan, sehingga memerlukan perhatian ekstra pada kondisi luka dan status nutrisi.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pasien mempertahankan jalan napas paten. Kriteria hasil ini dicapai ketika pasien menunjukkan bunyi napas bersih, tidak ada sianosis, frekuensi dan irama napas dalam rentang normal, serta mampu mengeluarkan sekresi secara efektif. Pada pasien ini, terdapat keluhan sesak dan batuk sulit mengeluarkan dahak dengan frekuensi napas 40x/menit (takipnea berat), yang jelas menunjukkan kegagalan untuk mempertahankan bersihan jalan napas. Kondisi ini diperberat oleh status hiperglikemia yang menjadi media pertumbuhan mikroorganisme dan kelemahan umum (lemes) yang mengurangi kemampuan batuk efektif.
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini mencakup memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, semi-Fowler), memantau status pernapasan (frekuensi, usaha, bunyi napas), melakukan fisioterapi dada dan latihan batuk efektif jika memungkinkan, serta melakukan suction jika diperlukan. Pada pasien dengan kelemahan dan batuk tidak efektif, intervensi ini vital untuk mencegah atelektasis dan pneumonia aspirasi atau memperburuk infeksi saluran napas yang sudah ada.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Tingkat kenyamanan nyeri pasien terpenuhi. Kriteria ini meliputi pasien melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol (skala nyeri menurun), menunjukkan perilaku nyaman (tidak gelisah, ekspresi wajah rileks), dan tanda vital yang stabil. Pasien mengeluh nyeri kaki, yang sangat mungkin berkaitan dengan kondisi luka pasca amputasi dan/atau neuropati diabetik. Nyeri ini dapat memperburuk stres, meningkatkan kadar gula darah, dan menghambat mobilisasi. Mengelola nyeri merupakan bagian integral dari perawatan untuk meningkatkan kualitas hidup dan partisipasi pasien dalam terapi lainnya.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini meliputi melakukan penilaian nyeri komprehensif (P = Provokasi, Q = Quality, R = Region, S = Severity, T = Time), memberikan terapi farmakologis (analgesik) sesuai resep dengan mempertimbangkan fungsi ginjal (Creatinin 1.11), dan menerapkan intervensi non-farmakologis seperti reposisi, distraksi, atau teknik relaksasi. Penting untuk membedakan nyeri akibat luka dengan nyeri neuropatik diabetik untuk penatalaksanaan yang tepat.
Kondisi: Nutrisi Tidak Seimbang: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: 0301
Deskripsi : Status nutrisi pasien adekuat. Kriteria ini ditandai dengan berat badan stabil atau sesuai target, nilai albumin dan parameter laboratorium nutrisi lainnya dalam batas normal, serta tidak ada tanda klinis malnutrisi. Pasien ini memiliki nilai albumin sangat rendah (2.01 g/dL), yang mengindikasikan defisit protein berat. Albumin rendah berdampak pada penurunan tekanan onkotik (memperburuk edema), gangguan penyembuhan luka, dan melemahnya sistem imun (memperparah risiko infeksi). Kondisi hiperglikemia juga menyebabkan katabolisme protein. Pemenuhan nutrisi adalah dasar untuk penyembuhan luka amputasi dan melawan infeksi.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi ini mencakup kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan protein, memberikan diet diabetes yang diperkaya protein, memantau asupan dan toleransi makan, serta mempertimbangkan suplementasi nutrisi enteral jika diperlukan. Pada pasien DM dengan albumin rendah, diperlukan diet khusus yang mengontrol glukosa sekaligus menyediakan protein tinggi untuk anabolisme.
-
Article No. 24608 | 27 Mar 2026
Klinis : Jumlah kasus stunted 100%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Pertumbuhan (Stunting) pada Anak
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif pada anak akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat, infeksi berulang, atau pola asuh yang tidak optimal dalam jangka panjang.
Kode SLKI: 4321
Deskripsi : Pertumbuhan anak sesuai dengan standar. Kriteria hasil: 1) Berat badan meningkat sesuai kurva pertumbuhan; 2) Tinggi badan meningkat sesuai kurva pertumbuhan; 3) Lingkar kepala meningkat sesuai kurva pertumbuhan; 4) Status gizi dalam kategori normal (misal, Z-score TB/U > -2 SD); 5) Perkembangan kognitif dan motorik sesuai tahapan usia.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi. Tindakan: 1) Lakukan pengukuran antropometri (BB, TB, LK, LILA) secara berkala dan plot pada kurva standar WHO; 2) Kaji riwayat asupan makanan (frekuensi, jenis, jumlah, tekstur) dan pola pemberian makan; 3) Identifikasi faktor penghambat asupan nutrisi (misal, kesulitan makan, alergi, kondisi ekonomi); 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan zat gizi makro/mikro sesuai usia dan kondisi anak; 5) Edukasi orang tua/pengasuh tentang pemberian makanan bergizi seimbang, responsive feeding, dan fortifikasi makanan; 6) Anjurkan pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan dan MPASI yang adekuat setelahnya; 7) Monitor tanda-tanda defisiensi zat gizi spesifik (seperti zat besi, zinc, vitamin A, vitamin D); 8) Kolaborasi pemberian suplementasi gizi sesuai indikasi (tablet tambah darah, vitamin A, dll).
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Edukasi Kesehatan. Tindakan: 1) Ajarkan orang tua/pengasuh tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode kritis pencegahan stunting; 2) Jelaskan konsep stunting, penyebab, dampak jangka panjang (fisik, kognitif, metabolik), dan strategi pencegahannya; 3) Latih keterampilan praktik higiene dan sanitasi (cuci tangan pakai sabun, pengolahan air minum dan makanan yang aman, penggunaan jamban sehat) untuk mencegah infeksi berulang; 4) Edukasi tentang pentingnya imunisasi lengkap untuk mencegah penyakit infeksi yang dapat memperburuk status gizi; 5) Berikan konseling tentang pola asuh positif, stimulasi perkembangan anak, dan pemantauan perkembangan; 6) Fasilitasi akses ke layanan kesehatan (Posyandu, Puskesmas) dan program bantuan sosial terkait gizi; 7) Lakukan pendampingan dan motivasi untuk perubahan perilaku berkelanjutan.
Kode SIKI: 6800
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Kolaborasi. Tindakan: 1) Rujuk ke dokter/ahli gizi untuk penatalaksanaan medis dan dietetik yang komprehensif; 2) Kolaborasi dengan pekerja sosial atau pihak terkait untuk mengatasi determinan sosial (kemiskinan, ketahanan pangan, akses air bersih) yang mendasari; 3) Koordinasi dengan kader Posyandu atau tenaga kesehatan masyarakat untuk pemantauan pertumbuhan dan perkembangan berkelanjutan di komunitas; 4) Bekerja sama dengan program pemerintah (misal, Program Indonesia Sehat, Bantuan Pangan Non Tunai) untuk mendukung keluarga; 5) Fasilitasi partisipasi dalam kelompok pendukung (support group) orang tua dengan anak berisiko stunting.
-
Article No. 24609 | 27 Mar 2026
Klinis : keluhan: sesak napas (+), nyeri ulu hati berkurang, susah bab riw.jantung (+) KU: Tampak sakit sedang, CM td: 129/86 n: 121 rr: 20 s: 36.5 c spo2: 98 % dg nk Status Generalisata Mata:mata cowong, CA -/-, SI -/-, pupil isokor +/+ Leher: PKGB -/- Thorax: Simetris ka/ki, Paru: SDV +/+ , RBH+/+, rbk -/-, BJ 1-II Abdomen: supel, BU (+) nyeri tekan epigastrium (-) Genitalia : Tidak ada kelainan Extremitas: Akral hangat +/+, CRT < 2 detik, edema -/- (25/3/2026) Lab: Darah Rutin Hemoglobin 10.86 Eritrosit 4.1 Hematokrit 32.5 Index Eritrosit MCV 79.3 MCH 26.5 MCHC 33.4 *Lekosit 10.97* Trombosit 164 RDW-CV 12.68 MPV 7.95 Hitung Jenis Neutrofil 72.5 Limfosit 15.7 Monosit 11 Eosinofil 0.31 Basofil 0.5 Total Neutrofil 7.95 Total Lymphosit 1.72 Total Monosit 1.21 Total Eosinofil 0.03 Total Basofil 0.06 KIMIA KLINIK Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 149 Fungsi Hati *AST (SGOT) 138* *ALT (SGPT) 217* Fungsi Ginjal Ureum 81.3 Kreatinin 1.16 Jantung CK-MB 22 (25/3/2026) ro.toraks: Kesan : - Cardiomegali dengan oedem pulmonum
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Intoleransi Aktivitas terkait Ketidakseimbangan Ventilasi-Perfusi dan Kelemahan Sekunder akibat Gagal Jantung Kongestif dengan Kardiomegali dan Edema Paru
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah keadaan dimana seseorang mengalami gangguan pada proses oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida yang tidak adekuat antara alveoli dan sistem vaskular paru. Pada pasien ini, kondisi ini dimanifestasikan oleh keluhan sesak napas (+), hasil rontgen toraks yang menunjukkan edema pulmonum, dan data pendukung seperti takikardia (N: 121) serta riwayat jantung (+). Meskipun SpO2 98% dengan nasal kanul, adanya edema paru mengindikasikan adanya penumpukan cairan di interstisial dan alveoli yang sangat mengganggu difusi gas. Proses pertukaran gas terganggu karena membran alveoli-kapiler menebal oleh edema, mengurangi luas permukaan difusi dan meningkatkan jarak difusi. Selain itu, kardiomegali dan kemungkinan peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler paru (akibat gagal jantung) memperburuk transudasi cairan. Gangguan ini juga terkait erat dengan peningkatan kerja pernapasan dan intoleransi aktivitas, yang ditunjukkan oleh tampilan pasien yang sakit sedang. Data laboratorium seperti peningkatan AST/ALT dapat mengindikasikan kongesti hepatik sekunder akibat gagal jantung kanan, memperkuat diagnosis sindrom gagal jantung secara keseluruhan yang menjadi akar masalah pertukaran gas.
Kode SLKI: L.04015
Deskripsi : SLKI L.04015 adalah Status Pernapasan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup pola pernapasan yang efektif, parameter gas darah dalam rentang normal, dan tidak adanya tanda distress pernapasan. Pada pasien ini, tujuan intervensi keperawatan adalah untuk mencapai dan mempertahankan status pernapasan yang adekuat. Target spesifiknya termasuk: 1) Menurunkan frekuensi pernapasan ke rentang normal (16-20 kali/menit) dari kondisi saat ini (20 kali/menit) dengan upaya napas yang tidak berlebihan. 2) Mempertahankan saturasi oksigen (SpO2) ≥95% dengan kebutuhan oksigen supplemental yang semakin berkurang. 3) Mengurangi dan menghilangkan keluhan sesak napas subjektif pasien. 4) Menunjukkan bunyi napas yang jernih di semua lapang paru pada auskultasi (pengurangan hingga penghilangan ronki basah halus/RBH). 5) Hasil rontgen toraks follow-up menunjukkan resolusi edema pulmonum. Pencapaian SLKI ini memerlukan manajemen yang komprehensif terhadap edema paru dan gagal jantung dasarnya, meliputi pemberian terapi oksigen, obat-obatan (seperti diuretik, vasodilator), serta pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital dan respons klinis. Peningkatan toleransi aktivitas juga akan berkontribusi pada perbaikan status pernapasan.
Kode SIKI: I.09120
Deskripsi : SIKI I.09120 adalah Manajemen Gagal Jantung. Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan yang sistematis untuk pasien dengan ketidakmampuan jantung dalam memompa darah secara adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Implementasinya pada pasien ini meliputi: 1) **Pemantauan**: Memantau tanda-tanda vital (TD, N, RR), saturasi oksigen, status pernapasan, dan bunyi jantung/jantung secara ketat dan berkala. Memantau balance cairan (input-output), berat badan harian, dan tanda edema. 2) **Manajemen Gejala**: Mengatur posisi semi-Fowler atau high Fowler untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi beban preload jantung. Memberikan terapi oksigen sesuai order untuk mempertahankan SpO2 >95%. Membantu dalam pemberian obat-obatan seperti diuretik (untuk mengurangi edema paru dan sistemik), vasodilator, dan inotropik sesuai resep, serta memantau efek dan efek sampingnya. 3) **Edukasi dan Dukungan**: Memberikan edukasi tentang pentingnya pembatasan asupan cairan dan garam, serta pola istirahat yang cukup. Mengajarkan teknik penghematan energi untuk mengatasi intoleransi aktivitas. Memberikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk sesak. 4) **Kolonaborasi**: Berkolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi terapi farmakologi dan pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Intervensi ini bertujuan mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan mencegah eksaserbasi akut dengan mengelola faktor penyebab dan pemicu. Keberhasilan manajemen gagal jantung akan langsung berdampak pada perbaikan gangguan pertukaran gas dan intoleransi aktivitas yang dialami pasien.
-
Article No. 24610 | 27 Mar 2026
Klinis : sdki pasien cva apa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi untuk Pasien CVA (Stroke)
Sebagai seorang perawat profesional, penetapan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang tepat adalah krusial dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berbasis bukti. Untuk pasien dengan Cerebrovascular Accident (CVA) atau stroke, kondisi klinisnya sangat bervariasi, namun salah satu masalah utama yang sering muncul adalah gangguan pada fungsi motorik.
Kondisi Pasien: CVA (Stroke)
Pasien CVA seringkali mengalami kelemahan otot (paresis) atau kelumpuhan (plegia) pada satu sisi tubuh (hemiparesis/hemiplegia), yang berdampak signifikan pada kemampuan mobilitas fisik mereka. Berdasarkan kondisi ini, diagnosa keperawatan yang paling relevan dan sering ditemukan adalah Hambatan Mobilitas Fisik.
Penjelasan SDKI, SLKI, dan SIKI
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah menetapkan tiga standar utama untuk memandu praktik keperawatan di Indonesia, yaitu:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Merupakan panduan untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi melalui intervensi keperawatan. SDKI memastikan keseragaman dalam penegakan diagnosa keperawatan di seluruh Indonesia.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Merupakan panduan untuk menetapkan tujuan dan kriteria hasil yang terukur dari intervensi keperawatan. SLKI membantu perawat dalam mengevaluasi efektivitas asuhan yang diberikan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Merupakan panduan untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan keperawatan yang spesifik dan berbasis bukti untuk mencapai luaran yang diharapkan. SIKI memastikan intervensi yang diberikan relevan dan efektif.
Ketiga standar ini saling terintegrasi dalam proses keperawatan (pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, evaluasi) untuk memastikan asuhan yang holistik, sistematis, dan berkualitas.
Penerapan SDKI - SLKI - SIKI untuk Pasien CVA
1. SDKI: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Komponen
Detail
Kode Diagnosis
D.0054
Nama Diagnosis
Hambatan Mobilitas Fisik
Definisi
Keterbatasan dalam gerakan fisik mandiri, terarah, atau terkoordinasi pada satu atau lebih ekstremitas atau seluruh tubuh. Pada pasien CVA, ini sering disebabkan oleh kerusakan neurologis yang mengakibatkan kelemahan atau kelumpuhan.
Penyebab (Etiologi)
- Kerusakan neuromuskular (misalnya, stroke/CVA yang menyebabkan hemiparesis/hemiplegia)
- Kelemahan otot
- Nyeri (jika ada)
- Penurunan kekuatan otot
- Kekakuan sendi
Gejala dan Tanda Mayor (Objektif)
- Penurunan kemampuan bergerak
- Keterbatasan rentang gerak (ROM)
- Gerakan tidak terkoordinasi
- Keterbatasan melakukan aktivitas fisik (misalnya, berjalan, duduk, berdiri)
Gejala dan Tanda Minor (Subjektif)
- Mengeluh sulit bergerak
- Mengeluh nyeri saat bergerak
- Enggan melakukan pergerakan
2. SLKI: Standar Luaran Keperawatan Indonesia
Komponen
Detail
Kode Luaran Utama
L.05042
Nama Luaran Utama
Mobilitas Fisik
Definisi
Kemampuan untuk bergerak dengan bebas, mudah, dan teratur. Luaran ini diharapkan meningkat setelah intervensi keperawatan.
Kriteria Hasil (dengan skala 1-5)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ...x24 jam, mobilitas fisik pasien meningkat dengan kriteria hasil:
- Pergerakan ekstremitas (misalnya, lengan dan tungkai yang terkena stroke) meningkat dari skala 1 (sangat menurun) menjadi 3-4 (cukup meningkat/meningkat).
- Kekuatan otot (pada ekstremitas yang terkena) meningkat dari skala 1 (paralisis) menjadi 3-4 (gerakan penuh melawan gravitasi/gerakan penuh melawan gravitasi dan sedikit tahanan).
- Rentang gerak (ROM) meningkat dari skala 1 (sangat terbatas) menjadi 3-4 (cukup terbatas/terbatas).
- Nyeri saat bergerak menurun dari skala 5 (sangat berat) menjadi 2-1 (ringan/tidak ada).
- Kemampuan berpindah (misalnya, dari tempat tidur ke kursi) meningkat dari skala 1 (tidak mampu) menjadi 3-4 (dengan bantuan minimal/mandiri dengan alat bantu).
Skala: 1 = Sangat menurun/Tidak mampu, 2 = Menurun/Bantuan penuh, 3 = Cukup menurun/Bantuan sebagian, 4 = Cukup meningkat/Bantuan minimal, 5 = Meningkat/Mandiri.
3. SIKI: Standar Intervensi Keperawatan Indonesia