Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25168 | 18 Apr 2026
Klinis : Konsulan dari TS interna Hari ini : lemes, masih diare ku lemah,kes.cm, sesak nafas, terpasang MO,DC,NGT,02 TD: 119/58 HR: 107 RR: 21 S: 36.7 Spo2: 93% dgn O2 5 lpm NK Status Generalisata Mata : CA -/- SI -/- Thorax : SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen : supel, BU (+) timpani, NT (-), Ext atas : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Ext bawah : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Lab RSSP Darah Rutin (8/4/26) Hb 13.22 Eritrosit 4.70 Hematokrit 39.5 MCV 84.0 MCH 28.1 MCHC 33.4 RDW 11.45 Leukosit 16.55 Neutrofil 90.2 Limfosit 6.1 Monosit 3.2 Eosinofil 0.02 Basofil 0.4 Total Neutrofil 14.93 Total Limfosit 1.02 Total Monosit 0.53 Total Eosinofil 0.00 Total Basofil 0.07 Trombosit 247 MPV 6.99 GDS 461 Ureum 56.3 Kreatinin 0.90 CK-MB 22 Golongan darah A Glukosa stik (13/4/26 06.17) -> 150 IGRA negatif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah di atas atau di bawah rentang normal.
Kode SLKI: L.03144
Deskripsi : Kestabilan Kadar Glukosa Darah Tercapai dengan kriteria hasil: 1) Kadar glukosa darah dalam rentang yang ditargetkan, 2) Tidak ada tanda dan gejala hipoglikemia (seperti lemas, keringat dingin, kesadaran menurun, takikardia), 3) Tidak ada tanda dan gejala hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsia, lemas, mual), 4) Pemahaman tentang manajemen terapi dan diet.
Kode SIKI: I.01279
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia dengan kriteria intervensi: 1) Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsia, lemas, mual, kesadaran menurun). 2) Monitor kadar glukosa darah sesuai ketentuan. 3) Kolaborasi pemberian insulin sesuai program terapi. 4) Pertahankan terapi cairan intravena sesuai program. 5) Monitor tanda dan gejala ketosis (napas aseton, mual, muntah). 6) Lakukan perawatan kulit pada area injeksi. 7) Ajarkan tanda dan gejala hiperglikemia dan hipoglikemia. 8) Anjurkan perawatan kaki. 9) Anjurkan kontrol glukosa darah mandiri. 10) Rujuk ke tim diabetes.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0060
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen.
Kode SLKI: L.03011
Deskripsi : Kontrol Infeksi dengan kriteria hasil: 1) Tanda-tanda infeksi tidak ada (seperti demam, kemerahan, edema, pus, drainase). 2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 3) Nilai laboratorium penunjang infeksi dalam batas normal. 4) Melakukan perilaku untuk mencegah infeksi (cuci tangan, perawatan luka).
Kode SIKI: I.01229
Deskripsi : Manajemen Infeksi dengan kriteria intervensi: 1) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. 2) Monitor hasil laboratorium (seperti leukosit, neutrofil). 3) Lakukan teknik aseptik dan antiseptik pada setiap tindakan invasif (perawatan infus, NGT, dll.). 4) Tingkatkan upaya pencegahan infeksi (cuci tangan, gunakan APD). 5) Anjurkan intake nutrisi yang adekuat. 6) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai program. 7) Ajarkan tanda dan gejala infeksi untuk dilaporkan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol Nyeri dengan kriteria hasil: 1) Nyeri terkontrol (skala nyeri menurun). 2) Ekspresi nyeri (wajah, tubuh) menurun. 3) Tanda vital dalam rentang normal. 4) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. 5) Menunjukkan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri.
Kode SIKI: I.01214
Deskripsi : Manajemen Nyeri dengan kriteria intervensi: 1) Kaji karakteristik nyeri (PQRST). 2) Monitor tanda vital dan respons nonverbal terhadap nyeri. 3) Lakukan teknik nonfarmakologi (distraksi, relaksasi napas, posisi nyaman). 4) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program. 5) Evaluasi efektivitas intervensi nyeri. 6) Ajarkan teknik manajemen nyeri nonfarmakologi.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Kemampuan Aktivitas Fisik dengan kriteria hasil: 1) Mampu melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan. 2) Tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas. 3) Tidak mengalami kelemahan dan kelelahan yang berlebihan. 4) Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat tercapai.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Manajemen Energi dengan kriteria intervensi: 1) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (nadi, tekanan darah, respirasi, warna kulit). 2) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai toleransi. 3) Jadwalkan periode istirahat yang cukup. 4) Latih pasien untuk mengatur pace aktivitas. 5) Bantu dalam memilih aktivitas yang sesuai kemampuan. 6) Tingkatkan aktivitas secara bertahap.
-
Article No. 25169 | 18 Apr 2026
Klinis : Pasien baru rujukan RS Gemolong datang dengan penurunan kesadaran , dengan keluhan napas sesek. Saat sadar penuh, pasien mengeluhkan perut sakit, keringat dingin, tidak bisa tidur. Pasien masuk tanggal 10/04/2026 di RS Gemolong ke bangsal biasa, kemudian tanggal 16/04/2026 masuk ICU RS Gemolong RPD : hiperglikemi, PPOK KU lemah, GCS E2V2M2 TD : 110/86 HR : 111 RR : 30 S : 36.6 SPO2 : 98, on NRM 10-15 lpm Kepala : Jejas (-) Mata : CA (-/-), SI (-/-), Mata cowong (-/-), oedem palpebra (-/-) Hidung : NCH/napas cuping hidung (-), Sekret (-) Mulut : Bibir kering (-), pucat (-), Lidah kotor (-), faring hiperemis (-), Leher : Pembesaran KGB (-) Thorax : SDV +/+ RBH +/+ RBK -/- WHZ -/- Paru : Sonor SDV (+/+), RBH (-/-), Wh (-/-) Jantung : S1 S2 regular, Bising/murmur (-) Abdomen : Peristaltik (+), supel (+), nyeri tekan (-), distended (-), turgor kulit kembali cepat, hepatomegali (-) , splenomegali (-) Genitalia : t.a.k Ekstremitas : Atas : akral hangat, CRT < 2 detik, petekie (-/-), pitting oedema (-) Bawah : akral hangat, CRT < 2 detik, ADP teraba kuat, petekie (-/-), pitting oedema (-) Lab 17/4/26 Hb 12.00 Eritrosit 4.25 Hematokrit 36.6 L Leukosit 17.27 H Neutrofil 88.7 H Limfosit 6.0 L Monosit 4.9 Eosinofil 0.03 Basofil 0.4 Trombosit 189 Na 137 K 5.5 H Cl 100 Ca 1.1 L pH 7.49 H GDS 142 Ureum 115.6 H Kreatinin 1.63 H Gol darah B AGD: pH 7.188 L PCO2 65.6 H PO2 108 HCO3 25 BE -3 Laktat 1.26 SO2 96% *Kesan: asidosis respiratori akut, dengan gagal napas hiperkapnia ( PaCO2 = 65,6 ), hipoksemia sedang ( HS = 192.86) GDS/pagi 196
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta ketidakmampuan untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat, yang ditandai dengan perubahan status pernapasan, status mental, dan/atau tanda-tanda vital.
Kode SLKI: L.03107
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Kriteria hasil: 1) Nilai analisis gas darah arteri dalam rentang normal. 2) Saturasi oksigen dalam rentang normal. 3) Tidak ada tanda-tanda hipoksia (seperti sianosis, gelisah, penurunan kesadaran). 4) Pernapasan dalam rentang normal dan efektif. 5) Suara napas bersih. Pada pasien ini, targetnya adalah memperbaiki nilai AGD (pH, PaCO2, PaO2), menurunkan frekuensi napas (tachypnea), dan mempertahankan/meningkatkan saturasi oksigen.
Kode SIKI: I.08080
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi: 1) Mempertahankan jalan napas paten dengan posisi yang tepat (misalnya, head tilt, chin lift jika tidak ada trauma spinal). 2) Melakukan penghisapan lendir (suction) secara teratur dan sesuai kebutuhan untuk membersihkan jalan napas. 3) Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu). 4) Memonitor status oksigenasi melalui pulse oximetry dan analisis gas darah arteri. 5) Memberikan terapi oksigen sesuai program dan memonitor efektivitasnya. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi nebulizer atau inhaler sesuai indikasi. 7) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif jika pasien kooperatif. 8) Memposisikan pasien untuk optimalisasi pertukaran gas (misalnya, semi-fowler atau fowler). 9) Memonitor tanda-tanda distress pernapasan dan hipoksia. Intervensi ini sangat relevan karena pasien dengan GCS rendah berisiko tinggi terhadap obstruksi jalan napas, memiliki PaCO2 yang sangat tinggi (65.6) menunjukkan retensi CO2, dan memerlukan bantuan oksigen (NRM).
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0183
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana seseorang berisiko mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengarah pada kondisi hiperglikemia atau hipoglikemia, terkait dengan faktor-faktor seperti penyakit akut, stres fisiologis, dan ketidakseimbangan antara asupan, obat, dan kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.03155
Deskripsi : Kadar glukosa darah stabil. Kriteria hasil: 1) Kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan. 2) Tidak ada tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsia, penurunan kesadaran) atau hipoglikemia (lemas, keringat dingin, gemetar). 3) Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga. Pada pasien ini, targetnya adalah mempertahankan GDS dalam rentang yang dapat diterima (misalnya, di bawah 200-250 mg/dL) dan mencegah fluktuasi yang ekstrem yang dapat memperburuk kondisi.
Kode SIKI: I.08310
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia. Intervensi: 1) Memantau kadar glukosa darah secara berkala (GDS) sesuai program atau kondisi pasien. 2) Mengobservasi tanda dan gejala hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsia, kulit kering, penurunan kesadaran) dan hipoglikemia. 3) Kolaborasi pemberian insulin sesuai program dokter dengan teknik pemberian dan dosis yang tepat. 4) Memantau tanda-tanda hipoglikemia setelah pemberian insulin. 5) Mempertahankan asupan nutrisi dan cairan sesuai program. 6) Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang tanda-tanda gula darah tidak stabil. Intervensi ini didukung oleh data pasien yang memiliki riwayat hiperglikemi dan nilai GDS yang masih tinggi (142 dan 196) meskipun dalam kondisi sakit kritis, menunjukkan kebutuhan monitoring dan manajemen yang ketat.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung dalam waktu terbatas (kurang dari 3 bulan).
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang. 2) Menunjukkan perilaku nyeri berkurang (wajah rileks, dapat istirahat). 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 4) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. Pada pasien dengan penurunan kesadaran (GCS E2V2M2), pengukuran menggunakan skala perilaku nyeri (seperti Critical-Care Pain Observation Tool/CPOT) menjadi sangat penting untuk menilai ekspresi wajah, gerakan tubuh, kepatuhan terhadap ventilator (jika ada), dan tensi otot.
Kode SIKI: I.07312
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi: 1) Menilai nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, intensitas menggunakan skala yang sesuai dengan kondisi pasien, seperti CPOT). 2) Memberikan terapi farmakologis (analgesik) sesuai program dokter dan memantau efek sampingnya. 3) Menerapkan terapi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (misalnya, reposisi yang nyaman, sentuhan terapeutik, pengaturan lingkungan yang tenang). 4) Memonitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah intervensi nyeri. 5) Mengevaluasi efektivitas intervensi pengelolaan nyeri. Intervensi ini didasarkan pada keluhan pasien saat sadar penuh yaitu "perut sakit", yang mengindikasikan adanya pengalaman nyeri akut yang perlu dikelola, meskipun saat ini kesadarannya menurun.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana inspirasi dan/atau ekspirasi tidak memberikan ventilasi yang adekuat, ditandai dengan peningkatan usaha bernapas, perubahan frekuensi dan irama napas, serta ketidakmampuan untuk mempertahankan pola napas normal.
Kode SLKI: L.04004
Deskripsi : Pola napas efektif. Kriteria hasil: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia. 2) Irama napas teratur. 3) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan. 4) Dada dan abdomen bergerak simetris. 5) Suara napas bersih di kedua lapang paru. Pada pasien ini, targetnya adalah menurunkan frekuensi napas (tachypnea RR:30) menuju rentang normal, mengurangi usaha napas, dan mencapai pola napas yang teratur.
Kode SIKI: I.08010
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Intervensi: 1) Memonitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas. 2) Memonitor penggunaan otot bantu pernapasan dan adanya napas cuping hidung. 3) Auskultasi suara napas secara berkala. 4) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi dada (posisi semi-fowler/fowler tinggi). 5) Mengajarkan dan mendorong napas dalam serta batuk efektif jika memungkinkan. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen dan terapi inhalasi. 7) Memonitor hasil analisis gas darah arteri. 8) Kolaborasi persiapan dan perawatan jika diperlukan bantuan ventilasi mekanik. Intervensi ini sangat relevan mengingat data pasien: RR 30 (tachypnea), hasil AGD menunjukkan gagal napas hiperkapnia, riwayat PPOK, dan keluhan sesak, yang semuanya mengindikasikan pola napas yang tidak efektif dan peningkatan kerja pernapasan.
-
Article No. 25170 | 18 Apr 2026
Klinis : pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sudah sejak 6 jam SMRS. Pasien juga mengeluhkan lemas . Sudah 1 minggu ini pasien tidak aktif bergerak dan hanya tiduran di kasur. RPD jantung kolestrol stroke KU lemah,sopor GCS E2V3M4 TD: 125/88 SB: 36 HR: 108x/m RR: 18 x/m SpO2: 98% on room air GDStick = 595 Mata CA -/-, SI -/- Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/- Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext akral pucat -/-, edem -/-\ Terpasang NGT dan DC
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Risiko variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengancam jiwa.
Kode SLKI: 4413
Deskripsi : Kontrol Glikemik: Tindakan untuk mengatur kadar glukosa darah dalam rentang yang dapat diterima. SLKI ini mencakup serangkaian intervensi seperti memantau tanda-tanda dan gejala hiperglikemia atau hipoglikemia, memantau kadar glukosa darah sesuai protokol, mengelola terapi insulin atau obat hipoglikemik oral sesuai resep, memberikan pendidikan kesehatan mengenai manajemen glukosa, serta berkolaborasi dengan tim kesehatan untuk menyesuaikan rencana terapi. Tujuannya adalah untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah yang stabil, mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis diabetik atau hipoglikemia berat, dan mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. Pada pasien dengan GDS 595 mg/dL, kontrol glikemik yang ketat dan segera adalah prioritas utama untuk mencegah memburuknya kondisi neurologis dan komplikasi metabolik yang mengancam nyawa.
Kode SIKI: 4413
Deskripsi : Intervensi untuk mencapai kontrol glikemik meliputi: 1) Memantau status neurologis (GCS) dan tanda vital secara ketat setiap jam atau sesuai kondisi, karena hiperglikemia berat dapat memperburuk penurunan kesadaran. 2) Memeriksa kadar glukosa darah dengan *GDStick* secara berkala (misal setiap 1-2 jam awal) sesuai protokol hiperglikemia krisis. 3) Memberikan terapi insulin sesuai protokol atau resep dokter (biasanya insulin kerja cepat drip intravena dengan titrasi ketat) untuk menurunkan kadar glukosa secara bertahap. 4) Memantau elektrolit, khususnya kalium, karena terapi insulin dapat menyebabkan hipokalemia. 5) Memastikan hidrasi adekuat dengan cairan intravena sesuai resep untuk koreksi dehidrasi dan membantu menurunkan glikemia. 6) Mempertahankan nutrisi yang terkontrol melalui *NGT* dengan formula khusus diabetes sesuai anjuran gizi, dan memantau toleransi. 7) Mencegah infeksi dengan perawatan *NGT* dan DC yang steril, karena hiperglikemia meningkatkan risiko infeksi. 8) Berkolaborasi dengan dokter untuk evaluasi penyebab hiperglikemia (stres akut, infeksi, obat-obatan) dan penyesuaian terapi. 9) Mendokumentasikan semua temuan dan respons terhadap terapi secara akurat. Intervensi ini harus dilakukan dengan cermat untuk menghindari penurunan glukosa yang terlalu cepat yang dapat menyebabkan edema otak.
Kondisi: Penurunan Kesadaran
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Penurunan kemampuan untuk melakukan orientasi terhadap diri sendiri, orang lain, tempat, dan waktu.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Pemantauan Kesadaran: Tindakan pengumpulan dan analisis informasi tentang status kesadaran pasien. SLKI ini berfokus pada pengukuran dan pencatatan tingkat kesadaran secara komprehensif dan berkelanjutan menggunakan alat seperti *Glasgow Coma Scale (GCS)*. Pada pasien dengan GCS E2V3M4 (total 9) yang tergolong *sopor*, pemantauan harus mencakup evaluasi frekuensi terhadap pembukaan mata, respons verbal, dan respons motorik terhadap perintah atau rangsang nyeri. Selain GCS, pemantauan juga meliputi observasi tanda-tanda vital (TD, HR, RR, Suhu), ukuran pupil dan reaksinya terhadap cahaya (*Mata CA -/-*), serta tanda-tangan neurologis fokal lainnya. Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini setiap perubahan status neurologis, baik perbaikan maupun perburukan, yang dapat mengindikasikan perkembangan kondisi seperti edema otak, perdarahan intrakranial, atau efek dari hiperglikemia berat. Pemantauan yang ketat dan terdokumentasi dengan baik sangat penting untuk menentukan efektivitas terapi dan kebutuhan intervensi lebih lanjut.
Kode SIKI: 0901
Deskripsi : Intervensi pemantauan kesadaran yang harus dilakukan: 1) Menilai dan mencatat *GCS* (E, V, M) secara rutin setiap jam atau sesuai dengan kondisi kritis pasien dan protokol stroke/neurologi. 2) Memantau dan mendokumentasikan tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu, SpO2) secara berkala. 3) Melakukan pemeriksaan neurologis fokus termasuk reaksi pupil terhadap cahaya (*Ciliari Akomodasi*), kesimetrisan wajah, dan kekuatan motorik ekstremitas. 4) Memposisikan pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30 derajat (kecuali ada kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran darah otak dan mengurangi risiko aspirasi. 5) Mempertahankan jalan napas yang paten, siapkan alat suction karena penurunan kesadaran berisiko menyebabkan obstruksi dan aspirasi. 6) Meminimalkan stimulasi yang tidak perlu, ciptakan lingkungan yang tenang. 7) Memantau dan menjaga keamanan pasien dengan memasang pengaman tempat tidur, hindari restraint yang tidak perlu. 8) Berkomunikasi dengan pasien menggunakan suara yang tenang dan jelas saat melakukan prosedur, meskipun pasien tidak responsif penuh. 9) Segera melaporkan setiap penurunan GCS (misal, penurunan 2 poin atau lebih), perubahan reaksi pupil, atau munculnya gejala neurologis fokal baru kepada dokter. 10) Mendokumentasikan semua temuan secara objektif dan berurutan dalam catatan perkembangan.
Kondisi: Risiko Cedera
<>Kode SDKI: 0018Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerusakan fisik akibat faktor internal atau eksternal.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Pengendalian Risiko Cedera: Tindakan untuk mencegah atau meminimalkan cedera fisik pada pasien yang rentan. SLKI ini sangat relevan mengingat kondisi pasien yang mengalami penurunan kesadaran (sopor), lemas, dan tidak aktif bergerak. Risiko cedera yang utama meliputi risiko jatuh dari tempat tidur, risiko aspirasi akibat penurunan refleks muntah dan adanya *NGT*, serta risiko kerusakan integritas kulit (dekubitus) akibat imobilitas. Tujuan SLKI adalah menciptakan lingkungan yang aman, mencegah insiden yang tidak diinginkan, dan mempertahankan integritas fisik pasien. Ini dicapai melalui identifikasi faktor risiko spesifik, penerapan tindakan pencegahan universal (seperti pengaman tempat tidur), dan intervensi khusus sesuai kebutuhan pasien, seperti perawatan kulit dan manajemen *NGT* yang aman.
Kode SIKI: 1901
Deskripsi : Intervensi pengendalian risiko cedera meliputi: 1) Melakukan *risk assessment* jatuh dan dekubitus menggunakan skala yang valid (misal, Morse Fall Scale dan Braden Scale). 2) Menerapkan *safety restraint* yang tepat seperti pengaman tempat tidur (bed rail) yang selalu terpasang dalam posisi naik saat perawat tidak berada di samping pasien, namun hindari restraint fisik yang dapat meningkatkan agitasi. 3) Memposisikan pasien dengan benar di tempat tidur, gunakan bantal untuk penyangga. 4) Melakukan mobilisasi bertahap sesuai kemampuan dan instruksi, seperti perubahan posisi setiap 2 jam (*turn interval*) untuk mencegah dekubitus dan pneumonia. 5) Memeriksa kondisi kulit terutama pada area tonjolan tulang (tumit, sakrum, siku) setiap kali melakukan perawatan. 6) Menggunakan matras anti dekubus jika tersedia. 7) Mencegah aspirasi dengan memastikan *NGT* berada di posisi yang benar sebelum pemberian nutrisi atau obat, memeriksa residu lambung, dan menjaga kepala tempat tidur ditinggikan minimal 30 derajat selama dan setelah pemberian makan via NGT. 8) Menjaga lingkungan sekitar tempat tidur bebas dari barang-barang yang dapat membahayakan. 9) Memastikan *DC (Drainase Cateter)* atau alat invasif lainnya terpasang dengan aman dan tidak tertarik. 10) Memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya tidak meninggalkan pasien sendirian dan untuk segera memanggil perawat jika perlu bantuan. 11) Mendokumentasikan semua tindakan pencegahan dan kondisi pasien secara rutin.
-
Article No. 25172 | 18 Apr 2026
Klinis : 1. Risiko Bunuh Diri (SDKI) 2. Harga Diri Rendah (SDKI)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Bunuh Diri (SDKI)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Kerentanan terhadap perilaku yang mengancam jiwa yang ditujukan pada diri sendiri, yang dapat mengakibatkan cedera atau kematian.
Kode SLKI: 4308
Deskripsi : Pasien terlindung dari perilaku bunuh diri. Kriteria hasil mencakup: pasien dapat mengidentifikasi pikiran dan perasaan yang mendahului keinginan bunuh diri, mengidentifikasi sumber dukungan personal dan profesional, menggunakan strategi koping yang adaptif, menyusun perjanjian keselamatan (safety contract) untuk tidak melukai diri, lingkungan bebas dari benda-benda berbahaya yang dapat digunakan untuk melukai diri, serta tidak menunjukkan tanda-tanda perilaku bunuh diri atau melukai diri sendiri.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Intervensi pencegahan bunuh diri. Tindakan keperawatan meliputi: menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, membangun hubungan saling percaya, melakukan pengawasan ketat (observasi) secara kontinu, mengidentifikasi faktor risiko dan faktor protektif, melakukan kontrak keselamatan (safety contract) yang jelas dan spesifik, melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam pengawasan dan dukungan, memberikan edukasi tentang tanda-tanda peringatan dan cara mencari bantuan, mendorong ekspresi perasaan tanpa menghakimi, membantu mengidentifikasi pemicu dan alternatif penyelesaian masalah, serta merujuk ke profesional kesehatan mental (psikiater, psikolog) untuk terapi lebih lanjut seperti psikoterapi atau manajemen farmakologis. Intervensi ini bersifat kolaboratif, empatik, dan berfokus pada penghargaan terhadap kehidupan pasien.
Kondisi: Harga Diri Rendah (SDKI)
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Penilaian negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri, yang bersifat kronis dan berulang.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Pasien mencapai peningkatan harga diri. Kriteria hasil meliputi: pasien dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelebihan diri, menerima pujian secara positif, mengekspresikan perasaan dan kebutuhan dengan asertif, menetapkan tujuan yang realistis, menunjukkan peningkatan partisipasi dalam pengambilan keputusan tentang perawatan diri, serta menunjukkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang lebih positif terkait konsep diri.
Kode SIKI: 5270
Deskripsi : Intervensi peningkatan harga diri. Tindakan keperawatan mencakup: membangun hubungan terapeutik dengan penerimaan tanpa syarat, mendengarkan aktif dan menunjukkan empati, membantu pasien mengidentifikasi dan mengeksplorasi pikiran serta keyakinan negatif tentang diri sendiri, membantu pasien mengidentifikasi kekuatan, prestasi, dan kualitas positif diri, memberikan pujian yang spesifik dan tulus, mendorong pengambilan keputusan kecil untuk membangun rasa kontrol dan kompetensi, melatih keterampilan asertif dan komunikasi efektif, memberikan umpan balik positif atas keberhasilan sekecil apapun, menggunakan teknik cognitive restructuring untuk menantang distorsi kognitif, melibatkan dalam aktivitas atau terapi kelompok untuk mendapatkan dukungan sosial dan perspektif baru, serta merujuk ke konseling atau terapi psikologis jika diperlukan. Pendekatan ini berfokus pada penerimaan diri, pengembangan self-talk positif, dan peningkatan rasa percaya diri melalui pengalaman sukses yang bertahap.
-
Article No. 25173 | 18 Apr 2026
Klinis : keluhan mual, muntah 5x, badan terasa pegal semua, nafsu makan menurun. pasien tdk kooperatif, demam (-), pusing (-) BAK dan BAB dbn GCS : E3VxM5 T : 114/ 67 mmHg N 83x/ mnit RR 20 x/ mnit t 36 stat generalis dbN EKG, ro thx, CT scan kepala non kontras
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 0202
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang tidak diinginkan.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Tujuan: Pasien mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat dengan kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernapasan). 2) Membran mukosa lembab. 3) Turgor kulit baik. 4) Produksi urine adekuat (output sekitar 30 mL/jam atau sesuai berat badan). 5) Berat badan stabil. 6) Tidak ada tanda dehidrasi atau kelebihan cairan (seperti edema). 7) Elektrolit dalam batas normal. Pada kasus ini, fokus pada mencegah dehidrasi lebih lanjut akibat muntah berulang dan penurunan asupan oral.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi keperawatan yang dilakukan: 1) Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) secara teratur untuk mendeteksi dini hipovolemia (tekanan darah 114/67 mmHg saat ini masih normal tetapi perlu diwaspadai tren penurunannya). 2) Memantau tanda-tanda klinis dehidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan produksi urine (BAK dbn perlu dipastikan jumlah pastinya). 3) Mengukur asupan dan keluaran cairan (balance cairan) secara akurat, termasuk frekuensi dan volume muntah. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep untuk mengatasi kehilangan cairan dan elektrolit. 5) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit, hematokrit) jika tersedia. 6) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan, meskipun pasien tidak kooperatif, perlu pendekatan komunikasi terapeutik. 7) Memposisikan pasien dengan nyaman untuk mengurangi mual dan mencegah aspirasi jika muntah. 8) Menilai dan menangani penyebab mual dan muntah, termasuk kolaborasi pemberian antiemetik jika diperlukan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0711
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan: Pasien menunjukkan pengendalian nyeri dengan kriteria hasil: 1) Melaporkan penurunan intensitas nyeri (dengan menggunakan skala nyeri). 2) Menunjukkan tanda-tanda nyeri berkurang (wajah rileks, dapat beristirahat). 3) Mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi. 4) Menggunakan metode non-farmakologis untuk mengurangi nyeri. Pada kasus ini, nyeri diindikasikan oleh keluhan "badan terasa pegal semua" yang merupakan pengalaman sensori tidak nyaman.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan: 1) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif meliputi lokasi (generalis), intensitas (dengan skala), karakteristik (pegal), faktor pencetus dan pereda. 2) Mengajarkan dan membantu teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti posisi yang nyaman, relaksasi napas dalam, distraksi, atau kompres hangat jika tidak kontraindikasi. 3) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai resep dokter (misalnya, untuk nyeri muskuloskeletal). 4) Memantau efektivitas intervensi penghilang nyeri dan efek sampingnya. 5) Menciptakan lingkungan yang tenang untuk meningkatkan kenyamanan. 6) Karena pasien tidak kooperatif, diperlukan pendekatan yang sabar dan empatik untuk meyakinkan pasien agar melaporkan nyeri dan menerima intervensi.
Kondisi: Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0501
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Status Nutrisi. Tujuan: Pasien mencapai atau mempertahankan status nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: 1) Asupan makanan dan cairan meningkat sesuai kebutuhan. 2) Berat badan stabil atau meningkat menuju rentang normal. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam batas normal. 4) Menunjukkan peningkatan nafsu makan. Pada kasus ini, kondisi dipicu oleh "nafsu makan menurun" dan "mual muntah" yang menyebabkan asupan tidak adekuat.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan yang dilakukan: 1) Memantau asupan makanan dan cairan pasien setiap hari. 2) Menimbang berat badan secara teratur untuk menilai tren. 3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet yang sesuai. 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering untuk meningkatkan toleransi. 5) Memberikan makanan dengan tekstur dan suhu yang disukai pasien, menghindari pemicu mual. 6) Memberikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan nafsu makan. 7) Kolaborasi pemberian terapi nutrisi tambahan (enteral/parenteral) jika asupan oral sangat tidak adekuat. 8) Memantau tanda-tanda kekurangan nutrisi seperti kelemahan, penurunan massa otot, atau hipoalbuminemia. 9) Memberikan edukasi nutrisi pada pasien dan keluarga.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0618
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau kesehatan.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Kontrol Risiko. Tujuan: Pasien terbebas dari cedera dengan kriteria hasil: 1) Lingkungan aman dan bebas dari bahaya. 2) Tidak ada laporan atau tanda-tanda cedera. 3) Menggunakan tindakan pencegahan keselamatan dengan tepat. Pada kasus ini, risiko berasal dari kondisi klinis pasien: GCS E3VxM5 (respon verbal tidak dapat dinilai/tidak kooperatif) menunjukkan penurunan kesadaran atau kemampuan berkomunikasi, dan keluhan muntah serta pusing (meski disangkal) meningkatkan risiko jatuh atau aspirasi.
Kode SIKI: 6490
Deskripsi : Pencegahan Jatuh. Intervensi keperawatan yang dilakukan: 1) Melakukan penilaian risiko jatuh menggunakan skala yang valid (seperti Morse Fall Scale). 2) Menempatkan pasien di ruangan dekat dengan pos perawat. 3) Memastikan lingkungan aman: tempat tidur dalam posisi rendah, pagar tempat tidur terpasang, lantai tidak licin, pencahayaan cukup, barang-barang dalam jangkauan. 4) Menggunakan alat bantu atau restraint yang sesuai (jika sangat diperlukan dan dengan indikasi ketat) untuk mencegah pasien bangun tanpa pengawasan. 5) Menginstruksikan pasien untuk meminta bantuan saat akan berpindah atau ke toilet. 6) Memantau pasien secara ketat, terutama saat mual atau ingin muntah. 7) Memastikan jalan napas tetap terbuka dan posisi miring jika risiko muntah tinggi untuk mencegah aspirasi. 8) Mendokumentasikan dan melaporkan kondisi neurologis (GCS) secara berkala. 9) Mengedukasi keluarga tentang risiko dan langkah pencegahan cedera.
-
Article No. 25174 | 18 Apr 2026
Klinis : CKD
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penyakit Ginjal Kronis (CKD)
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Pasien menunjukkan fungsi ginjal yang memadai, dibuktikan dengan nilai kreatinin serum, ureum darah, dan laju filtrasi glomerulus (LFG) dalam rentang target, serta tidak adanya gejala uremia seperti mual, kelelahan ekstrem, atau penumpukan cairan yang signifikan. Pasien mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, dengan output urin yang sesuai, berat badan stabil, dan tidak ada edema. Pasien juga memahami dan berpartisipasi dalam rencana pengelolaan penyakit, termasuk pembatasan diet, kepatuhan pengobatan, dan pemantauan tanda-tanda komplikasi.
Kode SIKI: I.01228
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk CKD berfokus pada manajemen komprehensif untuk memperlambat progresivitas penyakit, mencegah komplikasi, dan mempromosikan kualitas hidup. Pertama, lakukan pemantauan ketat status cairan dan elektrolit dengan mencatat balance cairan (intake-output) setiap hari, memantau berat badan harian dengan kriteria kenaikan tidak lebih dari 0.5 kg/hari, serta mengobservasi tanda edema (perifer, periorbital, anasarka) dan tanda kelebihan cairan (dispnea, krekels, tekanan darah meningkat, tekanan vena jugularis meningkat). Pantau hasil laboratorium seperti natrium, kalium, kalsium, fosfat, dan BUN/kreatinin secara rutin. Kedua, kelola terapi nutrisi yang ketat dengan berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet rendah protein sesuai stadium CKD, rendah garam, rendah kalium, dan rendah fosfat sesuai kebutuhan individu. Edukasi pasien dan keluarga tentang pembatasan makanan tinggi kalium (seperti pisang, jeruk, kentang) dan fosfat (seperti produk susu, kacang-kacangan, soft drink). Ketiga, lakukan manajemen farmakologis dengan memastikan kepatuhan terhadap regimen pengobatan seperti antihipertensi (ACE inhibitor/ARB untuk renoproteksi), pengikat fosfat, suplemen kalsium/vitamin D, dan eritropoietin untuk anemia. Ajarkan pasien tentang tujuan, dosis, dan efek samping obat. Keempat, lakukan pencegahan dan deteksi dini komplikasi dengan memantau tanda-tanda uremia (gatal, mual, perubahan status mental), anemia (kelelahan, pucat, sesak), serta penyakit tulang mineral (nyeri tulang, fraktur). Kelima, berikan edukasi kesehatan yang mendalam tentang penyakit CKD, pentingnya kontrol tekanan darah dan gula darah (jika ada diabetes), menghindari obat nefrotoksik (seperti NSAID), serta rencana terapi pengganti ginjal (dialisis atau transplantasi) di masa depan sesuai indikasi. Keenam, berikan dukungan psikososial dan spiritual dengan mendorong ekspresi perasaan, mengatasi ansietas dan depresi terkait penyakit kronis, serta memfasilitasi sistem pendukung keluarga dan akses ke kelompok dukungan. Terakhir, persiapkan pasien untuk terapi renal replacement jika diperlukan dengan memberikan informasi tentang pilihan hemodialisis, dialisis peritoneal, atau transplantasi ginjal, serta manajemen akses vaskular atau kateter.
-
Article No. 25175 | 18 Apr 2026
Klinis : CKD
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penyakit Ginjal Kronis (CKD)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel, yang dapat mengganggu regulasi cairan dan elektrolit, keseimbangan asam-basa, ekskresi produk sisa metabolisme, serta produksi hormon.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Pasien mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pasien menunjukkan fungsi ginjal yang adekuat. Pasien bebas dari gejala uremia. Pasien mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan rencana pengobatan. Pasien melakukan tindakan untuk memperlambat progresivitas penyakit. Kriteria hasil ini diukur melalui parameter seperti berat badan stabil, tanda vital dalam rentang normal, tidak ada edema signifikan, kadar kreatinin dan ureum yang terkontrol, serta kepatuhan terhadap diet dan pengobatan. Perawat mengevaluasi status hidrasi, memantau hasil laboratorium (ureum, kreatinin, elektrolit, LFG), dan menilai pengetahuan serta kepatuhan pasien. Tujuan akhirnya adalah mempertahankan kualitas hidup optimal dan memperlambat penurunan fungsi ginjal dengan mencegah komplikasi seperti kelebihan cairan, hiperkalemia, dan uremia.
Kode SIKI: I.01264
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Penyakit Ginjal. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Pertama, Pemantauan: mengkaji status cairan (tanda vital, berat badan harian, edema, bunyi napas), memantau hasil laboratorium (ureum, kreatinin, kalium, natrium, hemoglobin), dan menilai tanda-tanda uremia (mual, gatal, kelelahan). Kedua, Edukasi dan Konseling: memberikan pendidikan tentang pembatasan diet sesuai stadium CKD (protein, kalium, fosfor, natrium), pentingnya hidrasi yang adekuat namun terkontrol, dan penghindaran obat nefrotoksik (seperti NSAID). Edukasi juga mencakup teknik konservasi energi dan perencanaan aktivitas. Ketiga, Kolaborasi: bekerja sama dengan tim medis untuk rencana terapi pengganti ginjal (seperti hemodialisis) jika diperlukan, mengelola regimen obat (pengikat fosfat, antihipertensi, eritropoietin), dan merujuk ke ahli gizi untuk penatalaksanaan diet khusus. Keempat, Dukungan Psikososial: memberikan dukungan emosional untuk menerima diagnosis kronis, mendorong partisipasi dalam kelompok dukungan, dan memfasilitasi diskusi tentang penanganan kecemasan atau depresi. Kelima, Pencegahan Komplikasi: mencegah infeksi, mempromosikan perawatan kulit untuk mengurangi gatal, dan memberikan perawatan mulut untuk mengatasi halitosis uremik. Intervensi ini bersifat holistik, berkelanjutan, dan disesuaikan dengan stadium CKD, dengan fokus pada penundaan progresi penyakit, manajemen gejala, dan persiapan jika terapi pengganti ginjal diperlukan.
-
Article No. 25176 | 18 Apr 2026
Klinis : manajemen nyeri
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Manajemen Nyeri
Kode ICD-10: Z51.84
Deskripsi Singkat : Kode Z51.84 digunakan untuk mencatat kontak dengan layanan kesehatan untuk tujuan manajemen nyeri. Ini bukan diagnosis nyeri itu sendiri, melainkan alasan perawatan atau konsultasi. Kode ini mengindikasikan bahwa pasien menerima perawatan khusus untuk mengontrol atau mengurangi rasa sakit, yang dapat mencakup berbagai modalitas seperti pemberian obat analgesik (termasuk opioid di bawah pengawasan ketat), blok saraf, terapi fisik, akupunktur, atau konseling manajemen nyeri. Penggunaannya tepat ketika nyeri merupakan fokus utama dari kunjungan, terlepas dari penyebab dasarnya (misalnya, nyeri pasca operasi, kanker, neuropatik, atau muskuloskeletal kronis). Kode ini membantu dalam pelacakan sumber daya dan perencanaan layanan untuk perawatan nyeri. Sangat penting untuk tetap menggunakan kode diagnosis yang spesifik untuk kondisi penyebab nyeri (seperti G89.3 untuk nyeri pasca-trauma kronis atau R52 untuk nyeri yang tidak diklasifikasikan di tempat lain) sebagai kode primer, dengan Z51.84 sebagai kode sekunder yang menjelaskan alasan penanganannya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25177 | 18 Apr 2026
Klinis : manajemen nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Nyeri
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 4401
Deskripsi : Kontrol Nyeri
Kode SIKI: 6530
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) - Kode 0026: Nyeri Akut
Diagnosis keperawatan "Nyeri Akut" didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Nyeri akut bersifat protektif, memperingatkan individu akan adanya cedera atau penyakit. Karakteristik utama (definisi operasional) yang dapat ditemukan pada pasien meliputi laporan nyeri secara verbal atau non-verbal (seperti wajah meringis, postur tubuh melindungi area nyeri, gelisah), perubahan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan meningkat), perilaku berfokus pada diri sendiri, gangguan pola tidur, serta kesulitan dalam berkonsentrasi atau melakukan aktivitas. Diagnosis ini menjadi landasan bagi perawat untuk merencanakan intervensi yang tepat guna mengurangi atau menghilangkan nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan memulihkan fungsi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) - Kode 4401: Kontrol Nyeri
Luaran keperawatan "Kontrol Nyeri" mengacu pada kemampuan individu dalam mengendalikan dan mengurangi sensasi nyeri. Luaran ini diharapkan tercapai setelah intervensi keperawatan dilakukan. Kriteria luaran (indikator) yang diharapkan meliputi: 1) Pengetahuan tentang kontrol nyeri: klien dan keluarga memahami penyebab, faktor pemicu, dan cara mengatasi nyeri. 2) Penggunaan teknik non-farmakologi: klien mampu dan mau menerapkan metode seperti relaksasi, distraksi, atau kompres hangat/dingin. 3) Perilaku pencarian pengobatan: klien melaporkan nyeri secara proaktif kepada tenaga kesehatan dan mematuhi regimen terapi yang diberikan. 4) Tingkat nyeri yang terkontrol: skala nyeri (misalnya, menggunakan Numeric Rating Scale) menurun ke tingkat yang dapat ditoleransi atau menjadi nol, ekspresi wajah tampak rileks, tanda-tanda vital stabil, serta klien dapat beristirahat, tidur, dan beraktivitas dengan lebih baik. Pencapaian luaran ini menunjukkan efektivitas dari intervensi manajemen nyeri yang diberikan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) - Kode 6530: Manajemen Nyeri
Intervensi keperawatan "Manajemen Nyeri" adalah serangkaian tindakan yang dilakukan perawat untuk membantu mengurangi atau menghilangkan nyeri, baik melalui pendekatan farmakologis maupun non-farmakologis. Aktivitas intervensi ini sangat komprehensif dan meliputi: 1) Pengkajian menyeluruh: menilai karakteristik nyeri (lokasi, intensitas, kualitas, durasi, faktor yang memperberat dan meringankan) secara berkala menggunakan alat yang valid, serta mengobservasi respons nonverbal. 2) Intervensi farmakologis: memberikan analgesik sesuai resep dokter dengan prinsip benar (dosis, rute, waktu), memantau efektivitas dan efek samping, serta menerapkan prinsip pemberian analgesik secara tepat waktu (misalnya, sebelum nyeri berat) atau dengan kontrol pasien (PCA). 3) Intervensi non-farmakologis: mengajarkan dan membantu teknik relaksasi napas dalam, relaksasi otot progresif, distraksi (misalnya mendengarkan musik, menonton TV), imajinasi terbimbing, serta memberikan terapi kompres hangat atau dingin sesuai indikasi. 4) Intervensi lingkungan dan posisi: menciptakan lingkungan yang tenang, mengatur posisi tubuh yang nyaman, serta melakukan mobilisasi sesuai toleransi. 5) Edukasi: memberikan pendidikan pada klien dan keluarga tentang penyebab nyeri, pentingnya melaporkan nyeri, cara penggunaan skala nyeri, tujuan dan efek samping pengobatan, serta teknik penanganan nyeri mandiri. 6) Kolaborasi: berkolaborasi dengan tim kesehatan lain seperti dokter, fisioterapis, atau ahli gizi untuk penanganan nyeri yang holistik. Intervensi ini bersifat dinamis dan harus dievaluasi terus-menerus untuk memastikan luaran kontrol nyeri tercapai.
Keterkaitan (Linkage) SDKI-SLKI-SIKI: Pada kondisi pasien yang memerlukan manajemen nyeri, perawat menegakkan SDKI "Nyeri Akut (0026)" berdasarkan data pengkajian. Untuk mengevaluasi keberhasilan asuhan, ditetapkan SLKI "Kontrol Nyeri (4401)" sebagai tujuan yang ingin dicapai. Guna mencapai tujuan tersebut, perawat kemudian merencanakan dan melaksanakan serangkaian SIKI "Manajemen Nyeri (6530)". Ketiganya membentuk satu kesatuan proses keperawatan yang sistematis, terstandar, dan dapat dipertanggungjawabkan, dengan fokus utama pada peningkatan kenyamanan dan kualitas hidup pasien.
-
Article No. 25149 | 17 Apr 2026
Klinis : Diagnosa keperawatan utama dari hisprung apa?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Feses (Konstipasi) pada Penyakit Hirschsprung
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Feses (Konstipasi) adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami penurunan frekuensi buang air besar, disertai dengan pengeluaran feses yang keras dan kering, serta upaya mengejan yang sulit dan lama.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Manajemen Konstipasi: Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi atau mempertahankan pola eliminasi feses yang normal. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif mulai dari pengkajian, pemberian terapi, edukasi, hingga evaluasi. Perawat mengkaji riwayat eliminasi, pola dan kebiasaan BAB, konsistensi, frekuensi, serta faktor penyebab seperti asupan cairan, serat, aktivitas fisik, dan pengobatan. Dilakukan pemantauan terhadap distensi abdomen, bising usus, dan tanda-tanda obstruksi. Perawat membantu dalam pemberian terapi farmakologis seperti laksatif, pelunak feses, atau supositoria sesuai resep, serta terapi non-farmakologis seperti peningkatan asupan cairan dan serat, peningkatan mobilisasi, dan latihan otot dasar panggul. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab konstipasi, pentingnya diet seimbang, pola hidup aktif, dan teknik relaksasi saat defekasi. Pada kasus Hirschsprung yang parah, perawat dapat membantu dalam prosedur irigasi rektal (cuci usus) secara manual untuk mengosongkan ampula rektum dari feses yang tertimbun. Seluruh tindakan dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, dan martabat pasien, dengan tujuan memulihkan fungsi usus dan mencegah komplikasi seperti impaksi fecal dan enterokolitis.
Kode SIKI: I.01278
Deskripsi : Monitor Pola Eliminasi Feses: Tindakan sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan dan menganalisis data tentang proses pembuangan bahan sisa metabolisme melalui usus besar. Kriteria utama yang dimonitor meliputi: Frekuensi buang air besar (berapa kali dalam sehari/minggu), Karakteristik feses (menggunakan skala Bristol: bentuk, konsistensi, apakah keras seperti kacang, bergumpal, seperti sosis, lembek, atau cair), Warna feses (apakah coklat normal, pucat, hitam, atau kemerahan), Volume atau jumlah feses, Adanya darah segar, lendir, atau nanah, Proses eliminasi (adanya nyeri, mengejan berlebihan, perasaan tidak tuntas setelah BAB, penggunaan bantuan manual). Selain itu, perawat juga memantau tanda dan gejala terkait seperti keluhan nyeri atau kram abdomen, distensi atau pembengkakan perut, penurunan nafsu makan, mual, dan bunyi bising usus (hiperaktif atau hipoaktif). Pemantauan dilakukan melalui anamnesis langsung, observasi, pemeriksaan fisik abdomen, dan pencatatan yang akurat pada bagan eliminasi. Pada bayi dengan Hirschsprung, pemantauan ketat terhadap kegagalan mengeluarkan mekonium dalam 48 jam pertama kehidupan, muntah hijau (bilious vomiting), dan episode enterokolitis (demam, distensi abdomen mendadak, diare berbau busuk) adalah kritis. Data ini menjadi dasar evaluasi efektivitas intervensi, identifikasi dini komplikasi, dan pertimbangan untuk perubahan rencana terapi.