Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25123 | 15 Apr 2026
Klinis : Ny.H usia 50 tahun datang ke IRD dengan keluhan nyeri dada kiri yang tidak berkurang dengan istirahat sejak tadi pagi. Berdasarkan pengkajian didapatkan data: nyeri menjalar ke lengan dan punggung kiri, skala nyeri 7, pasien tampak gelisah, diaphoresis dan wajah gerimis. Berdasarkan pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan 140/90 mmHg, Nadi=120x/menit, Respiratory rate (RR)= 28x/menit dan suhu tubuh 37,6°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Pada kasus Ny. H, kondisi klinis yang mendasari (diduga sindrom koroner akut/infark miokard) menyebabkan nyeri dada hebat dengan skala 7, menjalar, dan tidak berkurang dengan istirahat. SLKI ini menjadi tujuan utama dimana perawat berkolaborasi untuk mencapai pengurangan hingga penghilangan nyeri. Intervensi keperawatan diarahkan untuk memastikan nyeri dapat dikendalikan, ditandai dengan penurunan skala nyeri (misalnya menjadi ≤3), pasien tampak tenang, tanda-tanda vital kembali ke rentang normal, dan pasien melaporkan peningkatan kenyamanan. Pencapaian SLKI ini sangat kritis karena nyeri yang tidak terkontrol tidak hanya menyebabkan penderitaan tetapi juga memperberat beban kerja jantung melalui peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, yang dapat memperluas area kerusakan jantung.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Serangkaian intervensi sistematis yang dilakukan perawat untuk mengatasi nyeri akut pada Ny. H. Intervensi ini bersifat komprehensif dan segera. Pertama, Pengkajian Nyeri Komprehensif: Melakukan pengkajian nyeri secara mendetail menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala numerik (0-10) secara berkala untuk memantau perkembangan. Kedua, Intervensi Farmakologis: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik yang sesuai (seperti nitrogliserin, morfin) sesuai protokol, memantau efektivitas, dan mengawasi efek samping (seperti hipotensi, depresi pernapasan). Ketiga, Intervensi Non-Farmakologis: Memberikan lingkungan yang tenang, melakukan teknik relaksasi napas dalam, memposisikan pasien dengan nyaman (biasanya semi-Fowler), serta memberikan penjelasan dan dukungan emosional untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperberat persepsi nyeri. Keempat, Monitoring Respons Fisiologis: Memantau tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR) dan gejala lain (diaphoresis, gelisah) sebagai indikator tidak langsung dari respons terhadap nyeri dan pengobatan. Kelima, Edukasi: Menjelaskan penyebab nyeri, tujuan pengobatan, dan pentingnya melaporkan nyeri dengan segera. Seluruh intervensi ini didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi secara terus-menerus untuk menilai keberhasilan manajemen nyeri dan menentukan kebutuhan modifikasi intervensi. Pendekatan holistik ini penting karena nyeri pada kondisi jantung bersifat kompleks, melibatkan komponen fisik dan psikologis.
-
Article No. 25124 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0028
Deskripsi Singkat: Risiko Penularan Infeksi
Kode SLKI: 4305
Deskripsi : Perilaku penularan infeksi dicegah.
Kode SIKI: 4501
<>Deskripsi : Edukasi kesehatan dilakukan.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Kecemasan
Kode SLKI: 1306
<>Deskripsi : Tingkat kecemasan menurun.
Kode SIKI: 1401
<>Deskripsi : Lingkungan terapeutik dipertahankan.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan Koping
Kode SLKI: 1501
<>Deskripsi : Koping efektif.
Kode SIKI: 1601
<>Deskripsi : Hubungan saling percaya dibina.
-
Article No. 25125 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas pada Pasangan (Ny. M) terkait Risiko Penularan HIV
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan khawatir, gelisah, atau tidak nyaman yang terkait dengan antisipasi ancaman atau peristiwa yang akan datang. Pada kasus ini, Ny. M mengalami kecemasan yang spesifik terkait ketakutannya tertular HIV dari suaminya (Tn. A) yang positif HIV dengan viral load yang belum tersupresi. Kecemasan ini diperparah oleh keinginan mereka untuk segera memiliki anak, yang berpotensi meningkatkan risiko penularan melalui hubungan seksual tanpa kondom. Ansietas ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis Ny. M, kualitas hubungan pernikahan, dan kepatuhan terhadap rencana pencegahan penularan yang aman.
Kode SLKI: L.07114
Deskripsi : Tercapainya tingkat kecemasan yang terkendali. Intervensi keperawatan diarahkan untuk membantu Ny. M: (1) Mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan cemas serta sumber ketakutannya secara verbal. (2) Mendemonstrasikan teknik relaksasi sederhana (seperti napas dalam) untuk mengelola gejala cemas saat muncul. (3) Menyatakan pemahaman tentang cara penularan HIV dan metode pencegahan yang efektif, termasuk PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) dan konsep U=U (Undetectable = Untransmittable) sebagai tujuan pengobatan suaminya. (4) Berpartisipasi aktif dalam diskusi dengan konselor atau tenaga kesehatan mengenai perencanaan kehamilan yang aman (contohnya dengan program bayi tabung/inseminasi buatan untuk menghindari penularan). (5) Melaporkan penurunan tingkat kecemasan yang subyektif setelah mendapatkan edukasi dan konseling yang komprehensif.
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Intervensi untuk mengurangi ansietas meliputi: (1) Menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung untuk konseling. (2) Mendengarkan secara aktif dan empatik kekhawatiran yang diungkapkan oleh Ny. M tanpa menghakimi. (3) Memberikan edukasi kesehatan yang akurat dan spesifik tentang HIV, cara penularan, dan langkah pencegahan berbasis bukti, termasuk pentingnya penggunaan kondom secara konsisten hingga viral load Tn. A mencapai supresi (tidak terdeteksi) dan opsi PrEP untuk Ny. M. (4) Mengajarkan teknik manajemen stres dan relaksasi. (5) Melibatkan Tn. A dalam sesi konseling bersama untuk membangun komunikasi terbuka dan dukungan pasangan. (6) Berkolaborasi dengan dokter untuk membahas rencana pengobatan ARV Tn. A agar mencapai supresi viral load dan merujuk ke layanan kesehatan reproduksi untuk konseling perencanaan kehamilan yang aman bagi pasangan serodiskordan. (7) Memberikan informasi tentang kelompok dukungan (support group) bagi pasangan yang menghadapi situasi serupa.
Kondisi: Risiko Cedera (Penularan HIV) pada Pasangan Negatif (Ny. M)
Kode SDKI: D.0079
Deskripsi Singkat: Risiko cedera di sini secara spesifik merujuk pada risiko penularan infeksi HIV dari Tn. A yang positif kepada Ny. M yang masih negatif. Risiko ini meningkat secara signifikan karena beberapa faktor: (1) Viral load Tn. A masih terdeteksi (1.200 copies/mL) yang menunjukkan risiko penularan masih ada. (2) Pasangan jarang menggunakan kondom karena keinginan untuk segera hamil, sehingga menghilangkan metode barrier pelindung utama. (3) Adanya rencana kehamilan dalam waktu dekat yang mungkin mendorong perilaku berisiko jika tidak diarahkan dengan strategi yang aman. Diagnosis keperawatan ini menekankan pada potensi terjadinya cedera/biologis (infeksi) dan perlunya intervensi preventif segera.
Kode SLKI: L.15021
Deskripsi : Pasangan bebas dari penularan HIV. Tujuan keperawatan adalah: (1) Ny. M tetap mempertahankan status HIV negatif. (2) Pasangan (Tn. A dan Ny. M) mampu menyebutkan minimal tiga strategi pencegahan penularan HIV dalam konteks hubungan pasangan serodiskordan yang menginginkan keturunan. (3) Pasangan menyatakan komitmen untuk menerapkan strategi pencegahan yang disepakati (seperti konsisten menggunakan kondom hingga viral load supresi, atau penggunaan PrEP). (4) Tn. A menunjukkan kepatuhan yang tinggi terhadap terapi ARV untuk mencapai dan mempertahankan viral load tidak terdeteksi (U=U). (5) Pasangan telah mendapatkan rujukan dan informasi lengkap mengenai layanan kesehatan reproduksi untuk program kehamilan aman (seperti inseminasi atau bayi tabung) guna meminimalkan risiko penularan.
Kode SIKI: I.05042
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah penularan infeksi meliputi: (1) Melakukan edukasi komprehensif kepada kedua pasangan tentang cara penularan HIV dan faktor yang meningkatkan risiko. (2) Memfasilitasi diskusi terbuka antara suami-istri mengenai kekhawatiran, tanggung jawab, dan rencana bersama untuk mencegah penularan. (3) Mendorong dan memantau kepatuhan Tn. A terhadap terapi ARV, serta menjelaskan konsep U=U sebagai tujuan yang dapat menghilangkan risiko penularan seksual. (4) Merekomendasikan dan memfasilitasi akses Ny. M ke layanan PrEP sebagai perlindungan tambahan selama periode menuju supresi viral load suami atau jika ada pertimbangan lain. (5) Menekankan pentingnya penggunaan kondom secara konsisten dan benar sebagai metode barrier utama hingga tercapai viral load tidak terdeteksi selama minimal 6 bulan. (6) Merujuk pasangan ke klinik kesehatan reproduksi atau spesialis kandungan yang berpengalaman menangani pasangan serodiskordan untuk membahas opsi kehamilan aman (seperti sperm washing dan inseminasi intrauterin). (7) Menjadwalkan tes HIV berkala untuk Ny. M sesuai protokol.
Kondisi: Harga Diri Rendah Situasional pada Tn. A (Perasaan Bersalah dan Takut Ditolak)
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Harga diri rendah situasional adalah perkembangan perasaan negatif terhadap diri sendiri sebagai respons terhadap suatu peristiwa atau situasi tertentu (dalam hal ini, diagnosis HIV dan dampaknya terhadap pasangan). Tn. A melaporkan perasaan bersalah (mungkin karena merasa telah membahayakan atau mengecewakan istri) dan takut ditolak (kekhawatiran akan ditinggalkan atau tidak diterima karena status HIV-nya). Perasaan ini dapat menghambat komunikasi terbuka dengan istri, memengaruhi kesehatan mental, dan berpotensi mengurangi motivasi untuk patuh berobat. Situasi ini diperberat oleh keinginan memiliki anak yang mungkin terasa terancam.
Kode SLKI: L.07016
Deskripsi : Meningkatnya harga diri. Tujuan keperawatan untuk Tn. A adalah: (1) Dapat mengungkapkan perasaan bersalah dan takutnya secara verbal kepada perawat atau konselor. (2) Menyatakan penerimaan terhadap kondisi dirinya (status HIV) sebagai bagian dari hidup yang dapat dikelola dengan pengobatan. (3) Menunjukkan perilaku proaktif dalam pengobatan (kepatuhan ARV) dan perlindungan pasangan sebagai bentuk tanggung jawab. (4) Melaporkan penurunan perasaan takut ditolak setelah melakukan komunikasi yang konstruktif dengan istrinya. (5) Berpartisipasi dalam perencanaan kehamilan aman bersama istri sebagai bentuk kontribusi positif dan harapan untuk masa depan.
Kode SIKI: I.05230
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan harga diri meliputi: (1) Pendekatan terapeutik dengan menerima kondisi klien tanpa syarat (unconditional positive regard). (2) Membantu Tn. A mengidentifikasi kekuatan dan sumber dukungan yang dimiliki (misalnya, istri yang masih mendampingi, akses pengobatan). (3) Memfasilitasi komunikasi antara Tn. A dan Ny. M dalam lingkungan yang aman untuk menyampaikan perasaan dan mendengarkan respons pasangan. (4) Memberikan reinforcement positif atas keputusannya untuk segera memulai ARV dan datang untuk konseling. (5) Menormalisasi perasaan yang dialami sebagai respons yang wajar, namun diarahkan pada penyelesaian yang konstruktif. (6) Mengedukasi bahwa dengan pengobatan yang baik, ia dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki keturunan tanpa menularkan virus kepada pasangan dan anak (konsep U=U dan program PPTCT - Prevention of Parent-To-Child Transmission). (7) Mendorong keterlibatan dalam kelompok dukungan sebaya (ODHA) untuk berbagi pengalaman dan mengurangi perasaan terisolasi.
-
Article No. 25126 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.ditemukan masalah keperawatan yaitu ansietas, kopong tidak efektif, risiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang disertai dengan respons otonom (sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir karena antisipasi bahaya. Ini adalah sinyal peringatan yang mengumumkan ancaman yang akan datang, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman tersebut.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perilaku ansietas menurun. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan perasaan ansietas menurun, 2) Mengungkapkan faktor penyebab ansietas, 3) Mengungkapkan strategi koping untuk mengatasi ansietas, 4) Melaporkan gejala ansietas menurun (seperti gelisah, jantung berdebar, sesak napas, tegang otot, sulit tidur, sulit konsentrasi), 5) Menggunakan strategi koping adaptif, 6) Menggunakan sumber dukungan sosial, 7) Melaporkan peningkatan kualitas tidur, 8) Melaporkan peningkatan nafsu makan, 9) Melaporkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, 10) Melaporkan peningkatan kualitas hidup.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen ansietas. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Kaji tingkat ansietas, 2) Identifikasi faktor penyebab ansietas, 3) Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan perasaan klien, 4) Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, relaksasi otot progresif, imajinasi terbimbing), 5) Bantu klien mengidentifikasi strategi koping yang digunakan, 6) Dorong klien untuk menggunakan strategi koping adaptif, 7) Libatkan keluarga atau orang terdekat dalam memberikan dukungan, 8) Rujuk ke profesional lain (psikolog, psikiater, konselor) jika diperlukan, 9) Berikan informasi tentang kondisi dan penatalaksanaannya untuk mengurangi ketidakpastian, 10) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, 11) Anjurkan aktivitas fisik ringan sesuai toleransi, 12) Anjurkan untuk menghindari konsumsi kafein dan stimulan lainnya.
Kondisi: Koping Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian yang valid tentang stresor, pilihan respons yang tidak memadai, dan/atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia. Hal ini dapat terjadi pada individu, keluarga, atau komunitas.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Koping efektif. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan kesadaran terhadap kemampuan koping, 2) Mengidentifikasi stresor internal dan eksternal, 3) Mengidentifikasi sumber koping yang tersedia, 4) Menggunakan sumber koping yang tersedia, 5) Menggunakan strategi koping adaptif, 6) Mengungkapkan perasaan terkontrol, 7) Melaporkan penurunan perilaku maladaptif, 8) Melaporkan peningkatan kemampuan menyelesaikan masalah, 9) Melaporkan peningkatan kemampuan beradaptasi dengan perubahan, 10) Melaporkan peningkatan kualitas hidup.
Kode SIKI: I.07001
Deskripsi : Peningkatan koping. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Kaji kemampuan koping klien dan keluarga, 2) Identifikasi stresor dan persepsi klien terhadap stresor, 3) Bantu klien mengidentifikasi kekuatan dan sumber dukungan yang dimiliki, 4) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan, pikiran, dan kekhawatiran, 5) Bantu klien mengembangkan strategi penyelesaian masalah, 6) Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres, 7) Libatkan keluarga dalam proses koping, 8) Berikan reinforcement positif terhadap upaya koping yang adaptif, 9) Bantu klien mengevaluasi efektivitas strategi koping yang digunakan, 10) Rujuk ke konselor atau support group jika diperlukan, 11) Fasilitasi komunikasi terbuka antara pasangan (Tn. A dan Ny. M) untuk membahas rasa bersalah, takut, dan rencana kehamilan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Risiko ini terkait dengan adanya faktor risiko seperti pertahanan primer tidak adekuat (kerusakan kulit, penurunan mobilitas silia, perubahan pH sekresi, penurunan peristaltik), pertahanan sekunder tidak adekuat (penurunan hemoglobin, leukopenia, penekanan respons inflamasi), atau paparan lingkungan yang meningkatkan paparan patogen.
Kode SLKI: L.15002
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tidak ada tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, bengkak, nyeri, drainage purulen), 2) Hasil laboratorium dalam rentang normal (leukosit, LED), 3) Melaporkan pemahaman tentang faktor risiko infeksi, 4) Melaporkan pemahaman tentang cara pencegahan infeksi, 5) Mendemonstrasikan perilaku pencegahan infeksi, 6) Mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa, 7) Mempertahankan status nutrisi yang adekuat, 8) Mendapatkan imunisasi sesuai kebutuhan, 9) Menghindari paparan sumber infeksi.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Monitor tanda dan gejala infeksi, 2) Ajarkan dan tekankan pentingnya cuci tangan, 3) Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik sesuai indikasi, 4) Ajarkan cara perawatan luka jika ada, 5) Anjurkan untuk menghindari kerumunan atau individu yang sakit, 6) Anjurkan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, 7) Anjurkan asupan nutrisi yang adekuat untuk meningkatkan sistem imun, 8) Pantau hasil laboratorium (hitung leukosit), 9) Berikan edukasi tentang pentingnya kepatuhan terapi ARV untuk mencapai supresi viral load sebagai upaya pencegahan penularan (Treatment as Prevention/TasP), 10) Berikan konseling pencegahan penularan pasangan (Pre-Exposure Prophylaxis/PrEP untuk Ny. M, penggunaan kondom yang konsisten, pemantauan viral load Tn. A, dan perencanaan kehamilan yang aman melalui program pencegahan penularan dari ibu ke anak/PPIA).
-
Article No. 25127 | 15 Apr 2026
Klinis : 1) Seorang laki-laki berusia 38 tahun mengalami sesak nafas dengan lemas. Kondisi ini telah dirasakan selama 2 minggu, namun semakin dirasakan semakin berat. Saat dibawa ke RS, diperoleh kondisi laki-laki tersebut RR: 30x/menit, cepat dangkal, akral pucat dan dingin, Td: 120/90 mmHg, S: 37,3 0C, Sat O2: 96%, saat dilakukan pemeriksaan AGD diperoleh pH: 7,34, PCO2 50, PaO2 80, pHCO3 21. Laki-laki tersebut tampak sangat lemah dan tidak bertenaga untuk bangkit dari tempat tidur. Dari pemeriksaan inilah laki-laki tersebut didiagnosis mengalami COPD kronis dengan riwayat rokok sejak usia 16 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen pada tingkat jaringan, serta ketidakmampuan tubuh untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Pada kasus pasien laki-laki usia 38 tahun dengan COPD kronis, kondisi ini dimanifestasikan secara klinis melalui sesak napas yang memberat (dispnea), peningkatan frekuensi pernapasan (tachypnea) hingga 30x/menit dengan pola yang cepat dan dangkal, serta kelemahan ekstrem yang menghambat mobilitas. Data penunjang yang kritis adalah hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan kondisi respiratori asidosis (pH 7,34) dengan peningkatan PCO2 (hiperkapnia) hingga 50 mmHg dan penurunan bikarbonat (HCO3) menjadi 21 mEq/L, mengindikasikan kompensasi renal yang belum optimal. Nilai PaO2 80 mmHg meskipun dalam batas normal rendah, dalam konteks hiperkapnia dan peningkatan usaha napas, tetap mengindikasikan gangguan difusi dan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi yang khas pada COPD. Defisit utama terletak pada kemampuan alveolus untuk melakukan pertukaran gas secara efektif akibat kerusakan struktural (emfisema) dan inflamasi kronis (bronkitis kronis) yang dipicu oleh riwayat merokok panjang. Kondisi ini diperberat oleh kelemahan otot pernapasan yang membuat pasien tidak mampu melakukan mekanika pernapasan yang dalam dan efektif untuk mengatasi retensi CO2.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 berfokus pada Peningkatan Fungsi Pernapasan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup tercapainya pola pernapasan yang efektif dan pertukaran gas yang optimal. Secara spesifik, tujuan intervensi keperawatan pada pasien ini adalah menurunkan frekuensi pernapasan (RR) mendekati rentang normal (16-20x/menit) dengan kedalaman yang adekuat, menghilangkan sensasi sesak napas (dispnea) saat istirahat maupun aktivitas minimal, serta memperbaiki parameter gas darah. Target yang ingin dicapai adalah pH arteri dalam rentang normal (7.35-7.45), menurunkan PCO2 ke nilai normal (35-45 mmHg), dan mempertahankan atau meningkatkan PaO2 > 80 mmHg dengan saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan ≥ 95%. Selain parameter fisiologis, kriteria hasil juga meliputi peningkatan toleransi aktivitas, ditandai dengan pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri dasar (seperti bangun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi) tanpa mengalami distress pernapasan yang signifikan. Pencapaian SLKI ini juga ditandai dengan warna kulit dan membran mukosa yang normal (tidak pucat atau sianosis) serta pengurangan kelemahan umum. Pemantauan terhadap tanda-tanda kelelahan otot pernapasan dan pencegahan gagal napas merupakan bagian integral dari kriteria hasil ini.
Kode SIKI: I.09011
Deskripsi : SIKI I.09011 adalah Manajemen Jalan Napas, yang merupakan serangkaian intervensi keperawatan untuk memastikan patensi dan kebersihan jalan napas serta mengoptimalkan pertukaran gas. Pada pasien COPD dengan hiperkapnia dan asidosis respiratorik, intervensi ini bersifat kritis dan meliputi: pertama, pemantauan ketat status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha otot bantu), status oksigenasi (SpO2), dan tanda-tanda klinis kelelahan. Kedua, pemberian terapi oksigen dengan hati-hati sesuai protokol (biasanya dengan aliran rendah 1-2 L/menit via nasal kanul) untuk memperbaiki hipoksia tanpa menekan drive pernapasan (risiko depresi pernapasan pada COPD kronis). Ketiga, memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau high-Fowler untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan. Keempat, membantu dan melatih pasien dalam teknik pernapasan efektif, seperti pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma, untuk mengurangi udara terperangkap (air trapping) dan meningkatkan ventilasi alveoler. Kelima, melakukan fisioterapi dada dan latihan batuk efektif jika terdapat sekresi berlebih, meskipun pada emfisema sekresi mungkin tidak dominan. Keenam, kolaborasi pemberian farmakoterapi (bronkodilator, kortikosteroid) sesuai resep dan memantau efeknya. Ketujuh, memfasilitasi konservasi energi dengan mengatur aktivitas dan istirahat untuk mengurangi konsumsi oksigen dan kelelahan. Kedelapan, edukasi tentang penghentian merokok absolut dan manajemen penyakit jangka panjang. Kesembilan, mempersiapkan dan mengkolaborasi jika diperlukan bantuan ventilasi mekanik non-invasif (CPAP/BiPAP) untuk mengatasi hiperkapnia yang memburuk. Semua intervensi dilakukan dengan pendekatan holistik, mengurangi kecemasan, dan memberdayakan pasien.
-
Article No. 25128 | 15 Apr 2026
Klinis : 1) Seorang laki-laki berusia 38 tahun mengalami sesak nafas dengan lemas. Kondisi ini telah dirasakan selama 2 minggu, namun semakin dirasakan semakin berat. Saat dibawa ke RS, diperoleh kondisi laki-laki tersebut RR: 30x/menit, cepat dangkal, akral pucat dan dingin, Td: 120/90 mmHg, S: 37,3 0C, Sat O2: 96%, saat dilakukan pemeriksaan AGD diperoleh pH: 7,34, PCO2 50, PaO2 80, pHCO3 21. Laki-laki tersebut tampak sangat lemah dan tidak bertenaga untuk bangkit dari tempat tidur. Dari pemeriksaan inilah laki-laki tersebut didiagnosis mengalami COPD kronis dengan riwayat rokok sejak usia 16 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta ketidakmampuan untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Pada kasus pasien laki-laki usia 38 tahun dengan COPD kronis, kondisi ini dimanifestasikan secara klinis melalui sesak napas yang memberat (dispnea), peningkatan frekuensi pernapasan (tachypnea) hingga 30x/menit yang cepat dan dangkal, serta hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang abnormal. Hasil AGD menunjukkan kondisi asidosis respiratorik kompensasi parsial (pH 7,34, PCO2 50 mmHg, HCO3 21 mEq/L) dan penurunan tekanan parsial oksigen arteri (PaO2 80 mmHg). Mekanisme patofisiologis utamanya pada COPD adalah kerusakan parenkim paru (emfisema) dan inflamasi saluran napas kronis (bronkitis kronis), yang menyebabkan penurunan luas permukaan alveoli untuk difusi, peningkatan ruang rugi fisiologis, dan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch). Rokok sejak usia 16 tahun merupakan faktor etiologi utama yang mempercepat progresivitas penyakit. Gangguan ini menyebabkan hipoksemia jaringan yang ditandai dengan kelemahan ekstrem, ketidakmampuan untuk bangkit dari tempat tidur (aktivitas intoleran), serta tanda-tanda kompensasi seperti takipnea dan vasokonstriksi perifer (akral pucat dan dingin). Diagnosa ini menjadi fokus utama karena mengancam fungsi vital dan merupakan akar dari gejala kelemahan serta distress pernapasan yang dialami pasien.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 bertujuan untuk mencapai pertukaran gas yang adekuat, dengan kriteria hasil: status pernapasan dan pertukaran gas dalam batas normal yang diharapkan. Secara spesifik pada pasien ini, luaran yang diharapkan meliputi: (1) Frekuensi pernapasan (RR) kembali dalam rentang normal (12-20x/menit) dengan pola yang teratur dan dalam, (2) Nilai saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan ≥95% dengan atau tanpa terapi oksigen tambahan yang sesuai, (3) Hasil Analisis Gas Darah (AGD) menunjukkan perbaikan menuju nilai normal (pH 7.35-7.45, PaCO2 35-45 mmHg, PaO2 >80 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L), (4) Pasien melaporkan atau menunjukkan penurunan sensasi sesak napas (dispnea) dan peningkatan kenyamanan pernapasan, (5) Warna kulit dan membran mukosa kembali normal (tidak sianosis atau pucat), serta (6) Tanda-tanda hipoksia sistemik seperti kelemahan ekstrem dan intoleransi aktivitas berkurang. Pencapaian luaran ini diukur melalui pemantauan tanda-tanda vital, pemeriksaan AGD serial, skala dyspnea, dan observasi klinis terhadap kemampuan aktivitas serta warna kulit. Target waktu pencapaian luaran ini bersifat progresif, dimulai dari stabilisasi dalam 24-48 jam pertama hingga perbaikan optimal dalam beberapa hari dengan penatalaksanaan yang tepat.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : SIKI I.08060 adalah intervensi keperawatan utama untuk mengatasi gangguan pertukaran gas, yang meliputi serangkaian tindakan sistematis: (1) Manajemen Jalan Napas & Oksigenasi: Memastikan jalan napas paten, memberikan terapi oksigen sesuai indikasi (biasanya dengan nasal kanul atau masker venturi dengan aliran rendah untuk pasien COPD guna menghindari depresi pernapasan), dan memantau efektivitasnya melalui pulse oximetry dan AGD. Posisi semi-Fowler atau high-Fowler dipertahankan untuk memaksimalkan ekspansi dada. (2) Pemantauan dan Pengkajian: Memantau status pernapasan secara ketat (laju, irama, kedalaman, usaha otot bantu), tanda-tanda vital, status neurologis (tingkat kesadaran), dan warna kulit setiap 1-4 jam atau sesuai kebutuhan. Menganalisis hasil AGD dan melaporkan perubahan yang signifikan. (3) Manajemen Sekresi: Membantu pasien dalam teknik batuk efektif dan latihan napas dalam. Jika diperlukan, melakukan fisioterapi dada (chest physiotherapy) dan suction untuk membersihkan sekresi. Memastikan hidrasi adekuat untuk mengencerkan sekret. (4) Konservasi Energi & Manajemen Aktivitas: Mengatur jadual aktivitas dengan periode istirahat yang cukup untuk mengurangi konsumsi oksigen. Membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri untuk mencegah kelelahan ekstrem. (5) Edukasi dan Dukungan: Mengajarkan teknik pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma untuk meningkatkan ventilasi dan mengurangi udara terperangkap. Memberikan edukasi tentang pentingnya penghentian merokok secara total dan rencana tindak lanjut. (6) Kolaborasi: Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian farmakoterapi (seperti bronkodilator, kortikosteroid, antibiotik jika ada infeksi), serta mempersiapkan dan membantu prosedur jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, ditujukan untuk mengoptimalkan oksigenasi, mengurangi beban kerja pernapasan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti gagal napas.
-
Article No. 25129 | 15 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki usia 50 tahun dirawat di RS dengan keluhan awal hidung sebelah kanan tersumbat dan tidak bisa mencium aroma sejak 6 bulan. Keluhan disertai epistaksis (perdarahan hidung). Pasien juga mengalami gangguan pendengaran berupa tinnitus (berdengung) pada telinga kanan dan penurunan pendengaran, dengan hasil pemeriksaan menunjukkan tuli sedang. Pada pemeriksaan leher ditemukan pembesaran KGB (kelenjar getah bening) sisi kanan yang menyebabkan keterbatasan gerak leher ke kanan serta gangguan menelan (disfagia). Pola makan pasien saat ini bubur kasar. Pemeriksaan fisik: Kesadaran: compos mentis (GCS E4M6V5) TD: 120/70 mmHg Nadi: 89x/menit RR: 21x/menit Suhu: 36,8°C Pemeriksaan penunjang: PA (Patologi Anatomi): karsinoma tidak berdiferensiasi Refleks muntah menurun Parese nervus kranialis IX, X, XI sisi kanan Diagnosis medis: Karsinoma Nasofaring (KNF) stadium T4N0M0
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Karsinoma Nasofaring (KNF) stadium T4N0M0 dengan komplikasi neurologis dan limfadenopati
Kode ICD-10: C11.9
Deskripsi Singkat : Karsinoma Nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang berasal dari epitel nasofaring, bagian tenggorokan di belakang hidung. Pada kasus ini, pasien laki-laki 50 tahun menunjukkan gejala khas seperti sumbatan hidung unilateral, epistaksis, anosmia, serta gejala akibat invasi tumor ke struktur sekitarnya, yaitu penurunan pendengaran (tuli konduktif/sensorineural), tinnitus, dan parese nervus kranialis IX, X, XI yang menyebabkan disfagia dan keterbatasan gerak leher. Pembesaran KGB leher juga ditemukan. Hasil patologi anatomi (PA) menyatakan karsinoma tidak berdiferensiasi, yang umum terkait dengan KNF tipe WHO III. Stadium T4N0M0 mengindikasikan tumor telah menginvasi struktur intrakranial dan/atau melibatkan saraf kranial (berdasarkan parese N. IX, X, XI), tetapi tanpa metastasis ke kelenjar getah bening regional (N0) atau jauh (M0). Kode ICD-10 C11.9 secara spesifik mengkodekan "Neoplasma ganas nasofaring, bagian yang tidak ditentukan". Kode ini mencakup berbagai subtipe histologis dan stadium, termasuk kasus dengan komplikasi neurologis seperti yang dijelaskan. Pengkodean ini digunakan untuk pencatatan, penagihan, dan pelaporan statistik penyakit kanker.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25088 | 14 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki, usia 58 tahun, dibawa ke IGD oleh keluarga dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien sebelumnya mengeluh sakit kepala hebat mendadak disertai muntah proyektil. Riwayat Kesehatan • Hipertensi sejak 10 tahun (tidak terkontrol) • Tidak rutin minum obat • Tidak ada riwayat trauma Pemeriksaan Fisik Primary Survey (ABCDE): • Airway: Tidak bebas, terdapat suara gurgling • Breathing: RR 28x/menit, pola tidak teratur • Circulation: TD 200/110 mmHg, HR 52x/menit • Disability (GCS): E2 V2 M4 = 8 • Exposure: Tidak ada luka eksternal Pemeriksaan Neurologi: • Pupil anisokor (kanan > kiri) • Refleks cahaya lambat • Hemiparesis sisi kiri Pemeriksaan Penunjang Laboratorium: • Hb: 14 g/dL • Leukosit: 13.000 /µL • Trombosit: 250.000 /µL • Gula darah: 180 mg/dL • Natrium: 150 mEq/L • Kalium: 3.2 mEq/L • AGD: o pH: 7.30 o PaCO₂: 50 mmHg o PaO₂: 80 mmHg o HCO₃⁻: 24 mEq/L CT Scan Kepala: • Tampak perdarahan intraserebral di lobus kanan dengan midline shift 3. PERTANYAAN TUTORIAL 1. Apa masalah keperawatan prioritas pada pasien ini?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan suplai darah ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolik sel-sel otak.
Kode SLKI: L.03107
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik. Tujuan dan kriteria hasilnya meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima (tekanan darah terkontrol, tidak ada bradikardia signifikan), 2) Tingkat kesadaran (GCS) meningkat atau stabil, 3) Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, perubahan pupil, penurunan GCS) teratasi atau tidak memburuk, 4) Fungsi neurologis motorik dan sensorik membaik atau stabil (misalnya, hemiparesis tidak memburuk), 5) Keseimbangan cairan dan elektrolit dalam batas normal untuk mendukung tekanan perfusi serebral yang adekuat.
Kode SIKI: I.05259
Deskripsi : Intervensi untuk memantau dan mempertahankan perfusi serebral. Intervensi ini mencakup: 1) Memonitor status neurologis secara ketat dan berkelanjutan (GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, tanda-tanda vital neurologis) setiap 15-30 menit atau sesuai protokol stroke/cedera kepala berat. 2) Mempertahankan jalan napas yang paten dan oksigenasi yang adekuat (misalnya, posisi kepala tidur 30 derajat, suction berhati-hati, pemberian oksigen, persiapan untuk intubasi jika diperlukan). 3) Mengelola tekanan darah secara ketat sesuai target dokter (biasanya tidak menurunkan secara drastis pada fase akut stroke hemoragik) untuk menjaga tekanan perfusi serebral yang adekuat. 4) Memonitor dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit (natrium, kalium) untuk mencegah edema serebral lebih lanjut. 5) Menciptakan lingkungan yang tenang, membatasi stimulasi, dan menghindari manuver yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (seperti batuk, mengejan, fleksi leher). 6) Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai resep seperti antihipertensi, osmotik diuretik (misalnya manitol), antikonvulsan, atau agen hemostatik. 7) Mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah seperti kraniotomi evakuasi hematoma jika diindikasikan. 8) Edukasi keluarga tentang kondisi pasien dan tujuan perawatan yang dilakukan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Tujuan dan kriteria hasilnya meliputi: 1) Jalan napas paten tanpa suara tambahan (seperti gurgling), 2) Frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal, 3) Nilai analisis gas darah (AGD) dalam batas normal atau menunjukkan perbaikan, 4) Tidak ada tanda sianosis atau hipoksia, 5) Sekret jalan napas dapat dikeluarkan atau dikelola dengan baik.
Kode SIKI: I.05006
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi ini mencakup: 1) Melakukan pemeriksaan jalan napas secara berkala (mendengarkan suara napas, mengobservasi pola napas). 2) Melakukan suction pada orofaring/nasofaring dengan teknik steril dan hati-hati untuk menghilangkan sekret yang menyebabkan gurgling, dengan mempertimbangkan risiko peningkatan tekanan intrakranial. 3) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-fowler atau lateral jika aman) dengan menjaga alignment kepala dan leher. 4) Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. 5) Mempersiapkan dan membantu prosedur untuk membuka jalan napas definitif (intubasi endotrakeal) mengingat GCS 8 dan ketidakefektifan jalan napas. 6) Memonitor parameter pernapasan (RR, kedalaman, usaha napas) dan status oksigenasi (SpO2, AGD serial). 7) Menggunakan alat bantu jalan napas sesuai kebutuhan (nasopharyngeal airway/oropharyngeal airway) sebelum intubasi. 8) Berkolaborasi dengan tim medis dalam tatalaksana ventilasi mekanik jika pasien diintubasi.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan tekanan darah dari rentang normal yang dapat menyebabkan ketidakefektifan perfusi jaringan.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Tujuan dan kriteria hasilnya meliputi: 1) Tekanan darah sistolik dan diastolik terkontrol sesuai target terapi (biasanya target spesifik pada stroke hemoragik akut, misalnya menjaga MAP 110 mmHg atau sesuai instruksi dokter), 2) Denyut nadi dalam rentang normal dan teratur, 3) Tidak ada gejala lebih lanjut akibat hipertensi berat (seperti sakit kepala hebat, epistaksis), 4) Tekanan darah tidak turun secara drastis yang dapat mengancam perfusi serebral dan organ lainnya.
Kode SIKI: I.05204
Deskripsi : Pemantauan hemodinamik. Intervensi ini mencakup: 1) Memonitor tekanan darah, denyut nadi, dan mean arterial pressure (MAP) secara invasif atau non-invasif dengan interval ketat (setiap 5-15 menit di fase kritis). 2) Menghitung dan memantau tekanan perfusi serebral (CPP = MAP - ICP) jika pemantauan TIK tersedia. 3) Mengelola pemberian obat antihipertensi intravena (seperti nicardipine, labetalol) sesuai protokol dengan titrasi ketat berdasarkan hasil pemantauan. 4) Menghindari faktor peningkat tekanan darah seperti nyeri, ansietas, retensi urine, dan hipoksia dengan intervensi yang tepat. 5) Memonitor respons terhadap terapi antihipertensi dan melaporkan setiap kecenderungan hipotensi. 6) Mempertahankan keseimbangan cairan yang tepat, hindari overload cairan yang dapat memperburuk hipertensi dan edema serebral. 7) Edukasi keluarga tentang pentingnya kontrol tekanan darah dan bahaya hipertensi yang tidak terkontrol dalam konteks kondisi saat ini.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau defisiensi dalam oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Pertukaran gas efektif. Tujuan dan kriteria hasilnya meliputi: 1) Analisis gas darah (AGD) menunjukkan nilai dalam rentang normal (pH 7.35-7.45, PaCO2 35-45 mmHg, PaO2 >80 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L), 2) Saturasi oksigen perifer (SpO2) >95%, 3) Tidak ada tanda distress pernapasan atau hipoksia (seperti sianosis, gelisah, takipnea), 4) Pola napas teratur dan adekuat.
Kode SIKI: I.05007
Deskripsi : Manajemen pernapasan. Intervensi ini mencakup: 1) Memonitor status oksigenasi melalui AGD serial dan pulse oximetry secara terus menerus. 2) Menganalisis hasil AGD (pada pasien ini menunjukkan kondisi asidosis respiratorik ringan dengan PaCO2 tinggi 50 mmHg dan pH rendah 7.30, serta PaO2 borderline 80 mmHg) dan melaporkan temuan. 3) Memberikan terapi oksigen yang sesuai untuk memperbaiki hipoksia dan hiperkapnia. 4) Mempersiapkan dan membantu ventilasi mekanik jika pertukaran gas memburuk atau untuk melindungi jalan napas. 5) Melakukan fisioterapi dada dengan hati-hati (jika kondisi stabil) untuk mencegah atelektasis dan pneumonia. 6) Memantau sekresi bronkial dan melakukan suction endotrakeal yang tepat jika pasien terintubasi. 7) Memposisikan pasien untuk optimalisasi ventilasi-perfusi (misalnya, perubahan posisi periodik). 8) Berkolaborasi dengan dokter dan terapis pernapasan dalam menyesuaikan setting ventilator dan terapi oksigen.
-
Article No. 25089 | 14 Apr 2026
Klinis : Keluhan sesak napas masih dirasakan, keluhan nyeri dada dan berdebar disangkal O : Ku sedang Kes : E4V5M6 TD 124/74 mmHg N 96 x/menit RR 25 x/menit S 36,9 C Spo2 93% RA Mata : CA -/- SI -/- Mulut : dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : rbh +/+ rbk -/-whz -/- Abdomen :supel, BU (+) lemah, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, CRT <2s detik, udem -/- Ekstremitas Inferior : akral hangat +/+, CRT <2s, udem -/ Lab HEMATOLOGI - MCH 24,1 L pg 27 ~ 31.2 - MCHC 32,8 g/dL 31.8 ~ 35.4 - Lekosit 9,23 ribu/µL 4.6 ~ 10.2 - Trombosit 334 ribu/µL 150 ~ 450 - RDW-CV 12.46 % 11.5 ~ 14.5 - MPV 5,71 fL 0 ~ 99.9 Hitung Jenis - Neutrofil 75,1 % 37 ~ 80 - Limfosit 18,1 L % 19 ~ 48 - Monosit 5,6 % 0 ~ 12 - Eosinofil 0,07 % 0 ~ 7 - Basofil 1,1 % 0 ~ 2.5 - Total Neutrofil 6,93 ribu/µL 1,5 ~ 7 - Total Lymphosit 1,67 ribu/µL 1 ~ 3,7 - Total Monosit 0,52 ribu/µL - Total Eosinofil 0,01 ribu/µL - Total Basofil 0,10 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah A KIMIA KLINIK ELEKTROLIT - Natrium (Na) 134 L mmol/L 135 ~ 150 - Kalium (K) 2,6 L mmol/L 3.5 ~ 5.1 - Chlorida (Cl) 100 mmol/L 98 ~ 109 - Calsium (Ca2+) 1,1 mmol/L 1.1 ~ 1.4 - pH 7,54 H 7.35 ~ 7.45 Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 143 mg/dL < 200 Fungsi Ginjal - Ureum 21.4 mg/dL 10 ~ 50 - Kreatinin 1.08 mg/dL 0.6 ~ 1.1 Darah Rutin - Hemoglobin 14,11 g/dL 12.2 ~ 18.1 - Eritrosit 5,86 juta/µL 4.04 ~ 6.13 - Hematokrit 43,1 % 37.7 ~ 53.7 Index Eritrosit - MCV 73,5 Analisa Gas Darah KIMIA KLINIK Analisa Gas Darah Measure (Corected) - pH 7.49 H 7.35 ~ 7.45 - PCO2 34.8 L mm Hg 35 ~ 45 - PO2 120 H mm Hg 80 ~ 100 - SO2 99.0 - HCO3 26.7 H mmol/L 21 ~ 26 - TCO2 28.0 H mmol/L 23 ~ 27 - Base(Ecf) 3.0 H mmol/L -2 ~ +2 Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 77 mg/dL < 200 Lemak - Cholesterol total 147 mg/dL < 220 - Cholesterol HDL 45 mg/dL 35 ~ 55 - Cholesterol LDL 115 mg/dL 100 - 159 - Trigliserida 139 mg/dL < 150 Fungsi Ginjal - Asam Urat 7.5 H mg/dL 3.4 ~ 7 Jantung - CK-MB 20 U/l < 25 - Lactat 1.0 mmol/L 0.9 ~ 1.7 13/4/2026 : Foto ro Thoraks Thorax : PA, erect, simetris, inspirasi dan kondisi cukup, Hasil: - Corakan vaskuler meningkat - Kedua sinus costofrenicus lancip - Kedua diafragma licin - Cor : CTR > 0,5 - Sistema tulang yang tervisualisasi intact Kesan : - Cardiomegali dengan oedem pulmonum
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik. Ditandai dengan: 1) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal, 2) Tidak ada keluhan sesak napas, 3) Tidak ada sianosis, 4) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal, 5) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 6) Tekanan parsial oksigen dalam rentang normal, 7) Tekanan parsial karbon dioksida dalam rentang normal.
Kode SIKI: 2001
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Tindakan: 1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), 2) Auskultasi bunyi napas, 3) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (mis., semi-Fowler/ Fowler), 4) Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif, 5) Kelola pemberian oksigen sesuai program terapi, 6) Monitor status oksigenasi (Saturasi O2), 7) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan, 8) Kolaborasi pemberian bronkodilator dan obat lain sesuai program terapi, 9) Ajarkan penggunaan alat bantu pernapasan, 10) Monitor analisis gas darah (AGD).
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Curah Jantung Membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang normal, 2) Denyut nadi dalam rentang normal, 3) Irama jantung reguler, 4) Tidak ada keluhan berdebar, 5) Pengisian kapiler < 3 detik, 6) Tidak ada edema, 7) Produksi urin adekuat (>0,5 mL/kgBB/jam), 8) Status mental baik.
Kode SIKI: 2002
Deskripsi : Manajemen Curah Jantung. Tindakan: 1) Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) dan saturasi oksigen, 2) Auskultasi bunyi jantung, 3) Monitor irama dan frekuensi jantung, 4) Kaji warna, kehangatan, dan pengisian kapiler ekstremitas, 5) Monitor keseimbangan cairan (intake-output, balance), 6) Timbang berat badan setiap hari, 7) Berikan terapi oksigen, 8) Berikan obat-obatan sesuai program terapi (seperti diuretik, inotropik, vasodilator), 9) Batasi aktivitas, 10) Bantu aktivitas sehari-hari sesuai toleransi, 11) Monitor status mental, 12) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, fungsi ginjal).
Kondisi: Ketidakseimbangan Elektrolit (Kalium)
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Perubahan konsentrasi serum elektrolit (dalam hal ini hipokalemia) yang dapat mengganggu fungsi tubuh.
Kode SLKI: 0403
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit Membaik. Ditandai dengan: 1) Nilai elektrolit serum dalam rentang normal, 2) Tidak ada kelemahan otot, 3) Irama jantung reguler, 4) Tidak ada mual/muntah, 5) Fungsi usus normal, 6) Keseimbangan cairan adekuat.
Kode SIKI: 2003
Deskripsi : Manajemen Ketidakseimbangan Elektrolit. Tindakan: 1) Monitor tanda vital, terutama irama jantung, 2) Kaji status neurologis dan kekuatan otot, 3) Kaji fungsi gastrointestinal (mual, muntah, distensi, bising usus), 4) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium elektrolit serum, 5) Berikan terapi penggantian elektrolit sesuai program (oral/IV), 6) Anjurkan dan atur diet tinggi/kurangi elektrolit tertentu sesuai indikasi, 7) Monitor keseimbangan cairan, 8) Observasi tanda komplikasi (aritmia, kelemahan otot pernapasan), 9) Kolaborasi pemberian obat yang mempengaruhi elektrolit (seperti diuretik).
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 0412
Deskripsi : Kadar Glukosa Darah Stabil. Ditandai dengan: 1) Kadar glukosa darah dalam rentang normal, 2) Tidak ada keluhan hipoglikemia/ hiperglikemia, 3) Tidak ada perubahan status mental, 4) Tanda vital stabil.
Kode SIKI: 2012
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia/Hipoglikemia. Tindakan: 1) Monitor kadar glukosa darah sesuai indikasi, 2) Observasi tanda dan gejala hiperglikemia (poliuri, polidipsi, lemas) dan hipoglikemia (lemas, keringat dingin, gemetar, penurunan kesadaran), 3) Monitor tanda vital dan status mental, 4) Kolaborasi pemberian terapi insulin atau obat hipoglikemik oral sesuai program, 5) Atur pemberian diet sesuai program, 6) Ajarkan pasien/keluarga tentang tanda-tanda dan penanganan awal hipoglikemia, 7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan diet.
-
Article No. 25090 | 14 Apr 2026
Klinis : Pasien dengan sesak nafas, gelisah RPS :P/B datang dengan keluhan bengkak seluruh tubuh sejak 5 HSMRS, badan gemetar (+), mual (+), muntah (+) 1X, muka sembab (+), nafas terengah-engah terutama saat jalan agak jauh, BAK dan BAB dbn RPD: PJK (+), HT (-), DM (-) O : Ku lemah, Kes CM TD : 111/78 HR : 78 RR : 39 SPO : 91 dengan NC+NRM maksimal S : 36.7 Mata CA -/-, SI -/- Muka sembab (+) Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/- Abdomen supel, BU (+), NT (+) epigastrium, undulasi (-) Ext atas akral hangat +/+, edem +/+ Ext Bawah akral hangat +/+, edem +/+ LAB HEMATOLOGI Darah Rutin - Hemoglobin 11.80 L g/dL 12.2 ~ 18.1 - Eritrosit 3.92 L juta/µL 4.04 ~ 6.13 - Hematokrit 32.9 L % 37.7 ~ 53.7 Index Eritrosit - MCV 83.9 fL 80 ~ 97 - MCH 30.1 pg 27 ~ 31.2 - MCHC 35.8 H g/dL 31.8 ~ 35.4 - Lekosit 5.39 ribu/µL 4.6 ~ 10.2 - Trombosit 221 ribu/µL 150 ~ 450 - RDW-CV 13.71 % 11.5 ~ 14.5 - MPV 5.24 fL 0 ~ 99.9 Hitung Jenis - Neutrofil 54.5 % 37 ~ 80 - Limfosit 30.6 % 19 ~ 48 - Monosit 9.7 % 0 ~ 12 - Eosinofil 3.80 % 0 ~ 7 - Basofil 1.4 % 0 ~ 2.5 - Total Neutrofil 2.94 ribu/µL 1,5 ~ 7 - Total Lymphosit 1.65 ribu/µL 1 ~ 3,7 - Total Monosit 0.53 ribu/µL - Total Eosinofil 0.20 ribu/µL - Total Basofil 0.08 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah B KIMIA KLINIK Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 103 mg/dL < 200 Fungsi Hati - Albumin 1.30 C g/dL 3.8 ~ 4.4 Fungsi Ginjal - Ureum 23.5 mg/dL 10 ~ 50 - Kreatinin 0.92 12/4/2026 Foto Ro thoraks PA Kesan : - Pneumonia - Efusi pleura bilateral - Besar cor normal 13/4/2026 Telah dilakukan pemeriksaan USG thorax marker pada penderita dengan klinis efusi pleura bilateral , Hasil : - Supradiafragma dextra :tampak lesi anechoic di cavum pleura dextra, septa (-), ukuran 13,70 cm x 10,83 cm x 13,21 cm, volume : 1026 ml - Supradiafrgama sinistra: : tampak lesi anechoic di cavum pleura sinistra, septa (+) KESAN : - Efusi pleura dextra, noncapsulated type, volume cairan l.k :1026 ml - Efusi pleura sinistra, capsulated type
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran gas membaik.
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Memantau status pernapasan dan oksigenasi.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memenuhi kebutuhan ventilasi.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Pola napas efektif.
Kode SIKI: I.04005
Deskripsi : Melatih napas dalam dan batuk efektif.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Peningkatan retensi cairan isotonik.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan cairan membaik.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Memantau keseimbangan cairan.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman samar atau takut disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir karena antisipasi bahaya. Merupakan sinyal peringatan akan ancaman yang akan datang, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Ansietas berkurang.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Mengurangi ansietas.