Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26749 | 25 Aug 2026
Klinis : Identitas Pasien Tn. K, laki-laki, 58 tahun, dirawat di ruang penyakit dalam karena sesak napas. Keluhan Utama Pasien mengatakan: "Saya sulit bernapas, terutama kalau berbaring. Dada sebelah kanan terasa penuh." Pasien juga mengeluh nyeri dada kanan yang bertambah ketika menarik napas dalam. Riwayat Keluhan Sesak semakin berat selama satu minggu. Batuk kering. Tidak mampu tidur telentang. Nafsu makan menurun. Mudah lelah. Demam ringan selama beberapa hari. Data Objektif TD: 122/78 mmHg Nadi: 106 x/menit RR: 30 x/menit Suhu: 37,8°C SpO₂: 86% udara ruangan Pemeriksaan: Pasien tampak sesak. Posisi semi-Fowler. Ekspansi hemitoraks kanan menurun. Perkusi redup pada basal paru kanan. Suara napas menurun pada hemitoraks kanan bagian bawah. Fremitus vokal menurun. Pasien menggunakan otot bantu pernapasan. Pemeriksaan Diagnostik Foto toraks: Tampak opasitas homogen pada lapang paru kanan bawah. Meniscus sign. Perkiraan cairan pleura cukup banyak. USG toraks: Tampak cairan pleura kanan. Analisis gas darah: PaO₂: 55 mmHg PaCO₂: 36 mmHg pH: 7,44 Torakosentesis: Cairan pleura berwarna kekuningan. Analisis cairan menunjukkan karakteristik eksudatif.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas (Efusi Pleura Kanan)
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Defisit pada ventilasi dan perfusi paru yang ditandai dengan penurunan tekanan oksigen arteri (PaO₂), peningkatan tekanan karbon dioksida arteri (PaCO₂), atau hipoksemia. Pada Tn. K, kondisi ini disebabkan oleh penumpukan cairan pleura kanan yang menekan parenkim paru, sehingga area paru yang mengalami atelektasis kompresi tidak dapat berpartisipasi secara efektif dalam pertukaran gas. Data objektif yang mendukung: SpO₂ 86% (hipoksemia), PaO₂ 55 mmHg (normal 80-100 mmHg), PaCO₂ 36 mmHg (dalam batas normal, namun menunjukkan kompensasi alkalosis respiratorik dengan pH 7,44), RR 30 x/menit (takipnea), penggunaan otot bantu pernapasan, dan ekspansi hemitoraks kanan yang menurun. Pasien mengeluh sesak napas yang memburuk saat berbaring (ortopnea) dan nyeri dada kanan saat inspirasi dalam, yang semakin membatasi ekspansi paru. Gangguan pertukaran gas ini bersifat akut dan berpotensi mengancam kehidupan jika tidak segera diatasi, karena hipoksemia dapat menyebabkan disfungsi organ multisistem. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada peningkatan oksigenasi, mempertahankan kepatenan jalan napas, dan memfasilitasi pengeluaran cairan pleura untuk mengembalikan ventilasi-perfusi yang seimbang.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan pertukaran gas pasien membaik dengan kriteria hasil: (1) Tingkat kesadaran membaik (GCS 15, tidak gelisah); (2) Dispnea menurun (skala 1-2 dari 5, pasien tidak mengeluh sesak saat istirahat); (3) Bunyi napas tambahan menurun (tidak ada ronki atau wheezing); (4) Takipnea menurun (frekuensi napas 16-20 x/menit); (5) Ortopnea menurun (pasien mampu berbaring dengan kepala 15-30 derajat tanpa sesak); (6) PCO₂ membaik (35-45 mmHg); (7) PO₂ membaik (80-100 mmHg); (8) Saturasi oksigen membaik (≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan); (9) Pola napas membaik (irama teratur, kedalaman adekuat, tanpa penggunaan otot bantu napas); (10) Warna kulit membaik (tidak sianosis, membran mukosa lembab dan merah muda); (11) Kelelahan menurun (pasien mampu beraktivitas ringan tanpa mudah lelah); (12) Gelisah menurun (skala gelisah 0-1). Kriteria hasil ini bersifat individual dan disesuaikan dengan respons pasien terhadap terapi, termasuk hasil torakosentesis dan pemberian oksigenasi.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas (I.01011) dan Pemantauan Respirasi (I.01014), dengan tindakan spesifik sebagai berikut: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi; (2) Monitor pola napas (misalnya, ortopnea, takipnea, hiperventilasi); (3) Monitor auskultasi bunyi napas, catat adanya suara napas tambahan (ronki, wheezing, atau pekak pada area efusi); (4) Monitor saturasi oksigen (SpO₂) secara kontinu dan nilai hasil analisis gas darah (PaO₂, PaCO₂, pH, bikarbonat); (5) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (45-90 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan mengurangi tekanan cairan pada diafragma; (6) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi (nasal kanul 2-4 L/menit atau masker non-rebreathing jika SpO₂ <90%) dan titrasi berdasarkan target SpO₂ ≥95%; (7) Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif untuk membantu membersihkan sekret dan meningkatkan ventilasi area paru yang kolaps; (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian bronkodilator (jika ada bronkospasme), kortikosteroid, atau diuretik sesuai program; (9) Kolaborasi untuk persiapan dan pendampingan torakosentesis, serta monitor komplikasi pasca prosedur (pneumotoraks, perdarahan, nyeri); (10) Anjurkan pasien untuk mengubah posisi secara bertahap dan hindari berbaring telentang penuh; (11) Berikan edukasi tentang pentingnya latihan pernapasan (pursed-lip breathing) dan penggunaan spirometri insentif jika tersedia; (12) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam, terutama frekuensi napas, nadi, dan tekanan darah, serta awasi tanda-tanda distres pernapasan (retraksi interkostal, sianosis, penurunan kesadaran). Intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dengan tim medis untuk mengatasi penyebab dasar (efusi pleura) dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti gagal napas.
Kondisi: Nyeri Akut (Nyeri Pleuritik Kanan)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik atau emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada Tn. K, nyeri dada kanan yang bertambah saat menarik napas dalam (nyeri pleuritik) terjadi karena peradangan pleura viseralis dan parietalis yang bergesekan saat respirasi, serta distensi kapsul pleura akibat akumulasi cairan. Data subjektif: pasien mengatakan dada sebelah kanan terasa penuh dan nyeri bertambah ketika menarik napas dalam. Data objektif: pasien tampak sesak, ekspansi hemitoraks kanan menurun, dan posisi semi-Fowler (kemungkinan untuk mengurangi nyeri). Nyeri akut ini mengganggu pola napas, menyebabkan pasien membatasi gerakan inspirasi, sehingga memperburuk gangguan ventilasi dan hipoksemia. Skala nyeri perlu dikaji secara komprehensif (PQRST) untuk menentukan intervensi yang tepat. Nyeri yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kelelahan, ansietas, dan penurunan mobilitas fisik, yang berujung pada komplikasi seperti atelektasis dan pneumonia.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam, diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil: (1) Keluhan nyeri menurun (pasien melaporkan skala nyeri 1-2 dari 10, atau nyeri hanya terasa saat batuk/gerakan ekstrem); (2) Ekspresi wajah membaik (tidak meringis, rileks); (3) Kemampuan menuntaskan aktivitas membaik (pasien mampu melakukan napas dalam tanpa mengeluh nyeri berlebihan); (4) Kemampuan menggunakan teknik nonfarmakologi meningkat (pasien mampu melakukan relaksasi napas dalam dan distraksi); (5) Frekuensi napas membaik (16-20 x/menit), tidak ada takipnea akibat nyeri; (6) Kemampuan istirahat membaik (pasien dapat tidur dengan posisi semi-Fowler tanpa terbangun karena nyeri); (7) Tanda-tanda vital membaik (nadi 60-100 x/menit, TD dalam batas normal, tidak ada peningkatan tekanan darah atau denyut jantung yang signifikan saat nyeri); (8) Pola napas membaik (pasien tidak menahan napas atau bernapas dangkal karena nyeri). Kriteria hasil ini dievaluasi secara berkala, terutama setelah pemberian analgetik dan setelah prosedur torakosentesis, karena pengeluaran cairan biasanya mengurangi nyeri pleuritik secara signifikan.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Nyeri (I.08238), dengan tindakan sebagai berikut: (1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif (PQRST: Provokasi/palliatif, Quality, Region, Severity, Time) setiap 4 jam atau saat pasien mengeluh nyeri; (2) Identifikasi skala nyeri menggunakan skala numerik (0-10) atau skala deskriptif, catat lokasi, durasi, frekuensi, dan kualitas nyeri; (3) Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgetik; (4) Berikan teknik nonfarmakologi: ajarkan napas dalam lambat (slow deep breathing) dengan fase ekspirasi yang panjang, ajarkan teknik distraksi (mendengarkan musik, berzikir, atau visualisasi), dan berikan kompres hangat pada area dada kanan (jika tidak kontraindikasi) untuk mengurangi ketegangan otot; (5) Anjurkan pasien untuk mengubah posisi secara bertahap dan gunakan bantal untuk menyangga dada saat batuk atau bersin (splinting) untuk mengurangi nyeri; (6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik, seperti NSAID (misalnya, ibuprofen atau ketorolak) untuk nyeri pleuritik, atau analgetik opioid (misalnya, morfin atau tramadol) jika nyeri berat, sesuai indikasi dan kontraindikasi; (7) Evaluasi efektivitas analgetik 30-60 menit setelah pemberian, catat respons pasien dan efek samping (mual, sedasi, depresi pernapasan); (8) Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini; (9) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Article No. 26721 | 24 Aug 2026
Klinis : Keluhan penurunan kesadaran sebelumnya lemah, muntah, sulit bicara, ekstremitas kiri lemah, keluhan dirasakan 4j am smrs KU lemah, E1V1M1 Ku lemah Kes: Sopor TD : 129/73 HR : 81 RR : 19 S : 37.9 SpO2 : 98 Mata RC +/+ isokor 3mm/3mm CA -/- SI -/- JVP kesan tidak meningkat Thorax SDV +/+ RBK -/- RBH -/- WHZ -/- Abdomen BU (+), NT (-) Ext atas AH +/+, Ext Bawah AH +/+ sensorik : sde motorik tonus : dbn trofi : dbn tangan :lateralisasi (-) kaki : lateralisasi (-) r. fisiologis +3 || +3 +3 || +3 r. patologis - || - + || + (babinski) Clonus - || - Meningeal sign : cranial nerve : II : voluntary eye movement (-) III : Refleks cahaya d/i (+/+), reflek cornea (+/+), Refleks Okulosefalik (+/+) Komplikasi tirah baring: • Infeksi: - • Stress ulcer: - • DVT: - • Disfagia: - • Cemas: - Hb 14.85 g/dL Eritrosit 5.21 juta/µL Hematokrit 42.9% Leukosit 12.26 ribu/µL ↑ Trombosit 261 ribu/µL Glukosa Darah Sewaktu (GDS) 111 mg/dL SGOT (AST) 46 U/L ↑ SGPT (ALT) 17 U/L Ureum 27.8 mg/dL Kreatinin 1.06 mg/dL Natrium (Na) 140 mmol/L Kalium (K) 3.5 mmol/L Chlorida (Cl) 106 mmol/L Calsium (Ca2+) 1.1 mmol/L pH 7.543 ↑ Ro thorax PENDING
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Sopor) dengan Gangguan Mobilitas Fisik dan Risiko Cedera pada Pasien Stroke
Kode SDKI: D.0054 (Gangguan Mobilitas Fisik) dan D.0136 (Risiko Cedera)
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang didapatkan, pasien mengalami penurunan kesadaran (E1V1M1 = sopor) dengan keluhan awal lemah, muntah, sulit bicara, dan ekstremitas kiri lemah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran sopor, refleks fisiologis +3 pada keempat ekstremitas (hiperrefleksia), refleks Babinski (+) pada kaki kanan, serta tanda-tanda lateralisasi yang belum jelas. Hasil laboratorium menunjukkan leukositosis (12.26 ribu/µL) yang mengindikasikan proses inflamasi atau infeksi, serta peningkatan SGOT (46 U/L) yang dapat terkait dengan kerusakan sel otot atau hati. Gangguan mobilitas fisik terjadi karena kelemahan ekstremitas kiri dan penurunan kesadaran yang membatasi kemampuan pasien untuk bergerak secara mandiri. Pasien juga berisiko mengalami cedera akibat penurunan kesadaran dan kelemahan fisik, yang dapat menyebabkan jatuh atau trauma. Kondisi ini memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk memulihkan fungsi motorik, mencegah komplikasi imobilisasi, dan menjaga keselamatan pasien.
Kode SLKI: L.05071 (Mobilitas Fisik) dan L.14137 (Tingkat Cedera)
Deskripsi: Luaran yang diharapkan untuk diagnosa Gangguan Mobilitas Fisik adalah Mobilitas Fisik meningkat dengan kriteria hasil: (1) Pergerakan ekstremitas meningkat dari skala 1 (berat) menjadi skala 5 (ringan) atau lebih, (2) Kekuatan otot meningkat, (3) Rentang gerak (ROM) meningkat, (4) Kemampuan berpindah meningkat, (5) Kemampuan mobilisasi meningkat, (6) Kelemahan fisik menurun, (7) Kesadaran meningkat dari sopor menjadi compos mentis. Sedangkan untuk diagnosa Risiko Cedera, luaran yang diharapkan adalah Tingkat Cedera menurun dengan kriteria hasil: (1) Kemampuan melindungi diri meningkat, (2) Kemampuan kognitif meningkat, (3) Kesadaran meningkat, (4) Gangguan keseimbangan menurun, (5) Gangguan gaya berjalan menurun, (6) Gangguan mobilitas menurun, (7) Kelemahan otot menurun, (8) Risiko jatuh menurun, (9) Cedera fisik tidak terjadi, (10) Cedera jaringan tidak terjadi, (11) Cedera syaraf tidak terjadi. Target luaran ini harus dicapai dalam rentang waktu yang realistis sesuai kondisi pasien, dengan mempertimbangkan tingkat keparahan stroke dan respons terhadap terapi.
Kode SIKI: I.05183 (Dukungan Mobilisasi) dan I.14545 (Manajemen Keselamatan)
Deskripsi: Intervensi keperawatan yang direncanakan untuk Gangguan Mobilitas Fisik adalah Dukungan Mobilisasi (I.05183) dengan tindakan utama: (1) Identifikasi pergerakan ekstremitas, kekuatan otot, rentang gerak, dan kemampuan mobilisasi pasien, (2) Identifikasi toleransi fisik dalam melakukan pergerakan, (3) Monitoring frekuensi jantung, tekanan darah, dan laju pernapasan sebelum dan sesudah latihan, (4) Monitoring kondisi umum pasien selama latihan, (5) Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu seperti kursi roda atau walker, (6) Libatkan keluarga dalam membantu pasien melakukan mobilisasi, (7) Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi kepada pasien dan keluarga, (8) Anjurkan pasien untuk melakukan mobilisasi secara bertahap sesuai toleransi, (9) Ajarkan pasien cara melakukan mobilisasi dan ambulasi dini (misalnya duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur, berjalan dengan bantuan), (10) Berikan lingkungan yang aman untuk melakukan mobilisasi. Sedangkan untuk Risiko Cedera, intervensi yang direncanakan adalah Manajemen Keselamatan (I.14545) dengan tindakan: (1) Identifikasi kebutuhan keselamatan pasien (misalnya keamanan lingkungan, privasi, dan risiko jatuh), (2) Identifikasi faktor risiko jatuh (usia, kondisi kognitif, kesadaran, mobilitas, dan penggunaan obat-obatan), (3) Monitoring tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran secara berkala, (4) Sediakan lingkungan yang aman (misalnya pasang pagar tempat tidur, jauhkan benda berbahaya, gunakan alas anti selip), (5) Gunakan alat pelindung diri yang sesuai (misalnya restraint jika diperlukan sesuai protokol), (6) Berikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang pencegahan cedera dan risiko jatuh, (7) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan keseimbangan dan penguatan otot, (8) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi medis yang mendukung keselamatan pasien. Kedua intervensi ini harus dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya dalam mencapai luaran yang diharapkan. Perawat juga perlu memperhatikan komplikasi tirah baring yang berpotensi terjadi seperti infeksi, stress ulcer, DVT, disfagia, dan cemas, meskipun pada saat ini belum ditemukan tanda-tanda komplikasi tersebut. Pendekatan holistik yang melibatkan pasien, keluarga, dan tim kesehatan multidisiplin sangat penting untuk optimalisasi pemulihan pasien.
Article No. 26722 | 24 Aug 2026
Klinis : Pasien dengan keluhan sesak nafas + RPD : Ca cervix (kemo di dr. Oen) KU lemah, Kesadaran CM TD : 147/82 mmHg HR : 135 x/menit RR : 22 x/menit Suhu : 36,3 C SpO2 : 98 % ( nrm 15 l + nasal canul 5 l) Mata : CA (-/-) SI (-/-), anemis (-/-) Mulut : bibir kering (-) Leher : JVP kesan tdk meningkat Jantung : S1 S2 reguler Paru : SDV (+/+), RH (-/-), WH (-/-) Abdomen : supel, BU + Genitalia : tdk ada kelainan Eks Atas : Akral hangat, crt <2s, edema (-) Eks Bawah : Akral hangat, crt <2s, edema (-) Hasil Lab 20/08 → 21/08 (post HD) Darah Rutin Hemoglobin 8.86 [L] → 11.37 Eritrosit 3.36 [L] → 3.56 [L] Hematokrit 26.6 [L] → 32.6 [L] Lekosit 12.27 [H] → 13.90 Trombosit 322 → 229 Neutrofil 84.7 [H] → 82.5 [H] Limfosit 8.5 [L] → 12.6 [L] Glukosa Darah Sewaktu 123 GDS Harian : 113 mg/dl (24/08) Fungsi Hati AST (SGOT) 23 ALT (SGPT) 9 Fungsi Ginjal Ureum 122.0 [H] → 72.8 [H] Kreatinin 16.44 [H] → 9.67 [H] Jantung CK-MB 26 [H]
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Depresi Pusat Pernapasan (Kondisi pasca kemoterapi dan hemodialisis dengan anemia serta kelemahan umum)
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah kondisi di mana inspirasi dan/atau ekspirasi tidak memberikan ventilasi alveolar yang adekuat. Pada pasien ini, pola napas tidak efektif ditandai dengan keluhan sesak napas (dyspnea), frekuensi napas 22 x/menit (tachypnea), penggunaan otot bantu napas yang terlihat dari SDV (+/+) (suara dasar vesikuler yang meningkat), dan kelemahan umum (KU lemah). Kondisi ini diperberat oleh anemia (Hb 8.86 g/dL yang kemudian meningkat menjadi 11.37 g/dL setelah hemodialisis) yang menyebabkan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah, serta gangguan fungsi ginjal (ureum 122 mg/dL, kreatinin 16.44 mg/dL) yang menyebabkan akumulasi toksin uremik yang dapat menekan pusat pernapasan di batang otak. Selain itu, riwayat Ca serviks dengan kemoterapi dapat menyebabkan efek samping kardiotoksik (CK-MB 26 U/L) dan kelemahan otot pernapasan. Meskipun SpO2 saat ini 98% dengan pemberian oksigen NRM 15 L + nasal kanul 5 L, hal ini menunjukkan pasien masih membutuhkan dukungan oksigen eksternal yang tinggi untuk mencapai saturasi normal, yang mengindikasikan adanya gangguan pertukaran gas atau pola napas yang tidak efisien. Tanda-tanda klinis seperti takikardia (HR 135 x/menit) juga merupakan kompensasi tubuh terhadap hipoksia atau peningkatan kerja napas. Pola napas tidak efektif ini dapat menyebabkan hipoksemia jaringan, gangguan kesadaran, dan komplikasi lebih lanjut jika tidak ditangani dengan tepat. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada pemantauan pola napas, pemberian posisi semi-Fowler atau Fowler, manajemen jalan napas, serta kolaborasi untuk mengatasi penyebab dasar seperti anemia dan gangguan metabolik.
Kode SLKI: L.01004
Deskripsi : Pola Napas adalah luaran yang menggambarkan ventilasi alveolar yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan pola napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Dispnea menurun dari skala sedang (3) menjadi ringan (2) atau tidak ada (1); (2) Frekuensi napas membaik dalam rentang normal 12-20 x/menit; (3) Kedalaman napas (volume tidal) membaik, tidak ada penggunaan otot bantu napas; (4) Suara napas tambahan tidak ada, SDV kembali normal; (5) Tanda-tanda hipoksia tidak ada, SpO2 >95% dengan atau tanpa bantuan oksigen; (6) Kemampuan berbicara meningkat, tidak ada bicara terputus-putus saat bernapas; (7) Ortopnea menurun, pasien mampu berbaring datar tanpa sesak; (8) Takikardia membaik, HR dalam rentang 60-100 x/menit; (9) Tingkat kesadaran membaik, GCS 15 (compos mentis). Luaran ini juga mencakup peningkatan energi dan penurunan kelelahan. Keberhasilan luaran ini diukur menggunakan skala Likert dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal skor 4 (cukup membaik) pada setiap kriteria. Pemantauan dilakukan setiap shift untuk mengevaluasi respons pasien terhadap terapi oksigen dan intervensi lainnya. Pada pasien dengan kondisi anemia dan gangguan ginjal, luaran ini juga harus mempertimbangkan perbaikan nilai Hb dan ureum/kreatinin sebagai indikator tidak langsung perbaikan kemampuan transport oksigen dan pengurangan toksin sistemik.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas adalah intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi kepatenan jalan napas serta memfasilitasi pertukaran gas yang adekuat. Intervensi utama yang dilakukan antara lain: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, irama, dan usaha napas) setiap 2 jam atau sesuai kondisi; (2) Monitor bunyi napas tambahan seperti wheezing, ronchi, atau suara napas bronkial; (3) Monitor saturasi oksigen (SpO2) secara kontinu dan nilai analisis gas darah jika tersedia; (4) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan teknik head-tilt chin-lift atau jaw thrust bila diperlukan; (5) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) atau Fowler (90 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru; (6) Berikan oksigen sesuai indikasi dan evaluasi respon pasien terhadap pemberian oksigen (titrasi oksigen untuk mencapai SpO2 target ≥95%); (7) Lakukan fisioterapi dada (clapping dan vibration) jika terdapat sekret yang sulit dikeluarkan, namun kontraindikasi pada pasien dengan kelemahan umum; (8) Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan sekret; (9) Auskultasi bunyi napas setelah intervensi untuk mengevaluasi efektivitas; (10) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian bronkodilator, kortikosteroid, atau diuretik sesuai indikasi; (11) Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan seperti AGD (Analisis Gas Darah) untuk menilai status oksigenasi dan ventilasi; (12) Kolaborasi untuk transfusi darah jika Hb < 8 g/dL atau sesuai indikasi klinis untuk meningkatkan kapasitas oksigen darah; (13) Kelola terapi hemodialisis sesuai jadwal untuk mengurangi toksin uremik yang menekan pusat pernapasan; (14) Monitor efek samping kemoterapi yang dapat mempengaruhi fungsi kardiorespirasi (misalnya kardiotoksisitas dengan memantau CK-MB dan EKG); (15) Berikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda sesak napas yang memburuk dan kapan harus segera mencari bantuan medis. Intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dan mandiri oleh perawat, dengan evaluasi setiap 6 jam untuk menilai perkembangan pola napas dan efektivitas terapi. Pada pasien ini, perhatian khusus diberikan pada manajemen cairan karena gangguan ginjal (oliguria/anuria) dan risiko overload cairan yang dapat memperberat sesak napas, sehingga pemantauan intake-output dan berat badan harian sangat penting.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan Ketidakseimbangan Ventilasi-Perfusi (Anemia dan toksin uremik)
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolar-kapiler. Pada pasien ini, gangguan pertukaran gas terjadi karena beberapa faktor: (1) Anemia (Hb 8.86 g/dL) yang menurunkan kapasitas darah untuk mengangkut oksigen, sehingga meskipun SpO2 98%, jumlah oksigen yang dibawa ke jaringan berkurang; (2) Toksin uremik (ureum 122 mg/dL, kreatinin 16.44 mg/dL) yang dapat menyebabkan edema paru ringan atau perubahan permeabilitas membran alveolar-kapiler; (3) Kelemahan otot pernapasan akibat kondisi umum yang lemah (KU lemah) dan efek kemoterapi; (4) Takikardia (HR 135 x/menit) sebagai kompensasi untuk meningkatkan cardiac output dan pengiriman oksigen. Data objektif menunjukkan pasien membutuhkan oksigen aliran tinggi (NRM 15 L + nasal kanul 5 L) untuk mencapai SpO2 98%, yang menunjukkan adanya hipoksemia relatif atau peningkatan kebutuhan oksigen. Tanda klinis seperti SDV (+/+) menunjukkan peningkatan usaha napas. Meskipun tidak ada sianosis atau akral dingin, kondisi ini masih berisiko menyebabkan hipoksia jaringan jika tidak ditangani. Gangguan pertukaran gas yang tidak ditangani dapat menyebabkan asidosis respiratorik, penurunan kesadaran, aritmia jantung, dan gagal napas. Intervensi harus difokuskan pada optimalisasi oksigenasi, perbaikan kapasitas pembawa oksigen (transfusi), dan pengurangan toksin sistemik (hemodialisis). Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda hipoksia seperti gelisah, takikardia, perubahan status mental, dan sianosis sangat penting, terutama pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang berisiko retensi cairan dan edema paru.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas adalah luaran yang menggambarkan kemampuan tubuh untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara adekuat di tingkat alveolar. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan pertukaran gas membaik dengan kriteria hasil: (1) Tingkat kesadaran membaik (GCS 15, tidak gelisah); (2) Dispnea menurun, pasien tidak mengeluh sesak saat istirahat; (3) Bunyi napas tambahan menurun atau tidak ada; (4) Takikardia membaik (HR 60-100 x/menit); (5) SpO2 membaik >95% dengan atau tanpa bantuan oksigen; (6) PCO2 arteri membaik dalam rentang 35-45 mmHg; (7) PO2 arteri membaik dalam rentang 80-100 mmHg; (8) pH arteri membaik dalam rentang 7,35-7,45; (9) Sianosis tidak ada; (10) Warna kulit membaik (tidak pucat); (11) Kelelahan menurun; (12) Kadar hemoglobin membaik (mendekati normal 12-15 g/dL untuk wanita); (13) Nilai ure
Article No. 26723 | 24 Aug 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak napas memberat sejak 3 hari SMRS, mengi (-) riwayat mengi (-), batuk (+) batuk darah (+) bercak. Riwayat batuk darah (+) 200cc sekitar 6 hari SMRS. Demam dan menggigil sejak 6 hari SMRS. Pasien baru pulang dari perjalanan umroh. Pasien mengatakan tidak ada keluhan sesak napas maupun batuk sebelumnya. BB turun (+) namun tidak ditimbang. SITB : tidak ada data KU ;lemah,cm TD : 130/67 HR : 99 RR : 22 S : 36.8 SpO2 : 98 on NRM 15 lpm Kepala: normocephal, m. temporalis atrofi -/- Mata : konjungtiva pucat (-/-), sklera icterik (-/-), edema palpebra (-/-), pupil isokor (3 mm/3 mm), refleks cahaya (+/+) Hidung : secret (-/-), lendir tidak ada, darah (-/-) Mulut: mukosa bibir kering (-), oral ulcer (-), faring hiperemis (-/-), lidah kotor (-) Leher : JVP R+3 cm, KGB cervical tidak teraba membesar Thorax : simetris, normochest, retraksi (-), spider navy (-) Pulmo : I : pengembangan dada kanan =. kiri P: fremitus raba kanan = kiri P: sonor/sonor A: Suara dasar vesikuler (+)/ Suara dasar vesikuler (+), RBH (-/-), RBK (+/+), Wheezing (+/+), egofoni (-/-) Cor : S1-2 reguler, murmur -, gallop - Abdomen : supel, bu (+), nt (-) Ext : oedem pitting (-/-) HEMATOLOGI Darah Rutin Hemoglobin: 12.42 Eritrosit: 6.66 Hematokrit: 40.2 MCV: 60.4 MCH: 18.6 MCHC: 30.9 Leukosit: 2.26 Trombosit: 168 RDW-CV: 11.14 MPV: 10.57 Hitung Jenis Neutrofil: 82.5% Limfosit: 8.7% Monosit: 7.1% Eosinofil: 0.11% Basofil: 1.7% Hitung Absolut Total Neutrofil: 1.86 Total Limfosit: 0.20 Total Monosit: 0.16 Total Eosinofil: 0.00 Total Basofil: 0.04 Golongan Darah Golongan Darah: A KIMIA KLINIK Elektrolit Natrium (Na): 126 Kalium (K): 3.8 Klorida (Cl): 93 Kalsium ion (Ca²⁺): 1.0 pH: 7.532 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu: 110 Fungsi Ginjal Ureum: 188.8 Kreatinin: 2.84 Analisa Gas Darah pH: 7.389 PCO₂: 38.8 mmHg PO₂: 100 mmHg SO₂: 97.5% Laktat: 3.6 mmol/L HCO₃⁻: 22.9 mmol/L TCO₂: 24.0 mmol/L BE: -2.1 mmol/L A-aDO₂: 0 mmHg AGD FiO2 ambil 0.56 PH 7.389 PCO2 38.8 PO2 100 HCO3 22.9 H+ 40.66 ΔH/ΔPCO2 -0.55 PAO2 350.78 target PAO2 245.54 FiO2 kor 0.412 AaDO2 250.78 HS 178.57
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, bersihan jalan napas tidak efektif ditandai dengan batuk produktif (batuk darah bercak), adanya ronki basah kasar (RBK) pada kedua lapang paru, dan wheezing bilateral. Pasien juga mengalami sesak napas yang memberat, yang mengindikasikan adanya akumulasi sekret atau darah di saluran napas. Meskipun pasien tidak memiliki riwayat mengi sebelumnya, wheezing yang muncul saat ini menunjukkan adanya spasme bronkus atau edema mukosa sebagai respons terhadap iritasi (kemungkinan karena darah atau proses infeksi). Batuk darah (hemoptisis) 200 cc yang terjadi 6 hari SMRS dan saat ini masih bercak menunjukkan perdarahan aktif di saluran napas yang dapat menyumbat jalan napas. Data penunjang menunjukkan leukopenia (2.26 ribu/µL) dengan neutrofilia (82.5%) dan limfopenia absolut (0.20), yang mengindikasikan infeksi berat atau sepsis, yang dapat memperberat produksi sekret. Pasien juga mengalami hiponatremia (Na 126), peningkatan ureum (188.8) dan kreatinin (2.84) yang menunjukkan gangguan fungsi ginjal, serta asidosis respiratorik terkompensasi dengan pH 7.389, PCO2 38.8, HCO3 22.9, dan laktat 3.6 mmol/L yang menunjukkan adanya gangguan metabolik. Kondisi ini dapat memperburuk kemampuan pasien untuk membersihkan jalan napas secara efektif karena kelemahan fisik (KU lemah, cm). Pasien baru pulang dari perjalanan umroh, yang meningkatkan risiko terpapar infeksi endemik (seperti TB, pneumonia, atau infeksi jamur), yang dapat menyebabkan hemoptisis dan produksi sekret berlebih. Retraksi dada negatif namun pasien menggunakan NRM 15 lpm dengan SpO2 98%, menunjukkan pasien masih membutuhkan dukungan oksigen untuk mempertahankan saturasi, yang mengindikasikan gangguan pertukaran gas sekunder akibat bersihan jalan napas yang tidak optimal.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas Efektif (L.01001). Definisi: Kemampuan mempertahankan jalan napas paten untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi. Kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan meliputi: (1) Produksi sputum menurun atau tidak ada; (2) Batuk efektif (mampu mengeluarkan sekret); (3) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit); (4) Bunyi napas bersih (tidak ada ronki atau wheezing); (5) Tidak ada dispnea/sesak; (6) Tidak ada sianosis; (7) Saturasi oksigen >95% dengan atau tanpa oksigen tambahan; (8) Mampu melakukan teknik batuk efektif; (9) Ekspansi dada simetris; (10) Tidak ada penggunaan otot bantu napas. Untuk pasien ini, target luaran yang spesifik adalah: setelah diberikan intervensi selama 3x24 jam, pasien menunjukkan batuk efektif dengan mampu mengeluarkan sekret, frekuensi napas membaik (RR 16-20 x/menit), bunyi napas tambahan (RBK dan wheezing) menurun atau hilang, SpO2 tetap ≥95% dengan penurunan kebutuhan oksigen bertahap (dari NRM 15 lpm menjadi nasal kanul), dan pasien melaporkan sesak napas berkurang. Selain itu, pasien tidak mengalami hemoptisis aktif (tidak ada darah dalam sputum). Kriteria ini harus dievaluasi secara berkala untuk menilai efektivitas intervensi.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas (I.01011). Definisi: Tindakan untuk membebaskan dan mempertahankan jalan napas paten. Intervensi utama yang direncanakan: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas, dan bunyi napas tambahan); (2) Monitor saturasi oksigen; (3) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru dan pengeluaran sekret; (4) Berikan oksigen sesuai indikasi (saat ini NRM 15 lpm, titrasi sesuai target SpO2 ≥95%); (5) Lakukan fisioterapi dada (postural drainase, perkusi, dan vibrasi) jika tidak ada kontraindikasi (hati-hati dengan hemoptisis aktif - hindari perkusi jika perdarahan aktif); (6) Ajarkan dan bantu pasien melakukan batuk efektif (napas dalam, tahan 2 detik, batukkan dengan kuat); (7) Lakukan suction jika ada indikasi (jika pasien tidak mampu batuk efektif dan terdapat sekret di jalan napas atas) dengan hati-hati karena risiko perdarahan; (8) Berikan bronkodilator (jika diresepkan) untuk mengurangi wheezing; (9) Kolaborasi pemberian mukolitik/ekspektoran (jika diresepkan) untuk mengencerkan sekret; (10) Anjurkan pasien untuk minum air hangat 2-3 liter/hari (jika tidak ada kontraindikasi gagal ginjal - perlu perhitungan cairan karena ureum dan kreatinin meningkat); (11) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam; (12) Evaluasi efektivitas intervensi dengan auskultasi bunyi napas dan observasi kemampuan batuk. Intervensi ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien yang memiliki hemoptisis, sehingga tindakan fisioterapi dada dan suction harus dilakukan secara hati-hati dan dihentikan jika terjadi perdarahan masif. Edukasi pada pasien dan keluarga tentang teknik batuk efektif dan pentingnya menjaga hidrasi juga merupakan bagian dari intervensi ini.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolar-kapiler. Pada pasien ini, gangguan pertukaran gas didukung oleh data objektif: PO2 100 mmHg pada FiO2 0.56 (NRM 15 lpm), namun dengan A-aDO2 yang sangat tinggi yaitu 250.78 mmHg (nilai normal <15 mmHg pada udara ruangan), menunjukkan adanya gangguan difusi atau ventilasi-perfusi mismatch yang signifikan. Target PAO2 seharusnya 245.54 mmHg pada FiO2 0.56, tetapi PAO2 aktual hanya 350.78 mmHg (sebenarnya lebih tinggi dari target, namun A-aDO2 yang lebar menunjukkan masalah). Laktat 3.6 mmol/L menunjukkan hipoksia jaringan atau hipoperfusi. Pasien menggunakan NRM 15 lpm untuk mempertahankan SpO2 98%, yang mengindikasikan kebutuhan oksigen tinggi. Adanya RBK dan wheezing bilateral menunjukkan proses inflamasi dan sekret di saluran napas yang mengganggu ventilasi dan perfusi. Hemoptisis juga dapat menyebabkan pengisian alveoli dengan darah, menghambat difusi oksigen. Kondisi klinis lemah (KU lemah, cm) dan demam yang mendasari (riwayat 6 hari) meningkatkan kebutuhan metabolik oksigen. Leukopenia dan neutrofilia menunjukkan kemungkinan infeksi berat (sepsis) yang dapat menyebabkan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau pneumonia. Gangguan fungsi ginjal (ureum 188.8, kreatinin 2.84) dapat menyebabkan edema paru akibat overload cairan atau toksin uremik yang mempengaruhi permeabilitas kapiler alveolar. Hiponatremia (Na 126) dapat menyebabkan edema seluler termasuk edema paru. Asidosis metabolik ringan (BE -2.1, laktat 3.6) menunjukkan gangguan perfusi jaringan. Pasien dengan riwayat perjalanan umroh berisiko terpapar infeksi endemik seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS), TB, atau pneumonia aspirasi yang dapat menyebabkan kerusakan alveolar. Gangguan pertukaran gas ini mengancam kehidupan dan memerlukan penanganan segera untuk mencegah gagal napas.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas Efektif (L.01003). Definisi: Kemampuan mempertahankan ventilasi dan pertukaran gas yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan eliminasi karbon dioksida. Kriteria hasil yang diharapkan: (1) Saturasi oksigen ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan; (2) PO2 dalam rentang normal (80-100 mmHg) atau sesuai target terapi; (3) PCO2 dalam rentang normal (35-45 mmHg); (4) pH darah normal (7.35-7.45); (5) Tidak ada dispnea; (6) Tidak ada sianosis; (7) Frekuensi napas normal (16-20 x/menit); (8) Tidak ada penggunaan otot bantu napas; (9) Tingkat kesadaran membaik (tidak gelisah/letargi); (10) Nilai laktat menurun (<2 mmol/L); (11) A-aDO2 membaik (menurun); (12) Bunyi napas bersih. Untuk pasien ini, target luaran: dalam 3x24 jam, SpO2 dapat dipertahankan ≥95% dengan penurunan kebutuhan oksigen (dari NRM 15 lpm menjadi 10 lpm atau nasal kanul 5 lpm), PO2 ≥80 mmHg pada FiO2 yang lebih rendah, tidak ada sesak napas, laktat menurun, dan A-aDO2 membaik. Pasien juga tidak menunjukkan tanda-tanda hipoksia seperti gelisah, takikardia, atau penurunan kesadaran.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Manajemen Pertukaran Gas (I.01003).
Article No. 26724 | 24 Aug 2026
Klinis : pasien cva bertahun tahun dan hanya di tempat tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien CVA bertahun-tahun dan hanya di tempat tidur (immobilisasi kronis)
Kode SDKI: D.0114 (Gangguan Mobilitas Fisik)
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Pada pasien CVA kronis dengan tirah baring lama, kondisi ini terjadi akibat kerusakan neurologis (hemiparesis/hemiplegia), kelemahan otot, kekakuan sendi, dan penurunan daya tahan. Pasien tidak mampu mengubah posisi, berpindah, atau melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan total. Dampaknya meliputi risiko kontraktur, atrofi otot, dekubitus, dan ketergantungan penuh pada perawat. Diagnosis ini menekankan pada keterbatasan rentang gerak (ROM), koordinasi, dan keseimbangan yang mengganggu fungsi motorik. Tanda klinis yang muncul antara lain: pasien berbaring pasif, ekstremitas lemah, tremor saat mencoba bergerak, dan kesulitan mempertahankan postur. Penyebab utama terkait dengan gangguan neuromuskuler (lesi pada area motorik korteks serebri, kapsula interna, atau batang otak) serta efek imobilisasi berkepanjangan. Faktor risiko yang memperberat adalah usia lanjut, malnutrisi, dan komorbiditas seperti hipertensi atau diabetes. Penegakan diagnosis ini memerlukan pengkajian menyeluruh terhadap kemampuan fungsional pasien menggunakan skala seperti Barthel Index atau Functional Independence Measure (FIM). Intervensi keperawatan harus diarahkan untuk mempertahankan fungsi sendi, mencegah komplikasi imobilisasi, dan memfasilitasi posisi yang aman. Luaran yang diharapkan adalah pasien menunjukkan peningkatan kekuatan otot, rentang gerak sendi, dan kemampuan melakukan aktivitas sesuai toleransi. Namun, karena kondisi kronis, target realistis adalah mempertahankan status fungsional yang ada dan mencegah perburukan. Perawat juga perlu melibatkan keluarga dalam perawatan jangka panjang, termasuk latihan ROM pasif dan aktif, serta penggunaan alat bantu seperti bantal, gulungan handuk, atau footboard untuk mencegah foot drop. Diagnosis ini juga berhubungan erat dengan risiko jatuh, gangguan integritas kulit, dan sindrom disuse, sehingga perencanaan asuhan harus bersifat holistik dan berkelanjutan.
Kode SLKI: L.05070 (Mobilitas Fisik Meningkat)
Deskripsi : Mobilitas fisik meningkat adalah luaran yang menggambarkan kemampuan pasien untuk melakukan gerakan fisik secara mandiri atau dengan bantuan minimal. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pergerakan ekstremitas meningkat, ditandai dengan pasien mampu menggerakkan jari, tangan, atau kaki secara aktif dalam batas yang memungkinkan; (2) Kekuatan otot meningkat, yang dapat diukur dengan skala kekuatan otot (0-5) pada ekstremitas yang terkena; (3) Rentang gerak (ROM) meningkat, baik ROM pasif maupun aktif, terutama pada sendi bahu, siku, pergelangan tangan, pinggul, lutut, dan pergelangan kaki; (4) Kemampuan berpindah meningkat, seperti dari posisi berbaring ke miring, duduk di tepi tempat tidur, atau ke kursi roda dengan bantuan; (5) Koordinasi dan keseimbangan membaik, meskipun mungkin masih memerlukan penyangga atau bantuan perawat; (6) Tidak terjadi kontraktur atau deformitas sendi baru; (7) Pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan latihan ROM pasif secara benar. Skala pengukuran luaran ini menggunakan tingkat keparahan dari 1 (buruk) hingga 5 (baik), dengan target minimal pada skala 3 (cukup) setelah intervensi. Pada pasien CVA kronis yang telah bertahun-tahun di tempat tidur, luaran ini harus disesuaikan dengan kondisi realistis. Misalnya, jika sebelumnya pasien tidak dapat menggerakkan ekstremitas sama sekali, target yang ditetapkan adalah peningkatan ROM pasif oleh perawat tanpa resistensi, serta pasien mampu mengikuti instruksi sederhana seperti "genggam tangan saya" meskipun lemah. Luaran ini juga mencakup aspek psikomotor, yaitu pasien menunjukkan minat untuk mencoba bergerak dan tidak menolak saat dilakukan latihan. Indikator lain yang penting adalah tidak adanya tanda-tanda komplikasi imobilisasi seperti kemerahan pada area tekanan, nyeri sendi, atau penurunan denyut nadi perifer. Untuk mencapai luaran ini, perawat harus melakukan intervensi secara konsisten setiap 2 jam sekali untuk mengubah posisi, melakukan ROM pasif pada semua sendi, dan memberikan motivasi serta dukungan emosional. Keluarga juga harus diedukasi agar dapat melanjutkan latihan di rumah setelah pasien pulang. Evaluasi luaran dilakukan setiap hari dengan mencatat perkembangan dalam catatan keperawatan, menggunakan skala fungsional yang objektif. Jika setelah 2 minggu intervensi tidak ada peningkatan, perawat perlu mengkaji ulang penyebabnya, misalnya adanya nyeri, spastisitas, atau depresi yang menghambat motivasi pasien. Luaran ini juga harus diintegrasikan dengan luaran lain seperti status sirkulasi, integritas kulit, dan manajemen nyeri, karena semuanya saling terkait dalam proses pemulihan fungsi motorik pasien pasca CVA.
Kode SIKI: I.05173 (Latihan Mobilitas Fisik)
Deskripsi : Latihan mobilitas fisik adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi gerak pasien yang mengalami gangguan mobilitas akibat kondisi neurologis kronis. Intervensi ini mencakup beberapa aktivitas utama: (1) Observasi dan pengkajian kemampuan mobilitas pasien menggunakan skala fungsional, termasuk kekuatan otot, ROM, dan toleransi aktivitas; (2) Posisikan pasien secara teratur setiap 2 jam dengan teknik yang benar untuk mencegah dekubitus dan kontraktur, misalnya posisi miring kanan, miring kiri, telentang, dan duduk di tempat tidur dengan sandaran; (3) Lakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif pada semua persendian ekstremitas yang mengalami kelemahan, minimal 2 kali sehari dengan 5-10 repetisi untuk setiap sendi. Gerakan yang dilakukan meliputi fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi, rotasi internal-eksternal, serta pronasi-supinasi. Untuk pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif, perawat harus memegang sendi proksimal dan distal dengan hati-hati untuk menghindari cedera; (4) Berikan latihan ROM aktif-aktif asisstif jika pasien memiliki sedikit kekuatan otot, dengan mendorong pasien untuk mencoba menggerakkan ekstremitasnya sendiri sambil perawat memberikan bantuan pada titik yang lemah; (5) Ajarkan dan bantu pasien melakukan latihan penguatan otot isometrik (misalnya menegangkan otot paha atau betis tanpa menggerakkan sendi) untuk mencegah atrofi; (6) Gunakan alat bantu seperti bantal, gulungan handuk, footboard, atau splint untuk mempertahankan posisi anatomis dan mencegah foot drop, wrist drop, atau kontraktur fleksi pada lutut; (7) Bantu pasien dalam aktivitas berpindah, seperti duduk di tepi tempat tidur (dangling) dengan pengawasan ketat, kemudian secara bertahap ke kursi roda menggunakan papan transfer atau alat angkat (hoist) jika diperlukan; (8) kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan yang lebih intensif seperti electrical stimulation atau terapi air, jika tersedia; (9) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya latihan mobilitas, cara melakukan ROM pasif yang benar, tanda bahaya yang harus dilaporkan (nyeri hebat, kemerahan, demam), dan jadwal latihan yang teratur; (10) Dokumentasikan semua tindakan, respons pasien, dan perkembangan yang dicapai secara akurat. Selain itu, perawat juga harus memperhatikan faktor keamanan: pastikan tempat tidur dalam posisi rendah, sisi tempat tidur terpasang, dan pasien tidak mengalami pusing atau hipotensi ortostatik saat posisi diubah. Latihan ini harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari frekuensi rendah dan durasi pendek, kemudian ditingkatkan sesuai toleransi. Untuk pasien yang mengalami spastisitas, perawat dapat memberikan latihan peregangan perlahan dan tahan lama, serta menghindari gerakan cepat yang dapat memicu refleks spastik. Manajemen nyeri juga penting, karena nyeri dapat menghambat partisipasi pasien; berikan analgesik sesuai indikasi atau teknik relaksasi sebelum latihan. Intervensi ini bersifat kolaboratif, melibatkan tim kesehatan lain seperti dokter rehabilitasi medik, fisioterapis, dan okupasi terapis untuk hasil yang optimal. Evaluasi dilakukan secara berkala, setidaknya setiap minggu, untuk menilai efektivitas intervensi dan memodifikasi rencana latihan sesuai perkembangan pasien. Dengan intervensi yang konsisten dan terstruktur, diharapkan pasien CVA kronis dapat mempertahankan fungsi sendi, mencegah komplikasi, dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik meskipun dalam keterbatasan.
Article No. 26725 | 24 Aug 2026
Klinis : nyeri kronis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Kronis
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Nyeri kronis adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan aktual atau potensial, yang berlangsung lebih dari 3 bulan atau melampaui waktu penyembuhan yang diharapkan. Kondisi ini bersifat persisten atau berulang, seringkali tanpa penyebab fisiologis yang jelas, dan berdampak signifikan pada fungsi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien. Nyeri kronis bukan sekadar durasi nyeri yang panjang, melainkan suatu sindrom kompleks yang melibatkan perubahan neuroplastik pada sistem saraf pusat dan perifer, sehingga persepsi nyeri menjadi tidak proporsional dengan stimulus yang ada. Pada nyeri kronis, tanda-tanda fisiologis akut (seperti takikardia, diaforesis, atau peningkatan tekanan darah) seringkali sudah tidak tampak, karena tubuh telah beradaptasi. Sebaliknya, manifestasi yang lebih dominan adalah perubahan perilaku, afek, dan interaksi sosial. Pasien mungkin menunjukkan ekspresi wajah meringis, postur tubuh melindungi area nyeri, kesulitan tidur, kelelahan kronis, penurunan nafsu makan, anhedonia (kehilangan minat pada aktivitas yang menyenangkan), mudah tersinggung, hingga isolasi sosial. Nyeri kronis juga sering disertai komorbiditas seperti depresi, ansietas, dan gangguan fungsional. Pada pengkajian, pasien mungkin melaporkan nyeri dengan skala 0-10 yang fluktuatif, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nyeri tersebut mengganggu aktivitas harian, pekerjaan, hubungan interpersonal, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Nyeri kronis dapat berasal dari berbagai etiologi: neuropatik (misalnya nyeri pasca-herpes, neuropati diabetik), nosiseptif (misalnya osteoartritis, rheumatoid arthritis), atau campuran. Faktor yang memperberat meliputi stres, cuaca dingin, aktivitas berlebih, dan kurang tidur. Faktor yang memperingan meliputi istirahat, kompres hangat/dingin, distraksi, dan penggunaan analgetik. Diagnosis ini memerlukan pengkajian komprehensif yang mencakup karakteristik nyeri (PQRST: Provokatif, Quality, Region, Severity, Timing), dampak fungsional, riwayat pengobatan, dan mekanisme koping. Penting untuk membedakan nyeri kronis dari nyeri akut, karena pendekatan intervensi dan tujuan keperawatannya sangat berbeda. Pada nyeri kronis, tujuan utama bukanlah menghilangkan nyeri sepenuhnya (seringkali tidak realistis), melainkan mengoptimalkan fungsi, meningkatkan kualitas hidup, dan membantu pasien mengelola nyeri secara adaptif. SDKI D.0078 menekankan bahwa nyeri kronis harus dikaji secara holistik, termasuk faktor psikologis, sosial, dan spiritual, karena nyeri kronis tidak dapat dipisahkan dari pengalaman total individu. Intervensi keperawatan harus berfokus pada manajemen nyeri non-farmakologis, edukasi, dan pemberdayaan pasien dalam self-management, bukan hanya pada pemberian analgetik. Diagnosis ini juga mencakup komponen "sindrom nyeri kronis" yang melibatkan disfungsi multi-sistem, sehingga perawat perlu berkolaborasi dengan tim interdisiplin (dokter, psikolog, fisioterapis, ahli gizi) untuk mencapai hasil yang optimal. Dengan demikian, diagnosis keperawatan nyeri kronis adalah pintu masuk untuk memberikan asuhan yang berpusat pada pasien, yang menekankan pada adaptasi, koping, dan peningkatan kesejahteraan meskipun nyeri tetap ada.
Kode SLKI: L.08063 (Tingkat Nyeri) dan L.08064 (Kontrol Nyeri)
Deskripsi: Luaran keperawatan yang diharapkan untuk pasien dengan nyeri kronis menurut SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) terbagi menjadi dua luaran utama yang saling terkait, yaitu L.08063 (Tingkat Nyeri) dan L.08064 (Kontrol Nyeri). L.08063 (Tingkat Nyeri) berfokus pada penurunan persepsi nyeri dan gejala yang menyertainya. Kriteria hasil yang diukur meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun, yang diukur dengan skala nyeri (misalnya dari skala 7 menjadi 3) atau frekuensi nyeri yang berkurang; (2) Ekspresi wajah tidak meringis; (3) Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat; (4) Gangguan tidur menurun; (5) Kelelahan menurun; (6) Anoreksia membaik; (7) Frekuensi nadi dan tekanan darah membaik (meskipun pada nyeri kronis, tanda vital seringkali normal, tetapi tetap dipantau); (8) Perhatian terhadap nyeri berkurang. Skala pengukuran luaran ini menggunakan skala 1-5 (dari 1=buruk hingga 5=baik), dengan target yang diharapkan meningkat dari tingkat awal. Sementara itu, L.08064 (Kontrol Nyeri) lebih berfokus pada kemampuan pasien untuk mengelola nyeri secara mandiri dan adaptif. Kriteria hasil yang diukur meliputi: (1) Kemampuan mengenali onset nyeri (awal munculnya nyeri) meningkat; (2) Kemampuan mengenali penyebab nyeri meningkat; (3) Kemampuan menggunakan teknik non-farmakologis (seperti relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin) meningkat; (4) Kemampuan menggunakan analgesik secara tepat (dosis, waktu, indikasi) meningkat; (5) Kemampuan melaporkan nyeri secara akurat meningkat; (6) Kemampuan mencari bantuan profesional tepat waktu meningkat; (7) Kemampuan melakukan aktivitas fisik sesuai toleransi meningkat; (8) Kemampuan mengatur posisi tubuh untuk mengurangi nyeri meningkat; (9) Kemampuan menerapkan manajemen stres meningkat. Luaran ini menekankan pada pemberdayaan pasien, karena pada nyeri kronis, pasien harus menjadi "ahli" dalam mengelola kondisinya sendiri. Kedua luaran ini harus ditetapkan secara individual berdasarkan kondisi pasien. Misalnya, untuk pasien dengan nyeri kronis yang masih bekerja, target luaran mungkin lebih menekankan pada kemampuan menuntaskan aktivitas dan kontrol nyeri saat bekerja. Sedangkan untuk pasien lansia dengan nyeri kronis, target mungkin lebih menekankan pada kualitas tidur dan suasana hati. SLKI juga menekankan bahwa luaran harus realistis dan dapat diukur dalam rentang waktu tertentu (misalnya 3x24 jam, 1 minggu, atau 2 minggu). Perawat harus mengevaluasi luaran secara berkala dan memodifikasi intervensi jika target belum tercapai. Penting untuk dicatat bahwa pada nyeri kronis, luaran "tingkat nyeri" tidak harus mencapai skala 0, tetapi yang lebih penting adalah tercapainya "kontrol nyeri" yang baik, sehingga pasien dapat berfungsi optimal meskipun masih merasakan nyeri. Dengan demikian, kedua luaran ini saling melengkapi: Tingkat Nyeri mengukur penurunan gejala, sedangkan Kontrol Nyeri mengukur peningkatan kemampuan adaptasi. Keberhasilan asuhan keperawatan pada nyeri kronis diukur dari keduanya, bukan hanya dari hilangnya nyeri secara total.
Kode SIKI: I.08238 (Manajemen Nyeri) dan I.08239 (Edukasi Manajemen Nyeri)
Deskripsi: Intervensi keperawatan untuk nyeri kronis menurut SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) terdiri dari dua intervensi utama yang harus dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan. Intervensi pertama adalah I.08238 (Manajemen Nyeri) yang berfokus pada tindakan langsung untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri; (2) Identifikasi skala nyeri dengan menggunakan alat ukur yang sesuai (misalnya Numeric Rating Scale, Visual Analog Scale, atau Wong-Baker FACES untuk pasien yang sulit berkomunikasi); (3) Identifikasi respons nyeri non-verbal (seperti ekspresi wajah, postur tubuh, atau perubahan aktivitas); (4) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri; (5) Identifikasi pengetahuan dan keyakinan pasien tentang nyeri; (6) Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup dan fungsi sehari-hari; (7) Identifikasi riwayat penggunaan analgesik, termasuk jenis, dosis, frekuensi, dan efektivitasnya; (8) Identifikasi efek samping penggunaan analgesik jangka panjang (seperti konstipasi, sedasi, atau toleransi obat); (9) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik yang tepat, termasuk pertimbangan penggunaan obat adjuvan (seperti antidepresan, antikonvulsan) untuk nyeri neuropatik; (10) Berikan terapi non-farmakologis yang meliputi: teknik relaksasi napas dalam, guided imagery (bayangan terpimpin), distraksi (mengalihkan perhatian), terapi musik, kompres hangat/dingin, masase, terapi akupresur, atau stimulasi saraf listrik transkutan (TENS) sesuai indikasi; (11) Atur posisi yang nyaman dengan mempertimbangkan biomekanika tubuh dan area nyeri; (12) Berikan lingkungan yang tenang dan mendukung untuk mengurangi stimulus nyeri; (13) Fasilitasi istirahat tidur yang cukup, karena kurang tidur dapat memperberat persepsi nyeri; (14) Ajarkan teknik manajemen stres, karena stres emosional dapat meningkatkan intensitas nyeri; (15) Dukung pasien untuk melakukan aktivitas fisik secara bertahap sesuai toleransi, karena imobilisasi justru dapat memperburuk nyeri kronis; (16) Evaluasi efektivitas intervensi yang telah dilakukan secara berkala. Intervensi kedua adalah I.08239 (Edukasi Manajemen Nyeri) yang berfokus pada pemberian pengetahuan dan keterampilan kepada pasien dan keluarga agar mampu mengelola nyeri secara mandiri. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Jelaskan
Article No. 26726 | 24 Aug 2026
Klinis : bentol bentol dan sesak habis di sengat tawon
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Reaksi Anafilaksis / Risiko Gangguan Integritas Kulit dan Gangguan Pertukaran Gas Akibat Sengatan Tawon
Kode SDKI: D.0003 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif) ; D.0001 (Gangguan Pertukaran Gas) ; D.0027 (Kerusakan Integritas Kulit) ; D.0133 (Risiko Syok)
Deskripsi Singkat: Kondisi pasien yang mengalami bentol-bentol (urtikaria) dan sesak napas setelah disengat tawon merupakan manifestasi klinis dari reaksi hipersensitivitas tipe I (IgE-mediated) yang dapat berkembang menjadi anafilaksis. Patofisiologi utamanya melibatkan pelepasan histamin, leukotrien, dan prostaglandin dari sel mast dan basofil yang teraktivasi. Histamin menyebabkan vasodilatasi perifer (menimbulkan bentol/urtikaria, kemerahan, edema), peningkatan permeabilitas kapiler (menyebabkan edema jaringan, terutama di wajah, bibir, dan saluran napas), serta bronkokonstriksi. Pada tingkat sistemik, hal ini dapat menimbulkan obstruksi jalan napas, gangguan ventilasi-perfusi, dan syok distributif. Diagnosa keperawatan utama yang diangkat adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan bronkospasme dan edema laring; Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi; Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan reaksi inflamasi lokal; serta Risiko Syok berhubungan dengan vasodilatasi sistemik dan hipovolemia relatif. Penanganan keperawatan harus bersifat emergensi dan kolaboratif, meliputi pemberian epinefrin (adrenalin) sebagai lini pertama, antihistamin, kortikosteroid, bronkodilator, serta dukungan oksigenasi dan cairan intravena.
Kode SLKI: L.01001 (Bersihan Jalan Napas) ; L.01003 (Pertukaran Gas) ; L.01010 (Integritas Kulit) ; L.03015 (Status Sirkulasi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan diberikan adalah: (1) Bersihan Jalan Napas: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x2 jam, pasien menunjukkan kepatenan jalan napas dengan kriteria hasil: tidak ada bunyi napas tambahan (wheezing, stridor), frekuensi napas dalam rentang normal (16-20x/menit untuk dewasa), mampu mengeluarkan sekret jika ada, tidak tampak penggunaan otot bantu napas, dan saturasi oksigen >95%. (2) Pertukaran Gas: Setelah diberikan oksigenasi dan bronkodilator, pasien menunjukkan perbaikan pertukaran gas dengan kriteria: tidak ada sianosis, gas darah arteri dalam batas normal (PaO2 80-100 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg), tidak ada dispnea saat istirahat, dan kesadaran membaik (GCS 15). (3) Integritas Kulit: Setelah diberikan terapi antihistamin dan perawatan kulit, dalam waktu 1x24 jam, pasien menunjukkan perbaikan integritas kulit dengan kriteria: bentol/urtikaria berkurang atau hilang, tidak ada edema progresif, tidak ada lesi baru, dan tidak ada tanda infeksi sekunder (kemerahan, pus, nyeri). (4) Status Sirkulasi: Setelah diberikan cairan dan vasopresor jika perlu, dalam waktu 1x2 jam, pasien menunjukkan hemodinamik stabil dengan kriteria: tekanan darah sistolik >90 mmHg atau kembali ke baseline, denyut nadi 60-100x/menit dan kuat, capillary refill <2 detik, tidak ada tanda syok (kulit dingin, lembab, pucat), dan produksi urin >0,5 ml/kgBB/jam.
Kode SIKI: I.01001 (Manajemen Jalan Napas) ; I.01003 (Pemantauan Pertukaran Gas) ; I.01010 (Perawatan Integritas Kulit) ; I.03015 (Manajemen Syok) ; I.01044 (Manajemen Anafilaksis - intervensi kolaboratif)
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan berdasarkan SIKI adalah sebagai berikut: (1) Manajemen Jalan Napas (I.01001): Observasi tanda-tanda obstruksi jalan napas (stridor, wheezing, retraksi), auskultasi bunyi napas, pantau saturasi oksigen. Tindakan terapeutik: posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ventilasi, berikan oksigen nasal kanul atau masker non-rebreathing sesuai kebutuhan (target SpO2 >94%), lakukan suction jika ada sekret, kolaborasi pemberian bronkodilator nebulizer (salbutamol 2,5-5 mg) dan epinefrin intramuskular (0,3-0,5 mg untuk dewasa, atau sesuai protokol) segera. Edukasi pasien tentang teknik napas dalam dan batuk efektif. (2) Pemantauan Pertukaran Gas (I.01003): Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman napas; pantau hasil analisis gas darah (AGD) jika tersedia; observasi tanda-tanda hipoksia (sianosis, gelisah, penurunan kesadaran); monitor nilai AGD dan elektrolit; kolaborasi pemberian bronkodilator dan kortikosteroid intravena (metilprednisolon 125 mg) untuk mengurangi inflamasi saluran napas. (3) Perawatan Integritas Kulit (I.01010): Identifikasi area bentol/urtikaria, ukur dan catat luas lesi; berikan kompres dingin untuk mengurangi gatal dan edema; anjurkan pasien untuk tidak menggaruk untuk mencegah infeksi; berikan losion kalamin atau krim hidrokortison topikal sesuai indikasi; kolaborasi pemberian antihistamin oral atau injeksi (difenhidramin 25-50 mg IV/IM) untuk mengontrol reaksi alergi; monitor tanda-tanda infeksi sekunder; edukasi pasien untuk menjaga kebersihan kulit dan menghindari alergen (sengatan tawon). (4) Manajemen Syok (I.03015): Monitor tanda-tanda vital setiap 5-15 menit sampai stabil (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan); monitor status hemodinamik (CVP jika terpasang); pasang infus intravena dengan NaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan sesuai syok (bolus 20 ml/kgBB pada dewasa); posisikan pasien supinasi dengan kaki ditinggikan (Trendelenburg) jika syok; kolaborasi pemberian vasopresor (norepinefrin) jika tekanan darah tidak responsif terhadap cairan; siapkan alat resusitasi dan obat emergensi (epinefrin, atropin, amiodaron) di samping tempat tidur; monitor produksi urin dan elektrolit. (5) Manajemen Anafilaksis (kolaboratif): Segera hentikan paparan alergen (sengatan tawon), lepaskan sengat jika masih tertinggal; berikan epinefrin 1:1000 secara IM di paha anterolateral (dosis dewasa 0,3-0,5 mg, ulangi setiap 5-15 menit jika perlu); pasang oksigen 8-10 L/menit dengan masker non-rebreathing; berikan cairan IV bolus cepat; siapkan untuk intubasi jika terjadi edema laring berat; kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antihistamin H1 (difenhidramin), H2 (ranitidin), kortikosteroid, dan bronkodilator; lakukan observasi ketat selama minimal 4-6 jam karena risiko reaksi bifasik (rekurensi gejala setelah membaik). Semua intervensi ini harus didokumentasikan secara akurat dan dievaluasi setiap 15 menit pada fase akut, kemudian setiap 1 jam setelah stabil. Prioritas utama adalah mempertahankan kepatenan jalan napas, sirkulasi, dan mencegah komplikasi fatal.
Article No. 26727 | 24 Aug 2026
Klinis : Keluhan saat ini pasien tidak muntah-muntah namun masih mual, susah makan Riw/ DM Ku lemah TD : 150/80 mmHg N : 82 x/mnt Rr : 20 x/mnt S : 36,5 C Mata RC +/+ isokor 3mm/3mm, CA +/+ SI -/- JVP kesan tidak meningkat Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/-, S1S2 irregular Abdomen BU (+), NT (-) Ext atas motorik sde, sensorik sde, r. fisiologis +/+, r. patologis -/- Ext Bawah motorik sde, sensorik sde, r. fisiologis +/+, r. patologis -/-, oedem -/- Laboratorium (14/08/26) Hemoglobin 8.36 Eritrosit 2.94 Hematokrit 25.8 Index Eritrosit MCV 87.8 MCH 28.4 MCHC 32.4 Trombosit 277 Lekosit 12.14 RDW-CV 12.67 MPV 6.09 Hitung Jenis Neutrofil 83.8 Limfosit 10.9 Monosit 3.9 Eosinofil 0.37 Basofil 1.0 Gol. Darah (A B O) Golongan Darah A KIMIA KLINIK Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 211 Fungsi Ginjal Ureum 259.0 Kreatinin 7.69 Hasil Lab post HD (17/08/26) Hemoglobin 10.29 g/dL (L) Eritrosit 3.69 juta/µL (L) Hematokrit 30.8% (L) Leukosit 16.55 ribu/µL (H) Trombosit 275 ribu/µL Fungsi Ginjal Ureum 122.0 mg/dL (H) Kreatinin 3.34 mg/dL (H) Hasil Lab (20/08/26) Hemoglobin: 11.50 Eritrosit: 3.88 (L) Hematokrit: 34.0 (L) Trombosit: 253 Lekosit: 24.74 (H) Neutrofil: 92.2 (H) Limfosit: 4.4 (L) Fungsi Ginjal Ureum: 233.3 (H) Kreatinin: 5.89 (H) Hasil Lab post HD (21/08.26) Hb 10,92 g/dL — L Eritrosit 3,61 juta/µL — L Hematokrit 32,2% — L MCV 89,2 fL MCH 30,2 pg MCHC 33,9 g/dL Leukosit 28,93 ribu/µL — H Trombosit 158 ribu/µL Fungsi Ginjal Ureum 143,4 mg/dL — H Kreatinin 3,60 mg/dL — H
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi (Nutrisi Tidak Adekuat) pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) dengan Diabetes Melitus (DM) dan Anemia
Kode SDKI: D.0019 (Defisit Nutrisi)
Deskripsi Singkat: Defisit Nutrisi adalah kondisi di mana asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien ini, kondisi tersebut ditandai dengan keluhan mual dan susah makan (anoreksia) yang persisten, yang merupakan manifestasi umum dari uremia akibat penyakit ginjal kronis (PGK) stadium lanjut (berdasarkan kadar ureum dan kreatinin yang sangat tinggi). Mual dan anoreksia ini secara langsung menyebabkan penurunan asupan oral, yang diperberat oleh status hiperglikemia (GDS 211 mg/dL) yang memperlambat pengosongan lambung (gastroparesis diabetik). Data objektif menunjukkan adanya penurunan berat badan yang tidak tercatat secara eksplisit, namun ditunjukkan oleh anemia normokromik normositik (Hb 8.36 g/dL, MCV 87.8 fL, MCH 28.4 pg) yang merupakan konsekuensi dari defisiensi eritropoietin dan defisiensi nutrisi (zat besi, vitamin B12, folat) akibat asupan yang buruk. Pasien juga menunjukkan kelemahan fisik (KU lemah) yang merupakan tanda klinis dari defisit energi dan protein. Kondisi ini diperparah oleh status inflamasi sistemik yang ditunjukkan oleh leukositosis progresif (dari 12.14 menjadi 28.93 ribu/µL) dan neutrofilia (92.2%), yang meningkatkan kebutuhan metabolik basal dan katabolisme protein, sehingga mempercepat terjadinya malnutrisi energi protein (MEP). Defisit nutrisi pada pasien PGK tidak hanya berdampak pada penurunan massa otot dan fungsi imun, tetapi juga meningkatkan morbiditas dan mortalitas, memperburuk anemia, serta menurunkan kualitas hidup. Intervensi keperawatan harus fokus pada manajemen gejala (mual), optimalisasi asupan nutrisi yang sesuai dengan diet renal (rendah protein, rendah natrium, rendah kalium, tinggi kalori), serta kolaborasi dengan ahli gizi dan medis untuk terapi suplementasi dan manajemen DM.
Kode SLKI: L.03021 (Status Nutrisi)
Deskripsi : Status Nutrisi adalah luaran yang menggambarkan kecukupan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Pada pasien ini, luaran yang diharapkan setelah diberikan intervensi keperawatan adalah: (1) Porsi makanan yang dihabiskan meningkat dari sebelumnya (mampu menghabiskan > 50% porsi yang disediakan); (2) Frekuensi mual menurun (skala mual < 3 dari 10); (3) Berat badan membaik atau tidak terjadi penurunan lebih lanjut (indeks massa tubuh dalam rentang 18.5-22.9 kg/m² untuk populasi Asia); (4) Nilai laboratorium albumin serum meningkat atau stabil (meskipun tidak diperiksa, targetnya > 3.5 g/dL); (5) Hemoglobin meningkat atau stabil (target > 10 g/dL untuk pasien PGK); (6) Tidak terjadi tanda-tanda malnutrisi seperti konjungtiva pucat, rambut kusam, dan turgor kulit menurun; (7) Pasien melaporkan peningkatan energi dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap. Kriteria luaran ini diukur menggunakan skala 1-5 (1=buruk, 5=baik), dengan target peningkatan dari skala 2 (cukup) menjadi skala 4 (baik) dalam waktu 3x24 jam hingga 1 minggu. Penting untuk dicatat bahwa pada pasien PGK dengan dialisis, peningkatan albumin serum mungkin lambat, sehingga luaran yang lebih realistis adalah stabilisasi berat badan dan perbaikan gejala subjektif (mual, nafsu makan). Luaran ini harus dievaluasi secara berkala setiap hari selama perawatan untuk menyesuaikan intervensi.
Kode SIKI: I.03114 (Manajemen Nutrisi)
Deskripsi : Manajemen Nutrisi adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dan mencegah komplikasi terkait malnutrisi. Intervensi utama yang akan dilakukan meliputi: (1) Identifikasi status nutrisi pasien meliputi pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas), biokimia (albumin, prealbumin, Hb, elektrolit), dan asupan makan harian (food recall 24 jam); (2) Kaji pola makan pasien, termasuk frekuensi, porsi, jenis makanan, dan faktor yang mempengaruhi (mual, nyeri, depresi, obat-obatan); (3) Monitor tanda-tanda malnutrisi seperti penurunan berat badan, atrofi otot temporal, edema dependen, dan konjungtiva pucat; (4) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai diet renal yang tepat: tinggi kalori (30-35 kkal/kgBB/hari untuk mempertahankan berat badan), protein 0.6-0.8 g/kgBB/hari (dengan protein bernilai biologis tinggi seperti telur, ikan, daging tanpa lemak) untuk pasien non-dialisis, atau 1.0-1.2 g/kgBB/hari jika sudah menjalani hemodialisis (sesuai kondisi pasien yang post-HD), rendah natrium (< 2 g/hari), rendah kalium (< 2-3 g/hari), dan rendah fosfat; (5) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering (5-6 kali sehari) untuk mengurangi rasa mual dan meningkatkan toleransi lambung; (6) Berikan makanan dalam keadaan hangat dan dengan tekstur yang mudah ditelan jika mual berat; (7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi enteral (oral nutritional supplement) seperti susu formula renal yang rendah protein, tinggi kalori, dan mengandung asam amino esensial jika asupan oral tidak mencukupi (< 60% kebutuhan); (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiemetik (misalnya ondansetron atau metoklopramid) 30 menit sebelum makan untuk mengatasi mual; (9) Kolaborasi dengan dokter untuk manajemen DM yang optimal (insulin atau obat hipoglikemik oral yang aman untuk ginjal) karena kontrol glikemik yang baik akan mengurangi mual akibat gastroparesis; (10) Kolaborasi dengan dokter untuk terapi anemia (eritropoietin, zat besi intravena atau oral, asam folat) karena anemia menyebabkan kelelahan dan menurunkan nafsu makan; (11) Monitor asupan dan output cairan, serta tanda-tanda kelebihan cairan (edema, peningkatan JVP, sesak) karena pasien PGK memiliki keterbatasan ekskresi cairan; (12) Evaluasi respons terhadap intervensi dengan memantau peningkatan berat badan, perbaikan nilai laboratorium (ureum, kreatinin, Hb, albumin), dan penurunan skala mual. Tindakan ini dilakukan secara kolaboratif dan berkesinambungan dengan tim kesehatan lain, dengan dokumentasi yang akurat setiap hari. Pasien juga akan dipersiapkan untuk menjalani hemodialisis rutin sesuai jadwal karena dialisis yang adekuat adalah kunci utama untuk mengurangi gejala uremik (mual, anoreksia) dan memperbaiki status nutrisi jangka panjang.
Article No. 26728 | 24 Aug 2026
Klinis : reduksi ansietas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Reduksi Ansietas (Penurunan Kecemasan)
Kode SDKI: D.0080
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman. Reduksi ansietas dalam konteks ini adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan keadaan di mana pasien menunjukkan penurunan kemampuan untuk mengatasi atau mengelola perasaan tidak nyaman, khawatir, atau takut yang disertai respons fisiologis, emosional, kognitif, dan perilaku. Pada kondisi "reduksi ansietas" yang dimaksud adalah hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan, namun sebagai diagnosis, SDKI mendefinisikan ansietas sebagai diagnosa aktual atau risiko. Perlu dipahami bahwa "reduksi ansietas" bukanlah diagnosis mandiri dalam SDKI, melainkan merupakan luaran (outcome) yang diukur melalui SLKI. Namun, jika kita merujuk pada kondisi pasien yang mengalami penurunan ansietas, maka diagnosis yang relevan adalah "Ansietas" (D.0080) dengan tingkat sedang hingga berat, atau "Risiko Ansietas" (D.0081) jika belum muncul. Untuk tujuan penjelasan ini, kita akan menggunakan diagnosis "Ansietas" (D.0080) sebagai dasar, karena reduksi ansietas adalah tujuan yang ingin dicapai. Definisi SDKI: Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar-samar disertai respons otonom (sumber sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan sinyal kewaspadaan yang memperingatkan individu akan bahaya yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah-langkah untuk menghadapi ancaman. Karakteristik utama meliputi: perasaan khawatir, gelisah, tegang, sulit berkonsentrasi, insomnia, peningkatan frekuensi napas, nadi cepat, tekanan darah meningkat, tremor, wajah tegang, dan perilaku menghindar. Faktor yang berhubungan: krisis situasional, ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap kematian, perubahan status kesehatan, kurang terpapar informasi, konflik peran, dan faktor keturunan (temperamen). Kondisi klinis terkait: penyakit kronis, gangguan mental, prosedur invasif, hospitalisasi, dan nyeri akut.
Kode SLKI: L.09093 (Tingkat Ansietas) dan L.09094 (Kontrol Ansietas)
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk kondisi reduksi ansietas memiliki dua luaran utama yang saling berkaitan. Pertama, L.09093 adalah "Tingkat Ansietas" yang didefinisikan sebagai keparahan manifestasi ansietas yang dialami individu. Luaran ini diukur dengan skala dari 1 (meningkat berat) hingga 5 (menurun) atau dari buruk hingga membaik. Indikatornya meliputi: konsentrasi membaik, frekuensi napas membaik, nadi membaik, tekanan darah membaik, tremor menurun, wajah rileks, verbalisasi khawatir menurun, perasaan gelisah menurun, insomnia menurun, dan pola napas membaik. Kedua, L.09094 adalah "Kontrol Ansietas" yang didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengelola dan mengurangi perasaan cemas. Luaran ini berfokus pada perilaku adaptif dan keterampilan koping. Indikatornya meliputi: kemampuan mengenali gejala ansietas meningkat, kemampuan menggunakan teknik relaksasi meningkat, kemampuan memodifikasi situasi pemicu meningkat, kemampuan mencari informasi untuk mengurangi ansietas meningkat, kemampuan mempertahankan hubungan sosial meningkat, dan verbalisasi kemampuan mengontrol ansietas meningkat. Dalam konteks reduksi ansietas, luaran yang diharapkan adalah peningkatan skor pada kedua luaran ini dari tingkat sedang ke tingkat ringan atau terkontrol. Target luaran biasanya ditetapkan dalam waktu 1x24 jam hingga 3x24 jam tergantung pada keparahan. Skala penilaian menggunakan Skala Likert 1-5, di mana 5 adalah kondisi terbaik (ansietas tidak ada atau kontrol sangat baik) dan 1 adalah kondisi terburuk (ansietas berat atau kontrol buruk). Luaran ini harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu (SMART) sesuai kondisi pasien.
Kode SIKI: I.09326 (Reduksi Ansietas) dan I.09327 (Terapi Relaksasi)
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi reduksi ansietas mencakup dua intervensi utama yang saling melengkapi. Pertama, I.09326 adalah "Reduksi Ansietas" yang didefinisikan sebagai serangkaian tindakan keperawatan untuk menurunkan atau menghilangkan perasaan tidak nyaman, khawatir, atau takut yang dialami pasien. Tindakan utama dalam intervensi ini meliputi: (1) Observasi - identifikasi tanda dan gejala ansietas secara subjektif dan objektif, monitor tingkat ansietas dengan skala terstandar (misal HARS), monitor respons nonverbal pasien (postur tubuh, ekspresi wajah, gerakan), dan identifikasi faktor pencetus ansietas. (2) Terapeutik - ciptakan hubungan saling percaya dengan pendekatan yang tenang dan empatik, sediakan lingkungan yang aman dan nyaman (kurangi stimulus berlebihan, atur pencahayaan dan kebisingan), gunakan komunikasi terapeutik dengan bahasa yang jelas dan singkat, berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan, dan prognosis secara jujur dan tepat waktu, dengarkan keluhan pasien dengan penuh perhatian tanpa menghakimi, dan dampingi pasien pada saat mengalami ansietas akut. (3) Edukasi - jelaskan mekanisme ansietas dan dampaknya terhadap kesehatan, ajarkan teknik relaksasi napas dalam, ajarkan teknik distraksi (misal mendengarkan musik, membaca), ajarkan teknik visualisasi terbimbing, dan anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. (4) Kolaborasi - kolaborasi dengan psikolog atau psikiater jika ansietas berat atau berkepanjangan, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat ansiolitik jika diindikasikan. Kedua, I.09327 adalah "Terapi Relaksasi" yang didefinisikan sebagai intervensi untuk menurunkan ketegangan fisik dan emosional melalui teknik relaksasi yang sistematis. Tindakan meliputi: (1) Observasi - identifikasi kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam terapi, monitor respons fisiologis (nadi, napas, tekanan darah) sebelum dan sesudah terapi, dan monitor tingkat ansietas sebelum dan sesudah terapi. (2) Terapeutik - ciptakan lingkungan tenang dengan pencahayaan redup dan suara minim, atur posisi pasien senyaman mungkin (duduk atau berbaring), gunakan nada suara lembut dan ritmis saat memandu, dan lakukan teknik relaksasi napas dalam selama 5-10 menit atau sesuai toleransi. (3) Edukasi - jelaskan tujuan dan prosedur terapi relaksasi, ajarkan teknik relaksasi otot progresif (menegangkan dan mengendurkan kelompok otot secara berurutan), ajarkan teknik pernapasan diafragma (tarik napas melalui hidung, tahan 3 detik, hembuskan melalui mulut dengan bibir mencucu), dan anjurkan melakukan relaksasi secara mandiri 2-3 kali sehari atau saat ansietas muncul. (4) Kolaborasi - rujuk ke terapi komplementer seperti akupunktur atau terapi musik jika tersedia. Kedua intervensi ini dilakukan dengan frekuensi sesuai kebutuhan, biasanya setiap 4-6 jam atau saat pasien menunjukkan tanda ansietas. Evaluasi dilakukan setiap selesai intervensi dengan membandingkan skor ansietas sebelum dan sesudah tindakan.
Article No. 26729 | 24 Aug 2026
Klinis : Ny. C, G3P2A0, 32 tahun, baru saja melahirkan bayi laki-laki sehat dengan berat 3.800 gram secara spontan. Manajemen Aktif Kala III (MAK III) telah dilakukan termasuk penyuntikan Oksitosin 10 IU IM. Namun, setelah 15 menit, plasenta belum menunjukkan tanda-tanda lepas. Rahim teraba lembek, TFU setinggi pusat, dan darah mengalir pervaginam aktif sekitar 250 cc. Pasien tampak pucat, lemas, akral teraba dingin, dan mengeluh pusing berputar.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Retensio Plasenta dengan Perdarahan Postpartum (Atonia Uteri)
Kode ICD-10: O72.0
Deskripsi Singkat : Kondisi ini adalah kegagalan plasenta untuk lepas dan dilahirkan dalam waktu 15 menit setelah kelahiran bayi, disertai tanda-tanda syok hipovolemik akibat perdarahan aktif ±250 cc. Pada kasus ini, manajemen aktif kala III (MAK III) dengan oksitosin 10 IU IM telah dilakukan, tetapi plasenta tidak kunjung lahir. Rahim teraba lembek (atonia uteri) dan TFU setinggi pusat menunjukkan kontraksi uterus yang tidak adekuat, sehingga pembuluh darah di bekas tempat implantasi plasenta tidak dapat tertutup secara efektif. Hal ini menyebabkan perdarahan postpartum dini (dalam 24 jam pertama). Gejala pucat, lemas, akral dingin, dan pusing berputar merupakan manifestasi klinis dari kehilangan darah yang signifikan dan syok. Kode O72.0 secara spesifik merujuk pada "Third-stage hemorrhage" yang mencakup perdarahan yang terjadi pada kala III persalinan, termasuk perdarahan akibat retensio plasenta, plasenta inkarserata, atau atonia uteri. Kode ini merupakan subkategori dari O72 (Postpartum hemorrhage) dan tidak membedakan apakah perdarahan tersebut primer atau sekunder, tetapi dalam konteks ini jelas merupakan perdarahan primer yang terjadi segera setelah persalinan. Penanganan definitif memerlukan tindakan segera seperti plasenta manual, kompresi bimanual, pemberian uterotonika tambahan, dan resusitasi cairan/transfusi darah.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596