Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25586 | 11 May 2026
Klinis : Pasien datang post op TURP dengan keluhan mual dan muntah. keluhan disertai dengan adanya batuk setelah tersedak minum, batuk sejak 2 hari SMRS, batuk berdahak, sesak sejak 2 hari SMRS. Riw Penggunaan Inhaler tidak ada Riw mengi tidak ada Kepala : wajah bengkak (-), edem (-) konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-) Leher : bengkak -/-, krepitasi (-), nyeri (-) kemerahan (-) JVP tidak meningkat, pembesaran limfadenopati coli (-) Dada: simetris, venektasi (-) Pulmo: I: pengembangan dada kanan sama dengan kiri P: fremitus raba dada kanan sama dengan kiri P: sonor / sonor A: SDV +/+, rbk +/+, rbh +/+, wh -/- Cor : S1-2 reguler, murmur -, gallop - Abdomen : supel (+) nyeri tekan (+) regio epigastrik, BU (+) Ext : akral hangat +/+, pitting edema +/+ Lab RSSP - MCH 30.9 HEMATOLOGI Darah Rutin - Hemoglobin 8.56 L - Eritrosit 2.77 L - Hematokrit 24.6 L Index Eritrosit - MCV 88.7 - MCHC 34.9 - Lekosit 20.53 H - Trombosit 233 - RDW-CV 13.01 - MPV 6.19 Hitung Jenis - Neutrofil 92 H - Limfosit 5 L - Monosit 2.5 - Eosinofil 0.1 - Basofil 0.3 - Total Neutrofil 18.9 H - Total Lymphosit 1.03 - Total Monosit 0.51 - Total Eosinofil 0.02 - Total Basofil 0.07 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah B KIMIA KLINIK ELEKTROLIT - Natrium (Na) 140 - Kalium (K) 3.6 - Chlorida (Cl) 101 - Calsium (Ca2+) 1.1 L - pH 7.5 H Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 204 H Fungsi Ginjal - Ureum 51.4 H - Kreatinin 1.07
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, kondisi post operasi TURP dengan keluhan mual, muntah, dan batuk setelah tersedak minum menunjukkan adanya risiko aspirasi dan obstruksi jalan napas. Batuk berdahak dan sesak napas sejak 2 hari SMRS, ditambah dengan hasil auskultasi ditemukan ronkhi basah kasar (rbk +/+) dan ronki basah halus (rbh +/+) pada kedua paru, mengindikasikan adanya akumulasi sekret yang berlebih di saluran napas. Leukositosis (20.53 H) dengan neutrofil dominan (92 H) menandakan adanya proses infeksi yang dapat memperberat produksi sekret. Pasien juga mengalami anemia (Hb 8.56 L) yang dapat menurunkan kapasitas oksigenasi dan memperburuk toleransi terhadap sesak napas. Kondisi ini diperparah dengan adanya mual dan muntah pasca operasi yang meningkatkan risiko aspirasi, di mana pasien sudah mengalami episode tersedak saat minum. Edema pitting pada ekstremitas (+/+) dapat mengindikasikan retensi cairan yang juga berkontribusi pada kongesti paru. Oleh karena itu, diagnosis ini sangat relevan karena fokus pada ketidakmampuan pasien mempertahankan jalan napas bebas dari obstruksi akibat sekret dan risiko aspirasi.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas. Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah jalan napas paten dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat, (2) Produksi sputum menurun, (3) Frekuensi napas membaik (dalam rentang 16-20 x/menit), (4) Bunyi napas tambahan (ronkhi) menurun atau hilang, (5) Sesak napas menurun, (6) Mampu mengeluarkan sekret secara mandiri. Skala target untuk setiap kriteria pada akhir intervensi diharapkan meningkat dari skala 1 (sangat buruk) menjadi skala 4 (cukup baik) atau 5 (baik). Pasien perlu menunjukkan kemampuan batuk efektif tanpa tersedak, frekuensi napas yang normal, serta berkurangnya ronkhi pada auskultasi. Keberhasilan luaran ini sangat penting mengingat kondisi pasien yang rentan terhadap aspirasi dan infeksi saluran napas bawah. Pemantauan saturasi oksigen juga akan menjadi indikator tambahan untuk menilai efektivitas bersihan jalan napas. Dengan tercapainya luaran ini, risiko komplikasi seperti pneumonia aspirasi dan gagal napas dapat diminimalkan.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi utama yang dilakukan untuk mencapai bersihan jalan napas, meliputi: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), (2) Monitor bunyi napas tambahan (ronkhi, wheezing), (3) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pengeluaran sekret, (4) Berikan oksigen sesuai indikasi untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%, (5) Lakukan fisioterapi dada (clapping dan vibrasi) jika tidak ada kontraindikasi post operasi TURP, (6) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam, tahan 2-3 detik, lalu batuk dengan kuat dari dada, bukan tenggorokan, (7) Berikan nebulizer dengan bronkodilator (jika ada wheezing) atau mukolitik sesuai advis dokter, (8) Lakukan suction (pengisapan lendir) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret secara mandiri dan ada tanda obstruksi, (9) Kolaborasi pemberian obat ekspektoran atau mukolitik oral untuk mengencerkan dahak, (10) Anjurkan pasien untuk minum air hangat (jika tidak ada kontraindikasi mual/muntah berat) untuk membantu mengencerkan sekret. Intervensi ini harus dilakukan dengan hati-hati pada pasien post TURP untuk menghindari peningkatan tekanan intra-abdominal yang berlebihan saat batuk yang dapat menyebabkan perdarahan. Edukasi tentang tanda bahaya seperti sesak berat, dahak berdarah, atau demam tinggi juga perlu diberikan kepada pasien dan keluarga.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0142
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami peningkatan invasi organisme patogen. Pasien post operasi TURP memiliki luka operasi pada prostat yang merupakan port d'entrée bagi bakteri. Selain itu, pasien menunjukkan tanda-tanda infeksi sistemik yang jelas dari hasil laboratorium: leukositosis (20.53 H) dengan neutrofilia (92 H) yang merupakan respons akut terhadap infeksi bakteri. Batuk berdahak dan sesak napas sejak 2 hari sebelum operasi menunjukkan kemungkinan adanya infeksi saluran napas bawah (bronkitis atau pneumonia) yang sudah ada sebelumnya. Kejadian tersedak saat minum pada pasien post operasi dengan mual-muntah meningkatkan risiko aspirasi, yang dapat menyebabkan pneumonia aspirasi. Kondisi anemia (Hb 8.56 L) juga menurunkan daya tahan tubuh pasien terhadap infeksi. Pemasangan kateter urine pasca TURP juga menjadi faktor risiko infeksi saluran kemih. Edema pitting pada ekstremitas (+/+) menunjukkan kemungkinan gangguan sirkulasi yang dapat memperlambat penyembuhan luka dan meningkatkan risiko infeksi. Semua faktor ini secara bersamaan meningkatkan kerentanan pasien terhadap infeksi baru atau perburukan infeksi yang sudah ada. Diagnosis ini bersifat aktual karena sudah ada tanda infeksi (leukositosis, neutrofilia, batuk berdahak) dan potensial karena adanya faktor risiko tambahan dari prosedur operasi dan kondisi klinis pasien.
Kode SLKI: L.14137
Deskripsi : Status Imunitas. Luaran yang diharapkan adalah tidak adanya tanda-tanda infeksi baru atau perburukan infeksi dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C), (2) Jumlah leukosit dalam batas normal (4-10 x10^3/µL), (3) Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal pada luka operasi (kemerahan, bengkak, nyeri, hangat, pus), (4) Kultur sputum atau darah negatif, (5) Tidak ada batuk produktif atau sesak napas, (6) Luka operasi bersih dan kering. Skala target pada akhir intervensi adalah mempertahankan skor 5 (baik) untuk semua kriteria. Pasien diharapkan menunjukkan perbaikan parameter infeksi dalam 3-5 hari setelah terapi antibiotik dan intervensi keperawatan. Pemantauan tanda-tanda vital khususnya suhu tubuh harus dilakukan setiap 4 jam untuk deteksi dini demam. Pemeriksaan kultur sputum dan darah perlu dilakukan untuk mengidentifikasi patogen penyebab dan memastikan terapi antibiotik yang tepat. Keberhasilan luaran ini sangat kritis untuk mencegah sepsis dan komplikasi pasca operasi yang mengancam jiwa.
Kode SIKI: I.14532
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi utama yang dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi, meliputi: (1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik (suhu tubuh, warna dan jumlah drainase luka, warna sputum), (2) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien sesuai standar WHO (5 momen), (3) Gunakan sarung tangan steril saat merawat luka operasi TURP atau kateter, (4) Lakukan perawatan luka operasi dengan teknik aseptik setiap hari atau sesuai protokol, (5) Ganti balutan luka jika basah atau kotor, (6) Berikan antibiotik sesuai advis dokter (observe efek samping seperti alergi), (7) Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam dan batuk efektif untuk membantu ekspektorasi sputum, (8) Lakukan oral hygiene secara teratur (minimal 2x sehari) untuk mengurangi risiko pneumonia aspirasi, (9) Berikan cairan intravena atau oral yang adekuat untuk membantu pengenceran sekret dan fungsi ginjal, (10) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan tangan, tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan (demam, luka bernanah, batuk bertambah parah), (11) Kolaborasi untuk pemeriksaan kultur sputum, darah, dan urin untuk identifikasi kuman penyebab, (12) Atur posisi kepala tempat tidur 30-45 derajat saat makan/minum untuk mencegah aspirasi, (13) Monitor hasil laboratorium serial (leukosit, neutrofil, CRP) untuk mengevaluasi respons terhadap terapi.
Kondisi: Mual
Kode SDKI: D.0076
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman di daerah epigastrium dan tenggorokan yang dapat menyebabkan keinginan untuk muntah. Pasien datang dengan keluhan utama mual dan muntah setelah menjalani operasi TURP. Mual pada pasien ini bersifat multifaktorial. Pertama, efek anestesi dan obat-obatan yang digunakan selama dan setelah operasi (seperti narkotik, antibiotik) dapat merangsang pusat muntah di medula oblongata. Kedua, adanya infeksi saluran napas (batuk, sesak, leukositosis) dapat memicu mual melalui refleks batuk yang kuat dan iritasi faring. Ketiga, hasil laboratorium menunjukkan adanya peningkatan ureum (51.4 H) yang bisa mengindikasikan gangguan fungsi ginjal ringan atau dehidrasi, di mana akumul
Article No. 25587 | 11 May 2026
Klinis : Luka ulkus dekubitus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Luka Ulkus Dekubitus (Pressure Ulcer)
Kode SDKI: D.0143
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi ini adalah "Kerusakan Integritas Kulit" yang berhubungan dengan tekanan mekanis (ulkus dekubitus). Definisi menurut SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia) adalah kondisi di mana terjadi perubahan epidermis dan atau dermis yang dapat bersifat lokal (terbatas pada satu area) atau meluas, yang disebabkan oleh tekanan berkepanjangan pada jaringan lunak di atas tonjolan tulang. Pada kasus ulkus dekubitus, kerusakan ini terjadi secara spesifik akibat imobilitas, penurunan sensasi, atau faktor mekanis lainnya yang menghambat aliran darah kapiler. Kode D.0143 ini mencakup semua tahapan ulkus dekubitus, mulai dari stadium 1 (eritema non-blanchable) hingga stadium 4 (kerusakan jaringan total dengan nekrosis). Penjelasan lebih mendalam: SDKI menekankan bahwa diagnosa ini bukan sekadar luka terbuka, melainkan sebuah proses patofisiologis yang melibatkan iskemia jaringan, reperfusi injury, dan respons inflamasi. Faktor risiko utama meliputi tekanan eksternal yang melebihi tekanan kapiler normal (32 mmHg), gaya gesek (friction), dan gaya sobek (shear). Pada pasien dengan kondisi ini, integritas kulit tidak hanya terganggu secara fisik tetapi juga berpotensi menyebabkan komplikasi sistemik seperti sepsis, osteomielitis, dan peningkatan morbiditas. Perawat harus mampu mengidentifikasi stadium luka secara akurat karena hal ini menentukan intervensi selanjutnya. SDKI juga mengklasifikasikan diagnosa ini berdasarkan etiologi, yaitu "berhubungan dengan tekanan mekanis" yang dapat dispesifikasikan lagi menjadi faktor internal (malnutrisi, anemia, usia lanjut, penurunan mobilitas) dan eksternal (alat medis, posisi tidur yang salah, kelembaban berlebih). Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah perbaikan integritas kulit secara bertahap, ditandai dengan berkurangnya luas luka, munculnya jaringan granulasi, dan tidak adanya tanda infeksi. Penting untuk dicatat bahwa SDKI mengharuskan perawat untuk melakukan pengkajian komprehensif setiap hari, termasuk pengukuran dimensi luka (panjang, lebar, kedalaman), karakteristik eksudat, kondisi tepi luka, dan jaringan sekitar. Pada pasien dengan ulkus dekubitus stadium lanjut, diagnosa tambahan seperti "Risiko Infeksi" (D.0142) dan "Nyeri Akut" (D.0079) sering kali menyertai untuk memberikan asuhan holistik.
Kode SLKI: L.14141
Deskripsi : Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) untuk kondisi ini adalah "Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat" dengan kode L.14141. Definisi menurut SLKI adalah status perbaikan atau pemulihan struktur dan fungsi fisiologis kulit serta jaringan di bawahnya setelah mengalami kerusakan. Luaran ini diukur melalui beberapa kriteria hasil yang terukur dan spesifik. Pertama, "Perfusi Jaringan" yang membaik, ditandai dengan warna kulit sekitar luka yang kembali normal (tidak pucat atau sianotik), suhu kulit hangat, dan pengisian kapiler < 2 detik. Kedua, "Kerusakan Jaringan" yang menurun, diindikasikan dengan berkurangnya luas permukaan luka minimal 20-30% dalam 2 minggu, kedalaman luka yang dangkal, serta tidak adanya eksudat purulen atau bau busuk. Ketiga, "Nyeri" yang berkurang, dengan skala nyeri turun dari 7-10 menjadi 2-3 (menggunakan skala numerik 0-10). Keempat, "Tanda Infeksi" yang tidak ada, meliputi tidak adanya eritema progresif, edema, atau peningkatan suhu lokal. Kelima, "Jaringan Granulasi" yang muncul, yaitu jaringan berwarna merah muda atau merah terang yang menutupi dasar luka minimal 50% dalam 4 minggu. SLKI juga menekankan luaran "Mobilitas Fisik" yang meningkat, karena pasien harus mampu mengubah posisi secara mandiri atau dengan bantuan minimal untuk mengurangi tekanan. Kriteria lainnya adalah "Status Nutrisi" yang membaik, ditandai dengan kadar albumin serum > 3.5 g/dL dan asupan protein harian > 1.2 g/kg BB. Luaran ini harus dievaluasi secara berkala setiap minggu untuk memantau progres penyembuhan. Skala ukur yang digunakan adalah skala ordinal dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik secara signifikan). Target minimal yang diharapkan adalah skala 3 (cukup membaik) dalam 7-14 hari perawatan. Perawat harus mendokumentasikan perubahan diameter luka menggunakan fotografi atau tracing, serta mencatat karakteristik jaringan seperti epitelisasi, slough, atau eschar. Jika tidak ada perbaikan dalam 2 minggu, perlu dikaji ulang faktor-faktor penghambat seperti infeksi sistemik, diabetes tidak terkontrol, atau defisiensi vitamin C dan zinc. SLKI juga mencakup luaran "Kualitas Hidup" yang meningkat, di mana pasien melaporkan penurunan kecemasan terkait luka dan peningkatan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari. Penting untuk diingat bahwa penyembuhan ulkus dekubitus membutuhkan waktu yang bervariasi tergantung pada stadium; untuk stadium 3 dan 4, proses penyembuhan bisa memakan waktu berbulan-bulan, sehingga luaran harus realistis dan bertahap.
Kode SIKI: I.14563
Deskripsi : Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) untuk kondisi ini adalah "Perawatan Luka Tekanan" dengan kode I.14563. Definisi menurut SIKI adalah serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif dan sistematis untuk mencegah dan mengelola ulkus dekubitus, mulai dari identifikasi risiko hingga perawatan luka aktif. Intervensi ini terbagi menjadi tiga komponen utama: observasi, terapeutik, dan edukasi. Komponen observasi meliputi identifikasi stadium luka menggunakan sistem klasifikasi NPUAP/EPUAP (misalnya, stadium 1: kulit utuh dengan eritema; stadium 2: kehilangan kulit parsial; stadium 3: kerusakan kulit full-thickness; stadium 4: kerusakan total dengan nekrosis). Perawat juga harus mengukur dimensi luka setiap hari menggunakan metode grid atau digital planimetry, menilai karakteristik eksudat (serosa, sanguineous, purulen), serta memeriksa jaringan sekitar untuk tanda infeksi (selulitis, indurasi). Komponen terapeutik mencakup: (1) Manajemen tekanan: reposisi setiap 2 jam dengan sudut 30 derajat lateral, penggunaan matras anti-dekubitus (alternating pressure mattress atau low-air-loss bed), dan bantalan pelindung pada tumit dan sakrum. (2) Perawatan luka: pembersihan luka dengan larutan NaCl 0.9% hangat menggunakan teknik irigasi bertekanan rendah, debridement jaringan nekrotik (autolitik menggunakan hydrogel, enzimatik menggunakan kolagenase, atau mekanis jika diperlukan), dan pemilihan balutan yang sesuai (alginat untuk luka dengan eksudat berat, foam untuk luka dengan eksudat sedang, hydrocolloid untuk luka stadium 1-2, dan perak untuk luka terinfeksi). (3) Manajemen nyeri: pemberian analgesik 30 menit sebelum prosedur perawatan luka, dan penggunaan teknik distraksi atau relaksasi. (4) Optimasi nutrisi: konsultasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet tinggi protein (1.5-2.0 g/kg BB/hari), vitamin C (500-1000 mg/hari), dan zinc (15-30 mg/hari). Komponen edukasi meliputi: mengajarkan pasien dan keluarga teknik reposisi mandiri, tanda-tanda perburukan luka (bau, nyeri hebat, demam), dan pentingnya menjaga kulit tetap kering dan bersih. SIKI juga menekankan penggunaan alat bantu seperti bantal, busa, atau sheepskin untuk mengurangi tekanan pada area yang rentan. Intervensi ini harus didokumentasikan setiap kali dilakukan, termasuk jenis balutan, karakteristik luka, dan respons pasien. Untuk ulkus dekubitus stadium 3 dan 4, intervensi mungkin memerlukan kolaborasi dengan dokter untuk penutupan luka bedah (flap atau graft) atau penggunaan terapi luka modern seperti Negative Pressure Wound Therapy (NPWT). SIKI juga mencakup pencegahan, yaitu dengan melakukan skrining risiko menggunakan skala Braden setiap hari pada pasien imobil, dan memberikan perawatan kulit rutin (pelembab, hindari gesekan). Frekuensi intervensi disesuaikan dengan kondisi luka: luka stadium 1-2 cukup 1 kali sehari, sedangkan stadium 3-4 memerlukan perawatan 2-3 kali sehari atau sesuai protokol NPWT. Evaluasi efektivitas intervensi dilakukan dengan membandingkan kondisi luka sebelum dan sesudah perawatan setiap minggu.
Article No. 25588 | 11 May 2026
Klinis : SESAK NAFAS,BATUK BERDAHAK,MUAL,KURANG NAFSU MAKAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Sesak Nafas, Batuk Berdahak, Mual, Kurang Nafsu Makan
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas Meningkat
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Kondisi: Sesak Nafas, Batuk Berdahak, Mual, Kurang Nafsu Makan
Kode SDKI: D.0009
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas Meningkat
Kode SIKI: I.01022
Deskripsi : Manajemen Ventilasi
Kondisi: Sesak Nafas, Batuk Berdahak, Mual, Kurang Nafsu Makan
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.01004
Deskripsi : Pola Napas Membaik
Kode SIKI: I.01012
Deskripsi : Pemantauan Respirasi
Kondisi: Sesak Nafas, Batuk Berdahak, Mual, Kurang Nafsu Makan
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Mual
Kode SLKI: L.08067
Deskripsi : Mual Menurun
Kode SIKI: I.03117
Deskripsi : Manajemen Mual
Kondisi: Sesak Nafas, Batuk Berdahak, Mual, Kurang Nafsu Makan
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan
Kode SLKI: L.12111
Deskripsi : Manajemen Kesehatan Meningkat
Kode SIKI: I.12483
Deskripsi : Edukasi Kesehatan
Article No. 25589 | 11 May 2026
Klinis : Studi Kasus: Seorang ibu hamil, Ny. 5 usia 32 tahun, G2P1A0, usia kehamilan 36 minggu, datang ke IGD dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak ±2 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengatakan darah yang keluar berwarna merah kehitaman dan disertai nyeri perut hebat yang dirasakan terus-menerus. Pasien memiliki riwayat hipertensi selama kehamilan, la juga mengeluhkan gerakan janin yang dirasakan semakin berkurang sejak pagi hari. Hasil pemeriksaan menunjukkan: Tekanan darah: 90/60 mmHg Nadi: 120 x/menit Respirasi: 26 x/menit Suhu: 36,5°C Pada pemeriksaan fisik didapatkan: Pasien tampak pucat dan gelisah Konjungtiva pucat Abdomen terasa tegang dan nyeri tekan Terlihat perdarahan pervaginam berwarna gelap Ekstremitas terasa dingin dengan CRT > 3 detik Produksi urin menurun Hasil pemeriksaan penunjang: Hb: 8 g/dL DJJ: 100 x/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Penurunan sirkulasi darah pada tingkat kapiler yang dapat mengganggu metabolisme seluler. Pada kasus Ny. S, kondisi ini disebabkan oleh perdarahan hebat akibat solusio plasenta yang menyebabkan hipovolemia, sehingga aliran darah ke jaringan perifer menurun. Manifestasi klinis seperti ekstremitas dingin, CRT > 3 detik, pucat, dan produksi urin menurun mengonfirmasi diagnosis ini. Penurunan volume darah sirkulasi mengakibatkan vasokonstriksi perifer sebagai mekanisme kompensasi untuk mempertahankan perfusi ke organ vital, namun hal ini justru memperburuk perfusi ke jaringan perifer, ginjal, dan uterus.
Kode SLKI: L.02011
Deskripsi : Perfusi Perifer Membaik. Luaran ini menunjukkan peningkatan status sirkulasi perifer yang ditandai dengan kriteria hasil: (1) Kekuatan nadi perifer meningkat dari skala 1 (lemah) menjadi skala 4 (kuat dan teraba jelas); (2) Warna kulit kembali normal (tidak pucat atau sianosis); (3) Suhu ekstremitas hangat; (4) CRT < 3 detik; (5) Produksi urin ≥ 30 ml/jam; (6) Sensasi ekstremitas tidak mengalami kesemutan atau mati rasa; (7) Tidak ada edema perifer. Target luaran ini diharapkan tercapai dalam 3x24 jam setelah intervensi resusitasi cairan dan penanganan perdarahan.
Kode SIKI: I.02011
Deskripsi : Manajemen Perfusi Perifer. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit pada fase akut, terutama tekanan darah, nadi, dan MAP; (2) Observasi warna, suhu, dan kelembaban kulit ekstremitas; (3) Evaluasi CRT dan kekuatan nadi perifer secara berkala; (4) Kolaborasi pemberian cairan intravena (RL atau NaCl 0,9%) sesuai advis dokter untuk mengatasi hipovolemia; (5) Persiapan transfusi darah sesuai indikasi (Hb 8 g/dL memerlukan koreksi); (6) Tinggikan ekstremitas bawah 15-30 derajat untuk membantu venous return tanpa mengompresi vena femoralis; (7) Hindari pemasangan infus pada ekstremitas yang mengalami gangguan perfusi; (8) Monitor output urin setiap jam menggunakan kateter urine; (9) Kolaborasi pemberian oksigen 10-15 L/menit menggunakan non-rebreathing mask untuk meningkatkan oksigenasi jaringan; (10) Persiapan operasi seksio sesarea emergensi karena solusio plasenta mengancam jiwa ibu dan janin.
Kondisi: Risiko Perdarahan
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Rentan mengalami kehilangan darah baik internal maupun eksternal yang dapat mengancam kesehatan. Pada Ny. S, risiko ini sangat tinggi terbukti dengan perdarahan pervaginam aktif berwarna gelap (tanda klasik solusio plasenta), riwayat hipertensi dalam kehamilan yang merupakan faktor predisposisi terjadinya abruptio plasenta, serta penurunan Hb hingga 8 g/dL yang mengindikasikan perdarahan sudah signifikan. Solusio plasenta menyebabkan terlepasnya plasenta dari dinding uterus sebelum waktunya, sehingga terjadi perdarahan dari sinus-sinus maternal yang terbuka. Darah berwarna gelap menandakan perdarahan yang sudah lama tersekat di belakang plasenta. Kondisi ini dapat berlanjut menjadi koagulopati konsumtif (DIC) akibat pelepasan tromboplastin dari plasenta yang rusak ke sirkulasi maternal.
Kode SLKI: L.02014
Deskripsi : Tingkat Perdarahan Menurun. Luaran ini mengukur efektivitas penanganan perdarahan dengan kriteria: (1) Volume perdarahan berkurang (tidak ada perdarahan aktif pervaginam); (2) Hemoglobin meningkat mendekati normal (target ≥ 10 g/dL); (3) Hematokrit stabil; (4) Tekanan darah sistolik ≥ 100 mmHg; (5) Nadi 60-100 x/menit; (6) Tidak ada tanda syok hipovolemik (gelisah, pucat, dingin); (7) Produksi urin ≥ 30 ml/jam; (8) Nilai koagulasi (PT, aPTT, fibrinogen) dalam batas normal. Target luaran ini diharapkan tercapai dalam 6-12 jam pertama setelah intervensi medis dan keperawatan.
Kode SIKI: I.02014
Deskripsi : Manajemen Perdarahan. Intervensi keperawatan yang komprehensif meliputi: (1) Identifikasi sumber dan karakteristik perdarahan (warna, jumlah, ada tidaknya bekuan); (2) Monitor jumlah perdarahan dengan menimbang kain/ pembalut atau menggunakan blood collection bag; (3) Monitor tanda-tanda syok hipovolemik setiap 15 menit: tekanan darah, nadi, respirasi, suhu, dan kesadaran; (4) Pertahankan akses intravena minimal 2 jalur dengan ukuran besar (16-18G) untuk resusitasi cairan dan transfusi; (5) Kolaborasi pemberian cairan kristaloid (RL) 2-3 liter secara cepat; (6) Kolaborasi transfusi darah sesuai cross-match; (7) Persiapan obat-obatan uterotonika (oksitosin, misoprostol) untuk membantu kontraksi uterus dan mengurangi perdarahan; (8) Lakukan kompresi uterus bimanual eksternal jika perdarahan masih aktif; (9) Monitor hasil laboratorium serial (Hb, Ht, trombosit, fibrinogen, PT, aPTT) untuk deteksi dini DIC; (10) Edukasi pasien dan keluarga tentang perlunya tindakan operasi emergensi; (11) Dokumentasi jumlah perdarahan, respons terhadap terapi, dan tanda vital secara akurat.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak dan durasi singkat. Pada Ny. S, nyeri perut hebat yang dirasakan terus-menerus merupakan manifestasi dari solusio plasenta. Darah yang terkumpul di antara plasenta dan dinding uterus (retroplacental hematoma) menyebabkan iritasi dan peregangan uterus sehingga timbul nyeri hebat. Berbeda dengan nyeri persalinan yang intermiten, nyeri solusio plasenta bersifat terus-menerus dan tidak hilang dengan kontraksi. Uterus teraba tegang dan nyeri tekan (wooden uterus) akibat hipertonus otot uterus yang dirangsang oleh hematoma retroplacental. Nyeri ini juga diperberat oleh iskemia jaringan akibat vasokonstriksi kompensasi.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri Menurun. Luaran ini mengevaluasi keberhasilan manajemen nyeri dengan kriteria: (1) Skala nyeri menurun dari skala 8-10 (nyeri berat) menjadi skala 1-3 (nyeri ringan) menggunakan Numeric Rating Scale (NRS); (2) Ekspresi wajah rileks (tidak meringis); (3) Pasien tidak gelisah; (4) Tanda vital stabil: tekanan darah ≥ 100/60 mmHg, nadi 60-100 x/menit, respirasi 12-20 x/menit; (5) Pasien mampu mengidentifikasi teknik relaksasi yang efektif; (6) Pasien melaporkan nyeri berkurang setelah intervensi; (7) Pola tidur tidak terganggu; (8) Kemampuan istirahat meningkat. Target luaran ini diharapkan tercapai dalam 2x24 jam setelah penanganan definitif (operasi).
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan meliputi: (1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif menggunakan PQRST (Provokatif, Quality, Region, Severity, Time) dan skala nyeri numerik setiap 1-2 jam; (2) Observasi reaksi nonverbal pasien (meringis, menangis, gelisah, perubahan posisi); (3) Monitor tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik; (4) Berikan teknik nonfarmakologis: ajarkan teknik napas dalam (deep breathing) dengan frekuensi 6-10 kali per menit untuk mengurangi ketegangan otot; (5) Berikan posisi yang nyaman dengan bantal penyangga pada punggung dan lutut (posisi miring kiri untuk mengurangi tekanan pada vena kava inferior dan meningkatkan perfusi uteroplasenta); (6) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai advis dokter (misal: petidin 25-50 mg IM atau morfin 2-4 mg IV jika diperlukan, dengan pertimbangan efek terhadap janin dan rencana operasi); (7) Ciptakan lingkungan yang tenang dengan pencahayaan redup dan mengurangi stimulus nyeri; (8) Edukasi pasien bahwa nyeri akan berkurang setelah tindakan operasi dan penanganan definitif; (9) Dokumentasi respons terhadap intervensi nyeri secara berkala.
Kondisi: Risiko Syok
Kode SDKI: D.0014
<
Article No. 25590 | 11 May 2026
Klinis : Studi Kasus: Seorang ibu hamil, Ny. 5 usia 32 tahun, G2P1A0, usia kehamilan 36 minggu, datang ke IGD dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak ±2 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengatakan darah yang keluar berwarna merah kehitaman dan disertai nyeri perut hebat yang dirasakan terus-menerus. Pasien memiliki riwayat hipertensi selama kehamilan, la juga mengeluhkan gerakan janin yang dirasakan semakin berkurang sejak pagi hari. Hasil pemeriksaan menunjukkan: Tekanan darah: 90/60 mmHg Nadi: 120 x/menit Respirasi: 26 x/menit Suhu: 36,5°C Pada pemeriksaan fisik didapatkan: Pasien tampak pucat dan gelisah Konjungtiva pucat Abdomen terasa tegang dan nyeri tekan Terlihat perdarahan pervaginam berwarna gelap Ekstremitas terasa dingin dengan CRT > 3 detik Produksi urin menurun Hasil pemeriksaan penunjang: Hb: 8 g/dL DJJ: 100 x/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Perfusi jaringan perifer tidak efektif adalah penurunan sirkulasi darah ke kapiler perifer yang dapat mengganggu metabolisme sel dan fungsi organ. Pada kasus Ny. 5, kondisi ini disebabkan oleh perdarahan akut (pervaginam) yang menyebabkan hipovolemia, sehingga aliran darah ke jaringan perifer menurun. Manifestasi klinis meliputi ekstremitas dingin, capillary refill time (CRT) lebih dari 3 detik, kulit pucat, dan penurunan produksi urin. Penurunan volume darah intravaskular mengakibatkan vasokonstriksi kompensasi untuk mempertahankan perfusi ke organ vital, namun mengorbankan perfusi perifer. Hal ini diperparah oleh riwayat hipertensi yang dapat menyebabkan kerusakan endotel vaskular. Pada ibu hamil, kondisi ini sangat berbahaya karena dapat mengancam keselamatan ibu dan janin akibat hipoksia jaringan dan asidosis metabolik.
Kode SLKI: L.02015
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan perfusi jaringan perifer meningkat dengan kriteria hasil: (1) Nadi perifer teraba kuat dan teratur (skala 5), (2) CRT < 2 detik (skala 5), (3) Ekstremitas hangat (skala 5), (4) Warna kulit tidak pucat (skala 5), (5) Produksi urin ≥ 0,5 mL/kgBB/jam (skala 5), (6) Tanda vital stabil (TD ≥ 100/60 mmHg, nadi 60-100 x/menit, RR 12-20 x/menit, suhu 36,5-37,5°C). Luaran ini mengindikasikan pemulihan volume sirkulasi dan oksigenasi jaringan perifer. Pada Ny. 5, target utama adalah mengembalikan perfusi ke ekstremitas dan ginjal sebagai langkah awal sebelum penanganan definitif solusio plasenta. Peningkatan perfusi akan mengurangi risiko syok hipovolemik dan memperbaiki fungsi organ.
Kode SIKI: I.02079
Deskripsi : Intervensi utama: Manajemen Perfusi Perifer. Tindakan meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit selama fase akut, terutama tekanan darah dan nadi, untuk mendeteksi perubahan hemodinamik. (2) Monitor CRT, warna kulit, suhu ekstremitas, dan kekuatan nadi perifer setiap 1-2 jam. (3) Monitor asupan dan haluaran cairan (balance cairan) setiap jam, karena penurunan produksi urin merupakan indikator awal hipoperfusi ginjal. (4) Kolaborasi pemberian cairan intravena (misalnya Ringer Laktat atau NaCl 0,9%) sesuai advis dokter untuk mengganti volume intravaskular yang hilang akibat perdarahan. (5) Kolaborasi pemberian transfusi darah (packed red cell) jika Hb < 8 g/dL dan tanda syok tidak membaik, karena Hb Ny. 5 sebesar 8 g/dL mengindikasikan anemia berat yang memerlukan koreksi segera. (6) Pertahankan posisi pasien berbaring datar dengan kaki ditinggikan (Trendelenburg modifikasi) untuk meningkatkan venous return. (7) Hindari pemberian obat vasokonstriktor tanpa koreksi volume, karena dapat memperburuk iskemia perifer. (8) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda perburukan, seperti pusing, sesak, atau perdarahan bertambah. Intervensi ini bertujuan memulihkan volume sirkulasi, meningkatkan oksigenasi jaringan, dan mencegah komplikasi syok yang mengancam jiwa ibu dan janin.
Kondisi: Risiko Perdarahan
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Risiko perdarahan adalah keadaan rentan mengalami kehilangan darah yang dapat mengancam kesehatan dan kehidupan. Pada Ny. 5, faktor risiko meliputi: (1) Perdarahan aktif pervaginam dengan karakter darah merah kehitaman (tanda perdarahan retroplasenta/solusi plasenta), (2) Riwayat hipertensi dalam kehamilan yang meningkatkan risiko abruptio plasenta, (3) Kehamilan usia 36 minggu dengan riwayat G2P1A0 (grandemultipara) yang dapat menyebabkan kelemahan uterus, (4) Nyeri perut hebat terus-menerus yang merupakan tanda kontraksi uterus abnormal akibat perdarahan di belakang plasenta. Solusio plasenta menyebabkan terlepasnya plasenta dari dinding uterus sebelum waktunya, sehingga terjadi perdarahan yang dapat bersifat tersembunyi (concealed) atau terbuka (revealed). Darah berwarna gelap menunjukkan perdarahan lama yang telah mengalami oksidasi. Risiko perdarahan ini diperberat oleh penurunan faktor pembekuan akibat konsumsi faktor koagulasi pada perdarahan masif (koagulopati konsumtif). Tanpa penanganan segera, dapat terjadi syok hemoragik, gagal ginjal akut, dan kematian janin.
Kode SLKI: L.02028
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan perdarahan dapat teratasi dengan kriteria hasil: (1) Perdarahan pervaginam berkurang atau berhenti (skala 5), (2) Tanda vital stabil (TD ≥ 100/60 mmHg, nadi 60-100 x/menit, RR 12-20 x/menit, suhu 36,5-37,5°C) (skala 5), (3) Hb ≥ 10 g/dL (skala 5), (4) Tidak ada tanda syok (kulit hangat, CRT < 2 detik, kesadaran compos mentis) (skala 5), (5) Produksi urin ≥ 30 mL/jam (skala 5). Luaran ini menekankan pada penghentian sumber perdarahan dan pemulihan volume darah. Pada Ny. 5, target utama adalah menghentikan perdarahan melalui tindakan medis (seperti seksio sesarea emergensi) dan mempertahankan hemodinamik stabil selama proses persalinan. Peningkatan Hb dan perbaikan tanda vital menunjukkan keberhasilan resusitasi cairan dan transfusi.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Intervensi utama: Manajemen Perdarahan. Tindakan meliputi: (1) Monitor jumlah, warna, dan karakter perdarahan setiap 15 menit menggunakan pembalut steril (pad count) untuk menilai kecepatan perdarahan. (2) Monitor tanda-tanda syok: tekanan darah, nadi, respirasi, suhu, CRT, dan kesadaran setiap 15 menit hingga stabil. (3) Monitor hasil laboratorium: Hb, Ht, trombosit, fibrinogen, PT/APTT setiap 4-6 jam untuk mendeteksi koagulopati. (4) Kolaborasi pemberian oksigen 10-15 L/menit dengan masker non-rebreather untuk meningkatkan oksigenasi jaringan. (5) Kolaborasi pemberian cairan intravena (kristaloid dan koloid) melalui dua jalur infus besar (16-18 G) untuk resusitasi volume. (6) Kolaborasi transfusi darah (packed red cell, fresh frozen plasma, atau trombosit) sesuai indikasi. (7) Kolaborasi persiapan operasi seksio sesarea emergensi, karena solusio plasenta merupakan indikasi terminasi kehamilan segera. (8) Pertahankan tirah baring absolut dan hindari pemeriksaan vaginal yang tidak perlu untuk mencegah perdarahan tambahan. (9) Dokumentasikan input-output cairan secara ketat. (10) Berikan dukungan psikologis pada pasien dan keluarga karena situasi ini sangat menegangkan dan mengancam jiwa ibu dan janin.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak dan durasi singkat (kurang dari 6 bulan). Pada Ny. 5, nyeri perut hebat yang dirasakan terus-menerus disebabkan oleh solusio plasenta. Perdarahan di belakang plasenta mengiritasi dan meregangkan dinding uterus, menyebabkan kontraksi uterus tetanik (uterus tegang dan nyeri tekan). Nyeri ini diperberat oleh iskemia jaringan akibat vasokonstriksi kompensasi. Skala nyeri tidak disebutkan, namun dari deskripsi "hebat" dan "terus-menerus", diperkirakan pada skala 7-9/10. Nyeri akut pada ibu hamil dengan solusio plasenta dapat memicu pelepasan katekolamin yang meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, memperburuk perfusi uteroplasenta, dan meningkatkan risiko hipoksia janin. Nyeri juga menyebabkan kecemasan dan gelisah, yang terlihat pada pasien (tampak gelisah).
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x6 jam, diharapkan nyeri berkurang dengan kriteria hasil: (1) Keluhan nyeri berkurang (skala nyeri 1-3/10) (skala 5), (2) Ekspresi wajah rileks (tidak meringis) (skala 5), (3) Pasien mampu mengidentifikasi teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri (skala 5), (4) Tanda vital dalam rentang normal: TD 100-120/60-80 mmHg, nadi 60-100 x/menit, RR 12-20 x/menit (
Article No. 25591 | 11 May 2026
Klinis : Data Subjektif Data Objektif Pasien mengatakan nyeri perut hebat sejak 2 hari terakhir Pengkajian Nyeri P : Pasien mengatakan nyeri bertambah saat bergerak, batuk atau saat perut disentuh Q : Pasien mengatakan nyeri terasa menusuk R : Pasien mengatakan nyeri awalnya dirasakan di sekitar pusar, kemudian berpindah ke perut kanan bawah, dan menyebar ke seluruh perut. S : Skala nyeri 8 dari 10 menggunakan Numeric Rating Scale/NRS T : Pasien mengatakan nyeri dirasakan sejak 2 hari terakhir dan semakin memberat, dalam 12 jam terakhir nyeri menyebar ke seluruh perut Keluarga mengatakan pasien tampak semakin lemah dan kesulitan berdiri karena nyeri perut yang bertambah berat Pasien mengeluh mual Pasien mengatakan muntah sebanyak tiga kali Pasien mengatakan demam Pasien mengatakan tidak nafsu makan Pasien mengeluhkan perut terasa kaku dan sangat nyeri saat disentuh atau saat bergerak Pasien mengatakan belum buang air besar sejak dua hari terakhir Pasien mengatakan merasa perut semakin kembung Kesadaran compos mentis, GCS 15 (E4V5M6) Pasien tampak pucat Pasien tampak gelisah Pasien terlihat memegang perut Pasien tampak berbaring dengan posisi lutut sedikit menekuk Hasil TTV: TD : 95/60 mmHg (?) Nadi : 118x/menit (Takikardia), Nadi perifer teraba lemah RR : 26x/menit (takipnea) Suhu : 38,7°C (febris) SpO?: 97% CRT >3 detik Abdomen tampak distensi Pada abdomen ditemukan defans muskular (abdomen kaku) Adanya nyeri tekan di seluruh lapang abdomen Ditemukan rebound tenderness (+) Timpani meningkat akibat distensi abdomen Bising usus menurun/hipoaktif (<5x/menit) Kulit lembap Hasil Pemeriksaan Penunjang: Leukosit: 18.500/mm³ CRP meningkat Laktat meningkat Hemoglobin: normal Pemeriksaan CT Scan abdomen menunjukkan adanya perforasi apendiks dengan cairan bebas dan udara dalam rongga peritoneum yang mengarah pada peritonitis generalisata
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html