Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23768 | 21 Jan 2026
Klinis : Seorang anak laki laki usia 9 tahun dibawa ke poli tumbuh kembang karena anaknya sulit mengikuti Pelajaran disekolah, sering membutuhkan bantuan saat mandi dan berpakaian, sulit beriteraksi dengan temannya. Hasil pemeriksaan psikologis menunjukan IQ; 45 serta gangguan fungsi adaptif, sosial dan perawatan diri. Apakah masalah keperawatan yang tepat pada kasus tersebut? a. Kerusakan integritas kulit b. Defisit perawatan diri c. Gangguan perfusi jaringan d. Intoleransi aktivitas e. Nyeri Akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Perawatan Diri
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Defisit Perawatan Diri adalah keadaan ketika individu mengalami ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri (mandi, berpakaian, toileting, makan) secara mandiri dan memadai, yang dapat disebabkan oleh gangguan fisik, kognitif, atau psikososial. Pada kasus ini, defisit perawatan diri terkait dengan gangguan perkembangan intelektual (IQ 45) dan gangguan fungsi adaptif, yang ditandai dengan anak sering membutuhkan bantuan saat mandi dan berpakaian.
Kode SLKI: L.14001 - L.14008
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk Defisit Perawatan Diri terdiri dari serangkaian luaran yang diharapkan. Secara umum, luaran yang dituju adalah klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri sesuai kemampuannya. Beberapa indikator kunci yang relevan dengan kasus ini meliputi: Klien menunjukkan kemauan untuk melakukan perawatan diri (L.14001), klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri dengan bantuan sesuai kebutuhan (L.14002), dan klien mampu menggunakan alat bantu untuk aktivitas perawatan diri jika diperlukan (L.14003). Pada anak dengan gangguan perkembangan intelektual, tujuannya bukanlah kemandirian penuh seperti anak seusianya, tetapi optimalisasi kemampuan sesuai potensi dan peningkatan partisipasi dalam aktivitas perawatan diri dengan bimbingan dan dukungan. Luaran juga mencakup peningkatan rasa percaya diri dan harga diri klien karena mampu melakukan tugas-tugas tersebut (L.14008). Perawat mengevaluasi pencapaian luaran ini dengan skala dari 1 (tidak pernah) hingga 5 (selalu).
Kode SIKI: I.13049 - I.13060
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk mengatasi Defisit Perawatan Diri melibatkan intervensi yang komprehensif dan suportif. Intervensi dimulai dengan mengajarkan aktivitas perawatan diri secara bertahap (I.13049), yang berarti memecah aktivitas seperti mandi atau berpakaian menjadi langkah-langkah kecil yang mudah diikuti. Perawat mendemonstrasikan cara melakukan aktivitas (I.13050) dan memberikan latihan yang repetitif. Memberikan pujian dan reinforcement positif atas setiap usaha dan keberhasilan klien sangat penting (I.13051). Perawat juga perlu memodifikasi lingkungan untuk memudahkan klien, seperti menyediakan pakaian yang mudah dipakai (I.13052) dan alat bantu jika diperlukan. Kolaborasi dengan keluarga (I.13055) adalah kunci, dengan mendidik keluarga tentang cara membimbing dan membantu anak tanpa menyebabkan ketergantungan. Selain intervensi langsung untuk perawatan diri, pada kasus ini juga diperlukan intervensi terkait Gangguan Interaksi Sosial (kode SDKI: D.0090) karena anak sulit berinteraksi dengan teman. Intervensi untuk itu termasuk melatih keterampilan sosial (I.25066), memberikan kesempatan untuk interaksi terstruktur, dan kolaborasi dengan terapis. Pendekatan holistik dengan menggabungkan intervensi untuk defisit perawatan diri dan interaksi sosial akan lebih efektif dalam menangani kebutuhan anak secara keseluruhan, dengan selalu mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif dan kemampuan adaptif anak.
-
Article No. 23769 | 21 Jan 2026
Klinis : Bayi usia 7 bulan dengan PJB dirawat karena sesak napas yang semakin memberat. Pemeriksaan menunjukkan edema tungkai, hepatomegali, takipnea, dan nadi lemah. Orang tua menyatakan bayi tampak lebih rewel sejak dua hari terakhir. Apakah Diagnosis keperawatan utama pada kasus tersebut? Diagnosis keperawatan utama berdasarkan SDKI adalah: a. Pola napas tidak efektif b. Kelebihan volume cairan c. Gangguan perfusi jaringan d. Penurunan curah jantung e. Risiko gangguan keseimbangan cairan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung adalah keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada kasus bayi 7 bulan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB), kondisi ini merupakan inti dari masalah. PJB menyebabkan kelainan struktural jantung yang mengganggu efisiensi pompa jantung. Manifestasi klinis seperti sesak napas yang memberat, takipnea, nadi lemah, edema tungkai, dan hepatomegali semuanya merupakan konsekuensi dari kegagalan jantung dalam memompa darah secara efektif. Curah jantung yang menurun menyebabkan aliran darah ke jaringan berkurang (mengarah pada gangguan perfusi), sementara darah "tertahan" atau mengalami kongesti di pembuluh balik (vena) yang mengakibatkan kelebihan volume cairan. Oleh karena itu, "Penurunan Curah Jantung" dianggap sebagai diagnosis keperawatan utama karena menjadi penyebab patofisiologis langsung dari sebagian besar gejala yang dialami pasien.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk Penurunan Curah Jantung berfokus pada upaya mempertahankan atau meningkatkan curah jantung agar memadai untuk perfusi jaringan. Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: (1) Memantau tanda-tanda vital, status pernapasan, dan oksigenasi secara ketat untuk mendeteksi perubahan dini. (2) Memposisikan bayi dengan kepala lebih tinggi (semi-Fowler) untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi beban jantung. (3) Mengatur pemberian cairan dan obat-obatan (seperti diuretik, inotropik) sesuai resep dokter dengan ketat untuk mengurangi beban volume dan meningkatkan kontraktilitas jantung. (4) Meminimalkan stres dan kebutuhan energi bayi dengan mengatur lingkungan yang tenang, melakukan perawatan terkonsolidasi, dan memfasilitasi istirahat yang cukup. (5) Memantau balance cairan (intake dan output) serta tanda-tanda kelebihan cairan seperti edema dan berat badan. (6) Memberikan edukasi dan dukungan emosional kepada orang tua mengenai kondisi bayi, perawatan, dan tanda-tanda kegawatan yang perlu dilaporkan. Tujuan akhirnya adalah tercapainya tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia, penurunan gejala kongesti (edema, hepatomegali), serta peningkatan perfusi perifer yang ditandai dengan nadi yang kuat dan pengisian kapiler yang baik.
Kode SIKI: I.08006, I.08007, I.08008, I.08009, I.09002
Deskripsi : SIKI merupakan kriteria hasil yang diharapkan dari pelaksanaan SLKI. Pada kasus ini, kriteria hasil yang ingin dicapai meliputi: (1) I.08006: Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang berarti frekuensi jantung, pernapasan, dan tekanan darah bayi stabil sesuai usia, menunjukkan beban kerja jantung yang berkurang. (2) I.08007: Nadi perifer teraba kuat dan simetris, menunjukkan peningkatan curah jantung dan aliran darah ke ekstremitas. (3) I.08008: Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, sebagai indikator memadainya perfusi jaringan perifer. (4) I.08009: Kulit hangat dan kering, yang mencerminkan sirkulasi perifer yang baik dan tidak adanya vasokonstriksi kompensasi yang ekstrem. (5) I.09002: Tidak menunjukkan tanda-tanda kelebihan volume cairan seperti edema, hepatomegali, dan bunyi napas tambahan (ronkhi/krekels). Pencapaian SIKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil dalam menangani penurunan curah jantung, mengurangi gejala kongestif, dan akhirnya meningkatkan kenyamanan serta status klinis bayi. Pemantauan terus-menerus terhadap SIKI ini menjadi evaluasi objektif keberhasilan asuhan keperawatan.
-
Article No. 23770 | 21 Jan 2026
Klinis : Seorang anak laki-laki usia 3 tahun datang ke poli tumbuh kembang dengan keluhan belum bisa berkomunikasi dengan baik, anak hanya bisa berkomunikasi dengan mengucapkan 3-4 kata saja. Hasil pengkajian didapatkan bahwa ayah dan ibunya jarang mengajak anaknya berbicara karena sibuk bekerja. Apakah intervensi yang tepat pada kasus tersebut? a. Menganjurkan ibu untuk membawa anak ke sekolah luar biasa b. Mengajari anak untuk belajar Bahasa yang berbeda supaya lebih pandai c. Menganjurkan ibu untuk sering melatih anak berkomunikasi dan belajar kata baru. d. Menstimulasi anak dengan memberikan banyak mainan. e. Menganjurkan ibu supaya mempercayakan anak pada petugas Kesehatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perkembangan Bahasa dan Bicara Tertunda
Kode SDKI: 00262
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pada kemampuan menerima dan mengekspresikan bahasa, termasuk bentuk verbal, nonverbal, dan tertulis, yang dapat memengaruhi komunikasi dan interaksi sosial.
Kode SLKI: 0900
Deskripsi : Perkembangan Komunikasi. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi pasien, baik secara reseptif (memahami) maupun ekspresif (menyampaikan). Pada kasus anak usia 3 tahun, kriteria hasil yang diharapkan meliputi: anak mampu memahami instruksi sederhana, kosakata bertambah sesuai usia, anak mulai merangkai dua kata atau lebih, anak menggunakan komunikasi verbal untuk menyampaikan kebutuhan, serta meningkatnya frekuensi dan kualitas interaksi komunikasi dengan orang tua atau pengasuh. SLKI ini menjadi pedoman untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan yang diberikan.
Kode SIKI: 4310
Deskripsi : Terapi Permainan: Kognitif. Intervensi ini merupakan penggunaan aktivitas permainan yang terencana dan bertujuan untuk meningkatkan perkembangan kognitif, termasuk perkembangan bahasa dan bicara. Pada kasus ini, SIKI 4310 diimplementasikan dengan tindakan-tindakan spesifik yang terstruktur. Pertama, perawat melakukan asesmen lebih mendalam tentang pola komunikasi di rumah, preferensi anak, dan tahap perkembangan saat ini. Kedua, perawat mendemonstrasikan dan mengajarkan teknik stimulasi bahasa melalui permainan kepada orang tua (ibu/ayah), seperti: (1) Teknik paralel talk, yaitu orang tua mengucapkan kata yang menggambarkan apa yang sedang dilakukan anak (misal, "Adik sedang menyusun balok merah"). (2) Teknik self-talk, yaitu orang tua mengucapkan kata yang menggambarkan apa yang mereka sendiri lakukan (misal, "Ibu sedang melipat baju adik"). (3) Teknik ekspansi, yaitu ketika anak mengucapkan satu kata (contoh: "bola"), orang tua merespons dengan merangkainya menjadi frasa ("Ya, bola merah adik"). (4) Membacakan buku cerita bergambar dengan intonasi menarik dan menunjuk gambar sambil menyebutkan namanya. (5) Bermain pura-pura (pretend play) seperti telepon-teleponan atau masak-masakan yang mendorong anak untuk berbicara. Ketiga, perawat menganjurkan orang tua untuk menyediakan waktu khusus, konsisten, dan bebas dari gangguan (seperti gadget) setiap hari untuk bermain dan berbicara dengan anak. Keempat, perawat memberikan reinforcement positif (pujian, pelukan) setiap kali anak berusaha mengucapkan kata baru. Kelima, perawat dapat merujuk ke tenaga profesional lain seperti terapis wicara jika setelah intervensi intensif di rumah tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan. Intervensi ini berfokus pada pemberdayaan orang tua sebagai agen stimulasi utama di lingkungan rumah, menciptakan pengalaman belajar bahasa yang kaya, alami, dan menyenangkan bagi anak.
-
Article No. 23771 | 21 Jan 2026
Klinis : Pasien dibawa orangtuanya dengan keluhan kejang saat di rumah, selama <20 menit, kaku pada kaki dan tangan, mata ke atas. Demam sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan BAB cair selama 3 hari, hari ini BAB cair sebanyak 4x, ampas sedikit, warna kuning, darah (-). Setelah kejang, pasien merasa lemas hingga saat ini Pasien tampak sangat lemas GCS : E1V1M1 N : 188 x menit RR : 27x /menit Temp : 40.1 C SpO² : 95% RA BB : 6,6 Kg
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ensefalopati Pasca Kejang Demam Kompleks dengan Gastroenteritis Akut dan Dehidrasi
Kode ICD-10: R56.8 (Kejang demam lainnya dan tidak spesifik) & A09.0 (Gastroenteritis dan kolitis yang tidak diketahui asalnya, infeksius)
Deskripsi Singkat : Pasien anak dengan status pasca kejang demam kompleks yang berlangsung lama (>15 menit) dan disertai dengan penurunan kesadaran berat (GCS 3). Kejang bersifat fokal (kaku pada kaki dan tangan, mata ke atas). Kondisi ini dipicu oleh demam tinggi yang berasal dari infeksi saluran cerna akut (gastroenteritis) dengan gejala BAB cair berulang, menyebabkan risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit yang dapat memperberat kejang. Kode R56.8 mencakup kejang yang dipicu demam pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun yang tidak memenuhi kriteria epilepsi. Kode A09.0 menggambarkan gastroenteritis infeksius akut yang menjadi penyebab dasar demam. Kombinasi kedua kondisi ini, terutama dengan durasi kejang yang panjang dan penurunan kesadaran pasca-iktal yang berkepanjangan, mengarah pada diagnosis ensefalopati pasca kejang demam, suatu keadaan darurat neurologis yang memerlukan stabilisasi, pengobatan infeksi, dan pengendalian kejang untuk mencegah cedera otak lebih lanjut.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23772 | 21 Jan 2026
Klinis : Pasien dibawa orangtuanya dengan keluhan kejang saat di rumah, selama <20 menit, kaku pada kaki dan tangan, mata ke atas. Demam sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan BAB cair selama 3 hari, hari ini BAB cair sebanyak 4x, ampas sedikit, warna kuning, darah (-). Setelah kejang, pasien merasa lemas hingga saat ini Pasien tampak sangat lemas GCS : E1V1M1 N : 188 x menit RR : 27x /menit Temp : 40.1 C SpO² : 95% RA BB : 6,6 Kg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral dan Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 0028
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: 2401
Deskripsi : Perfusi serebral: Tekanan darah sistolik dan diastolik dalam rentang yang diharapkan, nadi perifer teraba dan kuat, status neurologis dalam batas normal (GCS 15), tidak ada pusing, sakit kepala, atau perubahan perilaku. Pada kasus ini, SLKI ini menjadi tujuan yang ingin dicapai, namun kondisi pasien menunjukkan penyimpangan yang signifikan (GCS E1V1M1=3) yang mengindikasikan perfusi serebral yang sangat tidak efektif.
Kode SIKI: 3410, 3411, 3412, 3413, 3414, 3415, 3416, 3417
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk meningkatkan perfusi serebral meliputi: Memonitor status neurologis (GCS) secara ketat dan berkelanjutan (3410). Memonitor tanda-tanda vital termasuk tekanan darah, nadi, dan pernapasan (3411). Mempertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat (jika tidak ada kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran balik vena (3412). Memonitor nilai analisa gas darah dan saturasi oksigen (SpO2), menjaga jalan napas tetap paten dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan (3413). Memonitor intake dan output cairan untuk menjaga keseimbangan cairan (3414). Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai resep seperti antikejang dan antipiretik (3415). Memberikan edukasi kepada keluarga tentang kondisi pasien dan tanda-tanda bahaya (3416). Menciptakan lingkungan yang tenang dan membatasi stimulasi berlebihan (3417).
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakmampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Regulasi suhu tubuh: Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C), kulit hangat dan kering, tidak menggigil, tidak berkeringat berlebihan. Pada pasien ini, suhu 40.1°C menunjukkan kegagalan regulasi suhu tubuh yang merupakan faktor pencetus kejang demam.
Kode SIKI: 3900, 3901, 3902, 3903, 3904, 3905, 3906
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi hipertermia meliputi: Memonitor suhu tubuh secara berkala (3900). Memberikan kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi (3901). Menganjurkan pemberian cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi (3902). Mengatur suhu lingkungan agar nyaman dan tidak panas (3903). Memberikan terapi oksigen jika diperlukan (3904). Kolaborasi pemberian obat antipiretik sesuai resep (3905). Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang tata laksana demam di rumah dan tanda-tanda kejang (3906).
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan cairan: Tanda-tanda vital dalam batas normal, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, produksi urin adekuat (>1-2 ml/kgBB/jam), tidak ada rasa haus berlebihan. Pasien dengan diare cair 4x/hari dan demam tinggi berisiko tinggi mengalami defisit volume cairan.
Kode SIKI: 4120, 4121, 4122, 4123, 4124, 4125
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah defisit cairan meliputi: Memonitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mata cekung, ubun-ubun, produksi urin) (4120). Memonitor intake dan output cairan secara akurat (4121). Menganjurkan dan membantu pemberian cairan per oral atau intravena sesuai program rehidrasi (4122). Memonitor berat badan setiap hari (4123). Memonitor frekuensi dan konsistensi feses (4124). Kolaborasi pemberian terapi cairan dan obat antidiare sesuai resep (4125).
-
Article No. 23773 | 21 Jan 2026
Klinis : Pasien dibawa orangtuanya dengan keluhan kejang saat di rumah, selama <20 menit, kaku pada kaki dan tangan, mata ke atas. Demam sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan BAB cair selama 3 hari, hari ini BAB cair sebanyak 4x, ampas sedikit, warna kuning, darah (-). Setelah kejang, pasien merasa lemas hingga saat ini Pasien tampak sangat lemas GCS : E1V1M1 N : 188 x menit RR : 27x /menit Temp : 40.1 C SpO² : 95% RA BB : 6,6 Kg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral dan Risiko Syok
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: tingkat kesadaran membaik (GCS mendekati normal), tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak ada kejang berulang, dan fungsi neurologis membaik.
Kode SIKI: 3401, 3402, 3403, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan perfusi serebral meliputi: (3401) Memonitor status neurologis (GCS) secara ketat dan berkelanjutan untuk mendeteksi perubahan sedini mungkin. (3402) Memonitor tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, Pernapasan) secara teratur, mengingat pasien dengan suhu sangat tinggi (40.1°C) dan takikardia (N:188x/menit) berisiko tinggi terhadap penurunan perfusi. (3403) Mempertahankan jalan napas paten dengan posisi yang tepat dan siap melakukan suction untuk mencegah hipoksia yang memperburuk kerusakan otak. (3404) Memberikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen (SpO2) optimal >95%. (3405) Mengatur posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat (kecuali ada kontraindikasi syok) untuk meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi tekanan intrakranial. (3406) Meminimalkan stimulasi lingkungan (suara, cahaya, sentuhan yang tidak perlu) untuk mencegah peningkatan tekanan intrakranial dan memicu kejang. (3407) Memonitor dan mengelola kejang dengan pemberian obat antikonvulsan sesuai instruksi dokter dan melindungi pasien dari cedera selama kejang. (3408) Memonitor keseimbangan cairan dan elektrolit, mengingat pasien juga mengalami diare yang dapat menyebabkan dehidrasi dan memperburuk perfusi serebral.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal, ditandai dengan: suhu tubuh 36,5-37,5°C, kulit hangat dan tidak berkeringat, serta tidak ada menggigil.
Kode SIKI: 3901, 3902, 3903, 3904, 3905, 3906
Deskripsi : Intervensi untuk menurunkan suhu tubuh dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti kejang berulang meliputi: (3901) Memonitor suhu tubuh secara teratur untuk mengevaluasi efektivitas intervensi penurunan panas. (3902) Memberikan terapi kompres hangat/tepid sponge terutama pada area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi untuk meningkatkan pelepasan panas secara konduksi dan evaporasi. (3903) Memberikan lingkungan yang nyaman (sirkulasi udara baik, suhu ruangan sejuk, pakaian tipis dan menyerap keringat). (3904) Meningkatkan asupan cairan secara oral atau parenteral sesuai kondisi untuk mencegah dehidrasi dan membantu regulasi suhu. (3905) Memberikan terapi farmakologis (antipiretik) sesuai instruksi dokter, seperti parasetamol, dengan dosis tepat berdasarkan berat badan (6,6 kg). (3906) Memonitor tanda-tanda kejang karena hipertermia merupakan faktor pencetus utama pada pasien ini, dan segera lakukan tindakan jika kejang muncul.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, atau intraselular.
Kode SLKI: 1501
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai, ditandai dengan: turgor kulit baik, membran mukosa lembab, produksi urin adekuat (>1-2 ml/kgBB/jam), tanda-tanda vital stabil, dan tidak ada peningkatan frekuensi diare.
Kode SIKI: 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2006
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah dan mengatasi defisit volume cairan akibat kombinasi hipertermia dan diare akut meliputi: (2001) Memonitor tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit, mata cekung, ubun-ubun (pada bayi), dan keadaan membran mukosa mulut. (2002) Memonitor asupan dan haluaran cairan secara akurat, termasuk mencatat frekuensi, volume, dan karakteristik BAB cair. (2003) Memonitor tanda-tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) sebagai indikator status volume cairan. (2004) Memberikan cairan rehidrasi oral (seperti oralit) atau terapi rehidrasi intravena sesuai instruksi dokter dan kondisi pasien. (2005) Memberikan nutrisi sesuai toleransi, melanjutkan ASI/pemberian makan secara bertahap setelah kondisi membaik. (2006) Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit dan hematokrit) untuk menilai derajat dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0036
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Cedera tidak terjadi, ditandai dengan: tidak ada trauma fisik selama perawatan, kulit utuh, dan tidak ada kejadian jatuh atau benturan.
Kode SIKI: 6501, 6502, 6503, 6504
Deskripsi : Intervensi untuk melindungi pasien dari cedera, terutama terkait dengan risiko kejang berulang dan penurunan kesadaran (GCS: E1V1M1=3) meliputi: (6501) Menggunakan pengaman tempat tidur (side rail) yang selalu terpasang dan dalam posisi terangkat untuk mencegah pasien terjatuh. (6502) Menjaga lingkungan aman dari benda-benda tajam atau keras di sekitar pasien. (6503) Jika kejang terjadi, lakukan tindakan dengan mempertahankan jalan napas, membaringkan pasien pada posisi miring, melonggarkan pakaian, dan tidak memasukkan apapun ke dalam mulut. (6504) Mendampingi pasien terus-menerus mengingat kondisi kesadaran yang sangat menurun, untuk mengantisipasi kejang dan mencegah aspirasi.
-
Article No. 23774 | 21 Jan 2026
Klinis : perfusi perifer tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html