Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26570 | 06 Aug 2026
Klinis : DM tipe 2 (tidak terkontrol), poliuria ekstrim, mual muntah (4-5 kali), anoreksia, penurunan kesadaran 4 jam sebelum masuk rumah sakit, TD: 80/50, mukosa bibir sangat kering
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan dan Elektrolit (terkait Diabetes Melitus Tipe 2 tidak terkontrol dengan poliuria ekstrim, mual muntah, anoreksia, dan syok hipovolemik)
Kode SDKI: D.0023 (Defisit Volume Cairan) & D.0017 (Gangguan Keseimbangan Elektrolit) — Prioritas utama: D.0023
Deskripsi Singkat: Defisit volume cairan adalah kondisi ketika seorang individu mengalami penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Pada pasien DM tipe 2 tidak terkontrol, hiperglikemia berat menyebabkan diuresis osmotik (poliuria ekstrim) yang mengakibatkan kehilangan air dan elektrolit (natrium, kalium, klorida) secara berlebihan melalui urin. Mual muntah (4-5 kali) dan anoreksia memperberat kondisi karena asupan oral menurun drastis. Penurunan kesadaran 4 jam sebelum masuk rumah sakit, tekanan darah 80/50 mmHg (hipotensi), dan mukosa bibir sangat kering merupakan manifestasi klinis dehidrasi berat yang mengancam jiwa (syok hipovolemik). Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti ketoasidosis diabetik (KAD) atau koma hiperosmolar hiperglikemik (HHS).
Deskripsi Lengkap SDKI: Defisit volume cairan didefinisikan sebagai penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Hal ini merujuk pada dehidrasi yang terjadi tanpa disertai penurunan natrium serum (dehidrasi isotonik, hipertonik, atau hipotonik tergantung pada proporsi kehilangan air dan elektrolit). Pada pasien DM tipe 2 tidak terkontrol, mekanisme utama adalah diuresis osmotik: ketika kadar glukosa darah sangat tinggi (>300 mg/dL), ginjal tidak mampu mereabsorpsi semua glukosa, sehingga glukosa yang berlebih menarik air dan elektrolit ke dalam tubulus renal, menyebabkan produksi urin yang sangat banyak (poliuria). Jika asupan cairan tidak mengimbangi (karena anoreksia dan mual muntah), maka volume intravaskuler menurun, perfusi jaringan memburuk, tekanan darah turun, dan terjadi penurunan kesadaran akibat hipoperfusi serebral. Tanda klinis yang muncul: mukosa bibir kering, turgor kulit menurun (tidak disebutkan tetapi dapat dinilai), oliguria (tahap lanjut), takikardia, hipotensi, dan perubahan status mental. Diagnosis ini memiliki karakteristik mayor: penurunan turgor kulit, mukosa membran kering, kelemahan, dan rasa haus (polidipsia). Karakteristik minor: peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan berat badan mendadak, penurunan urine output, dan peningkatan hematokrit. Faktor yang berhubungan: kehilangan cairan aktif (poliuria), gangguan mekanisme regulasi (hiperglikemia), dan asupan cairan tidak adekuat (mual muntah, anoreksia). Kondisi ini termasuk dalam kategori fisiologis dengan domain nutrisi-cairan-elektrolit.
Kode SLKI: L.03028 (Keseimbangan Cairan) & L.03020 (Keseimbangan Elektrolit) — Prioritas: L.03028
Deskripsi SLKI: Keseimbangan cairan adalah luaran yang menggambarkan terpenuhinya kebutuhan cairan tubuh, ditandai dengan membaiknya status hidrasi, hemodinamik, dan fungsi organ. Untuk pasien dengan defisit volume cairan berat akibat DM tidak terkontrol, luaran yang diharapkan setelah intervensi 1x24 jam adalah: (1) Membaiknya status hidrasi dengan kriteria: membran mukosa lembab, turgor kulit elastis kembali, tidak ada rasa haus berlebihan, dan berat badan stabil; (2) Membaiknya hemodinamik dengan kriteria: tekanan darah sistolik ≥100 mmHg, denyut nadi normal (60-100x/menit), capillary refill time <2 detik, dan tidak ada ortostatik hipotensi; (3) Membaiknya output urine dengan kriteria: produksi urine ≥30 ml/jam (0,5-1 ml/kgBB/jam), warna urine jernih atau kuning muda, dan berat jenis urine normal (1,003-1,030); (4) Membaiknya status kesadaran dengan kriteria: GCS 15 (Compos Mentis) atau kembali ke tingkat kesadaran normal, tidak ada kebingungan atau letargi; (5) Membaiknya keseimbangan elektrolit dengan kriteria: kadar natrium serum 135-145 mEq/L, kalium serum 3,5-5,0 mEq/L, klorida 98-106 mEq/L, dan pH darah 7,35-7,45. Skala luaran menggunakan tingkat dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target yang ditetapkan adalah minimal skala 4 (cukup membaik) dalam 24 jam pertama, dengan evaluasi berkala setiap 6 jam untuk kondisi kritis.
Kode SIKI: I.03116 (Manajemen Cairan) & I.03117 (Pemantauan Cairan) — Prioritas: I.03116 dan I.03117
Deskripsi SIKI: Manajemen cairan adalah tindakan keperawatan untuk mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan tubuh. Intervensi utama yang dilakukan pada pasien dengan defisit volume cairan berat dan syok hipovolemik meliputi: (1) Observasi dan pemantauan ketat: periksa tanda-tanda vital setiap 15 menit hingga stabil (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi), pantau saturasi oksigen, ukur intake dan output cairan secara akurat setiap jam (catat jumlah urine, muntah, dan keringat), periksa turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan capillary refill time setiap 2 jam, pantau berat badan harian, dan awasi tanda-tanda kelebihan cairan (edema, distensi vena jugularis, crackles pada paru) untuk mencegah overload. (2) Terapeutik: berikan cairan intravena sesuai program medis — pada syok hipovolemik, biasanya diberikan NaCl 0,9% (Ringer Laktat) dengan bolus cepat 20 ml/kgBB dalam 30 menit pertama, kemudian dilanjutkan dengan infus maintenance berdasarkan kebutuhan (rumus Holliday-Segar atau berdasarkan kehilangan cairan), dan berikan insulin reguler sesuai program medis untuk mengatasi hiperglikemia (poliuria akan berkurang setelah glukosa darah turun). (3) Edukasi: setelah kondisi stabil, berikan edukasi tentang pentingnya asupan cairan oral bertahap (2-3 liter/hari sesuai toleransi), jelaskan tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai, dan ajarkan cara memantau berat badan harian. (4) Kolaborasi: kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan laboratorium (elektrolit, glukosa darah, BUN, kreatinin, pH darah, dan keton urin setiap 6-8 jam), kolaborasi untuk pemberian antiemetik (misal ondansetron) untuk mengatasi mual muntah, dan kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi yang tepat (makanan tinggi serat dan rendah gula setelah mual teratasi). (5) Pemantauan cairan (I.03117) sebagai intervensi pendukung: hitung balance cairan setiap shift, dokumentasikan intake oral, parenteral, dan output (urine, muntah, drainase), serta laporkan segera jika output urine <30 ml/jam atau tekanan darah <90/60 mmHg. Semua tindakan didokumentasikan dalam catatan keperawatan dengan format SOAP, dan evaluasi dilakukan setiap 6 jam untuk menilai perkembangan menuju luaran yang ditetapkan. Intervensi ini termasuk dalam kategori fisiologis dengan subkategori nutrisi-cairan-elektrolit, dan memerlukan kompetensi perawat yang terlatih dalam penanganan kegawatdaruratan metabolik.
-
Article No. 26560 | 04 Aug 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru (TB Paru)
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Tuberkulosis paru adalah infeksi bakteri menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, terutama menyerang parenkim paru. Kode A15.0 digunakan untuk tuberkulosis paru yang dikonfirmasi secara bakteriologis maupun histologis, baik dengan atau tanpa pemeriksaan sensitivitas obat. Kondisi ini ditandai dengan gejala batuk produktif lebih dari 2 minggu, demam, sesak napas, penurunan nafsu makan, dan gambaran lesi pada rontgen toraks, yang sesuai dengan temuan klinis pasien (suara napas bronkial di paru kanan atas). Kode ini termasuk dalam kategori A15 (Tuberkulosis saluran pernapasan, dikonfirmasi secara bakteriologis dan histologis). Perlu dicatat bahwa jika hasil konfirmasi bakteriologis belum tersedia atau diagnosis hanya berdasarkan gambaran klinis dan radiologis, kode alternatif seperti A16.0 (TB paru, tidak dikonfirmasi secara bakteriologis atau histologis) dapat dipertimbangkan. Namun, berdasarkan deskripsi yang menyebutkan "diagnosis awal" dengan lesi di paru, dan mengingat standar kodifikasi untuk kasus TB aktif yang biasanya memerlukan konfirmasi, A15.0 adalah pilihan yang tepat jika hasil pemeriksaan dahak (BTA) atau kultur positif. Dalam konteks simulasi, kode ini merepresentasikan kasus TB paru dengan keterlibatan lobus atas yang khas. Penting untuk melengkapi evaluasi dengan tes sensitivitas obat dan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan regimen terapi yang sesuai.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26561 | 04 Aug 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Tuberkulosis Paru (TB Paru) pada pasien dewasa dengan gejala batuk produktif, demam, sesak napas, dan anoreksia.
Kode SDKI: D.0001 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif)
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Pada pasien TB paru, kondisi ini terjadi akibat akumulasi sputum yang kental, berlebih, dan sulit dikeluarkan karena proses inflamasi pada bronkus dan alveoli. Lesi di paru kanan atas yang terlihat pada rontgen menunjukkan adanya infiltrat dan kemungkinan kavitas yang memicu produksi mukus berlebih. Suara napas bronkial yang terdengar mengindikasikan adanya konsolidasi atau pemadatan jaringan paru, yang menyempitkan lumen jalan napas dan mengganggu pertukaran gas. Pasien mengalami sesak napas karena obstruksi parsial oleh sekret, yang diperberat oleh kelemahan fisik akibat demam dan penurunan nafsu makan (anoreksia) yang berlangsung 2 minggu. Tanda klinis yang mungkin muncul meliputi batuk tidak efektif, dispnea, penggunaan otot bantu pernapasan, perubahan irama dan kedalaman napas, serta auskultasi terdengar ronkhi atau wheezing. Ketidakmampuan membersihkan sekret ini dapat menyebabkan hipoksemia, atelektasis, dan memperberat kerusakan parenkim paru jika tidak ditangani. Faktor yang berhubungan meliputi peningkatan produksi sekret, retensi sekret, kelelahan, dan penurunan refleks batuk akibat kondisi sistemik. Intervensi utama difokuskan pada pengeluaran sekret secara efektif, optimalisasi ventilasi, dan pencegahan komplikasi.
Kode SLKI: L.01001 (Bersihan Jalan Napas)
Deskripsi: Luaran yang diharapkan setelah dilakukan asuhan keperawatan adalah bersihan jalan napas membaik. Kriteria hasil yang dapat diukur meliputi: (1) Batuk efektif meningkat dengan skala dari 1 (cukup) menjadi 5 (sangat meningkat) – pasien mampu mengeluarkan sputum secara spontan tanpa bantuan alat; (2) Produksi sputum menurun dari skala 5 (sangat banyak) menjadi 2 (sedikit) – volume sputum berkurang, warna berubah dari purulen menjadi mukoid; (3) Dispnea menurun dari skala 5 (sangat berat) menjadi 2 (ringan) – pasien tidak mengeluh sesak saat istirahat maupun aktivitas ringan; (4) Suara napas tambahan (ronkhi/wheezing) menurun dari skala 5 (sangat banyak) menjadi 1 (tidak ada) – auskultasi paru bersih; (5) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit) dengan pola napas teratur; (6) Saturasi oksigen meningkat ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan; (7) Kemampuan mengeluarkan sekret meningkat – pasien dapat melakukan batuk efektif dan teknik napas dalam secara mandiri; (8) Tidak terjadi sianosis dan penggunaan otot bantu napas. Kriteria ini dievaluasi dalam rentang waktu 3x24 jam hingga 7x24 jam tergantung keparahan. Pada pasien TB paru, luaran ini penting untuk mencegah penyebaran infeksi ke segmen paru lain dan memastikan kepatuhan terhadap terapi obat anti tuberkulosis (OAT) yang juga membantu mengurangi beban sekret.
Kode SIKI: I.01001 (Manajemen Jalan Napas)
Deskripsi: Intervensi keperawatan utama yang dilakukan untuk mencapai luaran bersihan jalan napas adalah Manajemen Jalan Napas. Tindakan ini bertujuan untuk membebaskan jalan napas dari obstruksi dan meningkatkan ventilasi. Berikut rincian tindakan berdasarkan SIKI: (1) Observasi – monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, irama), auskultasi suara napas setiap 4 jam, monitor saturasi oksigen, dan observasi karakteristik sputum (warna, jumlah, konsistensi, bau). (2) Terapeutik – pertahankan kepatenan jalan napas dengan posisi semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru dan drainase postural; lakukan fisioterapi dada (perkusi dan vibrasi) pada area paru kanan atas selama 10-15 menit setiap 8 jam untuk melonggarkan sekret; ajarkan dan bantu pasien melakukan batuk efektif (napas dalam, tahan 2-3 detik, batuk kuat) setiap 2-4 jam; lakukan suction jika ada indikasi (jika pasien tidak mampu batuk, namun hati-hati karena TB paru dapat menyebabkan hemoptisis – hindari trauma); berikan nebulizer dengan bronkodilator (jika diresepkan) untuk melebarkan bronkus dan mengencerkan sekret. (3) Edukasi – ajarkan pasien teknik napas dalam dan batuk efektif secara mandiri; jelaskan pentingnya hidrasi minimal 2-3 liter/hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sputum; anjurkan untuk menghindari iritan (asap rokok, debu) dan menjaga lingkungan bersih; informasikan tanda bahaya (sesak meningkat, batuk darah) yang harus segera dilaporkan. (4) Kolaborasi – berikan oksigen sesuai indikasi (jika saturasi <90%) dengan nasal kanul 2-4 L/menit; kolaborasi dengan dokter untuk pemberian mukolitik (seperti ambroxol atau N-asetilsistein) dan obat anti tuberkulosis (OAT) sesuai rejimen; kolaborasi dengan ahli gizi untuk meningkatkan asupan protein dan kalori guna memperbaiki status imun dan kekuatan otot pernapasan. Evaluasi efektivitas intervensi dilakukan dengan mengukur kriteria hasil pada SLKI setiap shift. Dokumentasikan respons pasien terhadap tindakan dan perubahan karakteristik sputum. Jika sputum menjadi lebih cair dan mudah dikeluarkan, serta suara napas membaik, intervensi dilanjutkan; jika tidak ada perbaikan dalam 48 jam, evaluasi ulang rencana tindakan dan konsultasikan dengan tim medis.
Kode SDKI: D.0005 (Gangguan Pertukaran Gas)
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada pasien TB paru dengan lesi di paru kanan atas, terjadi kerusakan parenkim paru (alveoli) akibat proses inflamasi granulomatosa. Lesi tersebut menyebabkan penebalan membran alveolus, destruksi septa alveolar, dan pembentukan kavitas yang mengurangi luas permukaan efektif untuk difusi gas. Akibatnya, terjadi gangguan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch) – area paru yang terkena masih mendapat perfusi darah tetapi tidak terventilasi baik, sehingga darah yang melewati area tersebut tidak teroksigenasi dengan optimal. Pasien mengeluh sesak napas, yang merupakan mekanisme kompensasi tubuh untuk meningkatkan ventilasi. Demam yang dialami pasien juga meningkatkan kebutuhan metabolik tubuh akan oksigen, memperberat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial (konsolidasi) yang mengindikasikan area paru yang padat, sehingga pertukaran gas di area tersebut sangat terganggu. Tanda klinis yang mungkin muncul meliputi dispnea saat aktivitas maupun istirahat, takipnea, sianosis perifer atau sentral, gelisah, penurunan kesadaran (pada kasus berat), pemeriksaan gas darah menunjukkan hipoksemia (PaO2 <80 mmHg) dan/atau hiperkapnia (PaCO2 >45 mmHg), serta penurunan saturasi oksigen (<90%). Faktor yang berhubungan meliputi perubahan membran alveolus-kapiler, ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, dan peningkatan kebutuhan oksigen. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan asidosis respiratorik, gagal napas, dan kerusakan organ akibat hipoksia.
Kode SLKI: L.01003 (Pertukaran Gas)
Deskripsi: Luaran yang diharapkan adalah pertukaran gas membaik setelah diberikan intervensi keperawatan. Kriteria hasil yang terukur meliputi: (1) Dispnea menurun dari skala 5 (sangat berat) menjadi 2 (ringan) – pasien dapat bernapas dengan nyaman tanpa sesak saat istirahat; (2) Bunyi napas tambahan menurun – auskultasi tidak ditemukan ronkhi atau bronkial pada area yang terkena; (3) Takipnea membaik – frekuensi napas kembali ke rentang normal (16-20 x/menit); (4) Sianosis tidak ada – membran mukosa dan ujung jari berwarna merah muda; (5) Saturasi oksigen (SpO2) meningkat dari <90% menjadi ≥95% pada udara ruangan atau dengan oksigen tambahan; (6) Analisis gas darah (AGD) membaik – PaO2 dalam rentang 80-100 mmHg dan PaCO2 dalam rentang 35-45 mmHg, pH 7,35-7,45; (7) Tingkat kesadaran membaik – pasien tidak gelisah, mampu berorientasi baik terhadap waktu, tempat, dan orang; (8) Ekspansi paru meningkat – gerakan dada simetris dan dalam. Kriteria ini dievaluasi secara berkala, minimal setiap 6 jam pada fase akut. Pada pasien TB paru, perbaikan pertukaran gas sangat dipengaruhi oleh respons terhadap OAT dan pengeluaran sekret. Luaran ini penting untuk memastikan perfusi jaringan adekuat dan mencegah komplikasi gagal napas.
Kode SIKI: I.01003 (Manajemen Pertukaran Gas)
Deskripsi: Intervensi keperawatan untuk mengatasi gangguan pertukaran gas difokuskan pada optimalisasi oks
Article No. 26562 | 04 Aug 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Tuberkulosis Paru dengan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif) dan D.0003 (Gangguan Pertukaran Gas)
Deskripsi Singkat: Pasien pria 45 tahun dengan tuberkulosis paru aktif mengalami akumulasi sekret kental yang berlebihan akibat proses inflamasi dan nekrosis jaringan paru. Hal ini menyebabkan penyempitan lumen jalan napas, peningkatan kerja napas, dan hipoksemia. Bersihan jalan napas tidak efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Gangguan pertukaran gas didefinisikan sebagai kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada kondisi ini, lesi di paru kanan atas (sesuai rontgen) dan suara napas bronkial mengindikasikan konsolidasi alveoli yang mengganggu difusi gas. Batuk produktif selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan anoreksia memperberat kondisi metabolik dan imunologis pasien, meningkatkan risiko komplikasi seperti atelektasis, pneumonia lebih lanjut, dan gagal napas. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada mobilisasi sekret, optimalisasi ventilasi, dan pemantauan status oksigenasi secara ketat. Secara patofisiologis, Mycobacterium tuberculosis menginduksi respons imun seluler yang membentuk granuloma, nekrosis kaseosa, dan kavitasi. Jaringan yang rusak menghasilkan eksudat purulen dan mucus hipersekresi. Refleks batuk mungkin melemah karena kelelahan fisik dan demam, sehingga sekret tertahan. Hal ini menyebabkan peningkatan resistensi jalan napas, penurunan komplians paru, dan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch). Hipoksemia terjadi akibat shunting darah melalui area paru yang tidak terventilasi. Gangguan pertukaran gas juga diperburuk oleh demam yang meningkatkan kebutuhan oksigen jaringan. Kehilangan nafsu makan menyebabkan defisiensi nutrisi, yang menurunkan kekuatan otot pernapasan dan imunitas, sehingga siklus penyakit memburuk. Dengan demikian, diagnosis keperawatan utama yang tepat adalah bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental dan obstruksi, serta gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus-kapiler akibat proses infeksi. Kedua diagnosis ini saling terkait dan memerlukan pendekatan holistik.
Kode SLKI: L.01001 (Bersihan Jalan Napas) dan L.01003 (Pertukaran Gas)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: (1) Bersihan Jalan Napas: Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien menunjukkan kepatenan jalan napas yang meningkat dengan kriteria hasil: batuk efektif (mampu mengeluarkan sekret tanpa bantuan alat), frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 x/menit), tidak ada suara napas tambahan (ronki, wheezing), mampu mengeluarkan sputum dengan karakteristik jernih atau berkurangnya purulen, tidak ada sianosis, dan skala dyspnea menurun dari skala 3 (sesak saat aktivitas ringan) menjadi skala 1 (sesak hanya saat aktivitas berat). Indikator tambahan: kepatenan jalan napas (skala 1-5, meningkat dari 2 menjadi 4), produksi sputum (menurun dari 5 menjadi 2), dan kemampuan batuk efektif (meningkat dari 2 menjadi 4). (2) Pertukaran Gas: Setelah tindakan keperawatan selama 3x24 jam, status oksigenasi membaik dengan kriteria: saturasi oksigen perifer (SpO2) ≥95% pada udara ruangan, PaO2 ≥80 mmHg (jika ada analisis gas darah), PaCO2 dalam rentang normal (35-45 mmHg), tidak ada dispnea saat istirahat, tidak ada sianosis, dan tingkat kesadaran membaik (GCS 15). Indikator lain: pola napas efektif (frekuensi dan kedalaman normal), tidak ada gelisah atau perubahan perilaku akibat hipoksia, dan toleransi aktivitas meningkat. Skala target untuk indikator "Pertukaran Gas" adalah meningkat dari skala 2 (cukup) menjadi skala 4 (baik) pada skala Likert 1-5. Luaran ini mengacu pada Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang diterbitkan oleh PPNI, yang menekankan pada hasil yang terukur, realistis, dan berorientasi pada pasien. Evaluasi dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan respons klinis pasien terhadap terapi medis (OAT - Obat Anti Tuberkulosis) dan dukungan nutrisi. Jika pasien menunjukkan perbaikan, intervensi dilanjutkan; jika tidak, rencana keperawatan direvisi.
Kode SIKI: I.01001 (Manajemen Jalan Napas) dan I.01003 (Pemantauan Pertukaran Gas)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk mengatasi diagnosis tersebut adalah: (1) Manajemen Jalan Napas (I.01001): Tindakan mandiri perawat meliputi: a) Observasi: monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), auskultasi suara napas setiap 2 jam untuk mendeteksi adanya ronki atau wheezing, monitor karakteristik sputum (warna, jumlah, konsistensi, bau), dan monitor saturasi oksigen secara kontinu. b) Terapeutik: posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru, lakukan fisioterapi dada (postural drainase dengan perkusi dan vibrasi pada area paru kanan atas selama 10-15 menit setiap 4 jam), ajarkan teknik batuk efektif (napas dalam, tahan 2-3 detik, batukkan dengan kuat), lakukan suction jika perlu (hati-hati pada pasien TB untuk mencegah penyebaran aerosol), berikan nebulizer dengan bronkodilator (jika diresepkan) dan mukolitik untuk mengencerkan sekret. c) Edukasi: ajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi (minum 2-3 liter/hari jika tidak kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak, jelaskan tanda bahaya (sesak meningkat, dahak berdarah, demam tinggi) yang harus segera dilaporkan, dan edukasi tentang etika batuk (menutup mulut dengan tisu, membuang dahak dalam wadah tertutup berisi desinfektan). d) Kolaborasi: berikan obat sesuai program dokter (ekspektoran, mukolitik, antibiotik, dan OAT), serta kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan pernapasan diafragma. (2) Pemantauan Pertukaran Gas (I.01003): a) Observasi: monitor frekuensi dan ritme napas, monitor SpO2 secara kontinu, monitor analisis gas darah (AGD) jika tersedia (terutama PaO2 dan PaCO2), monitor tanda-tanda hipoksia (gelisah, takikardia, sianosis, penurunan kesadaran), dan monitor tanda-tanda hiperkapnia (sakit kepala, letargi, tremor). b) Terapeutik: berikan oksigen tambahan sesuai indikasi (gunakan nasal kanul 2-4 L/menit untuk target SpO2 ≥95%, atau masker rebreathing parsial jika kondisi lebih berat), pertahankan posisi semi-Fowler untuk meningkatkan ventilasi, dan berikan istirahat yang cukup untuk mengurangi kebutuhan oksigen. c) Edukasi: ajarkan pasien teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi kecemasan dan sesak, jelaskan tujuan pemberian oksigen dan pentingnya tidak melepas alat tanpa sepengetahuan perawat, serta edukasi tentang tanda-tanda kekurangan oksigen yang harus dilaporkan. d) Kolaborasi: kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi oksigen dan penyesuaian dosis OAT, serta kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan makanan tinggi kalori dan protein (karena pasien mengalami anoreksia) untuk mendukung perbaikan jaringan paru dan meningkatkan kekuatan otot pernapasan. Semua intervensi ini didokumentasikan dalam catatan keperawatan dengan menggunakan format SOAP (Subjektif, Objektif, Assessment, Plan) dan dievaluasi setiap shift. PPNI menekankan bahwa intervensi harus berbasis bukti (evidence-based nursing practice) dan disesuaikan dengan kondisi individual pasien. Pada pasien TB, penting juga untuk menerapkan kewaspadaan udara (airborne precautions) dengan menggunakan masker N95 dan menempatkan pasien di ruang isolasi tekanan negatif jika memungkinkan, untuk mencegah penularan. Namun, fokus intervensi keperawatan tetap pada manajemen jalan napas dan pemantauan pertukaran gas yang ketat.
Article No. 26563 | 04 Aug 2026
Klinis : Ny. K dirawat dengan riwayat Stroke Iskemik (sistem saraf) yang mengalami hemiparesis kanan dan afasia motorik ringan. Pasien memiliki penurunan visus & pendengaran akibat proses penuaan (sistem sensorik persepsi). Karena imobilisasi lama di rumah dan kebersihan kulit yang kurang, pasien mengalami ulkus dekubitus derajat 2 di area sakrum (sistem integumen) yang tampak kemerahan dan berbau. Pasien juga memiliki riwayat lupus / SLE (sistem imun) aktif dengan ruam malar rash dan rentan infeksi sekunder.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan hemiparesis kanan akibat stroke iskemik
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik mandiri yang melibatkan ekstremitas, yang disebabkan oleh kerusakan neuromuskular (hemiparesis kanan) pada pasien stroke. Pada Ny. K, kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan menggerakkan sisi tubuh kanan, kesulitan berpindah posisi, dan ketergantungan pada orang lain untuk aktivitas sehari-hari. Hemiparesis menyebabkan kelemahan otot ekstremitas kanan, penurunan kekuatan otot, dan gangguan koordinasi motorik. Kondisi ini diperberat oleh imobilisasi lama di rumah yang menyebabkan penurunan massa otot (atrofi), kekakuan sendi, dan risiko kontraktur. Gangguan mobilitas fisik berdampak pada pemenuhan aktivitas hidup sehari-hari (ADL) seperti makan, mandi, berpakaian, dan toileting. Pada Ny. K, keterbatasan mobilitas juga berkontribusi pada pembentukan ulkus dekubitus karena tekanan yang berkepanjangan pada area sakrum. Penurunan visus dan pendengaran akibat proses penuaan memperberat risiko jatuh dan ketidakmampuan navigasi lingkungan. Secara fisiologis, hemiparesis terjadi akibat lesi pada korteks motorik primer atau jalur kortikospinal kontralateral. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya kontrol volunter pada otot-otot ekstremitas kanan. Dampak psikologis meliputi frustrasi, penurunan harga diri, dan risiko depresi karena kehilangan kemandirian.
Kode SLKI: L.05070
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan mobilitas fisik meningkat dengan kriteria hasil: (1) Pergerakan ekstremitas meningkat dari skala 1 (berat) menjadi skala 4 (ringan); (2) Kekuatan otot meningkat dengan skala 4-5 pada skala manual muscle testing; (3) Rentang gerak (ROM) meningkat; (4) Kemampuan berpindah meningkat; (5) Ketergantungan pada alat bantu menurun; (6) Tanda vital normal (TD 120/80 mmHg, N 80-100x/menit, RR 16-20x/menit, S 36,5-37,5°C). Luaran ini mencakup aspek neuromuskular, kardiovaskular, dan fungsional. Indikator spesifik yang dapat diukur meliputi: pasien mampu menggerakkan ekstremitas kanan minimal 30 derajat untuk sendi bahu dan siku, mampu duduk di tepi tempat tidur selama 15 menit dengan bantuan minimal, mampu melakukan latihan ROM pasif dan aktif asisstif. Kriteria hasil juga mencakup tidak adanya kontraktur baru, tidak adanya atrofi otot yang progresif, dan pasien mampu menggunakan sisi tubuh yang sehat untuk kompensasi. Evaluasi menggunakan skala fungsi motorik (misal: Functional Independence Measure) dengan target peningkatan minimal 20% dari baseline. Perawat perlu mendokumentasikan perkembangan kekuatan otot setiap shift dan melibatkan tim fisioterapi untuk mencapai luaran yang optimal.
Kode SIKI: I.05183
Deskripsi : Intervensi utama: Dukungan mobilisasi. Tindakan yang dilakukan: (1) Identifikasi toleransi fisik pasien dalam bergerak (kaji kemampuan ROM, kekuatan otot, dan keseimbangan); (2) Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum, selama, dan setelah aktivitas; (3) Monitor kondisi umum (kelemahan, pusing, sesak); (4) Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (walker, kursi roda, atau tongkat); (5) Libatkan keluarga dalam membantu mobilisasi; (6) Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi; (7) Ajarkan teknik mobilisasi yang aman (misal: log roll untuk berpindah dari miring ke telentang); (8) Anjurkan melakukan mobilisasi dini (misal: duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur); (9) Ajarkan latihan rentang gerak (ROM) pasif dan aktif pada ekstremitas yang mengalami hemiparesis; (10) Kolaborasi dengan fisioterapis dalam perencanaan dan pelaksanaan mobilisasi. Intervensi tambahan: (a) Manajemen nyeri jika ada nyeri saat bergerak; (b) Edukasi keluarga tentang posisi yang benar dan teknik transfer; (c) Pengaturan posisi yang aman untuk mencegah jatuh; (d) Monitor integritas kulit terutama area sakrum selama mobilisasi. Frekuensi: latihan ROM dilakukan 2-3 kali sehari selama 15-30 menit. Tindakan ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi, mencegah kontraktur, meningkatkan sirkulasi, dan mencegah komplikasi imobilisasi.
Kondisi: Kerusakan Integritas Kulit/Jaringan berhubungan dengan imobilisasi lama dan kebersihan kulit kurang (ulkus dekubitus derajat 2 di sakrum)
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Kerusakan integritas kulit/jaringan adalah gangguan pada epidermis dan/atau dermis yang disebabkan oleh tekanan berkepanjangan, gesekan, dan kelembaban. Pada Ny. K, ulkus dekubitus derajat 2 di area sakrum ditandai dengan luka terbuka superfisial yang tampak kemerahan (eritema) dan berbau, menunjukkan adanya kerusakan sebagian ketebalan kulit (partial thickness) yang melibatkan epidermis dan sebagian dermis. Imobilisasi lama di rumah menyebabkan tekanan terus-menerus pada area sakrum terutama saat berbaring telentang. Kebersihan kulit yang kurang meningkatkan risiko infeksi karena akumulasi keringat, urine, dan feses yang bersifat iritatif. Bau pada luka mengindikasikan adanya kolonisasi bakteri atau infeksi sekunder. Kondisi ini diperberat oleh status imun yang lemah akibat lupus (SLE) aktif, yang menghambat proses penyembuhan luka. Penurunan sensasi akibat stroke dan penurunan visus/pendengaran membuat pasien tidak mampu mendeteksi tanda-tanda kerusakan kulit lebih awal. Faktor risiko yang berkontribusi: (1) tekanan kapiler >32 mmHg yang menutup pembuluh darah; (2) gaya gesek saat repositioning; (3) kelembaban berlebih; (4) malnutrisi protein; (5) anemia. Patofisiologi: iskemia jaringan → hipoksia → kematian sel → nekrosis. Pada derajat 2, luka tampak sebagai abrasi, blister, atau lubang dangkal. Penyembuhan memerlukan manajemen tekanan, perawatan luka yang tepat, dan dukungan nutrisi.
Kode SLKI: L.14103
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan integritas kulit dan jaringan meningkat dengan kriteria hasil: (1) Perfusi jaringan membaik; (2) Kerusakan jaringan menurun; (3) Ketebalan jaringan meningkat; (4) Nyeri menurun; (5) Perdarahan menurun; (6) Kemerahan (eritema) menurun; (7) Bau tidak sedap menurun; (8) Drainase (cairan) menurun; (9) Suhu kulit normal; (10) Turgor kulit normal; (11) Sensasi normal; (12) Jaringan parut membaik; (13) Elastisitas membaik; (14) Hidrasi membaik. Secara spesifik, target yang diharapkan: luka sakrum menunjukkan tanda-tanda granulasi (jaringan baru kemerahan), tidak ada eksudat purulen, bau hilang, area eritema menyempit minimal 30% dari ukuran awal, dan skor Braden Scale meningkat minimal 2 poin. Evaluasi dilakukan dengan mengukur diameter luka menggunakan ruler, mengamati warna dasar luka (merah muda, merah, kuning, hitam), dan menilai bau. Luaran ini juga mencakup tidak adanya perluasan luka, tidak ada tanda infeksi sistemik (demam, leukositosis), dan pasien/keluarga mampu melakukan perawatan luka sederhana. Dokumentasi menggunakan skala Pressure Ulcer Scale for Healing (PUSH) dengan target penurunan skor dari baseline.
Kode SIKI: I.14533
Deskripsi : Intervensi utama: Perawatan Integritas Kulit. Tindakan: (1) Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit (tekanan, kelembaban, gesekan); (2) Monitor tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, nyeri, panas, pus); (3) Monitor warna, suhu, turgor, dan kelembaban kulit; (4) Monitor luka (ukuran, kedalaman, jaringan nekrotik, eksudat, bau); (5) Lakukan pembersihan luka dengan NaCl 0,9% secara aseptik; (6) Berikan salep/ointment sesuai advis (misal: silver sulfadiazine jika ada infeksi); (7) Pasang balutan sesuai jenis luka (hydrocolloid untuk luka derajat 2, atau foam dressing untuk menyerap eksudat); (8) Ganti balutan setiap hari atau jika basah/lembab; (9) Lakukan debridement jika ada jaringan nekrotik (kolaborasi dokter); (10) Anjurkan mengonsumsi makanan tinggi protein dan vitamin C; (11) Ajarkan keluarga cara melakukan perawatan luka di rumah; (12) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi enteral/parenteral jika perlu. Intervensi tambahan: Manajemen tekanan (repositioning setiap 2 jam menggunakan jadwal, gunakan bantal/alas anti-dekubitus, atur posisi miring 30 derajat), manajemen kelembaban (jaga kulit tetap kering, gunakan barrier cream), dan edukasi tentang pentingnya kebersihan kulit. Frekuensi perawatan luka: 1-2 kali sehari. Tindakan ini juga mencakup pem
Article No. 26564 | 04 Aug 2026
Klinis : Bayi lahir 2 hari rujukan dari RSUD, riwayat lahir spontan 37 minggu a/s 9/10 jk laki-laki, BB 3100 gr Pengkajian yang didapat, bayi sesak RR 68 x/mnt, akral hangat S 37 C, bayi tampak lethargi, sianosis perifer, Down score 5, muntah ada, kembung ada, reflek hisap lemah, merintih ada, retraksi ada
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (pada bayi dengan distress pernapasan, riwayat lahir spontan preterm 37 minggu, BB 3100 gr, dengan tanda sesak RR 68x/mnt, retraksi, merintih, sianosis perifer, Down score 5, lethargi, reflek hisap lemah, muntah, dan kembung)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Pada bayi ini, kondisi tersebut ditandai dengan frekuensi napas yang sangat cepat (takipnea 68x/mnt), adanya retraksi dinding dada, merintih (grunting) saat ekspirasi yang merupakan upaya mempertahankan tekanan alveolar, sianosis perifer karena gangguan ventilasi-perfusi, serta Down score 5 yang mengindikasikan distress pernapasan sedang-berat. Bayi dengan riwayat lahir 37 minggu (preterm borderline) memiliki imaturitas paru dan pusat pernapasan, ditambah reflek hisap yang lemah menyebabkan risiko aspirasi sekret saliva atau susu, dan distensi abdomen (kembung) yang mendorong diafragma sehingga memperberat mekanika pernapasan. Ketidakmampuan membersihkan jalan napas ini mengancam kepatenan jalan napas, yang jika tidak ditangani akan menyebabkan hipoksia jaringan, asidosis respiratorik, dan gagal napas. Secara fisiologis, sekret yang menumpuk di saluran napas akan memicu spasme bronkus dan peningkatan work of breathing. Bayi lethargi menunjukkan penurunan kesadaran yang menurunkan reflek batuk dan menelan, sehingga sekret tidak dapat diekspektorkan. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mengeluarkan sekret, memberikan oksigenasi, dan memantau tanda-tanda kegagalan napas.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk bersihan jalan napas tidak efektif adalah "Bersihan Jalan Napas" dengan kriteria hasil yang diharapkan. Luaran utama yang ditetapkan adalah: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan kepatenan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal (30-60x/mnt untuk bayi), (2) Tidak ada retraksi dada, (3) Tidak ada merintih (grunting), (4) Bunyi napas vesikuler bersih tanpa ronki atau wheezing, (5) Mampu mengeluarkan sekret secara efektif (ditandai dengan reflek batuk atau hisap yang kuat), (6) Saturasi oksigen (SpO2) > 95% dengan atau tanpa bantuan oksigen, (7) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis), (8) Skala Down score menurun menjadi < 3, (9) Bayi tidak lethargi dan responsif terhadap rangsangan, (10) Tidak ada sianosis perifer. Luaran ini diukur menggunakan skala dari 1 (memburuk) sampai 5 (membaik), dengan target skor 4-5. Luaran tambahan yang terkait adalah "Status Pernapasan" (L.01003) dengan kriteria: pola napas efektif, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, dan tidak ada dispnea. Luaran ini menjadi acuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan yang diberikan. Keberhasilan luaran ini juga dipengaruhi oleh manajemen kolaboratif dengan dokter anak untuk mengatasi penyebab dasar seperti aspirasi, infeksi, atau imaturitas paru.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk bersihan jalan napas tidak efektif adalah "Manajemen Jalan Napas" (I.01011) dan "Latihan Batuk Efektif" (I.01006) yang dimodifikasi untuk bayi. Intervensi utama meliputi: (1) Pemantauan respirasi: observasi frekuensi, irama, kedalaman napas, auskultasi bunyi napas setiap 1-2 jam, pantau saturasi oksigen dengan pulse oksimetri secara kontinu, dan pantau skala Down score setiap 4 jam. (2) Posisikan bayi: berikan posisi semi-Fowler (kepala ditinggikan 30-45 derajat) atau posisi telentang dengan kepala sedikit ekstensi untuk memfasilitasi pembukaan jalan napas, hindari posisi telungkup karena meningkatkan risiko SIDS. (3) Lakukan pengisapan sekret (suction) dengan menggunakan kateter ukuran 6-8 Fr dengan tekanan 80-100 mmHg, lakukan secara hati-hati tidak lebih dari 5-10 detik per kali untuk menghindari bradikardia dan trauma mukosa, lakukan sebelum dan sesudah makan. (4) Berikan oksigenasi: berikan oksigen humidifikasi dengan nasal kanul 0,5-2 liter/menit atau head box sesuai kebutuhan untuk mencapai SpO2 target 90-95% pada neonatus (hindari hiperoksia). (5) Fisioterapi dada: lakukan perkusi dan vibrasi dada yang lembut dengan jari tangan setiap 2-4 jam sesuai toleransi bayi, terutama pada area posterior dan lateral dada. (6) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau mukolitik (jika diresepkan dokter) melalui nebulizer dengan dosis pediatrik. (7) Manajemen reflek hisap: berikan stimulasi oral dengan dot atau jari bersih untuk memperkuat reflek hisap, lakukan oral care dengan kasa basah setiap 4 jam untuk mencegah mulut kering. (8) Edukasi keluarga: ajarkan ibu atau keluarga tentang tanda bahaya seperti sesak yang semakin berat, bibir membiru, atau bayi tidak mau menyusu, serta cara melakukan perawatan sederhana. (9) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan laboratorium gas darah (AGD) jika terjadi perburukan, dan rontgen thorax untuk menilai kondisi paru. (10) Monitor asupan cairan dan nutrisi: karena reflek hisap lemah, berikan ASI peras dengan sendok atau pipet, atau pasang NGT jika bayi tidak mampu menelan dengan aman, untuk mencegah aspirasi dan dehidrasi. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan kondisi bayi yang lethargi dan memiliki Down score 5, sehingga prioritas utama adalah stabilisasi pernapasan dan pencegahan gagal napas. Evaluasi dilakukan setiap 4 jam untuk menilai perkembangan luaran dan menyesuaikan intervensi.
Article No. 26565 | 04 Aug 2026
Klinis : Bayi lahir SC a/i CPD hamil 33 minggu, JK laki-laki, a/s 7/8 dengan BB 2100 gr, ibu riwayat DM gestasional. Bayi dilakukan pemeriksaan GDS pertama low, saat dilakukan pemeriksaan bayi ada merintih tanpa stetoskop, akral teraba dingin, RR 82x/mnt, sianosis perifer dengan pemberian oksigen, terdengar udara masuk pada paru saat dilakukan auskultasi dan tampak retraksi ringan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bayi lahir SC a/i CPD hamil 33 minggu, JK laki-laki, a/s 7/8 dengan BB 2100 gr, ibu riwayat DM gestasional. Bayi dilakukan pemeriksaan GDS pertama low, saat dilakukan pemeriksaan bayi ada merintih tanpa stetoskop, akral teraba dingin, RR 82x/mnt, sianosis perifer dengan pemberian oksigen, terdengar udara masuk pada paru saat dilakukan auskultasi dan tampak retraksi ringan.
Kode SDKI: D.0050 (Pola Napas Tidak Efektif) dan D.0027 (Hipotermia)
Deskripsi Singkat: Bayi prematur 33 minggu dengan berat badan lahir rendah (BBLR) 2100 gram memiliki ketidakmatangan sistem pernapasan dan termoregulasi. Kondisi ini diperberat oleh riwayat DM gestasional pada ibu yang menyebabkan hipoglikemia neonatal (GDS low), ditandai dengan merintih (grunting), RR 82x/mnt (takipnea), retraksi ringan, sianosis perifer, dan akral dingin. Dua diagnosis utama yang muncul adalah Pola Napas Tidak Efektif (D.0050) yang berkaitan dengan imaturitas pusat pernapasan dan surfaktan, serta Hipotermia (D.0027) yang berkaitan dengan kehilangan panas berlebih pada bayi prematur dan hipoglikemia sebagai faktor penyerta. Kedua kondisi ini saling memengaruhi; hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen dan memperburuk distress pernapasan, sementara distress pernapasan meningkatkan kerja napas dan konsumsi energi yang memperburuk hipoglikemia. Penegakan diagnosis ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi seperti asfiksia lanjut, hipoksia jaringan, perdarahan intraventrikular, dan gangguan metabolik berat.
Kode SLKI: L.01004 (Pola Napas) dan L.14134 (Termoregulasi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan untuk diagnosis Pola Napas Tidak Efektif (D.0050) adalah perbaikan pola napas dengan kriteria hasil: (1) Dispnea menurun (skala 1-5, target meningkat), (2) Frekuensi napas membaik dalam rentang normal 40-60 x/mnt untuk bayi prematur, (3) Kedalaman napas membaik, (4) Penggunaan otot bantu napas menurun (retraksi menghilang), (5) Bunyi napas tambahan (merintih) menurun, (6) Sianosis menurun, (7) Saturasi oksigen membaik (>90-95% dengan oksigen tambahan), (8) Ekskursi dada simetris, (9) Tidak ada retraksi dinding dada, (10) Kemampuan beraktivitas (menyusu, menangis) meningkat. Untuk diagnosis Hipotermia (D.0027), luaran yang diharapkan adalah Termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh membaik dalam rentang 36,5-37,5°C (aksila), (2) Menggigil menurun, (3) Akral hangat, (4) Sianosis perifer menurun, (5) Suhu kulit membaik, (6) Kadar glukosa darah membaik (normoglikemia 45-90 mg/dL pada bayi prematur), (7) Berat badan stabil atau meningkat sesuai usia kehamilan, (8) Tidak ada tanda hipotermia (tidak merintih karena dingin), (9) Warna kulit membaik (merah muda, tidak pucat atau kebiruan). Kedua luaran ini saling terkait; stabilisasi suhu akan membantu menurunkan kebutuhan oksigen dan memperbaiki pola napas, dan sebaliknya, perbaikan napas akan meningkatkan oksigenasi jaringan yang membantu produksi panas tubuh.
Kode SIKI: I.01011 (Manajemen Jalan Napas) dan I.15606 (Manajemen Hipotermia)
Deskripsi : Intervensi utama untuk Pola Napas Tidak Efektif adalah Manajemen Jalan Napas (I.01011) dengan tindakan: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas, retraksi, merintih) setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi; (2) Monitor bunyi napas tambahan (auskultasi paru untuk memastikan udara masuk); (3) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan posisi kepala ekstensi ringan (posisi sniffing) dan menghisap lendir/secret bila perlu; (4) Berikan oksigen sesuai indikasi (oksigen humidifikasi hangat, mulai dengan 0,5-1 L/menit atau hood/head box, titrasi berdasarkan saturasi oksigen target 90-95% untuk bayi prematur); (5) Lakukan fisioterapi dada ringan (vibrasi/perkusi) jika ada retensi secret; (6) Kolaborasi pemberian surfaktan eksogen sesuai advis dokter (karena prematuritas 33 minggu dengan risiko defisiensi surfaktan, terutama jika distress napas memburuk); (7) Pertimbangkan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) atau ventilasi mekanik jika retraksi meningkat, apneu, atau saturasi tidak adekuat; (8) Monitor analisa gas darah (AGD) dan saturasi oksigen (SpO2) secara berkala; (9) Berikan posisi semi-Fowler (elevasi kepala 15-30 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru; (10) Minimalkan handling dan prosedur yang meningkatkan kebutuhan oksigen. Untuk Hipotermia, intervensi utama adalah Manajemen Hipotermia (I.15606) dengan tindakan: (1) Monitor suhu tubuh (aksila atau rektal) setiap 1 jam sampai stabil, kemudian setiap 3-4 jam; (2) Monitor tanda-tanda hipotermia (akral dingin, merintih, sianosis perifer, takipnea, dan hipoglikemia); (3) Gunakan inkubator atau radiant warmer dengan pengaturan suhu sesuai kebutuhan (suhu inkubator awal 34-36°C untuk BBLR, disesuaikan dengan suhu tubuh bayi, target suhu abdomen 36,5-37,5°C); (4) Pertahankan kelembaban inkubator 80-90% untuk mengurangi kehilangan panas evaporasi; (5) Gunakan topi (beanie) pada kepala bayi dan pakaian hangat, selimut atau double wall; (6) Gunakan metode kanguru (skin-to-skin contact) bila kondisi bayi stabil, karena efektif untuk menghangatkan dan menstabilkan suhu; (7) Hangatkan oksigen yang diberikan (humidifier dengan heater) untuk mencegah pendinginan saluran napas; (8) Hindari memandikan bayi sampai suhu stabil; (9) Monitor kadar glukosa darah karena hipotermia menurunkan glukosa; berikan ASI atau infus dekstrosa sesuai advis dokter untuk mengatasi hipoglikemia (GDS low); (10) Kolaborasi pemberian cairan intravena hangat jika diperlukan; (11) Dokumentasikan suhu, tanda vital, dan respons terhadap terapi. Semua intervensi harus dilakukan secara hati-hati (minimal handling) untuk mengurangi stres dan kebutuhan oksigen, serta melibatkan keluarga dalam perawatan metode kanguru dan edukasi tentang tanda bahaya.
Article No. 26566 | 04 Aug 2026
Klinis : batuk
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Batuk (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Pada kondisi batuk, pasien mengalami peningkatan produksi sekret, penumpukan sputum, atau ketidakmampuan batuk efektif sehingga terjadi penyempitan atau sumbatan jalan napas. Hal ini ditandai dengan batuk tidak efektif (batuk kering atau berdahak tetapi tidak mampu mengeluarkan), suara napas tambahan (ronki, wheezing), dispnea, sianosis, gelisah, dan perubahan frekuensi/irama napas. Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh, namun jika tidak efektif akan menyebabkan penurunan ventilasi, hipoksemia, dan risiko infeksi sekunder. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh sulit bernapas, merasa ada dahak yang tidak bisa dikeluarkan) dan data objektif (auskultasi terdengar ronki, frekuensi napas >20x/menit, penggunaan otot bantu napas, saturasi oksigen <95%). Faktor yang berhubungan meliputi spasme jalan napas, hipersekresi jalan napas, disfungsi neuromuskular, benda asing dalam jalan napas, hiperplasia dinding jalan napas, proses infeksi, efek agen farmakologis, dan merokok aktif/pasif.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama periode tertentu, diharapkan kepatenan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat (mampu mengeluarkan sputum dengan batuk yang kuat dan dalam), (2) Produksi sputum menurun (volume sekret berkurang, warna menjadi jernih, konsistensi encer), (3) Suara napas bersih (tidak ada ronki/wheezing pada auskultasi), (4) Dispnea menurun (pasien tidak mengeluh sesak, frekuensi napas dalam rentang normal 12-20x/menit), (5) Frekuensi napas membaik, (6) Irama napas membaik (teratur), (7) Kedalaman napas membaik, (8) Saturasi oksigen meningkat (>95%), (9) Sianosis menurun (tidak ada kebiruan pada bibir/kuku), (10) Gelisah menurun (pasien tampak tenang), (11) kemampuan bicara membaik (tidak terputus-putus saat berbicara), (12) ekspansi paru membaik (simetris dan maksimal). Kriteria hasil ini diukur menggunakan skala dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target skala 4-5 pada akhir intervensi. Luaran ini mencerminkan kemampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas yang paten, membersihkan sekret secara efektif, dan mencegah komplikasi seperti atelektasis, pneumonia, atau gagal napas.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Latihan Batuk Efektif. Intervensi utama yang dilakukan untuk mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif adalah latihan batuk efektif. Tindakan ini bertujuan untuk mengeluarkan sekret dari saluran napas secara optimal. Berikut adalah rincian tindakan keperawatan yang dilakukan: (1) Identifikasi kemampuan batuk (kaji kekuatan otot pernapasan, tingkat kesadaran, dan adanya nyeri saat batuk), (2) Identifikasi adanya kontraindikasi batuk (misalnya pasca operasi mata, peningkatan tekanan intrakranial, atau hemoptisis), (3) Monitor tanda-tanda retensi sputum (auskultasi suara napas, observasi frekuensi dan karakteristik batuk), (4) Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, analisa gas darah jika tersedia), (5) Berikan posisi semi-fowler atau fowler (tinggikan kepala tempat tidur 30-45 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru, (6) Anjurkan pasien menarik napas dalam melalui hidung selama 3-5 detik, tahan 2 detik, kemudian hembuskan perlahan melalui mulut (pursed-lip breathing), ulangi 3-4 kali, (7) Anjurkan pasien untuk batuk efektif: tarik napas dalam, tahan beberapa saat, kemudian batukkan dengan kuat dan singkat dari diafragma, sambil sedikit membungkuk ke depan, (8) Ajarkan teknik batuk berpasangan (huffing): tarik napas dalam, lalu hembuskan dengan kuat dan cepat sambil mengucapkan "huff" tanpa mengejan, (9) Lakukan fisioterapi dada (postural drainase, perkusi, dan vibrasi) jika sekret sangat kental atau banyak, (10) Berikan nebulizer dengan bronkodilator atau mukolitik sesuai indikasi medis (misal salbutamol, ambroxol) 15-20 menit sebelum latihan batuk, (11) Anjurkan minum air hangat 6-8 gelas per hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret, (12) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian mukolitik oral atau ekspektoran (misal guaifenesin, N-asetilsistein), (13) Ajarkan pasien untuk membuang sputum pada wadah tertutup yang telah disiapkan, dan observasi warna, jumlah, bau, serta konsistensi sputum, (14) Lakukan suction (pengisapan lendir) jika pasien tidak mampu batuk efektif dan terdapat tanda obstruksi, dengan tetap menjaga steril dan tidak lebih dari 10-15 detik setiap kali, (15) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya posisi yang tepat, hidrasi, dan menghindari faktor pencetus (debu, asap rokok, alergen), (16) Dokumentasikan respon pasien terhadap latihan batuk (kemampuan mengeluarkan sputum, perubahan suara napas, frekuensi napas, dan saturasi oksigen). Tindakan ini dilakukan secara bertahap dan berulang, dengan durasi 10-15 menit setiap sesi, 2-3 kali sehari, disesuaikan dengan toleransi pasien. Selain latihan batuk efektif, intervensi pendukung yang dapat diberikan adalah manajemen jalan napas (I.01002) yang mencakup monitoring status pernapasan, pemberian oksigen, dan pengaturan posisi. Latihan batuk efektif sangat penting untuk mencegah komplikasi seperti pneumonia, atelektasis, dan gagal napas, terutama pada pasien dengan penurunan kesadaran, kelemahan otot pernapasan, atau pasca operasi.
Article No. 26567 | 04 Aug 2026
Klinis : Pasien (Ny. B, 54 tahun) mengeluh terdapat luka berbau pada telapak kaki kanan sejak 2 minggu yang tak kunjung sembuh. Pada pemeriksaan fisik terlihat luka terbuka dengan dasar kemerahan, terdapat jaringan slough/nekrotik, dan eksudat sedang. Gula Darah Sewaktu (GDS): 280 mg/dL. Diagnosa Keperawatan (SDKI): Gangguan Integritas Kulit/Jaringan berhubungan dengan neuropati perifer dan penurunan perfusi jaringan [D.0129]. Tindakan Keperawatan Utama (SIKI - Perawatan Luka): Monitor karakteristik luka (ukur luas luka, warna dasar luka, jenis dan jumlah eksudat, serta bau). Bersihkan luka dengan larutan steril (NaCl 0.9%) menggunakan teknik aseptik. Lakukan pembersihan atau debridement pada jaringan non-vital/nekrotik. Pasang balutan luka (wound dressing) yang sesuai dengan kondisi kelembaban dan eksudat luka. Jelaskan prosedur perawatan luka mandiri dan edukasi kontrol glukosa darah pada pasien/keluarga.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit/Jaringan pada ulkus kaki diabetik (Ny. B, 54 tahun) dengan luka berbau, dasar kemerahan, jaringan slough/nekrotik, eksudat sedang, dan GDS 280 mg/dL.
Kode SDKI: D.0129
Deskripsi Singkat: Gangguan integritas kulit/jaringan adalah kerusakan pada epidermis dan/atau dermis, atau lapisan kulit yang lebih dalam (jaringan subkutan, fasia, otot, tulang) yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pada kasus Ny. B, diagnosis ini ditegakkan berdasarkan tanda objektif luka terbuka pada telapak kaki kanan yang tidak kunjung sembuh selama 2 minggu, dengan karakteristik luka yang khas ulkus diabetikum: dasar luka kemerahan (granulasi awal), terdapat jaringan slough (jaringan avaskuler berwarna kuning/putih) dan nekrotik (jaringan mati berwarna hitam), serta eksudat sedang yang menimbulkan bau. Kondisi ini secara patofisiologis berhubungan erat dengan hiperglikemia kronis (GDS 280 mg/dL) yang menyebabkan dua mekanisme utama: (1) Neuropati perifer - kerusakan saraf sensorik, motorik, dan otonom akibat akumulasi sorbitol dan kerusakan mielin, sehingga pasien kehilangan sensasi nyeri dan tekanan, menyebabkan trauma berulang yang tidak disadari; (2) Penurunan perfusi jaringan - hiperglikemia menyebabkan glikosilasi protein, penebalan membran basal kapiler, dan aterosklerosis pembuluh darah perifer, sehingga suplai oksigen, nutrisi, dan faktor pertumbuhan ke area luka berkurang drastis. Akibatnya, proses inflamasi, proliferasi, dan remodeling jaringan terganggu, luka menjadi kronis, mudah terinfeksi (ditandai bau dan eksudat), dan berisiko meluas hingga ke tulang. Diagnosis ini mencakup rentang kerusakan dari epidermis hingga jaringan subkutan, dengan tanda utama meliputi kerusakan jaringan/lapisan kulit, nyeri, perdarahan, kemerahan, hematoma, jaringan nekrotik, dan eksudat. Faktor risiko yang memperberat adalah imunodefisiensi akibat hiperglikemia, yang menurunkan kemampuan fagositosis neutrofil dan makrofag, sehingga kolonisasi bakteri (aerob dan anaerob) meningkat dan menghasilkan bau khas. Pada Ny. B, kondisi ini merupakan masalah keperawatan prioritas karena jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi gangren, sepsis, dan amputasi. Intervensi keperawatan harus berfokus pada manajemen luka yang komprehensif, kontrol glikemik, dan pencegahan komplikasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.14103 (Integritas Kulit dan Jaringan)
Deskripsi : Luaran utama yang diharapkan dari diagnosis D.0129 adalah tercapainya integritas kulit dan jaringan yang membaik. Dalam kerangka SLKI, luaran ini didefinisikan sebagai kondisi kulit dan jaringan yang utuh, lembab, perfusi adekuat, dan bebas dari tanda-tanda kerusakan. Untuk kasus ulkus diabetikum Ny. B, kriteria hasil yang spesifik dijabarkan dalam beberapa indikator yang dapat diukur secara objektif, yaitu: (1) Perfusi jaringan membaik - ditandai dengan peningkatan capillary refill < 2 detik, denyut nadi dorsalis pedis dan tibialis posterior teraba kuat, warna kulit ekstremitas tidak pucat/sianosis, dan suhu kulit hangat; (2) Kerusakan jaringan menurun - ditandai dengan berkurangnya ukuran luas luka (diameter dan kedalaman), berkurangnya jaringan nekrotik dan slough, serta munculnya jaringan granulasi sehat berwarna merah muda; (3) Integritas kulit membaik - ditandai dengan berkurangnya eksudat (dari sedang menjadi ringan/kering), hilangnya bau tidak sedap, tidak ada tanda-tanda infeksi (pus, eritema meluas, edema, nyeri bertambah), dan tepi luka mulai menutup (epitelialisasi); (4) Keluhan nyeri menurun - karena regenerasi saraf dan berkurangnya inflamasi; (5) Kemampuan melakukan perawatan luka mandiri meningkat - pasien/keluarga mampu mendemonstrasikan teknik perawatan luka yang benar. Skala luaran ini diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal pada level 4 (cukup membaik) hingga 5 (membaik) dalam waktu 3x24 jam hingga 1 minggu, tergantung respon terapi. Penting dicatat bahwa pada pasien diabetes, penyembuhan luka membutuhkan waktu lebih lama karena gangguan metabolisme kolagen dan angiogenesis, sehingga target luaran harus realistis dan dievaluasi secara berkala setiap hari. Luaran ini juga mencakup aspek edukasi, yaitu pasien dan keluarga memahami pentingnya kontrol gula darah, pemeriksaan kaki harian, dan menghindari tekanan pada area luka.
Kode SIKI: I.14563 (Perawatan Luka)
Deskripsi : Tindakan keperawatan utama untuk mencapai luaran L.14103 adalah Perawatan Luka (I.14563), yang didefinisikan sebagai serangkaian tindakan untuk membersihkan, mendebridement, dan memilih balutan yang tepat untuk luka, dengan tujuan menciptakan lingkungan luka yang optimal untuk penyembuhan. Pada kasus Ny. B, intervensi ini diimplementasikan secara komprehensif dengan langkah-langkah berikut: (1) Monitor karakteristik luka - perawat melakukan pengukuran luas luka (panjang, lebar, kedalaman menggunakan sterile probe), mengamati warna dasar luka (merah, kuning, hitam), menilai jenis dan jumlah eksudat (serosa, sanguinolenta, purulen; sedikit, sedang, banyak), serta mendeteksi bau (khas infeksi anaerob). Monitoring dilakukan setiap kali penggantian balutan dan didokumentasikan untuk mengevaluasi progres; (2) Bersihkan luka dengan larutan steril (NaCl 0,9%) menggunakan teknik aseptik - larutan normal saline hangat digunakan untuk mengirigasi luka dengan tekanan rendah (menggunakan spuit 20-30 ml dengan jarum kecil atau kateter) untuk membuang debris, bakteri, dan eksudat tanpa merusak jaringan granulasi. Pembersihan dilakukan dari area paling bersih ke area paling kotor, dengan gerakan sirkuler dari tengah ke tepi luka. Penting untuk menghindari penggunaan antiseptik seperti povidone-iodine atau hidrogen peroksida karena bersifat sitotoksik pada jaringan granulasi; (3) Lakukan pembersihan atau debridement pada jaringan non-vital/nekrotik - debridement dapat dilakukan secara mekanis (menggunakan kasa basah-kering atau alat bedah seperti pisau scalpel dan gunting untuk jaringan nekrotik yang jelas, dilakukan oleh perawat yang kompeten atau dokter), secara autolitik (menggunakan hidrogel atau hydrogel sheet untuk melunakkan slough), atau secara enzimatis (menggunakan salep kolagenase). Pada Ny. B dengan jaringan slough dan nekrotik, debridement bertujuan untuk menghilangkan media pertumbuhan bakteri dan memungkinkan jaringan granulasi tumbuh. Debridement tajam harus hati-hati pada pasien diabetes karena risiko perdarahan dan infeksi; (4) Pasang balutan luka (wound dressing) yang sesuai dengan kondisi kelembaban dan eksudat luka - prinsip moisture balance diterapkan: untuk luka dengan eksudat sedang dan dasar luka lembab, digunakan balutan foam (seperti Mepilex, Allevyn) atau alginate (jika eksudat banyak) yang mampu menyerap eksudat berlebih namun tetap menjaga kelembaban optimal. Jika terdapat slough, dapat dikombinasikan dengan hidrogel. Balutan harus menutupi seluruh permukaan luka dan sedikit melebihi tepi luka, dengan fiksasi menggunakan hipafix atau perban elastis yang tidak terlalu ketat agar tidak mengganggu sirkulasi; (5) Jelaskan prosedur perawatan luka mandiri dan edukasi kontrol glukosa darah pada pasien/keluarga - edukasi meliputi: cara mengganti balutan di rumah dengan prinsip bersih, tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai (kemerahan, bengkak, nyeri, bau, demam), pentingnya menjaga luka tetap kering dan tidak tertekan (menggunakan alas kaki khusus atau offloading), serta kontrol gula darah rutin dengan kepatuhan minum obat antidiabetik, diet rendah gula, dan olahraga teratur. Edukasi juga mencakup pemeriksaan kaki setiap hari untuk mendeteksi luka baru. Semua tindakan ini dilakukan dengan dokumentasi yang akurat dan kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen gula darah dan pemberian antibiotik jika ada tanda infeksi sistemik.
Article No. 26568 | 04 Aug 2026
Klinis : j34.3
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipertrofi Turbinasi Nasal (Nasal Turbinate Hypertrophy)
Kode ICD-10: J34.3
Deskripsi Singkat : J34.3 adalah kode ICD-10 untuk "Hypertrophy of nasal turbinates" atau hipertrofi turbinasi nasal. Kondisi ini merujuk pada pembesaran abnormal dari struktur tulang dan jaringan lunak di dalam rongga hidung yang disebut turbinat (konka). Turbinat adalah tiga pasang tonjolan tulang berlapis mukosa (superior, media, dan inferior) yang berfungsi melembabkan, menghangatkan, dan menyaring udara yang dihirup. Hipertrofi paling sering terjadi pada turbinat inferior, yang menyebabkan penyempitan saluran hidung. Pembesaran ini dapat bersifat fisiologis (siklus hidung normal) atau patologis akibat peradangan kronis, alergi, iritasi lingkungan, atau deviasi septum. Gejala yang umum meliputi hidung tersumbat (nasal obstruction) yang menetap atau bergantian, kesulitan bernapas melalui hidung, gangguan tidur, mendengkur, serta rasa tidak nyaman di area wajah. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan sering menjadi indikasi untuk terapi medis (seperti kortikosteroid topikal) atau prosedur bedah (turbinoplasty) jika konservatif gagal. Kode J34.3 termasuk dalam blok "Other disorders of nose and nasal sinuses" (J30-J34) dan membedakannya dari kondisi hidung lainnya seperti polip (J33) atau deviasi septum (J34.2).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596