Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26310 | 23 Jun 2026
Klinis : terdapat luka dengan kondisi kemerahan, bengkak, nyeri, lebam, dan terdapat pus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kerusakan Integritas Jaringan / Luka dengan Infeksi Lokal
Kode SDKI: D.0149
Deskripsi Singkat: Kerusakan integritas jaringan adalah kondisi di mana terjadi kerusakan pada membran mukosa, kornea, kulit, atau jaringan subkutan. Pada kondisi pasien dengan luka yang menunjukkan tanda-tanda kemerahan (rubor), bengkak (tumor), nyeri (dolor), lebam (ekimosis/perubahan warna), dan adanya pus (eksudat purulen), diagnosis ini sangat tepat. Kemerahan dan bengkak merupakan respons inflamasi akut akibat pelepasan mediator kimia seperti histamin dan prostaglandin. Nyeri timbul karena tekanan pada ujung saraf akibat edema dan iritasi zat kimia. Lebam menunjukkan adanya perdarahan kecil di bawah kulit akibat kerusakan kapiler, sementara pus merupakan indikasi jelas adanya infeksi bakteri yang menyebabkan nekrosis jaringan dan akumulasi sel darah putih mati, bakteri, dan debris seluler. Kondisi ini memerlukan penanganan segera untuk mencegah penyebaran infeksi ke jaringan yang lebih dalam (selulitis, abses) atau ke aliran darah (sepsis). Faktor-faktor yang memperberat antara lain diabetes melitus, malnutrisi, penekanan yang lama (ulkus dekubitus), atau gangguan vaskular. Penilaian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menentukan stadium luka, kedalaman, dan ada tidaknya jaringan nekrotik atau undermining. Intervensi keperawatan difokuskan pada pembersihan luka, manajemen infeksi, perlindungan jaringan, dan pemantauan tanda-tanda penyembuhan.
Kode SLKI: L.14104
Deskripsi : Integritas Jaringan dan Kulit Meningkat. SLKI ini mendefinisikan luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan. Kriteria hasil yang diukur meliputi: (1) Kerusakan jaringan menurun, ditandai dengan berkurangnya luas luka, kedalaman luka, dan jumlah eksudat; (2) Perfusi jaringan meningkat, ditandai dengan warna kulit kembali normal (tidak pucat atau kebiruan), suhu kulit hangat, dan pengisian kapiler < 3 detik; (3) Tanda infeksi menurun, ditandai dengan berkurangnya kemerahan (rubor), bengkak (tumor), nyeri, dan tidak adanya pus atau bau tidak sedap; (4) Nyeri menurun, dengan skala nyeri yang berkurang secara signifikan; (5) Tidak terjadi perluasan kerusakan jaringan lebih lanjut, misalnya tidak terbentuk abses baru atau tidak terjadi nekrosis. Indikator lain yang dapat diamati adalah peningkatan pertumbuhan jaringan granulasi (jaringan baru berwarna merah muda) pada dasar luka dan epitelisasi pada tepi luka. Luaran ini bersifat individual dan dapat dicapai dalam rentang waktu beberapa hari hingga minggu tergantung pada kondisi pasien, kepatuhan terapi, dan faktor komorbid. Penilaian dilakukan secara berkala minimal setiap pergantian balutan atau setiap 24 jam.
Kode SIKI: I.14566
Deskripsi : Perawatan Luka. SIKI ini merupakan panduan intervensi keperawatan untuk mengatasi kerusakan integritas jaringan dengan infeksi. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi, yaitu melakukan pengkajian luka secara komprehensif meliputi lokasi, dimensi (panjang, lebar, kedalaman), karakteristik jaringan (nekrotik, slough, granulasi), warna, bau, dan jumlah eksudat. (2) Monitor, yaitu memantau tanda-tanda infeksi lokal (kemerahan, bengkak, nyeri, pus) dan sistemik (demam, leukositosis, takikardia). (3) Terapeutik, yaitu melakukan pembersihan luka (wound cleansing) menggunakan larutan NaCl 0,9% atau antiseptik non-sitotoksik (misalnya povidone-iodine encer atau chlorhexidine) dengan teknik steril atau bersih tergantung kondisi luka. Melakukan debridement untuk mengangkat jaringan nekrotik, jaringan mati, atau pus secara mekanis (dengan kasa basah-kering atau gunting/forceps steril) atau autolitik (menggunakan hydrogel). Memilih balutan yang tepat sesuai fase luka: jika luka basah dengan pus, gunakan balutan absorben seperti kalsium alginat atau foam; jika luka kering dengan nekrosis, gunakan hydrogel; jika sudah granulasi, gunakan film transparan atau hydrocolloid. (4) Edukasi, yaitu mengajarkan pasien dan keluarga tentang teknik perawatan luka di rumah, tanda bahaya infeksi yang harus segera dilaporkan (nyeri bertambah, demam, luka meluas), serta pentingnya nutrisi tinggi protein dan vitamin C untuk penyembuhan. (5) Kolaborasi, yaitu merujuk ke dokter untuk pemberian antibiotik sistemik jika infeksi berat, atau ke ahli gizi untuk terapi nutrisi. Intervensi ini dilakukan setiap kali penggantian balutan, dengan frekuensi disesuaikan tingkat eksudat (bisa 1-3 kali sehari). Dokumentasi luka secara serial (foto atau sketsa) sangat dianjurkan untuk mengevaluasi perkembangan.
-
Article No. 26311 | 23 Jun 2026
Klinis : manajemen perfusi serebral
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Perfusi Serebral
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Perfusi serebral tidak efektif adalah penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi neurologis. Kondisi ini ditandai dengan perubahan tingkat kesadaran, gangguan kognitif, sakit kepala, pusing, dan tanda-tanda neurologis fokal. Penyebabnya meliputi hipertensi, aterosklerosis, emboli, vasospasme, edema serebral, peningkatan tekanan intrakranial, dan gangguan autoregulasi serebral. Faktor risiko termasuk usia lanjut, merokok, diabetes melitus, hiperlipidemia, dan riwayat stroke. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif seperti pasien melaporkan pusing, sakit kepala, atau penglihatan kabur, serta data objektif seperti perubahan status mental, penurunan Glasgow Coma Scale (GCS), kelemahan ekstremitas, gangguan bicara, dan hasil pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI yang menunjukkan iskemia atau perdarahan serebral. Intervensi keperawatan bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke otak, mencegah komplikasi lebih lanjut, dan memonitor tanda-tanda neurologis secara ketat. Perfusi serebral yang tidak efektif dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat, karena dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan otak, seperti infark serebral, edema serebral, dan herniasi otak. Oleh karena itu, penanganan yang komprehensif dan kolaboratif antara perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya sangat penting. Perawat berperan dalam mengidentifikasi perubahan status neurologis secara dini, memberikan posisi kepala yang tepat, mengelola terapi oksigen, memonitor tekanan darah, dan memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda perburukan. Tujuan akhir dari manajemen perfusi serebral adalah mempertahankan fungsi otak yang optimal, mencegah kecacatan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Perfusi Serebral adalah luaran keperawatan yang menggambarkan status sirkulasi darah ke otak yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan otak. Luaran ini diukur dengan kriteria hasil yang meliputi tingkat kesadaran (GCS), fungsi kognitif (orientasi, memori, kemampuan berpikir), status neurologis (tidak ada kelemahan ekstremitas, gangguan bicara, atau defisit sensorik), tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) dalam rentang normal, dan tidak adanya peningkatan tekanan intrakranial (sakit kepala, muntah proyektil, papil edema). Setiap kriteria dinilai dengan skala dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik). Misalnya, pada kriteria tingkat kesadaran, skala 1 berarti pasien tidak sadar (koma), skala 2 berarti pasien hanya merespon rangsang nyeri, skala 3 berarti pasien merespon perintah verbal tetapi tidak tepat, skala 4 berarti pasien sadar penuh tetapi ada sedikit penurunan, dan skala 5 berarti pasien sadar penuh dan orientasi baik. Tujuan intervensi keperawatan adalah untuk mencapai skala yang lebih tinggi pada setiap kriteria dalam waktu yang ditentukan. Peningkatan skala pada luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil dalam memperbaiki perfusi serebral. Sebaliknya, penurunan skala menandakan perlunya evaluasi dan modifikasi rencana asuhan keperawatan. Luaran ini dievaluasi secara berkala, biasanya setiap 4-8 jam pada kondisi akut, atau setiap hari pada kondisi stabil. Dokumentasi luaran ini penting untuk memantau perkembangan pasien, mengkomunikasikan status pasien kepada tim kesehatan lain, dan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan klinis. Dengan menggunakan SLKI, perawat dapat mengukur efektivitas asuhan keperawatan secara objektif dan terstandarisasi, sehingga meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral adalah serangkaian tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke otak pada pasien yang mengalami risiko atau gangguan perfusi serebral. Intervensi ini mencakup berbagai aktivitas yang terstruktur dan berbasis bukti. Pertama, monitor status neurologis secara ketat, termasuk tingkat kesadaran (GCS), ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, fungsi sensorik, dan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (sakit kepala, muntah, perubahan perilaku). Kedua, atur posisi kepala pasien dengan benar, yaitu kepala diletakkan pada posisi netral (tidak fleksi, ekstensi, atau rotasi berlebihan) dan ditinggikan 15-30 derajat untuk membantu drainase vena dan mengurangi tekanan intrakranial. Ketiga, berikan terapi oksigen sesuai indikasi untuk memastikan oksigenasi serebral yang adekuat, biasanya dengan target saturasi oksigen >95%. Keempat, monitor dan kelola tekanan darah sesuai target yang ditentukan oleh dokter, karena hipotensi dapat menurunkan perfusi serebral, sementara hipertensi dapat meningkatkan risiko perdarahan atau edema. Kelima, hindari manuver Valsalva (mengejan saat buang air besar, batuk keras) yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Keenam, kelola pemberian cairan intravena dengan hati-hati untuk menghindari overhidrasi yang dapat memperburuk edema serebral. Ketujuh, berikan obat-obatan sesuai resep dokter, seperti agen antiplatelet (aspirin), antikoagulan, diuretik osmotik (mannitol), atau antihipertensi. Kedelapan, lakukan tindakan pencegahan terhadap komplikasi seperti deep vein thrombosis (DVT) dengan mobilisasi dini atau penggunaan stocking elastis. Kesembilan, edukasi pasien dan keluarga tentang kondisi penyakit, tanda-tanda perburukan yang harus dilaporkan, dan pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan. Kesepuluh, kolaborasi dengan dokter dan tim kesehatan lain untuk penanganan yang komprehensif, seperti konsultasi dengan ahli saraf, fisioterapis, atau ahli gizi. Setiap tindakan harus didokumentasikan dengan lengkap dan akurat. Evaluasi efektivitas intervensi dilakukan dengan membandingkan status neurologis pasien sebelum dan sesudah tindakan, serta dengan memantau pencapaian luaran yang telah ditetapkan dalam SLKI. Jika tidak ada perbaikan atau terjadi perburukan, perawat harus segera melaporkan kepada dokter dan merevisi rencana asuhan keperawatan. Penerapan SIKI ini secara konsisten dan tepat dapat menyelamatkan nyawa pasien, mengurangi risiko kecacatan permanen, dan mempercepat proses pemulihan.
-
Article No. 26312 | 23 Jun 2026
Klinis : DS : pasien mengatakan saat ini tidak ada keluhan DO : pasien tampak terpasang AF Vistula TD : 118/79 mmHg, N : 104 x/mnt S : 36,5 0C P : 18 x/mnt BB pre-HD : 47,4 kg, BB post HD lalu : 45,4 kg, BB kering 45,5kg, IDWG : 1,9 kg HB : 12,7 mg/dl Ureum darah : 21.2 mg/dl Kreatinin darah : 3.06 mg/dl eGFR : 22 ml/menit/1,73m3
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Renal
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data objektif yang diperoleh, pasien menunjukkan tanda-tanda penurunan fungsi ginjal yang signifikan. Nilai eGFR sebesar 22 ml/menit/1,73m3 mengindikasikan pasien berada pada stadium 4 penyakit ginjal kronis (CKD), di mana fungsi ginjal sangat berkurang. Meskipun pasien menyatakan tidak ada keluhan (DS: tidak ada keluhan), data objektif menunjukkan adanya gangguan klirens ginjal yang parah, ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin darah (3.06 mg/dl) dan ureum darah (21.2 mg/dl). Selain itu, pasien memiliki riwayat hemodialisis (HD) dengan interdialytic weight gain (IDWG) sebesar 1,9 kg, yang menunjukkan adanya retensi cairan di antara sesi dialisis. Kondisi ini, dikombinasikan dengan berat badan kering (45,5 kg) dan berat badan post-HD sebelumnya (45,4 kg), mengindikasikan bahwa tubuh pasien tidak mampu mengekskresikan cairan dan limbah metabolik secara adekuat. Risiko ketidakefektifan perfusi renal ditegakkan karena meskipun pasien saat ini stabil, terdapat ancaman nyata terhadap penurunan aliran darah ke ginjal lebih lanjut akibat akumulasi toksin uremik, ketidakseimbangan cairan, dan progresivitas penyakit ginjal kronis. Tanda-tanda vital pasien menunjukkan kompensasi kardiovaskular, dengan denyut nadi yang sedikit meningkat (104 x/menit) dalam upaya mempertahankan perfusi jaringan, meskipun tekanan darah masih dalam batas normal (118/79 mmHg). Suhu tubuh normal (36,5°C) dan pernapasan (18 x/menit) masih dalam rentang normal, namun kondisi ini dapat berubah sewaktu-waktu jika perfusi renal semakin memburuk. Oleh karena itu, diagnosis ini bertujuan untuk memonitor dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti overload cairan, hiperkalemia, atau uremia yang dapat mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.03014
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan perfusi renal meningkat dengan kriteria hasil: (1) Output urin meningkat dengan volume sesuai kebutuhan (biasanya >0,5 ml/kg/jam) dan warna jernih; (2) Keseimbangan cairan tercapai, ditandai dengan IDWG < 3% dari berat badan kering antar sesi dialisis dan tidak ada edema perifer atau paru; (3) Tanda-tanda vital stabil, terutama tekanan darah dalam rentang normal individu (110-130/70-80 mmHg) dan denyut nadi 60-100 x/menit; (4) Kadar ureum darah menurun mendekati target terapi (biasanya <80 mg/dl untuk pasien dialisis) dan kreatinin stabil atau menurun; (5) Tidak ada tanda-tanda uremia seperti mual, muntah, pruritus, atau perubahan status mental; (6) eGFR stabil atau tidak menunjukkan penurunan yang signifikan (<5 ml/menit/1,73m2 per tahun); (7) Pasien dapat mempertahankan kepatuhan terhadap pembatasan cairan dan diet rendah protein, natrium, kalium, dan fosfor sesuai anjuran. Luaran ini bersifat individual dan realistis mengingat pasien sudah menjalani hemodialisis, sehingga tujuan utamanya adalah mempertahankan stabilitas dan mencegah perburukan fungsi ginjal residual. Skala target untuk setiap kriteria dapat diukur menggunakan skala Likert (1=buruk, 5=sangat baik) dengan target minimal skor 4 untuk setiap indikator pada akhir intervensi.
Kode SIKI: I.03125
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mencapai luaran perfusi renal yang optimal meliputi beberapa tindakan utama. Pertama, monitoring ketat tanda-tanda vital setiap 4-8 jam, terutama tekanan darah dan denyut nadi, untuk mendeteksi dini hipotensi atau hipertensi yang dapat mempengaruhi perfusi ginjal. Kedua, pemantauan keseimbangan cairan dengan menimbang berat badan setiap hari sebelum dan sesudah hemodialisis, menghitung IDWG, serta mengukur asupan dan haluaran cairan (intake-output) secara akurat. Ketiga, edukasi kepada pasien tentang pentingnya pembatasan cairan (biasanya 500-1000 ml/hari ditambah volume urin 24 jam) dan diet rendah protein (0,8-1,0 g/kg BB/hari), rendah natrium (<2 gram/hari), rendah kalium (<3 gram/hari), serta rendah fosfor. Keempat, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi farmakologis seperti antihipertensi (misalnya ACE inhibitor atau ARB) untuk melindungi fungsi ginjal, diuretik jika masih ada sisa fungsi ginjal, serta suplemen eritropoietin untuk mengatasi anemia (Hb 12,7 mg/dl masih dalam batas normal untuk pasien CKD). Kelima, manajemen akses vaskular (AV fistula) dengan melakukan inspeksi, palpasi, dan auskultasi setiap shift untuk memastikan bruit dan thrill masih teraba, serta menghindari penekanan atau pengambilan sampel darah pada lengan yang terpasang AV fistula. Keenam, pemberian perawatan kulit untuk mencegah pruritus akibat uremia dengan menggunakan pelembab bebas pewangi dan menjaga kebersihan kulit. Ketujuh, kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium rutin meliputi ureum, kreatinin, elektrolit (terutama kalium), kalsium, fosfor, dan albumin setiap bulan atau sesuai indikasi. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan, dengan dokumentasi yang akurat untuk mengevaluasi efektivitas tindakan dan menyesuaikan rencana perawatan sesuai respons pasien. Tujuan akhir intervensi adalah mempertahankan fungsi ginjal residual selama mungkin, mencegah komplikasi uremia, dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan CKD stadium 4 yang menjalani hemodialisis.
-
Article No. 26303 | 22 Jun 2026
Klinis : DS : Keluarga mengatakan anak ada riwayat diare DO: Riwayat diare bercampur darah dan lendir, muntah, hiponatremia (Na 124 mmol/L), pembatasan asupan oral pascaoperasi, terapi cairan intravena Kehilangan cairan aktif melalui diare dan muntah serta pembatasan intake oral pascaoperasi Risiko Defisit Volume Cairan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0036
Deskripsi Singkat: Risiko Defisit Volume Cairan adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Pada pasien ini, risiko tersebut sangat nyata karena adanya kehilangan cairan aktif melalui diare (bercampur darah dan lendir) dan muntah, ditambah dengan pembatasan asupan oral pascaoperasi. Kondisi hiponatremia (Na 124 mmol/L) yang dialami pasien merupakan indikator awal dari gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang serius, karena natrium adalah elektrolit utama yang mengatur distribusi cairan di dalam tubuh. Diare yang berkepanjangan dengan darah dan lendir mengindikasikan proses inflamasi pada saluran cerna yang mempercepat kehilangan cairan kaya elektrolit. Muntah memperburuk keadaan dengan menghilangkan cairan lambung yang mengandung asam klorida dan elektrolit. Pembatasan asupan oral pascaoperasi menjadi faktor utama yang mencegah masuknya cairan pengganti secara alami, sehingga tubuh sangat bergantung pada terapi cairan intravena. Namun, jika keseimbangan cairan tidak dimonitor secara ketat, risiko dehidrasi berat, syok hipovolemik, dan gangguan fungsi ginjal menjadi sangat tinggi. Kondisi ini memerlukan penanganan segera karena anak-anak memiliki cadangan cairan yang lebih kecil dan metabolisme yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sehingga dehidrasi dapat terjadi dalam waktu singkat dan berakibat fatal. Oleh karena itu, diagnosis "Risiko Defisit Volume Cairan" dipilih karena meskipun saat ini mungkin belum terjadi defisit yang parah, faktor-faktor risikonya sudah sangat jelas dan memerlukan intervensi preventif yang agresif.
Kode SLKI: L.03020
Deskripsi : Keseimbangan Cairan adalah luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan, yang menunjukkan status cairan tubuh pasien berada dalam rentang normal. Deskripsi ini mencakup beberapa kriteria hasil yang terukur, yaitu: (1) Membran mukosa lembab, yang menandakan hidrasi yang adekuat pada jaringan mulut dan saluran cerna; (2) Turgor kulit elastis, yang menunjukkan tidak adanya dehidrasi pada jaringan subkutan; (3) Input cairan seimbang dengan output cairan dalam 24 jam, di mana jumlah cairan yang masuk (oral dan intravena) harus setara dengan jumlah yang keluar (urine, feses, muntah, dan insensible loss); (4) Frekuensi nadi dalam rentang normal (60-100 kali/menit pada anak tergantung usia), yang menandakan volume sirkulasi yang cukup; (5) Tekanan darah dalam rentang normal, yang menunjukkan perfusi organ vital terjaga; (6) Produksi urine adekuat, yaitu minimal 1-2 ml/kgBB/jam pada anak, yang merupakan indikator paling sensitif dari perfusi ginjal yang baik; (7) Berat badan stabil atau tidak mengalami penurunan >5% dari berat badan awal; (8) Kadar elektrolit serum dalam batas normal, terutama natrium (135-145 mmol/L) dan kalium (3,5-5,0 mmol/L); (9) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi seperti rasa haus berlebihan, mata cekung, atau fontanel cekung pada bayi. Pada pasien ini, target utama adalah mengembalikan kadar natrium ke normal (135-145 mmol/L), menyeimbangkan intake dan output cairan, serta mempertahankan produksi urine yang adekuat. Pencapaian luaran ini akan menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil dalam mencegah defisit volume cairan yang lebih parah dan komplikasi seperti syok hipovolemik atau gangguan elektrolit yang mengancam jiwa.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit pasien. Intervensi ini sangat krusial pada pasien dengan risiko defisit volume cairan karena diare, muntah, dan pembatasan asupan oral pascaoperasi. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Monitor status hidrasi secara ketat, yaitu dengan memeriksa turgor kulit, membran mukosa, dan tanda-tanda vital setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi pasien. (2) Monitor intake dan output cairan secara akurat, dengan mencatat semua cairan yang masuk (infus, oral jika sudah diizinkan) dan keluar (urine, feses cair, muntah) menggunakan alat ukur yang tepat. Perhitungan balance cairan harus dilakukan setiap shift. (3) Monitor hasil laboratorium terkait keseimbangan cairan dan elektrolit, terutama kadar natrium, kalium, klorida, dan osmolalitas serum. Hiponatremia (Na 124 mmol/L) memerlukan koreksi yang hati-hati untuk menghindari mielinolisis pontin sentral. (4) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan intravena, termasuk jenis cairan (misalnya Ringer Laktat atau NaCl 0,9% dengan penambahan elektrolit sesuai kebutuhan), kecepatan infus, dan volume total harian. Pada pasien hiponatremia, koreksi natrium tidak boleh melebihi 8-10 mmol/L dalam 24 jam pertama. (5) Berikan cairan oral sesuai toleransi jika sudah diizinkan, misalnya dengan memberikan sedikit demi sedikit larutan oralit atau air putih, sambil memantau tanda-tanda muntah. (6) Atur posisi pasien untuk mengurangi risiko aspirasi jika muntah, dan berikan perawatan mulut secara teratur untuk mencegah mukosa kering dan infeksi. (7) Edukasi keluarga tentang pentingnya memantau tanda-tanda dehidrasi pada anak, seperti rewel, haus berlebihan, mata cekung, dan penurunan frekuensi buang air kecil. (8) Dokumentasikan semua temuan dan intervensi secara lengkap untuk memudahkan evaluasi dan komunikasi antar tim kesehatan. Tujuan dari intervensi ini adalah untuk mencapai keseimbangan cairan yang optimal, memperbaiki hiponatremia secara bertahap, mencegah komplikasi seperti syok hipovolemik dan gangguan ginjal akut, serta mempersiapkan pasien untuk kembali ke asupan oral penuh setelah masa pemulihan pascaoperasi.
-
Article No. 26305 | 22 Jun 2026
Klinis : pasien tiba tiba tertawa sendiri, mengaku habis dilecehkan oleh orang banyak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi (Halusinasi Pendengaran)
Kode SDKI: D.0082
Deskripsi Singkat: Gangguan persepsi sensori: halusinasi adalah perubahan persepsi sensori yang dialami seseorang, di mana individu merasakan sensasi (seperti suara, penglihatan, sentuhan, rasa, atau bau) yang sebenarnya tidak ada stimulus eksternal yang nyata. Pada kasus ini, pasien mengalami halusinasi pendengaran yang ditandai dengan perilaku tertawa sendiri dan mengaku dilecehkan oleh "orang banyak" yang tidak terlihat. Halusinasi ini merupakan respons maladaptif terhadap ansietas berat, stres, atau gangguan jiwa seperti skizofrenia, di mana otak memproses informasi internal sebagai realitas eksternal. Pasien kehilangan kemampuan membedakan antara stimulus internal (pikiran, ingatan traumatis) dan stimulus eksternal (realitas). Akibatnya, pasien merespons suara-suara yang didengarnya seolah-olah nyata, yang memicu perilaku seperti tertawa, bicara sendiri, atau menunjukkan ekspresi emosi yang tidak sesuai dengan lingkungan. Halusinasi pendengaran sering kali bersifat mengancam, menghina, atau memerintah, sehingga pasien bisa merasa ketakutan, marah, atau bahkan defensif. Dalam konteks ini, pasien mengaku dilecehkan, menunjukkan adanya isi halusinasi yang bersifat persecutorik (dianiaya). Kondisi ini membutuhkan intervensi segera untuk mencegah perilaku agresif, cedera diri, atau penarikan sosial yang berat.
Kode SLKI: L.09095
Deskripsi : Tingkat Halusinasi. SLKI ini mendefinisikan kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Indikator yang diukur meliputi kemampuan pasien dalam: (1) Mengidentifikasi halusinasi (misalnya, pasien mampu mengatakan bahwa suara yang didengar tidak nyata), (2) Mengontrol halusinasi (misalnya, pasien mampu menggunakan teknik distraksi atau menyela halusinasi), (3) Berinteraksi dengan orang lain tanpa dipengaruhi halusinasi, (4) Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan realitas (misalnya, tidak tertawa atau berbicara sendiri tanpa stimulus), (5) Mengungkapkan perasaan aman dan nyaman. Skala yang digunakan biasanya dari 1 (berat) hingga 5 (ringan), di mana target yang diharapkan adalah peningkatan skor pada setiap indikator. Pada pasien ini, hasil yang diharapkan adalah pasien mampu menyadari bahwa suara yang didengarnya adalah halusinasi, frekuensi tertawa sendiri menurun, dan pasien mampu melaporkan isi halusinasi tanpa rasa takut yang berlebihan.
Kode SIKI: I.09296
Deskripsi : Manajemen Halusinasi. Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi frekuensi, intensitas, dan dampak halusinasi pada fungsi pasien. Tindakan keperawatan meliputi: (1) Observasi: identifikasi jenis halusinasi (auditorik, visual, dll.), isi halusinasi (apa yang dikatakan suara tersebut), waktu terjadinya, dan respons pasien (misalnya tertawa, takut, marah). (2) Terapeutik: ciptakan lingkungan yang tenang dan aman; jangan mendebat atau mengkonfrontasi isi halusinasi secara langsung; gunakan pendekatan yang mendukung realitas (reality orientation) dengan lembut; ajarkan teknik "menyela halusinasi" seperti berbicara keras, bernyanyi, atau melakukan aktivitas yang memerlukan konsentrasi (misalnya menggambar, merapikan tempat tidur). (3) Edukasi: ajarkan pasien untuk mengenali tanda-tanda awal halusinasi (misalnya, perasaan curiga, gelisah, atau mendengar bisikan); latih pasien untuk mengatakan "Stop!" atau "Itu tidak nyata" dalam hati saat halusinasi muncul; informasikan keluarga tentang cara merespons halusinasi pasien (jangan menertawakan, jangan ikut-ikutan bicara dengan suara halusinasi). (4) Kolaborasi: rujuk ke psikiater untuk penyesuaian obat antipsikotik; koordinasikan dengan terapis okupasi untuk aktivitas yang meningkatkan kontak realitas. Intervensi ini harus dilakukan secara konsisten, sabar, dan penuh empati karena pasien sering merasa malu atau takut dihakimi akibat halusinasi yang dialaminya.
-
Article No. 26306 | 22 Jun 2026
Klinis : pasien terpasang keteter urine
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Kateter Urine Terpasang
Kode ICD-10: Z46.6
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada seorang pasien yang sedang dalam perawatan dengan alat bantu medis berupa kateter urine yang terpasang di dalam kandung kemih untuk mengalirkan urine. Kode ICD-10 Z46.6 secara spesifik digunakan untuk "Pemasangan dan penyesuaian alat saluran kemih" dalam konteks pertemuan untuk perawatan atau pengawasan alat tersebut. Kode ini termasuk dalam kategori Faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Kontak dengan Pelayanan Kesehatan (Bab XXI), bukan sebagai diagnosis penyakit. Penggunaan kode ini tepat ketika alasan utama kunjungan atau perawatan adalah karena adanya kateter yang terpasang, misalnya untuk penggantian rutin, pemantauan, atau penanganan masalah terkait kateter. Penting untuk dicatat bahwa jika pasien memiliki diagnosis medis yang mendasari perlunya pemasangan kateter (seperti retensi urine akut atau kronis), maka diagnosis tersebut harus dikodekan terlebih dahulu sebagai kondisi utama, dan Z46.6 dapat ditambahkan sebagai kode tambahan untuk menjelaskan adanya alat bantu. Kode ini tidak digunakan untuk mengkodekan komplikasi akibat kateter; komplikasi seperti infeksi saluran kemih terkait kateter (misalnya N39.0) atau obstruksi kateter harus dikodekan secara terpisah sesuai dengan kondisi spesifiknya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26307 | 22 Jun 2026
Klinis : yeri dada kiri 1 mgg yll, disertai batuk, sesak nafas. mual (+) muntah 2x dan nafsu makan menurun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri dada kiri 1 minggu yang lalu, disertai batuk, sesak napas, mual (+), muntah 2x, dan nafsu makan menurun.
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (misalnya iskemia miokard, inflamasi pleura, atau iritasi perikardial) yang ditandai dengan keluhan nyeri dada kiri, sesak napas, dan batuk. Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri dada kiri yang disertai sesak napas dan batuk mengindikasikan kemungkinan adanya gangguan kardiopulmonal, seperti sindrom koroner akut, perikarditis, atau emboli paru. Mual dan muntah yang menyertai dapat merupakan respons otonom terhadap nyeri hebat atau iskemia miokard, terutama pada infark dinding inferior. Penurunan nafsu makan berkontribusi terhadap risiko defisit nutrisi dan memperburuk kondisi umum pasien. Nyeri akut yang tidak tertangani dapat menyebabkan peningkatan beban kerja jantung, takikardia, hipertensi, dan peningkatan konsumsi oksigen miokard, yang berpotensi memperluas area iskemia. Oleh karena itu, penanganan nyeri secara komprehensif dan segera menjadi prioritas utama untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Nyeri dada kiri pada kondisi ini memerlukan pengkajian mendalam meliputi karakteristik PQRST (Provokatif/Paliatif, Quality, Region/Radiasi, Severity, Time) serta faktor yang memperberat dan memperingan. Intervensi awal meliputi pemberian oksigen, posisi semi-Fowler, manajemen farmakologis sesuai advis medis, dan pengelolaan mual muntah untuk meningkatkan kenyamanan serta menurunkan stres fisiologis.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat nyeri menurun. Definisi: berkurangnya pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun, ditandai dengan pasien melaporkan skala nyeri menurun (misalnya dari skala 7 menjadi skala 3 atau kurang dalam 24 jam); (2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis; (3) Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah sistolik 100-120 mmHg, denyut nadi 60-100 x/menit, frekuensi napas 16-20 x/menit, suhu 36-37°C); (4) Kemampuan istirahat dan tidur meningkat, pasien dapat tidur tanpa terbangun karena nyeri; (5) Mual dan muntah berkurang, dengan frekuensi muntah <1 kali dalam 8 jam; (6) Nafsu makan mulai membaik, pasien dapat menghabiskan setengah porsi makanan yang disediakan; (7) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus dan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri. Indikator ini diukur pada skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal skala 4 pada setiap indikator dalam waktu 3x24 jam. Pencapaian luaran ini memerlukan kolaborasi interdisiplin, terutama dalam penanganan penyebab dasar seperti iskemia miokard atau inflamasi pleura. Pemantauan ketat terhadap respons nyeri terhadap terapi farmakologis dan nonfarmakologis sangat penting untuk menyesuaikan intervensi secara dinamis.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen nyeri. Definisi: identifikasi dan pengelolaan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial. Intervensi utama meliputi: (1) Observasi: identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri; identifikasi skala nyeri menggunakan alat ukur yang sesuai (misalnya Numeric Rating Scale); identifikasi respons nyeri non-verbal (meringis, gelisah, perubahan tanda vital); dan monitor efek samping terapi farmakologis. (2) Terapeutik: berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti teknik relaksasi napas dalam (slow deep breathing) dengan frekuensi 6-10 napas per menit, distraksi dengan musik lembut atau guided imagery, kompres hangat pada area non-lesi jika tidak kontraindikasi, dan posisi semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi paru dan mengurangi beban jantung. (3) Edukasi: jelaskan penyebab nyeri dan tujuan manajemen nyeri; ajarkan teknik nonfarmakologis secara bertahap; anjurkan melaporkan nyeri secara dini sebelum menjadi berat; dan informasikan jadwal pemberian analgesik. (4) Kolaborasi: pemberian analgesik sesuai advis medis (misalnya morfin, NSAID, atau parasetamol) dengan prinsip right drug, right dose, right route, right time, dan right patient; kolaborasi pemberian antiemetik (misalnya ondansetron atau metoklopramid) untuk mengatasi mual muntah; dan rujuk ke tim medis untuk penanganan kausatif seperti fibrinolitik atau antikoagulan pada sindrom koroner akut. Intervensi ini dilakukan setiap 4 jam atau sesuai kebutuhan, dengan dokumentasi respons pasien secara real-time. Evaluasi keefektifan intervensi dilakukan dengan membandingkan skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi, serta memantau perbaikan tanda vital dan toleransi aktivitas pasien.
-
Article No. 26308 | 22 Jun 2026
Klinis : os datang dibawa oleh orang tuanya dengan keluhan demam sejak semalam, keluhan disertai batuk, pilek, sakit kepala, pusing dan badan pegal-pegal. os sempat muntah 1 kali setelah sarapan, berisi apa yang dimakan. nyeri perut -, perut kembung + ayah os mengaku os kelelahan setelah 2 hari ini banyak kegiatan di sekolahBP Systolic = 00, BP Interpretation = N, BP Diastolic = 00, BP Interpretation = N, Structure = 360543005, MAP = 0.00, MAP Interpretation = A, Pulse Rate = 100, PR Interpretation = N, Respiration Rate = 22, RR Interpretation = N, Temp = 38, Temp Interpretation = A, Oxygen Saturation = 99, OS Interpretation = N, Height/Length = 100, Weight = 24, BMI = 24.00, BMI Interpretation = Normal,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (36,5–37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi tubuh. Pada pasien ini, suhu tubuh terukur 38°C (interpretasi abnormal), disertai demam sejak semalam, sakit kepala, pusing, badan pegal-pegal, dan riwayat kelelahan akibat aktivitas padat di sekolah. Demam merupakan respons fisiologis tubuh terhadap infeksi atau inflamasi, di mana pirogen endogen (seperti interleukin-1, TNF-α) mengaktifkan pusat termoregulasi di hipotalamus untuk menaikkan set point suhu. Pasien juga mengalami batuk, pilek, dan muntah satu kali, yang memperkuat dugaan adanya proses infeksi (kemungkinan infeksi saluran pernapasan akut/ISPA). Kondisi ini memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi, kejang demam (terutama pada anak), atau kerusakan organ akibat hipertermia berkepanjangan. Faktor risiko yang teridentifikasi meliputi peningkatan metabolisme akibat aktivitas berlebihan, paparan agen infeksius, dan ketidakmampuan tubuh mengkompensasi panas yang dihasilkan. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan demam, pegal, sakit kepala) dan data objektif (suhu 38°C, nadi 100x/menit, respirasi 22x/menit) yang menunjukkan respons sistemik terhadap infeksi. Intervensi keperawatan difokuskan pada penurunan suhu tubuh, manajemen cairan, dan pemantauan tanda-tanda vital secara berkala.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi: Termoregulasi (SLKI L.14134) adalah luaran keperawatan yang menggambarkan kemampuan pasien untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5–37,5°C) serta bebas dari tanda-tanda hipertermia. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal, (2) Tidak ada menggigil, (3) Tidak ada takikardi atau takipnea yang terkait demam, (4) Kulit teraba hangat dan lembab secara normal, (5) Pasien melaporkan penurunan rasa tidak nyaman akibat demam. Pada pasien ini, target luaran dalam 1x24 jam adalah suhu tubuh menurun menjadi <37,5°C, frekuensi nadi menurun dari 100x/menit ke arah normal (80-100x/menit), dan respirasi membaik dari 22x/menit menjadi 16-20x/menit. Selain itu, pasien diharapkan tidak mengalami dehidrasi yang ditandai dengan turgor kulit baik, membran mukosa lembab, dan produksi urine adekuat. Keluarga juga diharapkan mampu mengenali tanda-tanda awal hipertermia dan melakukan tatalaksana mandiri seperti kompres hangat dan pemberian cairan. Evaluasi dilakukan setiap 4 jam untuk memantau perkembangan suhu dan respons terhadap intervensi. Jika dalam 24 jam suhu belum normal, perlu dikaji ulang kemungkinan infeksi berat atau resistensi terhadap antipiretik. SLKI ini menjadi acuan untuk mengukur efektivitas intervensi keperawatan yang diberikan.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi: Manajemen Hipertermia (SIKI I.15506) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk menurunkan suhu tubuh pasien hingga rentang normal dan mencegah komplikasi. Intervensi utama meliputi: (1) Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, respirasi, tekanan darah) setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi; (2) Berikan kompres hangat pada area lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan) selama 15-20 menit untuk memfasilitasi vasodilatasi dan penguapan panas; (3) Anjurkan pasien untuk minum air hangat atau cairan oralit minimal 1500-2000 ml/hari (sesuai toleransi) untuk mencegah dehidrasi; (4) Kolaborasi pemberian antipiretik (misal parasetamol 10-15 mg/kgBB/dosis) sesuai indikasi dokter; (5) Atur lingkungan: buka jendela untuk sirkulasi udara, gunakan kipas angin (jika tidak menggigil), dan kurangi selimut tebal; (6) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, pentingnya istirahat, dan tanda bahaya (misal kejang, penurunan kesadaran, sesak napas); (7) Monitor intake dan output cairan untuk mendeteksi ketidakseimbangan. Pada pasien anak dengan berat badan 24 kg, dosis antipiretik perlu dihitung secara tepat. Intervensi juga mencakup manajemen muntah: posisikan pasien miring untuk mencegah aspirasi, tawarkan cairan sedikit-sedikit tapi sering, dan hindari makanan padat sampai muntah berhenti. Evaluasi intervensi dilakukan dengan membandingkan suhu sebelum dan sesudah tindakan, serta mengamati respons fisiologis seperti penurunan frekuensi nadi dan perbaikan warna kulit. Jika setelah 30-60 menit suhu tidak turun, intervensi dapat diulang atau ditingkatkan dengan teknik tepid sponge bath. Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien secara akurat untuk kelanjutan asuhan.
-
Article No. 26309 | 22 Jun 2026
Klinis : pasien datang dibawa oleh orang tuanya dengan keluhan demam sejak semalam, keluhan disertai batuk, pilek, sakit kepala, pusing dan badan pegal-pegal. os sempat muntah 1 kali setelah sarapan, berisi apa yang dimakan. nyeri perut -, perut kembung +
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (36,5-37,5°C) karena faktor eksternal atau internal yang mengganggu mekanisme termoregulasi. Pada pasien ini, demam sejak semalam, batuk, pilek, sakit kepala, pusing, dan badan pegal-pegal mengindikasikan respons inflamasi sistemik yang memicu peningkatan set point suhu di hipotalamus. Faktor risiko meliputi infeksi virus atau bakteri saluran napas atas, dehidrasi ringan, dan peningkatan metabolisme akibat demam. Muntah satu kali setelah sarapan dapat memperburuk status hidrasi dan memperberat hipertermia. Perut kembung mungkin terkait dengan penurunan motilitas usus akibat demam atau efek samping dari respons inflamasi. Hipertermia yang tidak tertangani dapat menyebabkan kejang demam, dehidrasi berat, dan gangguan elektrolit, terutama pada anak-anak dan lansia. Penanganan meliputi pemberian antipiretik, kompres hangat, hidrasi adekuat, dan pemantauan suhu secara berkala. Tanda-tanda vital yang perlu dipantau adalah suhu aksila rektal atau oral, denyut nadi, frekuensi napas, dan tekanan darah. Pada pasien ini, demam disertai gejala sistemik seperti sakit kepala dan pegal-pegal menunjukkan perlunya intervensi segera untuk menurunkan suhu dan mengatasi penyebab infeksi. Kolaborasi dengan dokter diperlukan untuk diagnosis pasti seperti influenza, common cold, atau infeksi saluran napas akut lainnya. Edukasi kepada orang tua tentang tanda bahaya demam (kejang, penurunan kesadaran, dehidrasi) sangat penting. Hipertermia juga dapat meningkatkan kebutuhan oksigen dan metabolisme basal, sehingga pasien memerlukan istirahat dan asupan nutrisi yang cukup. Lingkungan yang sejuk dan ventilasi yang baik membantu proses penurunan suhu. Obat antipiretik seperti parasetamol atau ibuprofen diberikan sesuai dosis berat badan. Hindari kompres alkohol karena risiko hipotermia dan toksisitas. Pemantauan suhu setiap 4-6 jam atau lebih sering jika demam tinggi. Rehidrasi oral dengan oralit atau cairan elektrolit dianjurkan. Jika muntah berulang, pertimbangkan rehidrasi intravena. Pada pasien dengan perut kembung, posisi semi-Fowler dapat membantu mengurangi distensi abdomen. Hipertermia yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan organ seperti otak, ginjal, dan hati, meskipun jarang pada demam ringan-sedang. Oleh karena itu, intervensi keperawatan yang tepat dan tepat waktu sangat krusial. Dokumentasi suhu, respons terhadap intervensi, dan tanda-tanda vital lainnya harus dilakukan secara akurat. Konseling kepada orang tua tentang cara mengukur suhu yang benar, jadwal pemberian obat, dan kapan harus kembali ke fasilitas kesehatan juga merupakan bagian dari asuhan keperawatan. Hipertermia pada anak sering kali disebabkan oleh infeksi virus yang self-limiting, tetapi tetap memerlukan pemantauan ketat untuk mencegah komplikasi. Dengan penanganan yang adekuat, prognosis umumnya baik. Namun, jika demam tidak turun dalam 3 hari atau muncul gejala baru seperti sesak napas, ruam, atau penurunan kesadaran, pasien harus segera dirujuk. Secara keseluruhan, diagnosis hipertermia pada pasien ini memerlukan pendekatan holistik yang mencakup manajemen suhu, hidrasi, nutrisi, istirahat, dan edukasi.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi adalah kemampuan individu untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal melalui mekanisme fisiologis dan perilaku. Luaran ini mencakup indikator seperti suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5°C), tidak ada menggigil, tidak ada perubahan warna kulit (pucat atau kemerahan), tidak ada takikardia atau takipnea yang disebabkan demam, dan pasien melaporkan penurunan rasa tidak nyaman akibat demam. Pada pasien ini, setelah intervensi keperawatan diharapkan suhu tubuh turun secara bertahap, gejala sakit kepala dan pegal-pegal berkurang, serta pasien mampu beristirahat dengan nyaman. Indikator lain yang perlu dicapai adalah tidak terjadi dehidrasi yang ditandai dengan turgor kulit baik, membran mukosa lembab, dan produksi urine adekuat. Orang tua pasien juga diharapkan mampu mendemonstrasikan cara mengukur suhu, memberikan antipiretik dengan benar, dan mengenali tanda-tanda demam yang memerlukan bantuan medis. Luaran ini bersifat individual dan dapat disesuaikan dengan usia, kondisi klinis, dan respons pasien. Evaluasi dilakukan setiap 8 jam atau lebih sering pada fase akut. Jika target tidak tercapai dalam 24 jam, perlu dikaji ulang penyebab demam dan efektivitas intervensi. Pada pasien dengan muntah dan perut kembung, luaran juga mencakup tidak ada muntah berulang dan distensi abdomen berkurang. Termoregulasi yang optimal akan mendukung pemulihan pasien secara keseluruhan, mengurangi risiko komplikasi, dan meningkatkan kenyamanan. Dokumentasi pencapaian luaran harus objektif dan terukur, misalnya "suhu aksila 37,2°C setelah 4 jam pemberian antipiretik" atau "pasien tidak menggigil dalam 2 jam terakhir". Edukasi kepada orang tua juga menjadi bagian dari luaran, yaitu peningkatan pengetahuan tentang manajemen demam di rumah. Dengan demikian, luaran termoregulasi tidak hanya berfokus pada angka suhu, tetapi juga pada kesejahteraan pasien secara fisik dan psikososial. Pada kasus demam akibat infeksi, luaran ini juga terkait dengan respons inflamasi yang membaik, sehingga penurunan suhu harus diikuti dengan perbaikan gejala sistemik lainnya. Perawat perlu memonitor efek samping obat, seperti iritasi lambung akibat antipiretik, terutama pada pasien yang baru saja muntah. Jika perlu, pemberian obat setelah makan atau dengan makanan ringan dapat dipertimbangkan. Secara keseluruhan, SLKI Termoregulasi memberikan panduan yang jelas untuk mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien hipertermia.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh dan mempertahankan termoregulasi normal pada pasien dengan peningkatan suhu tubuh. Intervensi ini meliputi observasi suhu tubuh setiap 4-6 jam atau lebih sering sesuai indikasi, observasi tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, rasa haus), observasi tanda-tanda kejang demam, dan monitor asupan dan haluaran cairan. Tindakan mandiri perawat meliputi berikan kompres hangat pada lipatan tubuh (aksila, lipat paha, leher) selama 15-20 menit, anjurkan pasien untuk minum banyak cairan (air putih, oralit, jus) sesuai toleransi, anjurkan istirahat total, berikan lingkungan yang sejuk (buka jendela, gunakan kipas angin tanpa langsung mengarah ke pasien), dan gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Kolaborasi dengan dokter meliputi pemberian antipiretik (parasetamol 10-15 mg/kgBB/dosis setiap 4-6 jam atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/dosis setiap 6-8 jam) dan jika perlu, berikan cairan intravena untuk koreksi dehidrasi. Edukasi kepada pasien dan keluarga meliputi jelaskan penyebab demam, cara pengukuran suhu yang benar, jadwal pemberian obat, tanda bahaya demam (kejang, penurunan kesadaran, sesak napas, muntah proyektil), dan kapan harus kembali ke fasilitas kesehatan. Pada pasien dengan muntah, berikan antipiretik secara rektal jika oral tidak toleran, dan tawarkan cairan sedikit-sedikit tapi sering untuk mencegah muntah berulang. Untuk perut kembung, lakukan posisi semi-Fowler, berikan minyak kayu putih atau minyak telon pada perut, dan anjurkan mobilisasi bertahap jika kondisi memungkinkan. Evaluasi intervensi dilakukan dengan memantau penurunan suhu, perbaikan gejala sistemik, dan tidak adanya komplikasi. Dokumentasi semua tindakan dan respons pasien secara tepat. Manajemen hipertermia juga mencakup pencegahan penyebaran infeksi dengan menerapkan kewaspadaan standar, seperti cuci tangan sebelum dan sesudah kontak pasien, dan menggunakan masker jika diperlukan. Pada anak-anak, perhatikan dosis antipiretik yang tepat berdasarkan berat badan, bukan usia. Hindari penggunaan aspirin karena risiko sindrom Reye. Jika demam tinggi (>39°C) dan tidak responsif terhadap antipiretik, pertimbangkan kompres dingin (bukan es) pada dahi dan leher. Intervensi ini harus disesuaikan dengan kondisi individual pasien, termasuk usia, berat badan, penyakit penyerta, dan respons terhadap terapi. Manajemen hipertermia yang komprehensif akan mempercepat pemulihan, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kenyamanan pasien. Perawat juga perlu memberikan dukungan psikologis kepada orang tua yang cemas akibat demam anaknya. Dengan intervensi yang tepat, demam dapat dikelola secara efektif di rumah sakit maupun di rumah setelah pasien diperbolehkan pulang. Secara keseluruhan, SIKI Manajemen Hipertermia memberikan kerangka kerja yang sistematis dan berbasis bukti untuk menangani pasien demam.
-
Article No. 26290 | 21 Jun 2026
Klinis : slki dari sdki hipertermi apa
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipertermia
Kode ICD-10: R50.9
Deskripsi Singkat : Hipertermia, yang dalam konteks ini dirujuk dari SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) dan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), adalah kondisi di mana suhu tubuh inti meningkat di atas rentang normal (lebih dari 37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi tubuh untuk mengimbangi produksi panas yang berlebihan atau paparan panas eksternal. Berbeda dengan demam (febris) yang disebabkan oleh infeksi atau inflamasi dan diatur oleh set point hipotalamus, hipertermia terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi dan pelepasan panas. Kode ICD-10 yang tepat untuk kondisi ini adalah R50.9 yang merupakan kode untuk "Fever, unspecified" (Demam, tidak spesifik) atau hipertermia yang tidak dijelaskan penyebabnya. Dalam sistem kodifikasi klinis, hipertermia akibat paparan lingkungan (seperti heat stroke) mungkin memiliki kode spesifik lain (misalnya T67.0), namun untuk tujuan diagnosis keperawatan umum pada SLKI/SDKI yang tidak menyebutkan etiologi spesifik, R50.9 adalah kode yang paling sering digunakan sebagai representasi untuk peningkatan suhu tubuh tanpa penyebab infeksi atau inflamasi yang jelas. Penting untuk membedakan hipertermia dari demam karena penanganannya berbeda; hipertermia memerlukan pendinginan fisik segera, bukan antipiretik. Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai situasi klinis seperti aktivitas berlebihan, dehidrasi, gangguan hipotalamus, atau efek samping obat (misalnya neuroleptic malignant syndrome).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***