Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26319 | 24 Jun 2026
Klinis : a.Mual, muntah setiap makan dan minum, lemas, nafsu makan berkurang sejak 1 minggu, nyeri ulu hati, sesak ,ada benjolan di bagian dada sebelah kanan atas, Lemas, nyeri di bawah tulang iga kiri, riwayat op payudara kiri tahun, 2022 di RS Harapan Keluarga, kaki lemas dan nyeri. TD : 109/71 mmhg, GCS : 15, kes : CM Nadi : 88 x/ mnt S : 36,9 °C RR : 20 x/ mnt SpO² : 98 % b.Riwayat Penyakit Sekarang (P, Q, R, S, T) : P : Keluhan bertambah berat saat beraktivitas, bergerak, atau melakukan pekerjaan ringan. Sedangkan keluhan sedikit berkurang saat pasien beristirahat. Q : Pasien merasakan lemas, cepat lelah, serta nafsu makan menurun. R : Nyeri di bagian iga kiri. Ada benjolan di dada kanan. Nyeri ulu hati. S : Keluhan dirasakan berat / hebat ( skala 6–7 ). Pasien terlihat sangat terganggu, sulit beraktivitas, cepat lelah, kondisi fisik menurun drastis, dan mengeluh sangat tidak nyaman. T : Keluhan dirasakan 7 hari sebelum masuk RS. Riwayat operasi payudara kiri tahun 2022, terdapat keganasan dan sedang pengobatan di RS Hermina ke spesialis onkologi. c.Riwayat Kesehatan Dahulu : riwayat operasi payudara kiri dan dinyatakan kanker, sedang pengobatan di RS Hermina, tetapi obat saja, awal mula kontrol sebulan sekali, sekarang tiga bulan sekali. d.Riwayat Kesehatan Keluarga : Ibu meninggal kanker darah, ayah menderita sakit liver. e.Riwayat Alergi : tidak ada 4.Pemeriksaan Fisik a.Keadaan Umum : sedang b.Kesadaran : CM c.Gcs : 15 d.Tanda-Tanda Vital Tekanan Darah : 109/71 mmhg Nadi : 88 x/ mnt Suhu : 36,9 °C Respirasi : 20 x/ mnt SpO2 : 98 % e.Atropometri Berat Badan : 37 kg Tinggi Badan : 155 cm IMT : 15, 40 kg/m² ( underweight ) f.Sistem Pernafasan Inspeksi : Dada simetris saat gerak nafas, Palpasi : Gerak sekspansi dada simetris, getaran suara nafas normal. Perkusi : Bunyi perkusi sonor di seluruh lapang paru. Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler bersih. g.Sistem Kardiovaskular Inspeksi : DBN Palpasi : DBN Perkusi : DBN Auskultasi : Tidak ada bunyi tambahan, DBN h.Sistem Pencernaan Inspeksi : Perut datar, tidak ada luka Palpasi : Tidak ada nyeri tekan Perkusi : DBN Auskultasi : BU (+) 1.a.b.c.d.e.f.g.h.i.Sistem Endokrin Inspeksi : Kulit kering, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid Palpasi : Tidak ada benjolan di leher j.Sistem Genitourinaria Inspeksi : Urine produksi (+), warna kuning jernih Palpasi : Tidak ada pembengkakan pada area genital k.Sistem Muskuloskeletal Inspeksi : Tulang dada menonjol, otot tampak kecil Palpasi : Tonus otot menurun, tidak ada nyeri tekan a.b.c.d.e.f.g.h.i.j.k.l.Kekuatan Otot Skala : 4/5 % Kekuatan Otot : 70-80 % Karakteristik : Mampu menggerakkan anggota tubuh melawan gravitasi, mampu melawan tahanan ringan-sedang. m.Sistem Integument Inspeksi : tampak pucat, warna kulit coklat, nampak kering, tampak keriput Palpasi : Akral hangat, tidak ada benjolan, kulit terasa kasar i.j.k.l.m.n.Sistem Persyarafan Inspeksi : Kes : CM, tidak ada tremor Palpasi : Sensasi nyeri dan raba normal Perkusi : Normal Auskultasi : normal N. Olfactorius (I) : baik N. Opticus (II) : baik N. Okulomotoris (III) : Pupil kiri dan kanan normal N. Trochlearis (IV) : Gerakan mata ke dalam dan bawah normal N. Trigeminuss (V) : Gerakan mengunyah lancar, hanya saja pelan N. Abduscen (VI) : baik N. Fasialis (VII) : baik N. Akustikus (VIII) : normal N. Glosofarigeus (IX) : baik N. Vagus (X) : baik N. Assesoris (XI) : Mampu melawan gravitasi N. Hipoglosus (XII) : baik 2.3.4.5.Data Psikologi a.Konsep Diri Body Image : merasa tidak nyaman dengan sakitnya Harga Diri : merasa lemah, khawatir tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Peran : sering melamun memikirkan kondisi diri dan keluarga yang meninggal karena sakit serupa. Identitas Diri : mengenali diri sebagai orang yang sedang sakit, sering membandingkan kondisi dirinya dengan anggota keluarga yang telah meninggal. Ideal Diri : pasien berharap segera sembuh. b.Status Emosi : Kadang murung, sering melamun dan sedih. c.Kecemasan : pasien selalu cemas akan sakitnya. d.Pola Koping : koping adaptif, koorperatif terhadap proses perawatan. e.Persepsi Penyakit : pasien menganggap sakitnya sudah lama. 6.Data Sosial a.Gaya Komunikasi : bahasa Indonesia dan sunda. b.Hubungan Sosial : hubungan pasien dengan keluarga baik. 7.Data Spiritual : Pasien beragama Islam, pasien rajin sholat 5 waktu. 8.Data Pola Aktivitas Harian Tabel 1. 1 Pola Aktivitas Harian Pola Penilaian Intra Hospital Hospital Sehat Sakit Di Rumah Nutrisi Frekuensi Makan 3x/ hari 1-2 x/ hari 3 x/ hari Jenis Makan Pagi nasi + telor Siang dan malam rebusan ( singkong, pisang, jagung, ubi ) Pagi nasi + telor Siang dan malam rebusan ( singkong, pisang, jagung, ubi ) Diet lunak ( TIM ), diet lambung dan TKTP extra putel Pantangan Makan gorengan gorengan gorengan Keluhan Makan Tidak ada Tidak nafsu, mual muntah tiap makan. 3-4 sendok tiap makan Frekuensi Minum Sering, tiap makan pasti minum ( 600-1200 ) ml/ hari Sering, tiap makan pasti minum ( 600-1200 ) ml/ hari Teko dari pantry habis 1500 ml Jenis Minum Air putih air putih hangat air putih Keluhan Minum Tidak ada Tidak ada Tidak ada Eliminasi Frekuensi Bab 1 hari sekali 3 hari sekali 3 hari sekali Konsistensi Bab normal normal normal Keluhan Bab Tidak ada Tidak ada Tidak ada Frekuensi Bak > 4x/ hari > 4x/ hari ( sedikit ) > 4x/ hari ( pispot/ pampers ) Warna Bak Kuning jernih Kuning jernih Kuning jernih Keluhan Bak Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hygiene Mandi 2 x sehari 1-2 x / hari 2x / hari dilap Gosok Gigi Tiap mandi jarang Kadang-kadang Keramas seminggu 2x Seminggu 2x - Ganti Pakaian Sehari 2x Sehari 1-2x Sehari 1 x Gunting Kuku Seminggu sekali Seminggu sekali Seminggu sekali Keluhan Tidak ada keluhan dibantu keluarga Dibantu keluarga Istirahat Tidur Siang jarang Siang tidur terus Tidur siang nyenyak Tidur Malam 5-7 jam ( bangun per jam ) Tidak nyenyak Malam tidur nyenyak Keluhan Tidak ada Sulit tidur di malam hari Tidak ada 9.Pemeriksaan Penunjang a.Laboratorium Tabel 1. 2 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Tanggal Nama Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Jt: 13/05/2026 Jh : Hemoglobin 8.3 14.0-18.0 G/dL Leukosit 10,100 4.500-11.500 /μL Trombosit 224.000 150000-450000 /μL Hematokrit 24.8 40-54 % Eritrosit 2.82 4.60-6.00 Juta/μL Gula Darah Sewaktu 88 70-140 Mg/dL Jt: 15/05/2026 Jh : Hemoglobin 8.3 14.0-18.0 G/dL Leukosit 9,700 4.500-11.500 /μL Trombosit 192.000 150000-450000 /μL Hematokrit 24.6 40-54 % Eritrosit 2.76 4.60-6.00 Juta/μL 13/11/2022 Biopsi Jaringan ( kista mammae sinistra ) Karsinoma lobular invasif mammae sinistra Grade 2 ( skor tubular 3, skor inti 2, skor mitosis 1, total skor : 6 ) invasi limfovaskular tidak ditemukan ) b.Radiologi Tabel 1. 3 Pemeriksaan Radiologi Tanggal Pemeriksaan/Kesan Hasil Jt : 13/05/2026 Jh : Thorax PA Cor dalam batas normal Gambaran Bronkhitis Tak tampak kelainan lainnya pada foto thorax Tabel 1. 4 Therapi Per-Oral No Nama Obat Dosis Fungsi 1. Sucralfat 3 x 1 C 1.Membentuk lapisan pelindung tukak usus 2.Menghalangi kerusakan dari asam lambung 3.Mempercepat penyembuhan luka dan meredakan nyeri maag 2. Asam folat 3 x 1 mg 1.Membantu membentuk sel darah merah 2.Mencegah dan mengatasi anemia megablostik 3.Meningkatkan kadar Hb 1 Tabel 1. 5 Therapi Injeksi No Nama Obat Dosis Rute Fungsi 1. OMZ 1 x 1 IV Menghambat produksi asam lambung 2. Ondansentron 3 x 4 mg IV Mencegah dan mengobati mual muntah 3. Ketorolac 2 x 1 A IV Mengatasi nyeri Tabel 1. 6 Therapi Obat Luar No Nama Obat Dosis Rute Fungsi Tabel 1. 7 Therapi Cairan Infus No Nama Cairan Dosis Rute Golongan Fungsi 1 RL 20 tpm IV Kristaloid isotonik 1.Mengganti cairan dan elektrolit 2.Resusitasi cairan 3.Menjaga keseimbangan asam basa boleh dibantu diagnosa keperawatan berdasarkan SDKI apa saja yang muncul
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Pada pasien ini, terjadi penurunan berat badan signifikan (IMT 15,40 kg/m², underweight), nafsu makan menurun, mual dan muntah setiap makan/minum, serta hanya mampu menghabiskan 3-4 sendok makan per porsi. Data penunjang menunjukkan anemia (Hb 8,3 g/dL, Ht 24,8%, eritrosit 2,82 juta/μL) yang mengindikasikan defisiensi zat gizi makro dan mikro. Kondisi ini diperburuk oleh riwayat kanker payudara dengan metastasis yang meningkatkan kebutuhan metabolik dan katabolisme jaringan.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status Nutrisi. Definisi: Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat untuk mendukung fungsi metabolisme dan perbaikan jaringan. Kriteria hasil yang diharapkan: (1) Berat badan membaik dengan target peningkatan bertahap; (2) Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam rentang normal (18,5-22,9 kg/m²); (3) Nafsu makan meningkat, ditandai dengan kemampuan menghabiskan porsi makan yang disediakan; (4) Frekuensi mual dan muntah menurun; (5) Kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit dalam batas normal; (6) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi seperti kulit kering, rambut rontok, atau kelemahan otot; (7) Pasien mampu mengonsumsi makanan sesuai diet yang dianjurkan (TKTP, diet lambung).
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi status nutrisi melalui pengukuran antropometri (BB, TB, IMT) dan laboratorium (Hb, albumin, total protein); (2) Monitor asupan oral dan hitung kebutuhan kalori harian (basal energy expenditure + faktor stres); (3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein) dalam bentuk lunak/tim, diberikan dalam porsi kecil tapi sering (6-8 kali/hari); (4) Berikan makanan pada suhu ruang atau hangat untuk mengurangi rangsangan mual; (5) Atur posisi semi-Fowler saat makan dan 30 menit setelahnya untuk mencegah refluks; (6) Berikan obat antiemetik (Ondansentron) 30 menit sebelum makan sesuai program; (7) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan nutrisi untuk proses penyembuhan dan melawan kanker; (8) Libatkan keluarga dalam menyediakan makanan kesukaan pasien yang sesuai diet.
Kondisi: Mual
Kode SDKI: D.0076
Deskripsi Singkat: Mual adalah perasaan tidak nyaman di daerah epigastrium yang sering diikuti keinginan untuk muntah. Pasien mengalami mual setiap kali makan dan minum, disertai muntah, yang menyebabkan asupan nutrisi sangat terbatas. Mual ini dapat disebabkan oleh efek samping kemoterapi (riwayat kanker payudara), peningkatan tekanan intrakranial akibat metastasis, atau gangguan motilitas lambung. Mual yang persisten menyebabkan penurunan kualitas hidup, kelemahan, dan risiko dehidrasi serta malnutrisi.
Kode SLKI: L.08058
Deskripsi : Tingkat Mual. Definisi: Persepsi subjektif individu terhadap sensasi tidak nyaman yang berhubungan dengan mual. Kriteria hasil yang diharapkan: (1) Keluhan mual menurun dari skala 6-7 menjadi 0-2 (skala numerik); (2) Frekuensi muntah menurun dari setiap kali makan menjadi maksimal 1 kali/hari; (3) Nafsu makan meningkat, pasien mampu menghabiskan minimal setengah porsi; (4) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis; (5) Frekuensi nadi dan pernapasan dalam batas normal (tidak ada tanda dehidrasi); (6) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus mual dan cara mengatasinya.
Kode SIKI: I.03117
Deskripsi : Manajemen Mual. Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola faktor-faktor yang menyebabkan mual. Intervensi utama: (1) Kaji karakteristik mual (frekuensi, durasi, faktor pencetus, skala) setiap shift; (2) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, output urine); (3) Berikan antiemetik (Ondansentron 3x4 mg IV) sesuai jadwal, terutama 30 menit sebelum makan; (4) Ciptakan lingkungan yang nyaman, bebas dari bau menyengat (makanan, parfum, asap); (5) Anjurkan teknik relaksasi nafas dalam dan distraksi (mendengarkan musik, mengaji) saat mual muncul; (6) Berikan makanan dalam porsi kecil dan sering, hindari makanan berlemak, berminyak, atau terlalu manis; (7) Anjurkan mengonsumsi makanan kering (roti kering, biskuit) sebelum bangun tidur; (8) Kolaborasi pemberian cairan intravena (RL 20 tpm) untuk mencegah dehidrasi jika asupan oral tidak adekuat.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat. Pasien mengeluh nyeri di ulu hati (epigastrium), nyeri di bawah tulang iga kiri, dan nyeri pada kaki. Skala nyeri 6-7 (berat), bertambah saat beraktivitas dan berkurang saat istirahat. Nyeri ulu hati bisa disebabkan oleh iritasi mukosa lambung (efek samping obat atau stres), sedangkan nyeri iga kiri dan kaki kemungkinan terkait metastasis tulang dari kanker payudara. Nyeri mengganggu aktivitas, tidur, dan nafsu makan.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri. Definisi: Persepsi subjektif individu terhadap ketidaknyamanan akibat nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan: (1) Skala nyeri menurun dari 6-7 menjadi 2-3 (nyeri ringan) dalam 3x24 jam; (2) Pasien melaporkan nyeri berkurang, tidak mengeluh terus-menerus; (3) Ekspresi wajah tenang, tidak meringis; (4) Tanda vital stabil (TD, nadi, RR dalam batas normal); (5) Pasien mampu beristirahat dan tidur dengan nyaman (tidur malam nyenyak, tidak terbangun karena nyeri); (6) Pasien mampu melakukan aktivitas ringan tanpa keluhan nyeri bertambah.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola pengalaman nyeri melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Intervensi utama: (1) Kaji nyeri secara komprehensif menggunakan PQRST (Pencetus, Quality, Region, Severity, Time) setiap 4 jam; (2) Berikan analgesik Ketorolac 2x1 ampul IV sesuai program, monitor efek samping (perdarahan saluran cerna, gangguan ginjal); (3) Ajarkan teknik non-farmakologis: kompres hangat pada area nyeri, teknik relaksasi nafas dalam, guided imagery (membayangkan tempat yang menyenangkan); (4) Atur posisi senyaman mungkin, berikan bantal penyangga pada area yang nyeri; (5) Minimalkan aktivitas yang memperberat nyeri, berikan periode istirahat yang cukup; (6) Kolaborasi dengan dokter onkologi untuk penanganan nyeri kanker jangka panjang (misal: terapi radiasi paliatif pada metastasis tulang, atau pemberian opioid jika nyeri tidak terkontrol); (7) Edukasi pasien untuk segera melaporkan nyeri sebelum menjadi hebat.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Pasien mengalami kelemahan otot (tonus otot menurun, kekuatan otot 4/5 atau 70-80%), kaki lemas dan nyeri, serta cepat lelah saat beraktivitas. Kondisi ini disebabkan oleh efek sistemik kanker (kakeksia), anemia (Hb 8,3 g/dL), malnutrisi, dan kemungkinan metastasis tulang atau neuropati. Pasien membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari seperti mandi, berpakaian, dan toileting.
Kode SLKI: L.05042
Deskripsi : Mobilitas Fisik. Definisi: Kemampuan individu untuk bergerak secara mandiri dan terkoordinasi. Kriteria hasil yang diharapkan: (1) Kekuatan otot meningkat dari skala 4 menjadi 5 (normal) pada semua ek
Article No. 26320 | 24 Jun 2026
Klinis : a.Mual, muntah setiap makan dan minum, lemas, nafsu makan berkurang sejak 1 minggu, nyeri ulu hati, sesak ,ada benjolan di bagian dada sebelah kanan atas, Lemas, nyeri di bawah tulang iga kiri, riwayat op payudara kiri tahun, 2022 di RS Harapan Keluarga, kaki lemas dan nyeri. TD : 109/71 mmhg, GCS : 15, kes : CM Nadi : 88 x/ mnt S : 36,9 °C RR : 20 x/ mnt SpO² : 98 % b.Riwayat Penyakit Sekarang (P, Q, R, S, T) : P : Keluhan bertambah berat saat beraktivitas, bergerak, atau melakukan pekerjaan ringan. Sedangkan keluhan sedikit berkurang saat pasien beristirahat. Q : Pasien merasakan lemas, cepat lelah, serta nafsu makan menurun. R : Nyeri di bagian iga kiri. Ada benjolan di dada kanan. Nyeri ulu hati. S : Keluhan dirasakan berat / hebat ( skala 6–7 ). Pasien terlihat sangat terganggu, sulit beraktivitas, cepat lelah, kondisi fisik menurun drastis, dan mengeluh sangat tidak nyaman. T : Keluhan dirasakan 7 hari sebelum masuk RS. Riwayat operasi payudara kiri tahun 2022, terdapat keganasan dan sedang pengobatan di RS Hermina ke spesialis onkologi. c.Riwayat Kesehatan Dahulu : riwayat operasi payudara kiri dan dinyatakan kanker, sedang pengobatan di RS Hermina, tetapi obat saja, awal mula kontrol sebulan sekali, sekarang tiga bulan sekali. d.Riwayat Kesehatan Keluarga : Ibu meninggal kanker darah, ayah menderita sakit liver. e.Riwayat Alergi : tidak ada 4.Pemeriksaan Fisik a.Keadaan Umum : sedang b.Kesadaran : CM c.Gcs : 15 d.Tanda-Tanda Vital Tekanan Darah : 109/71 mmhg Nadi : 88 x/ mnt Suhu : 36,9 °C Respirasi : 20 x/ mnt SpO2 : 98 % e.Atropometri Berat Badan : 37 kg Tinggi Badan : 155 cm IMT : 15, 40 kg/m² ( underweight ) f.Sistem Pernafasan Inspeksi : Dada simetris saat gerak nafas, Palpasi : Gerak sekspansi dada simetris, getaran suara nafas normal. Perkusi : Bunyi perkusi sonor di seluruh lapang paru. Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler bersih. g.Sistem Kardiovaskular Inspeksi : DBN Palpasi : DBN Perkusi : DBN Auskultasi : Tidak ada bunyi tambahan, DBN h.Sistem Pencernaan Inspeksi : Perut datar, tidak ada luka Palpasi : Tidak ada nyeri tekan Perkusi : DBN Auskultasi : BU (+) 1.a.b.c.d.e.f.g.h.i.Sistem Endokrin Inspeksi : Kulit kering, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid Palpasi : Tidak ada benjolan di leher j.Sistem Genitourinaria Inspeksi : Urine produksi (+), warna kuning jernih Palpasi : Tidak ada pembengkakan pada area genital k.Sistem Muskuloskeletal Inspeksi : Tulang dada menonjol, otot tampak kecil Palpasi : Tonus otot menurun, tidak ada nyeri tekan a.b.c.d.e.f.g.h.i.j.k.l.Kekuatan Otot Skala : 4/5 % Kekuatan Otot : 70-80 % Karakteristik : Mampu menggerakkan anggota tubuh melawan gravitasi, mampu melawan tahanan ringan-sedang. m.Sistem Integument Inspeksi : tampak pucat, warna kulit coklat, nampak kering, tampak keriput Palpasi : Akral hangat, tidak ada benjolan, kulit terasa kasar i.j.k.l.m.n.Sistem Persyarafan Inspeksi : Kes : CM, tidak ada tremor Palpasi : Sensasi nyeri dan raba normal Perkusi : Normal Auskultasi : normal N. Olfactorius (I) : baik N. Opticus (II) : baik N. Okulomotoris (III) : Pupil kiri dan kanan normal N. Trochlearis (IV) : Gerakan mata ke dalam dan bawah normal N. Trigeminuss (V) : Gerakan mengunyah lancar, hanya saja pelan N. Abduscen (VI) : baik N. Fasialis (VII) : baik N. Akustikus (VIII) : normal N. Glosofarigeus (IX) : baik N. Vagus (X) : baik N. Assesoris (XI) : Mampu melawan gravitasi N. Hipoglosus (XII) : baik 2.3.4.5.Data Psikologi a.Konsep Diri Body Image : merasa tidak nyaman dengan sakitnya Harga Diri : merasa lemah, khawatir tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Peran : sering melamun memikirkan kondisi diri dan keluarga yang meninggal karena sakit serupa. Identitas Diri : mengenali diri sebagai orang yang sedang sakit, sering membandingkan kondisi dirinya dengan anggota keluarga yang telah meninggal. Ideal Diri : pasien berharap segera sembuh. b.Status Emosi : Kadang murung, sering melamun dan sedih. c.Kecemasan : pasien selalu cemas akan sakitnya. d.Pola Koping : koping adaptif, koorperatif terhadap proses perawatan. e.Persepsi Penyakit : pasien menganggap sakitnya sudah lama. 6.Data Sosial a.Gaya Komunikasi : bahasa Indonesia dan sunda. b.Hubungan Sosial : hubungan pasien dengan keluarga baik. 7.Data Spiritual : Pasien beragama Islam, pasien rajin sholat 5 waktu. 8.Data Pola Aktivitas Harian Tabel 1. 1 Pola Aktivitas Harian Pola Penilaian Intra Hospital Hospital Sehat Sakit Di Rumah Nutrisi Frekuensi Makan 3x/ hari 1-2 x/ hari 3 x/ hari Jenis Makan Pagi nasi + telor Siang dan malam rebusan ( singkong, pisang, jagung, ubi ) Pagi nasi + telor Siang dan malam rebusan ( singkong, pisang, jagung, ubi ) Diet lunak ( TIM ), diet lambung dan TKTP extra putel Pantangan Makan gorengan gorengan gorengan Keluhan Makan Tidak ada Tidak nafsu, mual muntah tiap makan. 3-4 sendok tiap makan Frekuensi Minum Sering, tiap makan pasti minum ( 600-1200 ) ml/ hari Sering, tiap makan pasti minum ( 600-1200 ) ml/ hari Teko dari pantry habis 1500 ml Jenis Minum Air putih air putih hangat air putih Keluhan Minum Tidak ada Tidak ada Tidak ada Eliminasi Frekuensi Bab 1 hari sekali 3 hari sekali 3 hari sekali Konsistensi Bab normal normal normal Keluhan Bab Tidak ada Tidak ada Tidak ada Frekuensi Bak > 4x/ hari > 4x/ hari ( sedikit ) > 4x/ hari ( pispot/ pampers ) Warna Bak Kuning jernih Kuning jernih Kuning jernih Keluhan Bak Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hygiene Mandi 2 x sehari 1-2 x / hari 2x / hari dilap Gosok Gigi Tiap mandi jarang Kadang-kadang Keramas seminggu 2x Seminggu 2x - Ganti Pakaian Sehari 2x Sehari 1-2x Sehari 1 x Gunting Kuku Seminggu sekali Seminggu sekali Seminggu sekali Keluhan Tidak ada keluhan dibantu keluarga Dibantu keluarga Istirahat Tidur Siang jarang Siang tidur terus Tidur siang nyenyak Tidur Malam 5-7 jam ( bangun per jam ) Tidak nyenyak Malam tidur nyenyak Keluhan Tidak ada Sulit tidur di malam hari Tidak ada 9.Pemeriksaan Penunjang a.Laboratorium Tabel 1. 2 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Tanggal Nama Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Jt: 13/05/2026 Jh : Hemoglobin 8.3 14.0-18.0 G/dL Leukosit 10,100 4.500-11.500 /μL Trombosit 224.000 150000-450000 /μL Hematokrit 24.8 40-54 % Eritrosit 2.82 4.60-6.00 Juta/μL Gula Darah Sewaktu 88 70-140 Mg/dL Jt: 15/05/2026 Jh : Hemoglobin 8.3 14.0-18.0 G/dL Leukosit 9,700 4.500-11.500 /μL Trombosit 192.000 150000-450000 /μL Hematokrit 24.6 40-54 % Eritrosit 2.76 4.60-6.00 Juta/μL 13/11/2022 Biopsi Jaringan ( kista mammae sinistra ) Karsinoma lobular invasif mammae sinistra Grade 2 ( skor tubular 3, skor inti 2, skor mitosis 1, total skor : 6 ) invasi limfovaskular tidak ditemukan ) b.Radiologi Tabel 1. 3 Pemeriksaan Radiologi Tanggal Pemeriksaan/Kesan Hasil Jt : 13/05/2026 Jh : Thorax PA Cor dalam batas normal Gambaran Bronkhitis Tak tampak kelainan lainnya pada foto thorax Tabel 1. 4 Therapi Per-Oral No Nama Obat Dosis Fungsi 1. Sucralfat 3 x 1 C 1.Membentuk lapisan pelindung tukak usus 2.Menghalangi kerusakan dari asam lambung 3.Mempercepat penyembuhan luka dan meredakan nyeri maag 2. Asam folat 3 x 1 mg 1.Membantu membentuk sel darah merah 2.Mencegah dan mengatasi anemia megablostik 3.Meningkatkan kadar Hb 1 Tabel 1. 5 Therapi Injeksi No Nama Obat Dosis Rute Fungsi 1. OMZ 1 x 1 IV Menghambat produksi asam lambung 2. Ondansentron 3 x 4 mg IV Mencegah dan mengobati mual muntah 3. Ketorolac 2 x 1 A IV Mengatasi nyeri Tabel 1. 6 Therapi Obat Luar No Nama Obat Dosis Rute Fungsi Tabel 1. 7 Therapi Cairan Infus No Nama Cairan Dosis Rute Golongan Fungsi 1 RL 20 tpm IV Kristaloid isotonik 1.Mengganti cairan dan elektrolit 2.Resusitasi cairan 3.Menjaga keseimbangan asam basa boleh dibantu diagnosa keperawatan berdasarkan SDKI apa saja yang muncul defisit volume cairan apakah tidak masuk ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual (Nausea) dan Muntah (Vomiting)
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Mual adalah perasaan subjektif yang tidak menyenangkan seperti ingin muntah, sedangkan muntah adalah pengeluaran isi lambung secara paksa melalui mulut. Pada pasien ini, mual dan muntah terjadi setiap kali makan dan minum, disertai dengan penurunan nafsu makan yang signifikan sejak 1 minggu, sehingga mengakibatkan asupan nutrisi dan cairan yang sangat tidak adekuat. Kondisi ini diperberat oleh riwayat kanker payudara dengan metastasis yang dicurigai (nyeri iga kiri, benjolan dada kanan) dan efek samping kemoterapi atau pengobatan onkologi. Pasien hanya mampu menghabiskan 3-4 sendok makan per porsi, yang jelas tidak mencukupi kebutuhan metabolik tubuh yang meningkat akibat proses keganasan.
Kode SLKI: L.08011
Deskripsi : Tingkat Mual (Level of Nausea) dengan kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: (1) Keluhan mual menurun, (2) Keinginan untuk muntah menurun, (3) Frekuensi muntah menurun, (4) Nafsu makan meningkat, (5) Asupan makanan dan cairan meningkat. Target luaran yang realistis adalah pada tingkat 3 (cukup meningkat) hingga 5 (meningkat) dalam skala Likert. Indikator yang paling relevan untuk pasien ini adalah penurunan frekuensi muntah dari setiap kali makan menjadi hanya kadang-kadang, serta peningkatan asupan oral dari 3-4 sendok menjadi setidaknya setengah porsi.
Kode SIKI: I.03117
Deskripsi : Manajemen Mual (Nausea Management) dengan intervensi utama: (1) Identifikasi faktor penyebab mual (misalnya, efek kemoterapi, metastasis ke hepar/abdomen, obstruksi usus parsial, atau efek psikologis), (2) Monitor tanda-tanda vital dan status hidrasi, (3) Berikan antiemetik sesuai program medis (Ondansentron 3x4 mg IV), (4) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering, (5) Hindari makanan yang merangsang mual (berlemak, berminyak, terlalu manis), (6) Berikan makanan dalam suhu ruang atau dingin untuk mengurangi aroma, (7) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan minim bau selama makan, (8) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein) dalam bentuk lunak atau cair, (9) Berikan perawatan mulut (oral hygiene) sebelum dan sesudah makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman.
Kondisi: Nyeri Kronis (Chronic Pain)
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Nyeri kronis adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Pasien ini mengalami nyeri di bawah tulang iga kiri (nyeri tulang) dan nyeri ulu hati (epigastrium) yang dirasakan berat (skala 6-7). Nyeri ini sangat terkait dengan riwayat karsinoma lobular invasif mammae sinistra. Karsinoma lobular memiliki kecenderungan tinggi untuk bermetastasis ke tulang, saluran cerna, dan peritoneum. Nyeri iga kiri sangat sugestif sebagai metastasis tulang (bone metastasis), sedangkan nyeri ulu hati bisa disebabkan oleh metastasis ke hepar, gastritis akibat obat, atau efek tekanan tumor intraabdomen. Nyeri ini bertambah berat saat beraktivitas dan sedikit berkurang saat istirahat, menunjukkan komponen nyeri nosiseptif somatik (tulang) dan viseral (ulu hati).
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (Pain Level) dengan kriteria hasil: (1) Keluhan nyeri menurun dari skala 6-7 menjadi skala 2-3 (nyeri ringan), (2) Kemampuan melakukan aktivitas meningkat, (3) Ekspresi wajah tegang/meringis berkurang, (4) Frekuensi penggunaan analgesik berkurang, (5) Pasien mampu melaporkan nyeri secara akurat dan menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengatasinya. Target utama adalah pasien dapat beristirahat dengan nyaman dan mampu berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri ringan tanpa keluhan nyeri yang hebat.
Kode SIKI: I.08223
Deskripsi : Manajemen Nyeri (Pain Management) dengan intervensi: (1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif menggunakan PQRST (Provokatif, Quality, Region, Severity, Time) secara berkala, (2) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan faktor yang memperberat nyeri, (3) Berikan analgesik sesuai program medis (Ketorolac 2x1 A IV) dan evaluasi efektivitasnya dalam 15-30 menit, (4) Ajarkan teknik nonfarmakologis seperti teknik relaksasi nafas dalam, distraksi (mendengarkan musik, mengaji), atau guided imagery, (5) Atur posisi yang nyaman (semi-Fowler atau miring ke sisi yang tidak nyeri) untuk mengurangi tekanan pada area yang sakit, (6) Kolaborasi dengan tim onkologi untuk terapi adjuvan seperti radioterapi paliatif pada lesi tulang yang nyeri, (7) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri sebelum menjadi hebat.
Kondisi: Defisit Nutrisi (Imbalanced Nutrition: Less Than Body Requirements)
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pasien ini memiliki bukti klinis yang sangat kuat: (1) Berat badan 37 kg dengan tinggi 155 cm menghasilkan IMT 15,40 kg/m², yang dikategorikan sebagai underweight berat (kurus tingkat berat), (2) Nafsu makan sangat menurun, hanya mampu makan 1-2x/hari dengan porsi 3-4 sendok, (3) Mual dan muntah setiap kali makan menghambat asupan, (4) Hasil laboratorium menunjukkan anemia (Hb 8.3 g/dL, Ht 24.8%, Eritrosit 2.82 juta/μL) yang merupakan indikator malnutrisi kronis, (5) Kondisi hipermetabolisme akibat kanker (cachexia cancer) meningkatkan kebutuhan kalori dan protein. Pasien membutuhkan diet TKTP ekstra (Tinggi Kalori Tinggi Protein) dengan tambahan putih telur (putel) untuk memenuhi kebutuhan protein dan memperbaiki status gizi.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status Nutrisi (Nutritional Status) dengan kriteria hasil: (1) Asupan makanan dan cairan per oral meningkat secara bertahap, (2) Berat badan stabil atau menunjukkan peningkatan (misal: naik 0,5-1 kg dalam 1 minggu), (3) IMT membaik mendekati normal (18,5-22,9 kg/m²), (4) Kadar hemoglobin dan eritrosit meningkat ke arah normal, (5) Kelemahan fisik berkurang, kekuatan otot meningkat dari skala 4/5 menjadi 5/5, (6) Turgor kulit membaik, kulit tidak terlalu kering dan keriput.
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi : Manajemen Nutrisi (Nutrition Management) dengan intervensi: (1) Kaji status nutrisi secara komprehensif meliputi antropometri (BB, TB, IMT, LILA), biokimia (Hb, albumin, total protein), dan asupan diet (food recall 24 jam), (2) Hitung kebutuhan kalori dan protein harian (basal energy expenditure + faktor stres kanker), (3) Berikan diet TKTP dalam bentuk lunak/tim yang mudah dicerna (misal: bubur ayam, sup krim, telur rebus, ikan kukus), (4) Anjurkan makan porsi kecil tapi sering (setiap 2-3 jam) untuk menghindari rasa penuh dan mual, (5) Berikan suplemen nutrisi oral (oral nutritional supplement) seperti susu tinggi kalori tinggi protein jika asapan oral masih kurang, (6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Asam Folat (3x1 mg) untuk mengatasi anemia megaloblastik, (7) Monitor asupan dan output makanan setiap shift, (8) Libatkan keluarga dalam menyediakan makanan yang disukai pasien namun tetap sesuai diet.
Kondisi: Defisit Volume Cairan (Deficient Fluid Volume)
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Defisit volume cairan adalah kondisi di mana terjadi penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Pada pasien ini, defisit volume cairan sangat mungkin terjadi meskipun tanda-tanda vital (TD 109/71 mmHg, Nadi 88x/mnt) masih dalam batas normal. Hal ini didasari oleh: (1) Asupan cairan yang tidak adekuat karena mual dan muntah setiap kali minum, (2) Output cairan yang meningkat melalui muntah, (3) Pasien hanya mampu minum air putih hangat dalam jumlah sedikit, (4) Frekuensi berkemih >4x/hari tetapi dalam jumlah sedikit (olig
Article No. 26321 | 24 Jun 2026
Klinis : a.Mual, muntah setiap makan dan minum, lemas, nafsu makan berkurang sejak 1 minggu, nyeri ulu hati, sesak ,ada benjolan di bagian dada sebelah kanan atas, Lemas, nyeri di bawah tulang iga kiri, riwayat op payudara kiri tahun, 2022 di RS Harapan Keluarga, kaki lemas dan nyeri. TD : 109/71 mmhg, GCS : 15, kes : CM Nadi : 88 x/ mnt S : 36,9 °C RR : 20 x/ mnt SpO² : 98 % b.Riwayat Penyakit Sekarang (P, Q, R, S, T) : P : Keluhan bertambah berat saat beraktivitas, bergerak, atau melakukan pekerjaan ringan. Sedangkan keluhan sedikit berkurang saat pasien beristirahat. Q : Pasien merasakan lemas, cepat lelah, serta nafsu makan menurun. R : Nyeri di bagian iga kiri. Ada benjolan di dada kanan. Nyeri ulu hati. S : Keluhan dirasakan berat / hebat ( skala 6–7 ). Pasien terlihat sangat terganggu, sulit beraktivitas, cepat lelah, kondisi fisik menurun drastis, dan mengeluh sangat tidak nyaman. T : Keluhan dirasakan 7 hari sebelum masuk RS. Riwayat operasi payudara kiri tahun 2022, terdapat keganasan dan sedang pengobatan di RS Hermina ke spesialis onkologi. c.Riwayat Kesehatan Dahulu : riwayat operasi payudara kiri dan dinyatakan kanker, sedang pengobatan di RS Hermina, tetapi obat saja, awal mula kontrol sebulan sekali, sekarang tiga bulan sekali. d.Riwayat Kesehatan Keluarga : Ibu meninggal kanker darah, ayah menderita sakit liver. e.Riwayat Alergi : tidak ada 4.Pemeriksaan Fisik a.Keadaan Umum : sedang b.Kesadaran : CM c.Gcs : 15 d.Tanda-Tanda Vital Tekanan Darah : 109/71 mmhg Nadi : 88 x/ mnt Suhu : 36,9 °C Respirasi : 20 x/ mnt SpO2 : 98 % e.Atropometri Berat Badan : 37 kg Tinggi Badan : 155 cm IMT : 15, 40 kg/m² ( underweight ) f.Sistem Pernafasan Inspeksi : Dada simetris saat gerak nafas, Palpasi : Gerak sekspansi dada simetris, getaran suara nafas normal. Perkusi : Bunyi perkusi sonor di seluruh lapang paru. Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler bersih. g.Sistem Kardiovaskular Inspeksi : DBN Palpasi : DBN Perkusi : DBN Auskultasi : Tidak ada bunyi tambahan, DBN h.Sistem Pencernaan Inspeksi : Perut datar, tidak ada luka Palpasi : Tidak ada nyeri tekan Perkusi : DBN Auskultasi : BU (+) 1.a.b.c.d.e.f.g.h.i.Sistem Endokrin Inspeksi : Kulit kering, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid Palpasi : Tidak ada benjolan di leher j.Sistem Genitourinaria Inspeksi : Urine produksi (+), warna kuning jernih Palpasi : Tidak ada pembengkakan pada area genital k.Sistem Muskuloskeletal Inspeksi : Tulang dada menonjol, otot tampak kecil Palpasi : Tonus otot menurun, tidak ada nyeri tekan a.b.c.d.e.f.g.h.i.j.k.l.Kekuatan Otot Skala : 4/5 % Kekuatan Otot : 70-80 % Karakteristik : Mampu menggerakkan anggota tubuh melawan gravitasi, mampu melawan tahanan ringan-sedang. m.Sistem Integument Inspeksi : tampak pucat, warna kulit coklat, nampak kering, tampak keriput Palpasi : Akral hangat, tidak ada benjolan, kulit terasa kasar i.j.k.l.m.n.Sistem Persyarafan Inspeksi : Kes : CM, tidak ada tremor Palpasi : Sensasi nyeri dan raba normal Perkusi : Normal Auskultasi : normal N. Olfactorius (I) : baik N. Opticus (II) : baik N. Okulomotoris (III) : Pupil kiri dan kanan normal N. Trochlearis (IV) : Gerakan mata ke dalam dan bawah normal N. Trigeminuss (V) : Gerakan mengunyah lancar, hanya saja pelan N. Abduscen (VI) : baik N. Fasialis (VII) : baik N. Akustikus (VIII) : normal N. Glosofarigeus (IX) : baik N. Vagus (X) : baik N. Assesoris (XI) : Mampu melawan gravitasi N. Hipoglosus (XII) : baik 2.3.4.5.Data Psikologi a.Konsep Diri Body Image : merasa tidak nyaman dengan sakitnya Harga Diri : merasa lemah, khawatir tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Peran : sering melamun memikirkan kondisi diri dan keluarga yang meninggal karena sakit serupa. Identitas Diri : mengenali diri sebagai orang yang sedang sakit, sering membandingkan kondisi dirinya dengan anggota keluarga yang telah meninggal. Ideal Diri : pasien berharap segera sembuh. b.Status Emosi : Kadang murung, sering melamun dan sedih. c.Kecemasan : pasien selalu cemas akan sakitnya. d.Pola Koping : koping adaptif, koorperatif terhadap proses perawatan. e.Persepsi Penyakit : pasien menganggap sakitnya sudah lama. 6.Data Sosial a.Gaya Komunikasi : bahasa Indonesia dan sunda. b.Hubungan Sosial : hubungan pasien dengan keluarga baik. 7.Data Spiritual : Pasien beragama Islam, pasien rajin sholat 5 waktu. 8.Data Pola Aktivitas Harian Tabel 1. 1 Pola Aktivitas Harian Pola Penilaian Intra Hospital Hospital Sehat Sakit Di Rumah Nutrisi Frekuensi Makan 3x/ hari 1-2 x/ hari 3 x/ hari Jenis Makan Pagi nasi + telor Siang dan malam rebusan ( singkong, pisang, jagung, ubi ) Pagi nasi + telor Siang dan malam rebusan ( singkong, pisang, jagung, ubi ) Diet lunak ( TIM ), diet lambung dan TKTP extra putel Pantangan Makan gorengan gorengan gorengan Keluhan Makan Tidak ada Tidak nafsu, mual muntah tiap makan. 3-4 sendok tiap makan Frekuensi Minum Sering, tiap makan pasti minum ( 600-1200 ) ml/ hari Sering, tiap makan pasti minum ( 600-1200 ) ml/ hari Teko dari pantry habis 1500 ml Jenis Minum Air putih air putih hangat air putih Keluhan Minum Tidak ada Tidak ada Tidak ada Eliminasi Frekuensi Bab 1 hari sekali 3 hari sekali 3 hari sekali Konsistensi Bab normal normal normal Keluhan Bab Tidak ada Tidak ada Tidak ada Frekuensi Bak > 4x/ hari > 4x/ hari ( sedikit ) > 4x/ hari ( pispot/ pampers ) Warna Bak Kuning jernih Kuning jernih Kuning jernih Keluhan Bak Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hygiene Mandi 2 x sehari 1-2 x / hari 2x / hari dilap Gosok Gigi Tiap mandi jarang Kadang-kadang Keramas seminggu 2x Seminggu 2x - Ganti Pakaian Sehari 2x Sehari 1-2x Sehari 1 x Gunting Kuku Seminggu sekali Seminggu sekali Seminggu sekali Keluhan Tidak ada keluhan dibantu keluarga Dibantu keluarga Istirahat Tidur Siang jarang Siang tidur terus Tidur siang nyenyak Tidur Malam 5-7 jam ( bangun per jam ) Tidak nyenyak Malam tidur nyenyak Keluhan Tidak ada Sulit tidur di malam hari Tidak ada 9.Pemeriksaan Penunjang a.Laboratorium Tabel 1. 2 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Tanggal Nama Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Jt: 13/05/2026 Jh : Hemoglobin 8.3 14.0-18.0 G/dL Leukosit 10,100 4.500-11.500 /μL Trombosit 224.000 150000-450000 /μL Hematokrit 24.8 40-54 % Eritrosit 2.82 4.60-6.00 Juta/μL Gula Darah Sewaktu 88 70-140 Mg/dL Jt: 15/05/2026 Jh : Hemoglobin 8.3 14.0-18.0 G/dL Leukosit 9,700 4.500-11.500 /μL Trombosit 192.000 150000-450000 /μL Hematokrit 24.6 40-54 % Eritrosit 2.76 4.60-6.00 Juta/μL 13/11/2022 Biopsi Jaringan ( kista mammae sinistra ) Karsinoma lobular invasif mammae sinistra Grade 2 ( skor tubular 3, skor inti 2, skor mitosis 1, total skor : 6 ) invasi limfovaskular tidak ditemukan ) b.Radiologi Tabel 1. 3 Pemeriksaan Radiologi Tanggal Pemeriksaan/Kesan Hasil Jt : 13/05/2026 Jh : Thorax PA Cor dalam batas normal Gambaran Bronkhitis Tak tampak kelainan lainnya pada foto thorax Tabel 1. 4 Therapi Per-Oral No Nama Obat Dosis Fungsi 1. Sucralfat 3 x 1 C 1.Membentuk lapisan pelindung tukak usus 2.Menghalangi kerusakan dari asam lambung 3.Mempercepat penyembuhan luka dan meredakan nyeri maag 2. Asam folat 3 x 1 mg 1.Membantu membentuk sel darah merah 2.Mencegah dan mengatasi anemia megablostik 3.Meningkatkan kadar Hb 1 Tabel 1. 5 Therapi Injeksi No Nama Obat Dosis Rute Fungsi 1. OMZ 1 x 1 IV Menghambat produksi asam lambung 2. Ondansentron 3 x 4 mg IV Mencegah dan mengobati mual muntah 3. Ketorolac 2 x 1 A IV Mengatasi nyeri Tabel 1. 6 Therapi Obat Luar No Nama Obat Dosis Rute Fungsi Tabel 1. 7 Therapi Cairan Infus No Nama Cairan Dosis Rute Golongan Fungsi 1 RL 20 tpm IV Kristaloid isotonik 1.Mengganti cairan dan elektrolit 2.Resusitasi cairan 3.Menjaga keseimbangan asam basa boleh dibantu diagnosa keperawatan berdasarkan SDKI apa saja yang muncul defisit volume cairan apakah tidak masuk ? mana dulu diagnosa yang muncul berdasarkan prioritas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual (Nausea)
Kode SDKI: D.0076
Deskripsi Singkat: Mual didefinisikan sebagai perasaan subjektif yang tidak menyenangkan seperti ingin muntah, yang dapat disertai atau tanpa disertai muntah. Pada pasien ini, mual dan muntah terjadi setiap kali makan dan minum, yang secara signifikan mengganggu asupan nutrisi dan cairan. Kondisi ini diperberat oleh aktivitas dan berkurang saat istirahat. Mual pada pasien ini kemungkinan besar disebabkan oleh efek samping kemoterapi atau pengobatan onkologi, gangguan metabolisme akibat kanker, atau kompresi mekanis dari benjolan di dada yang mempengaruhi sistem gastrointestinal. Pasien juga mengeluh nafsu makan berkurang drastis, hanya mampu makan 3-4 sendok per kali makan, serta mengalami penurunan berat badan yang signifikan (IMT 15,40 kg/m², kategori underweight). Mual yang persisten ini menjadi masalah prioritas karena menghambat pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi, memperburuk kondisi lemas, dan menurunkan kualitas hidup pasien.
Kode SLKI: L.00109
Deskripsi : Tingkat Mual (Nausea Level) adalah luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan. Tujuannya adalah untuk menurunkan frekuensi, durasi, dan keparahan mual. Indikator yang dapat diukur meliputi: pasien melaporkan penurunan sensasi ingin muntah (skala 1-5), frekuensi muntah berkurang, nafsu makan meningkat, dan pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus mual. Pada pasien ini, kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien melaporkan mual berkurang dari skala berat (6-7) menjadi ringan (1-3), frekuensi muntah menurun dari setiap kali makan menjadi maksimal 1-2 kali sehari, dan pasien mampu menghabiskan setidaknya setengah porsi makanan yang disediakan. Keberhasilan luaran ini sangat bergantung pada efektivitas manajemen farmakologis (ondansentron) dan non-farmakologis.
Kode SIKI: I.03117
Deskripsi : Manajemen Mual (Nausea Management) adalah serangkaian intervensi keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan mual. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi faktor penyebab dan pencetus mual (misalnya, bau makanan, gerakan, kelelahan); (2) Kaji frekuensi, durasi, dan keparahan mual menggunakan skala numerik atau deskriptif; (3) Berikan obat antiemetik sesuai program (ondansentron 3x4 mg IV) 30-60 menit sebelum makan; (4) Anjurkan teknik non-farmakologis seperti relaksasi nafas dalam, distraksi (mendengarkan musik, mengobrol), atau akupresur pada titik Pericardium 6 (P6); (5) Atur lingkungan yang nyaman, bebas dari bau menyengat, sirkulasi udara baik, dan posisi semi-Fowler saat makan; (6) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering (setiap 2-3 jam), hindari makanan berminyak, pedas, atau berbau tajam; (7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet lunak, TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein) dengan tekstur mudah ditelan (tim), dan ekstra putih telur untuk meningkatkan asupan protein; (8) Monitor asupan oral dan output cairan untuk mencegah dehidrasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pasien melaporkan nyeri di beberapa lokasi: (1) Nyeri ulu hati (epigastrium), kemungkinan terkait iritasi mukosa lambung akibat stres, obat-obatan (ketorolac), atau produksi asam lambung berlebih; (2) Nyeri di bawah tulang iga kiri, kemungkinan terkait dengan proses keganasan primer payudara kiri yang telah dioperasi, metastasis tulang iga, atau nyeri neuropatik pasca-operasi; (3) Nyeri pada benjolan di dada kanan atas, yang merupakan lokasi baru keganasan. Nyeri digambarkan berat (skala 6-7), diperberat oleh aktivitas dan berkurang saat istirahat. Pasien tampak sangat terganggu, sulit beraktivitas, dan kondisi fisik menurun drastis. Nyeri yang tidak terkontrol dapat menghambat mobilisasi, memperburuk kelelahan, dan menurunkan kualitas hidup.
Kode SLKI: L.00130
Deskripsi : Tingkat Nyeri (Pain Level) adalah luaran yang diharapkan. Tujuannya adalah menurunkan intensitas dan frekuensi nyeri serta meningkatkan kemampuan pasien mengontrol nyeri. Indikator yang diukur meliputi: skala nyeri menurun (dari 6-7 menjadi 2-3), pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus nyeri, pasien melaporkan nyeri berkurang setelah intervensi, dan pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan berarti. Pada pasien ini, target luaran adalah pasien melaporkan nyeri terkontrol dengan skala ≤3 dalam 24 jam, frekuensi pemberian analgesik tambahan menurun, dan pasien mampu duduk atau berjalan perlahan tanpa meringis kesakitan.
Kode SIKI: I.03138
Deskripsi : Manajemen Nyeri (Pain Management) adalah intervensi untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Intervensi meliputi: (1) Kaji nyeri secara komprehensif menggunakan PQRST (Provokatif/Palliatif, Quality, Region, Severity, Time); (2) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, dan faktor yang memperberat/memperingan; (3) Berikan analgesik sesuai program (Ketorolac 2x1 A IV) secara tepat waktu dan evaluasi efektivitasnya dalam 30-60 menit; (4) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan distraksi untuk mengurangi persepsi nyeri; (5) Berikan posisi nyaman yang mengurangi tekanan pada area nyeri (misalnya, posisi miring dengan bantal penyangga); (6) Kolaborasi dengan dokter untuk penyesuaian dosis atau jenis analgesik jika nyeri tidak terkontrol (misalnya, tambahan opioid); (7) Monitor efek samping analgesik seperti mual, konstipasi, atau depresi pernafasan; (8) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri segera tanpa menunggu nyeri menjadi berat.
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Pasien ini menunjukkan tanda-tanda jelas defisit nutrisi: (1) Asupan oral sangat kurang, hanya 3-4 sendok per kali makan, dengan frekuensi makan 1-2x/hari; (2) Berat badan 37 kg dengan tinggi 155 cm menghasilkan IMT 15,40 kg/m² (underweight berat); (3) Lemas, cepat lelah, dan tonus otot menurun; (4) Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia (Hb 8,3 g/dL, Ht 24,8%, eritrosit 2,82 juta/μL) yang merupakan konsekuensi malnutrisi kronis dan proses keganasan; (5) Kulit kering dan keriput menandakan defisiensi nutrisi dan hidrasi. Penyebab defisit nutrisi multifaktorial: mual dan muntah setiap makan, nafsu makan menurun, nyeri ulu hati, dan efek katabolik dari kanker (cachexia). Kondisi ini sangat serius karena malnutrisi memperburuk prognosis kanker, menurunkan respons terhadap pengobatan, dan meningkatkan risiko infeksi.
Kode SLKI: L.00121
Deskripsi : Status Nutrisi (Nutritional Status) adalah luaran yang diharapkan. Tujuannya adalah mempertahankan atau memperbaiki status nutrisi. Indikator meliputi: asupan kalori dan protein adekuat, berat badan stabil atau meningkat, IMT membaik, kadar albumin serum normal (3,5-5,0 g/dL), dan kekuatan otot meningkat. Pada pasien ini, target jangka pendek adalah pasien mampu menghabiskan setengah porsi makanan (sekitar 500-700 kalori/hari) dalam 3 hari, dan target jangka panjang adalah berat badan meningkat 0,5-1 kg per minggu serta kadar Hb dan albumin membaik.
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi : Manajemen Nutrisi (Nutrition Management) adalah intervensi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien. Intervensi meliputi: (1) Kaji status nutrisi harian (asupan kalori, protein, lemak, karbohidrat) menggunakan food diary atau recall 24 jam; (2) Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama; (3) Berikan diet lunak TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein) dalam porsi kecil tapi sering (setiap 2-3 jam) untuk mengurangi beban lambung; (4) Sajikan makanan pada suhu ruang (tidak terlalu panas/dingin) untuk mengurangi mual; (5) Berikan suplemen nutrisi oral (misalnya, susu tinggi protein, pudding kalori tinggi) di antara waktu makan; (6) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menghitung
Article No. 26322 | 24 Jun 2026
Klinis : MANA YANG DULUAN PRIORITAS, HIPOVOLEMIA, RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT, KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI, NYERI AKUT DAN ANSIETAS
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: MANA YANG DULUAN PRIORITAS, HIPOVOLEMIA, RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT, KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI, NYERI AKUT DAN ANSIETAS
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh yang signifikan, baik akibat perdarahan (hemoragi), kehilangan cairan melalui saluran cerna (muntah, diare), peningkatan permeabilitas kapiler (sepsis, luka bakar), atau asupan cairan yang tidak adekuat. Pada pasien dengan kondisi seperti ini, prioritas utama adalah pemulihan volume sirkulasi untuk mencegah syok hipovolemik yang dapat mengancam jiwa. Hipovolemia ditandai dengan penurunan tekanan darah, peningkatan denyut nadi, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, rasa haus yang berlebihan, penurunan produksi urine (oliguria), dan penurunan berat badan mendadak. Dalam konteks SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (seperti pasien mengeluh haus atau lemah) dan data objektif (seperti hasil pemeriksaan fisik dan tanda vital). Penanganan segera sangat krusial karena hipovolemia yang tidak teratasi dapat menyebabkan gangguan perfusi jaringan, asidosis metabolik, hingga kegagalan multi organ. Perawat harus mampu mengidentifikasi secara dini tanda-tanda awal hipovolemia, terutama pada pasien dengan risiko tinggi seperti pasca operasi, trauma, luka bakar luas, atau penyakit infeksi berat. Intervensi utama meliputi pemberian cairan intravena (kristaloid atau koloid) sesuai program terapi, pemantauan ketat balance cairan, serta edukasi pada pasien dan keluarga mengenai pentingnya asupan cairan yang adekuat.
Kode SLKI: L.03018
Deskripsi : Keseimbangan Cairan adalah status terpenuhinya kebutuhan cairan tubuh yang ditandai dengan terpeliharanya volume cairan intravaskuler, interstisial, dan intraseluler dalam batas normal. Pada SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), luaran yang diharapkan untuk diagnosis hipovolemia adalah peningkatan keseimbangan cairan dengan kriteria hasil yang terukur. Kriteria hasil utama meliputi: (1) Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah sistolik ≥90 mmHg, denyut nadi 60-100 x/menit, suhu tubuh afebris); (2) Turgor kulit membaik (kembali elastis dalam waktu <3 detik); (3) Membran mukosa lembab; (4) Produksi urine adekuat (≥0,5 ml/kgBB/jam); (5) Tidak ada rasa haus berlebihan; (6) Hematokrit dan elektrolit serum dalam batas normal; (7) Berat badan stabil (tidak turun >5% dalam 1 minggu). Luaran ini harus spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan berbatas waktu. Misalnya, dalam 1x24 jam setelah intervensi, pasien diharapkan menunjukkan peningkatan produksi urine menjadi 30 ml/jam. Perawat perlu mengevaluasi secara berkala setiap 4-8 jam pada fase akut, kemudian setiap 24 jam pada fase pemulihan. Pencapaian luaran ini menjadi indikator keberhasilan asuhan keperawatan dan menjadi dasar untuk modifikasi intervensi selanjutnya. Jika kriteria tidak terpenuhi dalam waktu yang ditentukan, perawat perlu mengkaji ulang faktor penyebab, seperti kehilangan cairan yang masih berlangsung, terapi cairan yang tidak adekuat, atau adanya komplikasi seperti gagal ginjal akut.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan atau memulihkan keseimbangan cairan tubuh pasien. Berdasarkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), intervensi ini mencakup tindakan observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi. Tindakan observasi meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 1-2 jam pada fase akut; (2) Monitor intake dan output cairan secara akurat (catat semua asupan oral, enteral, parenteral, serta output urine, feses, muntah, drainase luka, dan keringat); (3) Monitor turgor kulit, membran mukosa, dan rasa haus; (4) Monitor kadar elektrolit serum (Na, K, Cl, HCO3) dan hematokrit sesuai indikasi; (5) Identifikasi faktor risiko kehilangan cairan (misalnya perdarahan, diare, muntah, luka bakar). Tindakan terapeutik meliputi: (1) Berikan cairan intravena (IV) sesuai program terapi (misalnya Ringer Laktat, NaCl 0,9%, atau koloid); (2) Atur kecepatan infus menggunakan infusion pump untuk mencegah overload cairan; (3) Lakukan perawatan akses IV dengan teknik aseptik; (4) Berikan oksigen jika diperlukan untuk meningkatkan oksigenasi jaringan; (5) Pertahankan suhu lingkungan yang nyaman untuk mengurangi kehilangan cairan melalui keringat. Tindakan edukasi meliputi: (1) Ajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan yang adekuat; (2) Anjurkan untuk melaporkan tanda-tanda dehidrasi seperti haus, pusing, atau urine sedikit; (3) Berikan informasi tentang jenis cairan yang dianjurkan (misalnya air putih, oralit). Tindakan kolaborasi meliputi: (1) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan IV dan terapi obat (misalnya vasopresor jika terjadi syok); (2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi cair jika pasien dapat minum per oral; (3) Kolaborasi dengan laboratorium untuk pemantauan elektrolit dan fungsi ginjal. Semua intervensi didokumentasikan secara lengkap dalam catatan keperawatan untuk memastikan kontinuitas asuhan.
Article No. 26323 | 24 Jun 2026
Klinis : MANA YANG DULUAN PRIORITAS, HIPOVOLEMIA, RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT, KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI, NYERI AKUT DAN ANSIETAS
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipovolemia (Prioritas Utama)
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengancam jiwa karena dapat menyebabkan kegagalan sirkulasi dan syok hipovolemik. Pada pasien dengan kondisi ini, prioritas utama adalah koreksi defisit volume cairan karena hipovolemia merupakan penyebab langsung dari ketidakstabilan hemodinamik dan dapat memperburuk kondisi lain seperti risiko ketidakseimbangan elektrolit dan nutrisi. Manifestasi klinis meliputi penurunan tekanan darah, peningkatan nadi, turgor kulit buruk, membran mukosa kering, rasa haus, penurunan produksi urine, dan pengisian kapiler lambat. Etiologi dapat berasal dari kehilangan cairan aktif (perdarahan, diare, muntah, luka bakar), perpindahan cairan (edema, asites), atau asupan cairan yang tidak adekuat. Dampak dari hipovolemia yang tidak tertangani meliputi gangguan perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan kerusakan organ multipel.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : Status Cairan adalah luaran keperawatan yang diharapkan pada pasien dengan hipovolemia. Luaran ini menunjukkan tingkat keseimbangan cairan tubuh yang optimal. Kriteria utama yang dievaluasi meliputi: (1) Mempertahankan keseimbangan cairan yang ditandai dengan input dan output cairan yang seimbang dalam 24 jam; (2) Tekanan darah sistolik dalam rentang normal (100-120 mmHg) tanpa penggunaan vasopresor; (3) Nadi perifer teraba kuat dan reguler dengan frekuensi 60-100x/menit; (4) Turgor kulit elastis kembali dalam <2 detik; (5) Membran mukosa lembab; (6) Produksi urine adekuat >0,5 ml/kgBB/jam; (7) Berat badan stabil; (8) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi seperti rasa haus berlebihan atau kulit kering; (9) Kadar elektrolit serum dalam batas normal; (10) Hematokrit dan hemoglobin stabil. Luaran ini diukur pada skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik secara signifikan). Indikator tambahan meliputi kemampuan pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda dehidrasi dan kepatuhan terhadap terapi cairan.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Cairan adalah intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan pada pasien hipovolemia. Tindakan utama meliputi: (1) Monitor status hemodinamik (tekanan darah, nadi, MAP, CVP) setiap 15-30 menit pada fase akut; (2) Hitung dan catat intake dan output cairan secara akurat (termasuk cairan oral, IV, infus, dan kehilangan melalui urine, feses, drainase); (3) Berikan cairan intravena sesuai order (kristaloid seperti RL atau NaCl 0,9% untuk resusitasi awal, atau koloid jika diperlukan); (4) Pasang akses intravena yang adekuat (minimal 2 jalur untuk resusitasi cepat); (5) Monitor tanda-tanda kelebihan cairan (edema, distensi vena leher, ronkhi basah) selama pemberian cairan; (6) Evaluasi turgor kulit, membran mukosa, dan pengisian kapiler setiap jam; (7) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian produk darah jika perdarahan menjadi penyebab; (8) Berikan posisi trendelenburg atau posisi berbaring dengan kaki ditinggikan untuk meningkatkan aliran balik vena; (9) Monitor laboratorium (elektrolit, BUN, kreatinin, hematokrit, laktat); (10) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi dan tanda-tanda dehidrasi. Tindakan ini dilakukan dengan pendekatan aseptik dan pemantauan ketat untuk mencegah komplikasi seperti edema paru atau overload sirkulasi.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (Prioritas Kedua)
Kode SDKI: D.0037
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakseimbangan elektrolit adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kerentanan seseorang terhadap perubahan kadar elektrolit serum yang dapat mengganggu fungsi fisiologis. Pada pasien dengan hipovolemia, risiko ini sangat tinggi karena kehilangan cairan sering disertai kehilangan elektrolit (natrium, kalium, kalsium, magnesium). Faktor risiko meliputi kehilangan cairan berlebihan (diare, muntah, perdarahan), gangguan fungsi ginjal, penggunaan diuretik, dan terapi cairan yang tidak adekuat. Dampak ketidakseimbangan elektrolit meliputi aritmia jantung, kelemahan otot, gangguan kesadaran, hingga koma. Prioritas penanganan setelah stabilisasi volume adalah koreksi elektrolit untuk mencegah komplikasi neurologis dan kardiovaskular. Manifestasi klinis bervariasi tergantung jenis elektrolit yang terganggu, misalnya hipokalemia menyebabkan kelemahan otot dan aritmia, hiponatremia menyebabkan mual, sakit kepala, dan perubahan status mental, sedangkan hiperkalemia menyebabkan kelemahan otot dan henti jantung.
Kode SLKI: L.03032
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit adalah luaran keperawatan yang menunjukkan status elektrolit serum dalam rentang normal. Kriteria evaluasi meliputi: (1) Kadar natrium serum 135-145 mEq/L; (2) Kadar kalium serum 3,5-5,0 mEq/L; (3) Kadar kalsium serum 8,5-10,5 mg/dL; (4) Kadar magnesium serum 1,7-2,2 mg/dL; (5) Tidak ada tanda-tanda disekuilibrium elektrolit seperti kelemahan otot, kram, kejang, atau perubahan irama jantung; (6) Elektrokardiogram (EKG) normal tanpa gelombang T tinggi atau U gelombang; (7) Pasien tidak mengeluh mual, muntah, atau pusing yang berhubungan dengan elektrolit; (8) Fungsi ginjal normal (BUN 7-20 mg/dL, kreatinin 0,6-1,2 mg/dL); (9) Pasien mampu mengidentifikasi makanan kaya elektrolit; (10) pH darah dalam rentang normal (7,35-7,45). Luaran ini diukur pada skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik secara signifikan). Indikator tambahan meliputi tidak adanya komplikasi seperti aritmia atau gangguan neurologis akibat elektrolit.
Kode SIKI: I.03118
Deskripsi : Manajemen Elektrolit adalah intervensi keperawatan untuk memonitor, mencegah, dan mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit. Tindakan meliputi: (1) Monitor kadar elektrolit serum (Na, K, Ca, Mg, P) sesuai jadwal (setiap 4-6 jam pada fase akut); (2) Identifikasi tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit (kelemahan otot, parestesia, aritmia, perubahan status mental); (3) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian suplemen elektrolit (kalium klorida, kalsium glukonat, magnesium sulfat) secara intravena atau oral; (4) Monitor EKG kontinu untuk mendeteksi perubahan irama yang mengindikasikan disekuilibrium (misalnya gelombang T tinggi pada hiperkalemia); (5) Atur kecepatan infus elektrolit sesuai standar (misalnya kalium tidak boleh diberikan >10 mEq/jam melalui perifer); (6) Monitor fungsi ginjal (output urine, BUN, kreatinin) karena ginjal merupakan organ utama pengatur elektrolit; (7) Berikan diet yang sesuai (misalnya makanan kaya kalium untuk hipokalemia seperti pisang, jeruk, atau kentang); (8) Hindari pemberian cairan hipotonik pada pasien dengan risiko hiponatremia; (9) Edukasi pasien tentang sumber makanan elektrolit dan tanda-tanda awal ketidakseimbangan; (10) Dokumentasikan semua hasil laboratorium dan respons terhadap terapi. Tindakan dilakukan dengan pemantauan ketat untuk mencegah komplikasi seperti overload kalium yang dapat menyebabkan henti jantung.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (Prioritas Ketiga)
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Pada pasien dengan hipovolemia dan risiko ketidakseimbangan elektrolit, status nutrisi sering terganggu karena penurunan perfusi gastrointestinal, mual, muntah, atau pembatasan asupan oral. Kondisi ini dapat memperlambat penyembuhan, menurunkan imunitas, dan memperburuk kelemahan otot. Prioritas penanganan nutrisi dilakukan setelah stabilisasi hemodinamik dan elektrolit karena pemberian nutrisi pada pasien hipovolemik dapat menyebabkan overload sirkulasi atau gangguan metabolik. Manifestasi klinis meliputi penurunan berat badan >10% dalam 3 bulan, kelemahan otot, kelelahan, penurunan albumin serum, dan gangguan penyembuhan luka. Etiologi meliputi mual/muntah, diare, nyeri, ansietas, atau efek samping pengobatan.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi :
Article No. 26324 | 24 Jun 2026
Klinis : MANA YANG DULUAN PRIORITAS, HIPOVOLEMIA, RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT, KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI, NYERI AKUT DAN ANSIETAS TERUS APA LAGI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Prioritas 1: Hipovolemia
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah kondisi di mana seorang pasien mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini merupakan prioritas utama karena jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan syok hipovolemik, gangguan perfusi jaringan, hingga kegagalan multi-organ. Pada pasien dengan kondisi ini, tubuh kehilangan cairan secara aktif (seperti pada perdarahan, diare berat, muntah, atau luka bakar) atau terjadi perpindahan cairan ke ruang ketiga. Manifestasi klinis meliputi penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, peningkatan hematokrit, dan penurunan produksi urin. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada pengembalian volume cairan secara cepat dan aman, pemantauan tanda-tanda vital secara ketat, serta evaluasi respons terhadap terapi cairan. Penilaian keseimbangan cairan (intake dan output) menjadi kunci dalam manajemen kondisi ini. Pemberian cairan intravena seperti Ringer Laktat atau NaCl 0,9% seringkali diperlukan, disertai dengan pemantauan tanda-tanda kelebihan cairan (seperti edema paru) terutama pada pasien dengan komorbiditas kardiovaskular. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya asupan cairan dan tanda-tanda dehidrasi juga merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : Status Cairan adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, yang menunjukkan keseimbangan cairan dalam tubuh pasien. Kriteria evaluasi meliputi: (1) Keseimbangan cairan (intake dan output dalam 24 jam seimbang atau mendekati seimbang), (2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah sistolik ≥90 mmHg, denyut nadi 60-100x/menit, suhu tubuh normal), (3) Turgor kulit kembali dalam <2 detik, (4) Membran mukosa lembab, (5) Produksi urin ≥0,5 mL/kgBB/jam, (6) Berat badan stabil, (7) Hematokrit dalam batas normal. Luaran ini diukur dengan skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target intervensi adalah mencapai skala 4 atau 5 pada setiap indikator. Pemantauan dilakukan setiap shift atau sesuai kondisi klinis. Pada pasien dengan hipovolemia berat, target jangka pendek adalah stabilisasi hemodinamik dalam 1-2 jam pertama, sementara target jangka panjang adalah tercapainya keseimbangan cairan dalam 24-48 jam. Dokumentasi yang akurat mengenai asupan dan haluaran cairan sangat penting untuk mengevaluasi pencapaian luaran ini. Perawat juga perlu mengantisipasi komplikasi seperti kelebihan volume cairan akibat resusitasi yang agresif, terutama pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Hipovolemia adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengembalikan dan mempertahankan volume cairan intravaskuler yang adekuat serta mencegah komplikasi lebih lanjut. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi penyebab hipovolemia (misalnya perdarahan, diare, muntah, luka bakar), (2) Pantau tanda-tanda vital setiap 15-30 menit pada fase akut, (3) Hitung kebutuhan cairan (misalnya menggunakan rumus Holliday-Segar atau berdasarkan berat badan), (4) Berikan cairan intravena sesuai order (kristaloid atau koloid) dengan kecepatan yang tepat, (5) Pasang kateter urin untuk memantau output urin secara akurat, (6) Pantau nilai laboratorium (elektrolit, hematokrit, ureum, kreatinin), (7) Observasi tanda-tanda syok (pucat, akral dingin, penurunan kesadaran), (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian produk darah jika diperlukan (pada perdarahan aktif), (9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan oral secara bertahap jika kondisi memungkinkan, (10) Dokumentasikan respons pasien terhadap terapi cairan setiap jam. Intervensi ini harus disesuaikan dengan usia pasien, kondisi komorbid, dan penyebab spesifik hipovolemia. Pada pasien lansia atau dengan gagal jantung, pemberian cairan harus lebih hati-hati untuk menghindari overload. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan dengan membandingkan data subjektif dan objektif terhadap luaran yang telah ditetapkan.
Kondisi: Prioritas 2: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
Kode SDKI: D.0037
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit adalah kondisi di mana seorang pasien rentan mengalami perubahan konsentrasi elektrolit serum (seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, fosfor, dan klorida) yang dapat mengganggu fungsi seluler, neuromuskular, dan kardiovaskular. Kondisi ini menjadi prioritas kedua setelah hipovolemia karena sering berkaitan erat—resusitasi cairan yang masif dapat mengencerkan elektrolit, sementara kehilangan cairan melalui saluran cerna dapat menghilangkan elektrolit secara spesifik (misalnya kalium pada diare, natrium pada muntah). Faktor risiko meliputi: gangguan fungsi ginjal, penggunaan diuretik, muntah berkepanjangan, diare, luka bakar luas, puasa lama, diabetes melitus tidak terkontrol, dan pemberian cairan intravena tanpa elektrolit yang adekuat. Manifestasi klinis bervariasi tergantung jenis elektrolit yang terganggu: hipokalemia (kelemahan otot, aritmia jantung), hiperkalemia (kelemahan, bradikardia, henti jantung), hiponatremia (mual, sakit kepala, kebingungan, kejang), hipernatremia (haus hebat, gelisah, penurunan kesadaran). Perawat harus waspada terhadap perubahan elektrolit yang cepat karena dapat mengancam jiwa. Pencegahan dilakukan dengan pemantauan kadar elektrolit secara serial, pencatatan asupan dan haluaran yang akurat, serta pemberian suplementasi elektrolit sesuai indikasi. Edukasi tentang diet yang kaya elektrolit (misalnya pisang untuk kalium, susu untuk kalsium) juga penting untuk mencegah defisiensi.
Kode SLKI: L.03100
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit adalah luaran yang menunjukkan kadar elektrolit serum pasien berada dalam rentang normal dan fungsi fisiologis terkait berjalan optimal. Kriteria evaluasi meliputi: (1) Kadar natrium serum 135-145 mEq/L, (2) Kadar kalium serum 3,5-5,0 mEq/L, (3) Kadar kalsium ionisasi 4,5-5,6 mg/dL (atau kalsium total 8,5-10,5 mg/dL), (4) Kadar magnesium 1,7-2,2 mg/dL, (5) Tidak ada tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit (kelemahan otot, kram, aritmia, perubahan status mental), (6) Hasil elektrokardiogram (EKG) normal (tidak ada gelombang T tinggi, segmen ST memanjang, atau gelombang U), (7) Fungsi ginjal normal (ureum dan kreatinin dalam batas normal). Luaran ini diukur dengan skala 1 hingga 5. Target utama adalah mempertahankan skala 4 atau 5. Pemantauan elektrolit dilakukan setiap 6-12 jam pada fase akut, kemudian setiap 24 jam setelah stabil. Perawat perlu menginterpretasi hasil laboratorium dan segera melaporkan nilai kritis kepada dokter. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet yang sesuai juga diperlukan untuk mencapai keseimbangan elektrolit jangka panjang.
Kode SIKI: I.03109
Deskripsi : Manajemen Elektrolit adalah intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memonitor, mencegah, dan mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan elektrolit (misalnya muntah, diare, penggunaan diuretik, penyakit ginjal), (2) Pantau kadar elektrolit serum sesuai indikasi (setiap 6-24 jam tergantung keparahan), (3) Pantau tanda-tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit (misalnya kelemahan otot pada hipokalemia, parestesia pada hipokalsemia), (4) Pantau hasil EKG untuk mendeteksi aritmia akibat elektrolit abnormal, (5) Berikan suplementasi elektrolit sesuai order (misalnya KCl intravena untuk hipokalemia, kalsium glukonat untuk hipokalsemia), (6) Kolaborasi dengan dokter untuk penyesuaian dosis diuretik atau obat lain yang mempengaruhi elektrolit, (7) Atur kecepatan infus cairan yang mengandung elektrolit dengan hati-hati untuk menghindari iritasi vena atau overload, (8) Edukasi pasien tentang makanan sumber elektrolit (misalnya pisang, jeruk, sayuran hijau, produk susu), (9) Catat asupan dan haluaran cairan secara ketat untuk membantu memperkirakan kehilangan elektrolit, (10) Evaluasi respons terhadap terapi dengan membandingkan hasil laboratorium serial. Intervensi ini harus dilakukan secara kontinu dan disesuaikan dengan perubahan kondisi klinis pasien.
Kondisi: Prioritas 3: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat:
Article No. 26325 | 24 Jun 2026
Klinis : MANA YANG DULUAN PRIORITAS, HIPOVOLEMIA, RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT, KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI, NYERI AKUT DAN ANSIETAS TERUS APA LAGI SAMPAI TERAKHIR DONG URUTKAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: 1. HIPOVOLEMIA (PRIORITAS UTAMA)
Kode SDKI: D.0024
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kondisi penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengancam jiwa karena dapat mengakibatkan penurunan perfusi jaringan, syok hipovolemik, dan kegagalan multi-organ jika tidak segera diatasi. Prioritas ini didasarkan pada prinsip ABC (Airway, Breathing, Circulation) di mana sirkulasi (volume cairan) adalah yang paling kritis. Pasien dengan hipovolemia akan mengalami penurunan curah jantung, takikardia sebagai mekanisme kompensasi, penurunan tekanan darah, peningkatan konsentrasi urine, dan penurunan turgor kulit. Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami penurunan kesadaran. Penyebab umum meliputi perdarahan aktif (baik internal maupun eksternal), dehidrasi berat akibat diare atau muntah, luka bakar luas, dan penggunaan diuretik yang berlebihan. Penanganan segera difokuskan pada identifikasi sumber kehilangan cairan, penghentian kehilangan, dan resusitasi cairan intravena sesuai protokol. Tanpa intervensi yang cepat dan tepat, hipovolemia akan memperburuk kondisi elektrolit, nutrisi, nyeri, dan kecemasan pasien, sehingga menjadi dasar bagi diagnosis lainnya.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : Status Cairan adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan pada pasien dengan hipovolemia. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: (1) Mempertahankan atau mencapai keseimbangan cairan yang ditandai dengan output urine adekuat (0,5-1 mL/kg/jam pada dewasa), membran mukosa lembab, turgor kulit elastis, dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi. (2) Tanda-tanda vital stabil dalam batas normal (tekanan darah sistolik ≥90 mmHg, denyut nadi 60-100 x/menit, tidak ada ortostatik hipotensi). (3) Elektrolit serum dalam rentang normal (natrium 135-145 mEq/L, kalium 3,5-5,0 mEq/L). (4) Berat badan harian stabil (tidak turun >2% dalam 24 jam). (5) Tidak ada tanda-tanda syok seperti akral dingin, capillary refill time >2 detik, atau penurunan kesadaran. Skala luaran diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal skala 4 (cukup membaik) dalam 3x24 jam.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Hipovolemia adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan volume cairan intravaskuler. Tindakan utama meliputi: (1) Identifikasi penyebab dan derajat kehilangan cairan (misalnya perdarahan, diare). (2) Monitor tanda-tanda vital setiap 15-30 menit hingga stabil, termasuk tekanan darah, nadi, suhu, dan respirasi. (3) Monitor status hemodinamik lanjutan jika tersedia (CVP, MAP). (4) Hitung dan catat balance cairan (intake dan output) setiap jam. (5) Berikan cairan intravena sesuai order dokter (misalnya Ringer Laktat, NaCl 0,9%, atau koloid) dengan kecepatan yang tepat. (6) Kolaborasi pemberian produk darah jika perdarahan aktif. (7) Lakukan posisi Trendelenburg jika diperlukan untuk meningkatkan aliran balik vena. (8) Edukasi pasien dan keluarga mengenai pentingnya asupan cairan. (9) Observasi tanda-tanda overload cairan (edema, sesak napas) setelah resusitasi. Intervensi ini dilakukan secara kontinu hingga luaran status cairan tercapai.
Kondisi: 2. RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT
Kode SDKI: D.0037
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kerentanan seseorang untuk mengalami perubahan kadar elektrolit serum yang dapat mengganggu fungsi seluler, saraf, dan otot. Diagnosis ini diprioritaskan kedua setelah hipovolemia karena kondisi hipovolemia seringkali disertai dengan kehilangan elektrolit (seperti natrium, kalium, klorida) secara bersamaan. Selain itu, resusitasi cairan yang agresif tanpa pemantauan elektrolit dapat menyebabkan dilusi atau redistribusi elektrolit yang berbahaya. Faktor risiko meliputi: gangguan fungsi ginjal, terapi diuretik, diare atau muntah persisten, perdarahan, luka bakar, penyakit kronis (gagal jantung, sirosis), dan nutrisi parenteral. Manifestasi klinis bervariasi tergantung jenis elektrolit yang terganggu: hipokalemia dapat menyebabkan kelemahan otot, aritmia jantung, dan ileus; hiperkalemia menyebabkan kelemahan, parestesia, dan henti jantung; hiponatremia menyebabkan kebingungan, kejang, dan koma; hipernatremia menyebabkan rasa haus berat, kelemahan, dan demam. Prioritas ini penting karena ketidakseimbangan elektrolit dapat memperburuk kondisi hemodinamik, mengganggu fungsi kontraksi otot jantung, dan meningkatkan risiko cedera pada pasien.
Kode SLKI: L.03034
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit adalah luaran yang diharapkan untuk mencegah atau mengoreksi gangguan elektrolit. Kriteria hasil meliputi: (1) Kadar elektrolit serum dalam rentang normal: Natrium (135-145 mEq/L), Kalium (3,5-5,0 mEq/L), Kalsium (8,5-10,5 mg/dL), Magnesium (1,7-2,2 mg/dL), dan Klorida (98-106 mEq/L). (2) Tidak ada tanda-tanda aritmia jantung pada monitor EKG (misalnya gelombang U pada hipokalemia, gelombang T tinggi pada hiperkalemia). (3) Tidak ada kelemahan otot, kram, atau parestesia. (4) Kesadaran baik (GCS 15) tanpa kebingungan atau kejang. (5) Fungsi ginjal adekuat (ureum dan kreatinin dalam batas normal). Skala luaran diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), target minimal skala 4 dalam 3x24 jam setelah intervensi.
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi : Manajemen Elektrolit adalah intervensi keperawatan untuk memantau, mencegah, dan mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit. Tindakan meliputi: (1) Identifikasi faktor risiko (misalnya diare, muntah, terapi diuretik). (2) Monitor kadar elektrolit serum sesuai jadwal (biasanya setiap 6-8 jam pada kondisi akut). (3) Monitor tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit: kelemahan otot, aritmia, perubahan status mental. (4) Kolaborasi pemberian suplementasi elektrolit intravena atau oral sesuai order (misalnya KCl, NaCl, kalsium glukonat). (5) Atur kecepatan infus cairan yang mengandung elektrolit dengan tepat untuk menghindari fluktuasi drastis. (6) Monitor hasil EKG secara kontinu jika ada risiko aritmia. (7) Edukasi pasien mengenai sumber makanan kaya elektrolit (pisang untuk kalium, susu untuk kalsium). (8) Catat dan laporkan hasil laboratorium yang kritis kepada dokter. Intervensi ini dilakukan hingga semua elektrolit kembali dalam rentang normal dan risiko berkurang.
Kondisi: 3. KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI: KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Diagnosis ini diprioritaskan setelah hipovolemia dan elektrolit karena meskipun nutrisi penting untuk pemulihan, kebutuhan cairan dan elektrolit lebih segera mengancam jiwa. Namun, setelah kondisi hemodinamik stabil, nutrisi menjadi krusial untuk perbaikan jaringan, fungsi imun, dan produksi energi. Faktor penyebab meliputi: mual, muntah, diare, nyeri saat makan, penurunan nafsu makan akibat ansietas, disfagia, atau efek samping pengobatan. Manifestasi klinis meliputi: penurunan berat badan >5% dalam 1 bulan, kelemahan otot, kelelahan, membran mukosa pucat, penurunan albumin serum (<3,5 g/dL), dan gangguan penyembuhan luka. Kondisi ini dapat memperlambat pemulihan, meningkatkan risiko infeksi, dan memperpanjang lama rawat inap.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status Nutrisi adalah luaran yang diharapkan untuk mencapai asupan nutrisi yang adekuat. Kriteria hasil meliputi: (1) Asupan makanan per oral mencapai minimal 80% dari kebutuhan kalori harian (dihitung berdasarkan berat badan ideal dan faktor stres). (2) Tidak ada penurunan berat badan lebih lanjut; berat badan stabil atau meningkat secara bertahap. (3) Nilai laboratorium nutrisi dalam batas normal: albumin (3,5-5,0 g/dL), prealbumin (15-36 mg/dL), transferin (
Article No. 26326 | 24 Jun 2026
Klinis : MANA YANG DULUAN PRIORITAS, HIPOVOLEMIA, RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT, KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI, NYERI AKUT DAN ANSIETAS TERUS APA LAGI SAMPAI TERAKHIR DONG URUTKAN KALAU ADA MUAL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipovolemia
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah kondisi di mana seorang pasien mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini merujuk pada dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh yang signifikan, yang dapat disebabkan oleh perdarahan, diare, muntah, luka bakar, atau asupan cairan yang tidak adekuat. Defisit volume cairan ini mengancam homeostasis tubuh karena dapat mengganggu perfusi jaringan dan fungsi organ vital. Pada pasien dengan kondisi prioritas ini, penurunan volume darah menyebabkan penurunan curah jantung, hipotensi, takikardia, penurunan turgor kulit, dan peningkatan konsentrasi urin. Jika tidak segera diatasi, hipovolemia berat dapat menyebabkan syok hipovolemik, gagal ginjal akut, dan kerusakan organ multisistem. Oleh karena itu, penegakan diagnosis ini menjadi prioritas utama untuk memulihkan volume sirkulasi dan mencegah komplikasi fatal.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : Status Cairan adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan pada pasien dengan hipovolemia. Tujuan utama dari SLKI ini adalah mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan tubuh dalam rentang normal. Indikator keberhasilan meliputi: (1) Membran mukosa lembab, (2) Turgor kulit elastis, (3) Tekanan darah dalam rentang normal (sistolik 90-120 mmHg, diastolik 60-80 mmHg), (4) Denyut nadi perifer kuat dan teratur (60-100 x/menit), (5) Produksi urin adekuat (≥0,5-1 ml/kgBB/jam), (6) Hematokrit dalam batas normal, (7) Elektrolit serum seimbang, (8) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi seperti rasa haus berlebihan atau mata cekung. Capaian luaran ini dievaluasi secara berkala, misalnya setiap 4-6 jam pada fase akut, untuk memastikan respons pasien terhadap terapi cairan dan mencegah overload cairan. Skala 1-5 digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian atau status, dengan target skala 4 (cukup meningkat) hingga 5 (membaik) dalam waktu 1x24 jam.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengatasi hipovolemia. Tindakan utama meliputi: (1) Monitor status cairan (tanda vital, turgor kulit, membran mukosa, intake-output, berat badan harian), (2) Hitung kebutuhan cairan harian (misalnya menggunakan rumus Holliday-Segar untuk pediatri atau 30-35 ml/kgBB/hari untuk dewasa), (3) Berikan cairan intravena sesuai program terapi (misalnya Ringer Laktat, NaCl 0,9%, atau koloid seperti albumin), (4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian produk darah jika ada perdarahan aktif, (5) Lakukan resusitasi cairan cepat (bolus) pada kondisi syok dengan kecepatan 20 ml/kgBB dalam 15-30 menit pertama, (6) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya minum cairan secara bertahap jika pasien sadar dan tidak ada kontraindikasi mual-muntah, (7) Dokumentasikan respons pasien terhadap terapi cairan setiap jam pada fase akut. Intervensi ini dilakukan secara ketat untuk mencegah komplikasi seperti overload cairan (edema paru) atau ketidakseimbangan elektrolit sekunder akibat koreksi cairan yang terlalu cepat.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
Kode SDKI: D.0037
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit adalah keadaan rentan seorang pasien terhadap perubahan kadar elektrolit serum yang dapat mengancam kesehatan. Pada pasien dengan hipovolemia, risiko ini sangat tinggi karena kehilangan cairan sering disertai kehilangan elektrolit seperti natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat. Faktor risiko meliputi: muntah berlebihan, diare, penggunaan diuretik, gangguan fungsi ginjal, atau terapi cairan yang tidak tepat. Ketidakseimbangan elektrolit yang umum terjadi adalah hiponatremia (natrium rendah), hipernatremia (natrium tinggi), hipokalemia (kalium rendah), atau hiperkalemia (kalium tinggi). Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia), kelemahan otot, kebingungan, kejang, hingga henti napas. Oleh karena itu, diagnosis ini menjadi prioritas kedua setelah hipovolemia, karena koreksi cairan tanpa memperhatikan elektrolit dapat memperburuk kondisi pasien.
Kode SLKI: L.03100
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit adalah luaran yang diharapkan untuk mengurangi risiko ketidakseimbangan elektrolit. Tujuan intervensi adalah mempertahankan kadar elektrolit serum dalam rentang normal. Indikator spesifik meliputi: (1) Kadar natrium serum 135-145 mEq/L, (2) Kadar kalium serum 3,5-5,0 mEq/L, (3) Kadar kalsium ionisasi 4,5-5,5 mg/dL, (4) Kadar magnesium 1,7-2,2 mg/dL, (5) Tidak ada tanda-tanda hiperkalemia (kelemahan otot, parestesia, aritmia) atau hipokalemia (kram otot, kelelahan, konstipasi), (6) EKG normal tanpa perubahan gelombang T atau U, (7) Fungsi ginjal stabil (BUN dan kreatinin dalam batas normal). Evaluasi dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium serial (setiap 6-12 jam pada fase akut) dan pemantauan klinis. Skala target adalah 4 (cukup meningkat) hingga 5 (membaik) dalam waktu 2x24 jam setelah koreksi cairan awal.
Kode SIKI: I.03101
Deskripsi : Manajemen Elektrolit adalah intervensi keperawatan untuk memonitor, mencegah, dan mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit. Tindakan meliputi: (1) Monitor kadar elektrolit serum sesuai indikasi (minimal setiap 8-12 jam pada fase akut), (2) Monitor tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit (misalnya kelemahan otot pada hipokalemia, mual pada hiperkalsemia), (3) Berikan cairan elektrolit seimbang (misalnya Ringer Laktat untuk koreksi hipovolemia dengan elektrolit), (4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian suplemen elektrolit (misalnya KCl intravena untuk hipokalemia, kalsium glukonat untuk hiperkalemia), (5) Batasi asupan elektrolit tertentu jika terjadi hiperkalemia (misalnya hindari makanan tinggi kalium seperti pisang, jeruk, tomat), (6) Edukasi pasien tentang sumber makanan yang mengandung elektrolit dan tanda-tanda awal ketidakseimbangan, (7) Dokumentasikan hasil laboratorium dan respons klinis setiap kali intervensi dilakukan. Intervensi ini harus dilakukan secara hati-hati karena koreksi elektrolit yang terlalu cepat dapat menyebabkan komplikasi neurologis atau kardiak.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak dan durasi singkat (kurang dari 3 bulan). Pada pasien dengan kondisi hipovolemia dan risiko elektrolit, nyeri akut dapat disebabkan oleh berbagai faktor: (1) Nyeri akibat penyebab hipovolemia (misalnya trauma, luka bakar, perdarahan internal), (2) Nyeri akibat distensi abdomen karena mual-muntah, (3) Nyeri kepala akibat dehidrasi berat, atau (4) Nyeri akibat prosedur medis seperti pemasangan infus atau kateter. Nyeri akut yang tidak terkontrol dapat memperburuk respons stres fisiologis, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, memperlambat penyembuhan, serta memperburuk ansietas. Prioritas nyeri akut berada setelah risiko elektrolit karena nyeri yang hebat dapat memicu pelepasan katekolamin yang mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit, namun jika tidak segera diatasi, nyeri dapat menyebabkan distress psikologis yang signifikan.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri adalah luaran yang mengukur penurunan intensitas dan frekuensi nyeri yang dialami pasien. Indikator keberhasilan meliputi: (1) Skala nyeri menurun (misalnya dari skala 7-8 menjadi 0-3 dalam skala Numeric Rating Scale 0-10), (2) Frekuensi nyeri berkurang (dari terus-menerus menjadi intermiten), (3) Ekspresi wajah rileks (tidak meringis), (4) Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat (misalnya dapat tidur nyenyak, duduk dengan nyaman), (5) Tanda vital stabil (denyut nadi, tekanan darah, dan laju napas dalam rentang normal setelah nyeri terkontrol), (6) Pasien melaporkan nyeri berkurang secara subjektif. Target luaran adalah tercapainya skala 4 (cukup meningkat
Article No. 26327 | 24 Jun 2026
Klinis : MANA YANG DULUAN PRIORITAS, HIPOVOLEMIA, RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT, KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI, NYERI AKUT DAN ANSIETAS TERUS APA LAGI SAMPAI TERAKHIR DONG URUTKAN KALAU ADA MUAL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipovolemia
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada keadaan dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh yang terjadi secara aktif, baik karena perdarahan, diare, muntah, luka bakar, atau asupan cairan yang tidak adekuat. Hipovolemia merupakan prioritas utama karena secara langsung mengancam perfusi jaringan dan fungsi organ vital. Jika tidak segera diatasi, hipovolemia dapat menyebabkan syok hipovolemik yang berakibat pada kegagalan multi-organ. Manifestasi klinis meliputi penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, pengisian kapiler lambat, oliguria, rasa haus, dan lemah. Penanganan difokuskan pada penggantian cairan yang hilang dan pemantauan status hemodinamik secara ketat.
Kode SLKI: L.03020
Deskripsi: Keseimbangan Cairan (L.03020) adalah luaran yang diharapkan pada pasien dengan hipovolemia. Definisi luaran ini adalah status terpenuhinya kebutuhan cairan tubuh yang ditandai dengan membaiknya tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu) dalam rentang normal, turgor kulit kembali elastis, membran mukosa lembab, produksi urine adekuat (>0,5 ml/kgBB/jam), berat badan stabil, dan tidak ada tanda dehidrasi. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: peningkatan output urine, penurunan denyut nadi, peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik, serta peningkatan pengisian kapiler. Skala luaran diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik).
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi: Manajemen Hipovolemia (I.03116) adalah intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi kekurangan volume cairan. Intervensi ini mencakup: (1) identifikasi penyebab hipovolemia (perdarahan, diare, muntah); (2) pemantauan tanda-tanda vital setiap 15-30 menit pada fase akut; (3) pemantauan intake dan output cairan secara ketat; (4) pemberian cairan intravena sesuai order (Ringer Laktat, NaCl 0,9%, atau koloid); (5) pengaturan posisi pasien (trenelenburg jika perlu); (6) kolaborasi pemberian darah atau produk darah jika perdarahan aktif; (7) edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan; (8) pemantauan tanda-tanda kelebihan cairan (edema, distensi vena jugularis). Tujuan dari intervensi ini adalah mengembalikan volume cairan intravaskuler dan mencegah komplikasi syok.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
Kode SDKI: D.0037
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kerentanan terhadap perubahan kadar elektrolit serum yang dapat mengganggu homeostasis tubuh. Kondisi ini menjadi prioritas kedua setelah hipovolemia karena seringkali berkaitan erat dengan kehilangan cairan. Elektrolit seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, dan klorida memiliki peran vital dalam fungsi saraf, kontraksi otot, keseimbangan asam-basa, dan aktivitas jantung. Faktor risiko meliputi: muntah berlebihan, diare, penggunaan diuretik, gangguan ginjal, puasa berkepanjangan, dan terapi cairan yang tidak tepat. Manifestasi awal bisa tidak spesifik, namun pada kasus berat dapat menyebabkan aritmia jantung, kelemahan otot, kejang, hingga koma. Penanganan difokuskan pada pencegahan melalui pemantauan kadar elektrolit dan koreksi bertahap.
Kode SLKI: L.03022
Deskripsi: Keseimbangan Elektrolit (L.03022) adalah luaran yang diharapkan pada pasien dengan risiko ketidakseimbangan elektrolit. Definisi luaran ini adalah status terpeliharanya kadar elektrolit dalam rentang normal yang ditandai dengan hasil laboratorium elektrolit serum dalam batas normal (Na, K, Ca, Mg, Cl), tidak ada tanda-tanda defisit atau kelebihan elektrolit (misalnya: tidak ada kejang, tidak ada aritmia, kekuatan otot normal), dan fungsi ginjal yang adekuat. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: peningkatan kadar kalium (jika hipokalemia), penurunan kadar natrium (jika hipernatremia), dan tidak adanya perubahan pada gambaran EKG. Skala luaran diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik).
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi: Manajemen Elektrolit (I.03119) adalah intervensi keperawatan untuk memantau dan mengoreksi keseimbangan elektrolit. Intervensi ini mencakup: (1) identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan elektrolit (muntah, diare, terapi diuretik); (2) pemantauan hasil laboratorium elektrolit serum sesuai jadwal; (3) pemantauan tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit (kram otot, parestesia, kelemahan, perubahan denyut nadi); (4) kolaborasi pemberian suplemen elektrolit oral atau intravena (misalnya KCl, NaCl, kalsium glukonat); (5) pengaturan diet sesuai kebutuhan elektrolit; (6) edukasi pasien tentang makanan sumber elektrolit; (7) pemantauan efek samping terapi elektrolit. Tujuan intervensi adalah menjaga kadar elektrolit dalam batas normal dan mencegah komplikasi kardiovaskular dan neurologis.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini menjadi prioritas ketiga karena pasien dengan muntah, diare, atau nyeri seringkali mengalami penurunan nafsu makan dan asupan makanan. Defisiensi nutrisi dapat memperlambat proses penyembuhan, menurunkan imunitas, dan menyebabkan kelemahan otot. Faktor penyebab meliputi: mual dan muntah, nyeri saat menelan, gangguan pencernaan, status hipermetabolik (infeksi, luka bakar), dan pembatasan diet. Manifestasi klinis meliputi penurunan berat badan yang signifikan, kelemahan, atrofi otot, konjungtiva pucat, dan gangguan penyembuhan luka. Penanganan difokuskan pada peningkatan asupan kalori dan protein sesuai kebutuhan.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi: Status Nutrisi (L.03030) adalah luaran yang diharapkan pada pasien dengan ketidakseimbangan nutrisi. Definisi luaran ini adalah terpenuhinya kebutuhan nutrisi tubuh yang ditandai dengan peningkatan berat badan secara bertahap, peningkatan massa otot, perbaikan nilai laboratorium (albumin, prealbumin, transferin), peningkatan nafsu makan, dan tidak adanya tanda malnutrisi. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: peningkatan asupan makanan per oral, penurunan mual, dan peningkatan energi. Skala luaran diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik).
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi: Manajemen Nutrisi (I.03119) adalah intervensi keperawatan untuk mengoptimalkan asupan nutrisi. Intervensi ini mencakup: (1) identifikasi kebutuhan kalori dan protein berdasarkan tinggi badan, berat badan, dan kondisi penyakit; (2) pemantauan asupan makanan dan cairan setiap hari; (3) pemantauan berat badan secara berkala; (4) pemberian makanan dalam porsi kecil tetapi sering untuk mengurangi mual; (5) kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet khusus (misalnya diet tinggi protein, tinggi kalori); (6) pemberian nutrisi enteral atau parenteral jika asupan oral tidak adekuat; (7) edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan; (8) pemantauan tanda-tanda malnutrisi (rambut rontok, kulit kering, stomatitis). Tujuan intervensi adalah memenuhi kebutuhan metabolisme dan mempercepat proses penyembuhan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak dan durasi singkat. Nyeri akut menjadi prioritas keempat karena dapat memperburuk kondisi pasien, meningkatkan kecemasan, dan menghambat mobilisasi serta asupan nutrisi. Nyeri seringkali menjadi penyebab utama mual dan muntah pada pasien. Faktor penyebab meliputi: trauma, prosedur invasif, inflamasi, iskemia, dan spasme otot. Manifestasi klinis meliputi ekspresi wajah meringis, perubahan posisi tubuh, perubahan tanda vital (peningkatan denyut nadi, tekanan darah), dan perilaku protektif. Penanganan difokuskan pada
Article No. 26328 | 24 Jun 2026
Klinis : HIPOVOLEMIA
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: HIPOVOLEMIA
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Hipovolemia adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kondisi penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler yang mengancam homeostasis tubuh. Kondisi ini merujuk pada dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh yang signifikan, baik akibat perdarahan, kehilangan cairan melalui saluran pencernaan (muntah, diare), luka bakar, penggunaan diuretik berlebihan, asupan cairan yang tidak adekuat, atau kondisi patologis lainnya seperti diabetes insipidus atau hiperglikemia. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan objektif yang menunjukkan ketidakseimbangan cairan. Tanda dan gejala utama meliputi penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, rasa haus yang berlebihan, penurunan tekanan darah (hipotensi), peningkatan denyut nadi (takikardia), pengisian kapiler lambat, penurunan volume urine (oliguria), kelemahan, pusing, dan penurunan kesadaran pada kasus berat. Pada pemeriksaan laboratorium, sering ditemukan peningkatan hematokrit, peningkatan osmolalitas serum, dan peningkatan kadar natrium serum (hipernatremia) jika kehilangan cairan melebihi kehilangan elektrolit. Hipovolemia yang tidak tertangani dapat menyebabkan syok hipovolemik, gagal ginjal akut, gangguan perfusi organ, dan kematian. Perawat berperan penting dalam mengidentifikasi risiko, memonitor status cairan, dan melakukan intervensi untuk mengembalikan keseimbangan cairan tubuh. Diagnosis ini memerlukan penanganan segera, terutama pada pasien dengan perdarahan aktif atau dehidrasi berat. Faktor risiko meliputi usia lanjut, bayi dan anak-anak, penyakit kronis (diabetes, penyakit ginjal), penggunaan obat-obatan tertentu (diuretik, laksatif), dan kondisi lingkungan yang panas. Penegakan diagnosis yang akurat membutuhkan pengkajian komprehensif meliputi riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemantauan tanda-tanda vital secara berkala. Dokumentasi yang tepat sangat penting untuk memantau perkembangan kondisi pasien dan efektivitas intervensi.
Kode SLKI: L.03020
Deskripsi: Status Cairan adalah luaran keperawatan yang menunjukkan kondisi keseimbangan cairan tubuh pasien setelah diberikan intervensi keperawatan. Luaran ini mencakup beberapa kriteria hasil yang terukur, yang menunjukkan perbaikan atau pemulihan dari kondisi hipovolemia. Kriteria utama yang diharapkan meliputi: (1) Keseimbangan cairan, ditandai dengan input dan output cairan yang seimbang dalam 24 jam, tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau overhidrasi; (2) Tanda-tanda vital stabil, meliputi tekanan darah dalam rentang normal (misalnya sistol 90-120 mmHg, diastol 60-80 mmHg), denyut nadi normal (60-100 kali per menit), dan suhu tubuh normal; (3) Turgor kulit elastis, tidak ada kulit kering atau cekung; (4) Membran mukosa lembab, tidak kering atau lengket; (5) Pengisian kapiler < 3 detik; (6) Produksi urine adekuat, yaitu > 0,5-1 ml/kgBB/jam pada dewasa dan > 1-2 ml/kgBB/jam pada anak; (7) Tidak ada rasa haus berlebihan; (8) Berat badan stabil atau sesuai target; (9) Elektrolit serum dalam batas normal (natrium, kalium, klorida, bikarbonat); (10) Hematokrit dalam batas normal; (11) Tidak ada edema atau tanda-tanda overload cairan. Pada pasien dengan hipovolemia, luaran ini diukur secara bertahap, misalnya dalam 1x24 jam pertama diharapkan terjadi perbaikan tanda-tanda vital dan produksi urine, kemudian dalam 2-3 hari diharapkan tercapai keseimbangan cairan yang optimal. Skala pengukuran menggunakan skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik) atau menggunakan skala numerik 0-4. Keberhasilan luaran ini sangat bergantung pada penyebab dasar hipovolemia, misalnya pada perdarahan aktif, luaran akan tercapai setelah perdarahan berhenti dan resusitasi cairan adekuat. Pada dehidrasi ringan-sedang, luaran dapat tercapai dalam 24-48 jam. Perawat perlu memonitor dan mendokumentasikan setiap perubahan status cairan secara kontinu untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan menyesuaikan rencana asuhan keperawatan. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya asupan cairan dan tanda-tanda dehidrasi juga merupakan bagian dari pencapaian luaran ini.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi: Manajemen Hipovolemia adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengatasi dan mencegah penurunan volume cairan tubuh pada pasien yang didiagnosis hipovolemia. Intervensi ini bersifat komprehensif dan mencakup aspek pengkajian, monitoring, dan tindakan langsung. Tujuan utama dari intervensi ini adalah mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan intavaskuler, mencegah syok hipovolemik, dan memperbaiki perfusi jaringan. Tindakan keperawatan yang termasuk dalam manajemen hipovolemia meliputi: (1) Kaji tanda-tanda vital setiap 15-30 menit sampai stabil, kemudian setiap 1-4 jam, meliputi tekanan darah, denyut nadi (kualitas, frekuensi, irama), suhu, dan frekuensi pernapasan; (2) Monitor pengisian kapiler, turgor kulit, dan kelembaban membran mukosa; (3) Kaji produksi urine setiap jam, catat jumlah, warna, dan berat jenis urine; (4) Monitor asupan dan haluaran cairan (balance cairan) secara ketat setiap 8 jam atau lebih sering jika kondisi tidak stabil; (5) Kaji adanya tanda-tanda syok hipovolemik (hipotensi, takikardia, pucat, akral dingin, penurunan kesadaran); (6) Berikan terapi cairan intravena sesuai program dokter, baik berupa kristaloid (NaCl 0,9%, Ringer Laktat) atau koloid (albumin, HES), dengan kecepatan infus yang disesuaikan dengan kondisi pasien; (7) Pantau hasil laboratorium seperti hematokrit, hemoglobin, elektrolit serum, dan osmolalitas; (8) Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk meningkatkan oksigenasi jaringan; (9) Atur posisi pasien (misalnya posisi trendelenburg atau posisi datar dengan kaki ditinggikan) untuk membantu aliran darah ke organ vital; (10) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan seperti vasopressor jika diperlukan (misalnya dopamin, norepinefrin) atau obat untuk mengatasi penyebab hipovolemia (misalnya antidiare, antiemetik); (11) Edukasi pasien dan keluarga mengenai pentingnya asupan cairan oral yang adekuat, tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai, dan kapan harus segera melapor ke petugas kesehatan; (12) Dokumentasikan semua intervensi dan respons pasien secara akurat. Pada pasien dengan perdarahan aktif, intervensi prioritas adalah menghentikan sumber perdarahan (misalnya tekanan langsung, pembedahan) sambil melakukan resusitasi cairan. Pada pasien dengan dehidrasi akibat diare atau muntah, intervensi meliputi pemberian cairan rehidrasi oral (oralit) atau intravena serta pengelolaan gejala. Intervensi ini harus disesuaikan dengan usia, berat badan, kondisi penyakit penyerta, dan tingkat keparahan hipovolemia. Evaluasi dilakukan secara kontinu untuk menilai efektivitas intervensi, misalnya dengan memantau perbaikan tanda-tanda vital, peningkatan produksi urine, dan perbaikan turgor kulit. Dokumentasi yang lengkap dan akurat sangat penting untuk kesinambungan asuhan dan evaluasi hasil. Intervensi ini dilakukan oleh perawat yang memiliki kompetensi dalam manajemen cairan dan elektrolit serta mampu melakukan tindakan resusitasi jika diperlukan.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596