Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26489 | 30 Jul 2026
Klinis : G3P2A0 38 MINGGU PREW SC Pasien mengatakan lemas, tangan kanan terasa kebas, nyeri perut (HIS), tampak pucat dan gelisah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: G3P2A0 38 Minggu Pre SC (Seksio Sesarea) – Nyeri Persalinan (HIS), Kelemahan, Parestesia Tangan Kanan, Pucat, Gelisah
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri Melahirkan (HIS) berhubungan dengan kontraksi uterus pada fase aktif persalinan, ditandai dengan pasien melaporkan nyeri perut (HIS), lemas, tangan kanan terasa kebas, tampak pucat dan gelisah. Nyeri persalinan adalah sensasi tidak nyaman yang dialami ibu selama proses persalinan akibat kontraksi miometrium, peregangan serviks, dan tekanan pada struktur panggul. Pada kasus ini, pasien dengan riwayat kehamilan ketiga (G3P2A0) pada usia kehamilan 38 minggu yang direncanakan menjalani seksio sesarea (Pre SC) menunjukkan manifestasi nyeri akut yang signifikan. Kebas pada tangan kanan dan kelemahan umum dapat mengindikasikan adanya gangguan sirkulasi perifer, kompresi saraf, atau efek dari kecemasan dan hiperventilasi yang sering menyertai nyeri hebat. Pucat dan gelisah merupakan respons fisiologis terhadap nyeri dan stres, di mana terjadi peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis yang menyebabkan vasokonstriksi perifer dan peningkatan denyut jantung. Penilaian nyeri pada ibu bersalin sangat krusial karena nyeri yang tidak tertangani dapat menyebabkan peningkatan kadar katekolamin, yang berpotensi menurunkan aliran darah uteroplasenta dan mempengaruhi kesejahteraan janin. Selain itu, kelelahan akibat nyeri berkepanjangan dapat menguras energi ibu yang sangat dibutuhkan untuk proses persalinan atau pemulihan pasca operasi. Diagnosis ini perlu dipertimbangkan bersamaan dengan diagnosis lain seperti gangguan perfusi jaringan perifer (akibat kebas tangan) dan intoleransi aktivitas (akibat lemas). Intervensi keperawatan harus komprehensif, mencakup manajemen nyeri farmakologis dan non-farmakologis, pemantauan tanda vital ibu dan janin, serta dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan. Edukasi mengenai teknik pernapasan, posisi yang nyaman, dan penggunaan metode relaksasi dapat membantu ibu mengatasi nyeri secara lebih efektif. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik yang aman selama persalinan juga menjadi prioritas, terutama mengingat rencana tindakan seksio sesarea yang memerlukan manajemen nyeri perioperatif yang optimal.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) – Kemampuan pasien dalam mengendalikan dan melaporkan penurunan intensitas nyeri. Definisi: Persepsi sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial yang digambarkan dalam intensitas (skala 0-10), durasi, frekuensi, dan kualitas. Luaran yang diharapkan pada pasien ini adalah: (1) Keluhan nyeri menurun dengan indikator pasien melaporkan skala nyeri dari 8-10 menjadi 3-4 dalam 2-4 jam pertama intervensi; (2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis; (3) Frekuensi nadi dalam rentang normal (60-100 x/menit) dan tekanan darah stabil; (4) Pasien mampu menunjukkan teknik relaksasi dan pernapasan efektif; (5) Pasien tidak menunjukkan perilaku gelisah atau protektif (menahan area nyeri); (6) Pasien dapat beristirahat dengan tenang di antara kontraksi. Kriteria hasil ini dievaluasi secara berkala setiap 15-30 menit selama fase aktif persalinan. Pada pasien pre SC, target luaran juga mencakup kesiapan pasien menjalani prosedur operasi dengan tingkat nyeri yang terkontrol sebelum masuk ruang operasi. Indikator tambahan meliputi: (7) Pasien memahami skala nyeri dan mampu mengomunikasikan kebutuhan analgesik; (8) Tidak ada tanda-tanda hiperventilasi (pusing, kesemutan di sekitar mulut atau jari); (9) Warna kulit kembali normal (tidak pucat); (10) Pasien melaporkan penurunan sensasi kebas pada tangan kanan setelah nyeri terkontrol, karena kebas sering dipicu oleh pola napas cepat dan dangkal akibat nyeri. Pencapaian luaran ini memerlukan pendekatan multidisiplin, termasuk kolaborasi dengan dokter kandungan dan ahli anestesi untuk penyesuaian dosis obat, serta dukungan dari bidan dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang tenang dan suportif.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) – Serangkaian tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mengendalikan pengalaman nyeri pasien. Definisi: Observasi, identifikasi, dan penanganan nyeri secara komprehensif melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Intervensi utama meliputi: (1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, faktor presipitasi, dan skala nyeri menggunakan skala numerik (0-10) atau skala Wong-Baker Faces; (2) Identifikasi riwayat alergi obat dan kontraindikasi analgesik; (3) Pantau tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) dan saturasi oksigen setiap 15 menit selama nyeri akut; (4) Berikan teknik non-farmakologis: a) Ajarkan teknik pernapasan lambat dan dalam (inhalasi melalui hidung 4 detik, ekshalasi melalui mulut 6 detik) saat kontraksi; b) Anjurkan posisi miring kiri atau posisi semi-Fowler untuk meningkatkan perfusi uteroplasenta; c) Berikan kompres hangat pada punggung bawah atau area perut yang nyeri; d) Lakukan pijatan ringan pada bahu dan punggung; e) Ciptakan lingkungan yang tenang dengan pencahayaan redup dan mengurangi stimulasi berisik; f) Berikan distraksi melalui musik lembut atau visualisasi positif; (5) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter (misal: petidin, morfin, atau epidural anestesi) dengan memantau efek samping seperti depresi pernapasan, mual, muntah, dan penurunan tekanan darah; (6) Berikan dukungan emosional dengan komunikasi terapeutik, validasi perasaan pasien, dan libatkan pendamping persalinan (suami/keluarga) untuk memberikan semangat; (7) Edukasi pasien dan keluarga tentang proses persalinan, teknik mengatasi nyeri, dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini; (8) Dokumentasikan respons terhadap intervensi setiap 30 menit atau sesuai kondisi; (9) Evaluasi ulang skala nyeri setelah 30 menit pemberian analgesik; (10) Jika pasien akan menjalani SC, koordinasikan dengan tim anestesi untuk manajemen nyeri perioperatif, termasuk premedikasi dan rencana analgesia pasca operasi. Intervensi tambahan untuk mengatasi kebas tangan: Anjurkan pasien untuk menggerakkan jari-jari tangan secara perlahan, hindari hiperventilasi dengan mengatur napas, dan jika perlu lakukan posisi elevasi tangan untuk memperbaiki sirkulasi. Pantau tanda-tanda komplikasi seperti perdarahan, prolaps tali pusat, atau gawat janin yang memerlukan tindakan emergensi. Dokumentasi asuhan keperawatan harus lengkap dan akurat sebagai dasar evaluasi dan komunikasi antartenaga kesehatan.
-
Article No. 26490 | 30 Jul 2026
Klinis : Pasien mengatakan lemas, tangan kanan terasa kebas, nyeri perut (HIS), tampak pucat dan gelisah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut (Persalinan) berhubungan dengan kontraksi uterus (HIS) dan ansietas
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau yang digambarkan dalam istilah tersebut (International Association for the Study of Pain), dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, serta berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kondisi ini, nyeri berasal dari kontraksi uterus (HIS) yang merupakan proses fisiologis persalinan, namun diperberat oleh faktor psikologis seperti ansietas dan kelelahan. Pasien tampak gelisah, mengeluh lemas, dan pucat yang mengindikasikan respons fisiologis terhadap nyeri dan stres. Kebas pada tangan kanan dapat disebabkan oleh hiperventilasi akibat nyeri atau posisi yang tidak nyaman. Nyeri persalinan merupakan nyeri visceral yang menjalar dan bersifat intermiten, semakin sering dan kuat seiring kemajuan persalinan. Dampak nyeri akut pada pasien ini meliputi peningkatan tekanan darah, denyut nadi, dan laju pernapasan; perubahan ekspresi wajah (mengerutkan dahi); kesulitan tidur; dan gangguan konsentrasi. Penanganan nyeri yang tidak adekuat dapat menyebabkan kelelahan ibu, memperlambat kemajuan persalinan, meningkatkan risiko distres janin, dan memicu kecemasan yang lebih berat. Oleh karena itu, diagnosis ini menjadi prioritas untuk segera diintervensi.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri adalah status kemampuan pasien dalam mengelola dan melaporkan pengalaman nyeri yang dialami. Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah nyeri berkurang atau terkontrol. Indikator yang digunakan meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun (skala 1-5, dari 5=sering mengeluh menjadi 1=tidak mengeluh); (2) Gelisah menurun; (3) Ekspresi wajah rileks; (4) Kemampuan mengenali onset nyeri meningkat; (5) Kemampuan menggunakan teknik nonfarmakologi meningkat; (6) Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah sistolik 110-140 mmHg, diastolik 60-90 mmHg, nadi 60-100 x/menit, respirasi 12-20 x/menit); (7) Frekuensi dan durasi kontraksi terkontrol; (8) Pasien mampu beristirahat di antara kontraksi. Pada kasus ini, target luaran dalam 2-4 jam setelah intervensi adalah pasien melaporkan skala nyeri turun dari 7-8 (nyeri berat) menjadi 3-4 (nyeri ringan-sedang), gelisah berkurang, dan tanda vital stabil. Indikator kebas pada tangan kanan diharapkan membaik seiring penurunan hiperventilasi. Luaran ini diukur menggunakan skala numerik (0-10) dan observasi perilaku.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan mengidentifikasi, mengurangi, dan mengontrol nyeri melalui pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Intervensi utama meliputi: (1) Observasi: identifikasi skala nyeri (PQRST: Provoking/pemicu, Quality/kualitas, Region/lokasi, Severity/beratnya, Time/waktu); observasi reaksi nonverbal (ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah); monitor tanda vital setiap 15-30 menit; identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri (posisi, lingkungan, dukungan suami). (2) Terapeutik: berikan posisi yang nyaman (miring kiri untuk memperbaiki perfusi uteroplasenta, atau posisi tegak/duduk untuk membantu gravitasi); anjurkan teknik relaksasi napas dalam (tarik napas perlahan melalui hidung, tahan 3 detik, hembuskan melalui mulut) saat kontraksi; berikan kompres hangat pada punggung bawah (mengurangi ketegangan otot); lakukan masase punggung ringan (effleurage) pada area sakral; alihkan perhatian dengan musik lembut atau visualisasi positif (membayangkan bayi lahir dengan selamat); ciptakan lingkungan tenang dengan pencahayaan redup. (3) Edukasi: jelaskan proses persalinan dan arti kontraksi (HIS) sebagai tanda kemajuan; ajarkan teknik pernapasan ritmis (2:1 atau 3:1) untuk mengatur oksigenasi; informasikan kapan harus memanggil bidan/dokter (kontraksi setiap 2-3 menit, durasi 60-90 detik, atau ada dorongan mengejan). (4) Kolaborasi: berikan analgesik sesuai resep (misal: petidin 50 mg IM atau epidural jika indikasi); konsultasi dengan dokter jika nyeri tidak terkendali atau ada tanda distres janin (denyut jantung janin <110 atau >160 x/menit). Intervensi dilakukan secara berkesinambungan dengan evaluasi setiap 30 menit. Dokumentasikan respons pasien terhadap setiap intervensi. Tujuan akhir adalah pasien mampu melahirkan dengan nyeri yang tertanggulangi, tanpa komplikasi, dan dengan pengalaman persalinan yang positif.
-
Article No. 26491 | 30 Jul 2026
Klinis : Pasien mengatakan lemas, tangan kanan terasa kebas, nyeri perut (HIS), tampak pucat dan gelisah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan kontraksi uterus (HIS) pada proses persalinan
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari tiga bulan. Pada kondisi ini, nyeri disebabkan oleh kontraksi uterus (HIS) yang merupakan proses fisiologis persalinan, di mana terjadi peregangan segmen bawah rahim, serviks, dan kompresi saraf di daerah panggul. Pasien melaporkan lemas, kebas pada tangan kanan (kemungkinan akibat hiperventilasi atau posisi tubuh saat nyeri), tampak pucat dan gelisah yang merupakan respons fisiologis terhadap nyeri berat. Nyeri akut pada persalinan bersifat intermiten namun semakin sering dan kuat seiring kemajuan proses persalinan. Gejala yang muncul seperti pucat menunjukkan vasokonstriksi perifer akibat aktivasi sistem saraf simpatis, sementara gelisah merupakan manifestasi perilaku dari ketidakmampuan mengatasi nyeri. Kebas pada tangan kanan dapat terjadi akibat hipokapnia sekunder dari hiperventilasi saat menahan nyeri, atau karena kompresi saraf akibat posisi tubuh. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengatakan lemas, nyeri perut) dan data objektif (tampak pucat, gelisah, tangan kanan kebas).
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan untuk mengurangi atau mengelola nyeri akut. Definisi dari tingkat nyeri adalah persepsi individu terhadap pengalaman nyeri yang meliputi intensitas, frekuensi, durasi, dan dampak nyeri terhadap fungsi sehari-hari. Pada pasien dengan nyeri akut persalinan, luaran yang ingin dicapai meliputi beberapa kriteria evaluasi: (1) Keluhan nyeri menurun, ditandai dengan pasien melaporkan penurunan skala nyeri dari skala 7-10 (nyeri berat) menjadi skala 1-3 (nyeri ringan) atau sesuai target yang ditetapkan. (2) Ekspresi wajah rileks, tidak lagi meringis atau menangis. (3) Pasien mampu mengidentifikasi teknik nonfarmakologis untuk meredakan nyeri seperti teknik relaksasi nafas dalam, kompres hangat, atau perubahan posisi. (4) Tanda-tanda vital stabil, yaitu tekanan darah, nadi, dan pernapasan dalam batas normal untuk ibu bersalin. (5) Pasien tidak menunjukkan perilaku gelisah, mampu beristirahat di antara kontraksi. (6) Kebas pada tangan kanan berkurang atau hilang setelah pernapasan menjadi lebih teratur. (7) Pasien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri dan proses persalinan secara aktif. Skala luaran ini diukur dengan menggunakan skala numerik 1-5, di mana skala 1 menunjukkan nyeri sangat berat dan skala 5 menunjukkan tidak ada nyeri. Target intervensi keperawatan adalah mencapai skala 4-5 (nyeri ringan hingga tidak nyeri) dalam waktu 1-2 jam setelah intervensi. Penting untuk memantau kemajuan secara berkala setiap 15-30 menit selama fase aktif persalinan untuk menyesuaikan intervensi sesuai respons pasien.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mengelola nyeri pada pasien. Definisi manajemen nyeri adalah proses sistematis yang meliputi pengkajian nyeri secara komprehensif, pemberian intervensi farmakologis dan nonfarmakologis, serta evaluasi respons pasien terhadap intervensi. Intervensi ini terdiri dari beberapa aktivitas keperawatan yang terstruktur: (1) Observasi: Lakukan identifikasi skala nyeri menggunakan skala numerik (0-10) setiap 15-30 menit; kaji karakteristik nyeri meliputi lokasi (perut bagian bawah menjalar ke pinggang), intensitas (berat), durasi (sesuai kontraksi), kualitas (seperti kram atau tekanan); kaji tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 30 menit; kaji respons nonverbal seperti ekspresi wajah, posisi tubuh, dan tingkat kecemasan; identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri. (2) Terapeutik: Berikan posisi yang nyaman sesuai keinginan pasien (posisi miring, setengah duduk, atau merangkak); ajarkan teknik relaksasi nafas dalam pada saat kontraksi dan teknik distraksi (mendengarkan musik, memejamkan mata, visualisasi); berikan kompres hangat pada punggung bawah atau perut sesuai kebutuhan; bantu pasien melakukan perubahan posisi secara bertahap; fasilitasi teknik pijat ringan pada area yang tegang. (3) Edukasi: Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang proses persalinan dan penyebab nyeri; informasikan tentang teknik nonfarmakologis yang dapat dilakukan; ajarkan pasien untuk melaporkan nyeri segera tanpa menahannya; berikan informasi tentang kapan harus memanggil perawat. (4) Kolaborasi: Diskusikan dengan bidan atau dokter mengenai kebutuhan analgesik farmakologis jika nyeri tidak terkendali dengan teknik nonfarmakologis; laporkan perubahan tanda-tanda vital yang signifikan atau tanda-tanda distres janin. Intervensi ini harus disesuaikan dengan fase persalinan dan respons individual pasien. Dokumentasikan semua intervensi dan respons pasien secara akurat untuk evaluasi berkelanjutan.
-
Article No. 26492 | 30 Jul 2026
Klinis : os mengeluh mual dan mudah cape
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Mual dan mudah cape (Fatigue and Nausea)
Kode ICD-10: R53.83 (Other fatigue) dan R11.2 (Nausea with vomiting, unspecified) - atau kombinasi R53.83 + R11.0 (Nausea) tergantung spesifikasi. Untuk tujuan diklat, kode yang paling tepat untuk keluhan utama "mual dan mudah cape" tanpa muntah adalah R11.0 (Nausea) dan R53.83 (Other fatigue).
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan pasien yang mengeluhkan dua gejala sistemik yang seringkali muncul bersamaan, yaitu rasa mual (nausea) dan kelelahan yang berlebihan (fatigue). Mual (R11.0) adalah sensasi tidak nyaman di perut bagian atas yang seringkali mendahului keinginan untuk muntah, namun belum tentu disertai muntah. Fatigue (R53.83) berbeda dengan rasa kantuk biasa; ini adalah kelelahan fisik dan/atau mental yang ekstrem, berkepanjangan, dan tidak hilang dengan istirahat, sehingga pasien merasa "mudah cape" dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kombinasi kedua gejala ini sering menjadi petunjuk awal untuk berbagai kondisi, mulai dari gangguan pencernaan fungsional, infeksi ringan (seperti gastroenteritis atau infeksi saluran kemih), gangguan metabolik (seperti anemia, diabetes, atau gangguan tiroid), efek samping obat, hingga kondisi psikologis seperti kecemasan atau depresi. Dalam rekam medis, kodifikasi ini bersifat sementara (provisional) untuk mencatat gejala utama sebelum diagnosis pasti ditegakkan melalui anamnesis lebih lanjut, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Penting untuk dicatat bahwa kode R (gejala, tanda, dan temuan klinis abnormal) hanya digunakan ketika diagnosis spesifik belum diketahui. Jika penyebab spesifik ditemukan, kode ini harus diganti dengan kode penyakit yang mendasarinya. Untuk simulasi diklat, penggunaan kode R11.0 dan R53.83 membantu peserta latihan memahami cara mengelompokkan gejala umum yang tidak spesifik ke dalam sistem ICD-10.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26494 | 30 Jul 2026
Klinis : Ibu Ny. S usia 41 tahun G3P2A0 tidak diketahui kapan masuk rumah sakit planning sctp dan mow pada 30 juli 2026. indikasi preeklamsia, letak oblique, dan advanced maternal age BMI ibu 23.4 hasil lab pada 29 juli Hb 11 Ht 33 Leu 8.190 Trom 197.000 NLR 5.92 Rasio PT 13.7 APTT 30.3 GDS 71 SGOT 19 SGPT 8 Albumin 3.6 Ur 12 Cr 48 LDH 183 Na 136 K 4 Ca 8.1 (L) Cl 103 HbsAg non reaktif USG VK IGD Janin tunggal hidup intrauterine letak oblique Biometri sesuai kehamilan 36 minggu 1 hari EFW 2.955 FHR (+) 149 bpm Plasenta berinsisi di corpus posterior dan tidak menutupi jalan lahir Air ketuban cukup SDP 4.05 cm Tata laksana: Pro SCTP + MOW Cefazolin 2ge profilaksis MgSO4 loading dose aja Albuforce 3x500mg Kalk 3x500mg Metildopa 3x500mg tab PO Nifedipine 3x10mg PO jika TD >160/110 Konsul TS Gizi Klinik terkait nutrisi pada psien PEB (+) Ro Thorax dan EKG (+) Inform consent pasient jika ada kegawatan Observasi KU, TTV, his, BJA kemajuan persalinan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perdarahan pada Ibu Hamil dengan Preeklampsia Berat dan Letak Oblique yang Akan Menjalani Seksio Sesarea
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Risiko perdarahan adalah keadaan rentan mengalami kehilangan darah baik internal maupun eksternal yang dapat mengancam jiwa. Pada Ibu Ny. S, risiko ini sangat tinggi mengingat diagnosis preeklampsia berat (PEB) yang menyebabkan disregulasi endotel vaskular, trombositopenia fungsional, dan vasospasme yang dapat mengganggu hemostasis. Kondisi letak oblique janin memerlukan tindakan seksio sesarea (SCTP) yang merupakan prosedur bedah mayor dengan potensi perdarahan signifikan. Hasil laboratorium menunjukkan trombosit dalam batas normal (197.000), namun pada preeklampsia sering terjadi disfungsi trombosit kualitatif yang tidak tercermin dari jumlahnya. NLR (Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio) 5,92 mengindikasikan respons inflamasi sistemik yang memperberat kerusakan endotel. Albumin 3,6 g/dL yang mendekati batas bawah juga berkontribusi pada penurunan tekanan onkotik, meningkatkan risiko edema dan gangguan perfusi jaringan. Advanced maternal age (usia 41 tahun) menjadi faktor risiko independen untuk perdarahan postpartum karena penurunan kontraktilitas miometrium dan elastisitas pembuluh darah. Rencana MOW (Metode Operasi Wanita) yang dilakukan bersamaan dengan SCTP memperpanjang waktu operasi dan meningkatkan risiko perdarahan intraoperatif. Pemberian MgSO4 sebagai loading dose untuk profilaksis kejang eklampsia juga memiliki efek relaksasi otot polos yang dapat mempengaruhi kontraksi uterus pasca persalinan. Oleh karena itu, diagnosis risiko perdarahan menjadi prioritas utama untuk dilakukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda perdarahan, evaluasi koagulasi serial, dan persiapan produk darah.
Kode SLKI: L.02014
Deskripsi : Tingkat perdarahan adalah keadaan terpantaunya kehilangan darah dari sistem vaskular yang dapat diukur secara objektif. Pada Ibu Ny. S, luaran yang diharapkan adalah tidak terjadi perdarahan masif selama dan pasca operasi, dengan kriteria hasil: (1) Tekanan darah sistolik >90 mmHg dan diastolik >60 mmHg, (2) Nadi 60-100 x/menit dengan irama teratur, (3) Hemoglobin stabil atau tidak turun >2 g/dL dari nilai awal (11 g/dL), (4) Hematokrit tidak turun >6% dari nilai awal (33%), (5) Produksi urine >0,5 mL/kgBB/jam, (6) Tidak ada perdarahan aktif dari luka operasi atau perdarahan pervaginam melebihi 500 mL, (7) Skor kesadaran Compos Mentis (GCS 15), (8) Suhu ekstremitas hangat dengan capillary refill time <3 detik, (9) Nilai PT dan APTT dalam batas normal (PT 13,7 detik dan APTT 30,3 detik sebagai baseline), (10) Tidak ada tanda syok hipovolemik seperti pucat, akral dingin, atau oliguria. Target capaian dalam 24 jam pertama pasca operasi adalah mempertahankan stabilitas hemodinamik dan mencegah penurunan Hb yang memerlukan transfusi. Evaluasi dilakukan setiap 1 jam pada 6 jam pertama, setiap 2 jam pada 6 jam berikutnya, dan setiap 4 jam setelahnya. Jika terjadi perdarahan aktif, intervensi segera harus dilakukan untuk mengembalikan volume sirkulasi dan menghentikan sumber perdarahan. Status koagulasi perlu dipantau dengan serial PT/APTT dan fibrinogen jika dicurigai koagulopati konsumtif akibat preeklampsia.
Kode SIKI: I.03118
Deskripsi : Manajemen perdarahan adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi, mengontrol, dan mencegah perdarahan lebih lanjut. Pada Ibu Ny. S, intervensi dilakukan secara komprehensif meliputi: (1) Observasi: Monitor tanda-tanda vital (TD, nadi, respirasi, suhu) setiap 15 menit pada jam pertama pasca operasi, setiap 30 menit pada jam kedua, setiap 1 jam pada 4 jam berikutnya, kemudian setiap 4 jam. Pantau jumlah perdarahan melalui histerektomi atau luka insisi dengan menimbang kain kasa dan menghitung darah dalam suction. Evaluasi kadar Hb dan Ht serial (setiap 6 jam pada 24 jam pertama). Pantau nilai koagulasi (PT, APTT, fibrinogen) jika ada kecenderungan perdarahan. (2) Tindakan: Pertahankan akses intravena minimal 2 jalur (satu untuk infus MgSO4 dan satu untuk resusitasi cairan). Berikan oksigenasi 2-4 L/menit via nasal kanul untuk mempertahankan saturasi O2 >95%. Lakukan kompresi uterus bimanual jika terjadi perdarahan atonia. Kolaborasi pemberian oksitosin drip 20 IU dalam 500 mL Ringer Laktat dengan kecepatan 125 mL/jam. Siapkan produk darah (PRC, FFP, trombosit) sesuai protokol. Jika TD >160/110 mmHg, berikan nifedipine 10 mg sublingual sesuai order. Lanjutkan pemberian MgSO4 loading dose 4 gram IV bolus dilanjutkan maintenance 1 gram/jam selama 24 jam pasca operasi untuk profilaksis kejang. (3) Edukasi: Informasikan kepada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda perdarahan yang perlu dilaporkan (perdarahan banyak, pusing, pandangan kabur, palpitasi). Anjurkan mobilisasi bertahap setelah 6-8 jam pasca operasi sesuai toleransi. (4) Kolaborasi: Konsultasi dengan dokter obstetri untuk evaluasi perdarahan, dokter anestesi untuk manajemen hemodinamik, dan tim gizi klinik untuk pemberian nutrisi tinggi zat besi dan protein (sesuai konsul TS Gizi Klinik). Pastikan informed consent telah ditandatangani untuk kemungkinan transfusi atau tindakan darurat. Evaluasi efektivitas intervensi setiap jam dengan mengkaji skor perdarahan (Bleeding Score) dan respons hemodinamik. Jika perdarahan tidak terkontrol dalam 30 menit pertama, siapkan untuk tindakan bedah ulang atau embolisasi arteri uterina.
Kondisi: Risiko Kerusakan Integritas Jaringan pada Ibu dengan Preeklampsia Berat yang Akan Menjalani Seksio Sesarea
Kode SDKI: D.0149
Deskripsi Singkat: Risiko kerusakan integritas jaringan adalah keadaan rentan mengalami kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi, dan/atau ligamentum. Pada Ibu Ny. S, risiko ini muncul dari beberapa faktor: (1) Preeklampsia berat menyebabkan vasospasme dan iskemia jaringan perifer, terutama pada area insisi bedah. Gangguan perfusi jaringan akibat hipertensi dan disfungsi endotel memperlambat proses penyembuhan luka. (2) Tindakan SCTP merupakan insisi bedah pada abdomen dan uterus yang mengakibatkan trauma jaringan langsung. Letak oblique janin memerlukan manuver intraoperatif yang dapat meningkatkan tarikan pada jaringan. (3) Hasil laboratorium menunjukkan albumin 3,6 g/dL (mendekati hipoalbuminemia) yang mengindikasikan status nutrisi suboptimal. Albumin berperan penting dalam regenerasi jaringan dan menjaga tekanan onkotik. Kadar kalsium 8,1 mg/dL (L) menunjukkan hipokalsemia ringan yang dapat mengganggu koagulasi dan kontraksi otot polos, termasuk pada penyembuhan luka. (4) Advanced maternal age (41 tahun) dikaitkan dengan penurunan kapasitas regenerasi sel dan respons imun yang lebih lambat terhadap cedera jaringan. (5) Penggunaan MgSO4 sebagai terapi profilaksis kejang dapat menyebabkan vasodilatasi perifer yang, meskipun bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah, dapat meningkatkan edema jaringan dan memperlambat penyembuhan. (6) Pemberian metildopa dan nifedipine untuk kontrol hipertensi juga dapat mempengaruhi perfusi jaringan. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda infeksi luka, dehiscence, atau nekrosis jaringan pada area insisi. Risiko ini diperberat oleh status inflamasi sistemik yang ditunjukkan oleh NLR 5,92, yang dapat mengaktifkan jalur inflamasi yang merusak jaringan sehat.
Kode SLKI: L.14125
Deskripsi : Integritas kulit dan jaringan adalah keadaan terpantaunya fungsi perlindungan kulit dan membran mukosa yang utuh. Pada Ibu Ny. S, luaran yang diharapkan adalah luka operasi sembuh tanpa komplikasi dengan kriteria hasil: (1) Luka insisi bersih, kering, tepi luka rapat tanpa drainase purulen, (2) Tidak ada tanda infeksi lokal (eritema, edema, hangat, nyeri tekan berlebihan), (3) Suhu tubuh afebris (<37,5°C), (4) Nyeri luka terkontrol dengan skala 0-2 (dari 10) dalam 24 jam pasca operasi, (5) Tidak ada tanda dehiscence atau eviserasi, (6) Warna kulit sekitar luka normal (tidak pucat atau sianotik), (7) Turgor kulit baik, (8) Tidak ada edema berlebihan pada area insisi, (9) Nilai albumin meningkat atau stabil (target >3,8 g/dL), (10) Kadar kalsium dalam batas normal (8,5-10,5 mg/dL). Target capaian dalam 48 jam pertama adalah luka tetap kering dan bersih, serta pasien dapat melakukan mobilisasi dini tanpa menyebabkan regangan pada luka. Evaluasi dilakukan setiap 8 jam untuk inspeksi luka, dan setiap 4 jam untuk tanda-tanda vital. Jika ditemukan tanda infeksi, kultur luka harus
Article No. 26495 | 30 Jul 2026
Klinis : anak JM dikaji pada 23 juli TTV: BP 86/54, HR: 144 bpm, T: 37,9, sats 99%, RR: 32x/menit dipasang oksigenasi NK ada retraksi dada nafsu makan turun semenjak kemo, makan sedikit namun tetap mau untuk tidur nyaman saja demam 4 hari sebelum masuk ke rumah sakit, gejalanya: demam, sesak, batuk, lemas, gak nafsu makan, kejang penurunan kesadaran, disangkal. riwayat sakit dulu: rhabdomiosarcoma BB 15kg TB 120 cm saat 21 juli dilakukan lab dengan hasil HB 9,7 Ht 29 AE 3.30 AL 3280 AT 498000 MCV 87 MCH 29,3 Na 127 K 3,7 Cl 95 Ca 6,6 dengan diagnosa medis: rhabdomiosarcoma, bronkopneumonia, anemia terkait keganasan, gizi kurang menggunakan pampers, tidak bisa berjalan karena tumor pada kaki kiri menghambat untuk mobilisasi. Setelah dilakukan kemo, ibu mengatakan bahwa bengkak pada kaki bagian betis ke telapak kaki sudah berkurang dan sudah tidak keras lagi. Tumor berada di bagian paha atas hingga lutut dengan diameter yang besar. anak tampak lemas dan pernapasan cuping hidung tambahan informasi: awal mula sakit karena jatuh di bagian lutut saat bermain (oktober 2025) dan anak tetap lanjut bermain (tidak ada keluhan sakit), pada bulan november mulai ada keluhan pegal terutama pada malam hari, pada desember mulai bengkak, pada januari ke rumah sakit karena bengkaknya itu dan ditemukan adanya retak lutut namun sudah tertutup oleh tumor. dokter menyarankan operasi. ibu masih ingin mencari opini lain karena anaknya dari dulu tidak ada penyakit yang serius2. anak juga mengatakan takut operasi dan lelah dengan kunjungan ke rumah sakit yang terus-menerus. lalu mencoba mencari alternatif pengobatan herbal. dengan pengobatan herbal tidak kunjung sembuh juga akhirnya pada mei karena bengkaknya (tumor) semakin besar akhirnya mau dibawa ke rs setempat baru akhirnya dirujuk ke margono pada bulan mei/juni. lalu pada 24 juni dilakukan biopsi yang hasilnya kanker ganas. tumornya berisi cairan. untuk kemo sudah dilakukan siklus pertama. untuk radioterapi sedang dalam perencanaan dokter. tidak terdapat penyakit penyerta. untuk riwayat rawat inap juga terkait kanker ini saja. riwayat transfusi darah ada 8 kantong (3.untuk pertama, 2 untuk kedua, dan 3 untuk ketiga) untuk riwayat keluarga, ibu mengatakan ayahnya (kakek anak) mengalami prostat. tidak ada diabetes/tb/htn untuk terapi yang diberikan adalah O2 NK 2lpm, inf kaen 3b 12 tpm, inj ampisulbactam 750 mg IV, inj metronidazol 200 mg, paracetamol 3x250 mg IV, omeprazol 1x20mg IV, asam tranexamat 3x150 mg PO = ambroxol syr 3x5ml, transfusi albumin 50 ml kedua, hasil lab = trombosit: 498,000 ; Na 127 ; alb 1,7 sudah dilakukan managemen airway, manajemen demam farmakologis dan nonfarmakologis, memantau reaksi transfusi, managemen nyeri, dan wound care anak pertama adalah laki-laki 13 tahun, anak kedua adalah pasien (laki-laki lahir 26 mei 2018), anak ketiga adalah perempuan 5 tahun. tidak ada riwayat alergi obat/makanan imunisasi lengkap sampai paud ANC rutin tiap bulan, tidak ada komplikasi saat kehamilan, lahir pervaginam, aterm pada 38 pekan, BB 2,7kg saat lahir, langsung menangis, dan asi eksklusif sampai 2 tahun. makan sehari 2-3x namun hanya 4 suap saja sekali makan. sebelum kemo, makan bisa satu porsi full dan 4x sehari. untuk minum lancar 5 gelas, sedang dibatasi agar tidak terlalu banyak cairan karena takut tumornya semakin besar (tumor berisi cairan) tidak ada mual muntah, pada lidah terdapat bercak putih dan bibirnya kering, tidak ada sulit menelan. BAK sering, untuk BAB sehari 1x perlu dibantu orangtua untuk ADL, sekarang gak duduk karena lemas dan tenaga berkurang, gabisa berdiri, tidak mengenakan kursi roda karena tumor sudah terlalu besar dan ibu mengatakan kalau duduk perlu ditempat yang empuk. tidur sekitar jam 11 malam (terbiasa seeprti itu), bangun saat jam 5 atau 6 pagi, kebangun saat tidur karena gatal tenggorokan yang disebabkan batuk, pasien juga tidur siang. konjungtiva tidak nampak anemis dan sklera putih bersih mukosa mulut kering dan bibirnya juga kering pada abdomen tidak ada keluhan nyeri crt kurang dari 2 detik, tidak tampak edema kecuali pada kaki kiri karena tumornya. kulit tidak tampak pucat, tidak sianosis, akral teraba hangat, saat ini bersekolah kelas 1 namun hanya 1 semester saja karena sakit. sudah bisa membaca namun belum bisa kalimat panjang ibu mengatakan bahwa anak mengeluh nyeri di tumor jika bergerak/diangkat untuk pindah posisi. namun jika diam maka tidak kenapa-kenapa. anak menangis kesakitan saat diganti balut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Retensi Sputum (D.0001)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien JM, kondisi ini ditandai dengan adanya retraksi dada, pernapasan cuping hidung, batuk, sesak napas, dan frekuensi napas 32x/menit (takipnea). Pasien juga mengalami kelemahan umum (lemas) akibat efek kemoterapi dan keganasan, yang menurunkan kemampuan batuk efektif. Bronkopneumonia sebagai diagnosis medis memperburuk produksi sekret. Retraksi dada menunjukkan adanya usaha napas tambahan yang signifikan. Meskipun saturasi oksigen 99% dengan bantuan O2 nasal kanul 2 lpm, tanda-tanda klinis menunjukkan bahwa jalan napas belum sepenuhnya bersih dan efektif.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan Bersihan Jalan Napas meningkat dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat (skala 1-5, target 4-5), (2) Produksi sputum menurun (skala 1-5, target 4-5), (3) Frekuensi napas membaik (rentang normal 20-28x/menit untuk usia anak), (4) Tidak ada retraksi dada (skala 1-5, target 5), (5) Tidak ada pernapasan cuping hidung (skala 1-5, target 5), (6) Suara napas tambahan (seperti ronkhi) menurun, (7) Kemampuan batuk meningkat, (8) Saturasi oksigen stabil >95% tanpa atau dengan oksigenasi minimal.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Intervensi utama: Latihan Batuk Efektif. Tindakan: 1) Identifikasi kemampuan batuk pasien (anak usia 6 tahun, perlu pendekatan bermain). 2) Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif kepada pasien dan keluarga. 3) Atur posisi semi-Fowler atau high Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru (dengan memperhatikan kenyamanan dan tumor kaki kiri, gunakan bantal penyangga). 4) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 2-3 detik, lalu batukkan dengan kuat dari dada (dapat dilakukan sambil memegang bantal di dada untuk mengurangi nyeri). 5) Lakukan fisioterapi dada ringan (clapping dan vibrasi) jika tidak kontraindikasi dan toleransi anak baik. 6) Berikan posisi miring kanan-kiri setiap 2 jam untuk membantu drainase sekret. 7) Kolaborasi pemberian mukolitik (ambroxol sirup 3x5 ml sudah diberikan). 8) Anjurkan minum air hangat (dalam batas aman, karena ada kekhawatiran pembatasan cairan terkait tumor, namun hidrasi tetap penting untuk mengencerkan dahak; konsultasikan dengan dokter mengenai batas aman cairan harian). 9) Monitor warna, jumlah, dan konsistensi sputum. 10) Pertahankan oksigenasi nasal kanul 2 lpm.
Kondisi: Hipertermia berhubungan dengan Proses Penyakit (Infeksi) (D.0130)
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (36,5-37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi. Pasien JM memiliki suhu tubuh 37,9°C, yang merupakan demam ringan. Demam merupakan respons sistemik terhadap infeksi (bronkopneumonia) dan juga dapat dipicu oleh reaksi terhadap keganasan (rhabdomiosarcoma) atau efek samping kemoterapi (febrile neutropenia). Pasien juga memiliki riwayat demam 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Kondisi lemas dan penurunan nafsu makan memperburuk status imunologi anak. Demam meningkatkan kebutuhan metabolisme basal dan oksigen, yang dapat memperberat sesak napas dan kelemahan.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan Termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh membaik (36,5-37,5°C), (2) Frekuensi napas membaik, (3) Frekuensi nadi membaik (rentang normal usia 6 tahun: 75-115 bpm, pasien saat ini 144 bpm, target menuju normal), (4) Kulit tidak teraba hangat, (5) Tidak menggigil, (6) Konsumsi cairan adekuat (dalam batas yang diizinkan), (7) Tingkat aktivitas meningkat (tidak lemas berlebihan).
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Intervensi utama: Manajemen Demam. Tindakan: 1) Monitor suhu tubuh setiap 4 jam atau lebih sering jika demam tinggi. 2) Monitor tanda-tanda vital lainnya (nadi, napas, tekanan darah). 3) Berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, ketiak, selangkangan) – hindari kompres dingin atau alkohol. 4) Lepaskan pakaian berlebih dan gunakan selimut tipis. 5) Anjurkan pasien untuk minum air hangat dalam jumlah yang cukup (dengan tetap memperhatikan batasan cairan; konsultasi dengan dokter mengenai target cairan harian yang aman). 6) Kolaborasi pemberian antipiretik: Paracetamol 3x250 mg IV sudah diberikan. 7) Monitor efek samping antipiretik. 8) Identifikasi tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, CRT, mukosa mulut). 9) Pertahankan lingkungan tenang dan sejuk (suhu ruangan 22-24°C). 10) Libatkan ibu dalam proses perawatan: ajarkan cara mengukur suhu dan memberikan kompres hangat.
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Tumor dan Prosedur Perawatan) (D.0077)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, berlangsung kurang dari 3 bulan. Pasien JM mengalami nyeri akut yang jelas terkait dengan tumornya. Ibu pasien melaporkan bahwa anak mengeluh nyeri di tumor jika bergerak atau diangkat untuk pindah posisi. Nyeri ini bersifat mekanis, disebabkan oleh tekanan tumor besar pada struktur sekitarnya. Selain itu, anak menangis kesakitan saat dilakukan penggantian balut luka (wound care), yang merupakan prosedur invasif. Tumor pada paha atas hingga lutut kiri dengan diameter besar menjadi sumber nyeri utama. Nyeri ini mengganggu mobilisasi, kenyamanan, dan tidur pasien.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan Tingkat Nyeri menurun dengan kriteria hasil: (1) Kemampuan menahan nyeri meningkat (skala 1-5, target 4), (2) Keluhan nyeri menurun (skala 1-5, target 4), (3) Skala nyeri menurun (gunakan skala nyeri yang sesuai usia, misal Wong-Baker FACES atau Numeric Rating Scale 0-10; target skala 1-3 dari awal 5-7), (4) Tanda-tanda vital stabil (HR, RR, TD dalam rentang normal untuk usia), (5) Ekspresi wajah rileks (tidak meringis), (6) Pola tidur membaik (frekuensi terbangun karena nyeri menurun), (7) Kemampuan beristirahat meningkat.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Intervensi utama: Manajemen Nyeri. Tindakan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif: lokasi (paha atas kiri hingga lutut), karakteristik (tajam, seperti ditekan), durasi (saat digerakkan), frekuensi (setiap kali mobilisasi), kualitas, dan skala nyeri (gunakan Wong-Baker FACES scale untuk anak usia 6 tahun). 2) Identifikasi faktor yang memperberat (gerakan, pengangkatan, penggantian balut) dan memperingan (diam, posisi nyaman). 3) Berikan teknik nonfarmakologis: a) Distraksi (mengajak bicara, bernyanyi, bercerita, atau menonton video favorit saat prosedur menyakitkan). b) Relaksasi napas dalam (tarik napas perlahan, hembuskan). c) Kompres hangat atau dingin pada area sekitar tumor (konsultasikan dengan dokter karena tumor berisi cairan). d) Posisi yang nyaman: hindari tekanan langsung pada tumor, gunakan bantal penyangga. 4) Kolaborasi pemberian analgesik: Asam traneksamat 3x150 mg IV (meski lebih untuk hemostasis, dapat membantu mengurangi nyeri akibat perdarahan/hematoma). Konsultasikan dengan dokter mengenai kebutuhan analgesik tambahan (misal paracetamol atau NSAID, atau opioid ringan jika perlu). 5)
Article No. 26496 | 30 Jul 2026
Klinis : Tn. Suwandi (70 tahun) Data Dasar: Laki-laki, Tgl Lahir: 10 Maret 1956, Pendidikan: SD, Pekerjaan: Pensiunan Petani, Agama: Islam, Suku: Jawa. Pemeriksaan: TD: 130/80 mmHg, Nadi: 78 x/mnt, RR: 18 x/mnt, Suhu: 36,5 °C, TB: 162 cm, BB: 55 kg, Konjungtiva: Anemis (-). Kondisi Khusus & Kebiasaan: Diagnosis Demensia Vaskular. Sering keluyuran keluar rumah dan lupa jalan pulang (wandering). Menggunakan kacamata. Keadaan umum sedang. Jarang olahraga, tidur tidak teratur (3–4 jam di malam hari, sering terbangun).
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demensia Vaskular
Kode ICD-10: F01.9
Deskripsi Singkat : Demensia vaskular adalah gangguan kognitif progresif yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke otak akibat penyakit serebrovaskular, seperti stroke atau penyakit pembuluh darah kecil. Pada Tn. Suwandi (70 tahun), kondisi ini ditandai dengan gejala khas seperti wandering (sering keluyuran dan lupa jalan pulang), gangguan tidur (tidur 3–4 jam/malam dengan sering terbangun), serta penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi aktivitas sehari-hari. Kode ICD-10 F01.9 digunakan untuk demensia vaskular tanpa spesifikasi lebih lanjut (misalnya, onset akut, multi-infark, atau subkortikal). Diagnosis ini didukung oleh faktor risiko vaskular yang umum pada usia lanjut, meskipun tekanan darah pasien terkontrol (130/80 mmHg). Kondisi ini berbeda dari demensia Alzheimer karena biasanya memiliki onset lebih mendadak dan perburukan bertahap seiring dengan akumulasi lesi vaskular. Penanganan meliputi manajemen faktor risiko kardiovaskular, terapi kognitif, serta dukungan untuk keselamatan pasien (misalnya, pengawasan untuk mencegah wandering). Kode ini bersifat saran untuk simulasi dan tidak menggantikan kodifikasi resmi oleh tenaga medis profesional.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 26497 | 30 Jul 2026
Klinis : Tn. Suwandi (70 tahun) Data Dasar: Laki-laki, Tgl Lahir: 10 Maret 1956, Pendidikan: SD, Pekerjaan: Pensiunan Petani, Agama: Islam, Suku: Jawa. Pemeriksaan: TD: 130/80 mmHg, Nadi: 78 x/mnt, RR: 18 x/mnt, Suhu: 36,5 °C, TB: 162 cm, BB: 55 kg, Konjungtiva: Anemis (-). Kondisi Khusus & Kebiasaan: Diagnosis Demensia Vaskular. Sering keluyuran keluar rumah dan lupa jalan pulang (wandering). Menggunakan kacamata. Keadaan umum sedang. Jarang olahraga, tidur tidak teratur (3–4 jam di malam hari, sering terbangun).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Memori (Defisit Memori) pada Demensia Vaskular
Kode SDKI: D.0057
Deskripsi Singkat: Gangguan memori adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan kemampuan untuk mengingat informasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang disebabkan oleh perubahan neurologis. Pada kasus Tn. Suwandi, demensia vaskular menyebabkan kerusakan pada area otak yang mengontrol memori dan navigasi spasial, sehingga ia sering keluyuran (wandering) dan lupa jalan pulang. Data menunjukkan ia lupa arah, tidur tidak teratur (3–4 jam malam), dan sering terbangun, yang memperburuk fungsi kognitif. Defisit memori ini mengganggu aktivitas sehari-hari dan keselamatan, karena risiko tersesat atau cedera saat wandering.
Kode SLKI: L.09076
Deskripsi : Status Memori adalah luaran yang diharapkan untuk mengukur perbaikan atau stabilitas fungsi memori. Tujuannya adalah agar Tn. Suwandi menunjukkan peningkatan orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang, serta penurunan episode wandering. Indikator meliputi: kemampuan menyebutkan nama sendiri (skala 1-5 dari buruk ke baik), mengingat alamat rumah, mengenali anggota keluarga, dan mengurangi frekuensi keluyuran. Pada pasien dengan demensia vaskular, luaran ini realistis jika difokuskan pada mempertahankan fungsi yang tersisa dan mencegah penurunan lebih lanjut. Target: dalam 1 minggu, pasien dapat mengingat 2 dari 3 orientasi dasar (nama, tempat, waktu) dengan bantuan cue visual (misal foto rumah).
Kode SIKI: I.06128
Deskripsi : Promosi Memori adalah intervensi keperawatan yang bertujuan mempertahankan dan meningkatkan fungsi memori melalui stimulasi kognitif dan modifikasi lingkungan. Tindakan untuk Tn. Suwandi: (1) Orientasi realitas: setiap kunjungan, perawat menyapa dengan nama, menyebutkan hari, tanggal, dan tempat secara jelas. (2) Stimulasi memori: gunakan album foto keluarga, benda familiar (kacamata, topi petani), dan musik Jawa untuk memicu ingatan. (3) Modifikasi lingkungan: pasang papan nama kamar, tanda arah panah ke toilet/ruang makan, dan alarm pintu untuk mencegah wandering tanpa pengawasan. (4) Latihan kognitif sederhana: teka-teki gambar, menyusun puzzle 4-6 potong, atau menghitung uang logam. (5) Edukasi keluarga: ajarkan cara merespons wandering tanpa memarahi (alihkan perhatian ke aktivitas lain), dan pentingnya rutinitas tidur (hindari kafein, ciptakan suasana tenang malam hari). Intervensi ini dilakukan 2-3 kali sehari selama 15-20 menit, dievaluasi setiap minggu.
Kondisi: Gangguan Pola Tidur (Insomnia) pada Demensia Vaskular
Kode SDKI: D.0055
Deskripsi Singkat: Gangguan pola tidur adalah kondisi di mana individu mengalami kesulitan memulai atau mempertahankan tidur, yang berdampak pada fungsi siang hari. Tn. Suwandi tidur hanya 3-4 jam di malam hari dan sering terbangun, yang merupakan gejala umum demensia vaskular akibat kerusakan sirkuit otak yang mengatur siklus sirkadian (suprachiasmatic nucleus). Faktor pencetus: kurang aktivitas fisik (jarang olahraga), kurang paparan sinar matahari, dan kebingungan akibat wandering siang hari. Data menunjukkan ia sering keluyuran, yang meningkatkan kelelahan tetapi tidak diikuti tidur nyenyak karena disorientasi. Akibatnya, defisit tidur memperburuk fungsi kognitif, memori, dan meningkatkan risiko jatuh atau wandering malam hari.
Kode SLKI: L.05045
Deskripsi : Pola Tidur adalah luaran yang mengukur kualitas dan kuantitas tidur. Target untuk Tn. Suwandi: dalam 2 minggu, total waktu tidur malam meningkat menjadi 5-6 jam dengan frekuensi terbangun <2 kali per malam. Indikator: (1) Skor kualitas tidur (dari 1=buruk hingga 5=baik) berdasarkan laporan keluarga (misal lebih tenang, tidak gelisah). (2) Durasi tidur malam (jam). (3) Jumlah episode terbangun. (4) Tingkat kantuk siang hari (menggunakan Epworth Sleepiness Scale modifikasi). Luaran ini penting karena tidur yang cukup mendukung neuroplastisitas dan memperlambat progresivitas demensia.
Kode SIKI: I.05174
Deskripsi : Manajemen Tidur adalah intervensi untuk meningkatkan kualitas tidur melalui pendekatan non-farmakologis. Tindakan untuk Tn. Suwandi: (1) Higiene tidur: tetapkan jadwal tidur dan bangun yang konsisten (misal tidur pukul 21.00, bangun 05.00). Hindari tidur siang >30 menit. (2) Lingkungan: redupkan lampu 1 jam sebelum tidur, kurangi kebisingan, atur suhu kamar 22-24°C. Pasang tirai gelap. (3) Relaksasi: berikan pijatan lembut pada punggung dan kaki, putar musik instrumental lembut (misal gamelan Jawa pelan) selama 20 menit sebelum tidur. (4) Aktivitas siang: ajak jalan santai di taman 15-20 menit pada pukul 09.00-10.00 untuk paparan sinar matahari, yang membantu mengatur melatonin. (5) Batasi kafein dan makanan berat 4 jam sebelum tidur. (6) Edukasi keluarga: jangan membangunkan pasien jika ia tertidur di kursi, tetapi bantu pindahkan ke tempat tidur. Jika terbangun malam, alihkan dengan tenang (misal beri minum hangat) tanpa stimulasi berlebihan. Intervensi dievaluasi setiap 3 hari.
Kondisi: Risiko Cedera (Jatuh/Tersesat) terkait Wandering pada Demensia Vaskular
Kode SDKI: D.0136
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah kerentanan mengalami cedera fisik akibat interaksi dengan lingkungan, yang diperberat oleh faktor internal dan eksternal. Pada Tn. Suwandi, wandering (keluyuran) akibat defisit memori dan disorientasi meningkatkan risiko jatuh (tersandung, terpeleset) dan tersesat (terjebak di luar rumah, terkena cuaca ekstrem, atau kecelakaan lalu lintas). Data menunjukkan ia sering keluar rumah tanpa tujuan dan lupa jalan pulang. Faktor risiko: usia >65 tahun, gangguan kognitif, penggunaan kacamata (gangguan penglihatan jika tidak dipakai), kurang tidur (3-4 jam), dan lingkungan rumah yang tidak aman (tangga, pintu tanpa kunci). Kondisi ini memerlukan intervensi segera karena dapat mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.14140
Deskripsi : Kontrol Risiko Cedera adalah luaran yang menunjukkan kemampuan individu dan keluarga untuk mengenali dan meminimalkan faktor risiko cedera. Target untuk Tn. Suwandi: dalam 1 minggu, tidak terjadi episode jatuh atau tersesat; keluarga mampu menyebutkan 3 strategi pencegahan. Indikator: (1) Frekuensi wandering (dari >3 kali/hari menjadi ≤1 kali/hari). (2) Penggunaan alat bantu keamanan (misal gelang identitas, GPS tracker) oleh pasien. (3) Skor risiko jatuh (Morse Fall Scale) menurun dari tinggi ke sedang. (4) Keluarga melaporkan modifikasi lingkungan (misal memasang kunci pengaman pintu).
Kode SIKI: I.14513
Deskripsi : Pencegahan Cedera (Khusus Wandering) adalah intervensi keperawatan yang berfokus pada pengamanan lingkungan dan pengawasan. Tindakan untuk Tn. Suwandi: (1) Modifikasi lingkungan: pasang kunci pengaman pintu (childproof lock) di pintu utama dan belakang, pasang alarm pintu (sensor bunyi jika dibuka), dan beri stiker berwarna cerah di pintu kamar mandi dan kamar tidur. (2) Identifikasi: berikan gelang identitas yang mencantumkan nama, alamat, nomor telepon keluarga, dan diagnosis demensia. Pasangkan juga GPS tracker pada pakaian atau jam tangan. (3) Pengawasan: jadwalkan pengawasan bergilir oleh keluarga (misal anak/cucu) terutama pada jam rawan wandering (sore hari). Libatkan tetangga untuk melaporkan jika melihat pasien keluar sendirian. (4) Aktivitas pengganti: salurkan energi wandering dengan aktivitas terstruktur, seperti berjalan di halaman dengan pendamping, menyiram tanaman, atau merapikan barang di kamar. (5) Edukasi keluarga: ajarkan cara mengalihkan wandering (misal "Ayo, kita lihat TV sebentar" atau "Bantu saya mengambil minum") tanpa konfrontasi. Hindari mengunci pasien di kamar karena dapat meningkatkan agitasi. (6) Latihan keseimbangan: latihan berdiri satu kaki selama 10 detik (dibantu) untuk mengurangi risiko jatuh. Intervensi dievaluasi setiap hari melalui catatan keluarga.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri (Kebersihan Diri) terkait Demensia Vaskular
Kode SDKI:
Article No. 26498 | 30 Jul 2026
Klinis : pasien mengalami gangguan mobilitas fisik
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode ICD-10: R26.2
Deskripsi Singkat : Gangguan mobilitas fisik, yang diklasifikasikan dengan kode R26.2 dalam ICD-10, merujuk pada kesulitan dalam berjalan atau berpindah tempat yang tidak disebabkan oleh penyakit spesifik pada sistem saraf atau muskuloskeletal. Kode ini termasuk dalam kategori "Gejala dan Tanda yang Melibatkan Sistem Saraf dan Muskuloskeletal" (R25-R29). Kondisi ini mencakup berbagai manifestasi seperti gait (cara berjalan) yang tidak stabil, kesulitan memulai langkah, langkah yang pendek-pendek (festinasi), atau ketidakmampuan untuk berjalan tanpa bantuan. Berbeda dengan diagnosis spesifik seperti hemiparesis (G81) atau paraplegia (G82), R26.2 digunakan ketika gangguan mobilitas merupakan gejala utama tanpa etiologi yang jelas atau ketika diagnosis definitif belum ditegakkan. Penting untuk dicatat bahwa kode ini bersifat sementara dan memerlukan investigasi lebih lanjut untuk menentukan penyebab yang mendasari, seperti gangguan keseimbangan, kelemahan otot, atau efek samping obat. Dalam konteks simulasi, penggunaan kode ini membantu peserta diklat memahami pentingnya dokumentasi yang akurat untuk gejala yang belum terdiagnosis, serta membedakan antara kode gejala dan kode diagnosis definitif. Deskripsi ini juga menekankan perlunya evaluasi komprehensif untuk mengidentifikasi faktor risiko seperti usia lanjut, kondisi neurologis, atau gangguan muskuloskeletal yang mungkin memerlukan kode spesifik.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 26499 | 30 Jul 2026
Klinis : pasien mengalami gangguan mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan bertujuan. Kondisi ini merupakan masalah keperawatan yang sering ditemui pada pasien dengan berbagai kondisi medis, seperti gangguan muskuloskeletal, neurologis, kardiovaskular, atau pasca operasi. Defisit ini mencakup ketidakmampuan untuk mengubah posisi, berjalan, atau melakukan aktivitas fisik yang memerlukan koordinasi dan kekuatan otot. Pada pasien dengan gangguan mobilitas fisik, terdapat penurunan kemampuan untuk bergerak bebas di lingkungan, yang dapat disebabkan oleh faktor mekanis (seperti nyeri, kelemahan otot, atau kekakuan sendi), faktor neurologis (seperti hemiparesis atau paraplegia), atau faktor psikologis (seperti ketakutan jatuh atau kurang motivasi). Dampak dari kondisi ini meliputi risiko cedera akibat jatuh, gangguan integritas kulit (seperti luka tekan), penurunan massa otot (atrofi), konstipasi, gangguan sirkulasi perifer, dan isolasi sosial akibat ketergantungan pada orang lain. Penegakan diagnosis ini didasarkan pada data subjektif (misalnya, pasien mengeluh sulit menggerakkan kaki atau tangan) dan data objektif (misalnya, rentang gerak sendi terbatas, kekuatan otot menurun, atau penggunaan alat bantu seperti tongkat atau kursi roda). Intervensi keperawatan yang tepat sangat penting untuk memulihkan atau mempertahankan fungsi mobilitas pasien, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Dalam konteks SDKI, diagnosis ini memiliki batasan karakteristik utama seperti ketidakmampuan untuk bergerak di tempat tidur, ketidakmampuan melakukan perpindahan, dan ketidakmampuan berjalan. Faktor-faktor yang berhubungan meliputi nyeri, penurunan kekuatan otot, gangguan kognitif, kelelahan, dan lingkungan yang tidak mendukung (seperti tempat tidur yang terlalu tinggi atau lantai licin).
Kode SLKI: L.06069
Deskripsi: Mobilitas Fisik adalah kemampuan untuk bergerak secara mandiri dan bertujuan dengan menggunakan koordinasi neuromuskular dan rangka. Luaran ini merupakan hasil yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan pada pasien dengan gangguan mobilitas fisik. Dalam SLKI, kriteria hasil yang digunakan untuk mengevaluasi peningkatan mobilitas fisik meliputi beberapa indikator yang terukur. Indikator pertama adalah pergerakan ekstremitas, yang dinilai dari kemampuan pasien untuk menggerakkan lengan, tangan, kaki, dan jari-jari secara aktif. Indikator kedua adalah kekuatan otot, yang diukur menggunakan skala kekuatan otot manual (misalnya skala 0-5). Indikator ketiga adalah rentang gerak (Range of Motion/ROM), yang mencakup kemampuan sendi untuk bergerak dalam batas normal tanpa nyeri. Indikator keempat adalah keseimbangan tubuh, yaitu kemampuan pasien untuk mempertahankan posisi tegak saat duduk atau berdiri tanpa bantuan. Indikator kelima adalah koordinasi, yang dinilai dari kelancaran dan ketepatan gerakan saat melakukan aktivitas seperti meraih benda atau berjalan. Selain itu, luaran ini juga mengukur kemampuan pasien dalam melakukan perpindahan (misalnya dari tempat tidur ke kursi) dan ambulasi (berjalan dengan atau tanpa alat bantu). Skala luaran ini biasanya menggunakan skala Likert 1-5, di mana skor 1 menunjukkan gangguan berat (pasien sepenuhnya bergantung), skor 2 menunjukkan gangguan sedang (membutuhkan bantuan sebagian), skor 3 menunjukkan gangguan ringan (membutuhkan pengawasan), skor 4 menunjukkan cukup (mandiri dengan alat bantu), dan skor 5 menunjukkan baik (mandiri penuh). Target intervensi adalah meningkatkan skor dari level awal ke level yang lebih tinggi sesuai kondisi pasien. Keberhasilan luaran ini juga tercermin dari penurunan risiko jatuh, peningkatan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari, dan berkurangnya keluhan nyeri saat bergerak. SLKI ini menjadi acuan bagi perawat untuk memonitor progres pasien secara objektif dan menyesuaikan rencana intervensi jika target tidak tercapai.
Kode SIKI: I.06137
Deskripsi: Dukungan Mobilitas Fisik adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk memfasilitasi dan meningkatkan kemampuan pasien dalam bergerak secara mandiri dan aman. Intervensi ini dirancang untuk mengatasi keterbatasan fisik, mengurangi risiko komplikasi imobilitas, dan memulihkan fungsi gerak pasien. Tindakan utama dalam intervensi ini meliputi beberapa langkah sistematis. Pertama, perawat melakukan identifikasi dan pengkajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas, seperti tingkat nyeri, kekuatan otot, rentang gerak sendi, keseimbangan, dan status kognitif pasien. Kedua, perawat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai teknik pergerakan yang aman, seperti cara mengubah posisi di tempat tidur (log rolling), teknik duduk dari berbaring, dan penggunaan alat bantu (misalnya tongkat, walker, atau kursi roda). Ketiga, perawat melakukan latihan rentang gerak (ROM) aktif atau pasif sesuai dengan kebutuhan pasien, yang dilakukan secara bertahap dan bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan fleksibilitas sendi serta mencegah kontraktur. Keempat, perawat membantu pasien dalam melakukan mobilisasi bertahap, mulai dari miring kanan-kiri di tempat tidur, duduk di tepi tempat tidur (dangling), berdiri, berjalan dengan bantuan, hingga berjalan mandiri. Kelima, perawat mengelola lingkungan untuk mendukung mobilitas, seperti memastikan lantai tidak licin, pencahayaan cukup, tempat tidur pada ketinggian yang aman, dan meletakkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan pasien. Keenam, perawat mengkolaborasikan dengan fisioterapis untuk program latihan yang lebih spesifik jika diperlukan. Selain tindakan utama, terdapat juga tindakan observasi yang meliputi pemantauan tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas, pemantauan toleransi aktivitas (seperti sesak napas, pusing, atau kelelahan), serta pemantauan status kulit untuk mencegah luka tekan. Tindakan edukasi mencakup ajakan untuk melakukan aktivitas fisik secara bertahap dan pemberian informasi tentang teknik manajemen nyeri non-farmakologis (seperti kompres hangat atau teknik relaksasi). Intervensi ini bersifat individual berdasarkan kondisi pasien, dan dievaluasi secara berkala untuk menyesuaikan intensitas serta jenis latihan. Tujuan akhir dari intervensi ini adalah pasien mampu melakukan mobilitas sesuai dengan kemampuan optimalnya, sehingga kualitas hidup meningkat dan risiko komplikasi akibat imobilitas berkurang.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596