Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25101 | 14 Apr 2026
Klinis : Hari ini : lemes, masih diare ku lemah td: 134/109 mmHg rr: 21 x/m s: 36,4C spo2: 98-99 % n: 89 x/m Status Generalisata Mata : CA -/- SI -/- Thorax : SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen : supel, BU (+) timpani, NT (-), Ext atas : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Ext bawah : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Lab RSSP Darah Rutin (8/4/26) Hb 13.22 Eritrosit 4.70 Hematokrit 39.5 MCV 84.0 MCH 28.1 MCHC 33.4 RDW 11.45 Leukosit 16.55 Neutrofil 90.2 Limfosit 6.1 Monosit 3.2 Eosinofil 0.02 Basofil 0.4 Total Neutrofil 14.93 Total Limfosit 1.02 Total Monosit 0.53 Total Eosinofil 0.00 Total Basofil 0.07 Trombosit 247 MPV 6.99 GDS 461 Ureum 56.3 Kreatinin 0.90 CK-MB 22 Golongan darah A Glukosa stik (13/4/26 06.17) -> 150
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0015
Deskripsi Singkat: Risiko variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 2116
Deskripsi : Pengendalian Kadar Glukosa Darah: Kemampuan mengontrol kadar glukosa darah dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: 3400
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia: Tindakan untuk menurunkan kadar glukosa darah.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen.
Kode SLKI: 2120
Deskripsi : Kontrol Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi infeksi.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : Pengawasan Infeksi: Pengumpulan dan analisis data pasien untuk mencegah atau menangani infeksi.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk memenuhi atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: 0101
Deskripsi : Status Energi: Tingkat energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Kode SIKI: 4140
Deskripsi : Manajemen Energi: Mengatur penggunaan energi untuk memperbaiki toleransi aktivitas.
-
Article No. 25102 | 14 Apr 2026
Klinis : Benjolan leher kanan sejak 2 bulan yang lalu awalnya sebesar biji jagung namun 1 Bulan ini makin membesar. Benjolan tidak teraba nyeri, Sesak nafas tidak ada. Batuk ada hilang timbul. Demam tidak ada. Riwayat sesak nafas tidak ada. Pasien saat ini sudah makan nasi namun jumlah sedikit. Diagnosa: lympangioma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan berat badan atau penurunan asupan nutrisi yang dapat menyebabkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status nutrisi pasien membaik, ditandai dengan: 1) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan tubuh. 2) Berat badan dalam rentang normal sesuai usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal. 4) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan, rambut rontok, atau kulit kering bersisik. 5) Memiliki pengetahuan yang adekuat mengenai pemilihan makanan bergizi sesuai kondisi kesehatannya. Kriteria hasil ini bertujuan untuk memastikan pasien mampu mempertahankan atau mencapai status gizi yang optimal, mendukung proses penyembuhan, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Pencapaian SLKI ini memerlukan intervensi keperawatan yang terfokus pada edukasi, pemantauan asupan, dan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai, terutama dalam konteks adanya penyakit seperti limfangioma yang mungkin mempengaruhi nafsu makan atau kemampuan menelan.
Kode SIKI: I.09139
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: 1) Kaji faktor yang mempengaruhi asupan nutrisi (misal: mual, anoreksia, kesulitan menelan, efek psikologis benjolan). 2) Timbang berat badan dan ukur antropometri lain secara teratur. 3) Monitor asupan dan output cairan serta kalori harian. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, jenis, dan tekstur makanan yang sesuai. 5) Anjurkan makan porsi kecil namun sering dengan makanan tinggi protein dan kalori. 6) Ciptakan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau tidak sedap. 7) Berikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan dan jenis makanan yang dianjurkan. 8) Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan kenyamanan. 9) Pantau hasil laboratorium seperti albumin, hemoglobin, dan limfosit total. 10) Evaluasi efektivitas intervensi nutrisi dan modifikasi rencana sesuai respons pasien. Intervensi ini bersifat komprehensif untuk mengatasi masalah asupan yang sedikit, mencegah malnutrisi, dan mendukung kondisi pasien secara keseluruhan sebelum, selama, dan setelah penanganan limfangioma.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: M.3.1
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau ketakutan yang tidak jelas sumbernya sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Pasien menunjukkan penurunan tingkat ansietas, ditandai dengan: 1) Mengungkapkan perasaan tenang dan mampu beristirahat. 2) Menunjukkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang rileks. 3) Dapat mengidentifikasi faktor pemicu ansietas (seperti benjolan yang membesar dan ketidakpastian diagnosis). 4) Menggunakan strategi koping adaptif untuk mengelola kecemasannya. 5) Tidur dan istirahat dengan cukup. 6) Kooperatif selama pemeriksaan dan pengobatan. 7) Memahami informasi yang diberikan tentang kondisi dan rencana perawatannya. Mengatasi ansietas sangat penting karena kecemasan dapat memperburuk persepsi gejala, menurunkan nafsu makan, dan menghambat proses penyembuhan. Dengan mencapai tingkat kecemasan yang terkendali, pasien dapat berpikir lebih jernih, berpartisipasi aktif dalam perawatan, dan meningkatkan kualitas hidupnya meski menghadapi penyakit.
Kode SIKI: I.07170
Deskripsi : Manajemen Ansietas: 1) Kaji tingkat ansietas pasien (ringan, sedang, berat) dan manifestasinya (verbal maupun nonverbal). 2) Dengarkan dengan penuh perhatian dan empati terhadap keluhan serta kekhawatiran pasien. 3) Berikan informasi yang jujur, jelas, dan sesuai tentang kondisi limfangioma, rencana diagnostik (seperti USG atau biopsi), dan pilihan penanganan. 4) Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan untuk mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui. 5) Ajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam dan distraksi. 6) Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional. 7) Fasilitasi pasien untuk mengekspresikan perasaannya. 8) Pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman. 9) Kolaborasi jika diperlukan untuk terapi farmakologi sesuai resep. 10) Evaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan. Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi beban psikologis pasien, meningkatkan rasa kontrol diri, dan membangun hubungan terapeutik perawat-pasien yang mendukung proses adaptasi terhadap penyakit.
Kondisi: Ketidakefektifan Pola Nafas
Kode SDKI: C.0029
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk bernapas secara adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh.
Kode SLKI: L.04003
Deskripsi : Pola napas pasien efektif, ditandai dengan: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia. 2) Irama napas teratur. 3) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan. 4) Tidak ada sianosis atau tanda distress pernapasan. 5) Nilai saturasi oksigen dalam batas normal (≥95%). 6) Bunyi napas bersih di seluruh lapang paru. 7) Pasien melaporkan tidak merasa sesak napas atau napas pendek. Meskipun pasien saat ini tidak sesak, limfangioma di leher memiliki risiko menyebabkan kompresi pada saluran napas seiring pertumbuhannya. SLKI ini menjadi tujuan pencegahan dan pemantauan untuk memastikan pola napas tetap adekuat dan mendeteksi dini setiap perubahan yang mengancam jalan napas.
Kode SIKI: I.08011
Deskripsi : Pemantauan Pernapasan: 1) Kaji frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan setiap shift atau sesuai kebutuhan. 2) Auskultasi bunyi napas untuk mendeteksi adanya stridor, wheezing, atau penurunan bunyi napas. 3) Monitor saturasi oksigen secara berkala. 4) Observasi adanya tanda sianosis, retraksi dada, atau penggunaan otot bantu napas. 5) Tanyakan langsung kepada pasien tentang adanya perasaan sesak atau sumbatan di tenggorokan. 6) Posisikan pasien semi-Fowler atau posisi yang paling nyaman untuk bernapas. 7) Instruksikan pasien untuk segera melaporkan jika muncul sensasi sesak, tersedak, atau perubahan suara. 8) Kolaborasi dalam pemeriksaan penunjang seperti foto thoraks jika diperlukan. 9) Siapkan alat bantu emergensi jalan napas di dekat pasien sebagai tindakan antisipasi. 10) Dokumentasi setiap perubahan status pernapasan secara akurat dan lengkap. Intervensi ini bersifat preventif dan detektif, sangat krusial mengingat lokasi anatomi limfangioma yang berpotensi mengganggu fungsi vital pernapasan.
-
Article No. 25103 | 14 Apr 2026
Klinis : Nyeri Sesak napas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau durasi yang relatif singkat.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri dengan kriteria hasil: 1) Menyatakan nyeri berkurang atau hilang, 2) Menunjukkan ekspresi wajah rileks, 3) Dapat beristirahat, tidur, dan beraktivitas dengan tepat, 4) Mendemonstrasikan penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, 5) Mematuhi regimen farmakologis yang diresepkan, dan 6) Melaporkan dampak nyeri terhadap fungsi hidup yang menurun. SLKI ini berfokus pada pencapaian manajemen nyeri yang efektif oleh pasien, di mana perawat berperan sebagai edukator dan fasilitator untuk mencapai kemandirian pasien dalam mengontrol nyeri melalui kombinasi intervensi farmakologis dan nonfarmakologis, serta pemantauan respons terhadap terapi.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Aktivitas keperawatan meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus/pereda), 2) Observasi isyarat verbal dan nonverbal ketidaknyamanan, 3) Gunakan alat pengkajian nyeri yang sesuai (skala numerik, wajah, dll.), 4) Berikan analgetik sesuai resep dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya, 5) Implementasikan intervensi nonfarmakologis (distraksi, relaksasi napas dalam, terapi musik, kompres hangat/dingin, posisi yang nyaman), 6) Ajarkan pasien dan keluarga tentang teknik manajemen nyeri, 7) Kurangi rangsangan yang dapat meningkatkan persepsi nyeri (lingkungan tenang), 8) Dukung dan bantu pasien dalam teknik relaksasi, 9) Evaluasi dan dokumentasi respons pasien terhadap intervensi. SIKI ini menekankan pendekatan holistik dengan menggabungkan terapi medis dan asuhan keperawatan mandiri untuk memodulasi persepsi nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan memulihkan fungsi.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0411
Deskripsi Singkat: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Pasien mencapai ventilasi yang adekuat dengan kriteria hasil: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia, 2) Irama napas teratur, 3) Kedalaman napas adekuat, 4) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, 5) Bunyi napas bersih di seluruh lapang paru, 6) Nilai gas darah arteri dalam rentang normal, dan 7) Pasien melaporkan tidak sesak. SLKI ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi ventilasi yang optimal, memastikan pertukaran oksigen dan karbon dioksida berlangsung efektif, sehingga mencegah hipoksia dan komplikasi lebih lanjut. Pencapaiannya melibatkan pemantauan ketat, terapi oksigen jika diperlukan, dan edukasi pasien.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Aktivitas keperawatan meliputi: 1) Kaji frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan, 2) Auskultasi bunyi napas, 3) Pantau tanda-tanda hipoksia (sianosis, gelisah, penurunan kesadaran), 4) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi), 5) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif, 6) Berikan terapi oksigen sesuai indikasi dan resep, 7) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan, 8) Bantu penghisapan lendir (suction) jika pasien tidak mampu membersihkan sekret, 9) Pantau analisa gas darah dan saturasi oksigen (SpO2), 10) Ajarkan teknik penghematan energi untuk mengurangi beban kerja pernapasan, 11) Pertahankan lingkungan yang bebas dari alergen atau iritan, 12) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau obat lain sesuai resep. SIKI ini bersifat komprehensif, mencakup tindakan promotif, preventif, dan kuratif untuk mengatasi hambatan pada jalan napas dan meningkatkan kapasitas pertukaran gas paru.
-
Article No. 25104 | 14 Apr 2026
Klinis : Pasien mengeluhkan nyeri dada tembus ke belakang, skala nyeri 5, hilang saat di beri obat dan saat tidur menyamping, nyeri hilang timbul, sakitnya terus menerus tetapi berkurang saat menyamping. Pasien terpasang oksigen 3lpm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0009
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau mendadak dengan intensitas ringan hingga berat.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Tingkat nyeri terkontrol. Ditandai dengan: 1) Melaporkan nyeri terkontrol. 2) Menunjukkan perilaku nyeri terkontrol (misalnya, mampu beristirahat, tidur). 3) Tanda-tanda fisiologis nyeri terkontrol (misalnya, tanda-tanda vital dalam rentang normal). 4) Mengenali faktor pencetus nyeri. 5) Menggunakan metode nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor pencetus, dan faktor penghilang). 2) Observasi tanda-tanda nonverbal dari ketidaknyamanan atau nyeri (misalnya, perubahan tanda vital, gelisah, ekspresi wajah, postur tubuh). 3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien. 4) Berikan analgetik sesuai program terapi. 5) Evaluasi efektivitas analgetik (onset, puncak, durasi) dan efek samping. 6) Ajarkan penggunaan skala nyeri untuk melaporkan intensitas nyeri. 7) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian terapi farmakologis dan nonfarmakologis. 8) Lakukan tindakan nonfarmakologis (misalnya: distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin, reposisi, masase, dukungan emosional). 9) Atur posisi pasien untuk kenyamanan maksimal. 10) Monitor dan dokumentasi respons pasien terhadap intervensi.
-
Article No. 25105 | 14 Apr 2026
Klinis : Pasien mengeluhkan nyeri dada tembus ke belakang, skala nyeri 5, hilang saat di beri obat dan saat tidur menyamping, nyeri hilang timbul, sakitnya terus menerus tetapi berkurang saat menyamping. Karena sakit itu pasien merasakan sesak juga. Pasien terpasang oksigen 3lpm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri. Ditunjukkan dengan perilaku: 1) Mengenali faktor penyebab, 2) Mengenali onset nyeri, 3) Menggunakan metode nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri, 4) Menggunakan analgesik dengan tepat, 5) Melaporkan nyeri dapat dikontrol, 6) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang, 7) Menunjukkan ekspresi wajah rileks, 8) Menunjukkan posisi tubuh nyaman, 9) Melaporkan mampu beristirahat dan tidur, 10) Melaporkan mampu melakukan aktivitas sesuai kondisi.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Kegiatan: 1) Monitor lokasi, karakteristik, intensitas (skala 0-10), frekuensi, dan durasi nyeri. 2) Monitor faktor yang memperberat dan meringankan nyeri. 3) Monitor respons nonverbal ketidaknyamanan. 4) Monitor dampak nyeri terhadap fungsi (tidur, nafsu makan, aktivitas fisik, hubungan interpersonal, konsentrasi). 5) Lakukan pendekatan terapeutik untuk mengurangi persepsi nyeri. 6) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (relaksasi nafas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin). 7) Kolaborasi pemberian farmakologis sesuai indikasi. 8) Evaluasi efektivitas intervensi pengurangan nyeri. 9) Fasilitasi posisi yang nyaman. 10) Berikan lingkungan yang tenang.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk bernapas secara adekuat untuk mempertahankan suplai oksigen ke sel dan membuang karbon dioksida dari tubuh, yang dapat disebabkan oleh gangguan pada sistem pernapasan, sirkulasi, atau neurologis.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Pasien menunjukkan ventilasi yang adekuat. Ditunjukkan dengan perilaku: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia, 2) Irama napas teratur, 3) Kedalaman napas adekuat, 4) Tidak menggunakan otot bantu napas, 5) Tidak ada sianosis, 6) Tidak ada bunyi napas tambahan, 7) Ekspansi dada simetris, 8) Gas darah arteri dalam rentang normal, 9) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 10) Melaporkan tidak sesak napas.
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Kegiatan: 1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas). 2) Auskultasi bunyi napas. 3) Monitor tanda hipoksia (gelisah, cemas, penurunan kesadaran, sianosis). 4) Monitor saturasi oksigen. 5) Pertahankan posisi semifowler/fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 6) Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 7) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan. 8) Berikan terapi oksigen sesuai program dan monitor efektivitasnya. 9) Lakukan suction jika diperlukan. 10) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau obat lain sesuai indikasi.
-
Article No. 25106 | 14 Apr 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi yang diikuti dengan kejang. Anak dilaporkan mengalami kejang sebanyak 3 kali dengan durasi selama ±10 detik dengan jarak ±2 jam antara kejang pertama dan berikutnya. Kejang dikatakan terjadi di seluruh tubuh dengan badan kaku dengan mata menghadap ke atas, selama kejang anak tidak sadar. Lalu saat kejang berhenti anak sadar dan menangis. 3 hari sebelum kejang, anak disebutkan mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan saat ini diketahui suhu tubuh 38,2o C, frekuensi nadi 120x/menit. Ibu merasa cemas dan takut melihat anak kejang, serta mengatakan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Kejang Demam Kompleks
Kode ICD-10: R56.1
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan kejang yang terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun yang diprovokasi oleh demam (suhu ≥38°C) tanpa adanya infeksi intrakranial atau penyebab spesifik lainnya. Pada kasus ini, kejang memenuhi kriteria kejang demam kompleks karena terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam (3 kali dengan jarak 2 jam), dengan durasi yang relatif lama (masing-masing ±10 detik), dan bersifat umum (seluruh tubuh kaku, mata menghadap ke atas). Kejang demam biasanya terjadi pada fase awal penyakit demam, seperti infeksi saluran pernapasan yang dialami pasien 3 hari sebelumnya. Kode ICD-10 R56.1 dikategorikan di bawah gejala dan tanda umum (R50-R69), tepatnya di bawah "Kejang, tidak diklasifikasikan di tempat lain". Kode ini digunakan untuk kejang demam sederhana maupun kompleks, di mana riwayat klinis dan pemeriksaan tidak menemukan penyebab kejang lain seperti epilepsi, infeksi sistem saraf pusat, atau gangguan metabolik. Penanganan utama adalah menurunkan demam, mengatasi penyebab infeksi, dan edukasi kepada orang tua mengenai tata laksana pertama saat kejang serta mengurangi kecemasan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25108 | 14 Apr 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi yang diikuti dengan kejang. Anak dilaporkan mengalami kejang sebanyak 3 kali dengan durasi selama ±10 detik dengan jarak ±2 jam antara kejang pertama dan berikutnya. Kejang dikatakan terjadi di seluruh tubuh dengan badan kaku dengan mata menghadap ke atas, selama kejang anak tidak sadar. Lalu saat kejang berhenti anak sadar dan menangis. 3 hari sebelum kejang, anak disebutkan mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan saat ini diketahui suhu tubuh 38,2o C, frekuensi nadi 120x/menit. Ibu merasa cemas dan takut melihat anak kejang, serta mengatakan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis, terkait dengan faktor risiko kejang demam berulang.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tujuan keperawatan adalah untuk mempertahankan perfusi serebral yang adekuat dan mencegah cedera neurologis lebih lanjut. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah), 2) Status neurologis stabil atau membaik (tidak ada kejang berulang, tingkat kesadaran baik [sadar dan menangis setelah kejang], respons motorik dan sensorik normal), 3) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial (fontanel tidak tegang, muntah proyektil, iritabilitas berlebihan), 4) Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, dan 5) Fungsi kognitif sesuai perkembangan usia terpelihara. Perawat akan memantau frekuensi, durasi, dan karakteristik kejang, serta respons anak pasca-iktal. Pemantauan ketat terhadap suhu tubuh sangat krusial untuk mencegah pemicu kejang demam berulang. Selain itu, observasi terhadap tanda-tanda dehidrasi atau overload cairan juga dilakukan karena dapat mempengaruhi perfusi serebral.
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Manajemen Kejang: Intervensi keperawatan difokuskan pada pencegahan, penanganan selama kejang, dan observasi pasca kejang untuk memastikan perfusi serebral tetap optimal. Intervensi spesifik meliputi: 1) Mempertahankan jalan napas dan mencegah aspirasi selama kejang dengan memposisikan anak miring (posisi recovery), membersihkan sekret dari mulut, dan tidak memasukkan apa pun ke dalam mulut. 2) Melindungi anak dari cedera fisik selama kejang dengan mengamankan area sekitar tempat tidur, menggunakan penghalang sisi tempat tidur yang dipasang dengan benar, dan menghindari restrain. 3) Mengadministrasikan obat antipiretik (sesuai resep) seperti parasetamol untuk menurunkan demam, yang merupakan faktor pemicu utama, disertai tindakan kompres hangat. 4) Mengadministrasikan obat antikonvulsan sesuai resep dokter (misalnya diazepam rectal) jika diperlukan untuk menghentikan kejang aktif atau mencegah kejang berulang. 5) Memonitor dan mendokumentasikan secara rinci setiap episode kejang: waktu mulainya, durasi, karakteristik (tonik-klonik, fokal, umum), bagian tubuh yang terlibat, dan kondisi anak setelah kejang (periode pasca-iktal). 6) Memantau status neurologis secara berkala termasuk tingkat kesadaran (GCS modifikasi untuk anak), reaksi pupil, tonus otot, dan refleks. 7) Memastikan kebutuhan oksigenasi terpenuhi dengan memberikan oksigen jika diperlukan dan memonitor saturasi oksigen. 8) Mengatur keseimbangan cairan dengan pemberian cairan intravena atau oral sesuai toleransi untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperburuk kondisi. 9) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang seperti EEG jika diindikasikan. 10) Memberikan edukasi dan dukungan kepada keluarga, khususnya ibu, tentang penanganan pertama kejang demam di rumah, cara mengukur dan menurunkan suhu, serta kapan harus segera mencari pertolongan medis, untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan koping keluarga.
-
Article No. 25109 | 14 Apr 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi yang diikuti dengan kejang. Anak dilaporkan mengalami kejang sebanyak 3 kali dengan durasi selama ±10 detik dengan jarak ±2 jam antara kejang pertama dan berikutnya. Kejang dikatakan terjadi di seluruh tubuh dengan badan kaku dengan mata menghadap ke atas, selama kejang anak tidak sadar. Lalu saat kejang berhenti anak sadar dan menangis. 3 hari sebelum kejang, anak disebutkan mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan saat ini diketahui suhu tubuh 38,2o C, frekuensi nadi 120x/menit. Ibu merasa cemas dan takut melihat anak kejang, serta mengatakan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan otak. Pada kasus kejang demam, aktivitas listrik otak yang berlebihan dan peningkatan kebutuhan metabolik selama kejang dapat mengganggu keseimbangan antara suplai oksigen/nutrisi dan kebutuhan otak, berisiko menyebabkan perfusi serebral yang tidak efektif. Risiko ini diperberat oleh demam tinggi yang meningkatkan metabolisme basal dan kebutuhan oksigen serebral.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi serebral tetap adekuat. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan perfusi otak yang optimal untuk mencegah cedera neurologis lebih lanjut. Indikator keberhasilannya meliputi: anak menunjukkan tingkat kesadaran normal sesuai usianya (responsif, dapat dibangunkan) setelah kejang berhenti, tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia (nadi kuat dan teratur, tekanan darah adekuat, saturasi oksigen >95%), tidak ada episode kejang berulang yang berkepanjangan, fungsi motorik dan sensorik tetap utuh, serta tidak terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti fontanel menonjol (jika masih terbuka) atau muntah proyektil. Perawat akan memantau kesadaran (GCS modifikasi untuk anak), tanda vital neurologis (pupil, reaksi motorik), dan durasi serta karakteristik kejang jika berulang.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Kejang. Intervensi ini merupakan tindakan spesifik untuk mengatasi dan mencegah komplikasi dari kejang. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Mempertahankan jalan napas paten selama dan setelah kejang dengan memposisikan anak miring (recovery position), menghisap lendir jika diperlukan, dan memberikan oksigen sesuai order. 2) Melindungi anak dari cedera fisik selama kejang dengan mengamankan area sekitar, tidak memasukkan apapun ke dalam mulut, dan membaringkan di permukaan yang aman. 3) Menghentikan atau mengurangi aktivitas kejang dengan pemberian obat antikonvulsan sesuai protokol/order dokter (seperti diazepam rektal). 4) Memantau dan mendokumentasi karakteristik kejang: onset, durasi, tipe gerakan, bagian tubuh yang terlibat, dan tingkat kesadaran. 5) Memonitor tanda-tanda vital dan status neurologis pasca kejang. 6) Mengelola penyebab yang dapat dikendalikan, seperti menurunkan demam dengan kompres hangat dan antipiretik. 7) Memberikan edukasi kepada keluarga tentang penanganan pertama kejang di rumah.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal (≥38°C) akibat ketidakseimbangan antara produksi panas dan pengeluaran panas. Pada kasus ini, demam (suhu 38.2°C) merupakan pemicu utama kejang demam sederhana. Hipertermia meningkatkan metabolisme basal dan konsumsi oksigen otak, sehingga menurunkan ambang kejang pada anak yang rentan.
Kode SLKI: 0802
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Tujuannya adalah menurunkan dan mempertahankan suhu tubuh anak dalam batas normal (36.5-37.5°C) untuk mencegah kejang berulang dan mengurangi ketidaknyamanan. Indikatornya meliputi: suhu aksila ≤37.5°C, kulit teraba hangat (tidak panas), tidak ada menggigil, frekuensi nafas dan nadi dalam rentang normal untuk usia, serta anak tampak nyaman (tidak rewel berlebihan). Pemantauan suhu dilakukan secara berkala setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi.
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini ditujukan untuk mengurangi suhu tubuh secara aman. Tindakannya meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara teratur. 2) Memberikan terapi antipiretik sesuai order (parasetamol atau ibuprofen) dengan dosis tepat berdasarkan berat badan. 3) Melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat (bukan air dingin/es) di daerah lipatan (ketiak, selangkangan) dan dahi, karena kompres hangat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah perifer sehingga panas dapat keluar. 4) Mengatur lingkungan yang nyaman (sirkulasi udara baik, suhu ruangan sejuk, pakaian tipis dan menyerap keringat). 5) Meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi dan membantu regulasi suhu. 6) Memantau tanda-tanda dehidrasi dan kejang.
Kondisi: Ansietas Orang Tua
<Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, khawatir, tegang, atau takut yang dialami oleh orang tua (dalam hal ini ibu) sebagai respons terhadap ancaman yang dirasakan terhadap kesehatan anaknya. Ibu menyatakan merasa cemas, takut, dan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang. Kejang pada anak adalah pengalaman yang sangat menakutkan bagi orang tua dan sering menimbulkan perasaan tidak berdaya.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Tingkat ansietas menurun. Tujuannya adalah mengurangi kecemasan ibu hingga tingkat yang dapat dikelola, sehingga ibu dapat berpartisipasi secara efektif dalam perawatan anak. Indikatornya meliputi: ibu dapat mengidentifikasi penyebab kecemasannya, ibu melaporkan penurunan perasaan tegang dan takut, ibu menunjukkan perilaku yang lebih tenang (tidak panik, kontak mata baik), ibu mampu mengikuti instruksi sederhana dari perawat, serta ibu mengungkapkan pemahaman tentang kondisi anak dan penanganan kejang dasar.
Kode SIKI: 5820
Deskripsi : Pengurangan Ansietas. Intervensi ini fokus pada memberikan dukungan psikologis dan informasi untuk mengurangi kecemasan. Tindakannya meliputi: 1) Mendengarkan dengan penuh perhatian kekhawatiran dan ketakutan ibu. 2) Memberikan penjelasan yang jelas, sederhana, dan jujur tentang kondisi anak (kejang demam sederhana), penyebab, prognosis yang umumnya baik, dan rencana perawatan. 3) Mengajarkan dan mendemonstrasikan tindakan yang harus dilakukan jika kejang berulang di rumah (menjauhkan benda berbahaya, memiringkan posisi, mencatat durasi, tidak memasukkan apapun ke mulut, segera bawa ke fasilitas kesehatan jika kejang >5 menit). 4) Melibatkan ibu dalam perawatan anak (seperti memeluk anak setelah sadar, membantu mengompres) untuk mengurangi perasaan tidak berdaya. 5) Memberikan lingkungan yang suportif dan meyakinkan bahwa anak dalam penanganan tim kesehatan. 6) Mengevaluasi tingkat pemahaman dan kecemasan ibu secara berkala.
-
Article No. 25110 | 14 Apr 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi yang diikuti dengan kejang. Anak dilaporkan mengalami kejang sebanyak 3 kali dengan durasi selama ±10 detik dengan jarak ±2 jam antara kejang pertama dan berikutnya. Kejang dikatakan terjadi di seluruh tubuh dengan badan kaku dengan mata menghadap ke atas, selama kejang anak tidak sadar. Lalu saat kejang berhenti anak sadar dan menangis. 3 hari sebelum kejang, anak disebutkan mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan saat ini diketahui suhu tubuh 38,2o C, frekuensi nadi 120x/menit. Ibu merasa cemas dan takut melihat anak kejang, serta mengatakan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tercapainya aliran darah yang adekuat ke otak untuk memenuhi kebutuhan metabolik dan mencegah cedera neurologis. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tingkat kesadaran sesuai usia (pada kasus ini, sadar penuh dan responsif setelah kejang berhenti), tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia (suhu tubuh yang terkontrol, nadi dan pernapasan stabil), tidak terjadi kejang berulang, fungsi motorik dan sensorik utuh, serta tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti muntah proyektil atau ubun-ubun menonjol (pada bayi). SLKI ini menjadi tujuan utama perawatan untuk memastikan kejang demam tidak berkembang menjadi kondisi yang mengancam perfusi otak secara permanen.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Kejang: Intervensi keperawatan yang dilakukan selama fase akut kejang dan pasca kejang untuk meminimalkan komplikasi. Intervensi ini mencakup: 1) Melindungi pasien dari cedera selama kejang (membaringkan di tempat datar dan aman, memiringkan kepala untuk menjaga jalan napas, longgarkan pakaian, jangan menahan gerakan atau memasukkan sesuatu ke mulut). 2) Memantau dan mendokumentasi karakteristik kejang (durasi, frekuensi, bagian tubuh yang terlibat, tingkat kesadaran). 3) Memantau tanda-tanda vital dan status neurologis secara ketat pasca kejang. 4) Memberikan terapi antipiretik sesuai instruksi untuk mengatasi demam penyebab kejang. 5) Memberikan terapi antikonvulsan sesuai instruksi jika diperlukan. 6) Menjaga kenyamanan dan memberikan dukungan psikologis kepada anak dan keluarga setelah kejang. SIKI ini secara langsung ditujukan untuk mencegah hipoksia serebral selama kejang dan mengontrol faktor pemicu (demam), sehingga mendukung tercapainya SLKI Perfusi Serebral yang adekuat.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal untuk usia individu karena kegagalan mekanisme termoregulasi.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Termoregulasi: Kemampuan tubuh dalam mempertahankan suhu inti dalam rentang normal. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: suhu tubuh turun dan bertahan dalam rentang normal (36.5°C - 37.5°C), kulit teraba hangat (bukan panas) dan tidak berkeringat berlebihan, frekuensi nafas dan nadi dalam batas normal untuk usia, serta anak tampak nyaman (tidak rewel berlebihan, dapat beristirahat). Pada kasus kejang demam, pencapaian SLKI ini adalah kunci utama untuk mencegah berulangnya kejang, karena demam tinggi merupakan pemicu utamanya. Pengendalian suhu tubuh secara efektif akan memutus siklus risiko kejang dan mengurangi beban metabolik pada otak.
Kode SIKI: 3830
Deskripsi : Manajemen Hipertermia: Serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat. Intervensi ini meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara berkala. 2) Memberikan terapi antipiretik (seperti parasetamol atau ibuprofen) sesuai resep dokter dengan dosis tepat berdasarkan berat badan. 3) Melakukan kompres hangat (bukan dingin atau alkohol) di daerah lipatan (ketiak, selangkangan) dan dahi untuk meningkatkan pelepasan panas secara konduksi. 4) Meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi dan membantu proses pengaturan suhu. 5) Memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat. 6) Mengatur suhu lingkungan agar sejuk dan nyaman. SIKI ini secara langsung menangani masalah fisiologis utama (demam) yang menjadi penyebab kejang, sehingga menjadi fondasi untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan mencapai kestabilan termoregulasi.
Kondisi: Ansietas (pada pengasuh/ibu)
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau ketakutan yang tidak jelas sumbernya sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: 1405
Deskripsi : Kontrol Ansietas: Kemampuan pengasuh (ibu) untuk mengenali, mengungkapkan, dan mengelola perasaan cemasnya secara adaptif. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: ibu dapat mengidentifikasi penyebab kecemasannya (ketidaktahuan menangani kejang, takut anak meninggal/cacat), menunjukkan perilaku koping yang positif (tenang relatif, kooperatif dengan tim kesehatan), mampu mendemonstrasikan tindakan pertolongan pertama kejang demam dengan benar, serta melaporkan penurunan tingkat kecemasan secara subjektif. Mencapai SLKI ini pada pengasuh sangat krusial karena kecemasan yang tinggi dapat mengganggu kemampuan ibu dalam memberikan perawatan dan dukungan emosional yang optimal kepada anak, serta menghambat proses pembelajaran perawatan lanjutan di rumah.
Kode SIKI: 5820
Deskripsi : Penurunan Ansietas: Intervensi untuk membantu mengurangi perasaan cemas pada pengasuh. Tindakan ini mencakup: 1) Membangun hubungan saling percaya dan memberikan dukungan emosional. 2) Memberikan informasi yang jelas, jujur, dan mudah dipahami tentang kondisi anak, penyebab kejang demam, prognosis, dan rencana perawatan. 3) Mengajarkan dan memandu ibu secara langsung tentang langkah-langkah yang harus dilakukan jika kejang berulang di rumah (posisi aman, jangan memasukkan apapun ke mulut, amati durasi, segera bawa ke fasilitas kesehatan jika kejang >5 menit). 4) Melibatkan ibu dalam perawatan anak selama di rumah sakit untuk meningkatkan rasa kontrol. 5) Memberikan reinforcement positif atas upaya yang telah ibu lakukan. 6) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana. Dengan SIKI ini, perawat tidak hanya merawat pasien (anak) tetapi juga memberdayakan pengasuh utama, sehingga meningkatkan kualitas perawatan berkelanjutan dan mengurangi dampak psikologis dari kejadian yang menakutkan tersebut.
-
Article No. 25111 | 14 Apr 2026
Klinis : pasien dengan tb kelenjar. terdapat benjolan di leher tidak nyeri, benjolan kecil kurleb 5cm. 2 hari dirawat panas, sebelumnya panas naik turun, keringat dingin. berat badan turun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Tuberkulosis Kelenjar Limfe (Skrofuloderma)
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1910
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Isolasi
Kondisi: Tuberkulosis Kelenjar Limfe (Skrofuloderma)
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Pemberian Analgesik
Kondisi: Tuberkulosis Kelenjar Limfe (Skrofuloderma)
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: 1106
Deskripsi : Status Nutrisi
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi
Kondisi: Tuberkulosis Kelenjar Limfe (Skrofuloderma)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Status Termoregulasi
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia