Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23819 | 26 Jan 2026
Klinis : pasien stroke dengan hemaparesis kanan, pelo dan sulit menelan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal dan Disfagia pasca Stroke dengan Hemiparesis Kanan
Kode SDKI: 00056
Deskripsi Singkat: Gangguan Kemampuan Berkomunikasi Secara Verbal
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Kemampuan berkomunikasi membaik
Kode SIKI: 3501, 3502, 3503, 3504, 3505, 3506, 3507, 3508, 3509, 3510, 3511, 3512, 3513, 3514, 3515, 3516, 3517, 3518, 3519, 3520, 3521, 3522, 3523, 3524, 3525, 3526, 3527, 3528, 3529, 3530, 3531, 3532, 3533, 3534, 3535, 3536, 3537, 3538, 3539, 3540, 3541, 3542, 3543, 3544, 3545, 3546, 3547, 3548, 3549, 3550, 3551, 3552, 3553, 3554, 3555, 3556, 3557, 3558, 3559, 3560, 3561, 3562, 3563, 3564, 3565, 3566, 3567, 3568, 3569, 3570, 3571, 3572, 3573, 3574, 3575, 3576, 3577, 3578, 3579, 3580, 3581, 3582, 3583, 3584, 3585, 3586, 3587, 3588, 3589, 3590, 3591, 3592, 3593, 3594, 3595, 3596, 3597, 3598, 3599, 3600, 3601, 3602, 3603, 3604, 3605, 3606, 3607, 3608, 3609, 3610, 3611, 3612, 3613, 3614, 3615, 3616, 3617, 3618, 3619, 3620, 3621, 3622, 3623, 3624, 3625, 3626, 3627, 3628, 3629, 3630, 3631, 3632, 3633, 3634, 3635, 3636, 3637, 3638, 3639, 3640, 3641, 3642, 3643, 3644, 3645, 3646, 3647, 3648, 3649, 3650, 3651, 3652, 3653, 3654, 3655, 3656, 3657, 3658, 3659, 3660, 3661, 3662, 3663, 3664, 3665, 3666, 3667, 3668, 3669, 3670, 3671, 3672, 3673, 3674, 3675, 3676, 3677, 3678, 3679, 3680, 3681, 3682, 3683, 3684, 3685, 3686, 3687, 3688, 3689, 3690, 3691, 3692, 3693, 3694, 3695, 3696, 3697, 3698, 3699, 3700
Deskripsi : Intervensi untuk gangguan komunikasi verbal mencakup serangkaian tindakan komprehensif. Pertama, lakukan pengkajian pola dan kemampuan komunikasi pasien, termasuk bahasa yang dipahami, kemampuan membaca dan menulis, serta penggunaan alat bantu. Kedua, ciptakan lingkungan yang kondusif untuk komunikasi dengan mengurangi kebisingan, menjaga privasi, dan memastikan pencahayaan yang baik. Ketiga, gunakan teknik komunikasi terapeutik seperti berbicara pelan, jelas, dan dengan nada normal; pertahankan kontak mata; berikan waktu yang cukup untuk pasien merespons; dan gunakan alat bantu komunikasi (papan gambar, tulisan, isyarat) sesuai kebutuhan. Keempat, libatkan keluarga dan orang terdekat dalam proses komunikasi, ajarkan mereka teknik berkomunikasi yang efektif dengan pasien. Kelima, kolaborasi dengan ahli terapi wicara untuk latihan dan terapi yang lebih spesifik. Keenam, selalu validasi pemahaman pasien terhadap informasi yang disampaikan dengan memintanya mengulang atau menunjukkan. Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi frustrasi, meningkatkan partisipasi pasien dalam perawatan, dan memulihkan fungsi komunikasi secara bertahap.
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal dan Disfagia pasca Stroke dengan Hemiparesis Kanan
Kode SDKI: 00106
Deskripsi Singkat: Risiko Aspirasi
Kode SLKI: 1001
Deskripsi : Bebas dari tanda dan gejala aspirasi
Kode SIKI: 4201, 4202, 4203, 4204, 4205, 4206, 4207, 4208, 4209, 4210, 4211, 4212, 4213, 4214, 4215, 4216, 4217, 4218, 4219, 4220, 4221, 4222, 4223, 4224, 4225, 4226, 4227, 4228, 4229, 4230, 4231, 4232, 4233, 4234, 4235, 4236, 4237, 4238, 4239, 4240, 4241, 4242, 4243, 4244, 4245, 4246, 4247, 4248, 4249, 4250, 4251, 4252, 4253, 4254, 4255, 4256, 4257, 4258, 4259, 4260, 4261, 4262, 4263, 4264, 4265, 4266, 4267, 4268, 4269, 4270, 4271, 4272, 4273, 4274, 4275, 4276, 4277, 4278, 4279, 4280, 4281, 4282, 4283, 4284, 4285, 4286, 4287, 4288, 4289, 4290, 4291, 4292, 4293, 4294, 4295, 4296, 4297, 4298, 4299, 4300, 4301, 4302, 4303, 4304, 4305, 4306, 4307, 4308, 4309, 4310, 4311, 4312, 4313, 4314, 4315, 4316, 4317, 4318, 4319, 4320, 4321, 4322, 4323, 4324, 4325, 4326, 4327, 4328, 4329, 4330, 4331, 4332, 4333, 4334, 4335, 4336, 4337, 4338, 4339, 4340, 4341, 4342, 4343, 4344, 4345, 4346, 4347, 4348, 4349, 4350, 4351, 4352, 4353, 4354, 4355, 4356, 4357, 4358, 4359, 4360, 4361, 4362, 4363, 4364, 4365, 4366, 4367, 4368, 4369, 4370, 4371, 4372, 4373, 4374, 4375, 4376, 4377, 4378, 4379, 4380, 4381, 4382, 4383, 4384, 4385, 4386, 4387, 4388, 4389, 4390, 4391, 4392, 4393, 4394, 4395, 4396, 4397, 4398, 4399, 4400
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah aspirasi pada pasien disfagia melibatkan manajemen yang ketat. Lakukan pengkajian menyeluruh terhadap kemampuan menelan (disfagia) sebelum pemberian makan/minum, termasuk tes refleks batuk dan tanda klinis lainnya. Posisikan pasien dalam posisi duduk tegak (90 derajat) atau setidaknya 45 derajat selama dan minimal 30 menit setelah makan. Pilih konsistensi makanan dan minuman yang aman sesuai hasil skrining (misalnya, makanan lunak/puree dan cairan kental). Berikan makan dalam porsi kecil dan suapan kecil, beri waktu untuk mengunyah dan menelan secara sempurna sebelum suapan berikutnya. Hindari distraksi seperti menonton TV selama makan. Lakukan perawatan kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan untuk mengurangi residu makanan yang dapat teraspirasi. Ajarkan teknik menelan yang aman (seperti menundukkan dagu) jika direkomendasikan terapis. Pantau tanda-tanda aspirasi seperti batuk, suara basah, sesak napas, atau demam tanpa sebab jelas. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk modifikasi diet dan dengan dokter atau terapis wicara untuk penatalaksanaan disfagia yang lebih lanjut. Intervensi ini bertujuan untuk memastikan nutrisi adekuat sekaligus mencegah
Article No. 23820 | 26 Jan 2026
Klinis : Diare 10 kali sehari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: 00013
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Keseimbangan antara asupan dan haluaran cairan tubuh dipertahankan. Indikator: 1) Menyebutkan pentingnya keseimbangan cairan. 2) Asupan cairan sesuai kebutuhan. 3) Haluaran urin sesuai kebutuhan. 4) Turgor kulit baik. 5) Mukosa mulut lembab. 6) Tidak ada rasa haus berlebihan. 7) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 8) Berat badan stabil.
Kode SIKI: 2010
Deskripsi : Manajemen Diare. Tindakan keperawatan untuk mengatasi atau mengurangi frekuensi dan konsistensi feses cair. Indikator: 1) Identifikasi faktor penyebab diare. 2) Pantau frekuensi, volume, dan konsistensi feses. 3) Observasi tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mata cekung, mukosa mulut, rasa haus). 4) Observasi tanda-tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah, suhu). 5) Anjurkan meningkatkan asupan cairan oral (oralit, air, kuah sayur). 6) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai indikasi. 7) Kolaborasi pemberian farmakoterapi antidiare sesuai indikasi. 8) Anjurkan menghindari makanan yang merangsang peristaltik usus (pedas, berlemak, susu). 9) Anjurkan makanan yang mudah dicerna (bubur, pisang, apel). 10) Lakukan perawatan area perianal untuk mencegah iritasi. 11) Ajarkan cara mencuci tangan yang benar. 12) Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, hematokrit).
Article No. 23821 | 26 Jan 2026
Klinis : Risiko ketidakseimbangan glukosa darah ditandai ges 244
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah dari rentang normal yang dapat membahayakan kesehatan. Kondisi pasien ditandai dengan GDS (Glukosa Darah Sewaktu) 244 mg/dL, yang jauh di atas batas normal (biasanya >200 mg/dL), mengindikasikan hiperglikemia yang signifikan.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Keseimbangan Glukosa Darah Tercapai. Luaran yang diharapkan adalah kadar glukosa darah pasien dapat dikendalikan dalam rentang target yang ditetapkan, mencegah komplikasi akut dan kronis. Kriteria luaran mencakup: (1) Pasien menunjukkan kadar glukosa darah dalam rentang yang ditetapkan (misalnya, puasa 80-130 mg/dL, 2 jam postprandial <180 mg/dL). (2) Pasien bebas dari tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsia, polifagia, lemas, pandangan kabur) atau hipoglikemia. (3) Pasien memahami dan berpartisipasi dalam rencana manajemen glukosa darah. (4) Pasien menunjukkan pemahaman tentang faktor risiko dan tanda-tanda peringatan ketidakseimbangan glukosa. Pencapaian luaran ini memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
Kode SIKI: I.12728
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan untuk mengatasi dan mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang berlebihan. Tindakan spesifik meliputi: (1) **Pemantauan dan Pengawasan**: Memantau kadar glukosa darah secara teratur (seperti GDS 244), menilai tanda vital, status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa), dan tanda-tanda ketoasidosis (napas berbau aseton, pernapasan Kussmaul, penurunan kesadaran). Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan sangat penting. (2) **Pemberian Terapi Farmakologis**: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian dan pemantauan efek insulin atau obat antidiabetik oral sesuai resep. Memastikan dosis, waktu, dan teknik pemberian yang tepat, serta memantau respons terapi dan tanda-tanda hipoglikemia sebagai efek samping. (3) **Edukasi dan Konseling**: Memberikan pendidikan kesehatan tentang penyebab hiperglikemia (misalnya, kurangnya pengobatan, pola makan, stres, infeksi), cara memantau glukosa darah mandiri, pentingnya kepatuhan pengobatan, dan perencanaan makan yang sesuai. Edukasi juga mencakup penatalaksanaan selama sakit (sick day management). (4) **Manajemen Nutrisi**: Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang seimbang sesuai kebutuhan kalori dan kondisi metabolik pasien. Menganjurkan pembatasan asupan karbohidrat sederhana dan meningkatkan asupan serat. (5) **Promosi Aktivitas Fisik**: Mendorong aktivitas fisik yang teratur dan sesuai kondisi pasien, karena aktivitas dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Namun, pada kondisi hiperglikemia berat atau adanya keton, aktivitas perlu diatur agar tidak memperburuk keadaan. (6) **Pencegahan Komplikasi**: Memantau tanda-tanda infeksi (sumber potensial pemicu hiperglikemia) dan memberikan perawatan kulit yang baik untuk mencegah luka. (7) **Dukungan Psikososial**: Memberikan dukungan emosional karena mengelola diabetes dapat menimbulkan stres dan beban psikologis. Motivasi pasien dan keluarga untuk terlibat aktif dalam perawatan. Intervensi ini dilakukan secara holistik, berfokus tidak hanya pada penurunan angka glukosa (244 mg/dL) tetapi juga pada pemberdayaan pasien untuk mengelola kesehatannya sendiri secara berkelanjutan, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup.
Article No. 23822 | 26 Jan 2026
Klinis : Risiko integritas kulit dan jaringan karena berbaring dia kena dm dan stroke
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera Integritas Kulit
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko cedera integritas kulit adalah kondisi di mana individu rentan mengalami kerusakan pada epidermis, dermis, atau keduanya. Pada pasien dengan kondisi seperti diabetes melitus (DM) dan stroke yang berbaring lama (imobilisasi), risiko ini sangat meningkat. Faktor risiko utama berasal dari dua kondisi tersebut. DM menyebabkan neuropati perifer (gangguan saraf sensori sehingga pasien tidak merasakan nyeri atau tekanan) dan angiopati (gangguan sirkulasi darah yang mengakibatkan penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan), sehingga kulit menjadi rapuh dan proses penyembuhan luka sangat lambat. Sementara itu, stroke menyebabkan defisit neurologis seperti kelemahan atau kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese/hemiplegi), yang mengakibatkan imobilisasi. Imobilisasi menimbulkan tekanan terus-menerus pada titik-titik tertentu (seperti tumit, sakrum, trokanter) yang dapat menghambat aliran darah kapiler, menyebabkan iskemia jaringan, dan akhirnya berkembang menjadi ulkus dekubitus. Kombinasi dari gangguan sensasi, gangguan perfusi, dan tekanan mekanis yang berkepanjangan ini menciptakan situasi yang sangat rentan bagi integritas kulit pasien.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : SLKI L.03102 adalah "Kemampuan mempertahankan integritas kulit". Tujuan utama dari intervensi keperawatan adalah agar kulit pasien tetap utuh, tanpa adanya tanda-tanda kerusakan seperti kemerahan yang tidak memudar (non-blanchable erythema), lecet, atau luka terbuka. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Kulit tetap utuh dengan warna, kelembaban, suhu, dan elastisitas yang normal; 2) Tidak ada area kemerahan, terutama di atas tonjolan tulang; 3) Pasien dan keluarga dapat mendemonstrasikan perilaku atau teknik untuk mencegah kerusakan kulit, seperti melakukan perubahan posisi secara rutin; 4) Parameter terkait kondisi penyebab (seperti kadar gula darah pada DM) dapat dikendalikan dalam rentang yang ditargetkan untuk mendukung penyembuhan jaringan. Pencapaian SLKI ini membutuhkan pendekatan komprehensif yang menggabungkan manajemen tekanan, perawatan kulit, dan optimisasi status kesehatan secara keseluruhan.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : SIKI I.08021 adalah "Manajemen Risiko Integritas Kulit". Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan proaktif dan sistematis untuk mencegah cedera kulit pada pasien yang berisiko tinggi. Implementasinya meliputi: 1) **Pengkajian kulit secara sistematis dan berkala**, minimal setiap 8 jam atau setiap kali perubahan posisi, dengan menggunakan alat skrining seperti Braden Scale untuk mengukur tingkat risiko secara objektif. Fokus pada area tonjolan tulang (sakrum, tumit, siku, trokanter, tumit). 2) **Manajemen tekanan/gesekan**, dengan melakukan reposisi atau perubahan posisi tubuh pasien secara teratur (setiap 2 jam untuk posisi telentang/miring, atau lebih sering sesuai kebutuhan) menggunakan teknik yang benar untuk menghindari tarikan dan gesekan pada kulit. Penggunaan bantal atau wedge untuk mengangkat tumit sepenuhnya dari tempat tidur (floating heels) dan menjaga posisi 30° miring untuk mengurangi tekanan pada sakrum. Pemanfaatan permukaan tempat tidur khusus seperti matras dekubitus statis atau dinamis (alternating pressure mattress) sesuai indikasi. 3) **Perawatan kulit langsung**, meliputi menjaga kebersihan kulit dengan pembersihan lembut menggunakan sabun pH balanced dan air hangat, pengeringan sempurna terutama di area lipatan, serta aplikasi pelembab untuk kulit kering. Hindari pijatan kuat pada area kemerahan. Penggunaan barrier cream (krim pelindung) di area yang terpapar kelembaban seperti akibat inkontinensia. 4) **Optimalisasi status kesehatan umum**, dengan kolaborasi untuk mengontrol kadar glukosa darah secara ketat, memastikan asupan nutrisi dan protein yang adekuat untuk mendukung regenerasi jaringan, serta menjaga hidrasi yang baik. 5) **Edukasi dan pemberdayaan pasien/keluarga**, mengajarkan pentingnya perubahan posisi, cara inspeksi kulit mandiri jika memungkinkan, dan tanda-tanda kerusakan kulit yang harus diwaspadai. Intervensi ini bersifat multidimensi dan memerlukan konsistensi serta dokumentasi yang cermat untuk mencegah secara efektif terjadinya luka dekubitus yang dapat memperberat kondisi pasien, meningkatkan biaya perawatan, dan menurunkan kualitas hidup.
Article No. 23823 | 26 Jan 2026
Klinis : Nyeri dada (+), sesak nafas (+) TD: 111/67 N:105 S: 36,3 RR:20 SPO2:98 Kepala: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Leher: JVP 5+2 cmH2O Cor: S1 S2 intensitas normal, reguler, murmur (-), gallop (-), batas jantung kesan tidak melebar Pulmo: SDV (+/+), RBH (+/+) , RBK (-/-) Abdomen: BU(+), nyeri tekan epigastrik (-). Ekstremitas: oedem (-/-), akral dingin (-) sesak Kesan : - Akut infark cerebri di temporoparietalis dextra - Atrofi cerebri - Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebelli
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Gangguan Pertukaran Gas terkait dengan Iskemia Miokard dan Kongesti Paru
Kode SDKI: D.0005 & D.0013
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien dengan nyeri dada (+), sesak napas (+), dan temuan pemeriksaan fisik RBH (+/+), diduga kuat terjadi penurunan suplai oksigen ke jantung (iskemia miokard/infark) yang memicu nyeri akut. Secara bersamaan, adanya kongesti paru (ditandai RBH) mengindikasikan gangguan pada pertukaran gas antara alveoli dan kapiler paru, yang dimanifestasikan sebagai sesak napas. Meskipun kesan utama adalah infark serebri, gejala kardiopulmonal ini sangat dominan dan memerlukan penanganan keperawatan segera, mengingat risiko komplikasi yang tinggi. Diagnosa ini menggabungkan respons nyeri somatik dengan disfungsi fisiologis pernapasan.
Kode SLKI: L.03113 & L.04001
Deskripsi : SLKI L.03113 (Manajemen Nyeri) bertujuan agar tingkat nyeri pasien terkontrol, ditandai dengan skala nyeri menurun, pasien melaporkan penurunan nyeri, dan tampak rileks. Intervensi difokuskan pada pemberian analgesik sesuai instruksi, teknik non-farmakologis seperti lingkungan tenang, serta monitoring respons dan efek samping obat. Sementara itu, SLKI L.04001 (Manajemen Pertukaran Gas) bertujuan untuk mempertahankan pertukaran gas yang adekuat, dengan kriteria hasil: saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang target (≥95%), frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada sianosis, dan bunyi napas bersih atau membaik. Upaya mencapai ini meliputi pemberian oksigen tambahan, posisi semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi dada, memantau status pernapasan dan gas darah, serta mengelola penyebab kongesti paru.
Kode SIKI: I.08090 & I.08346
Deskripsi : SIKI I.08090 (Manajemen Nyeri) mencakup serangkaian intervensi spesifik: lakukan pengkajian nyeri komprehensif (lokasi, karakteristik, intensitas dengan skala), ajarkan teknik distraksi dan relaksasi, kolaborasi pemberian analgesik (seperti nitrogliserin, morfin sesuai protokol), evaluasi efektivitas intervensi, dan pantau tanda vital sebelum dan sesudah pemberian obat. SIKI I.08346 (Manajemen Gangguan Pertukaran Gas) meliputi: memposisikan pasien untuk optimalisasi ventilasi (semi-Fowler/High Fowler), administrasi oksigen sesuai kebutuhan dan protokol, memantau saturasi oksigen secara terus-menerus, mengauskultasi bunyi napas tiap jam atau sesuai kondisi, mendukung upaya batuk efektif jika diperlukan, memantau status hemodinamik (terutama tekanan darah dan denyut nadi), serta berkolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi seperti diuretik atau vasodilator untuk mengurangi kongesti paru. Kedua set intervensi ini harus dilakukan secara terintegrasi, karena penurunan nyeri dapat mengurangi konsumsi oksigen miokard dan stres, yang pada gilirannya mendukung perbaikan pertukaran gas.
Kondisi: Penurunan Curah Jantung dan Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah terkait dengan Disfungsi Ventrikel
Kode SDKI: D.0020 & D.0001
Deskripsi Singkat: Data pasien menunjukkan tanda-tanda awal penurunan curah jantung, yang ditandai dengan takikardia (N:105 x/menit) sebagai mekanisme kompensasi, dan tekanan darah yang cenderung rendah (111/67 mmHg) pada pasien dengan nyeri akut yang biasanya meningkatkan tekanan darah. Kombinasi nyeri dada, sesak, dan takikardia sangat sugestif terhadap iskemia atau infark miokard akut yang mengganggu kemampuan pompa jantung. Kondisi ini berisiko menyebabkan ketidakstabilan tekanan darah, baik menjadi hipotensi lebih lanjut akibat penurunan curah jantung maupun hipertensi akibat respons simpatis. Meskipun batas jantung tidak melebar dan gallop tidak terdengar, monitoring ketat diperlukan karena kondisi dapat memburuk dengan cepat.
Kode SLKI: L.02004 & L.03030
Deskripsi : SLKI L.02004 (Manajemen Curah Jantung) bertujuan untuk mempertahankan curah jantung yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Kriteria hasil meliputi: tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien, denyut nadi dalam rentang normal, haluaran urine adekuat (>0.5 mL/kg/jam), kulit hangat dan kering, serta status mental baik. SLKI L.03030 (Pemantauan Tekanan Darah) bertujuan tekanan darah tetap stabil dan terkontrol, dengan kriteria hasil: tekanan darah dalam rentang target, tidak ada gejala hipotensi atau hipertensi postural, dan parameter hemodinamik lainnya stabil.
Kode SIKI: I.07043 & I.09002
Deskripsi : SIKI I.07043 (Manajemen Curah Jantung) meliputi intervensi: memantau status hemodinamik (tekanan darah, nadi, isi nadi) secara ketat, mencatat balance cairan, memberikan terapi oksigen untuk mengurangi beban kerja jantung, mengatur pemberian cairan intravena dengan hati-hati, berkolaborasi dalam pemberian obat inotropik, vasodilator, atau diuretik sesuai kebutuhan, serta memantau respons pasien terhadap terapi. SIKI I.09002 (Pemantauan Tekanan Darah) mencakup: mengukur tekanan darah pada interval rutin dan saat ada perubahan kondisi, membandingkan pembacaan dengan nilai dasar pasien, memantau tanda dan gejala hipoperfusi (pusing, kulit lembab, penurunan kesadaran), menghindari manuver valsalva, dan mengajarkan pasien untuk melaporkan gejala perubahan tekanan darah. Intervensi ini vital untuk mencegah syok kardiogenik dan menjaga perfusi organ vital, termasuk otak yang sedang mengalami kondisi akut.
Kondisi: Risiko Tinggi Penurunan Perfusi Jaringan Otak sekunder terhadap Iskemia Serebri Akut
Kode SDKI: D.0150
Deskripsi Singkat: Kesan medis "Akut infark cerebri di temporoparietalis dextra" menjadi dasar diagnosa keperawatan ini. Infark serebri (stroke iskemik) berarti telah terjadi penyumbatan aliran darah ke area otak tertentu, yang secara langsung mengancam perfusi dan oksigenasi jaringan otak. Risiko terjadinya perluasan area infark atau penurunan perfusi lebih lanjut sangat tinggi, terutama jika disertai dengan masalah hemodinamik seperti tekanan darah yang cenderung rendah atau takikardia. Diagnosa ini berfokus pada pencegahan kerusakan neurologis yang lebih luas dengan mengoptimalkan faktor-faktor yang mempengaruhi aliran darah serebral dan mengantisipasi komplikasi peningkatan tekanan intrakranial.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : SLKI L.10001 (Pemantauan Neurologis) bertujuan untuk mendeteksi dini perubahan status neurologis dan mencegah perluasan defisit. Kriteria hasil meliputi: tingkat kesadaran tetap stabil atau membaik, fungsi motorik dan sensorik tidak mengalami penurunan, tanda-tanda vital yang mempengaruhi perfusi serebral (terutama tekanan darah) terkontrol dalam rentang target, serta tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, atau penurunan kesadaran mendadak.
Kode SIKI: I.10029
Deskripsi : SIKI I.10029 (Pemantauan Neurologis) mencakup intervensi komprehensif: lakukan pengkajian neurologis rutin (GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, sensasi, fungsi bicara) setiap jam atau sesuai protokol, pantau tanda vital dengan tekanan darah yang dipertahankan sesuai target (seringkali diperbolehkan lebih tinggi untuk menjaga perfusi otak, kecuali ada kontraindikasi), posisikan kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali jika hipotensi) untuk memfasilitasi aliran balik vena serebral, hindari manipulasi leher yang dapat mengganggu aliran darah arteri vertebralis atau karotis, pantau tanda-tanda peningkatan TIK, berikan terapi oksigen untuk menjamin oksigenasi serebral yang adekuat, kolaborasi pemberian terapi medis seperti trombolitik atau neuroprotektor sesuai instruksi, dan lakukan observasi ketat terhadap perkembangan defisit neurologis fokal sesuai area infark (misalnya fungsi bahasa jika dominan, atau persepsi sensorik).
Article No. 23824 | 26 Jan 2026
Klinis : Nyeri pada paha kiri R. Femur (S) L: Open wound (-), hiperemis (-), ekimosis (-), swelling (+), deformitas (-), skin tenting (-) F: NT (+), krepitasi (-), tidak terdapat neurovascular disturbance, CRT < 2 detik M: ROM terbatas nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada upaya untuk mengendalikan nyeri yang dialami pasien. Tujuan utamanya adalah agar nyeri pasien dapat teratasi, yang ditandai dengan skala nyeri yang menurun hingga mencapai tingkat yang dapat ditoleransi atau hilang sama sekali sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Luaran ini diukur melalui penilaian verbal atau non-verbal pasien mengenai intensitas, lokasi, dan karakter nyeri. Pencapaian luaran ini menunjukkan keberhasilan intervensi keperawatan dalam memodulasi persepsi nyeri, mengurangi distress, dan meningkatkan kenyamanan. Dalam konteks fraktur femur, penurunan nyeri merupakan indikator awal yang penting untuk memungkinkan pasien berpartisipasi dalam aktivitas pemulihan lainnya, seperti latihan rentang gerak terbatas. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang valid seperti Numeric Rating Scale (NRS) atau Wong-Baker Faces Scale, dimana target yang realistis ditetapkan bersama pasien, misalnya penurunan skala nyeri dari 7 menjadi 3 dalam 24 jam pertama setelah intervensi.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : Intervensi ini adalah pemberian obat-obatan farmakologis yang diresepkan oleh dokter untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Pada kasus nyeri akut akibat fraktur seperti ini, analgesik yang umum diberikan termasuk opioid (contoh: morfin, fentanil) untuk nyeri berat, atau non-opioid (contoh: parasetamol, NSAID seperti ketorolak). Peran perawat adalah melaksanakan pemberian obat secara tepat (right patient, right drug, right dose, right route, right time), memantau efektivitasnya dengan menilai skala nyeri sebelum dan setelah pemberian, serta mengobservasi dan mengelola efek samping yang mungkin timbul (misalnya mual, sedasi, depresi pernapasan untuk opioid; atau gangguan lambung untuk NSAID). Selain pemberian obat, intervensi ini juga mencakup edukasi kepada pasien tentang regimen obat, tujuan pengobatan, dan pentingnya melaporkan nyeri secara proaktif. Pemberian analgesik secara reguler (around-the-clock) pada fase awal seringkali lebih efektif daripada pemberian sesuai permintaan (prn) untuk mengendalikan nyeri traumatik yang berat dan memungkinkan mobilisasi dini yang lebih nyaman.
Kondisi: Mobilitas Fisik Terganggu
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik mandiri yang disengaja dalam lingkungan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan mobilitas pasien. Tujuannya adalah agar pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan bergerak secara mandiri atau dengan bantuan sesuai batasan yang ditetapkan. Luaran ini diukur melalui observasi terhadap kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas seperti mengubah posisi, berpindah, atau berjalan (jika diizinkan). Dalam kasus fraktur femur dengan pembengkakan dan nyeri, luaran yang realistis pada fase awal mungkin adalah pasien dapat melakukan perawatan diri di tempat tidur dengan bantuan minimal, atau dapat melakukan latihan rentang gerak (ROM) pada ekstremitas yang tidak terdampak secara mandiri. Peningkatan mobilitas juga ditandai dengan tidak adanya komplikasi imobilisasi seperti kontraktur, atrofi otot yang signifikan, atau ulkus dekubitus. Perawat akan menilai parameter seperti kekuatan otot, koordinasi, dan toleransi aktivitas. Target jangka panjang adalah pasien dapat melakukan ambulasi progresif dengan alat bantu sesuai rencana rehabilitasi pasca stabilisasi fraktur.
Kode SIKI: I.09023
Deskripsi : Intervensi ini melibatkan bantuan aktif dari perawat untuk memindahkan atau mengubah posisi pasien di tempat tidur, kursi, atau selama prosedur. Pada pasien dengan fraktur femur yang nyeri dan bengkak, teknik pemindahan harus sangat hati-hati untuk mencegah pergeseran fragmen tulang dan memperburuk cedera. Prinsipnya adalah mempertahankan alignment ekstremitas yang cedera (misalnya dengan penyangga/tumpukan bantal), menggunakan teknik mengangkat yang benar (seperti menarik, bukan menggeser), dan mungkin melibatkan alat bantu seperti papan geser (sliding board). Intervensi ini juga mencakup edukasi dan supervisi kepada pasien serta keluarga tentang cara yang aman untuk bergerak. Tujuan utamanya adalah memfasilitasi mobilitas yang diperlukan untuk perawatan dan kenyamanan sambil meminimalkan risiko cedera lebih lanjut dan mempertahankan stabilitas fraktur. Posisi yang sering diubah juga membantu mencegah komplikasi imobilisasi dan meningkatkan sirkulasi.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen.
Kode SLKI: L.18001
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pencegahan infeksi. Tujuannya adalah agar pasien tetap bebas dari tanda dan gejala infeksi selama periode perawatan. Luaran ini dimanifestasikan dengan tidak adanya indikator infeksi seperti demam, kemerahan (hiperemis), panas, bengkak (swelling) yang meningkat, nyeri bertambah, atau adanya drainase purulen dari lokasi cedera. Meskipun pada kondisi pasien ini disebut "open wound (-)" dan "hiperemis (-)", adanya trauma jaringan tertutup dengan pembengkakan (swelling +) tetap menciptakan risiko infeksi, terutama jika ada prosedur invasif seperti operasi fiksasi fraktur. Perawat akan memantau tanda-tanda vital (terutama suhu), inspeksi kondisi kulit dan jaringan sekitar fraktur, serta menilai hasil laboratorium seperti leukosit. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa mekanisme pertahanan tubuh pasien tetap utuh dan intervensi pencegahan berhasil. Pasien dan keluarga juga diharapkan dapat menyebutkan tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan.
Kode SIKI: I.18020
Deskripsi : Intervensi ini adalah tindakan membersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan handrub berbasis alkohol untuk menghilangkan mikroorganisme transien. Cuci tangan merupakan langkah paling mendasar dan efektif dalam memutus rantai infeksi. Dalam konteks merawat pasien dengan fraktur, cuci tangan harus dilakukan secara ketat oleh perawat, pasien, dan pengunjung pada lima momen penting: sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan tindakan aseptik, setelah terpapar cairan tubuh pasien, setelah menyentuh pasien, dan setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien. Terutama sebelum dan setelah melakukan perawatan pada area yang bengkak, melakukan perawatan luka jika ada, atau memasang/memobilisasi alat traksi/fiksasi. Edukasi kepada pasien tentang pentingnya cuci tangan juga bagian dari intervensi ini, terutama untuk mencegah infeksi silang dan mempersiapkan pasien melakukan perawatan mandiri di rumah. Kepatuhan terhadap hand hygiene secara konsisten secara signifikan mengurangi risiko infeksi nosokomial.
Article No. 23825 | 26 Jan 2026
Klinis : Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernapasan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan, serta penjelasan singkat mengenai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) beserta kode dan definisinya, yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), disajikan dalam format HTML yang siap ditampilkan.
```html
Diagnosa Keperawatan: Pola Napas Tidak Efektif