Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25377 | 29 Apr 2026
Klinis : p/b Pasien kiriman dari dr. Lulus dengan keluhan perut terasa mulas dan membesar,BAB terakhir tadi malam RPD : HT, DM,Anemia pengobatan jalan 2 tahun lebih 2024 tadi malam post kontrol tadimalam KU Sedang, GCS E4V5M6 TD: 145/86 mmhg HR: 9x/m RR: 24x/m SB: 36.6 C SpO2: 98% Mata :CA -/-, SI -/-, Pupil isokor + Leher:KGB dbn Thorax : Simetris dada kanan dan kiri (+)BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV (+/+), RBH -/- RBK -/- Abdomen :supel , BU + Normal NT (-) epigastrik ,acites (+), hipertimpani (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral dingin -/-, CRT < 2 detik,edema -/- Ekstremitas Inferior : akral dingin -/-, CRT < 2 detik,Edema +/+
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan penyerapan, peningkatan kebutuhan metabolik, atau asupan yang tidak adekuat. Pada pasien ini, kondisi defisit nutrisi dapat dikaitkan dengan riwayat penyakit DM, HT, dan anemia yang memerlukan pengobatan jalan selama lebih dari 2 tahun. Asupan nutrisi yang tidak optimal akibat penyakit kronis, ditambah dengan keluhan perut mulas dan membesar serta adanya asites, dapat mengindikasikan gangguan penyerapan nutrisi di saluran cerna. Asites sendiri dapat menekan lambung dan usus, menyebabkan rasa penuh, mual, dan penurunan nafsu makan, sehingga asupan nutrisi harian tidak terpenuhi. Selain itu, peningkatan kebutuhan metabolik akibat kondisi akut seperti infeksi atau peradangan intraabdomen juga dapat memperburuk status nutrisi. Defisit nutrisi yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan otot, gangguan imunitas, dan memperlambat proses penyembuhan. Tanda-tanda klinis yang mungkin muncul antara lain penurunan berat badan yang tidak disengaja, kelelahan, kulit kering, rambut rontok, dan gangguan integritas kulit. Pada pasien dengan DM dan HT, defisit nutrisi juga dapat memengaruhi kontrol glikemik dan tekanan darah, sehingga memperburuk kondisi penyakit dasar. Anemia yang sudah ada sebelumnya juga dapat diperparah oleh defisiensi zat besi, vitamin B12, atau asam folat akibat malabsorpsi. Oleh karena itu, intervensi nutrisi yang tepat dan terukur sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status Nutrisi adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang ditandai dengan peningkatan berat badan secara bertahap, peningkatan asupan nutrisi per oral, dan perbaikan nilai laboratorium (albumin, prealbumin, transferin). Luaran ini diharapkan dapat tercapai dalam waktu 3x24 jam setelah intervensi keperawatan. Indikator yang dapat diukur meliputi: (1) Asupan nutrisi oral meningkat, (2) Berat badan stabil atau meningkat, (3) Nilai laboratorium (albumin, Hb) dalam batas normal, (4) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan, kulit kering, atau edema. Pada pasien ini, target luaran adalah peningkatan asupan nutrisi oral secara bertahap, stabilisasi berat badan, dan perbaikan nilai Hb serta albumin. Dengan adanya asites, perlu dipantau juga keseimbangan cairan dan elektrolit. Status nutrisi yang membaik akan mendukung proses penyembuhan, meningkatkan respons imun, dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Intervensi keperawatan difokuskan pada pemberian nutrisi yang adekuat, edukasi diet, dan kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyesuaian jenis dan jumlah makanan sesuai kondisi pasien. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda intoleransi makanan, seperti mual, muntah, atau diare, juga penting untuk dilakukan.
Kode SIKI: I.03119
Deskripsi : Manajemen Nutrisi adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien. Intervensi ini meliputi: (1) Identifikasi status nutrisi melalui pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, IMT, lingkar lengan atas), (2) Identifikasi faktor penyebab defisit nutrisi (penyakit kronis, gangguan penyerapan, efek samping obat), (3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jenis, jumlah, dan jadwal pemberian nutrisi yang sesuai, (4) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering (misalnya 6-8 kali sehari) untuk mengurangi rasa penuh dan mual, (5) Pilih makanan yang tinggi kalori dan protein, serta mudah dicerna (misalnya bubur, sup, jus buah, telur rebus), (6) Anjurkan pasien untuk makan dalam posisi duduk atau semi-Fowler untuk mengurangi risiko aspirasi dan meningkatkan kenyamanan, (7) Berikan suplemen nutrisi oral jika diperlukan (misalnya susu formula, suplemen protein), (8) Monitor asupan dan output cairan harian, terutama pada pasien dengan asites untuk mencegah kelebihan cairan, (9) Monitor nilai laboratorium (Hb, albumin, elektrolit) secara berkala, (10) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat, pemilihan makanan yang tepat, dan teknik makan yang benar. Pada pasien ini, perhatian khusus diberikan pada diet rendah garam dan rendah karbohidrat sederhana untuk mengontrol hipertensi dan diabetes melitus. Asites memerlukan pembatasan natrium dan pemantauan ketat terhadap keseimbangan cairan. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian diuretik atau parasentesis jika diperlukan juga menjadi bagian dari intervensi. Evaluasi dilakukan setiap hari terhadap peningkatan asupan nutrisi, perubahan berat badan, dan perbaikan nilai laboratorium. Dokumentasi yang akurat mengenai asupan dan respons pasien terhadap intervensi sangat penting untuk kelanjutan perawatan.
-
Article No. 25378 | 29 Apr 2026
Klinis : pasien dtg keluhan nyeri pada seluruh lapang perut terutama kanan atas sejak kemarin. flatus ( - ) BAB ( - ) sejak kemarin. BAK ( + ) N Objective KU: Lemah Kesadaran: CM, E4V5M6 Vital sign TD: 80/60 mmHg HR: 100x/menit RR: 22x/menit Suhu: 36,8°C SpO2: 98% dengan room air Status Generalis Kepala: t.a.k Mata: t.a.k Hidung: t.a.k Mulut: t.a.k Leher : t.a.k Toraks: t.a.k Abdomen : sesuai status lokalis Genital : t.a.k Ekstremitas: t.a.k Status Lokalis R. Abdomen I: distended (+), darm contour (-) A : BU (+) hipoperilstatik, metallic sound (-) P: Hipertimpani (+) P: NT (+) berkurang, McBurney Sign (-), Rovsing sign (-), Psoas sign (-), Obturator sign (-), defense muscular (+)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain), dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kasus ini, pasien mengeluh nyeri pada seluruh lapang perut terutama kanan atas sejak kemarin, yang mengindikasikan adanya proses patologis akut di rongga abdomen, kemungkinan besar melibatkan organ kuadran kanan atas seperti hepar, kandung empedu, atau fleksura hepatika kolon. Nyeri yang menyebar ke seluruh lapang perut dengan defense muscular positif menunjukkan adanya iritasi peritoneal yang signifikan, yang merupakan indikasi kuat adanya peritonitis. Kondisi ini diperparah dengan temuan objektif berupa distensi abdomen, bising usus hipoperistaltik, dan hipertimpani, yang mengarah pada kemungkinan ileus paralitik akibat proses inflamasi intra-abdominal. Penurunan tekanan darah (80/60 mmHg) dan peningkatan denyut jantung (100x/menit) merupakan tanda awal syok hipovolemik atau syok septik, yang seringkali menyertai kondisi abdomen akut seperti perforasi organ, pankreatitis akut berat, atau kolangitis. Nyeri yang dialami pasien tidak hanya mengakibatkan penderitaan subjektif tetapi juga memicu respons fisiologis dan psikologis yang dapat memperburuk kondisi hemodinamik dan metabolik. Oleh karena itu, penanganan nyeri yang adekuat menjadi prioritas utama untuk mengurangi stres fisiologis, memperbaiki kerja sama pasien dalam pemeriksaan dan terapi, serta mencegah komplikasi lebih lanjut seperti krisis hipertensi (paradoks), takikardia persisten, atau gangguan ventilasi akibat nyeri yang menghambat ekspansi diafragma.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri adalah standar luaran keperawatan yang digunakan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dalam mengelola nyeri akut. Pada pasien dengan kondisi abdomen akut yang disertai tanda-tanda peritonitis dan instabilitas hemodinamik, luaran yang diharapkan adalah penurunan skala nyeri secara bertahap, stabilisasi tanda-tanda vital, dan perbaikan kemampuan fungsional. Kriteria evaluasi utama meliputi: (1) Keluhan nyeri menurun, yang diukur dengan skala numerik (0-10) atau skala deskriptif, di mana target awal adalah penurunan dari skala berat (7-10) menjadi sedang (4-6) dalam 1x24 jam setelah pemberian analgesik dan intervensi nonfarmakologis. (2) Tanda-tanda vital membaik, khususnya tekanan darah yang diharapkan meningkat ke rentang ≥90/60 mmHg dan denyut jantung menurun ke <90x/menit, sebagai indikasi berkurangnya respons simpatis akibat nyeri. (3) Ekspresi wajah dan perilaku menunjukkan relaksasi, seperti tidak lagi meringis, gelisah, atau memegangi area perut secara protektif. (4) Kemampuan istirahat dan tidur meningkat, di mana pasien dapat beristirahat tanpa sering terbangun akibat nyeri. (5) Pola napas kembali normal, dengan frekuensi napas <20x/menit dan tidak ada penggunaan otot bantu napas, karena nyeri abdomen sering menyebabkan pernapasan dangkal dan cepat. (6) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus dan pelapor nyeri secara verbal. Dalam konteks pasien ini, pencapaian luaran sangat bergantung pada penanganan kausa dasar (misalnya operasi darurat untuk perforasi atau drainase abses) dan dukungan resusitasi cairan serta antibiotik. Oleh karena itu, skala waktu evaluasi disesuaikan dengan respons klinis dan rencana medis, dengan re-evaluasi setiap 4-6 jam pada fase akut. Standar luaran ini juga mencakup aspek psikologis seperti penurunan kecemasan terkait nyeri, yang penting untuk memfasilitasi kepatuhan terhadap terapi dan mobilisasi dini pascaoperasi jika diperlukan.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri adalah serangkaian intervensi keperawatan yang komprehensif dan terstandarisasi untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan mencegah komplikasi yang berkaitan dengan nyeri. Pada pasien dengan kondisi darurat abdomen seperti ini, intervensi dilakukan secara simultan dengan penanganan medis darurat. Langkah-langkah intervensi meliputi: (1) Identifikasi dan kaji nyeri secara komprehensif menggunakan skala nyeri yang sesuai (misalnya Numeric Rating Scale atau Wong-Baker Faces Pain Scale), dengan mencatat karakteristik PQRST (Provokatif, Quality, Region, Severity, Time). Penting untuk membedakan nyeri viseral (tumpul, sulit dilokalisasi) dengan nyeri somatik (tajam, terlokalisasi) yang mengindikasikan iritasi peritoneal. (2) Observasi tanda-tanda vital setiap 15-30 menit selama fase akut, khususnya tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi napas, sebagai indikator respons terhadap nyeri dan terapi. (3) Berikan terapi nonfarmakologis sebagai adjuvan, seperti teknik relaksasi napas dalam (deep breathing exercise) untuk mengurangi ketegangan otot abdomen dan meningkatkan oksigenasi, posisi semi-Fowler (30-45 derajat) untuk mengurangi tekanan pada diafragma dan memudahkan ekspansi paru, serta kompres dingin pada area perut jika tidak ada kontraindikasi (misalnya pada pankreatitis akut, kompres dingin dapat mengurangi inflamasi). (4) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi dan resep medis, dengan prioritas pada rute intravena (IV) untuk mencapai onset kerja cepat pada pasien dengan gangguan sirkulasi dan kemungkinan ileus. Analgesik golongan opioid (misalnya morfin atau fentanil) sering digunakan pada nyeri berat akibat peritonitis, namun harus diberikan dengan hati-hati mengingat risiko depresi napas dan hipotensi. Alternatif, NSAID (misalnya ketorolak) dapat digunakan jika tidak ada kontraindikasi perdarahan atau gangguan ginjal. (5) Monitor efek samping analgesik, seperti sedasi berlebih, mual, muntah, konstipasi, dan depresi napas. (6) Edukasi pasien dan keluarga tentang mekanisme nyeri, pentingnya melaporkan nyeri secara akurat, dan teknik nonfarmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri. (7) Dokumentasikan respons nyeri, intervensi yang diberikan, dan perubahan kondisi secara real-time dalam catatan keperawatan. (8) Kolaborasi dengan tim medis untuk persiapan tindakan definitif, seperti laparotomi eksplorasi, jika nyeri tidak terkendali dengan terapi konservatif atau terdapat tanda perforasi, obstruksi, atau perdarahan masif. Intervensi ini dilakukan dalam kerangka asuhan keperawatan yang holistik, dengan mempertimbangkan aspek fisik, psikologis, dan spiritual pasien yang berada dalam kondisi kritis.
-
Article No. 25379 | 29 Apr 2026
Klinis : Seorang pria (62 th) dengan kanker prostat stadium akhir mengeluh nyeri hebat di area tulang belakang (skala 8/10). Pasien tampak meringis dan bersikap protektif. Berdasarkan SDKI, diagnosis utama adalah "Nyeri Kronis" berhubungan dengan infiltrasi tumor. Perawat merencanakan intervensi "Manajemen Nyeri", intervensi pendukung yang paling tepat untuk memfasilitasi efek analgesik opioid adalah... Soal 16Jawaban a. Melakukan teknik distraksi visual b. Memberikan kompres hangat pada area nyeri c. Melakukan pemantauan efek samping obat secara berkala d. Memfasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat e. Memberikan edukasi tentang penyebab nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Kronis pada Pasien Kanker Prostat Stadium Akhir
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Nyeri kronis adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial yang bersifat subjektif, berlangsung lebih dari 3 bulan, dan seringkali menetap atau berulang. Pada pasien ini, nyeri kronis disebabkan oleh infiltrasi tumor ke tulang belakang yang memicu aktivasi nosiseptor secara terus-menerus. Manifestasi klinis meliputi keluhan nyeri skala 8/10, ekspresi wajah meringis, dan sikap protektif (menjaga area nyeri). Nyeri ini mengganggu aktivitas, mobilitas, dan kualitas hidup pasien.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Kriteria hasil meliputi: kemampuan melaporkan nyeri terkontrol (skala 3-4/10), tidak menunjukkan perilaku protektif, ekspresi wajah rileks, frekuensi napas dan nadi dalam rentang normal, serta mampu beristirahat dengan nyaman. Setelah diberikan manajemen nyeri selama 1x24 jam, diharapkan terjadi penurunan skala nyeri, peningkatan kenyamanan, dan penurunan tanda-tanda distress. Skala target: dari nyeri berat (8) menjadi nyeri sedang (3-4). Indikator lain: pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus dan metode nonfarmakologis yang efektif, serta menunjukkan peningkatan durasi tidur tanpa terbangun akibat nyeri.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah serangkaian intervensi keperawatan untuk mengurangi atau mengontrol nyeri. Intervensi utama meliputi: identifikasi karakteristik nyeri (PQRST), observasi tanda-tanda vital, berikan analgesik sesuai indikasi (terutama opioid untuk nyeri kanker), kolaborasi pemberian obat antiinflamasi, dan evaluasi respons nyeri. Intervensi pendukung yang paling tepat untuk memfasilitasi efek analgesik opioid adalah **Memfasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat**. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa opioid bekerja optimal ketika sistem saraf dalam kondisi tenang. Istirahat dan tidur menurunkan metabolisme basal, mengurangi stimulasi nosiseptor, dan meningkatkan ambang nyeri. Pasien dengan nyeri kronis seringkali mengalami sleep deprivation yang justru memperburuk persepsi nyeri. Dengan memfasilitasi lingkungan yang tenang, posisi yang nyaman (misal semi-fowler dengan bantal penyangga tulang belakang), dan jadwal tidur teratur, efek analgesik opioid dapat dioptimalkan karena tidak ada gangguan eksternal yang memicu lonjakan nyeri. Pilihan lain seperti teknik distraksi visual (a) lebih bersifat kognitif dan tidak langsung meningkatkan kerja farmakologis opioid. Kompres hangat (b) pada area tulang belakang yang terinfiltrasi tumor justru berisiko meningkatkan edema dan perdarahan. Pemantauan efek samping (c) adalah intervensi kolaboratif, bukan intervensi pendukung langsung. Edukasi penyebab nyeri (e) penting tetapi tidak secara langsung memfasilitasi efek analgesik opioid. Intervensi pendukung lainnya dalam SIKI meliputi: atur posisi yang mengurangi tekanan pada tulang belakang, gunakan teknik napas dalam saat nyeri muncul, dan batasi pengunjung yang membuat pasien lelah. Dokumentasi respons pasien terhadap opioid (misal penurunan skala nyeri 2 jam pasca pemberian) juga penting untuk evaluasi. Dengan demikian, jawaban yang paling tepat adalah **d. Memfasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat** karena menciptakan kondisi fisiologis yang mendukung kerja opioid dalam menekan transmisi impuls nyeri di sistem saraf pusat.
-
Article No. 25380 | 29 Apr 2026
Klinis : Seorang pasien kanker paru mengeluh nyeri dada yang diperberat dengan batuk. Perawat melakukan intervensi "Pengaturan Posisi". Posisi manakah yang paling mendukung kriteria luaran "Kontrol Nyeri"? Soal 19Jawaban a. Supinasi total b. Fowler tinggi (90 derajat) c. Sim kiri d. Semi-fowler (30-45 derajat) e. Trendelenburg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (proses penyakit kanker paru dan batuk)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dan intensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien kanker paru, nyeri dada diperberat oleh batuk karena adanya invasi tumor ke pleura, dinding dada, atau struktur mediastinum. Batuk menyebabkan peregangan dan tekanan pada ujung-ujung saraf nyeri di area yang terinfiltrasi tumor, sehingga meningkatkan persepsi nyeri. Nyeri ini dapat bersifat pleuritik (tajam, menusuk saat bernapas atau batuk) atau somatik dalam (terasa tumpul dan konstan). Karakteristik utama meliputi: pasien melaporkan nyeri secara verbal, ekspresi wajah meringis, perubahan posisi tubuh untuk menghindari nyeri, gelisah, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, serta penurunan kemampuan batuk efektif karena takut nyeri. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (keluhan nyeri dada) dan objektif (peningkatan tanda vital, perilaku protektif).
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (L.08066) adalah luaran keperawatan yang mengukur persepsi dan respons pasien terhadap nyeri. Kriteria luaran yang diharapkan untuk pasien ini adalah "Kontrol Nyeri" yang membaik, dengan indikator: (1) Pasien mampu melaporkan nyeri terkontrol dengan skala 0-2 (skala numerik 0-10), (2) Tidak ada ekspresi meringis, (3) Tanda vital dalam rentang normal (TD: 110/70-130/80 mmHg, Nadi: 60-100 x/menit, RR: 16-20 x/menit, Suhu: 36-37°C), (4) Pasien mampu beristirahat dengan tenang tanpa sering mengubah posisi, (5) Pasien mampu melakukan batuk efektif tanpa peningkatan nyeri yang signifikan. Kriteria ini dievaluasi dalam waktu 1x24 jam setelah intervensi pengaturan posisi. Skala luaran menggunakan skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target minimal adalah skala 4 (cukup membaik) pada indikator pelaporan nyeri dan tanda vital. Keberhasilan kontrol nyeri pada pasien kanker paru tidak hanya diukur dari hilangnya nyeri total, tetapi dari kemampuan pasien untuk berfungsi optimal meskipun masih ada nyeri residual ringan.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri (I.08238) adalah intervensi keperawatan yang bertujuan mengidentifikasi dan mengelola pengalaman nyeri pasien. Intervensi "Pengaturan Posisi" merupakan bagian dari teknik nonfarmakologis dalam manajemen nyeri. Tujuan pengaturan posisi adalah mengurangi tekanan pada area nyeri, memfasilitasi relaksasi otot, dan mengoptimalkan mekanika pernapasan. Untuk pasien kanker paru dengan nyeri dada yang diperberat batuk, posisi yang paling mendukung kriteria luaran "Kontrol Nyeri" adalah posisi Semi-Fowler (30-45 derajat) [Jawaban d].
Penjelasan Pemilihan Posisi Semi-Fowler (30-45 derajat):
Posisi Semi-Fowler adalah posisi duduk dengan elevasi kepala tempat tidur 30-45 derajat. Posisi ini paling tepat karena:
- Mengurangi tekanan intratoraks: Elevasi 30-45 derajat menurunkan tekanan dari organ abdomen terhadap diafragma, memungkinkan ekspansi paru yang lebih optimal tanpa meregangkan pleura yang meradang secara berlebihan. Berbeda dengan posisi Fowler tinggi (90 derajat) yang dapat menyebabkan ketegangan berlebihan pada otot dada dan leher, justru meningkatkan nyeri saat batuk.
- Memfasilitasi batuk efektif: Pada sudut 30-45 derajat, pasien masih memiliki gravitasi yang membantu mengeluarkan sekret, namun tidak terlalu tegak sehingga mengurangi regangan pada dinding dada. Batuk menjadi lebih terkontrol dan tidak memicu nyeri tajam seperti pada posisi supinasi total (datar) yang membuat diafragma terdorong ke atas dan paru tidak dapat mengembang penuh.
- Distribusi berat badan merata: Posisi ini memungkinkan distribusi berat badan pada area bokong dan punggung bawah, mengurangi tekanan pada area dada yang nyeri. Posisi sim kiri atau kanan justru dapat meningkatkan tekanan langsung pada dinding dada sisi yang terkena tumor, memperburuk nyeri.
- Relaksasi otot interkostal: Semi-Fowler memberikan keseimbangan antara relaksasi otot pernapasan dan kebutuhan mekanika pernapasan. Posisi Trendelenburg (kepala lebih rendah dari kaki) sangat kontraindikasi karena meningkatkan tekanan intrakranial dan mendorong isi abdomen ke atas, menekan diafragma dan memperburuk sesak serta nyeri.
- Studi evidence-based: Penelitian menunjukkan bahwa posisi 30-45 derajat adalah posisi optimal untuk pasien dengan nyeri dada pleuritik karena menyeimbangkan kebutuhan ventilasi dan kenyamanan. Pada pasien kanker paru, posisi ini juga memfasilitasi drainase limfatik dan mengurangi kompresi tumor pada saraf interkostal.
Mengapa posisi lain tidak tepat?
- Supinasi total (a): Meningkatkan nyeri karena diafragma terdorong ke atas, ekspansi paru terbatas, dan batuk menjadi tidak efektif serta lebih nyeri.
- Fowler tinggi 90 derajat (b): Menyebabkan ketegangan otot leher dan bahu, meningkatkan konsumsi oksigen, dan dapat memicu nyeri tambahan pada area metastasis tulang jika ada.
- Sim kiri (c): Menekan dinding dada kiri, jika tumor berada di paru kiri, posisi ini akan langsung menekan area nyeri. Posisi miring juga mengganggu stabilitas tulang rusuk saat batuk.
- Trendelenburg (e): Sangat kontraindikasi karena meningkatkan tekanan intraabdomen, mendorong organ ke diafragma, memperburuk sesak napas dan nyeri dada, serta meningkatkan risiko aspirasi.
Intervensi pengaturan posisi harus dilakukan dengan hati-hati, menggunakan bantal untuk menopang lengan dan punggung, serta memonitor respons nyeri pasien setiap 15 menit selama 1 jam pertama setelah perubahan posisi. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik juga tetap diperlukan sebagai terapi farmakologis yang mendukung.
-
Article No. 25381 | 29 Apr 2026
Klinis : Mulut tidak bisa terbuka sempurna setelah os terkena lemparan bola pada rahang kanan semalam, bengkak dan nyeri +, mulut hnaya terbuka 2 jari Telaah- Riwayat Penyakit Dahulu- OSens : CM KU: baik VAS: 7 BB: 48 kg HR: 65 RR: 20 Temp: 36,5 C SPO2: 98% Kepala : dbn Wajah : oedem a/r mandibula zygomaticum dextra, ROM terbatas, mulut terbuka sekitar 1 jari Thorax: Sp: Vesikuler +/+, ST: Rhonki -/-, Wheezing -/- Jantung : S1-S2 reguler, gallop-, murmur- Abdomen : Soepel, peristaltic + normal nyeri tekan -timpani Ekstremitas: Akral hangat +/+, CRT < 2”
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Nyeri dan Edema pada Area Mandibula dan Zygomaticum Dekstra
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Pada pasien ini, kondisi mulut yang tidak bisa terbuka sempurna (hanya 1-2 jari) akibat trauma lemparan bola pada rahang kanan yang menyebabkan edema dan nyeri (VAS 7) mengindikasikan adanya gangguan mobilitas fisik spesifik pada area temporomandibular joint (TMJ). Edema pada regio mandibula dan zygomaticum dekstra membatasi rentang gerak (ROM) sendi rahang, sementara nyeri hebat menghambat pasien untuk membuka mulut secara maksimal. Kondisi ini juga memengaruhi fungsi dasar seperti berbicara, mengunyah, dan menelan. Pasien dalam keadaan compos mentis dengan tanda vital stabil, namun keterbatasan fisik ini memerlukan intervensi keperawatan untuk mengurangi nyeri, mengatasi edema, dan memulihkan rentang gerak rahang. Faktor risiko utama adalah trauma mekanis yang menyebabkan inflamasi jaringan lunak dan spasme otot masseter serta pterygoid. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (nyeri skala 7, keluhan mulut tidak bisa terbuka) dan data objektif (edema wajah, ROM terbatas, bukaan mulut hanya 1 jari).
Kode SLKI: L.05035
Deskripsi : Mobilitas Fisik adalah kemampuan untuk bergerak secara bebas dan terkoordinasi. Luaran yang diharapkan untuk pasien ini adalah peningkatan rentang gerak sendi temporomandibular. Kriteria hasil yang dapat diukur meliputi: (1) Pasien menunjukkan peningkatan bukaan mulut dari 1 jari menjadi minimal 2 jari dalam waktu 1x24 jam, (2) Nyeri saat membuka mulut menurun dari skala 7 menjadi skala 3-4 (skala VAS), (3) Edema wajah berkurang yang ditandai dengan penurunan diameter lingkar pipi kanan secara objektif, (4) Pasien mampu melakukan gerakan membuka dan menutup mulut secara perlahan tanpa bantuan, (5) Tidak ada peningkatan suhu lokal atau tanda infeksi pada area mandibula. Indikator spesifik untuk SLKI ini adalah: ROM sendi rahang meningkat, kekuatan otot pengunyahan meningkat, dan nyeri saat pergerakan berkurang. Target waktu pencapaian luaran ini adalah dalam 3x24 jam setelah intervensi, dengan mempertimbangkan proses inflamasi akut yang masih berlangsung. Monitoring dilakukan setiap shift untuk mengevaluasi perkembangan bukaan mulut dan skala nyeri. Keberhasilan luaran juga ditandai dengan kemampuan pasien untuk mengonsumsi makanan lunak tanpa rasa sakit yang berlebihan dan mampu berkomunikasi verbal dengan jelas.
Kode SIKI: I.05138
Deskripsi : Intervensi Utama: Manajemen Nyeri dan Terapi Latihan Rentang Gerak Sendi Temporomandibular. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi:
1. Manajemen Nyeri (I.08238):
- Kaji skala nyeri setiap 4 jam menggunakan VAS, catat karakteristik nyeri (tajam, berdenyut, konstan).
- Berikan kompres dingin pada area mandibula kanan selama 15-20 menit setiap 2-3 jam pada 24 jam pertama untuk mengurangi edema dan nyeri akut (efek vasokonstriksi). Setelah 24 jam, lanjutkan dengan kompres hangat untuk meningkatkan sirkulasi dan relaksasi otot.
- Kolaborasi pemberian analgesik seperti parasetamol atau NSAID (misal: ibuprofen) sesuai advis dokter, dengan monitoring efek samping gastrointestinal.
- Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan distraksi (mendengarkan musik, visualisasi) saat nyeri muncul.
- Pertahankan posisi kepala lebih tinggi 30 derajat saat tidur untuk mengurangi edema gravitasi.
2. Terapi Latihan Rentang Gerak (I.05138):
- Lakukan latihan pasif rentang gerak rahang secara perlahan: instruksikan pasien untuk membuka mulut secara bertahap (tanpa paksaan) sambil memberikan resistensi ringan pada dagu.
- Latihan "active assisted range of motion": pasien membuka mulut dibantu jari perawat untuk memberikan tekanan lembut pada rahang bawah ke arah bawah dan depan, tahan 5 detik, ulangi 5 kali setiap sesi (2-3 kali sehari).
- Latihan lateral: gerakan rahang ke kiri dan kanan secara perlahan untuk mengurangi kekakuan otot pterygoid.
- Evaluasi toleransi latihan: hentikan jika nyeri meningkat (VAS >5) dan beri jeda.
- Edukasi pasien untuk menghindari gerakan membuka mulut lebar secara tiba-tiba, menguap dengan tangan menahan rahang, dan mengonsumsi makanan lunak/ cair selama fase akut.
3. Edukasi Kesehatan (I.12383):
- Jelaskan mekanisme cedera dan pentingnya imobilisasi relatif rahang selama 2-3 hari.
- Ajarkan cara membersihkan mulut dengan hati-hati menggunakan sikat gigi berbulu lembut dan obat kumur antiseptik non-alkohol.
- Anjurkan pasien untuk segera melaporkan jika terjadi peningkatan nyeri, demam, atau kesulitan bernapas (tanda komplikasi seperti infeksi atau dislokasi).
4. Monitoring:
- Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam, fokus pada peningkatan suhu atau perubahan tekanan darah sebagai respons nyeri.
- Ukur lingkar edema wajah setiap hari dengan pita ukur pada titik yang sama (dari tragus ke sudut mulut).
- Dokumentasikan perkembangan bukaan mulut (dalam sentimeter atau jumlah jari) setiap shift.
Intervensi ini dilakukan secara bertahap dengan prioritas utama manajemen nyeri dan edema pada 24 jam pertama, diikuti latihan ROM bertahap pada hari kedua dan ketiga. Kolaborasi dengan dokter gigi atau spesialis THT diperlukan jika tidak ada perbaikan dalam 48 jam untuk mengeksklusi fraktur mandibula atau dislokasi TMJ. Pasien dengan BB 48 kg dan tanda vital stabil memiliki prognosis baik untuk pemulihan fungsi rahang dalam 5-7 hari dengan kepatuhan terhadap intervensi.
-
Article No. 25383 | 29 Apr 2026
Klinis : pasien datang ke poli untuk kontrol kehamilan. pasien merasa hamil 8 bulan, gerak bayi aktif. kondisi umum baik, kesadaran baik, bb 64,2. tb 143, suhu 36, rr 20/mnit, td 120/70, nadi 135x/menit. G2P2002AB000 gr 30-32 mgg, janin tunggal + plassenta previa+peb. hasil usg tanggal 28 april : letak janin bujur v, EFW 1400 gr - 30-32 minggu, AFI cukup, Plasenta implantasi di c posterior ke tepi OUI, maturasi gr 1. hasil lab tanggal 3 february : hb 12,30. eritrosit : 3.990, rdw : 13.50, leukosit : 11.30, ast/sgot : 9.82, alt/sgpt : 8.16, albumin : 4.1, bun : 6.49, kreatinin : 0,454, gda 86, urinalis : keton positif. hasil foto thorax tanggal 3 february : pneumonia. dari data diatas maka masalah keperawatan yang bisa diambil adalah, berikan 3 sesuaikan dengan SDKI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perdarahan
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan adalah kondisi di mana individu berisiko mengalami kehilangan darah dari sistem kardiovaskular, baik yang tampak maupun tidak tampak, yang dapat mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa. Pada kasus ini, risiko perdarahan sangat relevan karena pasien didiagnosis dengan plasenta previa, yaitu implantasi plasenta yang menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (OUI). Kondisi ini secara inheren meningkatkan risiko perdarahan antepartum, terutama pada trimester ketiga kehamilan. Plasenta yang terletak di segmen bawah rahim (dekat OUI) tidak memiliki daya regang yang sama dengan miometrium, sehingga saat serviks mulai menipis dan membuka (efacement dan dilatasi) menjelang persalinan, terjadi robekan pada sinus-sinus maternal di sisi plasenta yang terlepas, mengakibatkan perdarahan akut. Data USG menunjukkan plasenta implantasi di c posterior ke tepi OUI, menegaskan bahwa plasenta berada di area berisiko tinggi. Meskipun pasien saat ini dalam kondisi stabil dengan tanda-tanda vital yang baik (TD 120/70 mmHg, nadi 135x/menit yang sedikit takikardi mungkin sebagai kompensasi awal, suhu 36°C, RR 20x/menit), risiko perdarahan masif tetap mengintai. Takikardia ringan (nadi 135x/menit) pada kehamilan 30-32 minggu bisa fisiologis, namun juga merupakan tanda awal syok hipovolemik yang harus diwaspadai. Riwayat obstetri pasien G2P2002AB000 (kehamilan kedua, dua anak hidup) tidak menyebutkan riwayat perdarahan sebelumnya, namun plasenta previa sendiri merupakan faktor risiko utama. Kehamilan dengan plasenta previa memerlukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda perdarahan, kontraksi uterus, dan kesejahteraan janin. Intervensi keperawatan harus difokuskan pada deteksi dini tanda perdarahan, persiapan transfusi darah, pembatasan aktivitas (tirah baring), dan edukasi tentang tanda bahaya yang perlu segera dilaporkan. Kondisi ini juga diperparah oleh adanya pneumonia dari hasil foto thorax, yang dapat menyebabkan hipoksia dan stres fisiologis tambahan, memicu pelepasan katekolamin yang bisa meningkatkan kontraktilitas uterus dan memperburuk risiko perdarahan. Secara keseluruhan, prioritas utama adalah mencegah perdarahan masif yang dapat mengancam jiwa ibu dan janin.
Kode SLKI: L.02022
Deskripsi : Tingkat Perdarahan adalah kriteria hasil yang digunakan untuk mengevaluasi status perdarahan pasien. Pada kasus ini, hasil yang diharapkan adalah tidak terjadi perdarahan aktif atau perdarahan minimal yang dapat dikendalikan. Indikator yang perlu dipantau meliputi: (1) Tidak ada perdarahan per vaginam, (2) Hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal, (3) Tanda-tanda vital stabil (tekanan darah normal, nadi dalam rentang 60-100x/menit, tidak ada takikardia atau hipotensi ortostatik), (4) Tidak ada tanda-tanda syok hipovolemik seperti pucat, akral dingin, gelisah, atau penurunan kesadaran, (5) Output urin adekuat (>30 ml/jam), (6) Warna mukosa bibir dan konjungtiva merah muda, (7) Tidak ada nyeri perut atau kontraksi yang teratur. Pada pasien ini, target intervensi adalah mempertahankan status hemodinamik stabil, mencegah penurunan hemoglobin lebih lanjut (Hb terakhir 12,30 g/dL pada Februari, namun perlu reevaluasi karena risiko perdarahan), dan memastikan tidak ada perdarahan aktif. SLKI ini juga mencakup kemampuan pasien untuk mengenali tanda-tanda perdarahan dini dan melaporkannya segera. Edukasi tentang tanda bahaya seperti perdarahan merah segar, nyeri perut hebat, atau kontraksi teratur sangat penting. Pemantauan denyut jantung janin (DJJ) juga krusial, karena perdarahan masif dapat menyebabkan hipoksia janin. Dengan manajemen yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai status bebas perdarahan hingga waktu persalinan yang direncanakan (biasanya melalui operasi caesar pada usia kehamilan 36-37 minggu untuk plasenta previa).
Kode SIKI: I.02058
Deskripsi : Manajemen Perdarahan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan mencegah perdarahan. Intervensi ini sangat kritis pada pasien dengan plasenta previa. Tindakan keperawatan meliputi: (1) Pantau tanda-tanda vital setiap 2-4 jam atau lebih sering jika ada perubahan, dengan fokus pada tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu. Takikardia dan hipotensi ortostatik adalah tanda awal syok. (2) Pantau perdarahan per vaginam: catat jumlah, warna (merah segar atau kehitaman), dan adanya gumpalan. Gunakan pembalut bersih untuk menampung dan menimbang perdarahan jika perlu. (3) Lakukan penilaian uterus: palpasi untuk memastikan uterus tidak tegang atau kontraksi. Kontraksi dapat memicu pelepasan plasenta. (4) Pantau hasil laboratorium: periksa hemoglobin, hematokrit, dan hitung trombosit secara serial. Hb 12,30 g/dL masih dalam batas normal, namun harus diwaspadai penurunan. (5) Berikan oksigenasi: oksigen 2-4 liter/menit via nasal kanul jika ada tanda-tanda hipoksia atau jika nadi janin menunjukkan deselerasi. (6) Persiapan transfusi: pastikan akses intravena (IV line) dengan ukuran besar (18G atau lebih) untuk resusitasi cairan dan darah. Siapkan darah sesuai golongan darah pasien. (7) Batasi aktivitas: instruksikan tirah baring total (bed rest) dengan posisi miring kiri untuk meningkatkan aliran darah uteroplasenta. (8) Edukasi pasien dan keluarga: ajarkan tanda bahaya perdarahan, pentingnya istirahat, dan hindari aktivitas berat, hubungan seksual, atau pemeriksaan vagina yang tidak perlu. (9) Kolaborasi dengan dokter: diskusikan rencana persalinan (operasi caesar elektif), pemberian kortikosteroid untuk maturasi paru janin (mengingat usia kehamilan 30-32 minggu dengan plasenta previa yang mungkin memerlukan persalinan preterm), dan manajemen pneumonia yang juga diderita pasien. (10) Monitor kesejahteraan janin: lakukan non-stress test (NST) atau biophysical profile (BPP) untuk menilai DJJ dan gerakan janin. Gerak bayi aktif saat ini adalah tanda baik, namun harus dipantau. (11) Dokumentasi: catat semua temuan, intervensi, dan respons pasien secara akurat. Intervensi ini harus dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan untuk mencegah komplikasi fatal.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien ini, diagnosis ini ditegakkan berdasarkan hasil foto thorax tanggal 3 Februari yang menunjukkan pneumonia. Pneumonia adalah infeksi akut pada parenkim paru yang menyebabkan inflamasi, produksi sekret berlebihan (sputum), dan edema mukosa, sehingga menyumbat saluran napas kecil dan besar. Meskipun pasien saat ini tidak mengeluh sesak napas (RR 20x/menit dalam batas normal), namun proses patologis pneumonia masih berlangsung dan dapat memburuk, terutama pada ibu hamil yang memiliki perubahan fisiologis sistem pernapasan. Pada kehamilan, terjadi peningkatan volume darah, peningkatan konsumsi oksigen (20-30%), dan elevasi diafragma akibat pembesaran uterus, yang menyebabkan penurunan kapasitas residu fungsional (FRC). Perubahan ini membuat ibu hamil lebih rentan terhadap hipoksemia jika terjadi infeksi paru. Data laboratorium menunjukkan leukositosis (11.30 x10^3/µL) yang mengindikasikan respons inflamasi sistemik terhadap infeksi. Adanya keton positif dalam urinalisis juga bisa menandakan metabolisme lemak yang meningkat akibat stres atau asupan yang kurang, yang dapat memperberat kondisi. Pasien mungkin tidak menunjukkan gejala klasik seperti batuk berdahak atau demam (suhu 36°C normal), namun pneumonia dapat bersifat subklinis atau atipikal. Risiko utama adalah perkembangan pneumonia menjadi lebih berat, menyebabkan gagal napas, dan berdampak pada oksigenasi janin. Hipoksia maternal dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah uteroplasenta, mengakibatkan gangguan suplai oksigen ke janin, yang dapat memicu gawat janin, pertumbuhan janin terhambat (EFW 1400 gram pada 30-32 minggu masih dalam batas normal, namun perlu diwaspadai), atau bahkan kematian janin. Selain itu, batuk yang hebat akibat iritasi jalan napas dapat meningkatkan tekanan intra-abdomen dan memicu kontraksi uterus, yang sangat berbahaya pada pasien dengan plasenta previa karena dapat memicu perdarahan. Oleh karena itu, meskipun gejala pernapasan tampak ringan, intervensi keperawatan harus segera dilakukan untuk membersihkan jalan napas, mengoptimalkan ventilasi, dan mencegah komplikasi.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas adalah kriteria hasil yang mengukur kemampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas yang paten dan membersihkan
Article No. 25384 | 29 Apr 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.ANALISA DATA No. Data Interpretasi Data / Kemungkinan Penyebab Masalah Keperawatan 1. DS: • Pasien mengatakan nyeri pada area perineum • Pasien mengatakan nyeri saat BAK • Pasien mengatakan takut bergerak karena nyeri DO: • Pasien tampak meringis saat mobilisasi • Nadi: 98×/menit • RR: 22×/menit • P: Nyeri muncul saat bergerak dan saat BAK • Q: Nyeri dirasakan seperti ngilu • R: Nyeri pada area perineum • S: Skala nyeri 4/10 • T: Nyeri muncul saat bergerak atau saat BAK • Pasien bergerak mandiri tetapi pelan dan hati-hati Persalinan spontan dengan retensio plasenta ↓ Trauma jaringan perineum ↓ Stimulasi reseptor nyeri ↓ Nyeri Akut Nyeri Akut 2. DS: - DO: • Integritas kulit/mukosa vagina kurang baik • Suhu: 36,7°C • Kebersihan vagina/perineum kurang baik • Lokia rubra masih keluar ±100 cc berupa darah berwarna merah • Leukosit 22,86 x10³/µL Persalinan spontan dengan retensio plasenta ↓ Integritas kulit/mukosa jalan lahir terganggu ↓ Lokia rubra masih keluar ↓ Kuman mudah masuk dan berkembang ↓ Risiko infeksi Risiko Infeksi 3. DS: • Pasien mengatakan lelah DO: • Pasien tampak lemah • Konjungtiva pucat • TD: 127/79 mmHg • Nadi: 98×/menit • RR: 22×/menit • Hb 5,7 g/dL • Hematokrit 18% • Mobilisasi dilakukan pelan dan hati-hati Anemia mikrositik hipokrom susp defisiensi zat besi ↓ Hb/Ht menurun ↓ Kapasitas pengangkutan O² menurun ↓ Suplai O² ke jaringan menurun ↓ Tubuh mudah lelah/lemah ↓ Intoleransi aktivitas Intoleransi Aktivitas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Campak (Measles)
Kode ICD-10: B05.9
Deskripsi Singkat : Campak adalah penyakit infeksi virus akut yang sangat menular, disebabkan oleh virus campak (Measles morbillivirus). Penyakit ini ditandai dengan gejala prodromal seperti demam tinggi (seringkali >40°C) yang berlangsung selama 3-7 hari, batuk kering (coryza), konjungtivitis (mata merah dan berair), serta munculnya bintik Koplik (koplik spots) pada mukosa bukal di dalam mulut yang merupakan patognomonis untuk campak. Ruam makulopapular merah khas muncul sekitar 3-5 hari setelah onset demam, dimulai dari belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh. Kode ICD-10 B05.9 digunakan untuk diagnosis campak tanpa komplikasi (measles without complication). Kode ini spesifik untuk kasus campak yang tidak disertai dengan komplikasi seperti pneumonia, otitis media, ensefalitis, atau diare berat. Penting untuk mencatat bahwa jika pasien memiliki komplikasi, kode yang lebih spesifik harus digunakan (misalnya, B05.0 untuk campak dengan ensefalitis, B05.1 untuk campak dengan meningitis, B05.2 untuk campak dengan pneumonia, B05.3 untuk campak dengan otitis media, B05.4 untuk campak dengan komplikasi intestinal, atau B05.8 untuk campak dengan komplikasi lainnya). Pada kasus ini, dengan deskripsi demam tinggi, ruam, bintik Koplik, batuk kering, dan mata merah tanpa penyebutan komplikasi spesifik lainnya, kode B05.9 adalah yang paling tepat untuk kodifikasi awal. Diagnosis banding dapat mencakup rubella, roseola infantum, atau infeksi virus lainnya, namun gambaran klinis yang khas dengan bintik Koplik sangat mendukung diagnosis campak.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 25385 | 29 Apr 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.ANALISA DATA No. Data Interpretasi Data / Kemungkinan Penyebab Masalah Keperawatan 1. DS: • Pasien mengatakan nyeri pada area perineum • Pasien mengatakan nyeri saat BAK • Pasien mengatakan takut bergerak karena nyeri DO: • Pasien tampak meringis saat mobilisasi • Nadi: 98×/menit • RR: 22×/menit • P: Nyeri muncul saat bergerak dan saat BAK • Q: Nyeri dirasakan seperti ngilu • R: Nyeri pada area perineum • S: Skala nyeri 4/10 • T: Nyeri muncul saat bergerak atau saat BAK • Pasien bergerak mandiri tetapi pelan dan hati-hati Persalinan spontan dengan retensio plasenta ↓ Trauma jaringan perineum ↓ Stimulasi reseptor nyeri ↓ Nyeri Akut Nyeri Akut 2. DS: - DO: • Integritas kulit/mukosa vagina kurang baik • Suhu: 36,7°C • Kebersihan vagina/perineum kurang baik • Lokia rubra masih keluar ±100 cc berupa darah berwarna merah • Leukosit 22,86 x10³/µL Persalinan spontan dengan retensio plasenta ↓ Integritas kulit/mukosa jalan lahir terganggu ↓ Lokia rubra masih keluar ↓ Kuman mudah masuk dan berkembang ↓ Risiko infeksi Risiko Infeksi 3. DS: • Pasien mengatakan lelah DO: • Pasien tampak lemah • Konjungtiva pucat • TD: 127/79 mmHg • Nadi: 98×/menit • RR: 22×/menit • Hb 5,7 g/dL • Hematokrit 18% • Mobilisasi dilakukan pelan dan hati-hati Anemia mikrositik hipokrom susp defisiensi zat besi ↓ Hb/Ht menurun ↓ Kapasitas pengangkutan O² menurun ↓ Suplai O² ke jaringan menurun ↓ Tubuh mudah lelah/lemah ↓ Intoleransi aktivitas Intoleransi Aktivitas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Campak (Measles / Rubeola)
Kode ICD-10: B05.9
Deskripsi Singkat : Campak adalah penyakit infeksi virus akut yang sangat menular, disebabkan oleh virus campak (Measles morbillivirus). Penyakit ini ditandai dengan gejala prodromal berupa demam tinggi (seringkali mencapai >40°C) yang berlangsung selama 3-7 hari, batuk kering (coryza), konjungtivitis (mata merah dan berair), serta munculnya bercak Koplik (Koplik spots) di mukosa pipi yang merupakan patognomonis (tanda khas) untuk campak. Ruam makulopapular merah khas campak biasanya muncul 3-5 hari setelah demam dimulai, dimulai dari belakang telinga dan wajah, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Pada kasus ini, pasien anak perempuan usia 5 tahun menunjukkan semua gejala klasik tersebut. Kode ICD-10 B05.9 digunakan untuk diagnosis campak tanpa komplikasi (Measles without complication). Komplikasi campak dapat mencakup pneumonia (B05.2), otitis media (B05.3), atau ensefalitis (B05.0). Pada anak-anak, terutama yang kekurangan gizi atau imunokompromais, campak dapat menjadi berat. Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan gejala dan ruam khas, serta dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan serologi IgM anti-campak atau isolasi virus. Tata laksana utama adalah suportif, termasuk antipiretik untuk demam, hidrasi yang adekuat, dan vitamin A dosis tinggi untuk mengurangi risiko komplikasi berat dan kematian. Vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) merupakan langkah pencegahan yang efektif.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 25386 | 29 Apr 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.ANALISA DATA No. Data Interpretasi Data / Kemungkinan Penyebab Masalah Keperawatan 1. DS: • Pasien mengatakan nyeri pada area perineum • Pasien mengatakan nyeri saat BAK • Pasien mengatakan takut bergerak karena nyeri DO: • Pasien tampak meringis saat mobilisasi • Nadi: 98×/menit • RR: 22×/menit • P: Nyeri muncul saat bergerak dan saat BAK • Q: Nyeri dirasakan seperti ngilu • R: Nyeri pada area perineum • S: Skala nyeri 4/10 • T: Nyeri muncul saat bergerak atau saat BAK • Pasien bergerak mandiri tetapi pelan dan hati-hati Persalinan spontan dengan retensio plasenta ↓ Trauma jaringan perineum ↓ Stimulasi reseptor nyeri ↓ Nyeri Akut Nyeri Akut 2. DS: - DO: • Integritas kulit/mukosa vagina kurang baik • Suhu: 36,7°C • Kebersihan vagina/perineum kurang baik • Lokia rubra masih keluar ±100 cc berupa darah berwarna merah • Leukosit 22,86 x10³/µL Persalinan spontan dengan retensio plasenta ↓ Integritas kulit/mukosa jalan lahir terganggu ↓ Lokia rubra masih keluar ↓ Kuman mudah masuk dan berkembang ↓ Risiko infeksi Risiko Infeksi 3. DS: • Pasien mengatakan lelah DO: • Pasien tampak lemah • Konjungtiva pucat • TD: 127/79 mmHg • Nadi: 98×/menit • RR: 22×/menit • Hb 5,7 g/dL • Hematokrit 18% • Mobilisasi dilakukan pelan dan hati-hati Anemia mikrositik hipokrom susp defisiensi zat besi ↓ Hb/Ht menurun ↓ Kapasitas pengangkutan O² menurun ↓ Suplai O² ke jaringan menurun ↓ Tubuh mudah lelah/lemah ↓ Intoleransi aktivitas Intoleransi Aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Campak pada Anak (Anak Perempuan, 5 tahun, dengan demam, ruam, bintik Koplik, batuk, konjungtivitis)
Kode SDKI: D.0149
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah suatu kondisi di mana suhu tubuh individu mengalami peningkatan di atas kisaran normal (36,5–37,5°C) yang disebabkan oleh kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh, paparan lingkungan yang panas secara berlebihan, atau sebagai respons terhadap pirogen (zat penyebab demam). Pada kasus ini, demam tinggi yang dialami pasien selama 3 hari merupakan manifestasi utama dari infeksi virus campak (Morbili). Virus campak bersifat pirogen, yang memicu pelepasan sitokin (seperti interleukin-1, interleukin-6, dan tumor necrosis factor) oleh sel imun. Sitokin-sitokin ini kemudian bekerja pada hipotalamus, pusat pengatur suhu di otak, sehingga meningkatkan set point suhu tubuh. Peningkatan set point ini menyebabkan tubuh berusaha menaikkan suhu inti melalui mekanisme seperti menggigil, vasokonstriksi perifer, dan peningkatan metabolisme. Hipertermia yang tidak tertangani dapat menyebabkan dehidrasi, kejang demam, dan memperburuk kondisi respirasi pada anak. Oleh karena itu, diagnosis ini tepat karena pasien menunjukkan data objektif demam tinggi yang merupakan gejala kardinal campak sebelum ruam muncul.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi adalah kemampuan individu untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5–37,5°C) melalui keseimbangan antara produksi dan kehilangan panas. Luaran yang diharapkan pada pasien ini adalah setelah diberikan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, termoregulasi pasien meningkat dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5–37,5°C) terukur melalui termometer, (2) Tidak terjadi menggigil (gemetar yang tidak terkontrol), (3) Akral (ujung jari tangan dan kaki) teraba hangat, (4) Kulit tidak kemerahan atau teraba panas berlebihan, (5) Frekuensi nadi dan pernapasan kembali ke rentang normal sesuai usia (nadi 80-120x/menit, napas 20-30x/menit untuk usia 5 tahun), (6) Pasien tidak menunjukkan tanda dehidrasi seperti turgor kulit menurun atau membran mukosa kering. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa respons inflamasi akut akibat infeksi campak mulai terkendali dan mekanisme homeostatis tubuh berfungsi optimal.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi akibat demam tinggi. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Observasi: Monitor suhu tubuh setiap 2-4 jam atau lebih sering jika demam sangat tinggi; identifikasi tanda dan gejala hipertermia seperti kulit merah, panas, takikardia, dan takipnea; observasi intake dan output cairan untuk mencegah dehidrasi. (2) Terapeutik: Berikan kompres hangat (tepid sponge) pada area pembuluh darah besar seperti leher, ketiak, dan lipatan paha selama 15-20 menit untuk memfasilitasi perpindahan panas secara konduksi dan evaporasi; anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian yang tipis, menyerap keringat, dan longgar agar panas mudah terlepas; atur suhu ruangan agar tetap sejuk (22-24°C) dengan ventilasi yang baik. (3) Edukasi: Jelaskan kepada orang tua tentang penyebab demam (infeksi virus campak) dan pentingnya pemberian cairan yang cukup (ASI, susu formula, atau air putih) untuk mencegah dehidrasi; ajarkan cara mengukur suhu yang benar menggunakan termometer. (4) Kolaborasi: Berikan antipiretik (seperti parasetamol) sesuai advis dokter dengan dosis yang tepat berdasarkan berat badan anak (biasanya 10-15 mg/kgBB setiap 4-6 jam). Penting untuk tidak memberikan aspirin pada anak karena risiko sindrom Reye. Intervensi ini harus dilakukan dengan lembut dan penuh empati karena anak usia 5 tahun mungkin merasa tidak nyaman dan takut dengan prosedur medis.
Kode SDKI: D.0110
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah suatu kondisi di mana terjadi kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran kapiler-alveolus paru. Pada kasus campak, virus menginfeksi saluran pernapasan dan menyebabkan peradangan pada mukosa trakea, bronkus, dan bronkiolus (laringotrakeobronkitis). Peradangan ini menyebabkan edema mukosa, peningkatan produksi sekret, dan nekrosis sel epitel bersilia. Akibatnya, saluran napas menjadi sempit dan tersumbat oleh sekret yang kental. Batuk kering yang dialami pasien merupakan upaya tubuh untuk membersihkan saluran napas dari sekret dan iritan. Namun, karena sekret sangat kental dan saluran napas sempit, pertukaran oksigen dan karbon dioksida di alveolus menjadi terganggu. Hal ini dapat menyebabkan hipoksemia (kekurangan oksigen dalam darah) dan hiperkapnia (kelebihan karbon dioksida). Pada anak usia 5 tahun, diameter saluran napas yang lebih kecil membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan pertukaran gas akibat obstruksi sekret. Tanda-tanda yang mungkin muncul adalah peningkatan frekuensi napas (takipnea), penggunaan otot bantu napas (retraksi dada), sianosis pada bibir atau kuku, dan gelisah.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas adalah status pertukaran oksigen dan karbon dioksida di antara alveolus dan pembuluh darah paru. Luaran yang diharapkan untuk pasien ini adalah setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, pertukaran gas membaik dengan kriteria hasil: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal untuk usia 5 tahun (20-30x/menit), (2) Tidak ada retraksi dinding dada (suprasternal, interkostal, subkostal), (3) Tidak ada suara napas tambahan seperti wheezing atau ronkhi yang menandakan obstruksi sekret, (4) Batuk efektif, mampu mengeluarkan sekret, (5) Warna kulit dan membran mukosa merah muda (tidak sianosis), (6) Tingkat kesadaran compos mentis (tidak gelisah atau letargik), (7) Saturasi oksigen perifer (SpO2) >95% pada udara ruangan, (8) Analisis gas darah (jika dilakukan) menunjukkan PaO2 dalam rentang normal (80-100 mmHg) dan PaCO2 normal (35-45 mmHg). Pencapaian luaran ini mengindikasikan bahwa inflamasi pada saluran napas mulai mereda dan fungsi ventilasi serta difusi paru kembali efektif.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk membuka dan mempertahankan kepatenan jalan napas serta memfasilitasi pengeluaran sekret. Intervensi ini sangat krusial pada pasien campak dengan batuk kering dan potensi obstruksi. Tindakan meliputi: (1) Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas (retraksi, napas cuping hidung); auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya sekret atau sumbatan; monitor saturasi oksigen secara kontinu menggunakan pulse oximeter. (2) Terapeutik: Posisikan pasien dengan kepala sedikit ekstensi atau semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru dan drainase sekret; lakukan fisioterapi dada (clapping dan vibrasi) dengan lembut untuk membantu mengencerkan dan mengeluarkan sekret; lakukan suction (pengisapan lendir) jika pasien tidak mampu batuk efektif dan terdapat sekret yang menyumbat jalan napas, dengan menggunakan kateter suction steril dan teknik aseptik; berikan humidifikasi pada oksigen atau udara ruangan untuk mengencerkan sekret yang kental. (3) Edukasi: Ajarkan pasien (dengan bahasa yang mudah dipahami anak) dan orang tua teknik batuk efektif: tarik napas dalam, tahan 2-3 detik, lalu batukkan dengan kuat dari dalam perut; ajarkan cara melakukan inhalasi uap hangat (dengan pengawasan ketat untuk mencegah luka bakar) untuk melembabkan saluran napas. (4) Kolaborasi: Berikan bronkodilator (misal salbutamol nebulizer) atau mukolitik (misal asetilsistein) sesuai advis dokter untuk melebarkan saluran napas dan mengencerkan dahak; berikan oksigen tambahan jika SpO2 <94% atau terdapat tanda distress napas, dengan metode kanul nasal atau masker sederhana sesuai kebutuhan. Pastikan semua tindakan dilakukan dengan pendekatan atraumatik untuk mengurangi rasa takut pada anak.
Kode SDKI: D.0149
Deskripsi Singkat: Defisit Nutrisi adalah suatu kondisi di mana asupan nutrisi tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada anak dengan campak, defisit nutrisi sering terjadi karena beberapa faktor. Pertama, demam tinggi meningkatkan laju metabolisme basal secara signifikan, sehingga kebutuhan kalori dan cairan tubuh meningkat drastis. Kedua, lesi di mukosa mulut (bintik Koplik dan enantema) serta faringitis yang menyertai campak menyebabkan rasa nyeri saat menelan (odinofagia), sehingga anak enggan makan dan minum. Ketiga, malaise (rasa lelah dan tidak enak badan) menurunkan nafsu makan anak secara kesel
Article No. 25387 | 29 Apr 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.ANALISA DATA No. Data Interpretasi Data / Kemungkinan Penyebab Masalah Keperawatan 1. DS: • Pasien mengatakan nyeri pada area perineum • Pasien mengatakan nyeri saat BAK • Pasien mengatakan takut bergerak karena nyeri DO: • Pasien tampak meringis saat mobilisasi • Nadi: 98×/menit • RR: 22×/menit • P: Nyeri muncul saat bergerak dan saat BAK • Q: Nyeri dirasakan seperti ngilu • R: Nyeri pada area perineum • S: Skala nyeri 4/10 • T: Nyeri muncul saat bergerak atau saat BAK • Pasien bergerak mandiri tetapi pelan dan hati-hati Persalinan spontan dengan retensio plasenta ↓ Trauma jaringan perineum ↓ Stimulasi reseptor nyeri ↓ Nyeri Akut Nyeri Akut 2. DS: - DO: • Integritas kulit/mukosa vagina kurang baik • Suhu: 36,7°C • Kebersihan vagina/perineum kurang baik • Lokia rubra masih keluar ±100 cc berupa darah berwarna merah • Leukosit 22,86 x10³/µL Persalinan spontan dengan retensio plasenta ↓ Integritas kulit/mukosa jalan lahir terganggu ↓ Lokia rubra masih keluar ↓ Kuman mudah masuk dan berkembang ↓ Risiko infeksi Risiko Infeksi 3. DS: • Pasien mengatakan lelah DO: • Pasien tampak lemah • Konjungtiva pucat • TD: 127/79 mmHg • Nadi: 98×/menit • RR: 22×/menit • Hb 5,7 g/dL • Hematokrit 18% • Mobilisasi dilakukan pelan dan hati-hati Anemia mikrositik hipokrom susp defisiensi zat besi ↓ Hb/Ht menurun ↓ Kapasitas pengangkutan O² menurun ↓ Suplai O² ke jaringan menurun ↓ Tubuh mudah lelah/lemah ↓ Intoleransi aktivitas Intoleransi Aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia pada Anak dengan Campak
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh seseorang meningkat lebih dari 37,5°C (oral, aksila, atau timpani) akibat kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh. Pada kasus ini, hipertermia disebabkan oleh proses infeksi virus campak (Morbili) yang memicu respons inflamasi sistemik, sehingga hipotalamus meningkatkan set point suhu tubuh. Demam tinggi selama 3 hari merupakan manifestasi utama fase prodromal dan erupsi campak, yang sering disertai gejala konstitusi seperti malaise dan anoreksia.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi adalah kemampuan seseorang untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C) melalui keseimbangan antara produksi dan kehilangan panas. Tujuan intervensi adalah termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: suhu tubuh membatasi (36,5-37,5°C), tidak ada takikardi, tidak ada takipnea, tidak ada menggigil, kulit tidak kemerahan, dan pasien melaporkan rasa nyaman. Indikator yang diharapkan tercapai dalam 3x24 jam: suhu aksila <37,5°C, frekuensi nadi 80-100x/menit, frekuensi napas 20-30x/menit, dan tidak ada perubahan warna kulit.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk menurunkan suhu tubuh pasien yang mengalami peningkatan suhu di atas normal. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi penyebab hipertermia (seperti infeksi virus campak, dehidrasi, atau paparan lingkungan panas); (2) Monitor suhu tubuh setiap 2-4 jam menggunakan termometer yang telah dikalibrasi; (3) Berikan kompres hangat pada area aksila, lipat paha, dan dahi selama 15-20 menit untuk membantu vasodilatasi perifer dan meningkatkan penguapan panas; (4) Anjurkan pasien untuk minum air hangat 150-200 ml setiap 2 jam untuk mencegah dehidrasi dan membantu termoregulasi; (5) Berikan antipiretik sesuai order medis (parasetamol 10-15 mg/kgBB setiap 4-6 jam) untuk menurunkan set point hipotalamus; (6) Longgarkan pakaian pasien dan gunakan selimut tipis agar panas tubuh mudah terlepas; (7) Atur suhu ruangan 24-26°C dengan ventilasi yang baik; (8) Kolaborasi pemberian cairan intravena jika terdapat tanda dehidrasi berat. Tindakan observasi meliputi: monitor tanda-tanda vital (nadi, napas, tekanan darah) setiap 2 jam, monitor asupan dan haluaran cairan, serta monitor efek samping antipiretik seperti iritasi lambung. Tindakan edukasi meliputi: ajarkan orang tua cara mengukur suhu di rumah, tanda bahaya demam tinggi (kejang, penurunan kesadaran), dan pentingnya memberikan cairan yang cukup. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan suhu tubuh sebelum dan sesudah intervensi, serta menilai respons klinis pasien terhadap terapi.
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit pada Anak dengan Ruam Campak
Kode SDKI: D.0136
Deskripsi Singkat: Gangguan integritas kulit adalah kerusakan pada epidermis dan/atau dermis yang dapat disebabkan oleh faktor mekanis, termal, kimiawi, atau infeksi. Pada campak, ruam makulopapular merah yang dimulai dari belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh menyebabkan kerusakan lapisan kulit superfisial. Ruam ini terjadi akibat respons imun terhadap virus yang menginfeksi sel endotel kapiler dan sel epitel kulit. Bintik Koplik di mukosa mulut juga merupakan lesi patognomonik yang menunjukkan kerusakan mukosa oral. Kulit yang rusak menjadi portal masuk bagi bakteri patogen sekunder seperti Streptococcus atau Staphylococcus, yang dapat menyebabkan komplikasi seperti impetigo atau selulitis.
Kode SLKI: L.14125
Deskripsi : Integritas Kulit adalah kondisi kulit yang utuh, lembap, elastis, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan seperti eritema, ekskoriasi, atau lesi. Kriteria hasil yang diharapkan: keutuhan kulit kembali normal dalam 5-7 hari, tidak ada eritema atau ruam baru, tidak ada ekskoriasi atau ulserasi, turgor kulit baik, dan pasien tidak mengeluh gatal. Indikator spesifik: ruam mulai memudar pada hari ke-4 setelah erupsi, tidak ada tanda infeksi sekunder seperti pustul atau krusta, dan mukosa mulut tidak nyeri saat makan.
Kode SIKI: I.11353
Deskripsi : Perawatan Integritas Kulit adalah serangkaian intervensi untuk mempertahankan dan memperbaiki keutuhan kulit serta mencegah kerusakan lebih lanjut. Intervensi utama: (1) Identifikasi faktor penyebab kerusakan kulit (ruam campak, gesekan pakaian, garukan akibat gatal); (2) Jaga kebersihan kulit dengan mandi menggunakan air hangat (suhu 37-38°C) dan sabun pH netral tanpa pewangi, keringkan dengan handuk lembut dengan cara menepuk-nepuk (jangan menggosok); (3) Oleskan losion calamine atau bedak talk pada area ruam untuk mengurangi rasa gatal dan menjaga kulit tetap kering; (4) Potong kuku pasien pendek dan haluskan ujungnya untuk mencegah cedera akibat garukan; (5) Berikan pakaian katun yang longgar, bersih, dan menyerap keringat untuk mengurangi iritasi; (6) Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan alihkan perhatian dengan aktivitas bermain ringan; (7) Lakukan perawatan mulut (oral hygiene) dengan kumur air garam hangat (1/2 sendok teh garam dalam 200 ml air) 3-4 kali sehari untuk mengatasi bintik Koplik dan mencegah stomatitis; (8) Berikan pelembap kulit (emollient) yang bebas alkohol setelah mandi untuk menjaga hidrasi kulit; (9) Kolaborasi pemberian antihistamin (seperti cetirizine sirup) jika gatal mengganggu tidur; (10) Observasi tanda-tanda infeksi sekunder: peningkatan suhu tubuh, ruam menjadi pustul, atau muncul selulitis. Edukasi kepada orang tua: ajarkan cara memandikan yang benar, pentingnya menjaga kebersihan tangan, dan tanda-tanda yang memerlukan kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan.
Kondisi: Risiko Infeksi pada Anak dengan Campak
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan di mana seseorang berisiko mengalami invasi dan multiplikasi mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Pada campak, virus Morbili menyebabkan imunosupresi sementara dengan menekan respons imun seluler (limfosit T) dan humoral, sehingga pasien sangat rentan terhadap infeksi sekunder seperti pneumonia, otitis media, diare, dan ensefalitis. Ruam kulit yang rusak dan mukosa oral yang mengalami bintik Koplik menjadi pintu masuk bakteri. Selain itu, batuk kering dan mata merah (konjungtivitis) juga meningkatkan risiko infeksi saluran napas dan mata. Demam tinggi yang berkepanjangan juga menurunkan daya tahan tubuh secara umum.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Status Imun adalah kemampuan tubuh untuk melawan mikroorganisme patogen dan mencegah terjadinya infeksi. Kriteria hasil: tidak ada tanda-tanda infeksi (suhu normal, tidak ada pus, tidak ada eritema baru), kadar leukosit dalam batas normal (5-15 x10³/µL untuk anak usia 5 tahun), tidak ada batuk produktif, tidak ada sekret mata purulen, dan nafsu makan membaik. Indikator yang diharapkan dalam 7 hari: tidak terjadi komplikasi pneumonia (tidak ada sesak napas, tidak ada ronkhi), tidak terjadi otitis media (tidak ada nyeri telinga, tidak ada drainase), dan tidak terjadi diare persisten.
Kode SIKI: I.14517
Deskripsi : Pencegahan Infeksi adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk mengurangi risiko masuknya mikroorganisme patogen ke dalam tubuh pasien yang rentan. Intervensi utama: (1) Identifikasi faktor risiko infeksi (imunosupresi akibat campak, kerusakan kulit, usia anak, status gizi); (2) Lakukan cuci tangan sesuai standar 6 langkah WHO sebelum dan sesudah kontak dengan pasien; (3) Gunakan sarung tangan bersih saat melakukan perawatan kulit atau mukosa; (4) Jaga kebersihan lingkungan tempat tidur, ganti linen setiap hari atau jika basah/ kotor; (5) Berikan nutrisi adekuat (makanan tinggi kalori dan protein, seperti bubur ayam, telur, susu) untuk mendukung respons imun; (6) Berikan suplementasi vitamin A sesuai rekomendasi WHO (kapsul vitamin A 100.000 IU dosis tunggal untuk anak usia 6-11 bulan, atau 200.000 IU untuk anak ≥12 bulan) karena vitamin A terbukti menurunkan morbiditas dan mortalitas campak; (7) Anjurkan pasien untuk menggunakan masker jika batuk untuk mencegah penularan droplet; (8) Lakukan isolasi droplet (ruang isolasi atau jarak tempat tidur minimal 1 meter dari
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596