Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24833 | 01 Apr 2026
Klinis : Keluarga Tn. A terdiri dari 4 orang (ayah, ibu, dan 2 anak). Tn. A (50 tahun) menderita hipertensi sejak 3 tahun terakhir. Namun, Tn. A tidak rutin minum obat, sering mengonsumsi makanan tinggi garam, dan jarang melakukan kontrol ke fasilitas kesehatan. Keluarga juga kurang memahami tentang penyakit hipertensi dan cara perawatannya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0022
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan atau penurunan tekanan darah dari rentang yang diinginkan.
Kode SLKI: 2201
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diinginkan. Untuk mencapai luaran ini, intervensi keperawatan yang direncanakan harus fokus pada edukasi dan manajemen perilaku. Penjelasan mendalam mengenai SLKI 2201 mencakup upaya untuk memastikan tekanan darah sistolik dan diastolik pasien berada dalam batas target yang ditetapkan berdasarkan kondisi individual, usia, dan ada tidaknya komorbiditas. Pencapaian luaran ini ditandai dengan pemantauan tekanan darah yang menunjukkan tren stabil dalam rentang normal atau terkontrol (misalnya, <140/90 mmHg untuk kebanyakan pasien hipertensi). Stabilitas ini harus berkelanjutan, bukan sesaat. Luaran ini sangat relevan untuk Tn. A karena ia memiliki riwayat hipertensi yang tidak terkontrol. Pencapaian SLKI ini memerlukan perubahan perilaku yang signifikan, termasuk kepatuhan minum obat, modifikasi diet, dan aktivitas fisik. Peran perawat adalah memfasilitasi perubahan ini melalui pendidikan kesehatan yang komprehensif dan pendekatan yang melibatkan seluruh keluarga. Evaluasi pencapaian luaran ini dilakukan melalui pengukuran tekanan darah berkala, review catatan kesehatan, dan laporan dari pasien serta keluarga mengenai kepatuhan terapi.
Kode SIKI: 4510
Deskripsi : Edukasi Manajemen Hipertensi. Penjelasan mendalam mengenai SIKI 4510 meliputi serangkaian tindakan terencana dan sistematis yang dilakukan perawat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi pasien serta keluarganya dalam mengelola penyakit hipertensi. Intervensi ini bersifat holistik dan edukatif. Langkah pertama adalah melakukan asesmen kebutuhan belajar, yaitu menilai tingkat pemahaman keluarga Tn. A tentang hipertensi, penyebab, komplikasi, dan manajemennya, termasuk kesalahan persepsi tentang obat dan diet. Berdasarkan asesmen, perawat menyusun rencana edukasi yang mencakup: (1) Penjelasan sederhana tentang patofisiologi hipertensi dan pentingnya kontrol rutin, (2) Pelatihan teknik pemantauan tekanan darah mandiri jika memungkinkan, (3) Konseling gizi khusus, yaitu cara membaca label makanan, menghindari garam, penyedap rasa, makanan kaleng/awetan, dan merencanakan menu rendah natrium, (4) Strategi meningkatkan kepatuhan minum obat, seperti mengaitkan dengan ritual harian (setelah sikat gigi pagi) atau menggunakan kotak pil, serta menjelaskan konsekuensi tidak minum obat, (5) Perencanaan aktivitas fisik yang aman dan realistis, (6) Teknik manajemen stres, dan (7) Pentingnya dukungan keluarga. Edukasi harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan alat bantu visual, dan melibatkan partisipasi aktif seluruh anggota keluarga. Perawat juga perlu memfasilitasi akses ke fasilitas kesehatan untuk kontrol rutin dan melakukan follow-up (telepon atau kunjungan ulang) untuk memantau kemajuan, menguatkan pesan, dan memecahkan hambatan yang dihadapi keluarga. Tindakan ini secara langsung menangani masalah ketidaktahuan dan perilaku Tn. A yang berisiko memperburuk hipertensinya.
-
Article No. 24834 | 01 Apr 2026
Klinis : Keluarga Tn. A tinggal bersama istri dan dua orang anak di lingkungan perumahan padat penduduk. Tn. A berusia 50 tahun dan diketahui menderita hipertensi sejak kurang lebih 3 tahun yang lalu. Namun, selama ini Tn. A tidak rutin mengonsumsi obat yang diberikan oleh tenaga kesehatan karena merasa tubuhnya baik-baik saja jika tidak ada keluhan. Selain itu, Tn. A memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam seperti ikan asin dan makanan instan, serta jarang melakukan aktivitas fisik karena pekerjaannya lebih banyak duduk. Istri Tn. A sebenarnya mengetahui bahwa suaminya memiliki tekanan darah tinggi, namun kurang memahami bagaimana cara perawatan yang tepat di rumah, termasuk pengaturan pola makan dan pentingnya kepatuhan minum obat. Anak-anak dalam keluarga tersebut juga tidak terlalu memperhatikan kondisi kesehatan ayahnya. Keluarga jarang melakukan pemeriksaan kesehatan ke fasilitas pelayanan kesehatan karena merasa belum terlalu membutuhkan. Suatu hari, Tn. A mengeluhkan sakit kepala hebat dan pusing, sehingga keluarga mulai merasa khawatir terhadap kondisi kesehatannya. Setelah dilakukan pengkajian oleh perawat keluarga melalui kunjungan rumah, ditemukan bahwa keluarga memiliki pengetahuan yang kurang mengenai hipertensi serta belum mampu menjalankan perawatan kesehatan secara optimal. Melalui pendekatan edukasi, pendampingan, dan motivasi yang dilakukan oleh perawat keluarga, diharapkan keluarga dapat memahami kondisi yang dialami Tn. A, meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan, serta menerapkan pola hidup sehat guna mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan Keluarga
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Situasi di mana keluarga mengalami atau berisiko mengalami ketidakmampuan dalam mengintegrasikan program terapeutik ke dalam aktivitas sehari-hari untuk mencapai tujuan kesehatan dan koping dengan kebutuhan kesehatan.
Kode SLKI: L.08030
Deskripsi : Keluarga mampu mengelola kesehatan. Indikator yang relevan dalam kasus ini termasuk: 1) Keluarga mampu mengidentifikasi masalah kesehatan, 2) Keluarga mampu membuat keputusan tentang tindakan kesehatan yang tepat, 3) Keluarga mampu melaksanakan tindakan perawatan yang direncanakan, 4) Keluarga mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, dan 5) Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.
Kode SIKI: I.01280
Deskripsi : Edukasi kesehatan. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang direncanakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran keluarga dalam mengelola masalah kesehatan. Pada kasus Tn. A, intervensi spesifik meliputi: 1) Memberikan pendidikan kesehatan tentang hipertensi, termasuk definisi, penyebab, gejala (seperti sakit kepala hebat dan pusing yang dialami Tn. A), komplikasi jangka panjang (seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal), dan pentingnya pengendalian tekanan darah. 2) Melakukan edukasi manajemen terapeutik, yang berfokus pada kepatuhan farmakologis (pentingnya minum obat antihipertensi secara rutin meski tidak bergejala, karena hipertensi adalah "silent killer") dan non-farmakologis. 3) Melatih keluarga dalam modifikasi gaya hidup, khususnya pengaturan diet rendah garam (mengurangi konsumsi ikan asin dan makanan instan, membaca label makanan, menggunakan bumbu alternatif), serta meningkatkan aktivitas fisik secara bertahap meski dengan pekerjaan yang banyak duduk. 4) Melakukan edukasi pemantauan kesehatan, mengajarkan keluarga cara memantau tanda dan gejala bahaya, pentingnya pemeriksaan tekanan darah rutin baik di fasilitas kesehatan maupun mandiri jika memungkinkan, serta pentingnya follow-up ke tenaga kesehatan. 5) Meningkatkan dukungan keluarga dengan melibatkan istri dan anak-anak dalam proses perawatan, membangun komunikasi terbuka tentang kepatuhan, dan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung pola hidup sehat. 6) Memberikan motivasi dan pendampingan berkelanjutan melalui kunjungan rumah atau konsultasi untuk mengatasi hambatan, memperkuat perilaku positif, dan mengevaluasi kemajuan keluarga dalam menerapkan rencana perawatan. Tujuan akhir intervensi ini adalah memberdayakan keluarga Tn. A untuk beralih dari keadaan pasif dan kurang pengetahuan menjadi keluarga yang mampu mengambil peran aktif dan bertanggung jawab dalam mengelola hipertensi, sehingga dapat mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup Tn. A.
-
Article No. 24835 | 01 Apr 2026
Klinis : ketidakpatuhan dalam pengobatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakpatuhan dalam Pengobatan
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakpatuhan terhadap program terapeutik yang ditentukan terkait dengan faktor-faktor yang dapat diubah (misalnya, sistem pendukung, persepsi, pengetahuan).
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Kepatuhan terhadap program terapeutik.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Manajemen kepatuhan.
Penjelasan Lengkap:
Diagnosa Keperawatan (SDKI D.0014): Risiko ketidakpatuhan didefinisikan sebagai kondisi di mana individu, keluarga, atau komunitas rentan untuk tidak mengikuti atau menyimpang dari rekomendasi program terapeutik yang telah disepakati bersama penyedia layanan kesehatan, yang dapat membahayakan kesehatan, pemulihan, dan kualitas hidup. Fokusnya adalah pada faktor risiko yang dapat diubah, seperti kurangnya dukungan sosial, persepsi yang salah tentang manfaat dan hambatan pengobatan, pengetahuan yang tidak memadai, keyakinan kesehatan, kesulitan finansial, kompleksitas regimen, atau efek samping yang tidak menyenangkan. Diagnosa ini menekankan peran perawat dalam mengidentifikasi faktor-faktor tersebut secara dini dan merencanakan intervensi untuk meminimalkan risiko sebelum ketidakpatuhan benar-benar terjadi. Tujuannya adalah memfasilitasi kemitraan dengan pasien untuk mencapai tujuan terapeutik.
Luaran Keperawatan (SLKI L.15001): Luaran "Kepatuhan terhadap program terapeutik" mengukur sejauh mana perilaku seseorang sesuai dengan rekomendasi yang disepakati dari penyedia layanan kesehatan, mencakup konsumsi obat, modifikasi diet, perubahan gaya hidup, atau tindakan pemantauan diri. Indikator luaran dapat dinilai pada skala dari tidak patuh hingga patuh sepenuhnya. Tujuan akhirnya adalah mencapai tingkat kepatuhan yang optimal untuk memaksimalkan efektivitas terapi, mencegah komplikasi, mengurangi angka rawat ulang, dan meningkatkan kesejahteraan. Perawat akan memantau indikator seperti kemampuan menyebutkan regimen pengobatan dengan benar, menunjukkan teknik yang tepat, mematuhi jadwal, melaporkan hambatan yang dihadapi, dan menunjukkan peningkatan parameter klinis yang diharapkan.
Intervensi Keperawatan (SIKI I.15001): Intervensi "Manajemen kepatuhan" adalah aksi sistematis yang dilakukan perawat untuk mempromosikan, mendukung, dan mempertahankan perilaku pasien yang selaras dengan rencana perawatan. Intervensi ini bersifat holistik dan kolaboratif. Komponen kuncinya meliputi: (1) Pendidikan: Memberikan informasi yang jelas, sesuai budaya, dan mudah dipahami tentang penyakit, tujuan pengobatan, cara pemakaian, efek samping yang mungkin, dan pentingnya kepatuhan. Menggunakan alat bantu seperti leaflet, model, atau video. (2) Penilaian Hambatan: Mengidentifikasi secara mendalam faktor yang menghambat kepatuhan, baik internal (pengetahuan, keyakinan, motivasi, depresi) maupun eksternal (biaya, akses obat, dukungan keluarga, lingkungan). (3) Kolaborasi: Bekerja sama dengan pasien dan keluarga untuk menyusun rencana terapi yang realistis, disesuaikan dengan rutinitas dan kemampuan mereka. Melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan. (4) Penyederhanaan Regimen: Berkoordinasi dengan tim kesehatan untuk menyederhanakan jadwal pengobatan jika memungkinkan, atau menggunakan alat bantu seperti boks pil (pill box) dan pengingat (alarm). (5) Peningkatan Dukungan Sosial: Melibatkan keluarga atau pengasuh, merujuk ke kelompok pendukung, atau memanfaatkan kunjungan perawat komunitas. (6) Pemantauan dan Umpan Balik: Memantau kepatuhan secara berkala (misalnya, melalui penghitungan pil, catatan harian) dan memberikan umpan balik positif atas kemajuan. (7) Penguatan Perilaku (Behavioral Reinforcement): Memberikan pujian dan penguatan untuk setiap usaha kepatuhan, serta mengeksplorasi teknik motivasional. Inti dari intervensi ini adalah membangun hubungan saling percaya, memberdayakan pasien, dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi terciptanya kepatuhan yang berkelanjutan, bukan sekadar instruksi satu arah.
-
Article No. 24836 | 01 Apr 2026
Klinis : PASIEN UMUR 28 TAHUN DENGAN KELUHAN keluar air-air dari jalan lahir TelaahPasien datang dengan keluhan keluar air ketuban dari jalan lahir 2 jam SMRS. Mulas-mulas ingin melahirkan (-). Riwayat keguguran (-). Ini merupakan kehamilan pertama. Mual (-), muntah (-), oyong (-), riwayat kaki bengkak (-). Demam (-), batuk pilek (-). BAB dan BAK HPHT : 10/07/2025 Riwayat Penyakit Dahulu- OKes : CM TD : 135/82 mmHg HR : 86 x/i RR : 21 x/i T : 36 C SPO2 : 99% on Room Air
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi pada Ibu Hamil dengan Ketuban Pecah Dini (KPD)
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang berhubungan dengan pecahnya membran ketuban sebelum onset persalinan.
Kode SLKI: L.08112
Deskripsi : Mencegah Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk meminimalkan risiko masuk dan penyebaran mikroorganisme patogen. Pada kasus ini, fokusnya adalah mencegah infeksi ascendens dari vagina ke kavum uteri setelah pecahnya ketuban. Tindakan spesifik meliputi: (1) Pemantauan ketat tanda-tanda infeksi seperti demam, takikardia, nyeri abdomen, cairan ketuban berbau, dan leukositosis. (2) Membatasi pemeriksaan dalam (vaginal examination) secara ketat hanya oleh tenaga kesehatan dengan indikasi jelas dan menggunakan teknik aseptik. (3) Edukasi pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan area genital, misalnya dengan mengganti pembalut sesering mungkin, membersihkan dari arah depan ke belakang, dan menghindari mandi berendam. (4) Memantau dan mendokumentasi karakteristik cairan ketuban (warna, jumlah, bau). (5) Kolaborasi dalam pemberian antibiotik profilaksis sesuai protokol untuk mencegah korioamnionitis. (6) Memonitor kondisi janin (denyut jantung janin) karena infeksi pada ibu dapat menyebabkan gawat janin. Tujuan dari SLKI ini adalah mempertahankan integritas membran dan mencegah terjadinya infeksi intra-amnion yang dapat membahayakan ibu dan janin.
Kode SIKI: I.08070
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Tindakan sistematis untuk mencegah dan mengobati infeksi. Dalam konteks Ketuban Pecah Dini (KPD) pada kehamilan 28 minggu (dengan HPHT 10 Juli 2025, perkiraan usia kehamilan sekitar 36 minggu), manajemen infeksi menjadi prioritas utama. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi (suhu tubuh ≤37.5°C, denyut nadi dalam batas normal, cairan ketuban jernih dan tidak berbau). (2) Hasil laboratorium (leukosit, CRP) dalam batas normal. (3) Pasien dan keluarga memahami dan kooperatif dalam tindakan pencegahan infeksi. (4) Tidak terjadi korioamnionitis atau sepsis. Perawat akan mengevaluasi efektivitas intervensi dengan memantau parameter vital setiap 4-8 jam, mengobservasi karakteristik cairan ketuban, mendengarkan keluhan pasien (seperti nyeri perut atau demam), dan memastikan kepatuhan pasien terhadap anjuran perawatan diri. Kolaborasi dengan dokter sangat penting untuk menentukan rencana persalinan (induksi atau seksio sesarea) karena KPD pada usia kehamilan cukup bulan umumnya diikuti dengan induksi untuk makin mengurangi risiko infeksi. Evaluasi juga mencakup pemahaman pasien tentang tanda-tanda bahaya yang harus segera dilaporkan, seperti demam, nyeri perut hebat, atau perubahan warna/bau cairan.
-
Article No. 24837 | 01 Apr 2026
Klinis : Benigna Prostat Hiperplasia Seorang pasien, laki-laki, usia 65 tahun, pekerjaan pensiunan, dirawat di rumah sakit dengan keluhan sulit buang air kecil sejak 6 bulan terakhir. Pengkajian lebih lanjut pada pasien yaitu: sering buang air kecil di malam hari (nokturia), aliran urin lemah dan terputus-putus, perasaan tidak lampias setelah buang air kecil, harus mengejan saat berkemih, kadang-kadang ada episode retensi urin akut, frekuensi buang air kecil meningkat, terutama pada malam hari menyebabkan tidur terganggu. Akibatnya pasien sering merasa mengantuk di siang hari. Pasien tidak memiliki keluhan demam, nyeri pinggang, atau hematuria. Riwayat Penyakit terdahulu hipertensi terkontrol, tidak ada riwayat diabetes atau penyakit ginjal, tetapi tidak memiliki kebiasaan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan prostat sebelumnya serta edukasi tentang BPH dan pengobatannya. Pasien tidak ada mengalami konstipasi atau diare. Nafsu makan normal, tidak ada perubahan berat badan yang signifikan. Pasien memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi protein dan lemak, kurang serat, serta sering minum teh/kopi di malam hari. Asupan cairan cukup, tetapi pasien sering menahan buang air kecil karena kesulitan berkemih. Selama ini pasien masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan, tidak ada aktivitas olahraga rutin, namun sering merasa lelah karena gangguan tidur akibat nocturia. Saat dikaji pasien menjawab pertanyaan dengan benar, namun selalu khawatir dan takut mungkinkah akan mengalami kanker prostat serta takut menjalani tindakan medis invasif seperti operasi prostat. Pasien merasa cemas dan malu karena sering ke kamar mandi, dan mengeluh menurunnya kualitas hidup karena keterbatasan dalam aktivitas sosial akibat gangguan berkemih. Saat ini pasien tinggal bersama istri dan anak-anaknya Pasien tidak memiliki mekanisme koping yang jelas, tetapi mendapatkan dukungan dari istri. Tidak ada konflik dalam keluarga, tetapi pasien merasa kurang nyaman ketika harus sering ke toilet saat berkumpul dengan keluarga. Pasien mengatakan tidak ada riwayat disfungsi ereksi yang jelas atau riwayat penyakit menular seksual atau masalah reproduksi lainnya, tetapi pasien merasa kurang percaya diri dalam hubungan seksual karena masalah BPH. Untuk mengurangi kecemasan pasien memiliki keyakinan agama yang kuat dan mengandalkan doa dan menganggap penyakitnya adalah proses penuaan. Pada pemeriksaan fisik tidak tampak tanda infeksi atau nyeri spontan, pada palpasi abdomen ditemukan distensi kandung kemih (+), pemeriksaan Digital Rektal (DRE) ditemukan prostat teraba membesar, berbatas jelas, kenyal, tanpa nodul atau nyeri tekan. Pasien didiagnosa Benigna Hipertrofi Prostat (BPH) dengan Retensi Urin Parsial. Pasien direncanakan untuk operasi Transurethral Resection of the Prostate (TURP). Pemeriksaan Laboratorium ✔ Urinalisis: Leukosit sedikit meningkat Eritrosit (-) Bakteri (-) ✔ Darah Lengkap: Hb: 14 g/dL Leukosit: 7.500/mm³ Trombosit: 250.000/mm³ ✔ Fungsi Ginjal: Kreatinin: 1,2 mg/dL ✔ Prostate-Specific Antigen (PSA): PSA total: 4,5 ng/mL. Pemeriksaan Radiologi & Penunjang Lainnya ✔ USG Prostat & Kandung Kemih: Volume prostat: 45 mL. Sisa urin setelah berkemih (post-void residual volume): 150 mL. Tidak ada batu atau massa dalam kandung kemih. ✔ Uroflowmetri: Aliran urin lambat (Qmax: 8 mL/detik). Waktu berkemih lebih lama.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengeluaran urin.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : Pasien menunjukkan kemampuan eliminasi urin yang membaik, ditandai dengan: 1) Aliran urin yang adekuat dan tidak terputus-putus; 2) Pengosongan kandung kemih yang tuntas (residual urine < 50-100 mL); 3) Pola berkemih kembali normal (frekuensi 4-6 kali/hari, nokturia ≤ 1 kali/malam); 4) Tidak ada keluhan urgensi, disuria, atau retensi; 5) Pasien mampu melakukan teknik berkemih yang tepat (misal: double voiding, mengatur asupan cairan); dan 6) Tidak ada distensi kandung kemih pada palpasi.
Kode SIKI: I.05030
Deskripsi : Intervensi untuk mengoptimalkan eliminasi urin, meliputi: 1) Memantau pola, frekuensi, dan karakteristik urin (warna, jumlah, bau, kejernihan); 2) Mengkaji adanya distensi kandung kemih melalui palpasi dan perkusi; 3) Mengukur residu urin pasca berkemih (jika diperlukan); 4) Menganjurkan teknik berkemih seperti double voiding (mengosongkan kandung kemih dua kali dalam satu waktu) dan mengatur posisi yang nyaman; 5) Melatih senam Kegel untuk menguatkan otot dasar panggul; 6) Membantu dalam kateterisasi urin sesuai indikasi dan protokol; 7) Memonitor tanda-tanda infeksi saluran kemih; 8) Mengajarkan manajemen cairan, seperti membatasi di malam hari dan menghindari kafein/alkohol; 9) Kolaborasi pemberian obat sesuai resep (seperti alpha-blocker atau 5-ARI); dan 10) Mendokumentasikan output urin secara akurat.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman samar atau takut disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir karena antisipasi bahaya. Merupakan sinyal peringatan akan ancaman yang akan datang, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.
Kode SLKI: L.08013
Deskripsi : Pasien menunjukkan penurunan tingkat kecemasan, ditandai dengan: 1) Ekspresi wajah dan tubuh yang lebih rileks; 2) Mengungkapkan perasaan cemas yang berkurang secara verbal; 3) Tidur dan istirahat yang cukup; 4) Mampu mengidentifikasi penyebab dan tanda-tanda kecemasannya; 5) Mendemonstrasikan strategi koping adaptif untuk mengelola kecemasan (seperti relaksasi, distraksi, atau spiritualitas); 6) Berpartisipasi aktif dalam perencanaan perawatan dan pengambilan keputusan; dan 7) Laporan subjektif peningkatan kenyamanan dan kualitas hidup.
Kode SIKI: I.09012
Deskripsi : Intervensi untuk mengurangi kecemasan, meliputi: 1) Mengkaji tingkat, pemicu, dan manifestasi kecemasan pasien; 2) Menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung; 3) Mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati (terapeutik communication); 4) Memberikan informasi akurat dan jelas tentang kondisi, prosedur TURP, dan proses pemulihan untuk mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui; 5) Melatih teknik relaksasi (napas dalam, relaksasi otot progresif, imajinasi terbimbing); 6) Mengidentifikasi dan memfasilitasi penggunaan sistem pendukung (keluarga, dalam hal ini istri); 7) Memfasilitasi ekspresi perasaan dan kekhawatiran pasien; 8) Menguatkan mekanisme koping positif yang dimiliki (keyakinan agama, doa); 9) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis untuk ansietas jika diperlukan; dan 10) Memberikan edukasi tentang kelompok pendukung (support group) jika tersedia.
Kondisi: Kurang Pengetahuan
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu atau keluarga mengalami kekurangan informasi kognitif atau keterampilan psikomotor terkait kondisi atau rencana perawatan.
Kode SLKI: L.16005
Deskripsi : Pasien dan keluarga menunjukkan pemahaman yang adekuat tentang kondisi dan perawatan, ditandai dengan: 1) Mampu menjelaskan kembali tentang BPH, penyebab, gejala, dan pilihan penatalaksanaannya (termasuk TURP) dengan kata-kata sendiri; 2) Menyatakan pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan prostat rutin; 3) Menerapkan modifikasi gaya hidup yang dianjurkan (pola makan, pengaturan cairan, aktivitas); 4) Mengenali tanda dan gejala komplikasi yang perlu dilaporkan (seperti retensi urin total, infeksi, perdarahan); 5) Mengungkapkan keyakinan yang benar tentang BPH (membedakan dari kanker prostat) dan mengurangi ketakutan yang tidak berdasar; dan 6) Kooperatif dalam menjalani rencana terapi.
Kode SIKI: I.18001
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan pengetahuan, meliputi: 1) Mengkaji tingkat pengetahuan, persepsi, dan kesiapan belajar pasien/keluarga; 2) Menjelaskan patofisiologi BPH secara sederhana dan hubungannya dengan gejala yang dialami; 3) Menjelaskan tujuan, prosedur, manfaat, risiko, dan perawatan pasca TURP; 4) Memberikan klarifikasi dan koreksi miskonsepsi (misal: BPH bukan kanker, operasi TURP bersifat minimal invasif); 5) Mendemonstrasikan/menjelaskan teknik berkemih yang efektif dan manajemen cairan; 6) Memberikan edukasi tentang modifikasi diet: meningkatkan serat, mengurangi lemak dan protein berlebih, membatasi teh/kopi terutama di malam hari; 7) Menjelaskan pentingnya aktivitas fisik ringan dan teratur; 8) Memberikan informasi tertulis atau audiovisual sebagai pengingat; 9) Melibatkan keluarga (istri) dalam proses edukasi; dan 10) Mengevaluasi pemahaman dengan metode teach-back.
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: D.0037
Deskripsi Singkat:
Kode SLKI: L.20002
Deskripsi : Pasien mencapai pola tidur yang memadai, ditandai dengan: 1) Laporan peningkatan kualitas dan kuantitas tidur; 2) Frekuensi terbangun di malam hari (nokturia) menurun menjadi ≤ 1 kali; 3) Mengungkapkan perasaan segar dan berenergi setelah bangun tidur; 4) Mengantuk di siang hari berkurang; 5) Mampu berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari tanpa gangguan kelelahan berlebihan; dan 6) Mendemonstrasikan perilaku yang mendukung higiene tidur.
Kode SIKI: I.22001
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan kualitas tidur, meliputi: 1) Mengkaji pola tidur-bangun, kebiasaan sebelum tidur, dan faktor penyebab gangguan (utamanya nokturia); 2) Mengkolaborasi penatalaksanaan BPH untuk mengurangi gejala nokturia (target utama); 3) Menganjurkan pembatasan asupan cairan 2-3 jam sebelum tidur; 4) Menghindari konsumsi kafein (teh/kopi) dan stimulan lain di sore/malam hari; 5) Menciptakan lingkungan tidur yang nyaman (tenang, gelap, suhu sesuai); 6) Menganjurkan ritual relaksasi sebelum tidur (membaca, mendengarkan musik lembut, berdoa); 7) Menyarankan untuk membatasi tidur siang yang berlebihan; 8) Menganjurkan aktivitas fisik ringan di siang hari (tidak menjelang malam); dan 9) Memantau efek gangguan tidur terhadap fungsi kognitif dan kelelahan.
-
Article No. 24838 | 01 Apr 2026
Klinis : Pasien post laparotomy dengan jahitan luka terbuka
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi berhubungan dengan luka terbuka post laparotomy
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau mencegah masuk dan penularan mikroorganisme patogen. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan protektif yang ketat, dimulai dengan higiene tangan yang benar sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungan perawatan. Perawat akan memastikan teknik aseptik yang ketat selama perawatan luka, termasuk penggunaan alat steril dan pembalut yang sesuai. Lingkungan sekitar pasien dijaga kebersihannya untuk mengurangi reservoir kuman. Perawat juga akan memantau tanda-tanda vital secara teratur, khususnya suhu tubuh, sebagai deteksi dini infeksi sistemik. Pemantauan karakteristik luka (seperti warna, bau, konsistensi eksudat, edema, eritema, dan nyeri) dilakukan setiap kali perawatan luka. Selain itu, perawat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan tangan, tidak menyentuh luka secara langsung, serta mengenali tanda-tanda infeksi seperti demam, kemerahan yang meluas, nyeri bertambah, atau nanah. Nutrisi yang adekuat dan istirahat yang cukup juga dianjurkan untuk mendukung sistem imun pasien. Semua tindakan ini terdokumentasi dan dievaluasi efektivitasnya secara berkala.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Pemantauan Tanda Infeksi: Pengumpulan sistematis dan analisis informasi tentang tanda dan gejala yang mengindikasikan invasi patogen. Kriteria hasil yang diharapkan adalah tidak adanya tanda-tanda infeksi. Perawat akan mengobservasi dan mendokumentasi kondisi lokal luka, meliputi pengukuran panjang, lebar, dan kedalaman luka jika memungkinkan. Diamati adanya kemerahan (eritema), pembengkakan (edema), peningkatan kehangatan di sekitar luka, dan nyeri yang bertambah. Eksudat atau drainage dinilai jumlahnya (sedikit, sedang, banyak), konsistensi (encer, kental), warna (jernih, kuning, hijau, kecoklatan), dan ada tidaknya bau tidak sedap. Perawat juga memantau tanda-tanda sistemik infeksi dengan mengukur suhu tubuh setidaknya setiap 4-8 jam, mengobservasi adanya menggigil, takikardia, takipnea, serta perubahan status mental seperti letargi atau kebingungan. Pemeriksaan laboratorium seperti hitung leukosit dan kultur jaringan atau drainage (jika diinstruksikan) juga menjadi bagian pemantauan. Data-data ini dianalisis untuk mendeteksi penyimpangan dari kondisi normal dan dilaporkan kepada tim kesehatan untuk tindakan lebih lanjut. Edukasi diberikan pada pasien untuk melaporkan segera jika mengalami demam atau nyeri yang meningkat.
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit dan otot akibat pembedahan
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: 0810
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan keperawatan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Intervensi dimulai dengan penilaian nyeri yang komprehensif menggunakan skala yang valid (misalnya, skala numerik 0-10 atau wajah) untuk menentukan lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan faktor pemicu serta pereda nyeri. Perawat akan mengajarkan dan mendukung teknik non-farmakologis seperti posisi yang nyaman (misalnya semi-Fowler), distraksi, relaksasi napas dalam, atau kompres dingin/panas sesuai indikasi. Pemberian analgesik sesuai resep dokter (baik opioid maupun non-opioid) dilakukan tepat waktu, dengan mempertimbangkan rute pemberian dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya. Perawat memodifikasi lingkungan untuk mendukung kenyamanan, seperti mengurangi kebisingan dan mengatur pencahayaan. Mobilisasi bertahap juga diatur untuk mencegah kekakuan namun tidak memperberat nyeri. Edukasi diberikan kepada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri sebelum menjadi berat, sehingga manajemen nyeri dapat lebih efektif. Semua intervensi dan respons pasien didokumentasikan secara rinci.
Kode SIKI: 3501
Deskripsi : Pemantauan Nyeri: Pengumpulan sistematis dan analisis informasi tentang ketidaknyamanan atau penderitaan pasien yang disebabkan oleh rangsangan yang merusak atau berpotensi merusak jaringan. Perawat akan menilai dan mendokumentasi karakteristik nyeri secara komprehensif minimal setiap 4 jam atau sebelum dan setelah intervensi. Aspek yang dinilai meliputi lokasi (sekitar luka laparotomy), intensitas (menggunakan skala), kualitas (tajam, berdenyut, tumpul), waktu (terus-menerus atau hilang-timbul), dan faktor yang memperberat atau meringankan. Observasi juga dilakukan terhadap respons nonverbal terhadap nyeri, seperti ekspresi wajah (mengerut, meringis), postur tubuh (melindungi area luka), gelisah, berkeringat, takikardia, atau peningkatan tekanan darah. Respons pasien terhadap terapi analgesik baik farmakologis maupun non-farmakologis dievaluasi, termasuk onset kerja, durasi, dan efek samping seperti sedasi atau mual. Data ini digunakan untuk mengevaluasi efektivitas rencana manajemen nyeri dan melakukan penyesuaian yang diperlukan.
Kondisi: Gangguan Integritas Jaringan berhubungan dengan insisi bedah dan luka terbuka
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, atau jaringan subkutan.
Kode SLKI: 3600
Deskripsi : Perawatan Luka: Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi penyembuhan luka dan mencegah komplikasi. Perawat akan melakukan penilaian luka secara teratur yang meliputi lokasi, ukuran (panjang, lebar, kedalaman), stadium, adanya tunneling atau undermining, karakteristik jaringan dasar (granulasi, slough, nekrosis), jumlah dan jenis eksudat, serta kondisi kulit sekitar. Perawatan luka dilakukan dengan prinsip aseptik ketat. Luka dibersihkan dengan larutan steril (biasanya NaCl 0,9%) menggunakan teknik yang tepat (biasanya dari area bersih ke kotor) untuk menghilangkan debris dan mengurangi mikroorganisme. Pemilihan balutan (dressing) disesuaikan dengan kondisi luka, misalnya balutan lembab untuk luka bersih dengan granulasi, atau balutan absorben untuk luka dengan banyak eksudat. Perawat memastikan balutan tetap kering dan utuh, serta menggantinya sesuai jadwal atau jika basah/kotor. Perlindungan kulit sekitar (peri-wound) dari iritasi kelembaban diberikan menggunakan barrier cream atau skin protector. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan seperti nutrisi (kecukupan protein, vitamin C, zinc), hidrasi, dan perfusi jaringan juga dikelola. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga tentang cara merawat luka di rumah jika diperlukan.
Kode SIKI: 4202
Deskripsi : Pemantauan Perkembangan Luka: Pengumpulan sistematis dan analisis informasi tentang proses penyembuhan luka. Perawat akan mengamati dan mendokumentasi perkembangan tanda-tanda penyembuhan luka. Kriteria yang dinilai meliputi pengurangan ukuran luka (baik luas maupun volume), peningkatan jaringan granulasi yang sehat (berwarna merah muda atau merah cerah, bertekstur kenyal), berkurangnya jaringan nekrotik (slough atau eschar) dan eksudat. Kulit sekitar luka diamati untuk mendeteksi tanda-tanda iritasi, maserasi, atau infeksi. Proses epitelisasi dari tepi luka juga dipantau. Selain observasi langsung, perawat menilai faktor sistemik pendukung seperti status nutrisi (albumin, hemoglobin), kontrol gula darah (pada pasien diabetes), dan perfusi jaringan (kehangatan, warna, nadi perifer). Setiap kemunduran atau tidak adanya kemajuan penyembuhan dalam waktu yang diharapkan dianalisis penyebabnya dan dilaporkan. Data pemantauan ini menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas rencana perawatan luka dan menentukan kebutuhan perubahan jenis balutan atau terapi tambahan.
-
Article No. 24815 | 01 Apr 2026
Klinis : Tidak bisa BAK Telaahsejak 2 hari ini. OS sebelumnya memasang kateter urin di tempat bidan 1 hari ini, dan keluar banyakurin. kemudian os memutuskan ke bidan tersebut lagi pukul 17 tgl 31/03/2026. Setelah itu os tidak bisa kencing lagi. Mual (-) muntah(-). Demam(-), batuk(-), pilek(-). BAB dbn. Anyang anyangan(-), Riwayat kencing batu, darah ataupun berpasir disangkal. Riwayat Penyakit Dahulu- OTanda-tanda vital: Kesadaran : GCS : 15 (E4V5M6) TD : 120/67 mmHg HR : 98 x/menit RR : 20 x/menit Temp : 37 Spo2 : 98 RA VAS : 7 Pemeriksaan Fisik : Kepala: Normocephal (+) Mata : Pupil Isokor, RC +/+, Konjungtiva anemis inf -/-, Sklera ikterik -/-, Mata Cekung (-/-) Mulut: Sianosis central (-), mukosa kering (-), atrofi papil lidah (-) Leher: Pembesaran KGB(-). Kaku Kuduk (-/-) Thoraks: Paru-paru: Simetris, SP: Vesikuler +/+, ST: rhonki-/-, wheezing-/- Jantung: S1/S2 regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen: Simetris, Soepel, BU (+) Normoperistaltik, NT (+) hipogastrik. fullblas (+), H/L ttb. McBurney Sign (-), Blumberg sign (-), Rovsing Sign (-), Obturator sign (-), Defans muscular (-),Nyeri ketok CVA (-/-). Ekstremitas : Akral hangat, oedema pretibial -/- , sianosis (-), Lasague test (-/-), lateralisasi (-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin (Retensi Urin)
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Keadaan ketidakmampuan seseorang untuk mengosongkan kandung kemih secara adekuat, yang dapat bersifat akut atau kronis, ditandai dengan distensi kandung kemih, ketidaknyamanan, dan output urin yang tidak adekuat.
Kode SLKI: L.03106
Deskripsi : Eliminasi urin kembali adekuat. Kriteria hasil: 1) Klien mampu berkemih spontan, 2) Volume berkemih dalam batas normal, 3) Tidak ada distensi kandung kemih, 4) Tidak ada ketidaknyamanan pada area suprapubik, 5) Klien mampu menjelaskan penyebab dan penatalaksanaan retensi urin.
Kode SIKI: I.05282
Deskripsi : Manajemen Retensi Urin. Intervensi: 1) Monitor tanda dan gejala retensi urin (distensi kandung kemih, ketidaknyamanan suprapubik, output urin sedikit/tidak ada, sering berkemih dalam jumlah kecil). 2) Kaji riwayat eliminasi urin dan faktor penyebab (misalnya, riwayat kateterisasi, obstruksi, nyeri, medikasi). 3) Lakukan palpasi dan perkusi area suprapubik untuk mendeteksi distensi kandung kemih. 4) Anjurkan posisi berkemih yang nyaman (misalnya, posisi duduk atau jongkok untuk wanita, berdiri untuk pria jika memungkinkan). 5) Berikan privasi dan lingkungan yang kondusif untuk berkemih. 6) Lakukan tindakan merangsang berkemih (misalnya, mendengarkan suara air mengalir, meneteskan air hangat di atas genitalia, merendam kaki dalam air hangat). 7) Lakukan kateterisasi urin sesuai indikasi dan instruksi dokter (intermiten atau indwelling) dengan teknik aseptik. 8) Pantau dan catat karakteristik urin (volume, warna, kejernihan) setiap berkemih atau setiap pengosongan kantong urine. 9) Ajarkan klien dan keluarga tentang teknik stimulasi berkemih dan tanda-tanda retensi urin yang perlu dilaporkan. 10) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi farmakologi jika diperlukan (misalnya, cholinergic agents, alpha-blockers). 11) Rujuk ke spesialis jika diperlukan (misalnya, urologi) untuk evaluasi lebih lanjut penyebab retensi.
-
Article No. 24816 | 01 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki (55 th) dengan sirosis hepatis mengalami pembengkakan pada perut (asites). Perut pasien tampak sangat tegang, mengkilap, dan lingkar perut meningkat 5 cm dalam 3 hari. Pasien mengeluh sesak napas karena desakan cairan di perut terhadap diafragma.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Peningkatan Tekanan Intra-Abdomen (IAP) / Asites Berat pada Sirosis Hepatis
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Pola Napas berhubungan dengan peningkatan tekanan intra-abdomen sekunder akibat akumulasi cairan asites yang masif dan progresif.
Kode SLKI: 3401
Deskripsi : SLKI 3401: Status Pernapasan. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan atau meningkatkan status pernapasan klien ke tingkat optimal. Pada kasus ini, kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal (12-20 kali/menit), (2) Irama napas teratur, (3) Tidak ada keluhan sesak napas (dispnea) atau penurunan keluhan sesak, (4) Tidak ada penggunaan otot bantu napas, (5) Bunyi napas bersih di seluruh lapang paru, (6) Saturasi oksigen (SpO2) ≥95% pada udara ruangan, dan (7) Tekanan intra-abdomen kembali ke rentang normal (<12 mmHg). Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengurangi dampak asites terhadap fungsi pernapasan. Pemantauan ketat terhadap lingkar perut, karakter perut, dan distress pernapasan adalah bagian integral dari evaluasi SLKI ini.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : SIKI 4320: Manajemen Asites. Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi akumulasi cairan di rongga peritoneum. Aktivitasnya meliputi: (1) **Pemantauan Ketat**: Mengukur lingkar perut harian pada titik yang sama, mencatat berat badan setiap hari, memantau tanda-tanda peningkatan tekanan intra-abdomen (perut tegang, mengkilap, sesak napas), dan memantau tanda-tanda syok hipovolemik pasca-parasentesis. (2) **Penatalaksanaan Medis Kolaboratif**: Mempersiapkan dan membantu prosedur parasentesis terapetik (pengeluaran cairan asites) sesuai instruksi dokter, termasuk memposisikan klien, menyiapkan alat steril, dan memantau kondisi klien selama dan setelah prosedur. Memberikan terapi diuretik sesuai resep (seperti spironolakton dan furosemid) dengan memantau keseimbangan cairan, elektrolit (terutama natrium dan kalium), dan fungsi ginjal. (3) **Manajemen Nutrisi dan Cairan**: Membatasi asupan natrium sesuai anjuran (biasanya 1-2 gram/hari), memberikan edukasi pada klien dan keluarga tentang makanan tinggi dan rendah natrium. Membatasi asupan cairan jika terdapat hiponatremia dilusional. Memastikan asupan protein yang adekuat namun hati-hati terhadap risiko ensefalopati. (4) **Manajemen Kenyamanan dan Pernapasan**: Memposisikan klien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi paru dan mengurangi tekanan pada diafragma. Mengajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif. Memastikan istirahat yang cukup untuk mengurangi konsumsi oksigen. (5) **Perawatan Skin Integrity**: Memeriksa kulit yang teregang (perut, skrotum) secara rutin terhadap risiko kerusakan, menjaga kulit tetap bersih dan kering, serta menggunakan alas tidur yang lembut. (6) **Edukasi dan Dukungan**: Menjelaskan proses penyakit, tujuan pengobatan, pentingnya pembatasan diet, tanda-tanda komplikasi yang harus dilaporkan (seperti sesak napas memberat, nyeri perut, demam, atau perdarahan). Intervensi ini memerlukan pendekatan holistik dan kolaboratif dengan tim kesehatan lain untuk mencegah komplikasi seperti sindrom hepatorenal, peritonitis bakterial spontan, dan gangguan pernapasan akut.
-
Article No. 24817 | 01 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki (50 th) dengan kanker laring telah menjalani operasi trakeostomi. Terdapat lubang pada leher dengan kanul yang terpasang dan banyak sekret keluar dari lubang tersebut. Pasien tidak dapat berbicara secara normal dan menggunakan papan tulis untuk berkomunikasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Komunikasi Verbal Terganggu pasca Trakeostomi karena Kanker Laring
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah keadaan dimana seseorang tidak mampu membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien ini, kondisi ini terjadi akibat perubahan anatomi (trakeostomi), peningkatan produksi sekret, dan kemungkinan gangguan mekanisme batuk efektif. Ketidakmampuan untuk berbicara secara normal merupakan dampak langsung dari trakeostomi dan pengangkatan laring, yang menyebabkan gangguan pada proses produksi suara dan komunikasi verbal.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : SLKI 0401: Manajemen Jalan Napas. Tujuan dari kriteria hasil ini adalah agar jalan napas pasien tetap paten. Indikator yang relevan meliputi: suara napas bersih (vesikuler) terdengar di semua lapang paru, tidak terdapat suara napas tambahan seperti wheezing atau ronchi, laju napas dalam rentang normal, sekret dapat dikeluarkan dengan efektif (baik secara spontan oleh pasien atau dengan bantuan suction), dan kanul trakeostomi tetap bersih dan tidak tersumbat. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan pasien menunjukkan pertukaran gas yang adekuat tanpa distres pernapasan, sekret dapat dikelola, dan tidak ada tanda-tanda infeksi atau komplikasi obstruksi pada stoma trakeostomi.
Kode SIKI: 3360
Deskripsi : SIKI 3360: Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan jalan napas tetap terbuka dan bersih. Implementasinya pada pasien ini meliputi: (1) Melakukan pengkajian rutin terhadap pola napas, suara napas, dan karakteristik sekret (jumlah, warna, konsistensi). (2) Melakukan penghisapan lendir (suction) secara steril dan tepat indikasi untuk membersihkan sekret yang tidak dapat dikeluarkan pasien, dengan memperhatikan teknik untuk mencegah trauma mukosa dan hipoksia. (3) Menjaga kelembaban udara yang dihirup (humidifikasi) untuk mengencerkan sekret dan mencegah pembentukan sumbatan krusta. (4) Merawat stoma dan kanul trakeostomi secara steril, termasuk penggantian dan pembersihan berkala sesuai protokol. (5) Melatih pasien dan/atau keluarga mengenai teknik batuk efektif (jika memungkinkan), perawatan kanul, dan tanda-tanda distress pernapasan yang harus dilaporkan. (6) Memposisikan pasien untuk optimalisasi drainase sekret dan pertukaran udara. (7) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian nebulizer atau obat pengencer dahak jika diperlukan. Intervensi ini bersifat prosedural dan edukatif, bertujuan langsung untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas.
Kode SDKI: 00057
Deskripsi Singkat: Komunikasi verbal terganggu adalah keadaan dimana seseorang mengalami penurunan, keterlambatan, atau ketidakmampuan dalam menerima, memproses, mengirimkan, dan/atau menggunakan simbol-simbol sistem komunikasi, khususnya berbicara. Pada pasien ini, gangguan terjadi karena jalur fisiologis produksi suara (laring) telah diangkat melalui operasi, sehingga aliran udara dari paru tidak dapat dimodulasi menjadi suara. Pasien bergantung sepenuhnya pada metode komunikasi alternatif (papan tulis), yang dapat menimbulkan frustrasi, perasaan terisolasi, dan ketidakberdayaan jika tidak didukung dengan baik.
Kode SLKI: 3003
Deskripsi : SLKI 3003: Komunikasi. Tujuan dari kriteria hasil ini adalah agar pasien dapat berkomunikasi secara efektif sesuai kemampuannya. Indikator pencapaiannya meliputi: pasien mampu menyampaikan kebutuhan, pikiran, dan perasaannya menggunakan metode komunikasi yang tersedia (papan tulis, isyarat, tulisan). Pasien menunjukkan pemahaman terhadap informasi yang disampaikan oleh tenaga kesehatan atau keluarga melalui respons nonverbal yang sesuai (mengangguk, menulis balasan). Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda frustrasi berlebihan atau menarik diri akibat kesulitan berkomunikasi. Lingkungan komunikasi yang tercipta adalah lingkungan yang sabar, memberikan waktu cukup untuk pasien merespons, dan semua pihak berusaha memahami pesan yang disampaikan pasien.
Kode SIKI: 4970
Deskripsi : SIKI 4970: Peningkatan Komunikasi. Intervensi ini difokuskan untuk memfasilitasi interaksi yang bermakna antara pasien dengan orang lain. Implementasinya mencakup: (1) Mengkaji metode komunikasi yang paling nyaman dan dikuasai pasien (menulis, gerakan bibir, isyarat tangan). (2) Menyediakan alat bantu komunikasi yang selalu terjangkau dan dalam kondisi baik (papan tulis, spidol, kertas). (3) Berkomunikasi dengan pasien secara tenang, dengan kontak mata, dan memberikan waktu yang cukup tanpa terburu-buru. (4) Mengkonfirmasi pemahaman terhadap pesan pasien dengan mengulang atau menanyakan kembali untuk memastikan tidak terjadi kesalahan interpretasi. (5) Mengajarkan dan mendorong pasien untuk menggunakan satu metode komunikasi yang konsisten kepada semua anggota keluarga dan perawat. (6) Memberikan dukungan emosional dengan mengakui kesulitan yang dialami dan memvalidasi perasaan pasien. (7) Mengajarkan teknik komunikasi alternatif kepada keluarga dan pengunjung. (8) Berkolaborasi dengan ahli terapi wicara jika tersedia untuk eksplorasi metode komunikasi lain seperti esophageal speech atau penggunaan elektrolarynx. Intervensi ini bersifat suportif, edukatif, dan terapeutik untuk mengurangi hambatan komunikasi dan meningkatkan kualitas interaksi sosial pasien.
-
Article No. 24818 | 01 Apr 2026
Klinis : Seorang anak (4 th) dengan gizi buruk (marasmus) tampak sangat kurus dengan wajah seperti orang tua. Perut anak tampak buncit (distensi) namun anggota gerak lainnya hanya tinggal kulit membungkus tulang. Anak tampak sangat rewel dan sering menangis lemah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status nutrisi membaik.
Kode SIKI: I.09123
Deskripsi : Manajemen Nutrisi.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh
Kode SDKI: B.6.1
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan suhu dalam rentang normal.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Suhu tubuh stabil.
Kode SIKI: I.08011
Deskripsi : Pemantauan Suhu.
Kondisi: Kelelahan
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami kelemahan fisik dan mental yang luar biasa dan menetap yang mengakibatkan penurunan kapasitas untuk bekerja dan mempertahankan respons yang biasa terhadap rangsangan.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Tingkat energi membaik.
Kode SIKI: I.10030
Deskripsi : Manajemen Energi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: B.3.1
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berisiko terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol nyeri.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen Nyeri.