Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23646 | 14 Jan 2026
Klinis : bersihan jalan nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Pemeliharaan jalan napas paten. Deskripsi: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk memastikan saluran pernapasan tetap terbuka dan bebas dari sumbatan. Tindakan ini meliputi pemantauan tanda-tanda obstruksi (seperti suara napas mengi, stridor, atau batuk tidak efektif), melakukan manuver posisi (seperti posisi semi-Fowler atau miring), serta melakukan fisioterapi dada dan latihan batuk efektif. Perawat juga bertanggung jawab untuk melakukan penghisapan lendir (suction) baik melalui hidung, mulut, atau jalan napas buatan (tracheostomy/endotracheal tube) dengan teknik steril dan aman untuk mencegah infeksi dan trauma mukosa. Pemberian oksigen dan nebulizer sesuai program terapi juga termasuk dalam intervensi ini. Tujuan akhirnya adalah mempertahankan pertukaran gas yang adekuat, mencegah hipoksia, dan meningkatkan kenyamanan pernapasan pasien. Evaluasi keberhasilan ditandai dengan suara napas yang bersih, tidak adanya sianosis, dan saturasi oksigen dalam batas normal.
Kode SIKI: 3201
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Deskripsi: Serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk mengatasi dan mencegah masalah pada jalan napas. Kegiatan ini dimulai dengan pengkajian komprehensif, termasuk auskultasi suara napas, pengukuran laju dan irama napas, observasi penggunaan otot bantu napas, serta pemantauan saturasi oksigen (SpO2) dan warna kulit. Berdasarkan pengkajian, perawat merencanakan dan melaksanakan intervensi seperti: 1) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru (misalnya, kepala tempat tidur ditinggikan 30-45 derajat). 2) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif. 3) Melakukan perkusi, vibrasi, dan drainase postural jika diindikasikan untuk mengeluarkan sekret. 4) Melakukan penghisapan jalan napas dengan mempertimbangkan indikasi (seperti suara ronchi, batuk tidak efektif), menggunakan alat yang tepat, kateter dengan ukuran benar, dan teknik steril. 5) Mempertahankan kelembaban jalan napas melalui humidifikasi atau pemberian cairan yang adekuat. 6) Memonitor dan merawat jalan napas buatan (pipa endotrakeal/trakeostomi) termasuk pengikatan yang aman, perawatan kantong tracheostomy, dan suction rutin. 7) Kolaborasi dalam pemberian obat bronkodilator atau mukolitik melalui nebulizer. 8) Edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gangguan jalan napas dan cara penanganan awal. Seluruh tindakan didokumentasikan dengan lengkap, termasuk respons pasien terhadap intervensi yang diberikan. Fokus utama adalah pada keselamatan, pencegahan infeksi, dan optimalisasi fungsi pernapasan.
-
Article No. 23647 | 14 Jan 2026
Klinis : bersihan jalan nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Pemeliharaan jalan napas paten. Deskripsi lengkap: Tindakan keperawatan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka dan bebas dari obstruksi. Tujuan akhir dari intervensi ini adalah memastikan pertukaran gas yang adekuat. Indikator pencapaiannya meliputi: suara napas bersih di seluruh lapang paru, tidak ada suara napas adventisius (seperti ronki, wheezing), laju dan irama napas dalam rentang normal sesuai usia, pasien mampu batuk efektif dan mengeluarkan sekresi, tidak ada sianosis, dan saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang target. Perawat akan melakukan tindakan seperti memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau tinggi), melakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam, membantu batuk efektif dan suction jika diperlukan, memantau status pernapasan dan oksigenasi secara berkala, serta memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Deskripsi lengkap: Serangkaian aktivitas yang dilakukan perawat untuk memastikan jalan napas tetap terbuka, bersih, dan mendukung pertukaran gas yang optimal. Aktivitas ini bersifat komprehensif dan mencakup aspek pengkajian, intervensi, dan edukasi. Secara rinci, aktivitasnya meliputi: 1) Mengkaji status pernapasan (laju, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu), suara napas, dan adanya sekret. 2) Memantau tanda-tanda hipoksia (gelisah, perubahan kesadaran, sianosis) dan saturasi oksigen. 3) Memposisikan pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan (kecuali kontraindikasi) untuk memudahkan ekspansi dada dan pengeluaran sekret. 4) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif. 5) Melakukan perkusi, vibrasi, dan drainase postural sesuai program dan kondisi pasien. 6) Melakukan penghisapan lendir (suction) dari jalan napas atas dan/atau bawah (melalui endotrakeal tube/trakeostomi) dengan teknik steril, aman, dan hanya bila indikasi untuk menghindari trauma mukosa. 7) Memberikan terapi oksigen sesuai program dan memantau keefektifannya. 8) Memastikan kelembaban udara yang dihirup (humidifikasi) untuk mengencerkan sekret. 9) Mendorong asupan cairan yang cukup jika tidak ada pembatasan. 10) Melakukan oral hygiene secara teratur untuk mengurangi risiko infeksi. 11) Mengkaji ulang keefektifan tindakan yang dilakukan dan menyesuaikan rencana berdasarkan respons pasien. 12) Mendokumentasikan semua temuan, tindakan, dan respons pasien secara akurat. 13) Mengedukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gangguan jalan napas dan cara penanganan sederhana di rumah. Aktivitas-aktivitas ini dilakukan secara integratif, berkelanjutan, dan disesuaikan dengan penyebab spesifik ketidakefektifan bersihan jalan napas pada pasien, apakah karena peningkatan produksi sputum (seperti pada pneumonia, bronkitis), gangguan mekanisme batuk (kelemahan otot, nyeri), atau adanya obstruksi (tumor, benda asing).
-
Article No. 23648 | 14 Jan 2026
Klinis : nyeri akut pasien kanker ovarium
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut pada Pasien Kanker Ovarium
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang timbul secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan. Pada pasien kanker ovarium, nyeri akut dapat disebabkan oleh efek massa tumor (tekanan, penyumbatan), komplikasi seperti asites, efek samping pengobatan (misalnya kemoterapi, pasca operasi), atau prosedur invasif. Nyeri ini bersifat multidimensi, mempengaruhi aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, serta dapat bermanifestasi sebagai perilaku seperti meringis, postur tubuh melindungi area nyeri, gelisah, atau menarik diri.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri adalah penyediaan intervensi untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Tujuan utama pada pasien kanker ovarium dengan nyeri akut adalah mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien, yang ditunjukkan dengan kriteria hasil seperti: (1) Pasien mampu mendemonstrasikan penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (misalnya distraksi, relaksasi napas dalam). (2) Pasien melaporkan penurunan skala intensitas nyeri (misalnya dari skala 7 ke 3 pada skala 0-10) setelah intervensi. (3) Pasien menunjukkan tanda-tanda fisiologis terkontrol (misalnya frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal, otot rileks, mampu beristirahat). (4) Pasien dan keluarga memahami dan kooperatif dalam regimen terapi nyeri yang ditetapkan. (5) Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai toleransi. Pencapaian SLKI ini mengindikasikan bahwa intervensi keperawatan efektif dalam memodulasi persepsi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : Manajemen Nyeri Akut adalah serangkaian tindakan keperawatan yang spesifik untuk menangani nyeri dengan durasi terbatas dan onset yang jelas. Intervensi ini meliputi: (1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif secara berkala menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala nyeri yang valid, dengan memperhatikan ekspresi non-verbal. (2) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep (misalnya opioid, NSAID) dengan prinsip tepat waktu, tepat dosis, dan tepat rute, serta evaluasi efektivitas dan efek sampingnya. (3) Ajarkan dan bantu pasien menggunakan teknik nonfarmakologis seperti posisi yang nyaman, kompres hangat/dingin, distraksi (misalnya mendengarkan musik), relaksasi, dan imajinasi terbimbing. (4) Lakukan modifikasi lingkungan untuk mendukung kenyamanan (penerangan, kebisingan, privasi). (5) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, pentingnya melaporkan nyeri, regimen pengobatan, dan teknik penatalaksanaan nyeri di rumah. (6) Lakukan dukungan emosional dan spiritual untuk mengurangi ansietas yang memperberat persepsi nyeri. (7) Dokumentasi respons nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Pada kanker ovarium, pendekatan ini harus sensitif terhadap dinamika penyakit dan pengobatan, dengan koordinasi erat dalam tim paliatif atau onkologi untuk penanganan nyeri yang holistik dan berkelanjutan.
-
Article No. 23604 | 13 Jan 2026
Klinis : manajemen nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Nyeri
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk meminimalkan atau meredakan nyeri.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi: lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/tingkat keparahan nyeri, dan faktor presipitasi. Kaji ulang secara berkala sesuai kondisi pasien. Observasi tanda-tanda nonverbal dari ketidaknyamanan atau nyeri (misalnya, perubahan tanda vital, gelisah, menangis, mengerang, ekspresi wajah, postur tubuh). Gunakan alat pengkajian nyeri yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan pasien (misalnya, Numeric Rating Scale/NRS, Wong-Baker Faces, FLACC). Kaji faktor-faktor yang memperberat dan memperingan nyeri. Kaji dampak nyeri terhadap fungsi (misalnya, tidur, nafsu makan, aktivitas fisik, konsentrasi, interaksi sosial, suasana hati). Kaji pengetahuan, keyakinan, dan ekspektasi pasien serta keluarga tentang manajemen nyeri. Kaji riwayat pengobatan nyeri dan efektivitasnya. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian farmakologi (analgesik) sesuai indikasi dan protokol. Ajarkan dan bantu pasien menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (misalnya, distraksi, relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing, terapi musik, masase, kompres hangat/dingin, posisi yang nyaman). Fasilitasi lingkungan yang tenang dan nyaman. Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang rencana manajemen nyeri, termasuk tujuan, intervensi, dan efek samping pengobatan. Dukung partisipasi pasien dalam pengambilan keputusan tentang manajemen nyerinya. Evaluasi dan dokumentasikan respons pasien terhadap intervensi manajemen nyeri, termasuk efek samping, serta lakukan penyesuaian rencana sesuai kebutuhan.
-
Article No. 23605 | 13 Jan 2026
Klinis : pasien syok hipovolemi, tekanan darah 90/50, nadi 55 kali per menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Syok Hipovolemik
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan volume intravaskular.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Curah jantung memadai. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah sistolik dalam rentang normal untuk usia, 2) Tekanan darah diastolik dalam rentang normal untuk usia, 3) Denyut nadi dalam rentang normal untuk usia, 4) Kualitas denyut nadi perifer kuat dan sama, 5) Warna kulit dan membran mukosa normal, 6) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 7) Haluaran urine memadai (0,5-1 mL/kgBB/jam pada dewasa), 8) Status mental normal, 9) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 10) Tidak ada edema paru.
Kode SIKI: I.08024
Deskripsi : Manajemen Syok. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 15 menit atau sesuai kondisi pasien. 2) Monitor status hemodinamik (tekanan vena sentral/CVP, tekanan arteri rata-rata/MAP) jika terpasang. 3) Monitor status perfusi perifer (warna, suhu, kelembaban kulit, pengisian kapiler, denyut nadi perifer). 4) Monitor status neurologis (tingkat kesadaran, orientasi, respon motorik dan sensorik). 5) Monitor haluaran urine setiap jam. 6) Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan. 7) Pertahankan kepatenan jalan napas. 8) Atur posisi pasien sesuai kondisi (misalnya, posisi Trendelenburg modifikasi/tungkai ditinggikan 30-45 derajat, kepala datar, kecuali kontraindikasi). 9) Lakukan pemasangan dua jalur intravena dengan kanula ukuran besar. 10) Berikan resusitasi cairan sesuai protokol (kristaloid, koloid, atau darah dan produk darah). 11) Berikan obat-obatan sesuai instruksi (vasopresor, inotropik, kortikosteroid). 12) Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, hemoglobin, hematokrit, analisis gas darah, fungsi koagulasi). 13) Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit. 14) Berikan kehangatan pada pasien. 15) Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan lebih lanjut.
-
Article No. 23606 | 13 Jan 2026
Klinis : post op appendiktomi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Post Operasi Appendiktomi
Kode SDKI: 0207
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2008
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Perawatan Luka
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Infeksi (Kode 0207)
Definisi: Keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh patogen. Pada pasien post operasi appendiktomi, risiko ini sangat nyata karena adanya intervensi bedah yang menembus pertahanan kulit dan mukosa tubuh. Luka insisi bedah menjadi portal masuk utama bagi mikroorganisme. Faktor risiko spesifik meliputi prosedur bedah itu sendiri (kontaminasi intraoperatif), lamanya prosedur, teknik aseptik yang kurang optimal, serta kondisi pasien seperti status nutrisi, usia, dan adanya komorbid seperti diabetes yang dapat mempengaruhi penyembuhan. Tujuan utama diagnosa ini adalah untuk mencegah terjadinya infeksi luka operasi atau infeksi sistemik dengan mengidentifikasi faktor risiko dan menerapkan tindakan pencegahan secara komprehensif sejak periode pra-operatif hingga pasca-operatif.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pengendalian Infeksi (Kode 2008)
Definisi: Tindakan untuk mencegah atau mengurangi risiko infeksi. Luaran ini menjadi tujuan dari intervensi yang dilakukan untuk diagnosa risiko infeksi. Kriteria luaran yang diharapkan pada pasien post appendiktomi meliputi: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tidak ada demam/takikardia yang mengindikasikan infeksi), (2) Luka bersih, kering, tanpa tanda inflamasi (seperti kemerahan, bengkak, hangat, nyeri, atau pus), (3) Hasil laboratorium dalam batas normal (hitung leukosit normal), (4) Melaporkan pemahaman tentang tanda dan gejala infeksi, dan (5) Mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah infeksi seperti mencuci tangan dan merawat luka dengan benar. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa risiko infeksi telah berhasil dikelola dan pasien berada dalam kondisi penyembuhan yang aman.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Perawatan Luka (Kode 4410)
Definisi: Tindakan untuk membersihkan, merawat, dan melindungi luka. Intervensi ini adalah tindakan spesifik dan kritis untuk mencapai luaran pengendalian infeksi pada pasien bedah. Aktivitas keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Pengkajian luka secara sistematis setiap kali perawatan, meliputi lokasi, ukuran, kedalaman, karakteristik jaringan (granulasi, nekrotik, epitelisasi), karakteristik drainase (jumlah, warna, konsistensi, bau), serta keadaan kulit sekitarnya. (2) Melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik ketat, termasuk mencuci tangan sebelum dan sesudah, menggunakan alat steril (kassa, pinset), dan membuka balutan dengan hati-hati. (3) Membersihkan luka menggunakan larutan antiseptik yang sesuai (seperti NaCl 0,9%) dengan teknik dari area yang paling bersih ke yang kurang bersih. (4) Memberikan balutan steril yang sesuai dengan kondisi luka (misalnya, kassa steril untuk luka kering dan tertutup) dan memastikan balutan tetap kering dan bersih. (5) Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan luka, tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai (seperti demam, nyeri bertambah, kemerahan, atau nanah), dan cara melindungi luka selama aktivitas. (6) Kolaborasi dalam pemberian antibiotik profilaksis atau terapi sesuai instruksi dokter. Perawatan luka yang optimal secara langsung mencegah kolonisasi bakteri, mendukung proses penyembuhan alami, dan meminimalkan risiko komplikasi infeksi pasca operasi.
-
Article No. 23607 | 13 Jan 2026
Klinis : BPH
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Eliminasi Urin
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Eliminasi Urin: Pasien menunjukkan kemampuan untuk mengeluarkan urine secara efektif dan lengkap, ditandai dengan: 1) Pola berkemih yang teratur dan dapat diprediksi. 2) Volume urine yang keluar sesuai dengan asupan cairan. 3) Tidak ada keluhan urgensi, nokturia, atau disuria. 4) Aliran urine kuat dan kontinu tanpa menetes. 5) Kandung kemih teraba kosong setelah berkemih. 6) Tidak terdapat retensi urine atau residu post-voiding yang signifikan.
Kode SIKI: I.05239
Deskripsi : Manajemen Eliminasi Urin: Intervensi untuk memfasilitasi pengeluaran urine dan meminimalkan komplikasi retensi. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Memantau pola, frekuensi, volume, dan karakteristik urine (warna, kejernihan, bau). 2) Mengkaji keluhan disuria, urgensi, nokturia, dan sensasi pengosongan tidak tuntas. 3) Memeriksa distensi kandung kemih melalui palpasi dan perkusi. 4) Mengukur residu urine post-voiding (jika diperlukan). 5) Menganjurkan asupan cairan yang adekuat (2.5-3 liter/hari) dengan membatasi di malam hari. 6) Melatih pasien untuk teknik berkemih efektif: posisi duduk/berdiri yang rileks, memberikan privasi, dan tidak terburu-buru. 7) Menerapkan manuver Crede atau Valsalva yang aman sesuai kondisi pasien. 8) Melatih senam Kegel untuk memperkuat otot dasar panggul. 9) Mengajarkan teknik distraksi atau relaksasi untuk mengurangi urgensi. 10) Memantau dan mengelola efek samping obat (seperti alpha-blocker atau 5-ARI) seperti hipotensi ortostatik. 11) Melakukan kateterisasi urine intermittent atau indwelling sesuai indikasi dan protokol. 12) Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda retensi urine akut (nyeri hebat, tidak bisa berkemih sama sekali) yang memerlukan penanganan darurat. 13) Berkolaborasi dengan tim medis untuk terapi farmakologi atau persiapan tindakan pembedahan (seperti TURP). 14) Mendokumentasikan semua temuan dan intervensi secara akurat.
-
Article No. 23608 | 13 Jan 2026
Klinis : bph
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
Kode SDKI: 0015
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Eliminasi Urin
Kode SLKI: 0910
Deskripsi : Manajemen Eliminasi Urin
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Pemantauan Eliminasi Urin
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Gangguan Eliminasi Urin (Kode 0015)
Definisi SDKI: Kondisi di mana individu berisiko mengalami gangguan dalam proses pengeluaran urine. Pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), risiko ini sangat nyata karena pembesaran kelenjar prostat yang jinak menekan uretra (saluran kemih), menghambat aliran urine dari kandung kemih. Gangguan ini bukan hanya sekadar kesulitan buang air kecil, tetapi mencakup spektrum masalah seperti retensi urine (ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih sepenuhnya), urgensi (keinginan kuat tiba-tiba untuk berkemih), frekuensi (berkemih lebih sering dari biasanya), nokturia (bangun tidur untuk berkemih), dan pengosongan tidak tuntas. Dasar pemilihan diagnosa ini adalah patofisiologi BPH itu sendiri, di mana pertumbuhan jaringan prostat menyebabkan obstruksi mekanis. Faktor risiko utama meliputi usia lanjut, ukuran prostat, kadar hormon, dan komorbiditas seperti diabetes. Tujuan diagnosa ini adalah untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko sebelum komplikasi serius seperti infeksi saluran kemih, kerusakan ginjal, atau retensi urine akut terjadi, sehingga intervensi preventif dan manajemen gejala dapat segera dilakukan.
Luaran Keperawatan (SLKI): Manajemen Eliminasi Urin (Kode 0910)
Definisi SLKI: Tindakan untuk mengoptimalkan pengeluaran urine. Luaran ini adalah tujuan yang ingin dicapai dari intervensi keperawatan pada pasien BPH. Indikator keberhasilannya meliputi: (1) Pola berkemih yang normal atau membaik, ditandai dengan berkurangnya frekuensi, urgensi, dan nokturia. (2) Aliran urine yang kuat dan lancar tanpa mengejan berlebihan. (3) Pengosongan kandung kemih yang tuntas, yang dapat dinilai dari residu urine pasca berkemih yang minimal (diukur melalui ultrasonografi). (4) Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan dan penurunan distress akibat gejala saluran kemih bawah (LUTS). (5) Tidak terjadi komplikasi seperti infeksi saluran kemih atau retensi urine akut. Pencapaian luaran ini bersifat bertahap, bergantung pada keparahan BPH dan modalitas terapi yang dijalani pasien (obat, operasi, atau konservatif). Perawat berperan dalam memantau kemajuan pasien menuju luaran ini melalui edukasi, dukungan, dan evaluasi berkala terhadap gejala yang dialami.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Pemantauan Eliminasi Urin (Kode 3410)
Definisi SIKI: Pengumpulan dan analisis informasi tentang pola dan karakteristik berkemih pasien. Intervensi ini adalah tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mencapai luaran SLKI 0910 (Manajemen Eliminasi Urin). Aktivitasnya sangat komprehensif dan meliputi: (1) Pengkajian Mendalam: Meliputi riwayat gejala (menggunakan kuesioner IPSS/International Prostate Symptom Score), pola asupan cairan, kebiasaan berkemih, dan obat-obatan yang dikonsumsi. (2) Pemantauan Pola Berkembang: Mencatat frekuensi, volume (bila memungkinkan), urgensi, nokturia, serta karakteristik aliran urine (lemah, terputus, menetes). (3) Pemeriksaan Fisik dan Penunjang: Melakukan palpasi kandung kemih untuk mendeteksi distensi (penuh), memantau hasil pemeriksaan residu urine pasca berkemih (post-void residual urine), dan memahami hasil pemeriksaan uroflowmetry (kecepatan aliran urine). (4) Pemantauan Tanda Komplikasi: Mengobservasi tanda-tanda infeksi (demam, nyeri, urine keruh) dan retensi urine akut (nyeri hebat di perut bawah, ketidakmampuan mutlak untuk berkemih). (5) Edukasi dan Pemberdayaan Pasien: Mengajarkan teknik berkemih efektif (misalnya, double voiding/mengejan lembut kedua kali), manajemen cairan (membatasi di malam hari), menghindari zat yang mengiritasi (kafein, alkohol), dan pentingnya kepatuhan minum obat jika diresepkan. (6) Kolaborasi: Melaporkan temuan abnormal kepada dokter, berkolaborasi dalam pemberian terapi obat, dan mempersiapkan pasien untuk tindakan invasif seperti kateterisasi atau operasi jika diperlukan. Intervensi ini bersifat dinamis dan berkelanjutan, disesuaikan dengan respons dan perkembangan kondisi pasien.
Keterkaitan (Linkage): Pada pasien BPH, ketiganya membentuk satu siklus asuhan keperawatan yang koheren. SDKI 0015 (Risiko Gangguan Eliminasi Urin) menegaskan masalah atau risiko yang dihadapi pasien. Dari diagnosa tersebut, ditetapkan SLKI 0910 (Manajemen Eliminasi Urin) sebagai tujuan atau luaran yang diharapkan, yaitu terkendalinya gejala dan fungsi berkemih yang optimal. Untuk mencapai luaran tersebut, perawat melaksanakan serangkaian tindakan terencana yang tercakup dalam SIKI 3410 (Pemantauan Eliminasi Urin). Dengan demikian, SIKI adalah jembatan yang menghubungkan diagnosa (SDKI) dengan luaran yang diharapkan (SLKI). Penerapan SIKI yang teliti dan holistik akan memungkinkan evaluasi objektif terhadap pencapaian SLKI dan pada akhirnya mengatasi atau meminimalisasi risiko yang diidentifikasi dalam SDKI.
-
Article No. 23609 | 13 Jan 2026
Klinis : SOAL KASUS SGD 2 SYSTEM KARDIOVASKULER Ny. S, usia 67 tahun, datang ke IGD dengan keluhan sesak napas meningkat sejak 3 hari terakhir, terutama saat beraktivitas. Sesak memburuk saat pasien berbaring (orthopnea), sehingga pasien tidur dengan 3 bantal. Keluhan disertai batuk berdahak putih berbuih, cepat lelah, dan bengkak ringan di pergelangan kaki. Riwayat Penyakit & Faktor Risiko Hipertensi tidak terkontrol selama 10 tahun Riwayat infark miokard 2 tahun lalu Diabetes melitus tipe 2 Konsumsi garam tinggi Kepatuhan minum obat kurang baik Pengkajian Fisik Keadaan umum: tampak sesak, menggunakan otot bantu napas Kesadaran: compos mentis TD: 168/98 mmHg Nadi: 112 x/menit, reguler RR: 30 x/menit Suhu: 36,9°C SpO₂: 89% RA Kulit: dingin, lembab JVP: normal Paru: ronki basah halus di kedua basal paru (crackles) Jantung: S3 gallop terdengar Ekstremitas: edema pitting (+/+) Data Penunjang 1. Laboratorium NT-proBNP: 2.100 pg/mL (↑) Hgb: 11,2 g/dL Natrium: 132 mmol/L Kalium: 3,4 mmol/L GDS: 210 mg/dL Kreatinin: 1,3 mg/dL 2. EKG Takikardi sinus Gelombang Q lama pada V1–V3 (riwayat MI) 3. Foto Thorax Kardiomegali Congestion paru Kerley B lines 4. Ekokardiografi EF 35% (reduced ejection fraction) Hipokinesia anterior Dilatasi ventrikel kiri Terapi yang Diberikan di IGD Oksigen nasal 3 L/menit Diuretik IV (Furosemid 20 mg/IV) ACE inhibitor (Captopril 12,5 mg) Beta-blocker (Bisoprolol 1,25 mg) — diberikan setelah kondisi stabil Nitrat jika ada nyeri dada Pembatasan cairan 1–1,5 L/hari Monitoring urine output Posisi semi-Fowler ANALISIS DATA DAN DIAGNOSIS 1. Do Ds Ds: Klien mengeluh sesak napas terutama saat beraktivitas, orthopnea Do: RR 30 x/menit, SpO₂ 89% RA, ronki basah basal, NT-proBNP 2.100↑, congestion paru 2. etiologi (belom) 3. masalah keperawatan: Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) 1. Do Ds Ds: Klien sesak bertambah saat aktivitas Do: SpO₂ 89%, cepat lelah 2. etiologi 3. masalah keperawatan: Intoleransi Aktivitas D.0056 Diagnosa Keperawatan 1. D.0003 Gangguan pertukaran gas bd edema paru akibat gagal jantung dd RR 30 x/menit, SpO₂ 89% RA, ronki basah bilateral basal, NT-proBNP 2.100 pg/mL 2. D.0056 Intoleransi aktivitas bd hipoksemia dd SpO₂ 89%, cepat lelah, RR 30 x/menit setelah aktivitas, EF 35% Apa diagnosa keperawatan 1 lagi pada kasus di atas dengan buku sdki dan no berapa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: SLKI.2.1.1.1.1
Deskripsi : Curah jantung membaik. Deskripsi ini mencakup pencapaian curah jantung yang adekuat untuk mendukung perfusi jaringan dan memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Perawat memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas) dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien, mengevaluasi status mental (compos mentis, tidak gelisah), memantau keluaran urine yang adekuat (>0,5 mL/kgBB/jam) sebagai indikator perfusi ginjal, serta mengobservasi warna dan kehangatan kulit (tidak pucat, hangat, kering). Peningkatan saturasi oksigen (SpO₂) dan berkurangnya gejala distress pernapasan juga menjadi indikator penting. Pada kasus Ny. S, targetnya adalah menurunkan tekanan darah menuju normal, menurunkan frekuensi jantung dan pernapasan, menghilangkan ronki basah di paru, mengurangi edema, dan meningkatkan saturasi oksigen di atas 92%. Intervensi seperti pemberian obat inotropik, diuretik, vasodilator, serta pembatasan cairan dan natrium bertujuan mencapai tujuan ini.
Kode SIKI: SIKI.2.1.1.1.1
Deskripsi : Manajemen Curah Jantung. Deskripsi ini merujuk pada serangkaian intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengoptimalkan curah jantung. Pada kasus Ny. S, intervensi dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda vital, status pernapasan, dan oksigenasi (memantau SpO₂, memberikan terapi oksigen sesuai order). Posisi semi-Fowler atau tinggi kepala tempat tidur dipertahankan untuk mengurangi preload dan memfasilitasi pernapasan. Pemberian terapi farmakologi seperti diuretik (Furosemid) diawasi dengan ketat untuk memantau respons (pengurangan sesak, berkurangnya ronki) dan efek samping (misalnya, hipokalemia yang sudah ada pada pasien). Pemberian ACE inhibitor (Captopril) dan Beta-blocker (Bisoprolol) diawasi untuk memantau efek hipotensi dan penurunan denyut jantung. Pembatasan asupan cairan (1-1,5 L/hari) dan edukasi pembatasan garam sangat penting untuk mengurangi retensi cairan. Pemantauan keseimbangan cairan (balance cairan) dengan mencatat asupan dan haluaran urine secara akurat dilakukan. Perawat juga memantau elektrolit (terutama natrium dan kalium) mengingat hasil laboratorium yang abnormal. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kepatuhan pengobatan, diet, dan pemantauan gejala juga merupakan bagian integral dari intervensi ini untuk mencegah eksaserbasi ulang.
-
Article No. 23610 | 13 Jan 2026
Klinis : SOAL KASUS SGD 2 SYSTEM KARDIOVASKULER Ny. S, usia 67 tahun, datang ke IGD dengan keluhan sesak napas meningkat sejak 3 hari terakhir, terutama saat beraktivitas. Sesak memburuk saat pasien berbaring (orthopnea), sehingga pasien tidur dengan 3 bantal. Keluhan disertai batuk berdahak putih berbuih, cepat lelah, dan bengkak ringan di pergelangan kaki. Riwayat Penyakit & Faktor Risiko Hipertensi tidak terkontrol selama 10 tahun Riwayat infark miokard 2 tahun lalu Diabetes melitus tipe 2 Konsumsi garam tinggi Kepatuhan minum obat kurang baik Pengkajian Fisik Keadaan umum: tampak sesak, menggunakan otot bantu napas Kesadaran: compos mentis TD: 168/98 mmHg Nadi: 112 x/menit, reguler RR: 30 x/menit Suhu: 36,9°C SpO₂: 89% RA Kulit: dingin, lembab JVP: normal Paru: ronki basah halus di kedua basal paru (crackles) Jantung: S3 gallop terdengar Ekstremitas: edema pitting (+/+) Data Penunjang 1. Laboratorium NT-proBNP: 2.100 pg/mL (↑) Hgb: 11,2 g/dL Natrium: 132 mmol/L Kalium: 3,4 mmol/L GDS: 210 mg/dL Kreatinin: 1,3 mg/dL 2. EKG Takikardi sinus Gelombang Q lama pada V1–V3 (riwayat MI) 3. Foto Thorax Kardiomegali Congestion paru Kerley B lines 4. Ekokardiografi EF 35% (reduced ejection fraction) Hipokinesia anterior Dilatasi ventrikel kiri Terapi yang Diberikan di IGD Oksigen nasal 3 L/menit Diuretik IV (Furosemid 20 mg/IV) ACE inhibitor (Captopril 12,5 mg) Beta-blocker (Bisoprolol 1,25 mg) — diberikan setelah kondisi stabil Nitrat jika ada nyeri dada Pembatasan cairan 1–1,5 L/hari Monitoring urine output Posisi semi-Fowler Diagnosa Keperawatan 1. D.0003 Gangguan pertukaran gas bd edema paru akibat gagal jantung dd RR 30 x/menit, SpO₂ 89% RA, ronki basah bilateral basal, NT-proBNP 2.100 pg/mL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan pertukaran oksigen dan/atau karbon dioksida antara alveoli dan sistem vaskular paru, yang dapat mengakibatkan hipoksemia dan/atau hiperkapnia.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Peningkatan pertukaran gas. Kriteria hasil: 1) Pola napas dalam rentang normal, 2) Tidak ada sianosis, 3) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 4) Bunyi napas bersih, 5) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal, 6) Saturasi oksigen dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.05279
Deskripsi : Manajemen pertukaran gas. Tindakan: 1) Kaji frekuensi, irama, kedalaman pernapasan dan penggunaan otot bantu napas, 2) Auskultasi bunyi napas, 3) Pantau tanda-tanda hipoksia (gelisah, cemas, pusing, perubahan kesadaran, sianosis), 4) Pantau saturasi oksigen (SpO₂) secara berkala, 5) Kolaborasi pemberian oksigen sesuai program, 6) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru, 7) Anjurkan napas dalam efektif dan batuk efektif jika memungkinkan, 8) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan, 9) Kolaborasi pemberian obat sesuai program (seperti diuretik, bronkodilator), 10) Monitor hasil analisis gas darah, 11) Berikan pendidikan kesehatan tentang tanda dan gejala gangguan pernapasan yang perlu dilaporkan.
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Pemeliharaan curah jantung. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Denyut nadi dalam rentang normal yang diharapkan, 3) Irama jantung reguler, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Tidak ada edema, 6) Haluaran urine adekuat (0,5-1 mL/kgBB/jam), 7) Kulit hangat dan kering.
Kode SIKI: I.05001
Deskripsi : Manajemen penurunan curah jantung. Tindakan: 1) Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) secara teratur, 2) Auskultasi bunyi jantung (mendeteksi S3 gallop) dan bunyi napas (ronki), 3) Kaji status hemodinamik (pengisian kapiler, warna dan suhu kulit, nadi perifer), 4) Pantau keseimbangan cairan (intake-output, berat badan harian, adanya edema), 5) Kolaborasi pemberian terapi obat sesuai program (seperti diuretik, ACE inhibitor, beta-blocker), 6) Implementasikan pembatasan cairan sesuai program, 7) Anjurkan tirah baring atau aktivitas terbatas untuk mengurangi beban kerja jantung, 8) Bantu pasien dalam aktivitas untuk menghemat energi, 9) Atur posisi semi-Fowler untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi preload, 10) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit, NT-proBNP, kreatinin), 11) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya kepatuhan pengobatan, diet rendah garam, dan pembatasan cairan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0028
<>Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09005
Deskripsi : Peningkatan toleransi aktivitas. Kriteria hasil: 1) Melaporkan peningkatan energi, 2) Melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan, 3) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas, 4) Tidak mengalami sesak napas, kelelahan berlebihan, atau nyeri dada selama dan setelah aktivitas.
Kode SIKI: I.08005
Deskripsi : Manajemen intoleransi aktivitas. Tindakan: 1) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (perubahan tanda vital, sesak napas, kelelahan, nyeri dada), 2) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang dapat memicu kelelahan, 3) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas, 4) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, 5) Anjurkan teknik penghematan energi (duduk saat melakukan aktivitas, menghindari gerakan terburu-buru), 6) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi dan kondisi klinis, 7) Kolaborasi dengan tim rehabilitasi jantung jika diperlukan, 8) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya menyeimbangan aktivitas dan istirahat, serta mengenali tanda kelelahan yang perlu diwaspadai.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami peningkatan retensi cairan dan natrium.
Kode SLKI: L.06003
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil: 1) Tidak ada edema, 2) Berat badan stabil sesuai target, 3) Keseimbangan intake dan output cairan, 4) Tekanan darah dalam rentang normal, 5) Denyut nadi dalam rentang normal, 6) Bunyi napas bersih.
Kode SIKI: I.05106
Deskripsi : Manajemen kelebihan volume cairan. Tindakan: 1) Monitor tanda vital dan status pernapasan, 2) Kaji adanya edema (lokasi, derajat pitting), 3) Timbang berat badan harian dengan timbangan dan waktu yang sama, 4) Pantau keseimbangan cairan intake dan output secara ketat, 5) Auskultasi bunyi napas (ronki), 6) Implementasikan pembatasan cairan sesuai program (1-1,5 L/hari), 7) Anjurkan diet rendah garam, 8) Kolaborasi pemberian terapi diuretik dan monitor efeknya (peningkatan output urine, penurunan edema), 9) Monitor kadar elektrolit serum (terutama natrium dan kalium) akibat terapi diuretik, 10) Atur posisi semi-Fowler untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi edema paru, 11) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya pembatasan cairan dan garam, serta cara memantau tanda kelebihan cairan (kenaikan berat badan mendadak, edema, sesak napas).