Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24866 | 04 Apr 2026
Klinis : Keluhan hari ini nyeri dada sudah berkurang, sesak napas dan berdebar disangkal ku lemah,kes.cm sesak nafas ,skala nyeri 4 TD: 152/91 mmHg N: 90 x/menit RR : 20 x/menit S:37,1 SPO2: 99
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan pengalaman nyeri akut pada pasien. Fokusnya adalah pada penilaian nyeri yang komprehensif dan berkelanjutan, termasuk lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, dan faktor pencetus serta peredanya. Perawat mengobservasi tanda-tanda verbal dan non-verbal ketidaknyamanan. Manajemen farmakologis dilakukan dengan pemberian analgesik sesuai resep, memantau efektivitas dan efek sampingnya, serta menerapkan prinsip pemberian obat tepat waktu, tepat dosis, dan tepat cara. Secara non-farmakologis, perawat dapat menerapkan teknik distraksi, relaksasi (seperti napas dalam dan guided imagery), terapi dingin atau panas, serta reposisi untuk meningkatkan kenyamanan. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang sifat nyeri, rencana penatalaksanaan, dan penggunaan skala nyeri juga merupakan bagian integral. Tujuan akhir adalah mempertahankan tingkat nyeri pada skala yang dapat ditoleransi pasien, meningkatkan kemampuan fungsional, dan mencegah komplikasi terkait nyeri yang tidak terkontrol seperti peningkatan stres, takikardia, dan hipertensi.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien menjadi pada tingkat yang dapat ditoleransi (biasanya skala 0-3 pada skala 0-10). Pasien mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis yang diajarkan untuk mengatasi nyeri, seperti teknik relaksasi napas. Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan dan kemampuan untuk beristirahat atau beraktivitas sesuai tingkat kemampuan. Tanda-tanda vital (seperti tekanan darah dan denyut nadi) menunjukkan tren menuju rentang normal pasien, yang dapat mengindikasikan berkurangnya respons stres terhadap nyeri. Pasien dan keluarga memahami rencana penatalaksanaan nyeri dan dapat berpartisipasi aktif dalam pelaporannya. Selain itu, tidak terdapat tanda-tanda distress yang berat atau komplikasi yang timbul akibat nyeri yang tidak tertangani.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko volume darah yang dipompa oleh ventrikel tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Pemantauan Kardiovaskuler: Tindakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kondisi kardiovaskuler pasien. Intervensi ini berfokus pada pengawasan ketat terhadap status hemodinamik pasien untuk mendeteksi dini tanda-tanda penurunan fungsi pompa jantung. Perawat secara teratur memantau dan mendokumentasikan tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah (seperti hipertensi 152/91 mmHg yang dapat meningkatkan afterload), denyut nadi (90x/menit), dan saturasi oksigen (SpO2 99%). Perawat mengobservasi adanya gejala seperti dispnea, ortopnea, kelemahan, kelelahan, perubahan status mental, dan edema perifer. Pemeriksaan fisik jantung dan paru, seperti auskultasi bunyi jantung (gallop, murmur) dan suara napas (ronkhi, krekels), dilakukan secara berkala. Pemantauan balance cairan (intake dan output) serta berat badan harian juga penting untuk mendeteksi retensi cairan. Perawat memastikan kepatuhan terhadap terapi farmakologis seperti antihipertensi, dan mengedukasi pasien tentang pembatasan aktivitas, diet rendah garam, serta tanda-tanda perburukan yang harus dilaporkan. Tujuannya adalah mempertahankan curah jantung yang adekuat dengan parameter dalam batas normal, mencegah dekompensasi jantung, dan meminimalkan gejala.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Pemantauan Kardiovaskuler: Tindakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kondisi kardiovaskuler pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi tanda-tanda vital yang stabil dan berada dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien (tekanan darah mendekati target, denyut nadi teratur dan tidak berlebihan). Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan curah jantung yang nyata seperti sesak napas (dispnea), ortopnea, kelemahan berlebihan, atau penurunan kesadaran. Status respirasi dan saturasi oksigen tetap adekuat. Tidak terdapat bukti retensi cairan yang signifikan (edema, peningkatan berat badan tiba-tiba, intake-output tidak seimbang). Pasien memahami pembatasan aktivitas dan dapat berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari tanpa menimbulkan distress kardiovaskuler. Laporan elektrokardiogram (jika dilakukan) tidak menunjukkan aritmia yang mengancam jiwa. Data pemantauan yang akurat dan lengkap tersedia untuk evaluasi perkembangan kondisi pasien.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.04005
Deskripsi : Manajemen Energi: Tindakan untuk mempertahankan energi dan meningkatkan toleransi aktivitas. Intervensi ini ditujukan untuk membantu pasien yang mengalami kelemahan (seperti yang dilaporkan "ku lemah") dalam mengatur penggunaan energinya agar seimbang dengan kemampuannya. Perawat melakukan penilaian terhadap tingkat kelemahan, pola napas, dan tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Perawat bersama pasien menyusun rencana aktivitas yang teratur dengan periode istirahat yang cukup di sela-sela aktivitas. Aktivitas dilakukan secara bertahap, dimulai dari perawatan diri sederhana di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, hingga berjalan jarak pendek dengan bantuan sesuai kebutuhan. Perawat mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas, memecah tugas menjadi bagian-bagian kecil, dan menghindari aktivitas yang menahan napas (mengejan). Lingkungan diatur untuk meminimalkan energi yang dikeluarkan (misalnya, menempatkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan). Nutrisi dan hidrasi yang adekuat juga dipastikan untuk mendukung produksi energi. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya keseimbangan aktivitas dan istirahat sangat ditekankan.
Kode SIKI: I.04005
Deskripsi : Manajemen Energi: Tindakan untuk mempertahankan energi dan meningkatkan toleransi aktivitas. Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien melaporkan peningkatan tingkat energi dan penurunan perasaan lelah. Pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri yang direncanakan tanpa mengalami peningkatan distress yang signifikan, seperti sesak napas, nyeri dada, takikardia (denyut nadi meningkat >20x/menit dari baseline), atau hipotensi. Pasien mendemonstrasikan penggunaan teknik penghematan energi secara mandiri. Terjadi peningkatan bertahap dalam durasi dan intensitas aktivitas yang dapat ditoleransi. Tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas tetap stabil. Pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi tanda-tanda kelelahan dan tahu kapan harus beristirahat. Kualitas hidup pasien terkait kemampuan fungsionalnya menunjukkan perbaikan.
-
Article No. 24867 | 04 Apr 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 30 menit SMRS. Keluarga pasien mengaku pasien tiba tiba pasien jatuh tidak sadarkan diri. Mual (+) muntah (+) Ku sedang, GCS E2V2M5 TD : 152/107 SB: 36.2 RR: 20 x/m HR: 91 x/m SpO2: 94% RA Status Generalis K/L: CA (-/-), SI (-/-) Thorax : vesikular (+/+), rh (-/-), wh (-/-) Abdomen : BU (+), soepel (+), nyeri tekan (-) Ekstremitas atas : akral hangat (+/+), edema -/-, CRT <2 Kekuatan otot sde Ekstremitas bawah : akral hangat (+/+), edema -/-, CRT <2, kekuatan otot sde
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (GCS E2V2M5) dengan Hipertensi Berat
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi Serebral
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Pemantauan Neurologis
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral (Kode 0004)
Definisi: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan. Pada kasus ini, kondisi pasien sangat mengarah pada risiko ini. Pasien datang dengan penurunan kesadaran mendadak (Glasgow Coma Scale/E2V2M5=9) yang merupakan tanda utama gangguan fungsi otak. Tekanan darah yang sangat tinggi (152/107 mmHg) menunjukkan adanya krisis hipertensi, yang merupakan faktor risiko utama untuk gangguan perfusi serebral seperti stroke hemoragik atau ensefalopati hipertensif. Keluhan mual dan muntah juga sering menyertai peningkatan tekanan intrakranial. Meskipun tanda vital lain dan status umum masih dalam batas relatif normal, kombinasi penurunan kesadaran dan hipertensi berat menciptakan situasi yang sangat rentan terhadap ketidakefektifan perfusi otak, baik berupa iskemia maupun perdarahan.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perfusi Serebral (Kode 1401)
Definisi: Luaran ini mengukur tingkat keberhasilan dalam mempertahankan atau mengembalikan aliran darah yang adekuat ke otak. Tujuan utama dari intervensi keperawatan pada pasien ini adalah untuk mencapai luaran "Perfusi Serebral Tercapai". Indikator pencapaiannya meliputi: tingkat kesadaran yang membaik (GCS mendekati atau mencapai 15), tekanan darah yang terkontrol dalam rentang yang ditargetkan (biasanya sistolik <140 mmHg untuk kasus ini), tidak ada keluhan sakit kepala hebat, mual, atau muntah, serta fungsi motorik dan sensorik yang utuh. Pemantauan terhadap luaran ini harus dilakukan secara ketat dan berkelanjutan karena perubahan dapat terjadi dengan cepat. Target jangka pendek mungkin stabilisasi kondisi, sedangkan target jangka panjang adalah mencegah defisit neurologis permanen.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Pemantauan Neurologis (Kode 3510)
Definisi: Pengumpulan dan analisis data pasien secara komprehensif untuk mencegah atau mendeteksi komplikasi sistem saraf. Pada pasien dengan risiko tinggi ini, intervensi Pemantauan Neurologis menjadi kritis. Intervensi ini harus dilaksanakan secara sistematis dan sering (misalnya, setiap 30 menit hingga 1 jam, atau sesuai protokol). Aktivitas yang termasuk dalam intervensi ini adalah: 1) Pengkajian GCS secara berkala dan teliti (membandingkan hasil E2V2M5 dengan data sebelumnya untuk mendeteksi perbaikan atau perburukan). 2) Pemeriksaan tanda vital, khususnya tekanan darah dan nadi, untuk menilai respon terhadap terapi dan mendeteksi fluktuasi berbahaya. 3) Pemeriksaan pupil (ukuran, kesamaan, reaksi terhadap cahaya) untuk mendeteksi tanda peningkatan tekanan intrakranial. 4) Pemeriksaan kekuatan motorik dan sensasi pada keempat ekstremitas (seperti yang telah dimulai dalam pengkajian) untuk mendeteksi kelemahan atau paralisis baru. 5) Memantau adanya kejang atau perubahan pola pernapasan (seperti Cheyne-Stokes). 6) Mendokumentasikan semua temuan dengan akurat dan melaporkan setiap perubahan negatif segera kepada tim medis. Selain itu, perawat juga harus melakukan pemantauan keselamatan karena penurunan kesadaran membuat pasien berisiko tinggi terhadap cedera, seperti jatuh dari tempat tidur atau aspirasi. Intervensi ini tidak berdiri sendiri tetapi berintegrasi dengan intervensi lain seperti manajemen hipertensi dan pemberian oksigen jika diperlukan, dengan tujuan akhir mencapai luaran perfusi serebral yang adekuat.
-
Article No. 24868 | 04 Apr 2026
Klinis : datang dengan keluhan tidak sadarkan diri sejak pukul 07:00 wib , sebelumnya pernah di rawat di RS sarila 1 minggu yang lalu. riwayat serangan stroke yang ke 3 KU lemah, Kes Sopor TD : 143/78 HR : 123 RR : 32 SPO : 95 dengan NRM 15lpm S : 36.8 Mata: CA -/-, SI -/-, reflex cahaya+/+ Leher: PKGB -/- Thorax: Simetris ka/ki, Paru: SDV +/+ , RBH +/+, wh-/- Abdomen: supel, BU (+) dbn, nyeri tekan epigastrium (-) Genitalia : Tidak ada kelainan Extremitas: Akral hangat +/+, CRT <2 detik, edema -/- sensorik: sulit dievaluasi motorik: lateralisasi (-) refleks fisiologis: +3/+1 // +1/+1 refleks patologis: (-/-// -/-) NIHHS : 29 Lab 04/04 Hemoglobin 12.34 Hematokrit 36.7 Lekosit 10.22 Trombosit 223 Neutrofil 84.2 Limfosit 10.7 Natrium (Na) 148 Kalium (K) 4.0 Chlorida (Cl) 119 Calsium (Ca2+) 1.2 pH 7.37 Glukosa Darah Sewaktu 136 Ureum 109.1 Kreatinin 1.43 Ro Thorax (4/4/26) Kesan : - Efusi pleura dextra - Besar cor tak valid dinilai CT Scan (4/4/26) Kesan : - Sinusitis maxillaris sinistra dan sphenoidales dextra - Multipel infark cerebri di lobus temporalis dextra dan di periventrikel dextra - Atrophy cerebri - Tak tampak EDH, SDH, SAH, maupun IVH pada Head CT Scan saat ini - Tak tampak gambaran herniasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Serebral
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolik otak. Pada pasien ini, didukung oleh riwayat stroke berulang (ke-3), kesadaran sopor, dan temuan CT Scan multipel infark cerebri serta nilai NIHSS yang sangat tinggi (29) yang mengindikasikan defisit neurologis berat.
Kode SLKI: L.14016
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima (TD, HR, RR, SpO2). 2) Tidak ada penurunan kesadaran lebih lanjut. 3) Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial tidak ada/menurun. 4) Fungsi neurologis stabil atau membaik. Kriteria hasil ini harus dimodifikasi sesuai kondisi pasien yang kritis, dimana tujuan awal adalah stabilitas dan pencegahan memburuk. Pemantauan ketat GCS, tanda vital, dan tanda neurologis fokal adalah intervensi keperawatan utama untuk mengevaluasi pencapaian kriteria ini.
Kode SIKI: I.14095
Deskripsi : 1) Monitor status neurologis secara ketat dan berkelanjutan (tingkat kesadaran/GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, refleks) setiap jam atau sesuai protokol. 2) Monitor dan catat tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu, SpO2) setiap jam atau lebih sering jika tidak stabil. 3) Pertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat dengan kepala dalam posisi netral untuk memfasilitasi aliran darah vena dari otak. 4) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan SpO2 >95%. 5) Lakukan suction dengan teknik steril dan hati-hati jika diperlukan, batasi durasi untuk menghindari peningkatan tekanan intrakranial. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi medis (antihipertensi, neuroprotektor, terapi cairan) sesuai instruksi dokter dengan memantau efek dan respons pasien. 7) Minimalkan stimulasi yang tidak perlu (kebisingan, cahaya, manipulasi) yang dapat memicu peningkatan tekanan intrakranial. 8) Lakukan perawatan kulit, mobilisasi pasif, dan range of motion exercise dengan hati-hati untuk mencegah komplikasi imobilisasi. 9) Berikan edukasi dan dukungan emosional pada keluarga mengenai kondisi pasien dan rencana perawatan.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Jalan Napas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya ancaman obstruksi jalan napas atau ketidakmampuan membersihkan sekret. Pada pasien ini, risiko sangat tinggi karena kesadaran sopor (menurunnya refleks batuk dan kemampuan menelan), adanya efusi pleura yang dapat membatasi ekspansi paru, dan peningkatan sekret akibat temuan sinusitis serta RBH (+).
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Jalan napas tetap paten, ditandai dengan: 1) Suara napas bersih, tidak ada stridor atau mengi. 2) Frekuensi napas dalam rentang normal. 3) Tidak ada sianosis. 4) Ekspansi dada simetris. 5) Nilai analisa gas darah dalam rentang normal. Pada pasien dengan kesadaran menurun, pemantauan ketat bunyi napas, frekuensi, dan upaya napas adalah kunci untuk mendeteksi dini gangguan jalan napas.
Kode SIKI: I.09006
Deskripsi : 1) Posisikan pasien dengan posisi semi fowler atau lateral jika memungkinkan untuk mencegah aspirasi dan memaksimalkan ekspansi dada. 2) Auskultasi bunyi napas setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan untuk mendeteksi adanya ronki, wheezing, atau penurunan bunyi napas. 3) Monitor pola, frekuensi, dan kedalaman pernapasan serta penggunaan otot bantu napas. 4) Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika diindikasikan dan kondisi pasien memungkinkan. 5) Lakukan suction jalan napas atas dan bawah dengan teknik steril, tepat indikasi, dan hati-hati untuk mencegah trauma mukosa dan hipoksia. 6) Kolaborasi pemberian oksigenasi yang adekuat (melalui kanul atau masker) sesuai hasil analisa gas darah dan saturasi oksigen. 7) Monitor produksi sputum (jumlah, warna, konsistensi). 8) Kolaborasi pemberian nebulizer atau obat bronkodilator sesuai program dokter. 9) Pertahankan kelembaban udara yang adekuat.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Gangguan dalam proses pengeluaran urine. Pada pasien dengan stroke berat dan penurunan kesadaran, gangguan ini bersifat fungsional, yaitu ketidakmampuan untuk berkemih secara mandiri akibat kerusakan kontrol saraf pusat atau penurunan kesadaran. Hal ini berisiko menyebabkan retensi urine atau inkontinensia.
Kode SLKI: L.06005
Deskripsi : Eliminasi urine efektif, ditandai dengan: 1) Output urine dalam rentang normal (1-2 ml/kgBB/jam). 2) Kandung kemih tidak distensi. 3) Urine jernih, tidak berbau menyengat. 4) Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi saluran kemih. Tujuan pada pasien ini adalah mempertahankan haluaran urine yang adekuat dan mencegah komplikasi seperti infeksi atau kerusakan ginjal lebih lanjut, yang didukung oleh nilai ureum dan kreatinin yang sudah meningkat.
Kode SIKI: I.06029
Deskripsi : 1) Monitor dan catat intake dan output cairan setiap 24 jam. 2) Palpasi daerah suprapubik secara berkala untuk mendeteksi distensi kandung kemih. 3) Lakukan kateterisasi urine sesuai indikasi (retenksi urine) dengan teknik steril, dan rawat kateter dengan baik untuk mencegah infeksi. 4) Jika tanpa kateter, lakukan toileting assistance atau pemasangan penampung urine (kondom urinal/pads) dengan menjaga kebersihan dan keutuhan kulit area genital. 5) Monitor karakteristik urine (warna, kejernihan, bau). 6) Kolaborasi monitor fungsi ginjal (ureum, kreatinin) secara berkala. 7) Berikan perawatan kulit periarea secara rutin untuk mencegah iritasi dan dekubitus.
-
Article No. 24869 | 04 Apr 2026
Klinis : S: Pasien dengan penurunan kesadaran O : KU lemah, Kes Somnolent TD : 122/70 HR : 76 RR : 55 SPO : 97 S : 36.8
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Somnolent)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Penurunan Kesadaran adalah keadaan di mana individu mengalami penurunan dalam kemampuan untuk berespons terhadap rangsangan lingkungan, mulai dari kebingungan ringan hingga koma. Kondisi ini ditandai dengan perubahan tingkat kesadaran seperti letargi, somnolen, stupor, atau koma. Pada kasus ini, pasien menunjukkan kondisi somnolen, yaitu keadaan mengantuk yang dalam di mana pasien dapat dibangunkan dengan rangsangan yang kuat tetapi segera tertidur kembali ketika rangsangan dihentikan. Penurunan kesadaran merupakan gejala serius yang mengindikasikan gangguan pada fungsi otak, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti gangguan metabolik (hipoglikemia, ketoasidosis), hipoksia, trauma kepala, stroke, infeksi sistem saraf pusat, keracunan, atau gagal organ. Asuhan keperawatan berfokus pada pemantauan ketat status neurologis, mempertahankan fungsi vital, dan mengidentifikasi serta menangani penyebab yang mendasarinya. Perawat harus melakukan penilaian kesadaran secara berkala menggunakan skala seperti Glasgow Coma Scale (GCS) untuk mendeteksi perubahan secara dini. Selain itu, perlindungan jalan napas adalah prioritas mutlak karena penurunan kesadaran berisiko tinggi menyebabkan aspirasi dan kegagalan pernapasan. Intervensi juga mencakup pemenuhan kebutuhan dasar seperti nutrisi, eliminasi, dan integritas kulit, serta memberikan dukungan dan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi pasien dan proses perawatan.
Kode SLKI: 2006
Deskripsi : SLKI 2006: Status Neurologis. Kriteria hasil yang diharapkan adalah status neurologis pasien dapat dipertahankan atau membaik. Hal ini dicapai melalui pemantauan yang komprehensif dan berkelanjutan. Perawat akan memantau dan mendokumentasikan tingkat kesadaran (menggunakan GCS), ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda vital (terutama pola pernapasan), serta fungsi motorik dan sensorik secara teratur dan setiap ada perubahan kondisi. Tujuannya adalah mendeteksi secara dini tanda-tanda penurunan lebih lanjut atau peningkatan. Selain itu, perawat akan mempertahankan kepala pasien dalam posisi netral dan elevasi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran darah otak dan mengurangi tekanan intrakranial. Perlindungan dari cedera juga merupakan bagian penting, seperti menggunakan bingkai tempat tidur dan meminimalkan risiko jatuh. Hasil yang diharapkan adalah pasien menunjukkan tingkat responsivitas yang stabil atau membaik, refleks pupil yang normal, dan tidak ada deteriorasi lebih lanjut pada fungsi neurologis. Keluarga juga akan dilibatkan dalam pengamatan sederhana dan diinformasikan tentang tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan segera.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : SIKI 3410: Pemantauan Neurologis. Intervensi keperawatan spesifik ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis untuk mengkaji dan mengelola pasien dengan gangguan neurologis. Pertama, perawat akan melakukan pengkajian status neurologis secara komprehensif termasuk tingkat kesadaran (GCS), orientasi, ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, kekuatan motorik, dan respon sensorik. Pengkajian ini dilakukan secara rutin (misalnya setiap jam atau sesuai protokol) dan setiap kali ada perubahan kondisi. Kedua, perawat akan memantau dan mencatat tanda-tanda vital dengan cermat, memperhatikan pola pernapasan (seperti Cheyne-Stokes, Kussmaul, atau apnea) yang dapat mengindikasikan gangguan batang otak. Pada data pasien, RR 55 per menit merupakan temuan kritis yang menunjukkan distress pernapasan dan memerlukan evaluasi segera. Ketiga, perawat akan memastikan keamanan jalan napas dengan posisi yang tepat (misalnya posisi lateral atau semi-prone jika memungkinkan), melakukan penghisapan lendir jika diperlukan, dan mempersiapkan alat bantu napas. Keempat, perawat akan menciptakan lingkungan yang tenang, mengurangi stimulasi yang tidak perlu, dan menjelaskan semua prosedur kepada pasien meskipun ia tampak tidak responsif. Kelima, kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang (seperti CT scan, pemeriksaan laboratorium) dan pemberian terapi sesuai penyebab (seperti pemberian glukosa, antidotum, atau manajemen tekanan intrakranial) adalah bagian integral dari intervensi ini. Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan sangat penting untuk melacak tren dan mengevaluasi efektivitas intervensi.
-
Article No. 24850 | 03 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen yang menginvasi tubuh, terkait dengan adanya lesi/kavitas di jaringan paru yang menjadi media pertumbuhan dan penyebaran Mycobacterium tuberculosis, serta penurunan status imunologis yang ditandai dengan demam, kelelahan, dan anoreksia.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Pasien akan menunjukkan perilaku dan kondisi yang mencegah penularan infeksi. Tujuan ini dicapai melalui serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memutus rantai penularan, meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dan memastikan kepatuhan terapi. Indikator keberhasilannya meliputi: pasien memahami dan konsisten menerapkan etika batuk (menutup mulut dengan tisu/lengan), membuang dahak di tempat yang aman (sampah tertutup atau diludahkan di wadah berdesinfektan), menggunakan masker dengan benar terutama saat berinteraksi, serta memisahkan peralatan makan dan pribadi. Pasien juga akan menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang pentingnya pengobatan lengkap dan jangka panjang, serta tanda-tanda efek samping obat yang perlu dilaporkan. Lingkungan sekitar pasien tetap aman dari risiko penularan berkat tindakan isolasi respiratori yang dilakukan. Selain itu, status nutrisi dan hidrasi pasien membaik untuk mendukung sistem imun dalam melawan infeksi.
Kode SIKI: I.13029
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Infeksi. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. Pada pasien tuberkulosis paru, tindakan spesifik yang dilakukan perawat meliputi: pertama, menerapkan dan mengajarkan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) khususnya Precautions Droplet/Airborne sesuai kebijakan fasilitas, termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tepat seperti masker N95. Kedua, melakukan edukasi kesehatan secara komprehensif kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit TB, cara penularan, pentingnya pengobatan hingga tuntas (6-8 bulan), dan konsekuensi jika terputus (Multi Drug Resistant TB). Ketiga, memantau tanda-tanda klinis dan gejala seperti karakter batuk, jumlah dan warna dahak, pola demam, serta status pernapasan secara berkala. Keempat, mengkolaborasikan pemberian terapi obat anti tuberkulosis (OAT) dan memantau efek sampingnya seperti gangguan hepatik, gangguan penglihatan, atau neuritis perifer. Kelima, mendorong peningkatan asupan nutrisi tinggi kalori dan protein serta cairan yang adekuat untuk mendukung proses penyembuhan. Keenam, melakukan skrining dan edukasi pada kontak erat pasien. Ketujuh, memastikan ventilasi ruangan yang baik jika perawatan dilakukan di rumah. Semua tindakan ini didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi perkembangannya untuk mencegah komplikasi dan memutus rantai penularan di masyarakat.
-
Article No. 24851 | 03 Apr 2026
Klinis : Ny. M (60 thn) paska PCI menolak makan RS karena merasa hambar dan ingin makanan dari rumah yang tinggi natrium. Pasien sangat cemas memikirkan biaya. Instruksi: Susun intervensi SIKI yang menggabungkan diet sehat namun tetap menghargai preferensi budaya, serta intervensi holistik untuk kecemasannya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh dan Ansietas
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan berat badan, asupan nutrisi, dan massa otot akibat ketidakmampuan mencerna atau mengabsorpsi nutrisi terkait dengan faktor biologis, psikologis, dan ekonomi. Pada kasus Ny. M, faktor risiko utama adalah penolakan untuk makan makanan rumah sakit karena preferensi rasa (hambar vs. makanan rumah tinggi natrium) dan kecemasan terhadap biaya perawatan yang memengaruhi kondisi psikologis dan kepatuhan diet.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Status nutrisi pasien membaik, ditandai dengan: 1) Pasien dapat mengidentifikasi jenis makanan yang sesuai dengan kondisi kesehatannya pasca PCI (rendah lemak jenuh dan rendah natrium). 2) Asupan nutrisi oral adekuat dengan memodifikasi makanan dari rumah untuk memenuhi kebutuhan diet jantung. 3) Berat badan stabil atau dalam rentang ideal. 4) Pasien melaporkan penurunan tingkat kecemasan terkait biaya dan pengelolaan penyakit. 5) Pasien berpartisipasi dalam perencanaan menu yang menghargai preferensi budaya.
Kode SIKI: I.1.1.1.1; I.2.1.1.1; I.4.1.1.1
Deskripsi : Intervensi keperawatan holistik yang menggabungkan manajemen nutrisi dan ansietas adalah sebagai berikut: Pertama, lakukan Edukasi Kesehatan (I.1.1.1.1) secara individual dan empatik. Jelaskan hubungan langsung antara asupan natrium tinggi, hipertensi, dan risiko komplikasi pasca PCI seperti restenosis. Gunakan alat bantu visual untuk menunjukkan kandungan natrium dalam makanan tradisional yang biasa dikonsumsi pasien dan alternatif penggantinya. Jangan hanya melarang, tetapi tawarkan solusi konkret: diskusikan cara memodifikasi resep masakan rumah dengan menggunakan rempah-rempah alami (bawang putih, jahe, kunyit, daun salam) sebagai pengganti garam, MSG, atau kecap asin. Libatkan keluarga (jika ada) dalam edukasi ini untuk membangun sistem pendukung di rumah. Kedua, lakukan Manajemen Nutrisi (I.2.1.1.1) dengan pendekatan kolaboratif dan menghargai budaya. Ajak pasien dan keluarga (yang membawakan makanan) berdiskusi dengan ahli gizi rumah sakit untuk menciptakan "jalan tengah". Misalnya, izinkan pasien menerima makanan dari rumah, namun sebelum dikonsumsi, perawat atau ahli gizi dapat membantu mengevaluasi dan memodifikasi sederhana seperti menyisihkan kuah kaldu yang tinggi natrium, menambahkan sayuran rebus segar, atau memisahkan bagian yang digoreng. Negosiasikan porsi dan frekuensi. Sediakan juga bumbu rendah natrium dari rumah sakit untuk ditambahkan ke makanan pasien. Pantau asupan dan respon pasien secara ketat. Ketiga, lakukan Manajemen Ansietas (I.4.1.1.1) secara komprehensif. Awali dengan terapeutik komunikasi untuk mengidentifikasi sumber kecemasan secara mendetail (besarnya biaya, ketakutan tidak mampu membayar, dampak pada keluarga). Validasi perasaannya bahwa kekhawatiran tersebut wajar. Kemudian, berikan informasi yang jelas dan transparan tentang rincian biaya yang telah dan akan dikeluarkan, serta fasilitas yang dapat diakses seperti konsultasi dengan pekerja sosial medis untuk mengeksplorasi kemungkinan bantuan finansial, asuransi, atau program pembiayaan dari rumah sakit. Ajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam (deep breathing) atau relaksasi progresif yang dapat dilakukan di tempat tidur untuk mengurangi ketegangan segera. Tingkatkan rasa kontrol pasien dengan melibatkannya dalam setiap keputusan perawatan dan perencanaan pemulangan. Intervensi ini harus dilakukan secara berkelanjutan, dievaluasi setiap hari, dan didokumentasikan dengan baik untuk memastikan pendekatan yang benar-benar holistik, yaitu memenuhi kebutuhan biologis (nutrisi tepat), psikologis (mengurangi ansietas), sosial (melibatkan keluarga dan budaya), dan spiritual (memberikan ketenangan dan harapan).
-
Article No. 24852 | 03 Apr 2026
Klinis : Pola Nafas Tidak Efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Nafas Tidak Efektif
Kode SDKI: B.1
Deskripsi Singkat: Pola nafas tidak efektif adalah kondisi di mana individu mengalami perubahan pola pernapasan yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh, ditandai dengan frekuensi, irama, atau kedalaman pernapasan yang abnormal, serta peningkatan upaya bernapas. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti obstruksi jalan napas, gangguan neuromuskular, nyeri, ansietas, atau penyakit paru. Manifestasinya meliputi takipnea, bradipnea, pernapasan dangkal, penggunaan otot bantu pernapasan, sianosis, penurunan saturasi oksigen, dan perubahan status mental. Diagnosa ini menekankan pada respons individu terhadap ketidakmampuan mempertahankan pertukaran gas yang optimal, yang berisiko menyebabkan hipoksia dan komplikasi lebih lanjut jika tidak ditangani dengan tepat. Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mengembalikan dan mempertahankan pola pernapasan yang efektif serta mencegah komplikasi.
Kode SLKI: B.1.1
Deskripsi : SLKI dengan kode B.1.1 adalah "Pola nafas efektif". Luaran yang diharapkan adalah bahwa setelah diberikan asuhan keperawatan, klien dapat mencapai dan mempertahankan pola pernapasan yang efektif. Kriteria luaran ini meliputi: (1) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal sesuai usia, (2) Irama pernapasan teratur, (3) Kedalaman pernapasan adekuat (tidak dangkal atau terlalu dalam), (4) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan (seperti retraksi interkostal atau penggunaan otot leher), (5) Bunyi napas bersih/jelas di seluruh lapang paru, (6) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (biasanya >95%), (7) Tidak adanya sianosis (warna kulit dan membran mukosa normal), (8) Gas darah arteri (jika diukur) dalam batas normal, (9) Klien melaporkan tidak merasa sesak napas atau nyeri dada saat bernapas, dan (10) Klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami dispnea. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengatasi masalah pola nafas tidak efektif, memastikan pertukaran gas yang optimal, dan mencegah hipoksia jaringan.
Kode SIKI: B.1.1.1
Deskripsi : SIKI dengan kode B.1.1.1 adalah "Manajemen jalan nafas". Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan utama untuk mengatasi atau mencegah pola nafas tidak efektif dengan memastikan patensi jalan napas. Deskripsi intervensinya mencakup serangkaian tindakan sistematis: (1) Memposisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, posisi tripod untuk klien dengan PPOK), (2) Melakukan penghisapan lendir (suction) pada jalan napas atas dan/atau bawah sesuai indikasi dan protokol steril untuk membersihkan sekret, (3) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif, (4) Memberikan terapi oksigen sesuai program dokter dan memonitor efektivitasnya, (5) Memonitor status pernapasan secara ketat (frekuensi, irama, kedalaman, upaya napas, saturasi oksigen), (6) Melakukan fisioterapi dada (seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural) jika diperlukan untuk mobilisasi sekret, (7) Memastikan hidrasi adekuat (cairan intravena atau minum) untuk mengencerkan sekret, (8) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau obat mukolitik sesuai resep, (9) Menggunakan alat bantu seperti nasal airway atau oral airway jika diperlukan untuk menjaga patensi, (10) Melakukan manuver chin-lift atau jaw-thrust pada klien dengan penurunan kesadaran, (11) Mempersiapkan dan membantu prosedur intubasi jika diperlukan, dan (12) Mendidik klien dan keluarga tentang tanda-tanda distress pernapasan dan kapan harus mencari bantuan. Intervensi ini bersifat komprehensif, menggabungkan tindakan mandiri perawat dan kolaborasi, dengan fokus pada pencegahan obstruksi, mobilisasi sekret, dan optimalisasi pertukaran udara untuk mencapai pola nafas yang efektif.
-
Article No. 24853 | 03 Apr 2026
Klinis : Ny. A, 27 tahun, G1P1A0, hari ke-3 postpartum setelah persalinan normal, datang dengan keluhan sering menangis tanpa sebab yang jelas sejak melahirkan. Pasien mengungkapkan perasaan sedih, mudah tersinggung, cemas berlebihan, serta merasa tidak mampu menjadi ibu yang baik dan takut merawat bayinya. Ia juga mengeluhkan sulit tidur meskipun bayi sedang tidur dan sering merasa lelah. Suami pasien mengatakan bahwa Ny. A menjadi lebih pendiam, kurang berinteraksi dengan bayi, bahkan terkadang menolak menyusui. Pada pemeriksaan, tanda vital dalam batas normal yaitu tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,7°C, dan frekuensi napas 20 x/menit, serta tidak ditemukan komplikasi fisik pasca persalinan. Namun secara psikologis pasien tampak murung, afek labil, dan kurang responsif, sehingga kondisi ini mengarah pada postpartum baby blues yang dipengaruhi oleh perubahan hormonal dan ketidakmampuan beradaptasi dengan peran baru sebagai ibu.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Postpartum Baby Blues (Depresi Pasca Persalinan Ringan)
Kode ICD-10: F53.0
Deskripsi Singkat : Kondisi Ny. A mengarah pada postpartum baby blues, suatu gangguan mood ringan dan sangat umum yang terjadi dalam hari-hari pertama hingga minggu setelah persalinan. Gejala utamanya meliputi perasaan sedih, mudah menangis, kecemasan, lelah berlebihan, mudah tersinggung, dan labilitas emosional, seperti yang dialami pasien. Gangguan ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi hormonal pascapersalinan yang dramatis (seperti penurunan estrogen dan progesteron), kelelahan fisik, serta tekanan psikologis dalam beradaptasi dengan peran dan tanggung jawab baru sebagai ibu. Meski menimbulkan distress, baby blues biasanya bersifat sementara (berlangsung hingga dua minggu) dan tidak mengganggu fungsi ibu secara signifikan dalam merawat diri atau bayinya, meski pada kasus ini tampak gejala penarikan diri. Kode ICD-10 F53.0 mengacu pada "Gangguan mental dan perilaku yang terkait dengan puerperium, tidak tergolongkan di tempat lain", dengan deskripsi mencakup gangguan depresif ringan pascapersalinan. Penting untuk membedakannya dari depresi pascapersalinan mayor (F32.-) yang gejalanya lebih berat dan menetap. Penanganan utama meliputi dukungan emosional, edukasi, istirahat yang cukup, dan pemantauan ketat untuk mencegah perkembangan menjadi depresi yang lebih serius.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24854 | 03 Apr 2026
Klinis : Ny. A, 27 tahun, G1P1A0, hari ke-3 postpartum setelah persalinan normal, datang dengan keluhan sering menangis tanpa sebab yang jelas sejak melahirkan. Pasien mengungkapkan perasaan sedih, mudah tersinggung, cemas berlebihan, serta merasa tidak mampu menjadi ibu yang baik dan takut merawat bayinya. Ia juga mengeluhkan sulit tidur meskipun bayi sedang tidur dan sering merasa lelah. Suami pasien mengatakan bahwa Ny. A menjadi lebih pendiam, kurang berinteraksi dengan bayi, bahkan terkadang menolak menyusui. Pada pemeriksaan, tanda vital dalam batas normal yaitu tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,7°C, dan frekuensi napas 20 x/menit, serta tidak ditemukan komplikasi fisik pasca persalinan. Namun secara psikologis pasien tampak murung, afek labil, dan kurang responsif, sehingga kondisi ini mengarah pada postpartum baby blues yang dipengaruhi oleh perubahan hormonal dan ketidakmampuan beradaptasi dengan peran baru sebagai ibu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Proses Pikir / Gangguan Proses Pikir (Postpartum Blues / Depresi Postpartum Ringan)
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Gangguan proses pikir adalah keadaan ketika seseorang mengalami perubahan dalam proses kognitif, persepsi, emosi, dan perilaku yang memengaruhi kemampuannya dalam menilai realitas, berpikir logis, dan berfungsi secara sosial. Pada kasus Ny. A, kondisi ini dimanifestasikan sebagai gejala-gejala postpartum blues atau depresi postpartum ringan, yang ditandai dengan afek depresif, labilitas emosional, kecemasan, perasaan tidak mampu, gangguan tidur, dan penarikan diri dari interaksi dengan bayi. Gangguan ini dipicu oleh perubahan hormonal pascapersalinan yang dramatis (penurunan estrogen dan progesteron), kelelahan fisik, tekanan psikologis dalam menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai ibu, serta tuntutan perawatan bayi yang terus-menerus. Pada Ny. A, ketidakmampuan beradaptasi dengan peran baru menjadi faktor utama yang memperberat kondisi, di mana ia merasa tidak kompeten dan takut merawat bayinya, sehingga mengganggu proses pikir normalnya dalam menilai diri dan situasi secara objektif. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko berkembang menjadi depresi postpartum mayor.
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : SLKI L.03132 adalah "Koping terhadap Perubahan Peran". Luaran yang diharapkan adalah pasien mampu mengidentifikasi, menerima, dan beradaptasi secara efektif dengan perubahan peran yang dialami (dalam hal ini menjadi seorang ibu), serta menunjukkan perilaku koping yang sehat. Pada konteks Ny. A, luaran ini sangat relevan karena inti masalahnya adalah ketidakmampuan beradaptasi. Pencapaian luaran ini akan ditandai dengan beberapa kriteria hasil: (1) Pasien dapat mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya mengenai peran barunya secara verbal, (2) Pasien mulai menunjukkan interaksi positif dengan bayinya (seperti menggendong, menatap, atau berbicara kepada bayi), (3) Pasien mau dan mampu menyusui atau merawat bayi dengan bimbingan, (4) Pasien mengidentifikasi sumber dukungan yang dimiliki (suami, keluarga), (5) Penurunan frekuensi tangisan dan ekspresi perasaan sedih yang tidak jelas, serta (6) Pasien mulai dapat merencanakan aktivitas perawatan diri dan bayi secara sederhana. Pencapaian luaran ini akan membantu memulihkan proses pikirnya karena ia mulai mampu melihat realitas peran barunya dengan lebih seimbang dan menemukan strategi untuk menghadapinya.
Kode SIKI: I.05270
Deskripsi : SIKI I.05270 adalah "Dukungan dalam Pengambilan Keputusan". Intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien dalam menganalisis situasi, mengidentifikasi pilihan, dan membuat keputusan yang tepat terkait perawatan diri dan bayinya, sehingga dapat meningkatkan rasa kontrol dan kompetensi diri. Implementasinya pada Ny. A meliputi beberapa tindakan keperawatan yang spesifik: Pertama, membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan empati dan tanpa menghakimi untuk menciptakan rasa aman bagi Ny. A dalam mengungkapkan perasaan. Kedua, melakukan pendampingan dan edukasi tentang kondisi postpartum blues, meyakinkan bahwa perasaannya adalah hal yang umum dan dapat diatasi, serta menjelaskan pengaruh perubahan hormonal. Ketiga, membantu Ny. A mengidentifikasi kekhawatiran spesifik (misalnya, takut memandikan bayi, khawatir ASI kurang) dan bersama-sama mencari solusi atau langkah-langkah praktis yang terstruktur dan sederhana. Keempat, melibatkan suami dan keluarga dalam sesi edukasi untuk meningkatkan dukungan sosial, termasuk membagi tugas perawatan bayi. Kelima, melatih teknik relaksasi sederhana (seperti napas dalam) untuk mengatasi kecemasan saat muncul. Keenam, mendorong dan memfasilitasi istirahat yang cukup bagi Ny. A dengan mengatur jadwal. Ketujuh, memberikan reinforcement positif atas setiap usaha kecil yang berhasil dilakukan Ny. A dalam merawat bayinya. Intervensi ini bersifat kolaboratif, memberdayakan, dan berfokus pada kekuatan pasien, sehingga diharapkan dapat mengembalikan fungsi proses pikirnya secara bertahap dengan mengurangi beban kognitif dan emosional yang menghambat pengambilan keputusan adaptif.
-
Article No. 24839 | 02 Apr 2026
Klinis : 1. Data Subjektif (DS) Keluarga mengatakan pasien tiba-tiba mengalami kelemahan pada sisi kiri tubuh Keluarga mengatakan pasien bicara tidak jelas (pelo) Keluarga mengatakan pasien mengeluh pusing sebelum kelemahan terjadi Keluarga mengatakan kejadian berlangsung ± 1 jam sebelum dibawa ke Puskesmas 2. Data Objektif (DO) Kesadaran menurun (GCS 12: E3 V4 M5) Tekanan darah meningkat (190/110 mmHg) Hemiparesis sinistra (kekuatan otot kiri 1–2/5) Bicara pelo (disartria) Mulut mencong ke satu sisi RR 24x/menit Nadi 96x/menit Pupil isokor, refleks cah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah yang bersirkulasi ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, status neurologis stabil atau membaik (kesadaran, kekuatan motorik, bicara), tidak ada keluhan sakit kepala hebat, mual, atau muntah, tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Pantau dan catat status neurologis secara teratur menggunakan alat ukur seperti GCS. Pantau dan catat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). Pertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan tekanan intrakranial. Kolaborasi pemberian terapi obat-obatan sesuai resep (seperti antihipertensi, neuroprotektor) untuk mengontrol tekanan darah dan meningkatkan perfusi otak. Minimalkan stimulasi lingkungan (suara bising, cahaya terang) untuk mencegah peningkatan tekanan intrakranial. Lakukan tindakan keperawatan dengan lembut dan hindari manuver yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (seperti mengejan, batuk kuat). Kolaborasi dalam pemberian oksigen sesuai kebutuhan untuk memastikan oksigenasi adekuat. Kaji fungsi menelan sebelum memberikan nutrisi atau cairan per oral untuk mencegah aspirasi. Berikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya memantau kondisi pasien dan melaporkan perubahan neurologis.
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Penurunan, keterlambatan, atau tidak adanya kemampuan untuk menerima, memproses, mengirimkan, dan menggunakan suatu sistem simbol.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Komunikasi verbal efektif, ditandai dengan: Pasien dapat menyampaikan kebutuhan dasar secara verbal atau non-verbal, pasien memahami pesan yang disampaikan, ekspresi wajah sesuai dengan pesan, mengurangi frustrasi dalam berkomunikasi.
Kode SIKI: 1901
Deskripsi : Kaji kemampuan komunikasi pasien, termasuk pemahaman dan ekspresi. Gunakan metode komunikasi alternatif yang sesuai (misalnya gambar, papan tulis, gerakan mata, isyarat sederhana). Berikan waktu yang cukup bagi pasien untuk merespons; jangan terburu-buru. Ajukan pertanyaan yang dapat dijawab dengan "ya" atau "tidak" atau gerakan kepala. Validasi dan konfirmasi pemahaman pasien terhadap pesan yang disampaikan. Libatkan keluarga dalam metode komunikasi yang digunakan. Minimalkan gangguan lingkungan (kebisingan) saat berkomunikasi. Jaga kontak mata dan gunakan bahasa tubuh yang mendukung. Berikan reinforcement positif atas upaya komunikasi pasien. Kolaborasi dengan terapis wicara (jika tersedia) untuk latihan dan terapi komunikasi. Edukasi keluarga tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan pasien.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Mobilitas fisik membaik, ditandai dengan: Peningkatan kekuatan otot dan rentang gerak sendi, dapat melakukan pergerakan dengan bantuan sesuai kemampuan, tidak terjadi komplikasi imobilisasi (dekubitus, kontraktur, atelektasis), dapat melakukan aktivitas perawatan diri dengan bantuan.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : Kaji tingkat kekuatan otot dan rentang gerak sendi secara berkala. Lakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif dan aktif pada ekstremitas yang mengalami kelemahan. Bantu dan ajarkan pasien untuk melakukan perpindahan posisi di tempat tidur (misalnya miring kanan-kiri) secara teratur setiap 2 jam. Lakukan mobilisasi bertahap sesuai toleransi dan kondisi neurologis pasien (dari duduk di tepi tempat tidur, berdiri, hingga berjalan dengan bantuan). Gunakan alat bantu mobilitas jika diperlukan (seperti tripod, walker). Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan yang terstruktur. Lakukan perawatan kulit untuk mencegah dekubitus pada area yang tertekan. Ajarkan dan bantu keluarga dalam teknik mobilisasi dan perawatan pasien. Berikan edukasi tentang pentingnya mobilisasi dini dan pencegahan komplikasi imobilisasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung singkat.
Kode SLKI: 2101
Deskripsi : Nyeri teratasi, ditandai dengan: Skala nyeri menurun (misalnya menjadi ≤3 dari skala 0-10), ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat dan tidur dengan cukup, tanda-tanda vital dalam rentang normal, pasien melaporkan penurunan nyeri.
Kode SIKI: 2101
Deskripsi : Kaji karakteristik nyeri (skala, lokasi, durasi, kualitas) menggunakan alat ukur yang sesuai (misalnya Numeric Rating Scale/NRS). Observasi respons nonverbal terhadap nyeri (ekspresi wajah, gelisah, menangis). Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (misalnya distraksi, relaksasi napas dalam, posisi yang nyaman). Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter, pantau efektivitas dan efek sampingnya. Evaluasi respons pasien terhadap intervensi pengurangan nyeri yang diberikan. Lakukan reposisi pasien dengan teknik yang tepat untuk mengurangi ketegangan otot. Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri dan cara penanganannya.