Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24050 | 14 Feb 2026
Klinis : Ny. D, seorang wanita berusia 29 tahun dengan status obstetri G2P1A0 dan usia kehamilan 34 minggu, dibawa oleh keluarganya ke IGD dalam kondisi pasca-kejang. Berdasarkan anamnesis dari keluarga, pasien mengalami kejang umum (grand mal) selama kurang lebih 1 menit saat berada di rumah. Sebelum kejadian tersebut, Ny. D dilaporkan sempat mengeluhkan sakit kepala yang sangat hebat, pandangan kabur, serta nyeri pada ulu hati (epigastrium) selama dua hari terakhir. Pasien memiliki riwayat pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care) yang tidak teratur, sehingga kondisi hipertensinya kemungkinan besar tidak terdeteksi lebih awal. Pada pemeriksaan fisik saat tiba di rumah sakit, kesadaran pasien ditemukan dalam kondisi somnolen (post-ictal). Tanda-tanda vital menunjukkan hipertensi berat dengan Tekanan Darah 170/110 mmHg, Nadi 98 x/menit, dan Frekuensi Napas 22 x/menit. Pemeriksaan neurologis menunjukkan refleks patela yang hiperaktif, sementara pemeriksaan penunjang laboratorium mengonfirmasi adanya Proteinuria +++ dan Trombositopenia (95.000/µL) yang menandakan adanya kerusakan organ target. Kondisi janin juga mulai menunjukkan tanda kegawatan, dengan denyut jantung janin (DJJ) berada di angka 110 x/menit (borderline) dan laporan ibu mengenai gerakan janin yang berkurang secara signifikan sejak pagi hari. Sebagai langkah tatalaksana darurat di IGD, tim medis segera memposisikan pasien miring ke kiri untuk optimalisasi aliran darah uteroplasenta dan memberikan oksigen melalui nasal kanul. Untuk mencegah kejang berulang, pasien diberikan Mgso4 (Magnesium Sulfat) sesuai protokol, dimulai dengan loading dose dan dilanjutkan dengan maintenance dose. Saat ini, pasien berada dalam pengawasan ketat untuk memantau toksisitas Mgso4 (melalui cek urin output, frekuensi napas, dan refleks patella) serta persiapan untuk kemungkinan terminasi kehamilan mengingat kondisi eklampsia dan tanda-tanda gawat janin yang muncul.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera dan Penurunan Perfusi Serebral pada Eklampsia dengan Gawat Janin
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera berhubungan dengan kejang umum (grand mal) dan status post-ictal somnolen, ditambah dengan ancaman penurunan perfusi serebral akibat hipertensi berat (170/110 mmHg) dan vasospasme yang mendasari eklampsia.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Pencegahan Cedera. Perawat akan menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera fisik selama dan setelah episode kejang. Tindakan spesifik meliputi: memposisikan pasien miring untuk menjaga jalan napas dan mencegah aspirasi, menggunakan penghalang tempat tidur yang dipasang dengan aman, menghindari restrain, serta memastikan area di sekitar tempat tidur bebas dari benda keras dan tajam. Selama fase post-ictal, perawat akan memantau tingkat kesadaran (somnolen) secara ketat, memastikan pasien tetap di tempat tidur dengan pengawasan, dan melakukan pendampingan penuh jika pasien perlu berpindah. Pemberian terapi MgSO4 sebagai antikonvulsan juga merupakan bagian integral dari pencegahan kejang berulang yang dapat menyebabkan cedera. Pemantauan tanda-tanda toksisitas MgSO4 (refleks patella, frekuensi napas, output urin) dilakukan untuk mencegah cedera iatrogenik akibat depresi sistem saraf dan pernapasan.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Kriteria Hasil: Pencegahan Cedera. Hasil yang diharapkan adalah pasien bebas dari cedera fisik selama perawatan. Indikatornya meliputi: tidak ada tanda-tanda trauma fisik seperti memar, laserasi, atau fraktur; jalan napas pasien tetap paten selama dan setelah kejang; pasien tidak mengalami aspirasi; serta tidak terjadi kejang berulang yang tidak terkontrol. Selain itu, keselamatan janin juga menjadi pertimbangan, dengan indikator tidak memburuknya tanda-tanda gawat janin akibat hipoksia selama kejang ibu. Pemantauan ketat terhadap efek samping MgSO4 juga memastikan pasien bebas dari cedera akibat toksisitas, seperti depresi pernapasan atau henti jantung.
Kondisi: Penurunan Kardiak Output dan Perfusi Organ Vital (Termasuk Uteroplasenta)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Penurunan Kardiak Output berhubungan dengan peningkatan afterload yang signifikan akibat hipertensi berat (170/110 mmHg) dan vasospasme sistemik pada eklampsia, yang mengakibatkan gangguan perfusi ke organ-organ vital termasuk otak, ginjal, hati, dan unit uteroplasenta.
Kode SLKI: 0602
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Manajemen Hipertensi. Perawat akan berkolaborasi dalam menurunkan tekanan darah secara terkontrol untuk mengoptimalkan kardiak output dan perfusi organ. Tindakan meliputi: memantau tekanan darah secara invasif atau non-invasif dengan interval ketat, memposisikan pasien miring ke kiri untuk mengurangi kompresi vena kava dan meningkatkan aliran darah balik vena serta perfusi uteroplasenta, memberikan terapi oksigen untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan, serta mengadministrasikan obat antihipertensi sesuai instruksi dokter (seperti Nifedipin atau Labetalol) dengan pemantauan efek dan side effect. Perawat juga memantau tanda-tanda kerusakan organ target akibat hipoperfusi: status neurologis (sakit kepala, penglihatan, kesadaran), output urin (untuk menilai perfusi ginjal dan sebagai parameter toksisitas MgSO4), serta hasil laboratorium (proteinuria, trombosit). Pemantauan DJJ dan gerakan janin dilakukan sebagai indikator perfusi uteroplasenta.
Kode SIKI: 1301
Deskripsi : Kriteria Hasil: Status Sirkulasi. Hasil yang diharapkan adalah membaiknya kardiak output dan perfusi organ. Indikatornya meliputi: tekanan darah terkontrol dalam rentang target yang aman untuk kehamilan (misal, di bawah 150/100 mmHg), nadi perifer teraba kuat dan reguler, kulit hangat dan kering, serta haluaran urin adekuat (>30 ml/jam). Pada sistem organ spesifik: status neurologis membaik (kesadaran meningkat, sakit kepala dan gangguan penglihatan berkurang), tanda-tanda laboratorium kerusakan organ tidak memburuk, dan perfusi uteroplasenta membaik yang ditandai dengan DJJ dalam rentang normal (120-160 x/menit) dan peningkatan gerakan janin yang dilaporkan ibu.
Kondisi: Ansietas Berat dan Defisit Pengetahuan pada Keluarga terkait Kondisi Eklampsia yang Mengancam Jiwa
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Ansietas (pada keluarga) berhubungan dengan perubahan status kesehatan ibu (kejang, tidak sadar) dan janin yang mendadak serta ancaman kematian, ditambah dengan kurangnya pemahaman tentang penyakit, penatalaksanaan darurat (MgSO4, oksigen), dan rencana persiapan terminasi kehamilan.
Kode SLKI: 5270
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Penurunan Kecemasan. Perawat akan memberikan dukungan psikologis dan edukasi untuk mengurangi kecemasan keluarga. Tindakan meliputi: memberikan informasi yang jujur, jelas, dan konsisten tentang kondisi ibu dan janin dengan bahasa yang mudah dipahami, menjelaskan semua prosedur dan tindakan yang dilakukan (seperti pemberian MgSO4, pemantauan ketat, pemasangan infus, persiapan operasi sesar), serta mendengarkan dan mengakui perasaan takut serta kekhawatiran keluarga. Perawat juga akan melibatkan keluarga dalam proses perawatan sejauh memungkinkan, memberikan penjelasan tentang tanda-tanda perbaikan atau kegawatan yang perlu dilaporkan, dan menyiapkan keluarga untuk kemungkinan tindakan operatif serta perawatan bayi prematur di NICU. Komunikasi yang terapeutik dan empatik sangat penting dalam situasi krisis ini.
Kode SIKI: 2501
Deskripsi : Kriteria Hasil: Kontrol Kecemasan. Hasil yang diharapkan adalah menurunnya tingkat kecemasan keluarga. Indikatornya meliputi: keluarga mampu menyatakan pemahaman tentang situasi kritis yang dihadapi, mengungkapkan perasaan cemasnya dengan adaptif, menunjukkan perilaku kooperatif dengan tim medis, serta mampu mengajukan pertanyaan yang relevan tentang rencana perawatan. Keluarga juga menunjukkan mekanisme koping yang positif, seperti berdoa atau saling mendukung, dan dapat mengikuti instruksi sederhana dari perawat. Penurunan tanda-tanda fisiologis kecemasan (seperti gemetar, bicara cepat) juga dapat diamati.
-
Article No. 24051 | 14 Feb 2026
Klinis : Siki dari Diagnosis Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis.
Kode SLKI: 0800
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tujuan keperawatan adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah serebral yang adekuat, mencegah iskemia, dan meminimalkan kerusakan neurologis. Hasil yang diharapkan meliputi: tingkat kesadaran yang baik (GCS 15), fungsi kognitif dan sensorimotor yang utuh, tanda-tanda vital dalam rentang normal yang dapat diterima untuk pasien (terutama tekanan darah yang memadai), tidak adanya atau berkurangnya gejala seperti sakit kepala hebat, pusing, perubahan visual, atau kelemahan fokal. Pasien juga menunjukkan pemahaman tentang faktor risiko dan tindakan pencegahan. SLKI ini menjadi pedoman untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan yang dilakukan.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Pemantauan Neurologis: Intervensi ini melibatkan pengamatan sistematis dan berkelanjutan terhadap status neurologis pasien untuk mendeteksi dini tanda-tanda penurunan perfusi serebral. Kegiatannya mencakup pemantauan tingkat kesadaran menggunakan skala Glasgow Coma Scale (GCS) secara rutin, menilai ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, memeriksa kekuatan motorik dan sensasi pada keempat ekstremitas (kekuatan, paralisis, paresis), serta mengamati adanya tanda-tanda iritasi meningeal seperti kaku kuduk. Pemantauan juga mencakup fungsi kognitif seperti orientasi, memori, dan kemampuan berbicara. Data ini dicatat dengan cermat dan dibandingkan dengan hasil sebelumnya untuk mengidentifikasi tren atau perubahan yang mengkhawatirkan, yang memerlukan tindakan eskalasi segera.
Kode SIKI: 4232
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik: Intervensi ini berfokus pada pengukuran dan pengelolaan parameter sirkulasi yang secara langsung memengaruhi tekanan perfusi serebral (CPP). Perawat secara teratur memantau dan mencatat tanda-tanda vital, terutama tekanan darah (sistolik, diastolik, dan rata-rata/Mean Arterial Pressure/MAP), denyut nadi, laju pernapasan, dan saturasi oksigen. Tekanan darah harus dipertahankan dalam rentang yang ditargetkan (seringkali normotensi atau sesuai instruksi dokter) karena hipotensi dapat mengurangi aliran darah ke otak, sementara hipertensi berlebihan dapat meningkatkan risiko edema atau perdarahan. Pemantauan juga mencakup pengamatan terhadap irama jantung untuk mendeteksi aritmia yang dapat mengganggu curah jantung. Cairan masuk dan keluar (balance cairan) dipantau ketat untuk mencegah hipovolemia atau kelebihan cairan. Data hemodinamik ini digunakan untuk menyesuaikan terapi cairan, obat-obatan (seperti vasopressor atau antihipertensi), dan posisi pasien (biasanya kepala ditinggikan 30 derajat) guna mengoptimalkan tekanan perfusi serebral.
Kode SIKI: 2620
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Menjamin jalan napas yang paten dan pertukaran gas yang optimal adalah fundamental dalam mendukung perfusi serebral. Otak sangat sensitif terhadap hipoksia (kekurangan oksigen) dan hiperkapnia (kelebihan karbon dioksida). Intervensi ini meliputi penilaian pola pernapasan, usaha napas, dan suara napas. Posisi tubuh diatur untuk memfasilitasi pernapasan (misalnya, kepala tempat tidur ditinggikan). Oksigen tambahan diberikan sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam rentang target (biasanya >94%). Suction dilakukan dengan hati-hati dan hanya jika diperlukan untuk membersihkan sekret, karena prosedur ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial secara sementara. Bagi pasien dengan gangguan kesadaran, mungkin diperlukan alat bantu jalan napas. Mempertahankan kadar PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal sangat penting karena PaCO2 merupakan vasodilator serebral poten; hiperkapnia dapat menyebabkan vasodilatasi berlebihan dan meningkatkan tekanan intrakranial, sementara hipokapnia dapat menyebabkan vasokonstriksi dan mengurangi aliran darah.
Kode SIKI: 6460
Deskripsi : Manajemen Lingkungan Terapeutik: Intervensi ini bertujuan menciptakan lingkungan yang tenang, aman, dan minim stimulasi untuk mencegah peningkatan tekanan intrakranial (TIK) yang dapat memperburuk perfusi serebral. Kegiatannya meliputi mengatur pencahayaan ruangan agar redup namun cukup untuk observasi, mengurangi kebisingan (meminimalkan suara alarm, percakapan keras, dan aktivitas yang gaduh), serta membatasi kunjungan. Perawat mengkoordinasi perawatan untuk memberikan periode istirahat yang tidak terganggu di antara intervensi. Stimulasi yang tidak perlu seperti sentuhan, suara, atau prosedur yang menyakitkan diminimalkan. Posisi pasien diatur dengan hati-hati, menghindari fleksi atau rotasi leher yang ekstrem yang dapat menghambat aliran darah vena dari otak. Lingkungan yang terapeutik membantu menurunkan metabolisme serebral dan kebutuhan oksigen, sehingga mendukung keseimbangan antara suplai dan permintaan darah di otak.
Kode SIKI: 5240
Deskripsi : Manajemen Medikasi: Intervensi ini melibatkan pemberian dan pemantauan efek obat-obatan yang diresepkan untuk mendukung atau memperbaiki perfusi serebral, serta mencegah komplikasi. Perawat bertanggung jawab memberikan obat sesuai jadwal dan dosis yang tepat, seperti antihipertensi untuk mengontrol tekanan darah, osmotik diuretik (misalnya manitol) untuk mengurangi edema serebral, atau antikoagulan/antiplatelet tertentu (dengan hati-hati dan sesuai indikasi). Penting juga untuk memantau efek samping obat, seperti hipotensi, gangguan elektrolit, atau perdarahan. Selain itu, manajemen nyeri yang adekuat diberikan karena nyeri yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan TIK. Pemberian sedasi mungkin diperlukan pada pasien gelisah untuk menurunkan metabolisme serebral, namun harus dilakukan dengan pemantauan ketat terhadap tingkat kesadaran. Edukasi kepada pasien atau keluarga tentang tujuan dan efek obat juga merupakan bagian dari intervensi ini.
-
Article No. 24052 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien anak usia 2 tahun dengan keluhan kelopak mata kanan benjol dan kemerahan sperti kondisi hordiulum
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut terkait Proses Inflamasi pada Hordeolum
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri atau ketidaknyamanan. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang komprehensif untuk mengelola nyeri akut pada anak. Perawat akan melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif menggunakan skala nyeri yang sesuai usia (seperti FLACC - Face, Legs, Activity, Cry, Consolability) untuk menentukan karakteristik, lokasi, intensitas, dan faktor yang memperberat atau meringankan nyeri. Selanjutnya, perawat akan memberikan terapi farmakologis sesuai instruksi dokter, seperti pemberian analgesik topikal atau oral, dengan memantau efektivitas dan efek sampingnya. Terapi non-farmakologis juga sangat penting, termasuk kompres hangat steril pada area hordeolum untuk meningkatkan sirkulasi, mengurangi kongesti, dan memberikan rasa nyaman, dengan memperhatikan suhu kompres agar tidak melukai kulit anak yang sensitif. Perawat akan menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengurangi stimulus berlebihan, serta memberikan distraksi melalui aktivitas bermain, cerita, atau musik yang disukai anak. Edukasi dan dukungan kepada orang tua merupakan bagian krusial, yaitu mengajarkan teknik distraksi, pentingnya kompres hangat, cara mengobservasi tanda nyeri pada anak, dan pentingnya tidak memencet atau mengorek benjolan. Evaluasi berkelanjutan terhadap respons anak terhadap intervensi yang diberikan dilakukan untuk menyesuaikan rencana perawatan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri atau ketidaknyamanan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup penurunan atau hilangnya tanda-tanda nyeri yang dapat diobservasi dan dilaporkan. Secara spesifik, pasien anak akan menunjukkan skor nyeri yang menurun pada skala FLACC (misalnya dari skor 6-8 menjadi 0-2). Perilaku anak menunjukkan penurunan tanda distress seperti tidak lagi rewel, menangis, atau menggosok-gosok area mata. Anak dapat beristirahat dengan tenang, tidur nyenyak, dan kembali melakukan aktivitas bermain yang sesuai usianya. Ekspresi wajah anak tampak rileks, tidak lagi meringis atau menyeringai. Anak dapat bekerja sama selama prosedur perawatan, seperti saat dilakukan kompres hangat. Orang tua mampu mendemonstrasikan pemahaman dan keterampilan dalam memberikan perawatan untuk mengurangi nyeri anak, seperti melakukan kompres hangat dengan teknik yang benar dan menggunakan teknik distraksi. Laporan verbal dari orang tua (atau dari anak jika mampu) mengonfirmasi bahwa ketidaknyamanan telah berkurang. Tanda-tanda vital yang terkait dengan nyeri (seperti peningkatan denyut jantung atau tekanan darah) kembali dalam rentang normal untuk usia anak. Hasil akhir yang diharapkan adalah nyeri akut teratasi secara optimal, meningkatkan kenyamanan anak, dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat respons stres terhadap nyeri.
-
Article No. 24053 | 14 Feb 2026
Klinis : 1 Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga (D.0109)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga
Kode SDKI: D.0109
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga adalah suatu keadaan ketika keluarga tidak mampu mengidentifikasi, mengelola, atau mencari bantuan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anggotanya, yang disebabkan oleh ketidakmampuan dalam merawat. Ini mencerminkan kegagalan sistem keluarga sebagai unit perawatan utama. Diagnosa ini berfokus pada disfungsi keluarga dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraan seluruh anggotanya, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengetahuan, keterampilan, sumber daya, atau dukungan sosial.
Kode SLKI: L.08102
Deskripsi : Keluarga mampu melakukan pemeliharaan kesehatan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Keluarga mampu mengidentifikasi kebutuhan kesehatan dan masalah kesehatan anggota keluarga. 2) Keluarga mampu merencanakan tindakan perawatan yang sesuai untuk anggota keluarga yang sakit atau memiliki kebutuhan khusus. 3) Keluarga mampu melaksanakan tindakan perawatan dasar di rumah, seperti pemenuhan kebutuhan nutrisi, kebersihan diri, mobilisasi, dan pemberian obat sederhana sesuai anjuran. 4) Keluarga mampu memodifikasi lingkungan rumah untuk mendukung kesehatan dan keselamatan anggota keluarga. 5) Keluarga mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di komunitas (seperti puskesmas, posyandu, atau tenaga kesehatan) untuk mendapatkan bantuan dan informasi. 6) Keluarga menunjukkan komitmen dan kerjasama antar anggota dalam merawat anggota yang membutuhkan. 7) Keluarga mampu mengevaluasi hasil perawatan yang diberikan dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.
Kode SIKI: I.08102
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam pemeliharaan kesehatan meliputi serangkaian tindakan sistematis. Pertama, lakukan pengkajian mendalam terhadap struktur keluarga, pola komunikasi, sumber daya (ekonomi, fisik, sosial), dan pengetahuan serta keyakinan kesehatan keluarga. Kedua, libatkan seluruh anggota keluarga yang relevan dalam proses perencanaan perawatan. Ketiga, berikan pendidikan kesehatan (penyuluhan) yang disesuaikan dengan kondisi dan budaya keluarga, meliputi topik seperti tanda-tanda bahaya penyakit, perawatan luka dasar, pemberian makan dan minum, tata cara pemberian obat, serta teknik mobilisasi sederhana. Keempat, latih keluarga secara demonstrasi dan return demonstration untuk keterampilan perawatan spesifik yang dibutuhkan. Kelima, bantu keluarga mengidentifikasi dan mengakses sumber daya bantuan dari komunitas, seperti program bantuan sosial, layanan home care, atau kelompok dukungan. Keenam, fasilitasi keluarga untuk memodifikasi lingkungan rumah agar aman dan mendukung perawatan (contoh: penataan kamar, pencahayaan, penghalang jatuh). Ketujuh, lakukan kunjungan rumah secara berkala untuk memantau kemajuan, memberikan dukungan emosional, dan mengevaluasi efektivitas perawatan yang dilakukan keluarga. Kedelapan, berikan penguatan positif (reinforcement) atas setiap usaha dan keberhasilan keluarga untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka. Kesembilan, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, ahli gizi, pekerja sosial) untuk memberikan pelayanan yang komprehensif. Intervensi ini bertujuan memberdayakan keluarga sehingga mereka menjadi sistem pendukung yang mandiri dan efektif bagi anggotanya.
-
Article No. 24036 | 13 Feb 2026
Klinis : penurunan kesadaran disertai muntah muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0024
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengancam jiwa.
Kode SLKI: 2410
Deskripsi : Perfusi Serebral Terpelihara. Ditandai dengan kriteria hasil: 1) Tingkat kesadaran sesuai dengan potensi kondisi pasien (GCS 15 atau sesuai kondisi dasar). 2) Tanda vital dalam rentang yang dapat diterima (TD sistolik >90 mmHg dan <160 mmHg, nadi 60-100x/menit dan reguler). 3) Tidak ada keluhan sakit kepala hebat, pusing, atau penglihatan kabur. 4) Fungsi kognitif dan sensorimotor tetap utuh sesuai kondisi. 5) Tidak ada muntah proyektil. 6) Nilai pemeriksaan penunjang (seperti CT scan) menunjukkan tidak ada tanda iskemia atau perdarahan baru.
Kode SIKI: 2410
Deskripsi : Pemantauan Perfusi Serebral. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Memantau dan mendokumentasikan status neurologis secara ketat dan berkala menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS), ukuran dan reaksi pupil, serta kekuatan motorik. 2) Memantau dan mendokumentasikan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap jam atau sesuai protokol, mengingat tekanan darah yang terlalu rendah mengurangi perfusi, sedangkan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko perdarahan. 3) Memposisikan kepala pasien dengan elevasi 30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi tekanan intrakranial. 4) Mempertahankan kepatenan jalan napas dengan teknik penghisapan lendir yang tepat dan pemberian oksigen sesuai kebutuhan untuk memastikan suplai oksigen ke otak. 5) Memantau dan mencatat karakteristik muntah (frekuensi, jumlah, warna, hubungannya dengan makanan) karena muntah, terutama yang proyektil, dapat menjadi tanda peningkatan tekanan intrakranial. 6) Kolaborasi pemberian obat antiemetik dan terapi cairan intravena sesuai resep untuk mengatasi muntah dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit. 7) Menjaga lingkungan tenang, membatasi pengunjung, dan menghindari faktor yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial seperti batuk, mengejan, atau fleksi kepala yang berlebihan. 8) Melakukan kolaborasi dan mempersiapkan pasien untuk pemeriksaan penunjang seperti CT Scan kepala sesuai indikasi. 9) Memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya pemantauan dan tanda-tanda darurat yang harus dilaporkan segera. Intervensi-intervensi ini bertujuan untuk mendeteksi dini tanda penurunan perfusi serebral, mencegah kerusakan lebih lanjut, dan mengoptimalkan kondisi hemodinamik untuk aliran darah otak yang adekuat.
-
Article No. 24037 | 13 Feb 2026
Klinis : Tn. S usia 50 tahun dengan TAVB on TPM akan menjalani pemasangan PPM, ia sudah terpasang tpm sejak 10 tahun yang lalu di tahun 2016. Riwayat dahulu ia merasa lemas, mau pingsan, kurang vit, dan sebelumnya pernah di rawat di icu. selain itu gejala yang dulu ia alami nyeri dibetis, tidak sanggup berjakan, kaki serasa tertarik. ia juga merasakan denyut jantungnya lambat. Riwayat sekarang: kemampuan baterai sudah melampaui batass. saat ini beliau masih bisa mememnuhi kebutuhan dasar manusianya. tapi saat diedukasi untuk diperlihatkan proses ppm yang akan ia lakukan beliau merasa cemas. pasien tidak ada riwayat alergi. ia mengetahui kondisinya dari penjelasan dokter dan perawat, dan ia antusias dan ingin mengetahui kondisi tubuhnya. TTV tekanan darah 161/100 mmHg, heart rate 72 on TPM, respiratory rate 18 x/menit, suhu 36,5 derajat celcius, dan saturasi oksigen 99%.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan gelisah yang tidak jelas, ketakutan, atau kekhawatiran yang disertai dengan berbagai gejala otonom, yang sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Ansietas teratasi. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan perasaan ansietas berkurang, 2) Mengungkapkan penyebab ansietas, 3) Mengungkapkan kemampuan mengontrol ansietas, 4) Mengungkapkan perasaan tenang, 5) Mengungkapkan kemampuan koping yang positif, 6) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 7) Tidak ada/tidak menunjukkan perilaku gelisah.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen ansietas. Tindakan: 1) Identifikasi tingkat ansietas, 2) Identifikasi penyebab ansietas, 3) Monitor tanda-tanda vital, 4) Monitor perilaku terkait ansietas, 5) Berikan informasi tentang prosedur, pengobatan, dan perawatan, 6) Berikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, 7) Ajarkan teknik relaksasi, 8) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai indikasi, 9) Fasilitasi dukungan spiritual, 10) Rujuk ke tenaga profesional lain sesuai indikasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan, dengan onset yang mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol nyeri. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan nyeri berkurang/hilang, 2) Mengungkapkan penyebab nyeri, 3) Mengungkapkan kemampuan mengontrol nyeri, 4) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 6) Tidak ada/tidak menunjukkan perilaku nyeri (meringis, menangis, melindungi bagian tubuh), 7) Ekspresi wajah rileks.
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : Manajemen nyeri. Tindakan: 1) Identifikasi lokasi, karakteristik, dan intensitas nyeri, 2) Identifikasi faktor pencetus dan penurun nyeri, 3) Monitor tanda-tanda vital, 4) Monitor respons nonverbal terhadap nyeri, 5) Ajarkan teknik nonfarmakologi (nafas dalam, distraksi, relaksasi), 6) Atur posisi yang nyaman, 7) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi, 8) Evaluasi efektivitas intervensi nyeri, 9) Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas adalah keadaan di mana seseorang mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menjalani atau menyelesaikan aktivitas yang diinginkan atau aktivitas kehidupan sehari-hari.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas, 2) Menunjukkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal sebelum, selama, dan setelah aktivitas, 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan, 5) Tidak mengalami sesak napas, 6) Tidak mengalami nyeri dada, 7) Tidak mengalami pusing.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen intoleransi aktivitas. Tindakan: 1) Identifikasi faktor penyebab intoleransi aktivitas, 2) Monitor tanda-tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas, 3) Monitor respons terhadap aktivitas (kelelahan, sesak, nyeri dada, pusing), 4) Rencanakan aktivitas bertahap sesuai toleransi, 5) Ajarkan teknik menghemat energi, 6) Bantu aktivitas sesuai kebutuhan, 7) Berikan lingkungan yang aman dan nyaman, 8) Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi, 9) Anjurkan istirahat yang cukup.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan di mana seseorang rentan mengalami invasi oleh patogen yang dapat menimbulkan bahaya.
Kode SLKI: L.11001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Ditandai dengan: 1) Tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, bengkak, nyeri, pus), 2) Menunjukkan perilaku mencegah infeksi (cuci tangan, perawatan luka), 3) Nilai laboratorium dalam rentang normal (leukosit), 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Tindakan: 1) Identifikasi faktor risiko infeksi, 2) Monitor tanda dan gejala infeksi, 3) Monitor tanda-tanda vital, 4) Monitor hasil laboratorium (leukosit), 5) Lakukan cuci tangan, 6) Lakukan perawatan luka/insersi alat invasif secara aseptik, 7) Ajarkan cara mencegah infeksi, 8) Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis sesuai indikasi, 9) Anjurkan asupan nutrisi yang adekuat.
-
Article No. 24038 | 13 Feb 2026
Klinis : Tn. S usia 50 tahun dengan TAVB on TPM akan menjalani pemasangan PPM, ia sudah terpasang tpm sejak 10 tahun yang lalu di tahun 2016. saat ini beliau masih bisa mememnuhi kebutuhan dasar manusianya. tapi saat diedukasi untuk diperlihatkan proses ppm yang akan ia lakukan beliau merasa cemas. pasien tidak ada riwayat alergi. ia mengetahui kondisinya dari penjelasan dokter dan perawat, dan ia antusias dan ingin mengetahui kondisi tubuhnya. TTV tekanan darah 161/100 mmHg, heart rate 72 on TPM, respiratory rate 18 x/menit, suhu 36,5 derajat celcius, dan saturasi oksigen 99%. apa diagnosis aktual/potensial/resiko/kesejahterannya?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau takut yang disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir yang disebabkan oleh antisipasi akan ancaman. Ini adalah sinyal peringatan adanya bahaya yang akan datang yang memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.
Kode SLKI: L.14013
Deskripsi : SLKI L.14013 adalah "Tingkat ansietas menurun". Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien mampu mengidentifikasi tanda dan gejala ansietas. 2) Pasien mampu mengungkapkan perasaan cemas dan penyebabnya. 3) Pasien melaporkan penurunan perasaan cemas. 4) Pasien menunjukkan perilaku yang menunjukkan penurunan ansietas, seperti ekspresi wajah yang lebih rileks, postur tubuh yang tidak tegang, dan mampu beristirahat dengan tenang. 5) Tanda-tanda fisiologis yang berhubungan dengan ansietas (seperti takikardi, hipertensi, pernapasan cepat) berada dalam rentang yang diharapkan untuk pasien. Dalam konteks Tn. S, tujuan utamanya adalah mencapai tingkat ansietas yang dapat dikelola sehingga ia dapat berpartisipasi aktif dalam proses edukasi dan persiapan tindakan pemasangan PPM tanpa diliputi ketakutan berlebihan.
Kode SIKI: I.05229
Deskripsi : SIKI I.05229 adalah "Manajemen Ansietas". Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan untuk membantu pasien mengenali dan mengelola perasaan cemasnya. Implementasinya pada Tn. S meliputi: 1) Membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan empati dan aktif mendengarkan kekhawatirannya. 2) Edukasi terapeutik: Memberikan informasi yang akurat, jelas, dan sesuai tentang prosedur pemasangan PPM, manfaatnya, dan sensasi yang mungkin dirasakan, dengan menggunakan alat bantu visual seperti gambar atau model. Edukasi bertahap ini dapat mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui. 3) Teknik relaksasi: Mengajarkan teknik pernapasan dalam (napas dalam dan perlahan) untuk digunakan saat ia merasa cemas, baik selama edukasi maupun menjelang prosedur. 4) Mendorong ekspresi perasaan: Memfasilitasi Tn. S untuk mengungkapkan secara spesifik apa yang membuatnya cemas (misalnya, takut sakit, takut kegagalan alat, atau takut terhadap perubahan gaya hidup). 5) Memanfaatkan dukungan sosial: Melibatkan keluarga dalam proses edukasi dan dukungan emosional. 6) Menciptakan lingkungan yang menenangkan selama interaksi. 7) Memantau tanda-tanda fisiologis ansietas seperti peningkatan tekanan darah (TD 161/100 mmHg dapat dipengaruhi oleh ansietas selain kondisi dasarnya) dan memberikan umpan balik bahwa kondisi tersebut dapat dikelola. Intervensi ini bersifat kolaboratif, menghargai antusiasme dan keingintahuan Tn. S sebagai aset positif dalam proses pembelajaran dan adaptasi.
Kondisi: Kurang Pengetahuan
Kode SDKI: D.0180
Deskripsi Singkat: Kurang pengetahuan adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami defisit dalam pengetahuan kognitif atau keterampilan psikomotor sehubungan dengan kondisi atau rencana pengobatan.
Kode SLKI: L.0817
Deskripsi : SLKI L.0817 adalah "Pengetahuan: Proses Penyakit meningkat". Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien dapat menyebutkan secara akurat tentang penyakit/keadaannya (TAVB), fungsi alat pacu jantung sementara (TPM) dan permanen (PPM), serta alasan perlunya pemasangan PPM. 2) Pasien dapat menjelaskan prosedur pemasangan PPM dan perawatan pasca pemasangan. 3) Pasien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala komplikasi yang perlu dilaporkan. 4) Pasien dapat mendemonstrasikan keterampilan perawatan diri yang diperlukan terkait PPM. Tujuan khusus untuk Tn. S adalah memanfaatkan antusiasme dan keingintahuannya yang tinggi untuk mengubah informasi menjadi pemahaman komprehensif yang dapat mengurangi ansietas dan meningkatkan kepatuhan serta kemandirian dalam perawatan jangka panjang.
Kode SIKI: I.05470
Deskripsi : SIKI I.05470 adalah "Edukasi Proses Penyakit". Intervensi ini dirancang untuk memfasilitasi pemahaman dan adaptasi pasien terhadap proses penyakit dan rencana perawatan. Pada Tn. S, intervensi meliputi: 1) Penilaian pengetahuan awal: Menilai pemahaman Tn. S tentang TAVB, perbedaan TPM dan PPM, serta pengalamannya selama 10 tahun menggunakan TPM. 2) Penyusunan rencana edukasi individual berdasarkan kebutuhan, minat (antusiasme terhadap kondisi tubuhnya), dan kesiapan belajarnya. 3) Pemberian informasi bertahap dan jelas menggunakan bahasa non-teknis, tentang: anatomi dan fisiologi jantung sederhana, apa itu TAVB, kelemahan TPM jangka panjang, keunggulan dan mekanisme kerja PPM, prosedur pemasangan (lokal anestesi, pembuatan kantung kecil di bawah kulit), masa pemulihan, dan aktivitas yang diizinkan/dibatasi. 4) Penggunaan alat bantu edukasi seperti brosur, model jantung, atau video animasi untuk memperjelas penjelasan. 5) Mendorong pertanyaan dan klarifikasi untuk memastikan pemahaman yang akurat. 6) Melibatkan keluarga dalam sesi edukasi jika memungkinkan. 7) Evaluasi pemahaman dengan metode "teach-back", yaitu meminta Tn. S menjelaskan kembali informasi yang telah diberikan dengan kata-katanya sendiri. Edukasi yang komprehensif ini secara langsung dapat menurunkan ansietas dan memberdayakan Tn. S.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh patogen patogen.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : SLKI L.15001 adalah "Risiko infeksi tidak terjadi". Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien tetap bebas dari tanda dan gejala infeksi, yang ditunjukkan oleh: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (khususnya suhu tubuh tetap < 38°C). 2) Tidak adanya tanda inflamasi (kemerahan, bengkak, nyeri, panas) pada area pemasangan PPM. 3) Luka operasi bersih, kering, dan menyembuh tanpa discharge purulen. 4) Hasil laboratorium penunjang (seperti leukosit) dalam batas normal. Tujuan ini sangat kritis mengingat tindakan pemasangan PPM merupakan prosedur invasif yang menembus kulit dan menempatkan benda asing (device) di dalam tubuh.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : SIKI I.08001 adalah "Pengendalian Infeksi". Intervensi ini mencakup tindakan untuk meminimalkan risiko masuk dan penularan organisme patogen. Penerapannya pada Tn. S meliputi tindakan pra, intra, dan pasca prosedur: 1) Pra-prosedur: Memastikan kondisi kulit area pemasangan (biasanya infraklavikula) bersih dan utuh. Memberikan edukasi tentang pentingnya kebersihan diri dan teknik cuci tangan. 2) Intra-prosedur (kolaborasi dengan tim dokter): Mempertahankan teknik aseptik ketat selama persiapan lapangan operasi dan selama tindakan. 3) Pasca-prosedur: a) Perawatan luka sesuai protokol dengan balutan steril dan mengganti balutan jika kotor atau basah. b) Memantau tanda-tanda vital secara berkala, terutama suhu tubuh. c) Mengobservasi area insisi setiap hari terhadap tanda infeksi atau iritasi. d) Memberikan edukasi pada Tn. S dan keluarga untuk tidak menyentuh luka secara langsung, menjaga luka tetap kering, dan melaporkan segera jika ada nyeri bertambah, kemerahan, bengkak, atau keluar cairan dari luka. e) Pemberian antibiotik profilaksis sesuai resep dokter. f) Mengajarkan teknik batuk efektif (jika diperlukan) untuk mencegah infeksi pernapasan tanpa memberikan tekanan berlebihan pada luka. Intervensi ini bersifat preventif dan protektif untuk memastikan kesuksesan jangka panjang pemasangan PPM.
-
Article No. 24039 | 13 Feb 2026
Klinis : Kasus Pemicu 1: Seorang pria berusia 63 tahun, di rawat di ruang penyakit dalam hari ke-2 dengan diagnosis medis PPOK eksaserbasi. Hasil pengkajian didapatkan: keluhan sesak napas memberat sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit, batuk berdahak kental dan banyak. Hasil pemeriksaan, pasien terpasang oksigen 3LPM dengan SpO2 96%, frekuensi napas 28x/mnt, frekuensi nadi 92x/mnt, TD 160/90 mmHg, tampak retraksi dinding dada, barrel chest dan jari tabuh, auskultasi didapatkan ronkhi pada kedua lapang paru. Saat ini kebutuhan aktivitas pasien di bantu, karena pasien mengeluhkan sesak bertambah saat aktivitas ringan. Pasien mengeluh bosan karena saat ini adalah perawatan ke 3 kalinya dalam 1 tahun. Hasil Agd saat di IGD pH 7.3 PaCO2 48mmHg, PaO2 80 mmHg, HCO3 24Meq/L dan SaO2 93%. Pasien adalah seorang perokok berat sebanyak satu bungkus perhari sejak berusia 15 tahun. Pasien merupakan seorang pengusaha kretek rumahan dan tinggal di wilayah pertanian tembakau.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan dalam oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Ditandai dengan: 1) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal; 2) Saturasi oksigen dalam rentang normal; 3) Tidak ada tanda hipoksia/hipoksemia; 4) Tidak ada tanda hiperkapnia; 5) Pernapasan dalam dan teratur; 6) Suara napas bersih.
Kode SIKI: I.04123
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan: 1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas); 2) Auskultasi suara napas; 3) Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi (mis., kepala tempat tidur ditinggikan, posisi semi-Fowler/Fowler); 4) Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif; 5) Kelola terapi oksigen sesuai program; 6) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan; 7) Berikan obat bronkodilator dan lainnya sesuai program; 8) Monitor analisis gas darah dan saturasi oksigen; 9) Ajarkan penggunaan alat bantu napas; 10) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer; 11) Lakukan suction jika diindikasikan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik. Ditandai dengan: 1) Mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan; 2) Tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas; 3) Tidak mengeluh lelah/lemah; 4) Tidak ada dispnea/nyeri dada saat aktivitas; 5) Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi.
Kode SIKI: I.09004
Deskripsi : Manajemen energi. Tindakan: 1) Monitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, dyspnea, kelelahan); 2) Bantu identifikasi aktivitas yang dapat memicu kelelahan; 3) Ajarkan teknik penghematan energi; 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas; 5) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai toleransi; 6) Jadwalkan aktivitas bertahap; 7) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi; 8) Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk beristirahat.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko terhadap invasi patogen.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tidak ada tanda-tanda infeksi (demam, kemerahan, drainage pus); 2) Nilai leukosit dalam rentang normal; 3) Hasil kultur negatif; 4) Menerapkan perilaku pencegahan infeksi.
Kode SIKI: I.15098
Deskripsi : Manajemen batuk efektif. Tindakan: 1) Monitor karakteristik batuk (produktif/non-produktif); 2) Auskultasi suara napas; 3) Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif; 4) Tingkatkan asupan cairan sesuai toleransi; 5) Berikan posisi yang nyaman untuk batuk; 6) Kelola pemberian obat mukolitik/ekspektoran sesuai program; 7) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan; 8) Ajarkan etika batuk; 9) Monitor pengeluaran sputum (warna, jumlah, konsistensi).
Kondisi: Kecemasan
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah yang samar atau tidak menyenangkan karena ancaman yang tidak jelas sumbernya, disertai respons otonom (sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir karena antisipasi bahaya. Merupakan sinyal peringatan akan adanya bahaya.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Kecemasan teratasi. Ditandai dengan: 1) Ekspresi wajah rileks; 2) Mengungkapkan perasaan cemas berkurang; 3) Perilaku tenang; 4) Tanda vital dalam rentang normal; 5) Dapat beristirahat dengan tenang.
Kode SIKI: I.10014
Deskripsi : Manajemen kecemasan. Tindakan: 1) Identifikasi tingkat dan sumber kecemasan; 2) Dengarkan dengan penuh perhatian; 3) Hadir untuk mendampingi pasien; 4) Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, distraksi); 5) Berikan informasi tentang prosedur dan kondisi penyakit; 6) Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan; 7) Ciptakan lingkungan yang tenang; 8) Bantu pasien mengidentifikasi mekanisme koping yang konstruktif.
-
Article No. 24040 | 13 Feb 2026
Klinis : siki dari Perfusi perifer tidak efektif dari anemia
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif Akibat Anemia
Kode ICD-10: I99.8
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan kegagalan sistem sirkulasi dalam mengirimkan darah yang cukup ke jaringan perifer (seperti tangan dan kaki) akibat anemia. Anemia, yang ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin atau jumlah sel darah merah, mengurangi kapasitas darah untuk membawa oksigen. Ketika perfusi (aliran darah melalui kapiler) menjadi tidak efektif, jaringan perifer tidak menerima oksigen dan nutrisi yang memadai, mengakibatkan gejala seperti kulit pucat dan dingin, sianosis (kebiruan), klaudikasio (nyeri saat beraktivitas), kesemutan, atau penyembuhan luka yang lambat. Kode I99.8 termasuk dalam bab 'Penyakit pada sistem sirkulasi' dan dikategorikan sebagai 'Gangguan lain pada sistem sirkulasi'. Kode ini digunakan untuk mencatat gangguan peredaran darah yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, termasuk disfungsi mikrosirkulasi dan perfusi jaringan yang terkait dengan kondisi sistemik seperti anemia. Penting untuk mencatat anemia yang mendasarinya dengan kode tambahan dari bab 'Penyakit darah dan organ pembentuk darah' (seperti D50-D64) untuk gambaran klinis yang lengkap.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24023 | 12 Feb 2026
Klinis : Wajah merot, tidak bisa menelan TelaahPasien datang dengan keluhan wajah merot sejdak 1 hari ini. Keluhan disertai dengan tidak bisa menelan makanan maupun minuman. Bicara pelo (-), lemas (+), deviasi bibir (+). Nyeri kepala hilang timbul (+). Hipersalivasi (+). Motorik 5555/5555, sensorik dbn. Riwayat Penyakit Dahuluhiperkolesterol OSens CM VAS 7 TD 131/71 HR 81 RR 20 Temp 36.1 SpO2 99% (room air) STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1, deviasi ke kanan (+) Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, CVA -/-, McBurney (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Neurologis Akut (Bell's Palsy / Stroke) dengan Disfagia dan Risiko Aspirasi
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Risiko Aspirasi
Kode SLKI: 2006
Deskripsi : Pasien bebas dari aspirasi
Kode SIKI: 3401, 3402, 3403, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408, 3409, 3410, 3411, 3412, 3413
Deskripsi : Berdasarkan data pasien dengan wajah merot, deviasi bibir, dan ketidakmampuan menelan (disfagia), diagnosis keperawatan utama yang paling relevan dan mengancam jiwa adalah **Risiko Aspirasi (SDKI 0206)**. Aspirasi adalah masuknya sekret, makanan, atau cairan ke dalam trakea dan paru-paru, yang dapat menyebabkan pneumonia aspirasi yang berat. Pada pasien ini, risiko ini sangat tinggi karena adanya **hipersalivasi** (peningkatan produksi air liur) dan **ketidakmampuan menelan** secara total, yang disebabkan oleh paralisis atau kelemahan otot-otot wajah dan faring. Kondisi neurologis akut (diduga Bell's Palsy atau stroke fasial sentral) mengganggu refleks protektif jalan napas, termasuk refleks batuk dan menelan. Meskipun motorik ekstremitas normal (5555) dan tidak ada bicara pelo, ketidakmampuan menelan menunjukkan keterlibatan saraf kranial yang mempersarafi otot-otot faring dan laring. Tujuan keperawatan (SLKI 2006) adalah memastikan pasien bebas dari episode aspirasi, yang diukur dari tidak adanya tanda-tanda distress pernapasan, bunyi napas bersih, dan saturasi oksigen yang terjaga.
Intervensi keperawatan (SIKI) yang harus dilakukan bersifat komprehensif dan preventif:
1. **Memantau tanda-tanda aspirasi (3401):** Pengawasan ketat terhadap frekuensi napas, bunyi napas (ronki, wheezing), saturasi oksigen (SpO2 99% saat ini perlu dipantau terus), dan adanya sianosis.
2. **Memposisikan pasien (3402):** Posisi duduk tegak 90 derajat atau semi-Fowler tinggi selama dan setelah pemberian nutrisi/obat. Saat tidur, posisi kepala ditinggikan 30-45 derajat untuk mencegah refluks dan aspirasi sekret.
3. **Manajemen jalan napas (3403):** Siapkan alat suction di dekat pasien dan lakukan penghisapan sekret oral dan faring secara rutin dan bila diperlukan untuk mengatasi hipersalivasi.
4. **Pemeriksaan refleks menelan (3404):** Sebelum memberikan apapun per oral, perawat harus mengevaluasi refleks menelan, yang pada pasien ini sangat mungkin terganggu atau hilang.
5. **Manajemen nutrisi (3405, 3406, 3407):** Karena pasien tidak bisa menelan, **pemberian nutrisi dan obat harus dihentikan melalui oral**. Kolaborasi segera dengan dokter dan ahli gizi untuk menentukan alternatif pemberian nutrisi, seperti **pemberian melalui NGT (Nasogastric Tube)**. Jika dipasang NGT, pastikan posisi tabung benar sebelum pemberian (3405) dan berikan makanan/formula dengan teknik dan kecepatan yang tepat (3406, 3407).
6. **Pendidikan kesehatan (3408):** Edukasi pasien dan keluarga tentang bahaya aspirasi, pentingnya posisi tubuh, dan alasan mengapa pasien tidak boleh diberi makan/minum melalui mulut untuk sementara.
7. **Manajemen nyeri (3409):** Keluhan nyeri kepala (VAS 7) perlu ditangani karena nyeri dapat meningkatkan stres dan memperburuk kondisi. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep.
8. **Koordinasi dan kolaborasi (3410, 3411):** Kolaborasi dengan tim dokter untuk diagnosis pasti (MRI kepala, dll.) dan terapi medis. Rujuk ke ahli fisioterapi untuk latihan otot wajah dan terapi menelan bila kondisi memungkinkan.
9. **Pemantauan neurologis (3412):** Pantau status neurologis secara berkala (GCS, kekuatan motorik, fungsi saraf kranial) untuk mendeteksi adanya perburukan atau perkembangan gejala.
10. **Pencegahan komplikasi imobilitas (3413):** Meski motorik baik, risiko komplikasi seperti kontraktur otot wajah perlu diantisipasi dengan instruksi latihan pasif/aktif ringan.
Diagnosis ini diprioritaskan karena ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa pasien. Penatalaksanaan yang tepat dan cepat dari risiko aspirasi adalah kunci sebelum menangani masalah lainnya seperti gangguan komunikasi verbal atau gangguan citra tubuh akibat wajah merot.