Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 10673 | 10 Jan 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 30 tahun mengalami penurunan kesadaran, Hasil pemeriksaan GCS 9 (E3, M4, V2). Dari hasil pengkajian diketahui ada riwayat benturan keras di kepala dan operasi kraniotomi, hasil TTV: TD; 170/100 mmHg, RR: 28 x/i, N: 60 x/i, S: 38,3 0C, Saturasi O2 90%. Pupil anisokor, terdengar bunyi nafas snoring. Prioritas masalah keperawatan yang tepat adalah...
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Penurunan Kesadaran berhubungan dengan cedera kepala dan operasi kraniotomi, ditandai dengan GCS 9 (E3, M4, V2).
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Penurunan Kesadaran adalah keadaan di mana klien mengalami penurunan tingkat kesadaran, ditandai dengan respon yang berkurang terhadap rangsangan internal maupun eksternal.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Diharapkan klien dapat mempertahankan status hemodinamik yang stabil, tidak terjadi komplikasi lebih lanjut, dan tingkat kesadaran kembali normal.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan antara lain pemantauan tanda-tanda vital, pengaturan posisi kepala, pemberian oksigen, dan kolaborasi dengan tenaga medis untuk penatalaksanaan cedera kepala.
Prioritas Masalah Keperawatan:
Berdasarkan data yang diberikan, prioritas masalah keperawatan yang tepat adalah "Penurunan Kesadaran berhubungan dengan cedera kepala dan operasi kraniotomi". Hal ini karena penurunan kesadaran merupakan masalah yang paling mendesak dan membutuhkan penanganan segera untuk mencegah komplikasi yang lebih buruk. -
Article No. 10674 | 10 Jan 2025
Klinis : Tn.A berusia 27 tahun datang ke ruangan bedah dewasa dengan diagnosis Post Op. Craniotomy, dari hasil pengkajian diketahui bahwa pasien memiliki riwayat kejang. Hasil pemeriksaan TTV; TD: 145/92 mmHg, N: 59 x/i, RR: 30 x/i, S: 38 0C. Hasil pemeriksaan GCS: E3M4V3 Apakah tindakan perawat untuk mencegah injury/cedera pada klien tersebut?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan tindakan yang sesuai untuk kasus Tn. A dengan kondisi post op craniotomy dan riwayat kejang.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Cedera Akibat Kejang (NANDA-I)
Definisi: Risiko terjadinya kerusakan fisik sebagai akibat aktivitas kejang yang tidak terkontrol.
Faktor Risiko: Riwayat kejang, status neurologis yang terganggu.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Cedera Akibat Kejang memiliki kode diagnosa 00035. Terdapat berbagai faktor risiko yang harus diidentifikasi, seperti riwayat kejang, penyakit neurologis, serta tanda-tanda kejang.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan adalah Tidak Terjadi Cedera Akibat Kejang, dengan indikator seperti tidak ada cedera fisik akibat kejang, tidak ada tanda-tanda kejang, serta tidak ada komplikasi akibat kejang.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah Cedera Akibat Kejang antara lain:
1. Monitor tanda-tanda vital secara berkala
2. Identifikasi tanda-tanda awal kejang
3. Atur lingkungan yang aman untuk mencegah cedera saat kejang
4. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian terapi antikonvulsan
Tindakan Perawat untuk Mencegah Injury/Cedera:
1. Memonitor tanda-tanda vital secara berkala, terutama tekanan darah, laju napas, dan suhu tubuh.
2. Mengidentifikasi tanda-tanda awal kejang, seperti perubahan perilaku, gerakan otot yang tidak terkontrol, dll.
3. Mengatur lingkungan pasien agar aman, seperti menyingkirkan benda-benda tajam atau keras di sekitar tempat tidur.
4. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi antikonvulsan yang sesuai.
5. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pencegahan cedera akibat kejang.
Dengan tindakan-tindakan tersebut, diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera pada pasien Tn. A yang memiliki riwayat kejang dan baru menjalani prosedur craniotomy. -
Article No. 10675 | 10 Jan 2025
Klinis : risiko cidera
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memaparkan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi risiko cedera.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Cidera
Definisi:
Risiko Cidera adalah kerentanan individu untuk mengalami cedera fisik akibat interaksi dengan lingkungan atau karena ketidakadekuatan mekanisme perlindungan.
Faktor Risiko:
1. Penurunan fungsi kognitif
2. Keterbatasan fisik
3. Riwayat jatuh sebelumnya
4. Lingkungan yang tidak aman
5. Penggunaan obat-obatan
Tujuan Keperawatan:
1. Klien tidak mengalami cedera selama perawatan
2. Klien mampu mengidentifikasi faktor risiko dan strategi pencegahan cedera
3. Klien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas secara mandiri dan aman
Intervensi Keperawatan:
1. Kaji faktor risiko cedera pada klien
2. Identifikasi tingkat risiko cedera klien
3. Lakukan tindakan pencegahan cedera sesuai dengan tingkat risiko
4. Edukasi klien dan keluarga tentang pencegahan cedera
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk intervensi yang komprehensif
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan standar yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien dan membuat diagnosa keperawatan yang spesifik, akurat, dan komprehensif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah standar yang digunakan untuk menetapkan hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah standar yang digunakan untuk menentukan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan sesuai dengan diagnosa keperawatan.
Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan dapat membantu perawat memberikan asuhan keperawatan yang terstandar, sistematis, dan berkualitas. -
Article No. 10676 | 10 Jan 2025
Klinis : diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada penderita juvenille dermatomyositis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi juvenille dermatomyositis.
Diagnosa Keperawatan SDKI untuk Juvenille Dermatomyositis:
1. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas harian yang diinginkan, disebabkan oleh keterbatasan fisik.
- Faktor yang Berhubungan: Kelemahan otot, keterbatasan gerak sendi, kelelahan yang mudah timbul.
2. Nyeri Akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut.
- Faktor yang Berhubungan: Inflamasi otot, kerusakan kulit.
3. Risiko Infeksi
- Definisi: Rentan terhadap invasi dan perbanyakan organisme patogen yang dapat menimbulkan kerusakan sel, jaringan, organ, dan sistem.
- Faktor yang Berhubungan: Sistem imun yang terganggu, terapi imunosupresan.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Peningkatan Toleransi Aktivitas
- Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal.
- Klien dapat mempertahankan tingkat energi yang adekuat.
- Klien dapat meminimalkan kelelahan saat beraktivitas.
2. Penurunan Nyeri
- Klien melaporkan pengurangan nyeri.
- Klien dapat beraktivitas dengan nyeri minimal.
- Klien menunjukkan ekspresi wajah yang rileks.
3. Tidak Terjadi Infeksi
- Klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
- Hasil pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.
- Klien dapat mempertahankan sistem pertahanan tubuh yang optimal.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Peningkatan Toleransi Aktivitas:
- Identifikasi kemampuan dan keterbatasan klien dalam beraktivitas.
- Kembangkan rencana aktivitas yang aman dan bertahap sesuai toleransi klien.
- Ajarkan teknik konservasi energi dan manajemen kelelahan.
- Berikan dukungan emosional dan edukasi terkait pentingnya aktivitas.
2. Pengelolaan Nyeri:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik yang sesuai.
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi dan distraksi.
- Berikan dukungan emosional dan edukasi terkait manajemen nyeri.
3. Pencegahan Infeksi:
- Identifikasi faktor-faktor risiko infeksi pada klien.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi imunosupresan yang sesuai.
- Implementasikan tindakan pencegahan infeksi, seperti cuci tangan dan penggunaan alat pelindung diri.
- Pantau tanda-tanda infeksi dan lakukan tindakan yang sesuai jika ditemukan.
- Berikan edukasi kepada klien dan keluarga terkait pencegahan infeksi.
Harapan saya, informasi yang saya berikan dapat membantu Anda dalam memahami dan memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif bagi klien dengan kondisi juvenille dermatomyositis. Jangan ragu untuk menanyakan hal-hal lebih lanjut jika diperlukan. -
Article No. 10677 | 10 Jan 2025
Klinis : eorang laki-laki usia 30 tahun dirawat di ruang perawatan dengan diagnosis HIV-AIDS. Klien mengalami diare kronis. Hasil pengkajian ditemukan luka lecet pada daerah anal dan pinggang, kulit dan membran mukosa kering. Hasil TTV: TD; 100/60 mmHg, N; 105 x/i, RR: 28 x/i, S: 38,70C. Turgor kulit jelek dan klien tampak kotor dan bau.Apakah masalah keperawatan utama pada pasien tersebut?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, masalah keperawatan utama pada pasien tersebut adalah:
Diagnosa Keperawatan Utama:
Ketidakseimbangan Cairan (NAND-00025)
Definisi:
Kehilangan cairan tubuh yang melebihi jumlah yang masuk, yang dapat mengakibatkan dehidrasi.
Penjelasan Singkat:
- Pasien mengalami diare kronis yang dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan.
- Tanda-tanda dehidrasi yang tampak adalah kulit dan membran mukosa yang kering, turgor kulit yang jelek, dan tanda-tanda vital seperti nadi yang cepat (105 x/i) dan tekanan darah rendah (100/60 mmHg).
- Kehilangan cairan juga dapat menyebabkan pasien tampak kotor dan bau, karena kebersihan diri yang buruk akibat ketidakmampuan untuk melakukan perawatan diri.
Standar SDKI, SLKI, dan SIKI:
- SDKI: Ketidakseimbangan Cairan (NAND-00025)
- SLKI: Pemantauan Cairan (K-0102)
- SIKI: Manajemen Cairan (I-0105)
Jadi, masalah keperawatan utama pada pasien ini adalah Ketidakseimbangan Cairan yang disebabkan oleh diare kronis akibat infeksi HIV-AIDS. Penatalaksanaan keperawatan yang diprioritaskan adalah pemantauan dan manajemen cairan untuk mengatasi dehidrasi. -
Article No. 10678 | 10 Jan 2025
Klinis : 8. Tn. Z berusia 75 Tahun dirawat dengan diagnosis stroke haemoragic. Klien mengalami penurunan kesadaran (GCS 10). Hasil TTV: TD; 200/140 mmHg, N: 98 x/i, RR; 18 x/i, S: 38,50C. Klien mengalami paralisis, kesulitan mengunyah dan menelan serta bicara pelo. Apakah intervensi keperawatan prioritas yang harus dilakukan?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk Tn. Z:
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
SDKI: Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekret/benda asing dari saluran napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
SLKI: Manajemen Jalan Napas
SIKI: Manajemen Jalan Napas
2. Gangguan Mobilitas Fisik
SDKI: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disebabkan oleh penurunan kekuatan, ketahanan, atau fleksibilitas otot.
SLKI: Terapigerak
SIKI: Terapi Gerak
3. Risiko Aspirasi
SDKI: Kerentanan untuk masuknya cairan, makanan, kuman, atau benda asing ke dalam saluran napas.
SLKI: Manajemen Nutrisi
SIKI: Manajemen Nutrisi
Intervensi Keperawatan Prioritas:
1. Manajemen Jalan Napas:
- Pemantauan status pernapasan
- Penghisapan jalan napas
- Pemberian oksigen
2. Terapi Gerak:
- Mobilisasi dini
- Latihan rentang gerak
- Pencegahan kontraktur
3. Manajemen Nutrisi:
- Pemberian nutrisi enteral (melalui selang nasogastrik)
- Pencegahan aspirasi
- Pemantauan intake dan output cairan
Penjelasan:
Kondisi Tn. Z dengan diagnosa stroke hemoragik, penurunan kesadaran, serta gangguan neurologis seperti paralisis, kesulitan mengunyah dan menelan, serta bicara pelo memerlukan prioritas intervensi keperawatan pada manajemen jalan napas, terapi gerak, dan manajemen nutrisi. Hal ini untuk mencegah komplikasi, mempertahankan fungsi tubuh, dan mendukung pemulihan kondisi pasien. -
Article No. 10679 | 10 Jan 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis awal untuk pasien pria berusia 45 tahun dengan keluhan batuk berdahak, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta pemeriksaan yang menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru, adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi secara bakteriologis atau histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.44
- Deskripsi: Pencitraan diagnostik paru, termasuk tomografi komputer (CT) dada
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 A15.0 untuk Tuberkulosis paru dengan konfirmasi secara bakteriologis atau histologis digunakan karena pasien memiliki gejala-gejala yang khas untuk tuberkulosis paru, seperti batuk berdahak, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta pemeriksaan fisik dan radiologis yang mendukung diagnosis tuberkulosis.
2. Kode ICD-9-CM 87.44 untuk Pencitraan diagnostik paru, termasuk tomografi komputer (CT) dada, digunakan karena pemeriksaan radiologis, seperti foto rontgen, dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis paru. Prosedur pencitraan lanjutan, seperti CT dada, mungkin akan dilakukan untuk mengevaluasi lesi di paru dan membantu dalam perencanaan tatalaksana.
Catatan: Kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang diberikan di sini adalah berdasarkan informasi yang tersedia dalam pertanyaan. Pemastian diagnosis dan penegakan kode yang tepat akan memerlukan evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang yang lebih lengkap oleh tenaga kesehatan yang berwenang. -
Article No. 10680 | 10 Jan 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan produksi sekret yang berlebihan, ditandai dengan batuk berdahak, sesak napas, dan suara napas bronkial di paru kanan atas.
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan jalan napas yang paten, mengurangi produksi sekret, dan meningkatkan kemampuan batuk efektif.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen jalan napas, terapi oksigen, postural drainage, dan pemberian obat-obatan seperti bronkodilator dan mukolitik.
2. Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan anoreksia, ditandai dengan kehilangan nafsu makan.
Penjelasan:
- SDKI: Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh didefinisikan sebagai asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan berat badan yang optimal, tidak mengalami penurunan berat badan, dan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian nutrisi, pemberian makanan dengan kalori dan protein yang cukup, serta konseling gizi.
Fokus utama dalam penanganan pasien ini adalah mengatasi ketidakefektifan bersihan jalan napas dan gangguan nutrisi untuk mendukung proses pemulihan dari tuberkulosis paru. -
Article No. 10681 | 10 Jan 2025
Klinis : Seorang pasien wanita usia 60 tahun dengan diagnosa medis gagal jantung kiri sedang dirawat di ruang penyakit dalam. Saat dikaji pasien masih mengeluh kaki terasa kebas dan pegal akibat oedem di kedua kaki, pitting oedem positif 3, akral hangat. Apa tindakan yang tepat untuk mengurangi keluhan pasien?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Edema perifer berhubungan dengan gagal jantung kiri.
Penjelasan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Edema perifer didefinisikan sebagai akumulasi cairan pada ruang interstisial yang menyebabkan pembengkakan di ekstremitas. Pada kasus ini, edema perifer disebabkan oleh gagal jantung kiri yang menyebabkan cairan menumpuk di ekstremitas bawah.
Penjelasan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan edema perifer adalah pengurangan edema, peningkatan mobilitas, dan perbaikan perfusi jaringan. Indikator keberhasilannya dapat berupa penurunan pitting edema, peningkatan suhu akral, dan peningkatan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Penjelasan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan pasien dengan edema perifer akibat gagal jantung kiri antara lain:
1. Manajemen cairan: mengatur asupan dan keluaran cairan, memantau berat badan harian, serta mengatur posisi elevasi ekstremitas.
2. Terapi kompresi: penggunaan stoking kompresi atau perendaman ekstremitas dalam air hangat untuk meningkatkan drainase vena.
3. Edukasi: memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai manajemen cairan, diet rendah garam, dan aktivitas fisik yang dapat membantu mengurangi edema.
Dengan penerapan tindakan keperawatan yang tepat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan dapat mengurangi keluhan pasien dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan gagal jantung kiri. -
Article No. 10682 | 10 Jan 2025
Klinis : n. M (35_ tahun mengeluh kehilangan nafsu makan dan berat badannya turun sebanyak 15 kg dalam waktu 2 bulan tanpa penyebab yang jelas. Pasien menyatakan sulit BAB dan terdapat darah saat BAB. hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 8,5 MgdL, pasien mengalami Iron Deficiency Anemia. Apakah prioritas diagnosis keperawatan pada kasus tersebut ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan kondisi yang telah Anda deskripsikan, prioritas diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan adalah:
Diagnosis Keperawatan: Defisit Nutrisi
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat dibandingkan dengan kebutuhan tubuh.
Penyebab:
- Anoreksia
- Mual dan muntah
- Diare
- Malabsorbsi
Gejala dan Tanda:
- Penurunan berat badan
- Kehilangan nafsu makan
- Kelelahan
- Anemia
Rencana Keperawatan (SDKI-SLKI-SIKI):
- Kaji status nutrisi pasien
- Lakukan monitoring intake dan output cairan
- Berikan informasi tentang pentingnya nutrisi yang adekuat
- Kolaborasi dengan tim gizi untuk meningkatkan asupan nutrisi
- Pantau kadar hemoglobin dan parameter laboratorium terkait
Evaluasi:
- Pasien dapat mempertahankan berat badan
- Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan
- Kadar hemoglobin dalam batas normal
Diagnosis keperawatan lain yang juga perlu diperhatikan adalah Konstipasi terkait diet dan aktivitas yang terbatas. Hal ini juga perlu ditangani untuk mengatasi gejala yang dialami pasien.
Penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dalam proses keperawatan akan membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandarisasi sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia.