Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24926 | 07 Apr 2026
Klinis : seorang laki² usia 44 th sakit tbc, dia mengeluh nafsu makan berkurang berat badan menurun 10 kg 2 bulan terakhir, dan sering berkeringat pada malam hari, walaupun tidak beraktivitas serta demam naik turun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : SLKI L.03001 berfokus pada peningkatan status nutrisi pasien. Tujuan utamanya adalah memastikan asupan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan metabolik tubuh yang meningkat akibat penyakit. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi peningkatan berat badan secara bertahap menuju berat badan ideal, peningkatan nafsu makan yang dilaporkan oleh pasien, serta peningkatan parameter biokimia seperti albumin dan hemoglobin. Selain itu, pasien diharapkan menunjukkan pengetahuan yang memadai mengenai pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan dan dapat mengidentifikasi jenis makanan tinggi kalori dan protein yang dianjurkan. Pemantauan asupan makanan dan cairan secara ketut menjadi bagian dari evaluasi keberhasilan intervensi ini, dengan target asupan kalori dan protein harian terpenuhi minimal 80% dari yang direncanakan.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : SIKI I.09001 merupakan intervensi keperawatan komprehensif untuk mengatasi masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Intervensi ini dimulai dengan pengkajian menyeluruh yang meliputi riwayat penurunan berat badan (seperti 10 kg dalam 2 bulan), pola makan, faktor yang mempengaruhi nafsu makan, dan pemeriksaan antropometri. Perawat kemudian berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) yang disesuaikan dengan kondisi pasien TBC, dengan porsi kecil namun sering untuk mengatasi anoreksia. Intervensi penting lainnya adalah memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam melawan infeksi TBC, jenis-jenis makanan sumber protein (seperti telur, ikan, ayam, tempe, tahu) dan kalori, serta cara mengolahnya. Perawat akan memfasilitasi lingkungan yang nyaman untuk makan, memastikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik, serta memberikan dukungan psikologis untuk meningkatkan motivasi makan. Pemantauan asupan dan output cairan, berat badan secara berkala (misalnya 2x seminggu), dan tanda-tanda dehidrasi atau malnutrisi lebih lanjut juga dilakukan. Selain itu, perawat mengelola gejala yang memperburuk asupan nutrisi, seperti demam dan keringat malam, dengan intervensi seperti kompres hangat dan manajemen lingkungan tidur yang nyaman, serta berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antipiretik dan terapi TBC yang tepat agar gejala sistemik berkurang dan nafsu makan membaik.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: B.3.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur suhu atau adanya faktor patologis.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C). Kriteria hasil utamanya adalah penurunan suhu tubuh secara bertahap hingga mencapai normal, yang diukur secara berkala. Pasien juga diharapkan tidak lagi mengalami keluhan demam naik turun dan keringat malam yang berlebihan. Tanda-tanda vital lain seperti nadi dan pernapasan juga diharapkan kembali dalam rentang normal seiring dengan penurunan suhu. Selain itu, pasien menunjukkan kenyamanan yang meningkat, ditandai dengan penurunan keluhan panas tubuh dan mampu beristirahat dengan lebih baik. Pasien dan keluarga diharapkan memahami penyebab demam pada TBC dan tindakan yang dapat dilakukan untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
Kode SIKI: I.10001
Deskripsi : SIKI I.10001 mencakup serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh dan meningkatkan kenyamanan pasien. Intervensi dimulai dengan pemantauan suhu tubuh, nadi, pernapasan, dan tekanan darah secara teratur (setiap 4 jam saat demam). Tindakan pendinginan fisik dilakukan seperti memberikan kompres hangat (bukan dingin) pada daerah lipatan tubuh (aksila, lipat paha) dan dahi, karena kompres hangat membantu vasodilatasi pembuluh darah perifer sehingga memfasilitasi pelepasan panas. Pasien dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, serta menggunakan selimut yang tidak terlalu tebal. Lingkungan ruangan diatur agar sejuk dan berventilasi baik. Asupan cairan ditingkatkan secara signifikan untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat dan evaporasi, mencegah dehidrasi yang dapat memperparah demam. Perawat memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang mekanisme demam pada infeksi TBC, pentingnya minum obat antipiretik sesuai resep, dan teknik kompres yang benar. Kolaborasi dengan tim medis sangat penting untuk pemberian obat antipiretik (seperti parasetamol) sesuai program, serta memastikan terapi obat anti tuberkulosis (OAT) diberikan secara tepat dan teratur karena demam pada dasarnya akan turun seiring respons tubuh terhadap pengobatan spesifik. Pemantauan terhadap tanda-tanda dehidrasi dan kelelahan akibat demam yang berkepanjangan juga dilakukan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami ketidakcukupan energi fisik atau psikologis untuk memulai atau mempertahankan aktivitas sehari-hari yang diperlukan.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : SLKI L.10001 bertujuan untuk meningkatkan toleransi aktivitas pasien secara bertahap. Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (seperti perawatan diri dasar) tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan atau penurunan saturasi oksigen. Pasien melaporkan peningkatan tingkat energi dan penurunan keluhan lemas. Tanda-tanda vital (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah) berada dalam rentang normal yang dapat diterima sebelum, selama, dan setelah beraktivitas. Pasien juga mampu mengidentifikasi tanda-tanda kelelahan dan mengetahui teknik untuk menghemat energi (energy saving techniques). Selain itu, pasien menunjukkan partisipasi dalam aktivitas yang direncanakan sesuai dengan tingkat kemampuannya yang terus meningkat.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : SIKI I.11001 adalah intervensi untuk mengelola intoleransi aktivitas yang disebabkan oleh kombinasi faktor: proses infeksi TBC yang meningkatkan metabolisme basal, status nutrisi yang buruk, dan kelemahan umum. Perawat mengkaji tingkat kelemahan pasien dan respons fisiologis terhadap aktivitas (seperti peningkatan denyut nadi, sesak napas, kelelahan). Berdasarkan pengkajian, disusun rencana aktivitas yang terstruktur dan bertahap, dimulai dari aktivitas di dalam kamar (misalnya, duduk di tepi tempat tidur, berdiri, berjalan di dalam kamar) hingga nantinya meningkat ke aktivitas di luar kamar. Prinsip penghematan energi diajarkan, seperti duduk saat mandi atau menyikat gigi, menyelingi aktivitas dengan istirahat yang cukup, serta menghindari aktivitas yang mendadak dan berat. Perawat memastikan pasien mendapat dukungan nutrisi yang adekuat sebagai sumber energi. Lingkungan diatur agar aman dan mendukung untuk mobilisasi. Penting juga untuk mengoordinasikan waktu aktivitas dengan waktu pemberian obat dan terapi lainnya agar tidak bersamaan dengan saat pasien merasa paling lemas atau demam. Pemantauan tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas dilakukan untuk menilai toleransi. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat dalam proses pemulihan, serta mengenali batasan tubuhnya sendiri. Kolaborasi dengan tim fisioterapi mungkin diperlukan untuk latihan yang lebih terprogram.
-
Article No. 24927 | 07 Apr 2026
Klinis : Seorang anak (5 th) dibawa ke IGD karena mengalami diare cair sebanyak 8 kali dalam 12 jam terakhir. Hasil pengkajian menunjukkan mukosa bibir kering, mata cekung, dan turgor kulit kembali dalam waktu lebih dari 2 detik. Ibu pasien mengatakan anaknya sangat lemas dan malas untuk minum.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 0201
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. Hal ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan, dan hipovolemia.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Tujuan keperawatan utama adalah tercapainya keseimbangan volume cairan pada pasien. Hal ini ditandai dengan beberapa kriteria hasil yang spesifik. Pertama, tanda-tanda vital pasien harus berada dalam rentang normal yang sesuai usianya, termasuk tekanan darah, nadi, dan frekuensi pernapasan. Kedua, turgor kulit menunjukkan elastisitas yang baik dengan kembalinya kulit ke posisi semula dalam waktu kurang dari 2 detik. Ketiga, membran mukosa (seperti bibir dan rongga mulut) harus lembab dan tidak kering. Keempat, produksi urin harus adekuat, dengan berat jenis urin dalam rentang normal (1.005-1.030) dan frekuensi berkemih yang sesuai. Kelima, kadar elektrolit dalam darah, khususnya natrium dan kalium, harus kembali ke nilai normal. Keenam, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda syok hipovolemik seperti penurunan kesadaran, ekstremitas dingin, atau nadi yang sangat lemah. Terakhir, asupan cairan oral atau parenteral harus mencukupi untuk menggantikan kehilangan dan memenuhi kebutuhan harian, yang dapat diukur melalui balance cairan (input dan output) yang seimbang dalam 24 jam.
Kode SIKI: 0201
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani defisit volume cairan bersifat komprehensif dan berurutan. Langkah pertama adalah memantau status hidrasi secara ketat dengan mengukur tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) setidaknya setiap 4 jam atau lebih sering jika kondisi kritis. Pengkajian turgor kulit, mata cekung, dan keadaan fontanel (pada bayi) dilakukan secara berkala. Kedua, memantau balance cairan dengan mencatat secara akurat semua asupan cairan (oral, parenteral) dan output (urine, diare, muntah, insensible water loss) setiap 8 jam atau setiap shift untuk mengevaluasi efektivitas terapi. Ketiga, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi cairan rehidrasi, baik melalui oral (Oralit) maupun intravena (cairan infus seperti RL atau NaCl 0.9%), dengan kecepatan tetesan yang disesuaikan dengan berat badan, derajat dehidrasi, dan kondisi klinis pasien. Keempat, mendorong dan memfasilitasi asupan cairan oral secara bertahap jika pasien sudah mampu, dengan memberikan cairan dalam porsi kecil namun sering, menggunakan alat minum yang disukai anak, dan memilih jenis cairan yang sesuai (cairan rehidrasi, air putih, kaldu). Kelima, memberikan edukasi kepada keluarga, khususnya ibu, tentang pentingnya pemberian cairan selama anak diare, cara membuat dan memberikan Oralit yang benar, tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai (seperti anak lemas, mata cekung, tidak mau minum), dan kapan harus segera kembali ke fasilitas kesehatan. Keenam, memantau hasil pemeriksaan laboratorium seperti elektrolit (Na, K), hematokrit, dan BUN untuk mendeteksi ketidakseimbangan dan mengevaluasi keberhasilan rehidrasi. Ketujuh, menjaga integritas kulit di area perianal dari iritasi akibat diare dengan membersihkan secara lembut menggunakan air dan sabun, mengeringkan dengan ditepuk-tepuk, dan mengoleskan pelindung kulit seperti zinc oxide. Kedelapan, memberikan dukungan psikologis kepada anak dan keluarga untuk mengurangi kecemasan, dengan pendekatan yang tenang dan komunikasi yang jelas. Semua intervensi ini didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi perkembangannya secara terus-menerus hingga tujuan keperawatan tercapai.
-
Article No. 24928 | 07 Apr 2026
Klinis : seorang laki laki berumur 44 tahun, dia mengidap penyakit TBC paru, pasien mengeluh sering berkeringat pada malam hari, nafsu makan menurun, demam hilang timbul. dan berat badan turun 10kg dalam 2 bulan terakhir
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang dapat mengakibatkan penurunan berat badan, kelemahan, dan gangguan fungsi tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan peningkatan berat badan sesuai target. 2) Asupan nutrisi oral adekuat sesuai kebutuhan. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal. 4) Pasien menyatakan peningkatan nafsu makan. 5) Pasien dan keluarga memahami pentingnya pemenuhan nutrisi. 6) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi lebih lanjut.
Kode SIKI: I.09123
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan: 1) Kaji status nutrisi secara komprehensif meliputi riwayat diet, antropometri (berat badan, IMT), pemeriksaan fisik (kehilangan massa lemak/otot), dan data laboratorium (albumin, limfosit total). 2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan zat gizi mikro sesuai kondisi hipermetabolik akibat infeksi TBC. 3) Anjurkan dan bantu pasien untuk meningkatkan frekuensi makan dengan porsi kecil tapi sering (6x sehari) untuk mengatasi anoreksia. 4) Sajikan makanan dalam bentuk yang menarik, beraroma, dan sesuai kesukaan pasien untuk merangsang nafsu makan. 5) Anjurkan konsumsi makanan tinggi kalori dan protein seperti telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, susu, dan alpukat. 6) Monitor asupan dan output nutrisi secara ketat dengan mencatat semua yang dimakan dan diminum. 7) Berikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan TBC dan pencegahan penurunan berat badan lebih lanjut. 8) Lakukan perawatan mulut sebelum makan untuk meningkatkan kenyamanan dan rasa. 9) Atur posisi duduk tegak atau setengah duduk saat makan untuk memfasilitasi proses menelan dan mencegah aspirasi. 10) Kelola gejala yang mengganggu asupan nutrisi seperti demam (dengan kompres/antipiretik) dan keringat malam (dengan mengganti pakaian/linen) untuk meningkatkan kenyamanan. 11) Berikan suplemen nutrisi oral (SNO) sesuai resep jika asupan dari makanan tidak mencukupi. 12) Evaluasi efektivitas intervensi nutrisi secara berkala melalui parameter berat badan, kekuatan otot, dan hasil laboratorium.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: B.3.1
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal sebagai respons terhadap proses infeksi, inflamasi, atau lingkungan.
Kode SLKI: L.08002
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh aksila 36,5 – 37,5°C. 2) Kulit hangat dan kering. 3) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal. 4) Pasien melaporkan tidak merasa demam atau menggigil. 5) Tidak ada komplikasi terkait hipertermia.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi keperawatan: 1) Monitor suhu tubuh, nadi, pernapasan, dan tekanan darah secara teratur (setiap 4 jam atau sesuai kondisi). 2) Observasi tanda-tanda hipertermia seperti kulit kemerahan, panas, berkeringat, dan takikardia. 3) Lakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres air hangat (bukan dingin) di aksila dan lipat paha, mandi air hangat, atau penggunaan selimut pendingin jika diperlukan. 4) Anjurkan dan bantu pasien untuk meningkatkan asupan cairan (air putih, jus, kuah sup) untuk mengganti cairan yang hilang melalui keringat dan evaporasi. 5) Berikan terapi antipiretik sesuai resep dokter (misal: parasetamol) dan evaluasi efektivitasnya. 6) Pertahankan lingkungan yang sejuk dan nyaman, sirkulasi udara baik, dan pakaian/linen yang menyerap keringat. 7) Anjurkan istirahat yang cukup untuk mengurangi produksi panas metabolik. 8) Monitor tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit, membran mukosa, dan produksi urin. 9) Kolaborasi pemberian cairan intravena jika asupan oral tidak adekuat atau terdapat tanda dehidrasi signifikan. 10) Berikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang penyebab demam pada TBC, cara penanganan di rumah, dan kapan harus mencari pertolongan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik. Kriteria hasil: 1) Pasien mampu melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuannya tanpa dispnea, kelemahan berlebihan, atau perubahan tanda vital yang signifikan. 2) Pasien melaporkan peningkatan energi. 3) Tanda vital stabil selama dan setelah aktivitas. 4) Pasien dan keluarga memahami teknik penghematan energi.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi keperawatan: 1) Kaji tingkat kelemahan dan intoleransi aktivitas dengan skala (misal: 0-10). 2) Monitor tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah, saturasi oksigen) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. 3) Bantu pasien dalam mengidentifikasi dan merencanakan aktivitas prioritas. 4) Ajarkan dan anjurkan teknik penghematan energi seperti duduk saat melakukan aktivitas (mandi, berpakaian), menyebar aktivitas sepanjang hari, mengambil istirahat yang cukup di antara aktivitas, dan menghindari aktivitas yang mendesak. 5) Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, tetapi dorong kemandirian sebatas kemampuan. 6) Rencanakan periode istirahat yang tidak terganggu untuk memulihkan energi. 7) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi, dimulai dari aktivitas ringan di tempat tidur, duduk, berdiri, hingga berjalan perlahan di dalam kamar. 8) Kolaborasi dalam terapi oksigen jika diperlukan untuk mengurangi beban kerja pernapasan selama aktivitas. 9) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 10) Edukasi pasien dan keluarga tentang hubungan antara kondisi penyakit (TBC, malnutrisi, demam) dengan kelemahan, serta pentingnya keseimbangan aktivitas dan istirahat untuk pemulihan. 11) Evaluasi respons pasien terhadap peningkatan aktivitas dan sesuaikan rencana intervensi.
-
Article No. 24929 | 07 Apr 2026
Klinis : Pasien mengeluhkan sesak nafas karena ada penumpukan cairan di paru-paru, batuk terus menerus sampai susah untuk tidur pada malam hari, pasien tidak di perbolehkan untuk melakukan aktivitas karna akan memperparah sesak nafasnya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Perbaikan pertukaran gas. Kriteria hasil: 1) Klien menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat, ditandai dengan: a) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal; b) Saturasi oksigen dalam rentang normal sesuai usia; c) Pernapasan reguler, irama dan frekuensi normal; d) Tidak ada sianosis; e) Tidak ada dispnea atau ortopnea; f) Tidak ada bunyi napas abnormal (ronkhi, wheezing); g) Batuk efektif dan produksi sputum (jika ada) dapat dikeluarkan; h) Peningkatan toleransi aktivitas. 2) Klien dan keluarga memahami penyebab dan penanganan gangguan pertukaran gas.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan keperawatan: 1) Kaji status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, upaya napas, penggunaan otot bantu). 2) Kaji bunyi napas (adanya ronkhi basah halus/kasar yang mengindikasikan cairan, wheezing). 3) Pantau tanda-tanda hipoksia/hipoksemia (gelisah, penurunan kesadaran, sianosis, takikardi). 4) Pantau saturasi oksigen secara berkala dengan pulse oximetry. 5) Bantu klien dalam posisi yang memudahkan pernapasan (misalnya, posisi duduk tinggi/ semi-Fowler/Fowler). 6) Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) sesuai indikasi dan kondisi klien. 7) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 8) Lakukan suction jalan napas atas/bawah sesuai kebutuhan dan protokol. 9) Berikan oksigen sesuai program terapi (nasal kanul, masker) dan pantau efektivitasnya. 10) Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program (seperti diuretik untuk mengurangi edema paru, bronkodilator, mukolitik). 11) Atur jadwal aktivitas dan istirahat untuk menghemat energi dan mencegah kelelahan. 12) Berikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga mengenai kondisi, pengobatan, teknik pernapasan, serta tanda dan gejala yang perlu dilaporkan.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk bernapas secara adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Perbaikan pola napas. Kriteria hasil: 1) Klien menunjukkan pola napas yang efektif, ditandai dengan: a) Frekuensi, irama, dan kedalaman napas dalam rentang normal; b) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan; c) Tidak ada dispnea atau sesak napas pada saat istirahat maupun aktivitas ringan; d) Bunyi napas bersih/jelas di semua lapang paru; e) Ekspansi dada simetris; f) Nilai analisis gas darah dalam batas normal. 2) Klien dapat mendemonstrasikan teknik untuk menghemat energi dan mempertahankan pola napas efektif.
Kode SIKI: 3240
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Tindakan keperawatan: 1) Kaji pola, frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan. 2) Identifikasi faktor yang memperberat atau meringankan sesak napas. 3) Bantu dan ajarkan posisi yang meningkatkan ekspansi paru (misalnya, duduk bersandar ke depan). 4) Ajarkan dan bimbing latihan pernapasan diafragma/pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing). 5) Instruksikan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan yang memperburupola napas. 6) Atur lingkungan yang nyaman, tenang, dan sirkulasi udara baik. 7) Bantu dalam aktivitas untuk mencegah kelelahan dan dispnea. 8) Pantau respons terhadap terapi oksigen. 9) Kolaborasi pemberian obat sesuai program (seperti bronkodilator). 10) Ajarkan klien dan keluarga untuk mengenali tanda-tanda gangguan pernapasan dan kapan harus mencari bantuan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Peningkatan toleransi aktivitas. Kriteria hasil: 1) Klien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas, ditandai dengan: a) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan tanpa dispnea berlebihan, kelelahan ekstrem, atau perubahan tanda vital yang signifikan; b) Tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) dalam batas normal selama dan setelah aktivitas; c) Mengungkapkan peningkatan energi dan penurunan keluhan lelah; d) Mematuhi program penghematan energi yang direncanakan. 2) Klien dan keluarga memahami prinsip penghematan energi dan perencanaan aktivitas.
Kode SIKI: 0180
Deskripsi : Manajemen Energi. Tindakan keperawatan: 1) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (perubahan tanda vital, dispnea, kelelahan). 2) Identifikasi faktor yang menyebabkan atau memperberat intoleransi aktivitas. 3) Bantu klien dalam mengidentifikasi prioritas aktivitas. 4) Rencanakan dan jadwalkan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. 5) Ajarkan teknik penghematan energi (misalnya, duduk saat melakukan aktivitas, menggunakan alat bantu, mengatur peralatan dalam jangkauan). 6) Bantu aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, dan kurangi bantuan secara bertahap seiring peningkatan toleransi. 7) Anjurkan aktivitas ringan dan progresif sesuai toleransi. 8) Pantau dan batasi aktivitas yang menyebabkan dispnea berat atau kelelahan. 9) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (seperti fisioterapi) untuk program latihan. 10) Edukasi klien dan keluarga tentang pentingnya keseimbangan aktivitas dan istirahat, serta tanda-tanda kelelahan yang berlebihan.
-
Article No. 24930 | 07 Apr 2026
Klinis : Pasien makan tidak terlalu banyak habis hanya 1/4
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Status dimana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : SLKI L.03101 berfokus pada pemantauan dan pengelolaan status nutrisi pasien. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup pengkajian komprehensif terhadap asupan makanan dan cairan pasien, termasuk jumlah, jenis, dan frekuensi makan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti nafsu makan, kesulitan menelan, mual, atau kelemahan. Perawat akan mencatat asupan kalori dan protein secara akurat, menimbang berat badan secara teratur, dan memantau tanda-tanda klinis malnutrisi seperti penurunan massa otot, kelemahan, atau edema. Selain itu, perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menilai kebutuhan nutrisi spesifik pasien dan menyusun rencana diet yang sesuai. SLKI ini juga mencakup edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat, pilihan makanan yang kaya nutrisi, dan strategi untuk meningkatkan asupan, seperti makan dalam porsi kecil namun sering. Perawat akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk makan, memastikan makanan disajikan dalam bentuk dan suhu yang sesuai, serta memberikan bantuan fisik jika diperlukan. Evaluasi keberhasilan intervensi dilakukan dengan membandingkan asupan makanan dengan target yang ditetapkan, tren berat badan, dan perbaikan parameter biokimia (seperti albumin serum) serta peningkatan energi dan kekuatan pasien. Tujuan akhirnya adalah mencegah penurunan status nutrisi lebih lanjut dan mencapai atau mempertahankan berat badan serta massa otot yang optimal sesuai kondisi kesehatan pasien.
Kode SIKI: I.11041
Deskripsi : SIKI I.11041 adalah intervensi spesifik untuk meningkatkan asupan makanan dan cairan. Intervensi ini dimulai dengan pengkajian mendalam terhadap penyebab kurangnya asupan, apakah karena faktor fisiologis (nyeri, mual, dispnea, kelelahan), psikologis (ansietas, depresi), atau lingkungan (makanan tidak sesuai selera, suasana tidak nyaman). Perawat kemudian merencanakan dan melaksanakan tindakan untuk mengatasi hambatan tersebut. Tindakan langsung termasuk membantu pasien dalam memilih menu yang disukai namun tetap memenuhi kebutuhan gizi, menyiapkan makanan dalam porsi kecil dan menarik, serta memastikan posisi pasien nyaman dan aman selama makan (misalnya, posisi duduk tegak untuk mencegah aspirasi). Perawat dapat memberikan makan dengan sabar jika pasien sangat lemah, menggunakan alat bantu makan jika diperlukan, dan mendorong anggota keluarga untuk terlibat dalam pendampingan makan. Intervensi juga mencakup manajemen gejala, seperti memberikan obat antiemetik sebelum makan jika pasien mual atau mengatur pemberian obat pereda nyeri sehingga puncak kerjanya saat waktu makan. Perawat akan mendokumentasikan setiap kali makan, termasuk jumlah persentase yang dihabiskan (seperti 1/4 porsi), jenis makanan, dan respons pasien. Edukasi merupakan bagian integral; perawat menjelaskan pentingnya setiap suapan, menggunakan teknik motivasi dan penguatan positif. Jika asupan oral sangat tidak memadai, perawat akan berkolaborasi dengan tim kesehatan untuk mempertimbangkan suplementasi nutrisi oral (seperti susu atau pudding tinggi protein) atau dukungan nutrisi enteral/parenteral sesuai indikasi. Evaluasi dilakukan setiap hari dengan meninjau catatan asupan, perubahan berat badan, dan laporan subjektif pasien tentang nafsu makan dan toleransi makanan. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan kembali berdasarkan respons dan kemajuan pasien.
-
Article No. 24931 | 07 Apr 2026
Klinis : Seorang perempuan (38 th) mengeluh sering pusing, pandangan berkunang-kunang, dan cepat lelah saat beraktivitas ringan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar Hemoglobin (Hb) 7,2 gr/dL. Konjungtiva mata tampak sangat pucat dan akral teraba dingin.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Anemia (Defisiensi Besi)
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Risiko atau adanya penurunan oksigenasi jaringan tubuh akibat defisiensi sel darah merah atau hemoglobin.
Kode SLKI: L.03108
Deskripsi : Peningkatan Status Nutrisi. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk memulihkan dan mempertahankan status nutrisi yang adekuat, khususnya terkait asupan zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang merupakan komponen esensial untuk sintesis hemoglobin dan eritropoiesis. Pada pasien dengan anemia defisiensi besi, fokus utama adalah meningkatkan asupan makanan kaya zat besi heme (seperti daging merah, hati, ayam, ikan) dan non-heme (seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu) yang dikombinasikan dengan sumber vitamin C untuk meningkatkan penyerapan. Perawat akan melakukan edukasi komprehensif mengenai pemilihan makanan, pengaturan menu harian, dan teknik pengolahan makanan yang mempertahankan kandungan gizinya. Selain itu, jika pasien mendapat suplementasi zat besi oral, perawat akan mengajarkan cara minum obat yang tepat (misalnya, dengan air jeruk, menghindari konsumsi bersamaan dengan teh atau susu) dan mengatasi efek samping seperti mual atau konstipasi. Monitoring berat badan, pola makan, dan tanda-tanda perbaikan klinis (seperti penurunan kelelahan) juga menjadi bagian integral dari intervensi ini untuk mengevaluasi keefektifan terapi nutrisi yang diberikan.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : Edukasi Manajemen Anemia. Intervensi ini merupakan tindakan edukatif yang sistematis untuk memberdayakan pasien dan keluarganya dalam mengelola kondisi anemia secara mandiri. Edukasi mencakup penjelasan patofisiologi anemia defisiensi besi secara sederhana, menghubungkan gejala pusing, kunang-kunang, lelah, dan pucat dengan rendahnya kadar hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen. Perawat akan menjelaskan hasil laboratorium (Hb 7,2 gr/dL) dan target nilai normal yang ingin dicapai. Pasien diedukasi untuk mengenali tanda-tanda bahaya yang memerlukan penanganan segera (seperti sesak napas berat, nyeri dada, atau pingsan). Selain manajemen nutrisi, edukasi juga meliputi teknik penghematan energi (energy saving technique) seperti istirahat yang cukup, mengatur prioritas aktivitas, dan menghindari aktivitas berat secara tiba-tiba untuk mencegah kelelahan berlebih. Perawat akan mendemonstrasikan dan meminta pasien mempraktikkan cara memantau tanda-tanda perdarahan (jika ada penyebab seperti menorrhagia) serta pentingnya kepatuhan follow-up dan pemeriksaan laboratorium ulang. Edukasi juga menyentuh aspek psikososial, seperti dukungan untuk mengatasi dampak anemia terhadap produktivitas dan kualitas hidup, sehingga pasien dapat beradaptasi dan berpartisipasi aktif dalam proses penyembuhan.
-
Article No. 24932 | 07 Apr 2026
Klinis : Nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain). Pengalaman bersifat subjektif dan individual.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Definisi: Kemampuan untuk mengelola dan mengurangi pengalaman nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi. Penjelasan: Luaran ini berfokus pada pencapaian kenyamanan pasien melalui pengurangan intensitas, durasi, atau frekuensi nyeri. Hal ini diukur melalui penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien, berkurangnya tanda-tanda distress non-verbal (seperti wajah mengerut, gelisah, atau postur melindungi), serta peningkatan kemampuan untuk beristirahat, tidur, dan berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Kontrol nyeri yang efektif tidak selalu berarti nyeri hilang sepenuhnya, tetapi mencapai tingkat di mana nyeri tidak lagi mendominasi persepsi dan menghambat fungsi. Pencapaian luaran ini melibatkan kombinasi intervensi farmakologis dan non-farmakologis yang dipersonalisasi, serta edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri. Keberhasilan kontrol nyeri merupakan fondasi untuk pemulihan dan peningkatan kualitas hidup, karena nyeri yang tidak terkendali dapat memperlambat penyembuhan, menurunkan fungsi imun, dan menyebabkan distress psikologis seperti kecemasan atau depresi.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Definisi: Memberikan terapi untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien. Penjelasan: Intervensi ini merupakan tindakan holistik dan komprehensif yang dimulai dengan penilaian nyeri yang akurat dan berkelanjutan menggunakan skala yang sesuai (numerik, verbal, gambar). Perawat berperan sebagai advokat pasien dalam pemberian analgesia yang tepat, tepat dosis, dan tepat waktu, termasuk memantau efek terapi dan efek samping. Selain intervensi farmakologis, manajemen nyeri mencakup penerapan teknik non-farmakologis seperti terapi dingin/panas, distraksi (misalnya musik, mengobrol), relaksasi (napas dalam, imajinasi terbimbing), posisi yang nyaman, dan masase. Edukasi merupakan komponen kritis; perawat mendidik pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri, penggunaan skala nyeri, cara kerja obat, serta teknik non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri. Intervensi juga melibatkan modifikasi lingkungan untuk mengurangi pemicu nyeri dan memfasilitasi kenyamanan. Manajemen nyeri yang efektif memerlukan pendekatan kolaboratif dengan tim kesehatan lain dan penghormatan terhadap laporan subjektif pasien sebagai standar emas penilaian nyeri. Tujuannya adalah memberdayakan pasien untuk memiliki kendali atas pengalaman nyerinya, sehingga meningkatkan kepatuhan terhadap rencana terapi dan mempercepat proses penyembuhan secara keseluruhan.
-
Article No. 24933 | 07 Apr 2026
Klinis : Tn. B (35 tahun) dibawa keluarganya karena sering berbicara sendiri dan tampakngelisah. Ia mengatakan sering mendengar suara yang menyuruhnya marah dan merasa ada orang yang ingin mencelakainya. Ia juga mengeluh sulit tidur. Selama wawancara, pasien tampak kurang kontak mata, afek datar, dan beberapa kali berbicara sendiri. Keluarga mengatakan pasien tidak teratur minum obat
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Skizofrenia Paranoid, Episode Akut, Tanpa Pengobatan
Kode ICD-10: F20.0
Deskripsi Singkat : Berdasarkan deskripsi klinis, kondisi pasien mengarah pada Skizofrenia Paranoid (F20.0). Kode ICD-10 F20.0 mengacu pada gangguan psikotik kronis yang ditandai dengan distorsi fundamental dalam berpikir dan persepsi, serta afek yang tidak sesuai atau tumpul. Gejala utama yang sesuai adalah halusinasi auditorik berupa suara yang memerintahkan pasien untuk marah, serta delusi paranoid berupa keyakinan bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya. Gejala lain yang mendukung adalah gangguan dalam proses berpikir (berbicara sendiri), gejala negatif seperti afek datar dan kurang kontak mata, serta gangguan fungsi sosial. Riwayat ketidakpatuhan minum obat menunjukkan bahwa pasien sedang mengalami episode akut atau eksaserbasi dari kondisi kronisnya. Kode ini digunakan untuk episode akut skizofrenia paranoid, di mana gejala positif seperti delusi dan halusinasi sangat menonjol. Kondisi ini menyebabkan penurunan signifikan dalam fungsi personal, sosial, dan pekerjaan, serta memerlukan penanganan medis dan psikososial yang komprehensif.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24934 | 07 Apr 2026
Klinis : Tn. B (35 tahun) dibawa keluarganya karena sering berbicara sendiri dan tampakngelisah. Ia mengatakan sering mendengar suara yang menyuruhnya marah dan merasa ada orang yang ingin mencelakainya. Ia juga mengeluh sulit tidur. Selama wawancara, pasien tampak kurang kontak mata, afek datar, dan beberapa kali berbicara sendiri. Keluarga mengatakan pasien tidak teratur minum obat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko individu untuk berperilaku yang dapat menyebabkan cedera fisik atau psikologis pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Perilaku kekerasan dapat dicegah. SLKI ini berfokus pada upaya pencegahan dengan mengidentifikasi faktor risiko dan menerapkan intervensi untuk menurunkan potensi agresivitas. Pada kasus Tn. B, data utama yang mendukung diagnosis ini adalah adanya halusinasi auditorik berupa suara yang menyuruhnya marah. Perintah dari halusinasi ini merupakan pemicu (trigger) utama yang berpotensi memunculkan perilaku kekerasan sebagai respons terhadap perintah tersebut. Selain itu, waham curiga (merasa ada orang yang ingin mencelakakannya) juga meningkatkan risiko, karena pasien mungkin bertindak agresif sebagai bentuk pertahanan diri terhadap ancaman yang ia persepsikan. Gejala ansietas/ kegelisahan dan insomnia dapat memperburuk iritabilitas dan menurunkan kontrol impuls, sehingga semakin meningkatkan risiko. Tujuan utama dari SLKI ini adalah memastikan keselamatan pasien, orang lain, dan lingkungan, sekaligus membantu pasien mengelola halusinasi dan wahamnya tanpa melampiaskannya dalam bentuk kekerasan.
Kode SIKI: 4201, 4202, 4204, 4301, 4302
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan harus komprehensif dan berfokus pada pengendalian lingkungan, membangun hubungan terapeutik, dan manajemen gejala. SIKI 4201 (Manajemen Lingkungan Terapeutik) adalah fondasi, dengan menciptakan lingkungan yang tenang, rendah stimulasi, dan aman (menjauhkan benda berbahaya). Perawat perlu mengobservasi perilaku pasien secara ketat namun tidak mengancam. SIKI 4202 (Pengendalian Perilaku Kekerasan) dilakukan dengan mengidentifikasi tanda-tanda awal eskalasi agitasi pada Tn. B, seperti bicara semakin keras, mengepalkan tangan, atau mondar-mandir. Perawat harus siap melakukan intervensi de-eskalasi dengan komunikasi tenang, memberikan pilihan yang sederhana, dan menawarkan obat sesuai resep. SIKI 4204 (Manajemen Halusinasi) sangat krusial. Perawat akan membantu Tn. B mengidentifikasi bahwa suara yang didengar adalah bagian dari penyakitnya (halusinasi), mengajarkan teknik untuk mengalihkan perhatian (seperti mendengarkan musik atau diajak bercakap-cakap), dan melatihnya untuk menolak perintah dari suara tersebut. SIKI 4301 (Manajemen Ansietas) dilakukan dengan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam dan memberikan jaminan keamanan. SIKI 4302 (Peningkatan Koping) membantu Tn. B mengenali pemicu stres dan gejala prodromal, serta mengembangkan cara yang adaptif untuk mengekspresikan amarah atau ketakutan, misalnya dengan menyampaikan perasaannya secara verbal kepada perawat. Semua intervensi ini dilakukan dengan pendekatan empatik, menghargai, dan tidak menghakimi untuk membangun aliansi terapeutik yang kuat, yang pada akhirnya bertujuan mengendalikan risiko dan memulihkan fungsi psikososial Tn. B.
Kondisi: Halusinasi
Kode SDKI: 0011
Deskripsi Singkat: Persepsi sensori yang salah atau distorsi persepsi sensori tanpa adanya rangsang dari luar.
Kode SLKI: 1102
Deskripsi : Individu dapat mengontrol halusinasi. SLKI ini berfokus pada pencapaian dimana pasien memiliki kesadaran terhadap pengalaman halusinasinya dan mampu menggunakan strategi untuk mengelola atau menguranginya. Pada Tn. B, halusinasi auditorik (mendengar suara) merupakan gejala sentral yang sangat mengganggu dan memicu gejala lain seperti ansietas dan risiko kekerasan. Tujuan dari SLKI 1102 adalah agar Tn. B dapat: 1) Mengidentifikasi dan melaporkan kapan halusinasi muncul, 2) Mengenali bahwa suara tersebut adalah bagian dari gejalanya dan bukan realitas, 3) Menggunakan teknik koping yang diajarkan (seperti mengalihkan perhatian atau berkomunikasi dengan orang lain) untuk memutus kontak dengan suara halusinasi, dan 4) Mengurangi tingkat distress dan gangguan fungsi yang disebabkan oleh halusinasi. Pencapaian SLKI ini akan secara signifikan menurunkan risiko perilaku mengganggu dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Kode SIKI: 4204, 4401
Deskripsi : Intervensi difokuskan pada pendekatan terapeutik untuk mengelola persepsi sensori yang salah. SIKI 4204 (Manajemen Halusinasi) merupakan intervensi inti. Perawat akan melakukan pendekatan dengan empati, tidak menyangkal atau menertawakan pengalaman pasien, tetapi juga tidak memperkuat realitas halusinasi. Langkah-langkahnya meliputi: Observasi tanda-tanda halusinasi (seperti bicara sendiri, konsentrasi terganggu). Mendekati pasien dan menanyakan pengalamannya ("Apakah Anda mendengar suara lagi?"). Membantu pasien menguji realita dengan menanyakan apakah orang lain juga mendengar suara itu. Melatih pasien untuk menyatakan bahwa suara itu adalah gejala penyakit dan ia memiliki kendali untuk tidak menuruti perintahnya. Mengajarkan teknik pengalihan seperti terlibat dalam aktivitas fisik (jalan, olahraga ringan), aktivitas manual (merajut, menggambar), atau stimulasi auditorik yang nyata (mendengarkan musik melalui headphone). SIKI 4401 (Manajemen Waham) juga relevan karena sering berkaitan dengan halusinasi. Perawat tidak berdebat tentang kebenaran waham Tn. B (orang ingin mencelakakannya), tetapi menyatakan bahwa perawat memahami bahwa hal itu sangat menakutkan baginya, dan perawat hadir untuk menjamin keamanannya. Pendekatan ini mengurangi ansietas yang memperberat halusinasi dan membangun kepercayaan. Kolaborasi pemberian obat antipsikotik sesuai resep dokter juga bagian integral dari intervensi untuk mengurangi intensitas gejala.
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Gangguan pada kuantitas atau kualitas tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu fungsi kehidupan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kebutuhan tidur terpenuhi. SLKI ini bertujuan agar pasien mencapai tidur yang cukup dan berkualitas sehingga dapat berfungsi optimal secara fisik dan psikologis. Pada Tn. B, insomnia merupakan keluhan yang disampaikan dan merupakan gejala umum pada gangguan psikotik. Gangguan tidur ini dapat disebabkan oleh ansietas tinggi, halusinasi yang mengganggu terutama di malam hari yang sunyi, atau efek dari penyakitnya sendiri. Tidur yang tidak adequate akan memperburuk gejala psikosis, meningkatkan iritabilitas, menurunkan kemampuan koping, dan menghambat proses pemulihan. Oleh karena itu, tujuan SLKI 0801 adalah Tn. B dapat tidur dengan durasi yang cukup (misal 6-8 jam per malam), dengan kualitas yang baik (tidak sering terbangun), dan bangun dengan perasaan segar. Pencapaian ini akan mendukung stabilitas emosi dan efektivitas terapi lainnya.
Kode SIKI: 2810, 4301
Deskripsi : Intervensi dilakukan dengan pendekatan non-farmakologis dan penanganan penyebab dasarnya. SIKI 2810 (Peningkatan Tidur) meliputi edukasi dan penerapan sleep hygiene: Menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, gelap, dan tenang. Menetapkan rutinitas waktu tidur dan bangun yang konsisten. Menghindari konsumsi kafein atau stimulan lain di sore/malam hari. Mengajarkan teknik relaksasi sebelum tidur seperti relaksasi otot progresif atau mendengarkan musik yang menenangkan. Membatasi waktu tidur siang. Mendorong aktivitas fisik di siang hari namun tidak menjelang tidur. SIKI 4301 (Manajemen Ansietas) sangat terkait karena ansietas adalah penyebab utama insomnia Tn. B. Dengan mengurangi ansietas melalui pendekatan terapeutik, jaminan keamanan, dan manajemen halusinasi, diharapkan tekanan psikologis yang menghalangi tidur dapat berkurang. Perawat juga perlu berkolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi kebutuhan obat tidur atau penyesuaian dosis obat antipsikotik yang mungkin memiliki efek sedatif, serta memastikan kepatuhan minum obat untuk mengendalikan gejala psikotik yang mengganggu tidur.
-
Article No. 24935 | 07 Apr 2026
Klinis : FLU
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: FLU
Kode ICD-10: J11.1
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada influenza (flu) yang disebabkan oleh virus influenza yang tidak teridentifikasi atau tidak termasuk dalam tipe yang ditentukan (non-avian). Kode J11.1 secara spesifik untuk "Influenza dengan manifestasi pernapasan lainnya, virus tidak diidentifikasi". Influenza adalah infeksi virus akut pada saluran pernapasan yang sangat menular, ditandai dengan onset demam mendadak, nyeri otot (mialgia), sakit kepala, malaise berat, batuk nonproduktif, sakit tenggorokan, dan rinitis. Virus menyebar melalui droplet udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi. Kode ini digunakan ketika diagnosis klinis kuat untuk influenza, tetapi tes laboratorium untuk mengidentifikasi jenis virus spesifik (seperti influenza A atau B) tidak dilakukan atau hasilnya tidak tersedia. Kode ini berada di bawah blok "Influenza dan pneumonia" (J09-J18) dalam bab "Penyakit pada sistem pernapasan". Penting untuk membedakannya dari influenza dengan virus yang teridentifikasi (kode J10.-) dan dari common cold (selesma) yang disebabkan oleh virus lain. Komplikasi dapat berupa pneumonia, bronkitis, sinusitis, dan memperburuk kondisi medis kronis.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***