Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24636 | 29 Mar 2026
Klinis : Pengkajian dilakukan pada hari Rabu, 27 Desember 2023 dengan status obstetri G4P0A3 dengan diagnosis medis post sectio caesarea atas indikasi ketuban pecah dini (KPD). Pasien datang ke RSUD Waled pada tanggal 27 Desember 2023 pukul 07.10 WIB melalui IGD dengan kondisi ketuban telah pecah sebelum adanya tanda-tanda persalinan. Adapun ciri-ciri ketuban pecah dini yang ditemukan pada pasien yaitu keluarnya cairan dari jalan lahir secara tiba-tiba, berwarna jernih, tidak berbau, tidak dapat ditahan, serta belum disertai kontraksi uterus yang adekuat. Selanjutnya pasien dipantau di ruang tindakan dan kemudian dipindahkan ke ruang persalinan untuk pemeriksaan lanjutan. Setelah dilakukan observasi selama kurang lebih 6 jam, tidak terdapat kemajuan persalinan yang adekuat. Berdasarkan kondisi tersebut, dokter merekomendasikan tindakan persalinan dengan sectio caesarea. Pasien kemudian dijadwalkan operasi pada tanggal 27 Desember 2023 pukul 14.05 WIB. Ny. A menjalani persalinan secara sectio caesarea dan melahirkan bayi dengan berat badan 3600 gram dalam keadaan sehat. HPHT pada tanggal 29 Maret 2023 dan HPL tanggal 3 Januari 2024. Klien tidak menderita penyakit menurun ataupun penyakit menular, pasien juga mengatakan memiliki alergi sefalosprin, penicilin, nsaid. Pada masalah kehamilan pasien mengatakan mengalami mual, muntah, pusing dan nafsu makan menurun pada saat trimester 1 sampai trimester 2. Klien juga mengatakan sering buanga air kecil (BAK) pada trimester 3. Klien datang ke RSUD Waled karena klien mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD) pada hari Rabu tanggal 27 Desember 2023 pukul 06.30 WIB. Riwayat Menstruasi, menarche pada umur 13 tahun, siklus menstruasi 29 hari, lama menstruasi biasanya 7 hari, tidak mengalami gangguan saat menstruasi. Untuk riwayat KB pasien mengatakan tidak ada karena ini pasien menantikan kehadiran anaknya, untuk rencana KB pasien mengatakan KB suntik. Pengkajian kebutuhan khusus, oksigenasi, klien mengatakan tidak ada keluhan sesak nafas. Nutrisi, asupan makanan ibu: pasien mengatakan makan nasi, sayur, serta lauk dari rumah sakit dan habis satu porsi. Nafsu makan: pasien mengatakan nafsu makan sedikit meningkat. Tidak ada makanan pantangan. Cairan, pasien mengatakan setelah post operasi pasien minum air mineral 600 ml sehari dengan tiduran menggunakan sedotan. Eliminasi, tidak ada keluhan keringan berlebih, pasien terpasang kateter untuk BAK, pasien mengatakan belum BAB setelah persalinan. Pemeriksaan fisik meliputi tanda-tanda vital yaitu tekanan darah 116/78 mmHg, suhu 36,3°C, nadi 105 x/menit, dan respirasi 20 x/menit, dengan keadaan umum klien compos mentis. Pada sistem reproduksi ditemukan data yang mendukung kasus ketuban pecah dini (KPD), yaitu adanya riwayat keluarnya cairan dari jalan lahir sebelum proses persalinan dimulai, cairan berwarna jernih, tidak berbau menyengat, dan tidak dapat ditahan. Saat pengkajian awal juga tidak ditemukan kontraksi uterus yang adekuat, sehingga menunjukkan ketuban pecah sebelum inpartu. Kepala mesosefal, rambut bersih, tidak ada ketombe, berwarna hitam dan panjang. Leher simetris, tidak ada benjolan, dan tidak terdapat lesi. Payudara simetris, tidak ada benjolan, teraba keras, puting dan areola berwarna hitam kecoklatan, ASI belum keluar. Pembesaran payudara disebabkan oleh persiapan laktasi. Abdomen dalam keadaan baik, tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat, posisi fundus uteri berada di tengah, dengan kontraksi uterus baik. Genetalia didapatkan lokia ±120 cc, warna merah kecoklatan, konsistensi cair disertai gumpalan (seperti darah haid), dengan bau amis normal. Perineum utuh, dengan penilaian REEDA: kemerahan ada, edema tidak ada, ekimosis tidak ada, dan tidak terdapat discharge abnormal. Ekstremitas tidak terdapat varises.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap mikroorganisme patogen.
Kode SLKI: 1002
Deskripsi : Pengendalian Risiko Infeksi: Tindakan untuk mengurangi risiko berkembangnya infeksi yang didapat di rumah sakit.
Kode SIKI: 4400
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan kolektif untuk mengurangi insiden dan penyebaran infeksi.
Kondisi: Nyeri Akut
<Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan/atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi.
Kode SIKI: 6500
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Volume Cairan
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Pemantauan Keseimbangan Cairan: Pengumpulan dan analisis data pasien untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Manajemen Cairan/Volume: Mempromosikan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mencegah komplikasi akibat abnormalitas atau ketidakseimbangan cairan dan/atau elektrolit.
Kondisi: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Pemantauan Sirkulasi Perifer: Pengumpulan dan interpretasi data pasien untuk mempertahankan sirkulasi perifer yang adekuat.
Kode SIKI: 4090
Deskripsi : Perawatan Perioperatif: Memberikan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjalani prosedur invasif.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak jelas, tidak nyaman, atau takut disertai dengan respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu).
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Pengurangan Ansietas: Meminimalkan rasa takut, cemas, dan kekhawatiran yang berhubungan dengan antisipasi ancaman yang tidak diketahui.
Kode SIKI: 5820
Deskripsi : Pemberian Dukungan Emosional: Memberikan kepastian, penerimaan, dan dorongan selama masa stres.
-
Article No. 24637 | 29 Mar 2026
Klinis : Pengkajian dilakukan pada hari Rabu, 27 Desember 2023 dengan status obstetri G4P0A3 dengan diagnosis medis post sectio caesarea atas indikasi ketuban pecah dini (KPD). Pasien datang ke RSUD Waled pada tanggal 27 Desember 2023 pukul 07.10 WIB melalui IGD dengan kondisi ketuban telah pecah sebelum adanya tanda-tanda persalinan. Adapun ciri-ciri ketuban pecah dini yang ditemukan pada pasien yaitu keluarnya cairan dari jalan lahir secara tiba-tiba, berwarna jernih, tidak berbau, tidak dapat ditahan, serta belum disertai kontraksi uterus yang adekuat. Selanjutnya pasien dipantau di ruang tindakan dan kemudian dipindahkan ke ruang persalinan untuk pemeriksaan lanjutan. Setelah dilakukan observasi selama kurang lebih 6 jam, tidak terdapat kemajuan persalinan yang adekuat. Berdasarkan kondisi tersebut, dokter merekomendasikan tindakan persalinan dengan sectio caesarea. Pasien kemudian dijadwalkan operasi pada tanggal 27 Desember 2023 pukul 14.05 WIB. Ny. A menjalani persalinan secara sectio caesarea dan melahirkan bayi dengan berat badan 3600 gram dalam keadaan sehat. HPHT pada tanggal 29 Maret 2023 dan HPL tanggal 3 Januari 2024. Klien tidak menderita penyakit menurun ataupun penyakit menular, pasien juga mengatakan memiliki alergi sefalosprin, penicilin, nsaid. Pada masalah kehamilan pasien mengatakan mengalami mual, muntah, pusing dan nafsu makan menurun pada saat trimester 1 sampai trimester 2. Klien juga mengatakan sering buanga air kecil (BAK) pada trimester 3. Klien datang ke RSUD Waled karena klien mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD) pada hari Rabu tanggal 27 Desember 2023 pukul 06.30 WIB. Riwayat Menstruasi, menarche pada umur 13 tahun, siklus menstruasi 29 hari, lama menstruasi biasanya 7 hari, tidak mengalami gangguan saat menstruasi. Untuk riwayat KB pasien mengatakan tidak ada karena ini pasien menantikan kehadiran anaknya, untuk rencana KB pasien mengatakan KB suntik. Pengkajian kebutuhan khusus, oksigenasi, klien mengatakan tidak ada keluhan sesak nafas. Nutrisi, asupan makanan ibu: pasien mengatakan makan nasi, sayur, serta lauk dari rumah sakit dan habis satu porsi. Nafsu makan: pasien mengatakan nafsu makan sedikit meningkat. Tidak ada makanan pantangan. Cairan, pasien mengatakan setelah post operasi pasien minum air mineral 600 ml sehari dengan tiduran menggunakan sedotan. Eliminasi, tidak ada keluhan keringan berlebih, pasien terpasang kateter untuk BAK, pasien mengatakan belum BAB setelah persalinan. Pemeriksaan fisik meliputi tanda-tanda vital yaitu tekanan darah 116/78 mmHg, suhu 36,3°C, nadi 105 x/menit, dan respirasi 20 x/menit, dengan keadaan umum klien compos mentis. Pada sistem reproduksi ditemukan data yang mendukung kasus ketuban pecah dini (KPD), yaitu adanya riwayat keluarnya cairan dari jalan lahir sebelum proses persalinan dimulai, cairan berwarna jernih, tidak berbau menyengat, dan tidak dapat ditahan. Saat pengkajian awal juga tidak ditemukan kontraksi uterus yang adekuat, sehingga menunjukkan ketuban pecah sebelum inpartu. Kepala mesosefal, rambut bersih, tidak ada ketombe, berwarna hitam dan panjang. Leher simetris, tidak ada benjolan, dan tidak terdapat lesi. Payudara simetris, tidak ada benjolan, teraba keras, puting dan areola berwarna hitam kecoklatan, ASI belum keluar. Pembesaran payudara disebabkan oleh persiapan laktasi. Abdomen dalam keadaan baik, tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat, posisi fundus uteri berada di tengah, dengan kontraksi uterus baik. Genetalia didapatkan lokia ±120 cc, warna merah kecoklatan, konsistensi cair disertai gumpalan (seperti darah haid), dengan bau amis normal. Perineum utuh, dengan penilaian REEDA: kemerahan ada, edema tidak ada, ekimosis tidak ada, dan tidak terdapat discharge abnormal. Ekstremitas tidak terdapat varises.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap mikroorganisme patogen.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Perilaku pencegahan infeksi. Kriteria hasil: 1901. Menunjukkan perilaku mencuci tangan dengan benar. 1902. Menjaga kebersihan diri. 1903. Menjaga kebersihan lingkungan. 1904. Menggunakan alat pelindung diri sesuai indikasi. 1905. Menghindari kontak dengan individu yang terinfeksi. 1906. Menggunakan antibiotik sesuai program. 1907. Mengenali tanda dan gejala infeksi. 1908. Melaporkan tanda dan gejala infeksi. 1909. Suhu tubuh dalam rentang normal. 1910. Hasil laboratorium dalam rentang normal.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen infeksi. Intervensi: 4201. Pantau tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. 4202. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium yang mengindikasikan infeksi. 4203. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik pada setiap tindakan. 4204. Ajarkan cara mencuci tangan yang benar. 4205. Anjurkan untuk mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan. 4206. Anjurkan untuk menjaga kebersihan diri. 4207. Anjurkan untuk menjaga kebersihan lingkungan. 4208. Batasi pengunjung bila diperlukan. 4209. Gunakan alat pelindung diri sesuai indikasi. 4210. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. 4211. Ajarkan tanda dan gejala infeksi. 4212. Anjurkan untuk melaporkan tanda dan gejala infeksi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung sejak kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil: 1401. Melaporkan nyeri terkontrol. 1402. Menunjukkan ekspresi wajah rileks. 1403. Menunjukkan posisi tubuh yang nyaman. 1404. Melaporkan dapat beristirahat dengan cukup. 1405. Melaporkan dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. 1406. Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3500
Deskripsi : Manajemen nyeri. Intervensi: 3501. Kaji nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor pencetus). 3502. Observasi tanda-tanda nyeri non verbal (perubahan tanda vital, ekspresi wajah, perilaku). 3503. Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (nafas dalam, distraksi, relaksasi). 3504. Lakukan tindakan kenyamanan (perubahan posisi, masase, kompres hangat/dingin). 3505. Berikan analgetik sesuai program. 3506. Evaluasi efektivitas intervensi nyeri. 3507. Anjurkan untuk melaporkan nyeri.
Kondisi: Risiko Perdarahan
Kode SDKI: 0022
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami kehilangan darah dalam jumlah yang dapat mengganggu kesehatan.
Kode SLKI: 1600
Deskripsi : Pemantauan perdarahan. Kriteria hasil: 1601. Tanda vital dalam rentang normal. 1602. Warna konjungtiva, mukosa bibir, dan kuku dalam rentang normal. 1603. Produksi urin dalam rentang normal. 1604. Tingkat kesadaran dalam rentang normal. 1605. Tidak ada tanda perdarahan aktif. 1606. Hasil laboratorium dalam rentang normal.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Pemantauan perdarahan. Intervensi: 4161. Pantau tanda vital. 4162. Pantau warna konjungtiva, mukosa bibir, dan kuku. 4163. Pantau produksi urin. 4164. Pantau tingkat kesadaran. 4165. Pantau tanda perdarahan (perdarahan aktif, memar, petekie). 4166. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, trombosit). 4167. Anjurkan untuk melaporkan tanda perdarahan.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Gangguan dalam proses pengeluaran urine.
Kode SLKI: 0403
Deskripsi : Eliminasi urine. Kriteria hasil: 040301. Jumlah urine dalam rentang normal. 040302. Warna urine dalam rentang normal. 040303. Klien tidak mengeluh anyang-anyangan. 040304. Klien tidak mengeluh nyeri saat berkemih.
Kode SIKI: 0610
Deskripsi : Manajemen kateter urine. Intervensi: 061001. Pertahankan sistem kateter tetap tertutup. 061002. Jaga agar kantong urine berada di bawah kandung kemih. 061003. Kosongkan kantong urine secara teratur. 061004. Pantau jumlah, warna, dan karakter urine. 061005. Lakukan perawatan meatus setiap hari dan bila diperlukan. 061006. Lepas kateter sesuai indikasi. 061007. Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih.
Kondisi: Risiko Gangguan Ikatan antara Ibu dan Bayi
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Risiko terganggunya proses interaksi dan pembentukan hubungan emosional antara ibu dan bayi.
Kode SLKI: 1502
Deskripsi : Ikatan antara ibu dan bayi. Kriteria hasil: 150201. Melakukan kontak kulit ke kulit (skin to skin). 150202. Menunjukkan respons positif terhadap kehadiran bayi (memandang, menyentuh, mengajak bicara). 150203. Menunjukkan ekspresi kasih sayang terhadap bayi. 150204. Memberikan sentuhan yang lembut pada bayi.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Fasilitasi ikatan antara ibu dan bayi. Intervensi: 441001. Anjurkan melakukan kontak kulit ke kulit (skin to skin). 441002. Fasilitasi ibu untuk melihat, menyentuh, dan mengajak bicara bayi. 441003. Bantu ibu dalam memberikan perawatan pada bayi sesuai kemampuan. 441004. Dukung interaksi positif antara ibu dan bayi. 441005. Berikan pujian atas usaha yang dilakukan ibu.
-
Article No. 24638 | 29 Mar 2026
Klinis : keluar air air dari jalan lahir dan berwarna kehijauan Telaahdialami sejak pukul 4 dan semakin banyak merembes hingga saat ini, os merasakan mules hilang timbul sejak malam, os sedang hamil anak pertama dengan usia kehamilan 40-41 minggu Riwayat Penyakit Dahulutidak ada OKes:CM KU: sedang VAS: 8 TD:140/86 HR:92x/i RR:20x/i T:36.3 Spo2 :98% HPHT: 19/06/2025 Pemeriksaan fisik Thorax: PUL: vesikuler (+/+) ronki (-), wheezing (-) COR: BJ I/II regular Abdomen:TFU: 34cm, DJJ: 153x/i Genitalia: VT: 1 cm Ekstremitas:akral hangat,CRT<2
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi pada Ibu dan/atau Janin berhubungan dengan ketuban pecah dini dengan cairan ketuban mekonium (kehijauan)
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen pada ibu dan/atau janin, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 3406
Deskripsi : Tindakan keperawatan untuk mencegah dan memantau tanda-tanda infeksi pada ibu dan janin, serta meminimalkan komplikasi terkait. Intervensi meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan) dan kondisi umum ibu secara ketat setiap 1-2 jam untuk mendeteksi dini tanda-tanda infeksi seperti demam, takikardia, atau penurunan kesadaran. 2) Memantau karakteristik cairan ketuban (jumlah, warna, bau) setiap kali merembes atau setiap 1-2 jam, mencatat perubahan menjadi lebih keruh atau berbau busuk. 3) Memantau denyut jantung janin (DJJ) secara kontinu atau intermiten setiap 30 menit hingga 1 jam untuk mendeteksi tanda gawat janin seperti takikardia (>160x/menit) atau bradikardia (<110x/menit) yang dapat mengindikasikan infeksi atau hipoksia. 4) Membatasi pemeriksaan dalam (vaginal) hanya jika benar-benar diperlukan dan dengan teknik aseptik ketat untuk mengurangi risiko introduksi bakteri. 5) Memberikan edukasi pada ibu dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan area genital, menggunakan pembalut bersih, dan segera melaporkan jika cairan berubah warna/bau atau ibu menggigil/panas. 6) Mempersiapkan dan berkolaborasi dengan tim medis untuk terminasi kehamilan (induksi persalinan atau sectio caesarea) sesuai indikasi karena ketuban pecah dini pada usia kehamilan aterm memerlukan persalinan. 7) Mempersiapkan pemberian antibiotik profilaksis sesuai protokol atau kolaborasi.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah ibu dan janin bebas dari tanda-tanda infeksi. Indikatornya meliputi: 1) Tanda-tanda vital ibu dalam batas normal (suhu 36,5-37,5°C, nadi 60-100x/menit, tekanan darah normal). 2) Cairan ketuban yang keluar tidak menunjukkan tanda infeksi (tidak berbau busuk, jumlah tidak semakin banyak dengan warna yang semakin keruh). 3) Denyut jantung janin dalam batas normal (110-160x/menit) dengan variabilitas yang adekuat dan tanpa deselerasi yang menetap. 4) Hasil laboratorium (jika dilakukan) seperti leukosit darah ibu dalam batas normal. 5) Persalinan berlangsung dengan aman dan bayi lahir tanpa tanda-tanda infeksi awal seperti sepsis. 6) Ibu dan keluarga memahami tanda-tanda bahaya infeksi yang perlu dilaporkan. Pencapaian SLKI 3406 secara komprehensif akan mendukung tercapainya SIKI 4501, dengan titik kritis pemantauan berkelanjutan pada suhu ibu, DJJ, dan karakteristik cairan ketuban hingga persalinan terjadi.
-
Article No. 24639 | 29 Mar 2026
Klinis : Tgl. Lahir 02-12-1952 (73Y 3M 27D) dialami sudah 4 hari ini, os merasakan tidak BAB sudah 4 hari ini namun flatus masih baik, os merasakan mual hingga muntah, os merasakan demam naik turun tak tentu waktu sejak semalam Riwayat Penyakit DahuluNeurogenic Bladder BPH HT HNP OKes:CM KU: sedang VAS: 8 TD:160/90 HR:102x/i RR:20x/i T:36.3 Spo2 :98% Pemeriksaan fisik Thorax: PUL: vesikuler (+/+) ronki (-), wheezing (-) COR: BJ I/II regular Abdomen:nyeri tekan epigastrium, distensi minimal,peristaltic baik Ekstremitas:akral hangat,CRT<2
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Konstipasi
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Konstipasi adalah keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami statis pada usus besar, mengakibatkan eliminasi feses yang jarang atau sulit. Pada kasus ini, pasien lansia (73 tahun) dengan riwayat HNP dan neurogenic bladder (yang dapat mempengaruhi kontrol saraf otonom pada usus) mengalami tidak BAB selama 4 hari, disertai mual, muntah, demam, nyeri tekan epigastrium, dan distensi minimal. Kombinasi obstipasi (tidak BAB) dengan gejala mual, muntah, dan nyeri perut mengarah pada kemungkinan ileus atau obstruksi fungsional usus, yang merupakan komplikasi serius dari konstipasi yang tidak tertangani. Faktor usia, riwayat neurologis, dan gejala sistemik (demam) memperberat diagnosis ini.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI untuk Konstipasi (L.03115) berfokus pada pemulihan dan pemeliharaan eliminasi feses yang normal. Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) Pengkajian Komprehensif: Memantau frekuensi, konsistensi, dan upaya BAB; mengkaji bunyi usus (dari data peristaltik baik, namun perlu pemantauan terus menerus untuk mendeteksi perubahan menjadi hiperaktif atau hipoaktif); mengkaji distensi abdomen dan nyeri (sudah ada nyeri tekan epigastrium dan distensi minimal). 2) Manajemen Diet dan Cairan: Kolaborasi untuk pemberian cairan intravena mengingat pasien muntah dan berisiko dehidrasi, serta perencanaan pemberian diet tinggi serat secara bertahap setelah obstipasi teratasi dan fungsi usus normal kembali. 3) Intervensi Farmakologis dan Terapeutik: Kolaborasi pemberian laksatif, supositoria, atau enema sesuai instruksi dokter setelah penyebab obstruksi mekanis disingkirkan. 4) Edukasi dan Latihan: Memberikan edukasi tentang pentingnya mobilisasi (disesuaikan kondisi HNP), respons terhadap dorongan defekasi, dan teknik relaksasi. Pada kasus ini, prioritas adalah mengatasi akumulasi feses dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti impaksi atau perforasi, sambil memantau ketat tanda-tanda obstruksi usus.
Kode SIKI: I.01279
Deskripsi : SIKI untuk Konstipasi (I.01279) mencakup kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Kriteria tersebut adalah: 1) Eliminasi Feses Normal: Pasien mampu mengeluarkan feses lunak dengan frekuensi sesuai pola normal individu (minimal 3 kali per minggu) tanpa rasa tidak nyaman yang berlebihan. Pada pasien ini, target awal adalah terjadinya eliminasi feses. 2) Penurunan Gejala: Distensi abdomen berkurang atau hilang, bunyi usus normal (aktif dan reguler), serta nyeri tekan epigastrium menghilang. 3) Pemahaman dan Perilaku: Pasien dan keluarga memahami faktor penyebab konstipasi dan komplikasinya, serta dapat menyebutkan modifikasi gaya hidup dan diet untuk mencegah terulang kembali. 4) Tidak ada Komplikasi: Tidak terjadi peningkatan distensi, nyeri perut hebat, muntah fekulen, atau tanda-tanda syok septik yang mengindikasikan obstruksi atau perforasi usus. Mengingat adanya demam dan muntah, kriteria keberhasilan juga termasuk suhu tubuh normal dan tidak ada mual/muntah. Pencapaian SIKI ini menunjukkan resolusi dari kondisi akut dan pencegahan komplikasi serius.
-
Article No. 24640 | 29 Mar 2026
Klinis : pasien intra operatif amputasi bilateral tungkai kaki, perdarahan 150 cc, pasien mengeluhkan pusing dan mual
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Amputasi Traumatis Tungkai Bawah Bilateral, Perdarahan Pascaoperatif, Gejala Pusing dan Mual Pasca Anestesi/Operasi
Kode ICD-10: S88.01 (Amputasi traumatis pada tingkat lutut, tungkai bawah), Y92.240 (Ruang operasi sebagai tempat kejadian), R11.0 (Mual), R42 (Pusing dan kliyengan), T81.0 (Perdarahan dan hematom yang menyusul suatu prosedur, tidak diklasifikasikan di tempat lain)
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan pasien yang baru saja menjalani prosedur amputasi traumatis pada kedua tungkai bawah di tingkat lutut (bilateral) di ruang operasi, dengan komplikasi perdarahan intraoperatif sebanyak 150 cc. Pasien juga melaporkan gejala pusing dan mual pasca prosedur. Kode S88.01 secara spesifik mengklasifikasikan amputasi traumatis pada tingkat lutut. Kode Y92.240 mencatat lokasi kejadian (ruang operasi) yang relevan untuk data epidemiologi. Gejala pusing dan mual dikodekan secara terpisah sebagai R42 dan R11.0, yang umum terjadi sebagai efek samping anestesi, respons tubuh terhadap trauma bedah besar, atau hipovolemia ringan dari kehilangan darah. Perdarahan selama prosedur diklasifikasikan di bawah T81.0 sebagai komplikasi prosedur. Kodifikasi yang komprehensif seperti ini penting untuk merekam keseluruhan gambaran klinis, memungkinkan pelacakan hasil dan komplikasi, serta perencanaan perawatan lanjutan seperti manajemen nyeri, rehabilitasi, dan pemantauan tanda-tanda syok atau infeksi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24641 | 29 Mar 2026
Klinis : pasien intra operatif amputasi bilateral tungkai kaki, perdarahan 150 cc, pasien mengeluhkan pusing dan mual
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Syok Hipovolemik
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan volume sirkulasi darah yang dapat mengancam jiwa.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan. Tekanan darah sistolik pasien dipertahankan >90 mmHg (atau sesuai baseline pasien), denyut nadi 60-100 kali/menit dan teraba kuat, laju pernapasan 12-20 kali/menit, dan suhu tubuh 36,5-37,5°C. Haluaran urine dipertahankan >30 mL/jam, menunjukkan perfusi ginjal yang adekuat. Kulit hangat dan kering, pengisian kapiler < 3 detik. Tingkat kesadaran pasien compos mentis (GCS 15). Tidak ada keluhan pusing, mual, atau rasa haus yang berlebihan. Nilai laboratorium seperti hemoglobin dan hematokrit stabil dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Pemantauan tanda-tanda vital dan status hemodinamik. Perawat mengukur dan mendokumentasikan tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, dan saturasi oksigen secara berkala (misalnya setiap 15 menit) sesuai kondisi kritis pasien. Memantau warna, kehangatan, dan kelembaban kulit serta pengisian kapiler. Memantau haluaran urine setiap jam melalui kateter urine. Menilai tingkat kesadaran dan respons sensorik pasien secara terus-menerus. Memantau drainase luka dan memperkirakan jumlah perdarahan. Melakukan pemantauan elektrokardiografi (EKG) terus-menerus untuk mendeteksi aritmia akibat hipovolemia. Berkolaborasi dalam pemberian cairan intravena dan transfusi darah sesuai resep dokter untuk mengembalikan volume intravaskuler. Memposisikan pasien dengan elevasi tungkai (kecuali pada area amputasi) dan kepala datar (trendelenburg modified) untuk meningkatkan aliran darah ke otak. Menjaga kehangatan pasien dengan selimut untuk mencegah hipotermia yang dapat memperburuk koagulopati. Memberikan oksigen tambahan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. Melakukan kolaborasi dan memantau hasil pemeriksaan laboratorium seperti hemoglobin, hematokrit, elektrolit, dan fungsi koagulasi. Memberikan edukasi dan penjelasan kepada keluarga tentang kondisi dan tindakan yang dilakukan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol nyeri. Pasien melaporkan penurunan skala nyeri (misalnya dari skala 7-8 menjadi ≤3 pada skala 0-10). Ekspresi wajah pasien rileks, tidak menyeringai atau mengerutkan dahi. Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup. Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) dalam rentang normal atau mendekati baseline pasien. Pasien mampu melakukan mobilisasi sesuai instruksi (misalnya mengubah posisi di tempat tidur) tanpa menunjukkan tanda-tanda distress nyeri yang berat. Pasien menunjukkan pemahaman tentang teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri dan melaporkan kepuasan terhadap manajemen nyeri yang diberikan.
Kode SIKI: 2330
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Perawat melakukan pengkajian nyeri komprehensif termasuk lokasi, intensitas (menggunakan skala nyeri), karakter, durasi, dan faktor pemicu serta peredanya. Mengobservasi respons nonverbal terhadap nyeri seperti ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah, dan menangis. Memberikan analgetik sesuai resep dokter (seperti opioid atau non-opioid) dengan tepat waktu, mempertimbangkan rute pemberian (intravena pada fase intra-operatif/pasca bedah segera). Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti teknik distraksi, relaksasi napas dalam, sentuhan terapeutik, dan penciptaan lingkungan yang tenang. Melakukan reposisi pasien dengan teknik yang tepat untuk memberikan kenyamanan dan mengurangi tekanan pada area tertentu. Memberikan kompres dingin pada area sekitar amputasi (jika diindikasikan dan sesuai protokol) untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri. Mengevaluasi keefektifan intervensi farmakologis dan non-farmakologis setelah pemberian (misalnya 30 menit setelah pemberian obat) dengan menilai kembali skala nyeri. Mendokumentasikan semua temuan, intervensi, dan evaluasi secara akurat. Berkolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkontrol dengan regimen yang ada. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri dan metode penatalaksanaannya.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Luka operasi/tempat insisi menunjukkan proses penyembuhan tanpa tanda-tanda infeksi seperti kemerahan (rubor), bengkak (tumor), panas (kalor), nyeri (dolor), dan adanya pus/drainase purulen. Suhu tubuh pasien tetap dalam rentang normal (36,5-37,5°C). Tidak ada tanda-tanda sepsis seperti takikardia, takipnea, atau penurunan kesadaran. Hasil pemeriksaan laboratorium seperti leukosit dalam batas normal. Pasien dan keluarga menunjukkan pemahaman dan mampu mendemonstrasikan teknik perawatan luka yang aseptik.
Kode SIKI: 6550
Deskripsi : Perawatan Luka. Perawat melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik ketat, termasuk mencuci tangan sebelum dan setelah prosedur, menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai (sarung tangan steril). Membersihkan luka dengan larutan antiseptik sesuai protokol (misalnya NaCl 0,9% atau antiseptik yang ditentukan). Memperhatikan karakteristik luka termasuk jenis jaringan, adanya granulasi, epitelisasi, serta karakteristik drainase (jumlah, warna, konsistensi, bau). Melakukan perban/balutan luka dengan kasa steril dan teknik yang tepat untuk menyerap eksudat dan melindungi dari kontaminasi. Memantau dan mendokumentasikan kondisi luka setiap kali perawatan. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi dan pentingnya menjaga kebersihan luka. Menerapkan prinsip pencegahan infeksi nosokomial seperti kebersihan tangan, penggunaan jarum suntik sekali pakai, dan pembersihan lingkungan. Berkolaborasi dalam pemberian antibiotik profilaksis atau terapeutik sesuai resep dokter dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Memastikan nutrisi pasien adekuat (protein dan vitamin C) untuk mendukung penyembuhan luka.
Kondisi: Gangguan Citra Tubuh
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Perubahan persepsi terhadap tubuh yang mengakibatkan perubahan perilaku dan perasaan.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Penerimaan terhadap citra tubuh. Pasien mulai mengakui dan menerima perubahan pada tubuhnya. Pasien dapat melihat, menyentuh, dan membicarakan area tubuh yang mengalami perubahan (lokasi amputasi) tanpa menunjukkan reaksi penolakan atau distress emosional yang berat. Pasien mulai berpartisipasi dalam perawatan diri yang melibatkan bagian tubuh yang berubah. Pasien mengungkapkan perasaan dan kekhawatiran tentang perubahan tubuhnya kepada perawat atau keluarga. Pasien menunjukkan minat untuk mempelajari tentang alat bantu (prostetik) dan adaptasi yang dapat dilakukan di masa depan.
Kode SIKI: 5220
Deskripsi : Peningkatan Citra Tubuh. Perawat membangun hubungan saling percaya dan memberikan lingkungan yang supportive serta empatik. Mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan kekhawatiran tentang perubahan tubuhnya. Memberikan informasi yang jujur dan realistis tentang prosedur amputasi dan perubahan yang terjadi. Membantu pasien untuk secara bertahap melihat dan menyentuh area yang diamputasi, dengan pendekatan yang sensitif dan tidak memaksa. Melibatkan pasien dalam perawatan luka secara bertahap sesuai kesiapan. Memberikan pujian atas keberhasilan kecil pasien dalam beradaptasi. Mengidentifikasi dan memperkuat kekuatan serta koping positif yang dimiliki pasien. Melakukan kolaborasi dengan tim rehabilitasi (fisioterapis, terapis okupasi) dan psikolog/psikiater jika diperlukan. Memberikan informasi tentang kelompok dukungan (support group) bagi penyandang amputasi. Melibatkan keluarga dalam proses penerimaan dan memberikan dukungan emosional.
-
Article No. 24642 | 29 Mar 2026
Klinis : Pasien berinisial Nn. R berusia 18 tahun merupakan seorang remaja yang baru lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat ini pasien sedang berada pada fase transisi menuju pendidikan yang lebih tinggi, namun pasien mengaku mengalami kebingungan dalam menentukan jurusan perkuliahan yang ingin dipilih. Pasien mengatakan bahwa ia sebenarnya memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun masih merasa ragu dan belum yakin dengan kemampuan maupun minat yang dimilikinya. Selain kebingungan dalam menentukan pilihan pendidikan, pasien juga menghadapi beberapa permasalahan dalam lingkungan keluarga yang turut memengaruhi kondisi psikologisnya. Pasien berasal dari keluarga yang orang tuanya telah bercerai sejak beberapa tahun yang lalu. Setelah perceraian tersebut, pasien lebih banyak tinggal bersama kakek dan neneknya di rumah keluarga yang berada di wilayah Jakarta barat. Ayah kandung pasien saat ini tidak lagi tinggal bersama dan diketahui tidak memberikan dukungan finansial terhadap kebutuhan pendidikan pasien. Saat dilakukan wawancara, pasien menyampaikan bahwa ibunya bekerja di luar kota dan satu-satunya pihak yang saat ini memberikan dukungan finansial. Pasien juga mengatakan bahwa kondisi ekonomi keluarga saat ini tergolong pas-pasan sehingga ia merasa khawatir mengenai biaya pendidikan apabila nantinya melanjutkan ke perguruan tinggi. Pasien yang saat ini tinggal bersama kakek dan neneknya yang sudah lanjut usia. Menurut pasien, kakek dan neneknya cenderung bersikap pasif. Pasien juga mengatakan bahwa ia merasa kurang nyaman untuk menceritakan perasaannya karena khawatir akan menambah beban pikiran kakek dan neneknya. Dari hasil pengamatan selama proses pengkajian, pasien tampak pendiam, berbicara dengan suara pelan, dan beberapa kali terlihat ragu ketika menjawab pertanyaan. Ekspresi wajah pasien terlihat murung dan sesekali menunduk saat membicarakan kondisi keluarganya. Pasien juga terlihat sedikit gelisah ketika membicarakan rencana masa depan dan pendidikan yang akan ditempuh.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI
Berdasarkan data pengkajian pada Nn. R (18 tahun), seorang remaja yang sedang dalam fase transisi pendidikan dan menghadapi berbagai stresor keluarga serta finansial, berikut adalah rumusan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang relevan sesuai standar PPNI.
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Kode: D.0093
Nama Diagnosa: Koping Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian yang valid tentang stresor, ketidakmampuan untuk memilih respons yang tepat, dan/atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia.
Rumusan Diagnosa Keperawatan:
Koping Tidak Efektif (D.0093) berhubungan dengan dukungan sosial tidak adekuat, krisis situasional, krisis maturasi, dan sumber daya tidak adekuat, ditandai dengan pasien mengungkapkan kebingungan dalam menentukan jurusan perkuliahan, ragu dengan kemampuan/minat, khawatir mengenai
Article No. 24643 | 29 Mar 2026
Klinis : Kelp V kasus 4 Kasus 4 Ny. L, 26 tahun, G1P0A0, usia kehamilan 39 minggu diruang bersalin dengan keluahan nyeri kontraksi uterus sejak 14 jam yang lalu, skala nyeri 7, dan belum terjadi kemajuan persalinan. Pasien tampak kelelahan dan mengatakan ingin segera melahirkan. Hasil pengkajian: TD: 110/70 mmHg, N: 100 x/menit, RR: 24 x/menit, S: 37,2°C, kontraksi: kuat, frekuensi sering, DJJ: 165 x/menit, TBJ: 4000 gram, dilatasi serviks 6 cm (tidak maju dalam 4 jam), kepala janin belum turun, ketuban sudah pecah, dan partograf: garis waspada terlampaui.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Kelelahan terkait Proses Persalinan Kala I Fase Aktif yang Memanjang (Prolonged Active Phase)
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kasus Ny. L, nyeri dirasakan dengan skala 7 selama kontraksi uterus yang kuat dan sering, berlangsung selama 14 jam tanpa kemajuan persalinan yang adekuat.
Kode SLKI: L.03108
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Luaran yang diharapkan adalah nyeri pasien teratasi yang ditandai dengan: skala nyeri menurun, ekspresi nyeri menurun, tanda vital dalam rentang normal, mampu menggunakan teknik nonfarmakologis, dan melaporkan nyeri berkurang. Intervensi keperawatan diarahkan untuk mencapai luaran ini dengan memantau karakteristik nyeri, memberikan kenyamanan, mengajarkan teknik pernapasan dan relaksasi, serta kolaborasi pemberian analgesik jika diperlukan. Pada persalinan, penatalaksanaan nyeri sangat krusial karena nyeri yang tidak tertahankan dapat meningkatkan stres, kelelahan, dan menghambat kemajuan persalinan.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi spesifik ini meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor pencetus). 2) Mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan. 3) Mengajarkan dan mendukung penggunaan teknik nonfarmakologis (pernapasan dalam, relaksasi, pengalihan, posisi yang nyaman, masase, kompres hangat di punggung bawah). 4) Menciptakan lingkungan yang tenang. 5) Memberikan informasi tentang kemajuan persalinan untuk mengurangi kecemasan yang memperberat nyeri. 6) Berkolaborasi dengan bidan atau dokter dalam pemberian farmakoanalgesia sesuai protokol. Implementasi SIKI ini harus terus menerus dievaluasi efektivitasnya melalui skala nyeri dan respons pasien.
Kondisi: Kelelahan terkait Proses Persalinan yang Lama dan Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kelelahan adalah perasaan lelah yang sangat mengganggu secara fisik dan mental, serta berkepanjangan, yang mengurangi kapasitas untuk bekerja secara fisik dan mental. Ny. L mengalami kelelahan yang tampak secara fisik dan diungkapkan secara verbal setelah 14 jam kontraksi tanpa kemajuan persalinan (dilatasi mandek di 6 cm selama 4 jam, partograf melewati garis waspada). Kelelahan ini dapat menyebabkan inersia uteri dan menghambat proses persalinan lebih lanjut.
Kode SLKI: L.09031
Deskripsi : Status Energi. Luaran yang diharapkan adalah pasien memiliki energi yang memadai untuk aktivitas yang diharapkan, ditandai dengan: melaporkan peningkatan tingkat energi, mampu melakukan aktivitas yang diperlukan (mendorong saat persalinan nanti), tanda vital stabil, dan tampak istirahat cukup. Dalam konteks persalinan, tujuan utamanya adalah memulihkan energi pasien untuk menghadapi fase mengejan dan melahirkan. Tanpa energi yang cukup, partus dapat terhambat dan risiko intervensi obstetri meningkat.
Kode SIKI: I.10031
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi ini meliputi: 1) Memonitor tingkat kelelahan secara subjektif dan objektif. 2) Mengatur jadwal aktivitas dan istirahat (memanfaatkan interval antar kontraksi untuk istirahat maksimal). 3) Membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri untuk menghemat energi. 4) Menganjurkan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat sesuai izin (biasanya cairan IV dan makanan ringan/cair). 5) Memposisikan pasien dengan posisi yang nyaman dan menghemat energi (misal, miring, semi-fowler). 6) Memberikan dukungan emosional untuk mengurangi beban psikologis yang menguras energi. 7) Meminimalkan gangguan lingkungan untuk memfasilitasi istirahat. Intervensi ini vital untuk memutus siklus kelelahan-persalinan tidak maju.
Kondisi: Risiko Tinggi Cedera pada Ibu dan Janin terkait Disproporsi Sefalopelvik dan Persalinan Macet
Kode SDKI: D.0022
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera adalah keadaan rentan terhadap cedera fisik akibat kondisi internal atau eksternal, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada kasus ini, faktor risiko sangat jelas: persalinan kala I fase aktif yang memanjang (prolonged active phase) dengan dilatasi serviks yang mandek, ketuban sudah pecah (risiko infeksi), kepala janin belum turun, dan perkiraan berat janin 4000 gram (makrosomia). Kombinasi ini mengindikasikan kemungkinan disproporsi sefalopelvik (CPD) atau inersia uteri, yang berisiko menyebabkan trauma jalan lahir, ruptur uteri, distosia bahu, asfiksia janin (DJJ 165 x/menit menunjukkan takikardia janin, mungkin tanda gawat janin), dan infeksi.
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : Status Keselamatan: Fisik. Luaran yang diharapkan adalah pasien bebas dari cedera, ditandai dengan: tidak ada tanda-tanda trauma/cedera, tanda vital dalam rentang normal, parameter janin (DJJ, pola kontraksi) dalam batas aman, dan komplikasi dapat dicegah atau terdeteksi dini. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan keselamatan ibu dan janin melalui pemantauan ketat dan persiapan untuk tindakan eskalasi.
Kode SIKI: I.08246
Deskripsi : Pemantauan Keselamatan. Intervensi ini meliputi: 1) Memantau dan mendokumentasikan kontraksi uterus (frekuensi, durasi, kekuatan) serta respons janin (DJJ) secara ketat dan berkelanjutan. 2) Memantau tanda-tanda infeksi (suhu, cairan ketuban, leukosit) karena ketuban sudah pecah. 3) Memantau kemajuan persalinan (penurunan kepala, dilatasi serviks) dan melaporkan tidak adanya kemajuan. 4) Memantau tanda-tanda gawat janin (takikardia, bradikardia, deselerasi). 5) Memantau tanda-tanda distress ibu (perubahan tanda vital, nyeri abdomen abnormal). 6) Mempersiapkan pasien untuk kemungkinan tindakan obstetri seperti seksio sesarea (persiapan fisik, informed consent, dukungan psikologis). 7) Berkolaborasi dengan bidan/dokter dalam penilaian dan keputusan klinis lebih lanjut. Intervensi ini bersifat protektif dan antisipatif terhadap komplikasi yang mengancam jiwa.
Article No. 24644 | 29 Mar 2026
Klinis : Pasien berinisial Nn. R berusia 18 tahun merupakan seorang remaja yang baru lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat ini pasien sedang berada pada fase transisi menuju pendidikan yang lebih tinggi, namun pasien mengaku mengalami kebingungan dalam menentukan jurusan perkuliahan yang ingin dipilih. Pasien mengatakan bahwa ia sebenarnya memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun masih merasa ragu dan belum yakin dengan kemampuan maupun minat yang dimilikinya. Selain kebingungan dalam menentukan pilihan pendidikan, pasien juga menghadapi beberapa permasalahan dalam lingkungan keluarga yang turut memengaruhi kondisi psikologisnya. Pasien berasal dari keluarga yang orang tuanya telah bercerai sejak beberapa tahun yang lalu. Setelah perceraian tersebut, pasien lebih banyak tinggal bersama kakek dan neneknya di rumah keluarga yang berada di wilayah Jakarta barat. Ayah kandung pasien saat ini tidak lagi tinggal bersama dan diketahui tidak memberikan dukungan finansial terhadap kebutuhan pendidikan pasien. Saat dilakukan wawancara, pasien menyampaikan bahwa ibunya bekerja di luar kota dan satu-satunya pihak yang saat ini memberikan dukungan finansial. Pasien juga mengatakan bahwa kondisi ekonomi keluarga saat ini tergolong pas-pasan sehingga ia merasa khawatir mengenai biaya pendidikan apabila nantinya melanjutkan ke perguruan tinggi. Pasien yang saat ini tinggal bersama kakek dan neneknya yang sudah lanjut usia. Menurut pasien, kakek dan neneknya cenderung bersikap pasif. Pasien juga mengatakan bahwa ia merasa kurang nyaman untuk menceritakan perasaannya karena khawatir akan menambah beban pikiran kakek dan neneknya. Dari hasil pengamatan selama proses pengkajian, pasien tampak pendiam, berbicara dengan suara pelan, dan beberapa kali terlihat ragu ketika menjawab pertanyaan. Ekspresi wajah pasien terlihat murung dan sesekali menunduk saat membicarakan kondisi keluarganya. Pasien juga terlihat sedikit gelisah ketika membicarakan rencana masa depan dan pendidikan yang akan ditempuh.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI
Berdasarkan hasil pengkajian pada Nn. R, 18 tahun, ditemukan beberapa permasalahan yang signifikan terkait fase transisi, identitas diri, dukungan sosial, dan kondisi ekonomi keluarga. Analisis data mengarah pada penetapan diagnosa keperawatan utama sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Kode
Diagnosa Keperawatan
Definisi
D.0084
Gangguan Identitas Pribadi
Ketidakmampuan untuk membedakan diri dari orang lain atau lingkungan, atau ketidakmampuan untuk mengintegrasikan berbagai aspek diri menjadi satu kesatuan yang koheren.
Penjelasan Diagnosa Keperawatan:
Diagnosa Gangguan Identitas Pribadi (D.0084) sangat relevan dengan kondisi Nn. R. Pada usia 18 tahun, Nn. R berada pada fase krusial perkembangan remaja akhir menuju dewasa awal, di mana tugas perkembangan utamanya adalah pembentukan identitas diri yang kuat (Erikson: Identity vs. Role Confusion). Kebingungan dalam menentukan jurusan perkuliahan, keraguan terhadap kemampuan dan minat diri, serta kegelisahan akan masa depan, secara langsung mencerminkan kesulitan Nn. R dalam mengintegrasikan berbagai aspek dirinya dan menetapkan arah hidup.
Penyebab (Etiologi) yang Berhubungan:
- Krisis Maturasi: Transisi dari SMA ke perguruan tinggi pada usia 18 tahun merupakan krisis perkembangan yang menuntut individu untuk membuat keputusan besar tentang masa depan dan identitas profesional.
- Krisis Situasional: Perceraian orang tua, kurangnya dukungan finansial dari ayah, dan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan menciptakan tekanan dan ketidakpastian yang signifikan.
- Kurang Dukungan Sosial: Tinggal bersama kakek-nenek yang pasif dan merasa tidak nyaman untuk berbagi perasaan, serta ibu yang bekerja di luar kota, menyebabkan Nn. R merasa kurang mendapatkan dukungan emosional yang dibutuhkan dalam menghadapi krisis ini.
Data Subjektif (DS) yang Mendukung:
-
Article No. 24645 | 29 Mar 2026
Klinis : Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera biologis (respon inflamasi billier) D.0077 hal.172
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: