Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25429 | 03 May 2026
Klinis : promosi koping
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Promosi Koping
Kode SDKI: D.0008
Deskripsi Singkat: Promosi Koping adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kesiapan individu untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola stresor internal maupun eksternal, mengembangkan strategi adaptasi yang efektif, serta memperkuat kesejahteraan psikologis dan sosial. Diagnosis ini bersifat aktual atau potensial pada individu yang menunjukkan pola koping yang konstruktif namun memiliki keinginan atau potensi untuk ditingkatkan lebih lanjut. Individu dengan kondisi ini biasanya sudah memiliki mekanisme koping yang positif, seperti mencari dukungan sosial, melakukan relaksasi, atau menyelesaikan masalah secara aktif, tetapi masih terbuka terhadap pembelajaran dan pengembangan strategi baru. Faktor yang mendukung promosi koping meliputi keyakinan diri yang kuat, dukungan dari lingkungan, sumber daya yang memadai, serta pengalaman sebelumnya dalam mengatasi kesulitan. Diagnosis ini berbeda dari koping defensif atau koping inefektif karena tidak menunjukkan tanda-tanda maladaptasi atau penolakan terhadap realitas. Sebaliknya, individu dengan promosi koping cenderung memiliki kesadaran yang baik terhadap kondisi mereka, mampu mengartikulasikan perasaan, dan aktif mencari cara untuk meningkatkan kualitas hidup. Dalam praktik keperawatan, diagnosis ini penting untuk mengoptimalkan potensi pasien, mencegah timbulnya gangguan psikologis, dan memfasilitasi pertumbuhan pribadi. Perawat berperan sebagai fasilitator yang memberikan edukasi, dukungan, dan sumber daya untuk memperkuat koping yang sudah ada. Penilaian dilakukan melalui wawancara, observasi perilaku, dan skala pengukuran koping. Indikator positif meliputi kemampuan mengidentifikasi stresor, penggunaan strategi koping yang beragam, ekspresi emosi yang tepat, dan keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna. Diagnosis ini juga relevan pada berbagai setting, seperti perawatan kronis, rehabilitasi, atau perawatan paliatif, di mana pasien perlu mempertahankan keseimbangan psikologis di tengah tantangan penyakit.
Kode SLKI: L.09070
Deskripsi : Koping Efektif adalah luaran yang diharapkan pada individu dengan diagnosis promosi koping, yang menggambarkan peningkatan kemampuan dalam mengelola stresor melalui strategi adaptif dan konstruktif. Luaran ini mencakup beberapa kriteria hasil yang terukur, antara lain: (a) Kognitif: Individu mampu mengidentifikasi stresor, memahami respons emosional, dan mengenali sumber daya yang tersedia. (b) Afektif: Individu menunjukkan ekspresi emosi yang sesuai, merasa mampu mengatasi situasi, dan memiliki harapan positif terhadap masa depan. (c) Perilaku: Individu secara aktif menggunakan strategi koping seperti pemecahan masalah, mencari informasi, relaksasi, humor, atau dukungan spiritual. (d) Sosial: Individu mampu mempertahankan hubungan interpersonal yang sehat, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan meminta bantuan saat diperlukan. Skala luaran ini biasanya diukur dengan menggunakan kuesioner atau observasi, dengan rentang dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik). Indikator spesifik meliputi: kemampuan verbalisasi perasaan, frekuensi penggunaan teknik relaksasi, tingkat kecemasan yang menurun, peningkatan kepuasan hidup, dan penurunan gejala somatik terkait stres. Pada pasien dengan promosi koping, target luaran adalah mempertahankan atau meningkatkan skor koping efektif dari tingkat sedang ke tinggi. Intervensi keperawatan difokuskan pada penguatan aspek positif yang sudah ada, bukan koreksi defisit. Oleh karena itu, SLKI Koping Efektif menekankan pada pemberdayaan pasien, pengembangan kesadaran diri, dan optimalisasi jaringan dukungan. Evaluasi dilakukan secara berkala untuk melihat kemajuan, misalnya setiap minggu atau setiap kali intervensi diberikan. Jika luaran tidak tercapai, perawat perlu mengkaji ulang faktor-faktor yang mempengaruhi, seperti adanya stresor baru, kurangnya dukungan, atau hambatan kognitif. Dokumentasi luaran ini penting untuk menunjukkan efektivitas intervensi dan sebagai dasar perencanaan asuhan selanjutnya. Dalam konteks multidisiplin, koping efektif juga berkontribusi pada peningkatan kepatuhan terapi, kualitas hidup, dan penurunan angka readmisi rumah sakit.
Kode SIKI: I.09266
Deskripsi : Edukasi Koping adalah intervensi keperawatan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan individu dalam mengelola stres dan mengembangkan strategi adaptasi yang lebih efektif. Intervensi ini sesuai untuk diagnosis promosi koping, karena bertujuan memperkuat sumber daya internal dan eksternal pasien yang sudah positif. Aktivitas keperawatan dalam edukasi koping meliputi: (1) Pengkajian mendalam terhadap pola koping saat ini, termasuk identifikasi strategi yang sudah berhasil dan area yang perlu ditingkatkan. (2) Memberikan informasi tentang konsep stres, respons tubuh terhadap stres, dan dampak koping terhadap kesehatan. (3) Mengajarkan teknik-teknik spesifik seperti relaksasi progresif, pernapasan dalam, meditasi, visualisasi, atau journaling. (4) Melatih keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan sistematis (identifikasi masalah, cari alternatif, pilih solusi, evaluasi). (5) Mendorong penggunaan dukungan sosial, termasuk keluarga, teman, kelompok dukungan, atau konselor. (6) Membantu pasien menetapkan tujuan yang realistis dan merencanakan langkah-langkah untuk mencapainya. (7) Memfasilitasi ekspresi emosi melalui diskusi terbuka, seni, atau aktivitas rekreatif. (8) Mengintegrasikan aspek spiritual sesuai keyakinan pasien, seperti doa, meditasi, atau refleksi nilai-nilai hidup. (9) Melakukan role-play untuk mensimulasikan situasi stresor dan respons koping yang adaptif. (10) Memberikan umpan balik positif dan penguatan terhadap setiap kemajuan yang dicapai. Intervensi ini dapat dilakukan secara individual atau kelompok, dengan durasi disesuaikan kebutuhan. Frekuensi pertemuan idealnya 2-3 kali per minggu pada tahap awal, kemudian dievaluasi dan dimodifikasi. Perawat perlu menggunakan bahasa yang sederhana, empati, dan non-judgmental. Media pendukung seperti leaflet, video, atau aplikasi mobile dapat digunakan untuk memperkuat pembelajaran. Kolaborasi dengan psikolog, pekerja sosial, atau terapis okupasi juga dianjurkan jika diperlukan. Dokumentasi intervensi mencakup respons pasien, teknik yang diajarkan, tingkat pemahaman, dan rencana tindak lanjut. Keberhasilan intervensi diukur melalui peningkatan skor koping efektif pada SLKI serta observasi langsung terhadap perubahan perilaku. Penting untuk diingat bahwa edukasi koping bukanlah intervensi satu kali, melainkan proses berkelanjutan yang disesuaikan dengan dinamika kondisi pasien. Pada pasien dengan promosi koping, intervensi ini berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat pertumbuhan psikologis dan mencegah regresi ke pola koping yang kurang adaptif. Dengan demikian, perawat berperan sebagai mitra belajar yang mendukung pasien dalam mengoptimalkan potensinya.
-
Article No. 25430 | 03 May 2026
Klinis : Pasien dengan keluhan lemas, perut mengeras seperti papan, sulit BAB. KU lemah TD = 161/91 HR = 95 RR = 29 S = 36.5 SPO2 = 99 NC 5 lpm Status Lokalis R. Abdomen I: distended (+) A: BU (+) meningkat P: hipertimpani (+) P: NT (+), defans muskular (+) Lab RSSP Sragen 02/05/26 HB: 8.39 AE: 2.89 Hmt: 25.0 MCV: 86.6 MCH: 29.0 AL: 7.88 AT: 235 GDS: 140 SGOT: 25 SGPT: 19 UR: 18.0 CR: 0.76 Gol: O (+) BNO Abdomen 3 posisi RSSP 02/05/26 Kesan : • Mengarah gambaran pneumoperitoneum ( Perforasi ) • Illeus obstruksi letak tinggi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Serebral Tidak Efektif berhubungan dengan Perdarahan Intra Abdomen (Perforasi Gaster/Usus) dan Risiko Syok Hipovolemik
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan objektif yang menunjukkan adanya penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke otak akibat gangguan perfusi sistemik. Pada kasus ini, pasien dengan tanda-tanda perforasi abdomen (pneumoperitoneum pada BNO) disertai distensi abdomen, defans muskular, dan nyeri tekan menunjukkan adanya proses inflamasi akut yang dapat menyebabkan perdarahan intraabdomen. Tekanan darah 161/91 (hipertensi) pada awalnya bisa merupakan respons kompensasi terhadap nyeri dan stres, namun dengan nadi 95x/menit dan RR 29x/menit, serta Hb 8.39 g/dL (anemia berat) dan Hmt 25.0%, hal ini mengindikasikan adanya kehilangan darah akut atau kronis yang dapat mengancam perfusi ke otak. Pasien mengeluh lemas yang merupakan salah satu tanda awal penurunan perfusi serebral. Defisit volume cairan dan darah yang tidak segera diatasi akan menyebabkan hipotensi, penurunan kesadaran, dan kerusakan neurologis ireversibel. Diagnosa ini menjadi prioritas karena perforasi organ berongga merupakan kondisi emergensi yang memerlukan intervensi bedah segera untuk mencegah sepsis dan syok.
Kode SLKI: L.02012
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam adalah perfusi serebral meningkat dengan kriteria hasil: (1) Tingkat kesadaran membaik (GCS 15, pasien tidak somnolen), (2) Tekanan darah dalam rentang normal sistolik 100-130 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg (tidak hipertensi atau hipotensi), (3) Nadi dalam rentang 60-100x/menit, (4) Saturasi oksigen >95% tanpa atau dengan oksigen tambahan, (5) Keluhan lemas berkurang, (6) Tidak ada tanda-tanda syok (akral hangat, capillary refill <2 detik, produksi urine >0.5 ml/kgBB/jam), (7) Nilai Hb dan Hmt menunjukkan perbaikan (Hb >10 g/dL, Hmt >30%) setelah terapi cairan dan transfusi. Indikator ini dievaluasi secara berkala setiap jam pada fase akut. Peningkatan perfusi serebral juga ditandai dengan tidak adanya pusing berat, pandangan kabur, atau penurunan respons verbal dan motorik. Pasien diharapkan mampu berorientasi terhadap waktu, tempat, dan orang. Luaran ini sangat relevan mengingat pasien dengan perforasi abdomen berisiko tinggi mengalami sepsis dan ensefalopati metabolik akibat peritonitis.
Kode SIKI: I.02012
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Monitoring tanda-tanda vital setiap 15-30 menit pada fase akut, terutama tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu. Perhatikan tren peningkatan nadi dan penurunan tekanan darah yang mengarah pada syok. (2) Kolaborasi pemberian oksigen nasal kanul 5 LPM untuk mempertahankan SPO2 >95% dan meningkatkan oksigenasi serebral. (3) Pemasangan akses intravena dua jalur (IV line) dengan ukuran besar (16-18G) untuk resusitasi cairan cepat. Berikan cairan kristaloid (RL atau NaCl 0.9%) sesuai advis dokter, awalnya 20 ml/kgBB dalam 30 menit pertama. Pantau respons hemodinamik. (4) Kolaborasi transfusi darah packed red cell (PRC) jika Hb <7 g/dL atau jika pasien menunjukkan tanda syok hemoragik. Hitung kebutuhan berdasarkan BB dan target Hb. (5) Posisikan pasien dengan kepala elevasi 30-45 derajat untuk membantu drainase vena serebral dan menurunkan tekanan intrakranial, namun jika terjadi hipotensi, posisikan trendelenburg atau datar. (6) Lakukan penilaian tingkat kesadaran menggunakan GCS setiap jam. Catat perubahan skor motorik, verbal, dan mata. (7) Ukur produksi urine setiap jam menggunakan kateter urine untuk memantau perfusi ginjal sebagai indikator perfusi organ vital. Target diuresis >30 ml/jam. (8) Kolaborasi persiapan operasi darurat (laparotomi eksplorasi) untuk mengatasi sumber perdarahan dan perforasi. Lakukan puasa total (NPO) dan pasang NGT untuk dekompresi lambung. (9) Edukasi pasien dan keluarga tentang kondisi emergensi dan rencana tindakan. (10) Dokumentasikan semua intervensi dan respons pasien secara akurat untuk evaluasi medis dan keperawatan.
Kondisi: Risiko Peritonitis d.d. Perforasi Organ Berongga (Gaster/Usus) dengan Pneumoperitoneum
Kode SDKI: D.0140
Deskripsi Singkat: Pasien dengan hasil BNO Abdomen 3 posisi yang menunjukkan pneumoperitoneum (udara bebas di rongga peritoneum) merupakan indikasi pasti adanya perforasi pada saluran cerna. Perforasi ini menyebabkan isi usus (termasuk bakteri, asam lambung, enzim pankreas, dan feses) masuk ke dalam rongga peritoneum yang steril, memicu respons inflamasi akut. Data objektif mendukung: perut distended (kembung), defans muskular (kekakuan otot dinding perut sebagai respons protektif terhadap nyeri dan iritasi peritoneum), nyeri tekan (+) pada palpasi, dan bising usus meningkat (awal obstruksi atau iritasi). Pasien juga mengeluh sulit BAB yang bisa disebabkan oleh ileus paralitik akibat peritonitis. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis ringan (AL: 7.88 masih dalam batas normal, namun pada fase awal bisa normal) dan anemia (Hb 8.39). GDS 140 mg/dL menunjukkan hiperglikemia ringan akibat stres metabolik. Risiko peritonitis sangat tinggi karena perforasi yang tidak segera ditangani dalam 6-12 jam dapat menyebabkan sepsis intraabdomen, abses, dan syok septik yang mengancam jiwa. Diagnosa ini menuntut intervensi bedah segera dan terapi antibiotik empiris.
Kode SLKI: L.03019
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan dan medis adalah risiko peritonitis menurun dengan kriteria: (1) Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh (suhu <37.5°C atau tidak demam), (2) Tidak ada tanda-tanda iritasi peritoneum baru seperti nyeri lepas (rebound tenderness) atau nyeri perut menyebar, (3) Perut tidak semakin distended, lingkar perut stabil atau mengecil, (4) Defans muskular berkurang atau menghilang pasca operasi dan terapi, (5) Hasil kultur cairan peritoneum (jika diambil saat operasi) tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri patogen atau sensitif terhadap antibiotik, (6) Leukosit dalam batas normal (4.000-10.000/mm³), (7) Pasien dapat flatus atau BAB dalam 24-48 jam pasca operasi menandakan fungsi usus kembali, (8) Tidak ada tanda sepsis (tidak takikardi, tidak takipnea, tekanan darah stabil, tidak penurunan kesadaran). Indikator ini dievaluasi setiap 4-6 jam pada fase akut dan setiap hari pasca operasi. Tujuan utama adalah mencegah peritonitis menyebar menjadi peritonitis generalisata yang memerlukan perawatan intensif lebih lama.
Kode SIKI: I.14534
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan: (1) Persiapan pre-operasi segera: puasa total (NPO), pasang NGT untuk dekompresi lambung dan mencegah aspirasi, pasang kateter urine untuk monitoring output. (2) Kolaborasi pemberian antibiotik intravena spektrum luas (misalnya seftriakson + metronidazol) sesuai advis dokter untuk menekan pertumbuhan bakteri sebelum dan sesudah operasi. Berikan segera setelah kultur darah diambil. (3) Monitor tanda-tanda peritonitis setiap 2 jam: evaluasi nyeri perut (skala nyeri), distensi, defans muskular, bising usus, dan suhu tubuh. Catat perubahan yang mengarah pada perburukan. (4) Lakukan perawatan luka operasi pasca laparotomi dengan teknik aseptik. Ganti balutan setiap 24 jam atau jika basah/terkontaminasi. Observasi tanda infeksi: kemerahan, bengkak, drainase purulen, atau dehiscence luka. (5) Kolaborasi pemberian analgesik (misalnya ketorolak atau morfin) sesuai indikasi untuk mengontrol nyeri pasca operasi, karena nyeri yang tidak terkontrol dapat meningkatkan stres dan memperlambat penyembuhan. (6) Edukasi pasien tentang pentingnya mobilisasi dini (duduk, berjalan) pasca operasi untuk mencegah ileus dan mempercepat pemulihan peristaltik. (7) Monitor asupan dan haluaran cairan secara ketat. Pasien dengan peritonitis sering mengalami third spacing (perpindahan cairan ke rongga peritoneum) sehingga memerlukan resusitasi cairan agresif. (8) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium serial: leukosit, CRP, prokalsitonin untuk memantau respons inflamasi. (9) Jika terjadi demam atau tanda sepsis, segera informasikan dokter untuk penyesuaian antibiotik atau pemeriksaan tambahan (CT scan, USG abdomen). (10) Dokumentasikan semua temuan secara komprehensif.
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan Irit
Article No. 25431 | 03 May 2026
Klinis : Pasien dengan keluhan lemas, perut mengeras seperti papan, sulit BAB. KU lemah TD = 161/91 HR = 95 RR = 29 S = 36.5 SPO2 = 99 NC 5 lpm Status Lokalis R. Abdomen I: distended (+) A: BU (+) meningkat P: hipertimpani (+) P: NT (+), defans muskular (+) Lab RSSP Sragen 02/05/26 HB: 8.39 AE: 2.89 Hmt: 25.0 MCV: 86.6 MCH: 29.0 AL: 7.88 AT: 235 GDS: 140 SGOT: 25 SGPT: 19 UR: 18.0 CR: 0.76 Gol: O (+) BNO Abdomen 3 posisi RSSP 02/05/26 Kesan: • Mengarah gambaran pneumoperitoneum ( Perforasi ) • Illeus obstruksi letak tinggi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perforasi Gastrointestinal dengan Risiko Syok Hipovolemik dan Gangguan Eliminasi Fekal
Kode SDKI: D.0020 (Nyeri Akut) & D.0056 (Risiko Syok) & D.0008 (Konstipasi) & D.0014 (Gangguan Eliminasi Fekal)
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data subjektif (lemas, sulit BAB, perut mengeras) dan objektif (TD 161/91, HR 95, RR 29, Hb 8.39, Hmt 25.0, BNO menunjukkan pneumoperitoneum/perforasi), pasien mengalami kondisi kritis akibat perforasi saluran cerna yang memicu respons inflamasi sistemik dan risiko syok hipovolemik. Defans muskular dan nyeri tekan hebat menandakan iritasi peritoneal. Hipertimpani dan distensi abdomen mengonfirmasi adanya udara bebas intra-abdomen (pneumoperitoneum) serta kemungkinan ileus obstruktif. Anemia (Hb 8.39, Hmt 25.0) meningkatkan risiko hipoperfusi jaringan. Diagnosa keperawatan utama adalah Nyeri Akut berhubungan dengan agen cedera biologis (perforasi) dan Risiko Syok berhubungan dengan perdarahan intra-abdomen serta perpindahan cairan ke ruang ketiga. Diagnosa tambahan mencakup Konstipasi dan Gangguan Eliminasi Fekal akibat obstruksi mekanis.
Kode SLKI: L.08066 (Tingkat Nyeri) & L.02014 (Status Sirkulasi) & L.04033 (Eliminasi Fekal) & L.03013 (Keseimbangan Cairan)
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk kasus ini menetapkan kriteria hasil yang terukur dalam waktu 1x24 jam hingga 3x24 jam. Luaran pertama adalah Tingkat Nyeri (L.08066) dengan indikator: pasien melaporkan penurunan skala nyeri dari skala 7-8 (nyeri berat) menjadi 3-4 (nyeri sedang), tidak ada meringis, tanda vital stabil (TD <140/90, HR <100, RR <24). Luaran kedua adalah Status Sirkulasi (L.02014) yang dicapai melalui: tekanan darah sistol >100 mmHg, nadi perifer teraba kuat, capillary refill <3 detik, haluaran urin >0,5 ml/kgBB/jam, dan tidak ada tanda dehidrasi. Luaran ketiga adalah Eliminasi Fekal (L.04033) dengan target: pasien dapat flatus dalam 24-48 jam pasca operasi, bising usus kembali normal (5-10 kali/menit), tidak ada distensi abdomen. Luaran keempat adalah Keseimbangan Cairan (L.03013) meliputi: mukosa bibir lembab, turgor kulit elastis, berat badan stabil, dan elektrolit dalam batas normal. Semua luaran ini harus dievaluasi setiap 4-6 jam pada fase akut.
Kode SIKI: I.08238 (Manajemen Nyeri) & I.02077 (Manajemen Syok) & I.04101 (Manajemen Eliminasi Fekal) & I.03114 (Manajemen Cairan)
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) memberikan panduan tindakan spesifik. Intervensi pertama adalah Manajemen Nyeri (I.08238) meliputi: kaji skala nyeri PQRST (Provokatif, Quality, Region, Severity, Time) setiap 2 jam, berikan posisi semi-Fowler untuk mengurangi tegangan dinding abdomen, ajarkan teknik relaksasi napas dalam, kolaborasi pemberian analgesik (misal: ketorolac 30 mg IV atau morfin sesuai advis dokter), dan monitor tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik. Intervensi kedua adalah Manajemen Syok (I.02077): pasang jalur IV besar (16-18G), berikan resusitasi cairan kristaloid (RL atau NaCl 0,9% 20 ml/kgBB dalam 30 menit pertama), monitor hemodinamik (TD, HR, MAP, CVP jika tersedia), siapkan transfusi darah PRC (karena Hb 8,39), dan observasi tanda perdarahan lanjutan (hematemesis, melena). Intervensi ketiga adalah Manajemen Eliminasi Fekal (I.04101): pasang NGT (Nasogastric Tube) untuk dekompresi lambung dan mencegah aspirasi, ukur output cairan lambung setiap 8 jam, tirah baring dengan posisi kepala ditinggikan 30 derajat, dan kolaborasi pemasangan rectal tube jika ada distensi berat. Intervensi keempat adalah Manajemen Cairan (I.03114): catat intake dan output cairan secara ketat (balance cairan setiap 6 jam), timbang berat badan harian, monitor elektrolit (Na, K, Cl) dan BUN/Creatinin, serta observasi tanda overload cairan (edema, ronchi basah). Semua intervensi didokumentasikan dalam format SOAPIE dan dievaluasi setiap shift.
Article No. 25432 | 03 May 2026
Klinis : pasien baru datang diantar keluarganya dengan keluhan kesadaran menurun, sulit diajak komunikasi sejak pukul 11.00, awalnya pasien sempat terjatuh, mual (-), muntah (-), keringat dingin (-), lemah anggota gerak sulit dievaluasi Riw. HT (+), DM (+), PJK (-) KU lemah, GCS E3V3M4 TD: 155/105 SB: 36.5 C HR: 118 x/m RR: 20 x/m Mata CA-/- SI -/-, RC +/+, isokor 3mm/3mm Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/-, S1S2 regular Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext Akral dingin +/+, edem -/-
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Perfusi serebral tidak efektif adalah penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi neurologis. Kondisi ini ditandai dengan perubahan status kesadaran, defisit motorik atau sensorik, serta gangguan komunikasi verbal. Pada pasien ini, faktor risiko utama adalah hipertensi (HT) dan diabetes melitus (DM) yang tidak terkontrol, ditambah dengan riwayat jatuh yang memicu perubahan hemodinamik serebral. Penurunan kesadaran (GCS E3V3M4), lemah anggota gerak, serta tekanan darah tinggi (155/105 mmHg) menunjukkan adanya gangguan suplai oksigen dan glukosa ke jaringan otak. Takikardia (HR 118 x/m) merupakan respons kompensasi terhadap penurunan curah jantung atau iskemia serebral. Akral dingin mengindikasikan vasokonstriksi perifer akibat aktivasi sistem saraf simpatis yang berlebihan. Perfusi serebral yang tidak efektif dapat menyebabkan kerusakan neuron permanen jika tidak segera diatasi, sehingga diperlukan penanganan segera untuk memulihkan aliran darah otak dan mencegah komplikasi seperti stroke hemoragik atau iskemik.
Kode SLKI: L.0201
Deskripsi : Tingkat Perfusi Serebral meningkat. Definisi: kemampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme otak yang menunjukkan peningkatan. Kriteria hasil yang diharapkan pada pasien ini meliputi: (1) Kesadaran meningkat dengan GCS mencapai 15 (E4V5M6) dalam 1x24 jam, (2) Tekanan darah dalam rentang normal (sistolik 100-140 mmHg, diastolik 60-90 mmHg) tanpa fluktuasi ekstrem, (3) Frekuensi nadi normal (60-100 x/m) dan irama reguler, (4) Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti muntah proyektil, papil edema, atau perubahan pola napas, (5) Akral hangat dan tidak pucat, (6) Pasien mampu merespons perintah sederhana dan berkomunikasi secara verbal dalam 2x24 jam, (7) Kekuatan otot ekstremitas meningkat secara bertahap (skala 4-5 dari 5) dalam 3x24 jam, (8) Tidak ada kejang atau gerakan involunter, (9) Saturasi oksigen >95% dengan atau tanpa oksigen tambahan, (10) Nilai laboratorium seperti gula darah sewaktu (100-200 mg/dL) dan elektrolit dalam batas normal untuk mendukung metabolisme serebral.
Kode SIKI: I.0201
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral. Definisi: serangkaian tindakan keperawatan untuk meningkatkan dan mempertahankan aliran darah ke otak. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 1-2 jam, terutama tekanan darah, nadi, dan suhu, (2) Monitor tingkat kesadaran menggunakan GCS setiap 2-4 jam, catat perubahan skor, (3) Monitor tekanan intrakranial jika tersedia, perhatikan tanda-tanda peningkatan TIK seperti penurunan GCS, hipertensi, bradikardia, dan perubahan pola napas (triad Cushing), (4) Berikan oksigen sesuai indikasi untuk menjaga saturasi >95% dan mencegah hipoksia serebral, (5) Posisikan kepala pasien dengan elevasi 15-30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena dan mengurangi tekanan intrakranial, (6) Hindari rotasi atau fleksi leher yang berlebihan karena dapat mengganggu aliran darah melalui arteri karotis dan vertebralis, (7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antihipertensi (misalnya kaptopril, nifedipin) untuk menurunkan tekanan darah secara bertahap tanpa menyebabkan hipoperfusi, (8) Kolaborasi pemberian neuroprotektan seperti sitikolin atau piracetam sesuai protokol, (9) Atur lingkungan yang tenang dan redup untuk mengurangi stimulasi sensorik yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial, (10) Batasi pengunjung dan aktivitas yang tidak perlu, (11) Monitor asupan dan haluaran cairan secara ketat untuk mencegah overload cairan yang memperburuk edema serebral, (12) Berikan terapi cairan intravena sesuai advis dokter, hindari larutan hipotonik, (13) Monitor kadar gula darah setiap 4-6 jam karena pasien DM, kendalikan gula darah dengan insulin reguler jika terjadi hiperglikemia >250 mg/dL, (14) Lakukan pengkajian neurologis serial termasuk refleks pupil, kekuatan otot, dan respons sensorik, (15) Dokumentasikan semua temuan dan intervensi secara akurat untuk evaluasi perkembangan, (16) Edukasi keluarga tentang kondisi pasien, tanda-tanda bahaya, dan pentingnya kepatuhan terapi.
Article No. 25433 | 03 May 2026
Klinis : S/ pasien baru datang dengan keluahan penururnan kesadaran sejak -+4 jam yang lalu keluahan lain pasien sebelunya mengeluhakan menggigil lemas RPD :- O/ KU lemah, E1V1M2 TD: 79/43 mmhg HR: 95x/m RR: 20 x/m SB: 36.1 C SpO2: 95% GDS 205 Mata RC +/+ isokor 3mm/3mm, CA +/+ SI -/- cowong -/- JVP kesan tidak meningkat jantung : S1S2 tunggal, murmur (-) , gallop (-) Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/- Abdomen : Supel BU +Normal, NT (+) defans musculare (-). Ext atas : akral dingin -/-, CRT <2dt. Ext Bawah:akral dingin -/-, CRT <2dt,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan otak yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi neurologis. Kondisi ini ditandai dengan penurunan kesadaran, perubahan status mental, dan tanda-tanda vital yang tidak stabil. Pada pasien ini, penurunan kesadaran (E1V1M2), hipotensi berat (TD 79/43 mmHg), serta riwayat menggigil dan lemas mengindikasikan adanya gangguan perfusi serebral yang serius. Hipotensi sistemik menyebabkan aliran darah ke otak berkurang, sehingga oksigen dan nutrisi tidak terpenuhi. Hal ini diperparah dengan kemungkinan adanya sepsis atau syok distributif, yang ditandai dengan menggigil dan akral dingin. Nilai GDS 205 (hiperglikemia) juga dapat menjadi faktor yang memperburuk kondisi neurologis. Perfusi serebral yang tidak efektif dapat menyebabkan kerusakan neuron permanen jika tidak segera ditangani.
Kode SLKI: L.06014
Deskripsi : Tingkat Perfusi Serebral. Merupakan kriteria hasil yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan. Luaran ini mengukur peningkatan aliran darah ke jaringan otak yang ditunjukkan oleh indikator seperti: (1) Tingkat kesadaran meningkat, dibuktikan dengan skor GCS yang membaik (misalnya dari E1V1M2 menjadi E3V4M5 atau lebih); (2) Tekanan darah dalam rentang normal (sistolik ≥90 mmHg atau sesuai target); (3) Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (seperti muntah proyektil, papil edema); (4) Pupil isokor dan reaktif; (5) Tidak ada defisit neurologis baru; (6) Nilai SpO2 dalam batas normal (≥95%) dengan atau tanpa bantuan oksigen. Skala luaran ini diukur dari 1 (sangat menurun) hingga 5 (sangat meningkat). Target intervensi adalah mencapai skala 4 atau 5 pada indikator kritis seperti kesadaran dan tekanan darah.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral. Serangkaian tindakan keperawatan untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke otak. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 15-30 menit, terutama tekanan darah, nadi, dan saturasi oksigen; (2) Kolaborasi pemberian cairan intravena (misalnya NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) untuk meningkatkan volume sirkulasi dan tekanan darah; (3) Kolaborasi pemberian vasopresor (misalnya norepinefrin) sesuai indikasi dokter untuk mencapai tekanan darah target (MAP ≥65 mmHg); (4) Posisikan pasien dengan kepala datar atau elevasi 15-30 derajat untuk memfasilitasi aliran darah balik vena dan mengurangi tekanan intrakranial; (5) Berikan oksigenasi tambahan untuk menjaga SpO2 >95%; (6) Monitor status neurologis (GCS, ukuran dan reaksi pupil) setiap jam; (7) Hindari manuver Valsalva dan batuk berlebihan yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial; (8) Atur lingkungan yang tenang dan redup untuk mengurangi stimulasi berlebihan pada otak; (9) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (misalnya GDS, AGD, elektrolit) dan pencitraan (CT scan kepala) untuk menentukan penyebab; (10) Dokumentasikan semua temuan dan respons terhadap intervensi. Tujuan utama adalah mengembalikan perfusi serebral dalam waktu ≤30 menit untuk mencegah kerusakan permanen.
Kondisi: Hipovolemia
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Pada pasien ini, hipovolemia sangat jelas terlihat dari tekanan darah yang sangat rendah (79/43 mmHg), nadi yang cepat (95x/m), akral dingin, dan CRT yang memanjang (>2 detik). Riwayat menggigil dan lemas dapat mengindikasikan infeksi sistemik (sepsis) yang menyebabkan vasodilatasi dan kebocoran kapiler, sehingga cairan berpindah dari intravaskuler ke interstisial. Penurunan kesadaran (E1V1M2) juga bisa disebabkan oleh hipoperfusi otak akibat hipovolemia. Mata cowong (cekung) dan turgor kulit yang buruk (meskipun tidak disebutkan secara eksplisit) juga merupakan tanda dehidrasi. GDS 205 dapat memperburuk kondisi karena hiperglikemia menyebabkan diuresis osmotik, semakin mempercepat kehilangan cairan. Hipovolemia yang tidak ditangani dapat menyebabkan syok hipovolemik, gagal ginjal, dan kematian.
Kode SLKI: L.03029
Deskripsi : Status Cairan. Luaran yang diharapkan adalah keseimbangan cairan tubuh yang optimal, ditandai dengan: (1) Tekanan darah sistolik ≥90 mmHg atau dalam rentang normal; (2) Denyut nadi perifer kuat dan teratur (60-100x/m); (3) Akral hangat dan CRT <2 detik; (4) Produksi urine ≥0,5 ml/kgBB/jam (misalnya ≥30 ml/jam untuk dewasa); (5) Turgor kulit elastis, tidak ada cowong; (6) Membran mukosa lembab; (7) Tidak ada tanda dehidrasi (haus berlebihan, pusing); (8) Nilai hematokrit dan elektrolit dalam batas normal. Skala diukur dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik). Target intervensi adalah mencapai skala 4 atau 5 dalam 24-48 jam pertama.
Kode SIKI: I.03030
Deskripsi : Manajemen Hipovolemia. Tindakan keperawatan untuk mengatasi kekurangan cairan tubuh. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 15-30 menit sampai stabil, lalu setiap jam; (2) Hitung balance cairan (input dan output) setiap jam; (3) Pasang infus dan berikan cairan intravena (kristaloid seperti RL atau NaCl 0,9%) sesuai order dokter; pada syok, bisa diberikan bolus 500-1000 ml dalam 15-30 menit; (4) Kolaborasi pemberian koloid (misalnya albumin) atau produk darah jika diperlukan; (5) Monitor produksi urine, jika <0,5 ml/kgBB/jam laporkan segera; (6) Pantau tanda-tanda kelebihan cairan (edema, ronkhi, JVP meningkat); (7) Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan SpO2 >95%; (8) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (elektrolit, BUN, kreatinin, laktat) untuk menilai keparahan dan penyebab; (9) Atur posisi pasien (trenelenburg atau kaki ditinggikan) untuk meningkatkan aliran balik vena; (10) Edukasi pasien/keluarga tentang pentingnya asupan cairan. Tujuan utama adalah mengembalikan volume intravaskuler dalam 1-2 jam pertama untuk mencegah syok ireversibel.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Pasien ini memiliki faktor risiko kuat untuk infeksi, yaitu riwayat menggigil (yang merupakan respons tubuh terhadap pirogen dari bakteri), lemas, dan kemungkinan sepsis. Hipotensi dan takikardia juga merupakan tanda awal syok septik. Meskipun tidak disebutkan sumber infeksi yang jelas, kondisi umum yang buruk dan tanda-tanda sistemik mengindikasikan adanya proses infeksi aktif. Selain itu, tindakan invasif seperti pemasangan infus dan kateter (jika diperlukan) meningkatkan risiko infeksi nosokomial. Hiperglikemia (GDS 205) juga menekan sistem imun, membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi. Jika tidak diantisipasi, infeksi dapat menyebar ke aliran darah (bakteremia) dan menyebabkan syok septik yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Tingkat Infeksi. Luaran yang diharapkan adalah penurunan risiko atau tidak adanya tanda-tanda infeksi, yang ditandai dengan: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C); (2) Tidak ada menggigil; (3) Jumlah leukosit dalam batas normal (4.000-11.000/µL); (4) Tidak ada tanda inflamasi lokal (kemerahan, bengkak, nyeri, panas) pada area invasif; (5) Kultur darah dan urin negatif; (6) Luka bersih, tidak ada drainase purulen; (7) Tanda-tanda vital stabil (TD normal, nadi normal). Skala diukur dari 1 (sangat meningkat) hingga 5 (sangat menurun). Target intervensi adalah mencapai skala 4 atau 5, artinya risiko infeksi menurun dan tidak ada tanda infeksi baru.
Kode SIKI: I.14139
Deskripsi : Pencegahan Infeksi. Tindakan keperawatan untuk mengurangi risiko penyebaran dan masuknya mikroorganisme. Intervensi utama meliputi: (1) Cuci tangan sesuai standar (hand hygiene) sebelum dan sesudah kontak dengan pasien; (2) Gunakan alat pelindung diri (sarung tangan, masker, gown) sesuai
Article No. 25434 | 03 May 2026
Klinis : Pasien post OP Tumor sigmoid. Keluhan dan nyeri post op. KU lemah, CM, skala nyeri 3 TD 121/75 mmHg HR 81x/mnt RR 19 x/mnt S 36,3 C SPO2 100 % Laboratorium RSSP Sragen 1/05/26 Hb: 11.76 g/dL Eritrosit: 4.91 juta/µL Hematokrit: 35.7% Leukosit: 23.68 ribu/µL Trombosit: 536 ribu/µL GDS: 168 mg/dL Ureum: 132.0 mg/dL Kreatinin: 8.88 mg/dL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (prosedur pembedahan tumor sigmoid)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien post operasi tumor sigmoid, nyeri timbul akibat sayatan insisi bedah, manipulasi jaringan intraoperatif, dan respons inflamasi akut pasca pembedahan. Data subjektif pasien melaporkan nyeri dengan skala 3 (nyeri ringan hingga sedang), sementara data objektif menunjukkan tanda-tanda vital yang masih dalam batas normal namun terdapat peningkatan leukosit (23.68 ribu/µL) yang mengindikasikan respons inflamasi akut. Nyeri akut pada konteks post operasi memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi seperti penurunan mobilitas, gangguan tidur, dan peningkatan risiko infeksi. Nyeri yang tidak tertangani juga dapat memicu respons stres fisiologis yang meliputi peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan laju pernapasan. Meskipun tanda vital pasien saat ini stabil, skala nyeri 3 menunjukkan perlunya intervensi keperawatan yang adekuat untuk mengoptimalkan kenyamanan dan mempercepat proses penyembuhan pasca operasi. Nyeri akut pada pasien post operasi tumor sigmoid juga dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kecemasan terhadap hasil operasi dan kekambuhan penyakit, sehingga pendekatan holistik sangat diperlukan. Penanganan nyeri yang efektif akan mengurangi risiko komplikasi respirasi akibat hipoventilasi sekunder, memperbaiki mobilisasi dini, dan menurunkan risiko trombosis vena dalam. Oleh karena itu, diagnosis nyeri akut menjadi prioritas utama dalam rencana asuhan keperawatan untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan pasien.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri adalah terminologi standar yang menggambarkan status nyeri pasien setelah diberikan intervensi keperawatan, yang mencakup kemampuan pasien mengontrol nyeri, melaporkan nyeri, serta tanda-tanda vital terkait. Kriteria hasil yang diharapkan pada pasien ini meliputi: (1) Pasien mampu melaporkan penurunan skala nyeri dari 3 menjadi 0-1 dalam 1x24 jam, (2) Pasien menunjukkan ekspresi wajah rileks dan tidak meringis, (3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (TD 120/80 mmHg, HR 60-100 x/menit, RR 16-20 x/menit), (4) Pasien mampu melakukan mobilitas dini sesuai instruksi, (5) Pasien tidak mengalami gangguan tidur akibat nyeri, (6) Pasien dapat mengidentifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri. Pada pasien post operasi tumor sigmoid dengan hasil laboratorium menunjukkan leukositosis (23.68 ribu/µL) dan gangguan fungsi ginjal (ureum 132 mg/dL, kreatinin 8.88 mg/dL), pemantauan tingkat nyeri harus diintegrasikan dengan evaluasi fungsi organ untuk menghindari penggunaan analgesik yang nefrotoksik. Target luaran utama adalah tercapainya kenyamanan fisiologis dan psikologis sehingga pasien dapat berpartisipasi aktif dalam proses rehabilitasi pasca operasi. Keberhasilan luaran ini diukur melalui skala nyeri numerik, observasi perilaku, dan stabilitas hemodinamik. Dengan tercapainya tingkat nyeri yang terkontrol, risiko komplikasi pasca operasi seperti atelektasis, pneumonia, dan ileus paralitik dapat diminimalkan. SLKI ini menjadi acuan dalam mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan yang diberikan secara periodik.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan mengidentifikasi, mengatasi, dan mencegah nyeri melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Intervensi utama meliputi: (1) Identifikasi nyeri secara komprehensif menggunakan skala numerik (NRS) setiap 4 jam dan saat pasien melaporkan nyeri, (2) Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik, (3) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai order dokter (misal: parasetamol IV atau NSAID dengan monitoring fungsi ginjal mengingat kreatinin 8.88 mg/dL), (4) Ajarkan teknik non-farmakologis seperti napas dalam (deep breathing exercise) setiap 2-4 jam selama 5-10 menit, (5) Berikan posisi semi-Fowler atau posisi nyaman sesuai kebutuhan dengan bantuan bantal untuk mengurangi tegangan pada area insisi, (6) Kompres dingin pada area sekitar luka operasi selama 15-20 menit untuk mengurangi edema dan nyeri, (7) Distraksi relaksasi dengan mendengarkan musik atau guided imagery selama 15-30 menit, (8) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri secara jujur tanpa rasa takut, (9) Anjurkan mobilisasi dini bertahap (miring kanan-kiri, duduk di tepi tempat tidur) dengan bantuan perawat untuk mencegah kekakuan dan mempercepat penyembuhan, (10) Monitoring efek samping analgesik seperti mual, konstipasi, sedasi berlebihan, terutama pada pasien dengan gangguan ginjal. Intervensi ini disesuaikan dengan kondisi pasien yang memiliki leukositosis tinggi (23.68 ribu/µL) sebagai tanda infeksi/inflamasi, serta gangguan fungsi ginjal (ureum 132 mg/dL, kreatinin 8.88 mg/dL) yang memerlukan kehati-hatian dalam pemilihan jenis dan dosis analgesik. Manajemen nyeri yang efektif akan menurunkan respons stres simpatis, memperbaiki sirkulasi lokal, dan mempercepat proses penyembuhan luka. Perawat juga harus memonitor tanda-tanda perburukan seperti nyeri yang meningkat tiba-tiba, demam, atau perubahan karakteristik luka yang mengindikasikan kemungkinan komplikasi seperti infeksi atau dehiscence luka. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi setiap shift untuk memastikan efektivitas penanganan nyeri pada pasien post operasi tumor sigmoid.
Article No. 25435 | 03 May 2026
Klinis : pasien dengan keluhan post penurunan kesadaran, tidak bisa bicara, pusing mual muntah kejang (-) RPD : HT (+) KU lemah, Kesadaran CM TD 125/87 N 93 x/menit S 36,5 RR 26 x/menit SpO² 99% RA GDS Stick = 213 Mata : CA -/-, SI -/- Paru : SDV +/+, RBK -/-, Whe -/- COR : BJ1-2 normal, murmur - Abdomen : BU+, supel+, tidak teraba massa Eks Atas Bawah : Akral dingin -/-, CRT <2s Status Neurologis : Sensorik + II + + || + Motorik +1/+1/+1 || +2/+2/+2 +1/+1/+1 || +2/+2/+2 Refleks fisiologis: +2 ||+2 +2 || +2 Refleks patologis: - || - - || - Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: - - Cemas: - Natrium (Na) 140 Kalium (K) 3.5 Chlorida (Cl) 106 Calsium (Ca2+) 1.2 pH 7.46 Glukosa Darah Sewaktu 251 Ureum 19.3 Kreatinin 0.82 Hemoglobin 10.06 Eritrosit 3.78 Lekosit 8.94 Trombosit 453 NC HCTS Kesan : SAH CXR menunggu expertise
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal berhubungan dengan Gangguan Neurologis (Afasia Motorik/Ekspresif pasca Penurunan Kesadaran)
Kode SDKI: D.0119
Deskripsi Singkat: Gangguan komunikasi verbal adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan, keterlambatan, atau ketidakmampuan dalam menerima, memproses, mentransmisikan, dan/atau menggunakan sistem simbol untuk berkomunikasi secara verbal. Pada pasien ini, kondisi post penurunan kesadaran dengan ketidakmampuan bicara (afasia motorik) menjadi indikasi utama. Pasien tidak dapat mengekspresikan pikiran, perasaan, atau kebutuhannya melalui kata-kata yang diucapkan. Hal ini diperkuat dengan temuan neurologis berupa kelemahan motorik sisi kanan (nilai +1/+1/+1 pada ekstremitas kanan vs +2/+2/+2 di kiri), yang konsisten dengan lesi pada area Broca di hemisfer kiri otak yang mengontrol produksi bicara. Pasien masih memiliki kesadaran compos mentis (CM) sehingga ia sadar akan ketidakmampuannya berkomunikasi, yang dapat menimbulkan frustrasi. Gangguan ini tidak hanya berdampak pada aspek fisiologis tetapi juga psikologis dan sosial karena menghambat interaksi dengan tenaga kesehatan dan keluarga. Risiko komplikasi seperti ansietas, isolasi sosial, dan kesulitan dalam menyampaikan keluhan (misalnya nyeri, mual) sangat tinggi. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien tidak bisa bicara) dan objektif (status neurologis dengan lateralisasi kelemahan motorik kanan).
Kode SLKI: L.01013
Deskripsi : Komunikasi Verbal (SLKI L.01013) adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan untuk mengatasi gangguan komunikasi verbal. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kemampuan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan, keinginan, dan perasaannya secara efektif meskipun dengan keterbatasan verbal. Kriteria hasil yang spesifik meliputi: (1) Kemampuan berbicara meningkat dari skala 1 (berat) menjadi skala 3 (cukup) atau 4 (baik) dalam waktu 3x24 jam, ditandai dengan pasien mampu mengucapkan 1-2 kata sederhana atau menggunakan frasa pendek; (2) Kemampuan menggunakan alat bantu komunikasi meningkat, pasien mampu menunjuk gambar, menulis kata kunci, atau menggunakan gestur yang dimengerti; (3) Ekspresi wajah dan bahasa tubuh sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan; (4) Frekuensi frustrasi saat berkomunikasi menurun; (5) Pasien mampu mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi. Indikator keberhasilan diukur menggunakan skala Likert 1-5, dengan target minimal skala 3 (cukup) pada setiap indikator. Pada pasien dengan afasia motorik, fokus luaran adalah pada pengembangan alternatif komunikasi non-verbal dan stimulasi bertahap pada area bicara. Keberhasilan luaran ini juga dipengaruhi oleh motivasi pasien, dukungan keluarga, dan konsistensi pendekatan oleh seluruh tim kesehatan. Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menyesuaikan strategi komunikasi sesuai respons pasien.
Kode SIKI: I.01013
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Gangguan Komunikasi Verbal (SIKI I.01013) terdiri dari serangkaian tindakan yang sistematis dan terstruktur. Pertama, observasi dan identifikasi: perawat mengkaji kemampuan bicara pasien (apakah mampu mengucapkan vokal, konsonan, atau kata utuh), mengidentifikasi penyebab afasia (pada kasus ini lesi serebrovaskular), dan mengenali isyarat non-verbal yang digunakan pasien. Kedua, fasilitasi komunikasi: perawat menyediakan papan komunikasi bergambar (gambar kebutuhan dasar seperti minum, BAB/BAK, nyeri, posisi), menyediakan alat tulis dan kertas untuk menulis, memastikan lingkungan tenang dan pencahayaan cukup, serta berbicara dengan kalimat pendek dan perlahan. Ketiga, terapi wicara kolaboratif: perawat berkoordinasi dengan dokter dan terapis wicara untuk program stimulasi bicara, seperti latihan mengucapkan fonem /a/, /i/, /u/ secara berulang, latihan meniup untuk memperkuat otot oromotor, dan latihan menamai objek (naming therapy). Keempat, edukasi keluarga: perawat mengajarkan keluarga cara berkomunikasi efektif (misalnya: jangan menyela, beri waktu pasien merespon, gunakan pertanyaan tertutup ya/tidak, validasi pemahaman dengan meminta pasien mengangguk/menggeleng). Kelima, manajemen lingkungan: perawat mengurangi stimulus berlebihan (suara TV, radio), memasang bel panggil yang mudah dijangkau, dan memastikan posisi pasien semi-fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru dan produksi suara. Keenam, monitoring respons: perawat mencatat kemajuan komunikasi setiap shift, mendokumentasikan metode yang paling efektif, dan melaporkan adanya tanda frustrasi atau agresivitas. Intervensi ini dilakukan minimal setiap 2 jam saat pasien terjaga, dengan durasi 10-15 menit per sesi untuk menghindari kelelahan. Evaluasi intervensi dilakukan dengan melihat peningkatan skor pada SLKI dan adaptasi pasien terhadap alat bantu komunikasi.
Article No. 25436 | 03 May 2026
Klinis : pasien dengan keluhan post penurunan kesadaran, tidak bisa bicara, pusing mual muntah kejang (-) RPD : HT (+) KU lemah, Kesadaran CM TD 125/87 N 93 x/menit S 36,5 RR 26 x/menit SpO² 99% RA GDS Stick = 213 Mata : CA -/-, SI -/- Paru : SDV +/+, RBK -/-, Whe -/- COR : BJ1-2 normal, murmur - Abdomen : BU+, supel+, tidak teraba massa Eks Atas Bawah : Akral dingin -/-, CRT <2s Status Neurologis : Sensorik + II + + || + Motorik +1/+1/+1 || +2/+2/+2 +1/+1/+1 || +2/+2/+2 Refleks fisiologis: +2 ||+2 +2 || +2 Refleks patologis: - || - - || - Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: - - Cemas: - Natrium (Na) 140 Kalium (K) 3.5 Chlorida (Cl) 106 Calsium (Ca2+) 1.2 pH 7.46 Glukosa Darah Sewaktu 251 Ureum 19.3 Kreatinin 0.82 Hemoglobin 10.06 Eritrosit 3.78 Lekosit 8.94 Trombosit 453 NC HCTS Kesan : SAH CXR menunggu expertise
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal berhubungan dengan Penurunan Sirkulasi Serebral (Post Penurunan Kesadaran dan Afasia)
Kode SDKI: D.0119
Deskripsi Singkat: Gangguan komunikasi verbal adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan, keterlambatan, atau ketidakmampuan dalam menerima, memproses, mentransmisikan, atau menggunakan sistem simbol untuk berkomunikasi secara verbal. Pada pasien ini, kondisi post penurunan kesadaran dengan ketidakmampuan bicara (afasia motorik atau global) akibat perdarahan subarachnoid (SAH) dan riwayat hipertensi menyebabkan gangguan pada area Broca atau area Wernicke di otak. Pasien tidak dapat mengekspresikan pikiran, kebutuhan, atau perasaan melalui bahasa lisan. Pasien masih sadar (CM) dan dapat memahami (kemungkinan afasia ekspresif dominan), namun tidak mampu membentuk kata-kata yang koheren. Faktor risiko lain seperti kelemahan fisik (motorik ekstremitas kanan lebih lemah: +1 dibanding kiri +2) dan hiperglikemia (GDS 213) yang memperburuk metabolisme neuron juga turut berkontribusi. Gangguan ini menyebabkan frustrasi, isolasi sosial, dan risiko keselamatan karena pasien tidak bisa meminta bantuan atau melaporkan gejala seperti pusing atau mual.
Kode SLKI: L.01109
Deskripsi : Komunikasi Verbal. SLKI ini mendefinisikan luaran yang diharapkan yaitu kemampuan pasien untuk menerima, memproses, dan mengekspresikan pesan secara verbal dan nonverbal secara efektif. Kriteria hasil meliputi: (1) Kemampuan berbicara dengan jelas dan dapat dipahami; (2) Kemampuan menggunakan kalimat yang sesuai; (3) Kemampuan mengekspresikan kebutuhan; (4) Kemampuan merespon pertanyaan dengan tepat; (5) Frekuensi upaya berkomunikasi yang efektif. Pada pasien ini, target luaran dalam 3x24 jam adalah pasien mampu menunjukkan setidaknya satu bentuk komunikasi alternatif (misalnya mengangguk/menggeleng, menulis singkat, atau menunjuk gambar) untuk menyampaikan kebutuhan dasar (haus, nyeri, mual). Target jangka panjang (5-7 hari) adalah pasien mampu mengucapkan kata-kata sederhana atau frasa pendek yang dapat dimengerti oleh perawat/keluarga. Skala target: dari skala 1 (berat) menjadi skala 3 (cukup) atau 4 (baik) pada skala 1-5. Indikator yang dipantau adalah ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan keberhasilan penyampaian pesan nonverbal.
Kode SIKI: I.01109
Deskripsi : Promosi Komunikasi Verbal. Intervensi ini bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi verbal dan nonverbal. Tindakan utama meliputi: (1) Identifikasi penyebab gangguan komunikasi (afasia akibat SAH, kelemahan otot bicara, atau penurunan kesadaran residual); (2) Gunakan alat bantu komunikasi seperti papan gambar, kartu kata, atau aplikasi komunikasi sederhana di tablet; (3) Berikan waktu yang cukup bagi pasien untuk merespon tanpa terburu-buru; (4) Gunakan pertanyaan tertutup (ya/tidak) untuk mengurangi beban kognitif; (5) Bicara dengan lambat, jelas, dan dengan kalimat pendek sambil mempertahankan kontak mata; (6) Libatkan keluarga dalam sesi komunikasi terapeutik. Tindakan observasi: monitor kemampuan bicara (artikulasi, kuantitas kata, koherensi) setiap shift; monitor tanda-tanda frustrasi (gelisah, menangis, agresi). Tindakan edukasi: ajarkan keluarga teknik komunikasi efektif (tidak menyela, tidak menyelesaikan kalimat pasien, validasi pesan nonverbal). Tindakan kolaborasi: rujuk ke terapis wicara (speech therapist) untuk asesmen dan latihan afasia; konsul ke neurologi untuk tata laksana SAH dan hipertensi. Evaluasi intervensi dilakukan setiap hari dengan mencatat perkembangan jumlah kata yang diucapkan dan efektivitas komunikasi nonverbal.
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif berhubungan dengan Perdarahan Intrakranial (SAH) dan Hipertensi
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko perfusi serebral tidak efektif adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke jaringan otak yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi neurologis. Pasien ini memiliki perdarahan subarachnoid (SAH) yang dikonfirmasi dari kesan NCCT Head, yang secara langsung mengompresi jaringan otak dan mengiritasi pembuluh darah, menyebabkan vasospasme serebral. Riwayat hipertensi (HT) memperburuk kondisi karena tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan ulang atau memperluas hematom, sementara tekanan darah yang terlalu rendah (hipotensi) akibat vasospasme dapat menyebabkan iskemia sekunder. Faktor risiko lain: hiperglikemia (GDS 213) yang meningkatkan adhesi trombosit dan risiko trombosis; anemia (Hb 10,06) yang mengurangi kapasitas oksigen darah; dan kelemahan motorik ekstremitas kanan (hemiparesis) yang merupakan tanda klinis iritasi atau efek massa dari perdarahan. Pasien juga mengalami pusing dan mual-muntah yang bisa menjadi tanda peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Meskipun kesadaran masih compos mentis, status neurologis yang fluktuatif harus diwaspadai.
Kode SLKI: L.02014
Deskripsi : Perfusi Serebral. Luaran yang diharapkan adalah mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke otak yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme neuron. Kriteria hasil meliputi: (1) Tingkat kesadaran membaik (Compos Mentis, tidak menurun ke somnolen); (2) Tekanan darah dalam rentang target (sistolik 120-140 mmHg untuk mencegah perdarahan ulang namun cukup untuk perfusi); (3) Tidak ada tanda peningkatan TIK (sakit kepala berat, muntah proyektil, bradikardia, hipertensi); (4) Kekuatan motorik ekstremitas tidak memburuk; (5) Nilai GCS 15 (tidak menurun). Target dalam 24 jam pertama: pasien tetap sadar penuh, tekanan darah stabil tanpa fluktuasi ekstrem, dan tidak ada kejang. Target 3-5 hari: kekuatan motorik ekstremitas kanan meningkat (+1 menjadi +2), mual-muntah berkurang, dan pasien dapat mentoleransi posisi kepala ditinggikan 30 derajat. Skala target: dari risiko tinggi menjadi risiko rendah atau perfusi serebral adekuat (skala 4-5).
Kode SIKI: I.02014
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral. Intervensi ini bertujuan untuk memonitor dan mempertahankan perfusi jaringan otak yang adekuat. Tindakan utama: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 1-2 jam (tekanan darah, nadi, suhu, RR, SpO2); (2) Monitor status neurologis setiap 1-4 jam menggunakan GCS dan kekuatan motorik; (3) Pertahankan kepala tempat tidur ditinggikan 30-45 derajat untuk menurunkan TIK dan meningkatkan drainase vena; (4) Hindari manuver Valsalva (mengejan, batuk keras, muntah berlebihan) dengan memberikan antiemetik sesuai order; (5) Kolaborasi pemberian antihipertensi (misal nifedipine atau nicardipine) untuk menjaga tekanan darah sistolik antara 120-140 mmHg (sesuai target dokter); (6) Kolaborasi pemberian nimodipine (kalsium channel blocker) untuk mencegah vasospasme serebral; (7) Monitor nilai laboratorium: elektrolit (Na, K, Ca) untuk mencegah ketidakseimbangan yang memicu vasospasme; (8) Monitor asupan dan haluaran cairan ketat untuk mencegah dehidrasi yang memperburuk perfusi; (9) Berikan oksigen jika SpO2 <95% untuk meningkatkan oksigenasi serebral; (10) Edukasi pasien dan keluarga untuk melaporkan segera jika ada sakit kepala baru atau memburuk, kelemahan, atau perubahan bicara. Tindakan observasi: catat perubahan ukuran pupil dan reaksi cahaya; auskultasi bruit karotis; pantau tanda-tanda perdarahan ulang (penurunan kesadaran mendadak, kejang). Evaluasi dilakukan setiap shift dan dokumentasi perkembangan status neurologis.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri (Mandi, Berpakaian, Toileting) berhubungan dengan Kelemahan Motorik Ekstremitas Kanan dan Gangguan Komunikasi
Kode SDKI: D.0109
Deskripsi Singkat: Defisit perawatan diri adalah kondisi di mana individu mengalami gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi, berpakaian, makan, dan toileting. Pada pasien ini, hemiparesis sisi kanan (ekstremitas atas +1/+1/+1 dan bawah +1/+1/+1) menyebabkan kelemahan dominan pada lengan dan tungkai kanan, sehingga pasien kesulitan menggunakan tangan dominan (kemungkinan kanan) untuk aktivitas seperti membuka kancing, memegang sikat gigi, atau membersihkan diri setelah buang air. Gangguan komunikasi verbal (afasia) memperparah kondisi karena pasien tidak bisa meminta bantuan atau menjelaskan kebutuhan toileting tepat waktu, meningkatkan risiko inkontinensia atau jatuh saat mencoba ke kamar mandi sendiri. Pusing dan mual-muntah juga membatasi mobilitas dan keseimbangan. Status kognitif yang
Article No. 25437 | 03 May 2026
Klinis : Keluhan hari ini sesak napas masih dirasakan, keluhan nyeri dada khas ACS dan berdebar disangkal. KU : Lemah Kes : CM TD : 112/72 HR : 70 RR : 35 S : 36.6 SpO2 : 99
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien dengan keluhan sesak napas dan frekuensi napas (RR) 35 kali per menit, meskipun SpO2 99% dalam batas normal, peningkatan RR yang signifikan menunjukkan adanya upaya kompensasi tubuh untuk mempertahankan oksigenasi. Pasien dalam kondisi lemah (KU: Lemah) dengan kesadaran compos mentis (CM) namun tidak mampu secara optimal mengeluarkan sekret atau mengatasi beban napas yang meningkat. Nyeri dada khas ACS dan berdebar disangkal, sehingga fokus utama adalah pada gangguan ventilasi dan mekanisme pernapasan. Tekanan darah (112/72 mmHg) dan denyut nadi (70 x/menit) masih dalam rentang stabil, namun takipnea (RR 35) merupakan tanda klinis utama yang mengindikasikan adanya hambatan dalam proses pertukaran udara atau kelelahan otot pernapasan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelemahan umum, peningkatan produksi sekret, atau spasme bronkus yang tidak disertai nyeri dada. Bersihan jalan napas tidak efektif dapat berujung pada komplikasi serius seperti atelektasis, infeksi sekunder, atau gagal napas jika tidak ditangani secara adekuat. Pasien dengan RR di atas 30 memerlukan intervensi segera untuk mengurangi kerja napas dan mencegah kelelahan otot pernapasan. Meskipun saturasi oksigen 99% menunjukkan oksigenasi perifer masih baik, frekuensi napas yang tinggi merupakan kompensasi tubuh yang tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Diagnosis ini dipilih karena sesuai dengan manifestasi klinis utama yang tampak pada pasien, yaitu sesak napas dengan RR 35 tanpa adanya keluhan nyeri dada atau palpitasi yang mengarah pada gangguan kardiovaskular primer. Fokus pada bersihan jalan napas memungkinkan intervensi keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah pernapasan yang paling mendesak.Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas Meningkat. Luaran ini menggambarkan kemampuan pasien dalam mempertahankan jalan napas yang paten dan bebas dari obstruksi. Indikator yang dapat dinilai meliputi: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-24 x/menit) – target awal adalah penurunan RR dari 35 menjadi <24 x/menit dalam 1x24 jam; (2) Tidak ada suara napas tambahan seperti wheezing, ronki, atau stridor; (3) Mampu mengeluarkan sekret secara efektif tanpa bantuan berlebihan; (4) Irama napas teratur; (5) Nilai saturasi oksigen tetap stabil >95% tanpa fluktuasi; (6) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan; (7) Pasien melaporkan penurunan skala sesak napas (misal dari skala 7/10 menjadi 3/10). Pada pasien dengan kondisi lemah, luaran ini juga mencakup peningkatan kekuatan otot pernapasan dan kemampuan untuk melakukan batuk efektif. Target jangka pendek (6 jam pertama) adalah menurunkan RR menjadi <30 x/menit dengan penurunan penggunaan otot bantu napas. Target jangka menengah (24 jam) adalah RR <24 x/menit dengan pasien mampu melakukan napas dalam dan batuk efektif secara mandiri atau dengan bantuan minimal. Indikator tambahan meliputi pengukuran volume tidal dan kapasitas vital jika tersedia alat spirometri, namun secara klinis dapat dinilai dari kedalaman napas dan ekspansi dada simetris. Keberhasilan luaran ini juga ditandai dengan tidak adanya retraksi dada atau sianosis, serta pasien menunjukkan ekspresi wajah yang lebih rileks dan tidak cemas terkait pernapasan. Dokumentasi luaran harus dilakukan setiap 4 jam untuk memantau perkembangan pasien secara akurat.Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan untuk membebaskan dan mempertahankan jalan napas agar tetap paten. Rincian tindakan meliputi: (1) Observasi: monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas setiap 1-2 jam; auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya sekret atau obstruksi; identifikasi faktor penyebab ketidakefektifan bersihan jalan napas seperti kelemahan otot, sekret kental, atau posisi yang tidak tepat; (2) Tindakan Mandiri: posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru; lakukan fisioterapi dada ringan seperti perkusi dan vibrasi jika tidak ada kontraindikasi; ajarkan teknik napas dalam (deep breathing) dan batuk efektif dengan frekuensi setiap 1-2 jam saat pasien sadar; berikan oksigen nasal kanul 2-4 liter/menit jika RR tetap >30 atau jika terdapat tanda distress napas lain meskipun SpO2 99% (oksigen diberikan untuk mengurangi kerja napas, bukan hanya untuk koreksi saturasi); lakukan suctioning jika terdengar sekret di jalan napas atas dan pasien tidak mampu mengeluarkannya sendiri; (3) Kolaborasi: konsultasi dengan dokter untuk pemberian bronkodilator atau mukolitik jika diperlukan; kolaborasi pemberian nebulizer dengan agen bronkodilator (misal salbutamol) untuk mengurangi spasme jalan napas; (4) Edukasi: ajarkan pasien dan keluarga tentang posisi optimal untuk memudahkan pernapasan; jelaskan pentingnya hidrasi yang cukup (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret; (5) Evaluasi: lakukan evaluasi setiap 4 jam terhadap efektivitas intervensi dengan mengukur ulang RR, saturasi oksigen, dan kemampuan batuk. Catat respons pasien terhadap setiap tindakan. Jika setelah 2 jam intervensi RR belum menunjukkan penurunan signifikan (misal masih >30), segera laporkan ke dokter untuk kemungkinan terapi tambahan. Intervensi ini dilakukan dengan mempertimbangkan kelemahan pasien, sehingga setiap tindakan harus disertai dengan istirahat yang cukup di antara sesi latihan napas. Prioritas utama adalah mengurangi beban pernapasan dan mencegah kelelahan otot pernapasan yang dapat menyebabkan gagal napas.Article No. 25438 | 03 May 2026
Klinis : Pasien baru datang dari IGD jam 10.40 wib dengan keluhan sesak nafas dan ampeg Kondisi pasien lemah, sadar CM, tampak sesak nafas berat, tampak menahan nyeri TD: 130/85 mmHg, nadi 127x/', RR 31x/', Suhu 36.3C.Spo2 96% na 129 ureum 53 creat 2.11
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, kondisi sesak napas berat (RR 31x/menit), tampak lemah, dan data penunjang menunjukkan gangguan elektrolit (Na 129) serta peningkatan ureum dan kreatinin (53 dan 2.11) yang mengindikasikan kemungkinan adanya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit serta penurunan fungsi ginjal. Pasien tampak menahan nyeri dan lemah, sehingga kemampuan batuk efektif dan mengeluarkan sekret sangat terganggu. Hal ini diperparah dengan kemungkinan adanya edema paru akibat overload cairan atau gangguan kardiorenal yang sering menyertai pasien dengan sesak napas. Data objektif seperti takipnea (RR 31), takikardi (nadi 127), dan tekanan darah yang cenderung tinggi (130/85) menunjukkan respons tubuh terhadap hipoksia dan upaya kompensasi. Saturasi oksigen 96% masih dalam batas normal, namun pada kondisi sesak berat dan takipnea, hal ini bisa menandakan bahwa tubuh masih mampu mengkompensasi, tetapi risiko penurunan cepat tetap tinggi. Pasien dengan uremia (kreatinin tinggi) sering mengalami gangguan kesadaran ringan dan kelemahan otot pernapasan, sehingga risiko aspirasi dan obstruksi jalan napas meningkat. Oleh karena itu, diagnosis ini sangat relevan untuk mengatasi masalah prioritas pada pasien yang datang dengan keluhan sesak napas dan tampak lemah.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat, (2) Produksi sputum menurun, (3) Suara napas tambahan (wheezing/ronchi) menurun, (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20x/menit, (5) Pola napas membaik, (6) Kemampuan mengeluarkan sekret meningkat, (7) Saturasi oksigen dalam rentang normal (≥95%), (8) Tidak ada sianosis, (9) Kesadaran membaik (CM/GCS 15), (10) Pasien tidak tampak sesak saat istirahat maupun aktivitas ringan. Indikator utama yang dapat diukur adalah penurunan frekuensi napas menjadi 20-24x/menit dalam 6 jam pertama, kemudian menuju normal dalam 24 jam. Pasien mampu menunjukkan batuk efektif minimal 3 kali dalam 8 jam. Suara napas tambahan berkurang dari derajat berat menjadi ringan atau tidak ada. Skala sesak napas (Borg Scale) menurun dari skala 7-8 (sangat berat) menjadi skala 3-4 (sedang) dalam 24 jam. Produksi sputum berkurang dari yang awalnya banyak dan kental menjadi sedikit dan lebih encer. Pasien juga menunjukkan peningkatan aktivitas tanpa sesak, misalnya mampu duduk di tempat tidur tanpa bantuan oksigen tambahan dalam 2x24 jam. Pemenuhan kriteria ini menunjukkan bahwa obstruksi jalan napas telah teratasi dan ventilasi adekuat tercapai, sehingga risiko gagal napas dapat diminimalkan.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas (I.01001) dengan observasi: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), (2) Monitor suara napas tambahan (misalnya: ronchi, wheezing, krekels), (3) Monitor sputum (jumlah, warna, konsistensi), (4) Monitor saturasi oksigen secara kontinu. Tindakan terapeutik: (1) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru, (2) Berikan oksigen sesuai advis dokter, misalnya nasal kanul 3-5 liter/menit atau masker non-rebreather jika saturasi turun <94%, (3) Lakukan fisioterapi dada (clapping dan vibrasi) jika tidak ada kontraindikasi, (4) Lakukan suction endotrakeal atau orofaring jika sekret berlebih dan pasien tidak mampu batuk (maksimal 10-15 detik, dengan tekanan negatif 80-120 mmHg), (5) Ajarkan teknik batuk efektif (napas dalam 3 kali, tahan, batuk kuat dari diafragma) setiap 2 jam atau sesuai toleransi pasien. Edukasi: (1) Jelaskan pentingnya posisi semi-Fowler untuk memudahkan pernapasan, (2) Anjurkan minum air hangat 150-200 ml setiap 2 jam jika tidak ada kontraindikasi (misalnya pada gagal ginjal dengan restriksi cairan, konsultasi ke dokter), (3) Ajarkan pasien dan keluarga cara mengenali tanda-tanda obstruksi (sesak mendadak, sianosis, gelisah) dan segera melaporkan. Kolaborasi: (1) Kolaborasi pemberian bronkodilator (misalnya salbutamol nebulizer 2.5 mg/3 ml setiap 4-6 jam) sesuai advis dokter, (2) Kolaborasi pemberian mukolitik (misalnya asetilsistein 200 mg oral/nebulizer) untuk mengencerkan sekret, (3) Kolaborasi pemeriksaan analisis gas darah (AGD) untuk mengevaluasi status oksigenasi dan ventilasi, (4) Kolaborasi dengan dokter untuk koreksi elektrolit (Na rendah) dan penanganan gagal ginjal (dialisis jika diperlukan) karena uremia dapat memperburuk fungsi pernapasan. Intervensi ini dilakukan secara bertahap dimulai dari yang paling non-invasif, dengan evaluasi setiap 1-2 jam pada fase akut. Dokumentasikan respons pasien terhadap setiap intervensi, termasuk perubahan frekuensi napas, saturasi, dan kemampuan batuk. Jika setelah 30 menit intervensi tidak ada perbaikan (RR tetap >30, saturasi turun <92%, pasien semakin gelisah), segera laporkan ke dokter untuk kemungkinan intervensi lanjutan seperti ventilasi mekanik non-invasif (CPAP/BiPAP) atau intubasi.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran kapiler alveoli. Pasien datang dengan sesak napas berat (RR 31x/menit), takikardi (nadi 127), dan tekanan darah 130/85 mmHg yang menunjukkan respons simpatis akibat hipoksia. Meskipun SpO2 96% masih dalam batas normal, pada kondisi takipnea berat, angka ini bisa menipu karena pasien mungkin mengalami hiperventilasi kompensatorik yang meningkatkan oksigenasi sementara namun mengorbankan eliminasi CO2. Data penunjang menunjukkan natrium rendah (129) yang bisa menyebabkan edema serebral ringan atau gangguan kesadaran, serta ureum dan kreatinin tinggi (53 dan 2.11) yang mengindikasikan uremia. Uremia dapat menyebabkan pneumonitis uremik, edema paru, dan gangguan difusi gas. Pasien tampak menahan nyeri, yang bisa meningkatkan kebutuhan oksigen dan memperburuk ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. Kombinasi antara kelemahan otot pernapasan (akibat lemah dan kemungkinan asidosis metabolik), obstruksi jalan napas, dan gangguan metabolik membuat risiko gangguan pertukaran gas sangat tinggi. Tanda-tanda seperti gelisah, sianosis (mungkin belum tampak karena SpO2 masih 96%), atau perubahan pola napas (Cheyne-Stokes) perlu diwaspadai. Diagnosis ini menjadi kritis karena jika tidak ditangani, dapat berujung pada gagal napas tipe 1 (hipoksemia) atau tipe 2 (hiperkapnia), terutama pada pasien dengan gangguan ginjal yang rentan terhadap asidosis.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan pertukaran gas membaik dengan kriteria hasil: (1) Tingkat kesadaran membaik (GCS 15, tidak gelisah), (2) Dispnea menurun (skala sesak 0-1/10), (3) Bunyi napas tambahan (ronchi basah halus sampai sedang) menurun, (4) Frekuensi napas membaik (18-24x/menit), (5) Frekuensi nadi membaik (80-100x/menit), (6) Tekanan darah dalam rentang normal (sistole 100-130 mmHg, diastole 60-85 mmHg), (7) Saturasi oksigen ≥95% tanpa oksigen tambahan atau dengan oksigen rendah, (8) PaO2 ≥80 mmHg dan PaCO2 35-45 mmHg jika AGD diperiksa, (9) Tidak ada sianosis sentral maupun perifer, (10) Pasien mampu beraktivitas ringan (duduk, miring) tanpa sesak. Target dalam 6 jam pertama: frekuensi napas turun menjadi <28x/menit, SpO2 stabil ≥95% dengan oksigen 3-5 liter, dan pasien tidak gelisah. Dalam 24 jam: frekuensi napas 20-24x/menit, nadi <100x/menit, dan pasien mampu berkomunikasi dengan kalimat pendek tanpa terputus-putus. Dalam 48-72 jam: parameter mendekati normal dan pasien dapat bernapas dengan oksigen 1-2 liter atau udara ruang. Kriteria ini menunjukkan bahwa difusi oksigen dan karbondioksida di alveoli telah membaik dan perfusi jaringan adekuat.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Intervensi utama adalah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596