Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25425 | 02 May 2026
Klinis : Pasien kontrol poli post OP Tumor sigmoid datang ke IGD RSSP dengan keluhan terdapat lemes, muntah 3x, dan nyeri post op. Objective* KU: sedang Kesadaran: CM, GCS E4V5M6 TD: 70/41 mmHg HR: 107x/menit RR: 20x/menit S: 36 C SpO2: 98% Pemeriksaan Fisik Kepala: ta.k Wajah: t.a.k Mata: konjungtiva anemis (-/-) Telinga: t.a.k Hidung: t.a.k Leher: t.a.k Thoraks: t.a.k Abdomen: I: distended (-) A: BU (+) P: timpani (+) P: NT (-) Ekstremitas: akral dingnj, CRT <2" _Laboratorium RSSP Sragen 1/05/26_ Hb: 11.76 g/dL Eritrosit: 4.91 juta/µL Hematokrit: 35.7% Leukosit: 23.68 ribu/µL Trombosit: 536 ribu/µL GDS: 168 mg/dL Ureum: 132.0 mg/dL Kreatinin: 8.88 mg/dL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipotensi Ortostatik / Risiko Syok Hipovolemik
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.02023
Deskripsi : Tingkat syok hipovolemik adalah status hemodinamik pasien yang menunjukkan kemampuan tubuh dalam mempertahankan perfusi jaringan dan fungsi organ vital akibat kehilangan volume cairan sirkulasi. Pada pasien ini, terdapat tanda-tanda syor hipovolemik yang jelas: tekanan darah sangat rendah (70/41 mmHg), takikardia (HR 107x/menit), akral dingin, dan keluhan lemas. Pasien pasca operasi tumor sigmoid dengan muntah 3 kali berisiko tinggi mengalami dehidrasi berat dan kehilangan volume cairan. Peningkatan ureum (132 mg/dL) dan kreatinin (8.88 mg/dL) menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal akut akibat hipoperfusi renal. Leukositosis (23.68 ribu/µL) dan trombositosis (536 ribu/µL) dapat mengindikasikan respons inflamasi sistemik atau kemungkinan infeksi. Tujuan intervensi keperawatan adalah memulihkan volume cairan intravaskuler, memperbaiki perfusi jaringan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti gagal ginjal akut atau syok ireversibel. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tekanan darah stabil (sistol >90 mmHg), denyut nadi normal (60-100x/menit), produksi urine adekuat (>0.5 mL/kg/jam), akral hangat, CRT <2 detik, kesadaran membaik, serta nilai ureum dan kreatinin menurun. Pasien juga perlu dipantau terhadap tanda-tanda perdarahan aktif atau infeksi intraabdomen yang mungkin menjadi sumber kehilangan cairan.
Kode SIKI: I.03115
Deskripsi : Manajemen syok hipovolemik adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi penurunan volume cairan intravaskuler secara cepat dan tepat. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor status hemodinamik secara kontinu (tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, suhu, SpO2, dan tingkat kesadaran) setiap 15-30 menit hingga stabil; (2) Pasang akses intravena dengan ukuran besar (16-18G) untuk resusitasi cairan cepat; (3) Berikan cairan kristaloid (Ringer Laktat atau NaCl 0.9%) dengan kecepatan tinggi sesuai advis dokter (biasanya 20 mL/kgBB dalam 15-30 menit pertama pada dewasa); (4) Kolaborasi pemberian vasopressor (misal dopamin atau norepinefrin) jika tekanan darah tidak responsif terhadap cairan; (5) Pasang kateter urine untuk memonitor output urine setiap jam sebagai indikator perfusi ginjal; (6) Pertahankan posisi pasien terlentang dengan kaki ditinggikan (Trendelenburg) untuk meningkatkan aliran balik vena; (7) Pantau tanda-tanda perdarahan aktif (perdarahan dari luka operasi, drain, atau saluran cerna) dan laporkan segera; (8) Lakukan pemeriksaan laboratorium serial (Hb, Ht, ureum, kreatinin, elektrolit, dan laktat) untuk mengevaluasi respons terapi; (9) Berikan oksigen 2-4 L/menit via kanul nasal untuk mempertahankan SpO2 >95%; (10) Hindari pemberian cairan dextrose atau hipotonik karena tidak efektif mengisi volume intravaskuler; (11) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya tirah baring dan pelaporan segera jika ada keluhan pusing, mual, atau pandangan kabur; (12) Dokumentasikan semua intervensi, respons pasien, dan hasil pemantauan secara akurat dan tepat waktu. Evaluasi dilakukan setiap 15 menit setelah inisiasi resusitasi cairan untuk menilai perbaikan hemodinamik. Jika dalam 30-60 menit tidak ada respons, perlu dipertimbangkan kebutuhan transfusi darah atau intervensi bedah untuk menghentikan sumber perdarahan. Manajemen syok hipovolemik pada pasien pasca operasi tumor sigmoid harus dilakukan secara multidisiplin, melibatkan dokter bedah, anestesi, dan perawat intensif untuk hasil yang optimal.
Kondisi: Mual (Nausea) Post Operasi
Kode SDKI: D.0076
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman di daerah lambung yang tidak diikuti keinginan untuk muntah, namun pada kasus ini sudah terjadi muntah 3 kali.
Kode SLKI: L.08065
Deskripsi : Tingkat mual adalah kondisi subjektif yang dialami pasien terkait sensasi ingin muntah, yang diukur melalui frekuensi, durasi, intensitas, dan dampaknya terhadap aktivitas. Pada pasien ini, mual telah berkembang menjadi muntah 3 kali, yang memperburuk kondisi hipovolemia dan ketidakseimbangan elektrolit. Pasien pasca operasi abdomen sering mengalami mual akibat efek anestesi, manipulasi usus, nyeri, atau penggunaan opioid. Muntah berulang dapat menyebabkan dehidrasi, hipokalemia, alkalosis metabolik, dan aspirasi. Tujuan intervensi adalah mengurangi sensasi mual dan mencegah muntah lebih lanjut. Kriteria hasil meliputi: pasien melaporkan penurunan skala mual (skala 0-10 menurun dari >5 menjadi <3), frekuensi muntah berkurang (0-1 kali dalam 24 jam), pasien mampu menoleransi asupan oral sedikit demi sedikit, tidak ada tanda dehidrasi (turgor kulit baik, membran mukosa lembab), dan pasien menunjukkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi mual (napas dalam, akupresur). Pada pasien ini, prioritas utama adalah mengatasi syok hipovolemik terlebih dahulu, namun penanganan mual tetap penting untuk mencegah kehilangan cairan lebih lanjut dan meningkatkan kenyamanan. Pemantauan asupan dan haluaran cairan harus ketat, serta keseimbangan elektrolit perlu diperiksa untuk koreksi.
Kode SIKI: I.05178
Deskripsi : Manajemen mual adalah tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mengendalikan sensasi mual serta mencegah komplikasi yang terkait. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi: (1) Kaji karakteristik mual (frekuensi, durasi, intensitas, faktor pencetus) dan muntah (volume, warna, konsistensi, isi); (2) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, produksi urine) dan elektrolit; (3) Berikan posisi semi-Fowler atau duduk saat pasien merasa mual untuk mengurangi tekanan pada diafragma dan mencegah aspirasi; (4) Kolaborasi pemberian antiemetik sesuai advis dokter (misal ondansetron 4-8 mg IV, metoklopramid 10 mg IV, atau deksametason) yang efektif untuk mual pasca operasi; (5) Berikan oksigen 2-4 L/menit karena hipoksia dapat memperburuk mual; (6) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam (slow deep breathing) dengan frekuensi 6-8 napas per menit untuk merangsang saraf vagus dan mengurangi sensasi mual; (7) Kompres dingin pada dahi atau leher belakang dapat memberikan efek menenangkan; (8) Hindari bau yang menyengat (makanan, parfum, asap rokok) yang dapat memicu mual; (9) Berikan asupan oral bertahap mulai dari air putih sedikit-sedikit (5-10 mL setiap 15-30 menit), jika toleran lanjutkan dengan cairan jernih (kaldu, jus apel) dalam jumlah kecil; (10) Jaga kebersihan mulut setelah muntah untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan mencegah iritasi mukosa; (11) Monitor efek samping antiemetik seperti sedasi berlebih, ekstrapiramidal, atau perubahan irama jantung; (12) Edukasi pasien untuk segera melaporkan jika mual muncul kembali atau muntah terjadi, serta ajarkan teknik distraksi (mendengarkan musik, menonton TV) untuk mengalihkan perhatian. Dokumentasikan respons terhadap intervensi setiap 4 jam atau lebih sering jika mual berat. Evaluasi keberhasilan ditandai dengan penurunan frekuensi muntah dan peningkatan toleransi asupan oral dalam 24 jam.
Kondisi: Nyeri Akut Post Operasi
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual (insisi bedah) yang terjadi secara tiba-tiba atau intensitasnya berat.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat nyeri adalah kondisi subjektif yang dialami pasien terkait sensasi tidak nyaman akibat kerusakan jaringan, yang diukur menggunakan skala numerik (0-10), skala wajah (Wong-Baker), atau skala deskriptif. Pasien pasca operasi tumor sigmoid mengalami nyeri akut akibat luka insisi, manipulasi usus, dan respons inflamasi. Nyeri yang tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi hemodinamik (meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah), menghambat mobilisasi, meningkatkan risiko komplikasi tromboemboli, dan memperlambat penyembuhan luka. Tujuan intervensi adalah menurunkan intensitas nyeri hingga skala <3 (nyeri ringan) dalam 24 jam pertama, pasien dapat beristirahat dengan nyaman, mampu melakukan napas dalam dan batuk efektif tanpa
Article No. 25426 | 02 May 2026
Klinis : No Data Subjektif Data Objektif Masalah Keperawatan 1 Pasien mengatakan nyeri perut bawah, muncul tiba tiba, nyeri dirasakan seperti ditusuk, dengan skala nyeri 6/10, nyeri dirasakan terus menerus walaupun sudah minum obat penghilang nyeri Pemeriksaan fisik: Ku: Nampak sakit dan gelisah, ekspresi nampak meringis dan memegang perut bawah. TD: 110/82 mmHg, Suhu: 36.70C, Nadi: 105menit, RR: 22x/menit, SpO2 98%, GCS: 15 I: pasien nampak meringis, gelisah dan memegang perut bawah A: bising usus dalam batas normal P: terdapat nyeri tekan pada suprapubik P: bunyi timpani abdomen normal Riwayat pengobatan sebelumnya: - Pemeriksaan Penunjang: Urine lengkap: Warna kuning keruh, protein +, darah samar +, lekosit esterase +++, leukosit >50/LPB, bakteri ++ Pengobatan saat ini: Paracetamol 500 mg tablet/ 8 jam Nyeri akut 2 Pasien mengatakan mual dan muntah sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, muntah >5x, dan merasa pusing, nafsu makan berkurang, nyeri ulu hati I: pasien nampak lemah, ekspresi meringis porsi makan tidak dihabiskan A: bising usus dalam batas normal P: terdapat nyeri tekan epigestric P: bunyi timpani Penunjang: - Riwayat pengobatan sebelumnya: - Pengobatan saat ini: Ondancentron 8mg/8 jam Sucralfat syrup 10 ml/8 jam Lansoprazole 30 mg/24 jam Ranitidine injeksi 50 mg/12 jam Nausea 3 Pasien mengatakan muntah >5x/hari Pemeriksaan Penunjang: Natrium 122 mmol/L Kalium 3.3 mmol/L Klorida 82 mmo/L Riwayat pengobatan sebelumnya: - Pengobatan saat ini: Bicnat / 6 jam KSR / 8 jam Resiko Ketidakseimbangan Elektrolit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: