Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24063 | 15 Feb 2026
Klinis : Jantung berdebar dan lemas. TelaahJantung berdebar dan lemas. Jantung berdebar dialami pasien sudah 1 hari ini. dada terasa tidak nyaman. Mencret dan muntah Dialami pasien sudah 3 hari ini. mencret sudah 12 kali. Muntah sudah 10 kali. Demam sudah 3 hari ini. lemas. Tidak selera makan. Sakit kepala. Pusing. Nyeri ulu hati. Nyeri sendi. Sesak napas tidak ada. kejang tidak ada. Riwayat Penyakit Dahuludm tipe 2 ht chf OSENS:CM GCS :15 TD: 175/80 MMHG HR: 86 x/i RR :20 x/iT: 38.8 C SPO2: 98 % VAS: 8 KEPALA : NORMAL MATA: KONJUNGTIVA ANEMIS -/-, SKLERA IKTERIK -/- MULUT: COATED TANGUE (-) HIDUNG DAN TELINGA: NORMAL LEHER: TRACHEA MEDIAL, BENJOLAN (-), TVJ (NORMAL) THORAKS: SIMETRIS FURIFORMIS, SONOR , VESIKULAR +/+, WH -/- RH -/- ABDOMEN: H/L TIDAK TERABA, SOEPEL +, PERISTALTIK + (NORMAL) , NYERI TEKAN EPIGASTRIUM + EKSTREMITAS: AKRAL HANGAT, PITTING EDEMA -/-, CRT<2 ANUS/GENITALIA: TIDAK DILAKUKAN PEMERIKSAAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakadekuatan volume darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Curah jantung memadai yang ditunjukkan dengan: tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk klien, nadi perifer teraba, haluaran urin 0,5-1,5 ml/kgBB/jam, status mental baik, kulit hangat dan kering, frekuensi dan irama jantung dalam rentang normal untuk klien, dan tidak ada dispnea ortostatik.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Pantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). Kaji frekuensi, irama, dan kekuatan nadi (perifer dan sentral). Kaji warna, suhu, dan kelembaban kulit. Kaji status mental dan tingkat kesadaran. Kaji haluaran urin setiap jam. Pertahankan tirah baring atau aktivitas sesuai toleransi. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan/order. Berikan obat-obatan sesuai indikasi (seperti inotropik, diuretik, vasodilator) sesuai order. Pantau hasil pemeriksaan diagnostik (seperti elektrolit, enzim jantung, BNP, EKG). Keseimbangan cairan (intake dan output). Edukasi klien dan keluarga tentang kondisi, pengobatan, dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh sementara di atas rentang normal.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal yang ditunjukkan dengan: suhu tubuh 36-37,5°C, kulit hangat tidak panas, tidak ada menggigil, dan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.14001
Deskripsi : Pantau suhu tubuh secara berkala. Kaji faktor penyebab hipertermia (infeksi, dehidrasi, lingkungan). Berikan kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi. Anjurkan penggunaan pakaian tipis dan menyerap keringat. Atur ventilasi ruangan yang baik. Tingkatkan asupan cairan sesuai toleransi dan kondisi klien. Berikan terapi antipiretik sesuai order. Pantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan). Kaji tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, haluaran urin). Kaji adanya menggigil atau diaphoresis. Kolaborasi pemberian antibiotik jika penyebabnya infeksi bakteri. Edukasi klien dan keluarga tentang upaya penurunan suhu dan pentingnya asupan cairan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Nyeri terkontrol yang ditunjukkan dengan: skala nyeri 0-3 (skala 0-10), tanda-tanda vital dalam rentang normal, ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat/tidur dengan adekuat, dan mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, intensitas menggunakan skala, karakter, durasi, faktor pencetus dan pereda). Observasi respon nonverbal terhadap nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah). Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (teknik napas dalam, distraksi, relaksasi). Atur posisi yang nyaman. Berikan analgetik sesuai order dan evaluasi efektivitasnya. Pantau tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgetik. Kurangi faktor pencetus nyeri dari lingkungan (suara bising, cahaya). Berikan waktu istirahat yang cukup. Edukasi klien dan keluarga tentang pelaporan nyeri dan manajemen nyeri yang diberikan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk penanganan penyebab nyeri.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit yang adekuat yang ditunjukkan dengan: tanda-tanda vital dalam rentang normal, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, haluaran urin adekuat (0,5-1,5 ml/kgBB/jam), tidak ada edema, dan berat badan stabil.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Pantau tanda-tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi) secara berkala. Pantau balance cairan (intake dan output) secara akurat. Kaji tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mata cekung, membran mukosa mulut kering, rasa haus). Kaji tanda-tanda kelebihan cairan (edema, distensi vena leher, crackles paru). Timbang berat badan setiap hari dengan skala dan waktu yang sama. Anjurkan dan bantu peningkatan asupan cairan oral sesuai toleransi dan kondisi (pada kasus ini, hati-hati karena ada riwayat CHF, perlu kolaborasi pembatasan cairan). Pantau hasil laboratorium (elektrolit, hematokrit, BUN/kreatinin). Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai order. Ajarkan klien dan keluarga pentingnya pemantauan intake-output dan tanda-tanda ketidakseimbangan cairan. Batasi asupan natrium jika diperlukan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0095
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas yang membaik yang ditunjukkan dengan: mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa dispnea, kelemahan, atau perubahan tanda vital yang signifikan, tanda-tanda vital stabil selama dan setelah aktivitas, dan melaporkan peningkatan energi.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Kaji respons klien terhadap aktivitas (perubahan TD, nadi, RR, dan keluhan lemas/pusing). Bantu klien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. Ajarkan teknik menghemat energi (duduk saat melakukan aktivitas, istirahat teratur). Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi. Bantu dalam memodifikasi lingkungan untuk meminimalkan energi yang dikeluarkan. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sebagai sumber energi. Pantau tanda-tanda kelelahan yang berlebihan. Edukasi klien dan keluarga tentang pentingnya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
-
Article No. 24041 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien datang nadi 33- 77 x/mnt pro pasang PPM,pasien riwayat hipotiroid
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Curah jantung memadai, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 2) Nadi perifer teraba kuat dan simetris, 3) Kulit hangat dan kering, 4) Tidak ada edema paru, 5) Haluaran urine memadai (≥ 30 ml/jam), 6) Status mental baik, 7) Tidak ada dyspnea atau ortopnea, 8) Suara jantung normal, 9) Tidak ada gallop S3 atau S4, 10) Tidak ada keluhan nyeri dada, 11) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 12) Tidak ada aritmia yang mengancam jiwa, 13) Nilai elektrolit dalam batas normal, 14) Tidak ada peningkatan berat badan yang signifikan akibat retensi cairan, 15) Laju nadi dan irama dalam batas normal.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Pemantauan Curah Jantung. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan sistematis untuk mengkaji, memantau, dan mendokumentasikan status kardiovaskular pasien guna mendeteksi dini tanda-tanda penurunan curah jantung. Perawat akan: 1) Memantau dan mendokumentasikan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara teratur dan berkelanjutan, dengan perhatian khusus pada tekanan darah sistolik, diastolik, nadi, dan mean arterial pressure (MAP). Pada pasien dengan PPM, pemantauan irama dan laju jantung dari monitor EKG serta fungsi alat pacu menjadi prioritas. 2) Mengkaji kualitas dan kekuatan nadi perifer (radialis, dorsalis pedis) serta kesimetrisannya. 3) Mengobservasi warna, suhu, dan kelembaban kulit serta pengisian kapiler. Kulit pucat, dingin, lembab, atau sianosis dapat mengindikasikan perfusi yang tidak adekuat. 4) Memantau status pernapasan, termasuk laju, irama, usaha napas, dan adanya suara napas tambahan seperti ronki atau krekels yang mungkin mengindikasikan edema paru akibat gagal jantung. 5) Mengukur haluaran urine setiap jam (bila diperlukan) atau secara berkala, karena penurunan curah jantung berdampak langsung pada perfusi ginjal. 6) Mengkaji status neurologis atau tingkat kesadaran secara berkala. Penurunan perfusi serebral dapat menyebabkan gelisah, bingung, letargi, atau penurunan kesadaran. 7) Mendengarkan suara jantung untuk mendeteksi adanya suara tambahan (gallop S3/S4), murmur, atau friction rub. 8) Memantau hasil pemeriksaan diagnostik seperti EKG (untuk melihat irama dan respons terhadap PPM), foto thorax, elektrolit (terutama kalium, natrium, magnesium), enzim jantung, dan fungsi tiroid (TSH, Free T4). Hipotiroid yang tidak terkontrol dapat memperburuk fungsi jantung dan memperberat bradikardia. 9) Mengkaji adanya nyeri dada atau ketidaknyamanan dada, serta mengevaluasi karakteristiknya. 10) Memantau saturasi oksigen secara terus-menerus dengan pulse oximetry. 11) Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya edema perifer (kaki, tungkai, sakrum) atau peningkatan berat badan yang mendadak. 12) Mengkaji respons pasien terhadap terapi yang diberikan, termasuk fungsi alat pacu jantung. 13) Mendokumentasikan semua temuan secara akurat dan komprehensif serta melaporkan setiap perubahan atau penyimpangan dari kondisi baseline kepada tim medis. Tujuan intervensi ini adalah menjaga stabilitas hemodinamik, memastikan fungsi PPM optimal, dan mencegah komplikasi lebih lanjut dari penurunan curah jantung pada pasien dengan riwayat hipotiroid dan bradikardia.
-
Article No. 24042 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan kulitnya mudah gatal, dan kadang mudah terluka, di tangan ada sedikit luka kena pisau.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Pruritus dan Luka Superfisial pada Tangan
Kode ICD-10: L29.9 (Pruritus, tidak spesifik) & S61.419A (Luka terbuka jari(kuku) tangan tanpa benda asing, tangan tidak ditentukan, episode perawatan awal)
Deskripsi Singkat : Keluhan utama pasien mencakup dua aspek: pruritus (kulit mudah gatal) dan cedera kulit (luka kena pisau di tangan). Pruritus (L29.9) adalah gejala, bukan diagnosis penyakit, yang mengacu pada sensasi gatal yang memicu keinginan untuk menggaruk. Ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kulit kering, dermatitis, alergi, atau kondisi sistemik. Kode L29.9 digunakan ketika penyebab spesifik belum ditentukan. Sementara itu, luka di tangan dikodekan sebagai luka terbuka superfisial (S61.419A). Kode ini masuk dalam bab 'Cedera, keracunan dan akibat tertentu penyebab luar' dengan detail lokasi di jari (termasuk kuku) tangan, tanpa benda asing tertinggal, pada tangan yang tidak ditentukan (kanan/kiri), dan merupakan episode perawatan awal ('A'). Penggunaan dua kode ini diperlukan karena menangkap dua masalah klinis yang berbeda: gejala pruritus dan cedera traumatik akut. Dalam praktik kodifikasi resmi, diperlukan pemeriksaan klinis lebih lanjut untuk menentukan etiologi pruritus (misalnya dermatitis, urtikaria) dan mengganti kode L29.9 dengan diagnosis yang lebih spesifik jika telah ditegakkan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24043 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan kulitnya mudah gatal, dan kadang mudah terluka, di tangan ada sedikit luka kena pisau.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kerentanan individu terhadap cedera fisik akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan kemampuan adaptif dan pertahanan diri individu, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : SLKI 4301 berfokus pada pencegahan cedera. Tujuannya adalah agar pasien terlindungi dari cedera. Kriteria hasil utama yang diharapkan meliputi: pasien dapat mengidentifikasi faktor risiko cedera di lingkungannya, memodifikasi lingkungan untuk mengurangi risiko, dan mendemonstrasikan perilaku yang aman untuk mencegah cedera. Perawat akan mengevaluasi keberhasilan intervensi dengan mengamati apakah pasien terhindar dari luka, mematuhi tindakan pencegahan keselamatan, serta lingkungan tempat tinggal atau perawatan pasien bebas dari bahaya yang dapat dihindari.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : SIKI 4160 adalah Intervensi Keperawatan untuk Manajemen Lingkungan: Pencegahan Cedera. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk meminimalkan risiko cedera pada pasien. Tindakan-tindakan tersebut mencakup: (1) Melakukan pengkajian risiko cedera secara komprehensif, termasuk menilai kondisi kulit (seperti keluhan gatal dan mudah luka), status sensorik, mobilitas, kognisi, riwayat jatuh atau cedera sebelumnya, serta pengobatan yang dapat mempengaruhi kewaspadaan atau integritas kulit. (2) Memodifikasi lingkungan dengan menata ruangan agar bebas dari barang-barang yang menghalangi jalan, memastikan pencahayaan yang memadai, memasang pegangan tangan di kamar mandi, dan menggunakan alas kaki yang tidak licin. (3) Memberikan edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang faktor risiko spesifik yang dimiliki pasien (kulit mudah gatal dan terluka) serta cara mengelolanya. Edukasi ini termasuk cara merawat kulit dengan lembut, menghindari menggaruk, menggunakan pisau atau alat tajam dengan ekstra hati-hati, serta pentingnya segera merawat luka kecil seperti yang ada di tangan untuk mencegah infeksi. (4) Melibatkan keluarga atau pengasuh dalam pengawasan dan penciptaan lingkungan yang aman. (5) Memantau dan mengevaluasi efektivitas intervensi pencegahan cedera yang telah dilakukan secara berkala, dan menyesuaikan rencana jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek fisik, edukasi, dan dukungan lingkungan untuk menciptakan sistem pertahanan guna melindungi pasien dari bahaya.
-
Article No. 24044 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan kulitnya mudah gatal, dan kadang mudah terluka, di tangan ada sedikit luka
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera (Integritas Kulit)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan rentan terhadap cedera fisik akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan sumber daya adaptif dan pertahanan individu.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : SLKI 4301 berfokus pada pencegahan cedera kulit. Tujuannya adalah mempertahankan integritas kulit dan mencegah kerusakan jaringan. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup serangkaian tindakan proaktif dan edukatif. Pertama, perawat akan melakukan pengkajian kulit secara komprehensif dan berkala, memantau area yang rentan seperti tangan (yang dalam kasus ini sudah ada luka), mencatat karakteristik kulit (seperti kekeringan yang menyebabkan gatal), dan mengidentifikasi faktor risiko seperti gesekan, tekanan, atau paparan bahan iritan. Kedua, perawat akan mengimplementasikan tindakan untuk meminimalkan risiko, seperti memberikan perawatan kulit yang lembut dengan pembersih pH seimbang, mengaplikasikan pelembab secara rutin untuk mengatasi kulit kering dan gatal sehingga mengurangi keinginan untuk menggaruk, serta melindungi area yang sudah luka dengan penutup yang sesuai. Ketiga, edukasi kepada pasien dan keluarga menjadi komponen krusial. Perawat akan mengajarkan pentingnya menjaga kelembaban kulit, teknik perawatan luka sederhana, cara mengenali tanda-tanda infeksi (seperti kemerahan, bengkak, nyeri, atau nanah), dan strategi untuk menghindari trauma fisik seperti menggaruk dengan kuku atau menggunakan alat yang tajam. SLKI ini juga melibatkan modifikasi lingkungan, misalnya memastikan permukaan yang aman dan menggunakan pelindung jika diperlukan. Evaluasi keberhasilan SLKI ini diukur dari tidak adanya lesi kulit baru, penyembuhan luka yang ada, serta kemampuan pasien dan keluarga dalam mendemonstrasikan perilaku perawatan kulit yang tepat.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : SIKI 4410 adalah Intervensi Keperawatan spesifik untuk "Perawatan Kulit". Intervensi ini merupakan tindakan nyata yang dilakukan perawat untuk mencapai tujuan dalam SLKI 4301. SIKI 4410 mencakup beberapa aksi utama yang terstruktur. Aksi pertama adalah pengkajian, yaitu menginspeksi kondisi kulit, membran mukosa, dan area tekanan pada setiap pertemuan dengan pasien. Dalam kasus ini, perawat akan memeriksa secara detail luka di tangan, menilai ukuran, kedalaman, warna, adanya eksudat, serta kondisi kulit di sekitarnya yang mudah gatal dan terluka. Aksi kedua adalah pembersihan, yaitu memandikan/membersihkan pasien dengan sabun lemah (mild soap) atau pembersih pH seimbang, menggunakan air hangat (bukan panas), dan mengeringkan kulit dengan menepuk-nepuk (bukan menggosok), terutama di area lipatan. Untuk kulit yang kering dan gatal, perawat akan mengaplikasikan pelembab (moisturizer) atau emolien setelah mandi untuk mempertahankan kelembaban. Aksi ketiga adalah proteksi, yaitu melindungi kulit dari cedera lebih lanjut dengan menggunakan bantalan (padding) atau pelindung pada area tulang yang menonjol, serta mempertahankan posisi tubuh yang baik untuk menghindari tekanan dan gesekan yang berlebihan. Untuk luka yang sudah ada, perawat akan melakukan perawatan luka sesuai protokol, seperti membersihkan luka dengan larutan steril, mengaplikasikan balutan yang sesuai (misalnya balutan lembab untuk penyembuhan), dan mengganti balutan secara teratur. Aksi keempat adalah edukasi, yaitu mengajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat (terutama protein, vitamin C, dan zinc) untuk penyembuhan kulit, teknik menghindari menggaruk (seperti mengelus kulit lembut atau menggunakan kompres dingin saat gatal), dan cara memilih pakaian yang lembut dan tidak mengiritasi. Perawat juga akan memantau tanda-tanda komplikasi seperti infeksi pada luka. Seluruh aksi ini didokumentasikan dan dievaluasi efektivitasnya secara berkala, dengan penyesuaian rencana perawatan jika diperlukan berdasarkan respons kulit dan luka pasien. Implementasi SIKI 4410 yang konsisten dan teliti bertujuan untuk memutus siklus "kulit gatal - digaruk - terluka", mempercepat penyembuhan, dan mencegah cedera berulang.
-
Article No. 24045 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan sesak napas kadang, batuk, berdahak,
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Bronkitis Kronis Tanpa Eksaserbasi Akut
Kode ICD-10: J42
Deskripsi Singkat : Kode J42 mengacu pada Bronkitis Kronis yang Tidak Ditentukan atau Sederhana. Kondisi ini ditandai dengan peradangan kronis pada saluran bronkial (cabang batang tenggorokan) yang menyebabkan hipersekresi lendir. Gejala utama mencakup batuk produktif (berdahak) yang terjadi hampir setiap hari selama minimal 3 bulan dalam setahun dan berulang selama dua tahun berturut-turut, serta sesak napas yang dapat muncul terutama saat beraktivitas. Dalam konteks deskripsi pasien yang menyebutkan "sesak napas kadang, batuk, berdahak" tanpa indikasi infeksi akut saat ini (seperti demam atau dahak purulen berlebihan), kode ini menjadi pertimbangan utama untuk kondisi kronis yang mendasarinya. Kode J42 berada di bawah bab "Penyakit pada Sistem Pernapasan" (J00-J99) dan lebih spesifik di bawah blok "Penyakit Paru Obstruktif Kronik dan Kondisi Terkait" (J40-J47). Penting untuk dicatat bahwa penentuan diagnosis akhir dan kode yang tepat memerlukan pemeriksaan klinis lengkap oleh dokter, termasuk evaluasi riwayat merokok, pemeriksaan fisik, dan mungkin tes fungsi paru untuk mengonfirmasi obstruksi jalan napas dan menyingkirkan kondisi lain seperti asma atau bronkiektasis.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24046 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan sesak napas kadang, batuk, berdahak,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pasien menunjukkan jalan napas yang paten, ditandai dengan: 1) Suara napas bersih/vokal, 2) Tidak ada atau berkurangnya suara napas abnormal (mengi, ronki, stridor), 3) Laju dan irama napas dalam rentang normal sesuai usia, 4) Tidak ada atau berkurangnya batuk tidak efektif, 5) Sputum/sekret dapat dikeluarkan dengan mudah, 6) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal, 7) Pasien mampu menunjukkan teknik batuk efektif dan/atau penggunaan alat bantu sesuai indikasi.
Kode SIKI: I.06003
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan atau memulihkan bersihan jalan napas, meliputi: 1) Kaji status pernapasan (laju, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu). 2) Kaji suara napas dan adanya suara tambahan (ronki, mengi). 3) Kaji kemampuan batuk dan karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi). 4) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi). 5) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 6) Lakukan fisioterapi dada (perkusi, vibrasi, drainase postural) jika diindikasikan. 7) Lakukan penghisapan lendir (suction) jalan napas atas/bawah jika diperlukan. 8) Berikan terapi oksigen sesuai program. 9) Dorong asupan cairan yang adekuat untuk mengencerkan sekret, kecuali kontraindikasi. 10) Ajarkan penggunaan alat bantu seperti incentive spirometer. 11) Kelola lingkungan untuk mengurangi iritan udara (debu, asap). 12) Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti bronkodilator, mukolitik, atau ekspektoran sesuai resep. 13) Monitor analisis gas darah dan saturasi oksigen. 14) Ajarkan pasien/keluarga tanda dan gejala gangguan jalan napas yang perlu dilaporkan.
-
Article No. 24047 | 14 Feb 2026
Klinis : DS: Pasien mengatakan badanya pegal-pegal, nyeri sendi dan kadang kaki nya kaku. DO: pasien tampak memijat kaki nya, sering mengoleskan frescare di kaki dan badan yang lain
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. Indikator yang relevan berdasarkan data pasien meliputi: (1) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang, (2) Mengenali faktor pencetus, (3) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri, (4) Menggunakan analgesik sesuai resep, (5) Mempertahankan tingkat fungsi yang diinginkan. Tujuan dari SLKI ini adalah agar pasien dapat melaporkan penurunan nyeri, mengidentifikasi pemicu, dan menggunakan metode nonfarmakologis serta farmakologis dengan tepat untuk mengelola nyeri, sehingga kualitas hidup dan tingkat fungsionalnya dapat dipertahankan.
Kode SIKI: 0001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Intervensi untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien. Intervensi spesifik yang dapat diterapkan berdasarkan kondisi pasien meliputi: (1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus). (2) Observasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, terutama pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik (seperti pasien tampak memijat kaki). (3) Ajarkan tentang penggunaan teknik nonfarmakologi (seperti distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin, masase) sebelum, setelah, dan jika mungkin selama aktivitas yang menyakitkan. (4) Berikan analgetik sesuai resep dan evaluasi keefektifannya. (5) Dukung dan perkuat upaya pasien dalam mengontrol nyeri (seperti mengoleskan balsem/frescare). (6) Atur posisi untuk kenyamanan dan fungsi optimal. (7) Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif jika tidak kontraindikasi untuk mencegah kekakuan. (8) Kaji efektivitas strategi koping yang digunakan pasien. (9) Lakukan pendidikan kesehatan mengenai manajemen nyeri jangka pendek. Intervensi ini dilakukan untuk mengatasi pengalaman nyeri pasien secara holistik, menggabungkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis, memberdayakan pasien dalam mengelola nyerinya sendiri, dan mencegah komplikasi seperti imobilisasi akibat nyeri dan kekakuan sendi.
-
Article No. 24048 | 14 Feb 2026
Klinis : Pasien post operasi salpingo ooforektomi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2006
Deskripsi : Manajemen Infeksi
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Pemantauan Tanda dan Gejala Infeksi
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0013
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 2013
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Pemantauan Nyeri
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SLKI: 2018
Deskripsi : Manajemen Perfusi Perifer
Kode SIKI: 3402
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Risiko Syok
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Manajemen Syok
Kode SIKI: 3402
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan
Kode SLKI: 2021
Deskripsi : Manajemen Perdarahan
Kode SIKI: 3402
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital
Kondisi: Pasien post operasi salpingo ooforektomi
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: 2017
Deskripsi : Manajemen Ansietas
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Pemberian Dukungan Emosional
-
Article No. 24049 | 14 Feb 2026
Klinis : pasien datang mau melepas Impan KB
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien datang untuk melepas Implan KB
Kode SDKI: D.0146
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: L.08102
Deskripsi : Ansietas teratasi
Kode SIKI: I.01278
Deskripsi : Manajemen Ansietas
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI - D.0146: Ansietas): Ansietas didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang samar-samar, disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu). Pada pasien yang akan melepas implan KB, ansietas dapat muncul dari berbagai faktor. Pertama, ketakutan terhadap prosedur itu sendiri, seperti rasa sakit atau ketidaknyamanan selama proses pelepasan. Kedua, kekhawatiran tentang perubahan yang akan terjadi pasca-pelepasan, seperti kembalinya kesuburan, potensi kehamilan yang tidak direncanakan, atau kembalinya siklus menstruasi yang mungkin lebih berat atau tidak teratur. Ketiga, pengalaman masa lalu dengan prosedur medis atau ketidakpastian tentang hasil prosedur (misalnya, apakah akan ada komplikasi seperti infeksi atau perdarahan). Keempat, faktor psikososial seperti tekanan dari pasangan atau keluarga mengenai rencana kehamilan berikutnya. Ansietas ini dapat dimanifestasikan secara perilaku (gelisah, banyak bertanya, ragu-ragu), emosional (perasaan tegang, khawatir berlebihan), kognitif (kesulitan konsentrasi, pikiran negatif), dan fisiologis (peningkatan denyut nadi, tekanan darah, berkeringat). Perawat perlu mengidentifikasi tingkat ansietas (ringan, sedang, berat, panik) dan sumbernya untuk memberikan intervensi yang tepat.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.08102: Ansietas teratasi): Luaran ini mengindikasikan bahwa setelah dilakukan asuhan keperawatan, tingkat ansietas pasien menurun atau teratasi. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: pasien mampu mengungkapkan perasaan ansietasnya dan mengidentifikasi faktor penyebab secara verbal. Pasien menunjukkan penurunan tanda-tanda fisiologis ansietas seperti denyut nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tidak ada keluhan palpitasi, dan tubuh terlihat lebih rileks. Dari sisi perilaku, pasien tampak tenang, kooperatif selama prosedur, mampu mendengarkan dan memahami penjelasan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Pasien juga menunjukkan kemampuan menggunakan teknik koping yang adaptif untuk mengurangi kecemasannya, misalnya dengan teknik relaksasi napas dalam atau distraksi. Selain itu, pasien menyatakan kesiapan menghadapi prosedur dan memahami tahapan serta perawatan pasca-prosedur dengan baik. Pencapaian luaran ini dinilai secara bertahap, dari tingkat ansietas berat/panik menjadi ansietas ringan atau bahkan tidak ada ansietas sama sekali, yang menunjukkan bahwa pasien telah beradaptasi dengan situasi yang dihadapinya.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01278: Manajemen Ansietas): Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau menghilangkan ansietas. Pada konteks pasien melepas implan KB, tindakan spesifik meliputi: Pertama, Memberikan informasi dan edukasi: Menjelaskan secara jelas dan sederhana prosedur pelepasan implan KB, mulai dari persiapan, proses (durasi, sensasi yang mungkin dirasakan seperti sedikit nyeri atau tarikan), hingga perawatan pasca-prosedur (perawatan luka, tanda-tanda infeksi). Informasi yang akurat mengurangi ketidakpastian yang merupakan sumber utama ansietas. Kedua, Menciptakan lingkungan yang terapeutik: Menjaga privasi, mendengarkan dengan penuh perhatian (aktif listening), dan menunjukkan sikap empati serta penerimaan. Ketiga, Melibatkan pasien dalam perencanaan: Memberikan kesempatan pasien untuk bertanya dan menyuarakan kekhawatirannya, serta melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan sederhana terkait kenyamanan selama prosedur. Keempat, Mengajarkan teknik relaksasi: Seperti napas dalam (deep breathing) atau relaksasi otot progresif untuk membantu pasien mengontrol respons fisiologis kecemasan. Kelima, Memberikan dukungan emosional: Memberikan keyakinan dan penegasan positif bahwa perasaan cemas adalah wajar, serta meyakinkan kompetensi tenaga kesehatan yang menangani. Keenam, Kolaborasi: Jika ansietas sangat berat dan mengganggu, perawat dapat berkolaborasi dengan dokter untuk pertimbangan manajemen farmakologis (seperti pemberian anxiolytic ringan) sesuai indikasi. Seluruh intervensi ini dilakukan dengan pendekatan komunikasi terapeutik untuk membangun hubungan saling percaya antara perawat dan pasien.
Keterkaitan: Ketiga komponen ini membentuk satu kesatuan asuhan keperawatan yang sistematis. SDKI (Ansietas) menjadi dasar perumusan masalah berdasarkan respons pasien terhadap situasi kesehatan (melepas KB). SLKI (Ansietas teratasi) menjadi tujuan spesifik yang ingin dicapai dari asuhan tersebut. Sementara SIKI (Manajemen Ansietas) adalah serangkaian tindakan berbasis evidence yang dilakukan perawat untuk mengubah kondisi ansietas (SDKI) menuju kondisi ansietas teratasi (SLKI). Dengan demikian, proses keperawatan berjalan secara logis dan terukur, memastikan bahwa pasien tidak hanya menjalani prosedur medis secara fisik tetapi juga mendapatkan dukungan psikologis yang komprehensif.