Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26605 | 11 Aug 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 4 tahun, berat badan 15 kg, dibawa ke IGD oleh ibunya karena diare sejak 2 hari yang lalu. Anak BAB cair sebanyak 7 kali sehari, setiap kali sekitar 100–150 mL, disertai muntah 3 kali. Ibu mengatakan anak sulit minum dan tampak lebih lemas dari biasanya. Hasil pengkajian: anak tampak lemah, mata sedikit cekung, bibir dan mukosa mulut kering, turgor kulit menurun, frekuensi nadi 118 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, suhu 38,1°C, dan pengisian piksel 3 detik. Jumlah urin dalam 8 jam terakhir hanya 100 mL.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan (berhubungan dengan kehilangan cairan aktif melalui diare dan muntah)
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Defisit volume cairan adalah kondisi di mana seorang individu mengalami penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi yang terjadi ketika asupan cairan tidak mencukupi kebutuhan tubuh atau ketika terjadi kehilangan cairan yang berlebihan. Pada kasus anak laki-laki usia 4 tahun dengan berat badan 15 kg ini, defisit volume cairan terjadi akibat diare cair sebanyak 7 kali sehari (masing-masing 100–150 mL) dan muntah 3 kali dalam 2 hari terakhir. Kehilangan cairan yang signifikan melalui saluran pencernaan ini diperberat oleh kesulitan anak untuk minum (asupan oral menurun), sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Tanda-tanda klinis yang mendukung diagnosis ini meliputi: mata sedikit cekung, bibir dan mukosa mulut kering, turgor kulit menurun (kembalinya kulit lambat saat dicubit), pengisian kapiler (piksel) 3 detik (normal <2 detik), frekuensi nadi meningkat (118 kali/menit) sebagai kompensasi jantung untuk mempertahankan perfusi organ, frekuensi napas meningkat (28 kali/menit), suhu tubuh meningkat (38,1°C) yang dapat meningkatkan kebutuhan cairan, serta penurunan jumlah urin menjadi hanya 100 mL dalam 8 jam terakhir (normal untuk anak usia 4 tahun sekitar 1-2 mL/kgBB/jam, yaitu sekitar 15-30 mL/jam atau 120-240 mL/8 jam). Kondisi ini menunjukkan dehidrasi sedang hingga berat yang memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi seperti syok hipovolemik, gangguan elektrolit, asidosis metabolik, dan penurunan kesadaran. Defisit volume cairan pada anak sangat berbahaya karena cadangan cairan tubuh anak lebih kecil dibandingkan orang dewasa, dan proporsi air tubuh total lebih tinggi, sehingga kehilangan cairan lebih cepat menimbulkan dampak sistemik. Penatalaksanaan utama adalah mengganti cairan yang hilang secara tepat, baik melalui rehidrasi oral maupun intravena, serta memantau status hemodinamik dan keseimbangan cairan secara ketat.
Kode SLKI: L.03028
Deskripsi : Keseimbangan Cairan adalah luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan untuk mengatasi defisit volume cairan. Definisi keseimbangan cairan menurut SLKI adalah tingkat keseimbangan cairan tubuh yang meliputi asupan, keluaran, dan tanda-tanda vital yang stabil. Kriteria hasil yang dapat diukur untuk mengevaluasi efektivitas intervensi pada anak ini meliputi: (1) Membran mukosa lembab, tidak kering – indikator hidrasi oral yang baik; (2) Turgor kulit elastis, kembali dalam <2 detik saat dicubit – menunjukkan perbaikan hidrasi jaringan; (3) Mata tidak cekung – tanda perbaikan volume cairan interstisial; (4) Pengisian kapiler <2 detik – menunjukkan perbaikan perfusi perifer; (5) Frekuensi nadi dalam rentang normal (80-130 kali/menit untuk usia 4 tahun) – menunjukkan tidak ada kompensasi jantung yang berlebihan; (6) Frekuensi napas dalam rentang normal (20-30 kali/menit) – tidak ada tanda asidosis atau dehidrasi berat; (7) Suhu tubuh normal (36,5-37,5°C) – penurunan demam mengurangi kebutuhan cairan; (8) Jumlah urin meningkat mencapai ≥1-2 mL/kgBB/jam, yaitu sekitar 15-30 mL/jam atau 120-240 mL dalam 8 jam – indikator utama perfusi ginjal dan keseimbangan cairan; (9) Berat badan stabil atau meningkat sesuai target rehidrasi; (10) Anak tampak tidak lemas, mampu minum dengan baik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda syok seperti gelisah, pucat, atau penurunan kesadaran. Setiap kriteria hasil ini dinilai dengan skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal skala 4 (cukup membaik) setelah intervensi 3x24 jam. Penting untuk dicatat bahwa pada anak dengan diare, keseimbangan cairan tidak hanya dilihat dari asupan minum, tetapi juga dari output urin, frekuensi BAB, dan muntah. Evaluasi dilakukan secara berkala setiap 4-6 jam pada fase akut untuk memastikan tidak terjadi dehidrasi berulang.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Cairan adalah intervensi keperawatan yang dirancang untuk mengatasi defisit volume cairan dan mencapai keseimbangan cairan. Tindakan ini meliputi serangkaian aktivitas keperawatan yang sistematis dan komprehensif. Berikut adalah penjelasan rinci intervensi yang akan dilakukan pada anak laki-laki usia 4 tahun tersebut:
1. **Monitor status cairan**: Perawat akan memantau tanda-tanda vital (nadi, napas, suhu, tekanan darah) setiap 2-4 jam atau lebih sering jika kondisi memburuk. Memantau pengisian kapiler (<2 detik), turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan status mata (cekung atau tidak). Perawat juga akan mencatat intake dan output cairan secara ketat setiap jam, termasuk jumlah minum, muntah, BAB, dan urin. Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama untuk menilai perubahan cairan yang akurat (1 kg penurunan berat badan = 1 liter cairan yang hilang).
2. **Hitung kebutuhan cairan**: Perawat akan menghitung kebutuhan cairan harian anak berdasarkan berat badan 15 kg menggunakan rumus Holliday-Segar: 100 mL/kg untuk 10 kg pertama (1000 mL) + 50 mL/kg untuk 5 kg berikutnya (250 mL), sehingga kebutuhan maintenance sekitar 1250 mL/24 jam. Namun, karena ada defisit cairan (dehidrasi sedang dengan tanda klinis di atas, diperkirakan defisit 5-10% berat badan, yaitu sekitar 750-1500 mL), maka total kebutuhan cairan adalah maintenance + defisit + penggantian kehilangan berkelanjutan (diare dan muntah). Perawat akan bekerja sama dengan dokter untuk menentukan jenis dan jumlah cairan yang tepat.
3. **Berikan rehidrasi oral**: Jika anak masih bisa minum, perawat akan memberikan oralit dengan dosis 75 mL/kgBB dalam 4 jam pertama (yaitu sekitar 1125 mL) sesuai rekomendasi WHO untuk dehidrasi sedang, kemudian dilanjutkan dengan pemberian oralit 10-20 mL/kgBB setiap kali BAB cair. Namun karena anak sulit minum, perawat akan memberikan oralit sedikit-sedikit tapi sering (misalnya 5-10 mL setiap 5-10 menit) menggunakan sendok, pipet, atau spuit tanpa jarum untuk mencegah muntah. Perawat juga akan menawarkan cairan lain seperti air putih, kuah sup, atau ASI jika anak masih menyusu.
4. **Berikan cairan intravena**: Jika rehidrasi oral gagal atau anak mengalami dehidrasi berat dengan tanda syok (piksel >3 detik, nadi cepat, lemas), perawat akan memasang infus dan memberikan cairan intravena seperti Ringer Laktat atau NaCl 0,9% sesuai advis dokter. Untuk anak dengan dehidrasi sedang, pemberian bolus cairan 20 mL/kgBB (300 mL) dalam 30-60 menit pertama, kemudian dilanjutkan dengan maintenance dan penggantian kehilangan. Perawat akan memantau tetesan infus secara ketat dan memastikan tidak terjadi kelebihan cairan (overhidrasi) dengan mengamati tanda-tanda seperti edema, peningkatan napas, atau distensi vena jugularis.
5. **Monitor tanda-tanda syok hipovolemik**: Perawat akan secara berkala menilai tingkat kesadaran anak (apakah masih responsif, tidak gelisah, atau justru menjadi letargis), warna kulit (pucat atau tidak), dan waktu pengisian kapiler. Jika terdapat perburukan seperti penurunan kesadaran, nadi menjadi sangat cepat dan lemah, tekanan darah menurun, atau urin sangat sedikit (<0,5 mL/kgBB/jam), perawat akan segera melaporkan ke dokter untuk tindakan darurat.
6. **Kelola demam**: Karena suhu tubuh anak 38,1°C, perawat akan memberikan kompres hangat pada area lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan), memberikan antipiretik sesuai advis dokter (misalnya paracetamol 10-15 mg/kgBB/dosis, yaitu 150-225 mg per dosis), dan memastikan anak tidak menggunakan pakaian yang terlalu tebal. Demam dapat meningkatkan kebutuhan cairan, sehingga pengendalian demam penting untuk mengurangi kehilangan cairan melalui penguapan.
7. **Edukasi pada ibu**: Perawat akan memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu tentang pentingnya pemberian cairan yang adekuat, cara menyiapkan dan memberikan oralit dengan benar, tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai (mata cekung, mulut kering, tidak buang air kecil, lemas, atau kejang), serta kapan harus segera kembali ke fasilitas kesehatan. Ibu juga diedukasi untuk terus memberikan ASI atau makanan yang mudah dicerna setelah fase rehidrasi untuk mencegah malnutrisi.
8. **Kolaborasi dengan tim kesehatan lain**: Perawat akan berkolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan laboratorium elektrolit (Na, K, Cl) dan analisa gas darah jika diperlukan, serta pemberian obat anti-diare (seperti zinc 20 mg/hari selama 10 hari sesuai rekomendasi WHO untuk mengurangi keparahan dan durasi diare) dan probiotik. Perawat juga akan berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan makanan yang tepat sesuai kondisi anak.
9. **Dokumentasi**: Semua tindakan, hasil pengukuran, dan respons anak terhadap intervensi akan didokumentasikan secara akurat dan tepat waktu dalam catatan keperawatan untuk memastikan kontinuitas perawatan dan evaluasi yang komprehensif.
Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan dengan evaluasi setiap 2-4 jam pada fase akut, kemudianArticle No. 26606 | 11 Aug 2026
Klinis : Edukasi tanda bahaya kehamilan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Edukasi tanda bahaya kehamilan
Kode SDKI: D.0110
Deskripsi Singkat: Defisit pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan adalah keadaan individu mengalami kekurangan atau ketidakcukupan informasi kognitif (pengetahuan) yang berkaitan dengan topik spesifik, yaitu mengenai tanda-tanda bahaya selama masa kehamilan. Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan pasien (ibu hamil) dan/atau keluarganya untuk menyebutkan, menjelaskan, atau mempraktikkan informasi yang diberikan tentang tanda-tanda bahaya kehamilan, seperti perdarahan pervaginam, sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, bengkak di wajah dan tangan, gerakan janin berkurang, ketuban pecah dini, serta nyeri perut hebat. Defisit ini dapat disebabkan oleh keterbatasan paparan informasi, kurangnya minat belajar, kesalahan interpretasi informasi, atau hambatan kognitif (misalnya, tingkat pendidikan rendah, budaya, atau bahasa). Pada akhirnya, defisit pengetahuan ini meningkatkan risiko keterlambatan pengambilan keputusan untuk mencari pertolongan kesehatan, yang berujung pada peningkatan morbiditas dan mortalitas ibu serta janin. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengatakan tidak tahu, bingung, atau salah memahami tanda bahaya) dan data objektif (pasien tampak bingung, tidak mampu menjawab pertanyaan, atau tidak mampu mendemonstrasikan kembali langkah-langkah yang diajarkan). Penegakan diagnosis ini penting sebagai dasar intervensi keperawatan untuk memberikan pendidikan kesehatan yang terstruktur dan berkesinambungan, sehingga ibu hamil dan keluarga mampu mengenali secara dini kondisi kegawatdaruratan obstetri dan segera mengambil tindakan tepat.
Kode SLKI: L.12107
Deskripsi : Tingkat Pengetahuan: Tanda Bahaya Kehamilan. Definisi: Luasnya pemahaman dan kemampuan kognitif individu (ibu hamil dan keluarga) tentang tanda-tanda bahaya kehamilan yang mencakup pengertian, jenis-jenis tanda bahaya (perdarahan, hipertensi, preeklampsia, infeksi, ketuban pecah dini, penurunan gerakan janin), penyebab, risiko yang ditimbulkan, serta tindakan yang harus dilakukan jika tanda bahaya muncul. Luaran ini diukur dengan kriteria hasil yang meliputi: (1) Kemampuan verbalisasi pemahaman tentang tanda bahaya kehamilan meningkat; (2) Kemampuan menjelaskan jenis-jenis tanda bahaya kehamilan (minimal 5 dari 8 tanda bahaya utama) meningkat; (3) Kemampuan menyebutkan penyebab dan faktor risiko tanda bahaya meningkat; (4) Kemampuan mengidentifikasi kapan harus segera menghubungi tenaga kesehatan atau datang ke fasilitas kesehatan meningkat; (5) Kemampuan mendemonstrasikan langkah-langkah awal penanganan (misalnya, posisi miring kiri saat pusing, segera ke rumah sakit jika perdarahan) meningkat. Skala tujuan luaran ini menggunakan skala Likert dari 1 (menurun) hingga 5 (meningkat), dengan target yang diharapkan adalah meningkat ke level 4 atau 5 setelah diberikan intervensi. Luaran ini juga mencakup aspek perilaku, yaitu kemampuan pasien untuk membuat keputusan yang tepat dan cepat ketika mengalami gejala bahaya, yang tercermin dalam rencana tindakan darurat yang disusun bersama perawat. Keberhasilan luaran ini diukur melalui wawancara terstruktur, kuesioner, atau demonstrasi ulang oleh pasien. Dengan tercapainya luaran ini, diharapkan terjadi penurunan angka kesakitan dan kematian ibu akibat keterlambatan penanganan tanda bahaya kehamilan.
Kode SIKI: I.12383
Deskripsi : Edukasi Tanda Bahaya Kehamilan. Definisi: Intervensi keperawatan yang dirancang untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu hamil dan keluarganya mengenai pengenalan dini tanda-tanda bahaya kehamilan, serta tindakan yang harus diambil. Tujuan intervensi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap, dan membentuk keterampilan dalam merespons kondisi kegawatdaruratan obstetri. Aktivitas atau tindakan yang dilakukan dalam intervensi ini antara lain: (1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan pasien/keluarga untuk menerima informasi, termasuk faktor hambatan belajar (bahasa, budaya, tingkat pendidikan, kondisi fisik); (2) Jadwalkan waktu dan tempat yang tepat untuk memberikan edukasi, dengan mempertimbangkan privasi dan kenyamanan pasien; (3) Sediakan materi dan media edukasi yang sesuai (leaflet, booklet, video, model, atau alat peraga) dalam bahasa yang mudah dipahami; (4) Berikan informasi secara terstruktur dan bertahap mengenai: (a) definisi tanda bahaya kehamilan; (b) jenis-jenis tanda bahaya: perdarahan dari vagina, sakit kepala hebat yang tidak hilang, gangguan penglihatan (pandangan kabur/berkunang-kunang), bengkak pada wajah dan tangan, nyeri perut hebat, penurunan gerakan janin, ketuban pecah dini, dan demam tinggi; (c) penyebab dan risiko yang mungkin timbul; (d) kapan harus segera ke fasilitas kesehatan; (5) Demonstrasikan dan latih kembali (redemonstrasi) langkah-langkah sederhana seperti mengukur tekanan darah, menghitung gerakan janin, atau posisi miring kiri; (6) Berikan kesempatan kepada pasien/keluarga untuk bertanya dan mendiskusikan hal-hal yang belum jelas; (7) Gunakan teknik komunikasi terapeutik dan umpan balik positif untuk memperkuat pemahaman; (8) Libatkan keluarga atau pendamping dalam sesi edukasi untuk memastikan dukungan sosial; (9) Dokumentasikan proses edukasi, respons pasien, dan tingkat pemahaman yang dicapai; (10) Lakukan evaluasi ulang pada kunjungan antenatal berikutnya untuk memastikan retensi informasi dan kepatuhan dalam mengenali tanda bahaya. Intervensi ini dilakukan oleh perawat yang berkompeten dalam pendidikan kesehatan maternal, dan dapat diberikan secara individual maupun kelompok kecil. Evaluasi keberhasilan intervensi dilakukan dengan membandingkan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi, serta observasi kemampuan pasien dalam mendemonstrasikan kembali keterampilan yang diajarkan. Intervensi ini juga mencakup pemberian rencana tindakan darurat tertulis (misalnya, nomor telepon ambulans, alamat rumah sakit rujukan) yang dipasang di tempat yang mudah terlihat oleh pasien. Dengan intervensi yang komprehensif ini, diharapkan pasien mampu mandiri dalam mengenali tanda bahaya dan segera mencari pertolongan, sehingga mencegah komplikasi serius pada ibu dan janin.
Article No. 26585 | 10 Aug 2026
Klinis : Asuhan Keperawatan pada Pasien SARS Seorang laki-laki, Tn. A, usia 42 tahun, datang ke IGD dengan keluhan demam tinggi sejak 3 hari yang lalu. Demam disertai menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa sangat lemah. Sejak satu hari terakhir pasien mengalami batuk kering dan sesak napas yang semakin berat. Pasien mengatakan sesak bertambah ketika berjalan atau melakukan aktivitas. Dari hasil anamnesis diketahui bahwa sekitar satu minggu sebelumnya pasien melakukan perjalanan ke daerah yang sedang mengalami kejadian infeksi saluran pernapasan dan sempat melakukan kontak erat dengan seseorang yang mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan pasien tampak lemah dan gelisah. Suhu tubuh 39,2°C, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 108 kali/menit, frekuensi napas 30 kali/menit, dan SpO₂ 89% tanpa oksigen. Pasien tampak menggunakan otot bantu pernapasan. Pada pemeriksaan paru terdengar suara napas tambahan. Pasien mengatakan, “Saya merasa sulit bernapas dan takut kondisi saya semakin parah.” Foto toraks menunjukkan gambaran pneumonia. Dokter mencurigai SARS dan merencanakan pemeriksaan RT-PCR. Pasien kemudian ditempatkan di ruang perawatan dengan pemantauan ketat terhadap status pernapasan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Asuhan Keperawatan pada Pasien SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) – Tn. A, 42 tahun
Kode SDKI: D.0005 (Pola Napas Tidak Efektif)
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah kondisi di mana inspirasi dan/atau ekspirasi tidak memberikan ventilasi yang adekuat. Pada pasien SARS, diagnosis ini muncul karena adanya infeksi virus yang menyebabkan peradangan alveoli, edema mukosa saluran napas, dan akumulasi sekret. Data subjektif: pasien mengeluh sesak napas yang semakin berat, "saya merasa sulit bernapas". Data objektif: frekuensi napas 30 kali/menit (takipnea), penggunaan otot bantu pernapasan, SpO₂ 89% tanpa oksigen, suara napas tambahan, foto toraks menunjukkan pneumonia. Ketidakmampuan sistem pernapasan untuk mempertahankan pertukaran gas yang normal menyebabkan pola napas abnormal. Hal ini diperberat oleh demam tinggi (39,2°C) yang meningkatkan metabolisme tubuh sehingga kebutuhan oksigen meningkat, namun kapasitas paru menurun akibat infeksi. Pasien juga tampak gelisah yang menunjukkan hipoksemia serebral. Diagnosis ini tepat karena mencerminkan masalah aktual yang mengancam kehidupan dan menjadi prioritas utama dalam asuhan keperawatan pada SARS. Faktor yang berhubungan: depresi pusat pernapasan (sekunder terhadap infeksi), kelelahan otot pernapasan, obstruksi jalan napas akibat sekret, dan nyeri pleuritik. Gejala mayor: dispnea, penggunaan otot bantu napas, fase ekspirasi memanjang. Gejala minor: ortopnea, pernapasan pursed-lip, ekskursi dada tidak simetris, takipnea. Kondisi klinis terkait: infeksi saluran napas (SARS), pneumonia, gagal napas, sepsis.
Kode SLKI: L.01004 (Pola Napas)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah diberikan intervensi keperawatan adalah pola napas membaik dengan kriteria hasil: 1) Ventilasi adekuat (frekuensi napas normal 12-20 kali/menit, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, tidak ada retraksi dada). 2) Tidak ada dispnea (pasien tidak mengeluh sesak, mampu bernapas dengan nyaman). 3) Saturasi oksigen meningkat (SpO₂ ≥ 95% dengan atau tanpa oksigen tambahan). 4) Suara napas bersih (tidak ada tambahan suara napas seperti ronki atau wheezing). 5) Ekspansi dada simetris dan dalam. 6) Pasien tidak gelisah, ekspresi wajah tenang. 7) Nilai analisis gas darah dalam batas normal (PaO₂ 80-100 mmHg, PaCO₂ 35-45 mmHg, pH 7,35-7,45). 8) Kemampuan melakukan aktivitas meningkat tanpa sesak. Target luaran ini dicapai dalam waktu 3x24 jam setelah intervensi, dengan tingkat keparahan menurun dari skala 5 (berat) menjadi skala 2 (ringan). Luaran ini mengukur efektivitas intervensi keperawatan dalam memperbaiki ventilasi dan oksigenasi, serta mencegah komplikasi gagal napas yang sering terjadi pada SARS. Monitoring ketat dilakukan setiap 1-2 jam pada fase akut untuk mengevaluasi perkembangan pasien.
Kode SIKI: I.01011 (Manajemen Jalan Napas)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama yang dilakukan untuk mengatasi pola napas tidak efektif pada pasien SARS adalah manajemen jalan napas dengan tindakan: 1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) setiap 15-30 menit pada fase akut. 2) Monitor bunyi napas tambahan (ronki, wheezing, krekels) untuk mendeteksi akumulasi sekret atau bronkospasme. 3) Monitor saturasi oksigen (SpO₂) secara kontinu menggunakan pulse oksimetri, pertahankan ≥ 92% (pada SARS target lebih tinggi, ≥ 94%). 4) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) atau high-Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan. 5) Berikan oksigenasi tambahan sesuai indikasi (nasal kanul 2-6 L/menit atau masker rebreating dengan reservoir, titrasi untuk mencapai SpO₂ target). 6) Lakukan fisioterapi dada (clapping, vibration) jika tidak kontraindikasi dan pasien toleran, namun hati-hati karena SARS sangat mudah menular melalui droplet – gunakan teknik yang meminimalkan aerosol. 7) Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam (deep breathing exercise) untuk membersihkan jalan napas dari sekret. 8) Lakukan suction (penghisapan lendir) jika ada indikasi, menggunakan sistem tertutup untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi. 9) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian bronkodilator (misalnya salbutamol nebulizer) dan kortikosteroid (misalnya metilprednisolon) untuk mengurangi inflamasi jalan napas. 10) Berikan terapi cairan intravena sesuai advis untuk menjaga hidrasi dan mengencerkan sekret. 11) Anjurkan pasien untuk beristirahat total di tempat tidur (bed rest) untuk mengurangi kebutuhan oksigen tubuh. 12) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya pelaporan segera jika sesak bertambah. 13) Gunakan alat pelindung diri (APD) level 3 (N95, gown, gloves, face shield) saat melakukan tindakan yang menghasilkan aerosol. 14) Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien secara akurat. Intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dengan tim medis, karena pasien SARS memerlukan pendekatan multidisiplin. Evaluasi dilakukan setiap 24 jam untuk menentukan apakah intervensi dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan berdasarkan perkembangan kondisi pasien.
Kode SDKI: D.0001 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif)
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien SARS, diagnosis ini muncul karena infeksi virus menyebabkan produksi sekret berlebihan, edema mukosa, dan kerusakan silia. Data subjektif: pasien mengeluh batuk kering (awal) yang kemudian dapat menjadi produktif, "saya merasa sulit bernapas". Data objektif: suara napas tambahan (ronki/basah), frekuensi napas 30 kali/menit, penggunaan otot bantu pernapasan, SpO₂ 89%. Batuk kering yang dialami pasien menunjukkan iritasi saluran napas, namun karena SARS sering menyebabkan pneumonia, sekret dapat menumpuk di alveoli dan bronkiolus. Ketidakmampuan membersihkan sekret menyebabkan penurunan ventilasi area paru, atelektasis, dan peningkatan kerja napas. Hal ini diperberat oleh kelemahan fisik (tubuh sangat lemah) yang mengurangi kekuatan batuk. Faktor yang berhubungan: retensi sekret, sekret kental (akibat dehidrasi karena demam), obstruksi jalan napas, kelemahan otot pernapasan. Gejala mayor: batuk tidak efektif, suara napas tambahan (ronki, wheezing, mengi). Gejala minor: sianosis, dispnea, gelisah, perubahan frekuensi napas. Kondisi klinis terkait: pneumonia, SARS, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis.
Kode SLKI: L.01003 (Bersihan Jalan Napas)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah bersihan jalan napas meningkat dengan kriteria hasil: 1) Batuk efektif (pasien mampu mengeluarkan sekret tanpa bantuan alat, frekuensi batuk menurun). 2) Suara napas bersih (tidak ada ronki atau wheezing pada auskultasi). 3) Frekuensi napas normal (12-20 kali/menit). 4) Saturasi oksigen ≥ 95% dengan atau tanpa oksigen. 5) Tidak ada sianosis (warna kulit dan membran mukosa normal). 6) Pasien tidak gelisah, ekspresi wajah rileks. 7) Mampu melakukan teknik batuk efektif dan napas dalam secara mandiri setelah edukasi. 8) Produksi sekret menurun dan sekret mudah dikeluarkan (konsistensi encer). 9) Tidak ada retraksi dada. 10) Pasien melaporkan rasa lega setelah batuk. Target luaran ini dicapai dalam 3x24 jam, dengan skala keparahan menurun dari berat menjadi ringan. Monitoring ketat dilakukan untuk mencegah komplikasi seperti atelektasis, pneumonia lebih lanjut, dan gagal napas. Luaran ini juga menilai kemandirian pasien dalam melakukan perawatan jalan napas mandiri setelah pulang dari rumah sakit.
Kode SIKI: I.01006 (Latihan Batuk Efektif)
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk meningkatkan bersihan jalan napas adalah latihan batuk efektif dengan tindakan: 1) Kaji kemampuan batuk pasien dan adanya sekret (jumlah, warna, konsistensi). 2) Berikan posisi duduk atau semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi dada. 3) Ajarkan teknik napas dalam (inhalasi perlahan melalui hidung, tahan 2-3 detik, ekshalasi melalui mulut) selama 3-5 siklus sebelum batuk. 4) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam, tahan, kemudian batukkan dengan kuat dari diafragma, ulangi 2-3 kali. 5) Bantu pasien untuk memegang area dada atau abdomen dengan bantal saat batuk untuk mengurangi nyeri dan memberikan dukungan. 6) Anjurkan minum air hangat
Article No. 26586 | 10 Aug 2026
Klinis : Asuhan Keperawatan pada Pasien SARS Seorang laki-laki, Tn. A, usia 42 tahun, datang ke IGD dengan keluhan demam tinggi sejak 3 hari yang lalu. Demam disertai menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa sangat lemah. Sejak satu hari terakhir pasien mengalami batuk kering dan sesak napas yang semakin berat. Pasien mengatakan sesak bertambah ketika berjalan atau melakukan aktivitas. Dari hasil anamnesis diketahui bahwa sekitar satu minggu sebelumnya pasien melakukan perjalanan ke daerah yang sedang mengalami kejadian infeksi saluran pernapasan dan sempat melakukan kontak erat dengan seseorang yang mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan pasien tampak lemah dan gelisah. Suhu tubuh 39,2°C, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 108 kali/menit, frekuensi napas 30 kali/menit, dan SpO₂ 89% tanpa oksigen. Pasien tampak menggunakan otot bantu pernapasan. Pada pemeriksaan paru terdengar suara napas tambahan. Pasien mengatakan, “Saya merasa sulit bernapas dan takut kondisi saya semakin parah.” Foto toraks menunjukkan gambaran pneumonia. Dokter mencurigai SARS dan merencanakan pemeriksaan RT-PCR. Pasien kemudian ditempatkan di ruang perawatan dengan pemantauan ketat terhadap status pernapasan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Asuhan Keperawatan pada Pasien SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) - Tn. A, 42 tahun
Kode SDKI: D.0005 (Pola Napas Tidak Efektif)
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah kondisi di mana inspirasi dan/atau ekspirasi tidak memberikan ventilasi alveolar yang adekuat. Pada Tn. A, hal ini ditandai dengan sesak napas yang semakin berat, frekuensi napas 30 kali/menit (takipnea), penggunaan otot bantu pernapasan, SpO₂ 89% tanpa oksigen, dan gambaran pneumonia pada foto toraks. Pasien juga mengeluh sulit bernapas dan sesak bertambah saat beraktivitas. Penyebab utama kondisi ini adalah depresi pusat pernapasan akibat infeksi virus SARS yang menyebabkan pneumonia berat, serta adanya obstruksi jalan napas akibat akumulasi sekret dan inflamasi alveolar. Gejala subjektif yang muncul meliputi dispnea, perasaan tercekik, dan kelelahan. Gejala objektif meliputi perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan, penggunaan otot bantu pernapasan, sianosis, dan penurunan saturasi oksigen. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah gagal napas dan hipoksemia jaringan.
Kode SLKI: L.01004 (Pola Napas Membaik)
Deskripsi : Pola napas membaik adalah luaran yang diharapkan setelah diberikan intervensi keperawatan, dengan kriteria hasil yang terukur. Untuk Tn. A, kriteria hasil yang ditetapkan adalah: (1) Dispnea menurun dari skala berat (skala 3) menjadi ringan (skala 1) atau tidak ada (skala 0) dalam waktu 3x24 jam; (2) Frekuensi napas membaik dalam rentang normal 16-20 kali/menit (dari 30 kali/menit); (3) Kedalaman napas (volume tidal) meningkat, ditandai dengan tidak adanya penggunaan otot bantu pernapasan; (4) SpO₂ meningkat menjadi ≥95% dengan atau tanpa bantuan oksigen; (5) Pola napas menjadi teratur dan irama napas normal; (6) Tidak ada sianosis atau akral hangat; (7) Pasien mampu melakukan teknik relaksasi napas dalam dan melaporkan penurunan rasa sesak. Skala target ditetapkan dari tingkat keparahan 3 (berat) menjadi 1 (ringan) untuk dispnea, dan dari 3 (tidak efektif) menjadi 1 (cukup efektif) untuk pola napas. Luaran ini dievaluasi setiap 6 jam selama perawatan akut, mengingat kondisi pasien SARS yang dapat memburuk dengan cepat.
Kode SIKI: I.01011 (Manajemen Jalan Napas) dan I.01014 (Pemantauan Respirasi)
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk Tn. A adalah Manajemen Jalan Napas (I.01011) dan Pemantauan Respirasi (I.01014) yang dilakukan secara kolaboratif dan mandiri. Tindakan manajemen jalan napas meliputi: (1) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru; (2) Lakukan fisioterapi dada (postural drainase dan perkusi) jika tidak ada kontraindikasi, dengan hati-hati karena pasien SARS berisiko aerosol; (3) Berikan bronkodilator sesuai advis dokter (misalnya salbutamol nebulizer) untuk mengurangi bronkospasme; (4) Lakukan suction jika ada sekret yang menyumbat, menggunakan sistem tertutup untuk mencegah penyebaran infeksi; (5) Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam (deep breathing exercise) setiap 2 jam; (6) Berikan oksigen sesuai advis (nasal kanul atau masker non-rebreathing) untuk mencapai SpO₂ ≥95%. Tindakan pemantauan respirasi meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas setiap 1 jam atau sesuai kondisi; (2) Monitor bunyi napas tambahan (ronki, wheezing) melalui auskultasi setiap 2 jam; (3) Monitor saturasi oksigen (SpO₂) secara kontinu dan analisis gas darah (AGD) sesuai indikasi; (4) Monitor tanda-tanda hipoksia seperti gelisah, sianosis, penurunan kesadaran; (5) Monitor hasil foto toraks dan nilai laboratorium (D-dimer, LDH, CRP) untuk menilai progresivitas pneumonia; (6) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antivirus (misalnya remdesivir), kortikosteroid, dan antibiotik jika ada infeksi sekunder; (7) Dokumentasikan semua temuan secara akurat. Edukasi kepada pasien dan keluarga juga penting: jelaskan penyebab sesak, pentingnya kepatuhan terapi oksigen, tanda bahaya yang harus dilaporkan (sesak makin berat, nyeri dada, bibir membiru), serta teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan yang memperberat sesak. Intervensi ini dilakukan secara intensif selama fase akut dan dievaluasi setiap shift untuk menilai efektivitasnya.
Article No. 26587 | 10 Aug 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 8 tahun, berat badan 25 kg, dirawat dengan diagnosis sindrom nefrotik. Ibu mengatakan kedua kaki anak semakin bengkak sejak 3 hari terakhir dan kelopak mata tampak sembab terutama pada pagi hari. Hasil pengkajian: edema pitting +2 pada kedua tungkai, berat badan meningkat 2 kg dalam 3 hari, tekanan darah 110/75 mmHg, jumlah urine 500 mL/24 jam. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria dan kadar albumin serum rendah. Anak tampak cepat lelah dan nafsu makan menurun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Sindrom Nefrotik pada Anak dengan Edema Anasarka dan Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: D.0067 (Kelebihan Volume Cairan)
Deskripsi Singkat: Kelebihan volume cairan adalah kondisi di mana terjadi peningkatan retensi cairan dan natrium dalam tubuh, yang ditandai dengan edema, peningkatan berat badan cepat, dan penurunan produksi urine. Pada pasien sindrom nefrotik, kerusakan glomerulus menyebabkan proteinuria masif (terutama albumin), sehingga tekanan onkotik plasma menurun. Hal ini memicu perpindahan cairan dari intravaskular ke interstisial, menyebabkan edema pitting, asites, dan sembab. Tubuh merespons dengan mengaktifkan sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) dan hormon antidiuretik (ADH), yang justru memperburuk retensi natrium dan air. Pada anak ini, edema pitting +2 pada kedua tungkai, peningkatan berat badan 2 kg dalam 3 hari (melebihi 5% dari berat badan awal), serta urine 500 mL/24 jam (oliguria) menunjukkan kelebihan volume cairan yang signifikan. Kondisi ini memerlukan manajemen ketat untuk mencegah komplikasi seperti edema paru, hipertensi, dan gagal ginjal. Intervensi keperawatan harus fokus pada pemantauan keseimbangan cairan, pembatasan natrium dan cairan, pemberian diuretik sesuai advis, serta edukasi keluarga tentang tanda-tanda kelebihan cairan yang memburuk.
Kode SLKI: L.03028 (Keseimbangan Cairan)
Deskripsi : Keseimbangan cairan adalah luaran yang menggambarkan status hidrasi dan distribusi cairan dalam tubuh yang optimal, ditandai dengan tidak adanya edema, berat badan stabil, output urine sesuai (1-2 mL/kgBB/jam), turgor kulit baik, membran mukosa lembab, dan tanda-tanda vital dalam rentang normal. Untuk anak laki-laki usia 8 tahun dengan berat 25 kg, target output urine minimal adalah 25-50 mL/jam. Pada kondisi sindrom nefrotik, luaran ini diukur melalui indikator: (1) berat badan kembali ke baseline (tidak naik >0,5 kg/hari), (2) edema berkurang dari +2 menjadi +1 atau hilang, (3) lingkar abdomen menurun jika ada asites, (4) tekanan darah stabil (tidak hipertensi), (5) elektrolit serum normal (natrium, kalium), (6) tidak ada tanda dehidrasi atau overhidrasi. Kriteria hasil yang diharapkan dalam 3-5 hari intervensi: berat badan turun 0,5-1 kg, edema tungkai berkurang, urine output meningkat >1 mL/kgBB/jam, anak tidak cepat lelah, dan nafsu makan membaik. Keluarga mampu menyebutkan tanda bahaya seperti sesak napas, penambahan berat badan >1 kg/hari, atau penurunan urine mendadak. Skala target: dari tingkat 1 (sangat buruk) menjadi tingkat 4 (cukup) atau 5 (baik).
Kode SIKI: I.03114 (Manajemen Cairan)
Deskripsi : Manajemen cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan untuk mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien yang berisiko atau mengalami kelebihan volume cairan. Tindakan utama meliputi: (1) Identifikasi tanda-tanda kelebihan cairan (edema, peningkatan berat badan, distensi vena jugularis, asites, krekels pada paru, dan perubahan status mental), (2) Monitor berat badan harian pada waktu yang sama, dengan timbangan yang sama, dan setelah buang air kecil, (3) Monitor intake dan output cairan secara akurat setiap 8 jam, termasuk cairan oral, parenteral, dan makanan yang mengandung cairan, (4) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam, terutama tekanan darah dan frekuensi napas untuk mendeteksi edema paru, (5) Batasi asupan natrium sesuai advis (biasanya <2 gram/hari untuk anak), dan batasi cairan total (biasanya 500 mL + output urine sehari sebelumnya), (6) Berikan diuretik (misalnya furosemid) sesuai indikasi dan pantau responsnya, termasuk elektrolit serum (kalium, natrium), (7) Tinggikan ekstremitas yang edema untuk meningkatkan venous return dan mengurangi akumulasi cairan, (8) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet rendah garam, tinggi protein (jika tidak ada kontraindikasi), dan makanan yang mudah diterima anak untuk meningkatkan nafsu makan, (9) Edukasi keluarga tentang pentingnya kepatuhan terhadap pembatasan cairan dan garam, serta cara menimbang berat badan di rumah, (10) Anjurkan anak untuk istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan, dan libatkan dalam aktivitas ringan yang menyenangkan untuk meningkatkan kesejahteraan mental. Intervensi ini dilakukan setiap 4-6 jam atau sesuai kondisi klinis, dengan observasi ketat terhadap tanda-tanda hipovolemia (jika diuretik berlebihan) seperti pusing, takikardia, dan kulit kering. Dokumentasikan respons pasien terhadap terapi dan laporkan perubahan signifikan pada dokter.
Article No. 26588 | 10 Aug 2026
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut (Akut Pain) berhubungan dengan Iskemia Miokard pada Infark Miokard Akut (IMA)
Kode SDKI: D.0077 (Nyeri Akut)
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (International Association for the Study of Pain) yang terjadi secara mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri merupakan manifestasi klasik dari iskemia miokard yang disebabkan oleh oklusi total atau subtotal arteri koroner. Nyeri ini bersifat viseral, sering digambarkan sebagai rasa tertekan, diremas, atau berat di belakang sternum, dan dapat menjalar ke lengan kiri, rahang, leher, atau punggung. Nyeri ini diperberat oleh aktivitas atau stres emosional dan tidak berkurang dengan istirahat, membutuhkan penanganan segera karena merupakan tanda bahaya kerusakan otot jantung yang progresif. Pada lansia, presentasi nyeri sering atipikal, tetapi pada kasus ini nyeri tipikal muncul dengan jelas. Nyeri ini juga disertai respons otonom seperti keringat dingin, mual, dan sesak napas, yang menandakan aktivasi sistem saraf simpatis akibat stres fisiologis yang berat. Penatalaksanaan nyeri menjadi prioritas utama dalam perawatan IMA karena nyeri yang tidak teratasi akan meningkatkan konsumsi oksigen miokard, memperluas area infark, dan memicu komplikasi aritmia atau syok kardiogenik.
Kode SLKI: L.08063 (Tingkat Nyeri)
Deskripsi : Tingkat nyeri adalah luaran yang menggambarkan persepsi pasien terhadap pengalaman nyeri, termasuk karakteristik, intensitas, dan dampaknya terhadap fungsi. Pada kondisi IMA, luaran yang diharapkan adalah penurunan skala nyeri dari skala berat (7-10) menjadi ringan (1-3) atau hilang dalam 24-48 jam pertama setelah intervensi reperfusi dan analgesik. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun atau hilang; (2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis; (3) Tanda vital stabil, terutama tekanan darah dan denyut jantung dalam batas normal untuk usia; (4) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus dan menggunakan teknik relaksasi napas dalam; (5) Pasien melaporkan nyeri tidak mengganggu aktivitas dasar seperti bernapas dan tidur; (6) Perilaku protektif (menahan area dada) berkurang; (7) Skala nyeri numerik (NRS) ≤ 3; (8) Tidak ada keluhan mual atau muntah yang dipicu nyeri; (9) Saturasi oksigen ≥ 95% tanpa tanda distress; (10) Pasien mampu mendemonstrasikan penggunaan obat analgesik sesuai resep. Luaran ini dievaluasi setiap 15-30 menit selama fase akut, kemudian setiap 4 jam setelah stabil. Keberhasilan luaran ini juga diukur dari kemampuan pasien untuk beristirahat tanpa terbangun karena nyeri dan tidak terjadi peningkatan enzim jantung yang signifikan akibat nyeri yang berkepanjangan.
Kode SIKI: I.08238 (Manajemen Nyeri)
Deskripsi : Manajemen nyeri adalah intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan menghilangkan nyeri dengan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Tindakan yang dilakukan pada pasien IMA meliputi: (1) Identifikasi skala nyeri menggunakan PQRST (Provokatif, Quality, Region, Severity, Time) setiap 15 menit; (2) Identifikasi riwayat alergi obat, terutama aspirin dan opioid; (3) Berikan oksigen nasal kanul 2-4 L/menit untuk meningkatkan oksigenasi miokard, meskipun tidak rutin jika saturasi >90%; (4) Kolaborasi pemberian nitrat sublingual (nitrogliserin 0,4 mg) setiap 5 menit hingga 3 dosis, dengan pemantauan tekanan darah; (5) Kolaborasi pemberian morfin sulfat 2-4 mg IV perlahan untuk nyeri berat yang tidak responsif terhadap nitrat, dengan antidotum nalokson siap pakai; (6) Berikan aspirin 160-325 mg dikunyah segera, dan antikoagulan sesuai protokol; (7) Pertahankan tirah baring total dengan posisi semi-Fowler 30-45 derajat untuk mengurangi preload dan kerja jantung; (8) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam: tarik napas melalui hidung 4 detik, tahan 7 detik, hembuskan melalui mulut 8 detik, ulangi 5-10 siklus; (9) Berikan terapi distraksi dengan musik lembut atau visualisasi terbimbing; (10) Atur lingkungan yang tenang, redupkan lampu, batasi pengunjung; (11) Monitor tanda vital setiap 15 menit, EKG kontinu, dan saturasi oksigen; (12) Pertahankan suhu ruangan hangat untuk mencegah vasokonstriksi; (13) Berikan edukasi bahwa nyeri adalah sinyal berbahaya dan harus segera dilaporkan; (14) Evaluasi respons nyeri setelah 30 menit pemberian analgesik, jika skala tetap ≥7, laporkan ke dokter untuk penyesuaian dosis; (15) Dokumentasikan karakteristik nyeri, intervensi, dan respons pasien secara akurat; (16) Libatkan keluarga untuk mendukung pasien secara emosional; (17) Antisipasi komplikasi seperti hipotensi akibat nitrat, depresi pernapasan akibat morfin, atau mual; (18) Siapkan alat resusitasi dan obat emergensi di dekat pasien; (19) Kolaborasi untuk persiapan intervensi reperfusi (PCI atau trombolisis) yang merupakan tindakan definitif untuk menghilangkan nyeri; (20) Lakukan evaluasi menyeluruh setelah intervensi, termasuk pengukuran ulang skala nyeri, observasi tanda-tanda iskemia berulang, dan dokumentasi dalam catatan keperawatan. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan hingga nyeri terkontrol, biasanya 24-72 jam fase kritis, kemudian dilanjutkan dengan manajemen nyeri kronis untuk pencegahan kekambuhan.
Kondisi: Penurunan Curah Jantung (Decreased Cardiac Output) berhubungan dengan Disfungsi Miokard akibat Infark Akut
Kode SDKI: D.0011 (Penurunan Curah Jantung)
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung adalah kondisi di mana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien dengan infark miokard akut, terjadi kematian sel otot jantung yang menyebabkan penurunan kontraktilitas miokard, terutama jika area infark luas atau melibatkan ventrikel kiri. Curah jantung yang normal adalah 4-8 L/menit; pada pasien ini, kondisi hipertensi kronis dan diabetes melitus telah menyebabkan remodeling jantung dan penyakit mikrovaskuler, sehingga cadangan jantung sudah berkurang. Setelah infark, terjadi penurunan fraksi ejeksi, peningkatan tekanan diastolik akhir ventrikel kiri, dan penurunan stroke volume. Kompensasi awal berupa peningkatan denyut jantung dan vasokonstriksi perifer untuk mempertahankan tekanan darah, namun hal ini justru meningkatkan kebutuhan oksigen miokard dan memperburuk iskemia. Manifestasi klinis yang muncul berupa sesak napas (akibat kongesti paru), keringat dingin (aktivasi simpatis), mual (hipoperfusi gastrointestinal), dan kelelahan. Pada kasus ini, tanda-tanda gagal jantung akut dapat berkembang cepat, ditandai dengan ronki basah di basal paru, distensi vena jugularis, dan edema perifer. Penurunan curah jantung yang tidak diatasi dapat menyebabkan syok kardiogenik, ditandai dengan hipotensi (sistolik <90 mmHg), takikardia, penurunan kesadaran, dan produksi urin <30 ml/jam. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mempertahankan perfusi organ vital dan mencegah perluasan infark.
Kode SLKI: L.02008 (Curah Jantung)
Deskripsi : Curah jantung adalah luaran yang menggambarkan kemampuan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan pada pasien IMA meliputi: (1) Tekanan darah dalam rentang normal untuk usia (sistolik 100-140 mmHg, diastolik 60-90 mmHg) tanpa penggunaan vasopresor; (2) Denyut jantung 60-100 kali/menit dengan irama sinus, tanpa aritmia yang mengancam jiwa; (3) Tidak ada tanda-tanda gagal jantung seperti ronki, ortopnea, atau edema perifer; (4) Saturasi oksigen ≥95% tanpa bantuan oksigen tambahan; (5) Produksi urin ≥30 ml/jam; (6) Tingkat kesadaran compos mentis, tidak gelisah atau bingung; (7) Capillary refill <3 detik dan akral hangat; (8) Skala dispnea menurun dari skala 4 menjadi ≤2 (skala Borg); (9) Fraksi ejeksi ventrikel kiri ≥40% pada ekokardiografi; (10) Nilai laktat darah dalam batas normal (<2 mmol/L); (11) Tidak terjadi penurunan curah jantung yang ditandai dengan sinkop atau presinkop; (12) Pasien tidak mengeluh palpitasi atau nyeri dada; (13) Nadi perifer teraba kuat dan simetris; (14) Hasil EKG tidak menunjukkan perluasan infark atau iskemia baru; (15) Pasien mampu melakukan aktivitas ringan (duduk di tempat tidur) tanpa sesak. Luaran ini dievaluasi setiap jam selama 24 jam pertama, kemudian setiap 4 jam setelah
Article No. 26589 | 10 Aug 2026
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan Infark Miokard Akut (IMA) dengan penurunan curah jantung dan iskemia miokard
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien dengan infark miokard akut, nyeri dada terjadi karena suplai oksigen ke miokard tidak adekuat (iskemia) akibat penyumbatan arteri koroner. Nyeri ini bersifat substernal, menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung, sering digambarkan seperti ditekan, diremas, atau rasa terbakar. Nyeri akut pada IMA merupakan manifestasi klinis utama yang memerlukan penanganan segera karena berhubungan dengan kerusakan sel miokard yang progresif. Pada pasien usia 60 tahun dengan riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2, persepsi nyeri dapat bervariasi; pada pasien diabetes, neuropati otonom dapat menyebabkan nyeri yang atipikal atau bahkan silent ischemia, namun pada kasus ini nyeri dirasakan hebat. Nyeri akut juga disertai respons fisiologis seperti takikardia, peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi napas, diaforesis, dan mual akibat aktivasi sistem saraf simpatis. Gejala penyerta seperti sesak napas, mual, dan keringat dingin memperberat kondisi dan meningkatkan kebutuhan oksigen miokard, sehingga memperluas area infark. Penatalaksanaan nyeri yang cepat dan tepat sangat krusial untuk mengurangi konsumsi oksigen miokard, mencegah komplikasi seperti syok kardiogenik, dan memperbaiki prognosis. Nyeri akut pada IMA juga berdampak pada psikologis pasien, menimbulkan kecemasan dan ketakutan yang dapat memperburuk kondisi hemodinamik. Oleh karena itu, diagnosis keperawatan nyeri akut menjadi prioritas utama dalam asuhan keperawatan pasien IMA, dengan intervensi yang berfokus pada manajemen nyeri farmakologis (seperti morfin) dan nonfarmakologis (posisi, teknik relaksasi, lingkungan yang tenang), serta pemantauan tanda-tanda vital dan EKG secara kontinu. Pada pasien lansia dengan komorbid, risiko komplikasi lebih tinggi, sehingga pengkajian nyeri harus komprehensif menggunakan skala nyeri yang sesuai (misalnya skala numerik 0-10) dan observasi respons nonverbal. Edukasi pada pasien dan keluarga penting untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepatuhan terhadap terapi. Nyeri akut yang tidak teratasi dapat berkembang menjadi nyeri kronis atau sindrom koroner berulang. Selain itu, nyeri akut dapat mengganggu istirahat dan tidur, meningkatkan beban kerja jantung, serta menghambat mobilisasi dini yang justru diperlukan untuk pencegahan komplikasi trombosis vena dalam. Dengan demikian, diagnosis nyeri akut harus dikaji secara holistik, mencakup karakteristik nyeri (PQRST), faktor yang memperberat dan memperingan, efek nyeri terhadap aktivitas, serta tanda-tanda vital. Intervensi keperawatan yang tepat dapat membantu menurunkan intensitas nyeri, meningkatkan kenyamanan, menstabilkan hemodinamik, dan mencegah perburukan iskemia. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antiplatelet, antitrombin, nitrat, beta-blocker, dan oksigenasi juga merupakan bagian dari intervensi keperawatan. Evaluasi dilakukan dengan mengukur penurunan skala nyeri, perbaikan tanda-tanda vital, dan kemampuan pasien untuk beristirahat. Pada pasien dengan diabetes, perhatian khusus pada kontrol glukosa darah diperlukan karena hiperglikemia dapat memperberat kerusakan miokard. Secara keseluruhan, diagnosis nyeri akut pada IMA memerlukan pendekatan multidisiplin yang terkoordinasi, dengan perawat sebagai ujung tombak dalam pengkajian, intervensi, dan evaluasi.
Kode SLKI: L.08063
Deskripsi : Tingkat Nyeri adalah luaran keperawatan yang menggambarkan persepsi dan respons pasien terhadap nyeri, serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan. Pada pasien dengan infark miokard akut, luaran yang diharapkan adalah penurunan tingkat nyeri yang ditandai dengan: (1) Pasien melaporkan penurunan skala nyeri (dari skala berat menjadi ringan atau tidak ada), (2) Kemampuan mengontrol nyeri meningkat (pasien dapat menggunakan teknik nonfarmakologis secara mandiri), (3) Keluhan nyeri menurun, (4) Kemampuan mengenali faktor penyebab dan pemicu nyeri meningkat, (5) Tanda-tanda vital membaik (tekanan darah dalam rentang normal, denyut nadi normal, frekuensi napas normal, tidak ada diaforesis), (6) Ekspresi wajah rileks, tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan seperti meringis, (7) Kemampuan beristirahat dan tidur meningkat, (8) Nafsu makan tidak terganggu, (9) Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat secara bertahap tanpa memicu nyeri. Luaran ini diukur menggunakan skala 1-5, dengan 1 = meningkat berat, 2 = cukup meningkat, 3 = sedang, 4 = cukup menurun, 5 = menurun. Target yang ditetapkan untuk pasien IMA adalah minimal mencapai skor 4 (cukup menurun) pada tingkat nyeri. Kriteria evaluasi difokuskan pada aspek fisiologis (tanda vital, perfusi perifer), psikologis (ekspresi wajah, tingkat kecemasan), dan fungsional (kemampuan mobilisasi, istirahat). Pada pasien lansia dengan diabetes, perlu diperhatikan bahwa persepsi nyeri mungkin atipikal, sehingga penilaian harus objektif berdasarkan respons fisiologis dan perilaku. Luaran ini juga mencakup kepuasan pasien terhadap manajemen nyeri yang diberikan. Setelah intervensi keperawatan dilakukan, diharapkan dalam waktu 1x24 jam pasien mampu menunjukkan penurunan nyeri minimal 2 skala dari skala awal (misalnya dari 8 menjadi 6), dan dalam 3x24 jam nyeri terkontrol dengan baik (skala ≤3). Selain itu, luaran ini menekankan pada peningkatan pengetahuan pasien dan keluarga tentang cara mengatasi nyeri di rumah, termasuk kapan harus segera mencari pertolongan medis jika nyeri berulang. Dengan tercapainya luaran ini, risiko komplikasi seperti syok kardiogenik, gagal jantung, dan aritmia dapat diminimalkan. Penting juga untuk memantau efek samping terapi farmakologis seperti sedasi berlebihan akibat morfin, sehingga luaran "Tingkat Nyeri" harus diintegrasikan dengan luaran lain seperti "Status Kardiopulmonal" dan "Kontrol Kecemasan". SLKI L.08063 memberikan panduan yang jelas bagi perawat dalam menetapkan target dan kriteria keberhasilan intervensi, sehingga asuhan keperawatan menjadi terarah dan terukur. Evaluasi dilakukan secara berkala setiap 4 jam pada fase akut, kemudian setiap 8 jam setelah kondisi stabil. Dokumentasi hasil pengukuran nyeri menggunakan skala numerik atau skala wajah (Wong-Baker) harus dilakukan secara konsisten untuk melihat tren perkembangan. Pada pasien dengan komorbid hipertensi, penurunan nyeri juga diharapkan diikuti dengan penurunan tekanan darah yang stabil, namun perlu dihindari hipotensi akibat pemberian nitrat. Luaran ini juga mencakup kemampuan pasien untuk berpartisipisipasi dalam perawatan diri dan rehabilitasi jantung fase awal.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri adalah intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengidentifikasi, mengatasi, dan mengurangi nyeri yang dialami pasien. Pada pasien dengan infark miokard akut, intervensi ini meliputi: (1) Pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri (PQRST), menggunakan skala nyeri yang sesuai (numerik, verbal, atau visual analog). Untuk pasien lansia, gunakan skala yang mudah dipahami, dan jika pasien tidak mampu berkomunikasi verbal, gunakan skala perilaku seperti FLACC atau PAINAD. (2) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri, seperti aktivitas, stres, atau posisi tubuh. (3) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan (meringis, gelisah, menangis, mengerang). (4) Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri: a) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam (tarik napas dalam melalui hidung, tahan 3 detik, hembuskan perlahan melalui mulut), b) Ajarkan teknik distraksi (mendengarkan musik, bercakap-cakap ringan, visualisasi), c) Kompres hangat atau dingin pada area yang tidak terkena (hindari kompres pada dada karena dapat mengganggu pemantauan EKG), d) Posisikan pasien semifowler (30-45 derajat) untuk mengurangi sesak napas dan menurunkan beban kerja jantung, e) Berikan lingkungan yang tenang, kurangi kebisingan dan pencahayaan berlebihan. (5) Berikan terapi farmakologis sesuai indikasi dan kolaborasi dengan dokter: a) Morphin sulfat 2-4 mg IV secara titrasi untuk mengurangi nyeri dan kecemasan, pantau depresi pernapasan dan hipotensi, b) Nitrat (nitrogliserin sublingual atau IV) untuk vasodilatasi koroner, pantau tekanan darah (hindari jika SBP <90 mmHg), c) Beta-blocker untuk mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas, sehingga menurunkan kebutuhan oksigen miokard, d) Antiplatelet (aspirin, clopidogrel) untuk mencegah agregasi trombosit, e) Antikoagulan (heparin) untuk mencegah pembentukan trombus. (6) Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit pada fase akut, perhatikan perubahan tekanan darah, denyut jantung, dan frekuensi napas yang dapat
Article No. 26590 | 10 Aug 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 8 tahun, berat badan 25 kg, dirawat dengan diagnosis sindrom nefrotik. Ibu mengatakan kedua kaki anak semakin bengkak sejak 3 hari terakhir dan kelopak mata tampak sembab terutama pada pagi hari. Hasil pengkajian: edema pitting +2 pada kedua tungkai, berat badan meningkat 2 kg dalam 3 hari, tekanan darah 110/75 mmHg, jumlah urine 500 mL/24 jam. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria dan kadar albumin serum rendah. Anak tampak cepat lelah dan nafsu makan menurun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Sindrom Nefrotik pada Anak dengan Edema Anasarka dan Penurunan Status Kesehatan
Kode SDKI: D.0027 (Kelebihan Volume Cairan)
Deskripsi Singkat: Kelebihan volume cairan adalah kondisi di mana terjadi peningkatan retensi cairan dan natrium di dalam tubuh, yang ditandai dengan edema, peningkatan berat badan, dan penurunan produksi urine. Pada pasien sindrom nefrotik, kerusakan glomerulus menyebabkan proteinuria masif, hipoalbuminemia, dan penurunan tekanan onkotik plasma, sehingga cairan berpindah dari intravaskular ke interstisial. Hal ini memicu aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) yang justru memperberat retensi natrium dan air. Data objektif yang mendukung: edema pitting +2 pada kedua tungkai, kelopak mata sembab, berat badan meningkat 2 kg dalam 3 hari, jumlah urine 500 mL/24 jam (oliguria), serta hasil laboratorium proteinuria dan albumin rendah. Tanda subjektif: ibu melaporkan kaki semakin bengkak dan wajah sembab. Kondisi ini memerlukan manajemen ketat untuk mencegah komplikasi seperti edema paru, hipertensi, dan gagal ginjal. Penatalaksanaan utama meliputi pembatasan cairan dan natrium, pemberian diuretik (misalnya furosemid), serta terapi steroid untuk mengatasi penyebab dasar. Pemantauan harian meliputi berat badan, asupan dan keluaran cairan, tanda vital, serta derajat edema untuk mengevaluasi respons terapi. Pada anak, kelebihan volume cairan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, meningkatkan risiko infeksi, dan menurunkan kualitas hidup. Oleh karena itu, intervensi keperawatan harus komprehensif, melibatkan keluarga dalam perawatan, serta memberikan edukasi tentang tanda-tanda perburukan dan pentingnya kepatuhan diet.
Kode SLKI: L.03028 (Keseimbangan Cairan)
Deskripsi : Keseimbangan cairan adalah luaran yang menggambarkan status hidrasi dan keseimbangan elektrolit dalam tubuh, yang diukur dari indikator seperti output urine yang adekuat, berat badan stabil, tidak ada edema, turgor kulit normal, membran mukosa lembab, dan tanda-tanda vital dalam rentang normal. Untuk pasien sindrom nefrotik dengan kelebihan volume cairan, luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: (1) Output urine meningkat dalam 24 jam (misalnya >1 mL/kgBB/jam atau sekitar 600-800 mL/hari untuk anak usia 8 tahun dengan BB 25 kg); (2) Berat badan menurun secara bertahap (0,5-1 kg per hari selama fase diuresis) dan kembali mendekati berat badan awal sebelum edema; (3) Edema berkurang dari +2 menjadi +1 atau hilang pada ekstremitas dan wajah; (4) Tekanan darah dalam rentang normal untuk anak (sistolik 90-110 mmHg, diastolik 60-75 mmHg); (5) Turgor kulit kembali elastis, tidak ada pitting; (6) Anak melaporkan merasa lebih ringan dan tidak cepat lelah. Skala luaran keseimbangan cairan meningkat dari skala 1 (memburuk) menjadi skala 4 (cukup) hingga 5 (memadai) setelah 3-5 hari intervensi. Pemantauan berkelanjutan diperlukan karena risiko kekambuhan edema tinggi jika terapi steroid tidak adekuat atau kepatuhan diet rendah. Luaran ini juga mencakup pengetahuan keluarga tentang manajemen cairan di rumah, kemampuan mengenali tanda dini kelebihan cairan (misalnya penambahan berat badan >0,5 kg/hari), dan kepatuhan terhadap pembatasan natrium.
Kode SIKI: I.03114 (Manajemen Cairan)
Deskripsi : Manajemen cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan atau memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Intervensi ini meliputi: (1) Kaji dan catat intake dan output cairan secara akurat setiap 8 jam, termasuk semua sumber cairan (oral, intravena, dan makanan yang mengandung air); (2) Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, menggunakan timbangan yang sama, dan dengan pakaian minimal untuk mendeteksi perubahan cairan secara dini; (3) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam, terutama tekanan darah dan denyut nadi, untuk mendeteksi hipertensi atau hipotensi; (4) Kaji derajat edema (pitting, lokasi, dan perkembangan) menggunakan skala 1-4; (5) Batasi asupan cairan sesuai advis dokter (biasanya 500-750 mL/hari + volume urine 24 jam sebelumnya) dan batasi natrium (diet rendah garam 1-2 gram/hari); (6) Berikan diuretik sesuai indikasi (misalnya furosemid 1-2 mg/kgBB) dan pantau efeknya (diuresis, elektrolit, fungsi ginjal); (7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi protein (1,5-2 g/kgBB/hari) dan rendah garam, serta suplementasi kalium jika diperlukan; (8) Monitor hasil laboratorium (albumin, kreatinin, elektrolit, dan protein urine) untuk mengevaluasi status ginjal dan respons terapi; (9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan, tanda-tanda kelebihan cairan (sesak napas, pembengkakan) dan tanda hipovolemia (pusing, pucat), serta cara mencatat berat badan harian di rumah; (10) Libatkan keluarga dalam perawatan untuk meningkatkan kepatuhan dan mengurangi kecemasan. Intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dengan dokter, ahli gizi, dan farmasi. Evaluasi dilakukan setiap hari untuk menilai efektivitas intervensi; jika tidak ada perbaikan dalam 3 hari, intervensi diadaptasi, misalnya dengan peningkatan dosis diuretik atau pemberian albumin intravena. Dokumentasi yang akurat sangat penting untuk kontinuitas perawatan dan pengambilan keputusan klinis.
Kondisi: Sindrom Nefrotik pada Anak dengan Kelelahan dan Penurunan Nafsu Makan
Kode SDKI: D.0028 (Defisit Nutrisi)
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah kondisi di mana asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang ditandai dengan penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, kelemahan fisik, dan perubahan hasil laboratorium (hipoalbuminemia, anemia). Pada pasien sindrom nefrotik, proteinuria masif menyebabkan kehilangan protein (terutama albumin) melalui urine, yang mengakibatkan hipoalbuminemia. Kondisi ini memicu edema, peningkatan metabolisme basal, dan rasa cepat lelah. Selain itu, penurunan nafsu makan sering terjadi akibat edema mukosa gastrointestinal, rasa mual, efek samping steroid (misalnya peningkatan asam lambung), dan pembatasan diet yang ketat. Data subjektif: anak tampak cepat lelah dan nafsu makan menurun. Data objektif: berat badan 25 kg (meskipun meningkat karena edema, tetapi massa otot dapat menurun), albumin serum rendah, dan asupan makanan yang tidak adekuat. Defisit nutrisi yang berkepanjangan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, menurunkan imunitas, memperlambat penyembuhan, dan meningkatkan risiko infeksi. Oleh karena itu, penanganan nutrisi merupakan komponen penting dalam manajemen sindrom nefrotik. Intervensi meliputi pemberian diet tinggi protein (jika fungsi ginjal masih baik), suplementasi vitamin dan mineral (terutama vitamin D dan kalsium), serta manajemen efek samping steroid. Edukasi kepada ibu tentang cara meningkatkan nafsu makan anak (misalnya memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering, memilih makanan yang menarik, dan menghindari makanan yang menyebabkan mual) sangat diperlukan. Pemantauan berat badan harus dilakukan secara hati-hati karena edema dapat menutupi penurunan massa jaringan.
Kode SLKI: L.03030 (Status Nutrisi)
Deskripsi : Status nutrisi adalah luaran yang menggambarkan kecukupan asupan nutrisi relatif terhadap kebutuhan metabolik tubuh, yang diukur dari indikator seperti asupan makanan (kalori dan protein) adekuat, berat badan ideal atau persentil yang sesuai untuk usia, kadar albumin serum dalam rentang normal (3,5-5,0 g/dL), tidak ada tanda kekurangan gizi (rambut rontok, kulit kering), dan tingkat energi normal. Untuk pasien sindrom nefrotik, luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: (1) Asupan makanan meningkat secara bertahap dari 50% menjadi 75-100% dari kebutuhan harian dalam 3-5 hari; (2) Nafsu makan membaik, anak mau makan makanan yang disajikan; (3) Berat badan (setelah edema terkontrol) menunjukkan tren peningkatan massa otot, bukan hanya cairan; (4) Kadar albumin serum meningkat mendekati normal (meskipun pada fase awal mungkin tetap rendah karena terapi steroid belum bekerja); (5) Anak tidak cepat lelah saat beraktivitas ringan, mampu bermain sesuai usianya; (6) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi lanjut. Skala status nutrisi meningkat dari skala 1 (sangat buruk) menjadi skala 4 (cukup) hingga 5 (baik) setelah 1-2 minggu intervensi. Luaran ini juga mencakup pengetahuan orang tua tentang kebutuhan gizi anak, kemampuan menyusun menu yang sesuai, dan pemahaman tentang pentingnya kepatuhan terhadap diet yang dianjurkan. Karena terapi steroid dapat meningkatkan nafsu makan setelah beberapa minggu, perawat harus memantau agar tidak terjadi kelebihan berat badan akibat retensi cairan atau peningkatan asupan kalori yang berlebihan. Kolaborasi dengan ahli gizi sangat penting untuk menyusun rencana makan yang seimbang.
Kode SIKI: I.03115 (Manajemen Nutrisi)
Deskripsi : Manajemen nutrisi
Article No. 26591 | 10 Aug 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 8 tahun, berat badan 25 kg, dirawat dengan diagnosis sindrom nefrotik. Ibu mengatakan kedua kaki anak semakin bengkak sejak 3 hari terakhir dan kelopak mata tampak sembab terutama pada pagi hari. Hasil pengkajian: edema pitting +2 pada kedua tungkai, berat badan meningkat 2 kg dalam 3 hari, tekanan darah 110/75 mmHg, jumlah urine 500 mL/24 jam. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria dan kadar albumin serum rendah. Anak tampak cepat lelah dan nafsu makan menurun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Sindrom Nefrotik pada Anak dengan Edema Anasarka dan Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: D.0067 (Kelebihan Volume Cairan)
Deskripsi Singkat: Kelebihan volume cairan adalah kondisi di mana terjadi peningkatan retensi cairan dan natrium intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Pada anak dengan sindrom nefrotik, mekanisme patofisiologis utama adalah kerusakan glomerulus yang menyebabkan proteinuria masif (terutama albumin), hipoalbuminemia, penurunan tekanan onkotik plasma, sehingga cairan berpindah dari intravaskuler ke ruang interstisial. Kondisi ini memicu aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) dan peningkatan hormon antidiuretik (ADH), yang menyebabkan retensi natrium dan air oleh ginjal, memperberat edema. Manifestasi klinis yang tampak pada pasien ini meliputi edema pitting +2 pada kedua tungkai, kelopak mata sembab terutama pagi hari, peningkatan berat badan 2 kg dalam 3 hari, serta penurunan output urine (500 mL/24 jam, yang tergolong oliguria untuk anak usia 8 tahun dengan berat badan 25 kg). Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (ibu mengeluhkan kaki bengkak dan mata sembab) serta data objektif (edema pitting, peningkatan BB, laboratorium proteinuria dan hipoalbuminemia). Tujuan keperawatan adalah memulihkan keseimbangan cairan, menurunkan edema, dan mencegah komplikasi seperti hipertensi, gagal ginjal, atau edema paru.
Kode SLKI: L.03028 (Keseimbangan Cairan)
Deskripsi: Keseimbangan cairan adalah luaran yang menggambarkan terpenuhinya kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh, dengan kriteria hasil yang terukur. Untuk pasien sindrom nefrotik dengan kelebihan volume cairan, luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan adalah: (1) Berat badan kembali ke rentang normal atau sesuai baseline (tidak terjadi peningkatan >0,5 kg/hari); (2) Edema menurun dari skala +2 menjadi +1 atau tidak ada edema, terutama pada ekstremitas bawah dan periorbital; (3) Output urine meningkat dalam 24 jam, mendekati normal untuk usia anak (sekitar 1-2 mL/kgBB/jam, atau total 600-1200 mL/24 jam); (4) Turgor kulit kembali elastis, tidak ada pitting edema yang menetap; (5) Nilai laboratorium albumin serum meningkat mendekati normal (3,5-5 g/dL) dan proteinuria menurun; (6) Tidak ada tanda-tanda distres pernapasan atau edema paru (tidak ada ortopnea, tidak ada penggunaan otot bantu napas); (7) Keseimbangan cairan (intake-output) mendekati seimbang atau output lebih besar dari input pada fase diuresis. Skala luaran berkisar dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal skala 4 (cukup membaik) pada akhir intervensi. Luaran ini juga mencakup pemantauan tanda-tanda vital, tekanan darah tetap dalam rentang normal untuk usia (sistolik 90-120 mmHg, diastolik 60-80 mmHg), serta tidak ada tanda-tanda hipovolemia (pusing, pucat, takikardia) akibat terapi diuretik yang berlebihan.
Kode SIKI: I.03114 (Manajemen Cairan)
Deskripsi: Manajemen cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi ketidakseimbangan cairan, serta mempertahankan volume cairan tubuh yang optimal. Intervensi utama yang dilakukan pada anak dengan sindrom nefrotik dan kelebihan volume cairan meliputi: (1) Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam, terutama tekanan darah dan frekuensi nadi, untuk mendeteksi hipertensi atau tanda-tanda syok; (2) Ukur berat badan setiap hari pada waktu yang sama, menggunakan timbangan yang sama, dan dengan pakaian yang sama untuk menilai perubahan status cairan secara akurat; (3) Monitor intake dan output cairan secara ketat setiap 8 jam, termasuk jumlah urine, minum, dan cairan parenteral; (4) Kaji derajat edema setiap shift menggunakan skala pitting edema (0-4+) dan ukur lingkar tungkai atau perut untuk memantau perkembangan edema; (5) Batasi asupan cairan sesuai advis dokter, biasanya 500-1000 mL/hari ditambah jumlah urine yang dikeluarkan, untuk mencegah kelebihan cairan lebih lanjut; (6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik (misalnya furosemide) dan albumin intravena, serta pantau efek terapi dan efek samping seperti hipokalemia, hiponatremia, atau dehidrasi; (7) Atur posisi pasien semi-Fowler atau Fowler jika terdapat edema paru atau kesulitan bernapas, serta tinggikan ekstremitas bawah untuk meningkatkan venous return dan mengurangi edema; (8) Berikan diet rendah garam (natrium <2 g/hari) dan tinggi protein sesuai anjuran (1,5-2 g/kgBB/hari) jika fungsi ginjal masih memungkinkan, untuk membantu mengganti albumin yang hilang; (9) Edukasi orang tua tentang tanda-tanda kelebihan cairan yang memburuk (sesak napas, peningkatan BB >1 kg/hari, penurunan urine) dan pentingnya kepatuhan terhadap pembatasan cairan dan diet; (10) Lakukan perawatan kulit pada area edema untuk mencegah kerusakan integritas kulit (gunakan pelembap, hindari tekanan, jaga kebersihan dan kekeringan); (11) Monitor hasil laboratorium albumin serum, elektrolit, dan proteinuria secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas terapi dan menyesuaikan intervensi. Tindakan observasi, terapeutik, dan edukasi ini dilakukan secara kolaboratif dengan dokter anak dan ahli gizi untuk mencapai keseimbangan cairan yang optimal. Evaluasi dilakukan setiap hari untuk menilai perkembangan edema, berat badan, output urine, dan tanda-tanda komplikasi.
Kondisi: Sindrom Nefrotik pada Anak dengan Gangguan Nutrisi dan Kelelahan
Kode SDKI: D.0019 (Defisit Nutrisi)
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah kondisi di mana asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada anak dengan sindrom nefrotik, defisit nutrisi terjadi akibat beberapa faktor: (1) Nafsu makan menurun (anoreksia) karena edema usus dan rasa tidak nyaman akibat asites atau edema periorbital; (2) Proteinuria masif menyebabkan hilangnya protein (terutama albumin) melalui urine, sehingga tubuh kekurangan protein meskipun asupan makanan cukup; (3) Peningkatan kebutuhan energi akibat proses katabolik dan inflamasi; (4) Pembatasan diet natrium dan cairan yang membuat makanan terasa hambar, sehingga anak enggan makan. Data yang mendukung pada pasien ini adalah nafsu makan menurun, cepat lelah (mudah lelah), berat badan 25 kg (yang mungkin masih dalam rentang normal untuk usia 8 tahun, tetapi terjadi peningkatan BB akibat edema bukan massa otot), serta laboratorium menunjukkan hipoalbuminemia. Defisit nutrisi pada sindrom nefrotik berisiko menyebabkan malnutrisi, gangguan pertumbuhan, penurunan imunitas, dan memperlambat penyembuhan. Diagnosis ini ditegakkan untuk memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi secara adekuat, terutama protein dan kalori, tanpa memperburuk edema.
Kode SLKI: L.03030 (Status Nutrisi)
Deskripsi: Status nutrisi adalah luaran yang menggambarkan terpenuhinya kebutuhan nutrisi harian yang ditandai dengan asupan makanan yang adekuat, berat badan yang stabil, dan tidak adanya tanda-tanda malnutrisi. Untuk pasien sindrom nefrotik dengan defisit nutrisi, kriteria hasil yang diharapkan adalah: (1) Nafsu makan meningkat, ditandai dengan anak mampu menghabiskan porsi makan yang disediakan (minimal 75% dari porsi normal); (2) Asupan protein harian mencapai 1,5-2 g/kgBB/hari (untuk BB 25 kg, sekitar 37-50 g protein/hari); (3) Asupan kalori mencapai 100-120% dari kebutuhan basal (sekitar 1500-1800 kkal/hari untuk anak 8 tahun); (4) Berat badan tidak turun lebih dari 5% dalam 1 minggu (kecuali penurunan akibat diuresis cairan); (5) Tidak ada tanda-tanda defisiensi nutrisi seperti rambut rontok, kulit kering, atau atrofi otot; (6) Kadar albumin serum meningkat secara bertahap mendekati nilai normal; (7) Tingkat energi membaik, anak tidak mudah lelah saat beraktivitas ringan; (8) Status pertumbuhan (tinggi dan berat badan) sesuai kurva pertumbuhan anak seusianya. Skala luaran diukur dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik), dengan target minimal skala 4 (cukup baik). Luaran ini juga mencakup pemantauan tanda-tanda klinis kekurangan gizi, serta kepatuhan terhadap diet yang dianjurkan.
Kode SIKI: I.03119 (Manajemen Nutrisi)
Deskripsi: Manajemen nutrisi adalah intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien melalui pemberian makanan yang tepat, edukasi diet, dan kolaborasi dengan ahli gizi. Intervensi yang dilakukan pada anak dengan sindrom nefrotik dan defisit nutrisi meliputi: (1) Kaji status nutrisi awal, termasuk riwayat makan, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, dan hasil laboratorium (albumin, protein total, elektrolit); (2) Hitung kebutuhan kalori dan protein harian berdasarkan usia, berat badan ideal, dan
Article No. 26592 | 10 Aug 2026
Klinis : pasien mengeluh sakit bagian perut bagian kiri bawah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (inflamasi/infeksi pada abdomen kiri bawah)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan dalam hal kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain), dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kondisi pasien dengan keluhan sakit perut bagian kiri bawah, nyeri akut sering kali disebabkan oleh proses inflamasi, infeksi, obstruksi, atau iskemia pada organ-organ di kuadran kiri bawah abdomen seperti kolon desendens, kolon sigmoid, ureter kiri, ovarium kiri (pada wanita), atau kelenjar getah bening regional. Karakteristik nyeri dapat berupa nyeri viseral (tumpul, sulit dilokalisasi) yang kemudian menjadi nyeri somatik (tajam, terlokalisasi) jika terjadi iritasi peritoneum. Data subjektif meliputi pasien mengeluh sakit, melaporkan skala nyeri (misal 4-6/10), dan data objektif meliputi ekspresi wajah meringis, gelisah, perubahan frekuensi nadi dan tekanan darah, kesulitan tidur, serta perilaku melindungi area nyeri (posisi antalgic). Nyeri akut dapat menyebabkan gangguan mobilitas fisik, penurunan nafsu makan, gangguan tidur, dan peningkatan stres psikologis. Penegakan diagnosis ini memerlukan pengkajian komprehensif menggunakan PQRST (Provokatif, Quality, Region, Severity, Time) untuk membedakan nyeri viseral, somatik, atau referred pain. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi seperti syok neurogenik, peritonitis, atau sepsis jika penyebabnya adalah perforasi usus. Perlu kolaborasi dengan dokter untuk investigasi diagnostik seperti USG abdomen, CT scan, atau laboratorium (leukosit, CRP) untuk menentukan etiologi pasti.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan diberikan, yang menggambarkan kemampuan pasien untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. Definisi operasional dari Tingkat Nyeri meliputi kemampuan pasien melaporkan nyeri secara verbal, kemampuan mengenali onset nyeri, durasi nyeri, frekuensi nyeri, intensitas nyeri, dan ekspresi nonverbal nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan dalam SLKI untuk diagnosis Nyeri Akut adalah: (1) Keluhan nyeri menurun, dengan skala target dari 5 menjadi 2 (skala 0-10); (2) Ekspresi wajah rileks; (3) Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat; (4) Gelisah menurun; (5) Tanda vital membaik (nadi, tekanan darah, respirasi dalam rentang normal). Luaran ini diukur menggunakan skala 1-5 (1=buruk, 5=baik) atau menggunakan skala numerik 0-10 untuk intensitas nyeri. Target luaran ditetapkan berdasarkan kondisi pasien, misalnya dalam 1x24 jam nyeri berkurang, atau dalam 3x24 jam pasien mampu menggunakan teknik nonfarmakologi secara mandiri. Tingkat Nyeri juga mencakup aspek kognitif yaitu pemahaman pasien tentang penyebab nyeri dan strategi manajemen nyeri. Evaluasi dilakukan setiap shift atau sesuai kondisi pasien. Jika target tidak tercapai, perlu evaluasi ulang intervensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi seperti kecemasan, pengetahuan kurang, atau dukungan sosial kurang. SLKI ini menjadi acuan dalam mendokumentasikan perkembangan pasien secara objektif dan terukur.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien. Tindakan utama dalam Manajemen Nyeri meliputi: (1) Observasi - melakukan pengkajian nyeri komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi; mengidentifikasi skala nyeri menggunakan alat ukur yang sesuai (Numerik Rating Scale, Visual Analog Scale, atau Wong-Baker FACES); mengidentifikasi respons nyeri nonverbal; memantau tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, respirasi, suhu). (2) Terapeutik - memberikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri seperti terapi relaksasi nafas dalam, distraksi (mendengarkan musik, mengobrol), kompres hangat/dingin sesuai indikasi (pada abdomen kiri bawah perlu hati-hati, kompres hangat hanya jika tidak ada kontraindikasi seperti perdarahan aktif atau peritonitis), terapi musik, guided imagery, atau teknik relaksasi progresif; mengajarkan teknik manajemen nyeri secara mandiri; memberikan posisi yang nyaman (posisi semi-fowler atau posisi fetal dengan lutut ditekuk untuk mengurangi tegangan otot abdomen); mengelola lingkungan yang mendukung (pencahayaan redup, suara tenang, suhu ruangan nyaman). (3) Edukasi - menjelaskan penyebab nyeri, mekanisme nyeri, dan strategi untuk mengurangi nyeri; mengajarkan pasien dan keluarga cara menilai skala nyeri secara mandiri; menganjurkan pasien melaporkan nyeri segera tanpa menahannya; menjelaskan efek samping obat nyeri jika diberikan. (4) Kolaborasi - berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik (misal parasetamol, NSAID, atau opioid sesuai resep), serta kolaborasi untuk pemeriksaan diagnostik lanjutan (USG, CT scan, laboratorium) untuk mencari etiologi nyeri abdomen kiri bawah seperti divertikulitis, kolitis, ureterolithiasis, atau kista ovarium. Intervensi ini dilakukan setiap 4-6 jam atau sesuai kebutuhan, dan dievaluasi efektivitasnya dengan mengukur ulang skala nyeri setelah 30-60 menit pemberian tindakan. Evaluasi juga mencakup kepuasan pasien terhadap kenyamanan, kemampuan pasien melakukan teknik relaksasi secara mandiri, dan adanya perubahan tanda-tanda vital. Jika nyeri tidak berkurang, perawat harus berkolaborasi ulang dengan dokter untuk mempertimbangkan penyebab lain yang lebih serius seperti abses, perforasi, atau obstruksi usus. Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien dalam catatan keperawatan secara akurat.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596