Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23849 | 29 Jan 2026
Klinis : gangguan jalan nafas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Jalan Napas
Kode ICD-10: J98.8
Deskripsi Singkat : Gangguan jalan napas (J98.8) diklasifikasikan di bawah "Penyakit lain pada sistem pernapasan" dalam ICD-10. Kode ini digunakan untuk mendokumentasikan adanya obstruksi, penyempitan, atau disfungsi pada saluran pernapasan yang tidak spesifik atau tidak termasuk dalam kategori diagnosis yang lebih tepat seperti asma, PPOK, atau bronkiektasis. Gangguan ini dapat terjadi di saluran napas atas (seperti hidung, faring, laring) atau saluran napas bawah (trakea, bronkus). Penyebabnya beragam, mulai dari edema, sekresi berlebihan, benda asing, kelainan struktural, hingga kompresi dari luar. Gejala umum meliputi sesak napas (dispnea), mengi (wheezing), stridor, batuk, dan suara napas tambahan. Kode J98.8 bersifat nonspesifik dan sering digunakan sebagai kode sementara saat menunggu diagnosis yang lebih pasti atau ketika penyebab gangguan jalan napas bersifat iatrogenik atau pasca-trauma. Penggunaan kode ini menekankan pentingnya pencatatan klinis yang detail untuk mengidentifikasi etiologi yang mendasari, yang nantinya mungkin memerlukan kode ICD-10 yang lebih spesifik.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23850 | 29 Jan 2026
Klinis : gangguan jalan nafas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Jalan Napas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Pemeliharaan Jalan Napas. Deskripsi: Tujuan keperawatan adalah jalan napas pasien tetap paten. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Bunyi napas bersih (vesikuler) di seluruh lapang paru; 2) Tidak ada suara napas tambahan (ronkhi, wheezing, stridor); 3) Laju, irama, dan kedalaman napas dalam rentang normal sesuai usia; 4) Tidak ada sianosis atau tanda hipoksia lainnya; 5) Pasien mampu batuk efektif dan mengeluarkan sekresi (jika sadar); 6) Nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal; 7) Jalan napas buatan (seperti endotracheal tube atau trakeostomi) tetap bersih, aman, dan berfungsi baik jika terpasang.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Deskripsi: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk memastikan jalan napas paten dan pertukaran gas yang adekuat. Intervensi ini meliputi: 1) **Pemantauan**: Mengkaji bunyi napas, laju, irama, kedalaman, dan usaha napas secara berkala. Memantau status oksigenasi melalui SpO2 dan tanda klinis (warna kulit, tingkat kesadaran). Mengobservasi karakteristik sekresi (warna, jumlah, konsistensi). 2) **Posisi**: Menempatkan pasien pada posisi yang memudahkan ventilasi, seperti semi-Fowler atau Fowler tinggi, serta melakukan reposisi secara teratur. Pada pasien dengan penurunan kesadaran, posisi lateral atau recovery position dapat mencegah aspirasi. 3) **Teknik Bantuan Batuk**: Mengajarkan dan mendorong batuk dalam dan efektif. Melakukan latihan napas dalam dan penggunaan spirometer insentif. Memberikan bantuan dengan "splinting" menggunakan bantal atau tangan saat pasien batuk pasca operasi. 4) **Manajemen Sekresi**: Melakukan fisioterapi dada (chest physiotherapy) seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage sesuai indikasi dan kondisi pasien. Melakukan suction jalan napas (orofaringeal, nasofaringeal, atau endotrakeal) dengan teknik steril untuk mengangkat sekresi yang tidak dapat dikeluarkan pasien sendiri. Mempertahankan kelembaban udara dengan humidifier atau nebulizer untuk mengencerkan sekresi. 5) **Manajemen Alat Bantu Jalan Napas**: Merawat dan mengamankan jalan napas buatan (ETT, trakeostomi) dengan fiksasi yang tepat. Melakukan suction pada tube secara steril. Membersihkan dan menggangi kanul trakeostomi atau stoma sesuai protokol. Memastikan cuff pressure pada ETT dalam rentang aman. 6) **Pemberian Oksigen**: Memberikan terapi oksigen sesuai dengan resep dan protokol untuk mempertahankan saturasi yang adekuat. 7) **Edukasi**: Mengajarkan pada pasien dan keluarga tanda-tanda gangguan jalan napas serta kapan harus mencari bantuan. Mengajarkan teknik batuk dan latihan napas yang benar untuk dilakukan secara mandiri. 8) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau antibiotik sesuai resep. Merujuk ke fisioterapis untuk latihan pernapasan lebih lanjut. Intervensi ini bersifat dinamis dan harus disesuaikan dengan penyebab gangguan jalan napas (misalnya: sekresi berlebihan, bronkospasme, edema, obstruksi benda asing, atau depresi pusat pernapasan) serta kondisi spesifik pasien.
-
Article No. 23851 | 29 Jan 2026
Klinis : pusing dan diare
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis dan Akibat Dehidrasi
Kode ICD-10: A09.9
Deskripsi Singkat : Kombinasi gejala pusing dan diare sangat mengarah pada gastroenteritis (radang lambung dan usus) yang sering disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit, dengan komplikasi dehidrasi ringan. Pusing dalam konteks ini biasanya merupakan tanda awal dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit dari diare. Kode ICD-10 A09.9 termasuk dalam bab "Penyakit tertentu yang menular dan parasit", tepatnya di bawah kategori "Diare dan gastroenteritis yang diduga berasal dari infeksi". Kode ini digunakan untuk kasus diare dan gastroenteritis yang diduga bersifat infeksius tetapi agen penyebab pastinya tidak ditentukan (tidak spesifik). Penggunaan kode ini memerlukan pertimbangan klinis karena gejala serupa dapat disebabkan oleh kondisi non-infeksi seperti intoleransi makanan atau sindrom iritasi usus. Dalam praktik pengkodean resmi, dokter harus menegakkan diagnosis yang lebih spesifik jika memungkinkan berdasarkan pemeriksaan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23852 | 29 Jan 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksi Virus Campak
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu rentan terhadap patogen yang dapat mengganggu kesehatan. Pada kasus campak, risiko infeksi sekunder (seperti pneumonia, otitis media, diare) sangat tinggi karena virus melemahkan sistem imun dan merusak epitel saluran pernapasan serta usus. Selain itu, kondisi pasien juga menunjukkan manifestasi langsung dari infeksi virus, yaitu Hipertermia (SDKI 00007).
Kode SLKI: 0410 & 0710
Deskripsi : SLKI 0410: Pengendalian Infeksi. Tujuan keperawatan adalah mencegah terjadinya infeksi sekunder dan penyebaran penyakit. Hasil yang diharapkan meliputi: tanda-tanda infeksi sekunder (seperti sesak napas, diare hebat, nyeri telinga) dapat dideteksi dini dan ditangani; tidak terjadi komplikasi infeksi bakteri; dan penularan ke orang lain diminimalkan. SLKI 0710: Pengaturan Suhu. Tujuan keperawatan adalah suhu tubuh kembali normal dan pasien merasa nyaman. Hasil yang diharapkan meliputi: suhu tubuh dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C), tidak ada kejang demam, tanda-tanda vital stabil, dan pasien menunjukkan perilaku termoregulasi yang adekuat (misalnya, tidak menggigil).
Kode SIKI: 0410 & 0710
Deskripsi : SIKI 0410: Intervensi Pengendalian Infeksi. Perawat melakukan: 1) Isolasi droplet dan udara: menempatkan pasien di ruang tersendiri atau berventilasi baik, menggunakan masker bagi pasien dan petugas, membatasi pengunjung. 2) Meningkatkan pertahanan tubuh: memastikan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat meski nafsu makan menurun, memberikan makanan lunak dan hangat. 3) Memantau tanda-tanda komplikasi: mengobservasi frekuensi dan karakter pernapasan, mendengarkan keluhan nyeri telinga atau perut, memeriksa konsistensi feses. 4) Edukasi keluarga tentang pentingnya isolasi, cara menutup mulut saat batuk/bersin, serta kebersihan tangan dengan sabun dan air mengalir. 5) Kolaborasi pemberian suplementasi vitamin A sesuai protokol karena terbukti mengurangi keparahan campak. SIKI 0710: Intervensi Pengaturan Suhu. Perawat melakukan: 1) Memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam) dan tanda vital lainnya. 2) Memberikan terapi kompres hangat di aksila dan lipat paha, hindari kompres dingin atau alkohol karena dapat menyebabkan menggigil dan vasokonstriksi. 3) Meningkatkan hilang panas konduksi dengan menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat, serta sprei yang tidak tebal. 4) Memenuhi kebutuhan cairan untuk mengganti kehilangan cairan insensible melalui penguapan dengan memberikan minum sedikit-sedikit tapi sering. 5) Mengatur lingkungan yang nyaman: suhu ruangan sejuk, sirkulasi udara baik. 6) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai resep (seperti parasetamol) dengan mempertimbangkan dosis berat badan. 7) Mengobservasi tanda kejang demam, terutama pada anak dengan riwayat kejang sebelumnya. Intervensi-intervensi ini dilakukan secara holistik, karena pemenuhan cairan dan nutrisi juga mendukung pengendalian infeksi dan penurunan suhu tubuh. Fokus utama adalah memberikan perawatan suportif, mencegah komplikasi, dan memberikan edukasi kepada keluarga untuk perawatan di rumah serta kewaspadaan terhadap tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
-
Article No. 23853 | 29 Jan 2026
Klinis : bab bercampur darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bab Bercampur Darah (Hematochezia/Melena)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan
Kode SLKI: L.15002
Deskripsi : Perdarahan dapat dicegah
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Pantau tanda dan gejala perdarahan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0016 Risiko Perdarahan): Diagnosis keperawatan ini ditetapkan karena pasien menunjukkan manifestasi klinis aktif berupa bab bercampur darah (hematochezia jika darah segar berwarna merah, atau melena jika darah hitam seperti aspal). "Risiko" dalam konteks ini bukan berarti kemungkinan, tetapi sudah menjadi masalah aktual dimana perdarahan sedang terjadi. Definisi dari SDKI D.0016 adalah "Keadaan dimana individu berisiko mengalami kehilangan darah dalam jumlah yang dapat mengganggu kesehatan". Pada pasien ini, risiko tersebut telah termanifestasi. Bab berdarah menunjukkan adanya gangguan integritas mukosa atau pembuluh darah pada saluran pencernaan bagian bawah (seperti hemoroid, fisura ani, divertikulitis, kolitis, polip, atau keganasan) atau bagian atas jika darah telah mengalami proses pencernaan (melena). Tujuan diagnosis ini adalah untuk mengarahkan intervensi guna menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi (seperti syok hipovolemik), dan mengidentifikasi serta menangani penyebab dasarnya.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.15002 Perdarahan dapat dicegah): Luaran ini merupakan kondisi yang diharapkan setelah intervensi keperawatan diberikan. Kriteria luaran ini mencakup: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan (tekanan darah, nadi, pernapasan stabil), (2) Tidak ada bukti perdarahan lebih lanjut (seperti bab tidak lagi mengandung darah, atau warna feses kembali normal), (3) Nilai laboratorium terkait perdarahan (seperti hemoglobin, hematokrit, dan hitung trombosit) stabil atau membaik, dan (4) Pasien menunjukkan pemahaman tentang faktor risiko dan tindakan pencegahan. Dalam konteks bab berdarah, "dapat dicegah" berarti episode perdarahan akut telah teratasi dan strategi telah diterapkan untuk mencegah kekambuhan, seperti modifikasi diet, manajemen konstipasi, atau kepatuhan terhadap terapi medis untuk kondisi yang mendasarinya. Perawat akan memantau kemajuan pasien menuju kriteria luaran ini melalui pengamatan dan pemeriksaan berkala.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.15001 Pantau tanda dan gejala perdarahan): Ini adalah intervensi utama dan kritis untuk kondisi pasien. Intervensi ini tidak hanya sekadar mengamati, tetapi merupakan proses sistematis dan berkelanjutan yang meliputi: (1) Pengawasan Ketat Tanda Vital: Memantau tekanan darah, nadi (perhatikan takikardia sebagai tanda kompensasi awal hipovolemia), pernapasan, dan suhu secara berkala. Hipotensi ortostatik dapat menjadi indikator signifikan kehilangan volume. (2) Penilaian Sumber dan Karakteristik Perdarahan: Mengobservasi frekuensi, volume, warna darah (merah terang, gelap, atau kehitaman), serta konsistensi feses. Melakukan pemeriksaan tinja samar jika diperlukan. (3) Penilaian Status Hemodinamik dan Oksigenasi: Memantau warna kulit, kelembaban, pengisian kapiler, dan tingkat kesadaran. Gejala seperti pucat, lembab, dingin, penurunan kesadaran, atau gelisah adalah tanda syok yang mengancam jiwa. (4) Pemantauan Hasil Laboratorium: Memeriksa kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit, dan waktu protrombin untuk menilai tingkat kehilangan darah dan fungsi koagulasi. (5) Edukasi dan Pelaporan: Mengajarkan pasien dan keluarga untuk mengenali tanda perdarahan berulang (seperti pusing, lemas, atau perubahan warna feses) dan segera melaporkan. Intervensi ini juga mencakup kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi cairan, transfusi darah, atau tindakan endoskopi jika diperlukan. Tindakan pemantauan yang komprehensif ini bertujuan untuk mendeteksi deteriorasi kondisi secara dini, mengevaluasi efektivitas terapi, dan memastikan keselamatan pasien.
-
Article No. 23854 | 29 Jan 2026
Klinis : Pasien mengatakan demam
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam, Tidak Ditentukan
Kode ICD-10: R50.9
Deskripsi Singkat : Demam (R50.9) adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal, yang merupakan gejala umum dari berbagai kondisi medis. Kode R50.9 digunakan ketika penyebab demam tidak diketahui atau belum ditentukan setelah pemeriksaan awal. Demam sendiri bukanlah penyakit, melainkan respons fisiologis tubuh terhadap infeksi (seperti bakteri, virus), peradangan, penyakit autoimun, atau kondisi lainnya. Kode ini termasuk dalam Bab XVIII (Gejala, Tanda dan Temuan Klinis serta Laboratorium yang Abnormal, Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain) dari ICD-10, khususnya di bawah kategori R50-R69 (Gejala dan Tanda Umum). Penggunaan kode ini tepat dalam konteks rekam medis awal atau saat diagnosis pasti belum ditegakkan. Penting untuk dicatat bahwa kode ini bersifat sementara; jika penyebab demam (misalnya, influenza, pneumonia, infeksi saluran kemih) telah diidentifikasi, kode untuk kondisi penyebab tersebut harus digunakan sebagai diagnosis utama.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23855 | 29 Jan 2026
Klinis : Pasien mengatakan demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan atau melepaskan panas.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Intervensi keperawatan bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan suhu tubuh inti pasien dalam batas normal (36°C - 37,5°C). Hal ini dicapai melalui pemantauan suhu tubuh secara berkala, baik secara invasif maupun non-invasif, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan suhu. Perawat juga mengajarkan pada pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala hipertermia serta upaya penanganan awal. Lingkungan diatur untuk mendukung termoregulasi, seperti pengaturan suhu ruangan, sirkulasi udara, dan penggunaan pakaian yang tepat. Pemberian terapi cairan yang adekuat sangat penting untuk mendukung mekanisme pendinginan tubuh melalui evaporasi. Kolaborasi dengan tim medis dilakukan untuk pemberian terapi farmakologis seperti antipiretik sesuai indikasi, serta terapi non-farmakologis seperti kompres hangat di area lipatan tubuh. Evaluasi berkelanjutan terhadap respons pasien terhadap intervensi yang diberikan menjadi kunci untuk memastikan efektivitas penanganan hipertermia.
Kode SIKI: 3301, 3302, 4160
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani hipertermia meliputi: 3301 (Manajemen Hipertermia): Fokus pada mengurangi suhu tubuh yang meningkat. Perawat memantau suhu tubuh, nadi, pernapasan, dan tekanan darah secara teratur. Melakukan tindakan pendinginan seperti kompres hangat (bukan air dingin karena dapat menyebabkan menggigil dan justru meningkatkan produksi panas) di dahi, ketiak, dan lipat paha, serta mandi spons. Meningkatkan sirkulasi udara ruangan dan memastikan pakaian pasien tipis dan menyerap keringat. Mendorong asupan cairan untuk mencegah dehidrasi dan memfasilitasi pendinginan melalui keringat. 3302 (Manajemen Hipotermia): Meskipun namanya manajemen hipotermia, prinsip-prinsip dalam intervensi ini relevan untuk mencegah overcooling yang dapat berlanjut menjadi hipotermia iatrogenik, terutama setelah tindakan pendinginan agresif. Perawat harus memantau dengan ketat untuk menghindari penurunan suhu tubuh yang drastis di bawah normal. 4160 (Pengaturan Suhu): Intervensi ini lebih luas dan proaktif, bertujuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal dengan memanipulasi lingkungan fisik. Perawat mengatur suhu ambient ruangan, mengurangi sumber panas seperti sinar matahari langsung, menggunakan selimut pendingin atau penghangat sesuai kebutuhan, dan memodifikasi kelembapan ruangan. Juga melibatkan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya lingkungan yang nyaman dan tanda-tanda gangguan termoregulasi. Ketiga intervensi ini saling melengkapi; Manajemen Hipertermia (3301) adalah tindakan akut untuk menurunkan suhu, Pengaturan Suhu (4160) adalah tindakan suportif dan pencegahan, sementara Manajemen Hipotermia (3302) menjadi pertimbangan keselamatan untuk mencegah komplikasi dari intervensi itu sendiri. Pendekatan holistik ini memastikan penanganan hipertermia yang efektif, aman, dan berpusat pada kenyamanan pasien.
-
Article No. 23856 | 29 Jan 2026
Klinis : Pasien pusing disertai tensi 180/100 mmhg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan atau penurunan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik dari rentang yang diharapkan, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tekanan Darah Terkontrol. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. 2) Denyut nadi dalam rentang yang diharapkan. 3) Tidak adanya sakit kepala, pusing, atau penglihatan kabur. 4) Menunjukkan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah. 5) Melaporkan kepatuhan terhadap regimen terapeutik. 6) Memodifikasi gaya hidup untuk mengontrol tekanan darah.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Hipertensi. Intervensi keperawatan: 1) Monitor tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, dan status neurologis (seperti sakit kepala, pusing, perubahan penglihatan) secara berkala sesuai kondisi pasien. 2) Kaji faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah (misalnya, nyeri, ansietas, ketidakpatuhan pengobatan, asupan garam/natrium, konsumsi alkohol, aktivitas). 3) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis sesuai resep (antihipertensi) dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 4) Anjurkan tirah baring atau aktivitas terbatas selama fase akut hipertensi. 5) Ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas dan stres. 6) Berikan edukasi kesehatan tentang hipertensi, penyebab, komplikasi, dan pentingnya kontrol jangka panjang. 7) Edukasi tentang modifikasi diet: pembatasan asupan natrium/garam, lemak jenuh, dan kolesterol; serta peningkatan asupan kalium, kalsium, magnesium, dan serat sesuai anjuran. 8) Anjurkan untuk membatasi atau menghindari konsumsi alkohol dan kafein. 9) Anjurkan program penurunan berat badan jika diperlukan dan pertahankan berat badan ideal. 10) Anjurkan untuk berhenti merokok dan hindari paparan asap rokok. 11) Dorong untuk melakukan aktivitas fisik/olahraga teratur sesuai toleransi dan anjuran kesehatan. 12) Ajarkan dan anjurkan pemantauan tekanan darah mandiri jika memungkinkan. 13) Kaji hambatan kepatuhan (ekonomi, pengetahuan, keyakinan) dan bantu mengatasinya. 14) Rujuk ke tim kesehatan lain (dokter, ahli gizi) sesuai kebutuhan.
-
Article No. 23857 | 29 Jan 2026
Klinis : Pasien mengeluh nyeri saat BAK, nyeri terasa perih dan panas, nyeri muncul setiap kali BAK sejak 2 hari terakhir. Pasien mengatakan nyeri saat BAK yang dirasakan seperti perih dan panas pada daerah saluran kemih dengan skala nyeri 4, dialami sejak 2 hari terakhir dan muncul setiap kali BAK
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri yang dirasakan pasien. Pada kasus ini, tujuan utamanya adalah mengurangi atau menghilangkan nyeri saat berkemih yang dialami pasien. Perawat akan mengevaluasi karakteristik nyeri (lokal, perih, panas, skala 4), memantau faktor yang memperberat dan meringankan, serta memberikan intervensi non-farmakologis seperti terapi distraksi atau relaksasi. Perawat juga akan berkolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai resep jika diperlukan, dan mengajarkan pasien teknik manajemen nyeri mandiri. Keberhasilan SLKI ini diukur dengan penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien, ekspresi wajah yang lebih rileks, dan kemampuan pasien untuk berkemih dengan lebih nyaman.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Serangkaian tindakan keperawatan spesifik yang dilakukan untuk mencapai SLKI Kontrol Nyeri. Intervensi ini meliputi: 1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif dengan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) untuk menggali deskripsi "perih dan panas" serta pola munculnya "setiap kali BAK". 2. Mengobservasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan saat pasien berkemih. 3. Memberikan penjelasan tentang penyebab nyeri (misalnya, iritasi mukosa saluran kemih) untuk mengurangi kecemasan. 4. Menganjurkan peningkatan asupan cairan (kecuali ada kontraindikasi) untuk mengencerkan urine sehingga mengurangi sensasi perih dan panas saat berkemih. 5. Mengajarkan teknik berkemih dengan posisi yang nyaman dan relaksasi otot pelvis. 6. Memberikan perawatan kebersihan area genital dengan air hangat untuk menimbulkan rasa nyaman. 7. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik atau spasmolitik sesuai resep, dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 8. Mendokumentasikan respons nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Intervensi-intervensi ini bersifat holistik, ditujukan tidak hanya untuk modifikasi sensasi nyeri tetapi juga untuk memodifikasi respons emosional dan kognitif pasien terhadap nyeri yang dialaminya.
-
Article No. 23858 | 29 Jan 2026
Klinis : Pasien masuk dengan keluhan sesak dengan frekuensi pernafasan 20 x/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : SLKI 0410: Manajemen Bersihan Jalan Napas. Tujuan keperawatan adalah pasien mampu mempertahankan atau mengembalikan bersihan jalan napas yang optimal. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pola napas pasien efektif (frekuensi, irama, dan kedalaman dalam rentang normal). Pada kasus ini, frekuensi napas 20x/menit pada dewasa masih dalam batas normal (16-20x/menit), namun harus dilihat dalam konteks keluhan sesak. Oleh karena itu, kriteria ini perlu dipantau ketat untuk mendeteksi perubahan ke arah takipnea. (2) Suara napas bersih (vesikuler) di semua lapang paru tanpa adanya suara tambahan seperti wheezing, ronki, atau stridor. (3) Pasien mampu mengeluarkan sekresi secara efektif, baik secara spontan maupun dengan bantuan. (4) Nilai analisis gas darah (jika tersedia) dalam batas normal untuk pasien tersebut. (5) Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan seperti penggunaan otot bantu napas, sianosis, atau gelisah. Perawat akan mengevaluasi pencapaian kriteria ini secara berkala untuk menilai keberhasilan intervensi.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : SIKI 3410: Manajemen Bersihan Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang direncanakan dan dilaksanakan secara komprehensif meliputi: (1) Pengkajian: Memantau frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan secara berkala. Auskultasi suara napas sebelum dan sesudah intervensi untuk mendeteksi adanya sekresi atau obstruksi. Mengkaji kemampuan batuk efektif dan karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi). Memantau status oksigenasi melalui saturasi oksigen (pulse oximetry) dan tanda-tanda klinis hipoksia. (2) Intervensi Penanganan: Posisikan pasien dengan posisi semi-Fowler atau tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan. Ajarkan dan bantu latihan napas dalam serta batuk efektif. Jika pasien tidak mampu batuk efektif, lakukan suction jalan napas atas atau bawah (sesuai kompetensi dan kebutuhan) dengan teknik steril. Lakukan fisioterapi dada seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage jika diindikasikan untuk membantu mobilisasi sekresi. Berikan terapi nebulizer atau inhalasi sesuai program medis untuk melonggarkan sekresi dan bronkodilatasi. Pastikan hidrasi adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan sekresi. (3) Intervensi Suportif dan Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga tentang teknik batuk efektif dan pentingnya mobilisasi. Berikan pendidikan kesehatan mengenai faktor risiko dan tanda-tanda gangguan bersihan jalan napas yang harus diwaspadai. Ciptakan lingkungan yang nyaman dengan kelembaban udara yang memadai. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, fisioterapis, ahli gizi) untuk pemberian obat, terapi tambahan, dan pemenuhan nutrisi yang mendukung upaya pernapasan. Seluruh intervensi ini didokumentasikan secara lengkap dan dievaluasi respons pasien untuk menentukan efektivitas dan kebutuhan modifikasi rencana keperawatan.