Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24724 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang pasien (30 th) dengan luka tusuk di dada kanan. Tampak sesak napas berat, deviasi trakea ke arah kiri, dan suara perkusi hipersonor di dada kanan. Terdapat tarikan dinding dada yang dalam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit (Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan ketika terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta ketidakmampuan untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Pada kasus luka tusuk dada dengan tanda-tanda klinis seperti sesak napas berat, deviasi trakea, dan suara perkusi hipersonor, kondisi ini berkembang menjadi tension pneumothorax. Tension pneumothorax merupakan keadaan gawat darurat di mana udara masuk ke dalam rongga pleura tetapi tidak dapat keluar, menyebabkan peningkatan tekanan intrapleural yang terus-menerus. Tekanan ini mendorong mediastinum (termasuk trakea) ke arah sisi yang berlawanan (deviasi trakea ke kiri), menekan paru-paru sisi yang sehat, pembuluh darah besar (vena cava), dan jantung. Hal ini secara drastis mengurangi kapasitas pertukaran gas karena paru-paru yang sakit kolaps dan paru-paru yang sehat tertekan. Selain itu, kompresi pada pembuluh darah besar mengurangi aliran balik vena ke jantung, yang menurunkan curah jantung secara signifikan. Penurunan curah jantung ini menyebabkan syok distributif/obstruktif, yang selanjutnya memperburuk pengiriman oksigen ke jaringan (hipoksia jaringan). Tarikan dinding dada yang dalam merupakan upaya kompensasi tubuh untuk menarik napas lebih dalam melawan tekanan tinggi di rongga dada, namun upaya ini seringkali tidak efektif dan justru memperburuk rasa sesak. Tanpa intervensi segera (seperti dekompresi jarum atau pemasangan selang dada), gangguan pertukaran gas ini akan berlanjut menjadi hipoksia berat, asidosis respiratorik, henti jantung, dan kematian.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401 berfokus pada Pemantauan Status Pernapasan. Pada pasien dengan tension pneumothorax, tindakan keperawatan ini menjadi kritis dan harus dilakukan secara terus-menerus dan cermat. Perawat akan memantau frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan (seperti tarikan dinding dada, penggunaan otot bantu napas). Pemantauan saturasi oksigen (SpO2) dengan pulse oximetry dan analisis gas darah arteri jika memungkinkan adalah standar emas untuk menilai tingkat hipoksemia. Auskultasi bunyi napas sangat penting; pada sisi yang terkena (dada kanan) akan terdengar bunyi napas melemah atau bahkan tidak terdengar sama sekali. Perawat juga harus mengamati tanda-tanda sianosis sentral (pada bibir dan lidah) serta perubahan status mental (gelisah, agitasi, penurunan kesadaran) yang merupakan indikator hipoksia serebral. Pemantauan posisi trakea (apakah tetap deviasi atau mulai kembali ke tengah setelah intervensi) adalah parameter spesifik untuk menilai keberhasilan dekompresi. Selain itu, pemantauan tanda-tanda vital seperti takikardia, hipotensi, dan nadi paradoksus (penurunan tekanan nadi saat inspirasi) juga dilakukan karena terkait dengan dampak tension pneumothorax pada hemodinamik. Semua data ini dicatat dan dikomunikasikan secara cepat dan akurat kepada tim medis untuk menentukan tindakan selanjutnya. Pemantauan bukanlah tindakan pasif, tetapi merupakan proses aktif yang menentukan kecepatan respon dan keselamatan pasien.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : SIKI 3320 adalah Pemberian Oksigen. Pada kondisi tension pneumothorax, pemberian oksigen dengan aliran tinggi (misalnya melalui masker non-rebreacher dengan reservoir) merupakan intervensi keperawatan yang mendesak. Tujuannya adalah untuk meningkatkan konsentrasi oksigen yang diinspirasi (FiO2), sehingga meskipun pertukaran gas terganggu berat, gradien tekanan untuk difusi oksigen dari alveoli ke kapiler darah dapat dimaksimalkan. Oksigenasi yang adekuat sangat penting untuk mencegah kerusakan organ target seperti otak dan jantung akibat hipoksia. Perawat harus memastikan alat pemberi oksigen berfungsi dengan baik, aliran oksigen sesuai yang diresepkan (biasanya 10-15 liter/menit pada fase akut), dan alat terpasang dengan nyaman serta efektif pada pasien. Penting untuk diingat bahwa pemberian oksigen adalah terapi suportif dan bukan terapi definitif untuk tension pneumothorax. Terapi definitifnya adalah mengeluarkan udara dari rongga pleura. Oleh karena itu, SIKI ini dilakukan bersamaan dengan persiapan dan asistensi untuk prosedur dekompresi darurat (seperti thorakosentesis atau pemasangan selang dada/water seal drainage). Perawat juga harus memantau respons pasien terhadap terapi oksigen melalui saturasi oksigen dan tanda klinis lainnya, serta waspada terhadap kemungkinan deteriorasi yang memerlukan tindakan lebih lanjut. Keamanan pasien dan kesiapan alat resusitasi juga menjadi bagian dari pelaksanaan SIKI ini.
-
Article No. 24725 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang pasien (30 th) dengan luka tusuk di dada kanan. Tampak sesak napas berat, deviasi trakea ke arah kiri, dan suara perkusi hipersonor di dada kanan. Terdapat tarikan dinding dada yang dalam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit (Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau berisiko mengalami kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada kasus luka tusuk dada dengan tanda-tanda tension pneumothorax (sesak napas berat, deviasi trakea, hipersonor, tarikan dinding dada), terjadi ketidakseimbangan yang akut dan mengancam jiwa. Udara yang masuk ke rongga pleura namun tidak dapat keluar (one-way valve) menyebabkan tekanan intrapleural meningkat drastis. Tekanan ini mendorong mediastinum (termasuk trakea) ke sisi yang berlawanan (deviasi trakea ke kiri), yang mengkompresi paru-paru sehat di sisi kontralateral dan jantung. Akibatnya, paru-paru yang tertusuk kolaps dan paru-paru sehat pun tertekan, sehingga luas permukaan membran alveolus-kapiler untuk pertukaran gas berkurang secara signifikan. Hal ini menyebabkan hipoksemia berat (kekurangan oksigen dalam darah) dan hiperkapnia (penumpukan karbon dioksida). Sesak napas dan tarikan dinding dada yang dalam adalah upaya kompensasi tubuh untuk menarik lebih banyak oksigen, namun menjadi tidak efektif karena gangguan mekanik tersebut. Jika tidak segera ditangani, akan terjadi gagal napas, penurunan curah jantung yang drastis, dan berakhir pada henti jantung.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : SLKI 0401 berfokus pada pemulihan dan pemeliharaan fungsi pernapasan yang adekuat. Pada kasus tension pneumothorax, luaran yang diharapkan adalah pasien menunjukkan pertukaran gas yang membaik, yang ditandai dengan: 1) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (12-20 kali/menit) dan irama teratur, tanpa sesak napas dan tanpa penggunaan otot bantu pernapasan yang berlebihan. 2) Deviasi trakea kembali ke posisi midline (garis tengah). 3) Bunyi perkusi kembali normal (resonance), bukan hipersonor, di kedua lapang paru. 4) Saturasi oksigen (SpO2) >94% dengan atau tanpa pemberian oksigen sesuai kebutuhan. 5) Gas darah arteri (jika tersedia) menunjukkan nilai PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal. 6) Kesadaran pasien baik (compos mentis) karena otak mendapat suplai oksigen yang cukup. 7) Kulit hangat dan kering, tidak pucat atau sianosis. Pencapaian SLKI ini sangat bergantung pada intervensi darurat yang cepat dan tepat, terutama dekompresi rongga pleura.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : SIKI 3310 adalah Manajemen Jalan Napas, yang merupakan serangkaian tindakan keperawatan untuk mempertahankan jalan napas paten dan mendukung pernapasan yang adekuat. Pada tension pneumothorax, tindakan ini bersifat kritis dan mendesak. Implementasinya meliputi: 1) **Penilaian Segera dan Berkelanjutan**: Memantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan, upaya napas (seperti tarikan dinding dada, penggunaan otot bantu), saturasi oksigen, warna kulit, dan status kesadaran. Memeriksa kembali adanya deviasi trakea dan perubahan bunyi perkusi. 2) **Posisi**: Menempatkan pasien dalam posisi semi-Fowler atau duduk (jika kondisinya memungkinkan) untuk memudahkan ekspansi dada. Hindari posisi telentang datar yang dapat memperberat sesak. 3) **Pemberian Oksigen Konsentrasi Tinggi**: Memberikan oksigen dengan masker non-rebreacher atau dengan aliran tinggi (10-15 liter/menit) untuk memaksimalkan oksigenasi darah yang masih bisa terjadi. 4) **Bersiap untuk dan Membantu Prosedur Dekompresi Darurat**: Ini adalah inti dari penanganan tension pneumothorax. Perawat harus segera menyiapkan alat untuk thorakosentesis atau pemasangan *needle decompression* (jarum besar ukuran 14G atau 16G) di ruang interkostal 2 garis midklavikula atau ruang interkostal 4-5 garis aksilaris anterior pada sisi yang cedera. Membantu dokter dalam prosedur steril tersebut. Setelah jarum masuk, biasanya akan terdengar suara desisan yang menandakan keluarnya udara bertekanan. 5) **Mempersiapkan dan Merawat Drainase Dada (Water Seal Drainage/ WSD)**: Setelah dekompresi darurat, biasanya akan dipasang WSD secara permanen. Perawat bertugas menyiapkan set WSD steril, membantu pemasangan, memastikan sistem tertutup dan berfungsi dengan baik (terlihat fluktuasi atau *tidaling* pada chamber), mengatur tekanan suction jika diperlukan, dan memantau output drainase. 6) **Kolaborasi dan Komunikasi**: Segera menghubungi dokter dan tim gawat darurat. Mempersiapkan alat resusitasi dan intubasi jika terjadi perburukan. 7) **Edukasi dan Dukungan Psikologis**: Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien (jika sadar) untuk mengurangi kecemasan. Memberikan dukungan emosional karena kondisi ini sangat menakutkan bagi pasien. Semua tindakan ini harus dilakukan dengan cepat, terampil, dan terkoordinasi untuk menyelamatkan nyawa pasien dengan mengembalikan tekanan intrapleural menjadi negatif dan memungkinkan paru-paru kembali mengembang.
-
Article No. 24726 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang wanita (35 th) mengeluh cepat lelah saat melakukan aktivitas rumah tangga ringan. Pasien tampak pucat, hasil Hb 7,5 gr/dL, dan sering merasa pusing serta jantung berdebar-debar saat berdiri dari posisi duduk.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.1
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas adalah keadaan di mana seseorang mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan. Pada kasus ini, kondisi ini disebabkan oleh anemia (Hb 7,5 gr/dL) yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah. Defisit energi ini dimanifestasikan melalui keluhan cepat lelah saat aktivitas ringan, pucat, pusing, dan palpitasi (jantung berdebar) saat perubahan posisi (ortostatik), yang merupakan upaya kompensasi tubuh untuk mempertahankan curah jantung dan suplai oksigen ke jaringan vital.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : SLKI L.03101 adalah "Kebutuhan energi terpenuhi". Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: (1) Pasien mampu melakukan aktivitas dengan tingkat kelelahan yang sesuai; (2) Tanda-tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) dalam batas normal selama dan setelah aktivitas; (3) Tidak mengalami dispnea, pusing, atau nyeri dada yang tidak wajar saat beraktivitas; (4) Menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas secara bertahap yang dapat diukur; (5) Mengungkapkan perasaan memiliki energi yang cukup untuk melakukan aktivitas yang diinginkan. Pada pasien ini, tujuan utamanya adalah mencapai stabilitas tanda vital (terutama tidak ada takikardia atau hipotensi ortostatik yang signifikan), mengurangi keluhan pusing dan palpitasi, serta mampu menyelesaikan aktivitas rumah tangga ringan tanpa kelelahan yang berlebihan. Peningkatan kadar hemoglobin menjadi target jangka menengah untuk mendukung tercapainya kriteria hasil ini.
Kode SIKI: I.03128
Deskripsi : SIKI I.03128 adalah "Manajemen Intoleransi Aktivitas". Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan sistematis: (1) Mengkaji faktor penyebab, tingkat intoleransi, dan pola kelelahan pasien. (2) Memonitor tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas, khususnya respons terhadap perubahan posisi. (3) Mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan pekerjaan rumah, mengatur ritme aktivitas dengan periode istirahat yang cukup, dan memprioritaskan aktivitas yang penting. (4) Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan penyebab anemia (misalnya, pemberian suplementasi zat besi, transfusi darah jika diperlukan, dan manajemen nutrisi). (5) Membantu pasien dalam menyusun jadwal aktivitas harian yang realistis dan bertahap. (6) Memberikan edukasi tentang pentingnya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat, serta tanda-tanda kelelahan yang harus diwaspadai. (7) Mendorong partisipasi keluarga dalam membantu tugas rumah tangga untuk mengurangi beban pasien selama masa pemulihan. (8) Mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan dan menyesuaikan rencana perawatan. Fokus intervensi adalah meminimalkan konsumsi energi, mencegah komplikasi akibat kelemahan (seperti jatuh), dan meningkatkan kapasitas fungsional secara progresif sambil menangani akar masalah anemia.
-
Article No. 24727 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang perempuan (25 th) mengeluh nyeri saat BAK, terasa panas, dan merasa ingin kencing terus menerus (urgensi). Hasil pemeriksaan fisik: nyeri tekan di area suprapubik.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001: Kontrol Nyeri. Tujuan akhirnya adalah pasien mampu mengontrol nyeri. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien menyatakan nyeri berkurang atau hilang; 2) Menunjukkan perilaku untuk mengatasi nyeri (misalnya, istirahat, teknik relaksasi); 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; 4) Ekspresi wajah rileks; dan 5) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. Dalam konteks sistitis, tujuan utamanya adalah mengurangi atau menghilangkan nyeri saat berkemih dan nyeri tekan suprapubik, sehingga pasien dapat berkemih dengan nyaman dan beraktivitas tanpa gangguan.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : SIKI I.08039: Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Implementasinya pada pasien dengan gejala sistitis meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, intensitas dengan skala nyeri, faktor pencetus dan pereda pada area suprapubik dan saat berkemih). 2) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang penyebab nyeri (iritasi kandung kemih akibat infeksi). 3) Mengajarkan dan mendorong teknik non-farmakologis seperti kompres hangat di area suprapubik untuk mengurangi spasme dan nyeri, serta teknik distraksi. 4) Kolaborasi pemberian analgesik atau spasmolitik sesuai resep dokter (seperti parasetamol atau fenazopiridin) dan memastikan obat diminum tepat waktu. 5) Menganjurkan peningkatan asupan cairan (kecuali ada kontraindikasi) untuk mengencerkan urine sehingga mengurangi rasa panas saat berkemih. 6) Memonitor dan mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan melalui skala nyeri dan observasi perilaku pasien. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis, serta edukasi untuk memberdayakan pasien dalam mengelola nyerinya.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Gangguan dalam pengeluaran urine yang ditandai dengan urgensi, frekuensi, disuria, retensi, atau inkontinensia.
Kode SLKI: L.04005
Deskripsi : SLKI L.04005: Eliminasi Urine. Tujuannya adalah pemulihan atau pemeliharaan pola eliminasi urine yang optimal. Kriteria hasil spesifik untuk kasus ini adalah: 1) Pasien melaporkan penurunan atau hilangnya rasa ingin berkemih terus-menerus (urgensi) dan rasa panas (disuria); 2) Frekuensi berkemih kembali dalam rentang normal; 3) Urine yang dikeluarkan jernih, tidak berbau tajam, dan dalam jumlah adekuat setiap kali berkemih; 4) Tidak ada keluhan nyeri atau ketidaknyamanan saat berkemih; dan 5) Nyeri tekan suprapubik berkurang atau hilang. Pencapaian kriteria ini menunjukkan resolusi dari gejala gangguan eliminasi akibat infeksi saluran kemih bawah.
Kode SIKI: I.04021
Deskripsi : SIKI I.04021: Manajemen Inkontinensia Urine. Meskipun judul spesifik untuk inkontinensia, intervensi ini mencakup prinsip manajemen gangguan eliminasi urine secara luas. Pada pasien dengan gejala urgensi dan disuria, tindakan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor pola berkemih (frekuensi, jumlah, karakteristik urine, dan keluhan penyerta). 2) Menganjurkan dan memfasilitasi peningkatan asupan cairan minimal 2-3 liter per hari (kecuali ada kontraindikasi) untuk membilas bakteri dari kandung kemih. 3) Memberikan edukasi untuk menghindari iritan kandung kemih seperti kafein, soda, alkohol, dan makanan pedas selama gejala berlangsung. 4) Mengajarkan teknik berkemih teratur dan tidak menahan kencing. 5) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep dokter dan memastikan kepatuhan minum obat untuk mengatasi infeksi penyebab gangguan eliminasi. 6) Memberikan edukasi tentang hygiene perineal yang benar (dari depan ke belakang) untuk mencegah rekontaminasi. 7) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium urine. Intervensi ini bertujuan mengatasi penyebab (infeksi) dan mengelola gejala untuk mengembalikan fungsi eliminasi urine yang normal.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko terhadap invasi oleh patogen, yang dapat terjadi akibat ketidakadekuatan pertahanan tubuh.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : SLKI L.15001: Kontrol Infeksi. Tujuannya adalah mencegah penyebaran infeksi atau komplikasi lebih lanjut. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: 1) Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda penyebaran infeksi (misalnya, demam, nyeri pinggang yang mengindikasikan pielonefritis); 2) Tanda-tanda infeksi lokal (disuria, urgensi, nyeri suprapubik) berkurang dan hilang; 3) Hasil pemeriksaan laboratorium urine menunjukkan perbaikan (jumlah bakteri berkurang, leukosit menurun); 4) Pasien dan keluarga memahami dan melakukan tindakan pencegahan infeksi berulang; dan 5) Tidak terjadi infeksi nosokomial jika dirawat di fasilitas kesehatan.
Kode SIKI: I.15033
Deskripsi : SIKI I.15033: Proteksi Infeksi. Intervensi ini berfokus pada pencegahan dan pengendalian infeksi. Pada kasus sistitis akut, tindakan yang dilakukan adalah: 1) Melakukan pengkajian tanda-tanda infeksi (memonitor suhu tubuh, karakter urine, gejala sistemik). 2) Menerapkan prinsip aseptik dalam semua prosedur, terutama jika dilakukan kateterisasi (meski pada kasus ini umumnya tidak diperlukan). 3) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai resep dengan tepat waktu dan tepat dosis untuk eradikasi bakteri. 4) Edukasi pasien tentang pentingnya menyelesaikan seluruh regimen antibiotik meskipun gejala sudah membaik. 5) Edukasi pencegahan infeksi berulang: meningkatkan asupan cairan, berkemih segera setelah berhubungan seksual, teknik cebok yang benar, menghindari penggunaan produk feminin yang berpotensi mengiritasi, dan mengenali gejala dini. 6) Memantau dan mendokumentasikan respons terapi. Intervensi proteksi infeksi sangat krusial untuk mencegah komplikasi infeksi saluran kemih ke ginjal (pielonefritis) yang lebih serius.
-
Article No. 24728 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh agen patogen.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : SLKI 1900: Manajemen Infeksi. Tindakan keperawatan untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani infeksi. Pada kasus ini, fokusnya adalah pada deteksi dini dan penanganan ISK yang sudah terjadi. Intervensi mencakup pemantauan tanda-tanda infeksi (seperti demam 38,8°C, nyeri suprapubik, urine keruh dan hematuria), memastikan teknik aseptik dalam perawatan kateter dan drainage system, serta kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep. Perawat juga akan mendokumentasikan karakteristik urine, memantau hasil kultur urine, dan memberikan edukasi tentang pentingnya hidrasi serta perawatan kateter yang tepat untuk mencegah kekambuhan. Tindakan spesifik termasuk perawatan meatus urinarius dengan teknik aseptik, menjaga sistem drainase tertutup dan tergantung dengan baik, serta menghindari tarikan pada kateter.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : SIKI 4501: Monitor tanda dan gejala infeksi. Kriteria hasil yang diharapkan adalah terdeteksinya tanda dan gejala infeksi secara dini. Perawat akan secara teratur mengkaji dan mendokumentasikan: 1) Tanda sistemik seperti peningkatan suhu tubuh (38,8°C), menggigil, malaise, atau takikardia. 2) Tanda lokal di area suprapubik seperti nyeri, kemerahan, atau pembengkakan. 3) Karakteristik urine: kekeruhan (menunjukkan adanya piuria atau leukosit), hematuria (adanya darah), bau yang tidak sedap, dan peningkatan jumlah sediment. 4) Perubahan status mental yang sering terjadi pada lansia dengan infeksi, seperti kebingungan atau letargi. Pengkajian ini dilakukan setidaknya setiap shift atau sesuai kondisi pasien, dan setiap perubahan dilaporkan kepada tim medis untuk tindakan lanjutan. Pemantauan yang cermat ini sangat krusial karena infeksi pada lansia dapat berkembang cepat dan manifestasinya tidak selalu khas.
-
Article No. 24729 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Infeksi dicegah
Kode SIKI: 1701A
Deskripsi : Mempertahankan teknik aseptik
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1702
Deskripsi : Infeksi dikendalikan
Kode SIKI: 1702A
Deskripsi : Mengidentifikasi faktor risiko infeksi
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1702
Deskripsi : Infeksi dikendalikan
Kode SIKI: 1702B
Deskripsi : Memantau tanda dan gejala infeksi
Kondisi: Nyeri akut terkait inflamasi dan iritasi kandung kemih
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 2302
Deskripsi : Nyeri terkontrol
Kode SIKI: 2302A
Deskripsi : Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
Kondisi: Nyeri akut terkait inflamasi dan iritasi kandung kemih
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 2302
Deskripsi : Nyeri terkontrol
Kode SIKI: 2302C
Deskripsi : Mengajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri
Kondisi: Hipertermia terkait proses infeksi bakteri
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 0702
Deskripsi : Suhu tubuh normal
Kode SIKI: 0702A
Deskripsi : Memonitor suhu tubuh
Kondisi: Hipertermia terkait proses infeksi bakteri
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 0702
Deskripsi : Suhu tubuh normal
Kode SIKI: 0702B
Deskripsi : Memberikan tindakan untuk menurunkan suhu tubuh
-
Article No. 24730 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2301
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Manajemen Kateter Urin
Penjelasan Lengkap:
Diagnosa Keperawatan (SDKI 0016: Risiko Infeksi) dipilih karena pasien lansia dengan kateter urin jangka panjang (2 minggu) menunjukkan tanda-tanda aktual infeksi, yaitu urine keruh, hematuria, nyeri suprapubik, dan demam (38,8°C). Meskipun menggunakan istilah "risiko", SDKI mengakui bahwa adanya faktor risiko yang nyata dan manifestasi klinis sudah muncul membentuk suatu diagnosa keperawatan. Defisinya adalah ketidakmampuan klien untuk mencegah patogen masuk ke dalam tubuh akibat adanya alat invasif (kateter) yang bertindak sebagai jalan masuk mikroorganisme. Pada lansia, pertahanan tubuh umumnya menurun, dan pemasangan kateter mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran kemih, seperti aliran urine yang terus-menerus dan sfingter uretra. Kateter menjadi tempat perlekatan biofilm bakteri, yang dapat naik ke kandung kemih dan menyebabkan infeksi (sistitis) yang ditandai dengan nyeri suprapubik, hematuria, dan piuria (urine keruh). Demam menunjukkan bahwa infeksi mungkin telah menyebar lebih dalam, seperti ke ginjal (pielonefritis). Oleh karena itu, diagnosa ini tepat untuk menggambarkan kerentanan pasien terhadap invasi patogen dan konsekuensi yang sudah terjadi.
Luaran Keperawatan (SLKI 2301: Pengendalian Infeksi) adalah tujuan yang ingin dicapai dimana klien menunjukkan tanda-tanda terkendalinya infeksi. Indikator luaran yang relevan meliputi: (1) Tanda-tanda infeksi tidak ada, yang diharapkan tercapai dengan menurunnya suhu tubuh kembali normal (36,5-37,5°C), hilangnya nyeri suprapubik, urine kembali jernih, dan tidak ada darah; (2) Hasil laboratorium dalam batas normal, seperti hitung leukosit dan kultur urine negatif; (3) Melaporkan peningkatan kenyamanan; dan (4) Melakukan perilaku untuk mencegah infeksi. Pada konteks ini, luaran utama adalah resolusi gejala akut (demam, nyeri, perubahan urine) dan pencegahan kekambuhan atau komplikasi lebih lanjut. Pencapaian luaran ini memerlukan intervensi medis (seperti pemberian antibiotik) dan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengeliminasi sumber infeksi dan meningkatkan pertahanan tubuh pasien.
Intervensi Keperawatan (SIKI 3401: Manajemen Kateter Urin) merupakan tindakan inti untuk menangani penyebab utama masalah ini. Intervensi ini mencakup serangkaian aktivitas spesifik yang sangat relevan dengan kondisi pasien: (1) Memantau tanda dan gejala infeksi saluran kemih seperti yang telah dilakukan dengan mengidentifikasi demam, nyeri, dan karakteristik urine. Pemantauan harus berlanjut untuk menilai respons terapi. (2) Mempertahankan sistem drainase tertutup dan paten dengan memastikan tidak ada kebocoran, sambungan tidak terlepas, dan aliran urine lancar tanpa tersumbat. Sistem tertutup adalah prinsip utama pencegahan ISK terkait kateter. (3) Melakukan perawatan meatus dan kateter secara rutin dengan teknik bersih/aseptik untuk mengurangi kolonisasi bakteri di sekitar tempat masuknya kateter. (4) Mempertahankan posisi bag urine di bawah kandung kemih untuk mencegah arus balik urine yang terkontaminasi. (5) Mengganti kateter dan bag urine sesuai indikasi atau kebijakan institusi. Mengingat sudah terjadi infeksi, penggantian kateter mungkin diperlukan untuk menghilangkan biofilm bakteri. (6) Mendorong asupan cairan yang adekuat jika tidak ada kontraindikasi, untuk membantu membilas kandung kemih secara alami. (7) Mengkaji kebutuhan pemasangan kateter yang terus menerus. Ini adalah intervensi kritis: perawat harus berkolaborasi dengan dokter untuk menghentikan kateter sesegera mungkin ketika indikasi medisnya sudah tidak ada, karena kateter yang terus terpasang adalah faktor risiko utama untuk infeksi berulang. Selain SIKI 3401, intervensi pendukung seperti Manajemen Nyeri (SIKI 0801) untuk mengurangi nyeri suprapubik dan Manajemen Hipertermia (SIKI 1401) untuk menangani demam juga sangat diperlukan. Pendekatan holistik ini bertujuan untuk mengatasi infeksi, mengurangi gejala, dan mencegah komplikasi lebih lanjut pada pasien lansia yang rentan.
-
Article No. 24731 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 00038
Deskripsi Singkat: Respon fisiologis terhadap patogen yang telah menembus pertahanan saluran kemih, ditandai dengan tanda dan gejala lokal dan sistemik.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Infeksi dikendalikan. Kriteria hasil: (1) Tanda dan gejala infeksi tidak ada. (2) Hasil kultur mikroorganisme negatif. (3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. (4) Nilai laboratorium terkait infeksi dalam batas normal. (5) Kemampuan melakukan aktivitas sesuai kondisi. (6) Pengetahuan tentang pencegahan infeksi meningkat. (7) Tidak ada komplikasi akibat infeksi. (8) Status nutrisi adekuat. (9) Status hidrasi adekuat. (10) Kebersihan diri optimal.
Kode SIKI: 3540, 4208, 1910, 1920
Deskripsi :
3540 - Manajemen Infeksi: Intervensi untuk mencegah dan mengatasi infeksi. Tindakan keperawatan meliputi: (a) Memantau tanda-tanda infeksi sistemik dan lokal (seperti demam, menggigil, kemerahan, panas, edema, nyeri, drainage). Pada pasien ini, pemantauan ketat suhu tubuh (38,8°C), karakteristik urine (keruh, hematuria), dan keluhan nyeri suprapubik sangat penting. (b) Menggunakan teknik aseptik ketat dalam semua prosedur, terutama perawatan kateter dan pengambilan sampel urine. (c) Mengajarkan dan mendorong cuci tangan pada pasien, keluarga, dan semua petugas kesehatan. (d) Melakukan perawatan kateter urin dengan benar (menjaga sistem drainase tertutup, menjaga kantong urine di bawah kandung kemih, menghindari tarikan pada kateter, membersihkan meatus urethra secara rutin). (e) Mengkolaborasikan pemberian terapi antibiotik sesuai resep dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. (f) Meningkatkan asupan cairan jika tidak ada kontraindikasi untuk membantu membilas saluran kemih. (g) Mengumpulkan spesimen urine untuk kultur dan sensitivitas secara aseptik untuk identifikasi patogen dan terapi yang tepat.
4208 - Manajemen Nyeri: Intervensi untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi. Tindakan meliputi: (a) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif (lokasi: suprapubik, karakteristik, intensitas, faktor pencetus dan pereda). (b) Memberikan posisi yang nyaman. (c) Menerapkan kompres hangat pada area suprapubik jika diizinkan untuk mengurangi spasme dan ketidaknyamanan. (d) Mengalihkan perhatian melalui teknik relaksasi atau distraksi. (e) Mengkolaborasikan pemberian analgesik sesuai resep dan mengevaluasi respons terapi. (f) Meminimalkan faktor yang dapat meningkatkan nyeri seperti ketegangan pada selang kateter.
1910 - Manajemen Lingkungan Terapeutik: Menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung penyembuhan. Tindakan meliputi: (a) Memastikan lingkungan bersih dan higienis untuk mencegah infeksi tambahan. (b) Mengatur suhu ruangan yang nyaman, terutama karena pasien demam. (c) Memastikan tempat tidur bersih, kering, dan bebas dari kerutan untuk mencegah iritasi kulit dan meningkatkan kenyamanan. (d) Mengatur sirkulasi udara dan pencahayaan yang adequate.
1920 - Pemantauan Tanda-Tanda Vital: Pengukuran dan interpretasi data fisiologis secara sistematis untuk menentukan status kesehatan. Tindakan meliputi: (a) Memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam selama demam) untuk menilai respons terhadap terapi antipiretik dan antibiotik. (b) Memantau denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Takikardia dan hipotensi dapat mengindikasikan sepsis, komplikasi serius dari ISK. (c) Mendokumentasikan temuan secara akurat dan melaporkan perubahan yang signifikan.
Definisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait kateter adalah infeksi yang terjadi akibat pemasangan dan pemeliharaan kateter urin, yang menjadi jalan masuk bakteri ke dalam kandung kemih. Pada lansia, risiko ISK meningkat karena faktor seperti penurunan imunitas, adanya komorbid, dan stasis urine. Gejala klinis pada pasien ini (demam, nyeri suprapubik, urine keruh dan berdarah) sangat konsisten dengan ISK yang mungkin telah berkembang menjadi pielonefritis (infeksi ginjal) karena demam tinggi. Tatalaksana keperawatan berfokus pada pengendalian infeksi melalui terapi antibiotik yang tepat, perawatan kateter yang steril, manajemen gejala (nyeri dan demam), peningkatan daya tahan tubuh, dan pencegahan komplikasi seperti urosepsis. Penting juga untuk mempertimbangkan penghentian kateter segera jika sudah tidak diperlukan untuk menghilangkan sumber infeksi.
-
Article No. 24732 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 00037
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Manajemen Perawatan Kateter
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Infeksi (Kode 00037)
Definisi SDKI: Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Pada kasus ini, kondisi pasien lansia (80 tahun) dengan kateter urin yang terpasang selama 2 minggu, urine keruh dan hematuria, nyeri suprapubik, dan demam (38,8°C) secara jelas menunjukkan bahwa risiko infeksi telah termanifestasi menjadi infeksi aktual, yaitu Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang terkait dengan kateter (CAUTI). Meskipun kode "Risiko Infeksi" digunakan, konteks klinisnya sudah merupakan infeksi nyata. Fokus diagnosa adalah pada kerentanan tinggi pasien terhadap infeksi yang disebabkan oleh adanya benda asing (kateter) yang memfasilitasi masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih. Faktor-faktor yang memperberat pada lansia meliputi penurunan fungsi imun, kemungkinan atrofi mukosa saluran kemih, dan stasis urine. Tanda-tanda seperti demam, nyeri, dan perubahan karakter urine (keruh dan berdarah) adalah indikator kuat dari respons tubuh terhadap infeksi. Diagnosa ini menjadi dasar untuk intervensi yang bertujuan mencegah penyebaran infeksi dan mengatasi sumbernya.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pengendalian Infeksi (Kode 1901)
Definisi SLKI: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi. Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah infeksi pada pasien dapat dikendalikan dan disembuhkan. Kriteria luaran yang spesifik dalam kasus ini meliputi: (1) Suhu tubuh kembali dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C), (2) Nyeri suprapubik berkurang atau hilang, (3) Urine kembali jernih dan tidak mengandung darah (hematuria teratasi), (4) Tidak ada penyebaran infeksi ke ginjal (ditandai dengan tidak adanya nyeri pinggang, demam yang lebih tinggi, atau menggigil), dan (5) Hasil kultur urine menunjukkan berkurangnya atau hilangnya koloni bakteri. Pengendalian infeksi pada pasien dengan kateter memerlukan pendekatan multimodal, termasuk pemberian antibiotik sesuai resep, perawatan kateter yang steril, dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien. SLKI ini menjadi tujuan yang terukur untuk mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan dan intervensi medis yang diberikan.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Perawatan Kateter (Kode 3510)
Definisi SIKI: Penatalaksanaan kateter urine eksternal dan internal. Ini adalah intervensi kunci dalam menangani pasien ini, karena kateter yang terpasang lama adalah sumber utama infeksi. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan: (1) Pemantauan dan Observasi: Memantau tanda-tanda infeksi (suhu, karakter urine, nyeri), mengukur output urine, dan mengobservasi kondisi meatus uretra serta kulit di sekitar kateter untuk tanda iritasi atau inflamasi. (2) Perawatan Kateter dengan Teknik Steril/Aseptik: Membersihkan daerah meatus dan kateter dengan pembersih sesuai protokol (biasanya setiap hari setelah BAB/BAK dan jika kotor), menjaga sistem drainase tertutup dan tidak terganggu, memastikan bag drainase selalu berada di bawah kandung kemih untuk mencegah arus balik urine, serta menghindari menarik-narik kateter. (3) Pendidikan dan Kolaborasi: Berkolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi kebutuhan pemasangan kateter yang berkelanjutan—mengingat kateter telah terpasang 2 minggu, pertimbangan untuk mencabut atau mengganti kateter sangat penting. Diskusikan kemungkinan alternatif seperti toileting terjadwal jika retensi urin sudah membaik. Mengajarkan pada keluarga (jika terlibat) tentang tanda-tanda infeksi dan pentingnya higiene. (4) Peningkatan Eliminasi Alami: Mendorong asupan cairan yang adekuat (jika tidak terkontraindikasi) untuk membantu membilas saluran kemih secara alami. (5) Penggantian Peralatan: Mengganti bag drainase dan selang sesuai kebijakan institusi atau jika terkontaminasi. Intervensi ini tidak berdiri sendiri; harus dikombinasikan dengan SIKI lain seperti Pemberian Obat (SIKI 2820) untuk pemberian antibiotik dan analgesik sesuai resep, serta Manajemen Nyeri (SIKI 1400). Pendekatan komprehensif ini bertujuan untuk mengatasi infeksi, mengurangi ketidaknyamanan pasien, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti urosepsis.
-
Article No. 24733 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Infeksi dicegah
Kode SIKI: 1701A
Deskripsi : Mempertahankan teknik aseptik. Perawat secara ketat menerapkan dan mempertahankan prinsip aseptik selama semua prosedur yang berhubungan dengan kateter, terutama saat pemasangan, perawatan daerah insersi, dan pengambilan sampel urine. Ini termasuk cuci tangan yang efektif sebelum dan setelah kontak, penggunaan alat pelindung diri yang sesuai, dan pembersihan area meatal dengan teknik yang benar secara rutin. Teknik aseptik adalah batu penjuru pencegahan ISK nosokomial dan sangat krusial pada pasien lansia yang sistem imunnya menurun. Penerapan yang konsisten bertujuan memutus rantai penularan mikroorganisme dari lingkungan atau petugas ke sistem kemiah pasien melalui lumen kateter atau di sepanjang permukaan luar kateter.
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Infeksi dicegah
Kode SIKI: 1701C
Deskripsi : Mempertahankan sistem drainase urine yang tertutup. Perawat memastikan sistem drainase kateter tetap tertutup rapat dan tidak terganggu. Ini berarti menghindari pemutusan sambungan yang tidak perlu antara kateter dan selang drainase, serta antara selang dan bag urine. Sistem tertutup mencegah masuknya bakteri dari lingkungan luar ke dalam saluran kemih. Perawat juga memastikan bag urine selalu berada di posisi yang lebih rendah dari kandung kemih pasien (tidak boleh diletakkan di lantai) untuk mencegah aliran balik urine yang terkontaminasi ke kandung kemih. Pemeriksaan rutin terhadap kebocoran sistem dan menjaga patensi aliran urine untuk mencegah stasis juga merupakan bagian dari intervensi ini, karena urine yang tergenang dalam bag atau selang dapat menjadi media pertumbuhan bakteri.
Kondisi: Nyeri Akut terkait inflamasi kandung kemih (sistitis)
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 2002
Deskripsi : Tingkat nyeri terkontrol
Kode SIKI: 2002A
Deskripsi : Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif. Perawat melakukan pengkajian nyeri yang mendalam menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala nyeri yang sesuai untuk lansia (misalnya, Wong-Baker Faces atau Numeric Rating Scale). Pengkajian mencakup karakteristik nyeri suprapubik (seperti rasa terbakar, tekan, atau kram), intensitasnya, faktor yang memperberat dan meringankan, serta dampaknya terhadap kenyamanan dan aktivitas pasien. Pada lansia, pengkajian harus sensitif karena kemungkinan adanya keterbatasan komunikasi atau kepercayaan bahwa nyeri adalah hal yang wajar di usia tua. Pengkajian yang akurat dan berkelanjutan ini menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan dan kebutuhan penyesuaian terapi.
Kondisi: Hipertermia terkait proses infeksi bakteri
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 0701
Deskripsi : Suhu tubuh normal
Kode SIKI: 0701A
Deskripsi : Memonitor suhu tubuh. Perawat melakukan pemantauan suhu tubuh secara teratur dan akurat sesuai kondisi pasien, misalnya setiap 2-4 jam atau sesuai protokol. Pemantauan tidak hanya pada nilai suhu (38,8°C) tetapi juga pola (kontinu, intermiten), serta gejala penyerta seperti menggigil, diaforesis (berkeringat), kulit kemerahan, atau takikardia. Pemantauan yang ketat penting untuk menilai perkembangan infeksi, respons tubuh terhadap terapi antipiretik dan antibiotik, serta mendeteksi dini komplikasi seperti syok septik. Data ini dicatat dengan cermat untuk evaluasi tren dan pengambilan keputusan klinis oleh tim kesehatan.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine: Retensi Urin (dasar pemasangan kateter) dan pola perubahan terkait ISK
Kode SDKI: 0011
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SLKI: 1102
Deskripsi : Eliminasi urine efektif
Kode SIKI: 1102B
Deskripsi : Memonitor karakteristik urine. Perawat melakukan observasi dan pencatatan yang cermat terhadap karakteristik urine di bag drainage, meliputi warna, kejernihan, bau, dan jumlah (output). Pada kasus ini, urine yang keruh dan mengandung darah (hematuria) adalah tanda utama infeksi dan iritasi mukosa kandung kemih. Perawat memantau perubahan karakteristik ini sebagai indikator respons terhadap terapi antibiotik. Pengamatan juga mencakup adanya sedimen, lendir, atau gumpalan. Pemantauan output urine per jam penting untuk memastikan fungsi ginjal yang adekuat dan mendeteksi obstruksi dini pada kateter. Data ini sangat berharga untuk diagnosis dan evaluasi keberhasilan penanganan ISK.