Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21497 | 04 Sep 2025
Klinis : kebas tangan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi kebas tangan berdasarkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Sensasi Perifer (00422)
Definisi SDKI:
Gangguan Sensasi Perifer adalah ketidakmampuan merasakan atau menyadari rangsangan di bagian tubuh secara normal.
Definisi SLKI:
Pemulihan Sensasi (D0201)
Upaya untuk memulihkan sensasi normal pada bagian tubuh yang terganggu.
Definisi SIKI:
1. Menilai sensasi perifer (J0201)
Kode: J0201
Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data terkait sensasi perifer.
2. Memfasilitasi pemulihan sensasi (J0202)
Kode: J0202
Definisi: Melakukan tindakan untuk membantu pemulihan sensasi normal pada bagian tubuh yang terganggu.
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami kebas pada tangan, yang merupakan indikasi adanya gangguan sensasi perifer. Perawat perlu menilai sensasi perifer pasien untuk mengidentifikasi penyebab dan tingkat keparahan gangguan. Selanjutnya, perawat dapat memfasilitasi pemulihan sensasi melalui intervensi yang sesuai, seperti latihan sensorik, stimulasi listrik, atau penggunaan alat bantu. Tujuannya adalah untuk memulihkan sensasi normal pada tangan pasien. -
Article No. 21498 | 04 Sep 2025
Klinis : Disuria
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai Diagnosa Keperawatan SDKI, Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI), dan Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk kondisi disuria.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Untuk kondisi disuria, diagnosa keperawatan yang sesuai berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah "Gangguan Eliminasi Urine". Disuria atau nyeri/rasa tidak nyaman saat berkemih merupakan salah satu gejala dari gangguan eliminasi urine. Diagnosa ini mencakup masalah keperawatan terkait dengan kemampuan individu yang terganggu dalam mengosongkan kandung kemih secara adekuat.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan disuria, luaran yang diharapkan berdasarkan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah "Eliminasi Urine Lancar". Indikator dari luaran ini mencakup:
1. Pasien dapat mengosongkan kandung kemih secara utuh dan tuntas.
2. Pasien dapat berkemih tanpa nyeri atau ketidaknyamanan.
3. Pasien dapat mempertahankan pola berkemih normal sesuai kebutuhan.
4. Pasien dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi eliminasi urine.
5. Pasien dapat melakukan tindakan untuk memfasilitasi eliminasi urine yang lancar.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran "Eliminasi Urine Lancar" pada pasien dengan disuria, intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah:
1. Manajemen Eliminasi: Mengkaji pola, frekuensi, dan karakteristik eliminasi urine pasien. Memfasilitasi pasien untuk berkemih secara adekuat, seperti menganjurkan untuk minum cukup cairan, melakukan latihan Kegel, dan menggunakan teknik berkemih yang benar.
2. Manajemen Rasa Tidak Nyaman: Mengkaji tingkat nyeri atau ketidaknyamanan saat berkemih. Memberikan analgesik atau antiinflamasi sesuai indikasi untuk mengurangi rasa sakit. Mengajarkan pasien teknik relaksasi dan distraksi untuk mengatasi rasa tidak nyaman.
3. Edukasi Kesehatan: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab, gejala, dan penatalaksanaan disuria. Membantu pasien mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi eliminasi urine dan melakukan tindakan preventif.
4. Manajemen Cairan: Memantau asupan dan output cairan pasien. Memastikan pasien mengonsumsi cairan yang cukup untuk memfasilitasi eliminasi urine yang lancar.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terfokus pada mengatasi masalah eliminasi urine, diharapkan pasien dengan disuria dapat mencapai luaran "Eliminasi Urine Lancar" sehingga dapat mempertahankan pola berkemih yang normal dan meningkatkan kualitas hidup. -
Article No. 21499 | 04 Sep 2025
Klinis : retensi urin
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan untuk kondisi retensi urin.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi retensi urin adalah "Gangguan Eliminasi Urin" (SDKI, 2017). Diagnosa ini mencakup kondisi di mana terdapat hambatan dalam pengeluaran urin dari kandung kemih, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi saluran kemih, obstruksi jalan keluar kandung kemih, atau disfungsi kandung kemih.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang tepat, luaran yang diharapkan untuk kondisi retensi urin adalah:
1. Pemulihan Eliminasi Urin: Pasien dapat mengosongkan kandung kemih secara efektif dan teratur tanpa adanya hambatan.
2. Pengendalian Gejala: Pasien menunjukkan penurunan atau hilangnya gejala-gejala yang terkait dengan retensi urin, seperti rasa tidak nyaman di area kandung kemih, nyeri saat berkemih, dan peningkatan frekuensi berkemih.
3. Pencegahan Komplikasi: Pasien tidak mengalami komplikasi yang terkait dengan retensi urin, seperti infeksi saluran kemih, kerusakan ginjal, atau pembentukan batu ginjal.
4. Peningkatan Kualitas Hidup: Pasien menunjukkan peningkatan dalam aktivitas sehari-hari, tidur, dan kenyamanan secara umum akibat pemulihan fungsi eliminasi urin.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Manajemen Eliminasi:
- Memantau pola dan volume eliminasi urin
- Melakukan kateterisasi kandung kemih jika diperlukan untuk membantu pengosongan kandung kemih
- Memberikan edukasi kepada pasien tentang teknik berkemih yang benar
2. Manajemen Kenyamanan:
- Memberikan analgesik atau obat-obatan lain untuk mengurangi rasa nyeri atau ketidaknyamanan saat berkemih
- Mengatur posisi pasien untuk meningkatkan kenyamanan saat berkemih
3. Edukasi Kesehatan:
- Memberikan informasi kepada pasien tentang penyebab, gejala, dan komplikasi retensi urin
- Mengajarkan pasien tentang perawatan diri yang tepat, seperti menjaga kebersihan area genital dan mengenali tanda-tanda infeksi
4. Kolaborasi Profesional:
- Berkolaborasi dengan dokter untuk menentukan pengobatan yang tepat, seperti pemberian obat-obatan atau tindakan pembedahan jika diperlukan
- Berkoordinasi dengan tim kesehatan lain (misalnya fisioterapis) untuk memberikan intervensi yang komprehensif
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terpadu, diharapkan dapat membantu pasien dengan retensi urin untuk mencapai luaran yang diharapkan, yaitu pemulihan fungsi eliminasi urin, pengendalian gejala, pencegahan komplikasi, dan peningkatan kualitas hidup. -
Article No. 21500 | 04 Sep 2025
Klinis : demam 3 hari
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Untuk kondisi demam 3 hari, kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang relevan adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R50.9
- Deskripsi: Demam, tidak diklasifikasi di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang spesifik untuk demam 3 hari. Penanganan umum untuk demam dapat meliputi pengukuran suhu tubuh, pemberian obat antipiretik, dan pemantauan gejala selama masa perawatan.
Penjelasan:
- Kode ICD-10 R50.9 (Demam, tidak diklasifikasi di tempat lain) digunakan untuk menggambarkan gejala demam yang tidak memiliki penyebab yang jelas atau tidak dapat diklasifikasikan ke dalam kategori diagnosis yang lebih spesifik.
- Demam 3 hari tanpa gejala lain yang jelas dapat merupakan suatu kondisi yang umum terjadi dan tidak memerlukan intervensi medis yang spesifik. Penanganan utama biasanya meliputi pengukuran suhu tubuh, pemberian obat antipiretik (seperti paracetamol atau ibuprofen) untuk mengurangi demam, dan pemantauan gejala selama masa perawatan untuk memastikan tidak ada komplikasi atau penyebab yang lebih serius.
- Dalam kasus ini, tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang secara khusus terkait dengan penanganan demam 3 hari. Penanganan umumnya bersifat simptomatik dan tidak memerlukan tindakan medis yang invasif. -
Article No. 21501 | 04 Sep 2025
Klinis : demam 3 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda paparkan, yaitu demam selama 3 hari, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, serta kode dan definisi dari Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
Hipertermia (00007)
SDKI:
Hipertermia: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
SLKI:
Homeostasis Suhu Tubuh (21007)
Definisi: Kemampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
SIKI:
Manajemen Demam (80005)
Definisi: Serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat di atas rentang normal.
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami demam selama 3 hari, yang merupakan tanda dari kondisi hipertermia. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Hipertermia (00007). Tujuan keperawatan adalah untuk mencapai Homeostasis Suhu Tubuh (21007), yaitu kemampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Demam (80005), yang merupakan serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat di atas rentang normal.
Tone: Akademis
Persona: Pakar, Nurse -
Article No. 21502 | 04 Sep 2025
Klinis : demam 3 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 \b0 \fs24 Berdasarkan kondisi klinis yang disampaikan, yaitu demam selama 3 hari, berikut adalah diagnosa keperawatan yang relevan beserta penjelasan singkat sesuai standar PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia):
\b Diagnosa Keperawatan: Hipertermia (Kode: 00007)
\b0 \line \b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): \b0
\line Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (?38°C) yang berlangsung selama 3 hari, disertai dengan manifestasi seperti kulit teraba hangat, takikardia, takipnea, dan malaise. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi, inflamasi, atau proses penyakit lainnya.
\b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): \b0
\line \b Kode: L.14039 - \b0 Suhu tubuh dalam rentang normal
\line Kriteria luaran:
\line - Suhu tubuh 36,5-37,5°C
\line - Denyut nadi 60-100 kali/menit
\line - Frekuensi napas 16-20 kali/menit
\line - Kulit teraba hangat dan kering
\b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): \b0
\line \b Kode: I.11220 - \b0 Manajemen Hipertermia
\line Intervensi utama:
\line 1. Memantau suhu tubuh setiap 2-4 jam
\line 2. Memberikan kompres hangat/dingin sesuai indikasi
\line 3. Menganjurkan intake cairan yang adekuat
\line 4. Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai resep
\line 5. Mempertahankan sirkulasi udara yang adekuat
\line \b Kode: I.2610 - \b0 Edukasi Kesehatan
\line Intervensi pendukung:
\line 1. Edukasi keluarga tentang penyebab dan penanganan demam
\line 2. Mengajarkan teknik monitoring suhu mandiri
\line 3. Memberikan informasi tanda-tanda kegawatan yang perlu diwaspadai
\line \i Catatan: Penetapan diagnosa keperawatan harus didukung oleh pengkajian yang komprehensif dan validasi data objektif (pengukuran suhu, pemeriksaan fisik, dan data penunjang lainnya). Demam selama 3 hari memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan etiologi dasar. -
Article No. 21503 | 04 Sep 2025
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi pasien ini dapat didiagnosis dengan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I21.9
- Deskripsi: Infark miokard akut, tidak dinyatakan lain
Penjelasan:
- Pasien mengalami gejala-gejala yang khas untuk infark miokard akut, seperti nyeri dada hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai sesak napas, mual, dan keringat dingin.
- EKG menunjukkan infark miokard akut, yang mengindikasikan adanya kerusakan pada otot jantung akibat gangguan aliran darah.
- Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2, yang merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular seperti infark miokard akut.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.10
- Deskripsi: Prosedur diagnostik jantung, tidak dinyatakan lebih lanjut
- Catatan: Prosedur diagnostik seperti EKG, echokardiografi, atau pemeriksaan angiografi mungkin diperlukan untuk konfirmasi diagnosis dan evaluasi lebih lanjut.
Kesimpulan:
Berdasarkan gejala klinis, hasil pemeriksaan EKG, dan riwayat medis pasien, diagnosis yang tepat untuk kondisi ini adalah infark miokard akut. Prosedur diagnostik lebih lanjut mungkin diperlukan untuk evaluasi dan penanganan yang sesuai. -
Article No. 21411 | 03 Sep 2025
Klinis : Kasus Dermatitis Seorang pasien, Tn. A, usia 35 tahun, jeni kelamin laki-laki, pekerjaan tukang bangunan dengan status perkawinan menikah, datang ke poli kulit dengan keluhan gatal-gatal dan kemerahan di lengan dan betis sejak 1 minggu terakhir. Keluhan semakin parah saat pasien banyak berkeringat dan terkena debu semen di tempat kerja. Pasien juga mengeluhkan kulit terasa panas, kering, dan kadang pecah-pecah. Keluhan muncul pertama kali setelah pasien bekerja di proyek baru yang banyak menggunakan semen. Pasien sering menggaruk karena gatal sehingga muncul luka lecet kecil. Pasien sudah mencoba menggunakan bedak salisilat tetapi tidak banyak membantu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat. Pasien pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun lalu, membaik setelah diberi salep oleh dokter, namun pasien tidak memiliki riwayat penyakit kulit menular. Dari hasil pengkajian didapatkan data ayah pasien memiliki riwayat asma, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan kulit yang sama. Pasien merasa malu dengan kulitnya yang kemerahan dan sering digaruk. Saat ini berperan sebagai kepala keluarga, hubungan baik dengan istri dan anak. Pasien jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, lebih sering membeli obat di warung, pasien tidak mengetahui cara pencegahan dermatitis. Aktivitas sehari-hari sebagai tukang bangunan, banyak berkeringat. Tidak ada keluhan sesak atau nyeri saat beraktivitas. Saat malam tidur malam terganggu karena gatal (sering terbangun 2–3 kali), dan rasa panas di kulit. Pasien mengatasi gatal dengan menggaruk atau menggunakan bedak. Kadang pasien merasa stres karena kulit makin rusak jika digaruk. Pasien meyakini sakit ini sebagai ujian, serta tidak ada pantangan khusus terkait kepercayaan. Nafsu makan pasien baik, dengan asupan cairan ± 1–1,5 liter/hari, BAB 1x/hari, konsistensi normal, BAK 4–5x/hari, warna kuning jernih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,8°C. Pada kulit: terdapat eritema (kemerahan) difus di lengan bawah dan betis, papul kecil, ekskoriasi akibat garukan, kulit kering, tidak ada pus, mukosa bibir lembab, tidak ada limfadenopati. Pada pemriksaan penunjang didapatkan: ? Tes alergi kulit (patch test): positif terhadap bahan semen. ? Darah rutin: normal. ? IgE serum: sedikit meningkat. Foto lengan bawah pasien saat awal kejadian.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;\red255\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\cf1\lang1057\f0\fs22\ulnone\b Berdasarkan data pengkajian pada Tn. A, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai standar PPNI:\b0\par
\par
\cf2\ul\b 1. Diagnosa Keperawatan:\cf1\ulnone\b0\par
\cf1\b Gangguan Integritas Kulit b.d iritan fisik (paparan semen dan debu)\cf0\b0\par
\cf1\ul\b Kode SDKI: 0501\cf0\ulnone\b0\par
\par
\cf2\ul\b 2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):\cf1\ulnone\b0\par
\cf1\b Penyembuhan Luka: Tingkat 3 (Ringan)\cf0\b0\par
\cf1\ul\b Kode SLKI: 4301\cf0\ulnone\b0\par
\cf1\i - Kriteria luaran: Penurunan eritema, berkurangnya ekskoriasi, kulit tidak pecah-pecah, dan penurunan keluhan gatal serta rasa panas.\cf0\i0\par
\par
\cf2\ul\b 3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\cf1\ulnone\b0\par
\cf1\b Manajemen Dermatitis\cf0\b0\par
\cf1\ul\b Kode SIKI: 3520\cf0\ulnone\b0\par
\cf1\i - Intervensi: Edukasi penghindaran iritan (semen/debu), penggunaan pelindung kulit (sarung tangan, pakaian panjang), terapi topikal sesuai indikasi, manajemen gatal (kompres dingin, hindari garukan), dan pemantauan tanda infeksi.\cf0\i0\par
\par
\cf2\ul\b Penjelasan Singkat:\cf1\ulnone\b0\par
Diagnosa keperawatan ini ditetapkan berdasarkan temuan eritema, ekskoriasi, dan kulit kering akibat paparan semen (dikonfirmasi patch test positif). SLKI mengarah pada penyembuhan kulit dengan kriteria perbaikan gejala, sedangkan SIKI fokus pada proteksi kulit dan edukasi untuk mencegah kekambuhan. Pendekatan holistik mencakup aspek fisik (perlindungan dari iritan) dan psikososial (penurunan stres akibat kondisi kulit).\par
} -
Article No. 21412 | 03 Sep 2025
Klinis : Kasus Dermatitis Seorang pasien, Tn. A, usia 35 tahun, jeni kelamin laki-laki, pekerjaan tukang bangunan dengan status perkawinan menikah, datang ke poli kulit dengan keluhan gatal-gatal dan kemerahan di lengan dan betis sejak 1 minggu terakhir. Keluhan semakin parah saat pasien. banyak berkeringat dan terkena debu semen di tempat kerja. Pasien juga mengeluhkan kulit terasa panas, kering, dan kadang pecah-pecah. Keluhan muncul pertama kali setelah pasien bekerja di proyek baru yang banyak menggunakan semen. Pasien sering menggaruk karena gatal sehingga muncul luka lecet kecil. Pasien sudah mencoba menggunakan bedak salisilat tetapi tidak banyak membantu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat. Pasien pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun lalu, membaik setelah diberi salep oleh dokter, namun pasien tidak memiliki riwayat penyakit kulit menular. Dari hasil pengkajian didapatkan data ayah pasien memiliki riwayat asma, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan kulit yang sama. Pasien merasa malu dengan kulitnya yang kemerahan dan sering digaruk. Saat ini berperan sebagai kepala keluarga, hubungan baik dengan istri dan anak. Pasien jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, lebih sering membeli obat di warung, pasien tidak mengetahui cara pencegahan dermatitis. Aktivitas sehari-hari sebagai tukang bangunan, banyak berkeringat. Tidak ada keluhan sesak atau nyeri saat beraktivitas. Saat malam tidur malam terganggu karena gatal (sering terbangun 2-3 kali). dan rasa panas di kulit. Pasien mengatasi gatal dengan menggaruk atau menggunakan bedak. Kadang pasien merasa stres karena kulit makin rusak jika digar?k. Pasien meyakini sakit ini sebagai ujian, serta tidak ada pantangan khusus terkait kepercayaan. Nafsu makan pasien baik. dengan asupan cairan 1-1,5 literhari, BAB ix/hari, konsistensi normal, BAK 4-5x/hari, wama kuning jemih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,8°C. Pada kulit: terdapat eritema (kemerahan) difus di lengan bawah dan betis, papul kecil, ekskoriasi akibat garukan, kulit kering, tidak ada pus, mukosa bibir lembab, tidak ada limfadenopati. Pada pemriksaan penunjang didapatkan: Tes alergi kulit (patch test); positif terhadap bahan semen. Darah rutin: normal. IgE serum: sedikit meningkat. Foto lengan bawah pasien saat awal kejadian.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, saya dapat menetapkan diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI beserta kodenya untuk kondisi dermatitis yang dialami Tn. A.
Diagnosis Keperawatan:
1. Kerusakan integritas kulit (00046)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kerusakan integritas kulit (00046)
Definisi: Perubahan epidermis dan/atau lapisan dermis yang disebabkan oleh faktor internal dan/atau eksternal.
Kode: 00046
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pemulihan integritas kulit (1902)
Definisi: Pemulihan struktur dan fungsi kulit.
Kode: 1902
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Perawatan luka (3660)
Definisi: Tindakan untuk memfasilitasi penyembuhan luka dan mencegah komplikasi.
Kode: 3660
2. Manajemen dermatitis (3590)
Definisi: Tindakan untuk mengontrol reaksi kulit yang disebabkan oleh iritasi atau alergi.
Kode: 3590
Penjelasan singkat:
Tn. A mengalami kerusakan integritas kulit (00046) berupa dermatitis yang ditandai dengan gatal-gatal, kemerahan, papul kecil, ekskoriasi, dan kulit kering. Kondisi ini disebabkan oleh paparan bahan iritan dari semen di tempat kerja. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah perawatan luka (3660) untuk mengatasi luka lecet akibat garukan serta manajemen dermatitis (3590) untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi. -
Article No. 21413 | 03 Sep 2025
Klinis : Kasus Dermatitis Seorang pasien, Tn. A, usia 35 tahun, jeni kelamin laki-laki, pekerjaan tukang bangunan dengan status perkawinan menikah, datang ke poli kulit dengan keluhan gatal-gatal dan kemerahan di lengan dan betis sejak 1 minggu terakhir. Keluhan semakin parah saat pasien. banyak berkeringat dan terkena debu semen di tempat kerja. Pasien juga mengeluhkan kulit terasa panas, kering, dan kadang pecah-pecah. Keluhan muncul pertama kali setelah pasien bekerja di proyek baru yang banyak menggunakan semen. Pasien sering menggaruk karena gatal sehingga muncul luka lecet kecil. Pasien sudah mencoba menggunakan bedak salisilat tetapi tidak banyak membantu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat. Pasien pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun lalu, membaik setelah diberi salep oleh dokter, namun pasien tidak memiliki riwayat penyakit kulit menular. Dari hasil pengkajian didapatkan data ayah pasien memiliki riwayat asma, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan kulit yang sama. Pasien merasa malu dengan kulitnya yang kemerahan dan sering digaruk. Saat ini berperan sebagai kepala keluarga, hubungan baik dengan istri dan anak. Pasien jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, lebih sering membeli obat di warung, pasien tidak mengetahui cara pencegahan dermatitis. Aktivitas sehari-hari sebagai tukang bangunan, banyak berkeringat. Tidak ada keluhan sesak atau nyeri saat beraktivitas. Saat malam tidur malam terganggu karena gatal (sering terbangun 2-3 kali). dan rasa panas di kulit. Pasien mengatasi gatal dengan menggaruk atau menggunakan bedak. Kadang pasien merasa stres karena kulit makin rusak jika digar?k. Pasien meyakini sakit ini sebagai ujian, serta tidak ada pantangan khusus terkait kepercayaan. Nafsu makan pasien baik. dengan asupan cairan 1-1,5 literhari, BAB ix/hari, konsistensi normal, BAK 4-5x/hari, wama kuning jemih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,8°C. Pada kulit: terdapat eritema (kemerahan) difus di lengan bawah dan betis, papul kecil, ekskoriasi akibat garukan, kulit kering, tidak ada pus, mukosa bibir lembab, tidak ada limfadenopati. Pada pemriksaan penunjang didapatkan: Tes alergi kulit (patch test); positif terhadap bahan semen. Darah rutin: normal. IgE serum: sedikit meningkat. Foto lengan bawah pasien saat awal kejadian.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien Tn. A yang dideskripsikan, maka dapat ditetapkan diagnosis keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Kode: 00087
b. Judul: Intoleransi Aktivitas
c. Definisi: Keterbatasan pada kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan
2. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
a. Kode: 00087
b. Judul: Intoleransi Aktivitas
c. Definisi: Keterbatasan pada kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
a. Kode: 1616
b. Judul: Toleransi Aktivitas
c. Definisi: Kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan tanpa menimbulkan gejala yang tidak diinginkan
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
a. Kode: 6460
b. Judul: Manajemen Aktivitas
c. Definisi: Pengaturan, pemantauan, dan bantuan pada pasien untuk mencapai aktivitas yang diinginkan
Penjelasan singkat:
Pasien Tn. A mengalami dermatitis yang menyebabkan gejala gatal-gatal, kemerahan, kulit kering, dan pecah-pecah pada lengan bawah dan betis. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari pasien, terutama sebagai tukang bangunan yang banyak berkeringat dan terpapar debu semen. Intoleransi aktivitas terjadi karena keterbatasan dalam melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan akibat gejala dermatitis. Perawat perlu melakukan manajemen aktivitas untuk membantu pasien mencapai aktivitas yang diinginkan dengan mempertimbangkan kondisi dermatitis yang dialami.