Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 5517 | 13 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit telinga
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan pasien yaitu sakit telinga, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit telinga
Penjelasan singkat:
- SDKI: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain, 1979).
- SLKI: Tujuan dari intervensi keperawatan adalah pasien dapat melaporkan penurunan nyeri, meningkatkan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dan beradaptasi dengan nyeri.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen nyeri, pemberian analgesik, kompres hangat/dingin, dan edukasi manajemen nyeri.
Tone: Akademis
Persona: Pakar, Perawat
Penjelasan diberikan dengan bahasa formal dan terperinci sesuai dengan standar PPNI, serta disesuaikan dengan persona sebagai pakar dan perawat. -
Article No. 5518 | 13 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan luka dikaki
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat terkait standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien dengan keluhan luka di kaki.
Diagnosa Keperawatan:
1. Integritas Kulit Terganggu
Definisi: Kerusakan atau perubahan struktur dan fungsi kulit.
Penyebab: Trauma/cedera, infeksi, penyakit kronis, imobilisasi, malnutrisi.
Penjelasan:
- SDKI: Diagnosis Keperawatan "Integritas Kulit Terganggu" menggambarkan kerusakan atau perubahan struktur dan fungsi kulit, seperti luka pada kaki pasien.
- SLKI: Luaran yang diharapkan mencakup penyembuhan luka, penurunan risiko infeksi, dan peningkatan integritas kulit.
- SIKI: Intervensi Keperawatan yang dapat dilakukan meliputi perawatan luka, manajemen infeksi, pencegahan komplikasi, dan edukasi terkait perawatan kaki.
Dengan pendekatan akademis dan persona pakar/perawat, fokus utama adalah melakukan assessment yang komprehensif, memberikan perawatan luka yang sesuai, memantau perkembangan luka, serta memberikan edukasi dan konseling bagi pasien untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 5519 | 13 Nov 2024
Klinis : kebutuhan aman dan nyaman
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI berdasarkan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi kebutuhan aman dan nyaman.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Ketidaknyamanan Fisik
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Risiko Ketidaknyamanan Fisik didefinisikan sebagai keadaan rentan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik pada pasien.
- Karakteristik definisi: intoleransi aktivitas, nyeri, pruritus, sensasi tidak nyaman.
- Faktor risiko: lingkungan tidak mendukung, mobilitas terbatas, riwayat penyakit kronis.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Luaran yang diharapkan: Pasien menunjukkan kenyamanan fisik yang memadai.
- Indikator: Ekspresi verbal atau nonverbal rasa nyaman, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, dan tingkat aktivitas sesuai kemampuan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
a. Manajemen Lingkungan: Menciptakan lingkungan yang aman, bersih, dan nyaman.
b. Manajemen Nyeri: Mengidentifikasi dan mengelola nyeri yang dirasakan pasien.
c. Terapi Kenyamanan: Memberikan terapi untuk meningkatkan kenyamanan fisik pasien.
Sebagai perawat profesional, saya akan melakukan penilaian komprehensif, menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat, dan merencanakan intervensi yang sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan yang aman dan nyaman. -
Article No. 5520 | 13 Nov 2024
Klinis : Asma Eksaserbasi Akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat yang berpengalaman, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi Asma Eksaserbasi Akut.
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk menginspirasi dan/atau ekspirasi yang memberikan ventilasi adekuat.
Faktor Terkait: Peningkatan sekresi/edema saluran napas, kelelahan otot-otot pernapasan.
Gejala dan Tanda: Takipnea, penggunaan otot-otot tambahan pernapasan, retraksi dinding dada, suara napas tambahan (wheezing).
2. Intoleransi Aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
Faktor Terkait: Keterbatasan fisiologis, gejala penyakit.
Gejala dan Tanda: Kelelahan, napas pendek saat beraktivitas, mudah lelah.
3. Kecemasan
Definisi: Respon emosional dan fisiologis terhadap persepsi ancaman yang tidak spesifik atau tidak diketahui.
Faktor Terkait: Ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap peran.
Gejala dan Tanda: Cemas, gelisah, ketakutan, sulit berkonsentrasi.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Standar diagnosis keperawatan yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan yang telah dijelaskan di atas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Standar luaran yang digunakan untuk menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan, seperti perbaikan pola napas, peningkatan toleransi aktivitas, dan pengurangan kecemasan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Standar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, seperti pemberian oksigen, latihan pernapasan, edukasi terkait penyakit asma, manajemen kecemasan, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Sebagai seorang perawat, saya akan melakukan pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan secara komprehensif untuk membantu pasien dengan Asma Eksaserbasi Akut mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 5521 | 13 Nov 2024
Klinis : Tn.Y, seorang pria berusia 49 tahun yang bekerja sebagai karyawan swasta, merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Ia memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan, yang keduanya sudah menikah dan berkeluarga. Sebaliknya, Tn.Y hingga saat ini belum berkeluarga. Seluruh keluarganya beragama Islam. Orang tua Tn.Y telah meninggal dunia, sehingga ia kehilangan kedua orang tua yang mungkin bisa menjadi tempat berbagi atau sumber dukungan emosional dalam kesehariannya. Saat ini, Tn. Y dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena mengalami berbagai gejala gangguan mental yang cukup serius, seperti stres berat, perasaan gelisah yang terus-menerus, perilaku berbicara sendiri, dan kesulitan tidur yang mengganggu aktivitas hariannya. Berdasarkan riwayat medis, Tn. Y pernah didiagnosis dengan skizofrenia, yang merupakan gangguan mental kronis yang dapat menyebabkan perubahan dalam cara berpikir, berperilaku, dan merasakan kenyataan. Ini bukan pertama kalinya Tn. Y mengalami gejala skizofrenia dan menerima perawatan medis, karena sebelumnya ia juga pernah dirawat di dua fasilitas kesehatan mental, yaitu Rumah Sakit Tuntungan sebanyak satu kali dan Rumah Sakit Jiwa Bina Atma sebanyak satu kali. Pada pemeriksaan fisik terbaru, kondisi kesehatan fisik Tn.Y terbilang cukup stabil. Hasil pemeriksaan vital menunjukkan tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 75 kali per menit, suhu tubuh 37°C, dan frekuensi pernapasan 20 kali per menit. Dengan tinggi badan 165 cm dan berat badan 65 kg, indeks massa tubuh Tn.Y tergolong dalam kategori normal. Meskipun kondisi fisiknya stabil, gangguan skizofrenia yang dialami memerlukan perhatian dan penanganan intensif, mengingat gangguan ini dapat memengaruhi kualitas hidup serta interaksi sosialnya secara signifikan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, saya dapat memberikan beberapa diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai dengan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Tn. Y.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Perilaku Kekerasan
- SDKI: Risiko Perilaku Kekerasan adalah keadaan di mana individu berisiko melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan fisik pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
- SLKI: Perilaku Kekerasan Terkendali, dengan hasil yang diharapkan adalah individu dapat mengendalikan perilaku kekerasan.
- SIKI: Manajemen Perilaku Kekerasan, dengan intervensi keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku kekerasan.
2. Gangguan Aktivitas Tidur
- SDKI: Gangguan Aktivitas Tidur adalah keadaan di mana individu mengalami perubahan kualitas dan kuantitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
- SLKI: Pola Tidur Membaik, dengan hasil yang diharapkan adalah individu dapat mempertahankan pola tidur yang adekuat.
- SIKI: Manajemen Aktivitas Tidur, dengan intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memfasilitasi individu mencapai pola tidur yang adekuat.
3. Gangguan Proses Pikir
- SDKI: Gangguan Proses Pikir adalah keadaan di mana individu mengalami perubahan dalam kemampuan berpikir yang mengganggu fungsi sehari-hari.
- SLKI: Proses Pikir Membaik, dengan hasil yang diharapkan adalah individu dapat berpikir secara rasional dan realistis.
- SIKI: Manajemen Gangguan Proses Pikir, dengan intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memfasilitasi individu dalam memperbaiki proses pikir.
Penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan mental sangat penting untuk memastikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar. Dengan memahami dan mengaplikasikan standar tersebut, perawat dapat memberikan intervensi yang tepat, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan pasien seperti Tn. Y dalam upaya mencapai hasil yang diharapkan. -
Article No. 5522 | 13 Nov 2024
Klinis : resiko defisit nutrisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi risiko defisit nutrisi, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Defisit Nutrisi
Definisi:
Berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Faktor Risiko:
1. Penyakit atau kondisi yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi
2. Keterbatasan kemampuan dalam menyiapkan atau mengkonsumsi makanan
3. Keterbatasan pengetahuan tentang kebutuhan nutrisi yang adekuat
4. Faktor psikologis yang memengaruhi asupan nutrisi
5. Keterbatasan akses terhadap makanan yang bergizi
Rencana Intervensi Keperawatan:
1. Identifikasi faktor risiko yang berkontribusi terhadap risiko defisit nutrisi
2. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya ahli gizi) untuk menentukan kebutuhan nutrisi yang adekuat
3. Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan nutrisi yang cukup dan strategi untuk memenuhinya
4. Pantau asupan dan output nutrisi secara berkala
5. Berikan intervensi untuk mengatasi faktor risiko yang teridentifikasi
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan standar diagnosa keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Standar ini berisi definisi, faktor-faktor penyebab, dan ciri-ciri diagnosa keperawatan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam praktik keperawatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah standar yang berisi luaran (outcome) keperawatan yang diharapkan dapat dicapai oleh pasien setelah mendapatkan intervensi keperawatan. Luaran ini dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan asuhan keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah standar yang berisi intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan pasien. SIKI memberikan panduan bagi perawat dalam memilih intervensi yang paling sesuai dengan kondisi pasien.
Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan dapat membantu perawat memberikan asuhan keperawatan yang terstandar dan berkualitas, sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. -
Article No. 5523 | 13 Nov 2024
Klinis : Nyeri dada sebelah kiri, skala nyeri 4 (1-10) dirasakan hilang timbul menjalar ke sekitar ketiak, durasi kurang lebih 5 menit bertambah saat melakukan aktivitas dan berkurang setelah diistirahatkan, nyeri seperti ditekan benda berat, lebih sering timbul di malam hari. Pasien merasa mudah lelah, dan dada terasa berdebar. Pasien juga sering mengalami keringat dingin terutama di telapak tangan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan penyakit jantung koroner, ditandai dengan nyeri dada sebelah kiri, skala nyeri 4 (1-10), hilang timbul, menjalar ke sekitar ketiak, durasi kurang lebih 5 menit, bertambah saat melakukan aktivitas, dan berkurang setelah diistirahatkan.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Pasien akan melaporkan bahwa nyeri berkurang, pasien akan menunjukkan tanda-tanda vital stabil, dan pasien akan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami nyeri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain: manajemen nyeri, pemberian obat analgesik, relaksasi, dan pengaturan aktivitas.
Selain itu, berdasarkan gejala yang Anda sampaikan, terdapat kemungkinan diagnosa tambahan, yaitu:
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penyakit jantung koroner, ditandai dengan mudah lelah dan dada terasa berdebar.
3. Ketidakseimbangan suhu tubuh berhubungan dengan penyakit jantung koroner, ditandai dengan keringat dingin terutama di telapak tangan.
Penanganan keperawatan yang komprehensif diperlukan untuk mengelola kondisi pasien secara holistik. Pemantauan tanda-tanda vital, pemberian obat-obatan, manajemen nyeri, dan edukasi gaya hidup sehat menjadi bagian penting dalam penatalaksanaan kasus ini. -
Article No. 5524 | 13 Nov 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan sekresi yang berlebihan akibat infeksi paru.
2. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan penurunan kapasitas fungsional akibat sesak napas.
3. Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan penurunan asupan makanan dan cairan akibat penurunan nafsu makan.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien dan merumuskan diagnosis keperawatan yang tepat. Dalam kasus ini, diagnosa keperawatan yang teridentifikasi adalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas, Intoleransi Aktivitas, dan Kekurangan Volume Cairan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. Contohnya, pada kasus ini, luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan jalan napas yang efektif, mempertahankan toleransi aktivitas, dan mempertahankan volume cairan yang adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mencapai luaran yang diharapkan. Contohnya, pada kasus ini, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pemberian oksigen, latihan pernapasan, dan peningkatan asupan cairan dan nutrisi.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda memahami diagnosa keperawatan dan standar SDKI - SLKI - SIKI yang berlaku di Indonesia. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan tanyakan. -
Article No. 5525 | 13 Nov 2024
Klinis : Di desa Kuala Secapah terdapat 50 KK dengan jumlah warga sebanyak 300 jiwa dengan pasangan usia subur terdiri dari 40 KK yang berusia rata- rata 25-40 tahun. Sisanya 10 KK bukan termasuk pasangan usia subur dengan rincian 5 KK berusia 41-50 tahun dan 5 KK berusia 51-60 tahun. Warga desa bekerja sebagai nelayan ratarata penghasilan setiap bulan adalah sekitar 1 juta. Komunikasi antarwarga berjalan dengan baik karena jarak rumah satu dengan yang lain sangat berdekatan. Hubungan setiap pasangan usia subur pun berjalan dengan lancar, sehingga jarang terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Di desa Kuala Secapah terdapat pos pelayanan polisi, dan terdapat 8 pos ronda yang terletak di setiap RT. Warga desa Kuala Secapah mayoritas beragama islam. Dari data yang diperoleh, pasangan usia subur di desa Kuala Secapah mayoritas berpendidikan SD dan SMP dan warga dengan usia lanjut tidak pernah mengikuti pendidikan formal, tidak terdapat tempat rekreasi di desa Kuala Secapah. Fasilitas kesehatan yang ada di desa Kuala Secapah adalah 1 bidan polindes, dan 1 praktik dokter umum, Warga menggunakan sepeda motor untuk melakukan aktivitas namun tidak sedikit masyarakat yang malas untuk pergi ke puskesmas bila sedang sakit, sehingga memilih mengkonsumsi jamu atau obat-obatan yang dijual di toko. Sebagian warga juga ada yang masih lebih memilih pergi ke dukun untuk melakukan persalinan. Dalam 2 bulan terakhir ini, terdapat 8 orang yang menderita kista dan 12 orang tertular PMS seperti gonore, sifilis, dan kutil kelamin. Selain itu kematian di desa kuala dalam 2 bulan terakhir terdapat 5 orang yang sudah meninggal dunia akibat perdarahan saat persalinan. Berdasarkan informasi yang diperoleh, 40 KK pasangan usia subur di desa kuala terdapat 15 KK menggunakan alat kontrasepsi dan 25 KK tidak menggunakan alat kontrasepsi. 25 KK yang tidak menggunakan alat kontrasepsi tersebut memiliki kepercayaan bahwa KB dilarang oleh agama, dan mereka takut akan mengalami perubahan fisik dan kesehatan seperti pertambahan berat badan pada wanita. Namun beberapa ibu hamil dari pasangan usia subur yang tidak menggunakan alat kontrasepsi tersebut menderita anemia dan sebagian besar tidak rutin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan, serta mereka memiliki kebiasaan bila ibu hamil untuk berpantang mengkonsumsi makanan tertentu sehingga gizi pada ibu hamil tidak tercukupi. Di desa Kuala Secapah ini sudah ada pemberian jaminan kesehatan kepada warga yang tidak mampu dan sudah ada program kesehatan yang dilakukan seperti program kunjungan nifas oleh tenaga kesehatan, namun mengalami hambatan karena kurangnya jumlah tenaga kesehatan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi di desa Kuala Secapah:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Menular Seksual (SIKI: Risiko Infeksi Seksual)
- Berhubungan dengan perilaku seksual yang tidak aman (tidak menggunakan alat kontrasepsi) dan ketidakpatuhan pengobatan.
- Ditandai dengan adanya 12 orang yang tertular PMS seperti gonore, sifilis, dan kutil kelamin.
2. Risiko Perdarahan Pasca Persalinan (SIKI: Risiko Perdarahan Pasca Persalinan)
- Berhubungan dengan pemeriksaan kehamilan yang tidak rutin dan gizi ibu hamil yang tidak tercukupi.
- Ditandai dengan adanya 5 orang yang meninggal akibat perdarahan saat persalinan dalam 2 bulan terakhir.
3. Ketidakpatuhan Regimen Terapi (SIKI: Ketidakpatuhan Pengobatan)
- Berhubungan dengan kepercayaan bahwa KB dilarang oleh agama dan takut akan perubahan fisik dan kesehatan.
- Ditandai dengan 25 KK pasangan usia subur yang tidak menggunakan alat kontrasepsi.
4. Risiko Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil (SIKI: Risiko Kekurangan Gizi)
- Berhubungan dengan kebiasaan pantang mengkonsumsi makanan tertentu saat hamil.
- Ditandai dengan beberapa ibu hamil dari pasangan usia subur yang tidak menggunakan alat kontrasepsi menderita anemia.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien/klien. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk mengukur hasil intervensi keperawatan. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk merencanakan intervensi keperawatan.
Penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, terukur, dan sesuai dengan standar profesi. -
Article No. 5526 | 13 Nov 2024
Klinis : Di desa Kuala Secapah terdapat 50 KK dengan jumlah warga sebanyak 300 jiwa dengan pasangan usia subur terdiri dari 40 KK yang berusia rata- rata 25-40 tahun. Sisanya 10 KK bukan termasuk pasangan usia subur dengan rincian 5 KK berusia 41-50 tahun dan 5 KK berusia 51-60 tahun. Warga desa bekerja sebagai nelayan ratarata penghasilan setiap bulan adalah sekitar 1 juta. Komunikasi antarwarga berjalan dengan baik karena jarak rumah satu dengan yang lain sangat berdekatan. Hubungan setiap pasangan usia subur pun berjalan dengan lancar, sehingga jarang terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Di desa Kuala Secapah terdapat pos pelayanan polisi, dan terdapat 8 pos ronda yang terletak di setiap RT. Warga desa Kuala Secapah mayoritas beragama islam. Dari data yang diperoleh, pasangan usia subur di desa Kuala Secapah mayoritas berpendidikan SD dan SMP dan warga dengan usia lanjut tidak pernah mengikuti pendidikan formal, tidak terdapat tempat rekreasi di desa Kuala Secapah. Fasilitas kesehatan yang ada di desa Kuala Secapah adalah 1 bidan polindes, dan 1 praktik dokter umum, Warga menggunakan sepeda motor untuk melakukan aktivitas namun tidak sedikit masyarakat yang malas untuk pergi ke puskesmas bila sedang sakit, sehingga memilih mengkonsumsi jamu atau obat-obatan yang dijual di toko. Sebagian warga juga ada yang masih lebih memilih pergi ke dukun untuk melakukan persalinan. Dalam 2 bulan terakhir ini, terdapat 8 orang yang menderita kista dan 12 orang tertular PMS seperti gonore, sifilis, dan kutil kelamin. Selain itu kematian di desa kuala dalam 2 bulan terakhir terdapat 5 orang yang sudah meninggal dunia akibat perdarahan saat persalinan. Berdasarkan informasi yang diperoleh, 40 KK pasangan usia subur di desa kuala terdapat 15 KK menggunakan alat kontrasepsi dan 25 KK tidak menggunakan alat kontrasepsi. 25 KK yang tidak menggunakan alat kontrasepsi tersebut memiliki kepercayaan bahwa KB dilarang oleh agama, dan mereka takut akan mengalami perubahan fisik dan kesehatan seperti pertambahan berat badan pada wanita. Namun beberapa ibu hamil dari pasangan usia subur yang tidak menggunakan alat kontrasepsi tersebut menderita anemia dan sebagian besar tidak rutin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan, serta mereka memiliki kebiasaan bila ibu hamil untuk berpantang mengkonsumsi makanan tertentu sehingga gizi pada ibu hamil tidak tercukupi. Di desa Kuala Secapah ini sudah ada pemberian jaminan kesehatan kepada warga yang tidak mampu dan sudah ada program kesehatan yang dilakukan seperti program kunjungan nifas oleh tenaga kesehatan, namun mengalami hambatan karena kurangnya jumlah tenaga kesehatan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, terdapat beberapa diagnosa keperawatan yang dapat diidentifikasi berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Risiko Kehamilan tidak Diinginkan berhubungan dengan Ketidakefektifan Penggunaan Kontrasepsi.
b. Risiko Perdarahan Saat Persalinan berhubungan dengan Ketidakpatuhan Memeriksakan Kehamilan.
c. Risiko Infeksi Menular Seksual berhubungan dengan Perilaku Seksual Berisiko.
2. Diagnosa Keperawatan SLKI:
a. Kepatuhan Kesehatan Keluarga Kurang berhubungan dengan Sikap dan Kepercayaan Tradisional Masyarakat.
b. Perawatan Kesehatan Keluarga Kurang berhubungan dengan Keterbatasan Sumber Daya Kesehatan.
c. Kesiapan Meningkatkan Perilaku Kesehatan Keluarga.
3. Diagnosa Keperawatan SIKI:
a. Pengendalian Kehamilan Tidak Efektif berhubungan dengan Pengetahuan dan Keyakinan yang Kurang Memadai.
b. Perawatan Kehamilan Tidak Adekuat berhubungan dengan Akses Pelayanan Kesehatan yang Terbatas.
c. Pencegahan Infeksi Menular Seksual Tidak Efektif berhubungan dengan Perilaku Berisiko Tinggi.
Secara singkat, beberapa permasalahan kesehatan yang teridentifikasi di desa Kuala Secapah adalah risiko kehamilan tidak diinginkan, risiko perdarahan saat persalinan, risiko infeksi menular seksual, kepatuhan kesehatan keluarga yang kurang, perawatan kesehatan keluarga yang kurang, pengendalian kehamilan yang tidak efektif, perawatan kehamilan yang tidak adekuat, serta pencegahan infeksi menular seksual yang tidak efektif. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti ketidakefektifan penggunaan kontrasepsi, ketidakpatuhan memeriksakan kehamilan, perilaku seksual berisiko, sikap dan kepercayaan tradisional masyarakat, keterbatasan sumber daya kesehatan, serta pengetahuan dan keyakinan yang kurang memadai.