Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26301 | 21 Jun 2026
Klinis : Keluhan Utama Nyeri pada seluruh tubuh post tersengat lebah _RPS_ P/B datang dengan keluhan nyeri pada seluruh tubuh post tersengat lebah saat sedang bersih-bersih di belakang rumah 1 jam SMRS. Pada kulit seluruh tubuh didapatkan bintik-bintik ungu kehitaman dan bengkak. Pasien sempat kejang 1x di IGD, namun sudah berhenti sebelum diazepam dimasukkan. Keluhan mual (-), muntah (-), demam (-), sesak (-), nyeri dada (-), mimisan (-) disangkal. Oleh keluarga pasien dibawa ke IGD RSSP. *RPD* Riwayat Penyakit sistemik (-) Riwayat Alergi (-) Riwayat Operasi (-) Riwayat Trauma (-) Ku sedang, GCS E3V5M6 Somnolen TD: 82/46 mmHg N:73 x/m RR: 22 x/m Suhu: 36.7 SpO2: 98% _Status Generalis_ Kepala: papul kehitaman, NT (+), tidak teraba sengatan, bleeding (-) Mata: subconjungtival bleeding (-/-), CA (-/-) Hidung: epistaksis (-/-) Mulut: gusi berdarah (-) Leher: pembesaran KGB (-) Thorak: tidak terdapat papul kehitaman, tidak teraba sengatan, bleeding (-), NT (-) Abdomen: tidak terdapat papul kehitaman, tidak teraba sengatan, bleeding (-), NT (-) Ekstremitas atas: papul kehitaman, NT (+), tidak teraba sengatan, bleeding (-), ROM bebas, akral hangat, CRT <2detik Ekstremitas bawah: papul kehitaman, NT (+), tidak teraba sengatan, bleeding (-), ROM bebas, akral hangat, CRT <2detik *Laboratorium RSSP Sragen (21/06/26)* Hb 11.72 AE 4.61 *Hmt 37.0 (L)* *AL 17.39 (H)* AT 331 Goldar B *PT 26.1 duplo (H)* *INR 2.39 (H)* *APTT >400 duplo (H)* GDS 185 *SGOT 55 (H)* SGPT 9 Ur 38 *Cr 0.96 (H)*
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut pada Seluruh Tubuh Post Tersengat Lebah (Reaksi Anafilaksis/Envenomasi Sistemik)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial (seperti yang terjadi pada envenomasi masif akibat sengatan lebah) atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut, dengan onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat yang dapat diantisipasi atau diprediksi, berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kasus ini, pasien mengalami nyeri pada seluruh tubuh yang bersifat akut, timbul mendadak setelah sengatan lebah, disertai manifestasi sistemik seperti bintik-bintik ungu kehitaman (purpura/petekie) dan bengkak (edema) yang mengindikasikan kerusakan jaringan luas akibat toksin lebah. Nyeri ini diperparah oleh reaksi inflamasi sistemik dan kemungkinan koagulopati (terlihat dari peningkatan PT, APTT, INR) yang menyebabkan perdarahan mikro pada jaringan. Pasien juga mengalami penurunan kesadaran (GCS E3V5M6, somnolen) dan hipotensi (TD 82/46 mmHg) yang merupakan bagian dari spektrum syok anafilaktik atau toksik, sehingga nyeri yang dirasakan sangat kompleks karena melibatkan komponen nosiseptif (kerusakan jaringan) dan neuropatik (iritasi saraf oleh toksin).
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (Skala Nyeri) didefinisikan sebagai persepsi sensorik dan emosional yang terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional. Luaran yang diharapkan pada pasien ini adalah penurunan skala nyeri dari tingkat berat (skala 7-10) menjadi ringan (skala 1-3) dalam waktu 1x24 jam setelah intervensi. Indikator yang dapat diukur meliputi: (1) Kemampuan mengontrol nyeri (misalnya pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus dan menggunakan teknik nonfarmakologi); (2) Ekspresi nyeri (pasien tidak lagi meringis, gelisah, atau menangis); (3) Tanda vital stabil (tekanan darah meningkat >90/60 mmHg, denyut nadi normal 60-100 x/menit, respirasi normal 12-20 x/menit); (4) Kemampuan istirahat/tidur (pasien dapat beristirahat tanpa sering terbangun karena nyeri); (5) Keluhan nyeri subjektif berkurang. Target spesifik pada pasien ini adalah tercapainya kenyamanan fisiologis mengingat kondisi hemodinamik yang tidak stabil akibat syok, sehingga penanganan nyeri harus diintegrasikan dengan stabilisasi sirkulasi dan koagulasi.
Kode SIKI: I.08238 (Manajemen Nyeri) dan I.02069 (Manajemen Syok)
Deskripsi : Intervensi utama yang diterapkan adalah Manajemen Nyeri (I.08238) yang didefinisikan sebagai serangkaian tindakan untuk mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau emosional yang tidak menyenangkan melalui pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Tindakan spesifik meliputi: (1) Observasi: identifikasi skala nyeri secara komprehensif (PQRST: Provokatif, Quality, Region, Severity, Time), amati ekspresi nonverbal (meringis, gelisah), pantau tanda vital setiap 15 menit selama fase akut, dan evaluasi respons terhadap terapi; (2) Terapeutik: berikan posisi nyaman semi-fowler atau sesuai keinginan pasien, ciptakan lingkungan tenang dengan pencahayaan redup, lakukan kompres dingin pada area sengatan yang bengkak (hati-hati pada area dengan purpura karena risiko perdarahan lebih lanjut), dan lakukan teknik distraksi napas dalam; (3) Kolaborasi: berikan analgetik sesuai indikasi dokter—mengingat adanya koagulopati (PT 26.1, APTT >400, INR 2.39) dan risiko perdarahan, penggunaan NSAID harus dihindari, sehingga pilihan utama adalah parasetamol intravena atau opioid dosis rendah (morfin/fentanil) dengan monitoring ketat depresi napas dan hemodinamik. Intervensi kedua yang tidak terpisahkan adalah Manajemen Syok (I.02069) mengingat kondisi hipotensi berat (TD 82/46 mmHg) dan penurunan kesadaran. Tindakan meliputi: (1) Observasi: pantau status hemodinamik (tekanan darah, nadi, MAP, CVP jika terpasang), pantau tanda-tanda perfusi perifer (akral, CRT, produksi urin), dan pantau status koagulasi serial (PT, APTT, INR, fibrinogen, D-dimer); (2) Terapeutik: pasang jalur intravena besar (16G atau 18G) untuk resusitasi cairan, berikan posisi trendelenburg jika tidak ada kontraindikasi, dan pertahankan suhu tubuh normotermia; (3) Kolaborasi: berikan resusitasi cairan kristaloid (RL atau NaCl 0,9%) 20-30 ml/kgBB dalam 30 menit pertama, koreksi koagulopati dengan plasma beku segar (FFP) atau kriopresipitat sesuai advis dokter, berikan vasopressor (norepinefrin/dopamin) jika cairan tidak responsif, dan berikan antihistamin (difenhidramin) serta kortikosteroid (metilprednisolon) untuk reaksi anafilaksis. Kedua intervensi ini dijalankan secara simultan karena penanganan nyeri pada pasien syok toksik/anafilaktik memerlukan prioritas pada stabilisasi sirkulasi dan hemostasis sebelum pemberian analgetik dosis penuh. Edukasi kepada keluarga mengenai kondisi kritis dan rencana tindakan juga merupakan bagian integral dari intervensi keperawatan.
-
Article No. 26302 | 21 Jun 2026
Klinis : P/B dayang dengan keluhan sulit menelan sejak kemarin, kaki kanan post tertusuk kayu 1 minggu lalu, tiap minum tersedak, badan lemas +, leher kaku + GDS: High R.HT, DM KU lemah, GCS E4VafasiaM6 TD: 178/97 mmHg HR: 112x/menit RR: 20x/m SB: 36,3 C SpO2: 97% Mata : CA -/-, SI -/-, isokor 3mm/3mm Leher: kaku kuduk + Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+, RBH -/-, whz -/- Abdomen :Supel,BU (+), NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : Akral hangat -/-, CRT < 2s Ekstremitas Inferior : akral hangat-/-,/, crt < 2s LAB (19/6/2026) Hemoglobin 17.68 ↑ Eritrosit 6.23 ↑ Hematokrit 54.6 ↑ Leukosit 16.43 ↑ Trombosit 421 Natrium 132 ↓ Kalium 6.9 ↑↑ Klorida 99 Kalsium ion 1.1 pH 7.55 ↑ GDS 806 ↑↑ → 412 Ureum 96.3 ↑ Kreatinin 1.34 ↑ GolDar B MCV 87.7 MCH 28.4 MCHC 32.4 RDW-CV 10.95 ↓ MPV 6.64 Hitung Jenis Neutrofil 82.3 ↑ Limfosit 10.2 ↓ Monosit 7.1 Eosinofil 0.01 Basofil 0.4 Hitung Absolut Total Neutrofil 13.52 ↑ Total Limfosit 1.67 Total Monosit 1.16 ↑ Total Eosinofil 0.00 ↓ Total Basofil 0.07 Natrium (Na) 146 mmol/L Kalium (K) 5.1 mmol/L Chlorida (Cl) 109 mmol/L Calsium (Ca2+) 1.2 mmol/L pH 7.44
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Menelan (Disfagia) pada Pasien dengan Riwayat Hipertensi dan Diabetes Melitus, Disertai Hiperkalemia dan Asidosis Metabolik
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan objektif yang menunjukkan pasien mengalami kesulitan dalam proses menelan makanan atau cairan secara aman dan efisien. Pada kasus ini, pasien mengeluh sulit menelan sejak kemarin, setiap kali minum selalu tersedak, dan terdapat badan lemas serta leher kaku. Data objektif menunjukkan adanya afasia (gangguan bicara) dengan GCS E4VafasiaM6, yang mengindikasikan adanya gangguan neurologis yang mungkin mempengaruhi koordinasi otot-otot menelan. Kondisi hiperkalemia berat (Kalium 6.9 ↑↑) dan asidosis metabolik (pH 7.55 ↑) yang menunjukkan alkalosis respiratorik kompensasi, serta GDS yang sangat tinggi (806 → 412) menandakan adanya gangguan metabolik sistemik yang memperburuk kondisi neuromuskular pasien. Riwayat hipertensi dan diabetes melitus, serta adanya luka tusuk pada kaki kanan yang dapat menjadi sumber infeksi, semakin memperkompleks kondisi disfagia ini. Defisit neurologis yang ditandai dengan leher kaku dan afasia mengarah pada kemungkinan adanya stroke atau infeksi sistem saraf pusat yang mengganggu pusat menelan di batang otak. Hiperkalemia dapat menyebabkan kelemahan otot, termasuk otot-otot faring dan laring yang berperan dalam proses menelan. GDS yang tinggi menyebabkan dehidrasi osmotik dan gangguan elektrolit lebih lanjut, memperburuk kelemahan otot dan fungsi saraf. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah aspirasi, malnutrisi, dan komplikasi lebih lanjut seperti pneumonia aspirasi. Diagnosis ini menjadi prioritas karena ancaman langsung terhadap jalan napas dan keamanan pasien saat makan dan minum.
Kode SLKI: L.01011
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan pada diagnosis gangguan menelan adalah kemampuan menelan yang membaik, yang ditandai dengan beberapa kriteria hasil. Pertama, pasien mampu menelan makanan dan cairan tanpa tersedak, batuk, atau suara serak saat menelan. Kedua, tidak ada tanda-tanda aspirasi seperti napas berbunyi, saturasi oksigen menurun, atau demam setelah makan. Ketiga, pasien menunjukkan koordinasi otot-otot menelan yang adekuat, yang dapat diamati dari kemampuan menggerakkan lidah, bibir, dan rahang secara terkontrol. Keempat, pasien dapat mengonsumsi nutrisi dan cairan sesuai kebutuhan tanpa mengalami penurunan berat badan atau dehidrasi. Kelima, tidak ada komplikasi seperti pneumonia aspirasi atau infeksi saluran pernapasan bawah. Pada kasus ini, dengan adanya hiperkalemia dan asidosis, luaran juga mencakup perbaikan status elektrolit dan keseimbangan asam basa yang akan mendukung pemulihan fungsi neuromuskular. Indikator lain yang spesifik adalah pasien mampu menunjukkan refleks menelan yang efektif saat dilakukan tes menelan dengan air atau makanan kental, dan tidak terdapat akumulasi sekret di orofaring. Skala target untuk luaran ini adalah meningkat dari level 1 (sangat terganggu) menjadi level 4 (cukup terganggu) atau level 5 (tidak terganggu) dalam waktu 3x24 jam setelah intervensi. Perbaikan status neurologis juga menjadi indikator penting, di mana GCS diharapkan membaik dan afasia berkurang sehingga pasien dapat berkomunikasi tentang sensasi menelannya. Luaran ini harus dievaluasi secara berkala mengingat kondisi pasien yang dinamis dengan perubahan elektrolit dan glukosa darah yang cepat.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk mengatasi gangguan menelan pada pasien ini adalah Manajemen Disfagia. Intervensi ini bersifat komprehensif dan mencakup beberapa tindakan spesifik. Pertama, kaji kemampuan menelan pasien secara objektif dengan melakukan tes menelan sederhana menggunakan air (tes air) atau makanan kental, serta observasi adanya batuk, tersedak, atau perubahan suara setelah menelan. Kedua, posisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau duduk tegak dengan kepala sedikit fleksi ke depan saat makan dan minum untuk memudahkan jalannya bolus makanan dan mencegah aspirasi. Ketiga, anjurkan pasien untuk makan dalam porsi kecil dan perlahan, dengan konsistensi makanan yang dimodifikasi sesuai kemampuan menelan, misalnya makanan lunak, bubur, atau cairan kental. Keempat, berikan makanan dan minuman pada suhu yang aman (tidak terlalu panas atau dingin) untuk merangsang refleks menelan tanpa menyebabkan iritasi. Kelima, lakukan stimulasi oral motorik seperti mengusap lembut area pipi dan bibir, atau memberikan es batu kecil untuk merangsang sensasi dan refleks menelan. Keenam, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jenis diet yang tepat sesuai dengan kondisi medis pasien, termasuk pengaturan asupan kalium dan karbohidrat mengingat hiperkalemia dan diabetes melitus. Ketujuh, kolaborasi dengan dokter untuk penanganan hiperkalemia (misalnya pemberian kalsium glukonat, insulin dengan glukosa, atau dialisis) dan asidosis metabolik, karena perbaikan elektrolit akan mendukung pemulihan fungsi menelan. Kedelapan, monitor tanda-tanda aspirasi seperti batuk tiba-tiba, demam, peningkatan produksi sputum, atau penurunan saturasi oksigen, dan segera laporkan jika terjadi. Kesembilan, berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang teknik menelan yang aman, posisi yang benar, dan tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai. Kesepuluh, lakukan perawatan mulut secara teratur untuk menjaga kebersihan orofaring dan mengurangi risiko infeksi. Intervensi ini juga mencakup manajemen nyeri dan kelemahan umum, serta monitoring tanda-tanda vital secara ketat. Frekuensi intervensi disesuaikan dengan kondisi pasien, minimal setiap kali pasien akan makan atau minum. Evaluasi efektivitas intervensi dilakukan setiap shift dengan menilai kemampuan menelan dan tidak adanya komplikasi. Intervensi ini harus disesuaikan dengan respons pasien dan perubahan hasil laboratorium, terutama kadar kalium dan glukosa darah. Dokumentasi semua intervensi dan respons pasien sangat penting untuk kontinuitas asuhan keperawatan.
-
Article No. 26287 | 20 Jun 2026
Klinis : Batuk darah sejak tadi malam dan bertambah terus sampai pagi tadi, disertai nafas tersa ampeg dan merasa demam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (Hemoptisis, Demam, dan Sesak)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah kondisi ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien dengan kondisi batuk darah (hemoptisis), sesak napas (dyspnea), dan demam, terjadi penumpukan darah dan sekret kental di saluran napas akibat perdarahan dari mukosa bronkus atau parenkim paru. Demam meningkatkan metabolisme dan produksi mukus yang kental, sementara batuk darah yang terus-menerus mengiritasi jalan napas, menyebabkan spasme bronkus dan obstruksi parsial. Hal ini mengakibatkan penurunan ventilasi alveolar, pertukaran gas terganggu, dan risiko hipoksemia. Pasien akan mengalami batuk tidak efektif, suara napas tambahan (ronki atau wheezing), perubahan frekuensi dan kedalaman napas, serta sianosis jika obstruksi berat. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi seperti asfiksia, pneumonia aspirasi, atau gagal napas. Data mayor yang mendukung diagnosis ini adalah batuk tidak efektif, sputum berdarah, dan dispnea. Data minor meliputi gelisah, sianosis, dan suara napas tambahan.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas. Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah peningkatan kemampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas paten. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: (1) Batuk efektif meningkat, dengan skala dari 1 (tidak mampu) menjadi 5 (mampu secara mandiri); (2) Produksi sputum menurun, diukur dari volume, warna, dan konsistensi (dari sputum berdarah kental menjadi jernih dan encer); (3) Dispnea menurun, dengan skala dari 1 (sesak berat saat istirahat) menjadi 5 (tidak sesak saat aktivitas); (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 kali per menit; (5) Suara napas tambahan (ronki, wheezing) menurun atau hilang; (6) Saturasi oksigen (SpO2) meningkat ≥95% pada udara ruangan atau sesuai target terapi oksigen; (7) Kemampuan mengeluarkan sumbatan (blood clot) meningkat. Luaran ini dievaluasi dalam 1x24 jam untuk kondisi akut, dengan indikator yang dapat diukur secara objektif. Keberhasilan luaran juga ditandai dengan pasien tidak menunjukkan tanda distres pernapasan (penggunaan otot bantu napas, sianosis, gelisah) dan mampu beristirahat dengan nyaman.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Latihan Batuk Efektif. Intervensi ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengeluaran sekret dan darah dari saluran napas dengan teknik batuk yang benar dan aman, terutama pada pasien hemoptisis yang rentan mengalami perdarahan ulang. Tindakan utama meliputi: (1) Identifikasi kemampuan pasien untuk batuk (kekuatan otot pernapasan, status kesadaran, nyeri); (2) Ajarkan teknik batuk terkontrol: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 2-3 detik, lalu batukkan dengan kuat dari diafragma sebanyak 2-3 kali berturut-turut, kemudian istirahat; (3) Posisikan pasien semi-Fowler atau duduk tegak untuk memaksimalkan ekspansi paru; (4) Berikan dukungan pada area dada atau luka post-operasi (jika ada) dengan bantal atau tangan untuk mengurangi nyeri saat batuk; (5) Anjurkan minum air hangat 200-300 ml (jika tidak ada kontraindikasi perdarahan aktif) untuk mengencerkan sekret; (6) Kolaborasi pemberian mukolitik atau bronkodilator sesuai advis medis; (7) Monitor karakteristik sputum (volume, warna, konsistensi, adanya darah segar atau bekuan) setiap kali pasien batuk; (8) Dokumentasikan respons batuk dan perubahan tanda vital. Intervensi ini harus dilakukan dengan hati-hati pada pasien hemoptisis masif karena risiko perdarahan hebat. Jika pasien tidak mampu batuk efektif, perawat dapat melakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) dengan kontraindikasi pada area perdarahan aktif. Edukasi tentang posisi miring untuk mencegah aspirasi darah juga krusial. Evaluasi dilakukan setiap 2-4 jam pada fase akut.
Kondisi: Hipertermia (Demam Akibat Infeksi Paru)
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah kondisi peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (≥37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi atau respons inflamasi sistemik. Pada pasien dengan batuk darah dan demam, hipertermia umumnya disebabkan oleh infeksi paru (pneumonia, bronkitis, TBC) yang memicu pelepasan pirogen endogen (interleukin-1, TNF-α) dari makrofag. Pirogen ini bekerja pada hipotalamus anterior untuk meningkatkan set point suhu. Demam yang terus-menerus (dari malam hingga pagi) menunjukkan proses infeksi aktif yang memperberat kondisi pernapasan. Peningkatan suhu meningkatkan konsumsi oksigen seluler (10-13% per derajat Celcius), sehingga memperburuk sesak napas dan takikardia. Data mayor meliputi suhu tubuh >37,5°C (aksila) atau >38°C (rektal), kulit terasa hangat, dan takikardia. Data minor termasuk menggigil, oliguria, dehidrasi, kelemahan, dan penurunan kesadaran. Hipertermia yang tidak tertangani dapat menyebabkan kejang demam, dehidrasi berat, atau syok septik. Diagnosis ini harus dibedakan dengan hiperpireksia (suhu >41°C) yang memerlukan penanganan emergensi.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi. Luaran yang diharapkan adalah tercapainya suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C) dan hilangnya tanda-tanda demam. Kriteria hasil meliputi: (1) Suhu tubuh membaik, dengan target penurunan 0,5-1°C dalam 4-6 jam pertama intervensi; (2) Frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit); (3) Frekuensi napas membaik (16-20 x/menit); (4) Warna kulit normal (tidak hiperemis atau pucat); (5) Tidak menggigil; (6) Produksi urine adekuat (≥0,5 ml/kgBB/jam); (7) Kesadaran compos mentis. Luaran ini dievaluasi setiap 2-4 jam pada fase akut demam. Indikator keberhasilan juga mencakup penurunan suhu secara gradual (tidak mendadak) untuk mencegah hipotermia reaktif. Pasien juga harus bebas dari komplikasi seperti dehidrasi atau kejang.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh dan mencegah komplikasi demam melalui pendekatan non-farmakologis dan kolaborasi farmakologis. Tindakan utama: (1) Monitor suhu tubuh setiap 2-4 jam (aksila atau rektal), serta tanda vital lainnya (nadi, napas, tekanan darah); (2) Berikan kompres hangat pada lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan) selama 15-20 menit, menggunakan air hangat suam-suam kuku (30-35°C) untuk menghindari menggigil; (3) Longgarkan atau lepaskan pakaian yang tebal dan gunakan selimut tipis untuk memfasilitasi penguapan; (4) Anjurkan pasien untuk minum air hangat 1500-2000 ml/hari (jika tidak ada kontraindikasi perdarahan atau gagal jantung) untuk mencegah dehidrasi; (5) Berikan kompres dingin pada dahi untuk kenyamanan; (6) Kolaborasi pemberian antipiretik (parasetamol) sesuai advis medis, terutama jika suhu >38,5°C; (7) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dehidrasi (mukosa mulut kering, turgor kulit menurun, urine pekat); (8) Atur lingkungan: ventilasi baik, suhu ruangan 20-22°C, hindari paparan sinar matahari langsung; (9) Dokumentasikan respons terhadap terapi, termasuk waktu pemberian obat dan perubahan suhu. Intervensi ini harus diintegrasikan dengan manajemen jalan napas, karena demam meningkatkan kebutuhan oksigen. Evaluasi dilakukan setiap jam pada fase hiperpireksia.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas (Hipoksemia Akibat Hemoptisis dan Demam)
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi kelebihan atau defisit oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada pasien dengan batuk darah (hemoptisis), demam, dan sesak napas, terjadi dua mekanisme utama: (1) Obstruksi jalan napas oleh darah dan sekret kental menyebabkan area paru mengalami ventilasi rendah (shunt fisiologis), sehingga darah yang melewati alveolus tidak teroksigenasi; (2) Demam meningkatkan metabolisme basal dan konsumsi oksigen, sementara produksi karbondioksida meningkat. Akibatnya, terjadi hipoksemia (PaO2 <80 mmHg atau SpO2 <95%) dan hiperkapnia (PaCO2 >45 mmHg) pada tahap lanjut
Article No. 26288 | 20 Jun 2026
Klinis : Seorang perempuan berusia 60 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dibawa oleh keluarga dengan keluhan utama sesak napas berat sejak 2 hari terakhir yang semakin memburuk sejak 6 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus selama 10 tahun dan hipertensi. Menurut keluarga, pasien mengalami demam tinggi, batuk berdahak berwarna kuning kehijauan, tubuh lemas, dan sejak pagi pasien tampak mengantuk serta sulit diajak berkomunikasi. Saat tiba di IGD, perawat melakukan pengkajian awal dengan hasil pemeriksaan: Pasien tampak mengantuk dan sulit mempertahankan kesadaran, Respons verbal tidak jelas, Terdapat suara napas tambahan berupa stridor dan gurgling, Sekret kental terlihat di rongga mulut, Refleks batuk melemah, Risiko aspirasi meningkat akibat penurunan kesadaran, Nilai GCS: E3 V3 M4 = 10, Frekuensi napas: 36 kali/menit, Napas cepat dan dangkal, Saturasi oksigen: 78% dengan nasal kanul 5 liter/menit, Tampak retraksi dinding dada, Penggunaan otot bantu pernapasan, Suara napas ronki kasar pada kedua lapang paru, Pasien tampak sianosis pada bibir dan ujung jari. Pemeriksaan analisis gas darah menunjukkan: pH: 7,28 PaO₂: 55 mmHg PaCO₂: 60 mmHg, Tekanan darah: 80/50 mmHg, Nadi: 130 kali/menit, lemah, Suhu: 39,2°C, Kulit dingin dan berkeringat, CRT > 3 detik, Produksi urine menurun, Kesadaran menurun, Pasien tampak gelisah kemudian mengantuk, Respons terhadap perintah sederhana mulai berkurang, Kulit tampak pucat, Terdapat tanda infeksi berupa demam tinggi, Tidak ditemukan perdarahan eksternal. Tim IGD segera memberikan oksigen menggunakan non-rebreathing mask 15 liter/menit, melakukan suction sekret, pemasangan infus dua jalur, pemberian cairan resusitasi, serta monitoring tanda vital secara kontinu. Namun setelah dilakukan terapi awal selama beberapa menit, kondisi pasien memburuk. Pasien semakin lemah, kesadaran menurun menjadi GCS 7 (E2 V1 M4), saturasi oksigen tetap 80%, napas semakin tidak efektif, dan pasien mulai mengalami kelelahan otot pernapasan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien ini, kondisi tersebut dimanifestasikan dengan adanya suara napas tambahan (stridor dan gurgling), sekret kental di rongga mulut, refleks batuk yang melemah, serta penurunan kesadaran yang menyebabkan risiko aspirasi tinggi. Pasien juga menunjukkan sianosis, retraksi dinding dada, dan penggunaan otot bantu pernapasan sebagai tanda kompensasi terhadap obstruksi jalan napas. Data objektif seperti frekuensi napas 36 kali/menit, saturasi oksigen 78% dengan nasal kanul 5 L/menit, dan analisis gas darah yang menunjukkan hipoksemia (PaO₂ 55 mmHg) serta hiperkapnia (PaCO₂ 60 mmHg) memperkuat diagnosis ini. Ketidakefektifan bersihan jalan napas pada pasien ini disebabkan oleh akumulasi sekret akibat infeksi saluran napas bawah (pneumonia), penurunan kesadaran yang mengganggu mekanisme batuk, dan kelemahan otot pernapasan. Kondisi ini merupakan ancaman langsung terhadap kehidupan karena dapat menyebabkan hipoksia jaringan, gagal napas, dan henti jantung. Penatalaksanaan segera diperlukan untuk mengembalikan patensi jalan napas dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas pasien membaik dengan kriteria hasil: (1) Produksi sputum menurun dari skala 5 (berat) menjadi skala 3 (sedang) pada skala keparahan gejala, (2) Suara napas tambahan (stridor, gurgling, ronki) menurun dari skala 5 (berat) menjadi skala 2 (ringan), (3) Dispnea menurun dari skala 5 (berat) menjadi skala 3 (sedang), (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 kali/menit, (5) Saturasi oksigen meningkat >90% dengan oksigenasi adekuat, (6) Kemampuan batuk efektif meningkat dari skala 1 (tidak mampu) menjadi skala 4 (mampu dengan bantuan minimal), (7) Tidak ada sianosis, (8) Kesadaran membaik dengan GCS >10, (9) Analisis gas darah menunjukkan perbaikan dengan PaO₂ >80 mmHg dan PaCO₂ <45 mmHg. Luaran ini diukur menggunakan skala Likert 1-5, di mana skor 1 menunjukkan sangat memburuk, skor 2 memburuk, skor 3 sedang, skor 4 membaik, dan skor 5 sangat membaik. Target pencapaian pada skor 4 (membaik) untuk setiap indikator. Keberhasilan luaran ini sangat bergantung pada respons pasien terhadap terapi oksigen, suction, bronkodilator, dan penanganan penyebab dasar seperti pneumonia dan sepsis. Monitoring ketat terhadap status pernapasan dan kesadaran diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas (I.01011) dengan tindakan spesifik: (1) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pengeluaran sekret; (2) Lakukan suction endotrakeal atau orofaringeal secara steril setiap 2 jam atau sesuai kebutuhan, terutama jika terdapat suara gurgling atau sekret terlihat; (3) Berikan oksigenasi dengan non-rebreathing mask 15 L/menit untuk meningkatkan saturasi oksigen; (4) Auskultasi suara napas setiap 1 jam untuk mengevaluasi adanya obstruksi atau perbaikan; (5) Lakukan fisioterapi dada (perkusi dan vibrasi) jika kondisi pasien stabil untuk membantu mobilisasi sekret; (6) Kolaborasi pemberian bronkodilator nebulizer (misal salbutamol) sesuai advis dokter untuk mengurangi bronkospasme; (7) Kolaborasi pemberian mukolitik intravena (misal asetilsistein) untuk mengencerkan sekret; (8) Monitor saturasi oksigen kontinu dan analisis gas darah serial untuk mengevaluasi efektivitas terapi; (9) Siapkan perlengkapan intubasi dan ventilasi mekanik karena pasien menunjukkan tanda-tanda kelelahan otot pernapasan (GCS menurun, napas tidak efektif, saturasi tetap rendah); (10) Dokumentasikan semua intervensi dan respons pasien setiap jam. Selain itu, intervensi pendukung meliputi manajemen cairan dan elektrolit untuk mengatasi syok septik, serta pemberian antibiotik sesuai hasil kultur. Tujuan dari intervensi ini adalah untuk mempertahankan jalan napas paten, mengoptimalkan oksigenasi, mencegah aspirasi, dan mempersiapkan kemungkinan kebutuhan ventilasi mekanik. Evaluasi dilakukan setiap 15-30 menit pada fase akut untuk menilai respons terhadap terapi dan mendeteksi perburukan dini.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada pasien ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan data objektif: PaO₂ 55 mmHg (hipoksemia berat), PaCO₂ 60 mmHg (hiperkapnia), pH 7,28 (asidosis respiratorik), saturasi oksigen 78% yang tidak responsif terhadap oksigen 5 L/menit, sianosis pada bibir dan ujung jari, serta frekuensi napas 36 kali/menit yang cepat dan dangkal. Pasien juga menunjukkan tanda klinis hipoksia serebral berupa penurunan kesadaran (GCS 10), gelisah kemudian mengantuk, dan respons verbal tidak jelas. Gangguan pertukaran gas pada pasien ini disebabkan oleh pneumonia yang menyebabkan konsolidasi alveoli, edema paru, dan peningkatan dead space ventilasi. Kondisi ini diperburuk oleh sepsis yang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler paru dan penurunan perfusi jaringan. Akumulasi sekret yang kental dan obstruksi jalan napas juga memperburuk ventilasi-perfusi mismatch. Jika tidak segera diatasi, gangguan pertukaran gas dapat menyebabkan asidosis respiratorik berat, gagal napas hipoksemik, kerusakan organ multipel, dan kematian. Penanganan harus fokus pada peningkatan oksigenasi, koreksi hiperkapnia, dan penanganan penyebab dasar.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan pertukaran gas pasien membaik dengan kriteria hasil: (1) Saturasi oksigen meningkat dari <80% menjadi >92% dengan oksigenasi adekuat, (2) PaO₂ meningkat dari 55 mmHg menjadi >80 mmHg, (3) PaCO₂ menurun dari 60 mmHg menjadi <45 mmHg, (4) pH darah membaik dari 7,28 menjadi 7,35-7,45, (5) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 kali/menit dengan pola napas normal, (6) Tidak ada sianosis, (7) Kesadaran membaik dengan GCS >12, (8) Gelisah menurun, (9) Penggunaan otot bantu pernapasan menurun, (10) Retraksi dinding dada menurun. Luaran ini diukur menggunakan skala Likert 1-5, dengan target skor 4 (membaik) pada setiap indikator dalam 24 jam pertama. Keberhasilan luaran memerlukan intervensi agresif seperti oksigenasi high-flow, kemungkinan ventilasi mekanik, dan penanganan sepsis. Monitoring analisis gas darah serial (setiap 4-6 jam) dan pulse oksimetri kontinu sangat penting untuk mengevaluasi kemajuan dan menyesuaikan terapi.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Oksigenasi (I.01003) dengan tindakan spesifik: (1) Berikan oksigen dengan non-rebreathing mask 15 L/menit untuk mencapai FiO₂ 0,6-0,8; jika saturasi tetap <90%, persiapkan ventilasi mekanik non-invasif (CPAP/BiPAP) atau intubasi endotrakeal; (2) Monitor saturasi oksigen kontinu dan laporkan jika turun <90%; (3) Lakukan analisis gas darah setiap 4 jam atau sesuai kebutuhan untuk mengevaluasi PaO₂, PaCO₂, dan pH; (4) Posisikan pasien semi-Fowler untuk mengurangi kerja napas dan meningkatkan ekspansi paru; (5) Kolaborasi pemberian bronkodilator dan kortikosteroid intravena untuk mengurangi inflamasi saluran napas; (6) Kolaborasi pemberian antibiotik empiris spektrum luas untuk mengatasi pneumonia; (7) Lakukan manajemen cairan dengan hati-hati untuk mencegah overload cairan yang dapat memperburuk edema paru; (8) Monitor tanda-tanda gagal napas: peningkatan PaCO₂, penurunan pH, kelelahan otot pernapasan, dan penurunan kesadaran; (9) Siapkan ventilator mekanik dan perlengkapan intubasi jika kondisi memburuk; (10) Dokumentasikan respons pasien terhadap terapi oksigen setiap 15-30 menit pada fase akut. Intervensi ini bertujuan untuk mengoptimalkan oksigenasi jaringan, mengoreksi asidosis respiratorik, dan mencegah kerusakan organ akibat hipoks
Article No. 26289 | 20 Jun 2026
Klinis : Keluhan demam batuk pilek Td : 122/75 mmhg Nadi : 85x Rr : 20x Temp : 38.9 Kesadaran compos mentis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kondisi peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (lebih dari 37,5°C) akibat kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh atau paparan terhadap faktor eksternal yang meningkatkan produksi panas. Pada pasien dengan keluhan demam, batuk, dan pilek, hipertermia sering terjadi sebagai respons fisiologis terhadap infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Suhu tubuh pasien 38,9°C mengindikasikan demam tingkat sedang hingga tinggi, yang merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan patogen. Pada kondisi ini, hipotalamus meningkatkan set point suhu tubuh sebagai respons terhadap pirogen (zat penyebab demam) yang dilepaskan oleh sel imun. Manifestasi klinis yang mungkin muncul meliputi peningkatan suhu tubuh, takikardia (nadi 85x/menit masih dalam batas normal namun bisa meningkat), takipnea (RR 20x/menit masih normal), kulit teraba hangat, menggigil, sakit kepala, dan kelemahan umum. Hipertermia perlu dibedakan dengan hiperpireksia (demam sangat tinggi >41°C) yang memerlukan penanganan emergensi. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh panas, menggigil) dan data objektif (suhu >37,5°C, takikardia, kulit kemerahan). Pada pasien compos mentis, hipertermia biasanya dapat diatasi dengan intervensi mandiri keperawatan dan farmakologis. Penting untuk memantau suhu secara berkala, mengidentifikasi penyebab demam, dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi atau kejang demam pada populasi rentan.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi adalah luaran keperawatan yang menggambarkan kemampuan pasien untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C) tanpa fluktuasi ekstrem. Pada pasien dengan hipertermia, luaran yang diharapkan adalah termoregulasi membaik dengan kriteria hasil yang terukur. Indikator utama meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C) setelah intervensi, (2) Tidak ada menggigil atau keringat dingin, (3) Akral hangat dan tidak sianosis, (4) Frekuensi nadi dan pernapasan dalam batas normal (nadi 60-100x/menit, RR 16-24x/menit), (5) Kulit tidak kemerahan atau pucat, (6) Pasien tidak mengeluh panas dingin, (7) Kesadaran tetap compos mentis (GCS 15). Skala luaran termoregulasi menggunakan skala 1-5, dimana skala 1 berarti sangat menurun, skala 2 menurun, skala 3 cukup, skala 4 meningkat, dan skala 5 sangat meningkat. Target intervensi adalah mencapai skala 4 atau 5 dalam waktu 1x24 jam hingga 3x24 jam tergantung respons pasien. Pada pasien dengan demam 38,9°C, luaran yang diharapkan adalah suhu turun bertahap menjadi 37,5°C atau lebih rendah dalam 4-6 jam pertama setelah intervensi, tanpa efek samping seperti hipotermia atau dehidrasi. Pemantauan dilakukan setiap 2-4 jam selama fase akut demam. Jika pasien menunjukkan perbaikan, interval pemantauan dapat diperpanjang. Luaran ini juga mencakup kemampuan pasien atau keluarga untuk mengenali tanda demam dan melakukan tata laksana mandiri seperti kompres hangat dan minum air hangat. Edukasi tentang kapan harus mencari bantuan medis (demam >40°C, kejang, atau penurunan kesadaran) juga merupakan bagian dari pencapaian luaran ini. Keberhasilan luaran termoregulasi sangat bergantung pada penanganan penyebab demam, seperti infeksi virus atau bakteri pada saluran pernapasan.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia adalah intervensi keperawatan yang dirancang untuk menurunkan suhu tubuh pasien yang mengalami demam atau hipertermia melalui pendekatan non-farmakologis dan farmakologis. Intervensi ini bertujuan untuk mengembalikan suhu tubuh ke rentang normal, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kenyamanan pasien. Tindakan utama meliputi: (1) Observasi: Monitor suhu tubuh setiap 2-4 jam atau lebih sering pada demam tinggi (>39°C); identifikasi tanda dan gejala hipertermia seperti takikardia, takipnea, kulit kemerahan, dan menggigil; kaji penyebab demam (infeksi, dehidrasi, atau lingkungan); pantau intake dan output cairan untuk mencegah dehidrasi. (2) Terapeutik: Lakukan kompres hangat pada area lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan) selama 15-20 menit menggunakan air hangat (suhu 37-38°C) untuk membantu vasodilatasi dan penguapan panas; berikan cairan oral hangat minimal 1500-2000 ml/hari untuk mencegah dehidrasi kecuali ada kontraindikasi; anjurkan pasien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat; atur suhu ruangan agar sejuk (20-22°C) dengan ventilasi yang baik; berikan selimut tipis jika pasien menggigil. (3) Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara mengukur suhu tubuh yang benar; jelaskan pentingnya minum air hangat untuk menggantikan cairan yang hilang; informasikan tanda bahaya demam yang memerlukan penanganan segera (demam >40°C, kejang, sesak napas, penurunan kesadaran); berikan instruksi penggunaan obat antipiretik seperti parasetamol (dosis 500-1000 mg setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan) setelah berkonsultasi dengan dokter. (4) Kolaborasi: Rujuk ke dokter jika demam tidak turun dalam 3x24 jam atau muncul komplikasi; berikan antipiretik sesuai order medis; lakukan pemeriksaan penunjang seperti kultur darah atau tes antigen jika diperlukan. Intervensi ini dievaluasi setiap 4 jam untuk melihat penurunan suhu, perbaikan tanda vital, dan kenyamanan pasien. Dokumentasi dilakukan secara sistematis meliputi suhu sebelum dan sesudah intervensi, respons pasien, serta efek samping yang mungkin timbul. Pada pasien dengan kesadaran compos mentis, partisipasi aktif dalam manajemen hipertermia sangat penting untuk keberhasilan intervensi.
Article No. 26286 | 19 Jun 2026
Klinis : hipovolemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipovolemia
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah kondisi di mana terjadi penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi dan kehilangan cairan tubuh, namun tidak termasuk kekurangan cairan akibat gangguan mekanisme pengaturan (seperti pada diabetes insipidus) atau kelebihan cairan yang justru menyebabkan edema. Pada pasien dengan hipovolemia, terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran cairan, baik karena kehilangan aktif (misalnya perdarahan, diare, muntah, luka bakar luas, penggunaan diuretik berlebihan) maupun karena asupan yang tidak adekuat (misalnya pada pasien dengan penurunan kesadaran, gangguan menelan, atau akses cairan yang terbatas). Defisit volume cairan ini dapat bersifat akut atau kronis, dan jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan syok hipovolemik yang mengancam jiwa. Manifestasi klinis utama meliputi penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, pengisian kapiler lambat, penurunan produksi urine, serta rasa haus yang berlebihan. Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami pusing, lemas, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (misalnya pasien mengeluh haus, lemah) dan data objektif (misalnya tanda-tanda vital abnormal, hasil pemeriksaan laboratorium seperti peningkatan hematokrit, peningkatan osmolalitas serum, dan peningkatan berat jenis urine). Penanganan segera dengan pemberian cairan intravena atau oral sesuai derajat dehidrasi sangat penting untuk mengembalikan volume sirkulasi dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : SLKI untuk diagnosis hipovolemia adalah Status Cairan yang membaik. Luaran ini menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan. Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi status cairan meliputi: (1) Keseimbangan cairan, yaitu perbandingan antara input dan output cairan dalam 24 jam yang mendekati normal; (2) Turgor kulit, yang kembali elastis dalam waktu kurang dari 2 detik setelah dicubit; (3) Membran mukosa lembab, tidak kering atau pecah-pecah; (4) Tekanan darah dalam rentang normal sesuai usia pasien (sistolik ≥90 mmHg atau sesuai baseline); (5) Denyut nadi perifer teraba kuat dan frekuensi dalam rentang normal (60-100 kali per menit pada dewasa); (6) Pengisian kapiler (capillary refill time) kurang dari 2 detik; (7) Produksi urine adekuat, yaitu ≥0,5 mL/kgBB/jam pada dewasa dan ≥1 mL/kgBB/jam pada anak; (8) Hematokrit dan osmolalitas serum dalam batas normal; (9) Rasa haus berkurang atau hilang; (10) Berat badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan lebih dari 3% dalam 24 jam. Setiap indikator dinilai dengan skala 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik), dengan target luaran minimal pada skala 4 (cukup baik) atau 5 (baik) setelah intervensi. Luaran ini bersifat spesifik dan terukur, sehingga perawat dapat memantau perkembangan status cairan pasien secara objektif dan melakukan penyesuaian terapi jika diperlukan. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengembalikan volume cairan intravaskuler dan perfusi jaringan kembali normal.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : SIKI untuk mengatasi hipovolemia adalah Manajemen Hipovolemia. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan volume cairan intravaskuler yang adekuat serta mencegah komplikasi. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi penyebab hipovolemia, seperti perdarahan aktif, diare, muntah, luka bakar, atau asupan cairan yang kurang; (2) Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit hingga stabil, terutama tekanan darah, nadi, suhu, dan frekuensi pernapasan; (3) Monitor input dan output cairan secara ketat setiap jam, termasuk jenis dan jumlah cairan yang masuk (oral, intravena) dan yang keluar (urine, feses, muntah, drainase luka); (4) Monitor turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan pengisian kapiler setiap 2-4 jam; (5) Monitor hasil laboratorium seperti hematokrit, hemoglobin, osmolalitas serum, elektrolit, dan ureum/kreatinin; (6) Berikan cairan intravena sesuai program terapi, misalnya Ringer Laktat, NaCl 0,9%, atau koloid, dengan kecepatan infus yang disesuaikan dengan derajat dehidrasi dan respons pasien; (7) Jika pasien dapat minum, berikan cairan oral secara bertahap, misalnya oralit atau air putih, sesuai toleransi; (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan seperti vasopresor jika terjadi syok hipovolemik, atau agen antiemetik jika muntah menjadi penyebab kehilangan cairan; (9) Atur posisi pasien, misalnya posisi trendelenburg atau kaki ditinggikan untuk membantu meningkatkan aliran balik vena ke jantung pada kondisi hipotensi; (10) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan yang cukup, tanda-tanda dehidrasi dini, serta kapan harus segera mencari bantuan medis; (11) Evaluasi respons terhadap terapi cairan dengan memantau perbaikan tanda-tanda vital, peningkatan produksi urine, dan perbaikan turgor kulit; (12) Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien secara akurat dan tepat waktu. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan hingga status cairan pasien stabil dan luaran yang diharapkan tercapai. Perawat juga harus waspada terhadap tanda-tanda kelebihan cairan (overhidrasi) sebagai efek samping pemberian cairan yang terlalu cepat atau berlebihan, seperti edema perifer, distensi vena jugularis, atau peningkatan tekanan vena sentral.
Article No. 26284 | 18 Jun 2026
Klinis : II. KELUHAN UTAMA Pasien mengeluh sakit tenggorokan sehingga nafsu makan menurun disertai sulit BAB dan memiliki riwayat kejang terakhir pada tanggal 9 Juni 2026 serta banyak air liur di mulut. KELUHAN TAMBAHAN Ibu pasien mengatakan pasien tidak mau makan dan mual muntah serta pasien memiliki riwayat kejang terakhir pada tanggal 9 Juni 2026. III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien post rawat inap di RS Amanah Sumpiuh sejak tanggal 3-6 Juni 2026 (pulang tanggal 6 Juni 2026 sore). Pada tanggal 7 Juni 2026 pasien dibawa ke IGD RSUD Banyumas dengan keluhan muntah, tombosit turun, dan kejang. Tanda-tanda vital pasien yakni suhu: 36,4°C; N: 144x/menit; RR: 24x/menit; dan SpO2: 99%.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Pada pasien ini, kondisi ditandai dengan keluhan sakit tenggorokan yang menyebabkan nafsu makan menurun, tidak mau makan, mual muntah, serta riwayat kejang yang mempengaruhi status metabolik dan asupan oral. Pasien post rawat inap dengan trombosit turun dan kejang menunjukkan adanya gangguan sistemik yang memperberat status nutrisi. Defisit nutrisi dapat menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan otot, gangguan imunitas, dan memperlambat penyembuhan. Pada anak dengan riwayat kejang, defisit nutrisi juga dapat memicu peningkatan risiko kejang berulang akibat ketidakseimbangan elektrolit dan glukosa. Selain itu, produksi air liur berlebih (hipersalivasi) yang dialami pasien dapat mengganggu proses menelan dan asupan makanan, memperburuk status nutrisi. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah malnutrisi dan komplikasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status Nutrisi. Status nutrisi adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang meliputi asupan makanan dan cairan, status metabolik, dan keseimbangan cairan dan elektrolit. Luaran yang diharapkan pada pasien ini adalah meningkatnya asupan nutrisi oral, berkurangnya keluhan mual muntah, perbaikan nafsu makan, serta stabilisasi berat badan sesuai usia. Indikator yang dapat dinilai meliputi: (1) Asupan makanan per oral meningkat, (2) Mual muntah menurun, (3) Nafsu makan membaik, (4) Berat badan stabil atau meningkat, (5) Tidak ada tanda malnutrisi seperti penurunan turgor kulit, rambut rontok, atau kelemahan otot, (6) Status hidrasi baik, (7) Frekuensi kejang terkontrol. Pasien juga perlu dipantau terhadap risiko aspirasi akibat hipersalivasi dan gangguan menelan. Luaran ini dicapai dalam waktu 3x24 jam hingga 5x24 jam tergantung respons terhadap intervensi.
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Manajemen nutrisi adalah intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien melalui pemberian makanan dan cairan secara oral, enteral, atau parenteral, serta edukasi dan dukungan nutrisi. Intervensi pada pasien ini meliputi: (1) Identifikasi status nutrisi melalui pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas) dan pemeriksaan laboratorium (albumin, elektrolit, glukosa), (2) Monitor asupan makanan dan cairan setiap shift, (3) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering (misalnya 6-8 kali sehari) untuk mengurangi mual dan meningkatkan toleransi, (4) Pilih makanan yang lunak, mudah ditelan, dan tidak mengiritasi tenggorokan (seperti bubur, sup, pure buah), (5) Hindari makanan yang merangsang produksi air liur berlebih atau asam, (6) Berikan posisi semi-Fowler saat makan untuk mencegah aspirasi, (7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk perencanaan diet sesuai usia dan kondisi medis (misalnya diet tinggi kalori, tinggi protein, dan rendah lemak jika ada gangguan fungsi hati akibat trombosit turun), (8) Berikan obat antiemetik sesuai advis dokter untuk mengontrol mual muntah, (9) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi saat makan untuk mengurangi kecemasan, (10) Monitor tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit (misalnya mulut kering, turgor kulit menurun, denyut nadi lemah), (11) Jika asupan oral tidak adekuat, pertimbangkan pemberian nutrisi enteral melalui NGT (Nasogastric Tube) dengan formula khusus anak, (12) Edukasi keluarga tentang pentingnya nutrisi, cara menyiapkan makanan, dan tanda bahaya malnutrisi, (13) Evaluasi respons pasien setiap hari terhadap intervensi dan sesuaikan rencana asuhan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, kondisi ditandai dengan banyak air liur di mulut (hipersalivasi) yang dapat menyumbat jalan napas, terutama pada pasien dengan riwayat kejang yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan gangguan refleks batuk. Kejang pada tanggal 9 Juni 2026 dan 7 Juni 2026 meningkatkan risiko aspirasi saliva, muntahan, atau sekret ke saluran napas bawah. Tanda-tanda vital menunjukkan takikardia (N: 144x/menit) dan takipnea (RR: 24x/menit) yang dapat mengindikasikan kompensasi terhadap gangguan oksigenasi akibat obstruksi parsial. SpO2 99% masih dalam batas normal, namun risiko penurunan saturasi tetap ada jika sekret tidak segera dibersihkan. Hipersalivasi pada anak dapat disebabkan oleh efek samping obat antikejang, gangguan neurologis, atau iritasi tenggorokan. Jika tidak ditangani, dapat terjadi aspirasi pneumonia, atelektasis, atau gagal napas.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas. Bersihan jalan napas adalah kemampuan mempertahankan jalan napas paten dengan membersihkan sekret atau obstruksi. Luaran yang diharapkan meliputi: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal (20-30x/menit pada anak), (2) Tidak ada suara napas tambahan seperti ronki, wheezing, atau stridor, (3) Mampu mengeluarkan sekret secara efektif (batuk efektif atau suction), (4) Saturasi oksigen >95%, (5) Tidak ada sianosis atau retraksi dinding dada, (6) Produksi air liur terkontrol, (7) Refleks batuk dan menelan membaik, (8) Tidak ada tanda aspirasi seperti batuk saat makan atau minum, (9) Pasien tenang dan tidak gelisah. Indikator ini dievaluasi setiap 4-6 jam atau sesuai kondisi klinis. Pada pasien dengan riwayat kejang, perlu perhatian khusus terhadap keamanan jalan napas pasca-kejang karena risiko aspirasi tinggi.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Manajemen jalan napas adalah intervensi keperawatan untuk membuka dan mempertahankan jalan napas paten, membersihkan sekret, serta mencegah aspirasi. Intervensi pada pasien ini meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman napas setiap 2-4 jam, (2) Auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya sekret atau obstruksi, (3) Posisikan pasien semi-Fowler atau miring (lateral) untuk memudahkan drainase sekret dan mencegah aspirasi, terutama setelah kejang atau saat pasien tidur, (4) Lakukan suction (pengisapan) sekret orofaringeal secara hati-hati jika pasien tidak mampu mengeluarkan air liur sendiri, menggunakan kateter suction steril dengan tekanan rendah (80-100 mmHg), (5) Berikan oksigenasi tambahan jika diperlukan (misalnya nasal kanul 1-2 L/menit) untuk menjaga SpO2 >95%, (6) Ajarkan dan bantu pasien batuk efektif jika pasien sadar dan kooperatif, (7) Berikan nebulizer dengan mukolitik atau bronkodilator sesuai advis dokter jika ada sekret kental atau spasme bronkus, (8) Hindari penggunaan bantal tinggi yang dapat menekan leher dan menyempitkan jalan napas, (9) Kolaborasi dengan fisioterapi dada (clapping, vibrasi, postural drainage) untuk membantu mobilisasi sekret, (10) Monitor tanda-tanda aspirasi seperti batuk mendadak, sianosis, atau perubahan status kesadaran, (11) Siapkan alat resusitasi dan suction portabel di dekat pasien, terutama pada malam hari atau saat pasien tidur, (12) Edukasi keluarga tentang posisi aman saat tidur (posisi miring), cara membersihkan mulut dari air liur, serta tanda bahaya obstruksi jalan napas (sesak napas, napas cuping hidung, retraksi), (13) Dokumentasikan karakteristik sekret (volume, warna, konsistensi) dan respons terhadap intervensi.
Kondisi: Risiko Kejang Berulang
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko kejang berulang adalah kerentanan mengalami serangan kejang yang dapat terjadi kembali akibat faktor predisposisi seperti gangguan metabolik, infeksi, demam, ketidakseimbangan elektrolit, atau efek samping obat. Pasien ini memiliki riwayat kejang terakhir pada tanggal 9 Juni 2026 (saat di IGD) dan sebelumnya pada tanggal 7 Juni 2026. Trombosit turun (trombositopenia) dapat mengindikasikan infeksi virus seperti dengue atau ensefalitis yang memicu kejang. Mual muntah dan defisit nutrisi dapat menyebabkan hipoglikemia, dehidrasi, dan ketidakseimbangan elektrolit (hiponatremia, hipokalemia, hipokalsemia) yang semuanya merupakan pemicu kejang. Takikardia (N: 144x/menit) dan takipnea (RR: 24x/menit) menunjukkan adanya stres fisiologis yang dapat menurun
Article No. 26285 | 18 Jun 2026
Klinis : "Pasien Tuan B, 68 tahun. Pasien tampak gelisah, akral dingin, TD 80/50 mmHg dengan inotropik dosis tinggi, Nadi 120 x/mnt, RR 30 x/mnt (mesin). Hasil AGD menunjukkan asidosis respiratorik dan metabolik - PCO 2 50, Laktat 12.TD 80/40 mmHg, HR 140. Saat ini terpasang IABP (trigger 1:1; Augmentasi Maksimal). Ventilasi dengan support Ventilator mode SIMV (FiO2 60%, PEEP 10). Slem kental, banyak dan kuning. Hasil kultur pneumonia . Pasien anuria dengan Ur/Cr 200/ 5 saat ini sedang dalam tindakan CRRT. Balance cairan 8 jam +500 mL.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan Perubahan Membran Alveolus-Kapiler (Pneumonia) dan Ventilasi-Perfusi Tidak Seimbang
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi di mana terjadi kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada pasien Tuan B, hal ini ditandai dengan hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan asidosis respiratorik (PCO2 50 mmHg) dan asidosis metabolik (Laktat 12 mmol/L), yang mengindikasikan kegagalan sistem pernapasan dalam mengeluarkan CO2 dan akumulasi asam laktat akibat perfusi jaringan yang buruk. Kondisi ini diperparah oleh pneumonia yang menyebabkan peradangan dan penumpukan sekret kental, kuning, dan banyak pada alveolus, sehingga mengganggu difusi oksigen dan karbon dioksida. Pasien juga mengalami hipotensi berat (TD 80/50 mmHg) dengan dukungan inotropik dosis tinggi dan Intra-Aortic Balloon Pump (IABP), yang menunjukkan sirkulasi sistemik yang sangat terganggu, memperburuk ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. Ventilator dengan mode SIMV (FiO2 60%, PEEP 10) merupakan upaya untuk mengoptimalkan oksigenasi dan ventilasi, namun adanya sekret yang kental dan banyak menghambat efektivitasnya. Asidosis metabolik yang parah (laktat tinggi) menandakan hipoperfusi jaringan yang ekstrem, sering disebut sebagai syok kardiogenik atau distributif. Gangguan pertukaran gas ini bersifat kritis karena mengancam homeostasis asam-basa dan oksigenasi seluler, yang dapat menyebabkan kegagalan multi-organ. Tanda klinis seperti gelisah dan akral dingin merupakan manifestasi dari hipoksia dan asidosis yang mempengaruhi sistem saraf pusat dan perfusi perifer. Oleh karena itu, diagnosis ini menjadi prioritas utama untuk segera ditangani guna memperbaiki oksigenasi, ventilasi, dan perfusi jaringan.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas Meningkat adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Pada pasien Tuan B, luaran ini diukur dengan kriteria: (1) Status Oksigenasi: Membaik dengan indikator seperti tidak ada sianosis, saturasi oksigen (SpO2) mencapai ≥90% (meskipun dalam kondisi kritis target dapat disesuaikan), tidak ada gelisah, dan nilai AGD menunjukkan perbaikan PaO2 dan penurunan PaCO2 menuju rentang normal (PaCO2 35-45 mmHg). (2) Status Asam-Basa: Membaik dengan indikator pH darah meningkat menuju 7,35-7,45, dan kadar laktat menurun secara bertahap (target <2 mmol/L). (3) Status Sirkulasi: Membaik yang ditandai dengan tekanan darah stabil tanpa peningkatan dosis inotropik, denyut nadi menurun ke rentang normal (60-100 x/menit), dan akral teraba hangat. (4) Status Ventilasi: Membaik dengan indikator frekuensi napas menurun (20-24 x/menit) tanpa penggunaan otot bantu napas, dan sekret berkurang serta lebih encer. (5) Kesadaran: Membaik dengan skor Glasgow Coma Scale (GCS) meningkat atau pasien tidak gelisah. Luaran ini bersifat bertahap karena kondisi pasien sangat kritis. Prioritas jangka pendek adalah stabilisasi hemodinamik dan perbaikan pertukaran gas untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Keberhasilan luaran ini sangat bergantung pada efektivitas terapi CRRT (Continuous Renal Replacement Therapy) dalam mengoreksi asidosis metabolik, IABP dalam meningkatkan perfusi koroner dan curah jantung, serta manajemen ventilator dan terapi antibiotik untuk pneumonia. Indikator yang paling kritis untuk dipantau adalah penurunan laktat dan perbaikan pH, karena menunjukkan perbaikan perfusi jaringan dan metabolisme anaerob.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Manajemen Pertukaran Gas adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengoptimalkan oksigenasi dan ventilasi pada pasien dengan gangguan pertukaran gas. Pada Tuan B, intervensi ini bersifat kompleks dan kolaboratif, meliputi: (1) Pemantauan Ketat: Pantau tanda-tanda vital setiap 15-30 menit atau sesuai kondisi (TD, HR, RR, SpO2, suhu). Pantau hasil AGD serial (setiap 4-6 jam atau lebih sering jika ada perubahan). Pantau kadar laktat, elektrolit, dan ureum/kreatinin untuk mengevaluasi respons terhadap CRRT. Pantau parameter ventilator: volume tidal, peak inspiratory pressure, plateau pressure, FiO2, PEEP, dan ventilator synchrony. Pantau sekret: warna, konsistensi, jumlah, dan bau. (2) Manajemen Ventilator: Kolaborasi dengan dokter dan respiratory therapist untuk menyesuaikan pengaturan ventilator berdasarkan hasil AGD dan hemodinamik. Tujuan utama adalah mencapai oksigenasi adekuat dengan FiO2 serendah mungkin (FiO2 <60% untuk menghindari toksisitas oksigen) dan PEEP yang optimal (PEEP 10 cmH2O saat ini mungkin perlu ditingkatkan atau diturunkan berdasarkan mekanika paru dan hemodinamik). Lakukan suction endotrakeal secara steril dan aseptik hanya jika diperlukan (ada sekret, perubahan suara napas, atau penurunan SpO2) untuk mencegah trauma dan infeksi. Gunakan teknik hiperoksigenasi dan hiperventilasi sebelum dan sesudah suction untuk mencegah hipoksia. (3) Manajemen Cairan dan Hemodinamik: Kolaborasi dalam pemberian cairan, vasopresor, dan inotropik sesuai protokol. Pantau balance cairan ketat setiap jam. Pada pasien dengan CRRT, pertahankan keseimbangan cairan yang ditargetkan (misalnya, ultrafiltrasi untuk mencapai keseimbangan negatif jika ada overload, atau keseimbangan positif jika hipovolemik). Pantau tekanan vena sentral (CVP) dan tekanan arteri pulmonalis (PAP) jika terpasang. (4) Manajemen Infeksi: Kolaborasi dalam pemberian antibiotik sesuai hasil kultur dan sensitivitas. Lakukan perawatan mulut (oral care) secara rutin dengan klorheksidin untuk mencegah pneumonia terkait ventilator (VAP). Jaga kebersihan alat-alat medis dan lingkungan. (5) Posisi dan Mobilisasi: Ubah posisi pasien setiap 2 jam jika stabil (semi-Fowler atau lateral) untuk meningkatkan ventilasi dan drainase sekret. Pertimbangkan pronasi jika hipoksemia refrakter (PaO2/FiO2 <150) dan tidak ada kontraindikasi. (6) Edukasi dan Dukungan Psikologis: Berikan penjelasan kepada keluarga tentang kondisi pasien dan tindakan yang dilakukan secara sederhana dan empati. Kurangi stimulus yang menyebabkan gelisah dengan menciptakan lingkungan yang tenang. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian sedasi jika diperlukan (misalnya, propofol atau midazolam) untuk mengurangi konsumsi oksigen dan meningkatkan synchrony ventilator. (7) Dokumentasi: Catat semua intervensi, respons pasien, hasil pemantauan, dan komunikasi dengan tim kesehatan secara akurat dan tepat waktu. Dokumentasi ini penting untuk kontinuitas perawatan dan evaluasi efektivitas intervensi. Intervensi ini harus dievaluasi secara terus-menerus. Jika setelah 2-4 jam tidak ada perbaikan (misalnya, laktat masih tinggi, pH tidak naik, atau hemodinamik memburuk), maka perlu dipertimbangkan eskalasi terapi seperti peningkatan dosis inotropik, optimasi IABP, atau modifikasi pengaturan ventilator (misalnya, mode APRV atau HFOV).
Article No. 26282 | 17 Jun 2026
Klinis : Pasien pagi ini pasien belum sadar penuh, kontak (+) inadekuat. RPD Riwayat operasi (+) TURB di RS Amal Sehat Februari 2026 TURB di RSDM Maret 2026 Riwayat penyakit (+) TURB Riwayat trauma (-) Riwayat alergi (-) KU : Lemah Kes : Cm TD : 116/88 HR : 168 RR : 37 S : 36.6 SpO2 : 98 dengan NRM+NC maksimal Status lokalis Ekstremitas : akral hangat, CRT <2” Mantok (+) Status Urologis Regio Flank (D/S) I: Bulging (-), P: NKCV (-/-) Regio Suprapubik I: bulging (-), bulli tidak penuh P: NT (+), teraba massa (+) pada VU Regio Genital I: OUE (+), DC (+) 3way , produk (+) jernih, stolsel (-), Irigasi (-) P: Teraba massa (-) Sudah berhenti irigasi, produk jernih 250 cc Lab RSSP 10/06/26 Hb 10.00 AE 4.17 Hmt 28.6 AL 8.88 AT 245 PT 11.5 INR 1.05 APTT 22.0 GDS 118 SGOT 14 SGPT 8 UR 81.3 CR 1.56 HbsAg (-) AntiHIV NR USG Urologi RSSP 11/06/26 Hasil : - Hepar: tak tampak kelainan, ukuran dan echostruktur normal, permukaan rata, sistema bilier/vaskuler normal, tak tampak massa. - Vesica felea: tak tampak kelainan, dinding reguler, batu/sludge (-) - Lien: tak tampak kelainan, ukuran/echostruktur normal, hilus tak prominent. - Pankreas: tak tampak kelainan, ukuran/echostruktur normal, tak tampak massa/kalsifikasi. - Ren Dextra: ukuran/echostruktur normal, batas cortex-medulla tegas, SPC prominen, massa/batu (-) - Ren Sinistra: ukuran/echostruktur normal, batas cortex-medulla tegas, SPC prominen, massa/batu (-) - VU: tampak lesi isoechoic di aspek posterior, batas tidak tegas, ukuran 3.19 x 3.25 cm - Uterus: tak tampak kelainan, ukuran/echostruktur normal, endometrial line simetris. KESAN : - Hidronefrosis dextra grade III - Hidronefrosis sinistra grade II - Lesi isoechoic pada aspek posterior VU suspect massa VU - Tak tampak kelainan pada: Hepar, Vesica felea, Lien, Pancreas dan uterus. CT Scan Kepala RSSP 12/0626 Kesan : - Defect tulang di os parietal dextra - Deviasi septum nasi ke arah dextra - Sinusitis maxilaris dextra - Multipel Lacunar Infark cerebri di capsula externa dextra dan capsula interna sinistra - Atrophy cerebri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Serebral
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan perfusi serebral adalah penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengganggu metabolisme jaringan otak. Pada pasien ini, kondisi didukung oleh hasil CT Scan kepala yang menunjukkan multipel lacunar infark di capsula externa dextra dan capsula interna sinistra, serta atrofi serebri. Pasien juga menunjukkan penurunan kesadaran (belum sadar penuh) dengan kontak inadekuat, yang merupakan manifestasi klinis utama dari gangguan perfusi serebral. Defisit neurologis ini terjadi akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah kecil di otak (lacunar infark) yang mengakibatkan iskemia jaringan dan gangguan fungsi neuronal. Faktor risiko yang berkontribusi termasuk riwayat hipertensi yang tidak terkontrol (terlihat dari tekanan darah yang masih tinggi meskipun dalam rentang normal, namun dengan riwayat penyakit pembuluh darah) dan kemungkinan adanya mikroemboli dari sumber lain. Penurunan kesadaran menunjukkan bahwa area otak yang terkena infark cukup luas atau melibatkan struktur penting seperti ganglia basalis dan kapsula interna yang berperan dalam kesadaran dan fungsi motorik. Atrofi serebri menunjukkan adanya proses degeneratif kronis yang memperburuk cadangan fungsional otak. Kondisi ini memerlukan penanganan segera untuk mencegah perluasan infark dan memperbaiki aliran darah ke area penumbra (jaringan otak yang masih bisa diselamatkan).
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Tingkat Kesadaran. SLKI ini mendefinisikan luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, yaitu peningkatan kesadaran pasien. Indikator yang diukur meliputi: kesadaran umum (Glasgow Coma Scale/GCS), orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang, respons terhadap rangsang verbal dan nyeri, serta kemampuan mempertahankan kontak mata. Target luaran untuk pasien ini adalah: dalam waktu 3x24 jam, tingkat kesadaran meningkat dengan kriteria: GCS minimal 14 (E4 V4 M6), pasien mampu membuka mata spontan, memberikan respons verbal yang relevan (kontak adekuat), dan mampu mengikuti perintah sederhana. Indikator spesifik yang dipantau adalah: (1) Respons verbal: dari inadekuat menjadi adekuat, (2) Respons motorik: dari tidak sesuai perintah menjadi mampu mengikuti perintah, (3) Orientasi: pasien mampu menyebutkan namanya sendiri, lokasi ruangan, dan waktu (pagi/siang/malam). Pencapaian luaran ini dievaluasi setiap shift perawat dan didokumentasikan dalam catatan perkembangan. Jika tidak ada perbaikan dalam 24 jam, perlu dilakukan reassessment untuk kemungkinan perluasan infark atau komplikasi lain seperti edema serebri.
Kode SIKI: I.06194
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral. Intervensi ini bertujuan untuk mengoptimalkan aliran darah ke otak dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Tindakan keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 1-2 jam, terutama tekanan darah (target MAP 80-100 mmHg untuk menjaga perfusi tanpa risiko perdarahan), denyut nadi, dan respirasi. (2) Monitor status neurologis dengan GCS setiap 2 jam dan catat perubahan. (3) Posisikan kepala pasien dengan elevasi 30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena dan menurunkan tekanan intrakranial, serta hindari fleksi atau rotasi leher berlebihan. (4) Berikan oksigenasi adekuat: pasien saat ini menggunakan NRM+NC maksimal dengan SpO2 98%, namun perlu dipertahankan SpO2 >95% untuk mencegah hipoksia serebral. (5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi neuroprotektif seperti citicoline atau piracetam sesuai indikasi. (6) Monitor intake-output cairan untuk mencegah overhidrasi yang dapat memperburuk edema serebri, namun juga hindari dehidrasi yang dapat meningkatkan viskositas darah. (7) Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi stimulasi berlebihan untuk menurunkan kebutuhan metabolik otak. (8) Edukasi keluarga tentang tanda-tanda perburukan neurologis (misalnya penurunan GCS, kejang, atau pupil tidak isokor) dan pentingnya pelaporan segera. (9) Siapkan peralatan resusitasi di dekat pasien karena risiko kejang atau herniasi. (10) Catat respons pasien terhadap setiap intervensi dan laporkan ke dokter jika tidak ada perbaikan dalam 2 jam pertama.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen. Pasien ini memiliki beberapa faktor risiko signifikan: (1) Riwayat operasi TURB (Transurethral Resection of Bladder) dua kali dalam waktu berdekatan (Februari dan Maret 2026) yang meninggalkan luka pada mukosa kandung kemih dan dapat menjadi port d'entree bakteri. (2) Saat ini terpasang DC (Drainage Catheter) 3-way yang merupakan jalur masuk langsung bagi bakteri ke dalam saluran kemih, meskipun produk urin saat ini jernih (250 cc) dan tidak ada stolsel, namun risiko infeksi saluran kemih terkait kateter (CAUTI) tetap tinggi. (3) Pasien dalam kondisi lemah dengan penurunan kesadaran, sehingga mobilitas terbatas dan kemampuan untuk menjaga kebersihan diri berkurang. (4) Hasil laboratorium menunjukkan Hb 10.00 (anemia ringan) dan Hmt 28.6 yang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. (5) Riwayat TURB menunjukkan adanya lesi atau massa di kandung kemih yang dapat menjadi tempat kolonisasi bakteri. (6) Prosedur irigasi yang sudah dihentikan, namun kateter masih terpasang. (7) Hidronefrosis bilateral (grade III dextra, grade II sinistra) menunjukkan adanya obstruksi saluran kemih yang dapat menyebabkan stasis urin dan meningkatkan risiko pielonefritis. Faktor protektif seperti albumin normal tidak disebutkan, namun leukosit 8.88 masih dalam batas normal, namun perlu diwaspadai karena bisa meningkat jika infeksi terjadi.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Status Infeksi. SLKI ini mengukur tingkat kontrol terhadap infeksi. Indikator yang dipantau meliputi: (1) Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal seperti kemerahan, bengkak, nyeri, atau panas di area genital dan suprapubik. (2) Suhu tubuh afebris (<37.5°C) – saat ini 36.6°C masih normal. (3) Jumlah leukosit dalam batas normal (4.000-10.000/mm3) – saat ini 8.88 masih normal. (4) Kultur urin negatif atau tidak ada pertumbuhan bakteri patogen. (5) Tidak ada nyeri saat berkemih atau nyeri suprapubik yang meningkat. (6) Warna urin jernih, tidak keruh, tidak berbau. Target luaran: dalam 1x24 jam, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi baru; dalam 3x24 jam, tidak terjadi infeksi saluran kemih terkait kateter; dan selama perawatan, tidak terjadi sepsis. Indikator yang dievaluasi setiap hari adalah hasil laboratorium (leukosit, hitung jenis), suhu tubuh, dan karakteristik urin. Jika terdapat peningkatan leukosit >10.000 atau muncul demam, perlu dilakukan kultur urin dan sensitivitas antibiotik.
Kode SIKI: I.14532
Deskripsi : Pencegahan Infeksi. Intervensi ini berfokus pada tindakan untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial, terutama infeksi saluran kemih. Tindakan keperawatan yang dilakukan: (1) Perawatan kateter urin sesuai standar: bersihkan area meatus dan kateter dengan antiseptik (povidone iodine atau chlorhexidine) setiap 8 jam, pastikan kateter tidak tertarik atau tertekuk, dan kantung urin selalu berada di bawah level kandung kemih untuk mencegah refluks. (2) Ganti kateter sesuai indikasi (biasanya setiap 2-4 minggu atau jika ada sumbatan, namun untuk kasus ini pertimbangkan penggantian jika sudah >7 hari terpasang). (3) Monitor tanda-tanda infeksi saluran kemih: warna, kejernihan, bau urin, serta keluhan nyeri suprapubik atau flank. (4) Lakukan hand hygiene sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau peralatan kateter. (5) Berikan perawatan luka operasi jika ada (meskipun TURB biasanya tidak meninggalkan luka eksternal, namun area meatus perlu diperhatikan). (6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik profilaksis jika diindikasikan (misalnya sebelum tindakan invasif atau jika ada risiko tinggi). (7) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan area genital dan tidak memegang kateter. (8) Monitor hasil kultur urin jika dilakukan, dan laporkan jika ada pertumbuhan bakteri. (9) Pastikan asupan cairan adekuat untuk membantu mengeluarkan bakteri dari saluran kemih (minimal 2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi). (10) Dokumentasikan setiap perubahan pada karakteristik urin dan tindakan keperawatan yang dilakukan.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0040
Deskripsi Singkat: Gangguan eliminasi urin adalah keadaan di mana individu mengalami disfungsi pada proses pengeluaran urin. Pada pasien ini, gangguan eliminasi urin disebabkan oleh beberapa faktor: (1) Adanya lesi isoechoic di aspek posterior VU (vesica urin
Article No. 26283 | 17 Jun 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada Pasien Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien tuberkulosis paru, kondisi ini terjadi akibat akumulasi sekret mukoid yang kental, edema mukosa bronkial, dan kerusakan jaringan paru akibat proses inflamasi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Lesi granulomatosa di paru kanan atas menyebabkan penyempitan jalan napas dan peningkatan produksi sputum. Pasien mengalami batuk berdahak produktif, sesak napas, dan suara napas bronkial yang menunjukkan adanya konsolidasi dan obstruksi parsial. Ketidakmampuan membersihkan sekret secara efektif menyebabkan retensi sputum, yang memperburuk ventilasi, meningkatkan risiko atelektasis, dan memicu infeksi sekunder. Secara fisiologis, refleks batuk yang melemah akibat kelemahan otot pernapasan dan nyeri saat batuk semakin memperparah kondisi. Faktor lain seperti kehilangan nafsu makan menyebabkan defisit nutrisi, sehingga daya tahan tubuh menurun dan produksi energi untuk batuk efektif berkurang. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan batuk berdahak, sesak) dan data objektif (suara napas bronkial, rontgen dengan lesi, frekuensi napas meningkat). Intervensi keperawatan difokuskan pada pengeluaran sekret, peningkatan ventilasi, dan edukasi batuk efektif untuk mencegah komplikasi seperti gagal napas dan penyebaran infeksi.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas meningkat adalah luaran yang menunjukkan kemampuan pasien dalam mempertahankan jalan napas paten dengan indikator: (1) Batuk efektif, (2) Produksi sputum menurun, (3) Suara napas tambahan (ronki, wheezing) menurun, (4) Dispnea menurun, (5) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 kali/menit), (6) Saturasi oksigen >95%, (7) Mampu mengeluarkan sekret secara mandiri. Pada pasien tuberkulosis paru, luaran ini diukur dalam skala 1-5 (1= memburuk, 2= cukup memburuk, 3= sedang, 4= cukup membaik, 5= membaik). Target intervensi adalah mencapai skala 4-5 dalam waktu 3x24 jam setelah terapi. Indikator spesifik meliputi: penurunan frekuensi batuk dari >10 kali/jam menjadi <5 kali/jam, perubahan karakter sputum dari kental purulen menjadi encer mukoid, dan kemampuan pasien mendemonstrasikan teknik batuk efektif. Luaran ini juga terkait dengan peningkatan nafsu makan dan asupan nutrisi karena ketika jalan napas bersih, kerja pernapasan berkurang dan metabolisme membaik. Keberhasilan luaran ditandai dengan auskultasi suara napas vesikuler normal tanpa ronki basah, foto toraks menunjukkan regresi lesi, dan pasien melaporkan penurunan rasa sesak. Evaluasi dilakukan setiap shift untuk memantau perkembangan, terutama pada pasien dengan risiko tinggi seperti usia lanjut atau malnutrisi. Jika luaran tidak tercapai, perlu dikaji ulang faktor penyebab seperti dehidrasi, kelemahan otot pernapasan, atau adanya efek samping obat antituberkulosis yang menyebabkan mual sehingga pasien enggan minum dan mengeluarkan dahak.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas adalah intervensi keperawatan yang bertujuan untuk membuka dan mempertahankan jalan napas paten dengan teknik non-invasif dan invasif. Pada pasien tuberkulosis paru dengan bersihan jalan napas tidak efektif, intervensi utama meliputi: (1) Posisikan pasien semi-Fowler atau high-Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pengeluaran sputum. (2) Lakukan fisioterapi dada: perkusi (clapping) pada area paru kanan atas selama 3-5 menit, vibrasi saat ekspirasi, dan postural drainage dengan posisi trendelenburg untuk area lobus atas. (3) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam 3 kali, tahan napas 2-3 detik, kemudian batuk kuat dari diafragma dengan mulut terbuka. (4) Berikan humidifikasi oksigen (masker venturi dengan FiO2 28-35%) untuk mengencerkan sekret dan meningkatkan kelembaban mukosa. (5) Kolaborasi pemberian mukolitik (misal: asetilsistein 200 mg per oral 3x/hari) dan ekspektoran (guaifenesin) sesuai program medis. (6) Lakukan suctioning (pengisapan lendir) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sputum secara mandiri, menggunakan kateter suction ukuran 12-14 Fr dengan tekanan 80-120 mmHg, durasi <15 detik. (7) Monitor karakteristik sputum (warna, konsistensi, bau, jumlah) setiap 8 jam dan catat dalam lembar observasi. (8) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi (minum air hangat 8-10 gelas/hari) untuk mengencerkan dahak, serta teknik membuang sputum dengan benar (dalam wadah tertutup berisi desinfektan) untuk mencegah penularan. (9) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian bronkodilator (misal: salbutamol nebulizer 2,5 mg/3 ml) jika ada wheezing. (10) Evaluasi efektivitas intervensi setiap 2 jam dengan mengukur frekuensi napas, saturasi oksigen, dan auskultasi suara napas. Intervensi ini dilakukan dengan prinsip aseptik dan kewaspadaan universal karena risiko penularan TB melalui droplet. Dokumentasi intervensi meliputi respons pasien, jumlah dan karakter sputum, serta perubahan tanda vital. Jika pasien menunjukkan perbaikan (sputum mudah dikeluarkan, sesak berkurang), frekuensi tindakan dapat dikurangi menjadi setiap 4-6 jam. Namun, jika terjadi kegagalan (saturasi turun <90% atau pasien gelisah), segera laporkan ke dokter untuk kemungkinan tindakan bronkoskopi atau ventilasi mekanik.
Kondisi: Hipertermia pada Pasien Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (≥38°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi. Pada tuberkulosis paru, demam terjadi sebagai respons sistemik terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini melepaskan toksin dan antigen yang merangsang pelepasan pirogen endogen (interleukin-1, TNF-α, dan interferon) dari makrofag dan sel imun. Pirogen ini bekerja pada hipotalamus anterior untuk meningkatkan set point suhu tubuh. Demam pada TB biasanya bersifat remiten (naik turun) dengan puncak pada sore atau malam hari, disertai keringat malam (night sweats). Pasien berusia 45 tahun dengan diagnosis TB paru aktif menunjukkan demam yang tidak terlalu tinggi (subfebris hingga 38,5°C) tetapi menetap selama 2 minggu. Kehilangan nafsu makan menyebabkan defisit kalori dan cairan, sehingga risiko dehidrasi dan peningkatan metabolisme basal semakin memperburuk hipertermia. Secara klinis, hipertermia ditandai dengan suhu aksila >37,5°C, takikardia (nadi meningkat 10-15 denyut/menit per 1°C kenaikan suhu), kulit hangat dan kemerahan, serta menggigil saat suhu naik. Jika tidak ditangani, hipertermia persisten dapat menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen, kelelahan otot pernapasan, dan memperberat sesak napas. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengaku demam, meriang) dan data objektif (pemeriksaan suhu termometer, kulit teraba hangat, frekuensi nadi meningkat). Intervensi keperawatan difokuskan pada penurunan suhu tubuh, pencegahan dehidrasi, dan manajemen keringat untuk meningkatkan kenyamanan pasien.
Kode SLKI: L.01015
Deskripsi : Termoregulasi membaik adalah luaran yang menunjukkan kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu dalam rentang normal (36,5-37,5°C) dengan indikator: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal, (2) Nadi dalam rentang normal (60-100 kali/menit), (3) Tidak ada menggigil, (4) Kulit tidak teraba hangat, (5) Tidak ada keringat berlebihan, (6) Warna kulit normal (tidak kemerahan), (7) Pasien melaporkan rasa nyaman. Pada pasien TB paru, target luaran ini adalah suhu turun menjadi <37,5°C dalam 1x24 jam setelah pemberian antipiretik dan intervensi keperawatan. Indikator spesifik meliputi: penurunan suhu aksila sebesar 0,5-1°C setiap 4 jam, frekuensi nadi menurun dari >100 kali/menit menjadi <90 kali/menit, dan pasien tidak lagi mengeluh menggigil. Luaran ini juga terkait dengan peningkatan asupan cairan (minimal 2000 ml/hari) untuk mengganti cairan yang hilang melalui keringat. Evaluasi dilakukan setiap 4 jam pada fase akut, kemudian setiap 8 jam setelah suhu stabil. Jika suhu tidak turun setelah 48 jam, perlu dikaji kemungkinan resistensi obat TB, infeksi sekunder, atau efek samping obat (misal: demam akibat isoniazid). Keberhasilan luaran juga dit
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596